Vous êtes sur la page 1sur 14

A.

Product Profitability Analysis


1. Definisi Product Profitability Analysis
Menurut Hilton et al (2003) menyatakan bahwa profitabilitas berkaitan dengan profit
atau laba dan merupakan ukuran bagi perusahaan apakah telah menjalankan usahanya untuk
memenuhi kebutuhan konsumernya melalui produk atau jasa yang diproduksi oleh
perusahaan tersebut dalam rangka untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
sedangkan pengertian dari produk itu sendiri adalah hasil atau output dari proses
manufacturing yang akan ditawarkan di pasar untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan definisi atas profitabilitas dan produk diatas, dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan profitabilitas produk merupakan laba atau profit yang diperoleh dari
hasil penjualan produk barang atau jasa kepada konsumen yang dapat menghasilkan laba bagi
perusahaan. Dengan demikian, Product Profitabilty Analysis merupakan sebuah analisis
terhadap profitabilitas produk atau analisis atas kemampuan produk dalam menghasilkan laba
bagi perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari selisih harga jual produk tersebut
dengan biaya produksinya.
2. Manfaat Product Profitability Analysis
Setelah mendapatkan informasi mengenai profitabilitas atas suatu produk yang
dihasilkan oleh perusahaan, pihak manajemen dapat menggunakan informasi tersebut untuk
mengambil keputusan strategis untuk dapat bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis.
Misalnya, dengan cara menurunkan harga jual untuk produk yang menghasilkan keuntungan
yang tinggi sehingga produk tersebut mempunyai daya saing yang kuat di pasar atau
menghentikan produk yang ternyata menghasilkan kerugian bila terus menerus diproduksi
oleh perusahaan.

3. Product Profitability Analysis dengan Activity Based Costing


Bila perusahaan menerapkan sistem perhitungan biaya menggunakan metode
tradisional dengan perataan biaya atau dengan satu standar alokasi biaya saja, perusahaan
dapat mengalami ketidakakuratan perhitungan biaya produksi yang dapat menyebabkan
adanya kekurangan biaya pada produk yang berarti sebuah produk yang sebenarnya
membutuhkan biaya sumber daya yang banyak tetapi justru perusahaan mentapkan biaya per
unitnya lebih rendah dari yang seharusnya. Sebaliknya, produk dapat kelebihan biaya yang
berarti sebuah produk yang sebenarnya mengkonsumsi sumber daya dalam jumlah sedikit
tetapi justru perusahaan salah menetapkan biaya produksi per unit dengan menetapkan biaya
produksi per unit yang lebih tinggi dari yang seharusnya.
Oleh karena itu, dibutuhkan metode yang memeberikan informasi yang lebih rinci dan
akurat terkait biaya produksi, agar tidak berimbas pada kesalahan pembebanan biaya
produksi per unit yang tentunya juga akan berimbas pada perhitungan profitabilitas produk.
Activity Based Costing (ABC) System dapat memberikan informasi yang cukup akurat
mengenai biaya produksi suatu produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan sehingga
pihak manajemen dapat mengetahui produk-produk mana saja yang sebenarnya
menghasilkan keuntungan dan produk mana saja yang mungkin menghasilkan kerugian bagi
perusahaan yang dapat diketahui dengan cara mengurangi harga penjualan produk dengan
biaya produk tersebut.
Hal diatas, dapat dijelaskan dengan contoh penelitian yang tertulis dalam sebuah jurnal
akuntansi dengan judul “Penerapan Activity Based Costing (ABC) System dalam
Perhitungan Profitabilitas Produk”. Pada penelitian tersebut, melakukan analisis profitabilitas
produk dengan melakukan perbandingan antara penggunaan metode tradisional dengan
metode Activity Based Costing (ABC) terkait biaya produksinya. Perusahaan yang dijadikan
sampel merupakan perusahaan yang memproduksi dua jenis sepatu, yaitu sepatu tipe A dan
sepatu tipe B. Dari hasil data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara dan perhitungan
Activity Based Costing, maka didapat hasil berikut:
Tabel 1
Perhitungan Profitabilitas Produk dengan Menggunakan Metode Tradisional
No. Keterangan Sepatu Tipe A Sepatu Tipe B
1. Harga Jual Rp 75.000 Rp 45.000
2. Biaya Produksi Rp 62.496 Rp 38.136
3. Profit Rp 12.504 Rp 6.864
4. Presentase 16,627 % 15,25 %

Tabel 2
Perhitungan Profitabilitas dengan Menggunakan Activity Based Costing ABC) System
No. Keterangan Sepatu Tipe A Sepatu Tipe B
1. Harga Jual Rp 75.000 Rp 45.000
2. Biaya Produksi Rp 55.003,84 Rp 27.356,93
3. Profit Rp 19.999,16 Rp 17.643,07
4. Presentase 26,67 % 39,2 %
Berdasarkan data pada Tabel 1 dan 2, dapat diketahui bahwa perhitungan biaya
produksi dengan menggunakan Activity Based Costing (ABC) System memberikan gambaran
yang berbeda mengenai profitabilitas produk dibandingkan dengan perhitungan biaya
produksi dengan menggunakan metode tradisional. Dari perhitungan pada tabel tersebut,
ketika menggunakan metode tradisional, sepatu tipe A memiliki tingkat profitabilitas produk
yang lebih tinggi dibandingkan dengan sepatu tipe B, yaitu besar profit yang dihasilkan oleh
sepatu tipe A adalah sebesar 16,627% sedangkan profit yang dihasilkan oleh sepatu tipe B
adalah sebesar 15,25%.
Hal ini berbeda dengan ketika perusahaan menggunakan metode Activity Based Costing
(ABC). Pada saat perusahaan menggunakan Activity Based Costing (ABC) System, produk
dari perusahaan tersebut yang lebih memberikan kontribusi besar kepada perusahaan adalah
sepatu tipe B. Dari perhitungan pada tabel tersebut, ketika menggunakanABC, sepatu tipe A
justru memiliki tingkat profitabilitas produk yang lebih rendah dibandingkan dengan sepatu
tipe B, yaitu besar profit yang dihasilkan oleh sepatu tipe A adalah sebesar 26,67%
sedangkan profit yang dihasilkan oleh sepatu tipe B adalah sebesar 39,2%.
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya profitabilitas produk
untuk model sepatu tipe B lebih bedar dibandingkan profitabilitas produk sepatu tipe A
karena sebenarnya model sepatu tipe B mengkonsumsi lebih sedikit sumber daya
dibandingkan dengan model sepatu tipe A. Hal inilah yang menajdi kesalahan penghitungan
biaya yang dilakukan dengan cara membagi secara merata biaya sumber daya untuk semua
jenis produk yang dihasilkan tanpa memperhitungkan proporsi penggunaan sumber daya
untuk masing-masing produk. oleh karena hal tersebut, sistem ABC memberikan informasi
yang lebih akurat dalam analisis profitabilitas produk dibandingkan dengan metode
tradisional.

B. Target Costing
1. Definisi Target Costing
Menurut Hansen dan Mowen (2000) target costing adalah suatu metode penentuan
biaya produk atau jasa berdasarkan harga (harga target) dimana pelanggan bersedia
membayarnya. Menurut Ford (1923) dalam Blocher et al. terjemahan Tim Penerjemah
Penerbit Salemba (2008:617) menjelaskan bahwa target costing adalah suatu metode dimana
perusahaan menentukan biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu barang dan jasa yang
didasarkan pada harga pasar kompetitif, dengan demikian perusahaan dapat memperoleh laba
yang diharapkan dengan menghitung selisih antara harga kompetitif dengan laba yang
diharapkan.
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa target costing merupakan
Penentuan biaya yang diharapkan untuk suatu produk berdasarkan harga yang kompetitif,
sehingga produk tersebut akan dapat memperoleh laba yang diharapkan dan proses ini
dilakukan pada saat tahap perencanaan produk. Secara luas, target costing dapat diartikan
sebagai metode perencanaan laba dan manajemen laba yang difokuskan pada produk dengan
mempertimbangkan proses manufacturing sehingga target costing ini digunakan oleh
perancang sebelum proses dan proses desain dilakukan untuk mencapai tujuan perbaikan
usaha pada pengurangan biaya manufaktur produk di masa depan. Target costing digunakan
selama tahap perencanaan dan menuntun dalam pemilihan produk serta proses desain yang
akan menghasilkan suatu produk yang dapat diproduksi pada biaya yang diijinkan dan pada
suatu tingkat laba yang dapat diterima.

2. Tujuan dan Alasan menggunakan Target Costing


Menurut Malue (2013) tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dengan menerapkan
target costing adalah untuk menurunkan total biaya dari total biaya sebelumnya sehingga
perusahaan pun bisa mendapatkan laba yang maksimal tanpa harus menaikan harga jualnya.
Hal yang serupa juga disampaikan oleh Himawan dan Pendajaya (2005) yang menyatakan
bahwa metode target costing diterapkan dengan tujuan mengoptimalkan perencanaan laba
lewat penentuan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dan mengurangi biaya
pada tahap perancangan. Berdasarkan hal tersebut,dapat disimpulkan bahwa perusahaan
menerapkan target costing dengan tujuan sebagai alat strategi perusahaan selama tahap
perencanaan untuk meminimalkan biaya produksi untuk mencapai laba yang diinginkan oleh
perusahaan.
Menurut Garrison, Noreen (2001), alasan menggunakan metode target costing ini
berkaitan dengan pengamatan dua karakteristik dari market dan cost cost yang penting,yaitu:
1. Banyak perusahaan yang tidak dapat mengendalikan harga. Pada kenyataan yang terlihat
saat ini, harga sangat bergantung kepada pasar. Permintaan dan penawaran yang terjadi
dalam pasarlah yang sangat menentukan harga suatu produk atau jasa. sehingga
perusahaan yang tidak berusaha mengetahui hal ini atau mengabaikan hal ini akan
berbahaya karena mereka akan menanggung resikonya sendiri. Karena itu antisipasi dari
harga pasar dilakukan dengan menggunakan target costing.
2. Banyak perusahaan yang menentukan biaya dari suatu produk pada tahap desain,
sehingga sekali produk tersebut telah selesai di desain dan masuk dalam proses produksi,
tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengurangi biaya secara signifikan. Padahal
kesempatan untuk mengurangi biaya kebanyakan berasal dari desain produk. misalnya,
dengan ,menggunakan bahan baku yang tidak mahal namun masih tetap dapat memenuhi
kebutuhan konsumen.

3. Kegunaan Target Costing


Target costing mempertimbangkan faktor eksternal perusahaan (pasar). Melalui analisis
pasar dan pesaing dapat membantu manajemen dalam merancang produk yang dibutuhkan
konsumen dengan harga yang kompetitif. Menurut Albano, Bird, Clifton, Townsend (2003),
metode target costing membantu perusahaan untuk:
a) Menjamin bahwa produk disesuaikan dengan kebutuhan konsumen dengan lebih baik
Penggunaan target costing di dalam sebuah perusahaan akan menjamin produk yang
diproduksi tersebut telah disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Hal ini dikarenakan,
pada tahap awal proses target costing juga melihat kondisi pasar, maksudnya disini
melihat seberapa tingkat kebutuhan konsumen pada produk tersebut. sehingga, produk
yang akan diluncurkan oleh perusahaan tersebut dapat lebih disesuaikan dengan baik
terkait kebutuhan konsumen.
b) Menyesuaikan harga dari keistimewaan produk dengan kesediaan konsumen untuk
membayarnya
Penggunaan target costing dapat menyesuaikan harga dari kualitas yang dimiliki oleh
produk tersebut dan didasarkan pada tingkat berapakah kemampuan dan kesediaan
konsumen untuk membayar produk tersebut. Hal ini dikarenakan tahap awal dalam
proses target costing adalah melihat harga kompetitif produk tersebut di pasar yang
disesuaikan dengan kualitas produk serta kesediaan konsumen untuk membayarnya.
c) Mengurangi siklus pengembangan produk
Perusahaan yang menerapkan proses target costing dapat mengurangi siklus
pengembangan produk. siklus pengembangan produk disini adalah siklus dimana
perusahaan harus melakukan perubahan-perubahan atau pengembangan-pengembangan
terhadap biaya produksi suatu produk ketika produk tersebut telah memasuki tahap
produksi. Sedangkan apabila perusahaan menggunakan proses target costing yang telah
dilakukan pada tahap perencanaan dalam memproduksi suatu produk, pihak manajemen
telah benar-benar menghitung biaya yang minim tanpa mengurangi laba yang kita
harapkan serta tanpa menaikkan harga jual kepada konsumen.
d) Mengurangi biaya produk secara signifikan
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa pada proses target costing, pihak
manajemen akan membuat pengurangan pada biaya produk tersebut. Pengurangan biaya
produk pada proses target costing dapat menjadi lebih signifikan daripada melakukan
pengurangan biaya ketika telah memasuki tahap memproduksi produk.
e) Meningkatkan kerjasama antar departemen dalam perusahaan berkaitan dengan
penyusunan, pemasaran, perencanaan, pengembangan, pembuatan, penjualan,
pendistribusian, dan penempatan produk
Dalam proses target costing diperlukan kerjasama antar fungsi-fungsi seperti pemasaran,
perencanaan, pendistribusian dan lain sebagainya demi melakukan proses pengoptimalan
atau pengurangan biaya atas suatu produk dengan tidak meningkatkan harga jual dan
tidak menurunkan laba yang diinginkan oleh perusahaan.
f) Menggunakan konsumen dan pemasok untuk merancang produk yang benar dan untuk
mengintegrasikan seluruh rantai persediaan dengan lebih efektif.
Pada proses target costing, dalam merancang sebuah produk juga digunakan pandangan
terkait konsumen dan pemasok. Sehinnga, pada tahap perencanaan, konsumen dan
pemasok juga menjadi pertimbangan bagi manajemen dalam menentukan biaya atas
produk yang akan diluncurkan tersebut.

4. Karakteristik target costing


1. Target harga jual ditentukan selama perencanaan produk, pada cara orientasi pasar
Penetapan target harga jual merupakan poin awal dalam proses target costing. Hal
ini juga diungkapkan oleh Kato (1993) dalam Everaert (2006) yang menjelaskan bahwa
penawaran tingkat harga dari produk yang ada atau tingkat harga kompetitor merupakan
sebuah poin awal dalam proses target costing. Apabila manajemen percaya bahwa
produk yang dimilikinya memiliki fungsi atau kualitas yang lebih bagus daripada produk
kompetitor, maka harga dari produknya tersebut dapat lebih tinggi dari harga produk
kompetitor. Sebaliknya, apabila produk yang dimiliki perusahaan tersebut memiliki
fungsi atau kualitas yang lebih rendah dari produk kompetitor, maka harga produk
tersebut bisa dinilai rendah.
Selain dilihat dari nilai konsumen dan tingkat harga dari produk kompetitor, Kato
(1993) menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor lain yang juga perlu
dipertimbangkan dalam penentuan harga jual sebuah produk. Faktor-faktor tersebut
misalnya konsep dari produk tersebut, karakteristik konsumen yang berpartisipasi, siklus
hidup produknya, kuantitas penjualan yang diharapkan, strategi kompetitor, dan lain
sebagainya.
2. Target profit margin ditentukan selama perencanaan produk, berdasarkan perencanaan
profit yang strategis
Karakteristik kedua dari sistem target costing adalah penetapan awal target profit
margin selama perencanaan produk produk baru. Kato (1993) dan Monden and Hamada
(1991) menjelaskan bahwa total target profit untuk sebuah produk di masa depan dapat
berasal dari rencana profit jangka menengah, yaitu startegi manajemen dan bisnis antara
3 sampai 5 tahun. Target profit ini dapat diuraikan menjadi target profit tiap-tiap produk.
Dengan adanya estimasi volume penjualan produk di masa depan, target profit untuk
suatu produk di masa depan dapat diubah menjadi target profit margin per unit.
3. Target cost ditentukan sebelum NPD (new product development) dimulai yang
didasarkan pada pengurangan atau penambahan metode
Karakteristik ketiga dalam target costing adalah target cost (target biaya) ditentukan
sebelum proses NPD dimulai, yaitu sebelum desain dan pengembangan produk benar-
benar dimulai. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memutuskan berapa
target cost untuk sebuah produk baru, yaitu:
a. Perhitungan The Ongoing cost (biaya yang sedang berlangsung).
Ketika NPD dimulai, perhitungan Ongoing cost ini didasarkan pada biaya aktual dari
produk dengan mempertimbangkan faktor-faktor pengurangan atau penambahan
biaya. Rhe Ongoing cost ini disebut juga sebagai Drifting Cost.
b. Perhitungan The as-if cost.
The as-if cost merupakan biaya pembuatan suatu produk hanya jika perusahaan
mengimplementasikan semua ide pengurangan biaya yang tersedia. The as-if cost
sebenarnya merupakan sebuah pengurangan biaya yang nyata.
c. Perhitungan The allowable cost
The allowable cost dihitung dengan perbedaan antara target harga jual dan target
profit margin. The allowable cost merupakan biaya dimana produk harus diproduksi
dengan tujuan untuk mendapatkan target profit margin ketika terjual pada target
harga jual yang telah ditetapkan.
d. Target cost ditentukan pada suatu tempat antara as-if cost dan allowable cost, baik
menggunakan metode top down atau bottom up.
Dalam metode top-down, target cost ditetapkan pada tingkat allowable cost, yaitu
pada selisih antara target harga jual dan target profit margin. Kemudian, biaya target
ini kurang lebih dibebankan pada tim NPD. Hal ini bertentangan dengan apa yang
disebut metode bottom-up, dimana target biaya dimulai dalam departemen NPD itu
sendiri.
4. Target cost dibagi menjadi target cost untuk komponen, fungsi, biaya item, desainer atau
pemasok.
5. Target costing membutuhkan kerjasama lintas fungsional
Kerjasama dari berbagai departemen diperlukan dalam pelaksanaan target costing
(Monden dan Hamada, 1991). Yoshikawa et al. (1993) melaporkan bahwa proses target
costing memerlukan upaya partisipatif yang melibatkan perwakilan dari produksi, teknik,
desain, pemasaran, akuntansi dan penjualan. Sebuah perusahaan harus menggunakan
bakat, inovasi dan kesadaran sederhana setiap anggota organisasi dalam rangka untuk
melihat peluang untuk pengurangan biaya (Carr dan Ng, 1995).
6. Informasi biaya yang detail tersedia untuk mendukung pengurangan biaya
Kato (1993) berpendapat bahwa seorang perancang desain biaya membutuhkan
informasi biaya yang rinci setiap saat. Target costing membutuhkan manajer untuk
mengestimasi secara konstan biaya produksi suatu produk ketika bergerak melalui proses
NPD, dan mereka harus memanfaatkan informasi dari seluruh bagian organisasi. Salah
satu contoh yang terkenal dari informasi biaya, terutama digunakan oleh perusahaan-
perusahaan Jepang selama target costing, adalah tabel biaya. Yoshikawa et aL (1990)
menjelaskan bahwa tabel biaya adalah database terkomputerisasi yang besar, yang
merupakan sumber informasi yang mudah diakses terkait efek biaya produk dengan
menggunakan sumber daya(bahan baku), metode produksi, fungsi atau desain produk
yang berbeda. Pada tabel biaya tersebut juga tercantum informasi terkait peralatan yang
digunakan, jenis bahan yang digunakan dan variabel desain utama yang mempengaruhi
kegiatan produksi serta biayanya.
7. Tingkat biaya dari produk masa depan (drifing costing) dibandingkan dengan target cost
pada titik yang berbeda selama NPD
8. Menetapkan atau membuat sebuah aturan umum bahwa “target cost tidak dapat
dilampaui”
Aturan tentang “target cost tidak dapat dilampaui” memiliki tiga konsekuensi,
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Pertama,setiap kali kenaikan biaya pada suatu produk selama NPD, menyebabkan
harus adanya pengurangan pada bagian lain dengan jumlah yang setara.
b. Kedua, meluncurkan produk dengan biaya di atas target tidak diperbolehkan; hanya
produk yang menguntungkan yang diluncurkan.
c. Ketiga, proses produksi dikelola dengan hati-hati untuk memastikan bahwa target cost
benar-benar tercapai.

5. Proses Target Costing


Menurut Morgan (1993), proses penerapan metode target costing terdiri dari 3 tahapan
yang dapat diringkas pada gambar dibawah ini.

Penjelasan atas gambar tahapan proses target costing diatas adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi produk berkualitas tinggi yang memenuhi permintaan konsumen
Pada tahap ini, manajemen akan mengidentifikasi produk-produk mana yang
memenuhi permintaan konsumen. Selain itu, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan
pada tahap ini, yaitu:
a. Pihak manajemen akan menentukan harga jual produk yang akan diluncurkan ke
pasar. Dalam hal ini, pihak manajemen akan menentukan harga jualnya berdasarkan
kualitas produk yang akan diluncurkan tersebut, harga kompetitif produk tersebut di
pasaran, serta seberapa besar konsumen bersedia membayar produk tersebut.
b. Setelah pihak manajemen menetapkan harga jual produk yang akan diluncurkan
tersebut, kemudian pihak manajemen akan menentukan berapa besar target profit
yang diinginkan oleh perusahaan atas produk yang akan diluncurkan tersebut.
c. Hal yang harus dilakukan berikutnya adalah proses perhitungan target cost.
Perhitungan target cost dapat ditentukan dengan cara mencari selisih antara harga
jual yang telah ditetapkan untuk produk tersebut dengan target profit yang juga telah
ditentukan untuk produk yang akan diluncurkan tersebut. secara ringkas, perhitungan
target cost dapat dilihat sebagai berikut:
“Target Cost = Selling Price–Target Profit”
target cost pada tahap ini sering disebut juga sebagai allowable cost atau biaya yang
diijinkan. Allowable cost juga dapat diartikan sebagai jumlah biaya yang
diperkenankan oleh perusahaan yang didapat dari selisih antara harga jual dengan
laba yang dinginkan oleh perusahaan.
d. Setelah allowable cost diketahui, maka langkah yang harus dilakukan berikutnya
adalah menghitung drifting cost (biaya taksiran). Drifting cost adalah penjumlahan
biaya bahan baku, biaya proses, dan biaya lainlain yang diperkirakan akan terjadi
untuk memproduksi produk yang bersangkutan. Drifting cost merupakan biaya yang
diestimasi berdasarkan biaya produk yang sedang berjalan. Komponen-komponen
yang termasuk dalam penentuan drifting cost ini antara lain, biaya tenaga kerja, biaya
bahan baku, biaya overhead, dan biaya-biaya lainnya.
2. Menetapkan target cost dengan menerapkan value engineering (VE)
Setelah mengetahui berapa besarnya allowable cost dan drifting cost, maka tahap
selanjutnya dalam metode target costing adalah melakukan value engineering. Value
engineering adalah sebuah upaya sistematis dengan cara mengevaluasi fungsi-fungsi dan
proses dalam organisasi serta melakukan perbaikan yang dibutuhkan agar dapat
menurunkan biaya sekaligus memuaskan kebutuhan konsumen. Value engineering
dilaksanakan dengan tujuan agar drifting cost atau biaya taksiran mencapai angka yang
sama atau kurang dari allowable cost atau target cost yang telah dihitung pada tahap
awal. Proses ini memerlukan peran serta semua fungsi dalam perusahaan untuk
bekerjasama menekan biaya sampai mencapai target.
Proses awal value engineering yaitu dengan mengevaluasi kegitan perusahaan mulai
dari merancang, mengembangkan, memproduksi, memasarkan, dan melayani konsumen
yang memakai produk tersebut. Tugas setiap departemen adalah untuk memeriksa biaya
dan kinerjanya kemudian mencari cara untuk memperbaikinya dengan tujuan agar target
cost dapat tercapai dan meningkatkan kepuasan pelanggan atas produknya.
Menurut Cowe (1994) dalam Himawan dan Pendajaya (2005), value engineering
melibatkan penilaian sistematis mengenai bahan-bahan. Komponen penampilan, desain,
dan sebagainya. Proses tersebut termasuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Apakah penggunaan produk tersebut menyumbangkan nilai?
b. Apakah biaya sesuai dengan kegunaannya?
c. Apakah produk tersebut memerlukan semua sifat-sifat (ciri-ciri/keistimewaannya)?
d. Adakah sesuatu yang lebih baik untuk kegunaan yang dimaksud?
e. Dapatkah bagian (komponen) yang terpakai dibuat dengan metode biaya yang lebih
rendah?
f. Dapatkah ditemukan produk standar yang akan dapat digunakan?
g. Apakah produk tersebut dibuat dengan alat-alat yang sesuai dan sudahkan
mempertimbangkan jumlah yang digunakan?
h. Apakah bahan-bahan tenaga kerja, biaya tak langsung, dan laba sesuai dengan
harganya?
i. Dapatkah pemasok lain yang dapat diandalkan menyediakan produk tersebut dengan
biaya yang lebih murah?
j. Adakah orang yang membelinya lebih murah?
3. Mencapai target cost pada tahap produksi berdasarkan perubahan praktek saat ini.
Setelah melakukan desain dan value enginering, maka target cost diharpakan dapat
tercapai dengan artian bahwa drifting cost sama dengan atau kurang dari biaya yang
diijinkan atau allowable cost.
Studi kasus: Tantalus Company
Studi kasus berikut menyangkut proses penentuan target cost untuk Tantalus
Company, sebuah produsen/pabrikan yang spesialisasinya memproduksi komponen otomotif
yang berkualitas tinggi. Sebagai bagian dari tujuan strategis, Tantalus memiliki target return
on sales yang bertujuan untuk mencapai harga yang kompetitif dan generasi dana yang cukup
untuk pemeliharaan keuntungan dan reinvestment.
Tantalus menerima pesanan untuk auto part complex, Produk A, dari Icarus
Corporation. Pesanan Pertama untuk 1.000 unit yang selanjutnya akan diikuti oleh volume
yang lebih tinggi dan ketika produksi massal produk itu dimulai. Menurut proposal dari
Icarus, permintaan awal dengan harga yang kompetitif adalah £ 50 per unit. Tantalus itu
menargetkan laba atas penjualan atau Return on Sales (ROS) adalah 20 persen, yaitu £ 10 (£
50 x 20%) per unit.

Dengan demikian biaya yang diperbolehkan dihitung dengan perhitungan sebagai berikut:
£ 50 - £ 10 = £ 40 per unit

Jadi, Jika jumlah pesanan adalah 1.000 unit, maka total biaya yang diperbolehkan untuk
memproduksi produk pesanan dari Icarus Corporation adalah £ 40.000.

Drifting Cost
Selanjutnya, perhitungan Drifting Cost. Ini disebut biaya yang diijinkan atau
allowable cost yang didasarkan pada data saat ini dan dievaluasi pada saat perusahaan
mampu mencapai dalam hal biaya pada saat ini. Kesenjangan antara tingkat kinerja saat ini
dan tingkat yang diperlukan oleh kebutuhan target cost yang harus ditutup. Target cost secara
efektif ditetapkan oleh manajemen puncak dalam rencana strategis dan konsekuensinya
mereka ketat.
Untuk mencapai target ini, pertama biaya elemen atau kompnen-komponen relevan
yang terkait produk tersebut perlu ditentukan. Mengingat fakta bahwa tawaran kompetitif
diperlukan untuk mengamankan kontrak dan juga karena pabrik memiliki kapasitas berlebih
tetapi telah melewati titik impas (Break Event Point) dengan produk saat ini, diputuskan
bahwa biaya marjinal telah relevan. Keputusan ini didukung oleh fakta bahwa, karena resesi,
kapasitas produksi suku cadang adalah pada tingkat yang bahkan bisa menggabungkan
volume yang lebih tinggi kemudian tergambar ketika produksi penuh produk ibu (mother
product) pelanggan mulai. Seandainya hal ini tidak pernah terjadi, perusahaan tidak bisa
pergi pada tingkat harga ini karena volume yang lebih besar akan diperlukan untuk
peningkatan biaya tetap marjinal.
Selain itu, dampak biaya volume produksi yang direncanakan diperhitungkan pada
tahap ini. Maka rencana produksi untuk item tersebut telah dipersiapkan. Berdasarkan pada
pekerjaan ini, insinyur menentukan bahwa drifting cost per unit adalah £ 43,70, memberikan
£ 43.700 secara total. Biaya per unit itu harus dipecah menjadi seperti berikut:
 Bahan baku langsung (direct material) £ 13.700
 Tenaga kerja langsung (direct labor) 7.500
 Variable overhead terhadap Produk A 22.500
 Total drifting product cost £ 43.700
Perlu dicatat terutama berkaitan dengan struktur biaya, tenaga kerja langsung terdiri
dari 17% persen dari total biaya, tetapi jumlah overhead hingga 51%..

Target cost
Langkah selanjutnya adalah untuk mulai mencoba untuk mencapai target cost bagi
perusahaan. Mandor memeriksa area produksi potensial per item dengan para pemimpin
kelompok. Para mandor membuat setiap usaha untuk mengurangi total drifting cost dari £
43.700 ke biaya yang diijinkan sebesar £ 40.000. Dengan demikian target pengurangan biaya
yang dihitung dari selisih antara keduanya, sebesar £ 3.700.
Proses awal untuk menghilangkan perbedaan antara drifting cost dan target cost
dicapai melalui Value Engineering (VE) dan desain penilaian (appraisal design). Proses ini
didorong oleh pengakuan bahwa sesuatu seperti 90 persen dari biaya siklus hidup yang dapat
diidentifikasi pada tahap desain produk. Oleh karena itu, jauh lebih mudah untuk biaya
“merancang keluar (design out)” sebelum produksi daripada biaya “kontrol keluar (control
out)” pada tahap pasca-produksi. The Institut’s Official Terminology of Management
Accounting mendefinisikan biaya siklus hidup (life cycle cost) sebagai 'praktek memperoleh,
selama masa hidup mereka, penggunaan terbaik dari aset fisik pada total biaya terendah untuk
entitas (terotechnology). Pada tahap ini, Tantalus berfokus dalam dua hal, yaitu pengurangan
dari unit yang rusak atau cacat dan mendesain kembali proses perakitan untuk mengurangi
biaya tenaga kerja dan terkait variabel beban pabrik.
DAFTAR PUSTAKA

Dicky, Yoanes. 2011. Penerapan Activity Based Costing (ABC) System dalam Perhitungan
Profitabilitas Produk. Jurnal Akuntansi Universitas Kristen Maranatha,Vol.3,No.1

Himawan dan Pendajaya. 2005. Penerapan Metode Target Costing sebagai Alat Bantu
Manajemen dalam Mengoptimalkan Perencanaan Laba. e-Journal ESENSI, volume 8
No.2

Malue, Jurgen. 2013. Analisis Penerapan Terget Costing sebagai Sistem Pengendalian Biaya
Produksi Pada PT Celebes Mina Pratama. Ejournal.unsrat.ac.id

Morgan, Malcom J. 1993. A case study in target costing : Accounting for Strategy. Research
in Management Accounting. Vol 5, pg 20.

Patricia Everaert, Stijn Loosveld, Tom Van Acker, Marijke Schollier, Gerrit Sarens. 2006.
Characteristics of target costing: theoretical and field study perspectives. Qualitative
Research in Accounting & Management, Vol. 3 Iss: 3, pp.236 - 263