Vous êtes sur la page 1sur 22

43

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Geografis

Secara Geografis lokasi RSUD Kota Makassar berada pada bagian

Utara Timur Kota Makassar yang merupakan kawasan pengembangan

rencana induk kota pada kecamatan Biringkanaya dengan luas wilayah

80,06 km2 dengan jumlah penduduk 168.848 jiwa dibandingkan luas

wilayah Kota Makassar 175,77 km2 dengan jumlah penduduk 1,6 juta

dengan batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Maros

b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tamalanrea

c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa

d. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar

2. Lokasi

a. Terletak dijalan Perintis Kemerdekan Km 14 (jalan poros propinnsi).

b. Terletak didaerah pengembangan pemukiman penduduk.

c. Terletak 1 Km dari kawasan Industri Makassar.

d. Terletak 3 Km dari Rsup wahidin Sudirohusodo.

e. Terletak dikawasan padat penduduk yang mempunyai ratio

pertambahan penduduk pertahun 2,5%.

43
44

3. Gedung

a. Luas banngunan 12.663 M3

b. Gedung A ( Kantor dan Medical Record )

c. Gedunng A lantai empat ( 4 ) luas 3.200 M3

d. Gedung B depan ( UGD, Bedah, ICU, ICCU )

e. Gedung B belakang ( Rawat nginap Ok central, Radiologi,

Labolatorium )

f. Gedung B lanntai 5 ( lima ) luas 3.840 M3

4. Visi Misi

a. Visi

Rumah sakit dengan pelayanan yang aman dan nyaman menuju

stanndar dunia.

b. Misi

1) Mendukung visi misi pemerintah kota dan pelayanan kesehatan

masyarakat.

2) Meningkatkan kompetensi SDM diseluruh lini pelayanan

3) Melengkapi peralatan medis dan non medis dengan teknologi

kedokteran mutakhir.

4) Mengadakan dan mengembangkan sistem informasi menajemen

RS.

5) Memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar akreditasi.

6) Mengembangkan sarana dan prasarana rumah sakit yang lebih

modern.
45

7) Meningkatkan kesejahteraan seluruh karyawan rumah sakit.

5. Ruang pelayanan

Perawatan interna, anak, bedah, kamar bersalin, perawatan GSR,

perawatan perinatologi, perawatan nifas, perawatan ICU, Instalasi Gizi,

Instalasi Labolatorium, Intalasi Gawat Darurat, Intalasi Radiologi, Instalasi

Rehabilitasi Medik, Kamar Operasi, Instalasi Farmasi, dan Bank Darah.

6. Tempat Tidur

Jumlah Tempat Tidur

PERAWATAN INTERNA:

10 RUANGAN PERAWATAN TERDIRI DARI:

KELAS 1 - 4 KAMAR - 8 TEMPAT TIDUR

KELAS 2 – 2 KAMAR - 8 TEMPAT TIDUR

KELAS 3 – 4 KAMAR - 26 TEMPAT TIDUR

JUMLAH : 42 TEMPAT TIDUR

PERAWATAN ANAK:

10 RUANGAN PERAWATAN TERDIRI DARI:

KELAS 1 – 4 KAMAR – 8 TEMPAT TIDUR

KELAS 2 – 2 KAMAR – 8 TEMPAT TIDUR

KELAS 3 – 4 KAMAR - 24 TEMPAT TIDUR

JUMLAH : 40 TEMPAT TIDUR


46

PERAWATAN BEDAH:

9 RUANGAN PERAWATAN TERDIRI DARI:

KELAS 1 – 2 KAMAR – 5 TEMPAT TIDUR

KELAS 2 – 3 KAMAR – 12 TEMPAT TIDUR

KELAS 3 – 4 KAMAR – 28 TEMPAT TIDUR

JUMLAH : 45 TEMPAT TIDUR

PERAWATAN NIFAS:

6 RUANGAN PERAWATAN TERDIRI DARI:

KELAS 1 – 2 KAMAR – 4 TEMPAT TIDUR

KELAS 2 – 1 KAMAR – 5 TEMPAT TIDUR

KELAS 3 – 3 KAMAR – 14 TEMPAT TIDUR

JUMLAH : 23 TEMPAT TIDUR

PERAWATAN GSR:

4 RUANGAN PERAWATAN TERDIRI DARI:

KELAS 1 – 2 KAMAR – 4 TEMPAT TIDUR

KELAS 2 – 1 KAMAR – 4 TEMPAT TIDUR

KELAS 3 - 1 KAMAR – 12 TEMPAT TIDUR

JUMLAH : 20 TEMPAT TIDUR


47

KAMAR BERSALIN/PERINATOLOGI

1 RUANGAN PERAWATAN TERDIRI DARI

KELAS 1 – 1 KAMAR – 8 TEMPAT TIDUR

JUMLAH : 8 TEMPAT TIDUR

ICU – 1 KAMAR – 9 TEMPAT TIDUR

PICU/NICU – 1 KAMAR – 4 TEMPAT TIDUR

VIP - 5 KAMAR – 6 TEMPAT TIDUR

VVIP - 5 KAMAR – 4 TEMPAT TIDUR

PERAWATAN KLAS I - 9 KAMAR – 19 TEMPAT TIDUR

JUMLAH SELURUH TT : 209 TT

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden

a. Jenis Kelamin

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Kelamin
RSUD Kota Makassar
Jenis Kelamin n %
Laki-laki 17 56,7
Perempuan 13 43,3
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
Dari tabel 5.1 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 17 (56,7%) responden yang jenis kelamin laki-laki, dan

sebanyak 13 (43,3%) responden yang jenis kelamin perempuan.


48

b. Pendidikan

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pendidikan
RSUD Kota Makassar
Pendidikan n %
Tidak Tamat SD 2 6,7
SD 5 16,7
SMP 6 20,0
SMA 12 40,0
Perguruan Tinggi 5 16,7
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
Dari tabel 5.2 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 2 (6,7%) responden yang pendidikan tidak tamat SD paling

sedikit, dan sebanyak 12 (40,0%) responden yang pendidikan SMA

paling banyak.

c. Umur

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur
RSUD Kota Makassar
Umur n %
>20 Tahun 9 30,0
<20 Tahun 21 70,0
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
Dari tabel 5.4 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 9 (30,0%) responden yang umur >20 tahun dan sebanyak 21

(70,0%) responden yang umur <20 tahun.


49

d. Pekerjaan

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pekerjaan
RSUD Kota Makassar
Pekerjaan n %
Tidak Bekerja 3 10,0
Pelajar 14 46,7
Mahasiswa 4 13,3
Wiraswasta 7 23,3
PNS 2 6,7
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
Dari tabel 5.3 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 2 (6,7%) responden yang pekerjaan PNS paling sedikit, dan

sebanyak 13 (43,3%) responden yang pekerjaan pelajar paling banyak.

2. Analisa Univariat

a. Perawatan

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Perawatan
RSUD Kota Makassar
Perawatan n %
Kurang 12 40,0
Baik 18 60,0
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
Dari tabel 5.5 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 12 (40,0%) responden yang perawatan kurang dan sebanyak

18 (60,0%) responden yang perawatan baik.


50

b. Kepatuhan Diit

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Kepatuhan Diit
RSUD Kota Makassar
Kepatuhan Diit n %
Tidak Patuh 8 26,7
Patuh 22 73,3
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
Dari tabel 5.6 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 8 (26,7%) responden yang kepatuhan diit tidak patuh, dan

sebanyak 22 (73,3%) responden yang kepatuhan diit patuh.

c. Status Nutrisi

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Status Nutrisi
RSUD Kota Makassar
Status Nutrisi n %
Kurang 6 20,0
Baik 24 80,0
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
Dari tabel 5.7 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 6 (20,0%) responden yang status nutrisi kurang, dan sebanyak

24 (80,0%) responden yang status nutrisi baik.

d. Lama Hari Rawat

Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Lama Hari Rawat
RSUD Kota Makassar
Lama Hari Rawat n %
Lama 10 33,3
Tidak Lama 20 66,7
Total 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017
51

Dari tabel 5.8 diatas menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden

terdapat 10 (33,3%) responden yang lama hari rawat lama dan

sebanyak 20 (66,7%) responden yang lama hari rawat tidak lama.

e. Analisa Bivariat

a. Hubungan Antara Umur Dengan Lama Hari Rawat

Tabel 5.9
Hubungan Antara Umur Dengan Lama Hari Rawat
di RSUD Kota Makassar
Lama Hari Rawat
Umur
Lama Tidak Lama Jumlah
n % n % n % Nilai p
>20 Tahun 9 100,0 0 0,0 9 100,0
<20 Tahun 1 4,8 20 95,2 21 100,0 0,000
Total 10 33,7 20 66,7 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan tabel 5.9 menunjukkan bahwa dari 30 jumlah

responden terdapat 9 responden yang umur >20 tahun, sebanyak 9

(100,0%) responden yang lama hari rawat lama dan sebanyak (0,0%)

responden yang lama hari rawat tidak lama. Sedangkan dari 21

responden yang umur <20 tahun, sebanyak 1 (4,8%) responden yang

lama hari rawat lama dan sebanyak 20 (95,2%) responden yang lama

hari rawat tidak lama.

Berdasarkan hasil uji statistik chi-square dengan koreksi Fisher’s

Exact Test antara variabel umur dengan variabel lama hari rawat,

diperoleh p = 0,000 (α=0,05) yang artinya ada hubungan antara umur

dengan lama hari rawat.


52

b. Hubungan Antara Perawatan Dengan Lama Hari Rawat

Tabel 5.10
Hubungan Antara Perawatan Dengan Lama Hari Rawat
di RSUD Kota Makassar
Lama Hari Rawat
Perawatan
Lama Tidak Lama Jumlah
n % n % n % Nilai p
Kurang 8 66,7 4 33,3 12 100,0
Baik 2 11,1 16 88,9 18 100,0 0,04
Total 10 33,7 20 66,7 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan tabel 5.10 menunjukkan bahwa dari 30 jumlah

responden terdapat 12 responden yang perawatan kurang, sebanyak 8

(66,7%) responden yang lama hari rawat lama, dan sebanyak 4

(33,3%) responden yang lama hari rawat tidak lama. Sedangkan dari

18 responden yang perawatan baik, sebanyak 2 (11,1%) responden

yang lama hari rawat lama dan sebanyak 16 (88,9/%) responden yang

lama hari rawat tidak lama.

Berdasarkan hasil uji statistik chi-square dengan koreksi Fisher’s

Exact Test antara variabel perawatan dengan variabel lama hari rawat,

diperoleh p = 0,004 (α=0,05) yang artinya ada hubungan antara

perawatan dengan lama hari rawat.


53

c. Hubungan Antara Kepatuhan Diit Dengan Lama Hari Rawat

Tabel 5.11
Hubungan Antara Kepatuhan Diit Dengan Lama Hari Rawat
di RSUD Kota Makassar
Lama Hari Rawat
Kepatuhan
Diit Lama Tidak Lama Jumlah
n % n % n % Nilai p
Tidak Patuh 8 100,0 0 0,0 8 100,0
Patuh 2 9,1 20 90,9 22 100,0 0,000
Total 10 33,7 20 66,7 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan bahwa dari 30 jumlah

responden terdapat 8 responden yang kepatuhan diit tidak patuh, dan

sebanyak 8 (100,0%) responden yang lama hari rawat lama dan

sebanyak 0 (0,0%) responden yang lama hari rawat tidak lama.

Sedangkan dari 22 responden yang kepatuhan diit patuh, sebanyak 2

(9,1%) responden yang lama hari rawat lama dan sebanyak 20

(90,9/%) responden yang lama hari rawat tidak lama.

Berdasarkan hasil uji statistik chi-square dengan koreksi Fisher’s

Exact Test antara variabel kepatuhan diit dengan variabel lama hari

rawat, diperoleh p = 0,000 (α=0,05) yang artinya ada hubungan antara

kepatuhan diit dengan lama hari rawat.


54

d. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Lama Hari Rawat

Tabel 5.12
Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Lama Hari Rawat
di RSUD Kota Makassar
Lama Hari Rawat
Status
Nutrisi Lama Tidak Lama Jumlah
n % n % n % Nilai p
Kurang 5 83,3 1 16,7 6 100,0
Baik 5 20,8 19 79,2 24 100,0 0,009
Total 10 33,7 20 66,7 30 100,0
Sumber : Data Primer 2017

Berdasarkan tabel 5.9 menunjukkan bahwa dari 30 jumlah

responden terdapat 6 responden yang status nutrisi kurang, sebanyak 5

(83,3%) responden yang lama hari rawat lama, dan sebanyak 1

(16,7%) responden yang lama hari rawat tidak lama. Sedangkan dari

24 responden yang status gizi nutrisi baik, sebanyak 5 (20,8%)

responden yang lama hari rawat lama dan sebanyak 19 (79,2/%)

responden yang lama hari rawat tidak lama.

Berdasarkan hasil uji statistik chi-square dengan koreksi Fisher’s

Exact Test antara variabel status nutrisi dengan variabel lama hari

rawat, diperoleh p = 0,009 (α=0,05) yang artinya ada hubungan antara

status nutrisi dengan lama hari rawat.


55

C. Pembahasan

1. Hubungan Antara Umur Dengan Lama Hari Rawat

Dari hasil analisa data dengan menggunakan hasil uji statistik chi-

square dengan koreksi Fisher’s Exact Test antara variabel umur dengan

variabel lama hari rawat, diperoleh p = 0,000 (α=0,05) yang artinya ada

hubungan antara umur dengan lama hari rawat. Hal ini sejalan dengan

teori Anies (2010) dikutip oleh Notoamdjo (2011) usia merupakan salah

satu faktor yang mempengaruhi kepekaan terhadap infeksi virus dengue.

Semua usia dapat diserang, meskipun baru berumur beberapa hari setelah

lahir. Umur juga mempengaruhi penyakit seseorang saat di rawat di rumah

sakit. Semakin tua umur seseorang dapat memperhambat proses

penyembuhan penyakit yang dapat membuat pasien lama di rawat di

rumah sakit.

Berdasarkan hasil penelitian terdapat 30 jumlah responden terdapat

Sedangkan dari 9 responden yang umur >20 tahun, sebanyak 9 (100,0%)

responden yang lama hari rawat lama. Hal ini disebabkan karena usia

seseorang sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan suatu penyakit

semakin mudah usia seseorang semakin baik proses penyembuhan

penyakitnya dibandingkan dengan usia yang sudah tua, dan sebanyak

(0,0%) responden yang lama hari rawat tidak lama. Sedangkan 21

responden yang umur <20 tahun, sebanyak 1 (4,8%) responden yang lama

hari rawat lama, hal ini disebabkan karena kurang perhatian dalam

mengkonsumsi obat yang diberikan oleh petugas kesehatan sehingga lama


56

hari rawat terlihat lama, dan sebanyak 20 (95,2%) responden yang lama

hari rawat tidak lama, hal ini disebabkan karena umur responden masih

terlihat mudah sehingga proses pemberian obat dalam penyembuhan

penyakitnya sangat mudah direspon dengan sistem kekebalan tubuhnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Hasri Nopianto

(2012), hasil penelitian dengan judul faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap lama hari rawat inap pasien DBD hasil penelitiannya menunjukan

bahwa ada pengaruh usia dengan lama hari rawat inap pasien DBD.

Hasil penelitian ini peneliti berasumsi bahwa semakin muda usia

seseorang sangat mempengaruhi sistem kekebalan tubuhnya, sehingga

dapat mempengaruhi proses penyembuhan penyakitnya maupun lama hari

rawat inap.

2. Hubungan Antara Perawatan Dengan Lama Hari Rawat

Dari hasil analisa data dengan menggunakan hasil uji statistik chi-

square dengan koreksi Fisher’s Exact Test antara variabel perawatan

dengan variabel lama hari rawat, diperoleh p=0,004 (α=0,05) yang artinya

ada hubungan antara perawatan dengan lama hari rawat. Hal ini sejalan

dengan teori Soedarto, (2010) perawatan merupakan suatu keadaan yang

bagus untuk mengenal tanda-tanda nutrisi buruk dan mengambil

langkah-langkah untuk mengawali perubahan. Kontak sehari-hari yang

dekat dengan klien dan keluarganya memungkinkan perawatan untuk

mengobservasi status fisik, asupan makanan, penambahan atau

pengurangan berat badan dan respon pada terapi klien. Nutrisi adalah
57

bagian esensial penyembuhan dari setiap penanganan medis. Diet pada

pasien demam tifoid berupa bubur dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat

kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa

pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah

selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan

aman. Juga perlu diberikan vitamin dan mineral untuk mendukung

keadaan umum pasien.

Berdasarkan hasil penelitian terdapat 30 jumlah responden terdapat 12

responden yang perawatan kurang, sebanyak 8 (66,7%) responden yang

lama hari rawat lama. Hal ini disebabkan karena pasien tidak patuh

terhadap perawatan yang diberikan karena banyak pasien yang tidak

menyukai bubur karena tidak sesuai dengan selera mereka yang akan

mempengaruhi keadaan umum dan status gizi pasien yang mana dapat

berakibat masa perawatan menjadi lama. Kepatuhan diet yang dilakukan

oleh pasien dirumah sakit akan berdampak kepada status gizi pasien

dimana status gizi ditentukan oleh tingkat konsumsi, baik kualitas maupun

kuantitas. Kualitas berarti adanya semua zat gizi yang diperlukan dalam

tubuh pada makanan dan ada dalam keadaan seimbang, sedangkan

kuantitas menunjukkan kuantum masing masing zat gizi terhadap tubuh.

Kalau susunan makanan memenuhi kebutuhan baik dari kualitas maupun

dari kuantitas maka tubuh akan memperoleh kondisi kesehatan yang

sebaik-baiknya yang pada akhirnya akan menghasilkan status gizi yang

baik pula (Depkes, RI 2014), dan sebanyak 4 (33,3%) responden yang


58

lama hari rawat tidak lama, hal ini disebabkan karena pasien teratur

mengkonsumsi obat sehingga lama hari rawat tidak lama. Sedangkan dari

18 responden yang perawatan baik, sebanyak 2 (11,1%) responden yang

lama hari rawat lama. Hal ini disebabkan karena penyakit yang diderita

pasien banyak mengalami komplikasi dari penyakit lain, dan sebanyak 16

(88,9/%) responden yang lama hari rawat tidak lama, hal ini disebabkan

karena perawatan yang diberikan kepada pasien demam thypoid sangat

baik dan sesuai dengan jadwal perawatan yang diberikan kepada pasien

sehingga tingkat kesembuhan terlihat baik yang dapat mempengaruhi lama

hari rawat pasien.

Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas

demam atau kurang lebih selama 14 hari. Maksud tirah baring adalah

untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi

usus. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya

tranfusi bila ada komplikasi perdarahan. Pasien demam tifoid perlu dirawat

di rumah sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan. Mobilisasi pasien

dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Pasien

dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus di ubah-ubah pada

waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik

dan dekubitus (Tjokonegoro, A, 2010).

Di rumah sakit terdapat pula pedoman perawatan tersendiri yang

akan memberikan rekomendasi secara spesifik mengenai cara makan yang

bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan atau mempertahankan status


59

nutrisi pasien, tetapi juga untuk mencegah permasalahan lain akibat

intoleransi terhadap jenis makanan tertentu, tujuan selanjutnya pada diit

rumah sakit adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan daya tahan

tubuh dalam menghadapi penyakit khususnya infeksi dan membantu

kesembuhan atau cepatnya perawatan pasien dari penyakit dengan

memperbaiki jaringan. Dengan memperhatikan tujuan diit tersebut, rumah

sakit umumnya akan menyediakan makanan dengan kandungan nutrient

yang baik dan seimbang menurut keadaan penyakit dan status gizi

masing-masing pasien, makanan dengan tekstur dan konsistensi yang

sesuai menurut kondisi gastrointestinal dan penyakit masing-masing

pasien, makanan yang mudah dicerna dan tidak merangsang (Soedarto,

2010).

Hasil penelitian ini peneliti berasumsi bahwa semakin baik

perawatan yang diberikan kepada pasien berupa asuhan keperawatan

pemberian obat-obatan serta makanan dan minuman sesuai dengan

kebutuhan pasien sangat mempengaruhi proses penyembuhan penyakit

yang diderita oleh pasien sehingga pasien jarang mengalami lama harin

rawat di rumah sakit tersebut.

3. Hubungan Antara Kepatuhan Diit Dengan Lama Hari Rawat

Dari hasil analisa data dengan menggunakan hasil uji statistik chi-

square dengan koreksi Fisher’s Exact Test antara variabel kepatuhan diit

dengan variabel lama hari rawat, diperoleh p=0,000 (α=0,05) yang artinya

ada hubungan antara kepatuhan diit dengan lama hari rawat. Hal ini
60

sejalan dengan teori Hartono, (2010) diit adalah pengaturan jenis makanan

dengan maksud mempertahankan kesehatan, serta status nutrisi dan

membantu kesembuhan penyakit dan mempercepat lama hari rawat.

Berdasarkan hasil penelitian terdapat 30 jumlah responden terdapat 8

responden yang kepatuhan diit tidak patuh, sebanyak 8 (100,0%)

responden yang lama hari rawat lama. Hal ini disebabkan karena

kepatuhan diit pada pasien demam tifoid berupa bubur dan akhirnya nasi

sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian

menunjukkan bahwa pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan

lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat

diberikan dengan aman. Juga perlu diberikan vitamin dan mineral untuk

mendukung keadaan umum pasien serta lama hari rawat pasien tersebut

(Hartono, 2010) dan sebanyak 0 (0,0%) responden yang lama hari rawat

tidak lama. Sedangkan dari 22 responden yang kepatuhan diit patuh,

sebanyak 2 (9,1%) responden yang lama hari rawat lama, hal ini

disebabkan karena faktor yang lain berupa tirah baring pasien kurang baik

sehingga mempengaruhi lama hari rawatnya dan sebanyak 20 (90,9/%)

responden yang lama hari rawat tidak lama, hal ini disebabkan karena

pasien selalu patuh terhadap diit serta makan maupun obat-obatan

sehingga lama hari rawat inap tidak lama.

Menurut teori Brunner & Suddarth, (2002) masukan diit

merupakan kecukupan makanan harus memperhatikan kuantitas dan

kualitas makanan dan juga frekuensi dimana makanan tertentu harus


61

dimakan agar dapat ketahui masukan makanan yang baru maupun yang

dahulu. Metoda yang biasa dipakai untuk menentukan pola makanan

seseorang meliputi catatan makanan dan food recall 24 jam, yang dapat

membantu memperkirahkan apakah masukan makanan sudah cukup dan

memadai. Jika alat tersebut yang digunakan, maka intruksi untuk

menyimpan catatan diberikan bila riwayat diit pasien tela diperoleh.

Diit sangat berguna untuk menjaga kesehatan dan mencegah

penyakit. Bila terjadi penyakit atau cedera maka makanan merupakan

faktor esensial dalam membantu penyembuhan dan mencegah infeksi

sehingga mempercepat lama hari rawat. Pengkajian status nutrisi pasien

dapat memberikan informasi mengenai masalah tertentu pada penderita

rawat inap. Kecukupan masukan makanan harus memperhatikan kuantitas

dan kualitas makanan dan juga frekuensi dimana makanan tertentu harus

dimakan agar dapat diketahui masukan makanan yang baru maupun yang

dahulu. Metode yang biasa dipakai untuk menentukan pola makan

seseorang meliputi catatan makanan. Catatan makanan yang sering

digunakan untuk meneliti status nutrisi. Pasien diminta mencatat makanan

selama kurun waktu tertentu, bervariasi dari 3-7 hari (Brunner & Sunddart,

2012)

Di rumah sakit terdapat pula pedoman diit tersendiri yang akan

memberikan rekomendasi secara spesifik mengenai cara makan yang

bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan atau mempertahankan status

nutrisi pasien, tetapi juga untuk mencegah permasalahan lain akibat


62

intoleransi terhadap jenis makanan tertentu, tujuan selanjutnya pada diit

rumah sakit adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan daya tahan

tubuh dalam menghadapi penyakit khususnya infeksi dan membantu

kesembuhan atau cepatnya perawatan pasien dari penyakit dengan

memperbaiki jaringan (Hartono, 2010).

Hasil penelitian ini peneliti berasumsi bahwa kepatuhan diit pada

umumnya di rumah sakit akan menyediakan makanan dengan kandungan

nutrient yang baik dan seimbang menurut keadaan penyakit dan status gizi

masing-masing pasien, makanan dengan tekstur dan konsistensi yang

sesuai menurut kondisi gastrointestinal dan penyakit masing-masing

pasien, makanan yang mudah dicerna dan tidak merangsang sehingga

dapat membantu menyembuhan penyakit demam thypoid yang

mempengaruhi lama hari rawat.

4. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Lama Hari Rawat

Dari hasil analisa data dengan menggunakan hasil uji statistik chi-

square dengan koreksi Fisher’s Exact Test antara variabel status nutrisi

dengan variabel lama hari rawat, diperoleh p=0,009 (α=0,05) yang artinya

ada hubungan antara status nutrisi dengan lama hari rawat, hal ini sejalan

dengan teori Hardjodisastro dkk, (2011) status nutrisi adalah keadaan

kesehatan individu atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan

fisik, energi dan zat-zat gizi lainnya yang diperoleh dari pangan dan

makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri.


63

Berdasarkan hasil penelitian terdapat 30 jumlah responden

terdapat 6 responden yang status nutrisi kurang, sebanyak 5 (83,3%)

responden yang lama hari rawat lama. Hal ini disebabkan karena nutrisi

mempunyai peranan yang cukup besar dalam proses penyembuhan pasien

termasuk pasien yang menderita demam tifoid dimana bahwa cakupan

nutrisi jauh lebih luas dibandingkan dengan terapi farmakologis atau terapi

dengan obat yang hanya terbatas pada proses defenisi dan imunitas dengan

ini masa perawatan menjadi singkat, sebagian dalam proses enzimatik, lagi

pula terapi farmakologis hanya efektif bila nutrisi tercukupi, karena proses

defense dan enzimatik sangat tergantung pacia asupan (intake) (Hartono,

A. 2010), dan sebanyak 1 (16,7%) responden yang lama hari rawat tidak

lama, hal ini disebabkan karena pasien selalu diberikan perawatan yang

memadai sehingga mempengaruhi proses penyembuhan penyakit serta

lama hari rawat. Sedangkan dari 24 responden yang status nutrisi baik,

sebanyak 5 (20,8%) responden yang lama hari rawat lama. Hal ini

disebabkan karena pasien nafsu makan pasien sangat terganggu sehingga

mempengaruhi penyembuhan penyakit serta lama hari rawat dan sebanyak

19 (79,2/%) responden yang lama hari rawat tidak lama, hal ini disebabkan

karena nutrisi yang berikan kepada pasien berupa makanan minuman dan

lain-lain dapat mempengaruhi lama hari rawat pasien.

Status nutrisi dan gizi ditentukan oleh tingkat konsumsi, baik

kualitas maupun kuantitas. Kualitas berarti adanya semua zat gizi yang

diperlukan dalam tubuh pada makanan dan ada dalam keadaan seimbang,
64

sedangkan kuantitas menunjukkan kuantum masing masing zat gizi

terhadap tubuh. Kalau susunan makanan memenuhi kebutuhan baik dari

kualitas maupun dari kuantitas maka tubuh akan memperoleh kondisi

kesehatan yang sebaik-baiknya yang pada akhirnya akan menghasilkan

status gizi yang baik pula (Hartono, A. 2010).

Hal ini disebabkan karena semakin baik status nutrisi pasien yang

diberikan oleh petugas kesehatan rumah sakit berupa makanan, buah-

buahan serta obat vitamin maka dapat membantu proses penyambuhan

penyakit demam thypoid yang diderita oleh pasien serta lama hari rawat

pasien tersebut.

D. Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari bahwa penelitian yang dilakukan ini masih jauh

dari sempurna, karena adanya keterbatasan pengetahuan, tenaga, waktu dan

biaya yang tersedia. Hasil penelitian ini masih menjadi kekrurangan bagi

peneliti, karena peneliti masih meminta bantuan orang lain untuk

mengumpulkan data dan pengisian kuesioner dilakukan pada saat dilakukan

penelitian.