Vous êtes sur la page 1sur 45

AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN

TOKOH – TOKOH GERAKAN PEMBARUAN ISLAM

DISUSUN OLEH:
 AYU SRIWAHYUNI ( 122017027)
 BELLA MARSELIA ( 122017042)
 LASKAR JIHAD ( 122017044)

DOSEN PEMBIMBING : S.Q Fardinan,S.Ag.M.Si


KELAS : IV A

PRODI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur tercurah kepada Allah SWT atas taufik, hidayah, berkat dan
rahmat-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan
kita Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya serta para pengikutnya hingga
akhir zaman.

Al Islam dan Kemuhammadiyahan ini adalah mata kuliah dengan bobot 2


SKS yang terdapat pada mata kuliah Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Palembang.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih kepada :

1. Dosen pembimbing

2. Semua pihak

Palembang,13 Maret 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER...........................................................................................1

KATA PENGANTAR...................................................................2

DAFTAR ISI..................................................................................3

BAB 1

PENDAHULUAN

a. Latar belakang ..................................................................4


b. Rumusan Maslah ..............................................................4
c. Tujuan Masalah.................................................................4

BAB II
PEMBAHASAN
a. Latar belakang terjadinya pembaruan islam...............5
b. Tokoh – tokoh pembaharuan islam
1. Muhammad bin abdul wahab....................................7
2. Al-tahtawi....................................................................11
3. Jamaludin al-afgani....................................................13
4. Muhammmad abduh..................................................24
5. Rasyid rida..................................................................33
6. Sayyid ahmad khan....................................................35
7. Taqqiyuddin ibnu taimiyah.......................................37
8. Sultan Mahmud ll.......................................................39
9. Al-farabi.......................................................................40
10. Muhammad Iqbal.....................................................42
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan......................................................................44
b. Saran.................................................................................44
Daftar Pustaka .............................................................................45

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setelah islam mengalami kekalahan dalam perang salib, banyak yang
terjadi kemunduran pada umat islam. Perubahan besar pun terjadi pada Barat dari
segala aspek, mulai dari ilmu pengetahuan hingga sistem kemiliteran. Barat dan
islam menjadi dua sisi yang berlawanan karena masing-masing memiliki dua
perbedaan mencolok. Barat mengambil komponen-komponen penting dalam
islam, tanpa meninggalkan sisa sedikitpun. Terbukti dengan pembakaran
perpustakaan-perpustakaan islam dan perampasan buku-buku ilmu pengetahuan,
hingga akhirnya islam memasuki era kegelapan. Umat muslim sedikit demi
sedikit tersingkirkan dari pergerakan zaman, sampai pada akhirnya umat
muslim;sebagian dari mereka namun tidak semua, merasa bahwa hal yang terjadi
pada islam ini berupa kemunduran dan masa kegelapan haruslah diakhiri.
Umat islam pun melakukan semacam ‘Renaisance’. Tapi bagi umat islam,
tidak hanya ilmu yang dikedepankan, namun juga dari segi keagamaan yang
tentunya orang Barat tidak punya. Perlahan-lahan umat islam mulai meneliti
faktor-faktor kemunduran dan komponen apa saja yang harus diperbaiki untuk
kembali pada masa yang cerah. Satu persatu muncul tokoh-tokoh berpendidikan
dari umat islam. Masing-masing dari mereka melakukan remedi atau perbaikan
pada hampir seluruh komponen yang dapat membantu kembalinya kejayaan umat
islam.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang terjadinya pembaharuan islam ?
2. Siapa saja tokoh pembaharuan islam ?

C. Tujuan Masalah
 Untuk mengetahui latar belakang terjadinya pembaruan islam
 Untuk mengetahui siapa saja tokoh pembaruan islam

4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Terjadinya Pembaharuan Islam
Mulai abad pertengahan merupakan abad gemilang bagi umat islam , pada
abad inilah daerah-daerah islam meluas di Barat melalui Afrika Utara sampai
Spanyol, di Timur melalui Persia sampai ke India.
Daerah-daerah ini tunduk karena kepada kekuasaan khalifah yang pada
mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian Damskus dan terakhir di Bagdad.
Dari situlah banyak lahir pemikir-pemikir hebat. Dari lahirnya pemikir dan para
ulama besar itu, maka ilmu pengetahuan berkambang pesat sampai ke puncaknya,
baik dalam bidang agama, non agama dan bidang kebudayaan lainya.
Para pemikir dan ulama islam pada saat itu bukan hanya dapat
mengislamisasikan pengetahuan-pengetahuan Persia kuno dan warisan-warisan
Yunani, akan tetapi kedua kebudayaan itu di sesuaikan pula dengan kebutuhan
dan perkembangan pemikiran pada masa itu. Ilmu pengetahuan yang telah di
tampung dan diolah oleh para pemikir islam.
Pada abad selanjutnya pemikiran islam memasuki benua Eropa melalui
Spayol dan Sisilia dan inilah yang menjadi dasar ilmu yang menguasai alam
pikiran Barat.
Dipandang dari sisi sejarah dan kebudayaan maka tugas meme-lihara dan
menyebarkan ilmu pengetahuan tidaklah kecil nilainya dibanding mencipta ilmu
pengetahuan. Jika tugas-tugas penelitian diadakan oleh Aristoteles, Galinus dan
para ilmua lainnya tidak ditampung maka dunia akan miskin dengan ilmu. Puncak
kemegahan dunia islam itu akhirnya menurun, islam mulai mengalami
kemunduran pada abad ke-10 dan tenggelam berabad-abad lamanya.
Faktor penyebab kemunduran umat islam:
 Isu pintu ijtihad tertutup telah meluas dikalangan umat islam. Berpaling
pikiran untuk menggali secara langsung pada sumber pertama dan utama, yaitu
Al-Qur’an dan Al-Hadits. Apabila mereka menemukan persoalan baru, pikiran
mereka hanya terpusat pada kepentingan mazhab. Praktek bermazhab dan ta’assuk
terhadap mazhab tertentu sangat marak dilakukan. Karena itulah ilmu
5
pengetahuan mulai berkurang, kehidupan berkelompok dengan pengaruh
negatifnya tersebar hampir disemua tempat di dunia islam.
 Keutuhan umat islam dalam bidang politik mulai terpecah, kekuasaan
khalifah menurun, masyarakat islam yang berbentuk persatuan dan kesatuan
dalam seiman telah pindah. Tidak ada satu ikatan di dalamnya kecuali nama dan
tatanan. Umat Islam terpecah belah dan saling bermusuhan, masyarakat islam
berubah dan kerajaan islam telah mewariskan kota-kota dan kerajaan yang telah
bertikai selama berabad-abad, dalam sekejap mata sejarah kemanusiaan telah
dirobek-robek oleh kelemahan strategi politik.
 Adanya perang salib dibawah arahan gereja katolik Roma dan serbuan
tentara barbar. Karena itu khalifah sebagai lambang kesatuan politik umat islam
hilang. Tentara salib ingin menguasai baitul maqdis untuk menyebarkan
pengaruhnya dan mengajak bersatu dalam keyakinan.
Masa kemunduran ini berlangsung berabad-abad lamanya hingga muncul
gerakan yang dikumandangkan oleh pelopor-pelopor pembaharuan seperti Ibnu
Taimiyah dengan muridnya Ibnu Al-Qoyyim, Muhammad Ibnu ‘Abdul Wahab,
Muhammad Ibnu Ali Sanusi Al-Kabir, dan lain-lain.
Diantara yang mendorong timbulnya pembaharuan dan kebangkitan islam adalah:
- Paham tauhid yang dianut kaum muslimim yang bercampur dengan kebiasaan
yang dipengaruhi oleh kelompok-kelompok, pemujaan terhadap orang-orang suci
dan hal lain yang membawa kepada kekufuran.
- Sifat jumud membuat umat islam berhenti berpikir dan berusaha. Umat islam
maju dikarenakan pada saat itu mereka mementingkan ilmu pengetahuan. Oleh
karena itu selama umat islam masih bersifat jumud dan tidak mau berpikir untuk
berijtihad maka mereka tidak mungkin mengalami kemajuan. Untuk itu perlu
diadakan pembaharuan yang berusaha memberantas kejumudan.
- Umat islam selalu berpecah belah, mereka tidak akan mengalami kemajuan
apabila tidak adanya persatuan dan kesatuan yang diikat oleh tali ajaran islam.
Karena itulah, bangkit suatu gerakan pembaharuan.
- Hasil dari kontak yang terjadi antara dunia islam dan barat. Dengan adanya
kontak ini mereka sadar bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan
6
dengan barat. Terutama sekali saat terjadinya peperangan antara kerajaan ustmani
dengan kerajaan eropa, yang biasanya tentara kerajaan utsmani selalu menang
dalam peperangan dan pada akhirnya mengalami kekalahan ditangan barat. Hal ini
membuat pembesar-pembesar utsmani menyelidiki rahasia kekuatan militer eropa
yang baru muncul. Ternyata rahasianya adalah kekuatan militer modern yang
dimiliki eropa sehingga pembaharuan juga dipusatkan pada bidang militer.
Pembahuran dalam islam berbeda dengan renainsans Barat. Kalau
renainsans Barat muncul dengan menyingkirkan agama, maka pembaharuan islam
sebaliknya, yaitu untuk memperkuat prinsip dan ajaran-ajaran agama islam. Islam
bukan hanya mengajak maju ke depan untuk melawan segala kebodohan dan
kemajuan islam itu sendiri.
B. Tokoh-tokoh pembaharuan Islam
Berawal dari kemunduran yang di alami oleh umat islam dan Barat
semakin menunjukan Eksistensinya sebagai pusat peradaban. Akhirnya munculah
banyak pemikir-pemikir islam yang tersadar bahwa keadaan umat islam saat itu
sangat terbelakang. Maka mereka melakukan suatu gerakan yang menghasilkan
gagasan untuk membangkitkan umat islam dari ketepurukan itu. Dan sangat
banyak tokoh-tokoh yang memberikan jasa nya. Di makalah ini kita hanya
memaparkan beberapa tokoh yang paling berpengaruh bagi islam.
Tokoh-tokoh yang memelopori gerakan pembaharuan dunia Islam, antara
lain:
1. Muhammad bin Abdul Wahab

Di Arabia timbul suatu aliran Wahabiyah, yang mempunyai pengaruh pada


pemikiran pembaharuan di abad ke-19. Pencetusnya ialah Muhammad bin Abdul
Wahab (1703-1787) yang lahir di Uyainah, Nejd, Arab Saudi. Setelah
menyelesaikan pelajarannya di Madinah ia pergi merantau ke Basrah dan tinggal
7
di kota ini selama empat tahun. Selanjutnya ia pindah ke Bagdad dan di sini ia
menikah dengan seorang wanita kaya. Lima tahun kemudian, setelah istrinya
meninggal dunia, ia pindah ke Kurdistan, selanjutnya ke Hamdan, dan ke Isfahan.
Di Kota Isfahan, ia sempat mempelajari filsafat dan tasawuf. Setelah bertahun-
tahun merantau, ia akhirnya kembali ke tempat kelahirannya di Nejed.
Pemikiran yang dicetuskan Muhammad bin Abdul Wahab untuk
memperbaiki kedudukan umat Islam timbul bukan sebagai reaksi terhadap
suasana politik seperti yang terdapat di Kerajaan Utsmani dan Kerajaan Mughal,
tetapi sebagai reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam
di waktu itu. Kemurnian paham tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran-ajaran
tarekat yang semenjak abad ketiga belas memang tersebar luas di dunia Islam.
Soal tauhid memang merupakan ajaran paling dasar dalam Islam. Oleh
karena itu, tidak mengherankan kalau Muhammad bin Abd Wahhab memusatkan
perhatian pada soal ini. Ia berpendapat seperti berikut:
a. Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah Swt., dan orang yang
menyembah selain Allah Swt. telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
b. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya
karena mereka meminta pertolongan bukan lagi dari Allah, tetapi dari syekh
atau wali dari kekuatan gaib. Orang Islam demikian juga telah menjadi
musyrik.
c. Menyebut nama nabi, syekh, atau malaikat sebagai perantara dalam doa juga
merupakan syirik.
d. Meminta syafa’at selain dari kepada Allah Swt. adalah juga syirik.
e. Bernazar kepada selain dari Allah Swt. juga syirik.
f. Memperoleh pengetahuan selain dari al-Qur’an, hadis dan qias (analogi)
merupakan kekufuran.
g. Tidak percaya kepada qada dan qadar Allah Swt. juga merupakan kekufuran.
h. Demikian pula menafsirkan al-Qur’an dengan ta’wil (interpretasi bebas)
adalah kufur.

8
Pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abd Wahhab yang mempunyai
pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan di abad ke-19 antara lain
seperti berikut:
a. Hanya al-Qur’an dan hadislah yang merupakan sumber asli dari ajaran-ajaran
Islam. Pendapat ulama tidak merupakan sumber.
b. Taklid kepada ulama tidak dibenarkan.
c. Pintu ijtihad terbuka dan tidak tertutup.
 Keistimewaan Da’wah Muhammad bin Abdul Wahab
Da’wah yang dilakukan Muhammad bin Abdul Wahab mempunyai
banyak kesitimewaan, diantaranya adalah :
1. Perilaku yang Jernih
Sesungguhnya perilaku Muhammad bin Abdul Wahab telah tercermin di
dalam pribadi, ilmu, sikap agama, akhlak, dan pergaulannya terhadap orang-orang
yang mendukung maupun yang menentangnya.
2. Sumber Yang Bersih
Sumber ilmu, adab, dan akhlak yang diterima oleh Muhammad bin Abdul
Wahab adalah sumber-sumber yang syar'i, fitrâh, kuat, dan murni. Hal ini
merupakan cerminan dari al-Qur'an, sunnah Nabi, dan jejak peninggalan para
salaf al-shâlih yang lepas dari falsafah dan tasawuf, kesenangan nafsu, dan
kerancuan-kerancuan dalam lingkungan keluarga.
3. Manhâj Yang Baik
Dalam menjabarkan ketetapan agama kepada para pengikut dan orang-
orang menentangnya adalah manhaj Syar'i yang salaf, murni, bersih dari kotoran-
kotoran, asli, kokoh, terang, realistis, yang berpedoman pada al-Qur'an dan
sunnah, serta patut untuk mendirikan sebuah masyarakat Islami.
4. Berorientasi pada Manhâj Salaf al-Shâlih
Da'wah Islam Muhammad bin Abdul Wahab dalam segala sesuatu
menggunakan manhâj salaf al-shâlih. Itulah yang membuat manhâj-nya memiliki
ciri khas tersendiri, yakni murni, realiatis, mantap dan meyakinkan. Hasilnya ia
sanggup menegakkan syi'ar dan dasar-dasar agama sangat sempurna, yang
meliputi masalah tauhid, shalat, jihad, amar ma'ruf nahi mungkar, penegak
9
hukum, keadilan, keamanan, tampilnya keutamaan-keutamaan dan
tersembunyinya kerendahan-kerendahan. Agama dan ilmu menjadi sangat marak
di setiap negara yang terjangkau oleh seruan da'wahnya yang ada di Kerajaan
Arab Saudi.
5. Penuh Semangat dan Berwawasan Luas
Hal lain yang membuat manhâj Muhammad bin Abdul Wahab menjadi
istimewa ialah semangat dan keyakinannya yang sangat tinggi dalam menegakkan
kalimat Allah, membela agama, menyebarkan Sunnah Nabi dan mengobati
penyakit-penyakit yang diderita oleh ummat berupa berbagai macam bid'ah,
kemungkaran, kebodohan, perpecahan, kedzaliman dan keterbelakangan.
Semangat yang tinggi dan wawasan luas dalam hal teori dan praktek yang
dimilikinya nampak jelas dari banyak hal. Diantaranya adalah:

· Perhatiannya yang fokus terhadap masalah-masalah yang utama, seperti


masalah tauhid dan kewajiban-kewajiban agama, dengan tidak
mengenyampingkan masalah-masalah yang lainnya.
· Kesiapannya sejak dini untuk menghadapi berbagai rintangan, ditambah
wawasan yang luas dan kemampuan memiliki antipasi yang peka untuk
menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi.

6. Kemampuan dan Kesuksesan


Berkat Muhammad bin Abdul Wahab, Allah berkenan menolong agama
dan memuliakan sunnah Nabi. Ia baru meningal dunia setelah sempat
menyaksikan buah da'wahnya yang ia rintis dengan susah payah, yakni dengan
berkibarnya bendera sunnah dan berdirinya negeri tauhid pada zaman
pemerintahan Imam Abdul Aziz bin Muhamad dan Putranya, Sa'ud. Bendera
tersebut terus berkibar melambangkan kejayaan, kemenangan, kewibawaan,
kekuasaan, dan kedamaian. Hal itu dilihat sebagai dominasi agama dan
tenggelamnya berbagai macam bid'ah. Dan, kebanyakan gerakan-gerakan Islam
sekarang ini merupakan kelanjutan yang alami dari gerakan Salafiyah di jazirah
Arab.
10
2. Al-Tahtawi

 Biografi
Rifa’ah Badawi Rafi’ al-Tahtawi adalah pembawa pemikiran pembaharuan
yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama dari abad ke sembilan belas di
Mesir. Dalam gerakan pembaharuan Muhammad Ali Pasya, at-Tahtawi turut
memainkan peranan.Ia lahir pada tahun 1801 di Tahta, suatu kota yang terletak di
Mesir bagian selatan, dan meninggal di Cairo pada tahun 1873. Ketika
Muhammad Ali mengambil alih seluruh kekayaan yang dikuasai itu, ia terpaksa
belajar di masa kecilnya dengan bantuan dari keluarga ibunya. Ketika berumur 16
tahun ia pergi ke Cairo untuk belajar di al-Azhar. Setelah lima tahun menuntut
ilmu ia selesai dari studinya di al-Azhar pada tahun 1922.
 Pemikiran-pemikiran Pembaharuan.
1. Jika umat Islam ingin maju harus belajar ilmu pengetahuan sebagaimana
kemajuan yang terjadi Barat (Eropa). Untuk itu umat Islam harus berani
belajar dari Barat.
2. Negara yang baik adalah Negara yang pandai meningkatkan ekonomi
rakyat, sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Fir’aun.
3. Kekuasaan Raja sangat absolut, sehingga perlu dibatasi oleh Undang-
undang Syariat yang yang dipimpin oleh majlis syura (ulama). Oleh
karena antara Raja dengan ulama harus bisa berunding untuk
melaksanakan hukum syariat.
4. Umat Islam harus menguasai bahasa asing jika ingin maju di samping
bahasa Arab. Bahasa Arab adalah berfungsi untuk memahami al-Qur’an

11
dan al-Hadits, bahasa asing berfungsi untuk menerjemahkan dan
memahami ilmu dan peradaban Barat.
5. Ulama Islam harus memahami ilmu-ilmu pengetahuan modern jika tidak
ingin umat Islam ketinggalan
6. Umat Islam tidak boleh bersikap fatalis (pasrah dengan keadaan) tanpa
berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita

Rifa’ah Baidawi Rafi’ Al-Tahtawi demikian nama lengkapnya. Ia lahir pada


tahun 1801 M di Tahta, suatu kota yang terletak di Mesir bagian selatan dan
meninggal di Kairo pada tahun 1873 M. Ketika Muhammad Ali mengambil alih
seluruh kekayaan di Mesir, harta orang tua Al-Tahtawi termasuk dalam kekayaan
yang dikuasai itu. Ia terpaksa belajar di masa kecilnya dengan bantuan dari
keluarga ibunya. Ketika berumur 16 tahun, ia pergi ke Kairo untuk belajar di Al-
Azhar. Setelah lima tahun menuntut ilmu, ia selesai dari studinya di Al-Azhar
pada tahun 1822 M.
Beberapa pemikirannya tentang pembaruan Islam adalah sebagai berikut:
a. Ajaran Islam bukan hanya mementingkan soal akhirat, tetapi juga soal hidup
di dunia. Umat Islam juga harus memperhatikan kehidupan dunia.
b. Kekuasaan raja yang absolut harus dibatasi oleh syariat, raja harus
bermusyawarah dengan ulama dan kaum intelektual.
c. Syariat harus diartikan sesuai dengan perkembangan modern.
d. Kaum ulama harus mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan modern agar
syariat dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat modern.
e. Pendidikan harus bersifat universal, misalnya wanita harus memperoleh
pendidikan yang sama dengan kaum pria. Istri harus menjadi teman dalam
kehidupan intelektual dan sosial.
f. Umat Islam harus dinamis dan meninggalkan sifat statis.

12
3. Jamaludin Al-Afgani

 Biografi
Jamaluddin Al-Afghani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam
yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah dari satu negara Islam ke negara
Islam lain. Pengaruh terbesar ditinggalkannya kalau uraian mengenai pemikiran
dan aktivitasnya dimasukkan ke dalam bagian tentang pembaharuan di Mesir.
Jamaluddin Al-Afghani lahir di Afghanistan pada tahun 1839 dan meninggal
dunia di Istambul di tahun 1897. Di tahun 1864 ia menajdi penasehat Sher Ali
Khan. Beberapa tahun kemudian ia diangkat oleh Muhammad A’zam Khan
menjadi Perdana Menteri. Pada itu Inggris telah mulai mencampuri soal politik
dalam negeri Afghanistan dan dalam pergolokan yang terjadi Al-Afghani memilih
pihak yang melawan golongan yang disokong Inggris. Pihak pertama kalah dan
Al-Afghani merasa lebih aman meninggalkan tanah tempat lahirnya dan pergi ke
India di tahun 1869.
Jamaludin lahir di Afghanistan pada tahun 1839 dan meninggal dunia di
Istambul pada tahun 1897. Ketika baru berusia dua puluh dua tahun, ia telah
menjadi pembantu bagi Pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Di
tahun 1864 ia menjadi penasihat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian, ia
diangkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi perdana menteri. Dalam pada itu,
Inggris mulai mencampuri soal politik dalam negeri Afghanistan dan
dalam pergolakan yang terjadi Al-Afgani memilih pihak yang melawan golongan
yang disokong Inggris. Pihak pertama kalah dan Al-Afgani merasa lebih aman
meninggalkan tanah tempat lahirnya dan pergi ke India di tahun 1869.
Di India ia juga merasa tidak bebas bergerak karena negara ini telah jatuh ke
bawah kekuasaan Inggris, dan oleh karena itu ia pindah ke Mesir di tahun 1871. Ia
menetap di Cairo dan pada mulanya menjauhi persoalan-persoalan politik Mesir

13
dan memusatkan perhatian pada bidang ilmiah dan sastra Arab. Di sanalaha ia
memberikan kuliah dan mengadakan diskusi. Menurut keterangan Muhammad
Salam Madkur, para peserta terdiri atas orang-orang terkemuka dalam bidang
pengadilan, dosen-dosen, mahasiswa dari Al-Azhar serta perguruan-perguruan
tinggi lain, dan juga pegawai-pegawai pemerintah. Tetapi ia tidak lama dapat
meninggalkan lapangan politik. Di tahun 1876 turut campur tangan Inggris dalam
soal politik di Mesir makin meningkat.
Dari Mesir Al-Afghani pergi ke Paris dan di sini ia mendirikan
perkumpulan Al-’Urwah Al-Wusqa. Anggotanya terdiri atas orang-orang Islam
dari India, Mesir, Suria, Afrika Utara dan lain-lain. Di antara tujuan yang hendak
dicapai ialah memperkuat rasa persaudaraan Islam, membela Islam dan membawa
umat Islam kepada kemajuan. Sewaktu di Eropa Al-Afghani mengadakan
perundingan dengan Sir Randolp Churchil dan Drummond Wolf tentang masalah
Mesir dan tentang penyelesaian pemberontakan Al-Mahdi di Sudan secara damai.
Tetapi kedua usaha itu tidak membawa hasil.
Al-Afghani dikenal sebagai orang yang menghabiskan hidupnya hanya
demi kemajuan islam. Ia rela beranjak dari suatu negara ke negara lainnya demi
menyuarakan pemikiran-pemikiran revolusionernya, tentunya demi mengangkat
posisi dan martabat Islam yang jauh tertinggal dari dunia barat. Di zamannya
Islam berada di bawah bayang-bayang imperialisme Barat. Kondisi masyarakat
muslim yang jauh dari Islam, menurutnya adalah salah satu penyebab utama
kemunduran dunia Islam. Fanatisme yang masih kental kala itu, belum lagi
dengan tidak adanya rasa persaudaraan di antara sesama muslim yang
berkonsekwensi pada minimnya rasa solidaritas menjadikan masyarakat muslim
rentan terhadap perpecahan.
Tetapi pada itu tak boleh dilupakan bahwa kegiatan politik yang
dijalankan Al-Afghani sebenarnya didasarkan pada ide-idenya tentang
pembaharuan dalam Islam. Pemikiran pembaharuannya berdasar atas keyakinan
bahwa Islam adalah yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua
keadaan, kalau kelihatan ada pertentangan antara ajaran-ajaran Islam dengan
kondisi yang dibawa perubahan zaman dan perubahan kondisi, penyesuaian dan
14
diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru tentang ajaran-ajaran Islam seeprti
yang tercantum dalam al-Qur`an dan Hadits. Untuk interpretasi itu diperlukan
ijtihad dan pintu ijtihad baginya terbuka.

 Pemikiran Politik Jamaluddin Al-Afghani

Al-Afghani berpendapat bahwa kemunduran umat Islam disebabkan antara


lain karena umat telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran
qada dan qadar telah berubah menjadi ajaran fatalisme yang enjadikan umat
menjadi statis. Sebab-sebab lain lagi adalah perpecahan di kalangan umat Islam
sendiri, lemahnya persaudaraan antara umat Islam dan lain-lain.

Untuk mengatasi semua hal itu antara lain menurut pendapatnya ialah umat
Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang benar, mensucikan hati,
memuliakan akhlak, berkorban untuk kepentingan umat, pemerintah otokratis
harus diubah menjadi demokratis, dan persatuan umat Islam hars diwujudkan
sehingga umat akan maju sesuai dengan tuntutan zaman. Ia juga
menganjurkan umat Islam untuk mengembangkan pendidikan secara umum, yang
tujuan akhirnya untuk memperkuat dunia Islam secara politis dalam menghadapi
dominasi dunia barat. Ia berpendapat tidak ada sesuatu dalam ajaran Islam yang
tidak sesuai dengan akal/ilmu pengetahuan, atau dengan kata lain Islam tidak
bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Selanjutnya bagaimana ide-ide
pembaharuan dan pemikiran politik Al-Afghani tentangnegara dan sistem
pemerintahan akan diuraikan berikut ini :

1. Bentuk negara dan pemerintahan

Menurut Al-Afghani, Islam menhendaki bahwa bentuk pemerintahan


adalah republik. Sebab, di dalamnya terdapat kebebasan berpendapat dan kepala
negara harus tunduk kepada Undang-Undang Dasar. Pendapat seperti ini baru
dalam sejarah politik Islam yang selama ini pemikirnya hanya mengenal bentuk
khalifah yang mempunyai kekuasaan absulot. Pendapat ini tampak

15
dipengaruhi oleh pemikiran barat, sebab barat lebih dahulu mengenal
pemerintahan republik, meskipun pemahaman Al-Afghani tidak lepas terhadap
prinsip-prinsip ajaran Islam yang berkaitan dengan dengan kemasyarakatan dan
kenegaraan. Penafsiran atau pendapat ersebut lebih maju dari Abduh yaitu Islam
tidak menetapkan suatu bentuk pemerintahan , maka bentuk demikianpun harus
mengikuti masyarakat dalam kehidupan materi dan kebebasan berpikir. Ini
mengandung makna, bahwa apapun bentuk pemerintahan, Abduh menghendaki
suatu pemerintahan yang dinamis.

Pemunculan ide Al-Afghani tersebut sebagai reaksi kepada salah satu


sebab kemunduran politis yaitu pemerintah absulot.

a. Sistem Demokrasi
Di dalam pemerintahan yang absulot dan otokratis tidak ada kebebasan
berpendapat, kebebasan hanya ada pada raja/kepala gegara untuk bertindak yan
tidak diatur oleh Undang-undang. Karena itu Al-Afghani menghendaki agar corak
pemerintahan absulot diganti dengan dengan corak pemerintahan demokrasi.
Pemerintahan demokratis merupakan salah satu identitas yang paling khas
dari dari pemerintahan yang berbentuk republik. Demokrasi adalah pasangan
pemerintahan republik sebagaimana berkembang di barat dan diterapkan oleh
Mustafa Kemal Attaturk di Turki sebagai ganti pemerintahan khalifah. Dalam
pemerintahan negara yang demokratis, kepala negara harus mengadakan syura
dengan pemimpin-pemimpin masyarakat yang berpengalaman karena
pengetahuan manusia secara individual terbatas sekali dan syura diperintahkan
oleh Allah dalam Al-Qur’an agar dapat dipraktekkan dalam berbagai urusan.

Selanjutnya ia berpendapat pemerintahan otokrasi yang cenderung


meniadakan hak-hak individu tidak sesuai dengan ajaran Islamyang sangat
menghargai hak-hak individu. Maka pemerintahan otokrasi harus diganti dengan
pemerintahan yang bercorak demokrasi yang menjunjung tinggi hak-hak individu.
Menurut Al-Afghani, pemerintahan yang demokrasi menghendaki adanya majelis

16
perwakilan rakyat. Lembaga ini bertugas memberikan usul dan pendapat kepada
pemerintah dalam menentukan suatu kebijakan negara. Urgensi lembaga ini untuk
menghindari agar tidak muncul pemerintahan yang absulot. Ide atau usul para
wakil rakyat yan berpengalaman merupakan sumbangan yang berharga bagi
pemerintah. Karena itu para wakil rakyat harus yang berpengetahuan dan
berwawasan luas serta bermoral baik. Wakil-wakil rakyat yang demikian
membawa dampak positif terhadap pemerintah sehingga akan melahirkan undang-
undang dan peraturan atau keputusan yang baik bagi rakyat.

Selanjutnya, para pemegang kekuasaan haruslah orang-orang yang paling


taat kepada undang-undang. Kekuasaan yang diperoleh tidak lantaran kehebatan
suku, ras, kekuatan material dan kekayaan. Baginya kekuasaan itu harus diperoleh
melalui pemilihan dan disepakati oleh rakyat. Dengan demikian orang yang
terpilih memiliki dasar hukum untuk melaksanakan kekuasaan itu.

Pendapat di atas mengisyaratkan bahwa sumber kekuasaan menurut Al-Afghani


adalah rakyat, karena dalam pemerintahan republik, kekuasaan atau kedaulatan
rakyat terlembaga dalam perwakilan rakyat yang anggotanya dipilih oleh rakyat.

b. Pan Islamisme / Solidaritas Islam

Al-Afghani menginginkan adanya persatuan umat Islam baik yang sudah


merdeka maupun masih jajahan. Gagasannya ini terkenal dengan Pan Islamisme.
Ide besar ini menghendaki terjalinnya kerjasama antara negara-negara Islam
dalam masalah keagamaan, kerjasama antara kepala negara Islam. Kerjasama itu
menuntut adanya rasa tanggungjawab bersama dari tiap negara terhadap umat
Islam dimana saja mereka berada, dan menumbuhkan keinginan hidup bersama
dalam suatu komunitas serta mewujudkan kesejahteraan umat Islam.Kesatuan
benar-benar menjadi tema pokok pada tulisan Al-Afghani. Ia menginginkan agar
umat Islam harus mengatasi perbedaan doktrin dan kebiasaan permusuhan.
Perbedaan sekte tidak perlu menjadi hambatan dalam politik, dan kaum muslimin

17
harus mengambil pelajaran dari contoh Jerman, yang kehilangan kesatuan
nasionalnya karena terlalu memandang penting perbedaan agama. Bahkan
perbedaan besar dalam doktrin wilayah teluk, antara sunni dan syi’ah, dapat
dijembatani sehingga ia menyerukan kepada bangsa Persia dan Afghan supaya
bersatu, meskipun yang pertama adalah syi’ah dan yang kedua adalah bukan, dan
selama masa-masa akhir hidupnya ia melontarkan ide rekonsiliasi umum dari
kedua sekte tersebut.

Meskipun semua ide Al-Afghani bertujuan untuk mempersatukan umat


Islam guna menanggulangi penetrasi barat dan kekuasaan Turki Usmani yang
dipandangnya menyimpang dari Islam, tapi ide Pan-Islamnya itu tidak jelas.
Apakah bentuk-bentuk kerjasama tersebut dalam rangka mempersatukan umat
Islam dalam bentuk asosiasi, atau bentuk federasi yang dipimpin oleh seseorang
atau badan yang mengkoordinasi kerjasama tersebut, dan atau seperti negara
persemakmuran di bawah negara Inggris. Sebab ia mengetahui adanya kepala
negara di setiap negara Islam. Tapi, menurut Munawwir Sjadzali, Pan-
Islamismenya Al-Afghani itu adalah suatu asosiasi antar negara-negara Islam dan
umat Islam di wilayah jajahan untuk menentang kezaliman interen, para
pengusaha muslim yang lalim, menentang kolonialisme dan imperialisme barat
serta mewujudkan keadilan.

Al-Afghani menekankan solidaritas sesama muslim karena ikatan agama,


bukan ikatan teknik atau rasial. Seorang penguasa muslim entah dari bangsa mana
datangnya, walau pada mulanya kecil, akan berkembang dan diterima oleh suku
dan bangsa lain seagama selagi ia masih menegakkan hukum agama. Penguasa itu
hendaknya dipilih dari orang-orang yang paling taat dalam agamanya, bukan
karena pewarisan, kehebatan sukunya atau kekayaan materialnya, dan disepakati
oleh anggota masyarakatnya.Inilah ide pemikir orisinil yang merupakan
solidaritas umat yang dikenal dengan Pan-Islamisme atau Al-Jamiah al Islamiyah
(Persaudaraan sesama umat Islam sedunia. Namun usaha Al-Afghani tentang Pan-
Islamismenya ini tidak berhasil.
18
c. Pemikiran Afghani: Revivalis dan Modernis

Semua orang sepakat bahwa dialah yang menghembuskan gerakan Islam


modern dan mengilhami pembaharuan di kalangan kaum Muslim yang hidup
ditengah-tengah kemodernan. Dia pula yang pengaruhnya amat besar terhadap
gerakan-gerakan pembebasan dan konstitusional yang dilakukan dinegara-negara
Islam setelah zamannya. Ia menggabungkan ilmu-ilmu tradisional Islamnya
dengan berbagai ilmu pengetahauan yang diperolehnya dari Eropa dan
pengetahuan moderen.

Afghani mengembangkan pemikiran (dan gerakan) salafiyah, yakni aliran


keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaannya, umat
Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dahulu
diamalkan oleh generasi pertama Islam, yang juga biasa disebut salaf (pendahulu)
yang saleh.Sebenarnya Afghani bukanlah pemikir Islam yang pertama yang
mempelopori aliransalafiyah (revivalis). Ibnu Taymiyah telah mengajarkan teori
yang serupa, begitu pula Syeikh Mohammd Abdul Wahab pada abad ke-18.

Tetapi salafiyah (baru) dari Afghani terdiri dari tiga komponen utama,
yakni; Pertama, keyakinan bahwa kebangunan dan kejayaan kembali Islam hanya
mungkin terwujud kalau umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang masih
murni, dan meneladani pola hidup para sahabat Nabi, khususnya Al-Khulafa al-
Rasyidin. Kedua, perlawanan terhadap kolonialisme dan dominasi Barat, baik
politik, ekonomi maupun kebudayaan. Ketiga, pengakuan terhadap keunggulan
barat dalam bidang ilmu dan teknologi, dan karenanya umat Islam harus belajar
dari barat dalam dua bidang tersebut, yang pada hakikatnya hanya mengambil
kembali apa yang dahulu disumbangkan oleh dunia Islam kepada Barat, dan
kemudian secara selektif dan kritis memanfaatkan ilmu dan teknologi Barat itu
untuk kejayaan kembali dunia Islam.Adapun alairan-aliran salafiyah sebelum
Afghani hanya terdiri dari unsur pertama saja. Dalam rangka usaha pemurnian
akidah dan ajaran Islam, serta pengembalian keutuhan umat Islam, Afghani

19
menganjurkan pembentukan suatu ikatan politik yang mempersatukan seluruh
umat Islam (Jami’ah islamiyah) atau Pan-Islamisme.

Menurut Afghani, asosiasi politik itu harus melipluti seluruh umat Islam
dari segala penjuru dunia Islam, baik yang hidup dalam negara-negara yang
merdeka, termasuk Persia, maupun mereka yang masih merupakan rakyat
jajahan. Ikatan tersebut, yang didasarkan atas solidaritas akidah Islam, bertujuan
membiana kesetiakawanan danpesatuan umat Islam dalam perjuangan; pertama,
menentang tiap sistempemerintahan yang dispotik atau sewenang-wenang, dan
menggantikannya dengan sistem pemerintahan yang berdasarkan musyawarah
seperti yang diajarkan Islam, hal mana juga berarti menentang sistem
pemerintahan Utsmaniyah yang absolut itu. Kedua, menentang kolonialisme dan
dominasi Barat.

Menurut Afghani, dalam ikatan itu eksistensi dan kemandirian masing-


masing negara anggota tetap diakui dan dihormati, sedangkan kedudukan para
kepala negaranya, apa pun gelarnya, tetap sama dan sederajat antara satu dengan
yang lain, tanpa ada satu pun dari mereka yang lebih ditinggikan.

 Konsep Politik dan Gagasan Pan-Islamisme Al-Afghani

Selama di Mesir Jamaluddin al-Afghani mengajukan konsep-konsep


pembaharuanya, antara lain yang pokoknya:

1. Musuh utama adalah penjajah (Barat).


2. Ummat Islam harus menentang penjajahan dimana dan kapan saja
3. Untuk mencapai tujuan itu ummat Islam harus bersatu (Pan-Islamisme).

Pan-Islamisme bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan Islam menjadi satu,


tetapi mereka harus mempunyai satu pandangan bersatu dalam kerjasama.
Persatuan dan kerjasama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam.

20
Persatuan Islam hanya dapat dicapai bila berada dalam kesatuan dan kembali
kepada ajaran Islam yang murni yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.Untuk
mencapai usaha-usaha pembaharuan tersebut di atas:

1. Rakyat harus dibersihkan dari kepercayaan ketakhayulan.


2. Orang harus yakin bahwa ia dapat mencapai tingkat atau derajat budi
luhur.
3. Rukun iman harus betul-betul menjadi pandangan hidup
4. Setiap generasi umat harus ada lapisan istimewa untuk memberikan
pengajaran dan pendidikan pada manusia yang bodoh dan memerangi
hawa nafsu jahat dan menegakkan disiplin.

Pengalaman yang diserap Al-Afghani selama lawatannya ke Barat


menumbuhkan semangatnya untuk mamajukan umat. Barat yang diperankan oleh
Inggris dan Prancis mulai hndak menancapkan dominasi politiknya di dunia
Islam, maka pasti akan berhadapan dengan Al-afghani. Adanya anggapan dasar
yang dipegang oleh Al-Afghani menghadapi Barat seperti diungkapkan L.
Stoddard yakni :

1. Dunia Kristen sekalipun mereka berbeda dalam keturunan, kebangsaan,


tetapi apabila menghadapi dunia Timur (Islam) mereka bersatu untuk
menghancurkannya.
2. Semangat perang Salib masih tetap berkobar, orang Kristen masih
menaruh dendam. Ini terbukti umat Islam diperlakukan secara diskriminatif
dengan orang Kristen.
3. Negara-negara Kristen membela agamanya. Mereka memandang Negara
Islam lemah, terbelakang dan biadab. Mereka selalu berusaha menghancurkan dan
menghalangi kemajuan Islam.
4. Kebencian terhadap umat Islam bukan hanya sebagain mereka, tetapi
seluruhnya. Mereka terus-menerus bersembunyi dan berusaha
menyembunyikannya.

21
5. Perasaan dan aspirasi umat Islam diejek dan difitnah oleh mereka. Istilah
nasionalisme dan patriotosme di Barat, di Timur disebut fanatisme.

 Pengaruh Jamaluddin Al-Afghani

Seperti sudah disebutan, Al-Afghani menyuarakan gagasan seperti Pan-


Islamisme. Sebenarnya gagasan seperti itu juga pernah disuarakan oleh Usmaniah
Muda, tetapi sangat kurang pengaruhnya terhadap bangsa-bangsa yang bahasanya
bukan turki. Sedangkan Al-Afghani mempublikasikan tulisan dalam bahasa Arab
dan Persia sehingga penulis-penulis terkemudian banyak menyebutkan bahwa
Al-Afghani merupakan pembaharu internal.

Ide pembebasan dari kendali barat, merupakan tujuan perjuangan politik


Al-Afghani yang paling populer. Ucapan-ucapan Al-Afghani banyak dikutip oleh
kaum modernis Islam, nasionalis, maupun Islam kontemporer yang mendukung
kebebasan seperti itu. Al-Afghani juga menarik bagi aktivis terkemudian
karena kehidupan politiknya yang luar biasa. Muslim maupun barat pernah
memiliki kontak dengan Al-Afghani. Penulis Barat seperti E.G. Brown dan
Wilfred Blunt membuat tulisan yang isinya membuat pengakuan dan memuji Al-
Afghani semakin memperkuat posisi Al-Afghani di dunia muslim. Fakta bahwa
Al-Afghani telah mempesona dan bahkan berdebat dengan orang-orang barat
terkemuka membuat sosok Al-Afghani semakin penting di mata intelektual
muslim. Akhirnya popularitas Al-Afghani yang berkelanjutan terjadi karena dia
dipandang berbahaya oleh orang-orang barat. Namun ada penilaian bahwa
pengaruh Al-Afghani lebih berdasarkan pada biografi yang pada umumnya mitos
dan interpretasi atas gagasan-gagasannya.Letak kebesaran Al-Afghani bukanlah
dia sebagai pemikir, meskipun dalam pemikiran itu ia tetap sangat penting karena
ia menunjukkan pandangan masa depan yang jauh dan daya baca zaman yang
tajam. Kebesarannya terletak terutama dalam peranannya sebagai pembangkit
kesadaran politik umat Islam menghadapi barat, dan pemberi jalan bagaimana
menghadapi arus modernisasi dunia ini.

22
Albert Hourani, misalnya memberikan komentar bahwa Al-Afghani adalah
seseorang yang karangannya tidak banyak dikenal tetapi pengaruh kepribadiannya
amat besar. Bahkan ide-ide Al-Afghani masih memberikan warna pada gerakan
kontemporer Islam, seperti Gerakan Kiri Islam yang dimotori oleh Hassan Hanafi.
Pada tahun 1981, Hanafi menerbitkan Jurnalnya, Al-Yasar al-Islamy (Kiri Islam),
sebagai tanda awal gerakannya. Menurutnya jurnal tersebut adalah kelanjutan dari
Al-Urwah al Wutsqa yang pernah diterbitkan oleh Al-Afghani dan Muhammad
Abduh. Tujuan jurnal tersebut menurut Hanafi , adalah berjuang melawan
kolonialisme dan keterbelakangan, berjuang untuk mewujudkan kebebasan,
keadilan sosial dan menyatukan dunia Islam.

Dengan demikian jelas sekali bahwa ide-ide Al-Afghani masih


menginspirasi pemikir-pemikir Islam kontemporer dalam menghadapi tantangan
umat Islam meskipun dalam konteks dan situasi zaman yang telah
berbeda.Sebagai seorang aktivis politik, nampaknya Al-Afghani lebih mantap
dalam karya-karya lisan (pidato) daripada dalam tulisan, sekalipun begitu, karya
tulisnya yang tidak terlalu banyak tetap mempunyai nilai besar dalam sejarah
umat di zaman modern. Beberapa tulisannya bernada pidato yang amat
bersemangat, menggambarkan penilaiannya tentang betapa mundurnya umat
islam dibanding dengan bangsa erofa yang telah ia saksikan. Tulisan-tulisannya
yang tersebar dalam bahasa Arab dan persia telah mengilhami berbagai gerakan
revolusioner Islam melawan penjajahan dan penindasan barat. Karena pada
dasarnya Al-Afghani adalah seorang revolusioner politik, ia mengemukakan ide-
idenya hanya dalam garis besar, berupa kalimat-kalimat yang bersemangat dan
ungkapan-ungkapan kunci, tanpa elaborasi intelektual yang lebih jauh.Adalah
Muhammad Abduh, muridnya yang paling utama yang menjabarkan pemikiran-
pemikiran kunci Al-Afghani setelah Abduh berpisah dari gurunya itu karena
hendak meninggalkan dunia politik dan lebih mencurahkan diri kepada bdang
keilmuan dan pendidikan. Dari Muhammad Abduh-lah substansi pemikiran Al-
Afghani menemukan formulasi intelektual yang lebih jauh. Melalui Abduh
gagasan pembaharuan pemikiran keagamaan menyebar di dunia Islam. Abduh
23
mengajukan argumentasi tentang keharusan membuka kembali pintu ijtihad untuk
selamanya, dan dengan keras menentang sistem penganutan tanpa kritik (taqlid).
Substansi ide-ide itu sebelumnya juga pernah dikemukakan oleh Al-Afghani
dalam makalahnya. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan apa yang
dikemukakan oleh Abduh, kemudian Rasyid Ridha dan para pemikir modernis
lainnya memiliki benang merah pemikiran pembaharuan Al-Afghani.

Beberapa pemikiran Jamaludin Al-Afgani tentang pembaruan Islam adalah


sebagai berikut:

a. Kemunduran umat Islam tidak disebabkan karena Islam tidak sesuai dengan
perkembangan zaman dan perubahan kondisi. Kemunduran itu disebabkan
oleh berbagai faktor.
b. Untuk mengembalikan kejayaan pada masa lalu dan sekaligus menghadapi
dunia modern, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang murni dan
Islam harus dipahami dengan akal serta kebebasan.
c. Corak pemerintahan otokrasi dan absolut harus diganti dengan pemerintahan
demokratis. Kepala negara harus bermusyawarah dengan pemuka masyarakat
yang berpengalaman.
d. Tidak ada pemisahan antara agama dan politik. Pan Islamisme atau rasa
solidaritas antarumat Islam harus dihidupkan kembali.

4. Muhammad Abduh

 Biografi
Muhammad Abduh dilahirkan di Mesir pada tahun 1849 M. Bapaknya
bernama Abduh Hasan Khaerullah, berasal dari Turki yang telah lama tinggal di
24
Mesir. Ibunya berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya meningkat sampai ke
suku bangsa Umar Ibn Al-Khattab.
Pada tahun 1866 M, Muhammad Abduh meneruskan studinya ke Al-Azhar.
Sewaktu masih belajar di Al-Azhar, Jamaludin Al-Afghani datang ke Mesir dalam
perjalanan ke Istambul. Di sinilah Muhammad Abduh untuk pertama kalinya
bertemu dengan Jamaludin Al-Afghani. Dalam pertemuan itu, Jamaludin Al-
Afghani mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai arti beberapa ayat al-
Qur’an. Kemudian, ia berikan tafsirannya. Perjumpaan ini meninggalkan kesan
yang baik dalam diri Muhammad Abduh.
Ketika Jamaludin Al-Afghani datang pada tahun 1871 untuk menetap di
Mesir, Muhammad Abduh menjadi muridnya yang paling setia. Ia mulai belajar
falsafat di bawah pimpinan Jamaludin Al-Afghani. Di masa ini, ia telah mulai
menulis karangan-karangan untuk harian Al-Ahram yang pada waktu itu baru saja
didirikan.
Pada tahun 1877, studinya selesai di Al-Azhar dengan mendapat gelar Alim.
Ia mulai mengajar, pertama di Al-Azhar, kemudian di Dar Al-Ulum dan juga di
rumahnya sendiri. Di antara buku-buku yang diajarkannya ialah buku akhlak
karangan Ibn Miskawaih, Mukaddimah Ibn Khaldun, dan sejarah Kebudayaan
Eropa karangan Guizot, yang diterjemahkan Al-Tahtawi ke dalam bahasa Arab
pada tahun 1857. Sewaktu Jamaludin Al-Afghani diusir dari Mesir.
Muhammad Abduh (Bahasa Arab: ‫( )عبده محمد‬Delta Nil, 1849 – Alexandria,
11 Juli 1905 ) adalah seorang pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu
penggagas gerakan modernisme Islam. Beliau belajar tentang filsafat dan logika
di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamal al-Din al-Afghani,
seorang filsuf dan pembaharu yang mengusung gerakan Pan-Islamisme untuk
menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.
Abduh diasingkan dari Mesir selama enam tahun pada 1882, karena
keterlibatannya dalam Pemberontakan Urabi. Di Libanon, Abduh sempat giat
dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Pada tahun 1884, ia pindah ke
Paris, dan bersalam al-Afghani menerbitkan jurnal Islam The Firmest Bond. Salah

25
satu karya Abduh yang terkenal adalah buku berjudul Risalah at-Tawhid yang
diterbitkan pada tahun 1897.
Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 dalam sebuah keluarga petani di
Mesir Hilir. Ia dididik oleh guru privat dan qari dari Quran. Ketika ia memasuki
usia tiga belas ia dikirim ke mesjid Ahmadi yang merupakan salah satu lembaga
pendidikan terbesar di Mesir. Beberapa saat kemudian Abduh melarikan diri dari
sekolah dan menikah.
Dia terdaftar di al-Azhar pada tahun 1866. Abduh mempelajari logika, filsafat
dan mistisisme di Al-Azhar University di Kairo. Dia adalah seorang murid dari
Jamal al-Din al-Afghani, seorang filsuf dan pembaharu agama yang
menganjurkan Pan-Islamisme untuk melawan kolonialisme Eropa.
Al-Afghani di bawah pengaruh, Abduh dikombinasikan jurnalisme, politik,
dan daya tarik sendiri dalam spiritualitas mistik. Al-Afghani Abduh diajarkan
tentang masalah Mesir dan dunia Islam dan tentang pencapaian teknologi barat.
Di bawah pengaruh al-Afghani, Abduh bergabung dengan Freemason dan belajar
tentang Islam klasik di bidang astronomi, logika, metafisika, teologi, dan mistik.
Pada 1877, Abduh dianugerahi tingkat Alim dan ia mulai mengajar logika,
teologi dan etika di al-Azhar. Ia diangkat sebagai profesor sejarah di Kairo guru
‘akademi pelatihan ʿ Dar al-Ulum pada tahun 1878. Ia juga ditunjuk untuk
mengajar bahasa Arab di Khedivial School of Languages. Abduh diangkat sebagai
kepala editor dan al-ʾ i Waqā al-Miṣriyya ʿ, surat kabar resmi negara.
Dia didedikasikan untuk mereformasi semua aspek masyarakat Mesir. Dia
percaya bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mencapai tujuan ini. Ia
mendukung pendidikan agama yang baik yang akan memperkuat moral anak dan
pendidikan ilmiah yang akan memupuk kemampuan anak untuk alasan. Dalam
artikel-artikel yang mengkritik kehidupan mewah orang kaya, korupsi dan
takhayul.

26
 Metode Muhammad Abduh dalam pembaharuan.

Dalam melakukan perbaikan Muhammad Abduh memandang bahwa suatu


perbaikan tidaklah selamanya datang melalui revolusi atau cara serupa. Seperti
halnya perubahan sesuatu secara cepat dan drastis. Akan tetapi juga dilakukan
melalui perbaikan metode pemikiran pada umat islam. Melaui pendidikan,
pembelajaran, dan perbaikan akhlaq. Juga dengan pembentukan masyarakat yang
berbudaya dan berfikir yang bisa melakukan pembaharuan dalam agamanya.
Sehingga akan tercipta rasa aman dan keteguhan dalam menjalankan agama Islam.
Muhammad Abduh menilai bahwa cara ini akan membutuhkan waktu lebih
panjang dan lebih rumit. Akan tetapi memberikan dampak perbaikan yang lebih
besar dibanding melalui politik dan perubahan secara besar-besaran dalam
mewujudkan suatu kebangkitan dan kemajuan.

Pembaruan pemikiran yang dilakukan Muhammad Abduh bukanlah hanya


sebuah penolakan secara satu persatu atau secara global terhadap pemikiran-
pemikaran yang telah ada, yang terdahulu. Pembaruannya juga bukan hanya
sebuah pemeliharaan terhadap pemikiran-pemikiran yang telah ada tersebut. Akan
tetapi pembaruan yang dilakukannya merupakan usaha untuk memperbaiki,
mengembangkan, dan menjadikan intisari pemikiran-pemikiran yang telah ada
tersebut agar sesuai dengan tuntutan zaman.

Kita telah mengetahui, banyak kalangan pemikir dan pengamat, di antaranya


Muhammad Abduh, yang berusaha untuk mewujudkan sebuah keadaan yang baik,
sebuah kondisi yang sesuai dengan tuntunan Islam dan dapat menghadapi tuntutan
zaman. Muhammad Abduh dengan pemikirannya berusaha untuk memperbaiki
pemikiran-pemikiran yang telah ada,yang terdahulu. Kesalahan-kesalahan tidak
terletak pada pemikiran-pemikiran yang telah ada, tetapi terletak dalam sudut
pandang pemahaman yang dilakukan terhadap pemikiran-pemikiran tersebut,
tidak terlepas dari pandangan yang jumud, taqkid, dan tidak berkembang sesuai
dengan tuntutan zaman. Berbagai macam cara dan jalan yang dilakukan

27
Muhammad Abduh untuk memerangi hal tersebut, antara lain dengan cara
melawan keras opini kejumudan dan stagnasi masyarakat melalui pendekata-
pendekatan sastra, pembahasan-pembahasan linguistik, agar masyarakat
memahami dan mengerti kalimat dan makna kata yang tersirat dari sebuah
pemikiran. Terkadang dengan melalui pendekatan yang lebih moderat, membina
masyarakat agar lebih mengerti dan memahami, dan terlepas dari kejumudannya.
Tujuan Muhammad Abduh merupakan tujuan yang mulia, memperbaiki sesuatu
yang telah usang dan rusak dengan sesuatu yang baru. Muhammad abduh
berusaha keras untuk mengambil jalan dan cara yang lebih bijak untuk menengahi
semua opini yang hidup di kalangan masyarakat. Dia tidak langsung menolak
mentah-mentah dan menentang opini yang salah, dan tidak langsung menerima
terhadap opini yang dianggapnya benar. Ia menyaring semuanya dan
mencernanya dengan baik melalui pemikirannya, agar semuanya sesuai dengan
tantangan zaman. Hal inilah yang membedakan dengan pemikir lainnya.

 Pembaharuan di Bidang Pendidikan Politik.

Ketertarikan Muhammad Abduh pada dunia politik dimulai semenjak


perkenalannya dengan seorang tokoh pembaharu yaitu Jamaludin Al Afgani pada
tahun 1870 sewaktu Ia masih menjadi mahasiswa di al-Azhar. Sewaktu Al-Afgani
diusir dari Mesir pada tahun 1879, karena dituduh mengadakan gerakan
menentang Khadewi tawfiq,Muhammad Abduh dipandang ikut campur dalam
soal ini, Ia dibuang keluarCairo.Tapi ditahun 1880 Ia boleh kembali keibu kota
dan kemudian diangkat menjadi redaktur surat kabar resmi pemerintah “Al-Waqi’
Al-Misriyah”.

Al Waqi’ Al-Misriyah ,surat kabar resmi pemerintah dibawah pimpinan


Muhammad Abduh,mempunyai peranan penting dalam perjuangan rakyat Mesir
melawan kolonial,dimana surat kabar bukan hanya menyiarkan berita-berita
resmi, tetapi juga artikel-artikel tentang kepentingan Mesir dan senantiasa
mendorong rasa nasionalisme rakyat Mesir untuk membela negaranya.

28
Setelah Urabi Pasya,dari golongan nasionalis sepenuhnya dapat mengontrol
dan menguasai tentara Mesir dari perwira-perwira Turki dan Sarkas,Inggris tidak
berkenan dan menganggap berbahaya bagi kepentingannya di Mesir,untuk itu
mereka ingin menjatuhkan Urabi Pasya dengan mengebom Alexandria dari laut
pada tahun 1882.Pengeboman Inggris atas Alexandria mendapat perlawanan
sengit dari kaum nasionalis ,walaupun pada akhirnya kaum nasionalis dapat
dikalahkan pasukan Inggris,Mesirpun jatuh dibawah kekuasaan Inggris.

Dalam revolusi Urabi Pasya itu, Muhammad Abduh turut mmainkan peranan.
Dia bersama-sama pemimpin lainnya ditangkap,dipenjarakan dan kemudian
dibuang keluar negeri pada tahun 1882. Pertama di Bairut Libanon kemudian di
Paris. Pada tahun1884 Ia bersama-sama Jamaludin Al-Afgani mendirikan majalah
“AL-Urwatul Wutsqa” di Paris.

Melalui majalah ini Ia bersama Jamaludin Al-Afgani menyusun gerakan


bernama Al-Urwatul Wutsqa,yaitu gerakan kesadaran umat Islam sedunia.
Dengan perantaraan majalah itulah ditiupkannya suara keinsyapan keseluruh
dunia Islam ,supaya mereka bangkit dari tidurnya melepaskan cara berpikir
fanatik dan kolot serta bersatu membangun kebudayaan dunia berdasarkan nilai-
nilai Islam.Suara itu lantang sekali kedengarannya dan dengan pesat menggema
keseluruh dunia,memperlihatkan pengaruhnya dikalangan umat Islam,sehingga
dalam tempo yang singkat kaum imperalis menjadi gempar dan cemas. Akhirnya
majalah itu ditutup pemerintah Prancis dikala majalah itu baru terbit delapan belas
nomor.

Dibidang politik kenegaraan,Abduh memiliki ide-ide yang berbeda dengan


gurunya Jamaludin Al-Afgani.AlAfgani menghendaki pembaharuan umat Islam
melalui pembaharuan negara,sedangkan Abduh berpendapat bahwa pembaharuan
negara dapat dicapai melalui pembaharuan umat.Abduh tidak menghendaki jalan
revolusi tapi melalui jalan evolusi. Oleh karena itu Abduh tidak menghendaki
sikap konfrontatif terhadap penjajah agar dapat memperbaiki umat dari dalam.

29
Dalam soal kekuasaan, Muhammad Abduh memandang perlu membatasi
kekuasaan dengan institusi yangjelas.Tanpa konstitusi akan timbul tindakan
sewenang-wenang. Untuk itu, Muhammad Abduh mengajukan prinsip
musyawarah yang dipandang dapat mewujudkan kehidupan politik yang
demokratis.

 Pembaharuan dibidang Sosial Keagamaan

Menurut Muhammad Abduh, sebab yang membawa kemunduran umat Islam


adalah faham jumud yang terdapat dikalangan umat Islam. Karena faham jumud
ininlah umat Islam tidak menghendaki perubahan, umat Islam setatis tidak mau
menerima perubahan dan umat Islam berpegang teguh tradisi.

Untuk mencerahkan umat Islam dari kejumudan itu,Muhammad Abduh


menerbitkan majalah al-Manar. Penerbitan majalah ini diteruskan oleh muridnya
yaitu Rasyid Ridla (1865-1935) yang kemudian menjadi tafsir Al-Manar.Adapun
pokok –pokok pemikiran Muhammad Abduh dibidang sosial keagamaan adalah :

1) Kemajuan agama Islam itu tertutup oleh umat Islam sendiri,dimana umat Islam
beku dalam memahami ajaran Islam,dihapalkan lapadznya tapi tidak berusaha
mengamalkan isi kandungannya.Dalam hal ini ungkapan Abduh yang terkenal
didunia Islam ‫“ االسالم محجوب بالمسلمين‬Islam itu tertutup oleh pengikut-pengikut
Islam itu sendiri”.

2) Akal mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam. ‫الدين هو‬
‫”العقل ال دين لمن ال عقل له‬Agama adalah sejalan dengan akal dan tidak ada agama bagi
orang yang tidak menggunakan akal”. Dari akal akan terungkap misteri alam
semesta yang diciptakan Allah untuk kesejahteraan manusia
itu sendiri.Hanyadengan ketinggian akal dan ilmu manusia mampu mendudukan
dirinya sebagai makhluk Allah yang tunduk berbakti kepada yang Maha Pencipta.

30
3) Ajaran Islam sesuai dengan pengetahuan modern begitu pula Ilmu Pengetahuan
modern pasti sesuai dengan ajaran Islam

 Dampak pemikiran Muhammad Abduh dalam pemikiran Islam


kontemporer

Mohammad Abduh adalah seorang pelopor reformasi dan pembaharuan dalam


pemikiran Islam. Ide-idenya yang cemerlang, meninggalkan dampak yang besar
dalam tubuh pemikiran umat Islam. Beliaulah pendiri sekaligus peletak dasar-
dasar sekolah pemikiran pada zaman modern juga menyebarkannya kepada
manusia. Walau guru beliau Jamal Al-Afghani adalah sebagai orang pertama yang
mengobarkan percikan pemikiran dalam jiwanya, akan tetapi Imam Muhammad
Abduh sebagai mana diungkapkan Doktor.

Mohammad Imarah, adalah seorang arsitektur terbesar dalam gerakan


pembaharuan dan reformasi atau sekolah pemikiran modern. Melebihi guru beliu
Jamaluddin Al-Afghani.Muhammad Abduh memiliki andil besar dalam perbaikan
dan pembaharuan pemikiran Islam kontemporer. Telah banyak pembaharuan yang
beliau lakukan diantaranya:

 Reformasi pendidikan Mohammad Abduh memulai perbaikannya melalui


pendidikan. Menjadikan pendidikan sebagai sektor utama guna menyelamatkan
masyarakat mesir. menjadikan perbaikan sistem pendidikan sebagai asas dalam
mencetak muslim yang shaleh.
 Mendirikan lembaga dan yayasan sosial.Sepak terjang dalam perbaikan
yang dilakukan Muhammad Abduh tidak hanya terbatas pada aspek pemerintahan
saja seperti halnya perbaikan pendidikan dan Al-Azhar. Akan tetapi lebih dari itu
hingga mendirikan beberapa lembaga-lembaga sosial. Diantaranya: Jami’ah
khairiyah islamiyah,jami’ah ihya al-ulum al-arabiyah,dan juga jami’ah at-taqorrub
baina al-adyan.

31
 Mendirikan sekolah pemikiran.Muhammad Abduh adalah orang pertama
yang mendirikan sekolah pemikiran kontemporer. Yang memiliki dampak besar
dalam pembaharuan pemikiran islam dan kebangkitan akal umat muslim dalam
menghadapi musuh-musuh islam yang sedang dengan gencar menyerang umat
muslim saat ini
 .Penafsiran al-Qur’an Di antara pembaruan yang dilakukan Muhammad
Abduh adalah dengan menghadirkan buah karya penafsiran al-qur’an. Adalah
Tafir Al-Mannar yang di tulis Muhammad Abduh dan muridnya Muhammad
Rasyid Ridho yang telah meberikan corak baru dalam ilmu tafsir. Corak tafsir
yang dikembangkan ini disebut Mufassirin “adabi ijtima’i” (budaya masyarakat).
Corak ini menurut Muhammad Husein adz-Dzahabi menitik beratkan penjelasan
ayat-ayat al-Qur’an pada segi ketelitian redaksinya, kemudian menyusun
kandungannya dalam suatu redaksi yang indah dengan menonjolkan segi-segi
petunjuk al-Qur’an bagi kehidupan, serta menghubungkan pengertian ayat-ayat
tersebut dengan hukum-hukum alm yang berlaku dalam masyarakat dan
pembangunan dunia.Diantara prinsip Muhammad Abduh dalam menafsirkan ayat
adalah, Al-Qur’an menjadi pokok. al-Qur’an didasarkan segala mazhab dan aliran
keagamaan, bukannya mazhab-mazhab dan aliran yang menjadi pokok, dan ayat-
ayat Al-Qur’an hanya dijadikan pendukung mazhab-mazhab tersebut. Kecuali itu,
Muhammad Abduh membuka lebar pintu ijtihad. Menurutnya dengan membuka
pintu ijtihad akan memberi semangat dinamis terhadap perkembangan Islam
dalam seluruh aspeknya.

Adapun ide-ide pembaruan Muhammad Abduh yang membawa dampak


positif bagi pengembangan pemikiran Islam adalah sebagai berikut:
a. Pembukaan pintu ijtihad. Menurut Muhammad Abduh, ijtihad merupakan
dasar penting dalam menafsirkan kembali ajaran Islam.
b. Penghargaan terhadap akal. Islam adalah ajaran rasional yang sejalan dengan
akal sebab dengan akal, ilmu pengetahuan akan maju.
c. Kekuasaan negara harus dibatasi oleh konstitusi yang telah dibuat oleh
negara yang bersangkutan.
32
5. Rasyid Rida

Rasyid Rida adalah murid Muhammad Abduh yang terdekat. Ia lahir pada
tahun 1865 di Al-Qalamun, suatu desa di Lebanon yang letaknya tidak jauh dari
Kota Tripoli (Suria). Menurut keterangan, ia berasal dari keturunan Al-Husain,
cucu Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, ia memakai gelar Al-Sayyid di depan
namanya. Semasa kecil, ia dimasukkan ke madrasah tradisional di al-Qalamun
untuk belajar menulis, berhitung dan membaca al- Qur’an. Pada tahun 1882, ia
meneruskan pelajaran di Madrasah Al-Wataniah Al- Islamiah (Sekolah Nasional
Islam) di Tripoli. Di Madrasah ini, selain dari bahasa Arab diajarkan pula bahasa
Turki dan Perancis, dan di samping pengetahuan-pengetahuan agama juga
pengetahuan-pengetahuan modern.

Sekolah ini didirikan oleh Al-Syaikh Husain Al-Jisr, seorang ulama Islam
yang telah dipengaruhi oleh ide-ide modern. Di masa itu sekolah-sekolah misi
Kristen telah mulai bermunculan di Suria dan banyak menarik perhatian orang tua
untuk memasukkan anak-anak mereka belajar di sana. Dalam usaha menandingi
daya tarik sekolah-sekolah misi inilah, maka Al-Syaikh Husain Al-Jisr mendirikan
Sekolah Nasional Islam tersebut. Karena mendapat tantangan dari pemerintah
Kerajaan Utsmani, umur sekolah itu tidak panjang.

Rasyid Rida meneruskan pelajarannya di salah satu sekolah agama yang


ada di Tripoli. Tetapi dalam pada itu, hubungan dengan Al-Syaikh Husain Al-Jisr
berjalan terus dan guru inilah yang menjadi pembimbing baginya di masa muda.
Selanjutnya, ia banyak dipengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin Al-Afghani dan
Muhammad Abduh melalui majallah Al-Urwah Al-Wusṭa. Ia berniat untuk
33
menggabungkan diri dengan Al-Afghani di Istambul, tetapi niat itu tak terwujud.
Sewaktu Muhammad Abduh berada dalam pembuangan di Beirut, ia mendapat
kesempatan baik untuk berjumpa dan berdialog dengan murid Al-Afghani yang
terdekat ini. Perjumpaan-perjumpaan dan dialognya dengan Muhammad Abduh
meninggalkan kesan yang baik dalam dirinya. Pemikiran-pemikiran pembaharuan
yang diperolehnya dari Al- Syaikh Husain Al-Jisr dan yang kemudian diperluas
lagi dengan ide-ide Al-Afghani dan Muhammad Abduh amat memengaruhi
jiwanya.

Ia mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuan itu ketika masih


berada di Suria, tetapi usaha-usahanya mendapat tantangan dari pihak Kerajaan
Utsmani. Ia merasa terikat dan tidak bebas. Oleh karena itu, ia memutuskan
pindah ke Mesir, dekat dengan Muhammad Abduh. Pada bulan Januari 1898, ia
sampai di negeri gurunya ini.

Beberapa bulan kemudian, ia mulai menerbitkan majalah yang


termasyhur, Al-Manar. Di dalam nomor pertama, dijelaskan bahwa tujuan Al-
Manar sama dengan tujuan Al-Urwah Al-Wusṭa, antara lain mengadakan
pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, memberantas takhyul
dan bid’ah-bid’àh yang masuk ke dalam tubuh Islam, menghilangkan paham
fatalisme yang terdapat dalam kalangan umat Islam, serta paham-paham salah
yang dibawa tarekat-tarekat tasawuf, meningkatkan mutu pendidikan dan
membela umat Islam terhadap permainan politik negara-negara Barat.

Majalah ini banyak menyiarkan ide-ide Muhammad Abduh. Guru


memberikan ide-ide kepada murid dan kemudian muridlah yang menjelaskan
dan menyiarkannya kepada umum melalui lembaran-lembaran Al-Manar. Tetapi,
selain dari ide-ide, Al-Manar juga mengandung artikel-artikel yang dikarang
Muhammad Abduh sendiri. Demikian juga tulisan pengarang-pengarang lain.

34
Beberapa pemikiran Rasyid Rida tentang pembaruan Islam adalah sebagai
berikut:

a. Sikap aktif dan dinamis di kalangan umat Islam harus ditumbuhkan.


b. Umat Islam harus meninggalkan sikap dan pemikiran kaum Jabariyah.
c. Akal dapat dipergunakan untuk menafsirkan ayat dan hadis
tanpa meninggalkan prinsip umum.
d. Umat Islam menguasai sains dan teknologi jika ingin maju.
e. Kemunduran umat Islam disebabkan banyaknya
unsur bid’ah dan khurafat yang masuk ke dalam ajaran Islam.
f. Kebahagiaan dunia dan akhirat diperoleh melalui hukum yang diciptakan
Allah Swt.
g. Perlu menghidupkan kembali sistem pemerintahan khalifah.
h. Khalifah adalah penguasa di seluruh dunia Islam yang mengurusi bidang
agama dan politik.
i. Khalifah haruslah seorang mujtahid besar dengan bantuan para ulama dalam
menerapkan prinsip hukum Islam sesuai dengan tuntutan zaman.

6. Sayyid Ahmad Khan

Setelah hancurnya Gerakan Mujahidin dan Kerajaan Mughal sebagai


akibat dari Pemberontakan 1857, muncullah Sayyid Ahmad Khan untuk
memimpin umat Islam India, yang telah kena pukul itu untuk dapat berdiri dan
maju kembali sebagai di masa lampau. Ia lahir di Delhi pada tahun 1817 dan
menurut keterangan berasal dari keturunan Husein, cucu Nabi Muhammad
melalui Fatimah dan Ali. Neneknya, Sayyid Hadi, adalah pembesar istana di

35
zaman Alamghir II (1754‒1759). Ia mendapat didikan tradisional dalam
pengetahuan agama dan di samping bahasa Arab, ia juga belajar bahasa Persia. Ia
orang yang rajin membaca dan banyak memperluas pengetahuan dengan
membaca buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sewaktu berusia 18
tahun, ia masuk bekerja pada Serikat India Timur. Kemudian, ia bekerja pula
sebagai hakim. Tetapi, pada tahun 1846, ia pulang kembali ke Delhi untuk
meneruskan studi.
Di masa Pemberontakan 1857, ia banyak berusaha untuk mencegah
terjadinya kekerasan dan dengan demikian banyak menolong orang Inggris dari
pembunuhan. Pihak Inggris menganggap ia telah banyak berjasa bagi mereka dan
ingin membalas jasanya, tetapi hadiah yang dianugerahkan Inggris kepadanya ia
tolak. Gelar Sir yang kemudian diberikan kepadanya dapat ia terima.
Hubungannya dengan pihak Inggris menjadi baik dan ini ia pergunakan untuk
kepentingan umat Islam India.
Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat
Islam India dapat diwujudkan hanya dengan bekeija sama dengan Inggris. Inggris
telah merupakan penguasa yang terkuat di India dan menentang kekuasaan itu
tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India. Hal ini akan membuat
mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu
India.
Pemikiran Sayyid Ahmad Khan tentang pembaruan Islam adalah sebagai
berikut:
a. Kemunduran umat Islam disebabkan tidak mengikuti perkembangan zaman
dengan cara menguasai sains dan teknologi.
b. Ia berpendirian bahwa manusia bebas berkehendak dan berbuat sesuai dengan
sunatullah yang tidak berubah. Gabungan kemampuan akal, kebebasan
manusia berkehendak dan berbuat, serta hukum alam inilah yang menjadi
sumber kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
c. Sumber ajaran Islam hanyalah al-Qur’an dan hadis.

36
d. Ia menentang taklid dan perlu adanya ijtihad sehingga umat Islam dapat
berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern.
e. Ia berpendapat satu-satunya cara untuk mengubah pola pikir umat Islam dari
keterbelakangan adalah pendidikan.

7. Taqiyuddin Ibnu Taimiyah

 Riwayat hidup
Ibnu Taymiyah yang nama lengkapnya Taqiyudin Abdul Abbas bin abdul
Halim bin Abdus salam bin Taimiyah Al Harani Al Hanbali lahir pada tanggal 22
januari 1263 Miladiyah di Kota Harran, siria. Ibnu Taimiyah pertama kali belajar
ilmu agama kepada ayahnya yang bernama Syihabudin yang terkenal alim dalam
ilmu hadist dan khatib terkenal di Masjid Damaskus, Siria. Kemudian ia
melanjutkan belajar kepada beberapa ulama terkenal seperti Zainudin Al
Muqaddasy, Najamuddin Ibnu Syakir, Zainab binti Makky dan ulama lain di kota
Damaskus, Siria.
Pada masa hidupnya, ibnu taimiyah menyaksikan serbuan pasukan tartar
telah menggilis wilayah islam sejak dari tepi sungai Indus sampai sungai eufrat
dan terus bergerak maju menuju syam disatu sisi. Sementara di sisi lain untuk
Islam sepeninggal Imam Al Ghazali mengalami kemerosotan kembali yang cukup
mengesankan akibat logis dari pertempuran berat dan panjang ketika
mengghadapi pasukan tartar selama lima puluh tahun.
Dengannya umat islam dihantui oleh rasa ketakutan dan gemetar dalam
hati sanubari mereka.Ketika orang-orang Tartar berkuasa dan menanamkan
pengaruhnya dikalangan umat para ulama, fuqaha(ahli fiqih) dan para pengusa,
moral dan kemerosotan umat islampun makin menjadi-jadi dan bahkan jauh lebih
hancur ketimbang masa-masa sebelumnya. Taqlid buta merajalela, sehingga
mazhab-mazhab fiqh dan aliran teknologi hampir berubah menjadi agama.
Ijtihadpun berubah menjadi suatu kemaksiatan, bid’ah dan khurafat disandarkan
pada hukum syara’ dan merujuk kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul merupakan
37
suatu dosa yang tidak terampunkan. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat Islam
makin terjerumus pada kebodohan dan kesesatan, sedangkan para ulama hanya
memiliki wawasan yang sempit.Tidak lama kemudian munculah seorang imam
dan ulama hadits yang mencoba untuk memperbaiki umat Islam yang tengah
dilanda kezaliman dan kebobrokan. Imam tersebut adalah Ibnu Taimiyah.
Kegigihan dan ketinggian semangatnya dalam mendalami agama
menghantarkannya pada kedudukan mujtahid mutlak.

 Ide Pembaharuanya
Kerangka dasar pemikiran Ibnu Taimiyah adalah menunjukkan bahwa Islam
dan pembaharuan Islam memerlukan suatu cara, yaitu jalan tengah dan sintetik
(buatan). Pada kenyataannya, jalan tengah harus dipadukan dengan perkembangan
dalam Islam yang bermacam-macam tersebut dengan tetap berpegang pada ajaran
pokok Islam yang termaktub dalam al Qur’an dan Sunnah yang murni, yang tidak
terkontaminasi oleh budaya-budaya asing.
Adapun ide-ide pembaharuan Ibnu Taimayah adalan sebagai berikut :
 Pertama, melakukan kritik dengan cara yang jauh lebih tajam dan ketat
dibanding apa yang telah dilakukan oleh imam gazali.
 Kedua, menegakkan dalil dan bukti berdasarkan akidah, hukum dan
kaidah-kaidah islam dengan sseirama dengan apa yang dilakukan Imam Al
Gazali, dan bahkan bila dilihat apa yang dikemukakan Imam Al Gazali
benyak sekali mempergunakan istilah-istilah logika
 .Ketiga, Ibnu Taimiyah tidak saja menolak segala bentuk taqlid buta,
melainkan lebih dari itu.
 Keempat, memerangi bid’ah, taqlid, kemajuan berfikir, kesesatan aqidah,
dan dekadensi moral.
Ijtihad dalam islam memegang peran yang sangat besar karena hanya
dengan prinsip inilah islam akan selalu menjadi dinamis, hidup dan maju serta
tidak akan pernah ketinggalan zaman. Dengan prinsip ijtihad inilah yang
memungkinkan perkembangan dan kemajuan yang bersinambungan didalam
syari’ah.
38
8. Sultan Mahmud II

Pembaharuan di Kerajaan Utsmani abad ke- 19, sama halnya dengan


pembaharuan di Mesir, juga dipelopori oleh Raja. Kalau di Mesir Muhammad Ali
Pasyalah raja yang memelopori pembaharuan, di Kerajaan Utsmani, raja yang
menjadi pelopor pembaharuan adalah Sultan Mahmud II.
Mahmud lahir pada tahun 1785 dan mempunyai didikan tradisional, antara
lain pengetahuan agama, pengetahuan pemerintahan, sejarah dan sastra Arab,
Turki dan Persia. Ia diangkat menjadi Sultan pada tahun 1807 dan meninggal pada
tahun 1839.
Di bagian pertama dari masa kesultanannya, ia disibukkan oleh
peperangan dengan Rusia dan usaha menundukkan daerah-daerah yang
mempunyai kekuasaan otonomi besar. Peperangan dengan Rusia selesai pada
tahun 1812 dan kekuasaan otonomi daerah akhirnya dapat ia perkecil kecuali
kekuasaan Muhammad Ali Pasya di Mesir dan satu daerah otonomi lain di Eropa.
Setelah kekuasaannya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Utsmani ber-
tambah kuat, Sultan Mahmud II melihat bahwa telah tiba masanya untuk memulai
usaha-usaha pembaharuan yang telah lama ada dalam pemikirannya. Sebagaimana
sultan-sultan lain, hal pertama yang menarik perhatiannya ialah pembaharuan di
bidang militer.
Sultan Mahmud II banyak melakukan gerakan pembaruan dalam dunia
Islam, yaitu sebagai berikut:
a. Menerapkan sistem demokrasi dalam pemerintahannya.
b. Menghapus pengutusan sultan yang dianggap suci oleh rakyatnya.
c. Memasukkan kurikulum umum ke dalam lembaga-lembaga pendidikan
madrasah.

39
d. Mendirikan sekolah Maktebi Ma’arif yang mempersiapkan tenaga-tenaga
administrasi, dan Maktebi Ulum’i edebiyet yang mempersiapkan tenaga- tenaga
ahli penerjemah.
e. Mendirikan sekolah kedokteran, militer dan teknik.

9. AL-FARABI

Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi singkat Al-Farabiadalah


ilmuwan dan filsuf Islam yang berasal dari Farab, Kazakhstan. Ia juga dikenal
dengan nama lain Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai
Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi , juga
dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir.
Kemungkinan lain adalah Farabi adalah seorang Syi’ah Imamiyah (Syiah
Imamiyah adalah salah satu aliran dalam islam dimana yang menjadi dasar aqidah
mereka adalah soal Imam) yang berasal dari Turki.
Ayahnya seorang opsir tentara Turki keturunan Persia, sedangkan ibunya
berdarah Turki asli. Sejak dini ia digambarkan memiliki kecerdasan istimewa dan
bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari. Pada masa
awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan,
ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmatika dasar.
Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara, dan
tinggal di Kazakhstan sampai umur 50. Ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu
di sana selama 20 tahun. Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad, yaitu
kira-kira pada tahun 920 M, al Farabi kemudian mengembara di kota Harran yang
terletak di utara Syria, dimana saat itu Harran merupakan pusat kebudayaan
Yunani di Asia kecil Ia kemudian belajar filsafat dari Filsuf Kristen terkenal yang
bernama Yuhana bin Jilad
Tahun 940M, al Farabi melajutkan pengembaraannya ke Damaskus dan
bertemu dengan Sayf al Dawla al Hamdanid, Kepala daerah (distrik)Aleppo, yang
dikenal sebagai simpatisan para Imam Syi’ah. Kemudian al-Farabi wafat di kota

40
Damaskus pada usia 80 tahun (Rajab 339 H/ Desember 950 M) di masa
pemerintahan Khalifah Al Muthi’ (masih dinasti Abbasiyyah)
Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang ulung di dunia
Islam Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal
para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya
terletak di berbagai bidang sepertimatematika, filosofi, pengobatan,
bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan
sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Selain itu, ia juga
dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat music
Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena
kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama
dalam ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya
menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik
Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam
konteks agama-agama wahyu
Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan Sayf al
Dawla [5] dan di zaman pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang
berbentuk Monarki yang dipimpin oleh seorang Khalifah.[5] Ia lahir dimasa
kepemimpinan Khalifah Mu’tamid (869-892 M) dan meninggal pada masa
pemerintahan Khalifah Al-Muthi’ (946-974 M) dimana periode tersebut dianggap
sebagai periode yang paling kacau karena ketiadaan kestabilan politik.
Dalam kondisi demikian, al-Farabi berkenalan dengan pemikiran-
pemikiran dari para ahli Filsafat Yunani seperti Plato dan Aristoteles dan
mencoba mengkombinasikan ide atau pemikiran-pemikiran Yunani Kuno dengan
pemikiran Islam untuk menciptakan sebuah negara pemerintahan yang ideal
(Negara Utama). Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari
Ilmu Pengetahuan, karya-karya al- Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian:
 Logika
 Ilmu-ilmu Matematika
 Ilmu Alam

41
 Teologi
 Ilmu Politik dan kenegaraan
 Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah).

10. Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal berasal dari keluarga golongan menengah di.Punjab dan


lahir di Sialkot pada tahun 1876. Untuk meneruskan studi ia kemudian pergi ke
Lahore dan belajar di sana sampai ia memperoleh gelar kesarjanaan M.A. Di kota
itulah ia berkenalan dengan Thomas Arnold, seorang Orientalis, yang menurut
keterangan, mendorong pemuda Iqbal untuk melanjutkan studi di Inggris. Pada
tahun 1905, ia pergi ke negara ini dan masuk ke Universitas Cambridge untuk
mempelajari falsafat. Dua tahun kemudian, ia pindah ke Munich di Jerman, dan di
sinilah ia memperoleh gelar Ph.D. dalam tasawuf. Tesis doktoral yang
diajukannya berjudul: The Development of Metaphysics in
Persia (Perkembangan Metafisika di Persia).
Pada tahun 1908 ia berada kembali di Lahore dan di samping
pekerjaannya sebagai pengacara, ia menjadi dosen falsafat. Bukunya The
Reconstruction of Retigious Thought in Islam adalah hasil ceramah-ceramah yang
diberikannya di beberapa universitas di India. Kemudian, ia memasuki bidang
politik dan pada tahun 1930, ia dipilih menjadi Presiden Liga Muslimin. Di dalam
perundingan Meja Bundar di London, ia turut dua kali mengambil bahagian. Ia
juga menghadiri Konferensi Islam yang diadakan di Yerusalem. Pada tahun 1933,
ia diundang ke Afghanistan untuk membicarakan pembentukan Universitas
Kabul. Dalam usia 62 tahun, ia meninggal di tahun 1938.

42
Berbeda dengan pembaharu-pembaharu lain, Muhammad Iqbal adalah
penyair dan filosof. Tetapi, pemikirannya mengenai kemunduran dan kemajuan
umat Islam mempunyai pengaruh pada gerakan pembaruan dalam Islam.

Pemikiran Muhammad Iqbal tentang pembaruan Islam adalah sebagai berikut:


a. Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam pembaruan Islam dan pintu
ijtihad tetap terbuka.
b. Umat Islam perlu mengembangkan sikap dinamisme. Dalam syiarnya, ia
mendorong umat Islam untuk bergerak dan jangan tinggal diam.
c. Kemunduran umat Islam disebabkan oleh kebekuan dan kejumudan dalam
berpikir.
d. Hukum Islam tidak bersifat statis, tetapi dapat berkembang sesuai per-
kembangan zaman.
e. Umat Islam harus menguasai sains dan teknologi yang dimiliki Barat.
f. Perhatian umat Islam terhadap zuhud menyebabkan kurangnya perhatian
terhadap masalah-masalah keduniaan dan sosial kemasyarakatan.

43
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

“Islam adalah agama yang mencakup berbagai macam aspek, baik itu
ekonomi, politik, budaya, ibadah, dan lain-lain.” Bila memandang Islam dalam
konteks kekinian, rasanya memang perjuangan atau usaha yang dilakukan oleh
para tokoh pembaharu islam belum sempurna. Perjuangan dan usaha mereka kami
analogikan sebagai sebuah ajang lari estafet, mereka—para tokoh pembaharu
islam—berlari dan membawa tongkat estafet kemajuan islam dengan susah payah
dan penuh perjuangan agar sampai kepada kita—umat saat ini—dengan harapan
besar kita mampu melanjutkan tongkat estafet tersebut sampai pada generasi
selanjutnya hingga akhir zaman. Namun, potret umat islam saat ini bisa dikatakan
amat menyedihkan dari segi keilmuan dan persatuan. Umat islam saat ini tidak
lagi dinamis, dan seperti tidak memiliki pendirian. Hal ini terlihat dari mudahnya
umat islam terprovokasi oleh oknum-oknum tertentu yang tak bertanggung
jawab.Hal ini menunjukkan kesadaran umat islam untuk melanjutkan tongkat
estafet kemajuan itu masih belum maksimal.
Semoga dengan hadirnya kajian(studi tokoh) ini kita semakin menyadari
kondisi islam yang masih terpuruk saat ini dan harapan besar kami adalah
munculnya jiwa dan semangat Muhammad Bin Abdul Wahab, Muhammad
Abduh,Syaikh Rasyid Ridha dan lain-lain yang mampu kembali meneruskan
tongkat estafet perjuangan itu dan menanggalkan seluruh pengaruh barat pada
islam yang merupakan hambatan bagi umat islam untuk maju. Amien.

B. Saran

Kami menyadari bahwa Makalah kami bukanlah makalah yang sempurna


maka dari itu kami mengharapkan Kritik serta saran yang bermanfaat serta
membangun agar kelak dikemudian hari kami dapat membuat makalah yang lebih
baik.
44
DAFTAR PUSTAKA

https://acehkrak.blogspot.com/2016/01/makalah-tokoh-pembaharuan-
islam_13.html
http://mawarper1.blogspot.com/2013/03/tokoh-gerakan-pembaharuan-islam.html
http://halaisu.blogspot.com/2012/09/makalah-tokoh-tokoh-pembaharuan-
islam.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_cendekiawan_pendidikan_islam
Ragi, Sutomo. dkk. 2006. LKS Pelita Penuntun Belajar kreatif Agama Islam.
Bogor: CV Aria Duta
Asmuni,Drs. H.M.Yusran, Pengantar Studi Pemikiran Dan Gerakan
Pembaharuan (Dirasah Islamiah III), Rajawali Pers: Jakarta, 2001
Rahman, Fazlur, Kebangkitan dan Pembaharuan di dalam Islam, Penerbit
Pustaka: Bandung, 2001. Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam
(Sejarah Pemikiran dan Gerakan), Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Taufik, Ahmad dkk, Sejarah Pemikiran dan Tokoh modernisme
Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.

45