Vous êtes sur la page 1sur 21

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY SEBAGAI UPAYA

MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES


MELLITUS

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY EFFORTS TO


IMPROVE THE QUALITY OF LIFE AMONG DIABETES
MELLITUS PATIENTS

Rr. Dwi Astuti


H. Fuad Nashori,
RA. Retno Kumolohadi
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Email: wiwik.psi@gmail.com

ABSTRACT
Patients with diabetes mellitus decreased quality of life associated with the complications posed
by the disease. Quality of life can also be used as a parameter related to the impact the handling of
patient treatment that has been done. The purpose of this research was to understand the effectiveness
of rational emotive behavior therapy in improving the quality of life of people with diabetes mellitus
with diabetic patients’ expectations can manage diabetes mellitus mellitus and live better. The
method used quasi-experimental method. All subjects were given the scale of quality of life of
diabetes mellitus DQOLCTQ-R. Then the experimental group was given 12 times season REBT. Then
there was a posttest to see impact of REBT on experimental group. The subjects in this study 7 people
for the experimental group and 7 for the control group. the was a significant difference between the
quality of life of people with diabetes mellitus when administered before the intervention and after
obtaining the intervention of rational emotive behavior therapy. This is indicated by the z = -3.071
with p = 0.002, for p <0.05 with a significance level of 5%. This concluded that REBT can improve
the quality of life in patients with diabetes mellitus.. Quality of life scores of the experimental group
is higher than the score of quality of life of the control group.

Keywords: rational emotive behavior therapy, quality of life, diabetes mellitus

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 211


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

ABSTRAK
Penderita diabetes mellitus mengalami penurunan kualitas hidup terkait dengan komplikasi yang
ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Kualitas hidup dapat digunakan sebagai parameter penanganan
terhadap pasien terkait dampak pengobatan yang telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui secara empirik efektivitas Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dalam
meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes mellitus dengan harapan pasien diabetes mellitus
dapat mengelola diabetes mellitus dan hidup lebih baik. Metode penelitian ini menggunakan kuasi
eksperimen. Semua subjek (7 orang untuk kelompok eksperimen dan 7 orang untuk kelompok kontrol)
diberikan skala kualitas hidup diabetes mellitus DQOLCTQ-R. Kelompok eksperimen diberikan REBT
selama 12 kali pertemuan dan pascates untuk melihat dampak REBT yang diberikan pada kelompok
ekspermen. Sementara hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kualitas
hidup penderita diabetes mellitus saat sebelum diberikan intervensi dan setelah mendapatkan
intervensi dengan hasil z = -3,071 dengan p = 0,002, karena p<0,05 dengan taraf signifikansi 5%.
Simpulannya adalah ada perbedaan yang signifikan antara skor kualitas hidup kelompok eksperimen
dengan skor kualitas hidup kelompok kontrol pada subjek penelitian. Skor kualitas hidup kelompok
eksperimen lebih tinggi dari pada skor kualitas hidup kelompok kontrol. REBT dapat meningkatkan
kualitas hidup pada penderita diabetes mellitus.

Kata kunci: Kualitas hidup, Rational Emotive Behavior Therapy, Diabetes Mellitus

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia Aventis Indonesia di Jakarta (http://www.


(WHO), Indonesia menempati urutan kabarbisnis.com, 20/11/2010)
keenam di dunia sebagai negara dengan Penelitian Goodridge dkk (2005)
jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) mengungkapkan DM dapat memengaruhi
terbanyak setelah India, Cina, Rusia, kualitas hidup para penderitanya
Jepang, dan Brazil. Penyakit kronis seperti terkait emosi negatif, efek sosial,
DM, jantung, dan kanker adalah masalah berkurangnya aktivitas sosial, kondisi
dunia yang jumlahnya terus meningkat, keluarga yang kurang kondusif seperti
tidak terkecuali di Indonesia. Data terkini menjadi tegang atau perhatian berlebih,
WHO memprediksikan jumlah penderita kerja yang sangat kurang (terhambat)
DM di Indonesia akan meningkat dari 8,4 hingga masalah keuangan. Grigg dkk
juta tahun 2000 menjadi 21,3 juta di tahun (2006) mengungkapkan penderita DM
2030. Jumlah penderita DM ini, akan mengalami penurunan kualitas hidup
lebih besar dari jumlah seluruh penduduk terkait dampak penyakit yang dialami.
Australia, sebagaimana diungkapan Kondisi psikologis penderita DM
Gilbert Julien, Presiden Direktur Sanofi- juga erat kaitannya dengan aspek

212 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

kognitif dan emosional dari strategi kualitas hidup penderita DM dapat


koping terhadap penyakit (illness-coping ditingkatkan dengan mengatur pola
strategis), yang secara tidak langsung makan, olahraga, dan mengkonsumsi
akan berpengaruh terhadap kebiasaan obat secara teratur. Kualitas hidup pasien
mencari obat. Penilaian atau kesadaran seharusnya menjadi perhatian penting
subjektif dari penderita DM bahwa dirinya bagi para profesional kesehatan karena
mampu melakukan sikap hidup tersebut dapat menjadi acuan keberhasilan dari
merupakan tanda pasien akan patuh suatu tindakan atau intervensi atau terapi.
terhadap pengobatan yang diberikan dan Di samping itu, data tentang kualitas
akan berpengaruh terhadap kualitas hidup hidup juga merupakan data awal untuk
penderita (Rose et al., 2002). Penelitian pertimbangan merumuskan intervensi/
Solli dkk (2010) juga mengungkapkan tindakan yang tepat bagi pasien.
bahwa penderita DM baik tipe 1 maupun Penelitian ini menggunakan Rational
tipe 2 mengalami penurunan kualitas Emotive Behavior Therapy (REBT)
hidup terkait ketakutan yang dialami atas sebagai upaya peningkatan kualitas hidup
komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh penderita DM. REBT adalah humanistic-
penyakit tersebut. existential-constructivist, active-directive,
Kualitas hidup merupakan hal-hal filosofi dan empirik sebagai dasar
yang terdapat pada individu (Health psychotherapeutic dan psychological
Related Quality of Life/HRQOL) yang system of theory and practices yang
meliputi aspek fisik, psikologis, dan dikembangkan oleh Albert Ellis (Corey,
sosial, dari bidang kesehatan. Kualitas 1988). Eksistensial dalam terapi REBT
hidup adalah persepsi individu terkait memiliki pandangan bahwa manusia
dengan posisinya dalam hidup, baik memiliki kebebasan dalam memilih,
dalam konteks budaya, sistem nilai namun kebebasan tersebut bertanggung
yang berkembang menyangkut tujuan jawab. Hal tersebut memiliki arti bahwa
pengharapan standar, perhatian yang manusia harus menerima segala resiko
aspeknya meliputi fisik, psikologis, sosial, yang diakibatkan oleh pilihannya.
dari bidang kesehatan yang dipengaruhi Eksistensial humanistik, yang berfokus
oleh pengalaman pribadi seseorang, pada kondisi manusia, merupakan
kepercayaan (spiritualitas) harapan serta pendekatan yang mencakup terapi-
persepsi (yang secara kolektif disebut terapi yang berlainan yang semuanya
dengan persepsi sehat) sehubungan berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-
dengan penyakit tertentu dan atau asumsi tentang manusia. Berikut ini adalah
pengobatan. konsep-konsep utama dari pendekatan
Namun, Grigg dkk (2006) dalam eksistensial yang membentuk landasan
penelitiannya juga mengungkapkan bagi praktek terapeutik, antara lain adalah

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 213


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

(a) kesadaran diri, (b) kebebasan dan membantu klien agar mampu mengatasi
tanggung jawab, serta (c) penciptaan kecemasan yang terkait dengan tindakan
makna. memilih dan menerima kenyataan.
Terapi eksistensial bertujuan agar REBT adalah cognitive-behavioral and
klien mengalami keberadaannya secara psychoeducational therapeutic system
otentik dengan menjadi sadar atas dan dengan pendekatan yang kompre-
keberadaan dan potensi-potensinya serta hensif untuk meningkatkan keberfungsian
sadar bahwa ia dapat membuka diri dan individu yang dapat diaplikasikan baik
bertindak berdasarkan kemampuannya. klinis maupun bidang lainnya. Terapi ini
Terapi ini membantu meluaskan kesadaran menggunakan metode kognitif perilaku,
diri klien, sehingga dapat membantu klien dengan menyisipkan psiko-edukasi
dalam kemampuan memilih pilihannya, dalam pelaksanaan proses terapinya.
menjadi bebas dan bertanggung jawab Terapi REBT adalah terapi konseling yang
atas kehidupannya. Penerimaan tanggung digunakan untuk memanaje masalah
jawab bukan suatu hal yang mudah, maladaptif dengan memfokuskan pada
banyak orang yang takut menerima keyakinan irasional yang memunculkan
tanggung jawab atas pilihannya. Hal emosi negatif, dan dengan terapi ini akan
tersebut dapat terjadi karena tidak adanya digantikan dengan hal yang rasional dan
jaminan-jaminan dalam pilihannya itulah produktif sebagai harapan akan mengubah
yang dapat menimbulkan kecemasan. kebiasaan individu (Egbochuku, 2007) .
Terapi eksistensial membantu klien REBT telah dipraktikan sendiri oleh
agar mampu menghadapi kecemasan Ellis, baik pada dirinya sendiri maupun
sehubungan dengan tindakan memilih kliennya yang mengalami DM (Ellis,
diri dan menerima kenyataan. Bugental 1997). Ellis mengungkapkan bahwa
(Corey, 1988) menyebutkan tiga REBT dapat membantu hidup bersahabat
karakteristik keberadaan otentik, yaitu seorang penderita DM sejak usia 40 tahun.
(a) menyadari sepenuhnya keadaan REBT juga dapat digunakan oleh klien-
sekarang, (b) memilih bagaimana hidup klien yang memiliki keterbatasan lain
pada saat sekarang, dan (c) memikul atau cacat fisik. Ellis ingin menunjukkan
tanggung jawab untuk memilih. bahwa dirinya tidak hanya merancang
beberapa filosofi yang masuk akal untuk
Active directive dalam terapi ini terapis
orang cacat, namun dirinya benar-
secara aktif membantu membimbing
benar menerapkan dalam pekerjaan dan
dan melatih klien dalam menyelesaikan
kehidupan pribadinya sendiri.
masalah, namun keputusan ada pada klien
yang bersangkutan. Terapi membantu Menurut Perkeni (Shahab, 2006),
klien untuk menyadari keadaan saat ini, DM adalah suatu penyakit di mana
kadar glukosa (gula sederhana) di

214 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

dalam darah tergolong tinggi karena membantu mengubah menjadi rasional.


tubuh tidak dapat melepaskan atau Keberfungsian pikiran-perasaan-perilaku
menggunakan insulin secara cukup. adalah inti dari kesehatan mental.
Insulin adalah hormon yang dilepaskan Pada REBT terdapat proses belajar
oleh pankreas, yang bertanggung jawab
untuk menyelesaikan suatu masalah
dalam mempertahankan kadar gula darah
tertentu. Namun hal-hal yang sudah
yang normal. Insulin memasukkan gula
dipelajari prosesnya dapat digunakan
ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan
dalam menyelesaikan masalah lain
energi atau disimpan sebagai cadangan
yang relevan. Dalam terapi ini klien
energi. Jika sudah mengidap penyakit ini
belajar untuk berfikir rasional dan
penderita secara fisik dan psikis merasa
meninggalkan keyakinan (pikiran)
terganggu. Umumnya penyakit diabetes
yang irasional kemudian menggantinya
memberi dampak komplikasi yang cukup
dengan keyakinan (pikiran) yang rasional.
mengkhawatirkan, seperti kelumpuhan,
Keyakinan irasional tersebut akan merusak
luka yang sulit disembuhkan, bahkan
diri klien karena dapat menimbulkan
penyakit pengikut. Untuk mengatasi
emosi negatif dan perilaku maladaptif.
diabetes, perlu penanganan khusus,
Terapis bertugas membantu klien untuk
yaitu metode terapi kedokteran yang
menjalani proses tersebut (Dryden &
komprehensif. Selain pengobatan medis,
Neenan, 2003b; Ellis, 2003).
pasien juga diterapi secara psikologis
berupa pendidikan tentang diabetes. Subjek penelitian ini diharapkan
dapat merasa lebih senang, rileks, tidak
REBT adalah terapi konseling yang
merasa kecewa, dan marah. Terkait
digunakan untuk memanaje masalah
dengan tingkah laku yang adaptif,
maladaptif dengan memfokuskan pada
individu dapat melakukan self monitoring
keyakinan irasional yang memunculkan
diabetes mellitus yang dideritanya.
emosi negatif, dan melalui terapi ini akan
Dengan adanya hal tersebut diharapkan
digantikan dengan hal yang rasional dan
kualitas hidup penderita diabetes mellitus
produktif sebagai harapan akan mengubah
dapat meningkat.
kebiasaan individu (Egbochuku, 2008).
Esensi REBT adalah untuk menggali Berdasarkan pada uraian yang telah
(menentukan dan mengidentifikasi) dikemukakan di atas, maka hipotesis
maladaptif dan merusak pikiran-perasaan- dalam penelitian ini dirumuskan sebagai
perilaku dan kemudian untuk memulai berikut: Ada peningkatan kualitas hidup
pertanyaan, tantangan, perselisihan penderita diabetes mellitus antara
dengan mengetahui keyakinan irasional sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan
mereka dan secara aktif dan tegas rational emotive behavior therapy.

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 215


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

METODE PENELITIAN kontrol sebagai kelompok waiting list.


Namun selanjutnya terdapat drop out
Subjek Penelitian
untuk kelompok eksperimen sebanyak 5
Subjek penelitian yang digunakan orang hingga akhir penelitian kelompok
dalam penelitian ini adalah pasien rawat eksperimen menjadi 7 orang.
jalan yang menderita diabetes mellitus
di Puskesmas Ngaglik I Sleman. Metode Rancangan Penelitian
pengambilan subjek penelitian adalah Penelitian ini adalah penelitian
purposive sampling, yaitu pemilihan kuasi eksperimen. Stouffer dan
subjek penelitian yang memiliki kriteria Campbell (Dicky, 2008) merumuskan
tertentu. Kriteria subjek yang digunakan eksperimen kursi sebagai eksperimen
untuk mencapai tujuan penelitian serta yang memiliki perlakuan, pengukuran
menjaga validitas isi dalam penelitian ini dampak, unit eksperimen, namun tidak
adalah sebagai berikut: menggunakan penugasan acak untuk
1. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan menciptakan pembandingan dalam
2. Usia di bawah 60 tahun, dengan rangka menyimpulkan perubahan yang
alasan skor kualitas hidup menurun disebabkan perlakuan. Perhatian utama
murni karena diabetes yang diderita penelitian hanya pada efek perlakuan. Tipe
bukan karena penurunan kualitas eksperimen kursi rancangan kelompok
hidup karena usia. tak setara (nonequivalent group designs),
3. Memiliki skor kualitas hidup rendah biasanya perilaku kelompok eksperimen
atau sedang. dan kelompok kontrol diukur sebelum
4. Belum pernah mengikuti kegiatan dan sesudah perlakuan.
atau pelatihan baik kognitif, relaksasi, Rancangan eksperimen untuk
dengan alasan dapat memengaruhi penelitian ini adalah pretest-posttest
hasil dari terapi yang akan dikenakan control group design (Kazdin, 1995).
terhadap subjek, bukan karena Adapun bentuk rancangan tersebut dapat
pengalaman yang telah dimiliki dilihat pada gambar berikut ini.
sebelumnya.
KE Y1 X Y2
Subjek yang digunakan dalam
KK Y - Y2
penelitian ini berjumlah 21 orang yang
kemudian dibagi menjadi kelompok KK Y1 ~X Y3
eksperimen dan kelompok kontrol Gambar 3. Rancangan Eksperimen
kemudian dilakukan matching subject
dengan penyetaraan pendidikan. Keterangan :
Kemudian diperoleh 12 orang kelompok KE : Kelompok Eksperimen
eksperimen dan 9 orang kelompok KK : Kelompok Kontrol

216 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

Y1 : Prates 2003). Validitas dan reliabilitas ini sudah


X : Rational Emotive Behavior Therapy pernah diuji melalui uji kelayakan yang
~X : Waiting list dilakukan terhadap 35 penderita DM tipe
Y2 : Pascates, Evaluasi, Follow up 2 di Rumah Sakit DR. Sardjito Yogyakarta
Y3 : Pascates, kemudian diberikan pada bulan Januari hingga Maret 2002,
Psikoedukasi terkait diabetes yaitu dengan melihat distribusi respon,
mellitus korelasi antar aitem, korelasi aitem total,
dan konsistensi internal serta menentukan
Y1 selain digunakan sebagai prates status aitem. Pada analisis aitem
juga di gunakan sebagai alat screening, menyeluruh dari hasil uji kelayakan nilai
terhadap subjek yang akan dimasukkan konsistensi internal alpha seluruh aitem
dalam penelitian ini. > 0,5 (0,82) (Hartini, 2003).

Pengukuran Prosedur Intervensi


Pengumpulan data dalam penelitian Pelaksanan terapi dalam penelitian
ini diperoleh melalui kuesioner yang ini meliputi tiga tahapan. Antara lain
berbentuk skala yang merupakan hasil sebagai berikut :
modifikasi dari Diabetes Quality of 1. Terapi yang dilakukan pada saat
Life Clinical Trial Questioner-Revised prates hingga sebelum terapi di
(DQOLCTQ-R) sebagai alat ukur. Versi puskesmas yang dilakukan sebanyak
revisi terdiri dari 57 aitem, dan 7 domain tiga kali pertemuan pada masing –
yaitu: (1) Fungsi fisik (physical function), masing peserta. Peneliti melakukan
(2) Energi (energy/fatigue), (3) Kesehatan terapi kognitif dan psikoedukasi
(health distress), (4) Kesehatan mental sebagai bagaian teknik REBT.
(mental health), (5) Kepuasan pribadi Selain untuk menjalin rapport
(satisfaction), (6) Kepuasan pengobatan juga dapat memperoleh data yang
(treatment flexibility), (7) Gejala gejala dalam serta dapat mengenalkan dan
penyakit (frequency of symtoms). Skor membiasakan peserta berfikir lebih
yang lebih tinggi menandakan suatu rasional.
status kesehatan yang lebih baik (Shen et 2. Terapi yang dilakukan di puskesmas.
al., 1999). Terapi untuk sesi I, II, III dilaksanakan
Kuesioner DQOLCQ-R memiliki dalam satu kali pertemuan. Pada
validitas dan reliabilitas baik, jarak a pertemuan pertama subjek diberikan
Cronbach dari 0,77 sampai 0,90 dan jarak tugas, dan tugas tersebut dijadikan
hubungan interklas adalah 0,74 sampai bahan untuk sesi II, III, dan sesi IV.
0,99 dengan pengecualian yang hampir Pemberian tugas tersebut sebagai
tidak ada (Shen dkk, dalam Wildes dkk., upaya meringankan beban subjek

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 217


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

terhadap tugas. Kemudian untuk observasi peserta pada observer.


pelaksanan sesi II kognitif dan sesi Support therapy dalam pelaksanaan
III emotif dilaksanakan satu kali terapi ini lebih ke arah pemberian
pertemuan. Hal tersebut karena terapi kognitif, psikoedukasi, dan
dalam terapi REBT, sesi kognitif dan memberikan contoh nyata, fakta
emotif sangat erat sekali kaitannya. yang ada terkait akibat tindakan
Sesi kognitif dan emotif dilaksanakan maladaptif yang dilakukan peserta
dalam satu kali pertemuan atau penderita diabetes lain, baik
diharapkan akan mempermudah yang baik maupun yang buruk. Hal
subjek untuk mencerna, internalisasi tersebut dilakukan dengan harapan
tentang apa yang disampaikan terapis agar dapat meningkatkan motivasi
dan dapat mempraktikannya. Namun peserta unuk terus melakukan tugas-
apabila dua sesi dilaksanakan tugas secara berkesinambungan.
terpisah dikhawatirkan subjek akan Selain itu juga diharapkan peserta
kesulitan mencerna, mengingat apa dapat memahami jika semua yang
yang disampaikan terapis, sehingga dilakukan demi kesehatan dan diri
subjek akan mengalami kesulitan peserta sendiri. Agar peserta dapat
dalam mempraktikannya. Sesi IV, menjadi terapis bagi dirinya sendiri
yaitu behavior dilaksanakan selang dan tidak tergantung pada orang lain
satu hari setelah pertemuan pertama. dapat berteman dengan diabetes
3. Terapi yang dilakukan pada saat mellitus dan memiliki kualitas hidup
monitoring diabetes. Peneliti yang lebih baik.
berkunjung di kediaman peserta
Viens dan Hranchuck (Mc Leond,
sebanyak enam kali dalam jangka
2006) mengungkapkan bahwa monitoring
waktu 30 hari. Dalam penelitian
terhadap pasien yang diterapi setiap
ini karena keterbatasan peneliti,
minggu memiliki kontribusi yang sangat
monitoring terhadap subjek
besar untuk menguatkan kemajuan dan
penelitian hanya dilakukan setiap 4
perkembangan klien, jauh dibanding
hari sekali. Terapi yang digunakan
kontribusi terapis saat sesi terapi
saat home visit adalah terapi
berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa
kognitif dan psikoedukasi. Selain
proses monitoring peserta terapi sangat
itu adanya observer dari pihak
penting.
keluarga subjek juga mengalami
hambatan, karena tidak semua Ellis (1997) juga mengungkapkan hal
observer dapat mengawasi subjek yang sama. Pada saat kondisi kesehatan
dengan maksimal. Peneliti juga Ellis memburuk hingga harus dirawat di
menjelaskan ulang terkait pencatatan rumah sakit, Ellis memutuskan untuk

218 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

memiliki dokter dan perawat untuk penelitian lebih detail. Peneliti dapat
membantu dan memonitor kebiasaan mengetahui masalah yang dialami
baru yang harus dilakukannya tersebut. subjek pada saat prates.
Ellis juga mengemukakan jika hal tersebut 5. Pada saat prates ini juga digunakan
sangat membantunya membut kondisinya sebagai tahap bulding rapport
stabil. peneliti terhadap peserta terapi dan
Tahap prates dilaksanakan mulai keluarga peserta. Dengan harapan
11 April 2011 hingga 10 Juni 2011 di selain mendapatkan data skala
kediaman penderita diabetes. Alasan kualitas hidup peserta, peneliti juga
peneliti memilih melakukan prates dapat melakukan deep interview
dengan home visit karena pengambilan lebih mudah.
data pada tahap prates bertujuan yaitu: 6. Selain itu juga mendapatkan
1. Untuk kategorisasi adalah membuat informasi terkait penelitian ini dari
kategorisasi tingkat kualitas hidup keluarga peserta.
penderita diabetes mellitus sesuai Pada saat prates peneliti juga
dengan norma masing - masing melakukan psikoedukasi serta support
kelompok kategori. pada penderita diabetes. Pelaksanaan
2. Untuk seleksi subjek penelitian, yaitu proses terapi ini di aula Puskesmas Ngaglik
menyeleksi dan mengelompokkan I Sleman pada tanggal 20, 22 Juni 2011
subjek penelitian yang termasuk serta tanggal 25 Juli 2011. Pada tanggal
dalam ketegori kualitas hidup rendah 23 Juni hingga tanggal 24 Juli para peserta
dan sedang untuk diikutsertakan malakukan penerapan metode yang telah
dalam keseluruhan proses penelitian, diajarkan dan dipelajari secara bersama
yang dilakukan peneliti secara terapis di rumah masing-masing. Setiap 4
sukarela. Bagi subjek yang memiliki hari sekali peneliti melakukan monitoring
kualitas hidup rendah dan sedang di rumah masing masing peserta.
selanjutnya akan dihubungi peneliti Sebelum pelaksanaan terapi peneliti
berkaitan dengan kesediaan subjek berkunjung sebanyak tiga kali pada
penelitian untuk mengiukuti masing-masing peserta terapi (kelompok
keseluruhan proses secara sukarela eksperimen). Kunjungan pertama
3. Aitem yang terdapat dalam skala bertujuan untuk pengisian skala kualitas
kualitas hidup digunakan oleh hidup, bulding rapport pada peserta
peneliti sebagai guide interview, dan keluarga, penjelasan maksud dan
sehingga proses interview tidak tujuan pengisian skala, dan penjelasan
melebar dan dapat inquiry setiap terkait terapi yang akan dilaksanakan,
subjek dan mendapatkan data-data selain itu peneliti juga melakukan

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 219


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

interview. Kunjungan kedua bertujuan berlangsung. Peneliti juga mengambil


untuk persetujuan inform consent serta data observasi dari anggota keluarga
penjelasan singkat mengenai pelaksanaan peserta terapi. Selain memberikan support
terapi. Peneliti juga melakukan kognitif dan terapi pada peserta, peneliti juga
terapi, psikoedukasi terhadap peserta, memberikan support serta psikoedukasi
peneliti juga melakukan bulding rapport pada keluarga peserta terapi. Setelah
pada peserta dan keluarga peserta yang monitoring berlangsung selama satu
akan menjadi observer selama peserta bulan penuh diadakan pascates.
melakukan tugas mendiri di rumah.
Teknik Analisis Data
Pada kesempatan ini peneliti juga
menyerahkan informed consent pada Analisis yang digunakan dalam
observer. Kunjungan ketiga bertujuan penelitian ini adalah statistic non
untuk menyerahkan undangan terapi parametric program Uji Mann-Whitney
pada peserta terapi. (Uji U). Hal ini mengingat ukuran sampel
yang digunakan dalam penelitian ini
Terkait dengan pemberian terapi
adalah berukuran kecil, yaitu masing
kognitif, psikoedukasi yang diberikan
masing kelompok terdiri dari 7 orang.
pada peserta saat prates hingga sebelum
peleksanaan terapi adalah dengan meng- Analisis kuantitatif juga dilakukan
gunakan apa yang ada dalam pikiran dalam penelitian ini, yaitu untuk
peserta yang dapat memunculkan mengetahui keadaan subjek melalui
keyakinan irasional, kemudian memban- catatan harian dapat menggambarkan
tahnya dengan fakta. Informasi tersebut keadaan subjek selama proses penelitian
diperoleh pada waktu pengisian skala berlangsung.
kualitas hidup.
Proses terapi tidak hanya dilakukan HASIL PENELITIAN
di puskesmas saja namun juga dilakukan Deskripsi Data
di rumah peserta terapi. Terapi yang
Diskripsi data penelitian yang berupa
digunakan sesuai dengan kebutuhan
rerata empirik diperoleh dari hasil prates
masing–masing peserta. Proses terapi dan
dan pascates skala kualitas hidup diabetes
support terapi dilakukan 4 hari selama
mellitus dapat dilihat pada tabel berikut ini:
satu bulan selama proses monitoring

220 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rerata Empirik Kategori Rerata Empirik Kategori saja
Skor Kelompok
Rerata Eksperimen KategoriKelompok
Empirik Kontrol
Rerata Empirik Kategori
Prates 458,68 Rendah 475,27 Sedang
Rerata Empirik Kategori Rerata Empirik Kategori
Prates
Pascates
Rational 458,68Therapy Sebagai
521,15
Emotive Behavior Rendah
Sedang Upaya479,75 475,27 Kualitas
Meningkatkan Sedang
Sedang Hidup ......
Prates 458,68 Rendah 475,27 Sedang
Pascates 521,15 Sedang 479,75 Sedang
Pascates 521,15 Sedang 479,75 Sedang
Tabel 4.diskipsi
Melalui Distribusi
data Rerata Skor
penelitian Kualitas
yang Hidup (Prates
telah terangkum dan Pascates)
pada tabel di atas, selanjutnya
dapat dibuatkan
Melalui histogram
diskipsi rerata
data skor kualitas
penelitian hidup terangkum
yang telah diabetes mellitus pada dikelompok
pada tabel atas, selanjutnya
Kelompok
Melalui diskipsi Eksperimen
data penelitian yang telah terangkum pada Kelompok
tabel di Kontrol
atas, selanjutnya
Skor
eksperiman maupun kelompok kontrol yang tersaji dalam gambar berikut ini.
dapat dibuatkan
dapat dibuatkan histogram
Rerata Empirik
histogram rerata
rerata skor skor kualitas
Kategori
kualitas hidup hidup
diabetesdiabetes
Rerata mellitus mellitus
Empirik pada kelompok
padaKategori
kelompok
Prates
eksperimanmaupun
eksperiman maupun458,68
kelompok
kelompok yangRendah
kontrol
kontrol yang
tersajitersaji
dalam dalam 475,27
gambargambar berikut ini.Sedang
berikut ini.
Gambar 5. Rerata Skor Kualitas Hidup Diabetes Mellitus Kelompok Eksperimen dan Kelompok
Pascates 521,15 Sedang 479,75 Sedang
Kontrol
Gambar5.5.Rerata
Gambar Rerata Skor
Skor Kualitas
Kualitas Hidup
Hidup Diabetes
Diabetes Mellitus
Mellitus Kelompok
Kelompok Eksperimen
Eksperimen dan Kelompok
dan Kelompok
Kontrol
Kontrol
520 Pascates
500
480
Pascates
Pascates
520 Pascates
520
460
500 Prates
500
440
480 Prates
420
480
460
460
440 1 Prates
2
440
420 Keterangan: Prates
420 1
2
1. Kelompok eksperimen
1
Keterangan: 1. Kelompok eksperimen
2 2. Kelompok kontrol
2. Kelompok kontrol
Keterangan: 1. Kelompok eksperimen
Keterangan:2.1.
Kelompok kontrol
Kelompok eksperimen
Gambar 5. Rerata Skor Kualitas Hidup Diabetes Mellitus Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
2. Kelompok kontrol

Melalui diskipsi data penelitian dengan perubahan peningkatan kategori


yang telah terangkum pada tabel di atas, kualitas hidup diabetes mellitus pada
selanjutnya dapat dibuatkan histogram subjek yang bersangkutan. Hanya ada
rerata skor kualitas hidup diabetes dua orang subjek yang mengalami
mellitus pada kelompok eksperimen peningkatan skor kualitas hidup
maupun kelompok kontrol yang tersaji namun tidak diikuti dengan perubahan
dalam gambar 5. peningkatan kategori kualitas hidup.
Mencermati histogram rerata skor Dalam data penelitian secara kelompok
pada kualitas hidup diabetes mellitus berikut disajikan pula data penelitian dari
dapat disimpulkan bahwa pada saat tiap subjek pada kelompok eksperimen
pascates terjadi peningkatan skor kualitas maupun kelompok kontrol secara lebih
hidup diabetes mellitus. Hampir semua rinci pada tabel berikut:
peningkatan skor kualitas hidup diikuti

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 221


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

Tabel 5. Skor Prates dan Pascates Kualitas Hidup Tiap Subjek Kelompok
Eksperimen dan Kontrol

Kelompok Subjek Skor Prates Kategori Skor Pascates Kategori


Eksperimen 1 400,33 Rendah 504,98 Sedang
2 406,27 Rendah 421,6 Rendah
3 450,8 Rendah 474,63 Sedang
4 462,33 Rendah 496,56 Sedang
5 495,05 Sedang 528,71 Sedang
6 497,05 Sedang 545,88 Tinggi
7 498,9 Sedang 556,92 Tinggi
Kontrol 1 447,58 Rendah 447,58 Rendah
2 389,52 Sanggat Rendah 404,45 Rendah
3 427,49 Rendah 446,93 Rendah
4 490,05 Sedang 490,05 Sedang
5 493,04 Sedang 493,04 Sedang
6 522,98 Sedang 522,98 Sedang
7 530,2 Sedang 530,2 Sedang

Hasil Uji Hipotesis


Analisis data uji non parametrik Mann-Whitney (U-test) menghasilkan data sebagai
berikut:
Tabel. 6. Analisis Mann- Whitney (Uji U) Kualitas Hidup
Prates Pascates Gain Score
Kelompok N Mean Sum of Mean Sum of Mean Sum of
Rank Rank Rank Rank Rank Rank
Eksperimen 7 7,29 51,00 8,57 60,00 10,86 76,00
Kontrol 7 7,71 54,00 6,43 45,00 4,14 29,00

222 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

Tabel 7. Analisis Mann-Whitney (Uji U) Skor Kualitas Hidup


Skor Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp.
Prates 23,000 51,000 -,192 0,848
Pascates 17,000 45,000 -,958 0,338
Gain 1,000 29,000 -3,071 0,002

Tabel 8. Distribusi Hasil Mann- Whithney (Uji U) Gain Score Kualitas Hidup

Analisis Gain score subjek penelitian


Mann-Whitney U 1,000
Wilcoxon W 29,000
Z -3,071
Asymp. Sig. (2-tailed) ,002
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,001(a)

Berdasarkan hasil analisis uji Mann- peningkatan skor yang cukup tinggi
Withney di atas, dapat diketahui bahwa dan taraf kualitas hidup. Hal ini sangat
ada perbedaan yang signifikan antara dimungkinkan karena subjek melakukan
kualitas hidup penderita diabetes mellitus terapi di rumah secara teratur, baik dalam
saat sebelum diberikan intervensi dan pola makan, olahraga, relaksasi maupun
setelah mendapatkan intervensi berupa terapi kognitif. Terapi kognitif yang
rational emotive behavior therapy. Hal dilakukan subjek masih membutuhkan
ini ditunjukkan dengan hasil z = -3,071 bimbingan dari peneliti dan support.
dengan p = 0,002 (p<0,05). Dengan Selain itu istri sangat mendukung subjek.
demikian dapat disimpulkan bahwa ada Subjek kedua mengalami kenaikan
perbedaan yang signifikan antara skor poin, namun tidak mengalami
kualitas hidup kelompok eksperimen dan peningkatan kualitas hidup. Hal ini
skor kualitas hidup kelompok kontrol mungkin disebabkan subjek tidak teratur
pada subjek penelitian. pola makannya, yaitu masih banyak
mengkonsumsi makanan yang semestinya
PEMBAHASAN dihindari. Subjek juga tidak melakukan
Hasil penelitian menunjukkan olahraga secara teratur. Oleh karena
masing-masing peserta mengalami peru- itu, walaupun subjek secara kontinyu
bahan skor yang berbeda satu dengan mengkonsumsi insulin dan relaksasi
yang lainnya. Subjek pertama mengalami sehari tiga kali, namun terapi ini belum

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 223


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

dapat memperbaiki kualitas hidup subjek. psikoedukasi terkait pola makan dan jenis
Hal lain yang juga terjadi adalah support makanan kepada subjek.
yang diberikan oleh keluarga juga kurang. Subjek ketujuh mengalami kenaikan
Secara umum dapat dikatakan bahwa skor dan taraf kualitas hidup. Subjek rajin
proses terapi tidak dilakukan seluruhnya, sekali melakukan relaksasi, mengaku
misalnya subjek tidak melakukan terapi sangat nyaman ketika melakukannya
perilaku (behavior therapy). dan dapat mengobati insomnia yang
Subjek ketiga mengalami kenaikan dialaminya selama ini. Subjek juga
skor dan taraf kualitas hidup. Hal ini sangat menjaga pola makannya, selain
dimungkinkan karena subjek setiap hari rutin olahraga. Namun subjek tidak
melakukan relaksasi, olahraga, serta mengkonsumsi obat dokter dan hanya
mengatur pola makan. Support dari mengandalkan pengobatan herbal.
keluarga juga sangat bagus. Support yang diberikan pada teman
Subjek keempat juga mengalami teman dan keluarga sangat besar. Peneliti
kenaikan skor dan taraf kualitas hidup. sering melakukan psikoedukasi dan terapi
Subjek mengatur pola makan serta kognitif pada subjek terkait rasa rendah
berolahraga. Support dari keluarga sangat dirinya karena mengalami diabetes di
besar terutama dalam membantu subjek usianya yang masih muda.
untuk mengatur jadwal dan pola makan. Berdasarkan hasil penelitian yang
Subjek kelima mengalami kenaikan telah diuraikan secara rinci di atas,
skor namun tidak signifikan. Kualitas hipotesis diterima untuk subjek penelitian
hidup subjek tidak berubah. Subjek dan belum dapat digeneralisasikan pada
menjalankan pola makan diabetes, namun subjek yang lebih luas. Diterimanya
masih suka melanggar dan ketika merasa hipotesis dapat dijelaskan dengan
tidak nyaman akan mengkonsumsi obat. memperhatikan aspek-aspek berikut
Subjek melakukan relaksasi teratur setiap yang dapat memberi pengaruh terhadap
hari serta berolahraga. Namun pada saat terjadinya diterimanya hipotesis.
proses terapi subjek dua kali menderita Subjek penelitian telah menunjukkan
sakit. Subjek mendapatkan support yang kedisiplinan dalam melakukan diet
cukup baik dari keluarga. diabetes, olahraga, relaksasi, maupun
Subjek keenam mengalami kenaikan munculnya pikiran negatif. Melalui
skor dan taraf kualitas hidup secara catatan harian subjek diperoleh data
signifikan. Subjek rajin sekali melakukan kualitatif dalam rentang proses eksperimen
relaksasi di rumah. Selain itu juga menjaga berlangsung selama 4 minggu berturut-
pola makan. Olahraga juga dilakukan turut. Berdasarkan data yang diperoleh,
subjek. Peneliti sering memberikan diketahui 2 orang subjek dalam kelompok

224 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

eksperimen tidak teratur dalam melakukan dalam menyikapi, menghadapi maupun


diet, relaksasi, dan olahraga. Data tersebut menyelesaikan suatu masalah (Spiegler,
juga menunjukkan adanya 2 orang subjek 2010). Selain itu juga melatih peserta
yang tidak mengkonsumsi obat dokter, relaksasi agar dapat memaksimalkan rasa
dalam hal ini, ada beberapa subjek yang nyaman, tenang, dan dapat mengurangi
tidak sepenuhnya menjalankan tugas- kecemasan yang dialami. Hasil penelitian
tugas yang diberikan oleh terapis. ini menunjukkan bahwa terapi REBT ini
Mencermati deskripsi kegiatan tiap berpengaruh pada meningkatnya kondisi
subjek, dalam rentang 4 minggu berturut- kesehatan mental dan aspek energi
turut, subjek yang mengalami peningkatan yang menjadi lebih positif pada peserta.
kualitas hidup adalah subjek yang Kecemasan pada peserta mengalami
melakukan diet diabetes sehingga kalori penurunan bukan karena unsur obat
yang masuk sesuai dengan kebutuhan. yang dikonsumsi. Karena menurut
Selain itu juga melakukan kontrol penuturan dokter puskesmas terkait,
glukosa darah secara teratur, minum obat obat yang diberikan pihak puskesmas
sesuai anjuran dokter, juga melakukan semuanya tidak ada yang memiliki efek
relaksasi, telah dapat mengambil hikmah, menurunkan kecemasan. Adapun obat
menerima kondisi dengan `diabetes yang yang dikonsumsi oleh peserta antara lain:
dimilikinya, sehingga pikiran negatif dan 1. Suntik insulin yang (insulin glargine,
rasa takut sudah sangat berkurang bahkan ultralente insulin) yang menstimulasi
tidak ada dan menimbulkan tingkah sekresi insulin alami.
laku positif atau yang mendukung untuk 2. Metformine merupakan obat yang
kestabilan kondisi baik fisik maupun cara kerjanya terutama menurunkan
psikis. Selain itu subjek juga melakukan glukosa darah dengan menekan
olahraga secara teratur. produksi glukosa yang diproduksi
hati dan mengurangi resistensi
Terapi ini mengajarkan bagaimana
insulin.
peserta dapat berfikir positif atau
mengambil hikmah, sehingga dapat 3. Glibenclamid menstimulasi sel-
membantu memunculkan rasa lebih sel beta dalam pankreas untuk
nyaman dan dapat menerima kondisi memproduksi lebih banyak insulin.
dirinya. Terapi REBT ini hampir 90% sesi Obat ini juga membantu sel-sel
digunakan untuk mengubah cara berfikir dalam tubuh menjadi lebih baik
peserta agar menjadi rasional sehingga dalam mengelola insulin
dapat membuang keyakinan irasional Selain itu REBT juga melatih peserta
yang dimilikinya dan melatih peserta agar agar dapat menjalankan diet diabetes untuk
mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan menjaga pola makan yang sesuai dengan

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 225


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

kebutuhan. Apabila peserta menjalankan tidak melakukan meditasi relaksasi spirit


dengan baik sesuai anjuran, maka (Kompas, 2008/11/13).
kualitas hidup akan lebih baik. Temuan Namun bila individu didiagnosis
di atas sejalan dengan pendapat Perkin menderita diabetes mellitus tentunya
(Shahab, 2006). Menurutnya, penderita
akan timbul reaksi dalam diri individu
diabetes harus menjalankan empat pilar
tersebut secara psikologis, seperti
monitoring diabetes yang terdiri atas
pengingkaran, marah, perasaan bersalah,
pengontrolan pola makan, konsumsi
depresi, maupun penerimaan diri yang
obat sesuai anjuran, pengontrolan kadar
rendah. Hal ini dapat terjadi karena
gula darah, dan olahraga secara teratur
kondisi penderita diabetes mellitus tidak
minimal 3 atau 4 kali seminggu dengan
dapat diperbaiki menjadi keadaan normal
durasi minimal 30 menit. Selain itu karena
seperti sebelum individu didiagnosis
penderita diabetes mellitus mengalami
menderita diabetes mellitus, kondisi
kecemasan atau gangguan ketidakstabilan
yang tidak menyenangkan dan tidak
emosi, maka mereka dianjurkan untuk
diharapkan, serta indivdu membutuhkan
melakukan relaksasi. Meditasi relaksasi
waktu kurang lebih 12 bulan untuk
membantu penyembuhan penderita
dapat menerima penyakit diabetes
Miabetes Mellitus Tidak Tergantung
mellitus yang diderita tersebut (Sridhar &
Insulin (DMTTI). Demikian hasil
Madhu, 2001; Sridhar & Madhu, 2002).
penelitian yang diungkapkan April 1999
Secara psikologis biasanya penderita
oleh tim peneliti Universitas Udayana.
diabetes mellitus mengalami stres secara
Menurut Suryani (2000), dalam
emosional, munculnya perasaan-perasaan
melaksanakan meditasi relaksasi spirit
negatif termasuk perasaan putus asa, tidak
diperlukan ketekunan dan kedisipinan
berdaya, cemas dan depresi (McCranty,
untuk memperoleh perubahan dalam
Atkinson & Lipsenthal, 2000).
kehidupan sehari hari. Hasil penelitian
yang dilakukan Suryani dan tim penelitian Selain reaksi pengingkaran, marah,
lainnya juga menemukan bahwa penderita perasaan bersalah, depresi, maupun
diabetes millitus tipe 2 yang melakukan rendahnya penerimaan diri yang mungkin
meditasi relaksasi spirit secara teratur terjadi pada diri individu ketika didiagnosis
menunjukkkan tingkat kesembuhan atau menderita diabetes mellitus, muncul pula
kesehatan yang baik dan berpengaruh reaksi psikologis lainnya seperti shock,
pada pola tidur yang baik pula, apabila ecounter dan retreat. Shock adalah reaksi
dibandingkan dengan penderita diabetes psikologis dengan karakteristik seolah-
mellitus tipe 2 yang melakukan meditasi olah akan pingsan atau merasa bingung,
relaksasi spirit secara tidak teratur dan adanya reaksi otomatis yang ditunjukkan,
penderita diabetes mellitus tipe 2 yang adanya perasaan ingin melepaskan diri

226 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

dari situasi yang terjadi. Encounter adalah Sebaliknya, subjek yang tidak
reaksi yang muncul sebagai refleksi dari menaati diet diabetes, tidak melakukan
adanya ketidakselarasan antara pikiran olahraga, walaupun subjek tersebut sudah
dan adanya perasaaan kehilangan, menerima kondisinya, mengkonsumsi
tidak berdaya, sedih, putus asa, merasa obat dokter berupa suntik insulin sesuai
kewalahan terhadap kenyataan yang anjuran dokter dan secara berkala kontrol
terjadi. Retreat merupakan reaksi gula darah serta melakukan relaksasi
psikologis yang ditunjukkan dengan sesuai anjuran, tetap memiliki kualitas
adanya strategi pengalihan yang hidup yang rendah. Hal ini seperti
cenderung digunakan oleh individu yang yang terjadi pada subjek penelitian
didiagnosis penyakit kronis (Sarafino, yang bernama Myt. Hal tersebut dapat
1997; Taylor & Stanton, 2007). terjadi karena jumlah kalori yang masuk
Kondisi ini dapat terjadi mengingat tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh
bahwa diabetes mellitus adalah salah (Shahab, 2002). Pembakaran kalori
satu penyakit kronis yang memerlukan yang tidak maksimal karena subjek tidak
perubahan baik jangka pendek maupun melakukan aktivitas misalnya olahraga
jangka panjang. Perubahan menyangkut menyebabkan kadar gula dalam darah
berbagai aspek kehidupan individu yang tetap tinggi (Sukardji, 2008). Oleh karena
didiagnosis secara fisik, aktivitas rutin ketidakdisiplinan subjek penelitian dalam
sehari-hari maupun kehidupan sosial. melakukan diet, olahraga berpengaruh
Penyakit diabetes mellitus ini juga terkait terhadap perubahan maupun manfaat
dengan gaya hidup hingga berdampak yang dapat diperoleh dari tugas tugas
pada aspek – aspek kehidupan individu tersebut.
penderita diabetes mellitus. Dampak Tingkat motivasi subjek penelitian
dari penyakit diabetes mellitus terhadap dalam melakukan tugas - tugas juga dapat
aspek – aspek kehidupan membutuhkan memengaruhi hasil yang akan diperoleh.
suatu pengelolaan secara kompleks dan Hal ini tampak dalam observasi dari key
menuntut individu penderita diabetes person subjek saat menjalankan tugas-
mellitus dapat melaksanakan program tugas selama proses terapi berlangsung.
perubahan perilaku secara tepat dan Apabila subjek melakukan tugas–tugasnya
disiplin. Pengintegrasian kondisi psi- dengan baik, maka dampaknya terasa bagi
kologis pada diri penderita penyakit subjek, yang otomatis bertambah pula skor
kronis, dalam hal ini diabetes mellitus, kualitas hidup subjek tersebut. Hackney
memiliki peran penting dalam proses dan Cormier (Gibson & Mitchell, 2011)
adaptasi terhadap penyakit yang diderita mengungkapkan individu yang memiliki
(Sridhar & Madhu, 2001; Sridhar & motivasi yang besar akan mendapatkan
Madhu, 2002; Taylor & Stanton, 2007). efek terapi yang baik dibandingkan

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 227


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

individu yang memiliki motivasi rendah, dengan manfaat tugas-tugas tersebut, serta
karena individu yang memiliki motivasi perasaan belum mampu sepenuhnya
yang tinggi memiliki orientasi tujuan yang dalam melaksanakan tugas dalam
kuat. Individu yang memiliki orientasi kehidupan sehari hari, akan menjadikan
tujuan yang kuat memiliki keinginan dampak terapi yang diperoleh juga
untuk memperoleh hasil yang sukses kurang maksimal. Namun apabila subjek
yang direalisasikan dengan keikutsertaan penelitian dapat menyelaraskan antara
dalam proses terapi, pelaksanana tugas - tugas–tugas selama proses terapi dengan
tugas dan menginternalisasikannya pada kedalaman nilai yang akan diperoleh
dirinya. dari tugas–tugas, serta dapat terus
Hasil penelitian lain yang dilakukan melaksanakan tugas–tugas tersebut, maka
oleh Senécal, Noumen, dan White (2000) akan menjadikan dirinya sebagai terapis
menemukan bahwa adanya efikasi diri bagi dirinya sendiri. Selanjutnya kualitas
pada penderita diabetes mellitus berperan hidup cenderung dapat lebih baik.
penting dalam meningkatkan kontrol
terhadap penyakit diabetes mellitus SIMPULAN DAN SARAN
itu sendiri, yang pada gilirannya akan
Simpulan
berdampak pada menurunnya gejala-
gejala diabetes mellitus. Lebih lanjut Pemberian perlakuan berupa terapi,
disampaikan bahwa efikasi diri (yaitu terapi emotif, serta terapi perilaku
keyakinan pada kemampuan diri dalam berpengaruh terhadap kualitas hidup
menjaga kondisi kesehatan dengan penderita diabetes millitus. Hal ini
menjalankan diet, olahraga, relasasi, pola berarti bahwa pemberian terapi kognitif,
pikir, dan konsumsi obat) merupakan terapi emotif serta terapi perilaku berupa
upaya untuk meningkatkan kualitas hidup diet diabetes, olahraga, konsumsi obat,
pasien. Oleh karena itu dapat dikatakan dan periksa kedokter, berpengaruh
bahwa untuk mencapai suatu perubahan terhadap terjadinya peningkatan kualitas
menuju hal yang lebih baik, dalam hal hidup penderita diabetes millitus pada
ini kualitas hidup yang lebih baik, sangat kelompok subjek penelitian.
diperlukan adanya efikasi diri yang cukup Terdapat perbedaan yang signifikan
dalam diri individu tersebut. Tanpa pada kualitas hidup penderita diabetes
adanya efikasi diri yang cukup, maka millitus antara kelompok eksperimen
akan melemahkan motivasi individu dan kelompok kontrol setelah pemberian
untuk berubah menuju kondisi yang lebih perlakuan terapi kognitif, terapi emotif,
baik (Linley & Joseph, 2004). dan terapi perilaku berupa diet diabetes,
Tidak adanya keselarasan antara olahraga, konsumsi obat, dan periksa ke
tugas-tugas yang dilakukan individu dokter.

228 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

Saran Dryden, W. & Neenan M. (2003a). Essen-


Peneliti selanjutnya disarankan tial Rational Emotive Behaviour
untuk mempertimbangkan kembali faktor Therapy. Wiley.
motivasi dari subjek penelitian karena Dryden W. & Neenan M. (2003b). The
hal ini akan berpengaruh pula pada REBT Terapist’s Pocket Companion
kedisiplinan subjek penelitian terhadap Albert Ellis Institute: New York.
tugas-tugas yang harus dijalani apabila
subjek diharuskan melakukan tugas-tugas Egbochuku, EO. (2008). Efficacy of Ratio-
secara mandiri di rumah. nal-Emotive Behaviour Therapy
on the Reduction of Test Anxiety
Selain itu juga walaupun penelitian
Among Adolescents in Secondary
ini melaksanakan tahap monitoring
Schools. European Journal of Social
empat hari sekali, ternyata tidak dapat
Sciences, 6(4).
sepenuhnya mengeliminasi dampak
terkait tidak dilaksanakannya tugas - Ellis, A. (1997). Using Rational Emotive
tugas oleh subjek secara mandiri. Peneliti Behavior Therapy Techniques to
selanjutnya diharapkan dapat memberikan Cope with Disability. Professional
support lebih besar dengan monitoring Psychology: Research and Practice,
dengan frekuensi lebih sering lagi. Selain 28 (1), 17.
itu peneliti selanjutnya diharapkan
dapat juga memberikan informasi pada Ellis, A. (2003). Early Theories and Prac-
pihak keluarga sebagai support group tices of Rational Emotive Behavior
untuk selalu mengingatkan, menemani, Theory and How They Have Been
mendampingi subjek dalam menjalankan Augmented and Revised During The
tugas-tugas, karena dari hasil interview Last Three Decades. Journal of Ratio-
salah satu alasan subjek tidak melakukan nal-Emotive & Cognitive-Behavior
tugas tersebut karena dukungan keluarga Therapy, 21 (3/4).
sangat kurang. Freedman, M. (2009). Anger Manage-
ment: A Cognitive Behavioral Group
DAFTAR PUSTAKA Intervention Protocol for Students
with Exceptional Learning Needs.
Corey, G. (1988). Teori Dan Praktik Kon-
The Center for School Mental Health
seling Psikoterapi (cetakan pertama).
at the University of Maryland.
Bandung: PT. ERESCO.
Gibson, R., Mitchell. (2011). Bimbin-
Davison, Neale., dkk. (2004). Psikologi
gan dan Konseling (Edisi ketujuh).
Abnormal (Edisi 9). Jakarta: Rajawali
Jakarta: Pustaka Pelajar.
Pers.

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 229


Rr. Dwi Astuti, H. Fuad Nashori & RA. Retno Kumolohadi

Goodridge, D., Trepman, E., & Embil, J. ses tanggal 15 Agustus 2009 dari
M. (2005). Health-Related Quality http://www.kompas.com/read/
of Life in Diabetic Patients with Foot xml/2008/11/13/16094125.
Ulcers: Literature Review. Journal of
Leod, M. (2006). Pengantar Konseling
Wound Ostomy & Continence Nurs-
Teori dan Studi Kasus. Edisi Ketiga.
ing, 32(6), 368.
Kencana Prenada Media Group
Grigg, A., Thommasen, H. V., Tildesley,
Linley, P. A., & Joseph, S. (Eds.). (2004).
H., & Michalos, A. C. (2006). Com-
Positive Psychology in Practice.
paring Self-Rated Health, Satisfaction
New Jersey: Wiley.
and Quality of Life Scores between
Diabetics and Others Living in the Mc Cranty, R., Atkinson, M., & Lipsenthal,
Bella Coola Valley. Social Indicators L. (2000). Emotional Self Regulation
Research, 76(2), 263-281. Program Enhances Psychological
Health and Quality of Life in Patients
Hartati, T. (2003). Kualitas hidup Pender
with Diabetes. HeartMath Research
ita DM Tipe 2: Perbandingan Antara
Center. No. 00-006, 1-11.
Penderita Kadar Gula Darah Terk-
endali Dan Tidak Terkendali. Tesis. Rose, M., Fliege, H., Hildebrandt, M.,
Yogyakarta: Program Pascasarjana Schirop, T., & Klapp, B. F. (2002).
Fakultas Psikologi Universitas Gajah The Network of Psychological Vari-
Mada. Yogyakarta. ables in Patients with Diabetes and
Their Importance for Quality of Life
Hastjarjo, D. (2008). Ringkasan Buku
and Metabolic Control [Electronic
Cook & Campbell. Universitas Gajah
version]. Diabetes Care, 25(1),
Mada. Yogyakarta.
35-42.
Kazdin, A. E. (1995). Preparing and Evalu-
Sarafino, E. P.(1997). Health Psychology.
ating Research Reports. Psychologi-
Biopsychosocial Interactions. New
cal Assessment, 7(3), 228.
York: John Wiley & Sons.
Kabar Bisnis. (2010). Rendahnya Kepedu-
Senecal, C., Noumen, A & White, D.
lian Masyarakat Terhadap Diabe-
(2000). Motivation and Dietary Self
tes. Diakses tanggal 20 November
Care in Adults With Diabetes: Are
2010 dari www.kabarbisnis.com/
Self Efficacy and Autonomous Self
read/2816201.
Regulation Complementary or Com-
Kompas. (2008). Waspadai Anca- peting Constructs. Health Psychol-
man Diabetes Mellitus. Diak- ogy. 19 (5), 452-457.

230 Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011


Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup ......

Shahab, A. (2006). Diagnosis dan Penata- Spiegler D Michael, Guevremont C.


laksanaan Diabetes Melitus (disari- David. (2010). Contemporary
kan dari Konsensus Pengelolaan Dia- Behavior Therapy Fifth Edition.
betes Melitus di Indonesia: Perkeni Wadsworth. 10 Davis Drive Bel-
2006). Subbagian Endokrinologi mont, CA 94002-3098. USA.
Metabolik, Bagian Ilmu Penyakit
Soegondo, S., Sukardji, K. (2008). Hidup
Dalam, FK Unsri/ RSMH Palembang.
Secara Mandiri dengan Diabetes
Shen, W., Kotsanos, J.G., Hutser, W.J., Melitus, Kencing Manis, Sakit Gula:
Mathias, S.D., Andrejasich, C.M.,& Bab VI Kegiatan Jasmani atau Olah-
Patrik D.L. (1999). Development raga Untuk Pengendalian Diabe-
and Validation of the Diabetes Qual- tes. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
ity of Life Clinical Trial Questionare. Kedokteran Universitas Indonesia.
Medical care; 37(4), Lilly Suplement:
Suryani, L. K. (2000). Menemukan Jati
Global Health Outcomes Research
Diri Dengan Meditasi. Elex Media
and Costumer Aplications AS45-66.S
Komputindo. Jakarta.
Sharma, N. (2007). Psichososial Reha-
Taylor, S. E., & Stanton, A. L. (2007). Cop-
bilitation Treatment Methods Lead-
ing Resources, Coping Processes,
ing To Improvement in Quality Of
and Mental Health. Annu. Rev. Clin.
Life And Disability In Psychiatric
Psychol., 3, 377-401.
Patients. Journal Fiji General Pract-
ictioner ISN 1992-0334 volume 15, Wildes, K.R., Greisinger, A., O’Malley,
7-10 K.J. (2003). Measurement in Prac-
tice: Review of Quality of Life Mea-
Sharma, Sharma, R. (2007). Types of Psy-
sures for Patient with Diabetes.
chological Treatments. Journal Fiji
United Stated Department of Veter-
General Practictioner, 15, 15-18.
ans Affair. www.va.gov. diakses tgl.
Solli, O., Stavem, K., & Kristiansen, I. S. 10/05/2010.
(2010). Health-Related Quality of
Life in Diabetes: The Associations of
Complications with EQ-5D Scores.
Health and Quality of Life Out-
comes, 8(1), 18.

Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 3 No. 2 Desember 2011 231