Vous êtes sur la page 1sur 13

INFO – TEKNIK

Volume 9 No. 2, Desember 2008 (161 - 173)

SETTLEMENT PATTERN MODEL AT RIVERSIDE


(A Case Study of Martapura River)

Nurfansyah1

Abstract .- The Martapura River is the watercourse from Barito River. Cultural of the ordinary society
that used to life around the riverside caused to expand the settlement along the riverside.
This research purposed synthesis the settlement characteristics along riverside and make the settlement
model. The methods used at this research was rationalistic, where the research object consisted of three
village and analysis based on research parameters, settlement pattern, form, circulation and infrastructure.
The result of this research are linear settlement pattern expand along the riverside Martapura River
unorganized. At the curve area, there is cluster settlement pattern where the building grown from the main
road to the riverside. There are pillar house and floating house that have grown at some spots along the
riverside and alley are the circulation of the area where both interconnected. Wooden bridge represent to
access of the circulation. The area infrastructure consisted of floating MCK. The MCK was a communal
place for the riverside society doing activity, bath, cleaning and wasting. The floating MCK also used as
dock by river transportation passenger. Domestic waste a lot still thrown to the river and not places for
temporary waste place so the river become dirty by the garbage.

Key words: settlement pattern, housing pattern and infrastructure

PENDAHULUAN penataan kawasan tepian sungai Banjarmasin


adalah permukiman dan pariwisata.
Latar Belakang Dari perumusan masalah, timbul
pertanyaan penelitian yaitu: (1) faktor apa saja
Perkembangan kota tepian air di Indonesia yang berpengaruh terhadap karakteristik
merupakan potensi yang harus ditangani secara permukiman? dan (2) bagaimana mensintesakan
lebih seksama. Banjarmasin dikenal dengan karakter permukiman tepian sungai Martapura
sebutan “kota seribu sungai”, dengan ciri sungai sebagai dasar perancangan dan model
pasang surut, dimana sungai digunakan sebagai penataannya?.
alat transportasi menghubungkan antara daerah Sedangkan tujuan penelitian adalah
satu dengan daerah lain. mendapatkan karakter permukiman tepi sungai di
Sungai Martapura merupakan anak sungai Sungai Martapura dan mendapatkan keterkaitan
yang terbesar di Banjarmasin. Sungai ini terletak pola permukiman dan infrastruktur tepian sungai.
di tengah-tengah kota, pada tepian sungai terdapat Penelitian tentang model penataan permukiman
permukiman penduduk. Sungai lebih berfungsi tepian sungai Martapura akan dilakukan di
sebagai daerah belakang (backyard), fungsi hanya Kelurahan Pasar Lama, Kelurahan Surgi Mufti,
sebagai tempat mandi, cuci dan tempat dan Kelurahan Seberang Mesjid. Pada Penelitian,
pembuangan sampah. Akibatnya identitas sungai lebih ditekankan pada arahan model penataan
hanya sebagai tempat service atau teritori kawasan tepi Sungai Martapura.
belakang. Bahkan, pada beberapa bangunan ada Untuk kepentingan ilmu pengetahuan,
yang menjorok ke tengah sungai. penelitian ini bermanfaat bagi wawasan bidang
Sebagai embrio perkembangan kota, tidak arsitektur, khususnya konsepsi pertumbuhan dan
mengherankan jika kawasan tepian air memiliki perkembangan permukiman di tepian sungai.
daya tarik arsitektur unik dan dinamis berikut Penelitian ini juga bermanfaat bagi
budaya tradisional masyarakatnya ternyata pengembangan perencanaan dan perancangan
mampu menciptakan lingkungan binaan dengan lingkungan binaan di tepian sungai.
karakter yang khas yaitu permukiman tepian Penelitian ini juga dapat digunakan
sungai. Keunikan ini merupakan suatu peluang sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah
untuk menampilkan citra pada arsitektur ruang daerah untuk mengambil kebijakan (guideline)
kota. Ada dua hal utama yang mendasari dalam penataan bangunan dan lingkungan tepian
1
Staf pengajar Fakultas Teknik Unlam Banjarmasin
161
162 INFO TEKNIK, Volume 9 No.2, Desember 2008

sungai, khususnya di Kota Banjarmasin. Landasan Teori


Landasan teori dari penelitian ini
KAJIAN TEORITIS berdasarkan tinjauan pustaka adalah:
1. Permukiman tepian sungai merupakan
Pemukiman Tepian Sungai. sekelompok bangunan yang berada di tepian
Karakteristik lingkungan pemukiman sungai terorganisir dalam suatu sistem tatanan
tepian sungai dipengaruhi oleh latar belakang fisik dan bangunan serta sosial budayanya.
penghuni untuk menghuni tepian sungai dalam 2. Pola permukiman tepian sungai berbentuk
membangun, beraktivitas bersifat incremental sejajar atau tegak lurus (linier) dengan sungai
(pertumbuhan hunian yang semakin meningkat), serta bentuk permukiman yang berkelompok
sehingga menciptakan tipologi fisik lingkungan di tepi sungai serta didirikan di atas tonggak-
pemukiman yang organik. Lingkungan tepian tonggak kayu.
sungai memiliki karakteristik yang terisolir, 3. Pemukiman yang layak adalah tersedianya
dengan tepian sungai sebagai teritorial fasilitas lingkungan pendukung, kondisi
wilayahnya. bangunan yang layak dan memenuhi standar
Berdasarkan eksistensi historisnya, maka kesehatan, tersedianya fasilitas lingkungan
pola permukiman tersebut dapat dibedakan atas: yang baik, akses dan jalan lingkungan yang
permukiman tradisional dan non-tradisional jelas.
(urban). Berdasarkan karakteristik topografinya,
maka pola permukiman tersebut dapat dibedakan
atas perumahan di atas sungai, laut, danau atau rawa.
Pola Aktivitas
Permukiman
Bangunan Tepian Sungai
Struktur bangunan rumah di atas air dapat
dibedakan dalam 2 (dua) tipe, yaitu : Infrastruktur
a. Bangunan panggung, yaitu bangunan dengan
konstruksi di daerah perairan Gambar 1. Hubungan Pola Permukiman-
(sungai/laut/danau/rawa) dan mempunyai lantai Infrastruktur-Aktivitas
dasar berada di atas permukaan air. Bangunan ini
merupakan tipologi mayoritas rumah di atas
air yang tradisional dengan berbagai variasi
sebagai kekhasannya.
b. Bangunan rakit (raft); yaitu bangunan
dengan konstruksi bawah berbentuk rakit
(raft,) terapung di atas perairan
(sungai/laut/danau/rawa). Bangunan ini
diperkirakan merupakan bagian transisi dari
evolusi rumah di atas air dari rumah perahu
menjadi rumah panggung di atas air.

Tabel 1. Pola Permukiman tepi sungai.


Sumber : Suprianto Irwan, 2000

Pola permukiman tradisional pola permukiman non tradisional (urban)


di atas air di atas air
a. Homogenitas dalam pola bentuk dan a. Heterogenitas dalam pola bentuk dan ruang, serta fungsi
ruang, serta fungsi rumah/bangunan. rumah/bangunan.
b. Adanya nilai-nilai tradisi tertentu yang b. Tidak ada nilai-nilai tradisi tertentu yang dianut berkait
dianut berkait dengan huniannya, dengan huniannya. Arsitektural bangunan dibuat dengan
seperti orientasi, ornamentasi, kaidah tradisional maupun modern, sesuai dengan latar
konstruksi dll. belakang budaya dan suku/etnis masing-masing.Segala
c. Pola persebaran perumahannya hal didasarkan atas dasar kepraktisan dan kemudahan.
cenderung membentuk suatu cluster c. Pola persebaran perumahannya cenderung menyebar dan
berdasarkan kedekatan keluarga atau linier atau dapat membentuk suatu cluster yang lebih
kekerabatan. didasarkan atas pertimbangan ekonomis, seperti
kedekatan dengan pelabuhan, pasar terapung, dll.
Nurfansyah, Settlement Pattern Model At Riverside… 163

METODE setiap bagian kota serta dekat dengan pusat


pemerintahan.
Lingkup Wilayah Penelitian.
Penentuan wilayah penelitian berdasarkan Penentuan Kasus Wilayah Penelitian.
pada RUTRK Kota Banjarmasin 2001-2011 Penentuan area kasus penelitian didasarkan
tentang arah pengembangan strategi Kota pada beberapa pertimbangan :
Banjarmasin Raya yaitu pembenahan wilayah 1. Merupakan permukiman di tepi Sungai,
tepian sungai dalam menciptakan waterfront city, berada di tengah kota, memiliki karakter fisik
Lingkup wilayah pengamatan, peneliti mengambil dan tatanan yang organis.
spot amatan pada wilayah administratif yang yang 2. Telah terbentuk sejak lama atau merupakan
berada ditengah kota dan berdekatan pada satu kampung tua.
kawasan yaitu Kelurahan Pasar Lama, Kelurahan 3. Memiliki kedekatan langsung dengan elemen-
Surgi Mufti dan Kelurahan Seberang Mesjid. elemen fisik kawasan dan pemerintahan.
Pertimbangan lokasi penelitian yang berada di
tengah-tengah kota dan mudah dijangkau dari

Gambar 2. Lingkup Wilayah Penelitian.


Sumber : Telkom Kalimantan, 1997
164 INFO TEKNIK, Volume 9 No.2, Desember 2008

Berdasarkan kriteria penentuan kasus Jalannya Penelitian


wilayah penelitian dan fenomena kawasan serta Penelitian ini dimulai dengan
didukung oleh RUTRK dan RDTRK Banjarmasin mengumpulkan data-data sekunder, berupa
yaitu mengenai permukiman di tepian sungai, literatur, peta Kota Banjarmasin dan peta lokasi
maka temuan wilayah penelitian berada di 3 penelitian serta data dari instansi terkait. Langkah
kelurahan yang saling berdekatan dalam satu penelitian selanjutnya adalah mengidentifikasi
kawasan yaitu: Kelurahan Pasar Lama, Kelurahan adanya pola-pola permukiman dengan bantuan
Surgi Mufti dan Kelurahan Seberang Mesjid. peta skala 1:1000 (yang memuat blok bangunan,
jalan dan sungai). Identifikasi pola permukiman
Variabel Penelitian. dengan data pemetaan tahun 1997 dan
Terdapat 2 variabel penelitian untuk disesuaikan di lokasi survey pada waktu
penataan kawasan permukiman tepian sungai pelaksanaan penelitian.
yaitu: variabel yang mengikat adalah pola
permukiman tepian sungai, sedangkan variabel Metode Analisis
bebasnya adalah infrastruktur kawasan tepian
Metode analisis secara deskriptif dari hasil
sungai.
pemetaan obyek fisik spasial berupa peta-peta
tematik. Metode tersebut memudahkan
Langkah-langkah Penelitian
pemahaman secara visual terhadap area penelitian.
a. Survey awal lapangan.
b. Identifikasi unsur-unsur yang akan diteliti.
Kesulitan yang Dihadapi
c. Memilih dan mempersiapkan alat.
d. Merancang langkah-langkah pengumpulan Kesulitan yang dihadapi dalam
data, yaitu penggambaran pola kawasan penelitian bersifat teknis dan sulitnya
penelitian dan pemandangan fisik (foto dan mendapatkan informasi langsung dari masyarakat
sketsa) serta pemetaan tata guna lahan dan selain key person untuk mendapatkan data akurat
identifikasi pola spasial kawasan. tentang latar belakang dan proses penghunian
terhadap permukiman tepian sungai.

Diskripsi Wilayah Penelitian


Luas kota Banjarmasin adalah 72km2 atau
0.19% dr luas wilayah Propinsi Kalimantan
Selatan yang terdiri dari 5 Kecamatan dan 50
Kelurahan, yaitu:

 Latar Metode Analisis Data


Belakang Penelitian Lapangan :
 Rumusan  General  Pola Temuan
permasalah Kajian Landasan Survay. permuki dan
an Pustaka Teori  Detail man. Pembahasan
 Tujuan Survey  Jaringan
Penelitian infrastruk
tur
Arahan Desain
Model Penetaan
Permukiman
Tepian Sungai

Gambar 3. Proses penelitian


Nurfansyah, Settlement Pattern Model At Riverside… 165

Tabel 2. Wilayah kelurahan di Banjarmasin.


Sumber: RUTRK Kota Banjarmasin 2001.
Jumlah Jumlah Penduduk
Kelurahan Luas (ha)
Kelurahan (jiwa)
Banjar Barat 1.428 9 114.144
Banjar Timur 1.160 9 107.686
Banjar Selatan 2.460 11 110.725
Banjar Utara 1.810 9 64.079
Banjar Tengah 574 12 109.950

Penduduk Banjarmasin pada tahun 2001 Karakteristik Permukiman Tepi Sungai


sebanyak 546.000 jiwa dengan kepadatan sekitas
Martapura
7.800 jiwa per km² dan tingkat pertumbuhan
mencapai 3.4% per tahun. Fungsi primer kota Kawasan Sungai Martapura ini merupakan
meliputi: Pusat kegiatan pemerintahan, Pusat daerah rawa pasang surut yang relatif datar
perdagangan regional, Pusat kegiatan industri, dengan ketinggian rata-rata 16cm di bawah
Pusat pelayanan kesehatan, Pusat pariwisata, permukaan air laut, menyebabkan sebagian
Sebagai pintu gerbang daerah Kalimantan Selatan wilayahnya terendam air apabila terjadi air pasang
dan Kalimantan Tengah. yang tinggi. Hal ini mendasari bentuk
Fungsi sekunder kota, meliputi : Pusat perumahannya berupa bangunan panggung dan
kegiatan pemerintahan kota Banjarmasin, Pusat bangunan terapung. Namun karena kondisi
kegiatan perdagangan lokal, Pusat kegiatan tingkat perekonomian masyarakat yang relatif
pelayanan permukiman, Pusat kegiatan kesehatan, masih rendah serta belum didukung oleh sarana
pendidikan, fasilitas sosial. dan prasarana yang mencukupi maka
permukimannya tumbuh secara tidak teratur,
Konteks Kawasan Penelitian dalam Skala Kota padat dan kumuh.
Kawasan penelitian merupakan kawasan  MCK terapung sebagai fasilitas umum dan
yang berada di sebelah barat pusat kota, terdiri dimanfaatkan sebagai dermaga.
dari fungsi permukiman, perdagangan dan industri  Diantara bangunan terdapat titian yang
kecil. Fungsi permukiman tersebar di 3 kelurahan dimanfaatkan sebagai konektor sungai dengan
sedangkan perdagangan berupa pasar tradisional daratan.
yaitu Pasar Lama yang ada sejak jaman dulu  Rumah terapung (lanting) sebagai tempat
berada di kelurahan Pasar Lama terletak di tepi tinggal dan usaha klontongan.
sungai. Pasar ini merupakan salah satu pasar  Fasilitas ibadah yang berada di tepian sungai
tradisional terbesar di Banjarmasin. Fungsi pasar pada dasarnya merupakan satu kawasan yang
ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada di kawasan permukiman tepian sungai.
berada di sekitar Kecamatan Banjarmasin Utara,  Panorama saat berada di sungai dengan
Tengah dan Timur. kelotok sebagai alat transportasi.
 Jalan titian sebagai penghubung dan jalur
Lokasi Wilayah Penelitian sirkulasi permukiman tepian sungai.
 Suasana permukiman tepian sungai dengan
Wilayah penelitian berada di kawasan
rumah panggung dan lanting.
pemukiman tepian sungai di sungai Martapura
kota Banjarmasin dengan batasan kawasan Karakteristik Ekonomi, Sosial, Budaya
penelitian adalah :
 Sebelah Utara Kelurahan Pasar Lama (Jalan Masyarakat
di dalam Pasar Lama). Secara umum masyarakat penghuni
 Sebelah Selatan Kelurahan Seberang Mesjid kawasan didominasi oleh masyarakat yang
(Jalan Seberang Mesjid). memiliki mata pencaharian sebagai pedagang,
 Sebelah timur kelurahan Surgi Mufti (Jalan Pegawai Negeri, dan buruh, termasuk supir
surgi Mufti – Jembatan 17 Agustus). kendaraan darat maupun supir kendaraan
 Sebelah Barat Kelurahan Pasar Lama transportasi sungai. Masyarakat yang memiliki
(Jembatan Pasar Lama). pendapatan rendah maka kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan rumah dengan kondisi
bangunan yang di hasilkan memiliki kualitas rendah.
166 INFO TEKNIK, Volume 9 No.2, Desember 2008

Interaksi antara masyarakat lebih banyak


terjadi di rumah-rumah yang berdekatan dilalui
oleh satu jalan sama, sedangkan pada bangunan 2. Analisa Pola Permukiman Tepian Sungai
yang saling membelakangi interaksi sosial kurang.
Infrastruktur Kawasan Tepian Sungai Tabel 3. Analisa Pola Permukiman Tepian Sungai
Martapura
Analisa
1. MCK Pola Cluster merupakan Pola permukiman
MCK salah satu tempat komunal dimana pada permukiman yang linier/memanjang
tempat ini terjadi kegiatan bersama masyarakat berkelompok Susunan tepian sungai
tepian sungai dalam beraktifitas mandi, mencuci massa bangunan dipengaruhi oleh
dan buang hajat. cenderung menyebar, bentuk fisik kawasan
dimulai dari akses tepian sungai sehingga
jalan utama (darat) massa bangunan
2. Sampah
Sistem pembuangan sampah merupakan masalah sampai ke tepi sungai. . mengikuti pola dari
yang sangat beragam dalam lingkungan. Menurut Booth (1983) bentukan dan
pola ini memiliki mengikuti sirkulasi.
multidirectional. Pola linier memiliki
3. Dermaga
Dermaga merupakan tempat singgah Jaringan jalan kualitas pengendalian
penumpang dan tempat bongkat muat barang. menunjukan pola pertumbuhan
Keberadaan dermaga sangat penting mengingat percabangan yang permukiman. Yang
kondisi kota Banjarmasin yang berbasis pada air memperlihatkan adanya terjadi kemudian
dan masyarakatnya masih menggunakan alat simpul-simpul adalah dibangunnya
transportasi sungai sebagai alternatif angkutan. menghubungkan antara rumah-rumah di sisi
jalan utama dan sungai. kiri dan kanan jalan
Faktor utama yang yang tegak lurus
HASIL DAN PEMBAHASAN
mempengaruhi pola sungai. Hal tersebut
cluster ini adalah bentuk menghambat
Pola permukiman Tepian Sungai Martapura.
1. Pola Linier/Memanjang fisik kawasan tepian perkembangan
Pola permukiman linier/memanjang tepian sungai yang terkena bangunan ke sungai.
sungai dipengaruhi oleh bentuk fisik kawasan abrasi dan akresi arus
tepian sungai sehingga massa bangunan mengikuti sungai yang berputar
pola dari bentukan dan mengikuti sirkulasi. Pada balik dari hulu ke hilir
pola ini bangunan terdiri dari satu deret karena dan sebaliknya.
lebar daratan hanya sekitar 1-10meter. Bangunan
berbentuk panggung di atas sungai dan semi Bangunan Tepian Sungai Martapura
panggung dengan titian dan jalan darat berada di 1. Bentuk Bangunan Tepian Sungai
depan bangunan sebagai jalur Berdasarkan pada pola permukiman tepian
penghubung/sirkulasi. sungai yang berbentuk cluster dan linier maka
didapat temuan bangunan pada kawasan penelitian
2. Pola Cluster adalah bangunan panggung, semi panggung dan
Pola permukiman cluster terlihat pada bangunan terapung (rumah lanting) didominasi
tatanan massa dan jaringan jalan terutama bangunan rumah untuk hunian.
terdapat di daerah cekungan di Kelurahan Temuan bangunan pada kawasan
Seberang Mesjid dan di muara Sungai Antasan penelitian, bangunan permukiman terbuat dari
Kecil. Susunan massa bangunan cenderung bahan dasar kayu dan beratap sirap dan seng. Untuk
menyebar, dimulai dari akses jalan utama (darat) bangunan rumah terapung bahan konstruksi
sampai ke tepi sungai dengan pola bangunan pondasi ada yang terbuat dari kayu gelondongan
yang tidak seragam. Jaringan jalan menunjukan dan ada juga yang menggunakan bambu yang
pola percabangan yang memperlihatkan adanya disusun-susun. Untuk bangunan panggung berdiri di
simpul-simpul yang menghubungkan antara jalan atas tiang-tiang dengan ketinggian lantai bangunan
utama dan sungai. dari permukaan tanah antara 1-4 meter.
Nurfansyah, Settlement Pattern Model At Riverside… 167

Tabel 4. Tipe bangunan, Jumlah KK dan Jumlah Penghuni.


Sumber: Survay, 2004
Jumlah Bangunan Jumlah KK
Tipe bangunan Jumlah Penghuni
(%) (%)
Semi panggung 68 (34,4) 133 46,3) 532
Panggung 102 (51,5) 122 (42,5) 610
Lanting 28 (14,1) 32 (11,2) 128
198 236 1270

Tabel 5. Jumlah lantai dan Luas bangunan


Sumber: Survay, 2004
Jumlah Bangunan Luas Jumlah Bangunan
Jumlah Lantai
(%) Bangunan (%)
1 lantai 160 (80,8) <21m2 56 (28,3)
2 lantai 38 (19,2) 21m2 – 90m2 101 (51)
3 lantai atau - >90m2 41 (20,7)
lebih

Tabel 6. Status bangunan.


Sumber: Monografi kelurahan, 2001. Wawancara dan Pengamatan, 2004
Status Bangunan Jumlah Bangunan (%)
Hak Milik 82 (41,4)
Hak Guna Bangunan 107 (54)
Lain-lain 9 (4,6)

Tabel 7. Cara mendapatkan rumah.


Sumber: Monografi kelurahan, 2001. Wawancara dan Pengamatan, 2004
Cara Mendapatkan Rumah Jumlah Bangunan (%)
Beli 17 (8,6)
Membangun sendiri 40 (20,2)
Wariasan 31 (15,6)
Sewa 72 (36,3)
Tinggal dg Orang tua 38 (19,3)

2. Analisa Bangunan Tepian Sungai yang berada di depannya. Sungai hanya menjadi
Martapura. bagian belakang dari bangunan.
Analisa bangunan dilakukan dengan Pada pola kedua yaitu linier panggung,
kategori keterkaitan antara pola permukiman temuan bangunan tunggal panggung di tepi
dengan bangunan tepian sungai. Dalam analisis sungai. Pada kawasan permukiman tepian sungai
terdapat tiga pola permukiman pada kawasan ini terdapat titian yang berada di muka bangunan
yaitu pola linier semi panggung, pola linier sebagai jalur sirkulasi kawasan. Pola permukiman
panggung dan pola cluster. Pada pola linier semi ini merupakan bentuk peromenade tepian sungai
panggung massa bangunan terdiri dari massa dengan fasade bangunan yang menghadap sungai.
besar berbentuk rumah barak/gandeng yang Pola ini terbentuk karena fisik kawasan yang
usianya cukup lama sekitar lebih dari 50 tahun. terpengaruh oleh adanya abrasi tepian sungai
Faktor yang mempengaruhi dari pola linier sehingga kawasan menjadi satu permukiman
semi panggung ini adalah adanya perkembangan panggung di tepi sungai.
jalan darat pada kawasan karena fungsinya
sebagai daerah komersial. Sehingga fasade Infrastruktur Kawasan Tepian Sungai
bangunan menghadap jalan pasar karena Martapura
kemudahan sirkulasi darat dan aktivitas pasar
1. MCK (Mandi, Cuci, Kakus).
168 INFO TEKNIK, Volume 9 No.2, Desember 2008

Permukiman tepian sungai merupakan pewadahan dilakukan dengan menggunakan


permukiman penduduk yang rata-rata memiliki keranjang/bak sampah kayu yang kemudian
tingkat ekonomi yang rendah. Dari jumlah diangkut ke TPS dengan menggunakan
permukiman yang ada di tepian sungai Martapura gerobak dan selanjutnya diangkut ke TPA
sekitar 28,3% bangunan tempat tinggal tidak dengan truk sampah.
memiliki km/wc dan tempat cuci karena Dermaga merupakan fasilitas yang sangat
terbatasnya luas bangunan yang mereka tempati. penting pada kota yang berbasiskan sungai.
2. Sampah Sungai dimanfaatkan sebagai jalur transportasi
Sungai masih dianggap sebagai tempat pengangkutan barang dan penumpang sangat
pembuangan sampah yang sangat efektif bagi memerlukan tempat singgal atau berlabuh.
penduduk sekitar tepian sungai, karena mereka Temuan pada kawasan penelitian ini bahwa tidak
tidak perlu repot-repot membuang ke tempat adanya dermaga secara khusus untuk penumpang
sampah dan berpikir sampah akan terbawa arus dan bongkar muat barang, padahal pada kawasan
sungai. ini terdapat fasilitas umum kota berupa pasar
3. Dermaga dimana tingkat distribusi barangnya tinggi.
Pada kawasan penelitian, tidak terdapat Mereka akhirnya menggunakan fasilitas MCK
secara khusus dermaga penumpang sehingga terapung dan batang sebagai tempat bersandar
masyarakat yang ingin menggunakan jalur kapal dan untuk bongkar muat barang dan
transportasi sungai harus menggunakan MCK penumpang.
terapung, MCK panggung dan batang yang berada
di tepian sungai yang dekat dengan lokasi tujuan
mereka sebagai akses menuju ke darat maupun ke KESIMPULAN
sungai.
4. Analisa Infrastrukrur Kawasan Tepian Kesimpulan
Sungai Permukiman tepian sungai Martapura
Infrastruktur pada kawasan tepian sungai adalah kawasan yang terdiri dari 2 fungsi yaitu
Martapura ini MCK (mandi, cuci, kakus) yang fungsi permukiman terdapat di Kelurahan Surgi
merupakan tempat komunal bagi masyarakat Mufti dan Kelurahan Seberang Mesjid, sedangkan
tepian sungai untuk melakukan aktifitas tersebut. fungsi perdagangan terdapat di Kelurahan Pasar
MCk ini digunakan bukan hanya untuk Lama.
masyarakat yang berada di tepian sungai saja, Pola permukiman yang tedapat di wilayah
akan tetapi masyarakat di darat pun yang pada penelitian ini adalah pola linier yang terdapat di
bangunan dang lingkungan mereka tidak terdapat Kelurahan Surgi Mufti dan Kelurahan Seberang
MCK melakukan aktivitasnya di MCK ini. Pada Mesjid, pola permukiman cluster terdapat di
MCK terapung limbah kotoran cain dan kotoran Kelurahan Seberang Mesjid dan pola permukiman
padat langsung dibuang ke sungai tanpa memalui sejajar tepi sungai terdapat di Kelurahan Pasar
proses pengendapan. Sehingga sungai menjadi Lama. Faktor yang mempengaruhi pola
tercemar oleh kotoran padat tersebut. Sistem permukiman ini adalah pertama, kondisi fisik
penangan dari kasus ini adalah dengan kawasan tepian sungai. Kedua, kegiatan
memindahkan MCK tersebut ke darat dengan masyarakat yang berada di tepian sungai tersebut
bangunan panggung yang menggunakan sistem yang berpengaruh terhadap pola hunian dan
pengendapan untuk kotoran cair dan kotoran infrastruktur kawasan permukiman.
padat. Selain itu juga alternatif lain adalah Bangunan-bangunan yang berada di
dengan membuat sistem pengendapan khusus di wilayah penelitian ini terdiri dari bangunan
sungai yang diletakan pada MCK terapung dan panggung di atas tanah, bangunan panggung
MCK panggung untuk proses pengendapan dari di atas sungai dan bangunan rumah terapung
kotoran padat tersebut. (lanting). Faktor yang mempengaruhi bangunan
Penanganan Persampahan di kawasan hunian pada kawasan penelitian ini adalah tingkat
perencanaan merupakan bagian dari sistem perekonomian dari masyarakat yang sebagian
penanganan persampahan Kota Banjarmasin yang besar hanya sebagai pedagang dan buruh sehingga
dikelola oleh Dinas Kebersihan Kota mereka lebih mementingkan untuk pemenuhan
Banjarmasin. Sistem pengelolaan sampah kebutuhan keluarga sehari-hari dan sebagain
untuk daerah permukiman dimulai dari penghuni yang ada di kawasan penelitian
pewadahan dengan kantong plastik kemudian bangunan yang mereka tinggali berstatus sewa.
dengan gerobak dikumpulkan di TPS, selanjutnya MCK (mandi, cuci, kakus) yang
diangkut menuju TPA dengan menggunakan truk merupakan tempat komunal bagi masyarakat
sampah. Sedangkan untuk daerah pasar, tepian sungai untuk melakukan aktifitas tersebut.
Nurfansyah, Settlement Pattern Model At Riverside… 169

MCK ini terdiri dari MCK terapung di sungai,  Arahan Bentuk Permukiman Tepian
MCK panggung di atas sungai dan batang (tempat Sungai
cuci tanpa wc). Pengguna MCK ini bukan hanya  Membatasi perkembangan bangunan
masyarakat yang berada di tepian sungai, tetapi melalui pembatasan dengan titian
juga digunakan oleh para penghuni di darat yang yang berfungsi juga sebagai akses
tidak mempunyai MCK pribadi. Sistem sirkulasi pada kawasan tepian sungai.
penanganan kasus ini adalah dengan  Jarak antar bangunan minimum 3 m
memindahkan MCK tersebut ke darat. Selain itu dengan pertimbangan untuk sirkulasi
juga alternatif lain adalah dengan membuat sistem udara dan pencahayaan pada
pengendapan khusus di sungai yang diletakan bangunan, apabila terdapat bangunan
pada MCK terapung dan MCK panggung untuk 2 lantai maka jarak minimum adalah
proses pengendapan dari kotoran padat tersebut. 5m.
Sungai masih dianggap sebagai tempat  Ruang terbuka kawasan digunakan
pembuangan sampah yang sangat efektif bagi sebagai tempat berinteraksi
penduduk sekitar. Akibat kurangnya kesadaran masyarakat, ruang terbuka ini dapat
masyarakat akan mengakibatkan dampak buruk berupa titian dan teras bangunan.
pada lingkungan sekitar tepian sungai, akibatnya  Orientasi bangunan menyesuaikan
terjadi penumpukan pada tempat-tempat tertentu. dengan arah sirkulasi utama, yaitu
Sistem penanganan sampah di lingkungan jalan, titian dan sungai.
permukiman dapat lakukan dengan penyediaan
TPS (Tempat Sampah Sementera) baik yang 2. Arahan Infrastruktur permukiman tepian
berupa tong sampah maupun bak sampah sungai..
beton/konstruksi kayu yang diletakkan dibeberapa  Arahan Model MCK (mandi, cuci,
spot pada kawasn permukiman baik yang di darat kakus)
maupun yang di tepi sungai. Untuk pengangkutan Alternatif 1 :
sampah ke TPA, sampah yang berada di tepi MCK terapung diganti dengan MCK yang
jalan dapat diangkut dengan truk sampah berada di daratan, karena kotoran padat
sedangkan untuk yang di tepi sungai dapat dan limbah kotor langsung di buang ke
dilakukan dengan kapal tongkang pengangkut sungai tanpa melalui proses.
sampah. Alternatif 2 :
Faktor yang mempengaruhi infrastruktur 1. MCK terapung tetap dipertahankan
kawasan ini adalah kegiatan penghuni yang sebagai bentuk dari peromenade khas
berada di kawasan permukiman tepian sungai dan tepi sungai.
masyarakat di darat yang juga menggunakan 2. Dibuat suatu sistem khusus septiktank
fasilitas tersebut, tingkat perekonomian dari terapung sebagai tempat pengendapan
masyarakat yang berada di tepian sungai yang kotoran padat sehingga kotoran padat
masih rendah. Selain itu kondisi fisik kawasan tidak langsung di buang ke sungai.
juga mempengaruhi terhadap infrastruktur yang
 Arahan Model Persampahan
berada di tepian sungai serta kurangnya kesadaran Alternatif 1 : TPS sementara yang
dari masyarakat yang berada di tepian sungai
berada di darat, pengakutan sampah ke
dalam menjadi lingkungan tepian sungai.
TPS akhir menggunakan mobil
pengangkut sampah.
Arahan Desain Model Permukiman Tepi Alternatif 2 : TPS sementara yang
Sungai Martapura berada di tepi sungai , pengangkutan
Arahan desain model permukiman tepi
sampah ke TPS akhir menggunakan kapal
sungai Martapura ini lebih banyak mengatur pada tongkang sampah.
pola permukiman yang kukarang memiliki
 Arahan Model Dermaga
kelengkapan fasilitas lingkungan yang dihuni oleh
Alternatif 1 :
masyarakat berpenghasilan rendah. Arahan
1. Dermaga yang berada di tepi sungai
desain ini diambil berdasarkan temuan-temuan di
sebagai akses dari dan ke sungai.
lapangan dan di analisa serta didapat kesimpulan
2. Tepi sungai di manfaatkan sebagai
mengenai permukiman tepian sungai. Terdapat 2
pedestrian berupa titian. Lebar titian
arahan pada permukiman sungai Martapura ini,
disesuaikan dengan standar sirkulasi
yaitu:
pada pedestrian pejalan kaki minimal
intuk 2 orang yang sedang berselisihan.
Alternatif 2 :
1. Arahan Pola Permukiman Tepian Sungai
170 INFO TEKNIK, Volume 9 No.2, Desember 2008

1. Tepi sungai dapat dimanfaatkan sungai akan lebih mudah lagi dalam proses
sebagai tempat fasilitas umum dan perencanaannya. Selain itu rencana
komersial seperti dermaga, cafe, parkir pemerintah untuk menjadikan Banjarmasin
berupa bangunan terbuka. sebagai Waterfront City akan lebih mudah
2. Konstruksi bangunan tidak boleh dengan kajian penelitian yang sudah ada.
dengan sistem mengurug sungai, 2. Bagi Konsultan Perencana Kawasan
disarankan menggunakan konstruksi Dalam perencanaan kawasan tepian sungai
panggung. perlu mempertimbangkan pola tata ruang kota
dan pola tata ruang wilayah yang ingin di
Saran desain. Adanya informasi yang lengkap dari
1. Bagi Pemerintah Daerah kawasan akan memberikan masukan yang
Pemerintah Daerah perlu memberikan arahan sangat berarti dalam proses mendesain.
dan aturan mengenai persyaratan bangunan 3. Bagi Penelitian selanjutnya
yang berada di tepi sungai. Hal ini untuk Perlu adanya penelitian lanjutan yang
memberikan batasan permukiman yang berkaitan dengan permukiman tepian sungai
berada di tepi sungai yang apabila tidak sesuai yang lebih mendalam. Penelitian dapat
akan mengakibatkan lingkungan permukiman difokuskan pada bentuk tipologi dan
yang kumuh. Status kepemilikan tanah harus morpologi permukiman tepian sungai,
diperjelas dan dipertegas lagi, sehingga sehingga mempunyai kajian yang lebih
apabila ada rencana Detail Tata Ruang Kota mendalam mengenai bagian-bagian wilayah
yang berhubungan dengan daerah-daerah tepi permukiman tepian sungai.

 Arahan Bentuk Permukiman Tepian Sungai. Titian sebagai batas


perkembangan
bangunan dan
berfungsi untuk akses
pencapaian.
3 3

Jalan Depan Depan


lingkungan rumah rumah
(aspal)

Sungai

Variabel
1 2

Jalan
Lingkungan (aspal)

Bangunan mempunyai 2
fasade. Menghadap jalan
Jalan Rumah lingkungan dan memhadap
Lingkungan (aspal) panggung sungai yang akan memberikan
visual peromenade
permukiman tepian sungai
Nurfansyah, Settlement Pattern Model At Riverside… 171

 Arahan Model MCK (mandi, cuci, kakus).


Min 3m
Untuk penghijauan
MCK terapung posisinya di
pindah ke daratan.

Sketsa banguan pengganti MCK terapung.


MCK(Mandi, Cuci, Kakus)

Sistem septictank
terapung yang berada
di belakang MCK
terapung

Sistem tradisional,
MCK terapung yang langsung
membuang kotoran padat ke sungai
Sistem
septictank
terapung

sungai

 Arahan Model Persampahan.


TPS sementara yang
berada di sisi Pedestrian/
jalan/daratan titian

Truk TPS sementara yang


sampah berada di tepi sungai

Kapal tongkang
sampah

2m
2m 2m
172 INFO TEKNIK, Volume 9 No.2, Desember 2008

 Arahan Model Dermaga. Pada tempat-tempat/jarak tertentu


Dilengkapi dengan tempat bersandar
Perahu.

Kebutuhan tempat berjalan kaki juga


dapat di fungsikan sebagai pengaman
konstruksi siring jalan aspal/lingkungan

Jalan
Lingkungan (aspal)
sungai

Jalan
Lingkungan
(aspal) Tempat bersandar
perahu/taksi
Titian/ sungai
pedestrian

4m – 5m

2m 2m

Bangunan
terbuka :
Pedestrian café, restoran,
dan tempat dermaga
parkir jarak
Min 5 m-
Jalan Mak 7m
Lingkungan
(aspal)
sungai
Nurfansyah, Settlement Pattern Model At Riverside… 173

DAFTAR PUSTAKA Muhajir, Noeng, 1996, Metodologi Penelitian


Kualitatif, Rake Sarasin, Yogyakarta.
Alexander Christoper,1997, A Pattern Language, Newson, Malcom, 1997, Land, Water and
Towns, Building, Construction, Development, Sustainable
Oxport Univercity Press, New York. Managenent of River Basin System
Blaang, C., D., 1986, Perumahan dan Rontledge, London, New York
permukiman sebagai kebutuhan Pemko Banjarmasin, 2002, RUTRK Kota
dasar, yayasan Obor Indonesia. Banjarmasin Tahun 2001-2011, PT.
Breen, Ann; Rigby, Dick, 1994, Waterfront, Cities Succofindo Banjarmasin
Reclaim Their Edges, Mc Graw-Hill, Pemko Banjarmasin, 2002, RDTRK Banjarmasin
Inc, New York Utara Tahun 2012, PT Karunia
Camn, JC,R dan Irwin, P.G 1990, Space, People, Galacipta Persada, Banjarmasin
Place ekonomic and settlement Prayitno, Budi. 1999, Kajian karakteristik
Geografhy. Longman Cheshire Pdg Lingkungan perumahan tepian
Limited Hongkong sungai, Forum teknik jilid 3 No.1
Cullen, G.,1961, Townscape, Van Nostrand maret 1999.
Reinhold Compay, New York. Rapoport, A, 1969, House, Form and Culture,
Doxiadis a. constantiner, 1968, Ekistitics An Prenticel Hall, Inc London
Interoduction to the siclence of Sanoff, H, 1991, Visual Reseach Methods In
human settlements, Penerbit Design, Van Nostrand Reinhold, New
Hotchinson & co Ltd. London. York
Gosling, D, 1984, Concepts of Urban Design, Trancik, Roger, 1986, Finding Lose Space, Van
Academic Edition, New York Nostrand Reinhold, New York
Koentjaraningrat, 1971, Manusia dan Yudohusodo, Siswono, dkk, 1991, Rumah untuk
kebudayaaan di Indonesia, Penerbit seluruh rakyat, Yayasan padamu
Djambatan Negri, Jakarta
Lynch, Kevin, 1981, Good City Form,
Massachusetts Institute of Tecnologi

Centres d'intérêt liés