Vous êtes sur la page 1sur 3

Asal Usul Kapur Barus

Sejarah Nama “Kapur Barus”

Agan-agan pasti pernah membeli kapur yang mempunyai aroma wangi yang sangat menyengat…

yang biasanya agan gunain untuk mengusir bau apek di lemari atau mengusir bau tak sedap di dalam WC
itu loooh…

Yup,, itu adalah Kapur Barus alias camfer!!

tahukah agan kenapa benda kecil yang multi-guna ini dinamakan ’kapur barus’?

Ternyata karena secara historis zat padat yang berwarna keputih-putihan dan beraroma khas ini berasal
dari kota Barus.

dan taukah agan?

ternyata kota Barus adalah sebuah kota tertua di nusantara.

mengingat Barus merupakan kota di nusantara satu-satunya yang pernah dicatat berbagai literature
sejak awal masehi dalam bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China dan lain-lain.

Barus merupakan kota kecil yang berada di pesisir barat provinsi Sumatera Utara, tepatnya di antara
kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan medan.

Cladius Prolomeus, seorang gubernur kerajaan yunani yang berpusat di Iskandariyah Mesir, membuat
sebuah peta dan menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera ada barousai yang dikenal sebagai
penghasil wewangian dari kapur.

Kapur barus disebut juga dengan kamfer (atau camphor dalam bahasa Inggris). Jadi tidak
mengherankan kalau akhirnya kamfer ini dalam bahasa Melayu dinamakan ’kapur barus’. Istilah camphor
pun sebetulnya juga berasal dari bahasa Sanskerta karpoor atau bahasa Arab kafur yang dalam bahasa
kita diserap menjadi ’kapur’.

Sekilas Tentang Pohon Kapur Barus (Cinnamomum camphora)

Dahulu kala, kapur barus dibuat dari potongan kayu batang pohon Cinnamomum camphora yang
banyak tumbuh di kawasan Barus. Potongan-potongan kecil kayu ini direbus dan melalui proses
penyulingan dan penghabluran diperoleh kristal kamfer sebagai bahan baku untuk diproses di pabrik.

Sedemikian tersohornya kota Barus sebagai penghasil bahan baku kamfer sejak abad ke 9, hingga
semua saudagar dari seluruh penjuru dunia berlayar ke Barus untuk membeli kayu penghasil kamfer ini.

tapi sayang gan,

Dewasa ini kapur barus diproduksi tidak lagi memakai bahan baku kayu pohon kamfer, tetapi dibuat
secara sintesis dari minyak terpentin.

Kota Barus yang mengalami zaman keemasan pada abad XI itu, kini meredup dan terpinggirkan
keberadaannya, termasuk dalam hal menemukan pohon kamfer yang teramat langka eksistensinya di
hutan-hutan wilayah Barus. Sesuatu yang amat ironis mengingat asal kata ’kapur barus’ berasal dari
nama kota tua ini.
Bahkan Kini, Barus tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran yang hampir-hampir tak
tersentuh roda pembangunan. Sebagian warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau
pendidikan di luar daerah.