Vous êtes sur la page 1sur 19

HADITS TENTANG IMAN

DOSEN PENGAMPU
Tajul Munir, M. Ag.

DI SUSUN OLEH:

DINDA AMELIA 4012017105

PUTRI JULIANTI 4012017124

ZAHRA MAULIDA LY 4012017135

PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
IAIN ZAWIYAH COT KALA LANGSA
TAHUN AJARAN 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam agama Islam memiliki tiga tingkatan yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Tiap-tiap
tingkatan memiliki rukun-rukun yang membangunnya. Jika Islam dan Iman di sebut secara
bersamaan, maka yang disebut Islam adalah amalan-amalan yang tampak dan mempunyai
lima rukun. Sedangkan yang dimaksud Iman adalah amal-amal batin yang memilik enam
rukun. Kedudukan hadist Nabi SAW sebagai dasar hukum kedua dalam syariat islam,hadist
merupakan penjelasan dan penerangan Nabi SAW, ada kalanya digambarkan dalam
perbuatan beliau, ada kalanya diutarakan dengan sabda-sabdanya Beliau dan terkadang
dalam bentuk pengakuan beliau terhadap sahabatsahabatnya. Semua ini diistilahkan dengan
hadist Nabi SAW.

Firman Allah SWT dalam Surat An-Najm ayat 3: “Tidaklah ia berkata-kata


menurut hawa nafsu, hanya semata – mata wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya”.
Makalah kami ini membahas tentang Iman, Islam, ihsan yang mana iman itu artinya
kita percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, dan bertemu denganNya, percaya
kepada utusan-utusanNya, dan percaya kepada hari akhir. Sedangkan Islam itu kita
menyembah hanya kepada Allah SWT tidak mensekutukanNya. Sedangkan Ihsan itu kita
menyembah Alloh seolah – olah kita melihatNya .Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi
sesungguhnya Alloh melihat kita.
Tiga masalah pokok tersebut sangatlah saling berkitan satu sama lainnya antara
iman, islam, dan ihsan Seorang tidaklah cukup hanya menganut islam saja tanpa
mengirinya dengan iman. Begitu juga sebaliknya iman tanpa islam tidaklah berarti, akan
tetapi belumlah cukup krena harus dibarengi ihsan supaya segala amal ibadahnya mendapat
nilai di sisi Allah.
BAB II

PEMBAHASAN

A. HADITS TENTANG IMAN


1. Hubungan Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat
a. Hadits Tentang Iman, Islam, Ihsa dan Hari Kiamat

َ‫َبَن اَبُ ْو َحيَّا َن الت َّْي ِمي َع ْن أَِب ُزْر َعة‬ ِ ِ ِ ِ َ َ‫س َّد ُد ق‬
ََ ‫ال َح َدثَنَا إ ْْسَاع ْي ُل بْ ُن إبْ َراه ْي َم أَ ْخ‬ َ ‫حدثنا ُم‬
‫ال‬ ِ ‫َّب صلى هللا عليه وسلم ََب ِرًزا يَ ْوًما لِلن‬
َ ‫َّاس فَأ َََتهُ ِج َِْبيْ ُل فَ َق‬ ‫ال َكا َن النِ ي‬ َ َ‫َع ْن أَِب ُه َريْ َرَة ق‬
ِ ‫لل ومالَئِ َكتِ ِه وُكتُبِ ِه وبِلِ َقائِِه ورسلِ ِه وتُ ْؤِمن َِبلْب ْع‬ ِ ِ
‫ث‬ َ َ َ ُ ََ َ َ َ َ َ ‫ال ا ِإل ْْيَا ُن أَ ْن تُ ْؤم َن َِب‬َ َ‫َما ا ِإل ْْيَا ُن ق‬
‫ى‬ ِ َّ ‫اللَ َو الَتُ ْش ِر َك بِ ِه َش ْي ئًا َو تُِق ْي َم‬ َ ‫ال ا ِإل ْسالَ ُم أَ ْن تَ ْعبُ َد‬ َ َ‫ال َما ا ِإل ْسالَ ُم ق‬
ُ ‫الصالَةَ َو تُ َؤد‬ َ َ‫ق‬
ْ‫ك تَ َراهُ فَِإ ْن َل‬َ َّ‫اللَ َكأَن‬
َ ‫ال أَ ْن تَ ْعبُ َد‬
َ َ‫سا ُن ق‬ َ ‫ال َما ا ِإل ْح‬ َ َ‫ضا َن ق‬ َ ‫ص ْوَم َرَم‬ ُ َ‫ضةَ َو ت‬ َّ
َ ‫الزَكا َة الَْف ُرْو‬
َّ ‫ال َما الَ ْس ُؤ ُل َع ْن َها ِِبَ ْعلَ َم ِم َن‬
‫السائِ ِل َو‬ َ َ‫اعةُ ق‬َ ‫الس‬
َّ ‫ال َم َت‬ َ َ‫اك ق‬ َ ‫تَ ُك ْن تَ َراهُ فَِإنَّهُ يَ َر‬
ِ ‫ت األ ََّمةُ رََّّبا و إِ َذا تَطَاو َل ر َعاةُ ا ِإلبِ ِل الْب ْهم ِف الب ْن ي‬
‫ان‬ ْ ‫اط َها إِ َذا َولَ َد‬ِ ‫سأَ ْخَب َك َعن أَ ْشر‬
َُ ُ ُ ُ َ َ ََ َ ْ َُ َ
ِ ِ َ ‫َّب صلى هللا عليه و سلم {إِ َّن‬ َ َّ‫ِف ََخْس َاليَ ْعلَ ُم ُه َّن إِال‬
‫ْم‬
ُ ‫اللَ ع ْن َدهُ عل‬ ‫اللُ ُثَّ تَالَ النِ ي‬
‫َّاس‬ ِ ‫ال ه َذا ِج َِْبيل ج‬ َ ‫ ُثَّ أَ ْدبَ َر فَ َق‬.‫اع ِة} األية‬
َ ‫اء يُ َعل ُم الن‬َ َ ُْ َ َ ‫ال ُرديوهُ فَ لَ ْم يَ َرْوا َش ْي ئًا فَ َق‬ َ ‫الس‬
َّ
ِ َ‫ك ُكلَّم من ا ِإل ْْي‬
.‫ان‬ ِ َ َ‫ِديْ نَ ُه ْم ق‬
َ َ ُ َ ‫ال أبو عبد هللا َج َع َل ذَل‬
Artinya: “Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Ismail ibn
Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah
menyampaikan kepada kami dari Abu Huraira r.a berkata: Pada suatu hari ketika Nabi
saw sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba dating seorang laki-laki dan bertanya,
“Iman adalah percaya Allah SWT; para malaikat Nya, kitab-kitab Nya, dan pertemuan
Nya dengan Allah, para rasul Nya dan percaya pada hari berbangkit dari kubur. ‘ Lalu
laki-laki itu bertanya lagi, “Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak
menyekutukannya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang di
fardhu kan dan berpuasa di bulan Ramadhan. “Lalu laki-laki itu bertanya lagi:” Ihsan
adalah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, kalau
engkau tidak mampu melihatnya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Lalu laki-laki itu
bertanya lagi: “Apakah hari kiamat itu? “Nabi saw menjawab: “Orang yang di Tanya
tidak lebih mengetahui dari pada yang bertanya, tapi saya memberitahukan kepadamu
beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah
melahirkan majikannya, dan jika pengembala unta dan ternak lainnya telah berlomba-
lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk 5 perkara yang tidak dapat diketahui
kecuali oleh Allah, Selanjutnya Nabi saw baca ayat: “Sesungguhnya Allah hanya pada
sisinya sajalah yang mengetahui hari kiamat”. Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi
bersabda kepada para sahabat: “Antarkan lah orang itu. Akan tetapi para sahabat tidak
melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi saw bersabda: “Itu adalah malaikat Jibril
a.s yang dating untuk mengajarkan agama kepada manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).1

 Skema Sanad

‫ّللا‬
‫سو َل َ ه‬
ُ ‫َر‬

َ‫أ َ هبي ُه َري َْرة‬

َ‫أَبهي ُز ْرعَة‬

َ َ‫اَبُ ْو َحي‬
‫ان التَي هْمي‬

‫س َما هع ْي ُل ْب ُن‬ ْ ‫إه‬


‫إهب َْرا هه ْي َم‬
‫س َد ُد‬
َ ‫ُم‬

‫ا لبخا رى و مسلىم‬

1
Imam An-Nawawi. 2008. Terjemahan Hadist Arba’in An-Nawawiyah. Al-I’tishom. Jakarta: Cahaya
Umat. hal.7-10
b. Kandungan Hadits

Ada beberapa pendapat tentang isi kandungan dalam hadits ini, yaitu:2

a. Menurut Qadhi ‘Iyaadh (wafat th. 544 H) berkata: “Hadits ini mencakup
penjelasan semua amal ibadah yang zhahir maupun bathin, di antaranya ikatan iman,
perbuatan anggota badan, keikhlasan, menjaga diri dari perusak-perusak amal. Bahkan
ilmu-ilmu syari’at, semuanya kembali kepada hadits ini dan merupakan pecahannya.
Atas dasar hadits ini dan ketiga macamnya, aku menulis kitab yang aku namakan al
Maqooshid al Hisaan fii ma Yalzamul Insaan. Karena tidak menyimpang dari yang
wajib, sunnah, anjuran, peringatan, makruh dari ketiga macamnya. Wallahu a’lam.
[Syarah Shahih Muslim I/158].
b. Menurut Imam Nawawi (wafat th. 676 H) berkata: “Ketahuilah, bahwa hadits
ini menghimpun berbagai macam ilmu, pengetahuan, adab, dan kelemah-lembutan.
Bahkan hadits ini merupakan pokok Islam, seperti yang kami riwayatkan dari Qadhi
‘Iyaadh. [Ibid. I/160].
c. Menurut Imam al Qurthubi (wafat th. 671 H) berkata: “Hadits ini layak disebut
sebagai Ummus Sunnah (induk hadits), karena mengandung ilmu hadits.” [Fathul Baari
I/125].
d. Menurut Ibnu Daqiq al ‘Id (wafat th. 702 H) berkata: “Hadits ini seakan menjadi
induk bagi sunnah, sebagaimana al Fatihah dinamakan Ummul Qur`an, karena ia
mencakup seluruh nilai-nilai yang ada dalam al Qur`an.” [Syarah Arba’in an-
Nawawiyyah, hlm. 31, oleh Ibnu Daqiq al ‘Id].
e. Menurut Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) berkata: “Ini merupakan hadits yang
agung, mencakup semua penjelasan agama. Karenanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata di akhir hadits ‘ia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan tentang
agama kalian’ setelah menjelaskan kedudukan Islam, kedudukan iman, kedudukan
ihsan. Dan menjadikan semua itu agama.” [Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam I/97].

2
https://almanhaj.or.id/2971-syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan-1.htm. Diakses
tanggal 10 Oktober 2018
c. Pengertian Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat

1) Definisi Iman

Kata iman berasal dari Bahasa Arab yang merupakan masdar dari masdar
“Amana, Yu’minu, Imanan” yang artinya “percaya”. Iman menurut hadits pokok, iman
adalah percaya adanya Allah swt, para malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan
pertemuan nya dengan Allah, para RasulNya serta pervaya adanya hari kebangkitan
dari kubur.3 Dan sedangkan menurut istilah iman adalah pemberi ketenangan hati,
pembenaran hati. Dalam artian iman adalah pembenaran hati yang dapat menggerakkan
anggota badan memenuhi segala konsekuensi dari apa yang dibenarkan oleh hati.4

Jadi secara etimologi, Islam berarti tunduk dan menyerah sepenuhnya pada
Allah swt. Sedangkan secara termonologi, Islam adalah agama yang dilandasi oleh lima
dasar, yaitu : Shahadat, menunaikan shalat wajib pada waktunya, mengeluarkan zakat,
puasa di bulan ramadhan, haji sekali seumur hidup bagi yang mampu.5

Iman juga sering dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan
hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu
kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lainnya. Aqidah tersebut
akan menjadi pegangan dan pedoman hidup, yang telah mendarah daging dalam diri
yang tidak dapat dipisahkan lagi dari diri seorang mukmin. Bahkan akan sanggup
mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi mempertahankan aqidahnya.

Keimanan dalam pengertian al-Qur’an adalah sebagai pembenaran tentang


keesaan Allah, kebenaran para RasulNya, kebenaran akan datang nya hari kemudian,
serta segala kebenaran yang di sampaikan oleh RasulNya di sertai dengan ketaatan
penuh terhadap apa yang di yakini kebenarannya. Adapun juga keimanan kepada qadha
dan qadar.

3
Kaelany Hd, Iman, Ilmu dan Amal Shaleh (Jakarta: Rineka Cipta, 2000) hal. 58
4
Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya al-Raziy, Mu’jam Maqayis al-Lugah, Juz I (Cet: I, Beirut:
Dar al-Kutub al-‘ilmiyah, 1999), hal. 72
5
Muhammad Shalih bin Al-Utsaimin, Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah (Jakarta: Ummul Qura,
2014), hal. 28
Keenam pokok keimanan itu telah menjelaskan sebagaimana keenam pokok
tersebut mempunyai korelasi yang sedemikian besar, maka bila menafikan salah satu
unsur dari ke enam tersebut itu akan menyebabkan kepincangan iman dan
menyebabkan keingkaran kepada Tuhan. Keimanan akan di pandang sempurnya
apabila ada pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakin dan tidak
bercampur dengan keraguan, dan dilaksanakan dalam bentuk perbuatan sehari-hari,
serta berpengaruh terhadap pandangan dan cita-cita seseorang.

Dengan demikian pula, iman saja tidaklah cukup, tetapi juga harus di sertai
berbagai amal saleh sebagai perwujudan keimanan. Karena itu pula iman berbeda
dengan ilmu, karena ilmu tidak jarang menghasilkan kerasahan-keresahan dalam hati
si pemiliknya, berbeda dengan iman. Maka, iman merupakan inti dari kehidupan batin
sekaligus menjadi penyelaman dari siksa abadi di akhirat kelak nanti.

2) Definisi Islam

Kata Islam bersal dari Bahasa Arab yang merupakan masdar dari
masdar “Aslama, yuslimu, islaman yang berarti selamat. Sedangkan menurut hadits
islam dapat diartikan dengan menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan
sesuatu apapun.6

Secara Etimologi, islam berarti tunduk dan menyerah sepenuhnya pada Allah
SWT, secara Terminologi, Islam adalah agama yang dilandasi oleh lima dasar, yaitu:7

 Syahadatain
 Menunaikan sholat wajib pada waktunya, dengan memenuhi syarat, rukun dan
memperhatikan adab dan hal-hal yang yang sunnah
 Mengeluarkan zakat
 Puasa di bulan Ramadhan

6
https://sorayailham.wordpress.com/2011/11/16/hubungan-antara-iman-islam-ihsan-dan-hari-
kiamat/. Di akses tanggal 8 Oktober 2018
7
Musthafa Dieb Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu, AL-WAFI Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah saw
(Jakarta: Al-I’tishom, 2009) hal. 10
 Haji sekali seumur hidup bagi yang mampu, mempunyai biaya untuk pergi ke
tanah suci dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.

Islam sebagai agama mengatur tata cara mengabdi kepada Allah swt. Menurut
cara yang di ridhai Nya. Ibadah dalam islam antara lain bertujuan untuk mendekatkan
dan merekatkan hubungan antara makhluk dengan sang pencipta, supaya manusia
senantiasa mendapat karunia dan ridha Nya. Dalam hubungan dengan sesama manusia,
islam pun mengatur sikap hidup dan timgkah laku yang baik, dalam lingkungan yang
kecil maupun dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dalam islam pula, telah
diatur hubungan dengan anggota masyarakat yang berbeda agama, bahkan yang tidak
beragama sekalipun. Semuanya bertujuan agar tercipta hubungan yang baik dan
harminis antar sesama manusia.

Dan islam juga mengatur hubungan manusia dengan alam dan hewan. Manuisa
haruslah memperlakukan hewan secara wajar. Begitu pula dalam eksploitasi alam ia
harus mengaturnya sedemikian rupa sehingga tidak merusak lingkungan dan akan
tercipta lingkungan yang asri dan memberikan kebahagiaan serta kesejahteraan bagi
manusia. Islam juga merupakan agama terakhir dari syariat yang telah di turunkan oleh
Allah saw kepada Rasul sekaligus kepada Nabi yang terakhir. Disini, kedudukan islam
sebagai agama yang paling benar dan tidak di ragukan lagi kebenarannya.

Banyak kaum orientalis yang berusaha menyerang islam, dengan mempelajari


islam itu sendiri, dengan tujuan mencari celah untuk meruntuhkan islam melalui
kekurangan-kekurangan yang ada dalam islam, tapi yang terjadi banyak diantara
mereka yang malah berbalik kiblat atau merubah keyakinan yang kemudian mereka
tidak ragu untuk masuk islam. Dikarenakan Islam itu merupakan agama yang paling
sempurna, sekaligus pelengkap dan penyempurna dari agama-agama yang terdahulu.
Jadi secara singkat, dapat dijelaskan bahwa islam mengatur segala aspek kehidupan,
baik yang berkenaan dengan akidah atau kepercayaan, syariah atau ibadah dan
muamalah, serta akhlak baik kepada al-khalik maupun kepada makhluk.
Seperti di dalam Q.S. Ali Imran ayat 21 yang artinya : “Sesungguhnya agama
(yang di ridhoi) sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah
diberi al-kitab. Kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat
Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. 8

3) Definisi Ihsan

Kata Ihsan berasal dari Bahasa Arab yang kata kerjanya yaitu “Ahsana, yuhsinu,
ihsanan, yang berarti berbuat baik atau memperbaiki. Sedangkan pandangan hadits,
ihsan diartikan sebagai menyembah Allah seakan-akan kita melihat atau setidaknya kita
merasa selalu di awasi oleh Allah swt. Menurut Ar-raghib Al Isfahani, Ihsan menurut
Bahasa mempunyai dua makna yaitu memberikan nikmat (berbuat baik) kepada orang
lain dan menguasai sesuatu pengetahuan atau mengerjakan dengan baik suatu
perbuatan.9 Dan Ihsan juga diartikan ikhlas dan penuh perhatian. Artinya sepenuhnya
ikhlas untuk beribadah hanya kepada Allah swt, dengan penuh perhatian sehingga
seolah-olah engkau melihatnya. Jika tidak mampu, maka ingatlah bahwa Allah swt.
Senantiasa melihatmu dan mengetahui apapun yang ada pada dirimu.

Ihsan disebut juga sebagai punjak ibadah dan akhlak yang senantiasa
menjadikan target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang
mendapatkaan kemuliaan dari Nya. Selanjutnya, jika seorang hamba yang tidak mampu
mencapai target ini aksn kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki
posisi terhormat dimata Allah swt. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak
memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus
dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena,
ihsan dibangun diatas tiga landasan utama yaitu iman, islam, dan ihsan.

8
https://almanhaj.or.id/2971-syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan-1.htm. Diakses
tanggal 10 Oktober 2018
9
Http://etheses.uin/malang.ac.id/3255/1/1/13771013.pdf hal 26-29. Diakses tanggal 13 Oktober 2018
Jadi, ihsan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan diterima atau
tidaknya sesuatu amalan oleh Allah swt. Karena orang yang berlaku ihsan dapat
dipastikan akan ikhlas dalam beramal, sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya
suatu amal ibadah.

4) Hari Kiamat

Percayakan datangnya hari kiamat ? termasuk salah satu rukun iman yang harus
diyakini oleh semua orang yang beriman meskipun tidak ada yang tau kapan saatnya
tiba. Bagi mereka yang beriman, misteri terjadinya hari kiamat tidak akan mengurangi
kadar keimanannya. Justru mereka lebih waspada dan senantiasa meningkatkan amal
kebaikan utnuk bekal menghadapinya kelak. Namun demikian, Rasulullah saw,.
Memberikan dua tanda terjadinya hari kiamat, yakni jika hamba sahaya telah
melahirkan majikannya dan jika pengembala unta dan ternak lainnya berlomba-lomba
membangun gedng-gedung yang megah daan tinggi. Dengan kata lain, kedua tanda
kiamat tersebut merupakan tanda jangka panjang. Adapun tanda-tanda seperti terbitnya
matahari dari arah barat merupakan tanda jangka pendek.

Akan tetapi, hanya Allah saja yang tahu mengenai datanganya hari kiamat,
sebagaimana tidak ada yang tau kecuali Allah saja tentang turunnya hujan, apa yang
ada di dalam rahim seorang ibu, apa yang terjadi esok hari dan dimanakah seseorang
akan mati. Sebagaimana dinyatakan dalam Q.S Lukman ayat 34 yang artinya:
”Sesungguhnya hanya pada sisinya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan
dialah yang menurunkan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada
seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati.
Sesungguhmya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal."

5) Korelasi Islam, Iman, Ihsan dan Hari Kiamat

Iman yang merupakan landasan awal, bila diumpamakan sebagai pondasi dalam
keberadan suatu rumah, sedangkan islam merupakan entitas yang berdiri diatasnya
maka, apabila iman seseorang lemah maka islamnya pun akan condong dan akan rubuh.
Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam seseorang ditegakkan. Karena iman terkadang
bisa menjadi tebal, kadang pula menjadi tipis karena amal perbuatan yang akan
mempengaruhi hati. Sedang hati sendiri merupakan wadah bagi iman itu sendiri. Jadi,
bila seseorang tekun beribadah, rajin taqorrub maka akan semakin tebal imannya,
sebaliknya bila seseorang berlarut-larut dalam kemaksiatan maka akan berdampak
tipisnya iman.10

Adapun ihsan, bisa diumpamakan sebagai hiasan rumah, bagaimana rumah


tersebut terlihat mewah, Indah, dan megah. Sehingga dapat menarik perhatian dari
banyak pihak. Sama halnya dalam ibadah, bagaimana ibadah ini bisa mendapatkan
perhatian dari sang khalik, sehingga dapat diterima olehnya. Tidak hanya asal
menjalankan perintah dan me jauhi larangannya saja melainkan berusaha bagaimana
amal perbuatan itu bisa bernilai plus dihadapan Nya. Sebagaimana yang telah
disebutkan diatas kedudukan kita hanayalah sebagai hamba budak dari Tuhan, sebisa
mungkin kiat berkerja menjalankan perintahnya untuk mendapatkan perhatian dan
ridhonya.11

Dan hari kiamat merupakan pelengkap dari iman, islam dan ihsan. Dengan
mempercayai adanya hari kiamat yang tidak seorangpun yang mengetahuinya kecuali
Allah swt. Ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk
jiwa untuk mengabdi kepada Allah swt. Sehingga mendapat keridhaannya.

10
Ihya Ulumuddin, juz 1 hal 121 Maktaba Syamela
11
https://serambisan3dotcom.wordpress.com/2012/02/20/haditstentangiman-islamdanihsan.pdf diakses
tanggal 10 oktober 2018
2. Berkurangnya Iman dan Islam Karena Maksiat

a. Hadits Tentang Iman dan Ihsan Karena Maksiat

‫ب‬
ٍ ‫ش َها‬ ِ ‫ب قَا َل أ َ ْخبَ َرنِي يُونُس ع َْن ا ْب ِن‬ َ ُ‫َح َّدثَنَا أ َ ْح َم ُد ْبن‬
ٍ ‫صا ِلحٍ َح َّدثَنَا ا ْبنُ َو ْه‬
َ‫ب يَقُوالَ ِن قَا َل أَبُو ُه َر ْي َرة‬ َ ‫الر ْح َم ِن َوا ْب َن ا ْل ُم‬
ِ َّ‫سي‬ َ ‫سلَ َمةَ ْب َن‬
َّ ‫ع ْب ِد‬ َ ‫س ِم ْعتُ أَبَا‬ َ ‫قَا َل‬
َّ ‫سلَّ َم قَا َل الَ يَ ْزنِي‬
َ ‫الزانِي ِح‬
‫ين‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ‫ع ْنهُ إِ َّن النَّبِ َّي‬
َ ُ‫َّللا‬
َّ ‫َر ِض َي‬
‫ق‬
ُ ‫س ِر‬ َ ‫ب ا ْل َخ ْم َر ِح‬
ْ َ‫ين َيش َْربُ َها َو ُه َو ُم ْؤ ِم ٌن َوالَ ي‬ ُ ‫َي ْز ِني َو ُه َو ُم ْؤ ِم ٌن َوالَ َيش َْر‬
‫ق َو ُه َو ُم ْؤ ِم ٌن‬
ُ ‫س ِر‬ َ ‫ق ِح‬
ْ َ‫ين ي‬ ُ ‫س ِار‬
َّ ‫ال‬

Artinya: “Ahmad ibn Shalih telah menceritakan kepada kami, Ibn Wahbi telah
menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Yunus telah menceritakan kepadaku dari Abi
Syihab, ia berkata bahwa aku telah mendengar Abu Salamah ibn ‘Abd al-Rahman dan ibn
al-Musayyab berkata bahwa Abu Hurairah r.a berkata bahwa Nabi saw.telah bersabda,
“tidak akan berzina seseorang jika ia sedang beriman, dan tidak akan meminum khamar
seseorang jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri sesseorang jika ia sedang
beriman.”

 Skema Sanad

‫ّللا‬
‫سو َل َ ه‬
ُ ‫َر‬

َ‫أَبُو ُه َري َْرة‬

‫ب‬ َ ‫الرحْ َم هن َواب َْن ا ْل ُم‬


‫س َي ه‬ َ ‫سلَ َم َة ب َْن‬
َ ‫ع ْب هد‬ َ ‫أ َ َبا‬

‫ش َهاب‬
‫اب هْن ه‬

‫يُونُس‬

‫ا ْب ُن َو ْهب‬

َ ‫أَحْ َم ُد ْب ُن‬
‫صا هلح‬
b. Kandungan Hadits

Di dalam hadits ini ditegaskan bahwa meninggalkan perbuatan yang diharamkan


adalah bagian dari pada iman. Ketika seseorang tidak meninggalkan larangan, maka
ternafilah iman di dalam dirinya. Sebab, ia telah menafikan bagian dari keimanan nya.12
Orang yang beriman akan merasa bahwa segala tingkah lakunya senantiasa diawasi oleh
Allah swt. Tidak ada suatu perbuatan yang ia lakukan luput dari pengawasan Allah swt.
Di samping itu, ia selalu sadar bahwa segala perbuatan yang dilakukannya harus
dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya, dan ia sendiri yang akan menerima akibat dari
perbuatannya, baik ataupun buruk, sekecil apapun perbuatan itu.

Atas dasar kesadaran tersebut, maka orang yang benar-benar beriman senantiasa
berusaha mengerjakan perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang dilarang oleh
Allah swt. Seorang yang beriman tidak mungkin dengan sengaja melakukan maksiat
kepada Allah, karena ia merasa malu dan takut menghadapi azab-Nya serta takut tidak
mendapatkan ridha-Nya. Bahkan sebaliknya, orang yang tidak beriman kepada Allah swt.
akan merasa bahwa hidupnya di dunia tidak memiliki beban apa-apa. Ia hidup semaunya,
dan yang penting baginya adalah ia merasa senang dan bahagia. Ia tidak memikirkan
kehidupan setelah mati kelak karena ia tidak mempercayainya. Dengan begitu,
perbuatannya pun tidak terlalu dipusingkan oleh masalah baik ataupun buruk. Kalaupun ia
melakukan suatu perbuatan baik, maka perbuatannya tersebut bukan karena mengharapkan
ridha Allah swt. karena ia tidak percaya kepada-Nya.
Orang yang betul-betul beriman tidak mungkin secara sengaja mengerjakan
maksiat. Dengan demikian, seorang mukmin yang melakukan perbuatan dosa seperti zina,
mencuri, membunuh dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya, berarti dia sedang tidak
beriman atau imannya berada dalam titik terendah. Oleh karena itu, seyogianya setiap orang
yang beriman selalu memperbaharui keimanannya dengan selalu mengingat Allah dan
melakukan berbagai perintah-Nya.

12
jurnal.uinsu.ac.id/index.php/analytica/article/download/458/359. Di akses tanggal 11 Oktober
2018
3. Rasa Malu Sebagian dari Iman

a. Hadits Tentang Rasa Malu Sebagian dari Iman

‫سا ِل ِم‬َ ‫ب ع َْن‬ ٍ ‫ش َها‬ِ ‫ف قَا َل أ َ ْخبَ َرنَا َما ِلكُ ْبنُ أَنَ ٍس ع َْن ا ْب ِن‬َ ‫س‬ُ ‫َّللاِ ْب ُن يُو‬ َ ‫َح َّدثَنَا‬
َّ ‫ع ْب ُد‬
‫علَى َر ُج ٍل ِم ْن‬ َ ‫سلَّ َم َم َّر‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬
َّ ‫سو َل‬ ُ ‫َّللاِ ع َْن أَبِي ِه أ َ َّن َر‬
َّ ‫ع ْب ِد‬
َ ‫ْب ِن‬
ُ‫سلَّ َم َد ْعه‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬
َّ ‫سو ُل‬ ِ َ‫ظ أ َ َخاهُ فِي ا ْل َحي‬
ُ ‫اء فَقَا َل َر‬ َ ‫األ َ ْن‬
ُ ‫ص ِار َو ُه َو يَ ِع‬
‫ باب‬۱٦: ‫ كتاب اإليمان‬-۲ : ‫ (أخرجه البخاري فى‬.‫ان‬ ِ ‫فَ ِإ َّن ا ْل َح َيا َء ِم ْن‬
ِ ‫اإلي َم‬
‫)الحيا ء من اإليمان‬

Artinya : “Abdullah ibn Yusuf telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa
Malik ibn Anas telah mengabarkan kepada kami dari ibn Syihab dari Salim ibn ‘Abdillah
dari ayahnya bahwa Nabi SAW melewati (melihat) seorang lelaki kaum Anshar yang
sedang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi SAW telah bersabda:
“Biarkanlah ia karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman”. (HR. Bukhari)

 Skema Sanad

‫ّللا‬
‫سو َل َ ه‬
ُ ‫َر‬

‫أَبهي هه‬

‫ّللا‬
‫ع ْب هد َ ه‬
َ ‫سا هل هم ب هْن‬
َ

‫ش َهاب‬
‫اب هْن ه‬

‫َما هلكُ ْب ُن أَنَس‬

‫ف‬ ُ ‫ّللا ْب ُن يُو‬


َ ‫س‬ ‫ع ْب ُد َ ه‬
َ

‫ا لبخا رى‬
b. Kandungan Hadits

Ketika Nabi SAW medengar seorang Anshar menasehati temannya yang pemalu
agar menjauhi sifatnya tersebut karena dipandang sebagai suatu kelemahan, Nabi SAW
justru mengingatkan laki-laki Anshar tersebut agar tidak menasehati seperti demikian,
sebab rasa malu yang tumbuh secara naluriyah kemudian berkembang dan dimotivasi
ajaran agama itu justru merupakan perwujudan dari iman.

Ada beberapa definisi malu menurut para ahli:13

1) Ibn Qutaibah berkata: “Sifat malu dapat menghalangi dan menghindarkan


seseorang dari melakukan kemaksiatan sebagaimana iman. Maka sifat malu disebut
sebagai iman, seperti sesuatu dapat diberi nama dengan nama lainnya yang dapat
menggantikan posisinya”.
2) Al-Raghib berkata: “Malu adalah sebagai sesuatu yang dapat menahan diri dari
perbuatan buruk”. Sifat tersebut merupakan salah satu ciri khusus manusia yang dapat
mencegah dari perbuatan yang memalukan dan membedakannya dengan binatang. Sifat
tersebut merupakan gabungan dari takut dan iffah (menjaga kesucian diri). Oleh karena
itu orang yang malu bukan orang yang fasik, meskipun jarang sekali kita temukan
seorang pemberani yang pemalu. Terkadang sifat malu juga menahan diri secara
mutlak.
3) Al-Hulaimi berkata: “Esensi dari rasa malu adalah takut akan dosa, karena
melakukan perbuatan yang tidak terpuji”. Ulama lain mengatakan, bahwa rasa malu
terhadap sesuatu yang diharamkan adalah wajib hukumnya. Sedangkan terhadap
sesuatu yang makmur, hukumnya sunnah. Namun malu terhadap sesuatu yang
diperbolahkan (mubah) hukumnya masih harus disesuaikan dengan adat kebiasaan.

Rasa malu merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan Allah kepada manusia
dan sekaligus merupakan salah satu sifat yang membedakan manusia dengan binatang.
Kadar rasa malu pada tiap-tiap orang berbeda-beda, dan motif yang menyebabkan orang
malu juga sangat variatif. Dengan demikian, malu kadang yang dapat dikategorikan sebagai
sifat yang baik, dan adapula kalanya dapat dikategorikan sebagai sifat tercela. Oleh sebab

13
http://pustakaimamsyafii.com/malu-akhlak-islam.html. Di akses tanggal 12 Oktober 2018
itu, sifat ini harus ditempatkan secara proporsional. Malu bukan hanya merupakan sifat
dasar manusia, akan tetapi lebih dari itu termasuk dalam salah satu ciri orang yang beriman
dan simbol keberimanan seseorang. Oleh sebab itulah sehingga Rasulullah dalam hadis di
atas menjadikan rasa malu sebagai bagian dari iman.

Jika malu adalah mencegah dari melakukan sesuatu yang tercela, maka seruan
untuk memiliki malu, pada dasarnya dalah seruan untuk mencegah segala maksiat dan
kejahatan. Di samping itu rasa malu adalah ciri khas dari kebaikan, yang senantiasa
diinginkan oleh manusia. Mereka melihat bahwa tidak memiliki rasa malu adalah
kekurangan dan suatu aib. Rasa malu juga merupakan bagian dari kesempurnaan iman.14
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw : ‘’malu adalah bagian dari keimanan,’’
juga hadits yang lain, ‘’Rasa malu selalu mendatangkan kebaikan.’’ (H.R Bukhari dan
Muslim).

Pada dasarnya, islam dalam keseluruhan hukum dan ajarannya, adalah ajakan
yang bertumpu pada kebaikan dan kebenaran. Juga merupakan seruan untuk meninggalkan
setiap hal yang tercela dan memalukan. Al-Faqih Abu Laits al-Samarqandi
mengklasifikasin malu dalam syari’at Islam menjadi dua, yaitu:15

1) Malu kepada Allah swt, maksudnya ialah malu melakukan maksiat kepada Allah
karena menyadari besarnya nikmat Allah swtyang dianugerahkan kepadanya.
2) Malu kepada sesama manusia, maksudnya menutup mata dari hal-hal yang tidak
berguna.

Malu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Oleh sebab itu, jika
manusia telah kehilangan rasa malunya, maka ia tidak ada lagi bedanya dengan binatang.
Kehilangan rasa malu akan menyebabkan orang menjadi permissif, sehingga membenarkan
segala cara demi untuk kepuasan naluri kemanusiaannya dan bahkan naluri
dankebinatangan yang ada pada dirinya.

14
Musthafa Dieb Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu, AL-WAFI Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah
saw (Jakarta: Al-I’tishom, 2009)
15
Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, Tanhibul Ghafilin (Pembangun Jiwa Moral Umat) penerjemah Abu
Imam Taqiyuddin (Malang: Dar al-Ihya, 1986) hal. 474
Berbagai penyimpangan yang terjadi terhadap hak-hak Allah dan hak-hak sesama
manusia banyak dipengaruhi oleh hilangnya rasa malu pada manusia. Ketiadaan rasa malu
kepada Allah menyebabkan seseorang melakukan kemaksiatan kepada Allah, dan
ketiadaan rasa malu kepada Allah dan sesama manusia menyebabkan orang memperkosa
hak-hak sesama manusia.

Malu dalam arti sebenarnya (menurut pandangan Islam) adalah malu dalam
melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt dan yang dipandang jelek oleh manusia.
Adapun orang yang merasa malu untuk melakukan perbuatan baik atau malu menegur
orang yang melakukan kejelekan tidak termasuk malu dalam kategori ini, tetapi justru
termasuk perbuatan tercela.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Iman juga sering dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati.
Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu
kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lainnya. Aqidah tersebut akan
menjadi pegangan dan pedoman hidup, yang telah mendarah daging dalam diri yang tidak
dapat dipisahkan lagi dari diri seorang mukmin. Bahkan akan sanggup mengorbankan harta,
jiwa dan raganya demi mempertahankan aqidahnya.
Islam sebagai agama mengatur tata cara mengabdi kepada Allah swt., Menurut cara
yang di ridhai Nya. Dan islam juga mengatur hubungan manusia dengan alam dan hewan dan
lain sebagainya. Dikarenakan Islam itu merupakan agama yang paling sempurna, sekaligus
pelengkap dan penyempurna dari agama-agama yang terdahulu. Jadi, islam itu mengatur segala
aspek kehidupan, baik yang berkenaan dengan akidah atau kepercayaan, syariah atau ibadah
dan muamalah, serta akhlak baik kepada al-khalik maupun kepada makhluk.
Ihsan disebut juga sebagai punjak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadikan target
seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkaan kemuliaan
dari Nya. Selanjutnya, jika seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini aksn
kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah
swt. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas
akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian
terbesar dari keislamannya. Jadi, ihsan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan
diterima atau tidaknya sesuatu amalan oleh Allah swt. Karena orang yang berlaku ihsan dapat
dipastikan akan ikhlas dalam beramal, sedangkan ikhlas merupakan inti diterimanya suatu amal
ibadah.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Bugha, Musthafa Dieb, dan Muhyiddin Mistu. 2009. AL-WAFI Menyelami Makna 40
Hadits Rasulullah saw. Jakarta: Al-I’tishom
Al-Raziy, Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya. 1999. Mu’jam Maqayis al-Lugah Juz
I (Cet: I). Beirut: Dar al-Kutub al-‘ilmiyah
Al-Utsaimin, Muhammad Shalih bin.2014. Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah. Jakarta:
Ummul Qura
Hd, Kaelany. 2000. Iman, Ilmu dan Amal Shaleh. Jakarta: Rineka Cipta
https://almanhaj.or.id/2971-syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan-1.htm.
Http://etheses.uin/malang.ac.id/3255/1/1/13771013.pdf
http://pustakaimamsyafii.com/malu-akhlak-islam.html
https://serambisan3dotcom.wordpress.com/2012/02/20/haditstentangiman-islamdanihsan.pdf

https://sorayailham.wordpress.com/2011/11/16/hubungan-antara-iman-islam-ihsan-dan-hari-
kiamat/
Ihya Ulumuddin, juz 1 hal 121 Maktaba Syamela
Imam An-Nawawi. 2008. Terjemahan Hadist Arba’in An-Nawawiyah. Al-I’tishom. Jakarta:
Cahaya Umat
jurnal.uinsu.ac.id/index.php/analytica/article/download/458/359

Samarqandi, Al-Faqih Abu Laits. 1986. Tanhibul Ghafilin (Pembangun Jiwa Moral Umat)
penerjemah Abu Imam Taqiyuddin. Malang: Dar al-Ihya