Vous êtes sur la page 1sur 17

MAKALAH KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Disusun Oleh :
Deri Rahmatullah (04011281823125)
Nida Amalia (04011281823098)
Sherin Obella Balqis (04011281823158)
Siti Nadila Afista (04011281823116)
Zaki Alifsyah Putra A.R (04011281823164)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas
Makalah Kerukunan Antar Umat Beragama ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam.
Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai
sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih
menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran
keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kerukunan antar umat
beragama, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi,
dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Sriwijaya. kami sadar bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen
pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang
akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Palembang, Maret 2019

Penulis
Daftar Isi

Halaman Judul
..............................................................................................................................i

Kata Pengantar
..............................................................................................................................ii

Daftar Isi
..............................................................................................................................iii

BAB I : Pendahuluan
..............................................................................................................................1

A. Latar Belakang
....................................................................................................................

B. Rumusan Masalah
....................................................................................................................

C. Tujuan Pembahasan
....................................................................................................................

BAB II : Pembahasan
...............................................................................................................................

A. Islam Agama Rahmatan Lil Alamin


....................................................................................................................

B. Ukhuwah
....................................................................................................................

C. Toleransi
....................................................................................................................

D. Toleransi dan Kerukunan Beragama Dalam Pandangan Islam


....................................................................................................................

E. Toleransi Dalam Beragama/ hidup berdampingan dengan agama lain.


....................................................................................................................

F. Manfaat-manfaat diperoleh dari sikap toleransi dan kerukunana.


....................................................................................................................

G. Hal-hal yang dapat terjadi apabila toleransi dan kerukunana di dalam masyarakat
diabaikan.
...................................................................................................................

BAB III : Penutup


...............................................................................................................................

A. Kesimpulan
....................................................................................................................

B. Saran
....................................................................................................................

Daftar Pustaka
...............................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kerukunan beragama di tengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam


kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kerukunan umat beragama adalah hal
yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini. Seperti yang
kita ketahui, Indonesia memiliki keragaman yang begitu banyak. Tak hanya masalah adat
istiadat atau budaya seni, tapi juga termasuk agama. Masyarakat Indonesia merupakan
masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam agama. Kemajemukan yang ditandai dengan
keanekaragaman agama itu mempunyai kecenderungan kuat terhadap identitas agama
masing- masing dan berpotensi konflik.
Berbagai macam kendala yang sering kita hadapi dalam mensukseskan kerukunan
antar umat beragama, dari luar maupun dalam negeri kita sendiri. Namun dengan kendala
tersebut warga Indonesia selalu optimis, bahwa dengan banyaknya agama yang ada di
Indonesia, maka banyak pula solusi untuk menghadapi kendala-kendala tersebut. Indonesia
merupakan salah satu contoh masyarakat yang multikultural. Multikultural masyarakat
Indonesia tidak saja kerena keanekaragaman suku, budaya, bahasa, ras tapi juga dalam hal
agama. Agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia adalah agama Islam, Kristen
Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Chu. Dari agama-agama tersebut terjadilah
perbedaan agama yang dianut masing-masing masyarakat Indonesia. Dengan perbedaan
tersebut apabila tidak terpelihara dengan baik bisa menimbulkan konflik antar umat
beragama yang bertentangan dengan nilai dasar agama itu sendiri yang mengajarkan kepada
kita kedamaian, hidup saling menghormati, dan saling tolong menolong.
Kerukunan yang berpegang kepada prinsip masing-masing agama menjadi setiap
golongan antar umat beragama sebagai golongan terbuka, sehingga memungkinkan dan
memudahkan untuk saling berhubungan. Bila anggota dari suatu golongan umat beragama
telah berhubungan baik dengan anggota dari golongan agama-agama lain, akan terbuka
kemungkinan untuk mengembangkan hubungan dalam berbagai bentuk kerjasama dalam
bermasyarakat dan bernegara.

B. Rumusan Masalah
a) Bagaimana masyarakat menghadapi permasalahan/kendala dalam mencapai kerukunan
antar umat beragama di Indonesia?

b) Bagaimana cara menjaga kerukunan umat beragama?

c) Bagaimana Kebersamaan Umat Beragama Dalam Kehidupan Sosial?

C. Tujuan Pembahasan

Penulisan makalah ini bermaksud untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama kami
dan untuk menambah wawasan para pembaca tentang kerukunan antar umat beragama serta
permasalahan yang di hadapi. Semoga Bermanfaat
BAB II
Pembahasan

A. Islam Agama Rahmatan Lil Alamin


Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam
semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah
dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang bunyinya,
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Islam
melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah, lihat saja sabda Rasulullah
sebagaimana yang terdapat dalam Hadits riwayat al-Imam al-Hakim, “Siapa yang dengan
sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan
meminta pertanggungjawaban kepadanya”.
Burung tersebut mempunyai hak untuk disembelih dan dimakan, bukan dibunuh dan
dilempar. Sungguh begitu indahnya Islam itu bukan? Dengan hewan saja tidak boleh sewenang-
wenang, apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-
ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini. Umat Islam tentu meyakini misi
rahmatan lil ‘alamin, sebab istilah rahmatan lil-’alamin telah dinyatakan oleh Al Qur’an. Istilah
rahmatan lil-’alamin dipetik dari salah satu ayat Al Qur’an; “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-
’aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam).” (QS Al Anbiya’ : 107).
Dalam ayat itu, “rahmatan lil-’alamin” secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta alam.
Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut
berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan sempurna, dan ada pula yang menerima
rahmat tersebut tidak sempurna. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sahabat Nabi Salallahu ‘Alaihi
Wa Sallam, pakar dalam Ilmu Tafsir menyatakan: “Orang yang beriman kepada Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, maka akan memperoleh rahmat Allah dengan sempurna di dunia dan akhirat.
Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka akan
diselamatkan dari azab yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti
dirubah menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.”. Demikian penafsiran yang dinilai paling
kuat oleh Al Hafizh Jalaluddin Al Suyuthi dalam tafsirnya, AlDurr Al Mantsur.
Sebagaimana dimaklumi, selain sebagai rahmatan lil-’alamin, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam diutus juga bertugas sebagai basyiiran wa nadziiran lil-’aalamiin (pembawa kabar gembira
dan pemberi peringatan kepada seluruh alam). “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada
umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan
(basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ : 28). Sebagai
pengejawantahan dari ayat-ayat ini, seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain
harus menerapkan watak rahmatan lil-’alamin, juga bertanggungjawab menyebarkan misi basyiran
wa nadziran lil-’alamin. Islam tidaklah melarang umatnya berinteraksi dengan komunitas agama
lain. Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat disampaikan kepada umat
lain, jika komunikasi dengan mereka tidak berjalan baik.
Karena itu, para ulama fuqaha dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim
memberikan sedekah sunnah kepada non Muslim yang bukan kafir harbi. Demikian pula
sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non
Muslim.

B. Ukhuwah
1. Pengertian Ukhuwah
Ukhuwah Islamiyah adalah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik
masyarakat Islam di zaman Rasulullah, yaitu pertama, kekuatan iman dan aqidah. Kedua,
kekuatan ukhuwah dan ikatan hati. Dan ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata.
Dari segi bahasa : berasal dari perkataan akhun yang membawa arti
saudara,teman,sahabat dan lain-lain lagi. Dari segi istilah : Menurut Al-Quran : Perasaan
kasih sayang,tolong menolong,Bantu membantu, bertolak ansur bermesra dan cinta
mencintai diantara sesama umat Islam tanpa terkecuali, Allah berfirman “Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara , maka damaikanlah diantara kedua saudaramu
dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (surah al-Hujurat : 10).
Menurut hadis : Seperti tubuh badan ,darah daging, dan roh umat Islam sendiri.
2. Macam-macam Ukhuwah

1. Ukhuwah Islamiyah

Yaitu persaudaraan yang berlaku antar sesama umat Islam atau persaudaraan yang
diikat oleh aqidah/keimanan, tanpa membedakan golongan selama aqidahnya sama
maka itu adalah saudara kita dan harus kita jalin dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana
dijelaskan Allah SWT dalam Alqur’an surat Al Hujarat : 10, yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara, oleh karena itu
peralatlah simpul persaudaraan diantara kamu, dan bertaqwalah kepada Allah,
mudah-mudahan kamu mendapatkan rahmatnya “.
Dari ayat di atas jelas bahwa kita sesama umat islam ini adalah saudara, dan wajib
menjalin terus persaudaraan di antara sesama umat Islam dan marilah yang mana
saudara kita jadikan saudara dan janganlah saudara kita anggap sebagai musuh,hanya
karna masalah masalah-masalah sepele yang tidak berarti.yang pada akhirnya
mengancam ukhuwah Islamiyah yang pada akhirnya dapat melumpuhkan kerukunan
dan keutuhan bangsa.
2. Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah

Yaitu persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara universal tanpa
membedakan ras, agama, suku dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Persaudaraan yang
di ikat oleh jiwa kemanusiaan, maksudnya kita sebagai manusia harus dapat
memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh rasa kasih sayang, selalu
melihat kebaikannya bukan kejelekannya.
Ukhuwah Insaniyah ini harus dilandasi oleh ajaran bahwa semua orang umat manusia
adalah makhluk Allah, sekalipun Allah memberikan kebebasan kepada setiap manusia
untuk memilih jalan hidup berdasarkan atas pertimbangan rasionya. Jika ukhuwah
insyaniyah tidak dilandasi dengan ajaran agama keimanan dan ketaqwaan, maka yang
akan muncul adalah jiwa kebinatangan yang penuh keserakahan dan tak kenal halal dan
haram bahkan dapat bersikap kanibal terhadap sesama.
3. Ukhuwah Wathoniyah

Yaitu persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme tanpa membedakan agama, suku,
warna kulit, adat istiadat dan budaya dan aspek-aspek yang lainnya. Semua itu perlu
untuk dijalin karena kita sama-sama satu bangsa yaitu Indonesia. Mengingat pentingnya
menjalin hubungan kebangsaan ini Rosulullah bersabda “Hubbui wathon minal iman”,
artinya: Cinta sesama saudara setanah air termasuk sebagian dari iman. Sebagai seorang
muslim, harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengaktualisasikan ketiga macam
ukhuwah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Apabila ketiganya terjadi secara
bersama, maka ukhuwah yang harus kita prioritaskan adalah ukhwah Islamiyah, karena
ukhuwah ini menyangkut kehidupan dunia dan akherat.
4. Ukhuwah ‘ubudiyyah, ialah persaudaraan yang timbul dalam lingkup sesama makhluk
yang tunduk kepada Allah.
C. Toleransi

Toleransi berasal dari bahasa Latin yaitu “tolerare” yang berarti bertahan atau
memikul. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran”,
yang berarti bersikap menghargai, membiarkan, dan membolehkan yang berbeda atau yang
bertentangan dengan pendiriannya. Toleransi juga berarti batas ukur untuk penambahan
atau pengurangan yang masih diperbolehkan.

Menurut Siagian (1993) toleran diartikan dengan saling memikul walaupun


pekerjaan itu tidak disukai; atau memberi tempat kepada orang lain, walaupun kedua belah
pihak tidak sependapat. (Ajat Sudrajat, 2008:138)

Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut “ikhtimal”, “tasamuh” yang artinya
membiarkan sesuatu untuk dapat saling mengizinkan dan saling memudahkan.

Toleransi menurut Syekh Salim bin Hilali memiliki karakteristik sebagai berikut,
yaitu antara lain:

1. Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan


2. Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
3. Kelemah lembutan karena kemudahan
4. Muka yang ceria karena kegembiraan
5. Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
6. Mudah dalam berhubungan sosial (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
7. Menggampangkan dalam berda'wah ke jalan Allah tanpa basa basi
8. Terikat dan tunduk kepada agama Allah SWT tanpa rasa keberatan.

Selanjutnya, menurut Salin al-Hilali karakteristik dalam toleransi merupakan:

1. Inti Islam
2. Seutama iman,
3. Puncak tertinggi budi pekerti (akhlaq).

Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqbil bathil


(mencampuradukan antara hak dan bathil) yakni suatu sikap yang sangat dilarang dilakukan
oleh seorang muslim, seperti halnya menikah antar agama dengan toleransi sebagai
landasannya. Sebagaimana yang telah dijelaskan diayat Al-Quran dibawah ini, Allah SWT
berfirman:

ِ‫ب‬ َ ‫س ِريعُ ْال ِح‬


ِ ‫سا‬ ِ َّ‫ااختَلَفَالَّذِينَأ ُ ْوتُواْ ْال ِكت َابَإِال‬
َ ‫ِمنبَ ْعدِِ َما َجاء ُِه ُم ْال ِع ْل ُم َب ْغيًا َب ْينَ ُه ْم َو َمن َي ْكفُ ْر ِبآيَاتِاللّ ِهفَإِنَّاللّ ِه‬ ِ ‫ِإنَّالدِّينَ ِعندَاللّ ِه‬
ْ ‫اإل ْسالَ ُم َو َم‬
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih
orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada
mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS.Ali Imran: 19)

Toleransi dapat disimpulkan sebagai sikap menghargai dan menghormati setiap


orang yang berbeda-beda baik secara etnis, ras, bahasa, budaya, politik, pendirian,
kepercayaan maupun tingkah laku.

D. Toleransi dan Kerukunan Beragama Dalam Pandangan Islam


Kerukunan antar umat beragama adalah suatu kondisi sosial ketika semua golongan
agama bisa hidup bersama tanpa menguarangi hak dasar masing-masing untuk
melaksanakan kewajiban agamanya. Masing-masing pemeluk agama yang baik haruslah
hidup rukun dan damai. Karena itu kerukunan antar umat beragama tidak mungkin akan
lahir dari sikap fanatisme buta dan sikap tidak peduli atas hak keberagaman dan perasaan
orang lain. Tetapi dalam hal ini tidak diartikan bahwa kerukunan hidup antar umat beragama
memberi ruang untuk mencampurkan unsur-unsur tertentu dari agama yang berbeda , sebab
hal tersebut akan merusak nilai agama itu sendiri.
Saling menghargai dalam iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang amat
komprehensif. Konsekuensi dari prinsip ini adalah lahirnya spirit taqwa dalam beragama.
Karena taqwa kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan universal di antara umat manusia.
Abu Ju’la mengemukakan, “Al-khalqu kulluhum ‘iyālullāhi fa ahabbuhum ilahi anfa’uhum
li’iyālihi” (“Semua makhluk adalah tanggungan Allah, dan yang paling dicintainya adalah
yang paling bermanfaat bagi sesama tanggungannya”).

Selain itu, hadits Nabi tentang persaudaraan universal juga menyatakan, “irhamuu
man fil ardhi yarhamukum man fil samā” (sayangilah orang yang ada di bumi maka akan
sayang pula mereka yang di langit kepadamu). Persaudaran universal adalah bentuk dari
toleransi yang diajarkan Islam. Persaudaraan ini menyebabkan terlindunginya hak-hak orang
lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat Islam. Dalam persaudaraan
universal juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dan kerja sama yang saling
menguntungkan serta menegasikan semua keburukan.

Contoh wujud toleransi Islam kepada agama lain diperlihatkan oleh Umar ibn-al-
Khattab. Umar membuat sebuah perjanjian dengan penduduk Yerussalem, setelah kota suci
itu ditaklukan oleh kaum Muslimin. (Ajat Sudrajat,2008:141).
Saling tolong-menolong di antara sesama umat manusia muncul dari pemahaman
bahwa umat manusia adalah satu kesatuan, dan akan kehilangan sifat kemanusiaannya bila
mereka menyakiti satu sama lain. Tolong-menolong, sebagai bagian dari inti toleransi,
menjadi prinsip yang sangat kuat di dalam Islam.

Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas.

ِ ‫لَ ُك ْمدِينُ ُك ْم َو ِل َيد‬


ِ‫ِين‬
“Tidak ada paksaan dalam agama”, “Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami
agama kami” (QS. Al-Kafirun:6)

Dalam hubungannya dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan


agar umat Islam berbuat baik dan bertindak adil. Selama tidak berbuat aniaya kepada umat
Islam. Al-Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam mengutamakan terciptanya suasana
perdamaian, hingga timbul rasa kasih sayang diantara umat Islam dengan umat beragama
lain. Kerjasama dalam bidang kehidupan masyarakat seperti penyelenggaraan pendidikan,
pemberantasan penyakit sosial, pembangunan ekonomi untuk mengatasi kemiskinan, adalah
beberapa contoh kerja sama yang dilakukan antara umat Islam dengan umat beragama lain.
(Ajat Sudrajat,2008:145)

Kerukunan umat Islam dengan penganut agama lainnya telah jelas disebutkan dalam
Alqur’an dan Al-hadits. Hal yang tidak diperbolehkan adalah dalam masalah akidah dan
ibadah, seperti pelaksanaan sosial, puasa dan haji, tidak dibenarkan adanya toleransi, sesuai
dengan firman-Nya dalam surat Al Kafirun: 6, yang artinya: “Bagimu agamamu, bagiku
agamaku”.Beberapa prinsip kerukunan antar umat beragama berdasar Hukum Islam :

a. Islam tidak membenarkan adanya paksaan dalam memeluk suatu agama (QS.Al

Baqarah : 256).

b. Allah SWT tidak melarang orang Islam untuk berbuat baik,berlaku adil dan
tidak boleh memusuhi penganut agama lain,selama mereka tidak memusuhi,tidak
memerangi dan tidak mengusir orang Islam.(QS. Al-Mutahanah : 8).

c. Setiap pemeluk agama mempunyai kebebasan untuk mengamalkan syari'at


agamanya masing-masing (QS.Al-Baqarah :139).

d. Islam mengharuskan berbuat baik dan menghormati hak-hak tetangga,tanpa


membedakan agama tetangga tersebut.Sikap menghormati terhadap tetangga itu
dihubungkan dengan iman kepada Allah SWT dan iman kepada hari akhir (Hadis
Nabi riwayat Muttafaq Alaih).
e. Barangsiapa membunuh orang mu'ahid,orang kafir yang mempunyai perjanjian
perdamaian dengan umat Islam, tidak akan mencium bau surga;padahal bau surga itu
telah tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun (Hadis Nabi dari Abdullah bin
'Ash riwayat Bukhari).

Namun perlu ditegaskan lagi, toleransi tidak dapat disama artikan dengan mengakui
kebenaran semua agama dan tidak pula dapat diartikan kesediaan untuk mengikuti ibadat-
ibadat agama lain. Toleransi harus menerima apa saja yang dikatakan orang lain asal bisa
menciptakan kedamaian dan kebersamaan (Ajat Sudrajat, 2008:146).

Kerukunan antar umat beragama sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-


hari. Dengan adanya kerukunan antar umat beragama kehidupan akan damai dan hidup
saling berdampingan. Perlu di ingat satu hal bahwa kerukunan antar umat beragama bukan
berarti kita megikuti agama mereka bahkan menjalankan ajaran agama mereka. Untuk itulah
kerukunan hidup antar umat beragama harus kita jaga agar tidak terjadi konflik-konflik antar
umat beragama. Terutama di masyarakat Indonesia yang multikultural dalam hal agama, kita
harus bisa hidup dalam kedamaian, saling tolong menolong, dan tidak saling bermusuhan
agar agama bisa menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang secara tidak langsung
memberikan stabilitas dan kemajuan negara.

E. Toleransi dalam Beragama/ hidup berdampingan dengan agama lain.


Yakni umat Islam dilarang untuk memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk
agama Islam secara paksa. Karena tidak ada paksaan dalam agama. Allah berfirman:

ِ‫امِلَ َها‬
َِ ‫ص‬ ْ ِ‫سكَ ِبِ ْالعُ ْر َوة‬
َ ‫ِال ُوثِْقَىِالَِا ْن ِف‬ َ ‫اَّللِِفَِقَدِِا ْستَ ْم‬
َّ ِ‫ِِويُؤْ ِِم ْنِب‬ َّ ‫يِفَ َم ْنِيَ ْكفُ ْرِبِال‬
ُ ‫طا‬
َ ‫غوت‬ ْ َ‫ِالر ْشد ُِِمن‬
ِّ َ‫ِالغ‬ ِ ‫الَِإِ ْك َراهَِفِيِال ِد‬
ُّ َ‫ّينِقَدِْتَبَيَّن‬
ِ ‫س ِمي ٌعِ َع ِلي ٌِم‬ َّ ‫َو‬
َ ُِ‫َّللا‬

“Tidak ada paksaan dalam masuk ke dalam agama Islam, karena telah jelas antara
petunjuk dari kesesatan. Maka barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman
kepada Alloh sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat yang tidak
akan pernah putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqoroh
: 256 )

َ ‫فَذَ ِ ّك ْرِإِنَّ َماِأ َ ْنتَ ِ ُمذَ ِ ّك ٌرِلَسْتَ ِ َعلَ ْي ِه ْمِبِ ُم‬


ِ ِ‫سي ِْطر‬

“Berilah peringatan, karena engkau ( Muhammad ) hanyalah seorang pemberi


peringatan, engkau bukan orang yang memaksa mereka.” ( Qs. Al-Ghosyiyah : 21 -22 )
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut menjelaskan: Janganlah memaksa
seorangpun untuk masuk Islam. Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang semua
ajaran dan bukti kebenarannya, sehingga tidak perlu memaksakan seseorang untuk masuk ke
dalamnya. Orang yang mendapat hidayah, terbuka, lapang dadanya, dan terang mata hatinya
pasti ia akan masuk Islam dengan bukti yang kuat. Dan barangsiapa yang buta mata hatinya,
tertutup penglihatan dan pendengarannya maka tidak layak baginya masuk Islam dengan
paksa.

F. Manfaat-manfaat yang diperoleh dari sikap toleransi dan kerukunan.


Manfaat yang diperoleh dari sikap toleransi dan kerukunan antara lain;
1. menghindari terjadinya perpecahan

Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan dalam


mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi yang
selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial. Toleransi dalam kehidupan beragama
menjadi sangat mutlak adanya dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun agama
ardli dalam kehidupan umat manusia ini. Dalam kaitanya ini Allah telah mengingatkan
kepada umat manusia dengan pesan yang bersifat universal, berikut firman Allah SWT:

ِ‫شفَا ُح ْف َرة ِّمنَال َّن‬ ْ َ ‫َص ُمواْبِ َحب ِْالللّ ِه َج ِميعً َاوالَتَفَ َّرقُواْ َواذْ ُك ُرواْنِ ْع َمةَاللّ ِهعَلَ ْي ُك ْمإِذْ ُكنتُ ْمأ َ ْعدَاءفَأَلَّفَبَ ْينَقُلُوبِ ُك ْمفَأ‬
َ َ‫صبَحْ تُمِِبنِ ْع َمتِ ِهإ ِ ْخ َوانً َاو ُكنت ُ ْمعَلَى‬ ِ ‫َوا ْعت‬
َِ‫ِارفَأَنقَذَ ُكم ِّم ْن َها َكذَ ِل َكيُبَ ِّينُاللّ ُهلَ ُك ْمآيَاتِ ِه َل َعلَّ ُك ْمِتَ ْهتَد ُون‬
”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan
hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;
dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari
padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu
mendapat petunjuk.” (Al-Imran:103)

Ini merupakan pesan kepada segenap umat manusia tidak terkecuali, yang
intinya dalam menjalankan agama harus menjauhi perpecahan antar umat beragama
maupun sesama umat beragama.

2. memperkokoh silaturahmi dan menerima perbedaan


Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan
memperkokoh tali silaturahmi antar-umat beragama dan menjaga hubungan yang baik
dengan manusia lainnya. Pada umumnya, manusia tidak dapat menerima perbedaan
antara sesamanya, perbedaan dijadikan alasan untuk bertentangan satu sama lainnya.
Perbedaan agama merupakan salah satu faktor penyebab utama adanya konflik antar
sesama manusia.
Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan kekuatan untuk
memperkokoh silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan ini, akan
terwujud perdamaian, ketentraman, dan kesejahteraan.

G. Hal-hal yang dapat terjadi apabila toleransi dan kerukunan di dalam masyarakat
diabaikan.
Jika toleransi dan kerukunana di dalam masyarakat diabaikan maka;
1. Menimbulkan konflik di dalam masyarakat dikarenakan tidak adanya saling
menghormati satu sama lain.
2. Semakin maraknya pelanggaran HAM yang disebabkan oleh reduksi universalitas
agama.
BAB III
Penutup

A. Kesimpulan
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran”, yang berarti
bersikap menghargai, membiarkan, dan membolehkan yang berbeda atau yang bertentangan
dengan pendiriannya. Toleransi boleh dalam 2 hal yakni dalam bernegara dan
bermasyarakat, akan tetapi toleransi tidak boleh bertentangan dengan syariat agama yakni
Al-Quran dan Hadist (shahih).

B. Saran
Dewasa ini banyak sekali pertentangan dalam berpendapat terutama menjelang pergantian
kekuasaan. Banyak argumen, ideologi, serta sudut pandang dari berbagai sumber yang akan
membahayakan kerukunan beragama. Penulis menghimbau jangan mudah menanggapai
suatu hal yang belum pasti akan kebenarannya dan jangan mudah untuk di provokasi oleh
oknum-oknum tertentu sehingga terjadinya perpecahan suku, agama, ras ,dan antar
golongan.
Daftar Pustaka

- Daud Ali, Mohammad, 1998. Pendidikan Agama Islam, Jakarata: Rajawalu pers.
- Sairin, Weinata. 2002. Kerukunan umat beragama pilar utama kerukunan berbangsa: butir-
butir pemikiran
- Tim Dosen Agama Islam ITS. Materi Kuliah Pendidikan Agama Islam. 2005. Surabaya:
ITS Pers.
- Wahyuddin.dkk. 2009. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta; PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia