Vous êtes sur la page 1sur 15

SATUAN OPERASIONAL PROSEDUR(SOP)

FORMAT ANTROPOMETRI DAN DENVER DEVELOPMENT STRESS


TEST (DDST)

Disusun oleh :

NAMA : HIDAYATUL UMI ROHMAH

NIM : P1337420417051

TINGKAT : II A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

PRODI DIII KEPERAWATAN BLORA

2018
SOP Antropometri

A. Pengertian
Ketebalan lipatan kulit adalah suatu pengukuran kandungan lemak tubuh karena sekitar
separuh dari cadangan lemak tubuh total terdapat langsung dibawah kulit. Pengukuran
tebal lipatan kulit merupakan salah satu metode penting untuk menentukan komposisi
tubuh serta persentase lemak tubuh dan untuk menentukan status gizi cara antropometri.

B. Tujuan
1. Dapat mengetahui nilai standart TLK tricep.
2. Dapat mengetahui status gizi klien
3. Dapat menentukan derajat obesitas dengan menggunakan rumus densitas tubuh.

C. Indikasi/Dilakukan pada :
1. Pada penderita dewasa yang kekurangan gizi
2. Pada penderita dewasa yang kelebihan gizi
3. Pada penderita dewasa yang tidak bisa dapat diukur BB maupun TB misalnya pada
keadaan koma.

D. Persiapan
1. Persiapan Alat
a. Pita ukur flexibel (Anthropometry tape)
b. Skinfold calipers
c. Pensil (landmark pencil)

2. Persiapan Pasien
a. Sapalah klien dengan ramah dan perkenalkan diri pada klien
b. Persilahkan klien untuk duduk
c. Beri informasi umum tentang pengukuran yang akan dilakukan
d. Informasikan tentang cara melakukan, tujuan, manfaat pengukuran tebal lipatan
kulit untuk klien
e. Jelaskan tentang kemungkinan hasil yang diperoleh
f. Jaga privacy klien
3. Persiapan Perawat
a. Sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan cuci tangan
b. Persiapkan peralatan yang akan digunakan.
c. Persiapan Alat
d. Timbangan
e. Meteran

4. Prosedur
a. Mencuci Tangan
b. Menerangkan prosedur dan tujuan pengukuran pada klien.
c. Menentukan sembilan tempat pengukuran TLK, yaitu: pada dada (chest),
subscapula, mix-axilaris, suprailiaka, perut (abdominal), triseps, biseps, thigh
(paha), medial calf (betis)
d. Melakukan pengukuran TLK pada masing-masing lokasi
1) Pengukuran pada dada (chest):
Ambil lipatan kulit dari arah diagonal antara axilla dan puting susu setinggi
mungkin, sejajar dengan lipatan bagian depan dengan ukuran 1 cm dibawah
jari tangan
2) Pengukuran pada subscapula:
Ambil lipatan kulit dari arah diagonal sepanjang garis cleavage tepat di bawah
scapula dengan ukuran 1 cm dibawah jari tangan
3) Pengukuran pada mid-axilla:
Ambillah lipatan kulit dari arah horizontal pada garis midaxillaris, tepat pada
pertemuan xiphisternal
4) Pengukuran pada suprailiaka:
Ambillah lipatan kulit dari arah miring ke arah belakang garis mid-axillaris
dan ke atas iliaka, dengan ukuran 1 cm dibawah jari tangan.
5) Pengukuran pada abdominal :
Lipatan kulit diambil dengan arah horizontal 3 cm di samping tali pusat dan 1
cm ke pusat umbilicus
6) Pengukuran pada triseps:
Lipatan kulit diambil dengan arah vertical pada jarak antara penonjolan lateral
dari prosessus acronial dan batas inferior dari prosessus olecranon dan diukur
pada bagian lateral lengan dengan bahu bersudut 90° menggunakan pita
pengukur. Titik tengah ditandai pada sisi samping lengan. Pengukuran diambil
1 cm diatas tanda tersebut.
7) Pengukuran pada biseps:
Lipatan kulit diambil dengan arah vertical diatas biseps brachii yang sejajar
dengan triseps di bagian belakang. Pengukuran dilakukan 1 cm dibawah jari.
8) Pengukuran pada paha:
Lipatan kulit diambil dengan arah vertical pada tengah paha antara lipatan
inguinal dan batas dari patella. Pengukuran dilakukan 1 cm dibawah jari
9) Pengukuran pada betis :
Lipatan kulit diambil dengan arah vertikal pada lingkaran betis yang paling
lebar pada bagian tengah dari betis dengan lutut bersudut 90°.
e. Mencuci tangan setelah pengukuran
f. Klien dirapikan, peralatan dibereskan dan dikembalikan ke tempat semula
g. Mendokumentasikan prosedur
h. Menentukan nilai TLK klien dengan membandingkan hasil pengukuran dengan
nilai standar yang ada pada acuan
i. Menentukan status gizi klien

http://kumpulansopkeperawatan.blogspot.com/2017/04/sop-cara-melakukan-pengukuran.html
SOP DENVER DEVELOPMENT STRESS TEST (DDST)

A. Definisi Denver Development Stress Test (DDST)


DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak,
tes ini bukanlah tes diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang
diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit),
dapat diandalkan dan menunjukkkan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang
pernah dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan antara 85-
100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan, dan
pada “follow up” selanjutnya ternyta 89% dari kelompok DDST abnormal mengalami
kegagalan di sekolah 5-6 tahun kemudian.
Tetapi dari penelitian Borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat
mengidentifikasikan lebih separoh anak dengan kelainan bicara. Frankerburg melakukan
revisi dan restandarisasi kembali DDST dan juga tugas perkembangan pada sektor
bahassa ditambah, yang kemudian hasil revisi dari DDST tersebut dinamakan Denver II.

B. Manfaat
Penyimpangan perkembangan pada bayi dan anak usia dini sering kali sulit dideteksi
dengan pemeriksaan fisik rutin. DDST dikembangkan untuk membantu petugas kesehatan
dalam mendeteksi perkembangan anak usia dini.
Menurut study yang dilakukan oleh The public health agency of Canada, DDST adalah
metode test yang paling banyak digunakan untuk masalah perkembangan anak.
Denver II dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain :
1. Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya
2. Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat
3. Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukan gejala kemungkinan
adanya kelainan perkembangan
4. Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan
5. Memantau anak yang beresiko mengalami kelainan perkembangan
C. Perkembangan Menurut DDST II
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh
yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari
proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh,
jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa
sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan
emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya
(Soetjiningsih, 1997).
Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development
Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R).
Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini
bukan tes diagnostik atau tes IQ. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit.
1. Aspek Perkembangan yang dinilai
a) Terdiri dari 125 tugas perkembangan.
b) Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas
c) Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai :
1) Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya.
2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan
dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
Language (bahasa). Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan
3) Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
2. Cara menghitung usia anak
Telah disebutkan di awal bahwa penerapan DDST ditunjukan untuk menilai
perkembangan anak berdasarkan usianya. Dengan demikian, sebelum melakukan test
ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui usia anak tersebut. Untuk menghitung usia
anak, kita dapat mengikuti langkah-langkah berikut
a. Tulis tanggal, bulan, dan tahun dilaksanakan test
b. Kurangi dengan cara bersusun tanggal, bulan, dan tahun kelahiran anak
c. Jika jumlah hari yang dikurangi lebih besar, ambil jumlah hari yang sesuai dari
angka bulan didepannya
d. Hasilnya adalah usia anak dalam tahun,bulan, dan hari
e. Ubah usia anak ke dalam satuan bulan jika perlu
f. Jika pada saat pemeriksaan usia anak dibawah 2 tahun, anak lahir kurang dari 2
minggu atau lebih dari HPL, lakukan penyesuaian prematuritas dengan cara
mengurangi umur anak dengan jumlah minggu tersebut
Contoh :
Rumus menghitung umur anak (pelaksanaan tugas)
Rumus : umur = tanggal pada waktu test dikurangi tanggal lahir
Tanggal test : 1990 3 13
Tanggal lahir : 1989 1 5
Umur : 1 2 8
3. Alat yang digunakan
a. Alat peraga :
Benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi,
kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna
merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat
diperiksa).
b. Lembar formulir DDST II
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan
cara penilaiannya.
4. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
a. Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia:
 3-6 bulan
 9-12 bulan
 18-24 bulan
 3 tahun
 4 tahun
 5 tahun
b. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan
perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi
diagnostik yang lengkap.
5. Pelaksanaan test
Penting untuk anak :
a. Dibutuhkan kerjasama yang aktif dan anak sehingga anak harus merasa aman dan
senang
b. Anak tidak sedang sakit
c. Anak tidak ngantuk, lapar,huas, sedang marah, rewel
d. Ruangan cukup luas, cukup ventilasi dan kesan menyenangkan bagi anak
e. Ajak anak bermain

Penting untuk orang tua


a. Diberitahu bahwa ini bukan test IQ
b. Beritahu tujuan test
c. Beritahu ortu bahwa pemeriksaan tidak mengharapkan anak dapat melakukan
semua tugas yang diberikan kepada anak

Penting untuk pelaksana test


a. Item-item test sebaiknya disajikan secara fleksibel. Akan tetapi lebih dianjurkan
mengukuti petunjuk berikut :
 Item yang kurang memerlukan keaktifan anak sebaiknya didahulukan,
misalnya sektor personal-sosial, baru kemudian dilanjutkan dengan sector
motorik halus-adaptif
 Item yang lebih mudah didahulukan. Berikan pujian pada anak jika ia dapat
menyelesaikan tugas dengan baik, juga saat ini mampu menyelesaikan tetapi
kurang tepat. Ini ditunjukan agar anak tidak segan untuk menjalani test
berikutnya
 Item dengan alat yang sama sebaiknya dilakukan secara berurutan agar
penggunaan watu agar lebih efesien
 Hanya alat-alat yang akan digunakan saja yang diletakan diatas meja
 Pelaksanaan test untuk semua sector dimulai dari item yang terletak di
sebelah kiri garis umur, lalu dilanjutkan ke item di sebelah kanan garis umur
b. Jumlah item yang dinilai tergantung pada lama waktu tersedia, yang terpenting
pelaksanaanya mengacu pada tujuan test, yaitu mengidentifikasi perkembangan
anak dan menentukan kemampuan anak yang relatif lebih tinggi
6. Cara pengukuran :
a. Tentukan umur anak pada saat pemeriksaan
b. Tarik garik pada lembar DDST II sesuai dengtanumur yang telah ditentukan
c. Lakukan pengukuran pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada
milai dari motorik kasar, bahasa, motorik halus, dan personal social
d. Tentuka hasil penilaian apakah normal, meragukan dan abnormal
e. Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan
diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu
tahun.
f. Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika
sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
g. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas
perkembangan pada formulir DDST.
h. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang
F.
i. Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal,
Meragukan dan tidak dapat dites.
 Abnormal
Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih 
Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus
1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama
tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis
vertikal usia
meragukan Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor
yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis
vertikal usia.
 Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal
atau meragukan.
 Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.
Pada anak-anak yang lahir prematur,usia disesuaikan hanya sampai anak
usia 2 tahun

7. Cara penilaian
Cara melakukan penilaian DDST, peneliti menentukan usia anak, kemudian
menarik garis usia pada lembar DDST sesuai dengan usia anak. Dilakukan tes pada
keempat sektor yang dimulai dari item pada sebelah kiri garis usia, kemudian mulai
dilakukan pemeriksaan pada keempat sektor yaitu personal sosial, motorik halus,
bahasa dan motorik kasar.
Setelah dilakukan tes, dilakukan penilaian, apakah Lulus (Passed = P), gagal
tetapi belum melampaui batas umur (Fail = F), gagal karena sudah melampaui batas
umur (Delay = D) ataukah anak tidak mendapatkan kesempatan tugas atau anak
menolak melakukan tugas (No opportunity = NO). Setelah itu dihitung pada masing-
masing sector, berapa yang P, F, dan D,

8. Penilaian test prilaku


Penilaian prilaku dilakukan setelah test selesai. Dengan mengguanakan skala
pada lembar test, penilaian ini dapat membandingkan prilaku anak selama test
dengan prilaku sebelumnya. Kita boleh menanyakan kepada orang tua atau pengasuh
apakah prilaku anak selama test dengan prilaku sebelumnya, kita boleh menanyakan
kepada orang tua atau pengasuh apakag prilaku anak sehari-hari sama dengan
prilakunya saat itu, terkadang anak tengah dalam kondisi, sakit, atau marah sewaktu
menjalani tersebut. Jika demikian test dapat ditunda dan dilanjutkan pada hari lain
saat anak telah kooperatif

9. Pemberian nilai untuk setiap itemnya


a. L =lulus /lewat (P= pass). Anak dapat melalkukan item dengan baik atau baik
atau orang tua / pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa anak dapat
menyelesaikan item tersebut (item tertanda L)
b. G= gagal (F=fail). Anak tidak dapat melakukan item dengan baik atau orang tua /
pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa anak tidak dapat melakukan item
tersebut (khusus yang bertanda L)
c. M = menolah (R=refusal). Anak menolak atau melakukan test untuk item
tersebut. Penolakan dapat dikurangi dengan mengatakan kepada anak apa yang
harus dilakukanya (khususnya item tanpa tanda L )
d. Tak = tak ada kesempatan (NO opportunity). Anak tidak mempunyai kesempatan
untuk melakukan item kerena ada hambatan (khusus item yang bertanda L )

10. Penilaian Peritem


a. Penilaian item “Lebih” (advance) nilai lebih tidak perlu diperhatikan dalam
penilaian test secara keseluruhan (karena biasanya hanya dapat dilakukan oleh
anak yang lebih tua )
b. Penilaian itm “OK“ atau normal. Nilai tidak perlu di perhatikan dalam penilaian
test secara keseluruhan. Nilai OK dapat diberikan pada anak dalam kondisi
berikut
• Anak “gagal” (G) atua “menolak” (M) melakukan tugas untuk item disebelah
kanan garis usia, kondisis ini wajar karena item disebelah kanan garis usia pada
dasarnya merupakan tugas untuk anak yang lebih tua.
• Anak “Lulus” / Lewat (L), “Gagal” (G) atau “Menolak” (M) melakukantugas
untuk item didaerah putih kotak (daerah 25 %-75%). Jika anak lulus, sudah tentu
hal ini dianggap normal
c. Penilaian item P = peringkatan (C=caution)
Nilai “Peringatan” diberikan jika anak “Gagal” (G) atau “Menolak” (M)
melakukan tugas untuk item yang dilalui oleh garis usia pada daerah gelap kotak
(daerah 75% - 90%). Hal ini karena hasil riset menunjukkan bahwa sebanyak
75% - 90% anak di usia tersebut sudah berhasil (Lulus) melakukan tugas tersebut.
Dengan kata lain, mayoritas anak sudah bisa melaksanakan tugas dengan baik
d. Penilaian item T= “Terlambar” (D = Delayed).
Nilai “Terlambat” diberikan jika anak “Gagal” (G) atau “Menolak” (M)
melakukan tugas untuk item di sebelah kiri garis usia sebab tugas tersebut
memang ditujukan untuk anak yang lebih muda. Seorang akan seharusnya
mampu melakukan tugas untuk kelompok usia yang lebih muda, yang tentunya
berupa tugas-tugas yang lebih ringan. Jika, tugas untuk anak yang leblih muda
tidak dapat dilakukan atau ditolak, anak tentu akan mendapatkanpenilaian T
(terlambat). Huruf T ditulis di sebelah kanan item dengan hasil penilaian
“Terlambar”. Perlu diperhatikan bahwa ada dua macam T. Pertama, terlambat
karena anak mengalami kegagalan (G). T jenis ini memungkinkan anak mendapat
interpretasi penilaian akhir “Suspek”. Kedua, terlambat karena anak menolak
melaksanakan tugas (M). T jenis ini memungkinkan anak mendapat interpretasi
penilaian akhir “Tak dapat diuji”
e. Penilaian item “Tak ada kesempatan” (No Opportunity). Nilai “Tak” ini tidak
perlu diperhatikan dalam penilaian tes secara keseluruhan. Nilai “Tak ada
kesempatan” diberikan jika anak mendapat skor “Tak” atau tidak ada kesempatan
untuk mencoba atau melakukan tes.

D. Petunjuk Pemakaian Test Skrining Perkembangan Dari Denver


1. Usahakan anak tersenyum dengan memberikan senyum, berbicara atau memberikan
isyarat, jangan sentuh anak
2. Anak harus melihat tangan beberapa detik
3. Orang tua dapat membantu mengajari menyikat gigi dan menaruh pasta gigi diatas
sikat
4. Anak tidak diharapkan mampu mengikat sepatu atau mengancingkan/resleting
dibelakang
5. Gerakan benang perlahan dalam bentuk suatu lengkungan dari satu sisi ke sisi yang
lain
6. Lulus jika anak mencoba melihat terus dimana benang menyilang, benang harus
dilepaskan dengan cepat dari tangan pemeriksa
7. Lulus jika anak mengambil kismis dengan bagian ibu jari dan jari
8. Menggaris dapat bervariasi hanya 30 derajat
9. Buat kepalan dengan ibu jari yang menunjuk ke atas dan goyangkan hanya ibu jari,
lulus jika anak menirukan dan tidak menggerakan semua jari lain selain ibu jari
10. Lulus bila menggambar selain bentuk tertutup, gagal dalam pergerakan yang terus
menerus
11. Garis mana yang lebih panjang ?(bukan lebih besar). Putar kertas terbaik dan ulangi
(lulus 3 dari 3 atau 5 dari 6)
12. Lulus bila garis yang bersilang dekat dengan titik tengah
13. Biarkan anak meniru dahulu, dan jika gagal perlihatkan
14. Dalam memberikan nilai, setiap pasangan (2 lengan, 2 tungkai dll) dihitung sebagai
satu bagian
15. Tempatkan satu kubus dalam gelas dan goyangkan perlahan dekat telinga anak, tetapi
jangan terlihat ulangi dengan telinga lain
16. Tunjuk gambar dan minta anak menyebutkannya
17. Dengan menggunakan boneka beritahu anak, tunjukan pada saya hidung,
mata,telinga, mulut, tangan, kaki, perut, rambut,
18. Dengan menggunakan gambar, tanya kepada anak, yang mana yang terbang ?
Berbunyi meong ? Berbicara ?
19. Tanyakan kepada anak apa yang kamu lakukan jika kamu sedang kedinginan
20. Lulus jika anak secara benar menempatkan dan mengatakan beberapa bnyak balok
pada kertas

E. Macam Tes Perkembangan


a. Skala Intelegensi Wechsler untuk anak usia prasekolah dan sekolah
Penggunaan tes ini untuk anak usia prasekolah (4 sampai 6,5 tahun), merupakan
pengembangan dari penggunaan tes ini sebelumnya yaitu untuk anak-anak yang lebih
besar dan orang dewasa. Tes ini memberikan informasi diagnostik yang berguna
untuk penilaian terhadap perkembangan anak yang mengalami kesulitan belajar dan
retardasi mental.
b. Skala perkembangan menurut Gessel
Tes ini digunakan pada anak mulai usia 4 minggu sampai 6 tahun, yang bertujuan
untuk menetukan tahap kematangan dan kelengkapan kegiatan suatu sistem yang
sedang berkembang. Skala Gessel dibagi dalam 4 kelompok utama yaitu perilaku
motorik, perilaku adaptif, perilaku bahasa dan perilaku sosial.
c. Tes skrining perkembangan menurut Denver
Denver Developmental Screening Test (DDST) merupakan metode skrining terhadap
kelainan perkembangan anak dan bukan merupakan tes diagnostik atau tes IQ. DDST
memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes
ini mudah dilakukan dan cepat (15-20 menit) dapat diandalkan dan menunjukkan
validitas yang tinggi.
Frakenburg melakukan revisi dan restandarisasi kembali terhadap DDST dan
juga tugas perkembangan pada sektor bahasa ditambah, yang kemudian hasil revisi
dari DDST dinamakan Denver II yang mempunyai beberapa perbaikan yaitu
peningkatan 86 % pada sektor bahasa, dua pemeriksaan untuk artikulasi bahasa, skala
umur baru, kategori baru untuk interpretasi kelainan ringan, skala penilaian tingkah
laku, dan materi training yang baru.
Denver juga mengelompokkan tugas perkembangan menjadi empat aspek, yaitu :
a. Personal Social (kepribadian atau tingkah laku sosial). Yaitu aspek yang
berhubungan dengan kemauan diri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
b. Fine Motor Adaptif (gerakan motorik halus). Yaitu aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil tetapi
memerlukan koordinasi yang cermat.
c. Language (bahasa). Yaitu kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan.
d. Gross Motor (perkembangan motorik kasar). Yaitu aspek yang berhubungan dengan
pergerakan dan sikap tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Franskenburg,William.1973.Denver Development Screnning Test: manual/for nursing7paramedical


personnel.University of Colorado Medical Center
Hidayat, Azis Alimul.2005.Pengantar Ilmu Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika
Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta. 1998 : 1 – 63.
http://shufriyahsundu1990.blogspot.com/2011/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-
none.html/8/2/1011
http://ilmu-ilmukeperawatan.blogspot.com/2011/01/denver-development-screening-test-
ddst.html/8/2/2011
http://amastrezz.blogspot.com/2011/04/denver-development-screening-test-ddst.html
http://perawattegal.wordpress.com/2010/03/18/tumbuh-kembang-anak/