Vous êtes sur la page 1sur 82

PERHITUNGAN B VALUE MENGGUNAKAN METODE LIKELIHOOD

UNTUK DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA


(3 JUNI 1909 - 23 DESEMBER 2009)

Disususn Oleh:
Muhammad Adzkia
106097003272

PROGRAM STUDI FISIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2010
PERHITUNGAN B VALUE MENGGUNAKAN METODE LIKELIHOOD
UNTUK DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA
(3 JUNI 1909 - 23 DESEMBER 2009)

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sains

Oleh:
Muhammad Adzkia
106097003272

PROGRAM STUDI FISIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2010
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan

ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil

jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juni 2010

Muhammad Adzkia

106097003272
PERHITUNGAN B VALUE MENGGUNAKAN METODE LIKELIHOOD
UNTUK DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA
(3 JUNI 1909 - 23 DESEMBER 2009)

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Sains dan Teknologi
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sains

Oleh:

Muhammad Adzkia

106097003272

Pembimbing I, Pembimbing II,

Tati Zera, M.si Arif Tjahjono, M.si

NIP. 150 373 922 NIP. 150 389 715

PROGRAM STUDI FISIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2010
PENGESAHAN UJIAN

Skripsi berjudul Perhitungan b value Menggunakan Metode Likelihood Untuk Daerah Sumatera Barat
dan Sekitarnya (3 Juni 1909-23 Desember 2009) telah diujikan dalam sidang munaqosyah Fakultas Sains
dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 25 Juni 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah
satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sains pada Program Studi Fisika.

Jakarta, 22 Juni 2010

Sidang Munaqosyah

Penguji I, Penguji II,

…………………………….. ……………………….

NIP. 150 NIP.

Mengetahui,

Dekan, Ketua Program Studi,

DR. Syopiansyah Jaya Putra, M. Sis Drs. Sutrisno, M.si

NIP. 150 317 956 NIP. 120 129 109


Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang ditulis oleh:

Nama :Muhammad Adzkia

NIM : 106097003272

Program Studi : Fisika

Judul Skripsi : Perhitungan B Value Menggunakan Metode Likelihood Maksimum Untuk


Daerah Sumatera Barat dan Sekitarnya (3 Juni 1909-23 Desember 2009) dapat diterima sebagai
syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Program Studi Fisika, Fakultas
Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juni 2010

Menyetujui,

Penguji I, Penguji II,

…………………………… ………………………………

NIP. 150 NIP. 150

Mengetahui,

Dekan, Ketua Program Studi,

DR. Syopiansyah Jaya Putra, M. Sis Drs .Sutrisno, M.si

NIP. 150 317 956 NIP. 120 129 109


ABSTRAK

Telah dilakukan perhitungan b value di daerah Sumatera Barat dan sekitarnya


dengan batas koordinat 3.00 LU – 5.00 LS dan 96.00 BT – 103.00 BT telah dianalisis
menggunakan statistik metode likelihood yang disesuaikan dengan tingkat
kegempaan dengan magnitude (M)≥5.0 SR, kedalaman (h)≤100 km dan periode
pengamatan antara tahun 1909-2009. Distribusi gempa bumi dianalisis dengan
menggunakan persamaan Guttrenberg-Richter (1954). Penentuan parameter
seismotektonik (b Value) dihitung menggunakan metode likelihood dan didapat b
value untuk 10 daerah penelitian berkisar antara 1,59 s/d 1,11.Untuk Magnitude 6,8 –
8,6 SR, jumlah rata-rata gempa pertahun dihitung sebagai indeks seismisitas, nilainya
berkisar antara 0,65 – 1,93, dengan T (waktu) = 10, 30, 50, 100 tahun nilai
probabilitas berkisar antara 3 - 88,4%, sedangkan periode ulang berbanding terbalik
dengan indeks seismisitas dimana periode ulang rata-rata gempa merusak pada tiap-
tiap wilayah berbeda nilai Periode ulang berkisar antara 46-259 tahun.

Kata Kunci : b value, Indeks Seismisitas, Probabilitas Gempa, Periode Ulang

i
ABSTRACT

Has been analyzed using b value in the West of Sumatera island and surroundings in
coordinate 3.00 N– 5.00 S dan 96.00 E – 103.00 W has been analyzed using likehood methode
that appropriate with magnitude (M)≥5.0 RS, height (h)≤100 km and observation periode
between 1909-2009. Earthquake distribution being analyzed with Guttrenberg-Richter
equation (1954). Determination of seismotectonic parameter (b Value) using likehood
methode results b value for 10 research areas is between 0,59 until 1,11.For Magnitude 6,8-
8,6 RS, the average sum of erthquake per year is calculated as seismisitas index., it’s value
around 0,65 – 1,93, with T (time) = 10, 30, 50, 100 years with probability value around 0,3-
88,4%. mean while repeat periode is reverse with seismisitas index where average
earhtquake repeat periode damage every different areas Repeat periode damage value around
46-259 years

Keywords : b value, Seismisitas Index, Earthquake Probability, Repeat periode

ii
Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Segala puji dan syukur penulis panjatkan hanya kepada Allah SWT, Tuhan

semesta alam. Dengan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya penulis dberikan

kemampuan dan kesempatan untuk menyelesaikan Skripsi yang berjudul

“PERHITUNGAN B VALUE MENGGUNAKAN METODE LIKELIHOOD UNTUK

DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA (5 JUNI 1909 -31 OKTOBER

2009)”,dapat terselesaikan dengan baik.Penulisan Skripsi ini diajukan untuk

memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sains (S.Si) Prodi Fisika jurusan

MIPA Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah

Jakarta, yang terpadu dalam kurikulum selain perkuliahan dan tugas akhir yang

bertujuan gina memberikan pengalaman dan wawasan mahasiswa.

Penulis sangat menyadari bahwa masih banyak kelemahan dan kekurangan

yang penulis miliki. Tanpa bantuan, dorongan, dan do’a dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis merasa berhak untuk mengucapkan

rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ayahanda dan Ibunda tercinta serta uni dan adikku tersayang yang telah memberikan

perhatian, dukungan, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak DR. Syopiansyah Jaya Putra, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan

Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

iii
3. Bapak Drs. Sutrisno, M.Si sebagai Ketua Prodi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Tati Zera, M.Si sebagai pembimbing I penulis yang telah memberikan banyak

bantuan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Arif Tjahjono, M.Si sebagai pembimbing II penulis yang juga telah

memberikan banyak bantuan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Mellavia Dwi E. Wanita yang spesial dalam hidupku yang selalu memberikan

perhatian, sayang, juga membimbingku untuk lebih dewasa dalam menyikapi segala

hal, serta selalu meluangkan waktu, pikiran, dan kesabarannya dalam menghadapi

penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

7. Sahabat-sahabat tersayang, terima kasih atas segala dukungan dan semangat


yang selalu kalian berikan.
8. Teman-teman Fisika 2006 khususnya anak Geofisika .
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini terima kasih atas
semuanya
Pada akhirnya, penulis sangat menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini

masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis

sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak. Sehingga

hal tersebut dapat memberikan nilai yang sangat berharga bagi saya khususnya dan

bagi pihak-pihak yang akan menjadikan laporan ini sebagai referensi di masa yang

akan datang.

iv
Semoga ridho Allah senantiasa tercurah, sehingga laporan ini dapat

bermanfaat bagi semua pihak, amin ya robbal ‘alamin.

Wassalamua’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 1 Juli 2010

Muhammad Adzkia

v
DAFTAR ISI

ABSTRAK ........................................................................................................... ….i


KATA PENGANTAR ........................................................................................ …iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ….vi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ …..viii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. …ix
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………………..x

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. …1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... …3
1.3 Batasan Masalah............................................................................ …4
1.4 Tujuan .......................................................................................... …4
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................ …5
1.6 Sistematika Penulisan ................................................................... …5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Gempa Bumi .......................................................................................7

2.2 Proses Terjadinya Gempa………………………………………….....8

2.3 Jalur Utama Gempa Bumi…………………………………………. .14

2.4 Tipe Utama Gelombang Gempa Bumi ................................................17

2.5 Kerangka Tektonik Indonesia .............................................................18

2.6 Mitigasi Gempa Bumi .........................................................................22

vi
2.7 Kerangka Tektonik Pulau Sumatera....................................................24

2.8 Penentuan Clustering Titik Gempa Bumi ........................................25

2.9 Metode Likelihood ............................................................................26

2.10 Standar Deviasi..................................................................................27

2.11 Indeks Seismisitas ............................................................................28

2.12 Probabilitas Kejadian Gempa .........................................................29

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ...........................................................31

3.2 Metode Pengumpulan Data ...............................................................31

3.3 Metode Pengolahan Data .................................................................31

3.4 Perhitungan Data……………………………………………………35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan penelitian……………………………….……….43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ......................................................................................51

5.2 Saran … ............................................................................................52

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................53


LAMPIRAN ..............................................................................................................55

vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Seismogram………………………………………………………2

Gambar 2.1 Proses Terjadinya Gempa Bumi.....................................................8

Gambar 2.2 Gerakan Partikel Gelombang........................................................18

Gambar 2.3 Penampang Geologi cross-section Pulau Sumatera……………..19

Gambar 2.4 Peta tektonik kepulauan Indonesia, tampak zona subduksi dan sesar

aktif........................................................................................................20

Gambar 2.5 Zona Konvergen............................................................................21

Gambar 2.6 Zona Divergen...............................................................................22

Gambar 2.7 Peta Tektonik Wilayah Sumatera..................................................24

Gambar 2.8 Segmen Patahan Aktif Sumaetra...................................................25

Gambar 2.9 Diagram Alir Perhitumgan b_value..............................................32

Gambar 3.1 Peta Penyebaran Seismisitas Daerah Sumatera Barat dan Sekitarnya

dengan Pembagian 10 Wilayah..............................................................34

Gambar 3.2 Distribusi Magnitude berdasarkan frekuensi kejadian diwilayah 1 ......36

Gambar 3.3 Distribusi Magnitude berdasarkan kedalaman gempa bumi wil 1 .........37

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Richter dan Pembandingnya............................................................. 14

Tabel 3.1 Sebaran Seismisitas Wilayah 1......................................................... 36

Tabel 3.2 Perhitungan Standar Deviasi……………………………………… 38

Tabel 3.3 nilai b, b batas atas, b batas bawah, dan nilai a ………………….. 40

Tabel 3.4 Perbandingan Parameter-parameter aktivitas seismik dan Nilai 41

Indeks Seismisitas Tiap-Tiap Wilayah ............................................

Tabel 3.5 kemungkinan kejadian gempa berdasarkan T 10 tahun, T 30 42

tahun, T 50 tahun, dan T 100 tahun……………………………

Tabel 3.6 Nilai rata-rata periode ulang gempa yang merusak……………… 42

Tabel 4.1 Perhitungan b value……………………………………………………… 43

Tabel 4.2 Standar Deviasi untuk nilai b……………………………………… 45

Tabel 4.3 Perhitungan nilai a dan Indeks Seismisitas……………………….. 46

Tabel 4.4 Perbandingan kemungkinan kejadian gempa berdasarkan T 48

(tahun) pada tiap-tiap wilayah……………………………………

Tabel 4.5 nilai periode ulang merusak……………………………………….. 48

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Data Sekunder BMKG 100 Tahun………………………………………………. 55

Hasil Perhitungan Metode Likelihood...……………………………………….... 60

x
DAFTAR PUSTAKA

1. Andreas, R. 2003. Simulasi Statistik Nilai b untuk Wilayah Indonesia. Fakultas Ilmu

Kebumian dan Teknologi Mineral. ITB.

2. Guttenberg, B. Richter. C.F. 1994. Frequency of Earthquake in California,

Bull.Seis.Soc.Am,34, 185-188. America.

3. Gunawan.T,Wandono.M. 2000. Tinjauan Statistik Resiko Gempa Bumi Di Indonesia.

BMG-Jakarta.

4. Harinaldi. 2002. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains. Erlangga. Jakarta.

5. Ismail, S. 1989. Pendahuluan Seismologi. Balai Pendidikan dan Latihan Meteorologi

dan Geofisika. Jakarta.

6. Permana. D. 2006. Materi Sosialisasi MKG. Balai Besar Meteorologi dan Geofisika

Wilayah II. Jakarta

7. Sulaiman, R. Taufik Gunawan, M.Passaribu.R. 1999. Analisis Statistik Keaktifan

Gempa Bumi di Indonesia. Prosiding Himpunan Ahli Geofisika Indonesia.

Pertermuan Ilmiah tahunan ke-24, Surabaya, 12-13 Oktober 1999.

8. Sulaiman, R. Setiyo Prayitno. B. 2003. Studi banding b value dengan Metode Kuadrat

Terkecil dan Likelihood Maksimum dari data BMG dan USGS untuk daerah

Aceh dan Sekitarnya. BMG. Jakarta.

9. Suryo, B. 1990. Materi Kuliah Statistik Seismologi. Balai Pelatihan Metorologi dan

Geofisika. Jakarta.

10. Walpole. R.E.1992. Pengantar Statistika. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

xi
11. Zubaedah, Siti. 2006. Perbandingan Metode Least Squares dan Likelihood Maksimum

Untuk Menghitung b value dan Periode Ulang Gempa di Jawa Bagian Barat.

Skripsi

12. Wibowo, Adhi.2008. Analisis Keaktifan dan Resiko Gempa Bumi Pada Zona

Subduksi Sumatera Dengan Metode Statistik. Akademi Meteorologi dan

Geofisika. Jakarta.

13. Prasetya, Tiar. 2006. Gempa Bumi; Ciri dan cara menanggulanginya, Gitanagiri.

Yogyakarta.

14 . www.google.com/peta sumatera6
15 Riyadi. 1994. Statistik Seismologi. Balai Pelatihan Metorologi dan Geofisika. Jakarta.

xii
PERHITUNGAN B VALUE MENGGUNAKAN METODE LIKELIHOOD

UNTUK DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA

(5 JUNI 1909 – 31 OKTOBER 2009)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Sains dan Teknologi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sains (S.Si.)

Oleh :

Muhammad Adzkia

106097003272

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing 2

Tati Zera, M.Si Arif Tjahjono,ST. M.Si


Nip. : 19690608 200501 2 002 Nip. : 19751107 200701 1 015

Mengetahui,
Ketua Program Studi Fisika

Drs. Sutrisno, M.Si


Nip. : 19590202 198203 1 005
PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul “PERHITUNGAN B VALUE MENGGUNAKAN METODE


LIKELIHOOD UNTUK DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA( 5
JUNI 1909 - 31 OKTOBER 2010)” telah diuji dan dinyatakan lulus dalam sidang
Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta pada hari Rabu, 30 Juni 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Jurusan Fisika.

Jakarta, 1 Juli 2010

Tim Penguji,

Penguji I Penguji II

Drs. Sutrisno, M.Si Siti Ahmiatri Saptari, M.Si


NIP. 19590202 198203 1 005 NIP. 19770416 200501 2 008

Mengetahui,

Dekan Fak. Sains dan Teknologi Ketua Jurusan Fisika

Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis Drs. Sutrisno, M.Si


NIP. 19680117 200112 1 001 NIP. 19590202 198203 1 005
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gempa terjadi akibat pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah

permukaan bumi yang disebabkan oleh pergerakan kerak bumi/lempeng bumi.

Ketika pergeseran ini terjadi, timbul getaran yang disebut gelombang seismik

yang mengarah ke segala arah di dalam bumi dan menjalar menjauhi fokusnya.

Ketika gelombang ini mencapai permukaan bumi, getarannya dapat bersifat

merusak atau tidak. Hal ini sangat tergantung dari kekuatan sumber dan jarak

fokus gempa, disamping itu mutu bangunan dan mutu tanah dimana bangunan itu

berdiri juga sangat mempengaruhi apakah gempa itu bersifat merusak atau tidak.

Gempa dapat terjadi kapan saja, tanpa mengenal musim. Meskipun

demikian, konsentrasi gempa cenderung terjadi di tempat-tempat tertentu saja,

seperti pada batas batas lempeng Plat Pasifik. Untuk mengetahui kecepatan

pergerakan tanah dan untuk mengukur kekuatan suatu gempa dapat di gunakan

suatu alat yaitu Seismograf. Seismograf memantau gerakan-gerakan bumi dan

mencatatnya dalam seismogram. Gelombang seismik, atau getaran, yang terjadi

selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram yang

dapat menentukan kekuatan gempa. Biasanya digunakan skala Richter untuk

menggambarkan besaran gempa, dan skala Mercalli untuk menunjukkan

intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung dan manusia.

1
Gambar 1.1 seismograf.

Daerah Sumatera barat dan sekitarnya yang terletak pada 3°LU-5°LS dan

96°-103°BT lokasi ini merupakan daerah dengan tingkat aktivitas gempa bumi

yang sangat tinggi. Untuk itu perlu dilakukan perhitungan nilai b dari hubungan

magnitudo-frekuensi kumulatif gempa bumi untuk mengetahui tingkat patahan

( fracture ) secara nyata pada daerah Sumatera Barat dan sekitarnya dengan

menggunakan Metode Likelihood Maksimum. Distribusi magnituda-frekuensi

kumulatif dan non-kumulatif dari gempa bumi dianalisa dengan teori Gutenberg-

Richter [2] bahwa nilai b berkaitan langsung pada karakteristik tektonik dari setiap

daerah dan oleh sebab itu mungkin menunjukkan parameter seismotektonik pada

daerah tersebut.

Tinjauan tektonik dan distribusi kegempaan dapat dilihat secara kualitatif

dengan daerah-daerah yang mempunyai resiko tinggi terhadap gempa bumi,

namun dengan metode statistik dapat diketahui secara kuantitatif tingkat keaktifan

gempa bumi (nilai a dan b), indeks seismisitas, tingkat resiko gempa atau

kemungkinan terjadi gempa atau probabilitas dan periode ulang gempa untuk

magnitude tertentu pada suatu daerah. Resiko gempa yang dimaksud hanya

mempertimbangkan tingkat seismisitas suatu daerah tanpa menyertakan faktor

2
lain seperti kondisi geologi, kualitas infrastruktur, kepadatan penduduk, dan

sebagainya.

Pada saat ini, metode seismostatik digunakan pada masalah “source

seismology” dengan luas. Metode ini juga dipakai dalam penentuan kesalahan

dalam penentuan pusat gempa bumi ( epicenter ), penggunaan fenomena

stochastic pada penentuan jejak gempa bumi ( sebagai contoh penentuan seismic

gap ), penggunaan metode statistik yang cocok diharapkan mendapatkan nilai

akurasi yang lebih baik dan derajat kepastian yang lebih tinggi sebagai hasilnya.

Analisis statistik dari gempa bumi mempunyai pendekatan yang berbeda

dengan permasalahan pembentukan gempa bumi itu sendiri. Dari jenis

penyelidikan ini, dapat diketahui “metode gempa bumi” yang didapat dari studi

teoritis dari fenomena gelombang dan fenomena asal “wave and source

phenomena”. Tetapi lebih dari itu pendekatan secara statistik tentang keberadaan

gempa bumi umumnya mempunyai hasil yang baik, sejalan dengan gambaran

tektonik pada suatu wilayah,oleh karenanya sangat menarik untuk dilakukan

penelitian tentang b value daerah sumtera barat dan sekitarnya di karenakan rawan

terjadi gempa di daerah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah : Mencari nilai b dengan

menggunakan Metode Likelihood Maksimum, Tingkat seismisitas di daerah

Sumatera Barat dan sekitarnya, Probabilitas terjadinya gempa bumi di daerah

3
Sumatera Barat dan sekitarnya, Mencari nilai periode ulang dengan menggunakan

Metode Likelihood Maksimum.

1.3 Batasan Masalah

Permasalahan pada penelitian ini hanya dibatasi pada analisis penentuan

tingkat keaktifan gempa bumi, tingkat kerapuhan batuan, indeks seismisitas,

probabilitas kejadian gempabumi, dan periode ulang gempa bumi. Sedangkan

daerah penelitian Clustering Sumber Gempa bumi Daerah Sumatera Barat dan

Sekitarnya pada 3°LU-5°LSdan 96°-103°BT. Data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah data hasil rekaman gempa bumi daerah Sumatera Barat dan

sekitarnya selama kurun waktu 1909-2009 (100 tahun) dengan kekuatan gempa

bumi (magnitudo) ≥ 5 dan kedalaman ≤100 Km, sehingga berpotensi tsunami

yang diambil dari data BMKG.

1.4 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa nilai a sebagai tingkat

keaktifan gempa bumi, nilai b sebagai tingkat kerapuhan batuan, nilai NI sebagai

Indeks seismisitas, nilai P sebagai kemungkinan terjadi gempa bumi atau

probabilitas, nilai Ө sebagai nilai periode ulang gempa bumi, dengan metode

statistik kuantitatif kegempaan Clustering Sumber Gempa bumi Daerah Sumatera

Barat dan Sekitarnya menggunakan Metode Likelihood Maksimum.

4
1.5 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan informasi

kepada Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat serta masyarakat sebagai

studi awal dalam masalah mitigasi bencana gempa bumi di Daerah Sumatera

Barat dan sekitarnya, sehingga diharapkan dapat mewaspadai dan meminimalisir

tingkat kerusakan akibat gempa bumi.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab, yaitu:

Bab I Pendahuluan

Bab ini berisikan latar belakang penulisan dan pemilihan judul, tujuan

penelitian, rumusan masalah, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab ini berisikan teori teori metode yang digunakan yaitu Metode

Likelihood Maksimum.

Bab III Metode Penelitian

Bab ini berisikan waktu dan tempat penelitian, data data yang digunakan,

peralatan yang digunakan, analisa data.

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab ini berisikan tentang hasil yang didapatkan dari pengolahan data, dan

pembahasan mengenai hasil pengolahan data yang didapatkan.

5
Bab V Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran yang didapatkan dari hasil

analisis dan perhitungan data.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gempa Bumi

Gempa bumi merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan

penjalaran gelombang seismik. Menurut Teori Elastic Rebound yang dinyatakan

oleh seismolog Reid, (K.E Bullen, 1965; B.Bolt, 1988) menyatakan bahwa gempa

bumi merupakan gejala alam yang disebabkan oleh pelepasan energi regangan

elastis batuan yang disebabkan adanya deformasi batuan yang terjadi di litosfera.

Deformasi batuan terjadi akibat adanya tekanan (stress) dan tarikan

(strain) pada lapisan bumi. Tekanan atau tarikan yang terus-menerus

menyebabkan daya dukung pada batuan akan mencapai batas maksimum

dan mulai terjadi pergeseran dan akhirnya terjadi patahan secara tiba-tiba.

Energi stress yang tersimpan akan dilepaskan dalam bentuk getaran yang

kita kenal sebagai gempa bumi.

Pergerakan dua lempeng yang berbatasan saling bergerak relatif terhadap

sesamanya menimbulkan gesekan di sepanjang bidang batas lempeng. Gesekan

dua lempeng yang bersifat elastis dapat menimbulkan energi elastis. Jika

pergerakan lempeng terjadi terus menerus dalam waktu yang lama akan terjadi

akumulasi energi pada batas lempeng. Pada suatu kondisi tertentu di mana batuan

tidak dapat lagi menahan gaya yang ditimbulkan oleh gerak relatif lempeng,

energi elastis yang terakumulasi akan dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk

gelombang elastis yang menjalar ke segala arah. Gelombang ini sampai

7
dipermukaan bumi dalam bentuk getaran tanah yang dapat dirasakan. Selanjutnya

gelombang elastis yang dipancarkan oleh gempa ini disebut gelombang seismik.

2.2 Proses Terjadinya Gempa

Untuk terjadinya suatu gempa bumi diperlukan beberapa syarat, antara

lain:

a. Gerakan relatif dari lempeng tektonik atau blok-blok lempeng tektonik,

b. Pembangunan stress, dan

c. Pelepasan energy.

Menurut teori patahan (theory fructure) bahwa pada waktu terjadinya

gempa bumi akan dilepaskan sejumlah energi tertentu akibat patahan yang terjadi

secara tiba-tiba dan gelombang seismik yang dipancarkan dapat dirasakan oleh

alat seismograf, jadi dapat diketahui bahwa gempa bumi adalah hasil pelepasan

energi dari suatu patahan kerak bumi dimana patahan itu merupakan sumber

gempa.

Gambar 2.1. Proses terjadinya gempa bumi

8
Gempa bumi yang sering menimbulkan kerugian dan korban adalah gempa

bumi tektonik. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh pergeseran lempeng-

lempeng tektonik. Menurut teori lempeng tektonik kerak bumi terpecah-pecah

menjadi bagian yang disebut lempeng (plate bumi). Di bumi terdapat tujuh

lempeng besar (Mega Plate) di antaranya: lempeng Eurasia, lempeng Pasifik,

lempeng Indo-Australia, lempeng Antartika, lempeng Amerika, lempeng Nazca,

dan lempeng Afrika.

Lempeng-lempeng tersebut bergerak dengan arah dan kecepatan berbeda.

Menurut teori konveksi pergerakan lempeng-lempeng ini disebabkan oleh arus

konveksi. Bumi ini tersusun oleh dua bagian yaitu lithosfer dan Astherosfer.

Asthenosfer bersifat fluida yang kental dan mempunyai densitas lebih kecil dan

bersuhu tinggi. Lithosfer mempunyai densitas lebih besar dan bersifat kaku serta

mudah patah, karena gerakan perputaran bumi secara terus menerus maka pada

asthenosfer yang bersuhu tinggi timbul arus. Arus ini disebut arus konveksi. Arus

ini selalu bergerak dari tekanan tinggi ke tempat tekanan yang rendah. Gerakan

dari asthenosfer akan menggerakan lithosfer yang berada di atasnya. Maka

lithosfer yang berupa lempeng-lempeng tersebut akan bergerak.

Menurut sumber terjadinya gempa, gempa bumi dikelompokkan menjadi:

1. Gempa tektonik adalah gempa bumi yang berasal dari pergeseran

lapisan-lapisan batuan sepanjang bidang sesar di dalam bumi.

2. Gempa vulkanik adalah gempa bumi yang berasal dari gerakan

magma karena aktifitas gunung api.

3. Gempa longsoran atau runtuhan yaitu gempa bumi yang terjadi

9
karena aktifitas runtuhan pada daerah pertambangan atau daerah tanah

longsor.

4. Gempa buatan adalah getaran gempa bumi yang terjadi karena adanya

aktivitas manusia di kulit bumi yang menyebabkan getaran yang cukup

kuat.

Berdasarkan kedalaman sumber gempa, gempa bumi dikelompokkan

menjadi:

1. Gempa bumi dangkal, dimana kedalaman hiposenternya kurang dari

66 km di bawah permukaan bumi.

2. Gempa bumi menengah, dimana kedalaman hiposenter antara 66 km-

450 km di bawah permukaan bumi.

3. Gempa bumi dalam, dimana kedalaman hiposenternya lebih dari 450

km di bawah permukaan bumi.

Titik di dalam bumi dimana gempa terpusat dinyatakan dengan lintang, bujur, dan

kedalaman di bawah permukaan disebut fokus atau hypocenter. Sedangkan titik di

permukaan bumi vertikal diatas fokus merupakan epicenternya. Terjadinya gempa

bumi biasanya diiringi oleh beberapa macam goncangan, diantaranya:

a. Foreshock

Deretan goncangan yang terjadi sebelum gempa bumi, tak ada tanda-tanda

berapa lama gempa akan terjadi setelah foreshock ini.

b. Aftershock

Deretan goncangan yang terjadi setelah gempa bumi. Dapat terjadi selama

berbulan – bulan.

10
c. Swarm

Sejumlah besar goncangan kecil tanpa ada gempa bumi utama.

Berdasarkan kekuatan, gempa bumi diklasifikasikan menjadi:

1. Gempa sangat besar, M > 8,0

2. Gempa besar, 7,0 < M < 8,0

3. Gempa sedang, 4,5 < M < 7,.0

4. Gempa mikro, 1,0 < M < 4,5

Dimana M adalah magnitude

Skala – Skala Kekuatan Gempa Bumi

Konsep kekuatan gempa bumi pertama kali diperkenalkan oleh C.F.

Richter pada tahun 1935 dengan mengusulkan skala kekuatan logaritma yang

lazim disebut sebagai Skala Richter. Ada dua macam skala gempa yang biasa

digunakan sebagai ukuran kekuatan gempa bumi:

a. Skala Kekuatan Gempa (Magnitudo)

Magnitudo gempa bumi merupakan jumlah energi yang dilepaskan di

pusatnya dan di ukur dengan satuan Skala Richter. Skala ini dikembangkan oleh

seorang ahli seismologi bernama Charles Richter. Dalam penentuannya skala ini

dapat dikonversi dari jarak episenter. Peningkatan satu satuan skala sebanding

dengan peningkatan 30 kali energi yang dilepaskan di pusatnya. Dapat

dibayangkan jika satu gempa bumi dengan magnitudo 7,5 Skala Richter akan

melepaskan 30 kali lebih banyak energi dibandingkan dengan satu gempa dengan

magnitudo 6,5 Skala Richter. Magnitudo yang paling kecil yang masih bisa

dirasakan oleh manusia adalah 3,5 Skala Richter.

11
Jenis gempa berdasarkan kekuatan gempa (magnitudo), terdiri atas:

a. Gempa sangat besar (great earthquake), yaitu gempa bumi dengan

magnitudo > 8 Skala Richter.

b. Gempa besar (major earthquake), yaitu gempa bumi dengan magnitudo 7

sampai dengan 8 Skala Richter.

c. Gempa sedang (moderate earthquake), yaitu gempa bumi dengan

magnitudo antara 5 sampai dengan 7 Skala Richter.

d. Gempa kecil (small earthquake), yaitu gempa bumi dengan magnitudo 3

sampai 5 Skala Richter.

e. Gempa mikro (micro earthquake), yaitu gempa bumi dengan magnitudo

antara 1 sampai 3 Skala Richter.

b. Skala Intensitas Gempa

Bersifat lebih subyektif. Intensitas gempa bumi merupakan skala kedua

yang dipakai dalam menyatakan sebuah gempa bumi. Skala intensitas

menunjukan tingkat kerusakan di permukaan bumi. Skala ini dikembangkan oleh

Mercalli pada tahun 1902, seorang ahli seismologi dari Italia dan sekarang lebih

dikenal dengan skala Mercalli yang dimodifikasi, digunakan untuk

menggambarkan intensitas pengaruh gempa bumi terhadap manusia berdasarkan

goncangan (goyahnya bangunan), pecahnya kaca, retaknya tanah, larinya orang–

orang keluar. Bangunan dan permukaan bumi dalam satuan angka dari I sampai

XII. Skala lain yaitu Medvedev – Sponhever – Karnik yang lebih familiar

digunakan di Eropa dan Skala Rossi Forrel. Berdasarkan kedalaman sumber

gempa, di Indonesia terdiri dari :

12
a. Gempa dangkal (shallow earthquake), yaitu gempa bumi dengan

kedalaman 0 – 65 km.

b. Gempa menengah (intermediate earthquake), yaitu gempa bumi dengan

kedalaman 66 – 450 km.

c. Gempa dalam (deep earthquake), yaitu gempa bumi dengan kedalaman >

450 km.

Secara lebih rinci skala tersebut dinyatakan sebagai berikut:

A. Skala Rossi – Forrel (1874 – 1878)

a. Terekam oleh Instrumen.

b. Dirasakan sejumlah kecil manusia dalam keadaan diam.

c. Dirasakan cukup kuat beberapa orang dalam keadaan diam.

d. Dirasakan dalam sejumlah orang dalam keadaan bergerak.

e. Umumnya dirasakan setiap orang, membunyikan lonceng dan

menggerakkan perabot.

f. Membangunkan yang tidur, membunyikan lonceng dan menghentikan

gerak jam.

g. Kepanikan, membunyikan lonceng, menjatuhkan yang tergantung.

h. Meretakkan dinding bangunan.

i. Merusakkan sebagian atau keseluruhan bangunan.

j. Bencana besar, meruntuhkan gunung.

B. Skala Richter

Dibuat oleh Charles Richter (1935) 1 – 8,8 skala (Skala Logarima). Dasar

kerja skala ini adalah dengan pengukuran amplitudo maksimum gelombang

13
seismik pada jarak 161 km, dengan mengukur perbedaan waktu tempuh

gelombang P dan gelombang S. Kemudian ditambahkan faktor empiris

(berdasarkan kenyataan melemahnya gelombang saat menjauhi fokus).

Tabel 2.1 Skala Richter dan Pembandingnya

Skala Richter Peningkatan Kekuatan Energi yang dibebaskan - ledakan TNT


1 1 170 g
2 10 6 kg
3 100 179 kg
4 1000 5 metric ton
5 10000 179 metric ton
6 100000 5643 metric ton
7 1000000 179100 metric ton
8 10000000 5463000 metric ton

C. Skala Mercalli

Diciptakan oleh seismologist Italia, Guisseppe Mercalli pada tahun 1902

dan dimodifikasi oleh seorang ahli seismologi Amerika sehingga menjadi suatu

skala absolut.

2.3 Jalur Utama Gempa Bumi

Terdapat tiga jalur utama gempa bumi yang merupakan batas pertemuan

dari beberapa lempeng tektonik aktif:

a). Jalur gempa bumi Sirkum Pasifik

Jalur ini dimulai dari Cardilleras de Los Andes (Chili, Equador, dan

Caribia), Amerika Tengah, Mexico, California British Columbia, Alaska,

14
Alaution Island, Kamchatka, Jepang, Taiwan, Filiphina, Indonesia,

Polynesia, dan berakhir di New Zealand.

b). Jalur gempa bumi Mediteran atau Trans Asiatic

Jalur ini dimulai dari Azores, Mediteran (Maroko, Portugal, Italia, Balkan,

Rumania), Turki, Kaukasus, Irak, Iran, Afganistan, Himalaya, Burma,

Indonesia (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Laut Banda) dan akhirnya

bertemu dengan jalur Sirkum Pasifik di daerah Maluku.

c). Jalur gempa bumi Mid-Atlantic

Jalur ini mengikuti Mid-Atlantic Ridge adalah Spitsbergen, Iceland, dan

Atlantik Selatan.

Sebanyak 80 % dari gempa di dunia, terjadi di jalur Sirkum Pasifik yang

sering disebut sebagai Ring of Fire karena juga merupakan jalur vulkanik.

Sedangkan pada jalur Mediteran terdapat 15 % gempa dan sisanya sebanyak 5 %

tersebar di Mid Atlantik dan tempat – tempat lainnya.

Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia

yaitu Lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Eurasia dan Australia

bertumbukan di lepas pantai barat pulau Sumatera, lepas pantai selatan pulau

Jawa, lepas pantai selatan kepulauan Nusa Tenggara, dan berbelok ke arah utara

ke perairan Maluku sebelah selatan. Antara lempeng Australia dan Pasifik terjadi

tumbukan di sekitar pulau Papua. Sementara pertemuan antara ketiga lempeng itu

terjadi di sekitar Sulawesi. Itulah sebabnya mengapa di pulau – pulau sekitar

pertemuan tiga lempeng itu sering terjadi gempabumi.

15
Bumi ini terdiri dari dua lempeng yaitu lempeng benua dan lempeng

samudera, pertemuan antara dua lempeng ini bisa bermacam bentuknya, yang

dikenal sebagai daerah subduction zone. Di Indonesia terlihat di sepanjang pesisir

barat Sumatera, selatan Jawa sampai ke Laut Banda. Lempeng samudera dan

benua yang dimaksud dalah Lempeng Australia yang menunjam ke bawah

Lempeng Eurasia (Eropa dan Asia, di mana Indonesia bagian barat termasuk di

dalamnya).

Jalur gempa bumi dunia (benioff zone) akan mengikuti jalur subduction

karena memang gempa bumi adalah salah satu produk dari jalur tersebut selain

jalur gunung api, juga hasil tambang bumi. Jadi kesimpulan umum dari

subduction zone adalah tidak hanya menghasilkan gempa bumi saja, tetapi juga

bisa memberikan fenomena alam yang menakjubkan dan kekayaan hasil bumi

yang menguntungkan secara ekonomi karena daerah yang dilalui jalur tersebut

memiliki hasil tambang bumi.

Berikut ini adalah 25 daerah wilayah rawan gempabumi Indonesia yaitu:

Aceh, Sumatera Utara (Simeulue), Sumatera Barat – Jambi, Bengkulu, Lampung,

Banten Pandeglang, Jawa Barat, Bantar Kawung, Yogyakarta, Lasem, Jawa

Timur, Bali, NTB, NTT, Kepulauan Aru, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara,

Sangir Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Kepala Burung – Papua Utara,

Jayapura, Nabire Wamena, dan Kalimantan Timur.

16
2.4 Tipe Utama Gelombang Gempa bumi

Gelombang gempa bumi (gelombang seismik) adalah gelombang elastis

yang disebabkan karena adanya pecahan tanah yang tiba-tiba atau adanya suatu

letusan. Gelombang ini akan menjalar ke seluruh bagian dalam bumi dan melalui

permukaan bumi.

Ada 2 tipe utama gelombang seismik, yaitu:

1. Gelombang Badan (Body Waves) yaitu gelombang yang menjalar melalui

bagian dalam bumi, yang terdiri dari:

a. Gelombang Preasure Wave (P) atau gelombang longitudinal (primer)

dimana Gerakan partikelnya searah dengan arah penjalaran gelombang.

b. Gelombang Shear Wave (S) atau gelombang sekunder atau gelombang

transversal dimana gerakan pertikelnya adalah tegak lurus arah penjalaran

gelombangnya.

Gelombang S dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

 Gelombang SV adalah gelombang S yang gerakan partikelnya terpolarisasi

pada bidang vertikal.

 Gelombang SH adalah gelombang S yang gerakan partikelnya horizontal.

2. Gelombang Permukaan (Surface Waves) yaitu gelombang yang menjalar

sepanjang permukaan bumi, yang terdiri dari :

 Gelombang Rayleigh (R) yaitu gelombang yang arah gerakan partikelnya

adalah eliptik retrograd.

 Gelombang Love (L) yaitu gelombang yang terpadu pada permukaan bebas

medium berlapis. Gerakan pertikelnya seperti gerakan gelombang SH.

17
 Gelombang Stonley yaitu gelombang yang terpadu pada bidang batas

antara 2 medium. Gerakan partikelnya serupa dengan gelombang SV.

a)

b)

P SV L R

Gambar 2.2 Gerakan partikel Gelombang.

Gerakan partikel gelombang medium yang dilewati gelombang-

gelombang P, S, L, dan R, serta posisinya terhadap sumber, a) Gambar tampak

samping, b) Gambar tampak atas.

2.5 Kerangka Tektonik Indonesia

Kerangka tektonik Indonesia dipengaruhi oleh tiga lempeng besar, yaitu

lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-

Australia bergerak relatif dan menunjam terhadap lempeng Eurasia di lepas pantai

barat Sumatera, selatan Jawa, dan Nusa Tenggara. Sedangkan lempeng Pasifik

bergerak dan menunjam relatif di Irian utara dan Maluku utara.

18
Lempeng S. India P. Sumatra Eurasia

Daerah Pertemuan

L.S.India-L. Eurasia

Gambar 2.3 Penampang Geologi cross-section Pulau Sumatera

Gambar 2.3 memberikan sebuah illustrasi mengenai Lempeng Samudra India

menyusup kedalam Lempeng Benua Eurasia. Penyusupan lempeng samudra

dikarenakan secara umum densitas lempeng samudra lebih berat dibandingkan

dengan lempeng benua. Daerah pertemuan kedua lempeng ini disebut sebagai

jalur subduksi. Gempa bumi secara umum dapat didefinisikan secara sederhana

sebagai pelepasan energi akibat gesekan dua lempeng tersebut

Kondisi tektonik Indonesia yang sedemikian rupa menyebabkan Indonesia

menjadi daerah yang aktivitas kegempaannya sangat tinggi dan menjadi kawasan

yang dilalui oleh 2 jalur gempa utama, yaitu jalur gempa bumi Mediterania dan

jalur gempa bumi Pasifik.

Menurut teori tektonik lempeng, permukaan bumi ini terbagi atas kira-kira

20 pecahan besar yang disebut lempeng. Ketebalannya hampir sama dengan tebal

litosfer 70 km. Pertemuan antar lempeng disebut batas lempeng. Pergerakan

lempeng bisa saling menjauh, saling bertumbukan, atau saling menggeser ke

19
samping. Penyebab pergerakan ini menurut ilmuwan karena arus konveksi yaitu

memindahkan panas melalui zat cair atau gas dari lapisan astenosfer. Lempeng

samudera yang rapat massanya lebih besar ketika bertumbukkan dengan lempeng

benua di zona tumbukan (subduksi) akan menyusup ke bawah.

Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan akibat gesekan dari

selubung bumi. Perlambatan gerak itu menyebabkan penumpukkan energi di zona

subduksi dan zona patahan. Akibatnya di zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan,

dan geseran. Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui, maka terjadilah

patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini

menimbukan getaran partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempa

bumi. Gempa bumi dapat disebabkan aktivitas gunung api dan runtuhan batuan

yang menyebabkan gempa relatif kecil sedangkan akibat tumbukan antar lempeng

dan patahan yang aktif mengakibatkan gempa sangat besar. Apabila pusat gempa

terjadi di lautan atau samudra dapat menimbulkan gelombang tsunami.

Gambar 2.4. Peta Tektonik Kepulauan Indonesia, Tampak Zona Subduksi


dan Sesar Aktif

20
Batas-batas lempeng merupakan suatu daerah yang secara tektonik sangat

aktif. Secara umum batas-batas lempeng terdiri dari tiga jenis :

a. Zona Konvergen

Zona ini ditandai dengan adanya dua lempeng yang berbatasan bergerak

dengan arah saling mendekati. Seperti pada gambar dibawah ini:

Gambar.2.5 Zona Konvergen

Zona konvergen dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :

 Zona tumbukan

Pada zona ini kedua lempeng bergerak saling mendekati sehingga pada

batas-batas ke dua lempeng cenderung melipat ke atas dan membentuk

pegunungan lipatan.

 Zona Subduksi

Pada zona subduksi kedua lempeng yang bertumbukan (lempeng benua

dan lempeng samudera). Lempeng yang lebih berat (lempeng samudera) akan

menunjam di bawah lempeng yang lebih ringan (lempeng benua). Hasil aktifitas

tektonik semacam ini berupa rangkaian gunung api.

21
b. Zona divergen

Pada zona divergen dua lempeng yang berbatasan bergerak relatif

menjauhi sehingga membentuk pegunungan (ridce) yang terdapat di tengah

samudera. Zona ini di tandai dengan pembentukan materi-materi lempeng. Seperti

pada gambar 2.6 dibawah ini :

Gambar 2.6 Zona Divergen

c. Zona Singgungan

Pada zona singgungan dua lempeng yeng saling bergerak relatif sejajar satu

dengan yang lain sehingga terjadi gesekan pada bidang batas lempeng. Akibat dari

gesekan ini timbul gempa-gempa dangkal yang dapat membawa bencana.

2.6 Mitigasi Gempa bumi

Mitigasi adalah suatu proses terjadi berbagai tindakan pecegahan untuk

meminimalkan dampak negatif bencana alam terhadap manusia, harta dan benda,

infrastruktur dan lingkungan. Untuk mendukung mitigasi bencana khususnya

gempa bumi diperlukan beberapa karakteristik gempa itu sendiri, bahwa gempa

bumi itu:

1. Berlangsung dalam waktu yang singkat

2. Lokasi kejadian hanya tertentu saja

3. Berpotensi terulang kembali

22
4. Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat

dikurangi

Usaha-usaha yang diperlukan dalam mitigasi gempa untuk mencegah

resiko gempa bumi dan korban berjatuhan adalah dengan cara melakukan

pemantauan peristiwa gempa, pemetaan sesar aktif untuk mengetahui sejarah

keaktifan sesar yang akan bermanfaat untuk estimasi besarnya magnitudo gempa

bumi (makin panjang segmen sesar, magnitudo maksimumnya berpotensi akan

besar).

Data sesar aktif ini dapat digunakan para perancang tata ruang dan wilayah

untuk pengembangan dan pembangunan. Cara selanjutnya untuk mengurangi

korban bencana gempa bumi adalah dengan sosialisasi. Sosialisasi perlu dilakukan

untuk menyadarkan masyarakat bahwa mereka hidup di daerah rawan bencana

gempa bumi.

Kesiapan untuk hidup di daerah rawan bencana gempa bumi ini adalah

dengan membuat bangunan tahan gempa dengan bantuan ahli teknik sipil.

Sosialisasi juga perlu dilakukan kepada para korban gempa bumi agar mereka

tidak gampang disulut isu yang dapat menyebabkan kepanikan massa.

Sosialisasi juga harus mencakup cara-cara penyelamatan diri jika terjadi

gempa bumi di suatu tempat. Yang pasti, kita semua yang hidup di bumi

Indonesia sudah waktunya menyadari bahwa bencana gempa bumi memang dekat

dengan kita.

23
2.7 Kerangka Tektonik Pulau Sumatra

Pulau Sumatera terletak di lempeng benua Eurasia yang ditekan ke arah

utara oleh lempeng Indo-Australia dengan kecepatan 7,1 cm/tahun. Lempeng

Indo-Australia menyusup masuk ke lempeng Eurasia dengan sudut lebih kurang

45º.

Penyusupan itulah yang menyebabkan terbentuknya gugusan Pegunungan

Bukit Barisan di sepanjang Pulau Sumatera. Disamping itu, sejajar dengan Bukit

Barisan terbentuk pula Sumatera Fault System atau lebih dikenal dengan Patahan

Semangko, karena berawal dari Teluk Semangko.

Gambar 2.7 Peta Tektonik Wilayah Sumatera

Di sepanjang pantai barat Sumatera sampai ke Patahan Semangko di

punggung Bukit Barisan hingga sepanjang Pulau Sumatera merupakan kawasan

gempa bumi yang sangat aktif dan telah banyak memakan korban harta benda

maupun nyawa manusia.

24
2.8 Penentuan Clustering Titik Gempa bumi

Penentuan Clustering Sumber Gempa bumi Daerah Sumatra dibagi

menjadi dua kelompok, yaitu Clustering Sumber Gempa bumi di laut dan

Clustering/Segmen Sumber Gempa bumi di darat

Penentuan clustering sumber gempa bumi di laut, secara umum didasarkan

penyebaran gempa bumi yang ada pada kurun waktu 1900-2006, penyebaran

sumber gempa bumi yang mengumpul di suatu daerah, merupakan suatu

clustering sumber gempa bumi.

Penentuan clustering sumber gempa bumi di darat, Schwartz dan

Coopersmith (1984) menyimpulkan karakteristik seismik dari patahan dapat

dikorelasikan dengan ketidakteraturan geometri dari patahan, maka patahan selalu

mengalami rupture yang diakibatkan ketidakteraturan geometri patahan.

Gambar 2.8 Segmen-segmen Patahan Aktif Sumatra, dan dimensi fraktal masing-
masing (D), dan konfigurasi microplate yang membentuk Sumatera. Lingkaran
hitam merupakan epicenter dari gempabumi dangkal yang besar (1965-1994).

25
2.9 Metode Likelihood

Fungsi likelihood merupakan suatu metoda statistik yang sangat sesuai

untuk memecahkan beberapa masalah tentang seismologi. Bila suatu fungsi

distribusi probabilitas f(x, Ө) bergantung pada parameter Ө, bersesuaian dengan

fungsi likelihoood, didefinisikan sebagai berikut:

P(x, Ө)= f(x1, Ө).f (x2, Ө) ......... f (xn, Ө) ...................................... (2.9.1)

Bahwa estimasi maksimum likelihood dari Ө adalah nilai fungsi

maksimum P(x1, Ө), untuk perhitungan yang bersesuaian. Penurunan dari log P

(x1, Ө) yang umumnya untuk mendapatkan nilai maksimum dari Ө, yaitu:

P
 0 .......................................................................................... (2.9.2)


Menurut Aki (1965) bahwa metoda ini dipergunakan untuk masalah

hubungan antara frekuensi gempa bumi dan magnitudo. Suatu fungsi distribusi

probabilitas M dapat ditulis kedalam bentuk:

f (M, b’)= b’e-b’(M-Mo); M ≥ M0 ...................................................... (2.9.3)

dimana: b’=b*ln10

bersesuaian dengan fungsi likelihood yang ditunjukkan sebagai berikut :

P= (b’)N.e{-b’(  M 1  NM 0 )}

Dari hubungan ini diperoleh bahwa estimasi likelihood maksimum dari b

yang ditunjukkan sebagai :

 log e  Mn
b dan M  i 1
............................................... (2.9.4)
M  Mo n

n
i 1

26
dimana : M : rata-rata magnitude

Mo : nilai minimum magnitude

Log e : 0.4343

Bila diberikan probabilitas untuk 95%, Batas atas dan batas bawah dari

nilai b yang didapatkan menggunakan metode ini adalah menurut utsu(1965) :

 1.960   1.960 
b  b 1   dan b  b 1   ....................................... (2.9.5)
 N   N 

Bersesuaian dengan nilai a yang diperhitungkan dari hubungan frekuensi

kumulatif untuk M ≥ Mo adalah :


 
a = Log N (M > M0 )+ Log ( b ln10) + M0 b ............................ (2.9.6)

2.10 Standar Deviasi

Untuk mengetahui simpangan perhitungan nilai b dengan metode

Likelihood maksimum digunakan rumus simpangan baku (standar deviasi), yaitu :

 x 
N
2
1 x
i 1
σx = ............................................................................ (2.10.1)
N

Dimana

x : Standar deviasi dari suatu populasi

x : Rata-rata dari suatu populasi

xi : Nilai dari data (variable x)

N : banyaknya data x dalam suatu populasi

27
2.11 Indeks Seismisitas

Dari waktu pengamatan dan distribusi magnitude, dapat diketahui

prakiraan jumlah rata-rata pertahun gempa bumi (Indeks Seismisitas) dengan

magnitude >M pada daerah penelitian. Kita anggap jumlah gempa bumi dengan

M≥0 dan M ≥5 sebagai indeks seismisitas untuk suatu daerah, karena harga a

telah dihitung dari pengamatan gempa maka jumlah total gempa yang lebih besar

dari magnitude tertentu dapat dihitung dari hubungan magnitude-frekuensi secara

kumulatif. Harga rata-rata tahunan a dan a’ dapat dihitung dengan membagi n(M)

dan N(M) dengan periode pengamatan T maka didapat:

a1’ = a’- log T dan a’= a – log (b-ln10) ............................... (2.11.1)

Dimana :

T : waktu (tahun pengamatan)

ˆ , a1 , a
a ˆ11 , bˆ
ˆ1 , a : parameter-parameter yang dihitung untuk mendapatkan harga

indeks seismisitas

dari persamaan(2.6.1) diatas dapat dihitung jumlah rata-rata pertahun gempa

dengan M≥0 dan M≥5 sebagai berikut :

N1(M≥0.0)=10a1’ ........................................................................... (2.11.2)

N1(M≥5)=10a1’-.5b .......................................................................... (2.11.3)

Dimana :

N1(M ≥ 0.0) : jumlah gempa rata-rata pertahun dengan M≥ 0.0

N1(M ≥ 5.0) : jumlah gempa rata-rata pertahun dengan M≥5.0

28
Jadi N1(M ≥ 0.0) dan N1(M≥5.0) merupakan suatu indeks seismisitas dari daerah

tertentu

2.12 Probabilitas Kejadian Gempa Bumi

Probabilitas kejadian gempa bumi adalah kemungkinan terjadinya gempa

merusak di suatu daerah pada kuraun waktu tertentu. Harga resiko gempa sangat

berguna untuk perencanaan bangunn tahan gempa. Bila kita anggap distribusi

interval waktu mengikuti bentuk eksponensial e  hT , maka kemungkinan

terjadinya gempabumi dengan magnitude lebih besar daripada M selama periode

T, adalah ;

P(M, T) = 1 - e  N ( M ).T ................................................................... (2.12.1)

dimana N(M) didapat dari hubungan magnitude–frekuensi untuk tiap daerah

cluster/segmen, dimana parameter distribusi telah didapat dengan kecocokan

hubungan Gutenberg-Richter terhadap data yang diamati untuk , N(M ≥ 5.0), N(M

≥ 5.5), N(M ≥ 6.0), N(M ≥ 6.5), N(M ≥ 7.0), N(M ≥ 7.5), N(M ≥ 8.0), N(M ≥

8.5), N(M ≥ 9.0). Pada tiap-tiap magnitude, rata-rata jumlah kumulatif

gempabumi tahunan adalah ;

a1 2 b
N (5  M  9.0)  10 .................................................... (2.12.2)

Sedangkan perhitungan periode ulang didapatkan dengan menggunakan

persamaan :

1
  , years .................................................... (2.12.3)
N 5  M  9.0

29
Dimana :

PM , T  : Probabilitas gempa dengan magnetudo M dan periode T

N1 M  : Jumlah gempa kumulatif dengan magnetudo terbesar

 : Rata-rata periode ulang gempa

30
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dimulai dari bulan Januari 2010 sampai dengan Mei 2010

dalam kurun waktu 5 bulan, penelitian dilakukan di Badan Meteorologi,

Klimatologi, dan Geofisika Pusat, Jakarta Pusat. Data penelitian yang digunakan

adalah data gempa bumi 05 Juni 1909-31 Oktober 2009 dengan magnitude ≥ 5 SR

dan kedalaman (h) ≤100 Km merupakan kedalaman yang dangkal yang berpotensi

besar mengakibatkan resiko kerusakan yang tinggi. Data yang diambil dari data

USGS, dan ISG. Penelitian ini di fokuskan pada titik koordinat Daerah Sumatera

Barat dan Sekitarnya pada 3°LU-5°LSdan 96°-103°BT.

3.2 Pengumpulan Data

Data gempa bumi periode tahun 1909 s/d 2009 diperoleh dari Sub bagian

Mitigasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Data diperoleh

dengan studi pustaka dan literatur yang ada, kemudian penyajian datanya dalam

bentuk tabel, grafik dan peta dengan menggunakan aplikasi Software GIS(

Geography Information System).

3.3 Pengolahan Data

Data yang yang digunakan dalam menentukan b value/ nilai b terdiri dari

magnitude dan frekuensi gempa bumi tahun 1909 s/d 2009. Dalam pengolahan ini

31
menggunakan metode likelihood untuk menentukan b value dan metode statistik

untuk mengetahui tingkat seismisitas dan probabilitas gempa bumi.

DIAGRAM ALIR PERHITUNGAN B-VALUE

DAN PERIODE ULANG GEMPA

Seleksi Data Gempa Bumi


(1909 s/d 2009)
(M≥5 SR -8.6 SR)

Input Data
(Pengeplotan Data Dalam Peta)

Pembagian Daerah Menjadi


10 Zona

Perhitungan b value
Metode Likelihood Maksimum

Perhitungan
Indeks Seismisitas

Perhitungan nilai probabilitas dan


Periode ulang gempa

Peta b value berdasarkan


Pembagian Wilayah dan juga
penyebaran seismisitasnya

Analisa

Kesimpulan

32
Pengolahan data dilakukan secara manual yaitu dengan cara memasukkan

kedalam rumus yang telah ada. Analisa semua diperoleh dari hasil perhitungan

rumus, sedangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat resiko gempa

bumi seperti kondisi geologis, kualitas infra struktur, kepadatan penduduk dan

sebagainya diabaikan. Adapun tahapan dalam pengolahan datanya adalah sebagai

berikut :

1. Data magnitude dan frekuensi gempa bumi yang terjadi pada lokasi

penelitian dimasukkan dalam komputer sesuai dengan urutan tahunnya

dan koordinat lintang dan bujurnya.

2. Hitung frekuensi kumulatif berdasarkan magnitudonya.

3. Cari nilai b value/ nilai b nya dengan menggunakan metode likelihood

maksimum.

4. Jika b value telah didapat, langkah selanjutnya adalah mencari nilai a.

5. Lalu mencari indeks seismisitas.

6. Untuk mencari probabilitas gempa merusak dari kurun waktu tertentu,

dapat dicari dengan menghitung probabilitas gempa bumi.

7. Semua data dan hasil perhitungan disajikan dalam bentuk tabel dan

grafik, supaya lebih memudahkan dalam analisa.

8. Gambaran seismisitas yang yerjadi pada lokasi penelitian digambarkan

pada peta dengan software aplikasi GIS dan Arcview.

Agar lebih spesifik, akurat dan terperinci wilayah penelitian tersebut

dibagi lagi menjadi 10 wilayah, yaitu :

33
1. Wilayah 1 : 40 LS - 50 LS dan 1020 BT - 1030 BT

2. Wilayah 2 : 30 LS - 40 LS dan 1010 BT - 1020 BT

3. Wilayah 3 : 20 LS - 30 LS dan 1000 BT - 1010 BT

4. Wilayah 4 : 10 LS - 20 LS dan 990 BT - 1000 BT

5. Wilayah 5 : 00 LS - 10 LS dan 980 BT - 990 BT

6. Wilayah 6 : 00 LU - 10 LU dan 970 BT - 980 BT

7. Wilayah 7 : 10 LU - 20 LU dan 960 BT - 970 BT

8. Wilayah 8 : 20 LU - 30 LU dan 960 BT - 970 BT

9. Wilayah 9 : 20 LU - 30 LU dan 970 BT - 980 BT

10. Wilayah 10 : 20 LU - 30 LU dan 980 BT - 990 BT

Gambar 3.1 Peta Penyebaran Seismisitas Daerah Sumatera Barat dan


Sekitarnya dengan Pembagian 10 Wilayah

34
3.4 Perhitungan Data

1. Perhitungan Metode Likelihood

Sumatera barat merupakan daerah dengan tingkat kegempaan yang cukup

tinggi dikarenakan wilayah sumatera terletak di daearah zona subduksi aktif, hal

ini yang menyebabkan adanya teluk semangko. Penelitian ini bertujuan

menghitung nilai b value di daerah tersebut, hal ini berguna sebagai mitigasi

gempa bumi dan sumber informasi untuk warga setempat, b value merupakan

parameter “Seismotektonik” suatu daerah dimana terjadi gempa bumi dan

tergantung dari sifat batuan setempat. Dalam penelitian ini ada 10 wilayah yang

menjadi sumber kegempaan di daerah sumatera barat. 10 wilayah ini sudah dibagi

berdasarkan cluster lintang dan bujur

Secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

Wilayah 1

Selama 100 tahun periode tahun 1909-2009 untuk wilayah di sekitar 40 LS

– 50 LS dan 1020 –103.0BT, tercatat 170 kejadian gempa bumi untuk skala M≥5

SR. Berdasarkan frekuensi gempanya magnitude 5,0 SR lebih sering terjadi yaitu

sebanyak 36 kali kemudian disusul gempa dengan magnitude 5,1 SR dengan 25

kali. Gempa terbesar dengan magnitude 7,7 SR hanya terjadi 1 kali.

35
Tabel 3.1 Sebaran Seismisitas Wilayah 1

4-5 LS dan 102-103BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 36 180 4,95
2 5,1 25 127,5
3 5,2 17 88,4
4 5,3 17 90,1
5 5,4 19 102,6
6 5,5 11 60,5
7 5,7 4 22,8
8 5,8 10 58
9 5,9 5 29,5
10 6 8 48
11 6,1 1 6,1
12 6,2 3 18,6
13 6,3 3 18,9
14 6,5 3 19,5
15 6,6 1 6,6
16 6,7 2 13,4
17 6,9 1 6,9
18 7,2 1 7,2
19 7,4 1 7,4
20 7,6 1 7,6
21 7,7 1 7,7
jumlah 130,1 170 927,3

40
35
30
25
mag(M)
20
jumlah N
15
10
5
0

Gambar 3.2 Distribusi Magnitude Berdasarkan Frekuensi Kejadian Wilayah I

36
Berdasarkan kedalaman gempanya tercatat gempabumi dengan magnitude

5,0 s.d. 5,5 SR menyebar di kedalaman 15 s.d. 100 km. kemudian magnitude 7,7

berada di kedalaman antara 35 s.d.37 km. Lebih jelasnya distribusi gempa bumi

berdasarkan kedalamannya dapat dilihat pada gambar 3.2.

10.0

8.0
magnitude

6.0

4.0
Mag
2.0

0.0
0 20 40 60 80 100 120
kedalaman

Gambar 3.3 Distribusi Magnitude Berdasarkan Kedalaman Gempa Bumi Wilayah I

Untuk wilayah 2,3,4,5,6,7,8,9dan 10 dengan cara yang sama menggunakan

program microsoft excel.

Banyaknya data yang diperoleh dari Pusat Gempa Pusat Badan

Meteorologi dan Geofisika yaitu sebanyak 1676 event gempa dengan magnitude

≥5 SR, serta kedalaman h ≤ 100 km. Dalam perhitungannya peneliti membagi

wilayah penelitian menjadi 10 wilayah, hal itu dilakukan agar lebih teliti dan

dapat mempermudah dalam proses penelitian serta sebagai data yang lebih

refresentatif untuk kepentingan masyarakat.

Adapun Perhitungan datanya secara terperinci untuk perhitungan wilayah I saja

dijelaskan sebagai berikut :

37
Wilayah I

Perhitungan b value wilayah I adalah sebagai berikut :

M  5,4547; M 0  4,95 ; log e  0,4343; N  170;


log e
bˆ 
M  M0
0.4343
bˆ 
5,4547  4.95
bˆ  0,8605

Adapun batas atas dan batas bawah dalam selang keyakinan dari nilai b’

yaitu ditentukan dengan metode ini dari probabilitas 95 % adalah :

 1,960   1,960 
b  bˆ1   b  bˆ1  
 N  
 N 
 1.960   1.960 
b  0,8605 * 1   b  0,8605 * 1  
 170  
 170 

b  0,9898 b  0,7311

Setelah nilai b diketahui kemudian dicari nilai â , sebagai berikut :

ˆ  log N  log b
a ˆ ln 10  M b
0
ˆ  
ˆ  log 170  1,9813  4.95 * 0,8605
a
ˆ  6,7868
a

Tabel 3.2 Standar deviasi perhitungan nilai b dengan menggunakan

metode likelihood untuk wilayah 1.

No Xi (xi - x )2
1 5 1,428594
2 5,1 1,199546

38
3 5,2 0,990499
4 5,3 0,801451
5 5,4 0,632404
6 5,5 0,483356
7 5,7 0,245261
8 5,8 0,156213
9 5,9 0,087166
10 6 0,038118
11 6,1 0,00907
12 6,2 2,2705
13 6,3 0,010975
14 6,5 0,09288
15 6,6 0,163832
16 6,7 0,254785
17 6,9 0,496689
18 7,2 1,009546
19 7,4 1,451451
20 7,6 1,973356
21 7,7 2,264308
jumlah 130,1 13,78952

 x  130,1  6,195
x 
i

 N 21

 x  x 
n

i
13,78
x  i 1
= = 0,1768
N 21

Standar deviasi deviasi perhitungan nilai b dengan menggunakan metode

likelihood wilayah 1 adalah 0,1768.

39
Untuk wilayah 2, wilayah 3, wilayah 4, wilayah 5, wilayah 6, wilayah 7,

wilayah 8, wilayah 9, dan wilayah 10, dengan cara yang sama seperti wilayah 1 di

atas dengan mengunakan program excel.

Tabel 3.3 nilai taksiran b, b batas atas, b batas bawah, dan nilai a :

Wilayah b taksiran b' B BATAS ATAS B BATAS BAWAH a taksiran likelihood


1 0,8605 1,9814 0,9899 0,7311 6,7869

2. Indeks Seismisitas

Untuk menghitung jumlah rata-rata gempa bumi pertahun dengan

magnitude tertentu diperlukan adanya indeks seismisitas. Nilai a untuk distribusi

komulatif menggunakan metode likelihood maksimum digunakan untuk

menghitung indeks seismisitas dengan M≥5.

Wilayah 1

Perhitungan indeks seismitas wilayah I adalah sebagai berikut :

aˆ1  aˆ  log T aˆ '  aˆ  log( bˆ ln 10) aˆ1'  aˆ '  log T


aˆ1  6,7868  log 100 aˆ '  4,7868  log(1,9813) aˆ1'  4,489  log 100
aˆ1  4,7868 aˆ '  4,489 aˆ '  2,48

Jadi nilai indeks seismisitasnya adalah :

N1 M  0   10aˆ1 N1 M  5   10aˆ1  4.5b


' ' ˆ

N1 M  0   102, 48 N1 M  5   102, 48 4.50,8605


N1 M  0   308,97 N1 M  5   1,63

Untuk wilayah 2,3,4,5,6,7,8,9, dan 10 dengan cara yang sama

mendapatkan indeks seismisitas wilayah 1 menggunakan program microsoft excel.

40
Tabel 3.4 Perbandingan Parameter-parameter aktivitas seismik dan Nilai

Indeks Seismisitas Tiap-Tiap Wilayah

Wilayah â1 â ' â1' N1M 5 


1 4,786897 4,48993 2,48993 1,632331

3. Probabilitas Kejadian Gempa Bumi

Untuk menghitung resiko gempa bumi diambil periode T = 10, 30, 50, dan

100 tahun. Sedangkan magnitudo yang dipilih adalah magnitudo terbesar yang

terjadi pada tiap wilayah dengan asumsi gempa tersebut berpotensi merusak.

Parameter yang dihitung sebagai indeks seismisitas akan memberikan kemudahan

bagi kita untuk mengetahui kemungkinan terjadinya paling sedikit satu kali terjadi

gempa besar (merusak) di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.

Wilayah 1

Kemungkian terjadinya satu kali atau lebih gempa dengan M ≥ 7,7 dalam

periode T adalah sebagai berikut :

N1M 7.7   1,63  10 20.86


N1M 7,7   0,014

Data kemungkinan kejadian gempa berdasarkan T Wilayah I

T  10 tahun T  30 tahun
 N1 ( M ).T
P( M , T )  1  e P( M , T )  1  e  N1 ( M ).T
P(7,7;10)  1  e 0, 01410 P(7,7;30)  1  e 0, 014 30
P(7,7;10)  0,131 13,1 0 0 P(7,7;30)  0,343  34,3 0 0

T  50 tahun T  100 tahun


 N1 ( M ).T
P( M , T )  1  e P( M , T )  1  e  N1 ( M ).T
P(7,7;50)  1  e 0,014 50 P(7,7;100)  1  e 0, 014100
P(7,7;50)  0,504  50,4 0 0 P(7,7;100)  0,754  75,4 0 0

41
Untuk wilayah 2,3,4,5,6,7,8,9 dan 10 dengan cara yang sama mencari

seperti wilayah 1 menggunakan program microsoft excel.

Tabel 3.5 kemungkinan kejadian gempa berdasarkan T 10 tahun, T 30

tahun, T 50 tahun, dan T 100 tahun.

Probabilitas
Wilayah N1 10 tahun 30 tahun 50 tahun 100 tahun
1 0,0140 0,1310 0,3439 0,5046 0,7545

Untuk nilai rata-rata periode ulang dari gempa yang merusak pada wilayah 1

adalah :

1 1
  
N1 (7,7) 0,014
  71,19  71Tahun

Untuk wilayah 2,3,4,5,6,7,8,9 dan 10 dengan cara yang sama mencari

seperti wilayah 1 menggunakan program microsoft excel.

Tabel 3.6 Nilai rata-rata periode ulang gempa yang merusak

Wilayah Nilai periode ulang yang merusak Pembulatan tahun


1 71,1935 71

42
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan Penelitian

Banyaknya data yang diperoleh dari Pusat Gempa Pusat Badan

Meteorologi dan Geofisika yaitu sebanyak 1676 event gempa dengan magnitude

≥5 SR, serta kedalaman h ≤ 100 km. Dalam perhitungannya peneliti membagi

wilayah penelitian menjadi 10 wilayah, hal itu dilakukan agar lebih teliti dan

dapat mempermudah dalam proses penelitian serta sebagai data yang lebih

refresentatif untuk kepentingan masyarakat.

1. Perhitungan b value Menggunakan Metode Likelihood

Untuk lebih jelas hasil perhitungan b value dengan metode likelihood

maksimum dan standar deviasinya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1 Perhitungan b value

JUMLAH JUMLAH M rata b


Koordinat Wilayah M*N N Mo rata taksiran
4-5 LS dan 102-103BT 1 927,3 170 4,95 5,45 0,86
3-4 LS dan 101-102 BT 2 1167,8 215 4,95 5,43 0,90
2-3 LS dan 100-101BT 3 936,8 173 4,95 5,42 0,93
1-2 LS dan 99-100BT 4 1220,9 223 4,95 5,48 0,83
0-1 LS dan 99-98 BT 5 1245,4 227 4,95 5,49 0,81
0-1 LU dan 97-98BT 6 1382,9 259 4,95 5,34 1,12
1-2 LUdan 96-97 BT 7 1297,6 243 4,95 5,34 1,11
2-3 LU dan 96-97 BT 8 598,7 111 4,95 5,39 0,98
2-3 LUdan 97-98 BT 9 199,2 35 4,95 5,69 0,59
2-3LU dan 98-99 BT 10 113,7 20 4,95 5,69 0,59

43
Secara teori nilai b merupakan parameter seismotektonik suatu daerah

dimana terjadi gempabumi dan tergantung dari sifat batuan setempat dan

berdasarkan hasil penelitian para ahli sebelumnya (Scholz, 1968) menyatakan

bahwa nilai b rendah biasanya berkorelasi dengan tingkat stress yang tinggi,

sedangkan nilai b tinggi sebaliknya. Selain itu, wilayah dengan heterogenitas yang

besar berkorelasi dengan harga nilai b yang tinggi (Mogi, 1962). Meskipun

demikian beberapa ahli mengatakan bahwa nilai b ini konstan dan bernilai sekitar

1. Walaupun ada perbedaan, hal itu lebih karena perbedaan data dan metode

perhitungan yang digunakan.

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan didapat nilai b untuk

gempa dangkal dari ke-10 wilayah penelitian berkisar antara 0,58 – 1,11 dan

harga a yang didapat sangat bervariasi dengan standar deviasi sekitar 0,04 s/d

0,22. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah penelitian mempunyai

keaktifan kegempaan yang cukup tinggi hal itu sesuai dengan perhitungan

B.Guttenberg dan C.F. Ritcher yang menghitung harga b untuk gempa dangkal

antara 0,59 s/d 1,2 .

Sebagai pembanding M.Taufik Gunawan dan Wandono menentukan harga

b untuk daerah indonesia dengan menggunakan data dari tahun 1900-1998 dengan

pembagian 5 wilayah yang berbeda berkisar antara 0,75 s/d 1,09.[3]

Beberapa ahli mengatakan bahwa nilai b konstan dan bernilai sekitar 1

(satu). Adanya perbedaan nilai ini disebabkan karena adanya perbedaan data dan

metode perhitungan yang digunakan. Meskipun demikian sebagian besar

berpendapat bahwa nilai b bervariasi terhadap daerah dan kedalaman pusat

44
gempa, serta tergantung pada keheterogenan dan distribusi ruang stress dari

volume batuan yang menjadi sumber gempa, hasil penelitian menunjukkan bahwa

harga b yang besar terletak pada wilayah 6 sebesar 1,12.

Dari hasil perhitungan di atas didapatkan b value terbesar pada wilayah 6

yang terletak pada 0°LU-1°LU dan 97°BT-98° BT sebesar 1,12 daerah tersebut

memiliki jumlah frekuensi gempa (jumlah N) sebanyak 259, sedangkan wilayah

dengan b value terkecil ada pada wilayah 10 yang terletak pada 2°LU-3° LU dan

98°BT-99° BT sebesar 0,59 daerah tersebut memiliki jumlah gempa (jumlah N)

sebanyak 20. Hal ini membuktikan kebenaran dari teori Guttenberg yaitu Log N=

a- bm. Nilai b value berbanding lurus dengan frekuensi gempa.

Tabel 4.2 Standar Deviasi untuk nilai b

Standar Deviasi b value


Wilayah σx
1 0,18
2 0,17
3 0,17
4 0,14
5 0,04
6 0,15
7 0,18
8 0,19
9 0,22
10 0,18

Dari table di atas di dapat kesalahan data terbesar ada pada wilayah 9 sebesar 0,22

dan kesalahan data terkecil ada pada wilayah 5 sebesar 0,04. Hal ini menyatakan

bahwa kesalahan tersebut di dapatkan karena rekaman gempa pada seismogram

tidak tercatat dengan baik.

45
2. Indeks Seismisitas

Untuk menghitung jumlah rata-rata gempabumi pertahun dengan magnitude

tertentu diperlukan adanya indeks seismisitas. Nilai a untuk distribusi komulatif

menggunakan metode likelihood maksimum digunakan untuk menghitung indeks

seismisitas dengan M≥5. Untuk lebih jelas hasil perhitungan indeks seismisitas

dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.3 Perhitungan nilai a dan Indeks Seismisitas

WIL a taksiran Indeks Seismisitas


1 6,786897 4,786897 4,48993 2,48993 308,9795 1,632331
2 7,113313 5,113313 4,796019 2,796019 625,2002 1,803875
3 7,193478 5,193478 4,860952 2,860952 726,0262 1,638752
4 6,723947 4,723947 4,444008 2,444008 277,9765 1,839547
5 6,634812 4,634812 4,364249 2,364249 231,3392 1,855444
6 8,343944 6,343944 5,934314 3,934314 8596,354 1,935019
7 8,308072 6,308072 5,899039 3,899039 7925,726 1,882311
8 7,243446 5,243446 4,890524 2,890524 777,1837 1,348465
9 4,573522 2,573522 2,443585 0,443585 2,777061 0,833072
10 4,359626 2,359626 2,225908 0,225908 1,682316 0,653163

Indeks seismisitas merupakan normalisasi dari jumlah gempa bumi

pertahun. Daerah dengan periode ulang rendah atau indeks seismisitasnya tinggi

merupakan rawan bencana alam. Hasil perhitungan indeks seismisitas pertahun

untuk 10 wilayah dengan M≥5,0 SR berkisar antara 0,65 s/d 1,93. Dimana untuk

wilayah 6 memiliki indeks seismisitas lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya

yaitu sebesar 1.93. Dengan kata lain wilayah 6 mempunyai tingkat aktifitas gempa

yang tinggi dan wilayah tersebut rawan terhadap bencana gempa. Hal ini dapat

dibuktikan dengan jumlah frekuensi gempa pada wilayah 6 lebih besar

dibandingkan wilayah lainnya. Sedangkan untuk wilayah 7 memiliki indeks

46
seismisitas lebih kecil dibandingkan wilayah lainnya yaitu sebesar 1,88. Dengan

demikian data-data gempa yang dipilih sangat bermanfaat dalam berbagai

kegiatan seperti perencanaan bangunan tahan gempa atau perkembangan suatu

daerah terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi.

Hasil perhitungan indeks seismisitas pertahun untuk 10 wilayah dengan

M≥5 berkisar antara 0,65 s/d 1,93. Dimana untuk M ≥5 wilayah 6 memiliki indeks

seismisitas lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya yaitu sebesar 1,93.

Indeks seismisitas merupakan normalisasi dari jumlah gempa bumi pertahun.

Daerah dengan periode ulang rendah atau indeks seismisitasnya tinggi merupakan

rawan bencana alam. Dengan demikian data-data gempa yang dipilih sangat

bermanfaat dalam berbagai kegiatan seperti perencanaan

pembangunan/perkembangan suatu daerah terhadap kemungkinan terjadinya

gempa bumi.

3. Probabilitas Kejadian Gempa Bumi

Adapun probabilitas kejadian gempa dan periode ulang untuk masing-

masing wilayah penelitian berbeda satu sama lain tergantung dari indeks

seismisitasnya. Parameter yang dihitung sebagai indeks seismisitas akan

memberikan kemudahan bagi kita untuk mengetahui kemungkinan terjadinya

paling sedikit satu kali terjadi gempa besar (merusak) di suatu daerah dalam

jangka waktu tertentu.

Lebih lengkap hasil perhitungan kemungkinan kejadian gempa

berdasarkan T (tahun) dan nilai rata-rata periode ulang (Θ) dari gempa yang

merusak untuk tiap-tiap wilayah dapat dilihat pada tabel berikut ini :

47
Tabel 4.4. Perbandingan kemungkinan kejadian gempa berdasarkan T (tahun)
pada tiap-tiap wilayah
Probabilitas
Wilayah Indeks gempa merusak 10 tahun 30 tahun 50 tahun 100 tahun
1 0,014 0,13 0,34 0,50 0,75
2 0,016 0,15 0,39 0,56 0,80
3 0,015 0,14 0,37 0,53 0,78
4 0,015 0,15 0,37 0,53 0,78
5 0,015 0,14 0,36 0,53 0,78
6 0,021 0,19 0,48 0,66 0,88
7 0,020 0,19 0,47 0,64 0,88
8 0,013 0,12 0,33 0,48 0,73
9 0,0048 0,05 0,14 0,21 0,39
10 0,0038 0,04 0,11 0,18 0,32

Tabel 4.5 nilai periode ulang merusak

WILAYAH Nilai periode ulang yang merusak (Tahun)


1 71
2 61
3 65
4 66
5 67
6 46
7 48
8 76
9 205
10 259

Adapun probabilitas kejadian gempa dan periode ulang untuk masing-

masing wilayah penelitian berbeda satu sama lain tergantung dari indeks

seismisitasnya. Parameter yang dihitung sebagai indeks seismisitas akan

memberikan kemudahan bagi kita untuk mengetahui kemungkinan terjadinya satu

kali atau lebih terjadi gempa besar (merusak) di suatu daerah dalam jangka waktu

tertentu, sehinga dapat ditekan sekecil mungkin kerusakan yang mungkin terjadi.

48
Periode ulang yang pendek biasanya berkorelasi dengan wilayah dengan aktifitas

kegempaan yang relatif tinggi.

Untuk Wilayah 1 probabilitas terjadinya gempa merusak pada T = 10, 30,

50, dan 100 tahun dengan M≥7,7 SR , pada T = 100 tahun antara 13,1%- 75,4%.

Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulangnya gempa merusak tersebut

membutuhkan waktu 71 tahun.

Untuk wilayah 2 probabilitas terjadinya gempa merusak dengan M≥7,7 SR

pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun, yaitu antara 15^% – 80,3%. Berdasarkan

perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak tersebut membutuhkan

waktu 61 tahun.

Probabilitas terjadinya gempa merusak untuk wilayah 3 dengan M≥8,1 SR

pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun antara 14,1%-78,3%.. Berdasarkan perhitungan

rata-rata periode ulang dari gempa merusak tersebut membutuhkan waktu 65

tahun.

Probabilitas terjadinya gempa merusak untuk wilayah 4 dengan M≥7,3 SR

pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun, pada T=100 tahun antara 14,1%- 78,1%.

Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak tersebut

membutuhkan waktu 66 tahun.

Sedangkan untuk wilayah 5 probabilitas terjadinya gempa merusak dengan

M≥7,9 SR pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun, yaitu antara 13,9% – 77,7%.

Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak tersebut

membutuhkan waktu 66 tahun.

49
Sedangkan untuk wilayah 6 probabilitas terjadinya gempa merusak dengan

M≥7,3 SR pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun, yaitu antara 19,4% – 88,4%.

Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak tersebut

membutuhkan waktu 46 tahun.

Sedangkan untuk wilayah 7 probabilitas terjadinya gempa merusak dengan

M≥8,6 SR pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun, yaitu antara 18,9% – 87,7%.

Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak tersebut

membutuhkan waktu 48 tahun.

Sedangkan untuk wilayah 8 probabilitas terjadinya gempa merusak dengan

M≥8,6 SR pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun relatif kecil, yaitu antara 12,2% -

73,2%. Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak

tersebut membutuhkan waktu 76 tahun.

Sedangkan untuk wilayah 9 probabilitas terjadinya gempa merusak dengan

M≥8,6 SR pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun relatif kecil, yaitu antara 4% – 38,6%.

Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak tersebut

membutuhkan waktu 204 tahun.

Sedangkan untuk wilayah 10 probabilitas terjadinya gempa merusak

dengan M≥6,8 SR pada T=10, 30, 50 dan 100 tahun relatif kecil, yaitu antara

3,7% –32%. Berdasarkan perhitungan rata-rata periode ulang dari gempa merusak

tersebut membutuhkan waktu 259 tahun.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

50
5.1 Kesimpulan

Hasil analisa data dengan menggunakan metode likelihood maksimum untuk

daerah Sumatera Barat dan sekitarnya dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Hasil perhitungan b value untuk 10 wilayah nilainya berkisar antara

dengan M≥5 berkisar antara 0,59 s/d 1,12.

2. Hasil perhitungan indeks seismisitas pertahun untuk 10 wilayah nilainya

berkisar antara dengan M≥5 berkisar antara 0,65 s/d 1,93.

3. Probabilitas gempa untuk 10 wilayah penelitian dalam waktu 10 s/d 100

tahun berkisar antara 3 % s/d 88,4 %.

4. Periode ulang gempa bumi merusak tiap wilayah berbeda-beda, yaitu :

Wilayah 1 : 71 tahun, Wilayah 2 : 61 tahun, Wilayah 3 : 65 tahun,

Wilayah 4 : 66 tahun, Wilayah 5 : 67 tahun, Wilayah 6 : 46 tahun,

Wilayah 7 : 48 tahun, Wilayah 8 : 76 tahun, Wilayah 9 : 206 tahun

,Wilayah 10 : 259 tahun.

5. Jadi wilayah 6 merupakan daerah yang mempunyai resiko gempa yang

cukup tinggi sedangkan untuk wilayah 10 merupakan daerah yang

mempunyai resiko gempa paling kecil.

5.2 Saran

51
1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan yaitu dengan mempertimbangkan

faktor-faktor lain selain tingkat seismisitas, yaitu faktor geologi, kualitas

infra struktur, kepadatan penduduk dan sebagainya.

2. Tinjauan statistik resiko kegempaan walaupun mempunyai banyak

keterbatasan dan sifatnya umum namun dapat digunakan sebagai studi

awal dalam masalah mitigasi bencana gempa bumi.

DAFTAR PUSTAKA

52
[1] Andreas, R. 2003. Simulasi Statistik Nilai b untuk Wilayah Indonesia. Fakultas

Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral. ITB.

[2] Guttenberg, B. Richter. C.F. 1994. Frequency of Earthquake in California,

Bull.Seis.Soc.Am,34, 185-188. America.

[3] Gunawan.T,Wandono.M. 2000. Tinjauan Statistik Resiko Gempa Bumi Di

Indonesia. BMG-Jakarta.

[4] Harinaldi. 2002. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains. Erlangga.

Jakarta.

[5] Ismail, S. 1989. Pendahuluan Seismologi. Balai Pendidikan dan Latihan

Meteorologi dan Geofisika. Jakarta.

[6] Permana. D. 2006. Materi Sosialisasi MKG. Balai Besar Meteorologi dan

Geofisika Wilayah II. Jakarta

[7] Sulaiman, R. Taufik Gunawan, M.Passaribu.R. 1999. Analisis Statistik Keaktifan

Gempa Bumi di Indonesia. Prosiding Himpunan Ahli Geofisika Indonesia.

[8] Pertermuan Ilmiah tahunan ke-24, Surabaya, 12-13 Oktober 1999.

[9] Sulaiman, R. Setiyo Prayitno. B. 2003. Studi banding b value dengan Metode

Kuadrat Terkecil dan Likelihood Maksimum dari data BMG dan USGS untuk

daerah Aceh dan Sekitarnya. BMG. Jakarta.

[10] Suryo, B. 1990. Materi Kuliah Statistik Seismologi. Balai Pelatihan Metorologi

dan Geofisika. Jakarta.

[11] Walpole. R.E.1992. Pengantar Statistika. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

[11] Zubaedah, Siti. 2006. Perbandingan Metode Least Squares dan Likelihood

Maksimum Untuk Menghitung b value dan Periode Ulang Gempa di Jawa

Bagian Barat. Skripsi

53
[12] Wibowo, Adhi.2008. Analisis Keaktifan dan Resiko Gempa Bumi Pada Zona

Subduksi Sumatera Dengan Metode Statistik. Akademi Meteorologi dan

Geofisika. Jakarta.

[13] Prasetya, Tiar. 2006. Gempa Bumi; Ciri dan cara menanggulanginya, Gitanagiri.

Yogyakarta.

[14] www.google.com/peta sumatera6

[15] Riyadi. 1994. Statistik Seismologi. Balai Pelatihan Metorologi dan Geofisika.

Lampiran data

Data Sekunder BMKG 100 Tahun

1 4-5 LS dan 102-103BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 36 180 4,95

54
2 5,1 25 127,5
3 5,2 17 88,4
4 5,3 17 90,1
5 5,4 19 102,6
6 5,5 11 60,5
7 5,7 4 22,8
8 5,8 10 58
9 5,9 5 29,5
10 6 8 48
11 6,1 1 6,1
12 6,2 3 18,6
13 6,3 3 18,9
14 6,5 3 19,5
15 6,6 1 6,6
16 6,7 2 13,4
17 6,9 1 6,9
18 7,2 1 7,2
19 7,4 1 7,4
20 7,6 1 7,6
21 7,7 1 7,7
Jumlah 130,1 170 927,3

2 3-4 LS dan 101-102 BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 45 225 4,95
2 5,1 34 173,4
3 5,2 20 104
4 5,3 23 121,9
5 5,4 20 108
6 5,5 15 82,5
7 5,6 3 16,8
8 5,7 7 39,9
9 5,8 12 69,6
10 5,9 8 47,2
11 6 10 60
12 6,1 2 12,2
13 6,2 2 12,4
14 6,3 3 18,9
15 6,5 3 19,5
16 6,7 2 13,4
17 6,8 1 6,8

55
18 6,9 2 13,8
19 7,2 1 7,2
20 7,6 1 7,6
21 7,7 1 7,7
Jumlah 128,5 215 1167,8

3 2-3 LS dan 100-101BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 37 185 4,95
2 5,1 31 158,1
3 5,2 17 88,4
4 5,3 17 90,1
5 5,4 11 59,4
6 5,5 14 77
7 5,6 13 72,8
8 5,7 7 39,9
9 5,8 2 11,6
10 5,9 4 23,6
11 6 7 42
12 6,1 1 6,1
14 6,3 1 6,3
15 6,4 1 6,4
16 6,6 1 6,6
17 6,7 1 6,7
18 6,8 4 27,2
19 6,9 1 6,9
20 7,0 1 7
21 7,6 1 7,6
22 8,1 1 8,1
Jumlah 129 173 936,8

4 1-2 LS dan 99-100BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 40 200 4,95
2 5,1 23 117,3
3 5,2 37 192,4
4 5,3 27 143,1
5 5,4 18 97,2
6 5,5 16 88
7 5,6 4 22,4
8 5,7 6 34,2
9 5,8 6 34,8

56
10 5,9 4 23,6
11 6 7 42
12 6,1 6 36,6
14 6,2 5 31
15 6,3 4 25,2
16 6,4 4 25,6
17 6,5 4 26
18 6,6 4 26,4
19 6,7 2 13,4
20 6,8 4 27,2
21 7,2 1 7,2
22 7,3 1 7,3
Jumlah 126,6 223 1220,9

5 0-1 LS dan 99-98 BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 39 195 4,95
2 5,1 28 142,8
3 5,2 28 145,6
4 5,3 28 148,4
5 5,4 15 81
6 5,5 16 88
7 5,6 13 72,8
8 5,7 9 51,3
9 5,8 10 58
10 5,9 4 23,6
11 6,0 8 48
12 6,1 6 36,6
14 6,2 3 18,6
15 6,3 2 12,6
16 6,4 2 12,8
17 6,5 3 19,5
18 6,6 1 6,6
19 6,7 2 13,4
20 6,8 3 20,4
21 6,9 1 6,9
22 7,0 2 14
23 7,1 1 7,1
24 7,2 1 7,2
25 7,3 1 7,3
26 7,9 1 7,9

57
Jumlah 155,5 227 1245,4

6 0-1 LU dan 97-98BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 78 390 4,95
2 5,1 49 249,9
3 5,2 32 166,4
4 5,3 25 132,5
5 5,5 9 49,5
6 5,6 15 84
7 5,7 11 62,7
8 5,8 8 46,4
9 5,9 8 47,2
10 6 4 24
11 6,1 3 18,3
12 6,2 5 31
14 6,3 2 12,6
15 6,4 2 12,8
16 6,8 4 27,2
17 6,9 1 6,9
18 7,0 1 7
19 7,2 1 7,2
20 7,3 1 7,3
jumlah 115,3 259 1382,9

7 1-2 LU dan 96-97 BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 78 390 4,95
2 5,1 43 219,3
3 5,2 26 135,2
4 5,3 20 106
5 5,4 14 75,6
6 5,5 7 38,5
7 5,6 8 44,8
8 5,7 5 28,5
9 5,8 8 46,4
10 5,9 11 64,9
11 6,0 3 18
12 6,1 3 18,3
14 6,2 4 24,8
15 6,3 3 18,9
16 6,4 2 12,8

58
17 6,5 4 26
18 6,8 1 6,8
19 6,9 1 6,9
20 7,3 1 7,3
21 8,6 1 8,6
Jumlah 121,6 243 1297,6

8 0-2 LS dan 96-97 BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 32 160 4,95
2 5,1 22 112,2
3 5,2 12 62,4
4 5,3 5 26,5
5 5,4 9 48,6
6 5,5 4 22
7 5,6 1 5,6
8 5,7 3 17,1
9 5,8 4 23,2
10 5,9 5 29,5
11 6,0 2 12
12 6,1 2 12,2
14 6,2 1 6,2
15 6,3 2 12,6
16 6,5 4 26
17 6,7 1 6,7
18 7,3 1 7,3
19 8,6 1 8,6
Jumlah 108,2 111 598,7

9 0-2 LS dan 97-98 BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 7 35 4,95
2 5,1 3 15,3
3 5,2 5 26
4 5,3 2 10,6
5 5,4 1 5,4
6 5,6 1 5,6
7 5,7 3 17,1
8 5,8 1 5,8
9 5,9 1 5,9
10 6,0 2 12
11 6,3 4 25,2

59
12 6,5 1 6,5
14 6,7 2 13,4
15 6,8 1 6,8
16 8,6 1 8,6
Jumlah 89,9 35 199,2

10 2-3LS dan 98-99 BT mag(M) jumlah N M*n Mo


1 5 2 10 4,95
2 5,1 1 5,1
3 5,2 2 10,4
4 5,3 2 10,6
5 5,4 1 5,4
6 5,5 1 5,5
7 5,6 2 11,2
8 5,7 2 11,4
9 5,8 1 5,8
10 6,0 1 6
11 6,2 1 6,2
12 6,3 2 12,6
14 6,7 1 6,7
15 6,8 1 6,8
Jumlah 80,6 20 113,7

Hasil Perhitungan Metode Likelihood

JUMLAH JUMLAH
WilYh M*N N Mo M rata rata b taksiran
4-5 LS dan 102-103BT 4,9 5,4547058 0,8605011
(1) 927,3 170 5 82 66
3-4 LS dan 101-102 BT 4,9 5,4316279 0,9017334
(2) 1167,8 215 5 07 62
2-3 LS dan 100-101BT 4,9 5,4150289 0,9339204
(3) 936,8 173 5 02 47
1-2 LS dan 99-100BT 4,9 5,4748878 0,8274147
(4) 1220,9 223 5 92 8
0-1 LS dan 99-98 BT 4,9 5,4863436 0,8097420
(5) 1245,4 227 5 12 94
0-1 LU dan 97-98BT 4,9 5,3393822 1,1153564
(6) 1382,9 259 5 39 7
4,9 5,3399176 1,1138248
1-2 LUdan 96-97 BT(7) 1297,6 243 5 95 02
0-2 LS dan 96-97 BT 4,9 5,3936936 0,9788284
(8) 598,7 111 5 94 26

60
0-2 LS dan 97-98 BT 4,9 5,6914285 0,5857610
(9) 199,2 35 5 71 79
2-3LS dan 98-99 BT 4,9 0,5908843
(10) 113,7 20 5 5,685 54

WIL
a taksiran Indeks Seismisitas
1 6,786897 4,786897 4,48993 2,48993 308,9795 1,632331
2 7,113313 5,113313 4,796019 2,796019 625,2002 1,803875
3 7,193478 5,193478 4,860952 2,860952 726,0262 1,638752
4 6,723947 4,723947 4,444008 2,444008 277,9765 1,839547
5 6,634812 4,634812 4,364249 2,364249 231,3392 1,855444
6 8,343944 6,343944 5,934314 3,934314 8596,354 1,935019
7 8,308072 6,308072 5,899039 3,899039 7925,726 1,882311
8 7,243446 5,243446 4,890524 2,890524 777,1837 1,348465
9 4,573522 2,573522 2,443585 0,443585 2,777061 0,833072
10 4,359626 2,359626 2,225908 0,225908 1,682316 0,653163

Probabilitas
WIL Indeks gempa merusak 10 tahun 30 tahun 50 tahun 100 tahun
1 0,014046226 0,131044 0,343863726 0,504561126 0,75454
2 0,01626614 0,150121 0,386137436 0,556610659 0,803406
3 0,015304643 0,14191 0,368172769 0,534774084 0,783565
4 0,015220682 0,141189 0,366579293 0,532816932 0,78174
5 0,015024308 0,139501 0,362836672 0,528207224 0,777412
6 0,021582357 0,194123 0,47663215 0,660104771 0,884471
7 0,020965644 0,189137 0,466858978 0,649460604 0,877122
8 0,013199155 0,123652 0,32697625 0,483126837 0,732842
9 0,004879813 0,047627 0,136183043 0,216505038 0,386136
10 0,003859436 0,037859 0,109331588 0,175494766 0,320191

WIL Nilai periode ulang yang merusak


1 71,19350119
2 61,47739863
3 65,33964876
4 65,70007919
5 66,55880379
6 46,33414186
7 47,69708093
8 75,76242378

61
9 204,9258877
10 259,1052305

Standar Deviasi
1 0,17683
2 0,170993
3 0,17013
4 0,140734
5 0,041126
6 0,154811
7 0,180937
8 0,195433
9 0,220447
10 0,175895

62