Vous êtes sur la page 1sur 21

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN ASMA BRONKHIAL

OLEH :

WAHYUNI AMELIA, S.Kep., Ners

RS. AR BUNDA

JL. ANGKATAN 45 KEL.GUNUNG IBUL

KEC.PRABUMULIH TIMUR KOTA PRABUMULIH

SUMATERA SELATAN

TAHUN 2019
1. DEFINISI

The American Thoracic Society menyatakan bahwa asma bronkhial adalah suatu penyakit dengan
ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya
penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil
dari pengobatan. (Tanjung, 2003).

Menurut United States Nasional Tuberculosis Assosiation (1967), asma bronkhial merupakan
suatu penyakit yang ditandai oleh peningkatan reaksi trakea dan bronki terhadap berbagai macam
rangsangan yang manifestasinya berupa kesukaran bernapas, karena penyempitan yang menyeluruh dari
saluran napas. Penyempitan ini bersifat dinamis dan derajat penyempitannya dapat berubah-ubah, baik
secara spontan maupun karena pemberian obat-obatan. Kelainan dasarnya adalah tampaknya suatu
perubahan status imunologis sipenderita.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa asma bronkhial memiliki beberapa karakteristik, yaitu:

1. Penyempitan atau obstruksi saluran nafas yang reversibel, baik secara spontan maupun dengan
pengobatan.
2. Kesukaran untuk bernafas.
3. Peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai rangsangan/stimulus.

2. ETIOLOGI

Etiologi dari asma bronkhial belum diketahui, tapi ada beberapa faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.

a. Faktor Predisposisi

Genetik merupakan faktor predisposisi dari asma bronkhial. Yang diturunkan adalah bakat alerginya,
meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu,
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

b. Faktor Presipitasi

 Alergen
Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan.

Contohnya: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri, dan polusi.

1. Ingestan, yang masuk melalui mulut.

Contohnya: makanan dan obat-obatan.

1. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.

Contohnya: perhiasan, logam, dan jam tangan.

 Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak
dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang, serangan asma berhubungan
dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, dan musim bunga. Hal ini berhubungan dengan
arah angin serbuk bunga dan debu.

 Stress

Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma. Stress juga bisa memperberat serangan
asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang
mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena
jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.

 Lingkungan kerja

Lingkungan kerja mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Misalnya
orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.

 Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat

Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olah raga
yang berat.
Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah aktifitas tersebut selesai.

Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :

1. Ekstrinsik (alergik)

Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu,
serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering
dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi.

1. Intrinsik (non alergik)

Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak
diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan
emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan
emfisema.

1. Asma gabungan

Asma gabungan merupakan bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari
bentuk alergik dan non-alergik.(Tanjung, 2003)

3. PATOFISIOLOGI

Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas,
sehingga klien merasa sesak nafas/dispnea.

Penyebab yang umum terjadi pada asma adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda
asing di udara. Seorang yang menderita alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah
antibodi Ig E abnormal dalam jumlah besar dan bila antibodi tersebut bereaksi dengan antigen
spesifiknya, akan terjadi reaksi alergi. Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada sel mast yang
terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila
seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan
antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam
zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor
kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor tersebut akan
menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil, sekresi mukus yang kental dalam lumen
bronkhioulus, dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi
sangat meningkat.

Biasanya, penderita asma dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi hanya sekali-kali
melakukan ekspirasi, karena diameter bronkiolus selama ekspirasi lebih kecil daripada selama inspirasi
akibat peningkatan tekanan dalam paru. Hal tersebut menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional
dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan
udara ekspirasi dari paru. Hal tersebut bisa menyebabkan barrel chest.

Akibat kesulitan dalam bernafas, asupan oksigen menjadi tidak adekuat, sehingga aliran darah ke perifer
berkurang dan terjadi sianosis, peningkatan tekanan darah, dan denyut jantung. Jika aliran darah keotak
juga berkurang, maka kesadaran klien terganggu dan terjadi penurunan kesadaran. Sesak nafas juga dapat
mengganggu aktivitas dan kemampuan untuk makan, sehingga dapat meyebabkan gangguan dalam
beraktivitas dan penurunan berat badan karena asupan nutrisi yang tidak adekuat.

4. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala yang ditemukan pada anak dengan asma bronkhial adalah:

1. Sesak napas/dispnea.
2. Batuk yang disertai lendir/batuk kering.
3. Nyeri dada.
4. Adanya suara nafas mengi (wheezing), yang bersifat paroksismal, yaitu membaik pada siang hari
dan memburuk pada malam hari.
5. Gelisah.
6. Kemerahan pada jaringan.

Pada serangan asma yang lebih berat, gejala-gejala yang timbul makin banyak dan makin berat, antara
lain : barrel chest, sianosis, gangguan kesadaran, takikardi, peningkatan tekanan darah, dan pernafasan
yang cepat dan dangkal.

Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari dan dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi,
seperti status asmatikus, atelektasis, hipoksemia, pneumothoraks, emfisema, deformitas toraks, dan gagal
nafas.
5. PENATALAKSANAAN

Prinsip umum pengobatan asma bronkhial adalah :

1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.


2. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
3. Memberikan informasi kepada penderita atau keluarganya mengenai penyakit asma, baik
pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya, sehingga penderita mengerti tujuan
penngobatan yang diberikan dan dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan terhadap perawatan
anak.

Pengobatan pada asma bronkhial dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

1. Pengobatan non farmakologik

Yang termasuk pengobatan non farmakologik untuk anak dengan asma bronkhial adalah:

 Memberikan penyuluhan
 Menghindari faktor pencetus
 Pemberian cairan
 Fisioterapi
 Pemberian O2 bila terjadi serangan asma berat.

1. Pengobatan farmakologik

Obat-obat anti asma umumnya ditujukan untuk melebarkan saluran napas pada serangan asma. Kadang-
kadang juga diperlukan obat anti inflamasi/anti peradangan dalam penanganan asma bronkhial.

Yang termasuk pengobatan farmakologik untuk anak dengan asma bronkhial adalah:

 Bronkodilator

Bronkodilator merupakan obat yang digunakan untuk melebarkan saluran nafas, yang terdiri dari 2
golongan, yaitu:

1. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin)


Contohnya: Orsiprenalin (Alupent), Fenoterol (berotec), dan Terbutalin (bricasma).

Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan (seperti
MDI/Metered doseinhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (seperti Ventolin
Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan bronkodilator (seperti Alupent, Berotec, brivasma serts
Ventolin).

2. Santin (teofilin)

Contohnya: Aminofilin (Amicam supp), Aminofilin (Euphilin Retard), dan Teofilin (Amilex).

Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Bila kedua
obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.

Cara pemakaiannya dapat dalam bentuk suntikan yang disuntikkan secara perlahan-lahan ke pembuluh
darah, untuk serangan asma akut.

Karena sering merangsang lambung, bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan.

Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus.
Supositoria ini digunakan jika penderita tidak dapat minum teofilin karena muntah atau lambungnya
kering.

3. Kromalin

Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Kromalin digunakan
untuk penderita asma alergi.

Kromalin biasanya diberikan bersama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah
pemakaian satu bulan.

 Ketolifen

Ketolifen juga mempunyai efek pencegahan terhadap asma. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali
1mg / hari. Ketolifen dapat diberikan secara oral.
6. DATA FOKUS

a. Wawancara

 Adanya atopi dalam anggota keluarga.


 Riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan.
 Riwayat penyakit paru sebelumnya.
 Kemampuan melakukan aktivitas dengan keadaan yang sulit bernafas.
 Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari.
 Adanya batuk berulang.
o Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
o Penurunan berat badan karena anoreksia.
o Keterbatasan mobilitas fisik.

b. Pemeriksaan Fisik

 Frekuensi nafas cepat dan dangkal.


 Klien terlihat sulit bernafas/dispnea.
 Bunyi nafas mengi/wheezing.
 Fase ekspirasi memanjang
 Saat dipalpasi, taktil fremitus meningkat, menurun, atau menetap.
 Saat diauskultasi, resonan meningkat atau melemah.
 Sering tampak pucat.
 Klien terlihat menggunakan otot bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu atau melebarkan
hidung.
 Peningkatan tekanan darah.
 Peningkatan frekuensi jantung.
 Kulit kemerahan atau berkeringat.
 Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis.
 Klien terlihat ansietas, ketakutan, peka rangsangan, dan gelisah.

1. c. Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan laboratorium

1. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:

1. Kristal-kristal charcot leyden, yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.


2. Spiral curshmann, yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
3. Creole, yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
4. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, yang umumnya bersifat mukoid dengan
viskositas yang tinggi.
5. Pemeriksaan darah

Hasil pemeriksaan darahnya adalah:

1. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia,
atau asidosis.

pH normal pada anak-anak: 7,36-7,44, PCO2 : 35-45 mmHg, PO2 : 75-100 mmHg, dan HCO3 : 24-
28 mEq/L

1. Kadang-kadang, pada darah terdapat peningkatan SGOT/Serum Glutamik Oksaloasetik


Transaminase (Normalnya pada laki-laki 37 U/L dan pada wanita 31 U/L) dan LDH (Normalnya
80-240 U/L).
2. Hiponatremia (Nilai natrium normal pada anak-anak adalah 135-145 mEq/L dan pada bayi 134-
150 mEq/L) dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 (Normalnya pada bayi/anak
9000-12.000/mm3) dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
3. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan
menurun pada waktu bebas dari serangan.

 Pemeriksaan radiologi

Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukkan gambaran
hiperinflasi pada pru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga interkostalis, serta
diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang ditemukan adalah
sebagai berikut:

1. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.


2. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin
bertambah.
3. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru dan gambaran atelektasis
lokal.
4. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat
bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.

 Pemeriksaan tes kulit

Pemeriksaan kulit dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.

 Elektrokardiografi

Gambaran elektrokardiografi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian dan disesuaikan dengan
gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :

1. Perubahan aksis jantung


2. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yaitu terdapatnya RBB (Right bundle branch
block).
3. Tanda-tanda hipoksemia, yaitu terdapatnya sinus takikardi atau terjadinya depresi segmen ST
negatif.

 Scanning paru

Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma
tidak menyeluruh pada paru-paru.

 Spirometri

Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau
nebulizer) golongan adrenergik.

Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai
beratnya obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan, tetapi hasil pemeriksaan
spirometrinya menunjukkan adanya obstruksi.

7. ANALISA DATA
No Data Patofisiologi Masalah
1 DO: Alergen, perubahan cuaca, aktivitas Bersihan jalan nafas tak
jasmani yang berat, stress.
efektif
 Klien terlihat kesulitan ↓
mengeluarkan sekret karena
sesak nafas (dispnea). Merangsang pengeluaran histamin, zat
anafilaktik, eosinofil, bradikinin.
 Klien terlihat menggunakan otot
bantu bantu pernafasan saat Spasme otot
bernafas.

 Bunyi nafas klien abnormal,
yaitu adanya bunyi nafas mengi Penyempitan bronkhus

(wheezing). ↓

DS: Pengeluaran sekret ter ganggu


 Klien mengeluh kesulitan
mengeluarkan sekret. Bersihan jalan nafas tidak efektif.

2 DO: Asma Bronkhial Kerusakan pertukaran gas


 Dispnea saat melakukan
aktivitas. Kontraksi spastis otot polos
 Kulit kien terlihat kemerahan bronkheolus.

atau sianosis. ↓
 Klien terlihat bingung dan
Sukar bernafas.
gelisah.

DS:
Sesak nafas/dispnea, nafas cepat dan
dangkal.
 Klien mengeluh sesak nafas saat
melakukan aktivitas. ↓

Asupan O2 tidak adekuat.

Hipoksemia


CO2 me↑

Asidosis respiratorik.

Kerusakan pertukaran gas.

3 DO: Asma Bronkhial Perubahan nutrisi: Kurang


dari kebutuhan tubuh

 BB klien 10-20% atau lebih
dibawah BB ideal. Kontraksi spastis otot polos
 Lipatan kulit trisep dan LILA < bronkheolus.

60% standar pengukuran. ↓


 Nyeri tekan otot.
Sukar bernafas.
 Klien terlihat kurang bergairah.

DS:
Sesak nafas/dispnea, nafas cepat dan
dangkal.
 Klien mengeluh merasa lemah,
letih, dan lesu. ↓

Kemampuan untuk makan menurun

Anoreksia

BB me ↓

Perubahan nutrisi: Kurang dari


kebutuhan tubuh.
4 DO: Asma Bronkhial Intoleran aktivitas


 Klien terlihat pucat dan sianosis.
 Klien mengalami dispnea. Kontraksi Inspirasi
 Frekuensi pernafasan
>24x/menit Spastis adekuat, eks
 Frekuensi nadi > 95x/menit.
otot polos pirasi ≠ ade

bronkheolus. kuat

DS: ↓ ↓

Sukar ber Udara terpe


 Klien mengeluh sukar bergerak
karena sesak nafas. nafas. rangkap

↓ ↓

Dispnea, Kapasitas

nafas cepat Residu dan

dan dangkal. Volume re

↓ sidu me↑

Susah ber ↓

aktivitas. pengguna

an otot ban

tu nafas

Kelemahan

Intoleran Aktifitas

9. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan nafas tak efektif b.d. bronkospasme, yang dibuktikan oleh bunyi nafas
mengi, dispnea, dan penggunaan otot bantu pernafasan. (Doenges, 1999).
2. Kerusakan pertukaran gas b.d. gangguan suplai oksigen (spasme bronkus), yang
dibuktikan oleh dispnea, bingung, dan gelisah. (Doenges, 1999).
3. Perubahan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh b.d. dispnea dan anoreksia, yang
dibuktikan oleh penurunan berat badan dan ketidakmampuan untuk makan. (Doenges,
1999).
4. Intoleran aktivitas b.d. ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.
(Wong, 2003).

10. ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ASMA BRONKHIAL

PERENCANAAN
DIAGNOSA
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
N IMPLEM EVAL
DAN
O KEPERAW ENTASI UASI
KRITERI
ATAN
A HASIL
1 Bersihan Tujuan: Mandiri
jalan nafas
tak efektif Mempertaha  Auskultasi  Beberapa

b.d. nkan jalan bunyi nafas dan derajat spasme

bronkospasm nafas paten catatadanya bronkus terjadi

e, yang dengan abnormalitas dengan

dibuktikan bunyi nafas bunyi nafas, obstruksi jalan

oleh bunyi bersih dan seperti mengi. nafas dan

nafas mengi, jelas. dapat/tidak

dispnea, dan dimanifestasika

penggunaan n dengan

otot bantu Kriteria adanya nafas

pernafasan. yang abnormal..


hasil:

Setelah  Kaji/ pantau  Takipnea
dilakukan frekuensipernafa biasanya ada
intervensi, san, catat rasio pada beberapa
anak akan inspirasi/ekspira derajat dan
bernafas si. dapat ditemukan
dengan pada
 Catat adanya
mudah penerimaan atau
tanpa derajat selama stress/
dispnea. dispnea,ansietas, adanya proses
distress infeksi akut.
pernafasan,peng
gunaan otot  Disfungsi
bantu pernafasan
pernafasan adalah
variable
yang
tergantung
.
pada tahap

 Tempatkan anak proses

dalam posisi akut yang

yang nyaman, menimbul

seperti kan

meninggikan perawatan

kepala tempat di rumah

tidur atau duduk sakit.

pada sandaran  Peninggian

tempat tidur kepala


tempat
tidur
memudahk
 Pertahankan
an fungsi
polusi
pernafasan
lingkunganmini
dengan
mum, contoh:
mengguna
debu, asap dll kan
gravitasi.
 Tingkatkan
masukan
cairansampai
dengan 3000  Pencetus

ml/harisesuai tipe alergi

toleransi pernafasan

jantungdenganm dapat

emberikan air menimbul

hangat. kan
episode
akut.
 Hidrasi
membantu
menurunka
n
kekentalan
sekret,
penggunaa
n cairan
Kolaborasi
hangat
dapat
 Berikan
menurunka
obat
n
bronkodila
kekentalan
tor sesuai
sekret,
dengan
penggunaa
indikasi
n cairan
hangat
dapat
menurunka
n spasme
bronkus.

 Merelaksa
sikan otot
halus dan
menurunka
n spasme
jalan
nafas,
mengi, dan
produksi
mukosa.

2 Kerusakan Tujuan: Mandiri


pertukaran
gas b.d. Membantu  Kaji/awasi  Melihat

gangguan tindakan secara adanya

suplai untuk rutin sianosis

oksigen mempermud kulitdan perifer

(spasme ah membran atau

bronkus), pertukaran mukosa. sentral.

yang gas Sianosis

dibuktikan sentral

oleh dispnea, mengindik

bingung, dan Kriteria asikan

gelisah beratnya
hasil:
hipoksemi
 Palpasi a.
Setelah
dilakukan fremitus  Penurunan

intervensi, getaran

anak akan vibrasi


diduga
mempunyai adanya
pertukaran pengumpul
gas yang an
adekuat, cairan/udar
 Awasi
dengan a.
tanda vital
GDA dalam  Takikardi,
dan
rentang disritmia,
iramajantu
normal, dan
ng
PO2 ≥ 80 perubahan
mmHg, Pa tekanan
CO2 = 35- darah
45 mmHg, dapat
dan pH = menunjuka
7,35-7,45. n efek
hipoksemi
a sistemik
 Posisikan pada
klien pada fungsi

posisi yang jantung.


nyaman.  Untuk
meningkat
kan
pertukaran
Kolaborasi
gas yang
optimal.
 Berikan
oksigen
tambahans
esuai  Memperba
dengan iki atau
indikasi mencegah
hasilGDA memburuk
dan nya
toleransi
pasien. hipoksia.

3 Perubahan Tujuan: Mandiri


nutrisi:
 
Kurang dari Meningkatk Kaji Pasien

kebutuhan an asupan kebiasaan distress

tubuh b.d. nutrisi anak. diet, pernafasan

anoreksia, masukanm akut sering

yang akanan anoreksia

dibuktikan saat ini dan karena


Kriteria
oleh catat dipsnea.
hasil:
penurunan derajatkeru

berat badan Setelah sakan

dan dilakukan makanan.


 Rasa tak
 Sering
ketidakmamp intervensi, enak dan
uan unutk anak akan lakukan
bau dapat
makan. menunjukka perawatan
menurunka
n oral,buang
n nafsu
peningkatan sekret,
makan dan
berat badan. berikan
dapat
wadahkhus
menyebab
us untuk
kan
sekali
mual/munt
pakai.
ah dengan
peningkata
n kesulitan
nafas.

Kolaborasi  Menurunk
an dipsnea
 Berikan dan
oksigen meningkat
tambahan kan energi
selama untuk
makan makan,
sesuai sehingga
indikasi. dapat
meningkat
kan
masukan.

4 Intoleran Tujuan:  Dorong


aktivitas b.d. aktivitas
ketidakseimb Klien yang  Menguran

angan antara mendapatka sesuai gi

suplai dengan n istirahat dengan penggunaa

kebutuhan yang kondisi n energi

oksigen. optimal. dan yang

kemampua berlebihan.

n anak

Kriteria  Beri

Hasil: kesempata
n anak
Setelah untuk
dilakukan tidur,
intervensi, istirahat,
anak dan
tampak aktivitas
segar dan yang
dapat tenang.
beraktivitas  Untuk
dengan menghinda
baik. ri keletihan
pada anak.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Agung. 2008. Kenali Gejala Alergi Pernapasan Pada Anak. http://salsabila.agungdanrika.net. Diakses
tanggal 13 November 2008.

Doenges, Marylinn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC.

Priharjo, Robert. 2006. Pengkajian Fisik Keperawatan. Jakarta: EGC.

Sutedjo. 2006. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta:
Amara Books.

Tanjung, dudut. 2003. Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Diakses dari http://google.com. Tanggal 13
November 2008.

2008. Alergi pada Anak, Dapatkah Dicegah? http://bz.blogfam.com. Diakses tanggal 13 November 2008.

2008. Asma.http://www.rspaw.or.id. Diakses tanggal 13 November 2008.

2007. Asma Bronkial. http://www.jevuska.com. Diakses tanggal 13 November 2008.