Vous êtes sur la page 1sur 20

A.

BENDA ASING DI TELINGA


1. Definisi
Benda asing dalam suatu organ ialah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam
tubuh, yang dalam keadaan normal tidak ada. Benda asing di telinga merupakan masalah yang
sering ditemukan oleh dokter THT, dokter anak dan dokter layanan primer terutama di pelayanan
gawat darurat. Benda asing yang ditemukan di liang telinga dapat sangat bervariasi, baik berupa
benda mati atau benda hidup, seperti binatang, komponen tumbuh-tumbuhan, atau mineral.3,4
Selain itu, benda asing pada telinga merupakan salah satu kasus gawat darurat yang utama.
Kejadian tersering adalah pada telinga bagian luar. Jika tidak ditatalaksana dengan baik, maka
dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi seperti perforasi membran timpani, gangguan
pendengaran dan edema pada liang telinga.
2. Etiologi dan Faktor Resiko
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan benda asing diliang telinga yaitu :
a. Faktor kesengajaan, biasanya terjadi pada anak-anak balita.
b. Faktor kecerobohan sering terjadi pada orang dewasa sewaktu menggunakan alat-alat
pembersih telinga misalnya kapas, tangkai korek api atau lidi yang tertinggal di dalam telinga.
c. Faktor kebetulan terjadi tanpa sengaja dimana benda asing masuk kedalam telinga contoh
masuknya serangga, kecoa, lalat dan nyamuk.

3. Manifestasi Klinis
Pasien dewasa pada umumnya dapat mengatakan kepada pemeriksa bahwa ada sesuatu
dalam telinganya. Sementara pada anak, berdasarkan usianya, mungkin dapat mengetahui bahwa
ada benda asing dalam telinganya atau muncul dengan keluhan nyeri telinga atau telinga berair.
Pasien mungkin dapat merasakan ketidaknyamanan dan keluhan mual atau muntah jika ada
serangga yang hidup di liang telinga. Gejala lainnya dapat berupa gangguan pendengaran atau
rasa penuh di liang telinga.
Pada pemeriksaan fisik, temuan dapat bervariasi tergantung benda dan lama waktu benda
tersebut sudah berada di liang telinga. Benda asing yang baru saja masuk ke dalam telinga
biasanya muncul tanpa kelainan selain adanya benda asing tersebut yang terlihat secara langsung
atau dengan otoskopi. Nyeri atau perdarahan dapat terjadi pada benda yang melukai liang telinga
atau jika terjadi ruptur membran timpani, atau akibat usaha pasien yang memaksakan
pengeluaran benda tersebut. Jika sudah terlambat, dapat ditemukan eritema, pembengkakan dan
sekret berbau dalam liang telinga. Serangga dapat merusak liang telinga atau membran timpani
melalui gigitan atau sengatan.
Efek dari masuknya benda asing tersebut ke dalam telinga dapat berkisar dari tanpa gejala
sampai dengan gejala nyeri berat dan adanya penurunan pendengaran.

1
a. Merasa tidak enak ditelinga
Karena benda asing yang masuk pada telinga, tentu saja membuat telinga merasa tidak enak,
dan banyak orang yang malah membersihkan telinganya, padahal membersihkan akan
mendoraong benda asing yang mauk kedalam menjadi masuk lagi.
b. Tersumbat
Karena terdapat benda asing yang masuk kedalam liang telinga, tentu saja membuat telinga
terasa tersumbat.
c. Pendengaran terganggu
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian
tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas
sistem pengantaran suara ke telinga tengah.
d. Rasa nyeri telinga (otalgia)
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,
terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak.
Nyeri merupakan tanda berkembangnya komplikasi telinga akibat benda asing.
4. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tidak ada pemeriksaan
laboratorium ataupun radiologi yang direkomendasikan sebagai pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik adalah alat diagnostik yang utama. Otoskop dapat digunakan sambil menarik
pinna ke arah posterosuperior. Pada pasien yang dicurigai terdapat gangguan pendengaran dapat
dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni. CT scan dapat dilakukan untuk menentukan
lokasi dan komplikasi akibat benda asing.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan dengan Otoskopik
Mekanisme :
 Bersihkan serumen
 Lihat kanalis dan membran timpani
Interpretasi :
 Warna kemerahan, bau busuk dan bengkak menandakan adanya infeksi
 Kemungkinan gendang mengalami robekan.
 Warna kebiruan dan kerucut menandakan adanya tumpukan darah dibelakang gendang.
b. Pemeriksaan Ketajaman
Test penyaringan sederhana
 Lepaskan semua alat bantu dengar
 Uji satu telinga secara bergiliran dengan cara tutup salah satu telinga

2
 Berdirilah dengan jarak 30 cm
 Tarik nafas dan bisikan angka secara acak (tutup mulut)
c. Uji Ketajaman Dengan Garpu Tala
Uji weber
 Menguji hantaran tulang (tuli konduksi)
 Pegang tangkai garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
 Letakan tangkai garpu tala pada puncak kepala pasien.
 Tanyakan pada pasien, letak suara dan sisi yang paling keras.
Interpretasi
 Normal: suara terdengar seimbang (suara terpusat pada ditengah kepala)
 Tuli kondusif: suara akan lebih jelas pada bagian yang sakit (obstruksi: otosklerosis, OM)
akan menghambat ruang hampa.
 Tuli sensorineural: suara lateralisasi kebagian telinga yang lebih baik.
Uji Rine
 Membandingkan konduksi udara dan tulang
 Pegang garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
 Sentuhkan garpu tala pada tulang prosesus mastoid, apabila bunyi tidak terdengar lagi
pindahkan kedepan lubang telinga (2 cm)
 Tanyakan pasien, kapan suara tak terdengar (hitungan detik)
 Ulangi pada telinga berikutnya
Interpretasi
 Normal: terdengar terus suara garpu tala.
 Klien dengan tuli kondusif udara: mendengar garpu tala lebih jelas melalui konduksi
tulang (Rinne negatif).
6. Penatalaksanaan
Berikut beberapa benda asing yang sering masuk ke telinga dan penangangan pertama yang bisa
dilakukan:
a. Air : Sering kali saat kita heboh mandi, berenang dan keramas, membuat air masuk ke dalam
telinga. Jika telinga dalam keadaan bersih, air bisa keluar dengan sendirinya. Tetapi jika di
dalam telinga kita ada kotoran, air justru bisa membuat benda lain di sekitarnya menjadi
mengembang dan air sendiri menjadi terperangkap di dalamnya. Segera kunjungi dokter
THT untuk membersihkan kotoran kuping yang ada.
b. Cotton Buds : Cotton buds tidak di anjurkan secara medis untuk membersihkan telinga.
Selain kapas bisa tertinggal di dalam telinga, bahaya lainnya adalah dapat menusuk selaput
gendang bila tidak hati-hati menggunakannya. Basahi cotton buds dengan menggunakan air

3
hangat, jangan menggunakan cotton buds dalam keadaan kering atau berminyak karena itu
memungkinkan terjadinya iritasi pada telinga.
c. Benda-benda kecil : Anak-anak kecil sering tidak sengaja memasukkan sesuatu ke dalam
telinganya. Misalnya, manik-manik mainan. Jika terjadi, segera bawa ke dokter THT.
Jangan coba-coba mengeluarkannya sendiri, karena bisa menimbulkan masalah baru. Di
ruang praktek, dokter mempunyai alat khusus untuk mengeluarkan benda tersebut dan
disertai dengan keterampilan khusus untuk menangani masalah ini.
d. Serangga : Bila telinga sampai kemasukan semut, berarti ada yang salah dengan bagian
dalam telinga. Pada prinsipnya, telinga punya mekanisme sendiri yang dapat menghambat
binatang seperti semut untuk tidak masuk ke dalam.
Liang telinga luar terdiri dari bagian tulang rawan dan bagian tulang yang dilapisi oleh lapisan
tipis dari kulit dan periosteum. Bagian tulang sangat sensitif karena kulit hanya memberikan
sedikit bantal yang melapisi periosteum. Dengan demikian, upaya mengeluarkan benda asing
dapat sangat menyakitkan.
Selain itu, liang telinga luar menyempit di bagian perhubungan antara bagian tulang rawan
dan bagian tulang. Benda asing dapat menjadi tersangkut di tempat tersebut sehingga
meningkatkan kesulitan pada saat dikeluarkan. Upaya untuk mengeluarkan benda asing mungkin
akan mendorongnya lebih jauh ke dalam liang telinga dan tersangkut di titik yang sempit
tersebut. Selain itu, membran timpani dapat rusak akibat penekanan benda asing yang terlalu
dalam atau akibat peralatan yang digunakan selama proses pengangkatan. Oleh sebab itu,
visualisasi yang adekuat, peralatan yang memadai, pasien yang kooperatif, dan kemampuan
dokter adalah kunci untuk mengangkat benda asing. Tindakan pengangkatan benda asing dari
telinga diindikasikan apabila terdapat visualisasi yang baik dari benda asing yang teridentifikasi
di dalam liang telinga luar.

Benda asing yang tersumbat di bagian sempit di liang telinga.

4
Kontraindikasi pengangkatan benda asing adalah sebagai berikut:
Adanya perforasi membran timpani, kontak antara benda asing dengan membran timpani, atau
tidak bagusnya visualisasi liang telinga, sehingga diindikasikan untuk konsultasi emergensi THT
untuk pengangkatan melalui operasi mikroskopik dan spekulum.
Apabila terdapat baterai alat bantu dengar, sehingga konsultasi emergensi THT selalu
dilakukan karena dapat menyebabkan nekrosis dalam waktu singkat dan menyebabkan perforasi
membran timpani dan komplikasi lainnya. Jadi, irigasi tidak boleh dilakukan pada kasus seperti
ini, karena dapat menyebabkan percepatan proses nekrotik.
Banyak teknik untuk tatalaksana benda asing ditelinga yang tersedia, dan pilihan tergantung
pada situasi klinis, jenis benda asing yang dicurigai, dan pengalaman dokter. Pilihan meliputi
irigasi air, forsep pengangkat (misal: forsep alligator), loop
cerumen, right-angle ball hooks, dan kateter hisap. Serangga hidup dapat dibunuh cepat dengan
menanamkan alkohol, 2% lidokain (Xylocaine), atau minyak mineral ke liang. Hal ini sebaiknya
dilakukan sebelum pengangkatan, tetapi tidak boleh digunakan jika membran timpani mengalami
perforasi. Benda asing berbentuk bulat tidak dapat diangkat dengan forsep.
Metode ini menimbulkan rasa nyeri dan dapat mengakibatkan laserasi di liang telinga dan
benda asing masuk lebih dalam sehingga membutuhkan bius umum untuk mengangkatnya.
Teknik irigasi dapat dilakukan untuk benda yang kecil dan dekat dengan membran timpani.5
Aseton dapat digunakan untuk melarutkan benda asing styrofoam atau untuk melunakkan
cyanoacrylate (contoh: lem perekat).
Tindakan pertama untuk mengangkat benda asing sangat penting karena angka keberhasilan
dapat berkurang jika tindakan pertama gagal. Selain itu, komplikasi akan meningkat jika
pengangkatan berulangkali gagal. Pada saat pengangkatan sering dirasakan nyeri, dan dapat
menyebabkan perdarahan yang menyebabkan keterbatasan visualisasi.
Oleh sebab itu kadang diperlukan sedasi atau anestesi. Indikasi lainnya meliputi pasien yang
mengalami trauma pada membran timpani, benda asing yang melekat kuat pada 2/3 medial liang
telinga atau yang dicurigai menyentuh membran timpani, benda asing dengan pinggir yang tajam
(seperti pecahan kaca) atau kegagalan pengangkatan yang berulang-ulang.
Benda asing yang lebih dari satu tidak jarang pula dijumpai, terutama pada anak. Oleh sebab
itu, orifisium lainnya di kepala harus dilihat setelah pengangkatan benda asing dari liang telinga
luar. Antibiotik tetes telinga diperlukan pada pasien dengan otitis eksterna dan harus
dipertimbangkan jika terdapat laserasi atau trauma liang telinga.

5
B.BENDA ASING DI JALAN NAPAS
1. Definisi
Benda asing di dalam suatu organ ialah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam
tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada. Dengan demikian benda asing dijalan nafas adalah
benda yang terdapat pada alat-alat pernafasan yang normalnya tidak ada. Benda asing tersebut
dapat terhisap mulai dari hidung hingga traktus trakeo-bronkial.
Benda asing yang berasal dari luar tubuh, disebut benda asing eksogen, biasanya masuk
melalui hidung dan mulut sedangkan yang berasal dari dalam tubuh disebut benda asing
endogen.
Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair atau gas. Benda eksogen padat terdiri dari
zat organik, seperti kacang-kacangan(dari tumbuhan), tulang (dari kerangka binatang), dan zat
anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu lain-lain. Benda asing eksogen cair terbagi dalam
benda cair bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair non-iritatif, yaitu dengan ph 7,4.
Benda asing endogen dapat berupa sekret kental, darah dan bekuan darah,nanah krusta cairan
amnion, mekonium dapat masuk kedalam saluran nafas bayi pada saat proses persalinan.
2. Etiologi dan Faktor Resiko
Terdapat bebrapa faktor resiko yang mempermudah terjadinya benda asing kedalam saluran
pernafasan yaitu sebagai berikut:
a. Faktor personal, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal.
b. Faktor kegagalan mekanisme proteksi normal, misal keadaan tidur, kesadaran menurun,
alkoholisme, dan epilepsi.
c. Faktor fisik yaitu kelainan dan penyakit neurologik.
d. Proses menelan surgical misal tindakan bedah , ekstraksi gigi, dan gigi molar yang belum
tumbuh pada anak umur <4tahun.
e. Faktor kejiwaan, misal emosi dan gangguan psikis.
f. Faktor ukuran dan bentuk serta sifat benda asing.
g. Faktor kecerobohan, seperti meletakkan benda asing dimulut, persiapan makan yang kurang
baik , makan dan minum yang tergesa-gesa, makan sambil bermain pada anak-anak, dan
memberikan kacang atau permen pada anak yang gigi molarnya belum lengkap.
Benda asing bronkus paling sering berada di bronkus kanan, karena bronkus utama kanan
lebih besar dan membentuk sudut lebih kecil terhadap trakea dibandingkan bronkus kiri.
3. Gejala Klinis
Gejala sumbatan benda asing di saluran nafas tergantung pada lokasi benda asing, derajat
sumbatan, bentuk dan ukuran benda asing. benda asing yang masuk melalui hidung dapat
tersangkut di hidung, nasofaring, laring, trakea, dan bronkus. Benda yang masuk melalui mulut

6
dapat berhenti di orofaring, hipofaring, tonsil, dasar lidah, sinus piriformis, esophagus atau dapat
tersedak masuk ke laring, trakea dan bronkus.
Seseorang yang mengalami aspirasi benda asing akan mengalami 3 stadium:
a. Stadium pertama : gejala permulaan yaitu batuk-batuk hebat secara tiba-tiba, rasa tercekik,
rasa tersumbat ditenggorokan, bicara gagap dan obstruksi jalan nafas.
b. Stadium kedua : gejala stadium permulaan diikuti oleh interval asimtomatik hal ini terjadi
karena benda asing tersangkut, reflek-reflek akan melemah dan gejala rangsangan akut
menghilang. Stadium ini berbahaya sering menyebabkan keterlambatan diagnosis dan
cenderung mengabaikan kemungkinan aspirasi benda asing karena gejala dan tanda tidak
jelas.
c. Stadium ketiga : telah terjadi gejala komplikasi dengan obstruksi, erosi atau infeksi sebagai
akibat reaksi terhadap benda asing sehingga timbul batuk-batuk, himoptisis, pneumonia, dan
abses paru.
Benda asing di hidung
Pada anak sering luput dari perhatian orangtua karena tidak ada gejala dan bertahan dalam waktu
yang lama. Dapat timbul rinolith disekitar benda asing.
Gejala yang paling sering adalah hidung tersumbat , rinorea unilateral dengan cairan kental dan
berbau. Kadang-kadang terdapat rasa nyeri, demam, epistaksis dan bersin. Pada pemeriksaan
tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat terjadi ulserasi. Benda asing
biasanya tertutup oleh mukopus, sehingga disebut sinusitis. Dalam hal demikian bila akan
menghisap mukopus haruslah berhati-hati supaya benda asing itu tidak dapat masuk kelaring,
trakea dan bronkus. Benda asing seperti karet busa, sangat cepat menimbulkan sekret yang
berbau busuk.
Benda asing di orofaring dan hipofaring
Benda asing di orofaring dan hipofaring dapat tersangkut antaralain di tonsil, dasar lidah,
valekula, sinus piriformis yang menimbulkan rasa nyeri pada waktu menelan (odinofagi) baik
makanan maupun ludah. Terutama bila benda asing tajam seperti tulang ikan, tulang ayam.
Untuk memeriksa dan mencari benda itu di dasar lidah, vanekula dan sinus piriformis diperlukan
kaca tenggorokan yang besar.
Benda asing di laring
Benda asing dilaring dapat menutup laring, tersangkut diantara pita suara atau ada di subglotis.
Gejala sumbatan laring tergantung pada besar, bentuk dan letak benda asing.
a. Sumbatan total dilaring akan menyebabkan: Keadaan gawat biasanya kematian mendadak
karena terjadi afiksia dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh timbulnya spasme laring
dengan gejala antara lain disfonia sampai afonia, apne dan sianosis.

7
b. Sumbatan tidak total di laring akan menyebabkan: Gejala suara parau, difonia sampai
afonia, batuk disertai sesak, odinofagia, mengi, sianosis, hemoptisis, dan rasa subjektif dari
benda asing( pasien akan menujukan lehernya sesuai dengan letak benda asing itu
tersangkut) dan dispne dengan derajat bervariasi. Gejala ini jelas bila benda asing masih
tersangkut dilaring , dapat juga benda asing turun ke trakea, tapi masih meninggalkan reaksi
laring oleh karena edema.
Benda asing di trakea
Disamping gejala batuk dengan tiba-tiba yang berulang-ulang dengan rasa tercekik (choking),
rasa tersumbat ditenggorokan (gagging), terdapat gejala patonomomik yaitu audible slap,
pappatory thud dan asthmatoid wheeze ( nafas bunyi saat ekspirasi) . benda asing di trakea yang
masih dapat digerakkan, pada saat benda asing itu sampai di karina, dengan timbulnya batuk,
benda asing akan terlempar ke laring. Sentuhan benda asing dapat terasa merupakan getaran di
derah tiroid yang disebut oleh jackson sebagai palpatory trud atau dapat dapat didengar oleh
stetoskop di daerah tiroid, yang disebut audible slap. Selain itu terdapat juga gejala suara serak,
dispne dan sianosis, tergantung pada besar benda asing serta lokasinya. Gejala palpatory thud
serta audible slap lebih jelas teraba atau terdengar bila pasien tidur terlentang dengan mulut
terbuka saat batuk, sedangkan gejala mengi (asthmatoid wheeze) dapat didengar pada saat
pasien membuka mulut dan tidak ada hubungannya dengan penyakit asma bronkial.
Benda asing di bronkus
Lebih banyak masuk kebronkus kanan karena bronkus kanan hampir merupakan garis lurus
dengan trakea, sedangkan bronkus kiri membuat sudut dengan trakea. Pasien dengan benda asing
di bronkus datang ke rumah sakit kebanyakan berada pada fase asimtomatik. Pada fase ini
keadaan umum pasien masih baik dan foto rontgen toraks belum memperlihatkan kelainan.
Pada fase pulmonum, benda asing berada di bronkus dan dapat digerakan ke perifer. Pada fase
ini udara dapat masuk ke segmen paru terganggu secara progresif dan pada auskultasi terdengar
ekspirasi memanjang disertai dengan mengi. derajat sumbatan bronkus dan gejala yang
ditimbulkannya bervariasi, tergantung pada bentuk, ukuran, dan sifat benda asing dan dapat
timbul emfisema, atelektasis, drowned lung serta abses paru.
Benda asing organik menyebabkan reaksi yang hebat pada saluran nafas dengan gejala
laringotrakeabronkitis, toksemia, batuk, dan demam ireguler. Tanda fisik benda asing di bronkus
bervariasi, karena perubahan posisi benda asing dari satu sisi ke sisi yang lain dalam paru.
4.Diagnosis : Diagnosis klinis benda asing ditegakkan berdasarkan anamnesis adanya riwayat
tersedak sesuatu, tiba-tiba timbul choking (rasa tercekik) gejala, tanda pemeriksaan fisik dengan
auskultasi, palpasi dan pemeriksaan radiologik sebagai pemeriksaan penunjang.

8
5. Pemeriksaan Penunjang
Pada kasus benda asing di saluran nafas dapat dilakukan pemeriksaan radiologik dan
laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis. Benda asing yang bersifat radioopak
dapat dibuat Ro foto segera setelah kejadian, sedangkan benda asing yang berasal dari
radiolusen ( seperti kacang-kacangan) dibuat Ro setelah 24 jam kejadian, karena sebelum 24 jam
kejadian belum menunjukan gambaran radiologis yang berarti. Biasanya setelah 24 jam baru
tampak tanda atelektasis atau emfisema.
a. Pemeriksaan radiologi
Leher dalam posisi tegak untuk menilai jaringan lunak leher dan pemeriksaan torak postero
anterior dan lateral sangat penting pada aspirasi benda asing. Pemeriksaan toraks lateral
dilakukan dengan lengan di belakang punggung, leher dalam fleksi dan kepala ekstensi untuk
melihat keseluruhan jalan nafas dari mulut sampai karina. Karena benda asing sering
tersangkut di orifisium bronkus utama atau lobus.
b. Video fluoroskopi
Merupakan cara terbaik untuk melihat saluran nafas secara keseluruhan, dapat mengevaluasi
pada saat ekspirasi dan inspirasi dan adanya obstruksi parsial. Emfisema parsial merupakan
bukti radioopak pada benda asing disaluran nafas setelah 24 jam benda teraspirasi. Gambaran
emfisema tampak sebagai pergeseran mediastinum kesisi paru yang sehat pada saat ekspirasi
dan pelebaran intercostal.
c. Bronkogram
Berguna untuk benda asing radiolusen yang berada di perifer pada pandangan endoskopi,
serta perlu untuk menilai bronkiektasis akibta benda asing yang lama berada di bronkus.
d. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium darah diperlukan utuk mengetahui adanya gangguan keseimbangan
asam basa serta tanda infeksi traktus trakeobronkial.
6. Penatalaksanaan
Untuk dapat menanggulangi kasus aspirasi benda asing dengancepat dan tepat perlu diketahui
dengan sebaik-baiknya gejala disetiap lokasi tersangkutnya benda asing tersebut.
a. Benda asing dihidung
Cara mengeluarkan benda asing dari dalam hidung ialah dengan memakai pengait (haak) yang
dimasukan kedalam hidung dibagian atas, menyusuri atap kavum nasi sampai menyentuh
nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit dan ditarik kedepan. Dengan cara benda asing
itu akan ikut terbawa keluar. Dapat pula menggunakan cunam nortman atau “wire
loop”.Tidaklah bijaksana bila mendorong benda asing dari hidung kearah nasofaring dengan

9
maksud supaya masuk kedalam mulut. Dengan cara itu benda asing dapat masuk kelaring dan
saluran nafas, sehingga menimbulkan keadaan yang gawat.
Pemberian antibiotik sistemik selama 5-7 hari hanya diberikan pada kasus benda asing hidung
yang telah menimbulkan infeksi hidung.
Benda asing ditonsil dapat diambil dengan memakai pinset atau cunam. Biasanya yang
tersangkut ditonsil adalah benda tajam seperti tulang ikan, jarum atau kail.
b. Benda asing di dasar lidah
Dapat dilihat dengan kaca tenggorokan yang besarpasien diminta menarik lidahnya sendiri dan
pemeriksa memegang kaca tenggorokan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kiri memegang
cunam untuk mengambil benda tersebut. Bila pasien sangat perasa sehingga sulit dilakukan
tindakan, sebelumnya dapat disemprotkan obat seperti xylocain atau pantokain ( anastetikum).
c. Benda asing di laring
Pasien dengan dilarang harus diberikan pertolongan dengan segera, karena afiksia dapat terjadi
dalam waktu hanya beberapa menit.

Pada anak dengan sumbatan total laring dapat dicoba menolongnya dengan memegang
anak dengan posisi terbalik, kepala kebawah, kemudian daerah punggung/tengkuk
dipukul, sehingga diharapkan benda asing dapat di batukan ke luar.

10
Cara lain untuk mengeluarkan benda asing yang menyumbat laring secara total ialah
dengan cara perasat dari Heimlich (Heimlich maneuver) dapat dilakukan pada anak
maupun dewasa. Menurut teori heimlich benda asing masuk kedalam laring ialah pada
waktu inspirasi.
Dengan perasat heimlich dilakukan penekanan pada paru, caranya ialah bila pasien
masih dapat berdiri maka penolong dapat berdiri di belakang pasien. Kepalan tangan
kanan penolong diletakkan diatas prosesus xifoid, sedangkan tangan kirinya diletakkan
diatasnya. Kemudian dilakukan penekanan kebelakang dan ke atas kearah paru beberapa
kali, sehingga diharapkan benda asing akan terlempar keluar dari mulut pasien.
Bila pasien sudah terbaring karena pingsan, maka penolong bersetumpu pada lututnya
di kedua sisi pasien, kepalan tangan diletakkan di bawah prosesus xifoid , kemudian
dilakukan penekanan kebawah kearah paru pasien beberapa kali, sehingga benda asing
akan terlempar keluar mulut. Pada tindakan ini posisi muka pasien harus lurus, leher
jangan di tekuk kesamping, supaya jalan nafas merupakan garis lurus.
Komplikasi perasat heimlich ialah kemungkinan terjadi ruptur lambung atau hati dan
fraktur iga. Oleh karena itu pada anak sebaiknya cara menolongnya tidak dengan
menggunakan kepalan tangan, tetapi cukup dengan dua buah jari kiri dan kanan.
Pada sumbatan benda asing tidak total di laring, perasat heimlich tidak dapat
digunakan. Dalam hal ini pasien masih dapat dibawa kerumah sakit terdekat untuk diberi
pertolongan dengan dengan menggunakan laringoskop atau bronkoskop, atau kalau alat-
alat itu tidak ada, dilakukan trakeostomi, pasien tidur dengan posisi trendelenburg, kepala
lebih rendah dari badan, supaya benda asing tidak turun di trakea. Kemudia pasien dapat
dirujuk kerumah sakit yang mempunyai fasilitas laringoskopi atau bronkoskopi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut dengan cunam. Tindakan ini dapat dilakukan dengan
anestesi (umum) atau analgesia (lokal).
d. Benda asing di trakea
Benda asing ditrakea dikeluarkan dengan bronkoskopi, tindakan ini merupakan tindakan
yang harus dilakukan segera, dengan pasien tidur telentang posisi trendelenburg, supaya
benda asing tidak turun ke bronkus.
Pada waktu bronkoskopi, benda asing dipegang dengan cunam yang sesuai dengan benda
asing itu, dan ketika dikeluarkan melalui laring diusahakan sumbu panjang benda asing
segaris dengan sumbu panjang trakea, jadi pada sumbu vertikal untuk memudahkan
pengeluaran benda asing melalui rima glotis.

11
Bila fasilitas untuk melakukan bronkoskopi tidak ada, maka pada kasus benda asing di
trakea dapat dilakukan trakeostomi dan bila benda asing itu dikeluarkan dengan memakai
cunam atau alat penghisap melalui trakeostomi. Bila tidak berhasil pasien dirujuk.
e. Benda asing di bronkus
Untuk mengeluarkan benda asing dari bronkus dilakukan bronkoskopi, menggunakan
bronkoskop kaku atau serat optik dengan memakai cunam yang sesuai dengan benda asing
itu. Tindakan bronkoskopi harus segera dilakukan apalagi bila benda bersifat organik.
Benda asing yang tidak dapat dikeluarkan dengan bronkoskopi, seperti benda asing tajam,
tidak rata dan tersangkut pada jaringan dapat dilakukan servikotomi atau torakotomi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut.
7.Pertolongan Pertama Bila Benda Masuk Ke Dalam Tubuh
Terkadang tanpa sengaja kita mendapatkan suatu kecelakaan kecil namun cukup berbahaya.
Terutama bila hal itu terjadi pada anak-anak yang sengaja atau tidak memasukkan sesuatu ke
dalam mulut, hidung bahkan ke telinganya.
a. Benda Masuk Ke Mata
Benda asing yang masuk mata biasanya kecil dan ringan. Istilah umumnya adalah “kelilipan”.
Kelilipan yang ringan dapat dibersihkan dengan jalan mencuci (mengguyur) mata dengan air
bersih. Lebih baik lagi bila menggunakan air masak. Kelilipan yang tidak terguyur dibersihkan
dengan kapas yang dibasahi dengan air bersih terlebih dahulu. Kelilipan yang tajam harus
diambil dengan hati-hati sebab apabila tergeser dapat melukai mata.
Kelilipan larutan kapur tembak ( contoh lainnya kapur tohor ) harus ditangani seperti ketika
mata terkena basa keras, yaitu seluruh muka dan mata dibasuh dengan larutan cuka encer
dengan perbandingan satu bagian cuka dicampur dengan satu bagian air. Atau bisa juga dengan
air biasa. Guyuran dilakukan secara terus menerus selama tiga puluh sampai empat puluh lima
menit dan harus mengenai bagian yang terlindung oleh kelopak mata. Selama diguyur penderita
harus menggerak-gerakkan bola matanya.
b. Benda Masuk Ke Hidung
Anak-anak kadang memasukkan biji-bijian atau manik-manik ke dalam lubang hidungnya.
Untuk mengambilnya sebaiknya diserahkan kepada dokter. Jikalau ingin mencoba
mengambilnya sendiri, pergunakan sebatang kawat berujung tumpul yang dibengkokkan seperti
kail. Masukkan kail tersebut dengan sangat hati-hati menyusup di samping benda yang masuk
tadi. Setelah melampauinya tariklah benda asing tadi perlahan-lahan.
Apabila benda tersebut belum begitu masuk ke dalam, bisa dicoba dengan cara memerintah
anak mengeluarkannya seperti ketika mengeluarkan lendir dari hidung dengan memencet
bagian hidung yang tidak kemasukan benda tersebut.

12
c. Benda Masuk Telinga
Sekali waktu mungkin bayi anda menangis tanpa sebab. Jika anda menjumpai hal demikian,
periksalah telinga bayi dengan bantuan lampu senter. Kemungkinan ada serangga yang masuk
dan menggigit. Kadang ada juga anak yang langsung menunjuk telinganya memberi isyarat
bahwa ada sesuatu yang masuk ke telinganya.
Serangga yang masuk ke telinga dapat dibunuh dengan meneteskan baby oil ataupun minyak
zaitun ke dalam liang telinga yang kemasukan serangga. Apabila belum berhasil bisa dicoba
meneteskan alkohol 70%. Jika tidak ada bahan-bahan yang tadi, bisa dicoba dengan
meneteskan obat tetes telinga beberapa kali
d. Benda Masuk Ke Tenggorokan
Makanan bahkan gigi yang lepas bisa menyangkut di tenggorokan. Dengan menggunakan jari,
rabalah tenggorokkan penderita. Usahakan untuk mengeluarkan benda tersebut. Pada anak
kecil, lindungilah jari-jari anda dari gigitannya. Bila benda masuk ke dalam saluran nafas,
dudukkan penderita di kursi. Tundukkan kepala penderita, lalu tepuk tengkuknya dengan keras.
Jika kasus ini terjadi pada anak kecil, angkat kakinya dan dijungkirkan. Kemudian tepuk
punggungnya keras-keras. Benda yang menyangkut tadi biasanya dapat terlempar keluar
dengan cara ini. Jika belum berhasil, cobalah menelungkupkan penderita. Lalu rogohlah
tenggorokkannya dengan jari kemudian cungkil benda asing yang menyangkut tadi supaya
keluar. Caranya ialah dengan memasukkan jari anda menyusuri gigi dan terus ke dinding
belakang tenggorokan. Setelah benda yang menyumbat dapat diraba, cungkillah ke arah mulut.
e. Benda Yang Tertelan
Benda yang tertelan biasanya yang berbentuk bulat. Kemungkinan bahaya yang ditimbulkan
relatif kecil, karena benda tersebut akan keluar lagi bersama kotoran. Apabila timbul gejala
semisal perut mulas atau sakit serta gejala lainnya di luar kebiasaan normal, segeralah
berkonsultasi dengan tenaga medis terdekat.
Jika benda yang tertelan termasuk benda tajam, jangan mencoba mengeluarkannya dengan obat
pencahar (laxative /obat urus-urus). Sebab akan sangat membahayakan usus. Sebaiknya
penderita diberi makanan padat seperti kentang, singkong, pisang atau roti.
f. Benda Masuk Ke Kulit
Untuk mengeluarkan jarum, duri, peluru atau serpihan kayu dan benda lain yang masuk ke
dalam kulit sebaiknya diserahkan ke tenaga medis. Namun tidak menutup kemungkinan kita
bisa mencabut sendiri apabila benda masih tampak di permukaan kulit. Untuk
mengeluarkannya kita membutuhkan alat rumah tangga seperti gunting, pisau tajam, peniti atau
jarum.
.

13
MENGHENTIKAN PERDARAHAN
A. DEFINISI
Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah. Jumlahnya dapat bermacam-macam,
mulai dengan sedikit sampai yang dapat menyebabkan kematian. Luka robekan pada pembuluh
darah besar di leher, tangan dan paha dapat menyebabkan kematian dalam satu sampai tiga menit.
Sedangkan perdarahan dari aorta atau vena cava dapat menyebabkan kematian dalam 30 detik.
Sedangkan menurut dr. Hamidi (2011) perdarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh
darah karena pembuluh tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan karena
benturan fisik, sayatan, atau pecahnya pembuluh darah yang tersumbat.
B. MACAM-MACAM PERDARAHAN
Perdarahan dibagi menjadi dua yaitu:
1. Perdarahan External
Perdarahan external yaitu perdarahan dimana darah keluar dari dalam
tubuh. Perdarahan external dibagi menjadi tiga macam yaitu (Petra & Aryeh, 2012):
a. Perdarahan dari pembuluh kapiler
Tanda-tanda perdarahan dari pembuluh kapiler antara lain:
1) Perdarahannya tidak hebat
2) Darah keluarnya secara perlahan-lahan berupa rembesan
3) Biasanya perdarahan akan berhenti sendiri walaupun tidak diobati
4) Perdarahan mudah dihentikan dengan perawatan luka biasa
5) Darah yang keluar umumnya berwarna merah terang
b. Perdarahan dari pembuluh darah balik (vena)
Tanda-tanda perdarahan dari pembuluh darah vena antara lain:
1) Warna darah umunya merah tua (berupa darah kotor yang akan dicuci dalam paru-paru, kadar
oksigennya sedikit)
2) Pancaran darah tidak begitu hebat jika dibandingkan dengan pancaran darah arteri
3) Perdarahan mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan meninggikan anggota badan
yang luka lebih tinggi dari jantung
c. Perdarahan dari pembuluh darah arteri
Tanda-tanda perdarahan dari pembuluh darah arteri antara lain:
1) Darah yang keluar umumnya berwarna merah muda (merupakan darah bersih karena habis
dicuci didalam paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh)
2) Darah keluar secara memancar sesuai irama jantung
3) Biasanya perdarahan sulit untuk dihentikan

14
2. Perdarahan Internal
Perdarahan internal yaitu perdarahan yang terjadi di dalam rongga dada, rongga tengkorak dan
rongga perut. Dalam hal ini darah tidak tampak mengalir keluar, tetapi kadang-kadang dapat keluar
melalui lubang hidung, telinga, mulut dan anus. Perdarahan internal dapat diidentifikasi dari tanda-
tanda pada korban sebagai berikut (Hamidi, 2011):
a. Setelah cidera korban mengalami syok tetapi tidak ada tanda-tanda perdarahan dari luar
b. Tempat cidera mungkin terlihat memar yang terpola
c. Lubang tubuh mungkin mengeluarkan darah
d. Hemoptysis dan hematemisis kemungkinan menunjukkan adanya perdarahan di paru-paru atau
perdarahan saluran pencernaan
Perdarahan internal yang terjadi di rongga dada dapat menghambat pernafasan dan akan
mengakibatkan nyeri dada. Perdarahan pada rongga perut akan menyebabkan kekakuan pada otot
abdomen dan nyeri abdomen.
Beberapa penyebab perdarahan internal antara lain (Petra & Aryeh, 2012):
a. Pukulan keras, terbentur hebat.
b. Luka tusuk, kena peluru.
c. Pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit.
d. Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah.

C. TEKNIK MENGHENTIKAN PERDARAHAN


Pengendalian perdarahan bisa bermacam-macam tergantung jenis dan tingkat perdarahannya.
1. Perdarahan External
Secara umum teknik untuk menghentikan perdarahan external antara lain (Hamidi, 2011):
a. Dengan penekanan langsung pada lokasi cidera
Teknik ini dilakukan untuk luka kecil yang tidak terlalu parah, misalnya luka sayatan yang tidak
terlalu dalam. Penekanan ini dilakukan dengan kuat pada daerah pinggir luka. Setelah beberapa saat
dengan teknik ini maka sistem peredaran darah akan menutup luka tersebut.
b. Dengan teknik elevasi
Setelah luka dibalut, maka selanjutnya bisa dilakukan dengan teknik elevasi yaitu mengangkat
bagian yang luka sehingga posisinya lebih tinggi dari jantung. Apabila darah masih merembes,
maka diatas balutan yang pertama bisa diberi balutan lagi tanpa membuka balutan yang pertama.
c. Dengan teknik tekan pada titik nadi
Penekanan titik nadi ini bertujuan untuk mengurangi aliran darah menuju bagian yang luka. Pada
tubuh manusia terdapat 9 titik nadi yaitutemporal artery (di kening), facial artery (di belakang
rahang), common carotid artery (di pangkal leher, dekat tulang selangka), femoral artery (di lipatan

15
paha), popliteal artery (di lipatan lutut), posterior artery (di belakang mata kaki), dan dorsalis pedis
artery (di punggung kaki).
d. Dengan teknik immobilisasi
Teknik ini bertujuan untuk meminimalkan gerakan anggota tubuh yang luka. Dengan sedikitnya
gerakan diharapkan aliran darah ke bagian luka tersebut dapat menurun.
e. Dengan tourniquet
Tourniquet adalah balutan yang menjepit sehingga aliran darah di bawahnya terhenti sama sekali.
Saat keadaan mendesak di luar rumah sakit sehelai pita kain yang lebar, pembalut segitiga yang
dilipat-lipat, atau sepotong karet ban sepeda dapat dipergunakan untuk keperluan ini. Teknik hanya
dilakukan untuk menghentikan perdarahan di tangan atau di kaki saja. PanjangTourniquet haruslah
cukup untuk dua kali melilit bagian yang hendak dibalut. Tempat yang terbaik untuk
memasang Tourniquet lima jari di bawah ketiak (untuk perdarahan lengan) dan lima jari di bawah
lipat paha (untuk perdarahan di kaki). Teknik ini merupakan pilihan terakhir, dan hanya diterapkan
jika kemungkinan ada amputasi. Bagian lengan atau paha atas diikat dengan sangat kuat sehingga
darah tidak bisa mengalir. Tourniquet dapat menyebabkan kerusakan yang menetap pada saraf, otot
dan pembuluh darah dan mungkin berakibat hilangnya fungsi dari anggota gerak tersebut.
Sebaiknya teknik ini hanya dilakukan oleh mereka yang pernah mendapatkan pelatihan. Jika keliru,
teknik ini justru akan membahayakan. Saat penanganan di luar rumah sakit, maka dahi korban yang
mendapatkan tourniquet diberi tanda silang sebagai penanda dan korban harus segera dibawa ke
rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Jika korban tidak segera mendapatkan penanganan
maka bagian yang luka akan dapat membusuk. Cara melakukan teknik ini adalah sebagai berikut
(Petra & Aryeh, 2012):
1) Buat ikatan di anggota badan yang cedera (sebelum luka) dengan verban yang lebarnya 4 inci dan
buatlah 6 – 8 lapis. Kalau tidak ada verban bisa pakai bahan yang telah disebutkan diatas tadi.
Kemudian buat simpul pada ikatan tersebut
2) Selipkan sebatang kayu dibawah ikatan itu.
3) Kencangkan kedudukan kayu itu dengan cara memutarnya.
4) Agar kayu tetap erat dudukannya, ikat ujung yang satunya.

16
Menurut M. Sholekhudin (2011) dalam Seri P3K perdarahan berat, maka teknik menghentikan
perdarahan saat melakukan pertolongan pertama adalah sebagai berikut:
a. Pastikan penderita selalu dalam keadaan berbaring. Perdarahan berat tidak boleh ditangani
sementara korban dalam keadaan duduk atau berdiri.
b. Jika mungkin, posisikan kepalanya sedikit lebih rendah daripada badan, atau angkat bagian tungkai
kaki. Posisi ini bisa mengurangi risiko pingsan dengan cara meningkatkan aliran darah ke otak.
c. Angkat bagian yang berdarah setinggi mungkin dari jantung. Misalnya, jika yang berdarah bagian
betis, letakkan betis tersebut di atas tumpuan, sehingga posisinya lebih tinggi dari badan.
d. Buang kotoran dari luka, tapi jangan mencoba mencabut benda yang menancap dalam.
e. Berikan tekanan langsung di atas luka. Gunakan pembalut yang bersih. Jika tidak ada, gunakan
sapu tangan atau potongan kain. Jangan sekali-kali “memeriksa” perdarahan dengan cara
menyingkap pembalut.
f. Jika darah masih terus merembes, kuatkan tekanan. Tambahkan sapu tangan lagi di atasnya, tanpa
perlu membuang sapu tangan pertama. Hal ini dilakukan karena di dalam darah yang keluar
terdapat faktor-faktor pembekuan.
g. Pertahankan tekanan hingga perdarahan berhenti. Jika telah mampet, balut luka dengan verban,
langsung di atas kain penyerap. Jika tidak ada verban, gunakan potongan kain biasa. Kemudian
segera bawa korban ke rumah sakit.

17
Elevasi bagian yang luka

Sedangkan menurut Standard Prosedur Operasional (SPO) RS. Siti Khodijah teknik menghentikan
perdarahan untuk unit terkait Intensive Care Unit dan Unit Gawat Darurat adalah sebagai berikut:
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
b. Petugas menggunakan alat pelindung diri ( kaca mata safety, masker,handscoen, dan scort )
c. Perawat I menjalankan tugas:
 Menekan pembuluh darah proximal dari luka, yang dekat dengan permukaan kulit dengan
menggunakan jari tangan
 Mengatur posisi dengan cara meninggikan daerah yang luka
d. Perawat II menjalankan tugas:
 Mengatur posisi pasien
 Memakai sarung tangan steril
 Meletakkan kain kasa steril diatas luka, kemudian ditekan dengan ujung-ujung jari.
 Meletakkan lagi kain kasa steril diatas kain kasa yang pertama, kemudian tekan dengan ujung
jari bila perdarahan masih berlangsung. Tindakan ini dapat dilakukan secara berulang sesuai
kebutuhan tanpa mengangkat kain kasa yang ada
e. Melakukan balut tekan
 Meletakkan kain kasa steril diatas luka
 Memasang verban balut tekan, kemudian letakkan benda keras (verban atau kayu balut) di atas
luka
 Membalut luka dengan menggunakan verban balut tekan
f. Memasang tourniquet untuk luka dengan perdarahan hebat dan traumatik amputasi
 Menutup luka ujung tungkai yang putus (amputasi) dengan menggunkan kasin kasa steril
 Memasang tourniquet ± 10 cm sebelah proximal luka, kemudian ikatlah dengan kuat.
 Tourniquet harus dilonggarkan setiap 15 menit sekali secara periodik
g. Memasang SB Tube
 Menyiapkan peralatan untuk memasang SB Tube
 Mengatur posisi pasien
 Mendampingi dokter selama pemasanagn SB tube
 Mengobservasi tanda vital pasien
h. Hal–hal yang harus diperhatikan pada pemasangan tourniquet dan SB Tube:
1) Pemasangan tourniquet merupakan tindakan terakhir jika tindakan lainnya tidak berhasil, hanya
dilakukan pada keadaan amputasi atau sebagai “ live saving “

18
2) Selama melakukan tindakan perhatikan:
 Kondisi pasien dan tanda vital
 Expresi wajah
 Perkembangan pasien
3) Pemasangan SB tube dilanjutkan dengan pengompresan dan irigasi melalui selang

2. Perdarahan Internal

Berbeda dengan perdarahan external, penanganan perdarahan internal pada korban bisa dilakukan
dengan cara sebagai berikut (Hamidi, 2011):
a. Rest : Korban diistirahatkan dan dibuat senyaman mungkin
b. Ice : Bagian yang luka dikompres es hingga darahnya membeku. Darah yang membeku ini
lambat laun akan terdegradasi secara alami melalui sirkulasi dan metabolisme tubuh.
c. Compression ; Bagian yang luka dibalut dengan kuat untuk membantu mempercepat proses
penutupan lubang atau bagian yang rusak pada pembuluh darah
d. Elevation:Kaki dan tangan korban ditinggikan sehingga lebih tinggi dari jantung.
e. Bawa korban ke rumah saki terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut
D. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN PERAWAT

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat saat memberikan pertolongan dalam
menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut:
Jika peristiwa terjadi diluar rumah sakit, maka seorang perawat dalam memberikan pertolongan
pertama sebelum menghentikan perdarahan pastikan dulu kondisinya aman baik korban, penolong
(perawat) maupun lingkungannya. Selain itu tetap menghubungi ambulance supaya cepat
mendapatkan penanganan di rumah sakit
a. Memastikan dahulu kondisi Airway, Breathing dan Circulation korban tidak terganggu
b. Perawat harus teliti dan akurat dalam melakukan pengkajian luka dan sumber perdarahan,
apakah perdarahan external ataupun internal
c. Jika perdarahan external perawat harus bisa memahami/ mengetahui tipe perdarahannya, apakah
perdarahan arteri, vena atau kapiler
d. Perawat bisa menggunting atau melepas pakaian korban yang tebal karena kemungkinan
perdarahan external tidak terlihat (tertutup pakaian tebal)
e. Melakukan teknik penghentian perdarahan sesuai dengan jenis perdarahan dan tipe
perdarahannya
f. Jika terpaksa dengan pilihan terakhir menggunakan tourniquet maka pemasangannya dilakukan
oleh perawat yang sudah mendapatkan pelatihan dan tiap 15 menit, ikatannya harus dikendurkan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Hamidi. 2011. Pertolongan Pertama. UPI. URL:file.upi.edu/Direktori/pertolongan_pertama.pdf

Petra & Aryeh. 2012. Basic of Blood Management. New York: Wiley publisher

Solekhudin. 2011. Seri P3K: Perdarahan Berat. Jakarta: Intisari Smart & Inspirasing

Thohir. 2010. Standard Prosedur Operasional (SPO) Menghentikan Perdarahan. Sidoarjo,

Jawa Timur: Rumah Sakit Siti Khodijah

20