Vous êtes sur la page 1sur 10

Nama : Bastian Daniel Reynaldi Sitompul

Nim : 1804551301

Kelas :X

Tanggal : 1- 04 - 2019

Mata kuliah : Hukum Adat

Tanda Tangan:

SOAL

1. buat ringkasan salah satu buku mengenai hukum adat yang memuat
istilah,pengertian,manfaat, dan dasar berlakunya hukum adat

2. ciri - ciri hukum adat

a. corak dan sifat hukum adat

b. sistim hukum adat

c. wilayah hukum adat

d. tata susunan persekutuan hukum dalam wilayah hukum adat

3. masyarakat hukum adat di Indonesia

a. pengertian masyarakat hukum adat

b. dasar dan bentuk hukum adat

c. eksitensi masyarakat hukum adat


PEMBAHASAN

1. Menurut buku Hukum Adat dengan penulisnya Dr.Rosdalina Bukido. S.Ag.,M.Hum


istilah Hukum adat yaitu dari Van Vollenhoven yang menjelaskan bahwa Hukum adat
adalah keseluruhan aturan tingkah laku positif yang di satu pihak lain dalam keadaan
tidak dikodifikasikan oleh karena itu disebut dengan adat. Pengertian dari hukum adat
menurut Cornelis Van Vollenhoven yaitu hukum adat adalah himpunan peraturan yang
berlaku bagi orang pribumi dan timur asing pada satu pihak mempunyai sanksi (karena
bersifat hukum) dan pada pihak lain berada dalam keadaan tidak dikodifikasikan (karena
adat). Manfaat mempelajari hukum adat, pada akhirnya kita dapat memahami budaya
hukum Indonesia dan mengerti pula bahwa pada hakikatnya bangsa Indonesia tidak
menolak sisi-sisi lain dari budaya hukum asing sepanjang tidak bertentangan dengan
budaya hukum Indonesia. Begitu pula akan tumbuh pemahaman tentang perkembangan
dan proses perubahan hukum adat dewasa ini seiring dengan perkembangan zaman dan
tuntutan pembangunan dewasa ini. Kekuatan berlakunya sebuah hukum, dalam hal ini
hukum adat tergantung pada konteks. Konteks berlakunya hukum adat itu terdiri dari
konteks sosial-budaya dimana hukum adat itu tumbuh, hidup, dan berkembang. Apabila
hukum itu walaupun tidak tertulis, tetapi ditaati sacara sadar dan sepenuh hati, kekuatan
berlaku secara materielnya tebal. Sebaiknya, jika hukum itu ditaati setelah diundangkan,
maka kekuatan formalnya tebal. Dasar berlakunya hukum adat, sebagaimana hukum pada
umumnya memiliki 3 hal yaitu:
1. Dasar berlaku secara sosiologis artinya hukum itu benar-benar secara nyata ditaati oleh
anggota masyarakat. Walaupun secara tertulis tidak dinyatakan dengan tegas dalam
sebuah peraturan perundang-undangan.
2. Dasar berlaku secara yuridis artinya hukum itu memiliki kemampuan untuk dipaksakan
kepada anggota masyarakat. Kekuatan memaksa itu karna hukum itu telah ditetapkan
oleh petugas yang berwenang, para fungsionaris hukum yang memiliki kewibawaan
yang diberikan oleh hukum. Pertugas hukum atau petugas yang berwenang atau
fungsionaris hukum itu adalah personifikasi negara atau hukum, ia memiliki kedaulatan
sehingga ia pun memiliki wibawa dan kekuasaan untuk memaksa dan tunduk pada
hukum.
3. Dasar berlaku secara filosofis artinya kekuatan berlakunya hukum itu ada landasan
filosofisnya. Landasan filosofis sebuah undang-undang misalnya dapat dicari dan
ditemukan dalam undang-undang itu sendiri, yaitu dasar yang menjadi pokok pikiran
sehingga undang-undang itu di buat. Landasan hukum secara formal dapat ditemukan
dalam “memperhatikan”.
2. A. Corak-corak Hukum Adat
Untuk mengetahui sistem hukum adat harus diketahui dasar-dasar alam pikiran yang
hidup di dalam masyarakat Indonesia. Menurut Prof. Soepomo menyimpang dari hukum
Eropa barat yang individualistis-liberalistis, hukum adat mempunyai corak-corak
tersendiri. Corak-corak hukum adat tersebut, yaitu:
1) Keagamaan Sebagaimana masyarakat hukum adat mempunyai corak keagamaan dan
kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hukum adat menghendaki agar supaya
setiap manusia Indonesia percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pencerminan dari corak hukum adat yang bersifat religieus ini terdapat di dalam
perundang-undangan kita misalnya dapat dilihat pada Pembukaan UUD, yang
dalamnya terdapat kata “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa”
2) Kebersamaan Hukum adat mempunyai sifat communaal, yaitu sifat kebersamaan
yang kuat, artinya manusia menurut hukum adat merupakan makhluk dalam ikatan
kemasyarakatan yang erat. Seluruh lapangan hidup diliputi oleh rasa kebersamaan,
segala sesuatunya dengan memperhatikan sesama anggota keluarga, kerabat, tetangga
atas dasar tolong menolong, saling bantu membantu antara satu sama lain. Sifat-sifat
kebersamaan ini dapat dilihat dari kenyataan sehari-hari dalam rukun kampung, rukun
tetangga atau rukun warga di kalangan masyarakat, jika ada tetangga yang sakit
apalagi jika ada yang meninggal, maka berduyun-duyunlah para tetangga mendatangi
yang tertimpah musibah, walaupun bukan sanak saudara mereka, mereka turut
merasakan duka cita.

Sifat Hukum Adat

Berbeda dengan hukum yang berbentuk undang-undang yang lebih statis, maka hukum
adat lebih bersifat dinamis. Hukum Eropa bersifat statis, karena ia di bentuk Sebaliknya,
suatu undang-undang yang kiranya mengancam sebuah partai politik yang memiliki
mayoritas keanggotaan di parlemen, maka besar kemungkinan undang-undang itu akan
ditinjau ulang, atau bahkan dicabut dan diganti.

B. Sistem Hukum Adat

Suatu sistem adalah keseluruhan yang tersusun dari berbagai bagian dimana antara
bagian yang satu dan bagian yang lain saling bertautan satu sama lain. Hukum adalah
suatu sistem yang merupakan suatu kesatuan dari berbagai kaidah yang saling bertautan
dan merupakan suatu kebulatan dari alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat.
Sistem hukum adat adalah sistem hukum yang berasal dari alam pikiran bangsa
Indonesia yang berdasarkan Pancasila, yaitu alam pikiran yang percaya dan taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak membeda- bedakan manusia, yang mengutamakan
kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi atau golongan, yang mengutamakan
hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaratan dan yang menyadari adanya hak dan
kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial.

C. Wilayah Hukum Adat

Wilayah Hukum Adat atau Lingkungan Hukum Adat atau Kukuban Hukum Adat
Indonesia sangat erat kaitannya dengan persekutuan Hukum Adat atau masyarakat
Hukum Adat. Van Vollenhoven membagi atau mengelompokkan wilayah Indonesia
dalam 19 lingkungan Hukum Adat (adat rechtkringen).

Pembagian tersebut didasarkan atas pengklasifikasian berdasarkan bahasa-bahasa adat


yang digunakan berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Ke-19 Lingkungan Hukum Adat Vollenhoven untuk Indonesia itu adalah sebagai berikut:

1. Aceh (menurut Vollenhoven termasuk Aceh Besar, Pantai Barat Aceh, Singkel,
Simeulue).

2. Gayo, Alas, dan Batak dimana Vollenhoven memasukkan wilayah :

a. Tanah Gayo (Gayo Lueus).

b. Tanah Alas.

c. Tanah Batak (Tapanuli).


Tapanuli Utara.

Pakpak-Batak (Barus).

Karo-Batak.

Simalungun-Batak.

Toba-Batak (Samosir, Balige, Laguboti, Lumban Julu).

Tapanuli Selatan.

Padang Lawas (Tano Sepanjng).

Angkola.

Mandailing (Sayurmatinggi).

d. Nias (Nias Selatan).

3. Daerah Minangkabau (Padang, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Daerah Kampar,
Kerinci).

4. Sumatera Selatan.

a. Bengkulu (Rejang).

b. Lampung (Abung, Peminggir, Pubian, Rebang, Gedongtataan, Tulangbawang).

c. Palembang (Anak-Lakitan, Jelma Daya, Kubu, Pasema, Semendo).

d. Enggano.

5. Daerah Melayu (Lingga Riau, Indragiri, Pantai Timur Sumatera Utara, orang-orang
Banjar).

6. Bangka dan Belitung.

7. Kalimantan (Pembagian Vollenhoven meliputi Dayak, Bagian Barat Kalimantan,


Kapuas Hulu, Kalimantan Tenggara, Mahakam Hulu, Pasi, Dayak Kenya, Dayak
Klementen, Dayak Landak dan Tayan, Dayak-Lawang, Lepo-Alim, Lepo-Timei, Long
Glatt, Dayak-Maanyan-Pantai, Dayak Maan Siung, Dayak-Ngaju, Dayak-Ot-Danum,
Dayak-Penyabung Punan).

8. Minahasa (Manado Indonesia).

9. Gorontalo (Bolaang Mongondow, Boalemo).

10. Daerah/Tanah Toraja (Vollenhoven memasukan wilayah Sulawesi bagian Tengah,


Toraja, orang Toraja berbahasa Baree, Toraja Barat, Sigi, Kaili, Tawaili, Toraja Sadan,
To Mori, To Lainang, Kepulauan Banggai Indonesia).

11. Sulawesi Selatan (Orang Bugis, Bone, Laikang, Ponre, Mandar, Makasar, Selayar,
Muna).

12. Kepulauan Ternate (Ternate, Tidore, Halmahera, Tobelo, Pulau Sula).

13. Maluku-Ambon (Ambon, Banda, orang Uliaser, Saparua, Buru, Seram, dan juga
Vollenhoven memasukkan Kepulauan Kai, Kepulauan Aru, Kisar).

14. Irian.

15. Vollenhoven merinci Kepulauan Timor termasuk kelompok Timor, Timur, Bagian
tengah Timor, Mollo, Sumba, Bagian tengah Sumba, Sumba Timur, Kodi, Flores, Ngada,
Roti, Savu Bima.

16. Bali dan Lombok (Bali, Tangan Parigsingan, Kastala, Karangasem, Buleleng,
Jembarana, Lombok, Sumbawa).

17. Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk Madura (Jawa bagian tengah, Kedu,
Purworejo, Tulungagung, Jawa Timur, Surabaya, Madura).

18. Daerah Kerajaan (Solo-Yogyakarta).

19. Jawa Barat (Parahyangan, Tanah Sunda, Jakarta, Banten).

D. tata susunan persekutuan hukum dalam wilayah hukum adat

Van Vollenhoven dalam bukunya “Adatrecht-I” menguraikan tentang Tata Persekutuan Hukum dari
masing-masing wilayah hukum menurut bentuk susunan masyarakat yang hidup di daerah-daerah,
yaitu:
1. semua persekutuan tata hukum dipimpin oleh kepala rakyat/desa;
2. sifat dan tata susunan itu erat hubungannya dengan sifat, serta susunan tiap-tiap jenis
badan persekutuan yang bersangkutan.

Sebagai gambaran diuraikan beberapa contoh susunan sebagai berikut:

Di Daerah Tapanuli

Persekutuan susunan daerah tersebut disebut “negeri”, di sebelah selatan disebut “kuria”, sedangkan
di Padanglawas disebut “luhas”. Di tiap-tiap persekutuan daerah tersebut terdapat
persekutuan adat hukum yang disebut “huta”. Yang menjadi kepala “negeri”/”kuria”/”luhas” dan
kepala “huta” seseorang dari marga asal, yaitu seorang keturunan seorang pembuka tanah dan
pembuka “huta” di dalam daerah adat yang bersangkutan. Kepala “negeri”/”kuria”/”luhas” disebut
Raja Panusunan. Marga-marga adat lain yang ikut bertempat tinggal di daerah tersebut atau di “huta”
itu mempunyai seorang wakil di dalam pimpinan daerah dan pimpinan “huta” yang diambil dari
marga rakyat masing-masing.

Di Wilayah Minangkabau

Persekutuan hukum disebut “nagari” yang terdiri atas famili-famili yang masing-masing dikepalai
oleh “Penghulu Andiko” (laki-laki tertua dari “jurai” atau bagian famili yang tertua). Tiap “jurai”
diketuai oleh orang tua-orang tuanya sendiri yang bernama “mamak kepala waris” atau “tungganai”.
Susunan famili-famili dalam sautu “nagari masing-masing masuk clan yang lebih besar disebut
“suku”. Tiap “suku” mempunyai nama sendiri-sendiri dan tersebar di seluruh daerah Minangkabau.

Di Pulau Ambon

Susunan para famili di daerah Ambon disebut “rumah” atau “tau” dipimpin oleh seorang kepala
famili, susunan terikat dalam golongan perekutuan famili yang besar (clan) yang dikepalai oleh
kepala golongan besar. Beberapa susunan clan terikat dalam perikatan yang lebih besar dipimpin
oleh kepala clan yang disebut “latu”.
Daerah Bolaang Mongondow Indonesia

Persekutuan susunan teritorial yang disebut “desa” dikepalai oleh seorang kepala desa yang disebut
Kimelaha, susunan beberapa pembantu disebut “probis” dan anggota-anggota famili disebut
“gihangia”.

Daerah Banten Indonesia

Persekutuan teritorial (desa) terdiri atas beberapa “ampian” atau susunan kampung yang dikepalai
oleh “Kokolot” atau Tua-Tua, dan Kepala desa disebut Jaro.

3. A. Definisi Masyarakat Hukum Adat

Masyarakat hukum adat adalah komunitas (paguyuban) sosial manusia yang merasa bersatu karena
terikat oleh kesamaan leluhur dan atau wilayah tertentu, memiliki kekayaan sendiri, dipimpin oleh
seorang atau beberapa orang yang dipandang memiliki kewibawaan atau kekuasaan, atau memiliki
tata nilai sebagai pedoman hidup, serta tidak mempunyai keinginan untuk memisahkan diri.

B. dasar dan bentuk hukum adat

Apabila setiap Masyarakat Hukum Adat ditelaah secara seksama maka masing-masing mempunyai
dasar dan bentuknya. Soepomo mengatakan masyarakat-masyarakat hukum adat Indonesia dapat di
bagai menjadi 2 (dua dasar) golongan menurut susunannya, yaitu yang berdasarkan pertalian suatu
keturunan (dasar Genealogi) dan yang berdasarkan lingkungan daerah (Teritorial) dan yang
berdasarkan keturunan dan lingkungan daerah

C. eksitensi masyarakat hukum adat

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi RI Nomor 35/PUU-X/2012 tanggal 16 Mei 2013 yang


mengabulkan gugatan atas beberapa pasal dalam UU Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999
melegakan pemohon. Akan tetapi, hal itu berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan
kerusuhan sosial apabila ada politisasi yang memainkan potensi masyarakat hukum adat.
Hilangnya kata ”negara” pada Pasal 1 angka 6 UU Kehutanan No 41/1999, sebagai keberhasilan
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kuntu, dan
Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan Cisitu, menjadi faktor penting yang melepaskan
hutan adat dari hutan negara. Dengan demikian, hutan adat tidak lagi berada dalam penguasaan
legal UU Kehutanan, tetapi beralih di bawah kepengurusan UU Agraria. Hutan adat pun
dimaknai sebagai hutan hak (Dirjen Planologi Kehutanan, 2013).
Konsekuensi
Sebagai tindak lanjut atas Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan
Pengelolaan SDA, saat ini telah diajukan RUU tentang Pertanahan oleh Komisi II DPR. Pada
saat yang sama, muncul RUU tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum
Adat (RUU PPHMHA) yang diajukan AMAN dan telah masuk ke Badan Legislatif DPR. RUU
Pertanahan adalah turunan UUP Agraria No 5/1960, sedangkan RUU PPHMHA murni
merupakan inisiatif segolongan masyarakat. Putusan MK Nomor 35/PUU-X/12 jelas akan sangat
memengaruhi bunyi pasal-pasal pada kedua RUU tersebut.
Kedua RUU sebenarnya layak didukung. Namun, persoalan timbul ketika banyak peluang
penyalahgunaan serta munculnya kelompok ”penumpang gelap” yang bisa mengacaukan tujuan
mulia perlindungan eksistensi MHA.
RUU Pertanahan yang merupakan derivat UUPA No 5/1960 harus dikaji apakah draf ketentuan
RUU Pertanahan ada yang tidak sinkron dengan UUPA No 5/1960.
Dalam melihat RUU Pertanahan ini harus diperhatikan pula UU Sektoral yang berkaitan dengan
tanah, seperti UU Migas, UU Minerba, UU Panas Bumi, UU Kehutanan, UU Lingkungan Hidup,
dan peraturan perundang-undangan terkait perkebunan. Tujuannya agar ada sinkronisasi antara
UU Pertanahan dan UU Sektoral terkait (Hikmahanto, 2013).
RUU Pertanahan memperkenalkan entitas hukum (legal entity) baru yang dapat menguasai
tanah, yakni MHA, selain orang perorangan dan badan hukum yang sudah dikenal dapat
memiliki/menguasai tanah. Sesuatu yang tidak diatur sebelumnya dalam kepemilikan tanah di
republik ini.
Terkait RUU PPHMHA, kajian hukum menunjukkan RUU itu mengandung banyak pertanyaan,
termasuk tentang kepentingan yang mendesak atas adanya UU terkait MHA (Ramlan, 2013).
Potensi persoalan
MHA didefinisikan sebagai sekelompok orang yang secara turun-temurun bermukim di wilayah
geografis tertentu di negara Indonesia karena adanya ikatan asal usul leluhur, hubungan yang
kuat dengan tanah, wilayah, sumber daya alam, memiliki pranata pemerintahan adat, dan tatanan
hukum adat di wilayahnya.
Definisi ini mengundang interpretasi multitafsir dan dapat disalahgunakan. Misalnya, secara
bahasa ”lebih dari dua orang” sudah dapat disebut sekelompok orang.
Kalimat ”turun-temurun bermukim... dan seterusnya” memerlukan jawaban tentang sejak kapan,
sampai kapan, dan bagaimana kalau ada proses asimilasi masyarakat hukum adat dengan pihak
luar suku; dampaknya pada luasan kawasan hutan adat dan perluasan lahan adat untuk
keturunannya. Padahal, pranata pemerintahan adat yang murni kini semakin langka, umumnya
sudah terkait struktur pemerintahan yang diatur UU Pemerintahan Desa.
Kajian lain adalah pada pasal-pasal ”Perlindungan hak MHA adalah suatu bentuk pelayanan
yang wajib diberikan oleh negara”; ”MHA berhak untuk menentukan dan mengembangkan
prioritas, serta strategi untuk pengembangan atau penggunaan tanah ulayat, perairan, wilayah dan
sumber daya alam dengan cara yang sesuai dengan kearifan lokal serta inovasi yang berkembang
dalam masyarakat hukum adat”; dan ”MHA berhak untuk menjalankan hukum dan peradilan
adat dalam penyelesaian sengketa terkait dengan hak-hak adat dan pelanggaran atas hukum
adat”. Hal ini bertentangan dengan UUD 1945.
Yang lain lagi, ”MHA berhak menentukan dan mengembangkan bentuk pembangunan sesuai
dengan kebutuhan dan kebudayaan mereka”, dan ”Masyarakat hukum adat berhak menolak
pembangunan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kebudayaan”, Pasal 17 Ayat (3).
Ajang politisasi
Tak dapat dihindari, masalah penetapan dan aplikasi MHA berada di ranah politik. Pemilu 2014
ataupun pilkada yang terus berulang membutuhkan suara rakyat. Sangat logis, hak dan akses
MHA terhadap sumber daya alam, khususnya tanah, air, dan hasil tumbuhan akan dimainkan
para politikus untuk memperoleh dukungan mereka, tanpa peduli risikonya terhadap kelestarian
sumber daya alam lingkungan.
Meskipun putusan MK harus dipahami sebagai perlindungan negara terhadap hak
masyarakat/rakyatnya, terbitnya putusan MK berpotensi disalahgunakan pihak-pihak tidak
bertanggung jawab untuk tujuan-tujuan yang berdampak pada kerusakan sumber daya alam dan
mengganggu kemantapan usaha yang berizin resmi di situ. Maka, selaras dengan perjuangan
pengakuan hak dan upaya peningkatan kesejahteraan MHA, pelestarian lingkungan harus
menjadi pertimbangan utama.