Vous êtes sur la page 1sur 11

1.

Sejarah Keberadaan Lembaga Perkreditan Desa (LPD)


Keberadaan LPD di Bali sesungguhnya terproses dari sebuah kesadaran dan
kemauan bersama dari masyarakat adat Bali yang telah lama ada dan berkembang
jauh sebelum Indonesia merdeka, sebelum Republik Indonesia ini didirikan.
Kesadaran dan kemauan bersama itu terwadahi melalui organisasi komunitas berbasis
wilayah yakni Desa Adat (kini Desa Pakraman), Banjar Adat (kini Banjar Pakraman).
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali adalah lembaga keuangan desa yang
dimiliki oleh Desa Adat. Lembaga Perkreditan Desa (LPD) merupakan buah pikiran
Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Gagasan mendirikan LPD diilhami
keberadan Lumbung Pitih Nagari (LPN) yang merupakan lembaga simpan pinjam
untuk masyarakat adat yang sukses di Padang Sumatera Barat.
Dengan mengadopsi konsep sekaa dan desa adat yang telah tumbuh sejak
lama di dalam masyarakat Bali, Gubernur Bali kemudian meluncurkan Lembaga
Perkreditan Desa (LPD). Tujuan LPD yakni membantu desa adat dan krama desa adat
dalam pembangunan adat, budaya dan agama. Keuntungan LPD direncanakan untuk
membangun kehidupan sosial-budaya masyarakat Bali, baik untuk pembangunan fisik
maupun nonfisik.
Sebagai langkah awal dibuatlah pilot project satu LPD di tiap-tiap kabupaten.
Kala itu, dasar hukum pembentukan LPD hanyalah Surat Keputusan (SK) Gubernur
Kepala Daerah Tingkat I Bali No. 972 tahun 1984, tanggal 19 Nopember 1984.
Sebagai Implementasi dari Kebijakan Pemerintah Daerah Tingkat I Bali tersebut di
atas, maka secara resmi LPD beroperasi mulai 1 Maret 1985. Di setiap kabupaten
didirikan sebuah LPD.
Di Kabupaten Badung, LPD yang pertama kali berdiri yakni LPD Desa Adat
Lukluk, Mengwi pada 7 Maret 1985. Di Kecamatan Kuta, desa adat yang pertama
kali mendirikan LPD yakni Legian. LPD Desa Adat Kedonganan merupakan LPD
kedua yang berdiri di Kecamatan Kuta setelah LPD Desa Adat Legian.
Integrasi LPD di dalam kehidupan dan hukum adat telah menjadi sebuah
kerangka yang sangat kuat untuk mengembangkan hubungan pelanggan dan
mengelola resiko. Oleh karena itu lembaga ini sudah menerapkan aturan, norma dan
nilai yang diyakini bersama. LPD di Bali sudah ada sejak tahun 1984, perkembangan
LPD di Bali sangat pesat sehingga masyarakat Desa Adat Kuta berkeinginan
mendirikan LPD. LPD Bali beroperasi tanggal 25 Nopember 1995 dengan
berpedoman kepada Perda Prop. Dati I Bali No. 2 Th 1988 dan Keputusan Gubernur
KDH Tk I Bali No 619 Th 1995.
Pada awal operasi LPD Desa Adat Kuta memiliki modal awal sebesar Rp.
31.600.000 yang berasal dari Desa Adat Kuta sebesar Rp. 25.000.0000, dari bantuan
APBD Pemda Tk I Bali Rp 5.000.000, dan bantuan dari APBD Pemda Tk II Badung
sebesar Rp. 1.600.000. Kantor LPD yang berlokasi di Pasar Seni I Kuta diresmikan
oleh Bapak Gubernur Bali pada tanggal 12 Januari 1996 di dukung sepenuhnya oleh
13 Banjar yang ada di Desa Adat Kuta. Pada awalnya kantor LPD ditunjang dengan
peralatan yang sederhana dengan 3 Pengurus dan 3 Pegawai. Berkat semangat dan
perjuangan Prejuru Desa Adat Kuta dan Pengurus LPD, menyakinkan masyarakat
desa dan mempromosikan LPD ke masing – masing banjar Se-Desa Adat Kuta.
Melalui semangat pengabdian, dukungan dan partisipasi masyarakat akhirnya
LPD Desa Adat Kuta dari bulan kebulan dan dari tahun ke tahun mengalami
kemajuan dan peningkatan yang pesat. Hal ini tidak terlepas dari kerjasama yang baik
diantara, Pengurus Desa, Kelihan Banjar, Pengurus LPD dan Krama Desa Adat Kuta.
Bali ternyata telah membuktikan dirinya memegang peranan yang sangat penting,
tidak hanya dalam pada ajaran agama Hindu.
Sebagai desa yang mempunyai otonomi untuk mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri berlandaskan awig-awig, perlu adanya usaha-usaha untuk
meningkatkan kemandirian dalam mengelola keuangan dan harta kekayaan milik desa
sehingga mampu menatap perkembangan dan kemajuan pembangunan. Untuk
melestarikan dan meningkatkan kemandirian kehidupan Bali dengan segala aspeknya
perlu adanya upaya-upaya untuk memperkuat Keuangan Desa Adat sebagai sarana
penunjang melalui mendirikan suatu Badan Usaha Milik Desa Adat berupa Lembaga
Perkreditan Desa (LPD) yang bergerak dalam usaha simpan pinjam dengan modal
swadaya masyarakat (krama Desa) sendiri.
Lembaga keuangan binaan BPD Bali ini dikelola sepenuhnya oleh, dari, dan
untuk desa adat. Karena itu, pemberian kredit pun hanya diperuntukkan buat krama
desa adat setempat, dan umumnya tanpa agunan. PENGAWASAN LPD BALI
Lembaga Perkreditan Desa (LPD), atau "Dewan kredit desa", adalah bank-bank kecil
yang dimulai oleh Pemerintah Daerah Bali di era tahun '80-an dengan sasaran untuk
menyediakan satu alternatif dari praktek rentenir dan untuk menciptakan dan
membantu perkembangan pertumbuhan ekonomi di tingkatan pedesaan. Dengan
modal awal dan bimbingan teknis dari Pemda Bali Perantara keuangan mikro ini
mempunyai karakteristik dan disain yang khusus, mereka dimiliki oleh Desa Adat.
Pemerintah Daerah Bali yang menyediakan modal dan menjadi penyelenggara kunci
dari sistim dan laba ditahan adalah sumber daya utama dari modal ekuitas dan
kepemilikan secara de facto. LPD hanya diijinkan untuk beroperasi di wilayah
desanya sendiri dan diciptakan oleh Peraturan Daerah (Provinsi). Yakni sebuah
Peraturan Daerah (Provinsi) yang ditetapkan oleh DPRD, bukan Pemerintah Daerah.
Otoritas pengawasan didelegasikan kepada Bank Pembangunan Daerah (BPD Bali),
yang telah memulai mengembangkan suatu unit pengawasan LPD yang terpisah, di
bawah mana tugas pengawasan akan dilaksanakan oleh unit di tingkat Kantor Cabang
Penilaian atas pelaksanaan pengawasan intern LPD Pengawasan di tingkat LPD
dimulai dari peran Prajuru Desa, banyak diantaranya mengunjungi LPD setiap hari,
berpartisipasi dalam persetujuan kredit, dan juga menyelesaikan fungsi dasar kontrol
dan pelaksanaan fungsi management dari waktu ke waktu. Namun demikian, masalah
yang dilaporkan adalah bahwa dewan pengawas internal pada umumnya tidak
mempunyai latar belakang yang sesuai dan atau tidak cukup dilatih untuk dapat
melaksanakan fungsi pengawasan secara baik.
Dewan Pengawas internal dari satu LPD dengan tegas meminta lebih banyak
dukungan dan satu instruksi panduan untuk lebih baik mempersiapkan diri mereka
untuk menyelesaikan kewajiban mereka. Sistem Pengawasan Dan Bimbingan LPD
berbeda dari lembaga keuangan Mikro lain yang dikendalikan oleh pemerintah
provinsi seperti badan kredit kecamatan (BKK) di jawa tengah atau kredit Usaha
Rakyat Kecil (KURK) dijwa timur karena kepemilikan dan pengorganisasiannya
dipengarui oleh adat istiadat masyarakat Bali.
Keputusan Gubernur No. 344 / 1993 juga menyebutkan fungsi Bank BPD
Bali. Dalam pasal 2 keputusan tersebut (pemerintah Bali, 1993b) dinyatakan bahwa
Bank BPD Bali memiliki 3 fungsi berkenaan dengan LPD. Pertama, memberikan
bimbingan teknis dalam dua cara yaitu melalui bimbingan pasif, dan melalui
bimbingan aktif yang dilakukan dengan kunjungan langsung kelokasi LPD. Kedua,
Bank BPD Bali memiliki tugas untuk mengelola koordinasi dengan organisasi lain
yang terlibat didalam proses bimbingan dan pengawasan LPD.Ketiga, Bank BPD Bali
harus menyiapkan laporan Evaluasi triwulan tentang kinerja keuangan dan kesehatan
LPD kepada gubernur.  Tata Kelola Lembaga Perkreditan Desa Organisasi dan
perencanaan Berdasarkan PERDA Provinsi Bali No.8/2002, setiap LPD dikelola oleh
sebuah komite (ketua, kasir dan petugas administrasi). Deskripsi manajemen inti
dapat dijelaskan bahwa ketua bertugas mengordinasi kegiatan operasional harian
LPD, pembuatan perjanjian kontrak dengan nasabah, bertanggung jawab pada desa
adat melalui pemimpinnya (Dewan Pengawas LPD), menyusun rencana kegiatan dan
anggaran, dan memformulasikan kebijakan LPD.
Petugas administrasi melakukan tugas-tugas administrasi, baik administasi
umum maupun tata buku, bertanggung jawab kepada ketua LPD, menyusun laporan
neraca dan laporan pendapatan, serta mengelola arsip. Sedangkan kasir adalah
mencatat aliran dana. Staf LPD membantu ketua melaksanakan tugasnya dan terlibat
dalam pembuatan kegiatan dan rencana anggaran dalam keputusan pemberian kredit.
Dalam mengelola LPD, tim manajemen juga memantau perubahan situasi makro-
ekonomi, melakukan rapat formal triwulanan untuk evaluasi internal yang melibatkan
semua staf. Staf pengumpul kredit diberi pengarahan harian mengenai tugas mereka
oleh ketua LPD sebelum mereka mulai bekerja Evaluasi internal LPD dilakukan oleh
Dewan pengawas. Hal ini membenarkan pendapat bahwa struktur organisasi LPD
mampu mengimplementasikan kebijakan dan strategi LPD untuk mencapai
tujuannya.
Kemampuan manajemen internal LPD memperoleh dukungan dari
pengawasan dan bimbingan yang diberikan pemerintah local pada tiap tingkatan dan
oleh bank BPD Bali. Hal ini membenarkan pendapat bahwa struktur organisasi LPD
mampu mengimplementasikan kebijakan dan strategi LPD untuk mencapai
tujuannya. Kemampuan manajemen internal LPD memperoleh dukungan dari
pengawasan dan bimbingan yang diberikan pemerintah local pada tiap tingkatan dan
oleh bank BPD Bali. Prosedur Rekruitmen Tim manejemen inti direkrut dari desa
adat local. Mereka dipilih dari anggota komunitas desa dan ditetapkan dalam rapat
desa untuk periode empat tahun. Namun mereka dapat dipilih kembali apabila
mampu bekerja dengan baik (GovernmentofBali, 2002,Articli11).
Komite manajemen biasanya dibantu oleh dua atau tiga staf yang bertanggung
jawab untuk mengumpulkan tabungan dan pinjaman. Prinsip Pengaturan Operasional
Prinsip ini mencakup peraturan mengenai kecakupan modal (capital adequacy), batas
jumlah peminjaman (legal lending limit), cadangan untuk kerugian pinjaman
manajemen likuiditas, dan sistem pemeringkatan LPD. LPD harus menerapkan
prinsip kehati-hatian (prudential principle) dari lembaga keuangan agar dapat menjadi
lembaga keuangan yang sehat.
Mekanisme Penyaluran Pinjaman Dalam kaitannya dengan tingkat bunga,
pada tahun 2002 tingkat bunga pinjaman untk pinjaman berkisar antara 27 hingga 33
persen, lebih tinggi dari pada rata – rata tingkat bunga bank umum yang hanya 22
persen pertahun pada saat itu.peraturan desa adat juga berlaku bagi staf LPD (Oka,
1999) yang melanggar peraturan dan salah dalam mengelola operasional harian LPD,
seperti kolusi, korupsi atau manipulasi.Sanksi sosial dapat dikenakan pada
mereka.selain itu, berdasarkan peraturan legal formal,pasal 24 peraturan Daerah No.
8 / 2002 yang menyatakan bahwa staf LPD yang melanggar peratturan dan
menyebabkan LPD menderita kerugian keuangan haruslah mengganti kerugian
tersebut.pasal 26 yang menerangkan pasal 24 peraturan tersebut menekankan bahwa
staf terpidana dapat memperoleh hukuman maksimum 6 bulan penjara atau
maksimum denda Rp 5 juta. Singkatnya, gambaran ini menunjukan bahwa institusi
informal ( seperti norma – norma dan sanksi sosial ) dan institusi formal ( peraturan
legal formal ) digunakan bersama- sama dalam tata – kelola LPD.
Sistem Penggajian Sistem penggajian pada LPD secara umum dimaksudkan
untuk menstimulasi kinerja yang lebih baik dari stafnya, terutama dalam
mengumpulkan pinjaman dan mempromosikan dan melayani tabungan. Diantara
manjemen inti LPD, ketua memperoleh gaji paling tinggi, diikuti oleh petugas kasir
dan tenaga administrasi. Prinsip penentuan gaji pokok yang didasarkan biaya hidup di
desa di mana LPD berada juga tercermin pada kuatnya hubungan antara LPD dan
lingkungan sosio-ekonominya. Kesimpulan LPD menawarkan peluang yang sangat
besar untuk menjangkau daerah-daerah dan masyarakat terpencil di Bali. Penelitian
tentang struktur kelembagaan dan manajemen LPD serta pengungkitan (leveraging)
keberadaan ketertiban sosial untuk mengelola risiko merupakan bahan pelajaran yang
baik bagi industri keuangan mikro yang lebih luas, asalkan sejumlah kondisi tertentu
tersedia: 1. Menghubungkan dan menyelaraskan pengawasan internal/tradisional
dengan pengawasan eksternal 2. Mengindahkan keanekaragaman kebutuhan akan
likuiditas, pelatihan dan pengawasan untuk berbagai ukuran LPD yang berbeda 3.
Menajemen keuangan dan pelaporan yang lebih mantap melalui pelatihan dan
pemberian nasehat dengan tepat 4. Peran yang jelas dan berbeda bagi instansi-instansi
pengawasan 5. Adanya pilihan bagi peningkatan (graduation)/perubahan bentuk
(transformasi) yang memungkinkan LPD kecil, LPD yang sedang tumbuh dan LPD
besar untuk mengakses masukan (input) yang sesuai seperti pembiayaan ulang, dan
pelayanan teknis tanpa adanya peraturan-peraturan eksternal yang terlalu banyak.
Melalui kasus diatas kita lihat bahwa pengendalian tradisional terhadap
lembaga keuangan dapat mempunyai pengaruh yang baik dan yang buruk terutama
didaerah terpencil, dimana kunjungan pemeriksaan/pengawasan dan pengembangan
kapasitas secara relatif sangat sulit. Kurangnya keseimbangan antara struktur tata
kelola internal dengan pengawasan dan pengaturan eksternal dapat mempunyai
pengaruh majemuk yang buruk bagi potensi pertumbuhan suatu lembaga kecil yang
sudah berjuang untuk mengatasi tantangan-tantangan seperti keterpencilan,
kekurangan kapasitas (kemampuan) dan likuiditas. Namun demikian, apabila pondasi
kepemilikan didalam masyarakat itu mantap, adanya keluasan jangkauan dan kinerja
keuangan yang baik, maka langkah-langkah menuju perbaikan tata kelola dan
keganjilan dari pengawasan pasti akan berguna.
Mengingat peluang yang disajikan oleh LPD untuk keluasan jangkauan dan
kerangka kelembagaan yang lengkap, maka perlu beberapa perubahan yang sangat
berguna untuk memperkuat semua lembaga ini di Bali dan bahkan ada kemungkinan
meluas ke lembaga-lembaga serupa dimanapun di dalam negeri. Secara fungsi dan
tujuan LPD adalah untuk memberikan kesempatan berusaha bagi para warga desa
setempat, kemudian untuk menampung tenaga kerja yang ada di pedesaan, serta
melancarkan lalu lintas pembayaran, sekaligus menghapuskan keberadaan lintah darat
(rentenir). Keanggotaan LPD dari pemerintah sebagai krama desa adat secara
struktural, terdiri dari berbagai banjar. Semua krama banjar yang ada di lingkungan
desa, secara otomatis merupakan penopang dari keberadaan LPD.

2. Tri Hita Karana dan Catur Purusa Harta


Sebagai lembaga keuangan milik desa adat, LPD di Bali memiliki posisi
strategis dalam perspektif memperkuat ketahanan ekonomi warga masyarakat di
pedesaan melalui pengelolaan potensi yang dikemas dalam variasi aspek layanan jasa
keuangan. Pada sisi lain, lembaga desa adat dapat memanfaatkan LPD sebagai
“lumbung” tempat penyimpanan kekayaan desa yang semakin berkembang dan pada
gilirannya tiap tahun memperloleh kompensasi pembagian laba untuk mendukung
aktivitas pembangunan di desa adat yang berkaitan dengan aspek Tri Hita Karana ,
yakni parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan
sesama manusia) dan palemahan (hunbungan manusia dengan lingkungannya).
Aktivitas lembaga desa adat tidak bisa lepas dari ketiga aspek tersebut karena falsafah
Tri Hita Karana mengandung makna keseimbangan vertikal dan horizontal. Hal ini
bisa terwujud apabila semua pemangku kebijakan birokrasi di tingkat kabupaten/kota
dan propinsi memiliki kesamaan pandang untuk membangun kemandirian LPD
dengan kebijakan yang berorientasi untuk memperkuat kelembagaan melalui payung
konstitusi.
Sejalan dengan keberadaan dan operasional LPD, tidak ada alasan untuk
“mengkerdilkan” lembaga tersebut, apalagi dengan memanfaatkan “tangan-tangan”
pihak luar Bali yang sejatinya tidak memiliki hubungan emosional dengan
kemandirian LPD, baik secara historis, sosiologis maupun ekonomis. Otoritas
lembaga desa adat seharusnya diakui bukan semata-mata dalam konteks menjadikan
benteng mempertahankan keberadaan adat dan budaya, tetapi lebih luas perlu
dipahami sebagai institusi masyarakat adat untuk mengembangkan potensi ekonomi
lokal sekaligus sebagai pembelajaran wirausaha bagi warga masyarakat dalam
menghadapi persaingan ekonomi global. Sejalan dengan hal itu, LPD bisa
dimanfaatkan oleh warga desa adat secara maksimal untuk mengembangkan potensi
ekonomi keluarga, kelompok-kelompok sekeha (organisasi tradisional lokal), banjar,
maupun pengembangan bisnis para wirausahawan pemula dan pengusaha profesional
lainnya.
Memang tidak mudah bagi pengurus dan kayawan LPD mengelola
lembaga keuangan milik desa adat di tengah pemahaman, status sosial dan ekonomii
warga masyaraat yang heterogin. Belum lagi adaya rambu-rambu yang wajib
dipenuhi dan diikuti oleh LPD sehingga tidak bisa mengembangkan usaha lebih luas
sebagaimana lembaga keuangan lainnya. Tetapi dibalik kendala keterbatasan
pengembangan usaha, fakta empiris menunjukkan LPD yang beroperasi di wilayah
desa adat dengan tingkat perkembangan ekonomi yang cukup maju, mampu
mengemban visi dan misinya dengan membukukan capaian sisa hasil usaha
(keuntungan).
Dalam menjalankan kegiatan usahanya LPD Desa Pakraman Kikian
didasari dengan prinsip Catur Purusa Artha. Kegiatan usaha LPD merupakan kegiatan
usaha yang disamping bersifat sosial-ekonomi juga bersifat cultural - religius.
Sehingga kegiatan usaha LPD memiliki tujuan yang sejalan dengan tujuan Agama
Hindu. Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah
"Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma", yang artinya bahwa agama (dharma)
bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau
kebahagiaan secara lahir dan bathin. Tujuan ini secara rinci disebutkan di dalam Catur
Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni Dharma, Artha, Kama dam
Moksa.
Konsep Catur Purusa Artha yang dijadikan dasar Lembaga Perkreditan
Desa (LPD) Desa Pakran Kikian dalam menjalankan kegiatan usahanya bersumber
atau didasari oleh hukum Agama Hindu yang bersumber dari Kitab Suci Weda. Catur
Purusa Artha terdiri dari empat komponen yaitu: Dharma, merupakan dasar utama
LPD dalam menjalankan kegiatan usahanya. Dalam kegiatan usaha yang dilakukan
oleh LPD Desa Pakraman Kikian harus selalu didasari oleh Dharma yaitu kebaikan.
Setelah mengamalkan dharma atau kebaikan dalam menjalankan kegiatan usahanya
maka Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan melimpahkan berkatnya berupa Artha
kepada umatnya yang telah mengamalkan ajarannya.
Artha, dalam hal ini setelah landasan yang utama dilaksanakan oleh
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Pakraman Kikian berupa menjalankan ajaran
Dharma atau kebaikan barulah LPD Desa Pkraman Kikian menekankan kegiatan
usahanya pada aspek keuntungan dari usaha simpan- pinjam yang dilakukan terutama
dalam hal pemberian kredit kepada masyarakat yang akan memberikan keuntungan
berupa bunga. Kama, Setelah aspek artha yang menjadi tujuan yang kedua terpenuhi
maka selanjutnya adalah Kama yaitu nafsu atau keinginan atau pemenuhan kebutuhan
hidup berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi dengan Artha tersebut maka Kama
atau Keinginan akan bisa terpenuhi dengan keuntungan yang diperoleh LPD dalam
kegiatan usahanya dapat membantu masyarakat dalam hidup bermasyarakat, seperti
membantu pendanaan Desa Pakraman dalam melaksanakan pembangunan Desa,
membantu masyarakat baik masyarakat Desa Pakraman Kikian maupun masyarakat
luar Desa Pakraman Kikian dengan memberi pinjaman misalnya untuk keperluan
usaha, menyekolahkan anaknya, dan kebutuhan - kebutuhan yang lain.
Setelah ketiga tahap diatas tercapai maka yang terakhir adalah Moksa.
Moksa yang dimaksud disini adalah kebahagiaan. Jadi dengan kegiatan usaha yang
dilakukan oleh LPD Desa Pakraman Kikian yang dapat membantu perekonomian
masyarakat desa sehingga dapat meringankan beban kehidupan masyarakat desa
sehingga beban hidup bermasyarakat semakin ringan maka masyarakat akan merasa
lebih senang atau bahagia karena sebagian atau seluruh kebutuhannya telah dapat
terpenuhi . Walaupun pemberian kredit kepada warga luar Desa Pakraman melanggar
Pasal 7 ayat (1) sub PERDA Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 yang berbunyi
“memberikan pinjaman hanya pada karma desa”, sampai saat ini tidak ada sanksi adat
yang mengaturnya. Karena sesuai dengan hasil Paruman Adat Desa Pakraman Kikian
pemberian
Kredit kepada warga luar Desa Pakraman sebagai sesuatu yang wajar asalkan
mengutamakan debitur dari Desa Pakraman setempat.

DAFTAR REFRENSI
____. 2010. Sejarah LPD. Diakses pada 20 Oktober 2018.
http://www.lpdkedonganan.com/p/sejarah-lpd-kedonganan.html

Dwipa, Agung. 2015. Pengertian, Peran, dan Fungsi Lembaga Perkreditan Desa
(LPD). Diakses 20 Oktober 2018.
http://letsreadingme.blogspot.co.id/2015/05/pengertianperan-dan-fungsi-
lembaga.html

____. 2011. LPD Penggerak Ekonomi Kerakyatan. Diakses pada 20 Oktober 2018.
http://www.bisnisbali.com/2011/01/29/news/opini/g.html

Aprilina, Lila. 2013. Lembaga Perkreditan di Bali. Diakses 20 Oktober 2018.


http://lilaaprilina.blogspot.com/2013/05/lembaga-pekreditan-di-bali.html

Suartana, I Wayan. 2009. Arsitektur Pengelolaan Risiko Pada Lembaga Perkreditan


Desa (LPD). Udayana University Press, Denpasar