Vous êtes sur la page 1sur 24

ASKEP EMFISEMA

OLEH ANGGOTA KELOMPOK 2 :

1. ADELA NOFITA
2. ANJELA NOVEREN
3. ARENA IRAWAN
4. ELFIRA YUNITA
5. FAJAR RAMADHAN
6. FEBRI MUTHIA
7. LAMRIANI TOBING
8. LEDYS AMELIA
9. MONICA AULIANDA
10. QORII SURYA VERANTIKA
11. RAUKA HILLIAH
12. SHAFIRA HASANAH
13. YUMIKO PASTIKA

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dunia kesehatan, telah ditemukan banyak penyakit. Contoh yang
diambil dari penyakit misalnya, penyakit Emfisema yaitu penyakit obstruktif
kronis yang disebabkan karena adanya dilatasi asinus yang tidak dapat pulih
yang merusak dinding alveolar, terjadi kolabsi bronkeolus pada ekspirasi.
Yang pada akhirnya penderita Emfisema, harus memerlukan perawatan
dan pengobatan lebih lanjut. Meskipun penyakit ini tidak dapat disembuhkan
tetapi penderita masih terdapat perawatan tersebut untuk menjaga kesehatan
atau keadaan tubuh yang stabil.
Perawat di RS yang berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya seperti
dari yang memberi advis untuk pemberian tindakan dan pemberian obat,
perawat yang melakukan tindakan dan memantau kondisi pasien selama 24
jam, dan juga ahli gizi yang memberikan diit untuk penderita, serta ahli
radiology yang memeriksa  Foto Rontgent untuk mengetahui lebih lanjut
keadaan pasien disini adalah keadaan pasien. Tim kesehatan inilah yang
berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk kondisi pasien. Di
samping itu dukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam proses perawatan
pasien.

B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulisan dari karya tulis ini adalah :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong terjadinya emfisema.
2. Untuk mengetahui dampak / efek yang ditimbulkan akibat emfisema.
3. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada pasien dengan emfisema.
4. Untuk memenuhi tugas perkuliahan Keperawatan Medikal Bedal II.
C. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode
kepustakaan yaitu dengan mempelajari buku-buku, atau referensi yang
berkaitan dengan Emfisema dari berbagai sumber dan dikumpulkan menjadi
satu dan saling berkaitan.

D. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan sistematika
sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan meliputi : Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode
Penulisan, Sistematika Penulisan.
BAB II Konsep dasar Emfisema meliputi : Pengertian, Etiologi,
Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Penatalaksanaan, Pengkajian
Fokus, Pathway Keperawatan, Fokus Intervensi dan Rasional.
BAB III Penutup terdiri dari : Kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Ada beberapa pengertian Emfisema menurut beberapa ahli :
1. Emfisema adalah penyakit obstruktif kronis akibat berkurangnya
elastisitas paru dan luas permukaan alveolus (Elisabeth J.Corwin).
2. Emfisema adalah dilatasi asinus yang tidak dapat pulih yang diperberat
oleh perubahan obstruksi dinding asinor dengan penurunan Recoil elastis
dari paru (Barbara M.Eallo : 2000).
3. Emfisema adalah bentuk paling berat dari PPOM (Penyakit Paru
Obstruksi Menahun) dikarakteristikkan oleh inflamasi berulang yang
melukai dan akhirnya merusak dinding alvioler menyebabkan banyak bleb
atau bula (Ruang udara) kolabs bronkeolus pada ekspirasi (jebakan udara).

Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa


Emfisema adalah penyakit obstruktif kronis yang disebabkan karena adanya
dilatasi asinus yang tidak dapat pulih yang akhirnya merusak dinding alvioler
dan menyebabkan banyak bleb / bula, kolabs bronkeolus pada ekspirasi.

B. Etiologi
Hilangnya elastisitas paru dapat mempengaruhi alveolus dan bronkus,
elastisitas berkurang akibat destruksi serat-serat elastin dan kalogen yang
terdapat di seluruh paru. Penyebab pasti emfisema belum jelas, tetapi
penyakit ini biasanya timbul setelah bertahun-tahun merokok (Merokok
merupakan penyebab utama emfisema) juga dapat menyebabkan emfisema.
Akan tetapi, pada sedikit pasien (dalam persentase yang kecil) terdapat
predisposisi familial terhadap emfisema yang berkaitan dengan abnormalitas
protein plasma yang merupakan suatu enzim inhibitor. Tanpa enzim inhibitor
ini, enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru. Individu yang secara
genetik sensitif terhadap faktor-faktor lingkungan (polusi udara, agen-agen
infeksius allergen) pada waktunya mengalami gejala-gejala obstruktif kronis.
C. Patofisiologi
Emfisema paru merupakan suatu perubahan anatomis parenkim paru-
paru yang ditandai dengan pembesaran alveolus dan duktus alveoltaris dan
dekstraksi hanya menyerang bagian bronkiolus respiratorius dinding-dinding
mulai berlubang, membesar menjadi satu ruang waktu, dinding mengalami
disintegrasi, mula-mula duktus alverolaris dan sukus alveolaris yang lebih
distal dapat dipertahankan karena dinding alveoli mengalami kerusakan, area
permukaan alveolar yang kontak langsung dengan kapiler paru secara kontinu
berkurang menyebabkan peningkatan ruang rugi (area paru dimana tak ada
pertukaran gas yang dapat terjadi) hal ini mengakibatkan kerusakan difusi
oksigen. Kerusakan difusi oksigen mengakibatkan hipoksemia. Sekresi
meningkat dan tertahan menyebabkan individu tak mampu untuk
membangkitkan batuk yang kuat untuk mengeluarkan sekresi. Infeksi akut dan
kronis dengan demikian menetap dalam paru yang mengalami emfisema
memperberat masalah.
Individu dengan emfisema mengalami obstruksi kronik ditandai oleh
peningkatan tahanan jalan nafas ke aliran masuk dan aliran keluar udara dari
paru-paru. Paru-paru dalam keadaan hiperekspansi kronik. Sesak nafas pasien
harus terus meningkat, dada menjadi kaku, dan iga-iga terfiksasi pada
persendiannya. Dada Barrel Chest pada banyak pasien ini terjadi akibat
kehilangan elastisitas paru karena adanya kecenderungan yang berkelanjutan
pada dinding dada untuk mengembang.
Penyakit ini sering menyerang bagian atas paru-paru lebih berat, tetapi
akhirnya cenderung tersebar. Sedangkan emfisema parilobular (PLE)
mempunyai bentuk morfologi yang kurang jamak dimana alveolus yang
terletak distal dari bronkidus terminalis mengalami pembesaran serta
kerusakan secara merata. Bila penyakit ini makin parah semua komponen dari
asinus sedikit demi sedikit menghilang sehingga akhirnya tertinggal beberapa
lembar jaringan saja yang kebanyakan terdiri dari pembuluh-pembuluh darah.
D. Manifestasi Klinis
Menurut Issel Bacher (2000) manifestasi klinis pada pasien emfisema
adalah :
1. Dispnea
2. Pergerakan tenaga yang sudah berlangsung lama dengan gejala batuk yang
ringan dan hanya menghasilkan sedikit sputum.
3. Bentuk tubuh pasien saat duduk cenderung ke depan dengan kedua tangga
memegang pinggang.
4. Pengunaan otot aksesori (tambahan) pernafasan sehingga pada saat
inspirasi, sternum terangkat ke arah anterior superior.
5. Pembuluh vena leher dapat terlihat mengembang pada saat inspirasi.
6. Bernafas dengan bibir dirapatkan.
7. Suara pernafasan ronkhi, weezing dan cracles yang samar menjelang akhir
ekspirasi.
8. Rongga interkortalis bawah memperlihatkan retraksi setiap kali pasien
menarik nafas dengan palpasi dinding dada lateral bawah dapat terasa
gerakan ke dalam.

E. Penatalaksanaan
Pengobatan emfisema ditujukan untuk menghilangkan gejala dan
mencegah pemburukan keadaan. Emfisema tidak dapat disembuhkan,
pengobatan mencakup :
a. Mendorong pasien agar berhenti merokok.
b. Mengatur posisi dan pola bernafas untuk mengurangi jumlah udara yang
terperangkap.
c. Memberi pengajaran mengenai teknik relaksasi dan cara menyimpan
energi.
d. Dukungan psikologis.
e. Pemeliharaan kondisi lingkungan yang sesuai untuk memudahkan
bernafas.
f. Banyak pasien emfisema akhirnya akan memerlukan terapi oksigen agar
dapat menjalankan tugas sehari-hari.

F. Pengkajian Fokus
1. Demografi
a. Jenis kelamin
Biasanya laki-laki lebih sering terserang penyakit emfisema daripada
perempuan.
b. Usia
Biasanya sering terjadi pada usia 50 tahun keatas.
c. Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang beresiko menyebabkan emfisema adalah
pengolahan baja dan penambangan batu bara atau batu tulis.
d. Lingkungan
Emfisema lebih sering terjadi di daerah perkotaan daripada di
pedesaan. Sebab di perkotaan intensitas polusi udaranya lebih besar
daripada di pedesaan.
2. Pola Pemeriksaan Kesehatan
a. Pola Nutrisi
Biasanya pada saat belum sakit individu makan teratur ( 3x1 hari)
tetapi pada saat terkena / sakit emfisema pada individu terjadi
anoreksia (tidak nafsu makan) ; berat badan (BB) akan menurun saat
sakit dan adanya kebiasaan merokok.

b. Pola Eliminasi
Pola eliminasi pada individu saat sakit biasanya menjadi berkurang
daripada saat belum / tidak sakit.
(Contoh : Biasanya 4-6 x / hari menjadi 3-5 x / hari).
c. Pola Aktivitas
Pola aktivitas / aktivitas terganggu karena individu pada saat sebelum
sakit bisa aktif tetapi individu selama sakit emfisema biasanya pola
aktivitasnya menurun hal ini terjadi karena individu mengalami sesak
nafas, lemah, mudah cepat lelah, malaise dan gelisah.
d. Pola Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit biasanya penderita emfisema istirahat / tidurnya tidak
ada gangguan tetapi pada saat sakit biasanya penderita dengan
emfisema pola istirahat / tidurnya terganggu hal ini terjadi karena
sesak nafas.
e. Pola Persepsi Sensori
Pada individu yang sakit emfisema biasanya persepsi sensorinya
menurun karena terjadinya kecemasan yang berlebihan.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
1) Individu tampak mempunyai barrel chest.
2) Pernafasan dengan bibir dirapatkan.
3) Individu tampak bernafas dengan pernafasan dada.
4) Individu bernafass menggunakan otot-otot aksesori pernafasan
(sternokleido mastoid)
b. Perfusi
1) Ketika dada di periksa ditemukan hipersonan.
2) Terjadi penurunan frekmitus biasanya ditemukan pada seluruh
bidang paru.
c. Auskultasi
Tidak terdengarnya bagi nafas dengan krekles, Ronki,dan
perpanjangan ekspirasi.

4. Pemeriksaan Penunjang
Pada individu / pasien yang terkena emfisema biasanya dilakukan
pemeriksaan penunjang sebagai berikut :

1) Rontgen Dada
Menunjukkan hiperinflasi, pendataran diafragma pelebaran margin
interkosta dan jantung normal.
2) Pemeriksaan Fungsi Pulmonari (terutama spirometri)
Menunjukkan naiknya kapasitas paru total (TLC) dan Volume Redual
(RV)
3) Gas darah arteri
Untuk mengkaji fungsi ventilasi dan pertukaran gas purmonari.
4) Menghitung darah lengkap (HDL)
Untuk mengetahui jumlah hemoglobin dan hematokrit.
5) Pemeriksaan kadar -1 antitripsin serum
Untuk menunjukkan perubahan radiologis terutama pada zona bawah.
G. Pathways Keperawatan
Etiologi dan faktor predisposisi

PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun)

Bronkitis kronik & Emfisema Asma


bronkiektasis

Emfisema sentrilobular Emfisema panlobular

Menyerang bronkhiolus
Pembesaran alveoli
Dinding bronkhiolus Terbentuk bleb / bula
berlubang membesar

Dinding bronkhiolus
bergabung antara satu
dengan yang lain

Pembesaran alveoli Gangguan elastisitas paru Kolap jaringan


nafas parsial
Kesulitan respirasi Gangguan pengembangan paru
Peningkatan kerja
Ekspresi tegang Penurunan perfusi pernafasan
Pola nafas Keringat dingin >> dispnea, hipoksia,
yang tidak Atelektasis
Lemas, gelisah, AGD abnormal Tachipnea
efektif ketakutan Sianosis
Dispnea Gangguan
pertukaran gas
Anvietas

Sesak nafas Peningkatan kerja silia


Produksi sputum berlebih Sekret menetap Mual, muntah
Batuk (produktif / non Mal nutrisi BB , anorexia
produktif) Penurunan daya imun HB , albumin 
Dispnea

Dispnea, wheezing Resiko infeksi


Gangguan nutrisi
Bersihan jalan Mudah cepat lelah
nafas tidak efektif Sesak nafas
Malaise, gelisah

Intoleransi aktifitas

Doengoes, ME. Moorhouse, M.F, Geissler, A.C. Nursing Care Plans :


Guidelines for Planning and Documenting Patient Care.
ASKEP TEORITIS

H. PENGKAJIAN

A. Identitas klien

a. Jenis kelamin
Biasanya laki-laki lebih sering terserang penyakit emfisema daripada perempuan.
b. Usia
Biasanya sering terjadi pada usia 50 tahun keatas.
c. Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang beresiko menyebabkan emfisema adalah pengolahan baja
dan penambangan batu bara atau batu tulis.
d. Lingkungan
Emfisema lebih sering terjadi di daerah perkotaan daripada di pedesaan. Sebab di
perkotaan intensitas polusi udaranya lebih besar daripada di pedesaan.

B. Riwayat kesehatan

- Riwayat kesehatan dahulu

Biasanya Klien mengatakan selama 3 tahun terakhir mengalmi batuk produktif dan
pernah menderita pneumonia, dengan riwayat perokok.

- Riwayat kesehatan sekarang

Biasanya Keluhan utama sesak nafas , batuk , dan nyeri , di daerah dada sebelah
kanan pada saat bernafas . banyak secret keluar ketika batuk , berwarna kuning kental ,
merasa cepat lelah ketika melakukan aktivitas,dan nafsu makan terganggu.

- Riwayat kesehatan keluarga

Biasanya Klien menyatakan tidak ada keluarga yang menderita penyakit emfisema
tersebut atau penyakit keturunan lainnya yang pernah klien alami.
C. Pemeriksaan fisik

Rambut dan hygene kepala

Biasanya Warna rambut hitam ,tidak berbau , rambut tumbuh subur , dan kulit
kepala bersih .

Mata ( kanan/kiri )

Biasnya Posisi mata simetris , konjungtiva merah muda , skelera putih , dan pupil
isokor dan respon cahay baik .

Hidung

Biasanya Simetris kiri dan kanan , dan tidak ada pembengkakan dan berfungsi
dengan baik .

Mulut dan tenggorokan

Biasanya Rongga normal , mucosa terlihat pecah – pecah , tonsil tidak ada
pembesaran .

Telinga

Biasanya Simetris kiri dan kanan , tidak ada serumen , dan pendengaran tidak terganggu .

Leher

Biasanya Kelenjer getah bening , sub mandibula , dan sekitar telinga , tidak ada
pembesaran .

Dada/ thorak

Inspeksi
Biasanya Pada klien dengan emfisema terlihat adanya peningkatan usaha dan
frekuensi pernapasan serta penggunaan otot bantu napas.

Palpasi

Biasanya Pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya menurun

Perkusi

Biasanya Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma
menurun.

Auskultasi

Biasanya Sering didapatkan adanya bunyi napas ronkhi dan wheezing sesuai tingkat
beratnya obstruktif pada bronkhiolus.

Kardiovaskular

Biasanya Irama jantung : regular; S1,S2 tunggal.

Nyeri dada : ada, skala 6

Akral : lembab

Saturasi Hb O2 : hipoksia

Persyarafan

Keluhan pusing : ya

Gangguan tidur : ya

Pencernaan
Nafsu makan : anoreksi disertai mual

BB : menurun

Porsi makan : tidak habis, 3 kali sehari

Muskuloskeletal/integument

Turgor kulit : Berkeringat

Massa otot : menurun

D. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a. Bernafas
Kaji pernafasan pasien. Keluhan yang dialami pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronik
ialah batuk produktif/non produktif, dan sesak nafas.
b. Makan dan Minum
Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan
PPOK akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada
struktur abdomen. Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit.
c. Eliminasi
Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum
dan sesudah MRS. Karena keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan lebih banyak bed
rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain akibat pencernaan pada struktur abdomen
menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus.
d. Gerak dan Aktivitas
Akibat sesak nafas, kebutuhan O 2 jaringan akan kurang terpenuhi dan Pasien akan cepat
mengalami kelelahan pada aktivitas minimal.
e. Istirahat dan tidur
Akibat sesak yang dialami dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap
pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat, selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari
lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit, dimana banyak orang yang
mondar-mandir, berisik dan lain sebagainya.
f. Kebersihan Diri
Kaji bagaimana toiletingnya apakah mampu dilakukan sendiri atau harus dibantu oleh orang
lain.
g. Pengaturan suhu tubuh
Cek suhu tubuh pasien, normal(36°-37°C), pireksia/demam(38°-40°C), hiperpireksia=40°C<
ataupun hipertermi <35,5°C.
h. Rasa Nyaman
Observasi adanya keluhan yang mengganggu kenyamanan pasien. Nyeri dada meningkat
karena batuk berulang (skala 5)
i. Rasa Aman
Kaji pasien apakah merasa cemas atau gelisah dengan sakit yang dialaminya
j. Sosialisasi dan Komunikasi
Observasi apakan pasien dapat berkomunikasi dengan perawat dan keluarga atau
temannya.
k. Bekerja
Tanyakan pada pasien, apakan sakit yang dialaminya menyebabkan terganggunya pekerjaan
yang dijalaninya.
l. Ibadah
Ketahui agama apa yang dianut pasien, kaji berapa kali pasien sembahyang, dll.
m. Rekreasi
Observasi apakah sebelumnya pasien sering rekreasi dan sengaja meluangkan waktunya
untuk rekreasi. Tujuannya untuk mengetahui teknik yang tepat saat depresi.
n. Pengetahuan atau belajar
Seberapa besar keingintahuan pasien untuk mengatasi sesak yang dirasakan. Disinilah peran
kita untuk memberikan HE yang tepat dan membantu pasien untuk mengalihkan sesaknya
dengan metode pemberian nafas dalam.

I. Diagnosa Keperawatan
2. Bersihkan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme,
peningkatan secret, penurunan energi / kelemahan ditandai dengan kesulitan
bernafas, perubahan kedalaman dan kecepatan pernafasan, penggunaan otot
aksesori.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplai oksigen (obstruksi
jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara), kerusakan alveoli.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan
masukan peroral, metabolik yang berkaitan dengan Dispnea, anoreksia dan
letih yang ditandai dengan BB menurun, kehilangan masa otot.
5. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan
yang ditandai dengan pasien cemas, gelisah dan ketakutan.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dan kebutuhan oksigen yang ditandai dengan kelemahan dan mudah
letih.
7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adekuatnya pertahanan utama
(penurunan kerja silia, menetapnya secret), tidak adekuatnya imunitas, proses
penyakit dan Malnutrisi.

J. Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA NOC NIC


n 1Keketidakefektifan jalan 1. Status pernapasan : 1. manajemen jalan nafas
napas b.d peningkatan kepatenan jalan nafas
1. selalu mencuci tangan
produksi sekret. 1. kepatenan jalan nafas
2. Menggunakan alat pelindung
2. Irama pernafasan
diri ( misalnya sarung tangan ,
3. Kedalaman inspirasi
kacamata peindung, dan
4. Kememapuan untuk
masker )
mengeluarkan sekret
3. Monitor ronki dan crackles
5. Ansietas
jalan nafas
6. Ketakutan
4. Pertahankan teknik steril
7. Tersedak
ketika melakukan penyedotan
8. Suara nafas tambahan
dan melakukan perawatan
9. Pernafasan cuping
trakeostomi
hidung
5. Lakukan fisioterapi dada jika
10. Mendesah
diperlukan
11. Dispnea saat istirahat
6. Inspeksi adanya cairan,
12. Dispnea dengan
kemerahan, iritasi dan
aktiitas ringan
perdarahan pada kulit sekitar
13. Pengguan otot bantu
stoma trakel.
nafas
14. Batuk

15. Akumulasi sputum


2. Manajamen batuk
3. Monitor pernapasan

1. monitor kecepatan, irama,


kedalama, dan kesulitan
bernafas
2. Catat pergerakan dada,
ketidaksimetrisan,
pengguanaan otot-otot bantu
nafas dan retraksi pada otot
supruclaviculas dan interkosa
3. Monitor suara nafas
tambahan seperti ngorok dan
mengi
4. Catata lokasi trakea
5. Monitor kelelahan otot- otot
diagfragma dengan
pergerakkan parasoksial

6. Auskultasi adanya suara


nafas, catat area dimana
terjadinya penurunan atau
tidka adanya ventilasi dan
keberadaan suara nafas
tambahan
2 Gangguan pertukaran 1. Respon ventilasi 1. Manajemen jalan nafas
gas b.d kerusakan mekanik : dewasa
1. buka jalan nafas dengan
alveoli.
1. Tingkat pernapasan teknik chift lift atau jaw thrust,
2. Irama pernapsan sebagaimana mestinya
3. Kedalaman inspirasi 2. Posisikan untuk
4. Kapasitas inspirator memaksimalkan ventilasi pasie
5. Volume tidal 3. Identifikasi kebutuhan
6. Gerakan dinding aktual/potensial pasien untuk
dada asimetris masukkan alat membuka jalan
7. Pembesaran dinding nafs
dada asimetris 4. Kelola udara atau oksigen
8. Kesulitan nafas yang dilembabakan
dengan ventilator sebagaimana mestinya
9. Kegelisahan 5. Posisikan untuk meringankan
10. Kurang istirahat sesak nafas
6. Monitor status pernafaasan
dan oksigenasi , sbegaimana
mestinya
2. Status pernapasan :
7. Motivasi pasien untuk
pertukaran gas
bernafas pelan, dalam berputar
1. saturasi oksigen dan batuk

2. hasil rontgen dada


3.keseimbangan ventilasi
dan perfusi 2. Monitor pernapasan
4. Dispnea saat istirahat
5. Dispnea dengan aktiitas
1. monitor kecepatan, irama,
ringan
kedalama, dan kesulitan
6. perasaan kurang
bernafas
istirahat
7. sianosis 2. Catat pergerakan dada,
8. mengantuk
ketidaksimetrisan,
pengguanaan otot-otot bantu
nafas dan retraksi pada otot
supruclaviculas dan interkosa

3. Monitor suara nafas


tambahan seperti ngorok dan
mengi
4. Catata lokasi trakea
5. Monitor kelelahan otot- otot
diagfragma dengan
pergerakkan parasoksial
6. Auskultasi adanya suara
nafas, catat area dimana
terjadinya penurunan atau
tidka adanya ventilasi dan
keberadaan suara nafas
tambahan

3 Gangguan pemenuhan 1. status nutrisi 1. Manajemen gangguan


nutrisi kurang dari makan
1. asupan gizi
kebutuhan tubuh b.d
2. asupan makanan
1. Kolaborasi dengan tim
penurunan nafsu 3. asupan cairan
4. energi kesehatan lain untuk
makan
5. rasio berat badan /
mengembangkan rencana
tinggi badan
oerawatan dengan
6. hidrasi
melibatkan klien dan
2. Status nutrisi : asupan orang orang terdekatnya
nutrisi dengan tepat.
2. Ajarkan dan dukung
1. asupan kalori konsep nutrisi yang baik
2. Asupan protein dengan klien ( dan orang
3. Asupan lemak terdekat klien
4. Asupan karbohidrat 3. Dukung klien untu
5. Asupan serat mendiskusiskan makanan
6. Asupan vitamin yang disukai bersama
7. Asupan mineral dengan ahli gizi
8. Asupan zat besi 4. Dorong klien untuk
9. Asupan kalsium memonitor sendiri asupan
makanan harian dan
10. Asupan natrium
menimbang berat badan
dengan tepat
5. Batasi aktifitas fisik untuk
peningkatan berat badan

2. Manajemen nutrisi

1. tentukan status gizi pasien


dan kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan gizi
2. Tentukan apa yang menjadi
preferensi makanan bagi
pasien
3. Tentukan jumlah kalori dan
jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi persyaratan
gizi
4. Berikan pilihan makanan
sambil menawarkan bimbingan
terhadapa pilihan mkana yang
lebih berserat jika diperlukan
5. Ciptakan lingkungan yang
optimal pada saat
mengkonsumsi makanan
( misalnya, bersih, berventilasi,
santai dan bebas dari bau yang
menyengat )

3. Bantuan peningkatan berat


badan

1. jika diperlukan lakukan


pemeriksaan diagnostik untuk
mengetahui penyebab
penurunan berat bdana
2. Diskusikan kemungkinan
penyebab berat badan
berkurang
3. Monitor mual muntah
4. Monitor asupan kalori setiap
hari
5. Dukung peningkata asupan
kalori
6. Bantu pasien untuk makan
atau suapi
7. Sajikan makanan yang
menarik

8. Ciptakan suasana sosial


untuk makna sediakan
suplemen makanan jika
diperlukan
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Emfisema adalah dilatasi asinas yang tidak dapat pulih yang diperberat
oleh perubahan obstruksi dinding asing dengan penurunan recoil elastis dari
paru.
Empisema biasanya timbul setelah bertahun-tahun merokok (merokok
merupakan penyebab utama), tapi perokok pasif juga dapat menyebabkan
emfisema. Selain itu terdapat juga faktor yang mempengaruhi timbulnya
emfisema, seperti faktor lingkungan (polusi udara, agen-agen infeksius alergi
pada waktu mengalami gejala-gejala obstruksi kronis, faktor pekerjaan
(beberapa pekerjaan seperti pengolahan baja dan perombongan batu bara /
batu tulis).
Dampak yang ditimbulkan akibat emfisema yaitu dapat merusak dinding
alvioler dan menyebabkan bleb / bula, kolabs bronkeolus pada ekspirasi.
Pada pasien emfisema didapatkan data sebagai diagnosa keperawatan
yaitu : bersihkan jalan nafas tidak efektif, gangguan disebabkan adanya nafas
tidak efektif yang disebabkan adanya penumpukan spuntum, dan intoleransi
aktivitas yang dialami pasien yang disebabkan karena kelemahan fisik. Resiko
tinggi infeksi karena adekuatnya pertahanan utama (kerja silia, menetapnya
secret). Ansietas atau ketakutan karena adanya perubahan dalam status
kesehatan yang ditandai pasien, cemas, gelisah, dan ketakutan. Gangguan
pertukaran gas karena suplai oksigen dan kerusakan alveoli. Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan karena penurunan masukan peroral.
B. Saran
Hendaknya pengelolaan pasien emfisema sangat perlu diperhatikan
tentang munculnya masalah pertukaran gas dan bersihan jalan nafas. Maka
dalam pengkajian perlu difokuskan pada proses dan status respiratorinya tanpa
mengabaikan pengkajian pasien secara menyeluruh. Kita juga harus
memperhatikannya adanya luka supaya tidak terjadi infeksi. Dan hendaknya
dalam menyusun intervensi keperawatan diusahakan secepat mungkin
sehingga pada saat intervensi itu dilaksanakan maka hasil yang diharapkan,
yang tercantum dalam kriteria hasil dapat terpenuhi dan itu berarti tindakan
yang kita laksanakan bisa mengatasi masalah yang muncul.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.


Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Corwin, J. Elisabeth. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : Buku Kedokteran


EGC.

Doengoes, ME. Moorhouse, M.F, Geissler, A.C. 2000. Nursing Care Plans :
Guidelines for Planning and Documenting Patient Care. Edisi 3. Ahli Bahasa I
Made Kariasa, S.Kp, Ni Made Sumarwati, S.Kp. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Stork, John E. 1992. Manual Ilmu Penyakit Paru. Jakarta : Binarupa Aksara.

Sunddarth & Brunner. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Edisi8
Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Baughman,D.C & Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC


Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001
Mills,John & Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru. Jakarta : EGC

Perhimpunan Dokter Sepesialis Penyakit Dalam Indonesia. Editor Kepela :


Prof.Dr.H.Slamet Suryono Spd,KE

Soemarto,R.1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya : RSUD Dr.Soetomo

Buku NANDA, 2015

Buku NIC NOC, 2015