Vous êtes sur la page 1sur 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi bencana
yang sangat tinggi dan juga sangat bervariasi dari aspek jenis bencana. Kondisi
alam terseut serta adanya keanekaragaman penduduk dan budaya di Indonesia
menyebabkan timbulnya risiko terjadinya bencana alam, bencana ulah manusia
dan kedaruratan kompleks, meskipun disisi lain juga kaya akan sumberdaya alam.
Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 1 angka 1 menyebutkan bahwa
“bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor
alam dan/non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis”.

Berdasarkan perspektif geografi, geologi, klimatologi, dan demografi,


Indonesia berada pada posisi ke 7 sebagai negeri paling rawan akan risiko bencana
alam (UNESCO). Dua di antara kejadian bencana yang terakhir yang menyebabkan
kerusakan sangat besar, kerugian-kerugian dan korban-korban adalah Tsunami di
Aceh (2004) dan gempabumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006). Oleh karena
itu, masyarakat Indonesia dituntut untuk belajar dari itu pengalaman-pengalaman
dengan mengidentifikasi semua aspek yang berhubungan dengan risiko dan
kerentanan untuk meningkatkan kapasitas mengatasi bencana.

Pada umumnya risiko bencana alam meliputi bencana akibat faktor


geologi (gempabumi, tsunami dan letusan gunung api), bencana akibat
hydrometeorologi (banjir, tanah longsor, kekeringan, angin topan), bencana
akibat faktor biologi (wabah penyakit manusia, penyakit tanaman/ternak,
hama tanaman) serta kegagalan teknologi (kecelakan industri, kecelakaan
transportasi, radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia). Bencana akibat ulah
manusia terkait dengan konflik antar manusia akibat perebutan sumberdaya
yang terbatas, alasan ideologi, religius serta politik. Sedangkan kedaruratan
kompleks merupakan kombinasi dari situasi bencana pada suatu daerah

1
konflik.

Kompleksitas dari permasalahan bencana tersebut memerlukan suatu


penataan atau perencanaan yang matang dalam penanggulangannya, sehingga
dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Penanggulangan yang
dilakukan selama ini belum didasarkan pada langkah-langkah yang sistematis
dan terencana, sehingga seringkali terjadi tumpang tindih dan bahkan
terdapat langkah upaya yang penting tidak tertangani.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
mengamanatkan pada pasal 35 dan 36 agar setiap daerah dalam upaya
penanggulangan bencana, mempunyai perencanaan penanggulangan bencana.
Secara lebih rinci disebutkan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:
1. Lembaga/Organisasi apa saja yang terlibat dalam penangulan bencana di
Indonesia?
2. Bagaimana peranan BPBD dalam penanggulangan bencana d i I n d o n e s i a ?
3. Bagaimanakah panduan dan/atau regulasi yang digunakan dan dijadikan pedoman
oleh BPBD dalam penanggulangan bencana?
4. Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat Peran BPBD dalam
Penanggulangan Bencana?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mendeskripsikan dan mengulas terkait dengan pengetahuan kebencanaan.
2. Untuk mengetahui lembaga dan organisasi yang berperan dalam penanggulangan
bencana di indonesia
3. Untuk mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan fungsi dan tugas BPBD dalam
penanggulangan bencana di Indonesia
4. Untuk mengetahui dasar hukum panduan/regulasi yang digunakan oleh BPBD dalam
penanggulangan bencana di Indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Kebijakan
Menurut Abdullah (1987, 398) terdapat tiga unsur penting dalam proses
pelaksanaan kebijakan, antara lain 1) Adanya kebijakan yang dilakukan, 2) Target grup,
yaitu kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dan diharapkan akan menerima
manfaat dari kebijakan tersebut dalam bentuk perubahan dan peningkatan, dan 3) Unsur
pelaksana baik organisasi maupun perorangan yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan, pelaksanaan dan pengawasan dari proses implementasi tersebut.
Salah satu model pelaksanaan/ implementasi program menurut David C. Korten
adalah model kesesuaian implementasi kebijakan. Menurut Korten (dikutip dari
Tarigan, 2000, 19) dapat dijelaskan bahwa dalam Pelaksanaan atau implementasi
program terdiri dari tiga elemen yaitu program itu sendiri, kelompok sasaran atau
pemanfaat program, dan pelaksana program dalam struktur organisasi. Pelakasanaan
program dapat dikatakan berhasil jika memenuhi tiga elemen implementasi program di
atas. Yang pertama, yaitu kesesuaian antara program dengan apa yang dibutuhkan oleh
kelompok sasaran (pemanfaat). Kedua, kesesuaian antara program dengan organisasi
pelaksana, yaitu kesesuaian antara tugas yang disyaratkan oleh program dengan
kemampuan organisasi pelaksanaan. Ketiga, kesesuaian antara kelompok pemanfaat
dengan organisasi pelaksana, yaitu kesesuaian antara syarat yang diputuskan untuk
dapat memperoleh output program dengan apa yang dapat dilakukan oleh kelompok
sasaran program.

B. Penanggulangan Bencana
Kesadaran akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana mulai muncul
pada dekade 1900-1999 yang dicanangkan sebagai Dekade Pengurangan Risiko
Bencana Internasional. Beberapa konferensi tingkat dunia diinisiasi oleh United
Nations International Strategy or Disaster Risk Reduction (UN-ISDR) yang merupakan
salah satu badan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang ditugaskan untuk mengawal
Dekade Pengurangan RisikoBencana Internasional. Menutut Carter dalam Hadi
Purnomo tahun 2010, mendefinisikan pengelolaan bencana sebagai suatu ilmu
pengetahuan terapan (aplikatif) yang mencari, dengan observasi sistematis dan analisis

3
bencana untuk meningkatkan tindakan-tindakan (measures) terkait dengan preventif
(pencegahan), mitigasi (pengurangan), persiapan, respon darurat dan pemulihan.
Sehingga menurutnya, tujuan dari Manajemen Bencana tersebut diantaranya, yaitu
mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi maupun jiwa yang
dialami oleh perorangan, masyarakat negara, mengurangi penderitaan korban bencana,
mempercepat pemulihan, dan memberikan perlindungan kepada pengungsi atau
masyarakat yang kehilangan tempat ketika kehidupannya terancana.
Di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana terdapat Ketentuan Umum yang mendefinisikan penyelenggaraan
Penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan
pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahaan bencana,
tanggap darurat dan rehabilitasi. Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana dalam Pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa penyelenggaraan
penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan
pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana,
tanggap darurat, dan rehabilitasi. Dalam Pasal 3 ayat (1) dijelaskan bahwa asas-asas
penanggulangan bencana, yaitu kemanusiaan, keadilan, kesamaan kedudukan dalam
hukum dan pemerintahan, keseimbangan, keselarasan, dan keserasian, ketertiban dan
kepastian hukum, kebersamaan, kelestarian lingkungan hidup, dan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Selanjutnya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Pada pasal 5, dinyatakan
bahwa pelaksanaan penanggulangan bencana ini membutuhkan Rencana
Penanggulangan Bencana yang disusun pada situasi tidak terjadi bencana. Diamanatkan
kembali pada pasal 6 bahwa setiap Provinsi wajib menyusun Rencana Penanggulangan
Bencana. Sebagaimana UU No. 24 tahun 2007, Peraturan Kepala Badan
Penanggulangan Bencana Nomor 04 tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Penanggulangan Bencana juga menyebutkan bahwa penanggulangan encana
terdiri dari beberapa fase, yaitu fase pencegahan dan mitigasi, fase kesiapsiagaan, fase
tanggap darurat dan fase pemulihan.

4
C. Lembaga dan Organisasi yang berperan dalam penanggulangan bencana di
Indonesia

1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana


Adalah sebuah Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang mempunyai tugas
membantu Presiden Republik Indonesia dalam: mengkoordinasikan perencanaan dan
pelaksanaan kegiatan penanganan bencana dan kedaruratan secara terpadu; serta
melaksanakan penanganan bencana dan kedaruratan mulai dari sebelum, pada saat, dan
setelah terjadi bencana yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat,
dan pemulihan.
BNPB dibentuk berdasarkan Undang Undang no. 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana dan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008. Sebelumnya
badan ini bernama Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana yang
dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005, menggantikan Badan
Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi yang
dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2001.
Tugas-tugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana meliputi:
1. Memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan
bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat,
rehabilitasi, dan rekonstruksi secara adil dan setara;
2. Menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan
bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan;
3. Menyampaikan informasi kegiatan penanggulangan bencana kepada
masyarakat;
4. Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Presiden setiap
sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat
bencana;
5. Menggunakan dan mempertanggungjawabkan sumbangan/bantuan nasional
dan internasional;
6. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara;
7. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
dan
8. Menyusun pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

5
2. Kementerian Sosial
Kementerian Sosial Republik Indonesia (disingkat Kemensos), dahulu
Departemen Sosial (disingkat Depsos) adalah kementerian yang mempunyai tugas
menyelenggarakan dan membidangi urusan dalam negeri di dalam pemerintahan untuk
membantu presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan negara di bidang sosial baik
di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Kementerian Sosial dipimpin oleh
seorang Menteri Sosial (Mensos) yang sejak tanggal 17 Januari 2018 dijabat oleh Idrus
Marham.
Tugas Kementerian Sosial, Berdasarkan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2015
tentang Kementerian Sosial, dinyatakan bahwa Kementerian Sosial mempunyai tugas
menyelenggarakan urusan di bidang rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan
sosial, perlindungan sosial, dan penanganan fakir miskin untuk membantu Presiden
dalam menyeleng- garakan pemerintahan Negara. dan inklusivitas.
Fungsi kemeterian sosial meliputi:
 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, Kementerian Sosial
menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
 Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang rehabilitasi sosial,
jaminan sosial, pemberdayaan sosial, perlindungan sosial, dan penanganan fakir
miskin.
 Penetapan kriteria dan data fakir miskin dan orang tidak mampu.
 Penetapan standar rehabilitasi sosial.
 Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan
administrasi kepada seluruh unsur organisasi dilingkungan Kementerian Sosial.
 Pengelolaan barang milik/kekayaan Negara yang menjadi tanggung jawab
Kementerian Sosial.
 Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Sosial.
 Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan
Kementerian Sosial di daerah.
 Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan
kesejahteraan sosial, serta penyuluhan sosial.
 Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi
di lingkungan Kementerian Sosial.

6
3. Palang Merah Indonesia
Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi netral dan independen
di Indonesia yang aktivitasnya di bidang sosial kemanusiaan. PMI dibentuk oleh bangsa
Indonesia sendiri meskipun sangat banyak dipengaruhi oleh asas gerakan Palang Merah
yang sifatnya universal. PMI dibentuk mula-mula didasari atas dorongan jiwa
kemanusiaan dan kesadaran nasional. Dalam melaksanakan seluruh kegiatannya, PMI
selalu memegang teguh tujuh prinsip palang merah dan bulan sabit merah internasional
yaitu kemanusiaan, kesukarelaan, kenetralan, kesamaan, kemandirian, kesatuan, dan
kesemestaan. Sampai saat ini PMI memiliki 33 PMI daerah yang berada di provinsi-
provinsi dan sekitar 408 PMI cabang di tingkat kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Saat ini, kantor pusat PMI bermarkas di Jalan Jendral Gatot Subroto Kav. 96 Jakarta.

Tugas Pokok PMI:

 Kesiapsiagaan bantuan dan penanggulangan bencana


 Pelatihan pertolongan pertama untuk sukarelawan
 Pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
 Pelayanan transfusi darah ( sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 18 tahun
1980)
Dalam melaksanakan tugasnya PMI berlandaskan pada 7 (tujuh) prinsip dasar
Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yaitu Kemanusiaan, Kesukarelaan,
Kenetralan, Kesamaan, Kemandirian, Kesatuan dan Kesemestaan.

4. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia yang lebih kita kenal
dengan BMKG merupakan lembaga pemerintahan non departemen yang mempunyai
tugaspokok yaitu melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi,
Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku. Tapi sebagian besar penduduk Indonesia mungkin tidak
mengetahui dengan jelas apakah maksud tugas di bidang Meteorologi, Klimatologi,
Kualitas Udara, dan Geofisika tersebut.

7
BMKG mempunyai tugas :

 melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi,


Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud diatas, Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika menyelenggarakan fungsi :
 Perumusan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang meteorologi,
klimatologi, dan geofisika;
 Perumusan kebijakan teknis di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang meteorologi,
klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan, pembinaan dan pengendalian observasi, dan pengolahan data dan
informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelayanan data dan informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Penyampaian informasi kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat
berkenaan dengan perubahan iklim;
 Penyampaian informasi dan peringatan dini kepada instansi dan pihak terkait
serta masyarakat berkenaan dengan bencana karena factor meteorologi,
klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan kerja sama internasional di bidang meteorologi, klimatologi, dan
geofisika;
 Pelaksanaan penelitian, pengkajian, dan pengembangan di bidang meteorologi,
klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan, pembinaan, dan pengendalian instrumentasi, kalibrasi, dan
jaringan komunikasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
o Koordinasi dan kerja sama instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan
komunikasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keahlian dan manajemen pemerintahan
di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan pendidikan profesional di bidang meteorologi, klimatologi, dan
geofisika;
 Pelaksanaan manajemen data di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

8
 Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi di lingkungan
BMKG;
 Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab
BMKG;
 Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BMKG;
 Penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang meteorologi,
klimatologi, dan geofisika.
Menyangkut dengan penanggulangan bencana, BMKG juga berfungsi untuk
memberikan informasi tentang tanda-tanda bencana alam, memberikan seminar atau
pelatihan sebagai pengetahuan agar memiliki edukasi tentang bagaimana cara
menyelamatkan diri atau mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana alam. Peran
BMKG dalam penanggulangan bencana juga untuk memprediksi keadaan cuaca di titik
terjadinya gempa dengan mengetahui keadaan cuaca di tempat terjadi gempa maka
berfugsi sebagai jenis penanganan yang harus dilakukan.

5. Departemen Pekerjaan Umum Ditjen Sumber Daya Air


Direktorat Jenderal Sumber Daya Air mempunyai tugas menyelenggarakan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan sumber daya air sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pekerjaan Umum melalui Ditjen
Cipta Karya, Ditjen Sumber Daya Air dan Ditjen Bina Marga telah berupaya melalukan
penanganan tanggap darurat terhadap bencana. Penanganan tanggap darurat banjir
dilakukan dengan upaya struktural dan non struktural. Penanganan struktural antara lain
kegiatan bentuk fisik seperti menjaga jalan agar tetap fungsional, memperbaiki jalan,
normalisasi sungai dan membangun waduk. Sedangkan penanganan non struktural
antara lain peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan serta koordinasi antar
instansi.

Sementara itu, penanganan bidang sumber daya air pasca bencana banjir dengan
upaya struktural antara lain dengan menjaga daerah aliran sungai, menjaga daya rusak
air dan pembangunan waduk di beberapa lokasi. Sedangkan di non struktural dengan
melakukan koordinasi antar daerah. Di bidang jalan agar diupayakan jalan fungsional
dan dapat menyentuh penanganan yang lebih permanen, serta memodernisasi sistem
jaringan jalan. Hal tersebut diperlukan untuk meningkatkan keandalan jalan untuk
peningkatan pelayanan distribusi barang dan jasa

9
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air menyelenggarakan fungsi:
 perumusan kebijakan di bidang konservasi sumber daya air, pendayagunaan
sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada sumber air permukaan,
dan pendayagunaan air tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
 pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan
berkelanjutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
 penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengelolaan
sumber daya air;
 pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengelolaan sumber daya
air;
 pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang pengelolaan sumber daya air;
 pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air; dan
 pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri

6. Kementerian Dalam Negeri


Kementerian Dalam Negeri adalah kementerian yang memiliki fungsi untuk
melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan urusan dalam negeri dan otonomi
daerah. Kementerian Dalam Negeri berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Presiden. Kementerian Dalam Negeri dipimpin oleh seorang Menteri Dalam Negeri
(Mendagri). Kementerian ini juga terlibat dalam bidang penanggulangan bencana,
fungsi ini terdapat di dalam Direktorat Manajemen Penanggulangan Bencana dan
Kebakaran yang dipimpin oleh Direktur yang berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Direktur Jenderal.
Direktur Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran melaksanakan
sebagian tugas Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan di bidang
Penanggulangan Bencana dan Kebakaran. Direktorat Penanggulangan Bencana dan
Kebakaran terdiri dari 5 (lima) Subdirektorat dan 1 (satu) Subbagian, yaitu
Subdirektorat Pengurangan Resiko Bencana, Subdirektorat Sarana Prasarana dan
Informasi Bencana, Subdirektorat Tanggap Darurat dan Pasca Bencana, Subdirektorat
Sarana Prasarana dan Informasi Kebakaran, Subdirektorat Peningkatan Sumber Daya
Pemadam Kebakaran, dan Sub Bagian Tata Usaha. Setiap Sub Direktorat terdiri dari 2

10
(dua) seksi. Untuk regulasi dan panduan dalam penanggulangan bencana telah di atur
didalam pasal 401 sampai dengan pasal 424.

7. Instansi Kegiatan Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Pusat Vulkanologi


dan Mitigasi Bencana Geologi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (bahasa Inggris: Centre of
Volcanology and Geological Hazard Mitigation) (disingkat PVMBG) adalah salah satu
unit di lingkungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang
dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertugas
melaksanakan perumusan kebijaksanaan, standardisasi, bimbingan teknis dan evaluasi
bidang vulkanologi dan mitigasi bencana alam geologi. Lembaga ini bertujuan
pengelolaan informasi potensi kegunungapian dan pengelolaan mitigasi bencana alam
geologi, sedangkan misi yang diemban adalah meminimalkan korban jiwa manusia dan
kerugian harta benda dari bencana geologi. Contoh tugas daripada lembaga ini adalah
pembuatan peta tematik (contoh: peta jalur evakuasi) guna meningkatkan keselamatan
masyarakat di sekitar gunung api saat bencana vulkanik terjadi.

8. Kementerian Negara Riset dan Teknologi Deputi Bidang Pendayagunaan dan


Pemasyarakatan Iptek Asisten Deputi Urusan Analisis Kebutuhan Iptek
Tugasnya antara lain penyusunan masterplan waduk resapan untuk pencegahan
bencana banjir, penyusunan rencana pengembangan Indonesia Fire Watch and Warning
Systems (Ina FWWS), dan koordinasi pemasangan jaringan peralatan accelerometer
(pengukur getaran kuat).

9. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional(Bakosurtanal)


Disingkat Bakosurtanal, adalah salah satu Lembaga Pemerintah Non
Departemen Indonesia yang bertugas melaksanakan survei dan pemetaan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Program kerja dan kegiatan
dilaksanakan untuk mencapai visi Bakosurtanal, yaitu menyediakan infrastruktur data
spasial sebagai dasar bagi pengembangan data dan informasi sumber daya alam dan
lingkungan.

11
Tugas :
Badan Informasi Geospasial mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di
bidang Informasi Geospasial.

Fungsi :
Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2Perpres Nomor 94
Tahun 2011, BIG menyelenggarakan fungsi :

 Perumusan dan pengendalian kebijakan teknis di bidang informasi geospasial;


 Penyusunan rencana dan program di bidang informasi geospasial;
 Penyelenggaraan informasi geospasial dasar yang meliputi pengumpulan data,
pengolahan, penyimpanan data dan informasi, dan penggunaan informasi
geospasial dasar;
 Pengintegrasian informasi geospasial tematik yang diselenggarakan oleh
instansi pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
 Penyelenggaraan informasi geospasial tematik yang belum diselenggarakan
selain BIG meliputi pengumpulan data, pengolahan,penyimpanan data dan
informasi, dan penggunaan informasi geospasial tematik;
 Penyelenggaraan infrastruktur informasi geospasial meliputi penyimpanan,
pengamanan, penyebarluasan data dan informasi, dan penggunaan informasi
geospasial;
 Penyelenggaraan dan pembinaan jaringan informasi geospasial;
 Akreditasi kepada lembaga sertifikasi di bidang informasi geospasial;
 Pelaksanaan kerjasama dengan badan atau lembaga pemerintah, swasta, dan
masyarakat di dalam dan/atau luar negeri;
 Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi di lingkungan BIG;
 Pelaksanaan koordinasi perencanaan, pelaporan, penyusunan peraturan
perundang-undangan dan bantuan hukum;
 Pembinaan dan pelayanan administrasi ketatausahaan, organisasi dan tata
laksana, kepegawaian, keuangan, keprotokolan, kehumasan, kerjasama,
hubungan antar lembaga, kearsipan, persandian, barang milik negara,
perlengkapan, dan rumahtangga BIG;
 Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta
promosi dan pelayan produk dan jasa di bidang informasi geospasial;

12
o Perumusan, penyusunan rencana, dan pelaksanaan pengawasan fungsional.

10. Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia(LIPI)


Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia atau disingkat LIPI merupakan Lembaga
Pemerintah Non Departemen Republik Indonesia yang dikoordinasikan oleh
Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Tujuan LIPI adalah untuk mewujudkan
kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis yang didukung oleh
ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanistik. Tugasnya antara lain adalah edukasi
dan sosialisasi Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia.

Sebenarnya masih banyak lembaga-lembaga atau organisasi yang berperan


dalam bidan penanggulangan bencana di Indonesia, seperti Departemen pertanian,
Ditjen Tanaman Pangan serta Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen
Kehutanan, Ditjen Pengendalian Kebakaran Hutan, Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional (LAPAN), Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral,
Departemen Kelautan dan Perikanan, dan lain-lain.

Menurut Buku “Profil Sumber Daya Kesiapsiagaan Nasional dalam


Penanggulangan Bencana 2015” ini sarat dengan data dan informasi terkait dengan
penyiapan sumber daya kesiapsiagaan penanggulangan bencana (PB). Total ada data
dari 38 lembaga yang terdiri dari data kementerian/lembaga atau K/L (13), lembaga
usaha (13), organisasi masyarakat (7), dan lembaga internasional (5). Data dan
informasi tersebut meliputi ketersediaan sumber daya manusia trampil, peralatan
transportasi, peralatan komunikasi, peralatan pertolongan tanggap darurat, sarana
pergudangan, dan lain-lain. Apabila terjadi kejadian bencana maka data dan informasi
itu tinggal dioperasionalkan dengan cara berkoordinasi dengan lembaga-lembaga
bersangkutan.

Dalam bidang kesiapsiagaan, penyiapan data sumber daya yang akurat dari
semua komponen yang terlibat dalam kebencanaan sangat dibutuhkan.
Pengidentifikasian dan pendataan sumber daya yang siap untuk digerakkan atau
dikerahkan akan mempengaruhi respon terhadap kejadian bencana sehingga dapat
meminimalisasi dampak dari kejadian bencana tersebut, baik berupa korban maupun
materi. Sedangkan pada masa awal tanggap darurat (72 jam pertama) dibutuhkan
kecepatan dalam penanganan bencana, salah satunya adalah menyiapkan data sumber
daya baik sumber daya manusia maupun peralatan.

13
D. Panduan dan Regulasi Penanggulangan Bencana
Kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana sendiri tertuang dalam
Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.
Penanggulangan bencana yang diamanatkan dalam undang-undang tersebut memuat
aktivitas yaitu pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, tanggap darurat,
rehabilitasi, dan rekonstruksi. Semua aktivitas tersebut dilaksanakan dalam rangkaian
kerja holistik-berkesinambunga dengan kerangka menyukseskan pembangunan.

Dalam UU No. 24 Tahun 2007, tujuan yang dirumuskan adalah:

 memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana;


 menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada;
 menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,
terkoordinasi, dan menyeluruh;
 menghargai budaya lokal;
 membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta;
 mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan; dan
 menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
a. Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sebagaimana didefinisikan
dalam UU 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,
penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat,
dan rehabilitasi.

Rangkaian kegiatan tersebut apabila digambarkan dalam siklus


penanggulangan bencana adalah sebagai berikut :

Pada dasarnya penyelenggaraan adalah tiga


tahapan yakni :

14
1. Pra bencana yang meliputi:
- situasi tidak terjadi bencana
- situasi terdapat potensi bencana
2. Saat Tanggap Darurat yang dilakukan
dalam situasi terjadi bencana
3. Pascabencana yang dilakukan dalam saat
setelah terjadi bencana

b. . Perencanaan dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana


Secara umum perencanaan dalam penanggulangan bencana
dilakukan pada setiap tahapan dalam penyelenggaran penanggulangan
bencana. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, agar
setiap kegiatan dalam setiap tahapan dapat berjalan dengan terarah,
maka disusun suatu rencana yang spesifik pada setiap tahapan
penyelenggaraan penanggulangan bencana.

1. Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana,


dilakukan penyusunan Rencana Penanggulangan
Bencana (Disaster Management Plan), yang merupakan
rencana umum dan menyeluruh yang meliputi seluruh
tahapan / bidang kerja kebencanaan. Secara khusus untuk
upaya pencegahan dan mitigasi bencana tertentu terdapat
rencana yang disebut rencana mitigasi misalnya Rencana
Mitigasi Bencana Banjir DKI Jakarta.
2. Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana
dilakukan penyusunan Rencana Kesiapsiagaan untuk
menghadapi keadaan darurat yang didasarkan atas skenario
menghadapi bencana tertentu (single hazard) maka disusun satu
rencana yang disebut Rencana Kontinjensi (Contingency Plan).
3. Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi
(Operational Plan) yang merupakan operasionalisasi/aktivasi
dari Rencana Kedaruratan atau Rencana Kontinjensi yang
telah disusun sebelumnya.

15
4. Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana
Pemulihan (Recovery Plan) yang meliputi rencana rehabilitasi
dan rekonstruksi yang dilakukan pada pasca bencana.
Sedangkan jika bencana belum terjadi, maka untuk
mengantisipasi kejadian bencana dimasa mendatang
dilakukan penyusunan petunjuk/pedoman mekanisme
penanggulangan pasca bencana.

c. Perencanaan Penanggulangan Bencana


Perencanaan penanggulangan bencana disusun berdasarkan
hasil analisis risiko bencana dan upaya penanggulangannya yang
dijabarkan dalam program kegiatan penanggulangan bencana dan rincian
anggarannya.
Perencanaan penanggulangan bencana merupakan bagian dari
perencanaan pembangunan. Setiap rencana yang dihasilkan dalam
perencanaan ini merupakan program/kegiatan yang terkait dengan
pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan yang dimasukkan dalam
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Jangka Menengah
(RPJM) maupun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan.

Rencana penanggulangan bencanaditetapkan oleh Pemerintah dan


pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan untuk jangka waktu 5
(lima) tahun.

Penyusunan rencana penanggulangan bencana dikoordinasikan oleh:


1. BNPB untuk tingkat nasional;
2. BPBD provinsi untuk tingkat provinsi; dan
3. BPBD kabupaten/kota untuk tingkat kabupaten/kota.

Rencana penanggulangan bencana ditinjau secara berkala setiap 2


(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.

16
D. Proses Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana
Secara garis besar proses penyusunan/penulisan rencana
penanggulangan bencana adalah sebagai berikut :

E. Uraian Proses Perencanaan Penanggulangan Bencana


Sebagaimana diuraikan di atas bahwa langkah pertama adalah
pengenalan bahaya / anaman bencana yang mengancam wilayah
tersebut. Kemudian bahaya / ancaman tersebut di buat daftar dan di disusun
langkah-langkah / kegiatan untuk penangulangannya. Sebagai prinsip
dasar dalam melakukan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana ini
adalah menerapkan paradigma pengelolaan risiko bencana secara holistik.
Pada hakekatnya bencana adalah sesuatu yang tidak dapat terpisahkan
dari kehidupan. Pandangan ini memberikan arahan bahwa bencana
harus dikelola secara menyeluruh sejak sebelum, pada saat dan setelah
kejadian bencana.

17
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Bencana adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alam yang tidak mungkin
kita hindari dari kehidupan manusia, Banyak masalah yang berkaitan dengan bencana
alam. Kehilangan dan kerusakan termasuk yang paling sering harus dialami bersama
datangnya bencana itu. Harta benda dan manusia terpaksa harus direlakan, dan itu
semua bukan masalah yang mudah. Dan juga terhambatnya laju perekonomian daerah
tersebut. Dalam upaya meminimalisir dampak yang akan di timbulkan dari suatu
bencana, manusia harus memiliki sikap dan kebijakan, salah satunya adalah dengan
cara membentuk suatu lembaga atau organisasi yang fungsi nya adalah sebagai
penanggulangan suatu bencana. Di Indonesia sendiri terdapat banyak lembaga-lembaga
atau organisasi sosial yang memiliki fungsi salah satunya adalah fungsi
penanggulangan bencana.

Dalam penanggulangan bencana dibutuhkan sebuah regulasi panduan dasar


yang dapat dijadikan pedoman dalam menanggulangi bencana di Indonesia, agar proses
penanggulangan itu sendiri berjalan dengan sistemis dan sistematis.

18