Vous êtes sur la page 1sur 32

BAB I

PENDAHULUAN

Perdarahan saluran cerna akut merupakan keadaan gawat darurat yang harus

ditangani secara cepat dan tepat karena dapat menyebabkan kematian. Sementara

perdarahan saluran cerna yang sifatnya kronik walaupun tidak terlihat nyata namun

bila tidak ditangani juga sangat berbahaya. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi

dimana saja pada traktus digestivus dari mulut sampai dengan anus. Darah dapat

terlihat pada tinja atau muntahan atau dapat saja berupa perdarahan tersembunyi yang

hanya dapat dilihat dengan pemeriksaan laboratorium. Perdarahan saluran cerna

bagian bawah sebagian besar terjadi pada usia tua. Dahulu, kematian yang disebabkan

oleh perdarahan saluran cerna bagian bawah yang akut sangat tinggi. Hal ini terutama

disebabkan oleh kesulitan untuk menemukan sumber pendarahan.5 Namun, seiring

dengan kemajuan dan pembangunan di bidang teknologi medis, khususnya

kolonoskopi dan angiografi, telah menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh

perdarahan saluran cerna bagian bawah sebesar 5-10% selama dekade terakhir. Hal ini

sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kemampuan dalam mencari sumber

pendarahan, dalam resusitasi dan juga perawatan medis yang lebih baik. Penyebab

utama kehilangan darah dari saluran pencernaan bagian bawah yang akut adalah

divertikulosis dan angiodisplasia.5

Sementara itu, penyebab utama perdarahan saluran cerna bagian bawah yang

kronik adalah keganasan dan penyakit di daerah perianal.5 Perdarahan saluran cerna

bagian bawah yang kronik terjadi secara bertahap dan sebentar-sebentar, sehingga

seringkali pasien tidak menyadarinya dan membutuhkan rawat inap di rumah sakit.5

1
BAB II

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS

A. Identitas Pasien

Nama : An. A

Umur : 4 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Berat badan : 11 kg

Tanggal masuk RS : 9 April 2019

Tanggal pemeriksaan : 11 April 2019

B. Identitas Orang Tua

Ayah Ibu

Nama : Tn. S Nama : Ny. N

Umur : 32 tahun Umur : 32 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pekerjaan : Karyawan Swasta Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Hubungan dengan orang tua: anak kandung, anak pertama.

II. ANAMNESIS

A. Keluhan Utama:

Keluar benjolan dari anus sejak siang hari SMRS.

2
B. Keluhan Tambahan:

BAB berdarah sejak 3 hari SMRS.

C. Riwayat Penyakit Sekarang:

Ibu pasien mengatakan bahwa dari anus pasien keluar benjolan sebesar biji

salak dari anus sejak siang hari SMRS. Ibu pasien mengatakan bahwa

anaknya tidak pernah mengeluh benjolan tersebut terasa nyeri atau sakit

dan perut pasien juga tidak terasa nyeri. Ibu pasien juga mengatakan

bahwa BAB pasien berdarah berwarna merah segar saat 3 hari SMRS,

namun darahnya sedikit dan tidak terlihat banyak. BAB cair disangkal,

nafsu makan dan minum pasien baik, demam disangkal, riwayat jatuh

disangkal, mual disangkal, dan muntah disangkal.

D. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat-obatan ataupun makanan. Pasien

tidak pernah sakit kuning.

E. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada riwayat penyakit seperti pasien dalam keluarga.

3
F. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

Pasien ditolong bidan, lahir spontan, cukup bulan.

Berat lahir : 2700 gram

Panjang : 46 cm

Langsung menangis

Ibu menyangkal menggunakan obat-obatan saat kehamilan.

III. PEMERIKSAAN FISIK

A. Pemeriksaan Umum

1. Kesan Umum : tampak sakit sedang

2. Kesadaran : composmentis

3. Tanda Utama :

Frekuensi nadi : 98 ×/menit

Frekuensi napas : 27 ×/menit

Suhu : 36,6° C

B. Pemeriksaan Khusus

1. Kepala : Normocephale, rambut tidak mudah dicabut,

rambut hitam tipis

2. Mata : Pupil bulat isokor, sklera ikterik -/-, konjungtiva

anemis -/-

3. Leher : Trakea letak normal, tidak ada pembesaran

kelenjar getah bening

4. Telinga : Simetris kanan dan kiri, sekret -/-

4
5. Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), napas cuping

hidung -/-, sekret -/-

6. Mulut : Bibir tidak kering, sianosis (-), mukosa merah

muda

7. Thoraks :

a. Jantung

Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak

Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS 4 linea midclavicula

sinistra

Perkusi : Batas jantung normal

Auskultasi : SISII normal, murmur (-), gallop (-)

b. Paru

Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan dan kiri, pernapasan

simetris dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi

sela iga (-)

Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-

8. Abdomen

Inspeksi : Datar

Palpasi : Tidak teraba massa, tidak ada pembesaran hepar

dan lien, turgor baik

Perkusi : Hipertimpani di seluruh quadran abdomen

Auskultasi : Bising usus (+)

9. Ekstremitas : Akral hangat, edema -/-

5
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Laboratorium Darah

9 April 2019

Pemeriksaan Hasil Satuan

Hemoglobin 9.7 g/dL

Hematokrit 28 %

Eritrosit 3.94 10^6/µL

MCV 72 fL

MCH 25 pg/mL

MCHC 34 g/dL

Trombosit 438 10^3/µL

Leukosit 10.5 10^3/µL

Hitung Jenis

Basofil 0 %

Eosinofil 3 %

Neutrofil 65 %

Limfosit 26 %

Monosit 6 %

Laju Endap Darah (LED) 60 mm/jam

Paket Elektrolit

Natrium 139 mmol/L

Kalium 4.1 mmol/L

Klorida (Cl) 106 mmol/L

Glukosa Sewaktu 97 mg/dL

6
10 April 2019

Gambaran Darah Tepi

Morfologi Eritrosit : Mikrositik hipokrom, sel pensil (+)

Morfologi Leukosit : Kesan jumlah cukup, morfologi normal hitung

jenis 0/5/2/55/31/7

Morfologi Trombosit : Kesan jumlah cukup, morfologi normal

Kesan : Suspek anemia defisiensi besi

Saran : Feritin, SI, TIBC

Pemeriksaan Hasil Satuan

PT (Pasien) 9.6 detik

PT (Kontrol) 10.9 detik

APTT (Pasien) 43.3 detik

APTT (Kontrol) 36.2 detik

11 April 2019

Pemeriksaan Hasil Satuan

Hemoglobin 12.4 g/dL

Hematokrit 36 %

Trombosit 410 10^3/µL

Leukosit 6.8 10^3/µL

V. DIAGNOSIS KERJA

Polip recti

7
VI. PENATALAKSANAAN

Preoperasi

1. IVFD NaCl

2. Inj. Asam Traneksamat

3. Transfusi PRC 100cc

VII. PROGNOSIS

Ad vitam : ad bonam

Ad functionam : ad bonam

Ad sanationam : ad bonam

8
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI

Perdarahan saluran cerna bagian bawah umumnya didefinisikan sebagai

perdarahan yang berasal dari usus di sebelah bawah ligamentum Treitz.3

Hematochezia diartikan sebagai darah segar atau berwarna merah maroon

yang keluar melalui anus dan merupakan manifestasi tersering dari perdarahan

saluran cerna bagian bawah. Namun, perdarahan dari saluran pencernaan

bagian atas yang masif juga dapat menimbulkan hematochezia.1,3

Melena diartikan sebagai tinja berwarna hitam seperti ter, lengket, dengan

bau yang khas. Melena timbul bila hemoglobin dikonversi menjadi hematin

atau hemokrom lain oleh bakteri setelah 14 jam.1,2 Umumnya melena

menunjukkan perdarahan di saluran cerna bagian atas atau usus halus, namun

melena dapat pula berasal dari perdarahan kolon sebelah kanan dengan

perlambatan mobilitas.2 Tidak semua kotoran hitam adalah melena karena

bismuth, atau obat-obat yang mengandung besi (obat penambah darah) dapat

pula menyebabkan feces menjadi hitam.1,3

Darah Samar timbul bilamana ada perdarahan ringan namun tidak sampai

merubah warna feces. Darah samar dapat diketahui dengan tes Guaiac.1,3

Darah yang bisa dideteksi oleh tes Guaiac minimal 5-10ml/hr, sementara

saluran cerna secara normal sebenarnya kehilangan darah 0,5-1,5 ml/hari yang

biasanya tidak terdeteksi dengan tes Guaiac.1

9
II. EPIDEMIOLOGI

Penyebab utama perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah

diverticulosis, malformasi arteri vena (AVM), dan kolitis iskemik.1 Dari

keseluruhan perdarahan saluran cerna, 20%-nya adalah perdarahan saluran

cerna bagian bawah, dan biasanya tidak lebih berat dari perdarahan saluran

cerna bagian atas. Perdarahan SCBB ini biasanya terjadi pada orang tua berusia

antara 63-77 tahun.1 Sebanyak 80% biasanya berhenti secara spontan.1 Dalam

dekade terakhir , kasus perdarahan saluran cerna meningkat secara signifikan.

Mortalitas akibat perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah 3,6 %,

sementara tingkat mortalitas akibat perdarahan saluran cerna bagian atas adalah

3,5–7%.3

Pasien perdarahan saluran cerna bagian bawah yang dirawat di rumah

sakit memiliki angka mortalitas yang lebih tinggi, yaitu sebanyak 23%

dibandingkan pasien yang rawat jalan, hanya sebesar 3.6%.1

10
III. KLASIFIKASI

a. Perdarahan akut

Pasien-pasien yang mengalami perdarahan berat dan kontinyu harus

dirawat di rumah sakit. Penting untuk diingat bahwa pada 10-15% kasus

yang pada awalnya bermanifestasi sebagai perdarahan saluran cerna

bagian bawah ternyata memiliki sumber perdarahan di saluran cerna

bagian atas.1 Petunjuk kemungkinan terjadinya perdarahan saluran cerna

bagian atas yang diawali dengan hematochezia adalah ketidakstabilan

hemodinamik (hipotensi, takikardi, perubahan posisi mengakibatkan

perubahan pada tekanan darah)2, melena, dan riwayat perdarahan saluran

cerna bagian atas.1 Pemasangan NGT membantu menegakkan diagnosa

perdarahan saluran cerna bagian atas pada pasien dengan perdarahan

saluran cerna bagian bawah yang berat.1

b. Outlet-type bleeding

Yang dimaksud outlet-type bleeding adalah terlihat darah selama atau

sesudah defekasi pada kertas toilet atau handuk, tapi tanpa gejala ataupun

faktor resiko khusus untuk ca colorectal.1 Pasien outlet-type bleeding yang

berusia muda, lebih dianjurkan menggunakan fleksibel sigmoidoskopi

dibandingkan kolonoskopi.

c. Perdarahan kronik-intermitten

Manifestasi klinis pada pasien ini adalah tes Guaiac positif, atau anemia,

atau keduanya. Biasanya terjadi pada pasien rawat jalan yang tidak

menyadari terjadinya perdarahan saluran cerna bagian bawah namun

mengalami anemia kronis. Walaupun begitu, jika anemi yang timbul

sudah berat dan terdapat gejala-gejala kardiopulmoner, maka pasien

11
tersebut harus dirawat inap untuk monitoring, evaluasi, dan tata laksana

lebih lanjut. Pada pasien-pasien ini harus dievaluasi dengan kolonoskopi.

Berdasarkan studi, sekitar 25-41% dari pasien ini ditemukan kelainan pada

endoskopi saluran cerna bagian atasnya. Jadi, bila dengan kolonoskopi

tidak ditemukan sumber perdarahan maka sebaik nya dilakukan

endoskopi. 1

12
IV. ETIOLOGI

Penyebab perdarahan saluran cerna bagian bawah:

a. Perdarahan divertikel kolon

Divertikel adalah kantong yang terjadi karena penonjolan ke arah luar

usus melalui lapisan otot. Proses terbentuknya divertikel berhubungan

dengan kebiasaan makan pasien. Pasien dengan divertikel mempunyai

kebiasaan makan makanan yang tidak atau kurang berserat, akibatnya tinja

yang terbentuk keras dan volumenya kecil, sehingga kolon harus

berkontraksi lebih keras untuk menggiring tinja keluar, maka sering timbul

tekanan tinggi dalam kolon biasanya di bagian bawah. Tekanan yang besar

ini dapat menekan celah lemah pada dinding usus. Paling sering divertikel

ditemukan pada bagian sigmoid. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada

pasien dengan usia lebih dari 50 tahun. Pasien dengan divertikel yang

cukup banyak disebut divertikulosis. Bila divertikel ini meradang disebut

divertikulitis. Penonjolan ini besarnya berkisar antara beberapa milimeter

sampai dua cm. Leher divertikel dan pintunya biasanya sempit. Kadang-

kadang di dalamnya terbentuk fecolith.

13
Keluhan dan tandanya dapat berupa keluhan mulai dari yang ringan

seperti mual, nyeri pada perut kiri bawah, sembelit dan diare oleh karena

gangguan pengerasan usus sampai keluhan berat seperti pecahnya usus,

abses, dan perdarahan.

Pecahnya usus ditandai dengan perut yang menjadi tegang dan terasa

nyeri. Abses ditandai dengan adanya massa di perut kiri bawah yang

sangat nyeri disertai keluhan sembelit, demam dan keadaan umum

penderita buruk. Perdarahan baru nyata setelah keluar perdarahan saat

penderita BAB, dan mungkin terjadi anemia. Pada penderita usia lanjut,

dapat terjadi perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan syok dan tidak

jarang memerlukan transfusi darah.

b. Angiodisplasia

Angiodisplasia (vascularectasis) diklasifikasikan sebagai penyebab

perdarahan saluran cerna bagian bawah secara bertahap atau kronis.

Sebanyak 54% dari angiodisplasia kronis menyebabkan perdarahan di

dalam usus. Angiodisplasia adalah lesi degeneratif yang berkaitan dengan

penuaan. Dua pertiga pasien dengan angiodisplasia berusia di atas

70 tahun. Patogenesis angiodisplasia tidak diketahui, mungkin disebabkan

oleh parsial, obstruksi intermiten, mulai dari vena-vena submukosa sampai

terjadinya dilatasi, sehingga hubungan arteriovenosa didirikan.

Angiodisplasia didiagnosis dengan menggunakan kolonoskopi dan

angiography.5

14
c. Arteriovenous Malformation1

Areriovenous malformation (AVM) dilaporkan sebagai sumber

perdarahan saluran cerna bagian bawah pada 3-40% pasien. AVMs

biasanya merupakan kelainan kongenital dan ditemukan di usus pada

1-2% dari spesimen autopsi. AVMs adalah suatu kelainan pada mukosa

dan submukosa pembuluh darah memiliki komunikasi langsung antara

arteri dan vena tanpa campur tangan kapiler. Lebih dari setengahnya

berlokasi di kolon kanan, dan 47% persen pasien mengalami hematochezia

yang tanpa nyeri serupa dengan perdarahan yang disebabkan oleh penyakit

divertikular, dapat pula muncul berupa perdarahan yang kronik dan

intermitten. Faktor resikonya adalah orang tua, berusia lebih dari 60 tahun,

lokasi di sisi kanan kolon , dan pada pasien yang memiliki penyakit gagal

ginjal kronis dan stenosis aorta. Pemeriksaan terbaik untuk AVMs adalah

angiography.

d. Kolitis

Kolitis merupakan istilah yang menunjukkan adanya proses

peradangan atau inflamasi pada kolon. Kolitis sering diawali dengan

infeksi, toksin, produk bakteri, yang terjadi pada individu yang rentan.

Pelepasan bahan toksin menimbulkan reaksi inflamasi yang menyebabkan

perubahan mukosa dan dinding. Kolitis dibagi 2, yaitu kolitis ulseratif non

spesifik dan kolitis Crohn.

Kolitis ulseratif berlangsung lama dan disertai masa remisi dan

eksaserbasi yang berganti-ganti. Tanda dan gejala klinis yang penting

adalah nyeri abdomen, diare dan perdarahan rektum.6

15
Diagnosis banding antara lain: kolitis infeksi, IBS, divertikulitis,

enteritis radiasi, dan kanker kolon. Walaupun tidak ada tes darah yang

spesifik untuk kolitis iskemik, namun biasanya terdapat kenaikan leukosit,

amilase, kreatin fosfokinase dan serum laktat. Foto rontgen polos biasanya

tidak ditemukan sesuatu yang khas, meskipun tanda edema submukosa

dan pneumatosis dapat dilihat biasanya pada pasien dengan penyakit

lanjut.Diagnosa dengan CT scan mungkin memperlihatkan penebalan

segmental kolon yang terkena. Evaluasi endoskopi dengan sigmoidoskopi

atau kolonoskopi dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa pada

pasien yang tidak jelas diagnosanya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda

peritonitis atau perforasi.5

e. Penyakit perianal

Contohnya adalah hemoroid dan fissura ani, biasanya menimbulkan

perdarahan dengan warna merah segar tetapi tidak bercampur dengan

feces. Polip dan karsinoma kadang menimbulkan perdarahan yang mirip

dengan yang disebabkan oleh hemoroid, oleh karena itu pada perdarahan

yang diduga dari hemoroid perlu dilakukan pemeriksaan untuk

menyingkirkan kemungkinan polip dan karsinoma kolon. Pemeriksaan

dilakukan menggunakan anoskopi dan kolonoskopi. Kelainan perianal

diterapi dengan obat (suppositoria, pelumas, hydroxitison) tetapi sering

kambuh sehingga skleroterapi / koagulasi, ligasi, atau intervensi bedah

dapat dipertimbangkan.5

16
f. Neoplasia kolon

Baik tumor ganas dan jinak di usus bisa mirip divertikulosis, dan

kebanyakan terjadi pada usia tua. Neoplasma jarang menyebabkan

perdarahan masif. Perdarahan bisa berupa sebentar-sebentar, atau

kebanyakan kasus adalah perdarahan tersembunyi (occult blood). Dulu,

diagnosis dibuat menggunakan barium enema, namun kini dengan

menggunakan kolonoskopi dan biopsi diagnosa dapat langsung dilakukan.

Pengelolaan tumor saluran cerna bagian bawah adalah dengan eksisi,

baik dibantu oleh endoskopi atau melalui operasi.5

g. Diverticulum Meckel

Divertikulum Meckel adalah suatu kelainan bawaan, yang

merupakan suatu kantung (divertikula) yang menonjol dari dinding usus

halus. Divertikula bisa mengandung jaringan lambung maupun jaringan

pankreas. Divertikulum meckel adalah suatu sisa dari struktur

perkembangan yang tidak diserap seluruhnya pada masa perkembangan

janin. Penyebab yang pasti dari tidak diserapnya sisa struktur tersebut

tidak diketahui. Sekitar 2% dari jumlah penduduk memiliki divertikulum

meckel, tetapi hanya sebagian kecil yang menunjukkan gejala.

Divertikulum meckel biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi

kantungnya dapat melepaskan asam dan menyebabkan ulkus, sehingga

terjadi perdarahan melalui rektum yang tidak disertai nyeri. Tinja biasanya

berwarna keunguan atau kehitaman. Pada remaja dan orang dewasa,

divertikulum lebih cenderung menyebabkan penyumbatan usus, sehingga

timbul nyeri kram dan muntah. Bisa terjadi peradangan mendadak pada

17
divertikulum yang disebut divertikulitis akut. peradangan ini

menyebabkan nyeri perut yang hebat, seringkali disertai muntah.Jika tidak

menimbulkan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan khusus. Jika

terjadi perdarahan, maka dilakukan pengangkatan divertikulum disertai

pengangkatan jaringan usus di sekitarnya yang telah mengalami

kerusakan.Jika tidak ditemukan kerusakan pada jaringan usus di

sekitarnya, maka yang dibuang hanya divertikulumnya. Untuk

memperbaiki anemia, mungkin perlu diberikan zat besi tambahan. Jika

terjadi perdarahan yang hebat, mungkin perlu dilakukan transfusi darah.

18
V. MANIFESTASI KLINIS

1. Perdarahan Akut

a. Sinkop: takikardia, kepala pusing terasa seperti melayang.

b. Syok:

- Tekanan darah turun (sistolik < 90 mmHg atau turun > 30 mmHg

dari semula).

- Takikardi, nadi cepat (> 100×/menit), denyut kecil, lemah, atau

tidak teraba.

c. Muka: kulit dan mukosa pucat.

d. Akral dingin.

e. Berkurangnya pembentukan air kemih.

f. Berkurangnya aliran darah ke otak: bingung, disorientasi, rasa

mengantuk, dan syok.

2. Perdarahan Kronis

Akibat kehilangan darah kronik:

a. Anemia defisiensi besi

b. Palpitasi

c. Lemas

d. Sesak napas

e. Anoreksia

f. Insomnia

19
VI. DIAGNOSA

Tentukan penyabab atau lokasi perdarahan, dilakukan setelah status

hemodinamik stabil (pada perdarahan akut).1

a. Anamnesis

Tanyakan volume perdarahan, berapa kali mengalami perdarahan, serta

penting ditanyakan kepada pasien mengenai riwayat penyakit terdahulu,

apakah pasien menderita tukak peptik, penyakit hati kronik, kelainan

saluran cerna bawah (hemorroid, kolitis, tumor). Penting pula mengetahui

riwayat penyakit sekarang, beberapa petunjuk misalnya jika pasien

mengaku:1

1. Feses terbungkus darah, biasanya menandakan perdarahan akibat

hemoroid.

2. Darah bercampur dengan feses, menandakan sumber perdarahan yang

lebih proksimal.

3. Diare berdarah, terdapat tenesmus ani, biasanya merupakan gejala

Irritable Bowel Disease (IBD).

4. Diare berdarah, demam, dan nyeri abdomen, biasanya adalah pasien

dengan kolitis.

5. Jika terdapat nyeri saat defekasi, biasanya adalah hemorrhoid atau

fissure anal.

6. Jika feses berubah ukuran menjadi bentuk panjang seperti pensil

disertai dengan penurunan berat badan, biasanya adalah pasien dengan

kanker kolon.

7. Perdarahan yang terjadi tanpa disertai nyeri biasanya terjadi pada

pasien penyakit diverticular, AVM, atau proctitis.

20
Tanyakan pula apakah terdapat sesak, nyeri dada, light headedness, dan

kelemahan.1

b. Pemeriksaan Fisik

1. Cek tanda vital

- Kesadaran

- Tekanan darah: hipotensi orthostatic timbul pada kehilangan 15%

volume darah.1 Bila penderita syok tek. sistolik < 90 mmHg dan

nadi > 100x/mnt,berkeringat dingin, muka pucat, akral dingin

maka kehilangan darah sekitar 40%.

- Nadi

- Pernapasan

- Suhu

2. Mata: ada tidaknya anemis.

3. Turgor kulit menurun.

4. Ekstremitas: akral dingin, ujung-ujung jari sianotik.

5. Auskultasi jantung: irama cepat atau lambat.

6. Abdomen: teraba massa atau tidak, ukuran hepar, splenomegali.1

Auskultasi: peristaltic usus menurun atau tidak.

7. Colok dubur: ada atau tidaknya darah, ada atau tidaknya massa,

identifikasi feses, dan lakukan tes Guaiac.1

21
c. Pemeriksaan Laboratorium1

1. Darah: cito dan pemeriksaan darah lengkap. Selanjutnya perlu cek Hb

dan Ht tiap 6 jam.

2. Elektrolit.

3. BUN / serum kreatinin.

4. Tes fungsi liver

5. Faktor pembekuan: Prothrombin Time (PT) dan activated Partial

Thrombin Time (aPTT).

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Kolonoskopi

Kolonoskopi dapat digunakan untuk menunjukan gambaran seluruh

mukosa kolon dan rectum. Sebuah standar kolonoskopi panjangnya dapat

mencapai 160 cm. Kolonoskopi merupakan cara yang paling akurat untuk

dapat menunjukkan polip dengan ukuran kurang dari 1 cm dan keakuratan

dari pemeriksaan kolonoskopi lebih baik daripada barium enema yang

keakuratannya hanya sebesar 67%. Sebuah kolonoskopi juga dapat

digunakan untuk biopsi, polipektomi, mengontrol perdarahan dan dilatasi

dari striktur. 1.

Kolonoskopi merupakan prosedur yang sangat aman dimana

komplikasi utama (perdarahan, komplikasi anestesi dan perforasi) hanya

muncul kurang dari 1,3% pada pasien.1 Komplikasi lebih sering terjadi

pada kolonoskopi terapi daripada diagnostik kolonoskopi, perdarahan

merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi terapeutik, sedangkan

perforasi merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi diagnostic

22
Merupakan pemeriksaan terbaik untuk perdarahan saluran cerna bagian

bawah, bisa untuk diagnostik maupun terapeutik. Akurasi untuk diagnosa

dengan kolonoskopi adalah 48% -90%.1 Terlihatnya darah segar pada

ileum terminalis mengindikasikan sumber perdarahan bukan berasal dari

kolon.1

2. Urgent Colonosopy

Merupakan tindakan kolonoskopi yang dilakukan dalam 24 jam setelah

episode perdarahan. Pada pasien ini dilakukan persiapan awal yang

minim dengan air atau gliserin enema. Baru-baru ini digunakan polietilen

glikol. Penyakit yang paling sering ditemukan oleh kolonoskopi mendesak

adalah kolitis iskemik transien. Urgent colonoscopy dianggap aman dan

berguna untuk pemeriksaan pada perdarahan saluran cerna bagian bawah

akut dan hemostasis.9

3. Flexible Sigmoidoscopy

Flexible sigmoidoscopy dapat menjangkau 65 cm ke dalam lumen kolon

dan dapat mencapai bagian proksimal dari kolon kiri.1 Dapat digunakan

tanpa sedatif dan dengan persiapan enema yang minimal. Sebanyak 50%

dari kanker kolon dapat terdeteksi dengan menggunakan alat ini. Flexible

sigmoidoscopy tidak dianjurkan digunakan untuk indikasi terapeutik

polipektomi, kauterisasi dan semacamnya; kecuali pada keadaan khusus,

seperti pada ileorektal anastomosis. Flexible sigmoidoscopy dilakukan

setiap 5 tahun dimulai pada umur 50 tahun merupakan metode yang

direkomendasikan untuk screening seseorang yang asimptomatik yang

23
berada pada tingkatan risiko menengah untuk menderita kanker kolon.

Sebuah polip adenomatous yang ditemukan pada flexible sigmoidoscopi

merupakan indikasi untuk dilakukannya kolonoskopi, karena meskipun

kecil (<10 mm), adenoma yang berada di distal kolon biasanya

berhubungan dengan neoplasma yang letaknya proksimal pada 6-10%

pasien.

4. Anoskopi

Anoskopi berguna hanya untuk diagnosa perdarahan yang sumbernya

adalah di daerah anorectal dan anal canal, termasuk di dalamnya adalah

hemoroid interna dan fissura anal. Lebih diutamakan daripada fleksibel

sigmoidoskopi untuk mendeteksi hemoroid pada pasien rawat jalan.1

5. Barium Enema

Merupakan suatu teknik radiografi dengan menggunakan media kontras

barium sulfat kemudian difoto dengan sinar –X sehingga akan tampak

gambaran usus dan bisa melihat apabila ada kebocoram obstruksi akibat

polip atau massa. Pada pasien muda dengan hematochezia minimal yang

dengan fleksibel sigmoidoskopi memberikan hasil negatif, barium enema

merupakan alternatif dibandingkan kolonoskopi.1

24
6. Angiography

Merupakan satu cara visualisasi untuk mendiagnosa kelainan pada

pembuluh darah seluruh tubuh dengan menggunakan sinar X. Perdarahan

yang bisa dideteksi oleh angiography adalah perdarahan yang masif yaitu

sekitar 0,5-1,5 ml/min.1

VIII. KOMPLIKASI

- Syok hipovolemi yang kemudian dapat menyebabkan gagal ginjal akut.

- Efek samping transfusi darah: reaksi hemolitik dan infeksi.

IX. PENATALAKSANAAN

Tujuan:8

- Stabilisasi hemodinamik

- Menghentikan perdarahan aktif

- Mencegah perdarahan ulang

A. Resusitasi pasien

1. Pasang infus: jika nadi > 100 ×/menit, maka berikan infus koloid atau

NaCl 0,9%. Untuk mengetahui jumlah kehilangan darah, pasien dapat

tidur telentang, kemudian ukur nadi dan tekanan darah, lalu pasien

kembali duduk. Bila nadi naik > 10 ×/menit dan tekanan darah sistolis

turun > 10 mmHg, maka kehilangan darah adalah sekitar 20%.8

2. Pernapasan: pemberian oksigen 2-4 liter/menit.

B. Ambil contoh darah (cross matched blood untuk transfusi)

25
C. Periksa darah: hemoglobin, hematocrit, trombosit, leukosit. Pemberian

transfusi sebaiknya segera dilakukan pada:

- Penderita syok

- Perdarahan terus-menerus

- Gejala-gejala angina pectoris

- Hematokrit < 20%

- Pasien dengan risiko tinggi: orang tua, CHD, sirosis hepatis, dapat

diberikan transfusi sampai hematokrit > 30%.

- Koagulopati dan trombositopenia harus dikoreksi segera. Trombosit

harus dipertahankan diatas 50.000/ml dan kagulopati harus dikoreksi

dengan vitamin K atau dengan fresh frozen plasma. Vitamin K harus

diberikan oral kecuali pada pasien sirosis atau obstruksi bilier, yang

mana pada pasien ini diberikan secara subkutan. Status hemodinamik

merupakan indikator yang lebih baik untuk pemberian darah daripada

Hb. Transfusi diberikan sampai hemodinamik stabil atau hematokrit

25–30%.

D. Medikamentosa

Jika terjadi perdarahan akut, maka berikan transamin 3×1 kapsul dan

Vitamin K 3×1 tablet.

Beberapa perdarahan yang dapat diobati secara medikamentosa

contohnya: hemorrhoid, fissura ani, dan ulkus rekti diobati dengan bulk-

forming agent, sitz baths dan menghindari mengedan. Kombinasi

estrogen-progesteron dapat mengurangi perdarahan pada pasien

26
angiodisplasia , dan IBD biasanya memberi respon terhadap obat-obatan

anti inflamasi.

E. Observasi dan monitoring tanda-tanda vital: observasi tanda-tanda

hemodinamik yaitu tekanan darah, nadi, pernapasan, temperatur. Biasanya

tekanan darah (sistolik) 110 mmHg, pernafasan cepat, nadi 110 ×/menit,

suhu antara 38 – 39°C, kulit dingin pucat atau cyanosis pada bibir, ujung-

ujung ekstremitas, sirkulasi darah ke ginjal berkurang, menyebabkan urine

berkurang.

F. Terapi Bedah

Pada beberapa diagnose, seperti diverticulum Meckel atau keganasan,

tindakan pembedahan merupakan pendekatan utama setelah keadaan

pasien stabil.

27
Intensitas
Gambaran Klinis Infus IV/ Transfusi Tujuan Akhir
Perdarahan

Denyut nadi dan Hb - Mempertahankan

normal. akses intravena

Perdarahan hingga diagnosis Mempertahankan

Ringan jelas. Hb > 9 g/dL

- Memastikan

tersedianya darah.

28
Denyut nadi istirahat - Mengganti cairan.

Perdarahan > 100 ×/menit - Meminta 4 unit

Sedang dan/atau Hb < 10 preparat PRC.

g/dL.

Kolaps dan/atau - Mengganti cairan - Mempertahankan

syok. dengan cepat. volume urin > 0,5

- Tekanan sistolik < - Pastikan tersedia ml/kgBB/jam.

Perdarahan 100 mmHg. darah. - Mempertahankan

Hebat - Denyut nadi > - Lakukan transfuse tekanan sistolik >

100 ×/menit. menurut pengkajian 100 mmHg.

klinis dan kadar - Mempertahankan

Hb/Ht. Hb > 9 g/dL.

29
30
BAB III

KESIMPULAN

Hematochezia adalah perdarahan saluran cerna bagian bawah yang berwarna merah

segar atau merah marun, dan pendarahan ini terletak di bawah ligamentum Treitz ke

anus. Kemungkinan penyebab hematoschezia adalah divertikulosis, angiodisplasia,

neoplasma, kelainan perianal, divertikulum Meckeli, infeksi dan non-infeksi kolitis,

intususepsi. Dalam kebanyakan kasus pendarahan adalah sepele dan sebentar secara

terputus-putus, kecuali untuk divertikulosis yang dapat menyebabkan pendarahan

cukup hebat. Diagnosis dan terapi hematoschezia bisa sebagian besar dilakukan

melalui endoskopi, hanya sebagian kecil bagian memerlukan intervensi bedah untuk

diagnosis. Untuk kasus hematochezia yang akut, diperlukan penatalaksanaan yang

tepat karena perdarahan yang masif beresiko kematian, diperlukan pantauan terus

terhadap tanda-tanda vital pasien.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Greenberger,Norton.Blumberg,Richard.Burakoff,Robert: Current Diagnosis


and Treatment Gastroenterology,Hepatology,&Endoscopy. McGraw-
Hill,Lange.2009 : 343-351.

2. Kasper,Dennis.Braunwald,Eugene.Hauser,Stephen, et al.Harrison’s Principles


of Internal Medicine, 16th edition.McGraw –Hill: 235-238.

3. Sudoyo,Aru.Setiyohadi,Bambang.Idrus,Alwi.et al.Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam Edisi 4.Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta 2006 : 289-
297.

4. Syamsi,Rusi Muhaimin.WHO: Penggunaan Klinis Darah.EGC,Jakarta


2004:161.

5. Wandono,Hadi. Acta Med Indonesia Vol 39 .October - December 2007

6. Malueka,Rusdi Ghazali: Radiologi Diagnostik.Pustaka Cendekia


Press,Yogyakarta:2006.

7. http:// www.kalbe.co.id diakses tanggal 19/04/11

8. http://www.akademik.unsri.ac.id diakses tanggal 19/04/11

9. http://content.karger.com/ProdukteDB/produkte.asp diakses tanggal 19/04/11

32