Vous êtes sur la page 1sur 12

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

Kita sering mendengar banyak perusahaan yang terpuruk karena tata pemerintahan
sebuah perusahaan tersebut tidak baik sehingga banyak fraud atau praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN) yang terjadi, sehingga terjadinya krisis ekonomi dan krisis
kepercayaan para investor, yang mengakibatkan tidak ada investor yang mau membeli
saham perusahaan tersebut. artinya, bisa dikatakan jika perusahaan tersebut tidak
menerapkan Corporate Governance dengan baik.
Sejarah lahirnya GCG muncul atas reaksi para pemegang saham di Amerika
Serikat pada tahun 1980-an yang terancam kepentingannya (Budiati, 2012). Maraknya
skandal perusahaan yang menimpa perusahaan – perusahaan besar, baik yang ada di
Indonesia maupun yang ada di Amerika Serikat, maka untuk menjamin dan
mengamankan hak-hak para pemegang saham, muncul konsep pemberdayaan
komisaris sebagai salah satu wacana penegakan GCG.
Diindonesia, konsep GCG mulai dikenal sejak krisis ekonomi tahun 1997 krisis
yang berkepanjangan yang dinilai karena tidak dikelolanya perusahaan-perusahaan
secara bertanggungjawab, serta mengabaikan regulasi dan sarat dengan praktek
(korupsi, kolusi, nepotisme) KKN (Budiati, 2012).
Bermula dari usulan penyempurnaan peraturan pencatatan pada Bursa Efek
Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) yang mengatur mengenai peraturan bagi emiten
yang tercatat di BEJ yang mewajibkan untuk mengangkat komisaris independent dan
membentuk komite audit pada tahun 1998, Corporate Governance (CG) mulai di
kenalkan pada seluruh perusahaan publik di Indonesia.
Berikut pengerti GCG menurut beberapa pakar sebagai berikut :
Menurut Cadbury Commitee of United Kingdom (1922) :” Seperangkat
peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola)
perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan
internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka
atau dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan”.
Muh. Effendi (2009) dalam bukunya The Power of Good Corporate Governance,
pengertian GCG adalah suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki
tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui
pengamanan aset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam
jangka panjang.
Soekrisno Agoes (2006), Tata Kelola Perusahaan yang baik adalah : Sistem
yang mengatur hubungan peran Dewan Komisaris, peran Direksi, pemegang saham, dan
pemangku kepentingan lainnya. Disebut juga sebagai suatu proses yang transparan atas
penentuan tujuan perusahaan, pencapaiannya dan penilaian kinerjanya. Wahyudi
Prakarsa (dalam Sukrisno Agoes,2006) menjelaskan tatakelola perusahaan yang baik
adalah “Mekanisme administratif yang mengatur hubungan-hubungan antara
manajemen perusahaan, komisaris, direksi, pemegang saham, dan kelompok-kelompok
kepentingan yang lain. Dimana hubungan ini dimanifestasikan dalam bentuk aturan
permainan dan sistem insentif sebagai kerangka kerja yang diperlukan untuk mencapai
tujuan perusahaan, cara pencapaian tujuan serta pemantauan kinerja yang dihasilkan”.
Dari pendapat pakar diatas dapat dikatakan bahwa good corporate governance
(GCG) adalah seperangkat peraturan yang mengatur, mengelola dan mengawasi
hubungan antara para pengelola perusahaan dengan stakeholders disuatu perusahaan
untuk meningkatkan nilai perusahaan. Perusahaan yang melakukan peningkatan pada
kualitas GCG menunjukan peningkatan penilaian pasar, sedangkan perusahaan yang
mengalami penurunan kualitas GCG, cenderung menunjukan penurunan pada penilaian
pasar (Cheung, 2011).
Manfaat GCG
Menurut Tjager dkk (2003) menjelaskan manfaat GCG sebagai berikut :
 Berdasarka survey yang telah dilakukan oleh McKinsey & Company
menunjukkan bahwa para investor institusional lebih menaruh kepercayaan
terhadap perusahaan-perusahaan di Asia yang telah menerapkan GCG.
 Berdasarkan berbagai analisis ternyata ada indikasi keterkaitan antara
terjadinya krisis financial dan krisis berkepanjangan di Asia denngan lemahnya
tata kelola perusahaan.
 Internasionalisasi pasar – termasuk liberalisasi pasar financial dan pasar modal
menuntut perusahaan untuk menerapkan GCG.
 Kalau GCG bukan obat mujarab untuk keluar dari krisis system ini dapat menjadi
dasar bagi beberkembangnya system nilai baru yang lebih sesuai dengan
lanskap bisnis yang kini telah banyak berubah.
 Secara teoris, praktik GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan. Menurut Mas
Ahmad Daniri (2005;14) jika perusahaan menerapkan mekanisme penerapan
Good Corporate Governance (GCG) secara konsisten dan efektif maka akan
dapat memberikan manfaat antara lain: (1) mengurangi agency cost, yaitu
suatu biaya yang harus ditanggung oleh pemegang saham akibat pendelegasian
wewenang kepada pihak manajemen; (2) mengurangi biaya modal (Cost of
Capital); (3) meningkatkan nilai saham perusahaan di mata publik dalam jangka
panjang; (4) menciptakan dukungan para stakeholder dalam lingkungan
perusahaan terhadap keberadaan perusahaan dan berbagai strategi dan
kebijakan yang ditempuh perusahaan.

A. Definisi Good Corporate Governance (GCG)


Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan:
1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan
komisaris, Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya.
2. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian
perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan
penyalahgunaan aset perusahaan.3. Suatu proses yang transparan atas penentuan
tujuan perusahaan, pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya
B. Arti penting Good Corporate Governance (GCG)
GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan
konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Penerapan GCG perlu didukung oleh
tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator,
dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa
dunia usaha. Prinsip dasar yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pilar adalah:
1. Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang
menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan peraturan
perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten (consistent law
enforcement) .
2. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar
pelaksanaan usaha.
3. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang terkena
dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan melakukan
kontrol sosial (social control) secara obyektif dan bertanggung jawab.
Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan) adalah suatu subjek yang
memiliki banyak aspek. Salah satu topik utama dalam tata kelola perusahaan adalah
menyangkut masalah akuntabilitas dan tanggung jawab/ mandat, khususnya
implementasi pedoman dan mekanisme untuk memastikan perilaku yang baik dan
melindungi kepentingan pemegang saham. Fokus utama lain adalah efisiensi ekonomi
yang menyatakan bahwa sistem tata kelola perusahaan harus ditujukan untuk
mengoptimalisasi hasil ekonomi, dengan penekanan kuat pada kesejahteraan para
pemegang saham. Ada pula sisi lain yang merupakan subjek dari tata kelola perusahaan,
seperti sudut pandang pemangku kepentingan, yang menunjuk perhatian dan
akuntabilitas lebih terhadap pihak-pihak lain selain pemegang saham, misalnya
karyawan atau lingkungan.
Sampai saat ini para ahli tetap menghadapi kesulitan dalam mendefinisikan GCG yang
dapat mengakomodasikan berbagai kepentingan. Tidak terbentuknya definisi yang
akomodatif bagi semua pihak yang berkepentingan dengan GCG disebabkan karena
cakupan GCG yang lintas sektoral. Definisi CGC menurut Bank Dunia adalah aturan,
standar dan organisasi di bidang ekonomi yang mengatur perilaku pemilik perusahaan,
direktur dan manajer serta perincian dan penjabaran tugas dan wewenang serta
pertanggungjawabannya kepada investor (pemegang saham dan kreditur). Tujuan
utama dari GCG adalah untuk menciptakan sistem pengendaliaan dan keseimbangan
(check and balances) untuk mencegah penyalahgunaan dari sumber daya perusahaan
dan tetap mendorong terjadinya pertumbuhan perusahaan.
Inti dari kebijakan tata kelola perusahaan adalah agar pihak-pihak yang berperan dalam
menjalankan perusahaan memahami dan menjalankan fungsi dan peran sesuai
wewenang dan tanggung jawab. Pihak yang berperan meliputi pemegang saham, dewan
komisaris, komite, direksi, pimpinan unit dan karyawan.
Konsep Good Corporate Governance (GCG) adalah konsep yang sudah saatnya
diimplementasikan dalam perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, karena
melalui konsep yang menyangkut struktur perseroan, yang terdiri dari unsur-unsur
RUPS, direksi dan komisaris dapat terjalin hubungan dan mekanisme kerja, pembagian
tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang harmonis, baik secara intern maupun
ekstern dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan demi kepentingan shareholders
dan stakeholders.

1. C. Prinsip-prinsip dalam Good Corporate Governance (GCG)


Dalam Undang-undang No 40 Tahun 2007 prinsip-prinsip Good Corporate Governance
harus mencerminkan pada hal-hal sebagai berikut :
1. Transparency (Keterbukaan Informasi)
Yaitu keterbukaan yang diwajibkan oleh Undang-undang seperti misalnya mengumukan
pendirin PT dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia ataupun Surat Kabar.
Serta keterbukaan yang dilakukan oleh perusahaan menyangkut masalah keterbukaan
informasi ataupun dalam hal penerapan management keterbukaan, informasi
kepemilikan Perseroan yang akurat, jelas dan tepat waktu baik kepada share holders
maupun stakeholder.
Dalam mewujudkan transparansi ini sendiri, perusahaan harus menyediakan informasi
yang cukup, akurat, dan tepat waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan
dengan perusahaan tersebut. Setiap perusahaan, diharapkan pula dapat
mempublikasikan informasi keuangan serta informasi lainnya yang material dan
berdampak signifikan pada kinerja perusahaan secara akurat dan tepat waktu. Selain itu,
para investor harus dapat mengakses informasi penting perusahaan secara mudah pada
saat diperlukan.
Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari penerapan prinsip ini. Salah
satunya, stakeholder dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan
transaksi dengan perusahaan. Kemudian, karena adanya informasi kinerja perusahaan
yang diungkap secara akurat, tepat waktu, jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan,
maka dimungkinkan terjadinya efisiensi pasar. Selanjutnya, jika prinsip transparansi
dilaksanakan dengan baik dan tepat, akan dimungkinkan terhindarnya benturan
kepentingan (conflict of interest) berbagai pihak dalam manajemen.
1. 2. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan)
2. 3. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Adanya keterbukaan informasi dalam bidang financial dalam hal ini ada dua
pengendalian yang dilakukan oleh direksi dan komisaris. Direksi menjalankan
operasional perusahaan, sedangkan komisaris melakukan pengawasan terhadap
jalannya perusahaan oleh Direksi, termasuk pengawasan keuangan. Sehingga sudah
sepatutnya dalam suatu perseroan, Komisaris Independent mutlak diperlukan
kehadirannya. Sehingga adanya jaminan tersedianya mekanisme, peran dan tanggung
jawab jajaran manajemen yang professional atas semua keputusan dan kebijakan yang
diambil sehubungan dengan aktivitas operasional perseroan.
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan
perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang
berlaku. Peraturan yang berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan masalah pajak,
hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan/ keselamatan kerja,
standar penggajian, dan persaingan yang sehat.
Beberapa contoh mengenai hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
 Kebijakan sebuah perusahaan makanan untuk mendapat sertifikat “HALAL”. Ini
merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. Lewat sertifikat ini, dari
sisi konsumen, mereka akan merasa yakin bahwa makanan yang dikonsumsinya itu
halal dan tidak merasa dibohongi perusahaan. Dari sisi Pemerintah, perusahaan telah
mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku (Peraturan Perlindungan
Konsumen). Dari sisi perusahaan, kebijakan tersebut akan menjamin loyalitas
konsumen sehingga kelangsungan usaha, pertumbuhan, dan kemampuan mencetak
laba lebih terjamin, yang pada akhirnya memberi manfaat maksimal bagi pemegang
saham.
 Kebijakan perusahaan mengelola limbah sebelum dibuang ke tempat umum. Ini juga
merupakan pertanggungjawaban kepada publik. Dari sisi masyarakat, kebijakan ini
menjamin mereka untuk hidup layak tanpa merasa terancam kesehatannya tercemar.
Demikian pula dari sisi Pemerintah, perusahaan memenuhi peraturan perundang-
undangan lingkungan hidup. Sebaliknya dari sisi perusahaan, kebijakan tersebut
merupakan bentuk jaminan kelangsungan usaha karena akan mendapat dukungan
pengamanan dari masyarakat sekitar lingkungan.
1. 4. Fairness (Kewajaran)
Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan yang adil
dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian
serta peraturan perundangan yang berlaku.
Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal, sistem hukum dan
penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor – khususnya pemegang saham
minoritas – dari berbagai bentuk kecurangan. Bentuk kecurangan ini bisa berupa insider
trading (transaksi yang melibatkan informasi orang dalam), fraud (penipuan), dilusi
saham (nilai perusahaan berkurang), KKN, atau keputusan-keputusan yang dapat
merugikan seperti pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan, penerbitan saham
baru, merger, akuisisi, atau pengambil-alihan perusahaan lain.
Fairness diharapkan membuat seluruh aset perusahaan dikelola secara baik
dan prudent (hati-hati), sehingga muncul perlindungan kepentingan pemegang saham
secara fair (jujur dan adil). Fairness juga diharapkan memberi perlindungan kepada
perusahaan terhadap praktek korporasi yang merugikan seperti disebutkan di atas.
Pendek kata, fairness menjadi jiwa untuk memonitor dan menjamin perlakuan yang adil
di antara beragam kepentingan dalam perusahaan.
Namun seperti halnya sebuah prinsip, fairness memerlukan syarat agar bisa
diberlakukan secara efektif. Syarat itu berupa peraturan dan perundang-undangan yang
jelas, tegas, konsisten dan dapat ditegakkan secara baik serta efektif. Hal ini dinilai
penting karena akan menjadi penjamin adanya perlindungan atas hak-hak pemegang
saham manapun, tanpa ada pengecualian. Peraturan perundang-undangan ini harus
dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menghindari penyalahgunaan lembaga
peradilan (litigation abuse). Di antara (litigation abuse) ini adalah penyalahgunaan
ketidakefisienan lembaga peradilan dalam mengambil keputusan sehingga pihak yang
tidak beritikad baik mengulur-ngulur waktu kewajiban yang harus dibayarkannya atau
bahkan dapat terbebas dari kewajiban yang harus dibayarkannya.
Prinsip GCG yang paling relevan dengan pengembangan sistem dan mekanisme internal
perusahaan adalah accountability. Berdasarkan prinsip ini, pertama-tama masing-
masing komponen perusahaan, seperti komisaris, direksi, internal auditor dituntut
untuk mengerti hak, kewajiban, wewenang dan tanggung jawabnya. Hal tersebut
penting sehingga masing-masing komponen mampu melaksanakan tugas secara
professional.
Dengan demikian masing-masing pihak baik Direksi maupun Komisaris perlu
mengamankan investasi dan aset perusahaan. Dalam hal ini Direksi harus memiliki
sistem dan pengawasan internal, yang meliputi bidang keuangan, operasional, risk
management dan kepatuhan (compliance). Sedangkan Komisaris menjaga agar tidak
terjadi mismanagement dan penyalahgunaan wewenang oleh Direksi dan para pejabat
eksekutif perusahaan.

1. D. Tujuan Penerapan Good Corporate Governance


Penerapan sistim GCG diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi semua pihak
yang berkepentingan (stakeholders) melalui beberapa tujuan berikut:
1. Meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kesinambungan suatu organisasi yang
memberikan kontribusi kepada terciptanya kesejahteraan pemegang saham, pegawai
dan stakeholders lainnya dan merupakan solusi yang elegan dalam menghadapi
tantangan organisasi kedepan
2. Meningkatkan legitimasi organisasi yang dikelola dengan terbuka, adil, dan dapat
dipertanggungjawabkan
3. Mengakui dan melindungi hak dan kewajiban para share holders dan stakeholders.
Dalam menerapkan nilai-nilai Tata Kelola Perusahaan, Perseroan menggunakan
pendekatan berupa keyakinan yang kuat akan manfaat dari penerapan Tata Kelola
Perusahaan yang baik. Berdasarkan keyakinan yang kuat, maka akan tumbuh semangat
yang tinggi untuk menerapkannya sesuai standar internasional. Guna memastikan
bahwa Tata Kelola Perusahaan diterapkan secara konsisten di seluruh lini dan unit
organisasi, Perseroan menyusun berbagai acuan sebagai pedoman bagi seluruh
karyawan. Selain acuan yang disusun sendiri, Perseroan juga mengadopsi peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Dalam hal penerapan prinsip GCG harus disadari bahwa penerapan Tata Kelola
Perusahaan yang baik hanya akan efektif dengan adanya asas kepatuhan dalam kegiatan
bisnis sehari-hari, terlebih dahulu diterapkan oleh jajaran manajemen dan kemudian
diikuti oleh segenap karyawan. Melalui penerapan yang konsisten, tegas dan
berkesinambungan dari seluruh pelaku bisnis.
Dengan pemberlakukan Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
akankah implementasi GCG di Indonesia akan terwujud ? Hal ini tergantung pada
penerapan dan kesadaran dari perseroan tersebut akan pentingnya prinsip GCG dalam
dunia usaha.
1. E. Manfaat dan Faktor Penerapan GCG
Seberapa jauh perusahaan memperhatikan prinsip-prinsip dasar GCG telah semakin
menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi. Terutama sekali
hubungan antara praktik corporate governance dengan karakter investasi internasional
saat ini. Karakter investasi ini ditandai dengan terbukanya peluang bagi perusahaan
mengakses dana melalui ‘pool of investors’ di seluruh dunia. Suatu perusahaan dan atau
negara yang ingin menuai manfaat dari pasar modal global, dan jika kita ingin menarik
modal jangka panjang yang, maka penerapan GCG secara konsisten dan efektif akan
mendukung ke arah itu. Bahkan jikapun perusahaan tidak bergantung pada sumber
daya dan modal asing, penerapan prinsip dan praktik GCG akan dapat meningkatkan
keyakinan investor domestik terhadap perusahaan.
Di samping hal-hal tersebut di atas, GCG juga dapat:
1. Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang saham
sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen. Biaya-biaya ini
dapat berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai akibat penyalahgunaan
wewenang (wrong-doing), ataupun berupa biaya pengawasan yang timbul untuk
mencegah terjadinya hal tersebut.
2. Mengurangi biaya modal (cost of capital), yaitu sebagai dampak dari pengelolaan
perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana atau sumber daya
yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring dengan turunnya tingkat resiko
perusahaan.
3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan
tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang.
4. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan) dalam
lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai strategi dan
kebijakan yang ditempuh perusahaan, karena umumnya mereka mendapat jaminan
bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal dari segala tindakan dan operasi
perusahaan dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.
Faktor Eksternal
Yang dimakud faktor eksternal adalah beberapa faktor yang berasal dari luar
perusahaan yang sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan GCG. Di antaranya:
a. Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin berlakunya
supremasi hukum yang konsisten dan efektif.
b. Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik/ lembaga pemerintahaan yang
diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean Government
menuju Good Government Governance yang sebenarnya.
c. Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat
menjadi standard pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional. Dengan kata lain,
semacam benchmark (acuan).
1. Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di masyarakat.
Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi aktif berbagai
kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta sosialisasi GCG secara sukarela.
2. Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan implementasi GCG
terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi yang berkembang di
lingkungan publik di mana perusahaan beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas
pendidikan dan perluasan peluang kerja. Bahkan dapat dikatakan bahwa perbaikan
lingkungan publik sangat mempengaruhi kualitas dan skor perusahaan dalam
implementasi GCG.

Faktor Internal
Maksud faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek GCG yang
berasal dari dalam perusahaan. Beberapa faktor dimaksud antara lain:
a. Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan
GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di perusahaan.
b. Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada
penerapan nilai-nilai GCG.
c. Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidah-kaidah
standar GCG.
d. Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan untuk
menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi.
e. Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami setiap gerak
dan langkah manajemen dalam perusahaan sehingga kalangan publik dapat memahami
dan mengikuti setiap derap langkah perkembangan dan dinamika perusahaan dari
waktu ke waktu.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Pengertian Kinerja
Kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi kerja yang padanan kata dalam bahasa inggris
adalah performance. Menurut Suyadi Prawirosentono mengatakan bahwa: “performance adalah hasil
kerja yang dapat dicapai oleh seorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang
bersangkutan secara legal dengan tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika”.
(1999:2) Untuk memutuskan suatu badan usaha atau perusahaan memiliki kualitas yang baik maka ada
dua penilaian yang paling dominan yang dapat dijadikan acuan untuk melihat badan usaha atau
perusahaan tersebut telah menjalankan kaidah-kaidah manajemen yang baik.
Penilaian ini dapat dilakukan dengan melihat sisi kinerja keuangan dan kinerja non keuangan .
Kinerja keuangan melihat pada laporan keuangan yang dimiliki perusahaan atau badan usaha yang
bersangkutan dan dari informasi yang diperoleh pada neraca, laporan labarugi dan laporan arus kas.
Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan 8 aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.
Ada 5 tahap dalam menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum, yaitu:
a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan.
b. Melakukan perhitungan.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh.
d. Melakukan penafsiran terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.
e. Mencari dan memberikan pemecahan masalah terhadap berbagai permasalahan yang
ditemukan.
2. Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Irham Fahmi Laporan Keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan
kondisi suatu perusahaan, dimana selanjutnya itu akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan
tentang kinerja suatu perusahaan (2012:22). Lebih lanjut dijelaskan bahwa laporan keuangan pada
dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi
antar data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan
data atau aktivitas perusahaan tersebut (Munawir, 2001:2). Standar Akuntansi Keuangan disebutkan
bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya terdiri dari neraca, laporan laba- rugi, laporan
perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, 9 misalnya sebagai laporan arus
kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian
intregal dari laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang
berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografis serta
pengungkapan pengaruh perubahan harga (2007:2).
Standar Akuntansi Keuangan, dijelaskan bahwa informasi laporan keuangan adalah untuk
menyediakan informasi menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang berguna bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi
(2007:3).
Menurut Munawir yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah: “Dua daftar yang disusun
oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan, kedua daftar itu adalah neraca atau daftar
posisis keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi
kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambahkan daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar
laba yang tak dibagikan (laba ditahan).
Pada umumnya laporan keuangan terdiri dari Neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan
perubahan modal, dimana neraca menunjukkan / menggambarkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari
suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan perhitungan lab-rugi memperlihatkan hasil yang
telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang 10 terjadi pada periode tertentu dan laporan perubahan
modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan modal
perusahaan”(2001:5).
Pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Laporan Keuangan adalah ringkasan laporan
keuangan yang meliputi neraca,laporan rugi lab, laporan perubahan modal, catatan dan laporan lainnya.
Hasil dari pelaporan tersebut dapat digunakan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan untuk
memenuhi tujuan perusahaan serta sebagai laporan kepada pihak yang berkepentingan terhadap posisi
keuangan perusahaan ataupun perkembangan suatu perusahaan.

3.Tujuan Laporan Keuangan


Menurut Irham Fahmi Tujuan Laporan Keuangan adalah untuk memberikan informasi kepada
pihak yang memebutuhkan tentang kondisi suatu perusahaan dari sudut angka-angka dalam satuan
moneter. Tujuan laporan keuangan menurut Yustina dan Titik yang dikutip oleh Irham Fahmi (2012:26)
mengatakan bahwa laporan keuangan ditujukan sebagai pertanggungjawaban manajemen atas sumber
daya yang dipercayakan kepadanya kepada pemilik perusahaan atas kinerja yang telah dicapainya serta
merupakan laporan akuntansi utama yang mengomunikasikan informasi kepada pihak-pihak yang
berkepentingan dalam membuat analisa ekonomi dan peramalan untuk masa yang akan datang.
11 Pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan tujuan dari laporan keuangan yaitu
memberikan informasi keuangan yang mencakup perubahan dari unsur-unsur laporan keuangan,
memberikan informasi keuangan yang ditujukan pihak-pihak yang berkepentingan dalam menilai kinerja
keuangan terhadap perusahaan.

4.Unsur Laporan Keuangan


Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisisi keuangan adalah aktiva,
kewajiban, dan ekuitas. Masing – masing unsur yang berkaitan dengan posisi keuangan tersebut di
definisikan sebagai berikut:
a) Aktiva Merupakan sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dan peristiwa
masa lalu dan diharapkan akan memberi manfaat ekonomi bagi perusahaan dimasa depan.
b) Kewajiban Merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu
yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang
mengandung manfaat ekonomi.
c) Ekuitas Merupakan hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja perusahaan disajikan pada laporan
keuangan yang sebut laporan laba-rugi.
Unsur yang berkaitan dengan kinerja perusahaan tersebut didefinisikan sebagai berikut:
a) Income Merupakan kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk
pemasukan atau penambahan aktiva penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang
tidak berasal dari kontribusi.
b) Expensi Merupakan penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam
bentuk arus kas keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan
penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.

5. Analisis Laporan Keuangan


Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses penguraian laporan keuangan kedalam
komponen laporan keuangan dan penelaahan masing-masing komponen laporan keuangan tersebut
serta hubungan antara komponen dengan menggunakan teknik-teknik analisis yang ada agar diperoleh
pengertian yang tepat dan gambaran yang komprehensif tentang laporan keuangan. Analisis laporan
keuangan merupakan suatu proses untuk membantu dalam menilai posisi keuangan dalam suatu
organisasi perusahaann maupun organisasi yang tidak bertujuan mencari keuntungan/ laba. Menurut
Dwi Pratowo, analisis keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka
membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa
lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mengenai kondisi dan
kinerja perusahaan pada masa mendatang (2011:56). Menurut Jumingan, Rasio dalam analisis laporan
keuangan adalah angka yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam
laporan keuangan (2008:118). Dilihat dari pengertian-pengertian analisis laporan keuangan di atas dapat
disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan adalah suatu proses untuk memperoleh informasi
mengenai posisi keuangan yang bertujuan menilai dan mengukur kinerja perusahaan pada masa
mendatang.

6. Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan


Metode dan teknik analisis digunakan untuk menentukan dan mengukur hubungan antara po-
pos yang ada dalam laporan, sehingga dapat diketahui perubahan-perubahan dari masing-masing pos
bila 14 diperbandingkan dengan laporan dari beberapa periode untuk satu perusahaan tertentu. Tujuan
dari setiap metode dan teknik analisis adalah untuk menyederhanakan data sehingga dapat lebih
dimengerti oleh orang-orang yang berkepentingan terhadap data tersebut.
Ada dua metode analisis yang dapat digunakan oleh analisis laporan keuangan, yaitu:
a. Analisis horizontal adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan
laporan keuangan untuk beberapa periode, sehingga dapat diketahui perkembangan dan
kecenderungannya.
b. Analisis vertikal adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan
keuangan pada tahun tertentu, yaitu dengan membandingkan antara pos yang satu dengan pos yang
lainnya pada laporan keuangan yang sama untuk periode yang sama.
Analisis terhadap laporan keuangan dengan menggunakan berbagai metode dan teknik analisis
tersebut dan telah difokuskan pada area analisis yang jelas akan menghasilkan dua informasi penting,
yaitu informasi mengenai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan, informasi yang
diperoleh dari analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan tersebut akan menjadi bahan
pertimbangan bagi pihak yang berkepentingan dalam mengambil keputusan ekonomi yang menyangkut
perusahaan yang dianalisis.

7. Analisis Rasio Keuangan


Analisis laporan keuangan akan memberikan penilaian atas dasar data dan informasi yang
diperoleh dan laporan keuangan, yang ditunjukan dalam bentuk rasio-rasio atau presentase. Menurut
Munawir menyatakan bahwa rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan atara suatu
jumlah tertentu dengan jumlah yang lain untuk menilai tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi
keuangan suatu usaha (2001:64).
Sedangkan menurut Warsidi dan Bambang yang dikutip oleh Irham Fahmi (2012:45), “Analisis
rasio keuangan merupakan instrument analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai
hubungan dan indikator keuangan, yang ditunjukkan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi
keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan
tersebut, untuk kemudian menunjukkan risiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang
bersangkutan.
Pada dasarnya angka-angka rasio ini dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:
a. Berdasarkan sumber data yang digunakan, rasio tersebut dibedakan menjadi:
1) Rasio – rasio neraca, yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca. Misalnya
current ratio, quick ratio dan cash ratio,
2) Rasio-rasio laporan laba rugi, yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari laporan rugi
laba,
3) Rasio-rasio antar laporan keuangan, yaitu rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari
neraca dan laporan laba rugi.
b. Berdasarkan tujuan analisis, yaitu untuk mengevaluasi keadaan ekonomi suatu perusahaan, analisis
rasio-rasio tersebut dibedakan menjadi:
1) Analisis Rasio Likuiditas Rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini penting karena kegagalan dalam membayar kewajiban dapat
menyebabkan kebangkrutan perusahaan. Mengukur kemampuan dengan melihat aktiva lancar
perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap utang lancar. Suatu perusahaan
mempunyai keuangan jangka pendek yang kuat apabila mampu memenuhi tagihan dari kreditur jangka
pendek tepat pada waktunya, mampu memelihara modal kerja yang cukup untuk membelanjai operasi
perusahaan yang normal, mampu membayar bunga utang jangka pendek dan deviden, dan mampu
memelihara kredit ranting yang menguntungkan.