Vous êtes sur la page 1sur 14

Laporan Akhir Bab 2

BAB 2

WILAYAH PROYEK

2.1. Batasan Wilayah Proyek


Wilayah Proyek Master Plan Drainase Kota Balikpapan meliputi daerah yang berada
dalam batas administrasi Kota Balikpapan dan sebagian besar termasuk dalam Daerah Aliran
Sungai-sungai di wilayah Kota Balikpapan yang bermuara di Teluk Balikpapan dan Selat
Makasar. Daerah Aliran Sungai-sungai tersebut, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten
Kutai Kertanegara, sebelah selatan berbatasan dengan Selat Makasar, sebelah timur berbatasan
dengan Selat Makasar dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Panajam Paser Utara.

2.2. Kondisi Fisik dan Administrasi


2.2.1. Kondisi Fisik
a. Geografi
Kota Balikpapan dengan luas 503,30 Km2 menurut letak geografinya berada pada
posisi 1° LS - 11° LS dan diantara 116° 50’ BT - 117° 5’ BT, dengan batas-batas sebagai
berikut :
 Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kertanegara
 Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Makasar
 Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kertanegara
 Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara

b. Topografi
Berdasarkan kemiringan dan ketinggian dari permukaan laut, kondisi topografi Kota
Balikpapan sangat beragam, terdiri dari wilayah pantai pada ketinggian 0 meter dan wilayah
berbukit dengan ketinggian sampai 100 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar wilayah
Kota Balikpapan yaitu 30.565 Ha mempunyai kelas kemiringan antara 15% sampai 40%.
Ditinjau dari ketinggian, Kota Balikpapan berada pada ketinggian 0 – 100 m yang dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok ketinggian yaitu : ketinggian antara 0 – 7 m seluas 14,2
%, antara 7 – 25 m seluas 32,3 %, dan ketinggian lebih besar dari 25 – 100 m seluas 53,5 %.

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 1


Laporan Akhir Bab 2

c. Tata Guna Lahan


Penggunaan lahan di wilayah Kota Balikpapan secara keseluruhan terdiri dari kawasan
permukiman dan perkotaan, pertanian dan peternakan, tempat usaha, industri, perdagangan
dan jasa, serta kawasan lindung.
Permukiman yang paling padat di wilayah Kota Balikpapan terdapat di Kecamatan
Balikpapan Tengah, diikuti oleh Kecamatan Balikpapan Selatan merupakan permukiman
swadaya masyarakat yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan dan pembangunan kota.
Pengembangan daerah permukiman dicirikan dari bangunan perumahan-perumahan yang
mengikuti pertumbuhan kawasan industri, kawasan perkantoran baik swasta maupun
pemerintah. Permukiman tersebut di atas umumnya sudah teratur dan mempunyai fasilitas
perkotaan yang memadai. Permukiman Real Estate sebagian besar terkonsentrasi di Kecamatan
Balikpapan Selatan, Balikpapan Timur, Balikpapan Utara dan dan sebagian kecil di Balikpapan
Barat dan Tengah. Namun demikian di kawasan perkotaan yang padat didapati pula kawasan
kumuh yang tidak mengikuti rencana kota. Kawasan kumuh tersebut banyak tersebar di
wilayah pantai, bantaran sungai dan lereng bukit.
Kawasan perdagangan dan jasa pada kondisi sekarang masih terpusat di Balikpapan
Tengah dan Balikpapan Selatan. Kawasan industri, seperti Pertamina di Kelurahan Baru Ilir
Kecamatan Balikpapan Barat. Sedangkan pengembangan kawasan industri akan direalisasikan
di Kariangau. Kegiatan industri kecil masih tersebar di berbagai kawasan permukiman dan di
bantaran sungai yang cenderung kumuh dan rawan pencemaran. Di Kota Balikpapan terdapat
pula kawasan permukiman nelayan di atas air/pantai yang letaknya mengikuti garis pantai jauh
dari kota dengan kondisi umumnya kumuh. Permukiman semacam ini terdapat di Kecamatan
Balikpapan Selatan, yaitu di Kelurahan Prapatan, Klandasan Ilir, Klandasan Ulu, Damai, dan
Sepinggan. Di Kecamatan Balikpapan Barat yaitu di Kelurahan Margasari, Baru Tengah, Baru
Ulu dan Baru Ilir serta sebagian kecil di Kelurahan Margomulyo dan Kariangau serta di
Kecamatan Balikpapan Timur, yaitu di Kelurahan Sepinggan, Manggar Baru, Lamaru dan
Teritip.
Kawasan perkantoran meliputi perkantoran swasta yang akan berkembang cukup pesat
seiring berkembangnya potensi bisnis yang ada di Kota Balikpapan. Saat ini pusat perkantoran
yang diminati adalah di Klandasan Hulu, Klandasan Ilir serta di kawasan pusat kota yang baru
di Kelurahan Batu Ampar sebelah timur atau di Kelurahan Sepinggan sebelah utara. Kawasan
Pemerintahan dan fasilitas umum saat ini kawasan tersebut sifatnya masih tersebar di Kota
Balikpapan, yaitu Kantor Instansi Pemerintah Kota terpusat di Jl. Jenderal Sudirman Kelurahan
Klandasan Ulu Kecamatan Balikpapan Selatan, sedang kantor pemerintahan di tingkat

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 2


Laporan Akhir Bab 2

bawahnya tersebar di pusat kecamatan dan kelurahan. Sedang fasilitas umum meliputi fasilitas
kesehatan (balai pengobatan/rumah sakit/puskesmas, rumah bersalin dan apotik), fasilitas
pendidikan (Sekolah Dasar, SLTP dan SMU) dan fasilitas peribadahan (masjid, gereja, pura,
wihara) tersebar di Kota Balikpapan.
Kawasan pertanian yaitu berupa sawah tadah hujan tercatat 909 ha, sedang yang bukan
berupa sawah (pekarangan, kebun, dll) seluas 37.839 ha.
Kawasan perikanan darat berupa tambak di darat, di tepi sungai atau di tepi pantai
tersebar di Kelurahan Teritip, Manggar, Manggar Baru dan Kariangau.
Kawasan Lindung, meliputi hutan lindung yang berada di sebelah utara, yaitu Hutan
Lindung DAS Sungai Wain (7203,18 Ha) dan Hutan Lindung DAS Sungai Manggar (4500 Ha)
menurut hasil interprestasi citra satelit LANDSAT-TM 2000 tahun 2003. Luas ini diketahui
sudah berkurang dari hasil pendataan sebelumnya. Lahan didominasi oleh semak belukar dan
sebagian berupa perkebunan penduduk. Kawasan lindung tersebut merupakan daerah resapan,
terutama bagi Waduk Manggar yang merupakan sumber air baku Kota Balikpapan.
Di samping kawasan lindung terdapat pula kawasan yang perlu dilestarikan, yaitu
kawasan sepanjang pantai di selatan wilayah Kota Balikpapan, kawasan sempadan sungai di
sepanjang Sungai Wain dan Sungai Manggar Besar, serta kawasan hutan bakau (mangrove) di
Teluk Balikpapan. Tahun 2000 tercatat hutan bakau seluas 1.810 Ha
Yang memprihatinkan adalah adanya lahan kritis di wilayah Kota Balikpapan pada tahun
2003 tercatat seluas 656,3 Ha. Lokasi kawasan tersebut paling dominan terdapat di Kelurahan
Sepinggan, Kelurahan Damai dan Kelurahan Gunung Bahagia yang berada di wilayah
Balipapan Selatan dan ada kecenderungan luas lahan kritis makin meningkat di berbagai
tempat.

d. Iklim
Untuk mengetahui keadaan iklim Kota Balikpapan dalam menentukan kondisi air/sumber
air dilakukan pencatatan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) yang mana hasil
pendataan tersebut dapat dijabarkan mengenai data-data tentang suhu udara, kecepatan angin,
curah hujan dan sinar matahari.
Kondisi klimatologi Kota Balikpapan adalah sebagai berikut : suhu udara rata-rata 27,85
o
C, suhu udara minimum 23 oC dan maksimum 32,5 oC. Kelembaban udara berkisar 85%,
tekanan udara 1.010,3 mb, curah hujan tahunan bervariasi antara 1.483 - 3.592 mm, Curah
hujan rata-rata tahunan 2.914 mm, kecepatan angin 6 knots dan penyinaran matahari 48 %.

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 3


Laporan Akhir Bab 2

e. Hidrologi
Potensi hidrologi yang terdapat di Kota Balikpapan meliputi air tanah dan air
permukaan (sungai). Potensi air tanah di Kota Balikpapan termasuk dalam klasifikasi cukup
baik. Sesuai dengan kondisi topografi dan fisiografi wilayah yang berbukit, menyebabkan pola
aliran air tanah yang terbentuk mengalir dari arah wilayah bagian utara menuju ke arah wilayah
bagian selatan kota. Adanya keterbatasan penyediaan air bersih PDAM meyebabkan banyak
penduduk yang memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Hal ini perlu
mendapat perhatian khusus (perlu diwaspadai) karena pengambilan air tanah secara berlebihan
dikhawatirkan dapat mengganggu potensi air tanah, yaitu penurunan muka air tanah, salinasi
dan intrusi air laut. Kasus intrusi air laut dan salinasi telah terjadi di wilayah Sungai Wain,
Sungai Somber, Sungai Manggar, Sungai Tempadung dan Sungai Lempasuang.
Potensi air permukaan dapat dilihat dari banyaknya sungai-sungai besar di Kota
Balikpapan, sebagai berikut :
Tabel 2.1 Daftar Sungai Besar di Kota Balikpapan
No Nama Sungai Panjang (m)
1 S. Wain 11.200
2 S. Somber 7.100
3 S. Klandasan Kecil 3.800
4 S. Klandasan Besar / Ampal 4.900
5. S. Sepinggan 5.600
6. S. Batakan Kecil 5.100
7. S. Batakan Besar 9.500
8. S. Manggar Kecil 7.200
9. S. Manggar Besar 19.400
10. S. Lamaru 2.300
11. S. Ajiraden 2.100
12. S. Teritip 4.200
13. S. Selok Api 6.700

Selain sungai-sungai besar, jug terdapat sungai-sungai kecil yang jumlahnya mencapai
24 sungai.
Perkembangan permukiman ke daerah hulu sungai menyebabkan berkurangnya lahan
berhutan yang berfungsi sebagai daerah resapan, dan sebagai dampaknya timbul masalah banjir
seperti yang terjadi di Sungai Ampal/Sungai Klandasan Besar.

2.2.2. Wilayah Administrasi

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 4


Laporan Akhir Bab 2

Secara geografis wilayah Kota Balikpapan berada antara 1 LS – 11 LS dan 116,5 BT –


117,5 BT yang luasnya sekitar 503,3 Km2.
Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 1996, maka
sejak 24 Pebruari 1998 Kota Balikpapan dimekarkan dari 3 (tiga) Kecamatan menjadi 5 (lima)
Kecamatan dan 27 kelurahan (Sumber Data : *) Kantor Pertahanan Propinsi Kaltim,
berdasarkan Penjabaran UU No. 22 Tahun 1999 dan UU 4799), yaitu :
1. Kecamatan Balikpapan Timur (meliputi Kelurahan Manggar, Manggar Baru, Lamaru
dan Teritip)
2. Kecamatan Balikpapan Selatan (meliputi Kelurahan Prapatan, Telaga Sari, Klandasan
Ulu, Klandasan Ilir, Damai, Gunung Bahagia dan Sepinggan)
3. Kecamatan Balikpapan Utara (meliputi Kelurahan Gunung Samarinda, Muara Rapak,
Batu Ampar dan Karang Joang)
4. Kecamatan Balikpapan Tengah (meliputi Kelurahan Gunung Sari Ilir, Gunungsari Ulu,
Mekarsari, Karang Rejo, Sumber Rejo, dan Karang Jati).
5. Kecamatan Balikpapan Barat (meliputi Kelurahan Baru Ilir, Margo Mulyo, Marga Sari,
Baru Tengah , Baru Ulu, Kariangao).

2.3. Kondisi Sosial Ekonomi


2.3.1. Jumlah penduduk sekarang
Jumlah penduduk Kota Balikpapan berdasarkan hasil Sensus Penduduk sampai dengan
31 Desember 2005 adalah sebanyak 554.437 jiwa. Sedangkan jumlah Warganegara Asing yang
berdomisili di Kota Balikpapan sebanyak 1.168 jiwa.

2.3.2. Kepadatan Penduduk


Dengan wilayah seluas 503,30 Km2, dan jumlah penduduk sebanyak 544.437 jiwa,
maka rata-rata kepadatan penduduk Kota Balikpapan adalah 1.101 jiwa/Km2. Sebagian besar
penduduk terkonstrasi dikawasan perkotaan dengan kepadatan mencapai 33.644,42 jiwa/Km2,
sementara dikawasan yang merupakan pinggiran kota (pedesaan) kepadatan penduduk hanya
sekitar 141,24 jiwa/Km2.

2.3.3. Pertumbuhan Penduduk


Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 adalah 406.547 jiwa dengan tingkat
pertumbuhan sebesar 1,74 %. Pada tahun 2005 jumlah penduduk mengalami pertumbuhan
yang cukup tinggi, dan berdasarkan registrasi manajemen kependudukan pada Kantor

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 5


Laporan Akhir Bab 2

Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Balikpapan sampai 31 Desember 2005 adalah sebanyak
554.437 jiwa.

2.3.4 Laju Pertumbuhan penduduk


Selama kurun waktu 2000 – 2005 pertumbuhan penduduk Balikpapan dalam kurun
waktu 5 (lima) tahun bertambah sebanyak 147.980 jiwa, rata-rata sebesar 29.596 jiwa atau
4,95 % per tahun.

2.3.5. Kegiatan ekonomi


Jenis kegiatan ekonomi antara lain :
1. Pertamina, Kehutanan, Perkebunan dan Perikanan
2. Pertambangan dan Penggalian
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Gas dan Air
5. Bangunan
6. Perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel
7. Jasa angkutan
8. Keuangan, asuransi, usaha sewa barang, tanah dan jasa perusahaan
9. Jasa kemasyarakatan

Pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan tahun 2001 – 2005 baik dihitung dengan
Migas atau tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 2.2 Pertumbuhan Ekonomi Kota Balikpapan tahun 2001 - 2005


No Tahun Dengan Migas ADHK Tanpa Migas ADHK
1 2001 10.59 % 13.87 %
2 2002 4.64 % 9.04 %
3 2003 2.21 % 9.87 %
4 2004 5.91 % 5.21 %
5 2005 3.16 % 7.56 %

2.4. Pertumbuhan Kota dan Masalah Drainase


2.4.1. Pembangunan Kota Balikpapan
Secara umum konsep pemanfaatan ruang dilakukan dengan menempatkan pusat
kegiatan di lokasi yang ditentukan (dalam hal ini lokasi pusat kota yang ada di wilayah
Kecamatan Balikpapan Tengah dan di lokasi pusat kota baru di wilayah Kelurahan Manggar
Kecamatan Balikpapan Timur). Di pusat-pusat kegiatan ini ditempatkan fungsi-fungsi non

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 6


Laporan Akhir Bab 2

hunian seperti perdagangan, perkantoran, pemerintahan atau fungsi khusus yang ada. Kawasan
hunian diarahkan untuk berkembang secara menyebar di seluruh wilayah kota yang daya
dukung lahannya sesuai untuk pengembangan ini. Fungsi-fungsi non hunian dalam skala yang
lebih rendah ditempatkan diberbagai tempat dan berfungsi sebagai pusat-pusat kegiatan yang
skala pelayanannya lebih rendah, seperti pusat BWK, pusat sub BWK atau pusat lingkungan.

2.4.2. Sistem Drainase Eksisting


Sungai-sungai yang ada di wilayah Kota Balikpapan dimanfaatkan dan berfungsi sebagai
pembuangan akhir sistem drainase, sebagai saluran primer atau saluran sekunder. Secara umum
sistem drainase kota belum memadai ditinjau dari segi jumlah (panjang) saluran yang
dibutuhkan, kapasitas saluran dan kondisi salurannya. Menurut data yang tercatat, terdapat
saluran drainase sepanjang 47.308 meter terdiri dari 4.317 meter saluran primer, 24.891 meter
saluran sekunder dan 18.100 meter saluran tersier. Drainase Primer adalah drainase utama yang
berfungsi sebagai daerah tumpahan air dari drainase sekunder dan drainase tersier sebelum ke
laut.
Drainase Primer juga merupakan aliran-aliran sungai utama yang ada di Balikpapan.
Drainase Primer yang ada di Kota Balikpapan adalah Sungai Sepinggan, Sungai Klandasan
Besar, Klandasan Kecil, Sungai Manggar Besar, Sungai Manggar Kecil, Sungai Batakan,
Sungai Pandan Sari, Sungai Somber dan Sungai Wain. Drainase Sekunder adalah wadah
pengaliran dari drainase tersier sebelum ke drainase Primer. Drainase sekunder tersebut dapat
berupa anak-anak sungai dari drainase primer. Drainase Tersier adalah drainase yang
merupakan wadah pengaliran yang umumnya merupakan saluran pembuangan limbah rumah
tangga yang berada di lingkungan permukiman maupun perkotaan.
Wilayah perumahan, perkantoran atau pertokoan belum semuanya memiliki sistem drainase
tersier yang baik dan mencukupi untuk menampung dan mengalirkan limpasan hujan,
disamping pemeliharaan saluran kurang diperhatikan terlihat dari banyaknya pasir dan sampah
yang mengurangi fungsi saluran. Saluran sekunder yang berupa saluran buatan atau saluran
alam kondisinya hampir serupa. Kondisi tata ruang yang ada, ketidakteraturan permukiman,
dimana terdapat banyak rumah atau bangunan yang dibangun tanpa ijin di dalam profil
saluran/sungai, menghambat aliran air dan mempersulit pemeliharaan saluran. Menurutnya
fungsi saluran mengakibatkan terjadinya banjir di musim hujan dan genangan-genangan di
daerah rendah.
Berdasarkan klasifikasi drainase dan tingkat kejenuhan tanah yang dihubungkan dengan
kecepatan meresapnya (infiltrasi) air permukaan tanah, maka daerah Balikpapan
dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu :

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 7


Laporan Akhir Bab 2

a. Daerah yang tidak pernah tergenang seluas 32.875 Ha atau sekitar 65 % dari luas
wilayah Balikpapan.
b. Daerah yang tergenang periodik seluas 83 Ha atau 0,16 % dari luas wilayah, disamping
itu terdapat pula daerah yang selalu tergenang apabila musim penghujan yaitu pada
daerah sekitar sungai dan dataran rendah lainnya.
c. Sisanya merupakan daerah yang tergenang secara tidak periodik.

2.4.3 Perencanaan Tataguna Lahan


Perkembangan kota yang cukup pesat dengan tingkat pelayanan yang relatif masih
terbatas mengakibatkan munculnya masalah keterbatasan lahan khususnya disekitar pusat kota.
Kondisi ini mengakibatkan munculnya kawasan-kawasan permukiman kumuh yang sangat
memerlukan penanganan khusus dalam hal penataan kualitas lingkungan dan penyediaan
prasarana lingkungan. Sebagian besar kawasan kumuh tersebut menempati wilayah pantai,
bantaran sungai dan lereng bukit.
Diperkiraan jumlah penduduk pada akhir tahun perencanaan (tahun 2010) adalah 426.110
jiwa. Perkiraan kebutuhan luas lahan permukiman untuk pertambahan penduduk adalah sebesar
371,21 Ha. Perhitungan dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan perumahan dalam RDTR
Kota Balikpapan tahun 1996. Dengan mengasumsikan kebutuhan luas lahan untuk prasarana
permukiman sebesar 20% dari kawasan permukiman keseluruhan (bersama sarana) adalah
sebesar 464,013 Ha.
Perkembangan sektor perindustrian mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk Kota
Balikpapan bertambah dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu pengembangan
kawasan industri perlu diikuti dengan penyediaan lahan permukiman berikut fasilitasnya
termasuk sarana drainase yang baik.
Sejauh ini diidentifikasi adanya rencana di daerah Kariangau yang diprediksi akan
kebutuhan lahan permukiman bagi pekerja industri akan disiapkan secara terpadu dengan
pengembangan kawasan industri dimaksud. Dengan demikian tidak memberikan dampak/
pengaruh langsung bagi masalah pemanfaatan lahan di wilayah Kota Balikpapan.
Kegiatan Pertamina di wilayah Kota Balikpapan merupakan kegiatan penting yang cukup
berpotensi menimbulkan bangkitan jumlah penduduk khususnya penduduk migrasi dari luar.
Hal yang perlu dipertimbangkan adalah kegiatan ini sudah berlangsung sangat lama sehingga
fenomena pergeseran jumlah penduduk yang telah terjadi dapat dianggap telah
terakomodasikan dalam data pergeseran jumlah penduduk Kota Balikpapan yang ada (dalam
studi ini data tahun 1992 sampai tahun 1998). Dengan kata lain dapat diasumsikan sampai
akhir tahun perencanaan fenomena pergeseran jumlah penduduk yang diakibatkan oleh

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 8


Laporan Akhir Bab 2

kegiatan Pertamina (selama tidak ada kegiatan baru berskala besar) dapat dianggap sama
dengan tahun-tahun sebelumnya.
Dengan tidak adanya kegiatan-kegiatan skala besar yang berdampak pada wilayah Kota
Balikpapan, maka perhitungan kebutuhan luas lahan permukiman diperkirakan tidak akan jauh
dari hasil perhitungan yang telah dilakukan. Berdasarkan perhitungan tersebut, berarti
kebutuhan luas lahan permukiman telah dapat dipenuhi oleh ijin lokasi permukiman yang telah
dikeluarkan. Walaupun demikian, untuk mengantisipasi kebutuhan yang tentunya akan terus
bertambah sejalan dengan tumbuhnya kegiatan-kegiatan baru yang sangat mungkin terjadi
diluar antisipasi yang telah dilakukan maka perlu disiapkan lahan untuk cadangan
pengembangan permukiman. Kebutuhan lahan cadangan pengembangan permukiman ini
dipersiapkan sekitar 1385,28 Ha dengan lokasi di Kecamatan Balikpapan Selatan dan
Balikpapan Timur.
Pola sebaran kawasan permukiman ini semula terlihat mendekati pusat pelayanan kota.
Kondisi ini mengakibatkan terjadinya konsentrasi pembangunan fisik di wilayah Kecamatan
Balikpapan tengah. Perkembangan yang terus terjadi telah mengakibatkan masalah
keterbatasan lahan disekitar pusat kota sehingga pengembangan kawasan permukiman saat ini
telah berkembang di kawasan yang relatif menjauhi pusat kota. Kondisi ini dapat ditunjukan
dengan pola sebaran ijin lokasi yang telah diterbitkan sampai tahun 1998 dimana perkembangan
kawasan permukiman ini telah mencapai wilayah Kelurahan Batu dan Kecamatan Balikpapan
Timur. Hal yang perlu diwaspadai adalah bahwa semakin jauh dari pusat pelayanan maka akan
muncul kecenderungan untuk menumbuhkan pusat-pusat pelayanan baru. Mengantisipasi hal
ini maka perlu diupayakan rencana untuk mengarahkan terbentuknya suatu sistem pelayanan
yang terpadu antara satu pusat dengan pusat lainnya.
Kecenderungan ini menunjukkan gejala yang sejalan dengan konsep pembentukan
struktur ruang yang diusulkan yang menempatkan satu pusat pelayanan utama kota di kawasan
timur-utara. Dengan berkembangnya kawasan permukiman ke kawasan ini maka kebutuhan
akan pusat pelayanan ini menjadi suatu hal yang cukup penting. Mengandalkan pusat pelayanan
utama di wilayah Balikpapan Tengah menjadi tidak efisien lagi mengingat beban yang semakin
berat bagi kawasan pusat kota yang ada, serta jarak tempuh yang relatif jauh dari lokasi
pengembangan kawasan permukiman.
Rencana penggunaan lahan ditetapkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut
ini:

 Hasil identifikasi kawasan (kawasan lindung dan kawasan budidaya, selain faktor zoning,
yang juga penting adalah masalah luasan kawasan budidaya yang dapat dikembangkan),
yaitu kawasan lindung 1.389,91 Ha dan kawasan budidaya 12.408,09 Ha.

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 9


Laporan Akhir Bab 2

 Prediksi pertumbuhan penduduk sampai tahun 2010 sebanyak 426.100 jiwa


 Daya tampung kawasan terhadap perkembangan jumlah penduduk yang akan terjadi
 Standar/kriteria teknis dalam perhitungan kebutuhan luas lahan
 Potensi khusus yang akan dikembangkan
 Fungsi-fungsi khusus yang dipertahankan dan dikembangkan
 Kawasan khusus

Secara umum rencana penggunaan lahan yang ditetapkan akan meliputi :


1. Kawasan Lindung; terdiri atas :
Kawasan lindung mutlak berupa hutan lindung seluas 263,18 Ha
Kawasan lindung setempat 285 Ha
2. Kawasan Budidaya;
Pada dasarnya, kawasan budidaya perlu dipisahkan antara kawasan budidaya pedesaan dan
kawasan budidaya perkotaan. Tetapi mengingat kawasan perencanaan merupakan kawasan
efektif pengembangan perkotaan, maka kawasan budidaya pedesaan tidak dialokasikan
dalam kawasan perencanaan ini. Dengan demikian kawasan budidaya yang akan
dikembangkan, akan terdiri atas :
 Kawasan Permukiman
 Kawasan tempat usaha :
- Kawasan Industri
- Kawasan Perdagangan
- Kawasan Perkantoran/Jasa
- Kawasan Pemerintahan
- Ruang Terbuka Hijau (termasuk hutan kota)
 Fungsi Khusus
- Pelabuhan
- Bandar Udara sepinggan
- Militer
- Perguruan Tinggi
Fungsi khusus didefinisikan sebagai fungsi yang memerlukan penanganan secara
khusus. Umumnya fungsi khusus ini merupakan fungsi yang tidak hanya melayani lingkup
Kota Balikpapan saja tetapi melayani lingkup yang jauh lebih luas seperti lingkup Propinsi
Kalimantan Timur bahkan sampai lingkup wilayah Kalimantan.

2.4.4. Pembebasan Lahan dan Permukiman Kembali

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 10


Laporan Akhir Bab 2

Pembangunan sarana drainase beserta fasilitasnya dalam wilayah perkotaan yang relatif
padat membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk pembayaran ganti rugi atas lahan yang
dibebaskan untuk normalisasi sungai dan ganti rugi untuk bangunan-bangunan yang berada
tepat di tepi sungai atau dalam profil sungai. Proyek dapat dilaksanakan setelah ada
persetujuan antara pemerintah dan pemilik lahan. Besarnya ganti rugi harus mempertimbangkan
nilai tanah sebagai mana yang tertera dalam Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP). Hal ini
menyebabkan naiknya pembiayaan untuk pembebasan lahan.
Disamping kewajiban membayar ganti rugi tanah yang dibebaskan, pemerintah
diwajibkan mengganti ganti rugi atas bangunan yang digusur dari sempadan sungai/saluran
meskipun para penghuni tidak memiliki hak resmi kepemilikan tanah atau harus menyediakan
lokasi lain sebagai tempat tinggal. Hal-hal tersebut menimbulkan masalah serius diseputar
pembebasan tanah dan dapat menghambat rencana pembangunan sarana drainase.

2.4.5. Kesadaran Masyarakat tentang Sanitasi dan Drainase


Kesadaran masyarakat tentang perlunya membangun dan memelihara fasilitas sanitasi
dan drainase belum merata antara penduduk Kota Balikpapan, khususnya bagi masyarakat
yang bermukim di tepi-tepi saluran drainase, atau membangun rumah dalam profil sungai serta
masyarakat yang tinggal di daerah pantai. Rumah dibangun tepat di tepi saluran rawan
terhadap pencemaran karena menjadi tempat pembuangan sampah, pembuangan air kotor dari
MCK atau dapur. Di samping itu pemeliharaan saluran menjadi sulit karena tidak cukup ruang
untuk pembersihan saluran. Kondisi sanitasi dan drainase yang baik hanya di dapati di pusat
kota, di permukiman yang teratur dan di real estate.

2.4.6. Manajemen drainase perkotaan


Dewasa ini sarana dan prasarana yang berhubungan erat dengan drainase Kota Balikpapan
dibawah kendali institusi-institusi sebagai berikut :
 Perencanaan, pengadaan sarana, pengembangan, operasi, dan pemeliharaan prasarana
air bersih di Kota Balikpapan dikelola oleh PDAM.
 Wewenang dan tanggung jawab dalam bidang perencanaan, pengadaan, pengembangan,
operasi, dan pemeliharaan terletak di tangan Dinas Pekerjaan Umum, yaitu di bawah
Sub Dinas Bina Marga.
 Perizinan dan pengelolaan limbah, baik limbah cair maupun padat menjadi wewenang
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda). Pengelolaan limbah
yang dilakukan oleh swasta juga tetap dalam pengawasan Bapedalda agar tidak
menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitarnya.

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 11


Laporan Akhir Bab 2

 Pengelolaan sampah dilakukan oleh Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman.


Selain itu pihak swasta dan masyarakat pun turut mendukung pengelolaan sampah,
terutama pengelolaan sampah di lingkungannya.
Oleh sebab itu diperlukan suatu koordinasi yang baik dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengoperasian maupun pemiliharaan sarana dan prasarana tersebut dan ini merupakan aspek
penting untuk dipertimbangkan dalam Master Plan Drainase.

2.4.7. Operasi dan Pemeliharaan


Kegiatan operasional fasilitas-fasilitas drainase perkotaan bertujuan agar pengaliran
limpasan hujan dan limbah suatu wilayah perkotaan dapat berjalan dengan lancar sampai ke
tempat pembuangan akhirnya dan aman dalam artian dalam pengalirannya di saluran-saluran
drainase sesedikit mungkin mengakibatkan kerusakan di saluran dan tidak menyebabkan
terjadinya genangan. Pekerjaan operasional fasilitas drainase mencakup ke-administrasi-an,
manajemen, dan kegiatan lapangan dari prasarana fisik untuk memenuhi sasaran-sasaran
kegiatannya.
Kegiatan pemeliharaan bertujuan untuk menjaga supaya prasarana fisik drainase berada
dalam kondisi baik sepanjang waktu. Kegiatan pemeliharaan meliputi pemeliharaan saluran
agar penampang saluran mampu dilewati debit banjir rencana, di antaranya dengan
membersihkan saluran dari endapan lumpur, sampah dan tanaman pengganggu (aquatic
weeds). Pemeliharaan peralatan mekanis tidak boleh diabaikan agar selalu dalam kondisi baik
saat diperlukan. Pemeliharaan rutin pada perencanaan tahunan perlu dilakukan terutama
menjelang musim penghujan, agar saat terjadi hujan saluran siap beroperasi dengan baik.
Perbaikan kerusakan saluran drainase dan fasilitasnya akibat banjir dan sebab-sebab lain (tebing
longsor, kerusakan plengsengan dan lain-lain) perlu segera diperbaiki. Kegiatan pemeliharaan
prasarana pematusan perlu ditangani oleh tim/staf yang terdiri dari perencana, pelaksana dan
pengawas yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut, pengadaan material, dan
perlengkapan dengan memperhitungkan beragam tingkatan pemeliharaan tergantung pada
kondisi fasilitasnya. Tujuan dari pemeliharaan ini adalah untuk menjaga supaya prasarana fisik
berada dalam kondisi baik. Permasalahan utama pada O&P ini berhubungan dengan pendanaan
dan ketanggapan pemerintah daerah, yaitu bahwa O&P sangat penting untuk menjaga tetap
berfungsinya sistem pematusan.
Rencana operasional untuk sistem drainase di Kota Balikpapan merupakan
tanggungjawab Pemerintah Kota Balikpapan.

2.5. Masalah-masalah Lingkungan

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 12


Laporan Akhir Bab 2

Dalam penataan sistem drainase Kota Balikpapan banyak kegiatan yang perlu dilakukan,
antara lain normalisasi sungai yang berfungsi sebagai saluran primer atau sekunder,
pembangunan jaringan saluran mulai dari saluran tepi jalan, saluran tersier dan fasilitas drainase
seperti waduk/bendali, rumah pompa, pintu air, dan sebagainya, serta penyediaan prasarana
jalan. Konsekwensi pembangunan tersebut adalah pembebasan lahan, relokasi penduduk,
rehabilitasi jembatan, dan sebagainya. Dalam kegiatan konstruksi, lalu-lalang angkutan material
menimbulkan dampak pada kualitas udara terutama di daerah permukiman yang padat.
Oleh karena pembangunan berdampak langsung dan tak langsung dengan penduduk Kota
Balikpapan dan lingkungan di wilayah tersebut (meliputi segi fisik, biologis, dan sosial
ekonomi), maka masalah lingkungan perlu menjadi perhatian Pemerintah Daerah sebagai
pelaksana pembangunan. Masalah-masalah lingkungan yang berhubungan dengan
pembangunan menjadi sumber kekhawatiran utama bagi pemerintah dan badan-badan
penyandang dana. Dampak dari adanya proyek-proyek, baik positif maupun negatif, terhadap
lingkungan di sekitarnya memerlukan studi yang teliti, manajemen, dan pemantauan terhadap
proyek yang bersangkutan, apakah layak untuk diteruskan atau tidak.
Indonesia memiliki hukum tentang dampak lingkungan yang paling komprehensif di
dunia. Hukum-hukum ini dibuat oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan (Bapedal), dan Direktorat Lingkungan Hidup dalam jajaran departemen
teknis, baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi.
Di Indonesia, prosedur untuk memutuskan jenjang analisa lingkungan, pengelolaan dan
pemantauan suatu proyek dikenal dengan nama proses AMDAL (Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan). Dalam Keputusan Menteri tentang Lingkungan Hidup: Kep-11/MENLH/3/94,
pemerintah telah menyusun daftar tipe-tipe kegiatan pembangunan atau usaha yang diwajibkan
melaksanakan ANDAL, Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL).
Proyek pengendalian banjir di kota-kota besar termasuk dalam daftar kegiatan-kegiatan
yang memerlukan kajian tentang dampak lingkungan, di bawah seksi III Pekerjaan Umum,
KEP-11/MENLH/3/94, jika bangunan pengendalian banjir seperti saluran-saluran pematusan
panjangnya lebih dari 5 kilometer dan lebar lebih dari 20 meter. Dalam keadaan seperti itu,
dampak lingkungan yang paling buruk disebabkan oleh adanya pembebasan tanah untuk
pelebaran saluran, pembuatan bangunan baru atau yang berkaitan dengan masalah sosial-
ekonomi adalah kegiatan penggusuran rumah rakyat. Jika hal ini terjadi, maka rencana
permukiman kembali yang dapat diterima oleh badan penyandang dana adalah wajib
dilaksanakan pemerintah. Dari segi fisik normalisasi sungai atau saluran berdampak pada

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 13


Laporan Akhir Bab 2

kondisi air tanah setempat, pembangunan bendali berdampak pada pola aliran sungai, dan
kehidupan biota air.
Dari segi positifnya, setiap tindakan untuk mencegah atau mengurangi dampak banjir
akan memberi manfaat yang sangat baik tiap individu dan masyarakat luas. Banjir, menurut
catatan resmi UNDCR (Badan PBB yang mengkoordinasikan masalah bencana alam),
merupakan bahaya besar yang mempengaruhi lebih banyak orang daripada bencana apapun di
dunia. Di Indonesia sendiri, banjir biasanya mengakibatkan kerusakan tahunan senilai lebih dari
US$ 150 juta, tetapi beban nyata dari bencana itu adalah penderitaan manusia, meningkatnya
berbagai macam penyakit, kehilangan tempat tinggal, cedera dan semakin tingginya gangguan
terhadap pembangunan sosial.

Master Plan Dainase Kota Balikpapan 2- 14