Vous êtes sur la page 1sur 49

KEPERAWATAN KRITIS 2

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TRAUMA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cedera medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis


vertebralis dan lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang
belakang. Cedera medula spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang
mempengaruhi 150.000 sampai 500.000 orang di Amerika Serikat, dengan
perkiraan 20.000 cedera baru yang terjadi setiap tahun. Insiden tahunan spinal
cord injury termasuk kematian pra-rumah sakit telah diperkirakan 43-77 per
juta penduduk di Amerika Serikat yang setara dengan sekitar 20.000 pasien
setiap tahun. (Bernhard et al, 2005)
Sekitar 20% dari pasien ini meninggal sebelum mereka diterima di rumah
sakit. Kejadian spinal cord injury dikaitkan dengan prevalensi sekitar 200.000
pasien di Amerika Serikat. Dari pasien SCI ini 50-70% adalah antara 15 dan 35
tahun usia, sedangkan 4-14% berusia 15 tahun atau lebih muda. Rasio kejadian
pada pria dan wanita adalah 4:1. Estimasi biaya untuk perawatan Spinal cord
injury di Amerika Serikat adalah sekitar US $ 4 miliar per tahun. Oleh karena
itu, Spinal cord injury merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas
pada orang muda dan sebagai hasilnya memiliki besar dampak pada
masyarakat secara keseluruhan (Bernhard et al, 2005).
Penyebab paling sering Spinal cord injury pada orang dewasa adalah
kecelakaan kendaraan bermotor (40%), jatuh (21%), tindak kekerasan (15%),
dan cedera yang berhubungan dengan olahraga (13%). Pada anak-anak, spinal
cord injury sebagian besar disebabkan karena olahraga (24%) dan kegiatan
rekreasi air (13%). Dalam tampilan grafik retrospektif dari 331 pasien, pada
penelitian yang dilakukan Domeier et al (2005), menggambarkan distribusi
lokasi cidera spinal cord injury 29% terjadi pada servikal, 24% pada torakal,
37% pada lumbal, dan 10% pada sakral. Penilaian pada pasien trauma (Trauma
Life Support) dilakukan pemeriksaan neurologis menyeluruh untuk
mengidentifikasi cedera tulang belakang serta transfer pasien pada petugas
kesehatan yang berkompeten. Kolaborasi tim kesehatan yang berasal dari
multidisplin ilmu dapat mengelola penatalaksanaan pasien spinal cord injury.
Medical and surgical tim serta nursing expertise bersama-sama memanajemen
pasien mulai dari penanganan pertama yang tepat, fase hospitalisasi,
pencegahan komplikasi seperti menghindari ulserasi dekubitus dan komplikasi
lain dari cedera tulang belakang hingga fase rehabilitasi seperti rehabilitasi
medik; dan psikososial. (White & Thumbikat, 2012).
Pada kasus trauma ini, peran perawat sangat diperlukan untuk dapat
membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan spinal
cord injury baik saat prehospital management, fase hospital, maupun
4
rehabilitatif, sehingga masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi dan
terhindar dari komplikasi yang lebih lanjut.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Trauma Medula Spinalis?


2. Bagaiman mekanisme Trauma Medula Spinalis?
3. Apa penyebap terjadinya Trauma Medula Spinalis?
4. Bagaimana patofisiologi Trauma Medula Spinalis?
5. Bagaimana manifestasi klinis Trauma Medula Spinalis?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk mengetahui terjadinya Trauma
Medula Spinalis?
7. Bagaiamana pentalaksanaan medis bagi Trauma Medula Spinalis?
8. Apa saja komplikasi yang terjadi pada Trauma Medula Spinalis?
9. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Trauma
Medula Spinalis?

1.3 Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas kelompok yang diberikan oleh dosen fasilitator,


serta mengetahui bagaimana konsep penyakit atau Trauma Medula Spinalis serta
bagaimana Asuhan Keperawatannya.

1.4 Tujuan Khusus

1. Mengetahui pengertian Trauma Medula Spinalis


2. Mengetahui mekanisme terjadinya Trauma Medula Spinalis
3. Mengetahui penyebap Trauma Medula Spinalis
4. Mengetahui patofisiologi Trauma Medula Spinalis
5. Mengetahui manifestasi klinis Trauma Medula Spinalis
6. Mengidentifikasi pemeriksaan penunjang Trauma Medula Spinalis
7. Mengidentifikasi penatalaksanaan dan algoritma medis Trauma Medula
Spinalis
8. Mengetahui komplikasi yang terjadi pada Trauma Medula Spinalis
9. Mengidentifikasi dan menjelaskan konsep asuhan keperawatan Trauma
Medula Spinalis

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi

Medula Spinalis adalah bagian dari sistem saraf yang membentuk sistem
kontinu dengan batang otak yang keluar dari hemisfer serebral dan memberikan
tugas sebagai penghubung otak dan saraf perifer, seperti pada kulit dan otot.
Panjangnya rata-rata 45 cm dan menipis pada jari-jari. Medula spinalis ini
memanjang dari foramen magnum di dasar tengkorak sampai bagian lumbar kedua
tulang belakang, yang berakhir di dalam berkas serabut yang disebut konus
medullaris. Seterusnya di bawah lumbar kedua adalah akar saraf, yang memanjang
melebihi konus, dan disebut kauda equina dimana akar saraf ini menyerupai akar
kuda. Saraf-saraf medula spinalis tersusun atas 33 segmen yaitu 7 segmen
servikal, 12 torakal, 5 lumbal, 5 sakral, dan 5 segmen koksigius. Medula spinalis
mempunyai 31 pasang saraf spinal, masing-masing segmen mempunyai satu untuk
setiap sisi tubuh. Seperti otak, medula spinalis terdiri atas substansi grisea dan
alba. Substansi grisea di dalam otak ada di daerah eksternal dan substansi alba ada
pada bagian internal ( Sherwood,2001). Vertebralis dikelompokkan sebagai
berikut :
a. Vetebrata Thoracalis (atlas).
Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak memiliki corpus tetapi
hanya berupa cincin tulang. Vertebrata cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens,
yang mirip dengan pasak. Veterbrata cervitalis ketujuh disebut prominan karena
mempunyai prosesus spinasus paling panjang.
b. Vertebrata Thoracalis.
Ukurannya semakin besar mulai dari atas kebawah. Corpus berbentuk
jantung, berjumlah 12 buah yang membentuk bagian belakang thorax.
c. Vertebrata Lumbalis.
Corpus setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk ginjal,
berjumlah 5 buah yang membentuk daerah pinggang, memiliki corpus vertebra
yang besar ukurnanya sehingga pergerakannya lebih luas kearah fleksi.
d. Os. Sacrum.
Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang
dimana ke 5 vertebral ini rudimenter yang bergabung yang membentuk tulang
bayi.
e. Os. Coccygis.
Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor pada manusia, mengalami
rudimenter.
Lengkung koluma vertebralis.kalau dilihat dari samping maka kolumna vertebralis
memperlihatkan empat kurva atau lengkung antero-pesterior : lengkung vertikal
pada daerah leher melengkung kedepan daerah torakal melengkung kebelakang,

6
daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung kebelakang. Kedua
lengkung yang menghadap pasterior, yaitu torakal dan pelvis, disebut promer
karena mereka mempertahankan lengkung aslinya kebelakang dari hidung tulang
belakang, yaitu bentuk (sewaktu janin dengna kepala membengkak ke bawah
sampai batas dada dan gelang panggul dimiringkan keatas kearah depan badan.
Kedua lengkung yang menghadap ke anterior adalah sekunder → lengkung
servikal berkembang ketika kanak-kanak mengangkat kepalanya untuk melihat
sekelilingnya sambil menyelidiki, dan lengkung lumbal di bentuk ketika ia
merangkak, berdiri dan berjalan serta mempertahankan tegak.
Fungsi dari kolumna vertebralis. Sebagai pendukung badan yang kokoh
dan sekaligus bekerja sebagai penyangga kedengan prantaraan tulang rawan
cakram intervertebralis yang lengkungnya memberikan fleksibilitas dan
memungkinkan membonkok tanpa patah. Cakramnya juga berguna untuk
menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakkan berat badan seperti waktu
berlari dan meloncat, dan dengan demikian otak dan sumsum belkang terlindung
terhadap goncangan. Disamping itu juga untuk memikul berat badan,
menyediakan permukaan untuk kartan otot dan membentuk tapal batas pasterior
yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi kaitan pada iga.
Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medula
ablongata, menjulur kearah kaudal melalu foramen magnum dan berakhir diantara
vertebra-lumbalis pertama dan kedua. Disini medula spinalis meruncing sebagai
konus medularis, dna kemudian sebuah sambungan tipis dasri pia meter yang
disebut filum terminale, yang menembus kantong durameter, bergerak menuju
koksigis. Sumsum tulang belakang yang berukuran panjang sekitar 45 cm ini,
pada bagian depannya dibelah oleh figura anterior yang dalam, sementara bagian
belakang dibelah oleh sebuah figura sempit.
Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan, servikal dan
lumbal. Dari penebalan ini, plexus-plexus saraf bergerak guna melayani anggota
badan atas dan bawah dan plexus dari daerah thorax membentuk saraf-saraf
interkostalis.
Fungsi sumsum tulang belakang :
1. Organ sensorik : menerima impuls, misalnya kulit.
2. Serabut saraf sensorik ; mengantarkan impuls-impuls tersebut menuju sel-
sel dalam ganglion radix pasterior dan selanjutnya menuju substansi
kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis.
3. Sumsum tulang belakang, dimana serabut-serabut saraf penghubung
menghantarkan impuls-impuls menuju karnu anterior medula spinalis.
4. Sel saraf motorik ; dalam karnu anterior medula spinalis yang menerima
dan mengalihkan impuls tersebut melalui serabut sarag motorik.
5. Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang oleh impuls
saraf motorik.

7
6. Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila terputus pada
daerah torakal dan lumbal mengakibatkan (pada daerah torakal) paralisis
beberapa otot interkostal, paralisis pada otot abdomen dan otot-otot pada
kedua anggota gerak bawah, serta paralisis sfinker pada uretra dan rektum.

2.2 Definisi

Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang


disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth,
2001). Trauma medulla spinalis adalah buatan kerusakan tulang dan sumsum yang
mengakibatkan gangguan sistem persyarafan didalam tubuh manusia yang
diklasifikasikan menurut Marilyn E. Doengoes, 1999;338) sebagai :
- komplet (kehilangan sensasi dan fungsi motorik total)
- tidak komplet (campuran kehilagan sensori dan fungsi motorik)
Trauma medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan sering kali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila Trauma itu mengenai
daerah servikal pada lengan, badan dan tungkai mata penderita itu tidak tertolong.
Dan apabila saraf frenitus itu terserang maka dibutuhkan pernafasan buatan,
sebelum alat pernafasan mekanik dapat digunakan.

2.3 Etiologi

Penyebab dari Trauma medulla spinalis dibedakan menjadi dua, yaitu traumatic
spinal-cord injury dan non-traumatic spinal-cord injury (McDonald & Sadowsky,
2002). Termasuk Traumatic spinal cord injury adalah kecelakaan di jalan raya
(penyebab tersering), tindak kekerasan, terjatuh, kegiatan olahraga (menyelam),
Luka tusuk; tembak; tikam, dan rekreasi. Sedangkan non-traumatic spinal-cord
injury terdiri dari: Congenital and developmental, gangguan CNS Degenerative,
Infeksi, Inflammatory: Multiple sclerosis, transverse myelitis Toxic, radiasi, dan
Tumor. Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medula spinalis non
traumatic seperti spondiliosis servikal dengan mielopati (yang menghasilkan
saluran sempit dan mengakibatkan cedera progresif terhadap medula spinalis dan
akar), mielitis (akibat proses inflamasi infeksi maupun non-infeksi), osteoporosis
(disebabkan oleh fraktur kompensasi pada vertebra), siringemelia, tumor infiltrasi
maupun kompresi, dan penyakit vascular.

8
Gambar 2.1 penyakit penyebab non-traumatic spinal cord injury

2.4 Klasifikasi

Klasifikasi fraktur dapat diklasifikasikan berdasar beberapa hal, diantaranya:


1. Berdasarkan dari besar kecilnya kerusakan anatomis atau berdasarkan
stabil atau tidak stabil.
’Major Fracture’ bila fraktur mengenai pedikel, lamina atau korpus
vertebra. ’Minor Fracture’ bila fraktur terjadi pada prosesus transversus,
prrosesus spinosus atau prosesus artikularis.

Gambar 2.2 Major Frcture

Gambar 2.3 Minor Fracture


Suatu fraktur disebut ’stable’, bila kolumna vertebralis masih
mampu menahan beban fisik dan tidak tampak tanda – tanda pergeseran
atau deformitas dari struktur vertebra dan jaringan lunak. Suatu fraktur
disebut ’unstable’, bila kolumna vertebralis tidak mampu menahan beban

9
normal, kebanyakan menunjukkan deformitas dan rasa nyeri serta adanya
ancaman untuk terjadi gangguan neurologik.
2. Berdasarkan penyebab
Klasifikasi SCI berdasarkan penyebabnya adalah traumatic dan non-
traumatic spinal cord injury. Kecelakan di jalan raya serta trauma secara
langsung lainnya merupakan jenis traumatic, sedangkan non traumatic
akibat dari penyakit degenerative, infeksi, tumor, dan penyakit
inflammatory lain.
3. Berdasarkan letak trauma
Klasifikasi berdasar Letak trauma pada vertebra: (Hanafiah, 2007)
a. Cervical Spine, terjadi sebanyak 55%
b. Thoracic Spine, pada 15% kejadian
c. Thoracolumbar Spine, 15% kejadian; dan
d. Lumbosacral Spine, 15% kasus.
4. Berdasarkan mekanisme
Klasifikasi berdasar mekanisme ini dibagi dua yakni complete dan
incomplete. Penilaian terhadap gangguan motorik dan sensorik
dipergunakan Frankel Score. (Chin, 2013)
a. FRANKEL SCORE A: kehilangan fingsi motorik dan
sensorik lengkap/complete loss. Motoris (-) sensoris (-)
b. FRANKEL SCORE B: Fungsi motoric hilang, fungsi
sensorik utuh. Motoris (-), sensoris (+)
c. FRANKEL SCORE C: Fungsi motoric ada tetapi secara
praktis tidak berfungsi (dapat menggerakkan tungkai tetapi
tidak dapat berjalan). Motoris (+) dengan ROM 2 atau 3,
sensoris (+)
d. FRANKEL SCORE D: Fungsi motoric terganggu (dapat
berjalan tetapi tidak dengan normal‖gait‖). Motoris )+)
dengan ROM 4, sensoris (+)
e. FRANKEL SCORE E: Tidak terdapat gangguan
neurologik. Motoris (+), sensoris (+)
Klasifikasi menurut American Spinal Injury Association (ASIA)
impairement scale (modifikasi dari klasifikasi frankle) (Chin, 2013)
a. Grade A : komplit. Motoris (-), sensoris (-) termasuk pada
segmen sacral s4-s5
b. Grade B : inkomplit. Motoris (-), sensoris (+)
c. Grade C : inkomplit. Motoris (+) dengan kekuatan otot < 3
d. Grade D : inkomplit. Motoris (+) dengan kekuatan otot > 3
atau lebih dari sama dengan 3
e. Grade E : Motoris dan sensoris normal

10
5. Berdasarkan level

Gambar 2.4 Level Kerusakan Spinal Cord, fungsi, dan aktivitas yang
memungkinkan
6. Berdasarkan klasifikasi lain (Hanafiah, 2007)
Metode Klasifikasi Dennis
Metode ini dipakai untuk menilai fraktur didaerah torakolumbal dan
daerah cervical.

Gambar 2.5 Tampak lateral dari 2 buah korpus vertebra


Penilaian ini berdasarkan ’Teori 3 Kolom’ dari vertebra.
a) Bagian Anterior adalah ligamentum longitudinale anterior dan 2/3 bagian
depan dari korpus vertebra dan diskus.
b) Bagian Tengah (Middle) adalah 1/3 bagian posterior dari korpus vertebra
dan diskus serta ligamentum longitudinale posterior.
c) Bagian Posterior adalah pedikel, lamina, facets, dan ligamentum
posterior. Kolom Tengah (Middle Column) adalah ‖kunci‖ dari stabilitas.

11
Metode Klasifikasi Magerl
Klasifikasi ini dipakai untuk menilai fraktur daerah torakolumbal.

Gambar 2.6 Klasifikasi Magerl pada fraktur torakolumbal

Terdapat 3 jenis fraktur berdasarkan mekanismenya (mechanism of


failure):
a) Type A Compressive loads
b) Type B Distraction forces
c) Type C Multidirectional forces and translation

Berdasarkan Gangguan Neurologik


Yang dimaksud dengan gangguan neurologik (neurologic injury)
ialah trauma yang mengenai medula spinalis, cauda equine dan radices
(nerve roots). Keadaan ini mungkin terjadi karena kompresi dari vertebra,
fragmen tulang, atau diskus terhadap struktur neurologik. Dalam hal ini
semua struktur atau organ yang dipersarafi oleh saraf yang
terkena/terganggu akan kehilangan fungsinya baik sebagaian taupun secara
keseluruhan.

2.5 Patofisiologi

Kerusakan medulla spinalis berkisar dari kamosio sementara (pasien


sembuh sempurna) sampai kontusio, laserasi dan kompresi substansi medulla,
(lebih salah satu atau dalam kombinasi) sampai transaksi lengkap medulla
(membuat pasien paralisis). Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis,
darah dapat merembes ke ekstradural subdural atau daerah subaracnoid pada kanal
spinal, segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada cedera, serabut-serabut
saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi
terganggu, tidak hanya ini saja tetapi proses patogenik menyebabkan kerusakan
yang terjadi pada cidera medulla spinalis akut.

12
Hubungan pelepasan neurotransmiter terhadap cedera seluler telah diteliti
baik pada cedera kepala maupun cedera spinal. Kebanyakan penyelidikan awal
terpusat pada turunan asam amino eksitasi yaitu glutamat dan aspartat. Terdapat
pelepasan dramatis glutamat dan aspartat hingga 6 kali kadar normal, dimana
konsentrasi ini cukup untuk membunuh neuron. Hal ini dapat terjadi hingga 1 jam
setelah cedera. Perbedaan peningkatan spesies asam amino mendukung bahwa
aktivitas neuron lebih berperan daripada lisis sel. Berbagai model telah
menunjukkan disfungsi ekstremitas dapat terjadi ketika cord terpapar asam amino
eksitasi.
Beberapa tipe reseptor kemungkinan berperan pada cedera sekunder pada
spinal cord, termasuk reseptor kainate dan quisqualate, yang mengontrol saluran
untuk sodium (natrium) influx dan potassium (kalium) efflux, serta reseptor N-
methyl-D-aspartate (NMDA) yang memiliki saluran untuk natrium dan kalium
dan saluran untuk calcium influx. Akumulasi kalsium intraseluler dengan kalium
efflux telah diamati pada pada SCI eksperimental. Awal dari pembengkakan
neuron berhubungan dengan natrium influx, dimana dimana disintegrasi neuron
disebabkan oleh calcium influx. Baik antagonis kompetitif seperti 3-(2-
carboxypiperazin-4-yl)-propyl-1-phosphoric acid dan aminophosphoheptanoates,
serta antagonis nonkompetitif seperti phencyclidine, ketamin, magnesium,
dextrorphan, dan MK-801 telah menunjukkan dapat menurunkan cedera
neurologis sekunder.
Substansi lain yang berperan adalah peptida opioid. Dynorphin, beta-
endorphin, leu-enkephalin, dan met-enkephalin bersifat aktif pada reseptor kappa,
mu, dan delta. Opiat berhubungan dengan hipotensi yang terjadi setelah SCI.
Perawatan dengan obat yang dapat bekerja sebagai antagonis opiat menghasilkan
fungsi yang lebih baik.
Mekanisme selanjutnya pada cedera sekunder melibatkan aktivasi
membrane phospholipase, yang berakibat pada hidrolisis fosfolipid, bebasnya
asam arakidonat dan asam lemak lain dari membran sel. Aktivitas enzimatik oleh
siklooksigenase terhadap asam ini memproduksi peroksida lipid, sedangkan
aktivitas enzimatik oleh lipooksigenase memproduksi leukotrien dan prostanoid.
Lebih spesifik, level tromboksan A2 meningkat sesaat setelah terjadi SCI
eksperimental, dimana rasio tromboksan terhadap prostasiklin meningkat
abnormal hingga 18 jam. Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan cedera
sekunder oleh karena terbatasnya perfusi jaringan. Faktanya, pada model
eksperimental aliran darah pada spinal cord terukur pada 40-54% terhadap level
kontrol. Penggunaan steroid dan analognya dapat meningkatkan pemulihan,
kemungkinan berhubungan dengan inhibisi oleh substansi tersebut terhadap
peroksidasi lipid atau supresinya terhadap pelepasan asam amino eksitasi.
(Rowland, 2008)

13
2.6 Manifestasi Klinis

Gejala bervariasi tergantung pada lokasi cedera. Cedera tulang belakang


menyebabkan kelemahan dan hilangnya rasa pada lokasi cidera dan di bawahnya.
Seberapa berat gejala yang ditimbulkan tergantung pada apakah seluruh corda
spinalis cidera berat, (complete) atau hanya terluka sebagian (incomplete). Berikut
adalah gejala yang timbul sesuai dengan lokasi cidera: (Bhimji, 2014)
1. Cervical (Neck) Injuries
Ketika cedera tulang belakang terjadi pada daerah leher, gejala
dapat mempengaruhi lengan, kaki, dan bagian tengah tubuh. Gejala-
gejala dapat terjadi pada satu atau kedua sisi tubuh. Gejala juga dapat
mencakup kesulitan bernapas dari kelumpuhan otot-otot pernapasan,
jika cedera yang terjadi setinggi/diatas leher.
2. Thoracic (Chest Level) Injuries
Ketika cedera tulang belakang terjadi pada level dada, gejala dapat
mempengaruhi kaki. Cedera yang terjadi pada cervical atau high
thoracic spinal cord juga dapat mengakibatkan masalah tekanan darah,
berkeringat abnormal, dan kesulitan mempertahankan suhu tubuh
normal.
3. Lumbar Sacral (Lower Back) Injuries
Ketika cedera tulang belakang terjadi pada level punggung bawah,
gejala dapat mempengaruhi satu atau kedua kaki, serta otot-otot yang
mengontrol usus dan kandung kemih.

Cedera pada lumbar vertebra pertama dan di bawahnya tidak menyebabkan


cedera tulang belakang (SCI). Namun, mereka dapat menyebabkan "sindrom
cauda equina" yang trejadi cedera pada akar saraf di daerah ini. Jenis cedera
tulang belakang yang seperti ini merupakan keadaan darurat medis dan
membutuhkan operasi segera. Tanda dan gejala umum: (Bhimji, 2014)
1. Peningkatan tonus otot ( spastisitas )
2. Kehilangan kontrol bowel dan bladder (konstipasi, inkontinensia, dan
bladder spasms)
3. Kekebasan (numbness)
4. perubahan sensori
5. nyeri
6. Kelemahan dan kelumpuhan (paralysis)

14
2.7 Pemeriksaan Penunjang

1. Haemoglobin and haematocrit levels untuk memonitor kadar kehilangan


darah
2. Renal function and electrolytes: dehidrasi.
3. urinalisis untuk mendeteksi terkait cedera genitourinary
4. X-ray :
Pencitraan diagnostik dimulai dengan sinar - X dari wilayah yang terkena
dampak dari tulang belakang. Di beberapa tempat, CT scan telah
menggantikan plain X-ray dan menampilkann lokasi fraktur yang
terlewat saat x-ray. Serangkaian pemeriksaan trauma X - ray biasanya
pertama kali dilakukan (cervical spine, chest and pelvis). 3 standart views
untuk pemeriksaan cervical spine yang direkomendasikan adalah
anteroposterior, lateral and odontoid.
5. MRI

Fraktur C6 dengan burst component. A) pemeriksaan radiografi (x-ray)


lateral view dari cervical spine. B) pemeriksaan CT scan axial. C)
pemeriksaan MRI (T2-weighted sagittal) menunjukkan fraktur yang
meluas di tiga kolumna vertebralis menyebabkan cidera yang ekstensif
pada corda spinalis (bright signal dalam cord). Perubahan sinyal
terang(bright signal) di sepanjang C anterior dari badan vertebra (panah)
menunjukkan kerusakan ligament. Elemen posterior dari C4 terlihat
fraktur (panah). CT scan yang paling baik dan berguna dalam
menggambarkan cedera tulang, sedangkan MRI membantu untuk
mengidentifikasi tingkat kerusakan corda dan ligament (Thumbikat et al,
2009)
6. CT myelography
Jika lateral cervical radiograph dan CT scan negative, MRI merupakan
pilihan investigasi untuk menyingkirkan ketidakstabilan. Pasien dengan
focal neurological signs, yang dibuktikan dengan cord atau disc injury,
and pasien yang membutuhkan pemeriksaan pre-operative Sebelum
dikakukan operasi. Whole spine MRI diindikasikan untuk multilevel atau
ligamentous injuries, dan cauda equine injuries. MRI merupakan pilihan
terbaik untuk pemeriksaan suspected spinal cord lesions, cord
compressions, vertebral fractures pada multiple levelsdan ligamentous

15
injuries atau soft tissue injuries lain maupun pathology. MRI digunakan
untuk mengevaluasi soft tissue lesions, seperti extradural spinal
haematoma, abscess atau tumour, spinal cord haemorrhage, contusion
and/or oedema. Neurological kerusakan biasanya disebabkan karena
secondary injury, resulting in oedema and/or haemorrhage. MRI adalah
gambar diagnostik terbaik untuk menggambarkan perubahan ini. (Tidy,
2014)

2.8 Penatalaksanaan

Didalam penatalaksanaan trauma spinal ada dua hal yang sangat penting
yaitu, Instabilitas dari Kolumna Vertebralis (Spinal Instability) dan Kerusakan
jaringan saraf, baik yang terancam maupun yang sudah terjadi (actual and
potential neurologic injury) (Hanafiah, 2007). Yang dimaksud dengan instabilitas
kolumna vertebralis (spinal instability) ialah hilangnya hubungan normal antara
strukturstruktur anatomi dari kolumna vertebralis sehingga terjadi perubahan dari
fungsi alaminya. Kolumna vertebralis tidak lagi mampu menahan beban normal.
Deformitas yang permanen dari kolumna vertebralis dapat menyebabkan rasa
nyeri; keadaan ini juga merupakan ancaman untuk terjadinya kerusakan jaringan
saraf yang berat (catastrophic neurologic injury). Instabilitas dapat terjadi karena
fraktur dari korpus vertebralis, lamina dan atau pedikel. Kerusakan dari jaringan
lunak juga dapat menyebabkan dislokasi dari komponen komponen anatomi yang
pada akhirnya menyebabkan instabilitas. Fraktur dan dislokasi dapat terjadi secara
bersamaan.
Terdapat lima prinsip-prinsip utama penatalaksanaan trauma spinal yaitu:
immobilisasi, stabilisasi medis, mempertahankan posisi normal vertebrae,
dokempresi dan stabilisasi spinal, serta rehabilitasi. (Hanafiah, 2007)
1. Immobilisasi
Tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat
kejadian/kecelakaan sampai ke unit gawat darurat.. Yang pertama ialah
immobilisasi dan stabilkan leher dalam posisi normal; dengan
menggunakan ’cervical collar’. Cegah agar leher tidak terputar (rotation).
Baringkan penderita dalam posisi terlentang (supine) pada tempat/alas
yang keras. Pasien diangkat/dibawa dengan cara ‖4 men lift‖ atau
menggunakan ’Robinson’s orthopaedic stretcher’
2. Stabilisasi Medis
Terutama pada penderita tetraparesis/etraplegia.
a. Periksa vital signs
b. Pasang ’nasogastric tube’
c. Pasang kateter urin
d. Segera normalkan ’vital signs’. Pertahankan tekanan darah yang
normal dan perfusi jaringan yang baik. Berikan oksigen, monitor

16
produksi urin, bila perlu monitor BGA (analisa gas darah), dan
periksa apa ada neurogenic shock. Pemberian megadose Methyl
Prednisolone Sodium Succinate dalam kurun waktu 6 jam setaleh
kecelakaan dapat memperbaiki konntusio medula spinalis.
3. Mempertahankan posisi normal vertebra (‖Spinal Alignment‖)
Bila terdapat fraktur servikal dilakukan traksi dengan Cruthfield
tong atau Gardner- Wells tong dengan beban 2.5 kg perdiskus. Bila terjadi
dislokasi traksi diberikan dengan beban yang lebih ringan, beban ditambah
setiap 15 menit sampai terjadi reduksi.
4. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal
Bila terjadi ’realignment’ artinya terjadi dekompresi. Bila
’realignment’ dengan cara tertutup ini gagal maka dilakukan ’open
reduction’ dan stabilisasi dengan ’approach’ anterior atau posterior.
5. Rehabilitasi.
Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini mungkin. Termasuk
dalam program ini adalah ’bladder training’, ’bowel training’, latihan otot
pernafasan, pencapaian optimal fungsi – fungsi neurologik dan program
kursi roda bagi penderita paraparesis/paraplegia.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada kasus trauma spinal adalah sebagai berikut:
1. Penanganan trauma spinal telah dimulai sejak di tempat kejadian.
2. Proteksi terhadap ’cervical spine’ merupakan hal yang sangat penting
3. Mobilisasi penderita ke rumah sakit harus dilaksanakan dengan cara yang
benar.
4. Penatalaksanaan trauma spinal harus menurut prinsip-prinsip baku yang
telah dianut.
5. Tindakan operasi dan instrumentasi banyak menolong penderita dari cacat
neurologik yang berat. (Hanafiah, 2007)

17
Gambar 2.7 Algoritma Spinal Cord Injury menurut U.S. National Library of
Medicine, National Institute of Health.

i. lakukan pengkajian terhadap faktor risiko adanya spinal cord injury, yaitu
a. terdapat luka tusuk dan tembak
b. terdapat luka terbuka/ langsung pada wajah, leher, atau punggung
(misal karena kecelakaan)
c. kecelakaan saat menyelam
d. sengatan listrik
e. putaran yang ekstrim pada tulang belakang
f. cedera olahraga (mendarat di kepala)

18
g. pukulan yang kuat dan besar pada kepala atau dada (kecelakaan
mobil, jatuh dari ketinggian)
ii. jika tidak: mulailah untuk memberi pendidikan kesehatan
a. Anjurkan untuk melakukan tindakan safety precautions: memakai
helm, seatbelts, menghindari prilaku berisiko.
b. Mencegah faktor risiko: mengindari mabuk saat mengemudi,
penyalagunaan alcohol dan obat-obatan terlarang, bahaya industry,
berenang dikolam dangkal atau sedikit air tanpa diketahui, berada
ditempat tak berpagar.
iii. jika iya: kaji adanya
a. posisi kepala yang tidak seperti biasa (abnormal)
b. mati rasa atau kesemutan yang menjalar ke bawah lengan atau kaki
c. kelemahan
d. kesulitan berjalan
e. paralisis lengan atau kaki
f. tidak ada control baldder dan bowel
g. syok: pucat, kulit lembab, dimgin, bibir dan kuku kebiruan, bertindak
kebingungan, atau setengah sadar
h. tidak sadar
i. kaku leher, sakit kepala, sakit leher
iv. Diagnose ditegakkan, bahwa terdapat spinal cord injury. Buat perencanaan
tindakan mengenai perkembangan dan persyaratan untuk rehabilitasi;
diskusikan mengenai prosedur diagnostic, pemeriksaan radiologis. Pantau
adanya tanda gejala dari komplikasi: autonomic disreflexia, neurogenic
syok. Diskusikan menganai medikasi: steroid, atropine, vasopressor.
Pastikan untuk membuat strategi untuk mencegah terjadinya komplikasi
akibat immobilisasi
v. Lalu kaji apakah pasien berpotensi unstable. Jika iya, buat rencana
perawatan mengenai potensial komplikasi: nurogenik syok. Autonomic
disreflexia, spinal syok; rencana perawatan untuk hipoventilasi,
pneumonia, sepsis, fraktur, neurogenic bladder, konstipasi, ileus pain,
disuse syndrome.

2.9 Komplikasi

1. Perubahan tekanan darah yang ekstrim (autonomic hyperreflexia)


2. Chronic kidney disease
3. Komplikasi dari
immobilisasi: Deep vein
thrombosis
Lung infections
Skin breakdown
Muscle
contractures

19
4. Increased risk of injury to numb areas of the body
5. Peningkatan risiko urinary tract infections
6. Kehilangan control bladder
7. Kehilangan control bowel
8. Loss of feeling
9. Kehilangan fungsi seksual (male impotence)
10. Muscle spasticity
11. Nyeri
12. Paralysis dari otot pernafasan
13. Paralysis (paraplegia, quadriplegia)
14. Pressure sores
15. Shock (Bhimji, 2014)

2.10 Prognosis

1. Sumsum tulang belakang memiliki kekuatan regenerasi.yang sangat


terbatas
2. Pasien dengan complete cord injury memiliki kesempatan recovery yang
sangat rendah, terutama jika paralysis berlangsung selama lebih dari 72
jam.
3. Prognosis jauh lebih baik untuk incomplete cord syndromes
4. Prognosis untuk cervical spine fractures and dislocations sangat
bervariasi, tergantung pada tingkat kecacatan neurologis.
5. Prognosis untuk defisit neurologis tergantung pada besarnya kerusakan
saraf tulang belakang pada saat onset.
6. Selain disfungsi neurologis, prognosis juga ditentukan oleh pencegahan
dan keefektifan pengobatan infeksi - misalnya, pneumonia, dan infeksi
saluran kemih.
7. Secara umum, sebagian besar individu mendapatkan kembali beberapa
fungsi motorik, terutama dalam enam bulan pertama, meskipun mungkin
ada perbaikan lebih lanjut yang perlu diamati diamati di tahun akan dating.
(Tidy, 2014)

20
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Kasus Trauma Medula Spinalis

Tn. G, usia 28 tahun dibawa oleh polisi ke IRD RSUD Dr. Soetomo
setelah mengalami kecelakaan kerja, Tn. G jatuh dari ketinggian 10 m. Selama
perjalanan menuju rumah sakit Tn. G mengeluh tidak bisa menggerakkan
tangan serta tungkainya, Tn. G terlihat sulit bernapas, napas pendek . RR 29
x/menit, TD 90/60mmHg, Nadi 60x/ menit, GCS: 2-4-1, skala nyeri 9. Dari
hasil pemeriksaan nadi lemah, tekanan darah menurun, kesadaran menurun,
urine keluar menetes, kandung kemih terisi penuh, . Dari hasil CT Scan terjadi
dislokasi C 4.
3.2 Primary Survey
1. Airway
Assessment :
1. Perhatikan patensi airway :Paten
2. Dengar suara napas: vesikuler
Management :
1. Inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, bila diduga
terjadi fraktur servikal maka lakukan jaw thrust, hilangkan benda
yang menghalangi jalan napas
2. Immobilisasi stabilkan leher dalam posisi normal kalau ada
pasang collar-neck untuk mencegah parahnya fraktur servikal
3. Mempertahankan posisi normal vertebra (‖Spinal Alignment‖)
1. Breathing
Assesmen
t
1. Periksa frekwensi napas : 29x/menit.
2. Perhatikan gerakan respirasi:asimetris dan dada tidak terlalu
mengembang
3. Auskultasi dan dengarkan bunyi napas: bunyi nafas vesikuler
Management:
Lakukan bantuan ventilasi atau pasang ventilator
2. Circulation
Assesment
1. Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi: 60x/menit.
2. Periksa tekanan darah: 90/60 mmHg.
3. Pemeriksaan pulse oxymetri
4. Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis)
5. Periksa keluaran urine
Management
1. Resusitasi cairan dengan memasang iv lines

21
2. Pasang kateter untuk mengetahui haluaran urine dan
untuk mencegah refluks urine karena kelumpuhan otot
3. Disability
Assessment
Respon: Alert
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : 241
Pupil : Isokor
Refleks Cahaya : Ada
Keluhan Lain : Nyeri
Management : Lakukan monitoring kesadaran dan kerusakan
syaraf pusat
4. Exposure
Assessment
Deformitas: Tidak
Contisio: Tidak
Abrasi: Tidak
Laserasi : Tidak
Edema : Tidak
Jejas : Terdapat jejas pada leher
Keluhan Lain : Nyeri
Management : Lakukan management nyeri

3.3 Pengkajian
1. Umur pasien: 28 tahun
2. Alergi terhadap obat, makanan tertentu: tidak ada
3. Pengobatan terakhir: tidak ada
4. Pengalaman pembedahan: tidak ada
5. Riwayat penyakit dahulu: tidak ada
6. Riwayat penyakit sekarang: Tn. G dibawa ke rumah sakit setelah mengalami
kecelakaan kerja, jatuh dari ketinggian 10 m, selama perjalanan px
mengeluh nyeri dan tidak bisa menggerakkan tungkai dan tangannya.
7. Keluhan: Nyeri (+), susah bernafas (+)

3.4 Pemeriksaan Fisik


B 1(Sistem pernapasan)RR : 29 x/menit, napas pendek, kesulitan bernapas, dan
terdapat kelemahan otot pernafasan
B 2 (sistem kardiovaskuler): Brakikardi ( N: 60x/menit), TD 90/60 mmHg
B 3 (sistem peersyarafan): GCS 2-4-1
B 4 (sistem perkemihan): palpasi kandung kemih penuh, urine keluar menetes
B 5 (sistem pencernaan):-

22
B 6 (sistem muskuloskeletal): terdapat jejas dibagian leher, dan kelumpuhan
pada seluruh badan
3.5 Analisa Data
No Data Etiologi Masalah keperawatan

1 DS: pasien Kecelakaan kerja Pola nafas tidak efektif


mengatakan
kesulitan
bernapas. Dislokasi C 4
DO: RR 29
x/mnt, napas
pendek, cepat Disfungsi C4

Gangguan pada otot


diafragma

Pola nafas tidak efektif

2 DS: paien Kecelakaan kerja Hambatan mobilitas fisik


mengatakan
tangan dan
tungkai tidak Dislokasi C4
bisa digerakkan

DO: tungkai dan


tangan tidak bisa Disfungsi C 4
digerakkan

Kerusakan fungsi motorik

Hambatan mobilitas fisik

3 DS: pasien Kecelakaan kerja Nyeri akut


mengeluh nyeri
pada belakang
leher Dislokasi C 4

23
DO: pasien
terlihat kesakitan
, skala nyeri 8 Kompresi saraf

Respon nyeri

Nyeri akut

4 DS: Px Kecelakaan kerja Perubahan pola eliminasi


mengatakan urin
urine keluar
menetes Kelumpuhan saraf
perkemihan
DO: nyeri tekan
padaabdomen
bawah dan
keinginan Kandung kemih terasa
kencing saat penuh
palpasi.

Otot detrusor tidak


bereaksi

Perubahan pola eliminasi


urin

3.6 Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan kelemahan otot


diafragma
2. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi
motorik
3. Nyeri akut yang berhubungan dengan kompresi saraf
4. Perubahan pola eliminasi urine yang berhubungan dengan kelumpuhan
saraf perkemihan

24
3.7 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan : Ketidakefektifan Pola Nafas b.d gangguan persarafan pada


kontrol gerak diafragma, kehilangan fungsi otot interkosta
komplit/sebagian.
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam pasien akan menunjukkan pola nafas efektif yang
ditandai dengan :
RR dalam rentang normal
Kriteria hasil : Pemeliharaan ventilasi yang memadai yang dibuktikan dengan tidak
adanya gangguan pernapasan dan hasil dari BGA dalam batas yang dapat
normal. Menunjukkan perilaku yang sesuai untuk mendukung
upaya pernafasan

Intervensi Keperawatan Rasional


Kelola oksigen dengan metode Metode ditentukan oleh tingkat cedera, tingkat
yang sesuai, misal ventilator, insufisiensi respirasi, dan jumlah pemulihan fungsi
masker, nasal kanul, intubasi. otot pernapasan setelah fase syok spinal.

Berikan oksigen masker 3lpm Menyediakan supply oksigen yang adekuat,


meminimalkan resiko kelelahan, dan mencegah
terjadinya ARDS.

Memelihara kepatenan jalan nafas: Pasien dengan cedera leher rahim tinggi
menjaga kepala dalam posisi yang dan gangguan muntah / batuk refleks akanmemerlu
tepat yaitu mempertahankan posisi kan bantuan dalam
normal vertebra (‖Spinal mencegah aspirasi / mempertahankan jalan
Alignment‖). napas paten

Memeriksa serangan tiba-tiba dari Perkembangan emboli paru dapat ―silent‖ karena
dispnea, sianosis dan/atau tanda persepsi nyeri mengalami perubahan dan/atau
lain yang mengarah pada distress thrombosis vena dalam tidak mudah dikenali.
pernafasan.
Auskultasi bunyi nafas. Catat area Hiperventilasi secara umum dapat menyebabkan
dimana terjadi perubahan suara akumulasi sekret, atelektasis dan pneumonia
nafas (komplikasi yang sering terjadi)

Kaji warna kulit dari sianosi, Dapat menunjukkan kegagalan pernafasan,


kehitam-hitaman membutuhkan segera evaluasi pengobatan dan
intervensi.

Latih otot pernafasan pasien, Untuk mengoptimalkan fungsi pernafasan pasien,

25
dengan cara pengaturan dari fungsi dan untuk meningkatkan kekuatan otot
ventilator yang dipasang atau pernafasan pasien.
metode weaninguntuk pasien yang
dipasang ventilator.

Diagnosa Keperawatan : Nyeri akut b.d kompresi saraf


Tujuan : dalam waktu 1x24 jam pasien memperlihatkan penurunan rasa nyeri
Kriteria hasil : pasien melaporkan penurunan rasa nyeri, mengidentifikasi cara-cara
mengatasi nyeri, pasien bisa mendemontrasikan teknik relaksasi da
distraksi

Intervensi Keperawatan Rasional


Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan Pendekatan dengan menggunakan relaksasi
pereda nyeri nonfarmakologi dan non dan nonfarmakologi lainnya telah
invasif. Seperti pereda nyeri golongan 1 menunjukkan keefektifan dalam mengurangi
yaitu morphinatau petidhin nyeri
Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk Akan melancarkan peredaran darah,
menurunkan ketegangan otot rangka, yang sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan
dapat menurunkan intensitas nyeri dan terpenuhi, sehingga akan mengurangi
juga tingkatkan relaksasi masase. nyerinya.

Ajarkan metode distraksi selama nyeri Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal


akut. yang menyenangkan

Kolaborasi denmgan dokter, pemberian Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga


analgetik. nyeri akan berkurang.

Observasi tingkat nyeri, dan respon Pengkajian yang optimal akan memberikan
motorik klien, 30 menit setelah pemberian perawat data yang obyektif untuk mencegah
obat analgetik untuk mengkaji kemungkinan komplikasi dan melakukan
efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam intervensi yang tepat.
setelah tindakan perawatan selama 1 - 2
hari.

26
Diagnosa Keperawatan : perubahan pola eliminasi urine yang berhubungan dengan
kelumpuhan otot perkemihan
Tujuan : dalam waktu 2x24 jam pola eliminasi optimal sesuai keadaan normal
Kriteria hasil : produksi urine 50 cc/jam, klien dapat melakukan eliminasi urin dengan
atau tanpa pemasangan urine
Intervensi Keperawatan Rasional
Kaji pola berkemih, dan catat setiap 6 jam Untuk mengetahui fungsi ginjal
sekali
Palpasi adanya distensi kandung kemih, Menilai perubahan akibat dari inkontinensia
dan observasi pengeluaran urine urine

Anjurkan klien minum 2000 cc/hari Membantu mempertahankan fungsi ginjal

Pasang well kateter Membantu proses pengeluaran urine

Lakukan bladder training Membantu meningkatkan kemampuan pola


eliminasi urin.

Diagnosa Keperawatan : Gangguan mobilitas fisik b.d. kerusakan fungsi motorik


Tujuan : Gangguan mobilitas dapat diminimalkan.
Kriteria hasil : Mempertahankan posisi fungsi yang dibuktikan dengan tidak adanya
kontraktur, footdrop. Meningkatkan kekuatan tidak terpengaruh/kompensasi bagian
tubuh. Menunjukkan teknik/perilaku yang memungkinkan dimulainya kembali kegiatan.
Intervensi Keperawatan Rasional
Kaji fungsi motorik secara berkala Evaluasi status situasi individu (gangguan
sensorik-motorik) untuk tingkatan spesifik
cedera dan memilih intervensi.
o
Menjaga pergelangan kaki 90 dengan Mencegah footdrop dan rotasi eksternal
papan kaki. Gunakan trochanter rolls pangkal paha.
sepanjang paha saat di ranjang.
Ukur dan pantau tekanan darah pada fase Hipotensi orthostatic dapat terjadi sebagai
akut atau hingga stabil. Ubah posisi secara hasil dari penyatuan vena (sekunder untuk
perlahan. kehilangan tonus pembuluh darah).

Inspeksi kulit setiap hari. Kaji terhadap Perubahan sirkulasi, kehilangan sensai, dan
area yang tertekan, dan memberikan paralisis memungkinkan pembentukan
perawatan kulit secara teliti. tekanan sakit. Ini merupakan pertimbangan
seumur hidup

Membantu/mendorong pulmonary hygiene Imobilisasi/bedrest meningkatkan resiko


seperti nafas dalam, batuk, suction

27
infeksi pulmonal.

Kaji dari kemerahan,bengkak/ketegangan Dalam presentasi tinggi pasien dengan


otot jaringan betis. cedera medulla spinal, thrombus
berkembang karena sirkulasi perifer
berubah, imobilisasi, dan paralisis lemah

28
BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Cedera medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis vertebralis


dan lumbali akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang. Trauma
medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan sering
kali oleh kecelakaan lalu lintas. Gejala yang ditimbulkan bervariasi tergantung
pada lokasi cedera. Cedera tulang belakang menyebabkan kelemahan dan
hilangnya rasa (lumpuh) pada lokasi cidera dan pada area bawahnya. Klasifikasi
dari trauma medula spinalis dibedakan menjadi 2 yaitu komplet (kehilangan
sensasi dan fungsi motorik total) dan tidak komplet (kehilangan dari salah satu
fungsi sensori dan fungsi motorik).

4.2 Saran

Setelah anda mengetahui dampak dari trauma medula spinalis maka


penting bagi kita untuk mengetahui cara menangani atau mencegah cedera medula
spinalis agar tidak terjadi trauma yang lebih fatal atau parah lagi. Untuk
kedepannya apabila terdapat korban kecelakaan di jalan maka kita sebagai tenaga
kesehatan harus tahu cara yang benar dalam penanganan gawat darurat sebagai
pencegahan terhadap trauma medula spinalis.

29
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Syok merupakan sindroma gangguan perfusi dan oksigenasi sel secara
menyeluruh sehingga kebutuhan metabolisme jaringan tidak terpenuhi. Syok
bukanlah suatu penyakit dan tidak selalu disertai kegagalan perfusi jaringan. Syok
dapat terjadi setiap waktu pada siapapun dan bukanlah merupakan suatu diagnosis.
Syok digolongkan menjadi 4 bagian yaitu syok kardiogenik, syok obstruktif, syok
oligemik, dan syok distributif. Spinal syok (syok pada medula spinalis) termasuk
syok distributif, terjadi karena volume darah secara abnormal berpindah tempat
pada vaskuler seperti ketika darah berkumpul dalam pembuluh darah perifer
(Moor, 2013).
Penyebab terjadinya spinal syok adalah cedera pada medulla spinalis.
Cedera medulla spinalis dapat terjadi akibat kecelakaan mobil, cedera karena
terjatuh dan cedera olah raga (olah raga kontak fisik dan menyelam merupakan
penyebab utama quadriplegia). Ducker dan Perrot melaporkan 40% spinal cord
injury disebabkan kecelakaan lalu lintas, 20% jatuh, 40% luka tembak, sport,
kecelakaan kerja. Saat kecelakaan 3% penyebab kematian karena trauma langsung
medulla pinalis, 2% karena multiple trauma. Insidensi trauma pada laki- laki 5 kali
lebih besar dari perempuan (Japardi, 2012).
Banyaknya angka kejadian cedera medulla spinalis akan berpengaruh pada
peningkatan kejadian syok spinal. Terjadinya syok spinal terdiri dari 4 tahap.
Beberapa manifestasi akan muncul pada pasien syok spinal antara lain paralisis
flaksid di bawah tingkat cedera, hipotensi dan bradikardi, tak adanya aktivitas
refleks di bawah tingkat cedera, ini dapat menyebabkan retensi urine, paralisis
usus dan ileus serta kehilangan kontrol suhu/hipertermi.
Penanganan syok spinal merupakan hal penting untuk menyelamatkan
pasien. Oleh karena itu, perawat sebagai tenaga kesehatan harus mampu
menguasai dan memmahami pengetahuan tentang asuhan keperawatan dan
tindakan-tindakan yang dilakukan pada pasien dengansyok spinal. Sehingga pada
tatanan praktiknya, perawat mampu mengaplikasikan teori dengan baik dan
terampil.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi syok spinal?
2. Apakah etiologi syok spinal?
3. Bagaimana patofisiologi syok spinal?
4. Bagaimana web of caution (WOC) syok spinal?
5. Apakah manifestasi klinis dari syok spinal?
6. Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik pada syok spinal?
7. Bagaimanakah penatalaksanaan pada syok spinal?

30
8. Apakah komplikasi dari syok spinal?
9. Apakah prognosis dari syok spinal?
10. Bagaimanakah asuhan keperawatan klien dengan syok spinal?

1.3 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui dan melakukan asuhan keperawatan klien
dengan syok spinal.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat menjelaskan definisi syok spinal.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi syok spinal.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi syok spinal.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan web of caution (WOC) syok spinal
5. Mahasiswa dapat menyebutkan manifestasi klinis syok spinal.
6. Mahasiswa dapat menjelaskan pemeriksaan diagnostik pada syok
spinal.
7. Mahasiswa dapat menjelaskan penatalaksanaan klien dengan syok
spinal.
8. Mahasiswa dapat menjelaskan komplikasi dari syok spinal.
9. Mahasiswa dapat menjelaskan prognosis klien syok spinal.
10. Mahasiswa menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien
dengan syok spinal.

31
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Syok Spinal


Spinal syok (syok pada medula spinalis) termasuk syok distributif, terjadi
karena volume darah secara abnormal berpindah tempat pada vaskuler seperti
ketika darah berkumpul dalam pembuluh darah perifer (Moor, 2013). Spinal syok
/ syok pada medula spinalis adalah suatu keadaan disorganisasi fungsi medula
spinalis yang fisiologis dan berlangsung untuk sementara waktu, keadaan ini
timbul segera setelah cedera dan dapat berlangsung dari beberapa jam hingga
beberapa minggu. Syok spinal juga diketahui sebagai syok neurogenik adalah
akibat dari kehilangan tonus vasomotor yang mengakibatkan dilatasi vena dan
arteriol umum. Syok ini menimbulkan hipotensi, dengan penumpukan darah pada
pembuluh penyimpan atau penampung dan kapiler organ splanknik. Tonus
vasomotor dikendalikan dan dimediasi oleh pusat vasomotor di medulla dan serat
simpatis yang meluas ke medulla spinalis sampai pembuluh darah perifer secara
berurutan. Karenanya kondisi apapun yang menekan fungsi medulla atau integritas
medulla spinalis serta persarafan dapat mencetuskan syok neurogenik/syok spinal
(Tambayong, 2000).

2.2 Etiologi

Neurogenik syok disebabkan oleh beberapa faktor yang menganggu CNS.


Masalah ini terjadi akibat transmisi impuls yang terhambat dan hambatan hantaran
simpatik dari pusat vasomotor pada otak. Dan penyebab utamanya adalah SCI .
Syok neurogenik keliru disebut juga dengan syok tulang belakang. kondisi
berikutnya mengacu pada hilangnya aktivitas neurologis dibawah tingkat cedera
tulang belakang, tetapi tidak melibatkan perfusi jaringan tidak efektif (Linda D.
Urden, 2008).

Tipe syok ini bisa disebabkan oleh banyak faktor yang menstimulasi parasimpatik
atau menghambat stimulasi simpatik dari otot vaskular. Trauma pada syaraf spinal
atau medulla dan kondisi yang mengganggu suplai oksigen atau gulokosa ke
medulla menyebabkan syok neorogenik akibat gangguan aktivitas simpatik. Obat
penenang, anestesi, dan stres hebat beserta nyeri juga merupakan penyebab
lainnya.

2.3 Manifestasi klinis

Hilangnya sensasi,control motorik, dan reflek dibawah cedera. Suhu didalam


tubuh akan menggambarkan suhu yang ada di lingkungan, kemudian tekanan
darah akan menurun. Sedangkan frekuensi denyut nadi sering normal akan tetapi
tetap disertai tekanan darah yang selalu rendah (Corwin, 2009).

32
2.4 Patofisiologi

Terjadinya syok spinal biasanya diawali dengan adanya trauma pada spinal. Syok
spinal merupakan hilangnya reflek pada segmen atas dan bawah lokasi terjadinya
cederapada medulla spinalis. Reflek yang hilang antara lain reflek yang
mengontrol postur, fungsi kandung kemih dan usus, tekanan darah, dan suhu
tubuh. Hal ini terjadi akibat hilangnya muatan tonik secara akut yang seharusnya
disalurkan melalui neuron dari otak untuk mempertahankan fungsi reflek. Ketika
syok spinal terjadi akan mengalami regresi dan hiperrefleksia ditandai dengan
spastisitas otot serta reflex pengosongan kandung kemih dan usus (Corwin, 2009).

Syok spinal akan menimbulkan hipotensi, akibat penumpukan darah pada


pembuluh darah dan kapiler organ splanknik.tonus vasomotor di medulla dan saraf
simpatis yang meluas ke medulla spinalis sampai pembuluh darah perifer secara
berurutan. Kerena itu kondisi yang menekan fungsi medulla atau integritas
medulla spinalis serta persarafan akan mengakibatkan syok neurogenik
(Tambayong, 2000).

2.5 Komplikasi

1. Henti nafas karena kompresi saraf frenikus diantara C3 dan C5 akibat


kerusakan dan pembengkakan pada area cedera.
2. Hiperrefleksia otonom ditandai dengan tekanan darah yang tinggi disertai
bradikardi, serta berkeringat dan kemerahan pada kulit wajah.
3. Cedera yang lebih berat akan mempengaruhi system tubuh, hal ini dapat
mengakibatkan terjadinya infeksi pada ginjal dan saluran kemih,
kerusakan kulit hingga terjadi dekubitus, danterjadi atrofi pada otot.
4. Depresi, stress pada keluarga dan pernikahan, kehilangan pendapatan, serta
biaya medis yang besar sebagai respon dari psikososial (Corwin, 2009).

2.7 Pemeriksaan diagnostic

1. Sinar X spinal: menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur ,


dislokasi), untuk kesejajaran traksi atau operasi
2. Scan CT: menentukan tempat luka/jejas, mengevalkuasi gangguan
structural
3. MRI: mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan
kompresi
4. Mielografi: untuk memperlihatkan kolumna spinalis jika terda[at oklusi
pada subaraknoid medulla spinalis
5. Rongent torak : untuk memperlihatkan keadan paru

33
6. Pemeriksaan fungsi paru: mengukur volume inspirasi maksimal dan
ekpirasi maksimal terutama pada kasus trauma servikal bagian bawah
7. GDA : menunjukan keefektifan pertukaran gas atau upaya ventilasi.

2.6 Penatalaksanaan

1. Imobilisasi pasien untuk mencegah semakin beratnya cedera medulla


spinalis atau kerusakan tambahan
2. Kolaborasi tindakan pembedahan untuk mengurangi tekanan pada medulla
spinalis akibat terjadinya trauma yang dapat mengurangi disabilitas jangka
panjang.
3. Pemberian steroid dosis tinggi secara cepat (satu jam pertama) untuk
mengurangi pembengkakan dan inflamasi medulla spinalis serta
mengurangi luas kerusakan permanen.
4. Fiksasi kolumna vertebralis melalui tindakan pembedahan untuk
mempercepat dan mendukung proses pemulihan.
5. Terapi fisik diberikan setelah kondisi pasien stabil.
6. Penyuluhan dan konseling mengenai komplikasi jangka panjang seperti
komplikasi pada kulit, system reproduksi, dan system perkemihan dengan
melibatkan anggota keluarga (Corwin, 2009).
Sedangkan menurut Batticaca dan Fransisca B, (2008) penatalaksanaan syok
spinal yaitu :
1. Lakukan konpresi manual untuk mengosongkan kandung kemih secara
teratur agar mencegah terjadinya inkontinensia overfloe dan dribbling
2. Lakukan pengosongan rectum dengan cara tambahkan diet tinggi serat,
laksatif, supposutoria, enema untuk BAB atau pengosomngan secara
teratur tanta terjai inkontinensia.

34
ALGORITMA NEUROGENIC SHOCK

Gambar 2.8 Algoritma Neurogenic Shock menurut U.S. National Library of


Medicine, National Institute of Health.

35
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Contoh Kasus

Bapak A, laki-laki usia 45 tahun bekerja sebagai supir masuk ke RS X karena


mengalami kecelakaan mobil dengan keluhan utama kelemahan ekstremitas
bagian bawah sejak 3 hari yang lalu. Bapak A merasa sesak napas dan terjadi
kelemahan anggota gerak bagian bawah yang semakin memberat . tidak ada
keluhan pada makan dan minumnya, pasien menggunakan colar neck. Lima hari
sebelum masuk RS X pasien mengalami kecelakaan mobil. mobil bapak A
menabrak mobil didepannya dan Bapak A tidak mengenakan sabuk pengaman.
Kepala pasien terbentur stir mobil dan jok mobil. saat itu pasien pingsan selama
sekitar 20 menit, perdarahan THT (-), muntah (-), dan pasien masih mengingat
kejadian sebelum kecelakaan. Pasien mengalami kelemahan pada anggota gerak
bagian bawah ,tekanan darah yang rendah, nadi cepat,pasien tampak gelisah,
nyeri hebat di area leher bagian belakang dengan skala nyeri 7,sesak nafas,
pasien pertama mencoba berobat ke pengobatan alternatif, disana pasien didoai
dan ditarik kepalanya. Pasien mengompol saat buang air kecil sehingga
terpasang kateter, pasien juga kesulitan buang air besar. Nyeri terasa ketika
pasien melakukan aktivitas.

3.2 Pengkajian Keperawatan

Primary Survey

1. Airway : Adanya sumbatan jalan nafas/obstruksi/adanya penumpukan


sekret akibat kelemahan reflek batuk.
2. Breathing : sesak nafas (RR : 30x/menit) , nadi cepat (120x/menit)
3. Circulation : Tekanan darah rendah (90/60 mmHg) , CRT>2detik ,
4. Disability : compos mentis , GCS 456 ,
5. Exposure : Suhu 38 C , ada jejas pada pada cervical karena telah terjadi
benturan.

36
Secondary Survey

Beberapa hal penting yang perlu dikaji pada cedera Spinal Cord Injury adalah,
sebagai berikut: tanyakan riwayat trauma yang dialami oleh klien ( apakah karena
KLL, olahraga atau yang lain), kemudian tanyakan apakah ada riwayat penyakit
degeneratif (seperti: osteoporosis, osteoartritis, dll), bagaimana mekanisme
terjadinya trauma pada pasien, kemudian stabilisasi dan monitoring pada pasien,
lakukan pemeriksaan fisik pada pasien: lihat KU pasien, ukur TTV, adakah defisit
neurologis pada pasien, tanyakan bagaimana status kesadaran awal klien saat
kejadian, lakukan tes refleks, motorik, lokalis (look, feel, move) pada pasien,
fokuskan pada deformitas leher, memar pada leher dan bahu, memar pada muka
atau abrasi dangkal pada dahi, lakukan pemeriksaan neurologi penuh.

Data fokus, didapatkan dengan melakukan pengkajian 11 pola Gordon:

1. Aktifitas dan istirahat: kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok


spinal
2. Sirkulasi: berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi,
hipotensi, bradikardia ekstremitas dingin atau pucat.
3. Eliminasi: inkontinensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi
perut, peristaltik usus hilang.
4. Integritas ego: menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas,
gelisah dan menarik diri.
5. Pola makan: mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang
6. Pola kebersihan diri: sangat ketergantungan dalam melakukan ADL
7. Neurosensori: kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis
flasid, hilangnya sensai dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek,
perubahan reaksi pupil, ptosis.
8. Nyeri/kenyamanan: nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah
trauma, dan mengalami deformitas pada derah trauma.
9. Pernapasan: napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis
10. Keamanan: suhu yang naik turun

37
11. Seksualitas: priapismus (pada laki-laki), haid tidak teratur (pada wanita)
(Doengoes, 1999)

Pemeriksaan Diagnostik

Hasil Laboratorium

Pemeriksaan Angka normal Hasil Lab Keterangan


Hemoglobin 13,0 – 18,0 gr/dl 13,2 g/dl
Hematokrit 40 - 50% 36%
Leukosit 4.000 - 16.500/uL
11.000/mm3
Trombosit 150.000 – 244.000/uL
400.000/mm3
LED 0 –10 mm/jam 25 mm
Ureum 10– 50 mg/dl 23 mg/dl
Kreatinin darah 0,9– 1,3 mg/dl -
GDS 70 - 115 mg/dl 126 mg/dl
Na 136 – 145 mmol/l 105 meq/l
K 3,5 -5,0 mmol/l 4,2 meq/l
Cl 98-106 mmol/l 73 meq/l

Foto X servikal : dislokasi C1-C2

MRI : Fraktur C1 dengan dislokasi ke posterior, stenosis berat medulla spinalsi


setinggi C1 –C2

BGA : menunjukkan ketidakefektifan pola nafas karena hasil dari analisa gas
darah menunjukan alkalosis respiratorik.

pH 7,607

pCO2 21,5 mmHg

pO2 76,7 mmHg

38
SO2 79 %

BE 0,0 mmol/L

Terapi :

O2 rebreathing mask 6lpm

IVFD NaCl 0,9 % per 12 jam

Imobilisasi leher dengan colar neck

Metilprednisolon tab 4x8 mg

Ranitidin 2x1 amp injeksi

NaCl tab 3x500mg

Periksa AGD ulang 6 jam kemudian

Diagnosis kerja : Tetraparesis

Diagnosisi klinis : tetraparesis, inkontinensia urin dan retensi alvi, hiponatremi,


hipoklorida, alkalosis respiratorik, leukositosis

Diagnosa patologis : fraktur, dislokasi

3.3 Asuhan Keperawatan

Pengkajian

Identitas

Nama : Tn A

Umur : 45 tahun

Alamat : Surabaya

Pekerjaan : Sopir mobil

Keadaan umum : compos mentis dan terpasang collar neck

39
Keluhan utama : mengeluh kelemaha ekstrimitas sejak 3 hari yang lalu
semakin memberat

Riwayat penyakit sekarang : Tn A mengalami kelemahan anggota gerak, nyeri di


area cidera, sesak napas dan muntah

Riwayat penyakit : klien mengalami kecelakaan lalu lintas 5 hari yang


dulu lalu

Riwayat Alergi :-

Riwayat penyakit keluarga :-

Keadaan umum TD : 100/60 mmHg

N : 80 x/menit

RR : 29x/menit

T: 38,5 C

Review of System

B1 : napas pendek, sesak

B2 : berdebardebar, hipotensi, suhu naik turun

B3 : Nyeri area cidera

B4 : inkontinensia urin

B5 : konstipasi, distensi abdomen, peristaltik usus menurun

B6 : Quadriplegi

3.4 Analisis Data

No Data Etiologi Masalah


keperawatan

1. DS : Pasien mengeluh Blok saraf parasimpatis Pola napas tidak


sesak napas C1 – C2 efektif

DO : Pasien terlihat Kelumpuhan otot


menggunakan alat bantu pernapasan

40
pernapasan, pucat dan Ekspansi paru menurun
pernapasan cuping
hidung Pola napas tidak efektif

RR 29 x/mnt, napas
pendek, cepat

2. DS : Pasien mengeluh Blok saraf parasimpatis Gangguan


sesak C1 – C2 Pertukaran Gas

DO : Pernapasan cuping Kelumpuhan otot


hidung pernapasan

Hasil BGA menunjukkan Ekspansi paru menurun


ketidakefektifan
pertukaran gas dan upaya Jumlah oksigen darah
ventilasi dan jaringan menurun

PH: 7,607 (Basa/tdk Gangguan pertukaran


normal) gas

Karbondioksida menurun
3. DO : Nadi teraba lemah Syok spinal Ketidakefektifan
(bradikardi) perfusi jaringan
Hipotensi dan perifer
TD 100x/ menit bradikardi

Gangguan perfusi
jaringan perifer
4. DS : Pasien mengeluh Fraktur Gangguan rasa
nyeri hebat, tidak bisa nyaman nyeri
tidur Memar, kerusakan
laserasi sumsum
DO : Skala nyeri pasien
8, klien gelisah, suhu Pelepasan mediator
tubuh naik turun kimia

N : 80x/menit Nyeri hebat

S : 38,5 C
5. DS : pasien mengeluh Fraktur servikal dan Perubahan pola
reflek BAK hilang lumbal eliminasi urine

DO : pasien BAK secara kompresi medula


involunter dan terpasan spinalis
kateter
Gangguan fungsi

41
vesika urinaria

Inkontinensia urin

Gangguan eliminasi
6. DS : pasien mengeluh Cidera servikal Gangguan
tidak bisa BAB eliminasi alvi
Kompresi medula
DO : peristaltik usus spinalis
klien menurun, abdomen
distensi Kelumpuhan saraf usus
dan rektum

Gangguan eliminasi
alvi
7. Ds : Pasien mengalami Fraktur servikal dan Gangguan
kelemahan pada keempat lumbal mobilitas fisik
anggota geraknya.
Kompresi medula
DO : klien membutuhkan spinalis
bantuan dalam
pemenuhan ADL Gangguan motorik
sensorik

Kelumpuhan

Gangguan mobilitas

3.5 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


1. Pola napas tidak efektif b.d kelumpuhan otot pernapasan (diafragma),
kompresi medula spinalis
2. Gangguan pertukaran gas b.d kekurangan oksigen
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran
balik vena dan penurunan curah jantung
4. Nyeri akut b.d kompresi saraf
5. Gangguan BAK berhubungan dengan penurunan isyarat
kandungkemih atau kerusakan kemampuan untuk mengenali isyarat
kandungkemih sekunder terhadap cedera medulla spinalis.
6. Gangguan eliminasi alvi : Konstipasi b.d penurunan peristaltik usus
akibat kerusakan persarafan usus dan rektum

42
7. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakanfungsi
motorik dan sensori.

3.6 Rencana Tindakan Keperawatan

1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d gangguan persarafan pada kontrol gerak


diafragma, kehilangan fungsi otot interkosta komplit/sebagian.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatn 3x24 jam, pasien


diharapkan menunjukkan status pernapasan ventilasi tidak terganggu.

Kriteria hasil : Pemeliharaan ventilasi yang memadai yang dibuktikan


dengan tidak adanya gangguan pernapasan dan BGA dalam batas
yang dapat diterima. Menunjukkan perilaku yang sesuai untuk mendukung
upaya pernafasan
Ventilasi adekuat
PaCO2 < 45
PaO2 > 80
RR 16-20 x/menit
Tidak ada tanda tanda sianosis : CRT < 2 detik

Intervensi Keperawatan Rasional


Kelola oksigen dengan Metode ditentukan oleh tingkat cedera,
metode yang sesuai, misal tingkat insufisiensi respirasi, dan jumlah
masker, nasal kanul, pemulihan fungsi otot pernapasan setelah
intubasi. fase syok spinal.

Berikan oksigen masker Menyediakan supply oksigen yang adekuat,


3lpm meminimalkan resiko kelelahan, dan
mencegah terjadinya ARDS.

Memelihara kepatenan jalan Pasien dengan cedera leher rahim tinggi


nafas: menjaga kepala dalam dan gangguan muntah / batuk refleks akanm
posisi yang tepat. emerlukan bantuan dalam
Menggunakan jalan nafas mencegah aspirasi / mempertahankan jalan
tambahan napas paten

Memeriksa serangan tiba- Perkembangan emboli paru dapat ―silent‖


tiba dari dispnea, sianosis karena persepsi nyeri mengalami perubahan
dan/atau tanda lain yang dan/atau thrombosis vena dalam tidak
mengarah pada distress mudah dikenali.
pernafasan.
Auskultasi bunyi nafas. Hiperventilasi secara umum dapat

43
Catat area dimana terjadi menyebabkan akumulasi sekret, atelektasis
perubahan suara nafas dan pneumonia (komplikasi yang sering
terjadi)

Kaji warna kulit dari sianosi, Dapat menunjukkan kegagalan pernafasan,


kehitam-hitaman membutuhkan segera evaluasi pengobatan
dan intervensi.

Kaji distensi abdomen, dan Dapat menghambat perjalanan diafragma,


spasme otot mengurangi kapasitas ekspansi paru dan
lebih jauh dapat mengurangi fungsi respirasi

2. Gangguan pertukaran gas b.d kekurangan oksigen

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam,


pasien mempunyai status pernapasan : pertukatan gas tidak terganggu

Kriteria Hasil:

a. Status neurologis dalam rentang yang diharapkan


b. Dispnea pada saat istirahat dan aktivitas tidak ada
c. PaO2, PaCO2c, pH arteri dan SaO2 dalam batas normal
d. Tidak ada gelisah, sianosis, dan keletihan.

Intervensi Rasional
Pantau saturasi O2 dengan oksimeter Dengan memantau O2 perawat
nadi mengetahui kecukupan pasien akan O2
Pantau hasil gas darah Indikasi normalnya pertukaran gas di
tubuh yaitu BGA
Pantau kadar elektrolit
Pantau status mental Status mental menunjukkan status
pertukaran gas
Observasi terhadap sianosis, terutama sianosis adalah indikator
mukosa mulut ketidakadekuatan pertukaran O2 di
darah dan jaringan
Identifikasi kebutuhan pasien akan Jika pasien tidak dapat bernapas normal
insersi jalan napas aktual/potensial
Auskultai bunyi napas, tandai area Mengetahui fungsi paru dalam
penurunan atau hilangnya ventilasi dan
adanya bunyi tambahan
Pantau status pernapasan dan Jika status pernapasan adekuat, status
oksigenasi pertukaran gas juga adekuat.

44
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran balik
vena dan penurunan curah jantung

Tujuan : mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat

Kriteria hasil :

a. Irama jantung/frekuensi dan nadi perifer normal, tidak ada sianosis,


akral hangat dan kering, haluaran urin dalam batas normal.

b. Mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan sirkulasi perifer

c. Mengidentifikasi cara medis, diet, pengobatan, aktivitas, yang


meningkatkan vasodilatasi

d. Mengidentifikasi faktor yang menghambat sirkulasi

Intervensi Rasional
Pertahankan ekstrimitas dengan Memudahkan aliran darah turun ke
posisi tergantung perifer
Mempertahakan ekstrimitas Menghindari hipotermi pada pasien
hangat akibat ketidakcukupan sirkulasi perifer

Auskultasi frekuensi dan irama Menghindari komplikasi atau faktor


jantung. Catat terjadinya bunyi lain penyebab penurunan perfusi
jantung ekstra jaringan
Observasi perubahan status Menghindari pasien jatuh ke kondisi
mental koma
Observasi warna dan suhu kulit/ Observasi menentukan apakah perfusi
membran mukosa jaringan kembali adekuat atau tidak
Berikan cairan IV sesuai indikasi Rehidrasi untuk mencukupi kebutuhan
perifer.

4. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi


motorik dan sesorik

Tujuan: Memperbaiki mobilitas

Kriteria Hasil: Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya


kontraktur, footdrop, meningkatkan kekuatan bagian tubuh yangsakit
/kompensasi, mendemonstrasikan teknik /perilaku yangmemungkinkan
melakukan kembali aktifitas.

45
Intervensi:

Intervensi Rasional
Kaji fungsi-fungsi sensori dan Menetapkan kemampuan dan
motorik pasien setiap 4 jam. keterbatasan pasien setiap 4 jam.
Ganti posisi pasien setiap 2 jam Mencegah terjadinya dekubitus.
dengan memperhatikan
kestabilantubuh dan
kenyamanan pasien.
Beri papan penahan pada kaki Mencegah terjadinya foodrop
Gunakan otot orthopedhi, edar, Mencegah terjadinya kontraktur.
handsplits
Lakukan ROM Pasif setelah 48- Meningkatkan stimulasi dan mencehag
72 setelah cedera 4-5 kali/hari kontraktur.
Monitor adanya nyeri dan Menunjukan adanya aktifitas yang
kelelahan pada pasien. berlebihan.
Kaji fungsi-fungsi sensori dan Menetapkan kemampuan dan
motorik pasien setiap 4 jam. keterbatasan pasien setiap 4 jam.

5. Gangguan BAK berhubungan dengan penurunan isyarat kandungkemih


atau kerusakan kemampuan untuk mengenali isyarat kandungkemih
sekunder terhadap cedera medulla spinalis.

Tujuan: Peningkatan eliminasi urine

Kriteria Hasil: Pasien dpat mempertahankan pengosongan blodder


tanparesidu dan distensi, keadaan urine jernih, kultur urine negatif, intake
danoutput cairan seimbang.

Intervensi:

Intervensi Rasional
Kaji tanda-tanda infeksi saluran Efek dari tidak efektifnya bladder
kemih adalah adanya infeksi saluran kemih.
Kaji intake dan output cairan Mengetahui adekuatnya gunsi gnjal dan
efektifnya blodder.
Lakukan pemasangan kateter Efek trauma medulla spinalis adlah
sesuai program adanya gangguan refleks
berkemihsehingga perlu bantuan dalam
pengeluaran urine
Anjurkan pasien untuk minum 2- Mencegah urine lebih pekat yang
3 liter setiap hari berakibat timbulnya
Cek bladder pasien setiap 2 jam Mengetahui adanya residu sebagai

46
akibat autonomic hyperrefleksiaf.
Lakukan pemeriksaan urinalisa, Mengetahui adanya infeksig.
kultur dan sensitibilitas
Monitor temperatur tubuh setiap Temperatur yang meningkat indikasi
8 jam adanya infeksi

6. Gangguan eliminasi Alvi/ konstipasi b.d gangguan perstyarafan usus dan


rektum

Tujuan : pasien tidak menunjukkan adanya gangguan eliminasi


alvi/konstipasi

Kriteria hasil : pasien bisa BAB secara teratur sehari 1 kali

Intervensi Rasional

Auskultasi bising usus, catat lokasi Bising usus mungkin tidak ada
dan karakteristiknya selama syok spinal

Observasi adanya distensi perut

Catat adanya keluhan mual dan Perdarahan gastrointestinal dan


ingin muntah, pasang NGT lambung mungkin terjadi akibat
trauma dan stress

Berikan diet seimbang TKTP cair Meningkatkan konsistensi feses

Kolaborasikan obat pencahar sesuai Merangsang kerja usus


indikasi

7. Nyeri akut b.d kompresi saraf

Tujuan: penurunan rasa nyeri

Kriteria hasil : pasien melaporkan penurunan rasa nyeri 2x24 jam,


mengidentifikasi cara-cara mengatasi nyeri, pasien bisa
mendemontrasikan teknik relaksasi da distraksi

Intervensi Keperawatan Rasional


Jelaskan dan bantu klien dengan Pendekatan dengan menggunakan
tindakan pereda nyeri relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
nonfarmakologi dan non invasif. telah menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri
Ajarkan Relaksasi : Tehnik- Akan melancarkan peredaran darah,
tehnik untuk menurunkan sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan
ketegangan otot rangka, yang akan terpenuhi, sehingga akan

47
dapat menurunkan intensitas mengurangi nyerinya.
nyeri dan juga tingkatkan
relaksasi masase.
Ajarkan metode distraksi selama Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-
nyeri akut. hal yang menyenangkan

Kolaborasi denmgan dokter, Analgetik memblok lintasan nyeri,


pemberian analgetik. sehingga nyeri akan berkurang.

Observasi tingkat nyeri, dan Pengkajian yang optimal akan


respon motorik klien, 30 menit memberikan perawat data yang obyektif
setelah pemberian obat analgetik untuk mencegah kemungkinan
untuk mengkaji efektivitasnya. komplikasi dan melakukan intervensi
Serta setiap 1 - 2 jam setelah yang tepat.
tindakan perawatan selama 1 - 2
hari.

48
BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Spinal syok (syok pada medula spinalis) termasuk syok distributif, terjadi
karena volume darah secara abnormal berpindah tempat pada vaskuler seperti
ketika darah berkumpul dalam pembuluh darah perifer . Neurogenik syok
disebabkan oleh beberapa faktor yang menganggu CNS. Manifestasi klinis
yang ditunjukkan yaitu hilangnya sensasi,control motorik, dan reflek dibawah
cedera. Suhu didalam tubung akan menggambarkan suhu yang ada di
lingkungan, kemudian tekanan darah akan menurun. Sedangkan frekuensi
denyut nadi sering normal akan tetapi tetap disertai tekanan darah yang selalu
rendah.

4.2 Saran

Setelah anda mengetahui dampak dari syok spinal maka penting bagi kita
untuk mengetahui cara menangani atau mencegah syok spinal agar tidak
terjadi trauma yang lebih fatal atau parah lagi. Untuk kedepannya apabila
terdapat korban dengan syok spinal, kita dapat melakukan penanganan gawat
darurat sebagai pencegahan syok spinal.

49
DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, B Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan


Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika
Bernhard et all, 2005. Spinal cord injury (SCI)—Prehospital management. Journal
Elsevier Resuscitation 66 (2005) 127–139.
Bhimji, S. 2014. Spinal cord trauma. U.S. National Library of Medicine U.S.
Department of Health and Human Services National Institutes of Health.
A.D.A.M., Inc
B.K. Kwon et al. / The Spine Journal 4 (2004) 451–464. Pathophysiology and
pharmacologic treatment of acute spinal cord injury.
Brunner & Suddath. 2001. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran
Care of Patients With Head and Spinal Cord Injuries. chapter 22.
http://evolve.elsevier.com/deWit halaman 549-557
Carpenito, Lynda Jual. 2009. Diagnosa Keperawatan: Aplikasi pada Praktik
Klinik, Ed. 9. Jakarta: EGC
Chin, L. S. 2013. Spinal Cord Injuries. American Association of Neurological
Surgeons WebMD LLC

Doengoes, E Marilyn. 1999. Rencana Keperawatan: pedoman untuk perencanaan


dan pendokumentasian perawatan pasien edisi 3. Jakarta: EGC
Domeier et al/ 2005. Prehospital clinical findings associated with spinal injury.
Prehospital Emerge Care ;1:11–5. Journal Elsevier
Hanafiah, H. 2007. Penatalaksanaan Trauma Spinal. Majalah Kedokteran
Nusantara Volume 40 No. 2 Juni 2007. Medan
McDonald, John W, & Cristina Sadowsky. THE LANCET • Vol 359 • February 2,
2002. Spinal-cord injury
Rowland. 2008.. Neurosurgery Focus. American Association of Neurological
Surgeons 2008;25(5):E2 WebMD LLC
Sherwood, Lauralee.2001.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, edisi
kedua. Jakarta : EGC

50
Tidy, C. 2014. Spinal Cord Injury and Compression. EMIS Egton Medical
Information System
www.patient.co.uk/doctor/spinal-cord-injury-and-compression.
Tambayong, J. 2000. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Thumbikat, et al. 2009. Acute spinal cord injury. Orthopaedics II: spine and
pelvis. SURGERY 27:7 282 © Elsevier Ltd. All rights reserved.
Urden, Linda D., Mary E. Lough. 2013. Critical Care Nursing - Diagnosis
and Management. Elsevier - Health Sciences Division
White, James P, & Pradeep Thumbikat. 2012. Orthopaedics Ii: Spine And Pelvis.
Surgery 30:7 326 _ 2012 Elsevier Ltd. All Rights Reserved..

51