Vous êtes sur la page 1sur 23

BAB I

1.1 Pengertian Sel


Dalam biologi, sel adalah kumpulan materi paling sederhana yang dapat hidup dan merupakan
unit penyusun semua makhluk hidup. Sel mampu melakukan semua aktivitas kehidupan dan
sebagian besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam
sel.Kebanyakan makhluk hidup tersusun atas sel tunggal,atau disebut organisme uniseluler,
misalnya bakteri dan amoeba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhan, hewan, dan manusia,
merupakan organisme multiseluler yang terdiri dari banyak tipe sel terspesialisasi dengan
fungsinya masing-masing. Tubuh manusia, misalnya, tersusun atas lebih dari 10 sel.Namun
demikian, seluruh tubuh semua organisme berasal dari hasil pembelahan satu sel. Contohnya,
tubuh bakteri berasal dari pembelahan sel bakteri induknya, sementara tubuh tikus berasal dari
pembelahan sel telur induknya yang sudah dibuahi.

1.2 Penemuan Sel


Mikroskop rancangan Robert Hooke menggunakan sumber cahaya lampu minyak.

Penemuan awal

Mikroskop majemuk dengan dua lensa telah ditemukan pada akhir abad ke-16 dan selanjutnya
dikembangkan di Belanda, Italia, dan Inggris. Hingga pertengahan abad ke-17 mikroskop sudah
memiliki kemampuan perbesaran citra sampai 30 kali. Ilmuwan Inggris Robert Hooke kemudian
merancang mikroskop majemuk yang memiliki sumber cahaya sendiri sehingga lebih mudah
digunakan.Ia mengamati irisan-irisan tipis gabus melalui mikroskop dan menjabarkan struktur
mikroskopik gabus sebagai "berpori-pori seperti sarang lebah tetapi pori-porinya tidak beraturan"
dalam makalah yang diterbitkan pada tahun 1665.Hooke menyebut pori-pori itu cells karena
mirip dengan sel (bilik kecil) di dalam biara atau penjara.Yang sebenarnya dilihat oleh Hooke
adalah dinding sel kosong yang melingkupi sel-sel mati pada gabus yang berasal dari kulit pohon
ek.Ia juga mengamati bahwa di dalam tumbuhan hijau terdapat sel yang berisi cairan.

Pada masa yang sama di Belanda, Antony van Leeuwenhoek, seorang pedagang kain,
menciptakan mikroskopnya sendiri yang berlensa satu dan menggunakannya untuk mengamati
berbagai hal. Ia berhasil melihat sel darah merah, spermatozoid, khamir bersel tunggal, protozoa,
dan bahkan bakteri.Pada tahun 1673 ia mulai mengirimkan surat yang memerinci kegiatannya
kepada Royal Society, perkumpulan ilmiah Inggris, yang lalu menerbitkannya. Pada salah satu
suratnya, Leeuwenhoek menggambarkan sesuatu yang bergerak-gerak di dalam air liur yang
diamatinya di bawah mikroskop. Ia menyebutnya diertjen atau dierken (bahasa Belanda: 'hewan
kecil', diterjemahkan sebagai animalcule dalam bahasa Inggris oleh Royal Society), yang diyakini
sebagai bakteri oleh ilmuwan modern.
Pada tahun 1675–1679, ilmuwan Italia Marcello Malpighi menjabarkan unit penyusun tumbuhan
yang ia sebut utricle ('kantong kecil'). Menurut pengamatannya, setiap rongga tersebut berisi
cairan dan dikelilingi oleh dinding yang kokoh. Nehemiah Grew dari Inggris juga menjabarkan
sel tumbuhan dalam tulisannya yang diterbitkan pada tahun 1682, dan ia berhasil mengamati
banyak struktur hijau kecil di dalam sel-sel daun tumbuhan, yaitu kloroplas.

1.3 Anatomi Dan Fisiologi Sel


Secara anatomis sel dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Selaput Plasma (Membran Plasma atau Plasmalemma).

2. Sitoplasma dan Organel Sel.

3. Inti Sel (Nukleus)

1. Selaput Plasma (Plasmalemma)

Yaitu selaput atau membran sel yang terletak paling luar yang tersusun dari senyawa kimia
Lipoprotein (gabungan dari senyawa lemak atau Lipid dan senyawa Protein).

Lipoprotein ini tersusun atas 3 lapisan yang jika ditinjau dari luar ke dalam urutannya
adalah:Protein – Lipid – Protein

Lemak bersifat Hidrofebik (tidak larut dalam air) sedangkan protein bersifat Hidrofilik (larut
dalam air); oleh karena itu selaput plasma bersifat Selektif Permeabel atau Semi Permeabel (teori
dari Overton).

Selektif permeabel berarti hanya dapat memasukkan di lewati molekul tertentu saja.

Fungsi dari selaput plasma ini adalah menyelenggarakan Transportasi zat dari sel yang satu ke
sel yang lain.

Khusus pada sel tumbahan, selain mempunyai selaput plasma masih ada satu struktur lagi yang
letaknya di luar selaput plasma yang disebut Dinding Sel (Cell Wall).

Dinding sel tersusun dari dua lapis senyawa Selulosa, di antara kedua lapisan selulosa tadi
terdapat rongga yang dinamakan Lamel Tengah (Middle Lamel) yang dapat terisi oleh zat-zat
penguat seperti Lignin, Chitine, Pektin, Suberine dan lain-lain. Selain itu pada dinding sel
tumbuhan kadang-kadang terdapat celah yang disebut Noktah. Pada Noktah/Pit sering terdapat
penjuluran Sitoplasma yang disebut Plasmodesma yang fungsinya hampir sama dengan fungsi
saraf pada hewan.
2. Sitoplasma dan Organel Sel.

Bagian yang cair dalam sel dinamakan Sitoplasma khusus untuk cairan yang berada dalam inti
sel dinamakan Nukleoplasma), sedang bagian yang padat dan memiliki fungsi tertentu digunakan
Organel Sel.

Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta
sebagai media terjadinya reaksi kirnia sel.Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di
dalam sitoplasma dan bersifat hidup(menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).

Organel Sel tersebut antara lain :

a. Retikulum Endoplasma (RE.)Yaitu struktur berbentuk benang-benang yang bermuara di inti


sel.

Dikenal dua jenis RE yaitu :• RE. Granuler (Rough E.R)• RE. Agranuler (Smooth E.R)

Fungsi R.E. adalah : sebagai alat transportasi zat-zat di dalam sel itu sendiri. Struktur R.E. hanya
dapat dilihat dengan mikroskop elektron.

b. Ribosom (Ergastoplasma), Struktur ini berbentuk bulat terdiri dari dua partikel besar dan
kecil, ada yang melekat sepanjang R.E. dan ada pula yang soliter. Ribosom merupakan organel
sel terkecil yang tersuspensi di dalam sel.

Fungsi dari ribosom adalah : tempat sintesis protein.Struktur ini hanya dapat dilihat dengan
mikroskop elektron.

c. Miitokondria (The Power House), Struktur berbentuk seperti cerutu ini mempunyai dua lapis
membran.Lapisan dalamnya berlekuk-lekuk dan dinamakan KristaFungsi mitokondria adalah
sebagai pusat respirasi seluler yang menghasilkan banyak ATP (energi) ; karena itu mitokondria
diberi julukan “The Power House”.

d. Lisosom, Fungsi dari organel ini adalah sebagai penghasil dan penyimpan enzim pencernaan
seluler. Salah satu enzi nnya itu bernama Lisozym.

e. Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom) Organel ini dihubungkan dengan fungsi ekskresi
sel, dan struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Organel ini
banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi ekskresi, misalnya ginjal.

f. Sentrosom (Sentriol) Struktur berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan sel
(Mitosis maupun Meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis.
Struktur ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.

g. Plastida Dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa.

Dikenal tiga jenis plastida yaitu :


1. Lekoplas (plastida berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan),terdiri dari:

• Amiloplas (untak menyimpan amilum) dan,

• Elaioplas (Lipidoplas) (untukmenyimpan lemak/minyak).

• Proteoplas (untuk menyimpan protein).

2. Kloroplas yaitu plastida berwarna hijau. Plastida ini berfungsi menghasilkan klorofil dan
sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.

3. Kromoplas yaitu plastida yang mengandung pigmen, misalnya :

• Karotin (kuning)

• Fikodanin (biru)

• Fikosantin (kuning)

• Fikoeritrin (merah)

h. Vakuola (RonggaSel) Beberapa ahli tidak memasukkan vakuola sebagai organel sel. Benda ini
dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Selaput pembatas antara vakuola dengan
sitoplasma disebut TonoplasVakuola berisi :• garam-garam organik• glikosida• tanin (zat
penyamak)• minyak eteris (misalnya Jasmine pada melati, Roseine pada mawar Zingiberine pada
jahe)• alkaloid (misalnya Kafein, Kinin, Nikotin, Likopersin dan lain-lain)• enzim• butir-butir
patiPada boberapa spesies dikenal adanya vakuola kontraktil dan vaknola non kontraktil.

i. Mikrotubulus Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel
dan sebagai “rangka sel”. Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan
Selain itu mikrotubulus berguna dalam pembentakan Sentriol, Flagela dan Silia.

j. MikrofilamenSeperti Mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya


yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot). Mikrofilamen berperan dalam pergerakan
sel.k. Peroksisom (Badan Mikro) Ukurannya sama seperti Lisosom. Organel ini senantiasa
berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan katalase (banyak
disimpan dalam sel-sel hati).

3. Inti Sel (Nukleus)Inti sel terdiri dari bagian-bagian yaitu :

• Selaput Inti (Karioteka)

• Nukleoplasma (Kariolimfa)

• Kromatin / Kromosom
• Nukleolus(anak inti).Berdasarkan ada tidaknya selaput inti kita mengenal 2 penggolongan sel
yaitu :

• Sel Prokariotik (sel yang tidak memiliki selaput inti), misalnya dijumpai pada bakteri,
ganggang biru.

• Sel Eukariotik (sel yang memiliki selaput inti).

Fungsi dari inti sel adalah : mengatur semua aktivitas (kegiatan) sel, karena di dalam inti sel
terdapat kromosom yang berisi ADN yang mengatur sintesis protein.
BAB II

2.1 Sel Saraf (Neuron)


A. SEL SARAF ATAU NEURON

1. Struktur Neuron

Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini
meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan
kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau
sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal
dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan
terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar.

Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan
(impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan.

Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari
badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit).

Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi
mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya,
dendrit pendek.

Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini
berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan
kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang
membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann
disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari
akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat
penghantaran impuls.

Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf
sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi).
1. Sel saraf sensori

Fungsi sel saraf sensori adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak
(ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan
dengan saraf asosiasi (intermediet).

2. Sel saraf motor

Fungsi sel saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang
hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem
saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan
aksonnya dapat sangat panjang.

3. Sel saraf intermediet

Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf
pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan
dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima
impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya.

Struktur ganglion gabungan fari badan sel saraf

Kelompok-kelompok serabut saraf, akson dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan
membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul
saraf.

2. Variasi Struktur Neuron

Ukuran dan bentuk badan sel neuron sangat bervariasi, juga panjang cabang dan caranya
bercabang. Diameter badan sel bervariasi dari 5 um pada neuron terkecil sampai 120 um pada
yang palinng besar. Bentuk badan sel tergantung jumlah cabangnya.

a.Multipolar

Jenis neuron yang memiliki beberapa cabang dan badan selnya

b.Bipolar

Beberapa neuron yang hanya memiliki satu akson dan satu dendrit
c.Pseodonipolar

Jenis neuron yang hanya memiliki satu cabang yang segera bercabang dua, salah satu cabangnya
adalah akson dan cabang lainnya berfungsi sebagai dindrit, tetapi strukturnya tak dapat
dibedakan dari akson. Neuron ini bila dilihat dari strukturnya disebut unipolat tetapi dari sudut
fungsional disebutdipolar.

Selain adanya variasi bentuk dan ukuran, penampilan substansi Nissl dalam badan sel pun sangat
bervariasi. Substansi Nissl pada beberapa neuron sangat mencolok dan membentuk kelompokan
besar. Pada yang lain berupa granula halus dan tersebar merata didalam sitoplasma, dan pada
neuron yang lain lagi berupa peralihan antara kedua jenis itu. Perbedaan ini berhubungan dengan
fungsinya.

Panjang akso setelah meninggalkan badan sel neuron pun sangat bervariasi. Ada neuron yang
memiliki akson pendek dan berakhir dekat badan selnya. Neuron lain memiliki akson yang
meluas sampai jauh. Sangat jarang terdapat neuron tanpa akson sejati.

Seperti telah dijelaskan didepan akson dapat dibedakan berdasarkan ada atau tidak adanya
selubung, sehingga ada yang dikatakan bermielin dan lainnya tanpa mielin. Diameter akson pun
bervariasi yang tampak pada potongan melintang.

B. SINAPS

Susunan saraf memiliki banyak neuron yang saling berhubungan membentuk jaras konduksi
fungsional (functional conducting pathway). Potensial aksi di neuron prasinaps menyebabkan
pengeluaran neurotransmitter yang berikatan dengan reseptor di neuron pascasinaps.

Impuls saraf dipindahkan dari neuron satu ke neuron lain pada tempat kontak yang secara
morfologis dapat dikenali dan dikenal sebagai sinaps.Telah diketahui bahwa sinaps merupakan
tempat pertemuan antara neuron.

Sinaps hanya menghantar impuls dalam satu arah. Kedua unsur yang membentuk sinaps dapat
disebut sebagai pra-sinaps dan pascaca sinaps. Sinaps dapat digolongkan berdasarkan posisinya
pada neuron pasca-sinaps. Hanya jenis yang umum saja yang akan dibicarakan disini. Akson
yang berakhir pada dendrit membenuk disebut sinaps aksoden-dritik. Beberapa diantaranya
memiliki tonjolan-tonjolan kecil pada dendritnya yang disebut durt dendrik,dan tepat pada atau
melingkupinya terdapat “end bulb” terminal akson. Ujung akson yang berakhir pasa badan sel
neuron membentuk yang disebut sinaps aksosomatik.

Kurang lebih setengah permukaan total badan sel neuron dan hampir seluruh permukaan
dendritnya dapat terlihat dalam kontak sinaptik dengan neuron lain. Akson yang berakhir pada
akson lain membentuk apa yang disebut sinaps aksoaksonik. Sebuah akson hanya membentuk
sinaps dengan akson lain pada tempat yang tidak bermielin. Hal ini terdapat pada segmen
progsimal suatusuatu akson karena pada tempat ini akson itu tetap terbuka karena meilinisasi
tidak dimulai pada akson hilok namun berjarak sedikit darinya.

Akson mungkin berakhir sebagai bulbas maka disebut bouton. Mungkin bagian ujung akson ini
mengandung sejumlah pentol demikian yang masing-masingnya bersinaps dengan neuron
penerima. Telah diketahui bahwa pada dendrit terdapat banyak duri. Ujung akson mungkin
bersinapsdengan duri demikian atau dengan bagian licin diantara duri itu. Kadang-kadang ujung
akson berakhir dengan bersinaps drngan ujung bouton akson lain membentuk apa yang disebut
sinaps seri. Dalam keadaan tertentu beberapa neuron bersama membentuk sinaps kompleks.
Daerah demikian mungkin dibungkus sel neuroglia membentuk glomerulus sinaps. Glomerulus
demikian terdapat pada serebelum, bulbus olfaktori, korpus genikulata lateral, dan beberapa
tempat lain.

Pada bagian bouton pra-sinaps terdapat banyak vesikel sinaps. Juga mitokondria, lisosom, dan
mikrotubul. Juluran pasca-sinaps juga memperlihatkan bangunan bermembran dengan berbagai
bentuk.

Sinaps dalam situasi berbeda juga sangat bervariasi bentuk umumnya, ukurannya, bentuk dan
sifat vesikel sinaptik dan konvigurasi daerah sitoplasma padat pra-sinaps dan pasca-sinaps.
Dilihat dari sudut fisiologi maka terdapat sinaps eksitatori atau inhibitori.

C. POTENSIAL AKSI PADA SEL SARAF

1. Sintesis Protein Dan Transport Aksoplasmik

Sel-sel saraf merupakan sel sekretorik, tetapi berbeda dengan sel-sel sekretorik lain, zona
sekretorik sel saraf umumnya ada diujung akson, jauh dari badan sel. Ribosom, kalaupun ada,
terdapat sedikit diakson dan ujung saraf; semua protein penting disintesis di retikulum
endoplasmik dan aparatus golgi badan sel, dan kemudian diangkut disepanjang aksonke tonjolan
sinaptik melalui proses aliran aksoplasmik . dengan demikian, badan selmempertahankan
integritas fungsional dan anatomi akson; bila akson dippotong, bagian distal dari pemotongan
akan berdegenerasi (degenerasi wallerian). transport cepat berlangsung dengan kecepatankurang
lebih 400mm/h, dan transport lambat berlangsung kurang lebihpada kecepatan 0,5-10 mm/h.
transport retograd dengan arah yang berlawanan juga terjadi disepanjang mikrotubulus dengan
kecepatan kira-kira 200 mm/h. Vesikel sinaptik mengalami daur ulang di membran sel, tetapi
sebagian vesikel yang telah terpakai dibawa kembali ke badan sel dan disimpan dilisosom.
Sebagian material yang diambil diujung-ujung saraf melalui proses endositosis, termasuk faktor
pertumbuhan saraf dan berbagai virus, juga diangkut kembali ke badan sel.
2. Potensial Aksi

Dalam fisiologi , sebuah potensial aksi adalah tahan short event di mana listrik potensial
membran dari sel dengan cepat naik dan turun, mengikuti lintasan konsisten. Aksi potensi terjadi
pada beberapa jenis sel-sel hewan , disebut sel meluap perasaannya , yang meliputi neuron , sel-
sel otot , dan endokrin sel, serta dalam beberapa sel tumbuhan . Dalam neuron, mereka
memainkan peran sentral dalam sel-komunikasi-sel. Dalam jenis sel, fungsi utama mereka adalah
untuk mengaktifkan proses intraseluler. Pada sel otot, misalnya, potensial aksi adalah langkah
pertama dalam rantai peristiwa yang menyebabkan kontraksi. Dalam sel-sel beta dari pankreas ,
mereka memprovokasi pelepasan insulin.Aksi potensi di neuron yang juga dikenal sebagai
“impuls saraf” atau “paku”, dan urutan temporal potensial aksi yang dihasilkan oleh neuron ini
disebut kereta yang spike ” “. Sebuah neuron yang memancarkan suatu potensial aksi sering
dikatakan “api”.

potensi Aksi dihasilkan oleh jenis khusus dari gated ion channel-tegangan tertanam dalam sel
membran plasma . Saluran ini tertutup ketika potensial membran dekat potensial istirahat sel,
tetapi mereka dengan cepat mulai terbuka jika potensial membran meningkat ke nilai ambang
didefinisikan secara tegas. Ketika saluran terbuka, mereka mengijinkan arus batin natrium ion,
yang mengubah gradien elektrokimia, yang pada gilirannya menghasilkan peningkatan lebih
lanjut dalam potensial membran. Hal ini kemudian menyebabkan lebih banyak saluran untuk
membuka, menghasilkan arus listrik yang lebih besar, dan sebagainya. Proses Hasil eksplosif
sampai semua saluran ion yang tersedia adalah terbuka, mengakibatkan kenaikan besar dalam
potensial membran. Cepat masuknya ion natrium menyebabkan polaritas membran plasma untuk
membalikkan, dan saluran ion kemudian cepat menginaktivasi. Sebagai saluran natrium dekat,
ion natrium tidak dapat lagi memasuki neuron, dan mereka secara aktif diangkut keluar dari
membran plasma. Kalium saluran kemudian diaktifkan, dan ada sebuah arus luar ion kalium,
gradien elektrokimia mengembalikan ke keadaan istirahat . Setelah potensial aksi telah terjadi,
ada pergeseran negatif sementara, yang disebut afterhyperpolarization periode refraktori atau,
karena arus kalium tambahan. Ini adalah mekanisme yang mencegah potensi tindakan perjalanan
kembali cara baru saja datang.

Pada sel hewan, ada dua jenis utama potensial aksi, salah satu jenis yang dihasilkan oleh saluran-
gated sodium tegangan, yang lainnya dengan tegangan-gated calcium channel. potensial aksi
Sodium berbasis biasanya berlangsung kurang dari satu milidetik, sedangkan potensial aksi
berbasis kalsium dapat berlangsung selama 100 milidetik atau lebih. Dalam beberapa jenis
neuron, paku kalsium lambat memberikan kekuatan pendorong untuk ledakan yang panjang paku
natrium cepat-dipancarkan. Pada sel otot jantung, di sisi lain, sebuah spike cepat awal natrium
memberikan “primer” untuk memprovokasi terjadinya lonjakan cepat kalsium, yang kemudian
menghasilkan kontraksi otot.
3. Potensial Membran Istirahat

Bila dua elektroda dihubungkan dengan suatu OSK melalui amplifier yang sesuai, dan diletakkan
di permukaan suatu akson tunggal. Tidak terjadi perbedaan potensial. Tetapi bila satu elektroda
dimasukkan ke dalam sel, tampak perubahan potensial yang menetap, dengan bagian dalam
relatif negatif terhadap bagian luar sel dalam keadaan istirahat. Potensial membran istirahat ini
ditemukan pada hampir semua sel.

4. Masa Laten

Bila akson dirangsang dan terjadi rambatan impuls, tampak serangkaian perubahan potensial
yang khas yang dikenal sebagai potensial aksi, saat impuls berjalan melewati elektroda
eksternal. Saat rangsang diberikan, terjadi penyimpangan (defleksi) garis dasar yamh singkat dan
tidak teratur, itulah artefak rangsang. Artefak ini timbul karena adanya kebocoran arus dari
elektroda perangsang ke elektroda perekam. Hal ini biasanya terjadi sekalipun telah dilindungi
dengan hati-hati, tetapi sangat berarti karena memberi tanda pada layar sinar katoda pada saat
rangsang diberikan.

Artefak rangsang tersebut disusun oleh interval isopotensial (masa laten) yang berlangsung
sampai saat mulainya potensial aksi. Masa laten ini sesuai dengan waktu yang dibutuhkan oleh
impuls untuk bergerak sepanjang akson dari tempat perangsangan ke elektroda perekam.
Lamanya sebanding dengan jarak antara elektroda perangsang dan elektroda perekam,dan
berbanding terbalik dengankecepatan hantar. Bila diketahui lama masa laten dan jarak antara
kedua elektroda, kecepatan akson dapat dihitung.

5. Potensial Elektronika, Respons Setempat dan Ambang Letup

Meskipun rangsang bawah ambang tidak menghasilkan potensial aksi, tetapi rangsang bawah
ambang menimbulkan efek pada potensial membran. Hal ini dapat diperlihatkan dengan
menempatkan elektroda perekam pada jarak beberapa milimeter di dalam elektroda perangsang
dan memberikan rangsang bahwa ambang selama waktu tertentu. Pemberian rangsang listrik
seperti itu melalui katoda menimbulkan potensial depolarisasi setempat yang meningkat dengan
tajam dan menurun seiring dengan waktu. Besarnya respon depolarisasi ini menurun dengan
cepat dengan semakin jauhnya jarak antara elektroda-elektroda perangsang dengan elektroda
perekam. Sebaliknya, rangsang listrik anoda menghasilkan potensial hiperpolarisasi dengan
durasi yang sama.Perubahan-perubahan potensial seperti itu dinamakan potensial elektronik,
potensial yang terbentuk di katoda dinamakan katelektrotonik dan yang dihasilkan di anoda
dinamakan anelektrotonik. Potensial elektronik adalah perubahan-perubahan pasif pada
polarisasi membran yang disebabkan oleh penambahan atau oengurangan muatan listrik ole
elektroda tertentu. Pada kuat rangsang yang rendah, yang menghasilkan depolarisasi atau hiper-
polarisasi sampai sekitat 7 mV, amplitudonya sebanding dengan kuat rangsang. Pada rangsang
yang lebih kuat, hubungan proporsional ini tetap sama dengan peristiwa anelektrotonik, tetapi
tidak demikian halnya dengan respon yang terjadi di daerah katoda, respon didaerah katoda lebih
besar dari yang diperkirakan sehubungan dengan kuat rangsang yang diberikan. Akhirnya, bila
rangsang katoda lebih besar untuk menghasilkan depolarisasi sebesar kurang lebih 15 mV,yaitu
pada potensial sebesar -55 mV, potensial membran tiba-tiba turun dengan cepat dan terbangkit
potensial aksi yang merambat. Respon yang lebih besar yang tidak propesional di daerah katoda
terhadap ransang yang cukup kuat untuk menghasilkan depolarisasi sebesar 7-15 mV terjadi bila
salutan Na+ bergerbang voltase (voltage-gated Na+ channels) mulai terbuka dan respon yang
terjadi dinamakan respons setempat. Titik tempat mulainya potensial aksi terbangkit dinamakan
ambang letup. Dengan demikian, arus katoda yang menghasilkan depolarisasi sampai 7 mV,
hanya mempunyai pengaruh pasif terhadap membran sebagai akibat dari penambahan muatan
listrih negatif. Arus yang menghasilkan depolasisasi 7-15 mV juga sedikit berkontribusi aktif
terhadap proses depolarisasi. Meskipun demikian, daya repolarisasi masih lebih kuat dari pada
daya depolarisasi, dan dengan demikian , potensial listrik semakin menurun. Pada potensial
depolarisasi sebesar 15mV, daya depolarisasi cukup kuat untuk mengatasi proses repolarisasi,
maka terjadilah potensial aksi.

Perangsangan biasanya terjadi di katoda, karena rangsang katoda menimbulkan depolarisasi.


Arus anoda, dengan menjauhkan potensial membran dari ambang letup, menghambat
pembentukan impuls. Meskipun demikian, berakhirnya arus anoda dapat menimbulkan kaduk
julang (overshoot) depolarisasi pada potensial membran. Efek lepas-hambatan ini kadang-kadang
cukup besar dengan demikian menyebabkan potensial aksi saraf terbangkit di saat berakhirnya
rangsang anoda. Proses depolarisasi dan repolarisasi:

1. Depolarisasi (kemajuan)
2. Jika neuron menerima stimulasi yang cukup untuk mencapai ambang membran, berturut-
turut Na gerbang sepanjang seluruh membran neuron akan terbuka
3. Pembukaan gerbang ion Na Na memungkinkan untuk pindah ke neuron
4. Pergerakan ion Na ke neruon penyebab potensial membran berubah dari-70mV ke +40
mV
5. Sebagai potensial membran menjadi lebih positif, Na gerbang mulai menutup. Pada akhir
depolarisasi, gerbang Na adalah semua yang ditutup
6. Repolarisasi (Down-swing)
7. Pada akhir fase depolarisasi, K gerbang mulai terbuka, sehingga K untuk meninggalkan
neuron
8. K gerbang ini diaktifkan sebesar nilai + ve potensi membran sekitar +40 mV
9. Gerakan keluar ion K dari neuron menghasilkan perubahan potensial membran sehingga
potensi menjadi lebih-ve
10. Setelah repolarisasi, gerbang K dekat perlahan-lahan
11. Selama konduksi impuls saraf, setiap bagian berurutan dari membran neuron akan
menjalani potensial aksi yang terdiri dari depolarisasi diikuti oleh repolarisasi
12. Jadi impuls saraf adalah gerakan potensial aksi di sepanjang membran sel neuron
2.2 Sel Otot (Muscle)

Otot merupakan bagian terpenting dalam tubuh kita.Otot memungkinkan kita melakukanberbagai
aktivitas. Jaringan otot memiliki banyak fungsi sesuai dengan jenisnya. Terdapat 3 jenisotot, otot
rangka (otot lurik), otot polos, dan otot jantung.

1. Otot Rangka (Otot Lurik)

a. Struktur Sel Otot Rangka

Sel otot rangka berbentuk silinder, berinti banyak dan letaknya di tepi, dan berukuran besar.
Setiap otot rangka yang utuh disusun oleh sel-sel otot atau serat-serat otot. Setiap serat otot
tersusun atas miofibril-miofibril.

Di dalam myofibril terdapat unsur-unsur sitoskeleton yang sangat terorganisir, yaitu:1.


Filamen tebal Filamen tebal memiliki diameter 12-18 nm dan panjang 1.6 µm. Filamen tebal ini
tersusun dari protein miosin. Di dalam setiap sel otot terdapat 16 miliyar filamentebal.2. Filamen
tipis Filamen tipis memiliki diameter 5-10 nm dan panjang 1,0 µm.

Filamen tipis initersusun dari protein aktin. Terdapat 32 miliyar filamen tipis yang menyusun
setiap sel otot. Karena adanya filamen tebal dan filamen tipis ini, setiap myofibril
memperlihatkan pita-pita yang sejajar satu sama lain dan secara kolektif membentuk gambaran
seran lintang pada otot rangka tersebut. Filamen tebal dapat tumpang tindih dengan filamen tipis
membentuk pita A. Bagian ini sering juga disebut dengan zona gelap. Bagian tengah dari filamen
tebalyang tidak tumpang tindih dengan filamen tipis disebut zona H yang sering juga disebut pita
terang. Sedangkan bagian dari filamen tipis yang tidak tumpang tindih dengan filamen tebal
disebut dengan pita I.

Di bagian tengah dari pita I terdapat garis vertical, yang disebut garis Z. Daerah diantara dua
garis Z ini disebut dengan sarkomer. Sarkomer inilah yang merupakan unit ungsional dari otot
rangka. Sarkomer merupakan unit fungsional terkecil yang dapat melakukan kontraksi otot.
Garis Z sendiri menjadi penghubung filamen-filamen tipis dari dua sarkomer. Garis Z ini pula
yang menunjang sarkomer-sarkomer pada filamen tipis tetap menyatu. Di dalam filamen tebal
juga memiliki penunjang yang menahan filamen tebal tetap terentang yang disebut dengan pita
M.Pita M ini berjalan dari bagian tengah pita A ke bagian tengah zona H.

b. Fungsi Sel Otot Rangka


Otot lurik berada menempel di seluruh rangka dan bekerja sesuai kesadaran. Selainmengatur
gerak pada tulang, otot lurik juga disebut sebagai alat gerak aktif.

Otot lurik atau otot rangka adalah sejenis otot yang menempel pada rangka tubuh dan digunakan
untuk pergerakan. Otot lurik yang volunter terikat pada tulang atau fasia dan membentuk daging
dari anggota badan dan dinding tubuh.

Fungsi Otot Rangka

- Untuk menggerakkan tulang pada artikulasinya (kontraksi dan relaksasi).

Mempertahankan sikap tubuh.

- Menstabilkan sendi Mengekalkan postur.

Bagian-Bagian Otot Rangka:

1.Sarkolema

Membran sel dari selaput otot.Terdiri dari membran sel yang disebut membran plasma & sebuah
lapisan luar yang terdiri dari 1 lapisan tipis mengandung kolagen

2.Miofibril

Merupakan bulatan-bulatan kecil pada potongan melintang mengandung 1500 FM,3000 FA yang
merupakan molekul protein polimer besar untuk kontraksi otot

Memiliki 2 filamen:

- Filamen Tebal yang dibentuk oleh myosin

- Filamen Tipis yang dibentuk oleh aktin, tropomiosin & troponin

3.Sarkoplasma

Miofibril-miofibril terpendam dalam serat otot di dalam suatu matriks

4.Retikulum Sarkoplasmik

Sarkoplasma yang terdapat pada retikulum endoplasma yang terdapat dalam serat otot.
2. Otot Polos

1. Struktur Sel Otot Polos

Otot polos tersusun tersebar dan berbentuk lembaran. Sel otot polos berbentuk gelendong
dengan kedua ujungnya meruncing dan inti selnya terletak di tengah. Otot polos tersusun atas
miofilamen halus dan miofilamen kasar.

2. Fungsi Sel Otot Polos

Karena otot polos bekerja di luar kesadaran, biasanya otot polos ada di organ-organpenting,
seperti organ pencernaan, pernafasan, reproduksi, serta organ-organ lainnyakecuali jantung. Otot
polos yang mengatur kontraksi dari kerja organ-organ ini.

3. Otot Jantung

a. Struktur Otot Jantung

Otot jantung berbentuk seperti otot lurik tetapi bentuknya tidak silindris, tetapibercabang.
Namun letak inti selnya di tengah. Sama halnya dengan otot lurik, otot jantung juga tersusun atas
serabut-serabut sel otot dan terdiri dari miofilamen tebaldan tipis, hanya saja susunannya tidak
teratur seperti otot lurik.

b. Fungsi Otot Jantung

Otot ini bekerja di luar kesadaran dan hanya terdapat di miokardium jantung. Ototjantung ini
hanya berfungsi mengatur kontraksi kerja jantung.

Kelelahan Otot

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata lelah. Setelah bekerja atau melakukan
aktivitas fisik yang menguras tenaga, kita akan diserang oleh penyakit yang bernama lelah.
Namun dalam realitanya, sebagian besar orang awam belum mengerti tentang arti kata lelah,
khususnya kelelahan otot.

Kelelahan menurut Tarwaka, dkk (2004:107) adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar
tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Istilah
kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi
semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan
tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa kelelahan berperan dalam menjaga homeostatis tubuh.
Hasil percobaan yang dilakukan para peneliti pada otot mamalia, menunjukkan kinerja otot
berkurang dengan meningkatnya ketegangan otot sehingga stimulasi tidak lagi menghasilkan
respon tertentu.

Irama kontraksi otot akan terjadi setelah melalui suatu periode aktivitas secara terus menerus.
Fenomena berkurangnya kinerja otot setelah terjadinya tekanan melalui fisik untuk suatu waktu
tertentu disebut kelelahan otot secara fisiologis, dan gejala yang ditunjukkan tidak hanya berupa
berkurangnya tekanan fisik namun juga pada makin rendahnya gerakan (AM.Sugeng Budiono,
2003: 87).

Jadi kelelahan otot adalah suatu keadaan otot, dimana otot tidak dapat berkontraksi secara cepat
dan kuat atau bahkan tidak dapat berkontraksi sama sekali. Kelelahan otot suatu saat pasti akan
terjadi pada kita, terutama pada seseorang yang memiliki aktivitas fisik yang padat setiap
harinya.

Lama waktu otot quadriceps saat melakukan gerakan maksimal dalam latihan hanya sampai 30
menit. Kelelahan jenis ini

Kelelahan otot juga berguna sebagai tanda bahaya, bahwa otot tidak dapat menerima perintah
untuk berkontraksi. Selain itu, kelelahan otot juga memberi sinyal bagi tubuh kita agar
beristirahat sejenak untuk mengembalikan keadaan otot setelah terjadi kontraksi yang cukup
lama.

Faktor-Faktor Penyebab Kelelahan Otot

Telah diketahui bahwa kelelahan otot merupakan ketidakmampuan otot untuk berkontraksi
secara cepat dan kuat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kelelahan otot. Berikut adalah
pembahasan tentang penyebab-penyebab dari kelelahan otot tersebut:

1. Pengososan ATP-CP

ATP merupakan sumber energi kontraksi otot dan PC untuk resintesa protein secepatnya. Jika
ATP dan PC digunakan untuk kontraksi terus maka terjadi pengosongan fosfagen intraselular
sehingga mengakibatkan kelelahan. Selain itu ada peningkatan konsentrasi ion H+ di dalam
intraselular yang diakibatkan penumpukan asam laktat.

2. Pengosongan Simpanan Glikogen Otot

Pengosongan glikogen terjadi karena proses latihan yang lama (30 menit – 4 jam). Karena
pengosongan glikogen demikian hebat, maka menyebabkan kelelahan kontraktil. Faktor lain
penyebab kelelaha, antara lain, rendahnya tingkat glukosa darah yang menyebabkan
pengosongan glikogen hati, pengosongan cadangan glikogen otot, menyebabkan kelelahan otot
local, dehidrasi dan kurangnya elektrolit, menyebabkan temperatur meningkat.
3. Akumulasi “LACTIC ACID”

Akumulasi asam laktat akan menumpuk di otot dan di pembuluh darah.Menyebabkan


konsentrasi H+ meningkat dan pH menurun.Ion H+ menghalangi proses eksitasi, yaitu
menurunnya Ca2+ yang dikeluarkan dari retikulum sarkoplasmik. Ion H+ juga mengganggu
kapasitas mengikat Ca2+ oleh troponin. Ion H+ juga akan menghambat kegiatan fosfo-
fruktokinase.http://venomous12seven.wordpress.com/wp-
includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Mekanisme Kelelahan Otot

Konsep kelelahan merupakan reaksi fungsional dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri yang
dipengaruhi oleh dua sistem penghambat (inhibisi dan sistem penggerak/aktivasi).

Sampai saat ini masih berlaku dua teori tentang kelelahan otot, yaitu teori kimia dan teori syaraf
pusat (Tarwaka. dkk, 2004: 107).

1) Teori Kimia

Secara teori kimia bahwa terjadinya kelelahan adalah akibat berkurangnya cadangan energi dan
meningkatnya sistem metabolisme sebagai penyebab hilangnya efisiensi otot, sedangkan
perubahan arus listrik pada otot dan syaraf adalah penyebab sekunder.

2) Teori Syaraf Pusat

Bahwa perubahan kimia hanya penunjang proses, yang mengakibatkan dihantarkannya


rangsangan syaraf oleh syaraf sensosrik ke otak yang disadari sebagai kelelahan otot.
Rangsangan aferen ini menghambat pusat-pusat otak dalam mengendalikan gerakan sehingga
frekuensi potensial gerakan pada sel syaraf menjadi berkurang. Berkurangnya frekuensi ini akan
menurunkan kekuatan dan kecepatan kontraksi otot dan gerakan atas perintah kemauan menjadi
lambat. Kondisi dinamis dari pekerjaan akan meningkatkan sirkulasi darah yang juga
mengirimkan zat-zat makanan bagi otot dan mengusir asam laktat. Karena suasana kerja dengan
otot statis aliran darah akan menurun, maka asam laktat akan terakumulasi dan mengakibatkan
kelelahan otot lokal. Disamping itu juga dikarenakan beban otot yang tidak merata pada jaringan
tertentu yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja (performance) seseorang (Eko
Nurmianto, 2003: 265). Kelelahan diatur oleh sentral dari otak. Pada susunan syaraf pusat,
terdapat sistem aktivasi dan inhibisi. Kedua sistem ini saling mengimbangi tetapi kadangkadang
salah satu daripadanya lebih dominan sesuai dengan kebutuhan. Sistem aktivasi bersifat simpatis,
sedang inhibisi adalah parasimpatis.

Fungsi otot :

- melakukan gerakan bersama tulang


- mengalirkan darah

- mengedarkan sari makanan

2.3 Sel Tulang

Mikroskopis, tulang terdiri dari keras, bahan interseluler rupanya homogen, di dalam atau di
mana dapat menemukan empat jenis sel karakteristik: osteoblas , osteosit , osteoklas , dan
dibedakan tulang mesenchymal stem cell .

Fungsi masing – masing sel tulang :

1. Osteoblas bertanggung jawab untuk sintesis dan deposisi pada permukaan tulang protein
matriks bahan antar sel baru.
2. Osteosit merupakan osteoblas yang telah terperangkap dalam material interseluler, yang
berada dalam rongga (kekosongan) dan berkomunikasi dengan osteosit lainnya serta
dengan permukaan tulang bebas dengan cara ekstensif ekstensi protoplasma berfilamen
yang menempati panjang, berkelok-kelok saluran (canaliculi) melalui substansi tulang.
Dengan pengecualian dari perintah yang lebih tinggi tertentu ikan modern, tulang semua,
termasuk tulang fosil vertebrata primitif, menunjukkan struktur osteocytic.
3. Osteoklas biasanya sel berinti besar yang, bekerja dari permukaan tulang, menyerap
tulang oleh kimia langsung dan serangan enzimatik. Sel batang mesenchymal dibedakan
dari tulang berada dalam jaringan ikat longgar antara trabekula, di sepanjang saluran
pembuluh darah, dan jaringan fibrosa kental meliputi bagian luar tulang ( periosteum ),
mereka menimbulkan bawah rangsangan yang tepat untuk osteoblas.

Tergantung pada bagaimana fibril protein dan osteosit tulang diatur, tulang adalah dari dua jenis
utama: tenunan, di mana kolagen bundel dan sumbu panjang osteosit yang berorientasi secara
acak, dan pipih, di mana kedua fibril dan osteosit selaras dalam jelas lapisan. Dalam tulang pipih
lapisan bergantian setiap beberapa mikrometer (sepersejuta meter), dan arah utama dari fibril
bergeser sekitar 90 °. Dalam tulang kompak, atau korteks, spesies mamalia banyak, tulang pipih
lebih lanjut diatur dalam unit yang dikenal sebagai osteons , yang terdiri dari unsur konsentris
pipih silindris beberapa milimeter panjang dan 0,2-0,3 mm (0,008-0,012 inci) dengan diameter.
Silinder ini terdiri dari sistem Haversian. Osteons menunjukkan kursus lembut spiral berorientasi
sepanjang sumbu tulang. Di tengah mereka adalah kanal (Haversian kanal) yang mengandung
satu atau lebih pembuluh darah kecil, dan pada margin luar mereka adalah lapisan batas yang
dikenal sebagai "garis semen," yang berfungsi baik sebagai sarana untuk fiksasi tulang baru
disetorkan pada tua permukaan dan sebagai penghalang difusi. Proses Osteocytic tidak
menembus garis semen, dan karena itu hambatan ini merupakan amplop luar dari unit gizi,
osteosit di sisi berlawanan dari garis semen berasal nutrisi mereka dari saluran pembuluh darah
yang berbeda. Garis semen ditemukan di semua jenis tulang, serta di osteons, dan pada
umumnya mereka menunjukkan garis di mana tulang baru diendapkan pada permukaan lama.

2.4 Sel Darah

Sel darah terdiri dari tiga yaitu :

1. Eritrosit ( Sel Darah Merah )

Eritrosit merupakan bagian utama dari sel-sel darah. Setiap mm kubiknya darah pada seorang
laki-laki dewasa mengandung kira-kira 5 juta sel darah merah dan pada seorang perempuan
dewasa kira-kira 4 juta sel darah merah.

Tiap-tiap sel darah merah mengandung 200 juta molekul hemoglobin. Hemoglobin (Hb)
merupakan suatu protein yang mengandung senyawa besi hemin. Hemoglobin mempunyai
fungsi mengikat oksigen di paru-paru dan mengedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Jadi, dapat
dikatakan bahwa di paruparu terjadi reaksi antara hemoglobin dengan oksigen.

2 Hb2+ 4 O2 ==> 4 Hb O2 (oksihemoglobin)

Setelah sampai di sel-sel tubuh, terjadi reaksi pelepasan oksigen oleh Hb.

4 Hb O2 ==> 2 Hb2+ 4 O2

Kandungan hemoglobin inilah yang membuat darah berwarna merah. Amatilah Gambar 5.2
untuk mengenal struktur hemoglobin.

Struktur Eritrosit

Eritrosit mempunyai bentuk bikonkaf, seperti cakram dengan garis tengah 7,5 uM dan tidak
berinti. Warna eritrosit kekuning-kuningan dan dapat berwarna merah karena dalam
sitoplasmanya terdapat pigmen warna merah berupa hemoglobin.

Pembentukan Eritrosit

Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya di tulang dada, tulang selangka,
dan di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya terjadi selama tujuh hari. Pada
awalnya eritrosit mempunyai inti, kemudian inti lenyap dan hemoglobin terbentuk. Setelah
hemoglobin terbentuk, eritrosit dilepas dari tempat pembentukannya dan masuk ke dalam
sirkulasi darah.

Eritrosit dalam tubuh dapat berkurang karena luka sehingga mengeluarkan banyak darah atau
karena penyakit, seperti malaria dan demam berdarah. Keadaan seperti ini dapat mengganggu
pembentukan eritrosit.

Masa Hidup Eritrosit

Masa hidup eritrosit hanya sekitar 120 hari atau 4 bulan, kemudian dirombak di dalam hati dan
limpa. Sebagian hemoglobin diubah menjadi bilirubin dan biliverdin, yaitu pigmen biru yang
memberi warna empedu. Zat besi hasil penguraian hemoglobin dikirim ke hati dan limpa,
selanjutnya digunakan untuk membentuk eritrosit baru. Kira-kira setiap hari ada 200.000 eritrosit
yang dibentuk dan dirombak. Jumlah ini kurang dari 1% dari jumlah eritrosit secara keseluruhan.

Fungsi Sel darah Merah

1. Sel darah merah berfungsi mengedarkan O2 ke seluruh tubuh. Sel darah merah akan
mengikat oksigen dari paru–paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan
mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru–paru.
Pengikatan oksigen dan karbon dioksida ini dikerjakan oleh hemoglobin yang telah
bersenyawa dengan oksigen yang disebut oksihemoglobin (Hb + oksigen 4 Hb-
oksigen) jadi oksigen diangkut dari seluruh tubuh sebagai oksihemoglobin yang
nantinya setelah tiba di jaringan akan dilepaskan: Hb-oksigen Hb + oksigen, dan
seterusnya. Hb tadi akan bersenyawa dengan karbon dioksida dan disebut karbon
dioksida hemoglobin (Hb + karbon dioksida Hb-karbon dioksida) yang mana karbon
dioksida tersebut akan dikeluarkan di paru-paru.
2. Berfungsi dalam penentuan golongan darah.
3. Eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika sel darah merah
mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel darah
merah akan melepaskan radikal bebas yang akan menghancurkan dinding dan
membran sel patogen, serta membunuhnya.
4. Eritrosit juga melepaskan senyawa S-nitrosothiol saat hemoglobin terdeoksigenasi,
yang juga berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah dan melancarkan arus darah
supaya darah menuju ke daerah tubuh yang kekurangan oksigen.

2. Leukosit (Sel Darah Putih)


Jumlah Leukosit (Sel Darah Putih)

Jumlah leukosit lebih sedikit dibandingkan dengan eritrosit. Pada laki-laki dan perempuan
dewasa setiap mm kubiknya darah hanya terdapat kira-kira 4.500 sampai 10.000 jumlah butir.
Leukosit mempunyai bentuk bervariasi dan mempunyai ukuran lebih besar dari eritrosit.
Leukosit mempunyai inti bulat dan cekung. Sel-sel ini dapat bergerak bebas secara amuboid serta
dapat menembus dinding kapiler (diapedesis).

Jenis Leukosit

Leukosit dapat dibedakan menjadi dua, yaitu leukosit granulosit ( plasmanya bergranula =
basofil , eosinofil, neutrofil ) dan leukosit agranulosit ( plasmanya tidak bergranula = limfosit,
monosit ). Apa perbedaan kedua jenis leukosit tersebut? Pelajarilah dalam Tabel 5.3 berikut.

Pembentukan & Fungsi Leukosit

Leukosit dibentuk dalam sumsum tulang merah, limpa, kelenjar limpa, dan jaringan
retikuloendotelium. Tugas utama leukosit adalah ”memakan” kuman penyakit dan benda-benda
asing lain, seperti bakteri yang ada di dalam tubuh. Oleh sebab itu, leukosit dikenal sebagai
fagosit.

Proses fagositosis pada leukosit dapat Anda amati pada Gambar 5.3. Selain itu, leukosit
khususnya limfosit dapat melemahkan bakteri atau zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam
tubuh. Kadang-kadang leukosit juga sebagai alat pengangkut lemak sehingga leukosit lebih
banyak terdapat di dalam pembuluh kil dan pembuluh limfa.

3. Trombosit

Bentuk & Jumlah Trombosit ( Keping Darah )

Trombosit berbentuk oval tidak berinti, berukuran kecil, yaitu sekitar 3–4 mm. Pada umumnya
setiap mm kubiknya darah terdapat 150.000 sampai 350.000 trombosit.

Pembentukan & Fungsi Trombosit

Trombosit dibentuk dalam sumsum tulang dan mempunyai umur lebih kurang 10 hari. Trombosit
mudah pecah dan akan mengeluarkan enzim trombosit atau tromboplastin. Enzim ini berperan
dalam proses pembekuan darah. Proses pembekuan darah dapat Anda amati pada Gambar 5.4
berikut.

Proses Pembekuan Darah


Jika terjadi luka, darah keluar sehingga darah berhubungan dengan udara. Trombosit yang keluar
bersama darah akan pecah karena bergesekan dengan luka dan mengeluarkan trombokinase atau
tromboplastin. Dengan bantuan ion-ion Ca2+, tromboplastin mengubah protrombin dalam darah
menjadi trombin. Trombin akan mengubah fibrinogen yang ada dalam darah menjadi benang-
benang fibrin, yaitu berupa benang-benang halus yang menutup luka sehingga darah tidak keluar
lagi.

Definisi Protrombin

Protrombin adalah senyawa globulin yang larut dalam plasma dan dibuat di hati dengan bantuan
vitamin K. Kalau kekurangan vitamin K, pembentukan protrombin terganggu. Dengan demikian,
proses pembekuan darah juga terganggu.

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

v Sel adalah struktur dan unit fungsional tubuh yang terkecil.

v Secara anatomis sel dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Selaput Plasma (Membran Plasma atau Plasmalemma).

2. Sitoplasma dan Organel Sel.

3. Inti Sel (Nukleus).

v Jenis – jenis sel yang terdapat pada manusia adalah

1. Sel Saraf

2. Sel Tulang

3. Sel Otot

4. Sel Darah

3.2 Saran – Saran

v Tubuh kita ini terdiri dari banyak sel yang jumlahnya jutaan, dimana setiap sel memiliki
fungsinya masing – masing dalam tubuh kita jadi jagalah selalu kesehatan tubuh biar sel dapat
bekerja dengan baik dalam tubuh kita.