Vous êtes sur la page 1sur 8

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL

DENGAN ANEMIA
A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh (Boedihartono, 1994).
Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi :
1. Aktivitas / istirahat
Gejala :
 Keletihan, kelemahan, malaise umum.
 Kehilangan produktivitas ; penurunan semangat untuk bekerja.
 Toleransi terhadap latihan rendah.
 Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda :
 Takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.
 Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya.
 Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan.
 Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat,
dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.
2. Sirkulasi
Gejala :
 Riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi
berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan).
 Riwayat endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda :
 TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar,
hipotensi postural.
 Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan pendataran atau
depresi gelombang T; takikardia.
 Bunyi jantung : murmur sistolik (DB).
 Ekstremitas
- (Warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut,
faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat
dapat tampak sebagai keabu-abuan).
- Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP).
- Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB).
- Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan
vasokontriksi kompensasi)
- Kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB).
- Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature
(AP).
3. Integritas ego
Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan,
misalnya penolakan transfusi darah.
Tanda : depresi.
4. Eleminasi
Gejala :
 Riwayat pielonefritis, gagal ginjal.
 Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB).
 Hematemesis, feses dengan darah segar, melena.
 Diare atau konstipasi. Penurunan haluaran urine
Tanda :
 Distensi abdomen.
5. Makanan/cairan
Gejala :
 penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan
produk sereal tinggi (DB).
 Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring).
 Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia.
 Adanya penurunan berat badan.
 Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung
jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).
Tanda :
 lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin
B12).
 Membrane mukosa kering, pucat.
 Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut/hilang elastisitas (DB).
 Stomatitis dan glositis (status defisiensi).
 Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).
6. Neurosensori
Gejala :
 sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan
berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.
Tanda :
 peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu
berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP).
Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi,
ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis
(AP).
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB)

8. Pernapasan
Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.
9. Keamanan
Gejala :
 riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada
radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi
kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya.
Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi.
Tanda :
 demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum. Ptekie
dan ekimosis (aplastik).
10. Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore
(DB). Hilang libido (pria dan wanita). Imppoten.
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen /
nutrisi ke sel.
Ditandai dengan:
a. Palpitasi,
b. kulit pucat, membrane mukosa kering, kuku dan rambut rapuh,
c. ekstremitas dingin
d. perubahan tekanan darah, pengisian kapiler lambat
e. ketidakmampuan berkonsentrasi, disorientasi
Tujuan: menunjukkan perfusi jaringan yang adekuat

2. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen


Ditandai dengan:
a) Kelemahan dan kelelahan
b) Mengeluh penurunan aktifitas /latihan
c) Lebih banyak memerlukan istirahat /tidur
d) Palpitasi,takikardi, peningkatan tekanan darah,
Tujuan: terjadi peningkatan toleransi aktifitas.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan
untuk mencerna, absorbsi makanan
Ditandai dengan:
a). Penurunan berat badan normal
b). Penurunan turgor kulit, perubahan mukosa mulut.
c). Nafsu makan menurun, mual
d). Kehilangan tonus otot
Tujuan: kebutuhan nutrisi terpenuhi yang dikuti dengan peningkatan berat badan.

4. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan jumlah makanan,


perubahan proses pencernaan , efek samping penggunaan obat
Ditandai dengan :
a). Adanya perubahan pada frekuensi, karakteristik, dan jumlah feses
b). Mual, muntah, penurunan nafsu makan
c). Nyeri abdomen
d). Ganguan peristaltic
Tujuan: pola eliminasi normal sesuai dengan fungsinya

5. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan pertahanan skunder yang


tidak adekuat.
Ditandai dengan tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala- gejala
yang membuat diagnosa actual
Tujuan: terjadi penurunan resiko infeksi

C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI


Diagnosa 1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai
oksigen / nutrisi ke sel.
1. Kaji tanda-tanda vital, warna kulit, membrane mukosa, dasar kuku
2. Beri posisi semi fowler
3. Kaji nyeri dan adanya palpitasi
4. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh pasien
5. Hindari penggunaan penghangat atau air panas
Kolaborasi:
1. Monitor pemeriksaan laboratorium misal Hb/Ht dan jumlah SDM
2. Berikan SDM darah lengkap /pocket
3. Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi

Diagnosa 2. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai


oksigen
1. Kaji kemampuan aktifitas pasien
2. Kaji tanda-tanda vital saat melakukan aktifitas
3. Bantu kebutuhan aktifitas pasien jika diperlukan
4. Anjurkan kepada pasien untuk menghentikan aktifitas jika terjadi palpitasi
5. Gunakan tehnik penghematan energi misalnya mandi dengan duduk.

Diagnosa 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


kegagalan untuk mencerna, absorbsi makanan
1. Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai
2. Observasi dan catat masukan makanan pasien
3. Timbang berat badan tiap hari
4. Berikan makanan sedikit dan frekuensi yang sering
5. Observasi mual, muntah , flatus dan gejala lain yang berhubungan
6. Bantu dan berikan hygiene mulut yang baik
Kolaborasi:
1. Konsul pada ahli gizi
2. Berikan obat sesuai dengan indikasi misalnya: vitamin dan mineral
suplemen.
3. Berikan suplemen nutrisi

Diagnosa 4. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan jumlah


makanan, perubahan proses pencernaan , efek samping penggunaan obat

1. Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah.


2. Kaji bunyi usus
3. Beri cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung
4. Hindari makan yang berbentuk gas
5. Kaji kondisi kulit perianal
Kolaborasi
1. Konsul ahli gizi untuk pemberian diit seimbang
2. Beri laksatif
3. Beri obat anti diare

Diagnosa 5. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan pertahanan skunder


yang tidak adekuat.
1. Tingkatkan cuci tangan dengan baik
2. Pertahan kan tehnik aseptik ketat pada setiap tindakan
3. Bantu perawatan kulit perianal dan oral dengan cermat
4. Batasi pengunjung
Kolaborasi
1. Ambil spesemen untuk kultur
2. Berikan antiseptic topikak, antibiotic sistemik.

D. EVALUASI
1. Terjadi penurunan tanda fisiologis intoleransi, mis, nadi, pernapasan, dan TD
masih dalamrentang normal pasien.
2. Tidak ada tanda terjadinya malnutrisi. Klien menunjukan perilaku, perubahan
pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan berat badan
yang sesuai.
3. Perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi dapat diidentifikasi.
4. Fungsi usus mulai kembali normal.

DAFTAR PUSTAKA
Morgan Geri, dkk. 2009. Obstetri dan Ginekologi Pansuan Praktik. Jakarta: EGC.
Loowdermilk,dkk.2005.Buku Ajar Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC.
Taber Ben-zion,M,D.1994.Kapita Selekta Kedaruratan Obstet dan
Ginekologi.Jakarta:EGC.
Prawirohardjo, Sarwono.2006.Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Meternal
dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka.
Doenges, Marilynn E,dkk.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC.
Nanda.2009.Diagnosa Keperawatan 2009-2011.Jakarta:EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gde.2001.Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan KB.Jakarta:EGC