Vous êtes sur la page 1sur 26

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KASUS PADA AN.

AR DENGAN
KEJANG DEMAM DI RUANG TULIP
RSK SITANALA TANGERANG

DISUSUN OLEH:
FILIPUS TARIGAN

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIDYA DHARMA HUSADA TANGERANG
TAHUN 2015
KEJANG DEMAM

1. Pengertian
Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara
sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik
serebral yang berlebihan.(betz & Sowden,2002)
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh ( suhu rektal diatas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan
perubahan fungsi otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang
berlebihan sehingga mengakibatkan renjatan berupa kejang.

2. Etiologi
Infeksi ekstrakranial , misalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas

3. Patofisiologi
Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel
neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui
membran tersebut dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik. Lepas
muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel
maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi singkat pada
umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang
yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit ) biasanya disertai apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang
akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh
metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak
teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin
meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak
meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang
mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan
timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan
pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang
berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi
serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama
dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsi.

Pathway
Infeksi ekstrakranial : suhu tubuh

Gangguan keseimbangan membran sel neuron

Difusi Na dan Ca berlebih

Depolarisasi membran dan lepas muatan listrik berlebih

kejang

parsial umum

sederhana kompleks absens mioklonik Tonik atonik


klonik

Kesadaran Gg peredaran Aktivitas otot


darah

Resiko Reflek hipoksi Metabolisme


injury menelan

Permeabilitas Keb. O2 Suhu tubuh


aspirasi kapiler makin
meningkat

Sel neuron asfiksia


otak rusak
4. Manifestasi klinis
Gejala berupa
1. Suhu anak tinggi.
2. Anak pucat / diam saja
3. Mata terbelalak ke atas disertai kekakuan dan kelemahan.
4. Umumnya kejang demam berlangsung singkat.
5. Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekauan atau hanya sentakan
atau kekakuan fokal.
6. Serangan tonik klonik ( dapat berhenti sendiri )
7. Kejang dapat diikuti sementara berlangsung beberapa menit
8. Seringkali kejang berhenti sendiri.
(Arif Mansjoer. 2000)

5. Komplikasi
a. Epilepsi terjadi akibat adanya kerusakan pada daerah lobus temporalis
yang berlangsung lama dan dapat menjadi matang.
b. Hemiparese, biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama
(berlangsung lebih dari setengah jam) baik kejang yang bersifat umum
maupun kejang fokal.
c. Retardasi Mental, terjadi pada anak yang sebelumnya mengalami
gangguan perkembangan atau kelainan neurologik ditemukan IQ yang
lebih rendah. Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang
tanpa demam, kemungkinan retardasi mental adalah 5 kali lebih besar.
d. Terulangnya Kejang, kemungkinan terjadinya ulangan kejang pada 6
bulan pertama dari serangan pertama.
e. Kematian, dengan penanganan kejang yang tepat dan cepat, prognosa
biasanya baik, tidak sampai terjadi kematian.

6. Pemeriksaan Penunjang
a. EEG
Untuk membuktikan jenis kejang fokal / gangguan difusi otak akibat lesi
organik, melalui pengukuran EEG ini dilakukan 1 minggu atau kurang
setelah kejang.
b. CT SCAN
Untuk mengidentifikasi lesi serebral, mis: infark, hematoma, edema
serebral, dan Abses.
c. Pungsi Lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada
di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis
d. Laboratorium
Darah tepi, lengkap ( Hb, Ht, Leukosit, Trombosit ) mengetahui sejak dini
apabila ada komplikasi dan penyakit kejang demam.
(Suryati, 2008), ( Arif Mansyoer,2000), (Lumbatobing,1989)

7. Penatalaksanaan
1) Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan,
yaitu :
Pemberantasan kejang secepat mungkin. Pemberantasan kejang di Sub
bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI sebagai berikut :

Apabila seorang anak datang dalam keadaan kejang, maka :


1. Segera diberikan diazepam intravena  dosis rata-rata 0,3 mg/kg
Atau
diazepam rectal dosis  10 kg : 5 mg
bila kejang tidak berhenti ≥ 10 kg : 10 mg
tunggu 15 menit

dapat diulang dengan cara/dosis yang sama


kejang berhenti
berikan dosis awal fenobarbital
dosis : neonatus : 30 mg I.M
1 bulan – 1 tahun : 50 mg I.M
 1 tahun : 75 mg I.M
2. Bila diazepam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital dengan dosis
awal dan selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat.
Pengobatan penunjang
Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :
a. Semua pakaian ketat dibuka
b. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
c. Usahakan agar jalan napas bebasuntuk menjamin kebutuhan oksigen
d. Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen

2). Pengobatan rumat


Fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari
pertama, kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari berikutnya.
a. Mencari dan mengobati penyebab
Penyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan
astitis media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati
penyakit tersebut. Pada pasien yang diketahui kejang lama pemeriksaan
lebih intensif seperti fungsi lumbal, kalium, magnesium, kalsium, natrium
dan faal hati. Bila perlu rontgen foto tengkorak, EEG, ensefalografi, dll.
b. Hilangnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak
mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah. Singkat dan terjadi tanpa
peringatan.

Penatalaksanaan Keperawatan.
1.. Observasi KU klien : TTV,Nadi, Suhu, RR
2. Kompres klien agar demam menurun
3.. Lindungi anak dari cidera
4. Jangan mencoba untuk merestrain anak
5 .Jika anak berdiri atau duduk sehingga terdapat kemungkinan jatuh,
turunkan anak tersebut agar tidak jatuh
6. Jangan memasukan benda apapun kedalam mulut anak
7. Longgarkan pakaiannya jika ketat
8. Cegah anak agar tidak trpukul benda tajam, lapisi setiap benda yang
mungkin terbentur dengan anak dan singkirkan semua benda tajam dari
daerah tersebut
9. Miringkan badan anak untuk mem fasilitasi bersihan jalan nafas dari sekret

8. Rencana Keperawatan
A. Diagnosa dan Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi yang ditandai
dengan Suhu meningkat.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil : Suhu tubuh 36 – 37,5º C, N ; 100 – 110 x/menit,
RR : 24 – 28 x/menit, Kesadaran composmentis, anak
tidak rewel.
Rencana Tindakan :
1. Kaji faktor – faktor terjadinya hiperthermi.
Rasional : mengetahui penyebab terjadinya hiperthermi karena
penambahan pakaian/selimut dapat menghambat
penurunan suhu tubuh.
2. Observasi tanda – tanda vital tiap 4 jam sekali
Rasional : Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan
perkembangan keperawatan yang selanjutnya.
3. Pertahankan suhu tubuh normal
Rasional : suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas,
suhu lingkungan, kelembaban tinggiakan
mempengaruhi panas atau dinginnya tubuh.
4. Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin pada kepala /
ketiak .
Rasional : proses konduksi/perpindahan panas dengan suatu bahan
perantara.
5. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain katun
Rasional : proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian
tebal dan tidak dapat menyerap keringat.
6. Atur sirkulasi udara ruangan.
Rasional : Penyediaan udara bersih.
7. Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum
Rasional : Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh
meningkat.
8. Batasi aktivitas fisik
Rasional : aktivitas meningkatkan metabolismedan meningkatkan
panas.
2. .Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi.
Tujuan : Klien tidak mengalami kejang selama berhubungan dengan
hiperthermi
Kriteria hasil :
1. Tidak terjadi serangan kejang ulang.
2. Suhu 36,5 – 37,5 º C (bayi), 36 – 37,5 º C (anak)
3. Nadi 110 – 120 x/menit (bayi)
100-110 x/menit (anak)
4. Respirasi 30 – 40 x/menit (bayi)
24 – 28 x/menit (anak)
5. Kesadaran composmentis
Rencana Tindakan :
1. Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap
keringat.
Rasional : proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat
dan tidak menyerap keringat.
2. Berikan kompres dingin
Rasional : perpindahan panas secara konduksi
3. Berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll)
Rasional : saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat.
4. Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam
Rasional : Pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang
akan dilakukan.
5. Batasi aktivitas selama anak panas
Rasional : aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan
meningkatkan panas.
6. Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis.
Rasional : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai
propilaksis
3.. Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbataaan informasi.
Tujuan : Pengetahuan keluarga bertambah tentang penyakit
anaknya.
Kriteria hasil :
1. Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.
2. Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.
3. keluarga mentaati setiap proses keperawatan.
Rencana Tindakan :
1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga
Rasional : Mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki
keluarga dan kebenaran informasi yang didapat.
2. Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang demam
Rasional : penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat membantu
menambah wawasan keluarga
3. Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.
Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan
perawatan
4. Berikan Health Education tentang cara menolong anak kejang dan
mencegah kejang demam, antara lain :
1. Jangan panik saat kejang
2. Baringkan anak ditempat rata dan lembut.
3. Kepala dimiringkan.
4.Resiko terjadi trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot.
Tujuan : Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
Kriteria Hasil :
1. Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
2. Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang.
3. Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi kejang.
Rencana Tindakan :
1. Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat tidur
yang rendah.
Rasional : meminimalkan injuri saat kejang
2. Tinggallah bersama klien selama fase kejang..
Rasional : meningkatkan keamanan klien.
3. Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah.
Rasional : menurunkan resiko trauma pada mulut.
4. Letakkan klien di tempat yang lembut.
Rasional : membantu menurunkan resiko injuri fisik pada ekstimitas
ketika kontrol otot volunter berkurang.
5. Catat tipe kejang (lokasi,lama) dan frekuensi kejang.
Rasional : membantu menurunkan lokasi area cerebral yang
terganggu.
6. Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang
Rasional : mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal

B. Discharge Planning
Adapun Discharge Planning yang dapat diberikan pada pasien atau
keluarga pasien,yaitu :
a. Hindari mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat
lebih-lebih pada anak yang demam karena dapat meningkatkan
kebutuhan metabolisme tubuh.
b. Apabila selama perawatan di rumah keadaan anak semakin memburuk
seperti demam tidak turun atau kejang terus menerus, maka dianjurkan
untuk membawa segera ke dokter atau petugas kesehatan.
c. Apabila mendapat obat antibiotik, usahakan agar obat yang diperoleh
tersebut diberikan dengan benar selama 5-7 hari penuh.
d. Apabila anak mendapatkan obat antibiotik, usahakan agar setelah 2
hari anak di bawa kembali ke petugas kesehatan untuk pemeriksaan
ulang.
e. Anjurkan orang tua untuk tidak panic, berfikirlah dengan jernih apabila
pasien kejang, ini dapat membantu orang tua mengatasi kecemasan
yang berlebihan.
f. Anjurkan untuk kompres hangat bila anak demam pada dahi dan leher.
Basahi kulit bagian tubuh lainnya dengan spons. Jangan gosok dengan
alkohol.
g. Berikan paracetamol dengan dosis 10-15 mg/kg jika diperlukan,
jangan berikan aspirin atau apapun yang mengandung salisilat kepada
anak berusia dibawah 19 tahun karena dapat menimbulkan komplikasi
serius jika pasien demam.
h. Pada saat kejang anjurkan agar anak dihindarkan dari benda-benda
tajam karena ini dapat melukai pasien, tidak memegangi pasien saat
kejang, longgarkan pakaian anak pada daerah leher, jangan berikan
makanan dan minuman dan jangan berikan obat apapun, selain itu
lindungi kepala anak dari trauma serta letakkan anak pada posis tidur
menyamping sehingga jika terdapat cairan atau benda asing pada
mulut dapat keluar dan tidak menyumbat saluran pernapasan. (sujono
Riyadi & sukarmin, 2009)
9. DAFTAR PUSTAKA

1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri.


Jakarta : EGC.
2. Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa :
Maulanny R.F. Jakarta : EGC.
3. Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya
baru
4. Kejang Pada Anak. www. Pediatrik.com/knal.php
5. Lumbantobing SM, 1989, Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Pada Anak,
Gaya Baru, Jakarta
6. Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,
Penerjemah Monica Ester, EGC, Jakarta
7. Marilyn E. Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerjemah
Kariasa I Made, EGC, Jakarta
8. Matondang, Corry S, 2000, Diagnosis Fisis Pada Anak, Edisi ke 2, PT.
Sagung Seto: Jakarta.
PENGKAJIAN ANAK
Data Dasar
- Nama Anak : AN. I - Nama orang Tua : yudi praseptio
- Usia : 3 Tahun - Pendidikan : S1
- Jenis Kelamin : laki-laki - Alamat : Kp. Binong
pos 1 no. 35 Rt.05/02 curug. – Diagnosa Medis : Kejang Demam
- Anak ke-:5…dari …5.bersaudara .
- Tanggal Masuk : 21 -01-2014
- Sumber informasi: Orang Tua

 Keluhan Utama : Kejang demam sebanyak 1x, demam sejak 1 hari.


Keadaan Sakit saat ini : demam, batuk pilek, suhu; 38,6, nadi; 100x/m.RR:
22x/m, BB: 11,5 kg.
 Riwayat Kesehatan :
- Riwayat Kelahiran : Normal
- Riwayat pemberian makan : makanan nasi biasa 3x1 dengan
sayur dan makan buah -
- Diet terakhir (24 jam terakhir) : Makanan lunak
- Status Eliminasi : BAB 2x encer, BAK 2x
- Riwayat penyakit masa anak-anak : Deman dan batuk pilek
- Imunisasi : Imunisasi dasar
(BCG,DPT,POLIO,CAMPAK)
 Riwayat Tumbuh Kembang :
- Pertumbuhan fisik : Normal
- Perkembangan motorik halus : : Kemampuan mengamati
sesuatu baik, melakukan gerakan2 bagian tubuh baik.
- Perkembangan motorik kasar :Pregerakan dan sikap tubuh
baik
- Tidur : Jam 21.00 s/d 05.00 ( 8 jam
)
- Perkembangan bahasa ; Kemampuan untuk
memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara
spontan.
- Perkembangan social : Bersosialisasi dengan orang
tua dan keluarga
- Perkembangan kognitif : Baik
- Riwayat social/personal ( termasuk genogram) :

GENOGRAM

Keterangan :
: Laki-Laki
: Perempuan
: Pasien
+ : Meninggal
TINJAUAN SISTEM
1. Keadaan Umum dan tanda-tanda vital
Keadaan umum : Compos mentis
TB / BB : 120 cm/ 24 kg
Suhu : 38,3 ◦c
.Pernafasan : 22x/m
Nadi : 120x/m
TD : 100/80 mmhg
LILA :

2. Pengkajian Kardiovaskular
 Nadi
- Denyut apeks – frekuensi : 120x/m .Irama : reguler .kualitas:
- Nadi perifer : Tidak ada ; jika ada : frekuensi : normal .Irama :
reguler Kualitas , perbedaan antar ekstremitas : -
- Tekanan Darah - semua ekstremitas :normal
 Toraks dan hasil Auskultasi
- Lingkar dada (toraks) : normal
- Adanya Deformitas Toraks : normal
- Bunyi Jantung : Normal
 Tampilan umum
- Tingkat aktifitas :
- Perilaku gelisah dan ketakutan : normal
- Jari tabuh (clubbing) pada tangan dan kaki : normal
 Kulit
- Warna : sawo mateng
- Elastisitas : lentur.
- Suhu : 38◦c.
 Edema
- Periorbital :-
- Ekstremitas : -

3. Pengkajian Respiratori
 Bernafas
- Frekuensi pernafasan .Kedalaman: Normal , Kesimetrisan: normal.
- Pola nafas : reguler
- Retraksi : Normal
- Pernafasan Cuping hidung : Normal
- Posisi yang nyaman : telentang.
 Auskultasi Toraks
- Bunyi Nafas : Normal
- Fase Ekspirasi dan inspirasi memanjang : Normal
 Pemeriksaan Toraks
- Lingkar Dada : normal ( 42 cm )
- Bentuk Dada : normal
 Tampilan Umum
- Tingkat Aktivitas : lemah
- Perilaku : apatis ; gelisah; ketakutan : tidak

4. Pengkajian Neurologik
 Tingkat Kesadaran (GCS)
 Pemeriksaan Kepala
- Bentuk Umum : Normal
- Fontanel : Normal
- Lingkar Kepala (dibawah 2 tahun) :
 Reaksi pupil
- Ukuran : normal
- Reaksi Terhadap cahaya : baik
 Afek
- Alam Perasaan : Normal
- Labilitas : Normal
 Aktifitas kejang
- Jenis : tonik klonik
- Lamanya : ± 1 menit
 Fungsi Sensori
- Reaksi terhadap Nyeri : normal
- Reaksi Terhadap Suhu : normal
 Refleks
- Refleks tendo dan superficial :normal
- Refleks patologis : normal
 Kemampuan intelektual (tergantung tingkat perkembangan)
- Kemampuan menulis dan menggambar : baik
- Kemampuan Membaca : baik

5. Pengkajian Gastrointestinal
 Hidrasi
- Turgor kulit : lentur
- Membrane Mukosa : lembab
- Asupan dan Haluaran : normal
 Abdomen
- Nyeri : pada ulu hati
- Kekakuan : tidak
- Bising Usus : normal
- Muntah; Jumlah: : 100 cc.Frekuensi : 1x .karakteristik: normal
- Feces ; Jumlah : - Frekuensi:: - Karakteristik:normal
- Kram : tidak

6. Pengkajian Renal
 Fungsi Ginjal
- Nyeri tekan pinggang atau supra pubik :tidak
- Disuria : tidak
- Pola berkemih; lancer / menetes : lancar
- Urgensi : normal.
- Adanya asites : tidak
- Adanya; Edema skrotum; periorbital; tungkai bawah.: tidak
 Karakteristik Urin dan Urinisasi
- Urine tampak bening atau keruh : bening
- Warna : kuning muda
- Bau; ammonia; aseton : aceton
- Berat Jenis : -
- Menangis setelah berkemih : tidak
 Hidrasi
- Turgor kulit : normal
- Membrane Mukosa : lembab
- Asupan dan Haluaran : normal.
 Genetalia
- Iritasi : normal
- Secret :.normal

7. Pengkajian Muskuloskeletal
 Fungsi Motorik Kasar
- Ukuran otot; adanya atrofi atau hipertrofi otot : normal
- Tonus Otot ; spastisitas; rentang gerak terbatas: normal.
- Kekuatan : normal
- Gerakan abnormal : normal
 Fungsi Motorik Halus
- Manipulasi mainan : respon baik
- Menggambar : baik
 Kontrol Postur
- Mempertahankan posisi tegak : normal
- Bergoyang-goyang : normal.
 Persendian
- Rentang gerak : normal
- Kontraktur : normal
- Adanya edema dan nyeri : tidak.
- Tonjolan abnormal :normal
 Tulang Belakang
- Lengkung tulang belakang ; skoliosis; kifosis : normal

8. Pengkajian Hematologik
 Kulit
- Warna : sawo mateng
- Adanya petekhi; memar :normal
- Perdarahan dari membrane mukosa atau dari luka suntikan atau
fungsi vena : normal
 Abdomen
- Pembesaran hati : normal
- Pembesaran Limpa : normal.

9. Pengkajian Endokrin
 Status Hidrasi
- Poliuria : tidak
- Polifagia : tidak
- Polidipsi : tidak
- Kulit Kering : tidak
 Tampilan Umum
- Alam Perasaan : baik
- Iritabilitas : baik
- Sakit Kepala : tidak
- Gemetar : tidak

10. Obat-obatan
Nama obat Dosis Indikasi Kontra Efek
Indikasi Samping
sanmol 3x1 cth Menurunkan - mual
demam dan nyeri
buffet 3x1/2 cth -
contusi 3x1/2 cth Menghilangkan - tidur
batuk.
Diazepam 3x 0,5 mg Meredakan - tidur
kejang

11. Pemeriksaan Laboraturium


Laboratorium tanggal 25-01-2014
Jenis Nilai Nilai saat Interpretasi
pemeriksaan Normal ini
Haenoglobin 13 - 18 10,4
Leukisit 5 - 10 9,6
Trombosit 150-450 186
Eritrosit 4,6
Limfosit 11
Hematokrit 40 - 50 32
Natrium 140
Segmen 81
Clorida 94
WIDAL
S.paratyphi AH 1/160
S.paratyphi CH 1/160

Laboratorium tanggal 26-01-2014


Jenis Nilai Nilai saat Interpretasi
pemeriksaan Normal ini
haemoglobin 13 - 18 10,3
leukosit 5 - 10 6,9
Hematoktrit 40-50 31
Trombosit 150-450 210

12. Pemeriksaan Diagnostik beserta kesannya ( Rontgen, USG, CT-Scan, dll)


Klien tidak ada pemeriksaan Rontgen,USG,CT-Scan

13. Format rencana keperawatan.

Nama Mahasiswa :karyawati br pinem Nama Klien : An. I (3)


Tanggal : 21-01-2014 Diagnosa Medis : kejang
anak

Pengkajian Perencanaan

Dx Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

DS: OT Rasa nyaman 1.Kaji faktor – faktor 1.mengetahui


mengatakan terpenuhi terjadinya penyebab terjadinya
kejang demam hiperthermi karena
Kriteria hasil hiperthermi.
sebanyak 1x penambahan
DO: demam, RR : 24 – 28 2.Observasi tanda – pakaian/selimut dapat
batuk pilek, x/menit, tanda vital tiap 4 jam menghambat
penurunan suhu
suhu; 38,6, nadi; Kesadaran sekali.
tubuh.
100x/m.RR: composmentis, 3.Pertahankan suhu
2..Pemantauan tanda
22x/m, BB: 11,5 anak tidak rewel. tubuh normal.
vital yang teratur
kg. 4.Ajarkan pada
dapat menentukan
Diagnosa kep: keluarga
perkembangan
Gangguan rasa memberikan
keperawatan yang
nyaman kompres dingin pada selanjutnya.
berhubungan kepala / ketiak . 3.suhu tubuh dapat
dengan 5. Anjurkan untuk dipengaruhi oleh
hiperthermi yang menggunakan baju tingkat aktivitas, suhu
ditandai dengan tipis dan terbuat dari lingkungan,
Suhu meningkat. kain katun. kelembaban
6.Atur sirkulasi tinggiakan
udara ruangan. mempengaruhi panas
7.Beri ekstra cairan atau dinginnya tubuh
dengan 4.proses
menganjurkan pasien konduksi/perpindahan
banyak minum panas dengan suatu
8.Batasi aktivitas bahan perantara.
fisik 5. proses hilangnya
panas akan terhalangi
oleh pakaian tebal
dan tidak dapat
menyerap keringat.
6. Penyediaan udara

DS: demam bersih.


masih naik turun 7. Kebutuhan cairan
DO: tampak anak meningkat karena
lemah, suhu 38
penguapan tubuh
⁰c, nadi 100x/m,
RR: 24x/m meningkat.
8.aktivitas
Resiko terjadi
meningkatkan
kejang ulang
tujuan Klien tidak mengalami kejang
metabolismedan
selama berhubungan den
berhubungan
Klien tidak 1.Longgarkan meningkatkan panas
dengan
mengalami kejang pakaian, berikan 1. proses konveksi
hipertermi.
selama pakaian tipis yang akan terhalang oleh
berhubungan mudah menyerap pakaian yang ketat
dengan keringat. dan tidak menyerap
hiperthermi. keringat.
Kriteria hasil: 2.Berikan kompres 2. perpindahan panas
1.Tidak terjadi dingin. secara konduksi
serangan kejang 3.Berikan ekstra 3.saat demam
ulang. cairan (susu, sari kebutuhan akan
2.Suhu 36,5 – 37,5 buah, dll). cairan tubuh
º C (bayi), 36 – 4. Observasi kejang meningkat.
37,5 º C (anak) dan tanda vital tiap 4 4. Pemantauan yang
3.Nadi 110 – 120 jam. teratur menentukan
x/menit (bayi) tindakan yang akan
100-110 x/menit 5.Batasi aktivitas dilakukan.
(anak) selama anak panas 5.aktivitas dapat
4.Respirasi 30 – meningkatkan
40 x/menit (bayi) 24 – 28 x/menit: (anak) metabolisme
aktivitas dapat meningkatkan
dan
5.Kesadaran 6.Berikan anti meningkatkan panas.
composmentis piretika dan 6.Menurunkan panas
pengobatan sesuai pada pusat
Klien
advis.tidak mengalami kejang
hipotalamus
: Menurunkan
selama berhubungan
panas
dan pada den
pus
sebagai propilaksis

aktivi
aktivi
14. Format catatan perkembangan klien.

Nama mahasiswa : Karyawati br Pinem Nama klien : AN.I (3)


Tanggal: 21-01-2114 Diagnosa medis: kejang anak

No. Diagnosa Kperawatan Implementasi Evaluasi

1. Gangguan rasa nyaman 21-01-2014 jam 17.30 wib DS: OT


berhubungan dengan .Kaji faktor – faktor mengatakan
kejang demam
hiperthermi yang terjadinya hiperthermi.
sebanyak 1x
ditandai dengan Suhu 2.Observasi tanda – tanda DO: demam,
meningkat. vital tiap 4 jam sekali. batuk pilek, suhu;

Jam 18.00 wib 38,6, nadi;

3.Pertahankan suhu tubuh 100x/m.RR:

normal. 22x/m, BB: 11,5

4.Ajarkan pada keluarga kg.

memberikan kompres A. gangguan rasa


nyaman belum
dingin pada kepala / ketiak
teratasi.
.jam 18.30 wib P. lanjutkan
5.Anjurkan untuk intervensi 1 s/d 8.
menggunakan baju tipis
dan terbuat dari kain katun.
6.Atur sirkulasi udara
ruangan.
Jam 19.00 wib.
7.Beri ekstra cairan dengan
menganjurkan pasien
banyak minum
8.Batasi aktivitas fisik
LAPORAN RESUME

Nama Klien : An.I


Usia : 3 Thn

Diagnosa Medis : kejang


Data Objektif : demam, batuk pilek, suhu; 38,6, nadi;
100x/m.RR: 22x/m, BB: 11,5 kg.

Data Subyektif : OT mengatakan kejang demam sebanyak 1x

Diagnosa Keperawatan:. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi

yang ditandai dengan Suhu meningkat

Implementasi : 1.Kaji faktor – faktor terjadinya hiperthermi.


2.Observasi tanda – tanda vital tiap 4 jam sekali.
3.Pertahankan suhu tubuh normal.
4.Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin
pada kepala / ketiak .
5. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat
dari kain katun.
6.Atur sirkulasi udara ruangan.
7.Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien
banyak minum
8.Batasi aktivitas fisik

Evaluasi : S: OT mengatakan kejang demam sebanyak 1x.


O : demam, batuk pilek, suhu; 38,6, nadi; 100x/m.RR: 22x/m,
BB: 11,5 kg.
A: gangguan rasa nyaman belum teratasi.
P: lanjutkan intervensi 1 s/d 8.