Vous êtes sur la page 1sur 3

ABSTRAK

Obat merupakan suatu zat yang digunakan untuk diagnosa, pengobatan, penyembuhan
atau pencegahan penyakit pada manusia atau hewan. Agar obat berfungsi sebagaimana
yang diharapkan, maka jumlah atau dosis obat haruslah tepat. Dosis merupakan sifat
dari obat bahwa apabila jumlahnya kurang maka obat tersebut tidak akan memberikan
efek, sedangkan bila jumlahnya berlebihan, obat menjadi bersifat racun. Tujuan Uji
Disolusi tablet Paracetamol dengan metode dayung ini adalah untuk mengetahui apakah
kadar zat aktif yang terlepas dari tablet Paracetamol memenuhi persyaratan atau tidak.
Uji disolusi digunakan untuk meneliti pelepasan obat dan sebagai dasar memperkirakan
bioavaibilitas, dengan menggunakan spektrofotometeri ultraviolet-visible dilakukan
pada medium aquades 900 mL dengan kecepatan putaran dayung 50 rpm selama 45
menit. Waktu pengambilan sampel dilakukan pada menit ke- 5, 10, 15, 20, 30, 45.

Kata Kunci : Uji disolusi, tablet, Parasetamol, Metode dayung.

ABSTRACK

Medication is a substance used to diagnose, treat, cure or prevent disease in humans or


animals. In order for the drug to function as expected, the amount or dose of the drug
must be correct. Dosage is the nature of the drug that if the amount is less then the drug
will not give effect, whereas if the amount is excessive, the drug becomes toxic. The
purpose of the test The dissolution of the Paracetamol tablet with this paddle method
was to determine whether the level of the active substance released from the
Paracetamol tablet met the requirements or not. Dissolution test was used to examine
drug release and as a basis for estimating bioavailability, using ultraviolet-visible
spectrophotometry carried out on 900 mL aquadest medium with 50 rpm paddle rotation
speed for 45 minutes. The sampling time was carried out at 5, 10, 15, 20, 30, 45
minutes.

Keywords : Dissolution test, tablet, Paracetamol, Paddle method.


PENDAHULUAN

Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan
padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat penting artinya karena
ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke
dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh (Martin,et al., 2008). Laju disolusi
bahan obat dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi. Untuk
bahan obat yang mudah larut dalam air, disolusi cenderung lebih cepat, namun
kemampuan obat untuk menembus membran sel tidak cepat. Dan sebagaitahap penentu
laju adalah absorpsi melalui membrane pencernaan. Untuk obat yang tidak larut dalam
air, mudah larut dalam lemak maka obat tersebut lebih mudahmenembus membrane sel,
kecepatan absorbsinya dibatasi oleh kecepatan disolusi dariobat yang tidak larut dari
sediaan.
Uji disolusi merupakan suatu metode fisika yang penting sebagai parameter dalam
pengembangan mutu sediaan obat yang didasarkan pada pengukuran
kecepatan pelepasan dan pelarutan zat aktif dari sediaanya. Uji disolusi digunakan untuk
uji bioavailabilitas secara in vitro, karena hasil uji disolusi berhubungan denganketerse
diaan hayati obat dalam tubuh (Banakar,1992). Uji disolusi bertujuan untuk
memprediksi korelasi bioavailabilitas in vivo dari produk obat. Uji disolusi penting
sebagai (1) petunjuk untuk pengembangan formulasi dan produk obat, (2)
kontrolkualitas selama proses produksi (3) memastikan kualitas bioekivalen in vitro
antar batchdan (4) regulasi pemasaran produk obat (Allen dkk., 2005).
Uji Disolusi Terbanding adalah Dua produk obat yang mempunyai dosis yang
sama disebut bioekivalen apabila jumlah dan kecepatan obat aktif yang dapat mencapai
sirkulasi sistemik dari keduanya tidak mempunyai perbedaan yang signifikan (Shargel,
et al., 2005). Saat ini jenis obat yang beredar di pasaran terbagi dua, yaitu obat inovator
atau paten dan obat generik. Obat inovator merupakan obat yang ditemukan berdasarkan
penelitian dan memiliki masa paten dalam jangka waktu tertentu.
Uji disolusi terbanding dapat digunakan untuk memastikan kualitas dan sifat
perubahan minor dalam formulasi atau pembuatan setelah izin pemasaran. BPOMmemb
erikan ketentuan untuk uji disolusi terbanding yaitu dengan melihat nilai f2 (faktor
kemiripan) antara produk uji dengan produk pembanding (BPOM, 2004). Medium yang
sesuai diperlukan dalam menguji disolusi tablet. Medium yang digunakan dalam
disolusi merupakan pelarut dengan karakteristik tertentu dan merupakan suatu medium
pembanding bagaimana suatu zat aktif bekerja dalam tubuh.Air merupakan medium
pelarut yang bersifat netral, dan dapar posfat dengan pH tertentu digunakan untuk
memperkirakan nasib suatu obat di dalam usus.Berdasarkan hal tersebut diatas, agar
dapat diketahui berapa lama obat dapat hancur dalam tubuh dan melepaskan bahan obat
dan langsung memberikan efek atau kemanjuran, maka dilakukan uji disolusi pada
tablet Parasetamol.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, L. V. Jr., N. G. Popovich, and H.C. Ansel. 2005. Ansel’s Pharmaceutical Dosage
Form and Drug Delivery System. Eight Edition. Philadelphia: Lippincot
Williams and Wilkins.
Banakar, U. V. 1992. Pharmaceutical Dissolution Testing. New York: Marcel Dekker
Inc.
BPOM, 2004. Pedoman Uji Bioekivalensi. Jakarta: Badan Pengawasan Obat dan
Makanan Republik Indonesia.
Martin, A., J., Swarbrick dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik: Dasar-Dasar Kimia
Fisik dalam Ilmu Farmasetik. Edisi Ketiga. Jakarta: UI-Press.
Shargel, L., A. Yu, and S. Wu, 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Edisi Kedua. Surabaya: Airlangga University Press.