Vous êtes sur la page 1sur 2

ANTI JAMUR

A. Obat sistemik untuk infeksi sistemik


1. Amfoterisin B
 Sifat kimia: hampir tidak larut dalam air, kurang diserap saluran cerna, tidak
diperlukan penyesuaian obat.
 Mekanisme kerja dan resistensi: Selektif karena mengikat ergosterol (sterol
membrane sel dalam jamur) dan mengubah permeabilitas sel. Resistensi
karena berkurangnya konsentrasi ergosterol di membrane atau modifikasi
molekul sasaran sterol.
 Aktivitas anti jamur dan pemakaian klinis: spectrum kerja paling luas,
berguna untuk hampir semua infeksi jamur yang mengancam nyawa, terutama
penyakit jamur sistemik. Diberikan melalui infus intravena perlahan 0,5-1
mg/kg/hari.
 Efek samping
- Toksisitas terkait infus
Demam menggigil, kejang otot, muntah, nyeri kepala dan hipotensi
- Toksisitas kumulatif
Kerusakan ginjal biasanya terjadi pada pemberian yang berkepanjangan
(dosiskumulatif >4 gr)
2. Flusitosin
 Sifat kimia: Larut dalam air, diserap dengan baik di saluran cerna (>90%)
 Mekanisme kerja dan resistensi: flusitosin masuk ke dalam sel karena kerja
dari enzim sitosin permease kemudian berubah menjadi 5-FU, dan kemudian
berubah kembali menjadi fluorouridin trifosfat dan 5-fluorodeoksiuridin
monofosfat yang berfungsi untuk menghambat DNA dan RNA dari fungi.
Kerjanya sinergi dengan amfoterisin B. Resistensi cepat pada pemakaian
monoterapi.
 Pemakaian klinis dan efek samping: Terbatas pada C. Neoformans, beberapa
Candida sp, kapang dematiosesosa. Tidak digunakan sebagai obat tunggal
untuk menghindari resistensi sekunder. Efek sampingnya karena jendela
terapeutik yang sempit, paling sering terjadi pada sumsum tulan berupa
anemia, leukopenia, dan trombositopenia. Dikontraindikasikan untuk ibu
hamil
3. Azol
 Kimia dan farmakokinetika: Senyawa sintetik, terdapat dua golongan yaitu
imidazole yang kurang selektif darpada golongan triazol.
 Mekanisme kerja dan Resistensi: Mereduksi sintesis ergosterol oleh inhibisi
enzim-enzim sitokrom P450 jamur, imidazole kurang selektif dibandingkan
dengan triazol terkait afinitasnya terhadap enzim sitokrom manusia.
 Pemakaian Klinis, Efek saming dan Interaksi Obat: Spektrum kerja luas,
mencangkup Candida sp, C. Neoformans, mikosis endemic, dermatofita, dan
infeksi Aspergillus. Juga pada pengobatan yang resisten amfoterisin. Efek
samping tersering dalah gangguan pencernaan ringan. Rentan terjadi interaksi
dengan obat lain.
4. Ekinokandin
Golongan baru terdiri dari karpofungin, mikofungin, anidulafungin. Aktif pada
Candida, Aspergilus, tapi tidak pada C. Neoformans. Tersedia dalam bentuk IV dan
diperlukan penyesuaian dosis.
Mekanisme kerja: Menghambat pembentukan beta(1-3) glukan pada dinding sel
jamur
Pemakaian klinis dan efek samping: untuk infeksi Candida diseminata dan
mukokutin. Efek samping pencernaan yang ringan dan kadang flushing
B. Obat sistemik untuk infeksi mukokutis
1. Grisiovulvin
Hanya untuk terapi dermatofitosis
2. Terbinafin
Untuk dermatofitosis
C. Terapi anti jamur topical
1. Nistatin
Aktif untuk sebagian besar Candida sp.
2. Azol topical
Yang paling banyak digunakan adalah mikonazol dan klotrimazol, untuk infeksi
Candidiasis vulvovagina. Ketokonazol topical dan shampoo untuk dermatitis seboroik
dan pitiriasis vesikolor.
3. Alilamin topical
Untuk tinea kruris dan korporis