Vous êtes sur la page 1sur 6

TUGAS TERSTRUKTUR

RESUME
AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL

Oleh :
Stevia Annisa Greinalldi 165020301111077

Mata Kuliah
Teori Akuntansi Keuangan kelas CB

AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
Pendahuluan

Kita telah banyak belajar mengenai isu-isu terkait dengan pertanggungjawaban aktivitas
perusahaan dalam aspek non financial dengan mengeksplorasi teori-teori yang menjelaskan
praktek pelaporan sukarela perusahaan. Pada makalah ini akan membahas isu-isu
pengembangan pemahaman teori lebih jauh dengan mempelajari aspek pertumbuhan badan
penelitian yang menyelidiki praktek pelaporan sosial dan lingkungan yang diadopsi oleh
banyak organisasi akhir-akhir ini.

Praktek pelaporan sosial dan lingkungan sering menunjuk pada pelaporan yang berkelanjutan
yang seringkali menutupi aspek kesinambungan keuangan/ ekonomi dalam penambahan
kesinambungan sosial dan lingkungan. Istilah pelaporan berkelanjutan (sustainability
reporting) dan pelaporan sosial lingkungan (social environmental reporting) secara
bergantian akan digunakan untuk mengacu pada arti dari peraturan/ ketentuan menuju rentang
stakeholders, informasi mengenai kinerja entitas dalam hal interaksi secara fisik dan
lingkungan sosial termasuk informasi mengenai dukungan entitas tehadap karyawan,
komunitas lokal dan asing, catatan keamanan dan pemanfaatan sumber-sumber daya alam.

Sedikit mengejutkan bahwa banyak siswa akuntansi yang melengkapi kualifikasi akuntansi
mereka tanpa mempertimbangkan isu-isu terkait pertanggungjawaban bisnis. Namun demikian
praktek akuntansi pada tingkatan yang lebih sederhana dapat didefinisikan sebagai ketentuan
informasi mengenai kinerja entitas yang ditujukan bagi kelompok pengguna laporan keuangan
tertentu yang tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan tingkat responsibilitas dan akuntabilitas
sebuah entitas. Sebagai seorang akuntan kita akan menerima tugas untuk menyediakan akun
kinerja sosial dan lingkungan pada sebuah organisasi bila kita telah mengakui bahwa sebuah
entitas memiliki responsibilitas dan akuntabilitas kinerja sosial dan lingkungan. Begitu juga
sebaliknya.

Karena area pelaporan sosial dan lingkungan ini relatif masih baru dan masih terus mengalami
perubahan maka bagi seorang akuntan akan sangat menarik untuk ikut terlibat didalamnya.
Kita akan mulai melihat akuntan jenis baru yaitu akuntan lingkungan (environmental
accountants) dan akuntan sosial (social accountants) yang bekerja berdampingan bersama
dengan akuntan keuangan tradisional.
Tahap-tahap Pelaporan Berkelanjutan (Sustainability Reporting)
Ada beberapa variasi langkah-langkah/ tahap dalam laporan yang terkait atau berkelanjutan
dengan produksi suatu lingkungan sosial. Langkah yang diambil seharusnya dilakukan secara
berurutan sebagaimana sebuah keputusan yang diambil pada masing-masing tahap
(selanjutnya) tergantung pada keputusan yang diambil pada tahap sebelumnya.

Dalam pelaporan berkelanjutan tahap pertama adalah pada saat sebuah perusahaan
memutuskan tujuan organisasi secara garis umum untuk melakukan pelaporan sosial dan
lingkungan, dengan kata lain adalah alasan mengapa perusahaan diharapkan untuk
menghasilkan sebuah laporan yang berkelanjutan. Hal ini kelihatan seperti alasan secara umum
untuk pembangunan kebijakan dan praktek tanggungjawab sosial dan lingkungan, dimana
kebijakan dan prakteknya biasa disebut tanggungjawab sosial perusahaaan (Corporate Social
Responsibility/ CSR). Alasan yang secara umum akan memicu munculnya CSR dan pelaporan
berkelanjutan dalam sebuah organisasi dapat berangkat dari dorongan keinginan secara etis
untuk memastikan keuntungan perusahaaan atau menghindari dampak negatif lingkungan alam
dan sosial, meskipun motif utamanya secara ekonomi adalah memanfaatkan pelaporan
lingkungan sosial dan CSR guna melindungi atau meningkatkan nilai finansial pemegang
saham.

Ketika sebuah organisasi telah menentukan apa tujuan utamanya dalam mempublikasikan
laporan sosial dan lingkungan (CSR) tahap berikutnya yang akan dilakukan dalam proses
pelaporan adalah mengidentifikasikan siapa (stakeholders) yang membutuhkan informasi atas
laporan tersebut, dengan kata lain siapa saja pihak yang secara langsung berkepentingan
dengan pelaporan lingkungan sosial tersebut. Dengan demikian jelaslah bahwa jika pelaporan
sosial dan lingkungan perusahaan hanya terdorong oleh keinginan secara eksklusif pihak
manajemen, maka para stakeholders yang memiliki pelaporan sosial dan lingkungan
perusahaan akan secara picik mengarahkannya hanya untuk kepentingan para stakeholders
yang memegang dan memanfatakan kekuasaan ekonomi terbesar atas perusahaan tersebut.
Sebaliknya jika pelaporan sosial dan lingkungan perusahaan dimotivasi oleh alasan etika/
moral maka pelaporan perusahaan akan mencari keterbutuhan informasi pada rentang
stakeholders yang lebih luas.

Setelah melakukan identifikasi tentang siapa saja stakeholders yang memiliki kepentingan dan
kebutuhan atas informasi yang akan dihasilkannya, tahap ketiga yang harus dilakukan
perusahaan dalam pelaporan yang berkelanjutan adalah memastikan apa saja informasi yang
dibutuhkan oleh para stakeholders, dengan kata lain masalah (isu-isu) apa yang dituju dalam
pelaporan sosial dan lingkungan perusahaan. Dalam mengidentifikasikan masalah, sebuah
entitas mempunyai tanggungjawab dan akuntabilitas atas stakeholders yang terkait, termasuk
melakukan dialog antara perusahaan dengan target stakeholders yang ditentukan. Beberapa
penelitian telah membahas mengenai proses komunikasi dengan stakeholders ini.

Ketika suatu perusahaan telah menentukan tujuan dari proses pelaporan (mengapa
melaporkan), stakeholders yang dituju dengan adanya proses pelaporan ini ( untuk siapa
laporan tersebut dimaksudkan), dan informasi apa saja yang diminta oleh stakeholders ( apa
masalah yang dipertanggungjawabkan oleh para stakeholders entitas, atau apa masalah yang
seharusnya dicover), maka tahap terakhir dalam proses pelaporan sosial dan lingkungan adalah
menghasilkan sebuah laporan (mungkin dalam bentuk lebih dari satu macam) mengenai suatu
isu/ masalah (informasi yang dibutuhkan para stakeholders). Hal ini merupakan langkah umum
yang melibatkan lebih banyak hal-hal yang lebih detail mengenai bagaimana laporan tersebut
akan disusun. Pada tahap ini beberapa elemen dari proses pelaporan sosial dan lingkungan akan
sangat jauh menyimpang dari proses pelaporan keuangan yang diwujudkan dalam kerangka
konseptual akuntansi keuangan, meskipun beberapa masalah (seperti reliability information)
masih dianggap penting pada kedua proses tersebut.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai struktur pelaporan keuangan berkelanjutan sesuai
dengan tahap-tahap “mengapa – siapa – untuk apa – bagaimana” dalam proses pelaporan
sosial dan lingkungan. Dimulai dari eksplorasi detail mengenai motif atau tujuan organisasi
secara umum dan bisnis perusahaaan secara khusus dalam rangka menjamin CSR dan
pelaporan berkelanjutan. Disusul langkah kedua dengan memberikan argumen bahwa rentang
stakeholders yang dituju oleh praktek pelaporan sosial dan lingkungan perusahaan akan
mengalir langsung dari alasan filosofi yang mendasari mengapa hal tersebut akan memberikan
jaminan dalam pelaporan sosial dan lingkungan.

Pada bagian berikutnya akan dibahas mengenai tahap ketiga dengan mempertimbangkan kajian
penelitian yang mendemonstrasikan bahwa pada kenyataannnya ada permintaan dari para
stakeholders atas informasi tentang masalah-masalah sosial dan lingkungan. Bagian ini akan
mempelajari perspektif teori dalam proses dialog para stakeholders, yang dapat digunakan
untuk mengidentifikasikan masalah para stakeholders entitas tertentu yang memegang
tanggungjawab dan akuntabilitas, dan kemudian apa masalah yang akan dimaksudkan dalam
pelaporan sosial dan lingkungan. Selanjutnya dikuti dengan bagian berikutnya yang membahas
mengenai kajian penelitian yang menyelidiki beberapa masalah-masalah dan proses yang tekait
dengan tahap bagaimana menghasilkan laporan sosial dan lingkungan perusahaan. Termasuk
di dalamnya sebuah analisa mengenai pembatasan atas proses dan praktek pelaporan keuangan
konvensional dalam menangkap dampak sosial dan lingkungan perusahaan, proporsi dan
pembatasan atas pelaporan triple bottom line dalam menyediakan proses dan praktek pelaporan
sosial dan lingkungan yang cocok.

Bisnis Berkelanjutan dan Prinsip ‘Triple Bottom Line’


Banyak perusahaaan yang membayangkan berkelanjutan terdiri atas tiga rangkaian :

ekonomi, sosial dan lingkungan. Model ini sering disebut sebagai pendekatan triple bottom
line an.berkelanjutan, sebuah istilah yang dikembangkan oleh John Elkington (1997). Kinerja
keuangan atau keuntungan dalam bahasa sehari-hari sering disebut sebagai inti utama dari
berbisnis, sehingga fokus semata-mata dalam kinerja ekonomi dapat dianggap sebagai fokus
pada mencari keuntungan finansial (single bottom line).

Tiga aspek berkelanjutan ini cenderung bertemu selama jangka waktu yang lebih lama. Dalam
jangka waktu yang pendek dimungkinkan untuk menghasilkan keuntungan ketika berdampak
negatif pada masyarakat. Dalam jangka waktu menengah, mengingat bahwa bisnis beroperasi
dalam masyarakat, dampak negatif pada masyarakat mengakibatkan kegiatan bisnis mungkin
menyebabkan kerusakan dalan fungsi sosial yang dibutuhkan untuk keberlangsungan
keuntungan bisnis. Agumentasinya adalah bahwa hampir semua kegiatan bisnis tergantung
pada fungsi efektifitas dari banyak sistem sosial, jika sistem ini rusak maka keuntungan masa
depan akan terancam.

Dalam jangka waktu yang panjang argumen untuk menyamakan ekonomi, sosial dan
kelestarian lingkungan sangat mudah. Argumennya adalah bahwa ekonomi (termasuk kegiatan
bisnis) dan semua sistem sosial beroperasi dalam lingkungan alam. Dalam jangka panjang
kelestarian lingkungan diperlukan bagi sosial dan ekonomi berkelanjutan sehingga perhatian
pada kinerja bottom line (atau meminimalkan dampak) dalam hal lingkungan diperlukan untuk
memastikan bottom line sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Implikasi argumen ini hampir
sama dengan implikasi dalam kebutuhan akan berkelanjutan antar generasi, dalam arti mungkin
diperlukan untuk mengobankan beberapa kebutuhan jangka pendek untuk memastikan
berkelanjutan keuntungan ekonomi dalam sistem ekonomi dan ekologis berkelanjutan.

Dillard, Brown dan Marshall (2005, 81) menjelaskan bahwa dalam praktek pendekatan triple
bottom line berkelanjutan ini terdapat hambatan bahwa sistem sosial ini telah menjadi dominan
dan mengeksploitasi sistem alam, dalam ekonomi khususnya, keuntungan berdasarkan sistem
sosial ini dominan.

Dalam akuntansi hubungan pendekatan triple bottom line berkelanjutan ini adalah bahwa
dalam akuntansi keuangan tradisional selama hanya memperhatikan pelaporan kinerja
ekonomi, dan menurut pendapat Elkington (1997) perlu dikembangkan peran lebih luas dengan
adanya pelaporan kinerja sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

Motivasi perusahaan untuk melakukan pelaporan kinerja sosial dan lingkungan yang
berkelanjutan bermacam-macam, mulai dari keinginan untuk memaksimalkan penerimaan
financial untuk para pemegang saham dan/ atau manajer dengan menggunakan pelaporan
tersebut sebagai alat untuk menjaga dan mempertahankan dukungan dari stakeholders yang
memiliki kekuatan ekonomi sampai pada keinginan untuk melaksanakan tugas akuntabilitas
atas dampak sosial dan lingkungan dari operasi perusahaan pada berbagai stakeholders.

Beberapa kemungkinan keterbatasan akuntansi keuangan tradisional dalam menangkap


dan melaporkan kinerja sosial dan lingkungan

Akuntansi keuangan sering dikritik atas dasar bahwa ia mengabaikan banyak eksternalitas
sosial dan lingkungan yang disebabkan oleh entitas pelapor. Beberapa alasan mengapa
akuntansi keuangan tradisional mungkin tidak dapat efektif dalam mencerminkan dampak
sosial dan lingkungan organisasi meliputi:

1. Akuntansi keuangan berfokus pada kebutuhan informasi dari pihak-pihak terlibat


dalam membuat keputusan alokasi sumber daya.
2. Salah satu pilar akuntansi keuangan adalah gagasan tentang 'materialitas' yang
cenderung menghalangi informasi pelaporan sosial dan lingkungan mengingat
kesulitan yang terkait dengan mengukur biaya sosial dan lingkungan
3. masalah lain yang muncul dalam akuntansi keuangan adalah bahwa entitas pelaporan
sering mengurangi kewajiban, terutama yang tidak akan dilunasi selama bertahun-
tahun ke nilai sekarang. Hal ini cenderung membuat pengeluaran masa depan kurang
signifikan pada periode ini.
4. akuntansi keuangan mengadopsi 'entitas asumsi', yang mengharuskan organisasi untuk
diperlakukan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya, organisasi-organisasi lain,
dan stakeholder lainnya
5. Sebuah wilayah yang terkait di mana sistem akuntansi keuangan tradisional kita
menghasilkan hasil agak aneh yaitu perlakuan izin polusi yang bisa diperdagangkan
6. Dalam akuntansi keuangan dan pelaporan, biaya didefinisikan sedemikian rupa untuk
mengecualikan pengakuan setiap dampak pada sumber daya yang tidak dikendalikan
oleh entitas (seperti lingkungan), kecuali denda atau arus kas lainnya yang timbul.
7. Terdapat isu “pengukuran”. Untuk item yang akan direkam untuk tujuan akuntansi
keuangan itu harus diukur dengan akurasi yang memadai.

Meskipun terdapat kesulitan diatas, ada berbagai pendekatan eksperimental di seluruh


dunia yang bertujuan untuk mengembangkan pendekatan “full cost” untuk perhitungan
laba dengan menempatkan sebuah 'nilai' ekonomi terhadap dampak sosial dan lingkungan
dari organisasi individu. Beberapa studi akademis juga telah mengembangkan pendekatan
teoritis di daerah ini (misalnya, Bebbington dan Gray, 2001, Gray, 1992). Pendekatan ini
merupakan perkembangan dari akuntansi konvensional. Namun kekurangannya dengan
kondisi saat ini akuntansi keuangan dan pelaporan menunjukkan bahwa akuntansi
keuangan dan pelaporan tampaknya tidak memiliki mekanisme yang cocok untuk
menangkap dan melaporkan dampak sosial dan lingkungan organisasi. Akibatnya,
mekanisme lain perlu digunakan untuk memberikan perhitungan sosial dan lingkungan
sesuai dengan stakeholder. Salah satu mekanisme yang luas yang telah dibahas secara luas
di dunia bisnis sebagai cara untuk memberikan keseimbangan yang diinginkan informasi
tentang sosial dan lingkungan, di samping ekonomi, kinerja organisasi adalah laporan triple
bottom line.