Vous êtes sur la page 1sur 6

1.

Visus (ketajaman penglihatan)


Dalam pengukuran ketajaman penglihatan, jarak pengukuran yang
dianjurkan adalah lebih dari sama dengan 3 meter (10 feet) yang bertujuan
untuk meminimalisir akomodasi mata pasien dalam mengfokuskan optotypes.
Secara tradisional jarak pengukuran yang digunakan adalah 6 meter (20 feet).
Namun Committee on Vision (National Research Council, 1980)
merekomendasikan jarak pengukuran standar yang digunakan diganti menjadi
4 meter karena jarak tersebut mempresentasikan kebutuhan akomodasi tepat
0.25 D dan ukuran tersebut merupakan 10 kali dari 40 cm yang merupakan
jarak pengukuran untuk pemeriksaan penglihatan dekat.a
Visual Acuity Measurement Standard dari International Council of
Ophtalmology, 1984, menyebutkan bahwa jarak pengukuran pada 4, 5 atau 6
meter tidak menggambarkan ‘true optical infinity’. Untuk tujuan refraksi,
koreksi negative 0,25 D ditambahkan pada maksimum plus atau minimum
minus koreksi refraksi sehingga system visual secara optic berkonjugasi
dengan ‘infinity’ jika menggunakan jarak pengukuran 4 meter. Namun
perbedaan dioptric antara 4, 5 dan 6 meter sangat kecil dimana 0,20 D (sesuai
dengan 5 meter) dan 0,167 D (sesuai dengan 6 meter).b
Snellen Chart merupakan media pengukuran ketajaman penglihatan
yang sering digunkaan dan dibuat oleh Snellen. Snellen menciptakan huruf
baru yang disebut “optotypes” yang dibagi menjadi kisi 5 x 5 dan membagi
sudut menjadi 60 menit. Snellen mendefinisikan “penglihatan standar” sebagai
kemampuan mengenal optotypes dari jarak 20 feet atau 6 meter ketika huruf
tersebut teralihkan dengan sudut 5 menit. Dasar dari optotypes Snellen yaitu
tiap kisi mengandung bentuk terpisah dari satu huruf dengan sudut 1 menit
untuk “penglihatan standar”. Sehingga “penglihatan standar” didefinisikan
menjadi kemampuan membedakan bentuk terpisah tiap sudut 1 menit.c

Pertanyaan 13: Mengapa jarak baca harus 6 meter?


 Alasan 1: 6 meter merupakan jarak standar terhadap skala tulisan yang
digunakan oleh Snellen Chart untuk menguji ketajaman penglihatanc
 Alasan 2: 6 meter (≥3 meter) merupakan jarak untuk meminimalisir
akomodasi mata pasien dalam mengfokuskan optotypesa
 Alasan 3: tidak terdapat perbedaan signifikan dalam penggunaan jarak
ukur 4, 5 dan 6 meterb

Pertanyaan 14: Apabila pada pemeriksaan tersebut orang percobaan hanya


mampu membaca lancar tanpa kesalahan sampai pada baris huruf yang ditandai
dengan angka 30 Ft (9,14 m), berapakah visus mata kanan OP?
Visus mata kanan OP adalah 20/30 atau (6/9,14).

Pertanyaan 15: Apakah dasar pembuatan optotipi Snellen?


Dasar pembuatan optotipi Snellen adalah membagi tulisan menjadi kisi
5 x 5 dan membagi sudut menjadi 60 menit dimana tiap kisi mengandung
bentuk terpisah dari satu huruf dengan sudut 1 menit untuk penglihatan standar
sehingga akan diukur ketajaman mata dalam mengenal bentuk tiap kisi dan
dideskripsikan sebagai huruf yang terbaca.c

2. Refraksi
Pertanyaan 16:
a. Dapatkah visus seseorang lebih besar dari 6/6?
Visus seseorang dapat lebih besar dari 6/6 karena 6/6 bukan visus
manusia sempurna. Visus yang bagus pada dewasa muda tanpa gangguan
penglihatan umumnya antara 20/16 dan 20/12, yaitu lebih baik dari 20/20.
20/20 (6/6) diinterpretasikan sebagai batas visus normal karena dianggap
individu masih dapat mengatasinya dengan baik di sekolah atau pekerjaan
sehingga tidak memerlukan koreksi lensa.c
b. Mengapa mata hipermetrop dapat mempunyai visus 6/6?
Karena pada mata hipermetrop daya akomodasi mata tidak mampu
memfokuskan bayangan objek yang terletak di titik dekatnya tetapi tetap
mampu melihat dengan jelas objek yang jauh sehingga visus pada
pengukuran dari jarak jauh dapat normal.d
Pertanyaan 17: Bila sekarang visusnya menjadi lebih kecil, apakah kesimpulan
Saudara?
Tidak terdapat kelainan refraksi karena penambahan lensa sferis plus
tidak memperbaiki tajam penglihatan.e
Pertanyaan 18: Bila visusnya ternyata tetap 6/6, bahkan OP merasa melihat
lebih jelas, apakah kesimpulan Saudara?
OP diduga mengalami keadaan hipermetropi karena penambahan lensa
sferis plus akan mengistirahatkan akomodasi lensa mata sehingga target visual
akan terlihat lebih jelas atau visus 6/6 dengan tajam penglihatan lebih baik.e

3. Koreksi
Pertanyaan 19. Jika visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari 6/6,
kelainan refraksi apa yang mungkin dijumpai selain miopia?
Astigmatisme dan Presbiopi

Pertanyaan 20. Bila pada orang tua diperoleh visus tanpa lensa lebih kecil dari
6/6, maka kelainan refraksi apa yang mungkin dijumpai pada orang tersebut?
Pada orang tua terdapat kemungkinan kelainan refraksi yang terjadi
adalah presbiopi

Pertanyaan 21. Apakah pada orang tua dapat diperoleh visus 6/6? Bagaimana
keterangannya?
Tidak. Sejauh ini penulis belum mendapatkan referensi kasus visus 6/6
pada orang tua karena seiring bertambahnya usia lensa menjadi lebih kaku dan
kemampuan untuk melakukan akomodasi dan refraksi menurun. Teori lain
mengatakan pada usia tua, peningkatan diameter equatorial pada mata yang
mengalami penuaan akan menyebabkan gangguan refraksi.f
Hasil
a. Visus
OS: 6/9
OD: 6/12
b. Refraksi
-
c. Koreksi
OS: -1,50
OD: -2,00
Pembahasan Hasil
a. Visus
Visus mata kiri OP adalah 6/9 yang berarti benda dengan jarak
objek dari OP 6 meter maka orang dengan visus normal dapat melihat
objek yang sama dari jarak 9 meter.
Visus mata kanan OP adalah 6/12 yang berarti benda dengan jarak
objek dari OP 6 meter maka orang dengan visus normal dapat melihat
objek yang sama dari jarak 12 meter.
Visus OP pada pemeriksaan ini mengalami penurunan sehingga OP
diduga mengalami miopi.
b. Refraksi
Pemeriksaan refraksi dengan lensa sferis plus tidak memperbaiki
visus OP. Pemeriksaan refraksi bertujuan untuk menentukan kondisi
mata emetrop maupun hipermetrop pada pasien tanpa miopi dengan
menggunakan metode lensa sferis.
c. Koreksi
Koreksi lensa negative yang digunakan oleh OP pada mata kiri
adalah -1,50 dan pada mata kanan adalah -2,00 sehingga visus 6/6
(dengan koreksi lensa cekung).
Kesimpulan
1. Visus diukur dengan menggunakan Snellen Chart dari jarak 6 meter
2. Visus 6/6 dapat dimiliki oleh orang yang mengalami hipermetrop dan
emetrop
3. Koreksi lensa diperlukan untuk meningkatkan visus sesuai dengan
gangguan refraksi yang dialami
Daftar Pustaka
a. National Research Council (US) Committee on Disability Determination for
Individuals with Visual Impairments; Lennie P, Van Hemel SB, editors.
Visual Impairments: Determining Eligibility for Social Security Benefits.
Washington (DC): National Academies Press (US); 2002. 2, TESTS OF
VISUAL FUNCTIONS. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK207559/
b. Universale CO. Visual acuity measurement standard. Visual Functions
Committee. 1984 Oct 5.
c. Messina E, Evans JM. Standards for visual acuity. National Institute for
Standards and Technology. 2006 Jun.
d. Priambodo WW, Rizal A, Halomoan J. PERANGKAT PENGUKUR
RABUN JAUH DAN RABUN DEKAT PADA MATA BERBASIS
MIKROKONTROLER. Jurnal Teknologi. 2012;5(2):90-7.
e. Wati R. Akomodasi dalam Refraksi. Jurnal Kesehatan Andalas. 2018 Apr
16;7:13-8.
f. Papadopoulos, P. A., & Papadopoulos, A. P. Current management of
presbyopia. Middle East African journal of ophthalmology. 2014 21(1):
10-7.