Vous êtes sur la page 1sur 9

Pengertian Bayi Baru Lahir

Bayi yang lahir presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan
genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan 2500 - 4000 gram, nilai APGAR > 7 dan
tanpa cacat bawaan (Saifuddin, 2006). Masa Bayi baru lahir adalah masa 28 hari pertama kehidupan
manusia, pada masa ini terjadi proses penyesuaian sistem tubuh bayi dari kehidupan dalam rahim ke
kehidupan di luar rahim. Masa ini adalah masa yang perlu mendapatkan perhatian dan perawatan yang
ekstra karena pada masa ini terdapat mortalitas yang tinggi (Rukiah, 2010).

Menurut Askin (2002) yang dikutip oleh Kosim dkk (2010), neonatus bayi yang baru mengalami proses
kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin. Beralih
dari ketergantungan mutlak pada ibu menuju kemandirian fisiologi. Dengan terpisahnya bayi dari ibu,
maka terjadilah awal dari proses fisiologi sebagai berikut :

1. Pertukaran gas melalui plasenta digantikan oleh aktifnya fungsi paru untuk bernafas.

2. Saluran cerna berfungsi untuk menyerap makanan.

3. Ginjal berfungsi untuk mengeluarkan bahan yang tidak terpakai lagi oleh tubuh untuk
mempertahankan haesmostasis kimia darah.

4. Hati berfungsi untuk menetralisir dan mengsekresi bahan racun yang tidak diperlukan badan.

5. Sistem imunologi berfungsi untuk mencegah infeksi.

6. Sistem kardio vaskuler serta endokrin bayi menyesuaikan diri dengan perubahan fungsi organ tersebut
diatas. Selain itu pengaruh kehamilan dan proses persalinan mempunyai peranan penting dalam
morbiditas dan mortalitas.

Menurut Prawirohardjo (2010) setelah persalinan, setelah bayi lahir harus dilakukan penilaian sebagai
berikut : apakah kehamilannya cukup bulan, apakah air ketuban cukup jernih dan tidak terkontaminasi
mekonium, apakah bayi bernafas adekuat atau menangis, apakah tonus otot bayi baik. Apabila semua
pertanyaan di atas dijawab dengan “ya” lakukan perawatan rutin yaitu : memberikan kehangatan,
membuka/membersihkan jalan nafas, mengeringkan dan menilai warna.

Pengertian Nilai APGAR


Nilai APGAR pertama kali diperkenalkan oleh dokter anastesi yaitu dr. Virginia APGAR pada tahun 1952
yang mendesain sebuah metode penilaian cepat untuk menilai keadaan klinis bayi baru lahir pada usia 1
menit, yang dinilai terdiri atas 5 komponen, yaitu frekwensi jantung (pulse), usaha nafas (respiration),
tonus otot (activity), refleks pada ransangan (grimace) dan warna kulit (appearance) (American Academy
of Pediatrics (2006) dalam Kosim, 2010).

Menurut Prawirohardjo (2010) nilai APGAR adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk
menilai keadaan umum bayi sesaat setelah kelahiran. Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi
menderita asfiksia atau tidak, yang dinilai adalah frekuensi jantung (Heart rate), usaha nafas (respiratory
effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (colour) dan reaksi terhadap rangsang (respon to stimuli)
yaitu dengan memasukkan kateter ke lubang hidung setelah jalan nafas dibersihkan.

Nilai APGAR diukur pada menit pertama


dan kelima setelah kelahiran. Pengukuran pada menit pertama digunakan untuk menilai bagaimana
ketahanan bayi melewati proses persalinan. Pengukuran pada menit kelima menggambarkan sebaik apa
bayi dapat bertahan setelah keluar dari rahim ibu. Pengukuran nilai APGAR dilakukan untuk menilai
apakah bayi membutuhkan bantuan nafas atau mengalami kelainan jantung (Prawirohardjo, 2010).

Menurut Novita (2011) nilai APGAR pada umumnya dilaksanakan pada 1 menit dan 5 menit sesudah bayi
lahir. Akan tetapi, penilaian bayi harus segera dimulai sesudah bayi lahir. Apabila memerlukan intervensi
berdasarkan penilaian pernafasan, denyut jantung atau warna bayi, maka penilaian ini harus segera
dilakukan. Nilai APGAR dapat menolong dalam upaya penilaian keadaan bayi dan penilaian efektivitas
upaya resusitasi.

Apabila nilai APGAR kurang dari 7 maka penilaian tambahan masih diperlukan yaitu 5 menit sampai 20
menit atau sampai dua kali penilaian menunjukan nilai 8 atau lebih. Penilaian untuk melakukan resusitasi
semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting yaitu pernafasan, denyut jantung, dan warna. Resusitasi
yang efektif bertujuan memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen, dan curah jantung yang
cukup untuk menyalurkan oksigen ke otak, jantung dan alat vital lainnya (Novita, 2011).
Klasifikasi Nilai APGAR

Berdasarkan penilaian APGAR dapat diketahui derajat vitalis bayi adalah : kemampuan sejumlah fungsi
tubuh yang bersifat esensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernafasan, denyut
jantung, sirkulasi darah dan reflek-reflek primitif seperti mengisap dan mencari puting susu, salah satu
menetapkan derajat vitalis dengan nilai APGAR (IDAI, 1998)

Bayi baru lahir dievaluasi dengan nilai


APGAR, tabel tersebut dapat untuk
menentukan tingkat atau derajat asfiksia, apakah ringan, sedang, atau asfiksia berat. Menurut
(Prawirohardjo, 2010) klasifikasi klinik nilai APGAR adalah sebagai berikut:

1. Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3)

Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan frekuensi jantung 100 x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan terkadang pucat, refleks
iritabilitas tidak ada.

2. Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6)

Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernapas kembali. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan frekuensi jantung lebih dari 100x/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis,
refleks iritabilitas tidak ada.

3. Bayi normal atau sedikit asfiksia (nilai APGAR 7-10).

Faktor yang Memengaruhi Nilai APGAR


Menurut Wijanksastro, H (2009) faktor-faktor yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum adalah
sebagai berikut :

1. Faktor ibu

a. Hipoksia ibu

Menurut Graccia, AJ (2004) hipoksia adalah keadaan rendahnya konsentrasi oksigen di dalam sel atau
jaringan yang dapat mengancam kelangsungan hidup sel. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi
akibat pemberian obat analgetik atau anastesi dalam, dan kondisi ini akan menimbulkan hipoksia janin
dengan segala akibatnya. Angka normal denyut jantung janin berkisar 120 – 160 denyut/menit. Hipoksia
janin terjadi apabila janin mengalami takikardia (jantung janin > 160 denyut/menit) dan bradikardia
(jantung janin < 120 denyut/menit) (Arvin, BK., 2000).

b. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

Umur ibu tidak secara langsung berpengaruh terhadap kejadian asphixia neonatorum, namun demikian
telah lama diketahui bahwa umur berpengaruh terhadap proses reproduksi. Dalam kurun reproduksi
sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 – 30 tahun (Prawirohardjo,
2010). Pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan
sempurna, sedangkan pada usia >35 tahun sudah mengalami penurunan (Saifuddin, AB., 2006).

Dalam penelitian Zakaria di RSUP M. Jamil Padang tahun 1999 (dikutip oleh Ahmad) menemukan
kejadian asphyxia neonatorum sebesar 36,4% pada ibu yang melahirkan dengan usia kurang dari 20
tahun dan 26,3% pada ibu dengan usia lebih dari 34 tahun, dan hasil penelitian dari Ahmad di RSUD Dr.
Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000, menemukan bayi yang lahir dengan asphyxia neonatorum 1,309
kali pada ibu umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun.

c. Paritas

Paritas adalah jumlah kehamilan yang memperoleh janin yang dilahirkan. Paritas yang tinggi
memungkinkan terjadinya penyulit kehamilan dan persalinan yang dapat menyebabkan terganggunya
transport O2 dari ibu ke janin yang akan menyebabkan asfiksia yang dapat dinilai dari APGAR score menit
pertama setelah lahir (Manuaba I., 2007)

d. Penyakit pembuluh darah ibu

Penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin : hipertensi, hipotensi, gangguan
kontraksi uterus dan lain-lain (Winkjosastro,H., 2009). Hipertensi adalah tekanan darah sistolik dan
diastolik ≥ 140/90 mmHg. Pengukuran tekanan darah sekurang – kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam.
Kenaikan tekanan darah sistolik ≥ 30 mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik ≥ 15 mmHg. Hipotensi
dapat memberikan efek langsung terhadap bayi merupakan kondisi tekanan darah yang terlalu rendah,
yaitu apabila tekanan darah sistolik < 90 mmHg dan tekanan darah diastolik < 60 mmHg (Prawirohardjo,
2010).

2. Faktor Plasenta

a. Plasenta tipis, kecil, dan tidak menempel sempurna

Dalam kehamilan, fungsi utama plasenta adalah sebagai organ penyalur bahan-bahan makanan dan
oksigen yang diperlukan oleh jani dari darah ibu ke dalam darah janin dan juga mengadakan mekanisme
pengeluaran produk-produk ekskretoris dari janin kembali ke ibu (Guyton AC., 2008).

Plasenta yang normal akan mampu melaksanakan fungsi tersebut dalam menunjang pertumbuhan janin.
Plasenta normal pada saat aterm berbentuk seperti cakram, berwarna merah tua, dengan berat 500-600
gr, diameter 15-25 cm, lebih kurang 7 inci tebal sekitar 3 cm. Panjang tali pusat 40-50 cm dengan
diameter 1-2 cm (Cunningham, 2006 dan Sloane E., 2004). Gangguan pertukaran gas di plasenta yang
akan menyebabkan asfiksia janin. Pertukaran gas antara ibu dan janin di pengaruhi oleh luas dan kondisi
plasenta, asfiksia janin dapat terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya :
plasenta previa dan solusio plasenta. (Manuaba I., 2007 ).

b. Solusio plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasi normalnya sebelum janin lahir, dan
definisi ini hanya berlaku pada kehamilan di atas 22 minggu atau berat janin > 500 gr ( Prawirohardjo,
2010). Gambaran klinisnya adalah solusio plasenta ringan : terdapat pelepasan sebahagian kecil
plasenta, solusio plasenta sedang : plasenta terlepas ¼ bagian, solusio plasenta berat : plasenta telah
terlepas dari 2/3 permukaannya. Pada pemeriksaan plasenta biasanya tampak tipis dan cekung di bagian
plasenta yang terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel di
belakang plasenta yang disebut hematoma retroplacenter. (Brudenell & Michael, 1996).

c. Plasenta previa
Adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim, sehingga menutupi seluruh atau
sebahagian dari ostium uteri internum. Insidensi plasenta previa adalah 0,4%-0,6%, perdarahan dari
plasenta previa menyebabkan kira-kira 20% dari semua kasus perdarahan ante partum. 70% pasien
dengan plasenta previa mengalami perdarahan pervaginam yang tidak nyeri dalam trimester ke tiga, 20%
mengalami kontraksi yang disertai dengan perdarahan, dan 10% memiliki diagnosa plasenta previa yang
dilakukan tidak sengaja dengan pemeriksaan ultrasonografi atau pemeriksaan saat janin telah cukup
bulan. Penyulit pada ibu dapat menimbulkan anemia sampai syok sedangkan pada janin dapat
menimbulkan asphyxia neonatorum sampai kematian janin dalam rahim ( Manuaba I., 2007).

3. Faktor Janin

a. Prematur

Bayi prematur adaah bayi lahir dari kehamilan antara 28 – 36 minggu. Bayi lahir kurang bulan
mempunyai organ-organ dan alat tubuh belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim.
Makin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh bayi makin kurang sempurna, prognosis juga semakin
buruk. Karena masih belum berfungsinya organ-organ tubuh secara sempurna seperti sistem pernafasan
maka terjadilah asfiksia (DepKes RI, 2002).

b. BBLR dan IUGR

Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Menurut WHO
(2003), BBLR dibagi tiga group yaitu prematuritas, Intra Uterine Growth Restriction (IUGR) dan karena
keduanya. BBLR sering digunakan sebagai indikator dari IUGR di negara berkembang karena tidak
tersedianya penilaian usia kehamilan yang valid. BBLR ini berbeda dengan prematur karena BBLR diukur
dari berat atau massa, sedangkan prematur juga belum tentu BBLR kalau berat lahirnya di atas 2500
gram. Namun dibanyak kasus kedua kondisi ini muncul bersamaan karena penyebabnya saling
berhubungan. IUGR biasanya dinilai secara klinis ketika janin lahir dengan mengkaitkan ukuran bayi yang
baru lahir kedurasi kehamilan. Ukuran kecil untuk usia kehamilan atau ketidakmampuan janin janin
untuk mencapai potensi pertumbuhan menunjukkan IUGR. Bayi dengan IUGR didiagnosis mungkin BBLR
usia kehamilan aterm (> 37 minggu kehamilan dan <2500 gram) (ACC/SCN, 2000).
c. Gemeli

Kehamilan ganda adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan ganda dapat memberikan
resiko yang lebih tinggi terhadap ibu dan bayi. Pertumbuhan janin kehamilan ganda tergantung dari
faktor plasenta apakah menjadi satu atau bagaimana lokalisasi implementasi plasentanya.
Memperhatikan kedua faktor tersebut, mungkin terdapat jantung salah satu janin lebih kuat dari yang
lainnya, sehingga janin mempunyai jantung yang lemah mendapat nutrisi O2 yang kurang menyebabkan
pertumbuhan terhambat, terjadilah asfiksia neonatorum sampai kematian janin dalam rahim (Manuaba
I, 2007).

d. Gangguan tali pusat

Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus
dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada
keadaan tali pusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan janin
(Wijangsastro, H., 2009)

e. Kelainan Congenital

Kelainan congenital adalah suatu keainan pada struktur, fungsi maupun metabolisme tubuh yang
ditemukan pada bayi ketika dia dilahirkan.

Faktor Persalinan

faktor-faktor persalinan yang dapat menimbulkan asfiksia adalah :

a. Partus lama

Partus lama yaitu persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi, dan lebih 18 jam pada multi.
Partus lama masih merupakan masalah di Indonesia. Bila persalinan berlangsung lama, dapat
menimbulkan komplikasi baik terhadap ibu maupun pada bayi, dan dapat meningkatkan angka kematian
ibu dan bayi (Mochtar, 2004).

b. Partus dengan tindakan

Persalinan dengan tindakan dapat menimbulkan asfiksia neonatorum yang disebabkan oleh tekanan
langsung pada kepala : menekan pusat-pusat vital pada medula oblongata, aspirasi air ketuban,
mekonium, cairan lambung dan perdarahan atau oedema jaringan pusat saraf pusat (Manuaba, I., 2007).
Menurut Aminullah (2005) faktor-faktor pencetus rendahnya nilai APGAR (asphyxia neonatorum)

a. Hipoksia janin penyebab terjadinya asphyxia neonatorum adalah adanya gangguan pertukaran gas
serta transport O2 dari ibu ke janin sehingga berdampak persediaan O2 menurun, mengakibatkan
tingginya CO2. Gangguan ini dapat berlangsung secara kronis akibat kondisi atau kelainan pada ibu
selama kehamilan atau secara akut karena adanya komplikasi dalam persalinan.

b. Gangguan kronis pada ibu hamil tersebut, bisa akibat dari gizi ibu yang buruk, penyakit menahun
seperti anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain. Pada akhir-akhir ini, asphyxia neonatorum
disebabkan oleh adanya gangguan oksigenisasi serta kekurangan zat-zat makanan yang diperoleh akibat
terganggunya fungsi plasenta. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan yang bersifat akut dan hampir
selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin akan berakhir dengan asphyxia neonatorum pada bayi
baru lahir. Sedangkan faktor dari pihak ibu adanya gangguan his seperti hipertonia dan tetani, hipotensi
mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada eklamsia, gangguan mendadak pada plasenta
seperti solusio plasenta.

c. Faktor janin berupa gangguan aliran darah dalam tali pusat akibat tekanan tali pusat, depresi
pernafasan karena obat-obatan anastesi/analgetika yang diberikan ke ibu, perdarahan intrakranial,
kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika, atresia saluran pernafasan, hipoplasia paru-paru dll.
Menurut Novita (2011) seorang bayi mengalami kekurangan oksigen, maka akan terjadi napas cepat.
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan napas akan berhenti, denyut jantung mulai menurun dan tonus otot
berkurang secara berangsur, dan bayi memasuki periode apneu primer. Apneu primer yaitu bayi
mengalami kekurangan oksigen dan terjadi pernapasan yang cepat dalam periode singkat, dimana terjadi
penurunan frekuensi jantung. Pemberian rangsangan dan oksigen selama periode ini dapat merangsang
terjadinya pernapasan. Selanjutnya, bayi akan memperlihatkan usaha nafas (gasping) yang kemudian
diikuti oleh pernafasan. Apabila asfiksia berlanjut, bayi akan menunjukan pernapasan gasping (megap-
megap), denyut jantung menurun, tekanan darah menurun, dan bayi tampak lemas (flaksid). Pernapasan
semakin lemah sampai akhirnya berhenti, dan bayi memasuki periode apneu sekunder. Apneu sekunder
yakni pada penderita asfiksia berat, yang mana usaha bernapasnya tidak tampak dan selanjutnya bayi
berada pada periode apneu kedua. Pada keadaan tersebut akan ditemukan bradikardi dan penurunan
tekanan darah serta penurunan kadar oksigen dalam darah. Bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan
tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali bila resusitasi dengan
napas buatan dan pemberian oksigen segera dimulai. Sulit sekali membedakan antara apneu primer dan
sekunder, oleh karenanya bila menghadapi bayi bayi lahir dengan apneu, anggaplah sebagai apneu
sekunder dan bersegera melakukan tindakan resusitasi (Novita, 2011).