Vous êtes sur la page 1sur 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Undang-Undang Repubil Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sitem
Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Oleh
karena itu, pemerintah sekarang sedang melakukan berbagai pengembangan di
bidang pendidikan terutama pada bagian proses pembelajarannya. Proses
pembelajaran menurut Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.19
Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 19 ayat 1, menyatakan
bahwa pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif. Sehingga siswa dalam mengembangkan kreativitas dan
kemandiriannya sesuai dengan bakat, minat, potensi, perkembangan fisik, dan
psikologis.
Keberhasilan suatu pendidikan tidak terlepas dari proses pembelajaran
disekolah. Proses pembelajaran dapat dianggap sebuah sistem karena terdapat
beberapa aspek yang berpengaruh dalam proses pembelajaran tersebut, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Diantara sekian banyak aspek yang
berpengaruh, yang dominan dalam proses belajar mengajar adalah guru dan
peserta didik. Dimana guru secara langsung berhubungan dengan siswa sebagai
objek dan subjek belajar. Guru harus terampil dalam mengajar dan mempunyai
kemampuan pedagogik yang baik, salah satunya dengan menggunakan variasi
penerapan model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep,
motivasi, dan keaktifan sisiwa dalam proses pembelajaran.
Pada abad 21 pembelajaran sains lebih menekankan pada pembelajaran
sains berbasis literasi sains. Listerasi sains sangat penting menurut Yulianti
(2017), karena siswa dapat memahami dan mengaplikasikan konsep yang telah
dipelajarai untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami peserta didik pada
kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data PISA (Programe for International
Student Assessment) kemampuan literasi sains peserta didik Indonesia masih
dibawah rata-rata jika dibandingkan dengan rerata skor internasional dan secara
umum berada pada tahapan pengukuran terendah PISA. Sebagaimana dikutip
dari The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD)
peringkat Indonesia di PISA pada tahun 2009 yaitu ke-57 dari 65 dengan
perolehan skor 383. Pada tahun 2012 Indonesia menduduki peringkat ke-64 dari
total 65 negara dengan perolehan nilai saat itu yaitu 382. Selanjutnya, pada
tahun 2015 Indonesia berada pada peringkat ke-64 dari 72 negara yang ikut
serta, dengan perolehan skor yaitu 403. Berdasarkan hasil tiga kali survey
tersebut skor siswa Indonesia pada kemampuan literasi sains masih jauh
dibawah skor standar internasional yang ditetapkan oleh lembaga OECD
(OECD, 2015).
Dari data tersebut terlihat bahwa tingkat literasi sains Indonesia masih
sangat tergolong rendah. Salah satu penyebab literasi sains siswa menjadi
rendah proses pembelajaran yang kurang mendukung siswa mengembangkan
literasi sainsnya. Menurut Wasis (2015 : 8) capaian yang kurang memuaskan
disebabkan karena siswa hanya berhasil menyelesaikan permasalahan yang
sudah dikenal, dengan informasi pendukung yang telah tersedia. Literasi sains
penting untuk dikuasai oleh peserta didik dalam kaitannya dengan cara peserta
didik itu dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-
masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern.
Dalam pembelajaran IPA perlu dikembangkannya sikap berpikir kritis dan
pemecahan suatu masalah untuk meningkatkan daya pemahaman konsep
materi. Hal ini sejalan dengan yang tercantum dalam PP No. 19 tahun 2005
tentang standar nasional pendidikan yang menyebutkan bahwa kelompok mata
pelajaran ilmu penegtahuan dan teknologi SMP/MTs dimaksudkan untuk
memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta
membududayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri. Artinya,
penguasaan berpikir kritis siswa dibutuhkan dalam pembelajaran sains di
sekolah.
Selama ini proses pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah masih
banyak dilakukan di dalam ruang kelas, dimana dalam proses pembelajarannya
peserta didik dan guru kebanyakan masih beracuan pada buku sebagai sumber
belajar. Lingkungan sekolah dapat digunakan sebagai sumber belajar,
pemanfaatn lingkungan sekolah ini dinamakan juga sebagai Outdoor Learning
dimana pembelajarannya dilakukan di luar kelas sehingga peserta didik akan
dihadapkan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang nyata.
Pengetahuan yang didapatkan peserta didik merupakan realitas dan tidak hasil
abstraksi yang panjang. Mereka berinteraksi secara langsung dengan anggota
kelompok dan lingkungan. Peserta didik dapat menemukan banyak informasi
yang relevan mengenai permasalahan. Kemudian mengaitkan antara informasi
yang diperoleh untuk menemukan solusi dari masalah tersebut dengan cara
berpikir kritis dalam memecahkan masalah tersebut.
Untuk mengarahkan siswa agar perpikir kritis dan mudah dalam
pemahaman konsep dapat menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning. Menurut Husaman (2013:92) menyatkan bahwa Problem Based
Learning menekankan bahwa siswa berperan ssebagai seorang profesional
dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul di lingkungan sekitar.
Penyelesaian masalah tersebut didahului dengan penyelidikan yang dilakukan
oleh siswa. Penyelidikan dapat dilakukan siswa didalam maupun diluar kelas.
Guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing siswa untuk mengembangkan
keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Model PBL menyajikan masalah kontekstual yang harus dipecahkan oleh
siswa. Proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh siswa akan membangun
dan mengemangkan kemampuan berpikir kriris siswa. Sejalan dengan hal
tersebut, kemampuan literasi sains siswa pun akan terbangun dengan
sendirinya dan akan berkembang selama proses pembelajaran berlangsung.
Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa penggunaan model
pembelajaran Problem Based Learning yang dilakukan oleh Hartati (2016)
dapat meningkatkan kemampuan literasi sains dengan baik. Selain itu
penelitian mengenai penggunaan model pembelajaran Problem Based
Learning terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran
IPA yang dilakukan oleh Dzikriya (2017) meunujukkan hasil yang baik.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dilakukan penelitian untuk
menegtahui lebih lanjut mengenai pengaruh model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) berbasis Outdoor Learning materi pencemaran
lingkungan terhadap kemampuan berpikir kritis dan literasi sains peserta didik.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, beberapa masalah
dapat diidentifikasi sebagai berikut
1. Pembelajaran idealnya tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja, namun
peserta didik menghabiskan sebagian besar waktu di dalam kelas, sehingga
timbul kebosanan pada saat pembelajaran.
2. Sumber belajar bukan hanya berasal dari buku, lingkungan sekitar dapat
dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Sedangkan, pemanfaatan
lingkungan sekolah sebagai sumber belajar siswa belum dilakukan secara
maksimal.
3. Penggunaan media pembelajaran masih sebatas pada Modul dan Lembar
Kerja Peserta Didik. Sedangkan dalam pembelajaran IPA dibutuhkan
berbagai macam media pembelajaran agar peserta didik lebih mudah
memahami dan termotivasi dalam proses pembelajaran.
4. Literasi sains merupakan hal penting yang harus dikuasai peserta didik
untuk mengatasi masalah terkait bidang sains dan teknologi dalam
kehidupan sehari-hari. Namun, kemampuan literasi sains peserta didik di
Indonesia masih rendah berdasarkan hasil penelitian Programme for
International Student Assesment (PISA).
5. Keaktifan peserta didik dalam mengajukan dan menjawan pertanyaan pada
saat proses pembelajaran masih kurang. Sedangkan dalam pembelajaran
IPA keterampilan berpikir harus dimiliki peserta didik agar mampu
menentukan kesimpulan dan pemecahan suatu masalah.
6. Idealnya dalam pembelajaran IPA, materi yang diajarkan sangat luas dan
dibutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk menyelesaikan suatu
masalah. Namun, peserta didik hanya belajar dengan menghafal konsep
saja.
7. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis peserta didik. Namun, dalam pembelajaran
guru masih menggunakan metode ceramah dan jarang menggunakan
model PBL.

C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya,
penelitian ini dibatasi pada identifikasi masalah nomor 2, 3, 6, dan 7, sehingga
fokus pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model Problem
Based Learning (PBL) berbasis Outdoor Learning materi pencemaran
lingkungan terhadap kemampuan berpikir kritis dan literasi sains peserta didik.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Seberapa besar pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) berbasis Outdoor Learning materi pencemaran lingkungan terhadap
kemampuan berpikir kritis siswa SMP ?
2. Seberapa besar pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) berbasis Outdoor Learning materi pecemaran lingkungan terhadap
literasi sains siswa SMP ?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan ruusan masalah yang dikemukakan, tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui seberapa besar pengaruh model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) berbasis Outdoor Learning materi pencemaran lingkungan
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP
2. Mengetahui seberapa besar pengaruh model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) berbasis Outdoor Learning materi pencemaran lingkungan
terhadap literasi sains siswa SMP

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat teoritik
a. Hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk referansi penelitian
selanjutnya yang relevan.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah dan mengembangkan
pengetahuan dalam bidang pendidikan khususnya dalam penelitian
model pembelajaran yang tepat.

2. Manfaat praktis
a. Manfaat bagi guru
1) Sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kemampuan berpikir
kritis peserta didik dalam materi pencemaran lingkungan.
2) Meningkatkan motivasi dan kinerja guru dalam melaksanakan
pembelajaran. Selain itu dapat digunakan untuk mengatasi
permasalahan dalam pembelajaran dan memperbaiki kualitas
pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
b. Manfaat bagi siswa
Siswa menjadi lebih peka dalam menyelesaikan masalahnya dalam
kehidupan sehari-hari serta dapat menambah kemampuan berpikir kritis
siswa SMP pada materi pencemaran lingkungan.
c. Manfaat bagi sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan dalam rangka
perbaikan pembelajaran di dalam kelas dan peningkatan kualitas
sekolah yang ditelliti.
d. Manfaat bagi peneliti
Penelitian ini menjadi wahana bagi peneliti dalam rangka penerapan
ilmu yang diperoleh selama kuliah sehingga menjadi bekal peneliti
sebagai calon pendidik.
Dzikriya, Anisati. (2017). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dalam
Pembelajaran IPA melalui Model Problem Based Learning (PBL) pada
Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 1 Turi (Thesis). Tersedia dari
http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/53719
Hartati, Risa. (2016). Peningkatan Aspek Sikap Literasi Sains Siswa SMP Melalui
Peneraan Model Problem Based Learning pada Pembelajaran IPA Terpadu.
Jurnal Edusains, Vol 8, No. 01: 91-97.
Husamah. 2013. Pembelajaran Luar Kelas (Oudoor Learning): Ancangan Strategis
Mengembangkan Metode Pembelajaran yang Menyenangkan, Inovatif, dan
Menantang. Jakarta: Prestasi Pustaka.
OECD. (2015). PISA 2015 Results. OECD. (http://www.businessinsider.co.id/pisa-
worldwide-ranking-of-math-science-reading-skills-2016-12/)
Wasis. (2015). Hasil pembelajaran sains di indonesia: problem & upaya
mengatasinya. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains yang
diselenggarakan oleh Pascasarjana Unesa, tanggal 24 Januari 2015.
Surabaya: Pascasarjana Unesa.
Yuliati, Yuyu. (2017). Literasi Sains Dalam Pembelajaran Ipa. Jurnal Cakrawala
Pendas, 3 (2).