Vous êtes sur la page 1sur 32

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih dari 140

mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg, berdasarkan pada dua

kali pengukuran atau lebih. (Brunner & Suddarth, dalam Susan, 2012).
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah baik diastolic

maupun sistolik secara hilang timbul atau menetap. Hipertensi dapat

terjadi secara esensil dimana faktor penyebab tidak dapat teridentifikasi,

atau secara sekunder, akibat penyakit tertentu yang diderita

(Robinson,2014).
Sedangkan menurut Ardiansyah penyakit tersebut adalah tekanan

darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur paling tidak tiga

kesempatan yang berbeda. Secara umum, seseorang dianggap mengalami

Hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90 mmHg serta

sering juga diartikan sebagai suatu keadaan dimana sistolik lebih tinggi

dari 120 mmHg dan diastolik lebih dari 80 mmHg (Ardiansyah, 2012,

p.53).
Kategori Hipertensi Pasien Dewasa (18 tahun keatas) oleh The Joint

National Commite on Deectection, Evaluation, and Treatment of Blood

Pressure (Ardiansyah, 2012, p.63) sebagai berikut:

Kategori Sistolik (angka Diastolik (angka


tertinggi dalam terendah dalam
mmHg) mmHg)
Normal < 130 < 85
Normal tinggi 130-139 85-89
Hipertensi I (ringan) 140-159 90-99
Hipertensi II (sedang) 160-179 100-109
Hipertensi III (berat) 180-210 110-119
Hipertensi IV (sangat ≥210 ≥120
berat)
Tabel 2.1 Kategori Hipertensi (Ardinsyah, 2012, p.63)
2. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar

yaitu:
a. Primer
Adalah Hipertensi esensial atau tekanan darah tinggi yang 90% tidak

diketahui penyebabnya. Beberapa faktor yang diduga menjadi

penyebab, diantaranya:
1) Genetik; individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan

Hipertensi, berisiko lebih tinggi untuk mendapatkan penyakit ini.

2) Jenis kelamin dan usia; laki-laki berusia 35-50 tahun dan wanita

pascamenopause berisiko tinggi untuk mengalami tekanan darah

tinggi.
3) Diet; konsumsi diet tinggi garam atau kandungan lemak, secara

langsung berkaitan dengan berkembangnya penyakit ini.


4) Berat badan/obesitas (25% lebih berat di atas berat badan ideal)

juga sering dikaitkan dengan berkembangnya penyakit.


5) Gaya hidup merokok dan konsumsi alkohol dapat meningkatkan

tekanan darah (bila gaya hidup yang tidak sehat tersebut tetap

diterapkan).
b. Sekunder
Merupakan jenis yang penyebabnya diketahui. Beberapa gejala atau

penyakit yang menyebabkan Hipertensi jenis ini antara lain:


1) Coarctation aorta, yaitu penyempitan aorta congenital yang

(mungkin) terjadi pada beberapa tingkat aorta torasik atau aorta

uabdominal. Penyempitan ini menghambat aliran darah melalui


lengkung aorta dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah di

atas area kontriksi.


2) Penyakit parenkim dan vascular ginjal, ini merupakan penyebab

utama hipertensi sekunder. Hipertensi renovaskuler berhubungan

dengan penyempitan satu atau lebih arteri besar, yang secara

langsung membawa darah ke ginjal.


Sekitar 90% lesi arteri renal pada pasien dengan tekanan darah

tinggi disebabkan oleh aterosklerosis atau fibrous dysplasia

(pertumbuhan abnormal jaringan fibrous). Penyakit parenkim

ginjal terkait dengan infeksi, inflamasi, dan perubahan struktur

serta fungsi ginjal.


3) Penggunaan kontrasepsi hormonal (esterogen), dapat

menyebabkan hipertensi melalui mekanisme renin-aldosteron-

mediate volume expansion. Dengan penghentian oral kontrasepsi,

tekanan darah kembali normal setelah beberapa bulan.


4) Gangguan endokrin. Disfungsi medula adrenal atau korteks

adrenal dapat menjadi penyebabnya. Adrenal-mediate

hypertension disebabkan kelebihan primer aldosteron, kortisol,

dan katekolamin. Pada aldosteron primer, kelebihan aldosteron

menyebabkan Hipertensi dan hypokalemia. Aldosteronisme primer

biasanya timbul dari adenoma korteks adrenal yang benign (jinak).

Pheochromocytomas pada medula adrenal yang paling umum dan

meningkatkan sekresi katekolamin yang berlebihan. Pada sindrom

cushing, terjadi kelebihan glukokortikoid yang diekskresi dari


korteks adrenal. Sindrom chusing mungkin disebabkan oleh

hiperplasi adrenokortikal atau adenoma adrenokortikal.


5) Kegemukan (obesitas) dan gaya hidup yang tidak aktif (malas

berolahraga)
6) Stress, cenderung menyebabklan kenaikan tekanan darah untuk

sementara waktu.
7) Kehamilan
8) Luka bakar
9) Peningkatan volume intravascular
10) Merokok. Nikotin dalam rokok dapat merangsang pelepasan

katekolamin, dan jika meningkat mengakibatkan iritabilitas

miokardial, peningkatan denyut jantung, serta menyebabkan

vasokontriksi yang kemudain meningkatkan tekanan darah

(Ardiansyah, 2012: 59-62)

3. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh

darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Vasokontriksi yang

terjadi menyebabkan suplai oksigen ke otak menurun. Pada saat yang

sama resistensi pembuluh darah pada otak menyebabkan meningkatnya

tekanan pada pembuluh darah otak. Sehingga klien sering mengalami

nyeri kepala. Pada saat bersamaan ketika sistem saraf simpatis merangsang

pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga

terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Korteks

adrenal menyekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat

respons vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi menyebabkan

penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin

yang dilepaskan merangsang pembentukan angiostensin yang kemudian


diubah menjadi angiostensi II, vasokontriksi kuat, yang pada akhirnya

menyerang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini

menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan

peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung

mencetuskan hipertensi
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer

bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah pada usia lanjut.

Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan

ikat dan penurunan dalam relaksasi ototo polos pembuluh darah, yang

pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang

pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan areteri besar berkurang

kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh

jantung, mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahan

perifer (Padila, 2013).


4. Manifestasi Klinis
Pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan apapun selain

tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada

retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan

pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema padda diskus

optikus).
Individu yang terkena hipertensi kadang tidak menampakan gejala

sampai bertahun tahun. Bila ada gejala menunjukan adanya kerusakan

vaskuler,dengan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang

divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Perubahan patologis

pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi


pada malam hari) dan azetoma (peningkatan nitrogen urea darah dan

kreatinin). Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke

atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralysis

sementara pada satu sisi (Brunner & Suddarth, dalam Susan, 2012)
Ardiansyah (2012) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis

timbul:
a. Nyeri kepala saat terjaga, terkadang disertai mual dan muntah akibat

peningkatan tekanan darah interkranium;


b. Penglihatan kabur karena terjadi kerusakan pada retina;
c. Ayunan langkah yang tidak mantap karena terjadi kerusakan susunan

saraf pusat;
d. Nokturia (sering berkemih di malam hari) karena adanya peningkatan

aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus;


e. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan

kapiler,

5. Penatalaksanaan
a. Farmakologi
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah

saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi, agar penderita

dapat mempertahankan kondisinya.


Pengobatannya meliputi:
1) Diuretik (Hidroklorotiazid)
Mengeluarkan cairan tubuh sehingga volume cairan ditubuh

berkurang yang mengakibatkan pompa jantung menjadi lebih

ringan
2) Penghambat simpatetik (Metildopa, Klonidin, dan Reserpin)
Menghambat aktivitas saraf simpatis
3) Betabloker (Metroprolol, Propanolol dan Antenolol)
a) Menurunkan daya pompa jantung
b) Tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui

mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial


c) Pada penderita diabetes mellitus:dapat menutupi gejala

hipoglikemia
4) Vasodilator (Prasosin, Hidralisin)
Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos

pembuluh darah
5) ACE inhibitor (Captopril)
a) Menghambat pembentukan zat Angiostensin II
b) Efek samping : batuk kering, pusing, sakit kepala, dan lemas
6) Penghambat Reseptor Angiotensin II (Valsartan)
Menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptor

sehingga memperingan daya pompa jantung.


7) Antagonis Kalsium (Diltiasem dan Verapamil)
Menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas)
b. Non Farmakologi
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan
dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi

tanpa obat meliputi:


1) Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah
a) Restriksi garam secara moderat dari 10gr/hari menjadi 5

gr/hari
b) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c) Penurunan berat badan
d) Penurunan asupan etanol
e) Menghentikan merokok
f) Diet tinggi kalium
g) Batasi konsumsi alcohol
2) Latihan fisik
Latihan fisik atau olahraga yang teratur dan terarah yang

dianjurkan untuk prnderita hipertensi yaitu:


a) Olahraga yang isotonis dan dinamis seperti lari, jogging,

bersepeda, berenang dan lain-lain.


b) Intensitas olahraga yang baik antara 60-80% dari kapasitas

aerobic atau 72-87% dari denyut nadi maksimal yang disebut

zona latihan.
c) Lama latihan antara 20-25 menit
d) Frekuensi latihan 3-5x perminggu
3) Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:
a) Tehnik Biofeedback
Tehnik yang dipakai untuk menunjukan pada subyek tanda-

tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek

dianggap tidak normal.

b) Tehnik relaksasi
Tehnik yang bertujun untuk mengurangi ketegangan dan

kecemasan.
4) Pendidikan Kesehatan
Untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit

hipertensi dan pengelolaanya sehinnga pasien dapat

mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.


(Padila, 2013, p361)
6. Komplikasi Hipertensi
Menurut Aspiani (2016, p.220) komplikasi yang terjadi akibat Hipertensi

diantaranya adalah:
a. Stroke
Terjadi karena perdarahan pada otak sebagai akibat dari tekanan darah

yang tinggi atau karena akibat dari embolus yang terlepas dari

pembuluh non otak (Ardiansyah, 2012, p.64)


b. Infark miokardium
Terjadi karena miokardium tidak mendapat suplai oksigen yang cukup.

Hal ini terjadi saat arteri koroner mengalami aerosklerotik atau apabila

terbentuk thrombus yng dapat menghambat aliran darah melalui

pembuluh darah tersebut.


c. Gagal Ginjal
Terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler-

kapiler glomerulus.
d. Ensefalopati (kerusakan otak)
Terjadi terutama pada hipertensi maligna karena tekanan yang sangat
tinggi meningkatkan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam

ruang intertisium di seluruh susunan saraf pusat.


7. Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis
a. Dasar Pengkajian
Menurut Padila (2013, p.359) data dasar yang ada dalam pengkajian

adalah:
1) Aktivitas/ istirahat
Gejala :lemah, letih, lesu, napas pendek, dan gaya hidup monoton
Tanda :frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,

dan takipnea.
2) Sirkulasi
Gejala :riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner, penyakit

cerebrovaskuler.
Tanda :kenaikan TD, hipotensi postural, takikardi, perubahan

warna kulit, dan suhu dingin.


3) Integritas ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi,

euphoria, dan factor stress multiple.


Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue

perhatian, tangisan, yang meledak, dan otot muka tegang.

4) Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu.
Tanda : temuan fisik berupa urine < 50 ml/jam atau oliguri

(Udjianti, 2010, p.10)


5) Makanan/ cairan
Gejala : makanan yang disukai makanan tinggi garam, lemak, dan

kolesterol.
Tanda : BB normal atau obesitas, adanya edema.
6) Neurosensori
Gejala : pusing/ pening, gangguan penglihatan, episode epistaksis,

dan sakit kepala suboksipital biasanya terjadi saat bangun dan

hilang secara spontan setelah beberapa jam (Ardiansyah, 2012,

p.75)
Tanda : perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman, dan

perubahan retinal optik.


7) Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : angina, nyeri hilng timbul pada tungkai, sakit kepala

oksipiatal berat, dan nyeri abdomen.


8) Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea,

ortopnea, dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa

sputum, riwayat merokok.


Tanda : distress respirasi/ pengunaan ototo aksesoris pernapasan,

bunyi napas tambahan, sianosis.


9) Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi, cara jalan.
Tanda : episode parestesia unilateral transien, hipotensi postural.
10) Pembelajaran/penyuluhan
Gejala : faktor risiko keluarga; hipertensi, aterosklerosis, penyakit

jantung, DM, penyakit ginjal.


Faktor risiko etnik; penggunaan pil KB atau hormon.
B. Konsep Dasar Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena

hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga, yang

berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam peran dan menciptakan serta

mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya, dalam Ali 2010)


Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama

dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran

masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, dalam

Suprajitno, 2014).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai

hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan

yang terus-menerus, yang mempunyai ikatan emosional, dan mempunyai


kewajiban antara satu orang dengan orang lainnya (Johnson’s, dalam

Bakri 2017)
Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan keluarga

adalah suatu kelompok kecil yang terdiri dari dua orang atau lebih

individu yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, dan adopsi

dalam satu rumah tangga, yang mempunyai ikatan emosional dan

mempunyai kewajiban masing masing


2. Peran Keluarga
Menurut Ali (2010, p.10) Peran adalah seperangkat perilaku

interpersonal, sifat, dan kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam

posisi dan satuan tertentu. Setiap anggota mempunyai peran masing-

masing.
a. Peran ayah, sebagai pemimpin keluarga, membina nafkah, pendidik,

pelindung/pengayom, dan pemberi rasa aman kepada anggota keluarga.

Selain itu, sebagai anggota keluarga dari kelompok sosialnya serta

berperan sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.


b. Peran ibu, sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh, pendidik anak-

anak, pelindung keluarga, dan juga sebagai pencari nafkah tambahan

keluarga.
c. Peran anak, sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan

fisik, mental, sosial, dan spiritual.

3. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (dalam Suprajitno, 2014) secara umum fungsi

keluarga dibagi menjadi lima poin sebagai berikut:


a. Fungsi afektif (the affective function)
fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu

untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang


lain. Fungsi ini dibuthukan untuk perkembangan individu dan

psikososial anggota keluarga.


b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social

placement function)
Fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk

berkehidupan social sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan

dengan orang lain di luar rumah.


c. Fungsi reproduksi (the reproductive function)
Keluarga berfungsi untuk mempertahankan generasi dan

menjaga kelangsungan keluarga.


d. Fungsi ekonomi (the economic function)
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara
ekonomi dan tempat untuk mengemangkan kemampuan individu

meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


e. Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan (the healthcare function)
Fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota
keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini

dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.


4. Tahap Perkembangan Tahap perkembangan
Menurut Duval (Bakri 2017) tahap perkembanagan dibagi menjadi 8

tahap perkembangan, yaitu:


a. Keluarga baru (Berganning Family)
Keluarga baru dimulai ketika dua individu membentuk

keluarga melalui perkawinan. Pada tahap ini, pasangan baru memiliki

tugas perkembangan untuk membina hubungan intim yang

memuaskan didalam keluarga, membuat berbagai kesepakatan untuk

mencapai tujuan bersama, ttermasuk dalam hal merencankan anak,

persiapan menjadi orang tua, dan mencari pengetahuan prenatal care.


b. Keluarga dengan anak pertama < 30 bulan ( Child Bearing)
Tahap keluarga dengan anak pertamalah masa transisi

pasangan suami istri yang dimulai sejak anak pertama lahir sampai
berusia kurang dari 30 bulan. Pada masa ini sering timbul konflik

yang dipicu kecemburuan pasangan akan perhatian yang lebih

ditujukan kepada anggota keluarga baru. Adapun tugas perkembangan

pada tahap ini yaitu kesadaran akan perlunya beradaptasi dengan

perubahan anggota keluarga, mempertahankan keharmonisan

pasangan suami istri, berbagi peran dan tangung jawab, juga

mempersiapkan biaya untuk anak.

c. Keluarga dengan anak prasekolah


Tahap ini berlangsung sejak ank pertama berusia 2,5 -5 tahun.

Adapun tugas perkembangan yang mesti dilakukan adalah memenuhi

kebutuhan anggota keluarga, membantu anak bersosialisai dengan

lingkungan, cermat membagi tanggung jawab, mempertahankan

hubungan keluarga, serta mampu membagi waktu untuk diri sendiri,

pasangan dan anak.


d. Keluarga dengan anak usia sekolah (6-13 tahun)
Tahapan ini berlangsung sejak anak pertama menginjak

sekolah dasar sampai memasuki awal masa remaja. Dalam hal ini,

sosialisasi anak semakin melebar. Tidak hanya dilingkungan rumah,

sekolah dan lingkungan yang lebih luas lagi. Tugas perkembangannya

dalah anak harus sudah diperhatikan minat dan bakatnya sehingga

orang tua bisa mengarahkan dengan tepat, membekali anak dengan

berbagai kegiatan kreatif agar motoriknya berkembang dengan baik

dan memperhatikan anak akan resiko pengaruh teman serta

sekolahnya.
e. Keluarga dengan anak remaja (13-20 tahun)
Pada perkembangan tahap remaja ini orang tua perlu

memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab. Hal I

I mengingat bahwa remaja adalah sesorang yang dewasa muda dan

mulai memiliki otonomi. Ia ingin mengatur kehidupannya sendiri

tetapi masih membutuhkan bimbingan. Sebab itu komunikasi orang

tua dan anak harus terus dijaga. Selain itu, beberapa peraturan juga

sudah mulai diterapkan untuk memberikan batasan tertentu tetapi

masih dalam tahap wajar.


f. Keluarga dengan anak dewasa (anak 1 meninggalkan rumah)
Tahap ini dimulai sejak anak pertama meninggalkan rumah.

Artinya keluarga sedang menghadapi persiapan anak yang mulai

mandiri. Dalam hal ini orang tua mesti merelakan anak untuk pergi

jauh dari rumahnya demi tujuan tertentu. Adapun tugas perkembangan

pada tahap ini, antara lain membantu dan mempersiapkan untuk hidup

mandiri, menjaga keharmonisan dengan pasangan, memperluas

keluarga inti menjadi keluarga besar, bersiap mengurusi keluarga

besar (orang tua pasangan) memasuki masa tua, dan memberkan

contoh kepada anak-anak mengenai lingkungan rumah yang positif.


g. Keluarga usia pertengahan (Midle Age Fanily)
Tahapan ini ditandai dengan perginya anak terakhir dari rumah

dan salah satu pasangan bersikap negative atau meninggal. Tugas

perkembangan keluarganya, yaitu menjaga kesehatan, meningktkan

keharmonisan dengan pasangan, anak, dan teman sebaya, serta

mempersiapkan masa tua.


h. Keluarga lanjut usia
Masa usia lanjut adalah masa-masa akhir kehidupan manusia.
Maka tugas perkembangan dalam masa ini yaitu beradaptasi dengan

perubahan kehilangan pasangan, kawan, ataupun saudara. Selain itu

“life review” juga penting, disamping tetap mempertahankan

kedamaian rumah, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan kematian.


5. Bentuk Keluarga
Keluarga dibedakan menjadi dua kelompok yaitu keluarga tradisional

dan keluarga non tradisional Sussman, Maclin, Anderson Carter dan

Setiadi (dalam Bakri 2017). Dari kedua bentuk tersebut didalamnya ada

beberapa tipe keluarga di dalamnya yaitu:


a. Keluarga tradisional
1) Keluarga inti (Nuclear Family)
Keluarga inti merupakan keluarga kecil dalam satu rumah.

Dalam keseharian, anggota keluarga inti ini hidup bersama dan

saling menjaga. Anggota dari keluarga ini terdiri dari ayah, ibu

dan anak-anak.
2) Keluarga Besar (Exstended Family)
Keluarga besar merupakan gabungan dari beberapa

keluarga inti yang bersumbu dari satu keluarga inti. Satu keluarga

memiliki beberapa anak, lalu anak-anaknya menikah dan

memiliki anak, dan kemudian menikah lagi dan memiliki anak.


3) Keluarga Dyad (Pasangan Inti)
Tipe keluarga ini biasanya terjadi pada sepasang suami-istri

yang baru menikah. Mereka telah membina rumh tangga tetapi

belum memiliki anak atau mereka bersepakat untuk tidak

memiliki anak dulu.


4) Keluarag Single Parent
Single parent adalah kondisi seseorang tidak memiliki

pasangan lagi. Hal ini bisa disebabkan karena perceraian atau

meningal dunia.
5) Keluarga Single Adult (Bujang Dewasa)
Pasangan yang mengambil jarak atau berpisah sementara

waktu untuk kebeutuhan tertentu, misalnya bekerja atau kuliah.


b. Keluarga nontradisional
1) The Unmarriedteenege Mother
Kehidupan seorang ibu bersama anaknya tanpa pernikahan.
2) Reconstituded Nuclear
Sebuah keluarga yang berpisah, kemudian membentuk keluarga inti

melalui perkawinan. Mereka tinggal dan hidup bersama anak-

anaknya baiak pernikahan sekarang maupun sebelumnya.


3) The Stepparent Family
Sepasang suami istri yang mengadopsi seorang anak. Baik itu

sudah memiliki anak atau belum


4) Commune Family
Sebuah keluarga yang memiliki kesepakatan bersama untuk tingal

satu atap dalam waktu singkat maupun lama. Mereka tidak

memiliki hubungan darah namun memutuskan hidup bersama

dalam satu rumah, satu fasilitas dan pengalaman yang sama.

5) The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family


Tanpa ikatan pernikahan, sesorang memutuskan untuk hidup

bersama dengan pasangannya. Namun, dalam waktu singat,

pasangan tersebut berganti pasangan lagi dan tanpa hubungan

pernikahan.
6) Gay and Lesbian Family
Seseorang dengan jenis kelamin yang sama menyatakan hidup

bersama sebagaimana pasangan suami istri(marital parents)


7) Conhibiting Couple
Dua orang atau lebih yang tinggal bersama karena merasa satu

daerah atau satu Negara tanpa ikatan pernikahan. Kehidupan

mereka seperti kehidupan berkeluarga. Alasan untuk tinggal

bersama ini bisa beragam.


8) Group- Marriage Family
Beberapa orang dewasa menggunakan alat-alat rumh tangga

bersama dan mereka merasa sudah menikah, sehingga berbagi

sesuatu termasuk seksual dan membesarkan anaknya.


9) Group Network Family
Keluarga inti yang dibatasi oleh aturan-aturan, hidup bersama satu

sama lainnya, dan saling menggunakan barang-barang rumah

tangganya bersama, pelayanan dan tanggung jawab membesarkan

anaknya.

10) Foster Family


Seseorang anak yang kehilangan orang tuanya dan ada sebuah

keluarga yang bersedia menanmpungnya sampai menemukan

kembali orang tua kandungnya. Atau orang tua yang menitipkan

anaknya dalam waktu tertentu hingga ia kembali mengambil

anaknya.
11) Institusional
Seseorang yang tinggal dalam panti asuhan. Entah dengan

dititipkan oleh orang tuanya atau ditemukan.


12) Homeless Family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang

permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan

keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.


6. Tugas Keluarga
Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan

dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan.

Asuhan keperawatan keluarga, mencantumkan lima tugas keluarga sebagai

paparan etiologi/penyebab masalah dan biasanya dikaji pada saat


penjajagan tahap II bila ditemui data maladaptive pada keluarga. Lima

tugas keluarga yang dimaksud adalah :


1) Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, termasuk

bagaimana persepsi keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit,

pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan persepsi keluarga

terhadap masalah yang dialami keluarga.


2) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauh

mana keluarga mengerti sifat dan luasnya masalah, bagaimana masalah

dirasakan oleh keluarga, keluarga menyerah atau tidak terhadap

masalah yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap akibat atau adakah

sikap negatif dari keluarga terhadap masalah kesehatan, bagaimana

sistem pengambilan keputusan yang dilakukan keluarga terhadap

anggota kelurga yang sakit.


3) Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,

seperti bagaimana mengetahui keadaan sakitnya, sifat dan

pengembangan perawatan yang diperlukan, sumber-sumber yang ada

dalam keluarga serta sikap keluarga terhadap penyakit.


4) Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan, seperti

pentingnya hygiene sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit

yang dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga dalam menata

lingkungan dalam dan luar rumah yang berdampak terhadap kesehatan

keluarga.
5) Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan

kesehatan, seperti kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan

fasilitas pelayanan kesehatan, keberadaan fasilitas kesehatan, apakah

kesehatan terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman yang kurang


baik, kesehatan terjangkau oleh kelurga, adakah pengalaman yang

kurang baik yang dipersepsikan keluarga (Komang, 2010)


C. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengertian
Keperawatan keluarga merupakan suatu proses yang rumit

sehingga memerlukan pendekatan yang logis dan sistematis pada keluarga

dan setiap anggotanya (Ali, 2010).


2. Langkah Proses Keperawatan
a. Pengkajian yang terdiri dari pengkajian keluarga dan pengkajian

individu/ anggota keluarga


b. Perumusan diagnosis keperawatan
c. Rencana asuhan keperawatan
d. Intervensi
e. Evaluasi keperawatan
(Friedman, dalam Ali 2010)
3. Sumber Data Pengkajian
Menurut Ali (2010) data pengkajian didapat dengan mengunakan

beberapa cara. Berikut ini adalah metode pengumpulan data yang

digunakan:
a. Wawancara, dilakukan untuk mengetahui data subjektif dalam aspek

fisik, mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan, adat istiadat, agama,

lingkungan, dll.
b. Pengamatan/Observasi, dilakukan untuk mengetahui hal yang secara

langsung bersifat fisik (ventilasi, kebersihan, penerangan,dll) atau data

objektif (benda lain).


c. Pemeriksaan fisik, dilakukan pada anggota keluarga yang mempunyai

masalah kesehatan dan keperawatan yang berkaitan dengan keadaan

fisik, misalnya kehamilan, mata, telinga, tenggorokan, dll.


d. Studi dokumentasi, dilakukan dengan jalan menelusuri dokumen yang

ada, misalnya catatan kesehatan, kartu keluarga, catatan pasien, dll.


4. Pengumpulan Data
Hal-hal yang perlu dikumpu;kan datanya dalam pengkajian keluarga

adalah :
a. Data Umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :
1) Nama kepala keluarga (KK)
2) Alamat dan telepon
3) Pekerjaan kepala keluarga
4) Pendidikan kepala keluarga
5) Komposisi keluarga
Menjelaskan anggota keluarga yang diidentifikasi sebagai

bagian dari keluarga mereka. Komposisi tidak hanya

mencantumkan penghuni rumah tangga, tetapi juga anggota

keluarga lain yang menjadi nagian dari keluarga tersebut.

Susunannya dimulai dari anggota keluarga yang sudah dewasa,

ke,udain diikuti dengan keluarga lainya sesuai dengan susunan

kelahiran dimulai dari yang lebih tua, kemudian mencantumkan

jenis kelamin, hubungan setiap anggota keluarga, tempat tinngal

lahir/umur, pelerjaan dan pendidikan.


6) Genogram
Genogram keluarga adalah suatu diagram yang menggambarkan

pohon keluarga. Genogram ini merupakan suatu alat pengkajian

informative yang digunakan untuk mengetahui keluarga dan

riwayat keluarga serta sumbernya. Genogram dipandang sebagai

pengkajian bagaimana perstiwa dan hubungan di dalam kehidupan

anggota keluarga inti berhubungan dengan pola sehat-sakit

keluarga di dalam dan antar generasi, serta menghasilkan hipotesis

sementara tentang apa yang sedang terjadi di dalam suatu keluarga

(Friedman, 2014, p.215).


Berikut ini adalah gambar keterangan yang ada pada genogram

menurut padila (2013).

Laki-laki Perempuan
Klien yang
diidentifikasi

Meninggal Menikah Pisah

Cerai Tidak menikah

Anak
angkat/adopsi

Dengan Aborsi Tinggal dalam


satu rumah
Kembar
Gambar 2.1 Keterangan Genogram (padila, 2013)
7) Tipe Keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau

masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut


8) Suku bangsa
Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta mengidentifikasi

budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.


9) Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang

dapat mempengaruhi kesehatan

10) Status sosial ekonomi keluarga


Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik

dari kepala keluarga maupuan anggota keluarga lainnya.


11) Aktivitas rekreasi keluarga
Aktivitas rekreasi yang dilakukan oleh keluarga tersebut.
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) keluarga Tahap perkembangan saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan oleh anak tertua dari

keluarga inti
2) Tahap perkembangan yang belum terpenuhi
Menjelaskan tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

serta kendala-kendala mengapa tugas perkembangan belum

terpenuhi.
3) Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti,

meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-

masing anggota keluarga, perhatian keluarga terhadap pencegahan

penyakit termasuk status imunisasi, sumber pelayanan kesehatan

yang biasa digunakan keluarga dan pengalaman terhadap pelayanan

kesehatan.
4) Riwayat sebelumnya
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak

suami dan istri.


c. Pengkajian Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe

rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, jarak septic tank dengan

sumber air, sumber air minum yang digunakan serta dilengkapi

dengan denah rumah.


2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas

setempat meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau

kesepakatan penduduk setempat serta budaya setempat yang

mempengaruhi kesehatan.
3) Mobilitas geografis keluarga
Ditentukan dengan melihat kebiasaan keluarga berpindah tempat.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta

perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana interaksi keluarga

dengan masyarakat.
d. Struktur keluarga
1) Sistem pendukung keluarga
Merupakan jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas

kesehatan untuk menunjang kesehatan mencakup fasilitas fisik,

fasilitas psikologis atau dukungan dari anggota keluarga dan

fasilitas social atau dari masyarakat.


2) Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar keluarga.
3) Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi

orang lain untuk mengubah perilaku.


4) Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing angota keluarga baik secara

formal maupun informal.


5) Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga

yang berhubungan dengan kesehatan


e. Fungsi keluarga
1) Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga,

perasaan memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga


terhadap anggota keluarga lainya, kehangatan antar anggota

keluarga, dan sikap saling menghargai antar anggota keluarga.


2) Fungsi sosialisasi
Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh

mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya serta

perilaku.
3) Fungsi perawatan kesehatan
Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan,
pakaian, perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit.
4) Fungsi reproduksi
Menjelaskan tentang jumlah, rencana dan metode keluarga dalam

mendapatkan keturunan.
5) Fungsi ekonomi
Menjelaskan dalam pemenuhan kebutuhan keluarga baik jasmani

dan rohani. Dan sejauh mana keluarga memanfaatkan suber daya

yang ada dimasyarakat dalam upaya peningkatan status


f. Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka pendek dan panjang
Stressor jangka pendek adalah stressor yang dilami keluarga dalam

waktu kurang dari 6 bulan. Sedangkan stressor jangka panjang

memerlukan waktu lebih dari 6 bulan.


2) Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Dikaji sejauh mana keluarga berrespon terhadap stressor.
3) Strategi koping yang digunakan
Dikaji strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi

permasalahan/stress
4) Strategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang

digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan/stress.


g. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap semua anggota keluarga. Metode
yang digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinik.
h. Harapan keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap

kesehatan yang ada.


5. Diagnosa keperawatan keluarga
Dalam (Suprajitno, 2014) Perumusan diagnosis keperawatan dapat

diarahkan kepada sasaran individu dan atau keluarga. Komponen diagnose

keperawatan meliputi masalah (Problem), penyebab (Etiologi), dan atau

tanda (Sign).
Tipologi diagnosis keperawatan keluarga dibedakan menjadi 3

kelompok yaitu:

a. Diagnosis actual
Merupakan masalah keperawatan yang sedang dialami oleh keluarga

dan memerlukan bantuan dari perawat dengan cepat


b. Diagnosis risiko/risiko tinggi
Merupakan masalah keperawatan yang belum terjadi, tetapi tanda untuk

menjadi masalah keperawatan actual dapat terjadi dengan cepat apabila

tidak segera mendapat bantuan perawat.


c. Diagnosis potensial
Merupakan suatu keadaan sejahtera dari keluarga ketika keluarga telah

mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sumber

penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan.


Menurut (Achjar, 2010) Perumusan problem (P) merupakan respon

terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan dasar. Sedangkan etiologi (E)

mengacu pada 5 tugas keluarga yaitu :


a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, meliputi:
1) Persepsi terhadap keparahan penyakit
2) Pengertian
3) Tanda dan gejala
4) Factor penyebab
5) Persepsi keluarga terhadap masalah
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, meliputi :
1) Sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya

masalah
2) Masalah dirasakan keluarga
3) Keluarga menyerah terhadap masalah yang dialami
4) Sikap negative terhadap masalah kesehatan
5) Kurang percaya terhadap tenaga kesehatan
6) Informasi yang salah
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,

meliputi:
1) Bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakit
2) Sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan
3) Sumber-sumber yang ada dalam keluarga
4) Sikap keluarga terhadap yang sakit
d. Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan, meliputi:
1) Keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan
2) Pentingnya higyene sanitasi
3) Upaya pencegahan penyakit
e. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas keluarga,

meliputi :
1) Keberadaan fasilitas kesehatan
2) Keuntungan yang didapat
3) Kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan
4) Pengalaman keluarga yang kurang baik
5) Pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh keluarga

Menurut Mubarak dkk, (2012), untuk menentukan prioritas

masalah terhadap diagnosa keperawatan keluarga yang ditentukan

dihitung menggunakan scoring yang telah dirumuskan oleh Bailon

dan Maglaya, skala prioritas dalam menyusun masalah kesehatan

keluarga adalah sebagai berikut


Tabel 2.2
Prioritas Masalah Asuhan Keperawatan Keluarga

No Kriteria Skor Bobot


Sifat masalah 1
Skala : Tidak/kurang sehat sehat 3
Ancaman kesehatan 2
Keadaan sejahtera 1
Kemungkinan masalah dapat diubah 2
Skala : Mudah 2
Sebagian 1
Tidak dapat 0
Potensial masalah untuk dicegah 1
Skala : Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
Menonjolkan masalah 1
Skala : masalah berat, harus segera 2
ditangani
Masalah, tetapi tidak perlu 1
ditangani
Masalah tidak dirasakan 0

Scoring :

1) Tentukan skor untuk setiap kriteria yang telah dibuat


2) Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan

dengan bobot:
Skor X bobot
Angka tertinggi
3) Jumlah skor untuk semua kriteria, dengan skor

tertinggi adalah 5, samadengan seluruh bobot

Menurut (Mubarak, 2012) terdapat beberapa faktor-faktor

yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas:

a. Kriteria pertama, dipengaruhi oleh sifat masalah.


Sifat masalah dikelompokkan ke dalam tidak atau kurang

sehat, diberikan bobot lebih tinggi karena masalah memerlukan

tindakan segera dan disadari keluarga. Keadaan sejahtera

diberikan bobot paling rendah karena faktor kebudayaan dapat

memberikan dukungan bagi keluarga untuk mengatasi

masaalah.
b. Kriteria kedua, dipengaruhi oleh kemungkinan masalah dapat

diubah. Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam

menentukan skor kemungkinan masalah dapat diperbaiki

adalah faktor pengetahuan dan teknologi, tindakan untuk


mengatasi masalah, sumber- sumber pada keluarga dalam

bentuk fisik, keuangan atau tenaga, sumber dari keperawatan

dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan waktu, dan

sumber-sumber di masyarakat dalam bentuk fasilitas

kesehatan, organisasi masyarakat dan dukungan sosial.


c. Kriteria ketiga, dipengaruhi oleh potensi masalah bila dicegah
Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam

menentukan skor kriteria potensi masalah bisa dicegah adalah

kepelikan dari masalah, lamanya masalah, dan adanya

kelompok risiko tinggi atau yang peka atau rawan.


d. Kriteria keempat, dipengaruhi oleh menonjolnya masalah
Merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah

mengenai beratnya masalah serta mendesaknya masalah untuk

diatasi. Hal yang perlu diperhatikan adalah perluya menilai

persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah. Skor yang

tinggi diberikan jika keluarga menyadari masalah dan merasa

perlu untuk menangani segera.


6. Intervensi
Menurut (Ali,2010) Intervensi keperawatan merupakan kesimpulan

tindakan yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam

menyelesaikan masalah kesehatan dan masalah/diagnosis keperawatan

yang telah ditetapkan.


Rencana asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi

dikembangkan dari NANDA (2018); Padila (2013); Suprajitno (2014):


a. Risiko cidera berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

memelihara/memodifikasi lingkungan.
1) Definisi : Rentan mengalami cidera fisik akibat kondisi lingkungan

yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber defensif

individu, yang dapat mengganggu kesehatan.


2) Kriteria hasil:
a) Klien terbebas dari cidera.
b) Klien mampu menjelaskan cara untuk mencegah cidera.
c) Klien mampu menjelaskan faktor risiko dari

lingkungan/perilaku personal
d) Mampu memodifikasi gaya hidup untuk mencegah cidera.
e) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.
3) Intervensi NIC:
a) Sediakan lingkungan yang aman untuk klien.
b) Identifikasi kebutuhan keamanan klien, sesuai dengan kondisi
fisik dan fungsi kofgnitif klien dan riwayat penyakit terdahulu.
c) Menghindari lingkungan yang berbahaya.
d) Memasang side rall tempat tidur.
e) Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau

klien.
f) Menganjurkan keluarga untuk menemani klien.
g) Memindahkan barang-barang yang membahayakan.
b. Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

memanfaatkan fasilitas kesehatan.


1) Definisi : Pengalaman sensori daan emosional tidak menyenangkan

yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau

yang digambarkan sebagai kerusakan.


2) Kriteria hasil:
a) Kenyamanan klien meningkat
b) Klien dan keluarga mengetahui tanda dan gejala nyeri
c) Klien dan keluarga mengetahui strategi untuk mengontrol nyeri
3) Intervensi NIC:
a) Kaji tingkat nyeri klien
b) Dorong klien dan keluarga untuk memonitor nyeri
c) Gali bersama klien dan keluarga faktor-faktor yang dapat
menurunkan atau memperberat nyeri
d) Ajarkan klien dan keluarga untuk menggunakan teknik non

farmakologi
e) Ajarkan teknik kompres hangat
f) Ajarkan teknik dekstraksi relaksasi
c. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ketidakmampuan

keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.


1) Definisi : Peningkatan retensi cairan isotonik
2) Kriteria Hasil:
a) Terbebas dari edema
b) Asupan nutrisi cairan klien tidak menyimpang dari rentang

normal
c) Rasio berat badan tidak menyimpang dari rentang normal
3) Intervensi NIC:
a) Monitor tanda tanda vital
b) Dorong keluarga untuk memonitor masukan makanan dan

cairan klien
c) Instuksikan keluarga untuk memonitor berat badan klien
d) Edukasi keluarga tentang tanda dan gejala edema
d. Gangguan pola tidur b/d ketidakmampuan keluarga mengambil

keputusan.
1) Definisi : Interupsi jumlah waktu dan kualitas tidur akibat faktor

eksternal
2) Kriteria Hasil:
a) Jumlah jam tidur dalam batas normal 6-8 jam/hari
b) Pola tidur, kualitas tidur dalam batas normal
c) Perasaan segar sesudah tidur
3) Intervensi NIC:
a) Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
b) Fasilitas untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur
c) Dorong keluarga untuk menciptakan lingkungan yang nyaman
d) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang teknik tidur

klien
e) Instuksikan keluarga untuk memonitor tidur klien
e. Penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakmampuan

keluarga mengenal masalah


1) Definisi: Ketidakadekuatan volume darah yang dipompa oleh

jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.


2) Kriteria Hasil:
a) Menunjukan peningkatan toleransi aktivitas fisik (tidak

dispnea, nyeri dada).


b) Keluarga dan klien mampu menjelaskan diet, obat, aktivitas,

dan batasan yang diperlukan.


c) Keluarga dan klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala

perburukan kondisi yang dapat dilaporkan.


3) Intervensi NIC:
a) Kaji tekanan darah, adanya sianosis, status pernapasan, dan

status mental.
b) Ajarkan klien dan keluarga penggunaan, dosis, frekuensi, dan

efek samping obat.


c) Instuksikan klien dan keluarga dalam perencanaan untuk

perawatan klien, meliputi pembatasan aktivitas, pembatasan

diet, dan penggunaan alat terapeutik.


d) Berikan informasi kepaada klien dan keluarga tentang teknik

penurunan stress seperti relaksasi otot progresif, meditasi dan

latihan fisik.
e) Instruksikan kepada klien dan keluarga untuk menimbang

berat badan klien setiap hari.


7. Evaluasi
Menurut Ali (2010) Evaluasi, sebagai langkah terakhir proses

keperawatan adalah upaya untuk menetukan apakah seluruh proses sudah

berjalan dengan baik dan apakah tindakan berhasil dengan baik.


Menurut S. G. Bailon (dalam Ali, 2010) menyatakan 4 alasan

mengapa perawat harus menilai kegiatan/tidakan mereka yaitu :


a. Untuk menghilangkan atau menghentikan kegiatan/tindakan yang tidak

berguna.
b. Untuk menambah ketepatgunaan tindakan keperawatan.
c. Sebagai bukti tindakan keperawatan serta sebagai alasan mengapa

biaya pelayanan keperawatan tingi.


d. Untuk mengembangkan profesi perawat dan meneyempurnakan praktik

keperawatan.
Menurut S.S Bailon (dalam Ali 2010), metode yang sering digunakan

untuk mengevaluasi keperawatan keluarga adalah


a. Obervasi langsung
b. Memeriksa laporan/catatan
c. Wawancara
d. Latihan simulasi

Langkah dalam evaluasi menurut Ali (2010) adalah sebagai berikut:

a. Tetapkan data dasar (baseline) dari masalah kesehatan individu atau

seluruh keluarga.
b. Rumuskan tujuan keperawatan khusus dalam bentuk hasil klien.
c. Tentukan kriteria dan standar untuk evaluasi.
d. Tentukan metode/teknik evaluasi serta sumber data.
e. Bandingkan keadaan nyata (sesudah perawatan) dengan kriteria hasil

dan standar untuk evaluasi.


f. Cari penyebab dari intervensi yang kurang memuaskan.

Pathway Keluarga dengan Hipertensi

Primer: Sekunder:
Genetik Berat badan/ penyempitan aorta, penyakit
jenis kelamin obesitas, parenkim penggunaan
usia merokok dan kontrasepsi hormonal,
diet gengguan endokrin, stress,
konsumsi kehamilan, luka bakar,
alkohol peningkatan volume
intravascular

Hipertensi

Vasokontriksi
pembuluh darah
Penurunan
curah Resiko cidera Nyeri akut b/d
jantung b/d ketidakmampu Otak
b/d
ketidakmamp
Kelebihan volume cairan b/dketidakmamp Gangguan an keluarga
uan keluarga Respon renin pola tidur
memanfaatkan b/d
Resistensi
ketidakmmpuan keluarga uan keluargaSuplai Ayunan Tekanan
mengenal Vasokontriksi ketidakmampuan
O2 ke keluarga
Gambar 2.2
Peningkatan
merawat angiotensin
Aliran keluarga
darah
Peningkatan
anggota memodifikasi langkahfasilitas
yang tidak pembuluh
pembuluh
masalah
Sumber : dan
modifikasi daripembuluh
aldosteron
Suprajitno
Retensi
Edema Na darah ginjal
(2014); NANDA
Pingsan otak mengambil
menurun
(2018); Aspiani keputusan
kesehatan darahkepala
(2014)
Nyeri otak
afterload
sakit menurun
Aldosteron lingkungan mantap darah otak