Vous êtes sur la page 1sur 11

Spondilosis dengan Spondilolistesis

Fakta Kunci
 Definisi : defek pada pars interartikularis yang merupakan hasil dari trauma tekanan
yang berulang.
 Penampakan gambaran klasik : diskontinuitas leher “Scotty dog” pada penampang
oblik dari vertebra lumbalis.
 Fakta kunci lainnya
o Sering berhubungan dengan spondilolistesis.
o 10-15% defek unilateral
 Penyembuhan unilateral atau penyatuan dari defek yang asalnya
bilateral.
Temuan Gambar
Ciri-ciri Umum
 Petunjuk gambaran terbaik : pemanjangan kanalis spinalis pada level defek yang
tampak pada gambaran aksial MR.
Temuan Foto Polos
 Pemutusan bagian leher “Scotty dog” sebagai defek pars interartikularis pada
penampang oblik vertebra lumbalis.
Temua CT
 Tanda “incomplete ring” pada gambaran aksial.
o Mungkin berupa extra sendi.
 Spondilolistesis dan pembatasan foramen pada gambaran sagital.
Temuan MR
 Penurunan sinyal pada bagian sagital dan aksial pada rangkaian T1 dan T2.
 Pemanjangan kanalis spinalis pada level defek.
 Konfigurasi yang lebih horizontal pada foramen saraf yang terpengaruh pada
gambaran sagital.
 Kehilangan lemak pada akhir akar saraf.
Diffensial Diagnosis : Mimickers spondilosis pada penampang sagital MR.
Sklerosis leher pars interartikularis
 Mungkin mewakili penyembuhan bagian yang lisis
Gambaran sebagian volum taji yang timbul dari facet superior sedikit lateral ke pars.
Parsial fasetektomi.
Penggantian metastasis blastik pada sumsum.
Patologi
Umum
 Genetik
o Kondisi predisposisi familial
 Sindrom Marfan
 Osteogenesis imperfekta
 Osteoporosis
 Herediter
 Etiopatogenesis
o Paparan berulang hingga tekanan simultan pada kontraksi otot, gravitasi, dan
gaya rotasi.
o Keikutsertaan pada gimnastik, angkat beban, gulat, dan sepak bola pada usia
muda.
o Fraktur mikro berulang.
 Epidemiologi
o 4,4% pada usia 6 tahun.
o 6% pada dewasa.
o Prevalensi 5-7% pada seluruh populasi.
o 2-3:1 perbandingan pria dan wanita.
Masalah Klinis
Presentasi
 Asimtomatik pada anak usia muda.
 Nyeri punggung bawah yang kronis pada remaja dan dewasa.
 Eksaserbasi oleh aktivitas yang keras.
 Radikulopati dan sindrom kauda ekuina pada spondilosis dengan spondilolistesis
derajat tinggi.
Perjalanan Penyakit
 Sedikit kemajuan pada bidang horizontal sakrum.
o Sudut lumbosakral > atau = 1000
 Kemajuan bagian yang sakit pada bidang vertebra sakrum.
o Sudut lumbosakral < 1000
 Kemajuan dari grade 1
o Subluksasi korpus vertebra superior dari ¼ korpus vertebra.
 Grade 2
o Subluksasi setengah korpus vertebra.
 Grade 3
o Subluksasi ¾ korpus vertebra.
 Grade 4
o Subluksasi seluruh korpus vertebra.
Tata Laksana
 Konservatif pada pasien grade 1 dan 2 spondilolistesis
o Brace punggung
o Modifikasi aktivitas
 Pembedahan pada pasien dengan gejala pada derajat berapapun.
o Traksi bertahap pada hiperekstensi
o Immobilisasi
o Peleburan posterolateral.
Prognosis
 Konservatif  2/3 bebas gejala.
 Penyatuan posterolateral
o 60-70%  tingkat peleburan memadat
o 10-12%  mengalami komplikasi defisit neurologis yang mengikuti fusi.
OSIFIKASI LIGAMENTUM

Fakta Kunci
 Sinonim : hiperostosis tulang idiopatik yang difus (DISH), osifikasi ligamen
longitudinal posterior (OPLL, “Japanese Disease”), osifikasi ligamentum flavum
(OLF).
 Definisi : osifikasi ligamen vertebra; tampakan dan gejala klinis bergantung pada
ligamen yang abnormal.
 Penampakan gambaran klasik : penebalan stuktur ligamen, osifikasi pada CT, dan
hipointens atau hiperintens pada gambaran MRI bergantung jumlah dan komposisi
dari elemen sumsum.
 Bisa mengenai ligamen vertebra manapun, namun sering pada :
o Ligamen longitudinal anterior (ALL) – DISH
o Ligamen longitudinal posterior (PLL) – OPLL
o Ligamentum flavum (LF) – OLF
Temuan Gambar
Gambaran Umum
 OPLL sering pada vertebra servikalis dan torakal.
 DISH pertama muncul pada vertebra torakal lalu servikal dan lumbal.
 OLF sering pada mid-servikal dan torakal bawah.
 Petunjuk gambaran terbaik : osifikasi multilevel anterior (DISH) atau posterior
(OPLL) ke korpus vertebra, biasanya sedikit penyakit degeneratif diskus dan tidak ada
ankilosis.
Temuan CT
 DISH – 3 kriteria diagnosis
o Aliran osifikasi setidaknya pada 4 korpus vertebra yang berdekatan.
o Ankilosis sendi SI
o Perubahan dgeneratif diskus
 OPLL
o Osifikasi PLL membatasi kanalis spinalis AP.
o Konfigurasi “Upside down T”
 OLF
o Kalsifikasi atau deposisi tulang pada ligamentum flavum.
Temuan MR
 DISH
o Kriteria diagnosis sama seperti CT.
o Mungkin hipointens jika sebagian besar mengalami kalsifikasi atau hiperintens
jika ada lemak pada sumsum.
 OPLL
o Konfigurasi “Upside down T” pada gambaran aksial.
o Osifikasi posterior keats level multipel pada gambaran sagital.
o Biasanya intensitas sinyal rendah pada semua rangkaian.
 Sinyal tinggi jika ada lemak.
 OLF – karakteristik mirip dengan DISH.
Temuan Modalitas Lain
 Foto polos
o Menunjukkan osteofit pada DISH/OPLL dengan baik.
o Tidak bisa menilai status spinal kord.
Rekomendasi pencitraan
 Gambaran sagital T1WI, T2WI untuk evaluasi spinal kord dan osifikasi ligamentum.
 Gambaran aksial T2WI atau T1WI untuk evaluasi derajat stenosis.
 GRE mungkin melebih-lebihkan stenosis karena kelemahan efek magnetik.
 Gambaran CT (jika dibutuhkan) untuk konfirmasi diagnosis MR.
Diffensial diagnosis
Spondilosis
 Jarang menyerang 4 atau lebih vertebra yang berdekatan
 Menahan sekitar interspace
 Lebih banyak facet dan diskus yang mengalami perubahan degeneratif daripada DISH
dan OPLL
 Tidak ada “T-shaped”
Meningioma atau Hernia Kalsifikasi Diskus
 Meningioma seringkalo enhance: cari ekor dura dan batas halus.
 Kurangnya karakteristik “T-Shaped” pada OPLL
Patologi
Umum
 Ulasan Umum  DISH, OPLL sering, OLF jarang.
 Etiopatogenesis
o DISH – respon berlebihan terhadap stimulus pembentukan tulang baru.
o OPLL – belum diketahui; tapi diduga karena agen infeksius, penyakit
autoimun, trauma dan diabetes melitus.
 Epidemiologi
o DISH
 Laki-laki > wanita (2:1); usia pertengahan dan dewasa.
 Berhubungan dengan diabetes, konsumsi alkohol, kekurangan
konsumsi kalsium, karoten, vitamin A C dan E.
o OPLL
 2% prevalensi di Jepang; sporadik.
 Laki-laki ? wanita (2:1); sering didiagnosa pada usia 50-60 tahun.
Gambaran Patologi Bedah
 DISH tidak membuat stenosis
o Osteofit anterior mungkin menggantikan esofagus sehingga menyebabkan
disfagia atau penurunan mobilitas spinal
o Predisposisi pada anterior kanan vertebra torakal.
 OPLL mengahsilkan gejala myelopati saat ada pengurangan diameter kanalis.
o Sering pada C3-C5 dan T4-T7
o Myelopati sering universal jika kanalis <6mm dan jarnag jika kanalis >14mm.
Masalah Klinis
Presentasi
 DISH – penemuan insidental, kekakuan spinal atau disfagia
 OPLL – penemuan insidental atau myelopati
 OLF – observasi insedental, mungkin menghasilkan kompresi spinal kord torakal
bagian dorsal.
Tata Laksana
 DISH – reseksi osteofit jika ada gejala
 OPLL, OLF – dekompresi posterior (laminektomi atau laminoplasti)
Prognosis
 DISH biasanya ditemukan secara insidental dan jarang menyebabkan morbiditas dan
mortalitas.
22% OPLL berkembang menajdi paresis spastik yang progrsif sampai paralisis.
ACQUIRED SPINAL STENOSIS

Fakta Kunci
 Sinonim : spondilosis
 Definisi
o Pembatasan kanalis spinalis dan foramen neural pada vertebra servikalis
o Pembatasan tambahan ceruk lateral pada vertebra lumbalis
o Perubahan degeneratif sekunder hingga multifaktorial
 Penampakan Gambaran Klasik
o Terhapusnya seluruh ruang subaraknoid pada level diskus vertebra servikal.
“Washborad spine”
o Gambaran “Trefoil” pada kanal vertebra lumablis pada gambaran aksial.
o Lenyapnya lemak perineural pada foramen neural lumbalis pada penampang
sagital.
o Pembatasan ceruk lateral lumbal pada penampang aksial.
 Fakta Kunci lainnya
o Pedikel pendek secara kongenital sering berkontribusi pada acquired spinal
stenosis
o Derajat stenosis spinal mungkin tidak berkorelasi dengan gejala.
o Sering pada servikal bawah dan vertebra lumbalis yang sering mobile.
o MRI setara dengan CT untuk diagnosis stenosis vertebra spinalis tapi
menyediakan informasi tambahan untuk spinal kord.
o MRI pada vertebra servikalis mungkin berlebihan dalam mengukur stenosis
foramen neural.
Temuan Gambar
Gambaran Umum
 Petunjuk gambaran terbaik
o Terhapusnya seluruh cairan serebrospinal pada diskus vertebra servikalis yang
terkena.
o Diameter sagital kanalis lumbalis kurang dari 1,2cm
Temuan Myelogram CT
 Penyempitan kanalis centralis dan foramen neural pada vertebra servikalis
 Penyempitan tambahan ceruk lateral pada vertebra lumbalis
 Berbagai derajat tumbukan korda dan akar saraf.
Temuan MR
 Vertebra Lumbalis
o Tampakan jam pasir pada kanalis sentralis penampang sagital T2WI
o Hilangnya lemak perineural pada foramen meural penampang sagital
o Penyakt diskus degeneratif dengan berbagai derajat herniasi
o Osteofit endplate vertebra
o Pemanjangan dan kelebihan akar saraf diatas dan bawah level stenosis
o Tampakan “Trefoil” pada kanalis spinalis penampang aksial
o Penyempitan ceruk lateral pada penampang aksial
o Penebalan ligamentum flavum
o Hipertrofi sendi facet
o Peningkatan jumlah serabut saraf
o Pedikel pendek
 Vertebra Servikalis
o Komplek osteofit-diskus menonjol ke kanalis.
o Hilangnya ruang subaraknoid pada level diskus
o Berbagai derajat kompesi korda
o Hiperintensitas intramedular T2 menunjukkan myelomalacia, demyelinasi,
atau edema
 Mungkin meningkat setelah gadolinium
o Hipertofi sendi facet dan uncovertebra
o Penyempitan foramen neural
Differensial Diagnosis
Osifikasi ligamen longitudinal posterior
 Salah satu penyebab stenosis vertebra sevikalis
 Pita tebal pada hipointensitas sepanjang batas vertebral posterior
 Hiperintensitas sentral dengan pita menunjukkan sumsum lemak
Perdarah Epidural
 Berbagai intensitas sinyal bergantung pada hemoglobin
 Gejala akut
Patologi
Umum
 Ulasan umum  penyakit degenratif terkait usia
 Etiopatogenesis
o Perubahan degeneratif termasuk diskus, endplate vertebra, sendi uncovertebral
(servikalis), sendi facet, dan ligamentum flavum.
o Sering tampak pedikel pendek karena kongenital
 Epidemiologi
o Dekade kelima atau setelahnya, lebih sering pada laki-laki
Masalah klinis
Presentasi
 Stenosis lumbalis
o Nyeri punggung bawah kronis
o Nyeri kedua ekstremitas bawah, parestesia, dan lemah
o Eksaserbasi karena berdiri atau berjalan lama
o Membaik dengan jongkok atau duduk
 Spondilosis servikalis
o Nyeri leher kronik yang sampai ke oksiput dan ektremitas atas
o Mati rasa pada ekstremitas atas
o Paraparesis spastik
o Kehilangan rasa pada posisi dan getaran
Perjalanan penyakit
 Deficit neurologis progresif
Tata laksana
 Vertebra lumbalis
o Analgesik
o Pembedahan  dekompresi dengan laminektomi dan fusi
 Vertebra servikalis
o Analgesik
o Imobilisasi dengan collar dan traksi
o Bergantung pada tempat kompresi
 Anterior korpektomi atau artrodesis korpus dalam
 Dekompresi posterior dengan laminektomi atau laminaplasti dengan
atau tanpa foraminotomi
Prognosis
 Hasil baik jika di diobati sedini mungkin
 Keparahan dan durasi defisit neurologi preoperasi memperkirakan derajat
penyembuhan neurologi
SPONDILITIS TB

Fakta Kunci
 Sinonim : Pott’s disease
 Definisi : infeksi tuberkulosis pada vertebra
 Penampakan gambaran klasik
o Deformitas gibus vertebra pada spondilitis TB lanjut
o Osteomyelitis pada multipel korpus vertebra yang berdekatan
o Diskus yang kolaps
o Abses paraspinal yang menyebabkan destruksi vertebra dan gejala klinik
 Fakta kunci lainnya
o Peningkatan insidensi TB pada 2 dekade terakhir
o Spondilitis TB terjadi pada <1% pasien TB
o Biasanya terjadi bersamaan dnegan TB pulmo 10%
o Dibandingkan dengan spondilitis piogenik
 Insidensi tertinggi pada dekade ketiga dan keempat, dibandingkan
dengan dekade keenam dan ketujuh
 Predileksi pad adaerah torakolumbal sedangkan piogenik pada vertebra
lumbalis bawah
 Infeksi diawali pada korpus vertebra anterior sedangkan piogenik pada
subkondral tulang hingga endplate
 Bertahap
 Sering ada keterlibatan elemen posterior diskus
 Ada jarak antar diskus
 Kalsifikasi jaringan lunak
 Pembedahan abses paravertebral
Temuan Gambar
Gambaran umum
 Petunjuk gambaran terbaik : abses psoas dengan kalsifikasi
Temuan CT
 Destruksi tulang dimulai pada bagian anterior vertebra
 Keterlibatan kosta pada kasus lanjut
 Sequestra
 Kalsifikasi abses paravertebra
Temuan MR
 Hipointens osteomyelitis vertebra pada T1WI dan hiperintens pada T1WI atau STIR
 Isolasi dari korpus vertebra atau elemen posterior mungkin terjadi
 Diskus intervertebral normal atau kolaps dengan hiperintensitas T2
 Abses intraoseus dan paravertebral lebih baik dilihat dengan gadolinium intravena
Temua Foto Polos
 Tidak nampak hingga beberapa minggu setelah infeksi
 Sklerosis vertebra difus dan destruksi
 Hilangnya jarak antar diskus
 Peleburan semua sisi jarak diskus pada stase lanjut
 Deformitas spinal
Rekomendasi pencitraan
 Penampang sagital STIR atau FSE T2 dengan saturasi lemak paling sensitif pada
sumsum tulang yang edema.