Vous êtes sur la page 1sur 238

TROFODINAMIK FITOPLANKTON-ZOOPLANKTON

SEBAGAI PENENTU KELANGSUNGAN HIDUP LARVA


IKAN DI LAGUNA PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU

RENY PUSPASARI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Trofodinamik Fitoplankton –


Zooplankton Sebagai Penentu Kelangsungan Hidup Larva Ikan di Laguna Pulau
Pari Kepulauan Seribu adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apa pun pada perguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam daftar pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Juli 2012

Reny Puspasari
NRP. C261070061
ABSTRACT
RENY PUSPASARI. Trophodynamic of phytoplankton-zooplankton as
determination of fish larvae survival at lagoon of Pulau Pari, Seribu Island.
Under direction of ARIO DAMAR, M. MUKHLIS KAMAL, DJAMAR T.F.
LUMBAN BATU, NGURAH NYOMAN WIADNYANA.

Fish larvae utilize planktonic organisms as a food. Their Feeding success


is determined by the dynamic of biomass and structure composition of
phytoplankton and zooplankton population. The work is aimed to investigate the
dynamic of biomass and composition of planktonic organisms and their
relationship to the environmental conditions and also to determine the growth and
development of fish larvae. The measurement of physical, chemical and
biological parameters was conducted periodically at 5 stations. Grazing
experiments were conducted to predict the growth and grazing rate of planktonic
organisms such as nanophytoplankton, microphytoplankton, microzooplancton,
mesozooplankton and fish larvae in many combinations of organism. Results
show that environment condition of Pulau Pari lagoon was good and could
support the survival of marine biota. Phytoplankton biomass was largely
composed by size fraction of < 20 µm in the amount of 82,10 – 93,40 % from
total chlorophyll-a concentration. Phytoplakton size fraction of ≥ 20 µm, was
dominated by Bacillariophyceae genus Skeletonema and Chaetoceros.
Zooplankton biomass was largely composed by size fraction < 200 µm
(microzooplankton) in the amount of 63,90 % from total zooplankton biomass.
Zooplankton was dominated by Class Crustacea, sub Class Copepod for
microzooplankton and sub Class Malacostraca for mesozooplankton. Fish larvae
were dominated by family Pomacentridae, Aulostomidae, Blenniidae, Engraulidae
dan Pinguipedidae. The fish larvae in pre flexion stage development consisted of
62,985 from total larval abundance. The peaks of fish larvae biomass occurred in
July and October, might indicate the larval production seasons. The dynamic of
fish larvae biomass in July was in a “match” condition with that of other
planktonic organisms, resulting a growth and development especially Blenniidae.
While in October was in a “mismatch” condition this is probably due to food
limitation. All of the planktonic organisms were influenced by the environment
condition although there was no significant correlation among them. Grazing
experiment shows that nanophytoplankton was the main prey of
microzooplankton while microphytoplankton is the main prey of
mesozooplankton. Fish larvae graze all components of planktonic organisms
however the most abundance prey found in the stomach of fish larvae was
microzooplankton. Allover of this study suggest that to support the ecological
function of Pulau Pari lagoon as a spawning and nursery grounds, environment
management would be needed to conserve natural habitat in the lagoon by
rehabilitation of coral reef and seagrass ecosystems.

Key words: nanophytoplankton, microphytoplankton, microzooplankton,


mesozooplankton, fish larvae, biomass, growth, grazing, Pulau Pari
lagoon.
RINGKASAN

RENY PUSPASARI. Trofodinamik Fitoplankton-Zooplankton sebagai Penentu


Kelangsungan Hidup Larva Ikan di Laguna Pulau Pari Kepulauan Seribu.
Dibimbing oleh ARIO DAMAR, M. MUKHLIS KAMAL, DJAMAR T.F.
LUMBAN BATU, NGURAH NYOMAN WIADNYANA.

Laguna Pulau Pari merupakan ekosistem semi tertutup yang cocok


digunakan untuk daerah pemijahan bagi berbagai jenis ikan, hal ini dibuktikan
dengan ditemukannya berbagai jenis larva ikan di laguna Pulau Pari. Fase larva
merupakan fase yang sangat rentan terhadap kematian. Ketersediaan makanan
menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan hidup larva ikan. Makanan larva
ikan adalah organisme planktonik, dinamika yang terjadi pada organisme
planktonik akan mempengaruhi dinamika kelangsungan hidup larva. Kesesuaian
antara jenis, ukuran dan waktu ketersediaan antara larva ikan dengan makanannya
menjadi faktor penentu keberhasilan proses rekrutmen populasi ikan di suatu
wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses hubungan trofik
antara fitoplankton dan zooplankton dengan larva ikan serta keterkaitannya
dengan kondisi fisika-kimia lingkungan perairan.
Penelitian dilakukan selama 6 bulan sejak Juni – Nopember 2010, di
laguna Pulau Pari. Pengukuran parameter fisika, kimia dan biologi perairan
dilakukan secara berkala pada bulan Juni – Nopember 2010 pada lima stasiun
pengamatan. Kondisi kualitas perairan dan variasi biomassa organisme
planktonik (nanofitoplankton, mikrofitoplankton, mikrozooplankton,
mesozooplankton dan larva ikan) di gambarkan melalui distribusi spasial dan
temporal. Eksperimen pemangsaan pada berbagai kombinasi organisme
planktonik dilakukan untuk mengetahui nilai laju pertumbuhan dan pemangsaan
setiap komponen organisme planktonik pada berbagai kombinasi perlakuan.
Pertumbuhan dan perkembangan larva ikan dilakukan pada populasi alami di
alam. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan pola
dinamika yang terjadi pada seluruh komponen organisme planktonik, analisis
komponen utama dilakukan untuk menggambarkan keterkaitan antar komponen
organisme planktonik dan antara organisme planktonik dengan kondisi
lingkungan perairan.
Hasil pengamatan terhadap kondisi kualitas air menunjukkan bahwa
perairan laguna Pulau Pari masih mendukung untuk kelangsungan hidup biota laut
dengan suhu rata-rata adalah 30,20 + 1,00 oC, salinitas rata-rata 30,9 ppt, pH rata-
rata 7,00, NO3-N rata-rata 0,21 mg/m3, NH4-N rata-rata 0,51 mg/m3, PO4-P rata-
rata 0,04 mg/m3 dan Si rata-rata 0,90 mg/m3.
Komponen organisme planktonik mengalami fluktuasi biomassa dan
komposisi struktur selama periode pengamatan. Biomassa fitoplankton yang
diukur dengan konsentrasi klorofil-a menunjukkan bahwa selama periode Juni –
Nopember 2010 biomassa fitoplankton yang teramati berkisar antara 0,62 – 1,77
mg/m3. Hasil fraksionasi terhadap nilai konsentrasi klorofil-a menunjukkan
bahwa 82,10 – 93,40 % dari total biomassa klorofil tersusun atas fitoplankton
berukuran < 20 μm atau termasuk kedalam kelompok nanofitoplankton. Rata-rata
bioamassa tertinggi terjadi pada awal Oktober dan terendah pada akhir Oktober
2010. Komponen mikrofitoplankton didominasi oleh kelas Bacillariophyceae
dengan genus dominan Skeletonema dan Chaetoceros. Pada akhir Juli terjadi
ledakan populasi Skeletonema di perairan laguna Pulau Pari yang terkait dengan
menurunnya rasio N:P perairan dari 27,4 pada pertengahan Juni menjadi 10,4
pada akhir Juli. Kelompok zooplankton didominasi oleh mikrozooplankton
dengan total biomassa mencapai 63,9 % dari seluruh biomassa zooplankton yang
terukur. Biomassa mikrozooplankton yang diamati berkisar antara 2,14 x 10-5 –
1,15 x 10-2 mg/m3, biomassa meningkat pada awal Juli sampai awal Agustus
dengan puncak biomassa terjadi pada pertengahan Juli. Komponen utama
penyusun mikrozooplankton berasal dari kelas Crustaceae sebesar (86,82 %),
dengan penyusun utama berupa kelompok nauplius yang tidak teridentifikasi
sebesar 62,75 % dan Copepod sebesar 24,06 %. Penyusun biomassa
mikrozooplankton lainnya berasal dari filum Protozoa, Polychaeta, Chaetognatha,
Moluska dan Rotatoria. Mesozooplankton hanya menyusun 36,1 % dari total
biomassa zooplankton, dengan nilai biomassa berkisar antara 2,62 x 10-6 – 7,80 x
10-3 mg/m3. Nilai rata-rata biomassa terendah terukur pada awal Juli dan tertinggi
pada akhir Juli 2010. Penyusun utama biomassa mesozooplankton adalah kelas
Crustacea sebesar 87,84 % yang berasal dari sub kelas Malacostraca dan
Copepod. Biomassa larva ikan berkisar antara 3,69 x 10-1 – 1,74 x 102 mg/m3.
Biomassa larva ikan mengalami puncak tertinggi pada bulan Juli dan Oktober
yang diduga sebagai musim produksi larva. Larva ikan di laguna Pulau Pari
didominasi oleh famili Pomacentridae yang ditemukan melimpah sepanjang masa
pengamatan. Selain Pomacentridae famili lain yang ditemukan mendominasi
adalah Aulostomidae, Blenniidae, Engraulidae dan Pinguipedidae. 62,98 % larva
ikan yang ditemukan berada pada fase preflexion atau fase awal perkembangan
larva, distribusi fase perkembangan menunjukkan bahwa larva ikan yang ada di
laguna Pulau Pari didominasi oleh ikan karang. Pada awal Juli, produksi larva
terjadi pada saat nanofitoplankton berada dalam jumlah yang tinggi, sementara
mikrofitoplankton, mikrozooplankton dan mesozooplankto berada dalam fase
pertumbuhan eksponensial, sehingga bisa menunjang kebutuhan larva ikan untuk
tumbuh dan berkembang, yang bisa mendukung keberhasilan proses rekrutmen
ikan di laguna Pulau Pari. Pemijahan yang terjadi pada awal Oktober disertai
dengan menurunnya biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton secara
tiba-tiba, hal ini menunjukkan bahwa biomassa zooplankton tidak dapat
menunjang kelangsungan hidup larva yang dapat mengakibatkan kegagalan proses
rekrutmen.
Pertumbuhan nanofitoplankton mengalami penurunan paling tinggi ketika
dikombinasikan dengan mikrozooplankton, hal ini menunjukkan bahwa
mikrozooplankton dapat menghambat laju pertumbuhan nanofitoplankton lebih
besar bila dibandingkan dengan mesozooplankton dan larva. Pertumbuhan
mikrofitoplankton mengalami penurunan paling tinggi ketika dikombinasikan
dengan mesozooplankton, hal ini menunjukkan bahwa kehadiran
mesozooplankton dapat menghambat laju pertumbuhan mikrofitoplankton lebih
besar bila dibandingkan dengan mikrozooplankton dan larva. Hasil perhitungan
nilai pemangsaan menunjukkan bahwa mesozooplankton lebih banyak memangsa
mikrozooplankton bila dibandingkan larva dan larva lebih banyak memangsa
mesozooplankton. Pendekatan analisis isi perut larva menunjukkan bahwa 73,5 %
isi perut larva adalah mikrozooplankton dan hasil analisis korelasi Pearson antar
biomassa organisme planktonik menunjukkan adanya korelasi yang signifikan
antara mikrozooplankton dengan larva ikan dan mesozooplankton. Perbedaan
hasil analisis ini menunjukkan adanya variasi pada komponen makanan alami
larva ikan, yang berarti bahwa larva ikan dapat melakukan substitusi makanan
alaminya.
Untuk menjaga fungsi ekologis laguna Pulau Pari sebagai habitat
pemijahan dan pengasuhan bagi larva-larva ikan yang ada di dalamnya maka
diperlukan upaya pengelolaan kawasan laguna yang berdasarkan pada perbaikan
kondisi habitat alami. Upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang dan
penanaman kembali padang lamun diharapkan dapat menjadi alternatif
pengelolaan yang baik bagi perbaikan kondisi lingkungan di laguna Pulau Pari
sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup larva ikan yang akan menentukan
keberhasilan proses rekrutmen ikan karang di perairan laguna Pulau Pari.
©Hak cipta milik IPB, tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumunkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.
TROFODINAMIK FITOPLANKTON-ZOOPLANKTON
SEBAGAI PENENTU KELANGSUNGAN HIDUP LARVA
IKAN DI LAGUNA PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU

Reny Puspasari

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perairan

SEKOLAH PASCA SARJANA


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
Penguji Luar Komisi Pembimbing

Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Richardus F. Kaswadji, M.Sc.


Dr. Ir. Gabriel Antonius Wagey, M.Sc.

Penguji pada Ujian Terbuka : Prof. Dr. Ir. Endi S. Kartamihardja, M.Sc.
Prof. Dr. Ir. Suharsono, M.Sc.
PRAKATA

Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas


segala rahmat dan karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan.
Karya ilmiah ini adalah hasil penelitian yang penulis kerjakan berdasarkan kajian
di lapangan dan laboratorium. Disertasi ini merupakan salah satu syarat untuk
mendapat gelar doktor dari Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih


kepada:

1. Dr. Ir. Ario Damar, M.Si. sebagai ketua komisi pembimbing, Dr.Ir. M.Mukhlis
Kamal, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Djamar T.F. Lumban Batu, M.Agr. dan
Prof (R). Dr. Ir. Ngurah N. Wiadnyana, M.Sc., sebagai anggota komisi
pembimbing atas segala arahan dan bimbingan yang diberikan hingga
selesainya disertasi ini.
2. Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Dr.Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr. dan ketua
Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Perairan Dr. Ir. Enan M. Adiwilaga
berserta staf atas segala perhatian dan fasilitas yang penulis terima selama
mengikuti pendidikan pascasarjana.
3. Dr. Ir. Richardus F. Kaswadji dan Dr.Ir. Gabriele A. Wagey, M.Sc. yang telah
bersedia menjadi penguji luar komisi pada ujian tertutup serta Prof. Dr. Ir. Endi
S. Kartamiharja, M.Sc. dan Prof. Dr. Ir. Suharsono, M.Sc. sebagai penguji luar
komisi pada ujian terbuka.
4. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Kementrian Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Ir. Rizald Max Rompas dan
Kepala Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya
Ikan Ir. Duto Nugroho, M.Si. atas kesempatan yang telah diberikan kepada
penulis untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3.
5. Direksi PT. Fega Marikultura atas bantuan larva ikan yang telah diberikan.
6. Rekan-rekan yang telah membantu pelaksanaan penelitian, Taufik, Eni, Roni,
Agus, Munthado, staf laboratorium lingkungan BPPL Muara Baru dan staf
laboratorium kimia dan plankton BPPSDI Jatiluhur.
7. Keluarga tercinta Bapak H. Ramli Abdul Gani, Ibu Mintarsih (Almarhumah),
Ibu Hj. Rukmiati, Mama mertua Ibu Tristuti Mariana Hadi, Papa mertua
Bapak Ganda Chayadi atas dukungan dan doa yang selalu menyertai penulis,
suami tercinta Wiguna Chayadi yang telah sabar dan penuh cinta kasih
mendampingi penulis, memberikan dorongan moril dan materil selama
menempuh pendidikan, serta anak-anakku tersayang Erlangga Widharma
Chayadi dan Kirana Puspadharma Chayadi yang senantiasa memberikan
inspirasi, semangat dan motivasi, mohon maaf atas banyaknya waktu yang
tersisihkan untuk mengurus kalian selama ini.

Semoga disertasi ini bisa menambah khazanah keilmuan khususnya dalam


bidang Pengelolaan Sumberdaya Perairan.

Bogor, 2 Juli 2012

Reny Puspasari
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 7 September 1974, sebagai anak


pertama dari pasangan H. Ramli Abdul Gani dan Mintarsih (Alm). Penulis
menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota Sukabumi, dan
melanjutkan ke pendidikan tinggi di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung, sejak tahun 1993 sampai 1997.
Pada tahun 1998 penulis menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan Strata
2 di Program Studi Ilmu Kelautan IPB.

Pada tahun 2000 penulis bekerja di PT. Central Proteina Prima Jakarta
sebagai Koordinator Laboratorium Lingkungan dan Kesehatan udang dan ikan.
Tahun 2004 penulis diterima sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan
Kementrian Kelautan dan Perikanan dan ditempatkan sebagai calon peneliti di
Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan.
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………… xxiv

DAFTAR TABEL ……………………………………………………………. xxviii


DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… xxx

I. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang …………………………………………………. 1
1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah …………………………… 3
1.3 Kebaruan Penelitian ……………………………………………. 7
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………………….... 7
1.5 Hipotesis ………………………………………………………... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA 11


2.1 Kondisi lingkungan perairan Pulau Pari ………………………… 11
2.2 Trofodinamik Organisme Planktonik …………………………… 15
2.3 Pembentukan Biomassa Fitoplankton …………………………… 18
2.4 Pembentukan Biomassa Zooplankton …………………………… 24
2.5 Makanan Alami Larva Ikan ……………………………………... 27
2.6 Perkembangan larva ikan ………………………………………... 30
2.7 Hipotesis match and miss match ……………………………… 31

III. METODE PENELITIAN 35


3.1 Tempat dan Waktu Penelitian …………………………………….. 35
3.2 Ruang Lingkup Penelitian ……………………………………….. 36
3.3 Metode dan Desain Penelitian …………………………………... 36
3.4 Pengambilan sampel …………………………………………….. 41
3.4.1 Penelitian kualitas air …………………………………….. 41
3.4.2 Penelitian biomassa dan struktur komunitas plankton …… 41
3.4.3 Penelitian pertumbuhan dan pemangsaan plankton ……… 42
3.4.4 Penelitian pertumbuhan larva …………………………….. 43
3.4.5 Penelitian jenis makanan larva …………………………… 43
3.5 Bahan dan Alat …………………………………………………... 43
3.6 Pengukuran peubah ……………………………………………… 44
3.6.1 Kondisi kualitas air ……………………………………….. 44
3.6.2 Biomassa plankton dan larva ikan ………………………... 45
3.6.3 Struktur komunitas plankton ……………………………... 47
3.6.4 Pertumbuhan plankton dan larva …………………………. 48
3.6.5 Pemangsaan zooplankton dan larva ……………………… 50
3.6.6 Penentuan jenis makanan larva ………………………….. 50
3.8 Analisis Data …………………………………………………….. 51
IV. HASIL PEMBAHASAN 53
4.1 Kondisi kualitas air ……………………………………………… 53
4.1.1 Suhu ……………………………………………………... 56
4.1.2 Salinitas …………………………………………………. 59
4.1.3 pH ………………………………………………………... 62
4.4.4 Konsentrasi nutrien ……………………………………... 62
a. Nitrat ………………………………………………….. 65
b. Ammonium …………………………………………… 66
c. Fosfat …………………………………………………. 67
d. Silikat …………………………………………………. 69
4.2 Variasi biomassa dan komposisi struktur plankton ……………... 72
4.2.1 Fraksionasi biomassa fitoplankton ……………………….. 72
4.2.2 Biomassa dan komposisi struktur mikrofitoplankton …….. 76
4.2.3 Biomassa dan komposisi struktur zooplankton …………... 86
a. Biomassa mikrozooplankton ………………………….. 87
b. Komposisi struktur mikrozooplankton ………………... 89
c. Biomassa mesozooplankton …………………………... 96
d. Komposisi struktur mesozooplankton ………………… 98
4.2.4 Biomassa dan komposisi struktur larva ikan ……………... 104
4.2.5 Hipotesis match and mismatch antara larva ikan dengan
fitoplankton dan zooplankton di laguna Pulau Pari ……… 111
4.3 Hubungan antara Biomassa organism planktonik dengan kondisi
lingkungan perairan …………………………………………… 115
4.3.1 Hubungan antara biomassa fitoplankton dengan kondisi
lingkungan perairan ………………………………………. 115
4.3.2 Hubungan antara komposisi struktur fitoplankton dengan
kondisi lingkungan perairan ……………………………… 120
4.3.3 Hubungan antara biomassa zooplankton dengan kondisi
lingkungan perairan ………………………………………. 123
4.3.4 Hubungan antara biomassa larva ikan dengan kondisi
lingkungan perairan ………………………………………. 125
4.4 Trofodinamik organisme planktonik …………………………….. 128
4.4.1 Pertumbuhan ……………………………………………… 128
a. Pertumbuhan nanofitoplankton ………………………... 128
b. Pertumbuhan mikrofitoplankton ………………………. 132
c. Pertumbuhan mikrozooplankton ………………………. 136
d. Pertumbuhan mesozooplankton ………………………. 137
e. Pertumbuhan larva …………………………………….. 139
4.4.2 Pemangsaan ………………………………………………. 144
4.4.3 Selektivitas pemilihan makanan oleh larva ………………. 148
4.5 Upaya Pengelolaan ……………………………………………… 149

V. Kesimpulan 155
V. Saran 157

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 159

LAMPIRAN …………………………………………………………………… 179


DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Skema hubungan trofodinamik yang mempengaruhi kelangsungan
hidup larva ikan ………………………………………………………... 6
2. Diagram alir pendekatan masalah …………………………………….. 9
3. Peta bentuk lahan wilayah laguna Pulau Pari ………………………..... 12
4. Pola arus musiman di sekitar Pulau Pari ……………………………..... 13
5. Sirkulasi massa air di laguna Pulau Pari pada pasang naik …………… 13
6. Sirkulasi massa air di laguna Pulau Pari pada pasang surut …………... 15
7. Tahap perkembangan larva ikan ………………………………………. 31
8. Hipotesis match and miss match antara larva dengan makanannya … 33
9. Stasiun pengambilan sampel …………………………………………... 35
10. Desain penelitian eksperimen pemangsaan …………………………… 40
11. Perubahan rata-rata suhu perairan (oC) menurut waktu pengamatan …. 53
12. Sebaran spasial suhu perairan laguna Pulau Pari ……………………… 55
13. Perubahan rata-rata salinitas perairan menurut waktu pengamatan …… 57
14. Sebaran spasial salinitas perairan laguna Pulau Pari ………………….. 58
15. Perubahan rata-rata pH perairan menurut waktu pengamatan ………… 59
16. Sebaran spasial pH perairan laguna Pulau Pari ………………………... 61
17. Perubahan konsentrasi nitrat (NO3-N) perairan menurut
waktu pengamatan …………………………………………………….. 63
18. Sebaran spasial NO3-N perairan laguna Pulau Pari …………………… 64
19. Perubahan konsentrasi ammonium (NH4-N) perairan ………………… 65
20. Sebaran spasial NH4-N perairan laguna Pulau Pari …………………… 66
21. Perubahan konsentrasi fosfat (PO4) perairan menurut waktu
Pengamatan …………………………………………………………….. 67
22. Sebaran spasial PO4-P perairan laguna Pulau Pari ……………………. 68
23. Perubahan konsentrasi Silikat (Si) perairan menurut waktu
Pengamatan …………………………………………………………….. 69
24. Sebaran spasial Si perairan laguna Pulau Pari ………………………... 70
25. Curah hujan harian wilayah Jakarta bagan Utara tahun 2010 …………. 71
26. Konsentrasi klorofil-a di laguna Pulau Pari pada Juni –
Nopember 2010 ………………………………………………………… 73
27. Konsentrasi rata-rata klorofil a dari fitoplankton fraksi ukuran
< 20 μm dan ≥ 20 μm ………………………………………………….. 75
28. Biomassa klorofil a mikrofitoplankton di laguna Pulau Pari ………….. 77
29. Struktur populasi mikrofitoplankton di perairan laguna Pulau Pari …... 78
30. Sebaran kelimpahan jenis mikrofitoplankton berdasarkan
waktu pengamatan …………………………………………………….. 79
31. Distribusi temporal biomassa mikrozooplankton ……………………... 87
32. Persentase organisme penyusun mikrozooplankton …………………... 91
33. Sebaran kelimpahan jenis mikrozooplankton berdasarkan
waktu pengamatan …………………………………………………….. 92
34. Distribusi temporal biomassa mesozooplankton ……………………… 96
35. Pola rata-rata biomassa mikrozooplankton dan messozooplankton
di periaran laguna Pulau Pari ………………………………………….. 97
36. Komposisi dan persentase organisme penyusun mesozooplankton …… 99
37. Sebaran kelimpahan jenis mesozooplankton berdasarkan
waktu pengamatan …………………………………………………….. 100
38. Sebaran temporal biomassa larva ikan ………………………………… 104
39. Pola kelimpahan telur dan larva ikan ………………………………….. 105
40. Kelimpahan relatif larva ikan dominan di laguna Pulau Pari ………… 108
41. Sebaran kelimpahan famili larva ikan ………………………………… 108
42. Sebaran fase perkembangan larva ikan di laguna Pulau Pari …………. 110
43. Distribusi biomassa organisme planktonik di laguna Pulau Pari ……… 112
44. Grafik hasil analisis komponen utama variabel lingkungan dan
biomassa fitoplankton pada saat tidak terjadi ledakan populasi
Skeletonema di perairan laguna Pulau Pari
(Juni – Nopember kecuali Juli 2010) …………………………………. 116
45. Grafik hasil analisis komponen utama variabel lingkungan dan
biomassa fitoplankton pada saat terjadi ledakan populasi Skeletonema
di perairan laguna Pulau Pari (Juli 2010) ……………………………… 119
46. Perubahan dominansi genera mikrofitoplankton ……………………… 122
47. Grafik hasil analisis komponen utama pada seluruh nilai biomassa
organisme planktonik di laguna Pulau Pari …………………………… 127
48. Simulasi pertumbuhan panjang larva ikan Blenniidae ………………… 141
49. Pergeseran nilai tengah panjang larva ikan Blenniidae ……………….. 142
50. Persentase fase perkembangan populasi larva ikan Blenniidae ……….. 143
51. Sketsa diagram pemangsaan hasil eksperimen di laguna Pulau Pari ….. 146
52. Jenis dan persentase isi perut larva ikan kakap putih …………………. 148
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Desain rancangan percobaan uji coba pemangsaan ……………………. 38


2. Bahan dan Alat ………………………………………………………… 43
3. Laju pertumbuhan spesifik nanofitoplankton pada berbagai variasi
komponen zooplankton ………………………………………………… 129
4. Laju pertumbuhan spesifik komponen organisme planktonik dalam
sistem satuan percobaan pada perlakuan N+F+MI+ME+L …………… 132
5. Laju pertumbuhan spesifik mikrofitoplankton pada berbagai
variasi komponen zooplankton ………………………………………… 133
6. Laju pertumbuhan spesifik mikrozooplankton pada berbagai
variasi komponen zooplankton ………………………………………… 136
7. Laju pertumbuhan spesifik mesozooplankton pada berbagai
variasi komponen zooplankton ………………………………………… 137
8. Kenaikan nilai tengah panjang larva ikan Blenniidae …………………. 140
9. Estimasi laju pemangsaan berdasarkan laju pertumbuhan
organisme planktonik ………………………………………………….. 145
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Kualitas air perairan laguna Pulau Pari …………………………... 180


2. Biomassa organisme planktonik ………………………………….. 182
3. Komposisi struktur mikrofitoplankton ………………………….... 184
4. Komposisi struktur mikrozooplankton …………………………… 187
5. Komposisi struktur mesozooplankton…………………………….. 190
6. Komposisi struktur larva ikan ……………………………………. 194
7. Biovolume zooplankton ………………………………………….. 198
8. Hasil pengamatan pertumbuhan larva ikan ………………………. 201
9. Hasil rata-rata eksperimen pemangsaan…………………………... 208
10. Matrik korelasi Pearson antar seluruh peubah lingkungan…….…. 212
11. Hasil analisis ragam terhadap peubah suhu ……………………… 213
12. Hasil analisis ragam terhadap peubah salinitas …………………... 214
13. Hasil analisis ragam terhadap peubah pH ………………………... 215
14. Hasil analisis ragam terhadap peubah NO3-N …………………… 216
15. Hasil analisis ragam terhadap peubah NH4-N …………………… 217
16. Hasil analisis ragam terhadap peubah PO4-P …………………….. 218
17. Hasil analisis ragam terhadap peubah Si …………………………. 219
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Fitoplankton merupakan dasar dari sistem rantai makanan yang terbentuk


di dalam ekosistem akuatik, khususnya untuk kehidupan pelagis. Dalam rantai
makanan ini fitoplankton berperan sebagai produsen primer yang memproduksi
energi awal bagi kehidupan di dalam ekosistem perairan. Energi yang berasal dari
fitoplankton selanjutnya akan ditransfer ke organisme lain pada tingkat trofik
yang lebih tinggi (Lampman & Makarewicz, 1999). Besarnya nilai biomassa
fitoplankton menentukan besarnya pembentukan biomassa trofik level di atasnya.
Proses produksi primer di perairan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya
(pengaruh dari bawah atau bottom up effects) dan kehadiran konsumer (pengaruh
dari atas atau top-down effects) (McQueen et al., 1986; 1989). Kedua mekanisme
pengendalian tersebut berfungsi secara simultan (Vanni, 1996). Pengaruh sumber
daya yang paling berperan penting dalam produksi fitoplankton adalah nutrien dan
cahaya, sementara pengaruh konsumer yang paling penting adalah pemangsaan
oleh zooplankton dan organisme lain yang langsung memakan fitoplankton.
Dalam struktur rantai makanan zooplankton menempati posisi sebagai konsumen
pertama. Selain zooplankton fitoplankton juga menjadi bagian dari makanan
beberapa jenis larva biota laut seperti larva ikan (Insan et al., 2002; Rossi et al.,
2006; Pepin & Dower, 2007), udang (Umar, 2009) dan moluska (Winanto, 2009).

Kemampuan fitoplankton dalam mendukung kehidupan organisme lain


pada tingkat trofik yang lebih tinggi ditentukan oleh besarnya biomassa
fitoplankton serta komposisi struktur populasinya (Rousseau et al., 2000). Di
alam, komposisi struktur spasial dan temporal organisme planktonik baik
fitoplankton maupun zooplankton selalu mengalami perubahan dari waktu ke
waktu. Hal ini dapat terjadi karena adanya pengaruh dari berbagai faktor seperti
lingkungan perairan dan musim (Moline & Prazelin, 1996; Montes-Hugo et al.,
2004; Jäger et al., 2008, Eslinger et al., 2001). Perubahan komposisi struktur
organisme planktonik akan saling mempengaruhi pembentukan biomassanya satu
2

sama lain (Rousseau et al., 2000), yang pada akhirnya akan mempengaruhi
kondisi organisme pemangsa dalam hal ini yang dikaji adalah larva ikan.

Larva ikan memanfaatkan plankton sebagai makanan alaminya, karena


plankton memenuhi kriteria makanan alami yang sesuai dengan kebutuhan larva,
yaitu sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya dan sesuai dengan kebutuhan
pencernaan larva. Larva memerlukan makanan dengan kandungan gizi yang tinggi
supaya dapat memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan, dan makanan yang
mudah dicerna karena fungsi saluran pencernaannya belum sempurna (Effendi,
1997). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan yang paling cocok
bagi larva ikan fase awal adalah organisme planktonik yang berukuran sangat
kecil seperti fitoplankton (Insan et al., 2002; Rossi et al., 2006; Pepin & Dower,
2007), zooplankton (Voss, 2002; Werner et al., 2000; Runge et al., 2000; Sassa &
Kawaguchi, 2004; Rossi et al., 2006; Pepin & Dower, 2007) dan protozoa
(Fukami et al., 1999; Rossi et al.,2006; Pepin & Dower, 2007).

Larva ikan biasanya memanfaatkan daerah yang terlindung sebagai habitat


pengasuhan. Ekosistem laguna merupakan tipe ekosistem yang dimanfaatkan
oleh banyak biota laut sebagai habitat pengasuhan bagi larva dan juvenil
(Williams, 1983; Dufour & Galzin, 1997; Kaswadji, 1997; Renjaan, 2003).
Ekosistem laguna biasanya dibatasi oleh terumbu karang yang menyebabkan
massa air yang ada di dalam laguna tidak tercampur secara langsung dengan
massa air di sekitarnya, dan tidak terpapar secara langsung oleh faktor fisik
perairan sekitarnya seperti arus dan ombak (Choat & Bellwood, 1991). Kondisi
seperti ini dapat memberikan perlindungan bagi larva dan juvenil ikan yang masih
lemah dan memiliki pergerakan terbatas.

Beberapa ikan karang dari famili Pomacentridae (Williams, 1983; Wilson,


2003), Labridae, Scaridae, dan Gobiidae (Dufour & Galzin, 1997) dan beberapa
larva moluska (Renjaan, 2003) ditemukan berlindung di perairan laguna. Selain
larva yang berasal dari luar laguna, di dalam laguna juga dihasilkan larva-larva
ikan, yang berasal dari ikan karang yang memijah di dalam laguna. Ikan-ikan
karang mempunyai hubungan keterkaitan yang sangat kuat dengan terumbu
karang dan mempunyai pola pergerakan yang sangat terbatas, contohnya adalah
3

ikan dari famili Scaridae, Acanthuridae, Siganidae, Chaetodontidae,


Pomacanthidae dan beberapa spesies dari famili Labriidae dan Pomacentridae
(Choat & Bellwood, 1991). Dengan banyaknya jenis ikan yang memanfaatkan
laguna sebagai daerah asuhan, maka laguna harus memiliki kemampuan untuk
mendukung keberhasilan hidup larva-larva ikan tersebut melalui jaminan
ketersediaan makanan berupa fitoplankton dan zooplankton.

Dalam ekosistem akuatik, larva ikan dan beberapa jenis makanannya


merupakan bagian dari sistem rantai makanan yang ada. Larva ikan dan
makanannya masing-masing menempati tingkatan trofik tertentu dalam sistem
rantai makanan. Hubungan trofodinamik antara larva ikan dengan makanannya
dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan proses rekrutmen dari suatu
daerah asuhan, melalui kestabilan ketersediaan komponen makanan alami bagi
larva ikan.

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah

Kelangsungan hidup larva ikan sangat ditentukan oleh adanya hubungan


trofik antara larva ikan dengan komponen biologi yang ada di sekitarnya.
Hubungan trofik ini terkait dengan proses pemangsaan yang dilakukan oleh larva
dan kondisi kelaparan yang dialami oleh larva ikan tersebut (Laurence, 1985).
Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan makanan dan proses makan yang
secara langsung mempengaruhi larva, diantaranya adalah pemilihan jenis
makanan dan konsentrasi serta distribusi dari makanan tersebut (Laurence, 1985).
Larva ikan memiliki preferensi terhadap jenis makanan tertentu (Laurence, 1985).
Konsentrasi makanan, terkait dengan besarnya jumlah sumber daya makanan yang
tersedia. Ketersediaan sumber daya makanan di perairan baru dapat
dimanfaatkan oleh larva apabila larva ikan dapat melakukan pemangsaan terhadap
makanannya. Pemangsaan dapat dilakukan apabila terjadi pertemuan antara larva
ikan dengan mangsanya dan hal ini sangat dipengaruhi oleh distribusi yang terjadi
pada larva ikan dan mangsanya (Laurence, 1974; Houde, 1975 dalam Laurence,
1985; Leech et al., 2009).
4

Distribusi larva ikan sangat dipengaruhi oleh faktor fisik perairan terutama
arus. Arus yang dipengaruhi oleh angin (Lough et al., 1994 dalam Townsend &
Pettigrew, 1996) dan pasang surut yang menentukan penyebaran dan
pengelompokan larva ikan di suatu tempat (Townsend & Pettigrew, 1996).
Dalam kaitannya dengan proses pencarian makanan, penetrasi UV ke dalam
kolom air juga memegang peranan dalam mengontrol keberadaan larva ikan, hal
ini terkait dengan kemampuan predasi larva ikan terhadap sumber daya
makanannya terutama zooplankton, karena proses migrasi zooplankton sangat
dipengaruhi oleh penetrasi UV ke dalam kolom air (Leech et al., 2009).

Kehadiran organisme planktonik di perairan tidak secara langsung dapat


meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan. Hal ini berkaitan dengan
kecocokan organisme planktonik yang ada dengan kebutuhan larva ikan pada
suatu saat. Apabila organisme planktonik yang ada di perairan pada suatu waktu
tertentu sesuai dengan kebutuhan larva, maka organisme planktonik tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai sumber daya makanan oleh larva. Namun demikian,
apabila organisme planktonik yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan larva maka
tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya makanan. Besarnya biomassa
organisme planktonik yang dapat mendukung kelangsungan hidup larva ikan
tentunya sangat bervariasi jumlahnya bergantung pada kelimpahan dan jenis larva
yang ada pada suatu waktu di suatu perairan tertentu (Stige et al., 2009).

Dinamika yang terjadi pada komponen organisme planktonik, akan sangat


menentukan apakah organisme planktonik ini dapat menjadi sumber daya
makanan yang sesuai dengan kebutuhan larva atau tidak (Bremigan & Stein, 1994
dalam Pitois & Fox, 2008). Dinamika populasi fitoplankton ditentukan oleh
kondisi lingkungan dan proses produksi primer. Kondisi lingkungan perairan
seperti konsentrasi hara, penetrasi cahaya dan suhu sangat menentukan komposisi
jenis dan besarnya biomassa fitoplankton yang diproduksi (Eslinger et al., 2001).
Sementara bagi populasi zooplankton, komposisi struktur populasi fitoplankton
dan besarnya biomassa fitoplankton yang ada sangat menentukan besarnya
produksi biomassa zooplankton (Rousseau et al., 2000).
5

Berapa besar biomassa plankton yang dibutuhkan untuk menunjang


kelangsungan hidup larva ikan dan jenis-jenis apa saja yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber daya makanan oleh larva ikan, merupakan masalah yang perlu
dijawab untuk dapat memahami kelangsungan hidup larva ikan, sehingga proses
rekrutmen di suatu perairan dapat berlangsung sukses. Untuk dapat menjawab
masalah tersebut perlu dilakukan pengamatan secara lebih rinci mengenai
dinamika yang terjadi pada organisme planktonik dan perlu dilakukan uji coba
pemangsaan untuk mengkuantifikasi besarnya biomassa makanan yang
dibutuhkan untuk menunjang kelangsungan hidup larva. Untuk mempermudah
pengamatan, penelitian dilakukan di perairan yang bersifat semi tertutup, yaitu
Laguna Pulau Pari.

Di Laguna Pulau Pari ditemukan enam jenis larva ikan yaitu larva ikan
dari famili Ambassidae, Apogonidae, Theraponidae, Hemirhamphidae, Gobiidae
dan Serranidae (Kaswadji, 1997). Sebagai suatu wilayah perairan yang bersifat
semi tertutup dan terlindung, maka Laguna Pulau Pari memenuhi kriteria daerah
asuhan ikan. Keberhasilan hidup larva ikan yang memanfaatkan laguna ini
sebagai daerah asuhan sangat bergantung pada pola hubungan trofodinamik antara
larva ikan dengan komponen sumber daya makanannya dan interaksi dari
berbagai faktor lingkungan.

Sebagai ekosistem semi tertutup, Laguna Pulau Pari mendapatkan


pengaruh dari pulau-pulau yang ada di dalam laguna (Pulau Pari, Pulau Kongsi,
Pula Burung, Pulau Tikus dan Pulau Tengah) dan juga dari perairan sekitarnya.
Pengaruh perairan Teluk Jakarta yang tercemar berat masih dirasakan di perairan
dalam Laguna, karena laguna ini hanya berjarak 40 km dari kota Jakarta.
Pengaruh ini dibuktikan dengan menurunnya kualitas air untuk kegiatan budidaya
rumput laut (Sedyowati, 2005). Kedua pengaruh ini mengakibatkan terjadinya
fluktuasi kondisi lingkungan yang pada akhirnya berdampak terhadap produksi
dan komposisi struktur organisme planktonik yang merupakan makanan bagi
larva ikan (Kaswadji, 1997). Penelitian yang dilakukan Kaswadji menunjukkan
bahwa dalam setahun biomassa fitoplankton melimpah mencapai puncak
maksimum sebanyak tiga kali, dan diikuti oleh kelimpahan puncak dari
6

zooplankton sebanyak dua kali dalam setahun. Dari pemodelan ekosistem yang
dilakukan selanjutnya oleh Kaswadji (1997) menunjukkan bahwa sumber daya
fitoplankton dan zooplankton yang ada dalam laguna tersebut dapat menunjang
kelangsungan hidup larva ikan. Biomassa larva ikan naik nilainya setelah
zooplankton meningkat jumlahnya. Namun demikian informasi mengenai berapa
jumlah biomassa yang sesungguhnya dibutuhkan untuk kelangsungan hidup larva
ikan dan jenis-jenis plankton apa saja yang dapat menunjang kelangsungan hidup
larva ikan di laguna tersebut belum diketahui.

Keberhasilan kelangsungan hidup larva ikan di laguna Pulau Pari


dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi pada sistem jaring makanan organisme
planktonik yang ada. Skema hubungan trofodinamik yang mempengaruhi
kelangsungan hidup larva ikan di laut dapat digambarkan sebagai berikut
(Gambar 1):

Bakteri Protozoa

Nutrien Fitoplankton Zooplankton Larva ikan

: garis yang mempengaruhi biomassa


: garis penguraian

Gambar 1. Skema hubungan trofodinamik yang mempengaruhi kelangsungan


hidup larva ikan (modifikasi dari Kaswadji, 1997).
7

1.3 Kebaruan Penelitian

Penelitian mengenai interaksi antara larva ikan dengan makanannya masih


sangat jarang dilakukan, hasil penelitian ini memberikan beberapa informasi baru
mengenai trofodinamik yang terjadi antara larva ikan dengan makanannya yang
digambarkan melalui diagram pemangsaan diantara organisme planktonik. Selain
itu penelitian ini juga menghasilkan informasi mengenai musim produksi larva
ikan karang di laguna Pulau Pari dan status ekologis dari laguna Pulau Pari serta
alternatif pengelolaannya.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Didasari atas pentingnya pengetahuan tentang kelangsungan hidup larva


ikan yang merupakan pengetahuan dasar dalam aplikasinya di bidang perikanan,
khususnya dalam mendeterminasi daerah pemijahan atau daerah asuhan,
penelitian ini difokuskan pada pengungkapan fenomena kehidupan larva ikan di
sebuah laguna semi tertutup dengan tujuan:

1. Mempelajari dinamika temporal biomassa dan komposisi struktur


organisme planktonik yaitu nanofitoplankton, mikrofitoplankton,
mikrozooplankton dan mesozooplankton serta dinamika dan komposisi
struktur larva ikan.
2. Mempelajari dinamika hubungan trofik fitoplankton dan zooplankton
dengan larva ikan terkait dengan kondisi fisika-kimia lingkungan perairan.
3. Mempelajari proses hubungan trofik antara fitoplankton dan zooplankton
dengan larva ikan yang berperan sebagai konsumen pertama.
4. Menduga pertumbuhan dan perkembangan morfologi larva ikan di laguna
Pulau Pari

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk mendeterminasi fungsi ekologis dari


suatu kawasan sebagai daerah pemijahan atau daerah asuhan serta mendeterminasi
musim produksi larva di kawasan tersebut.
8

1.5 Hipotesis

Hipotesis yang diajukan untuk menjawab tujuan penelitian adalah:

1. Apabila biomassa nanofitoplankton dan fitoplankton yang ada dapat


menunjang pembentukan biomassa zooplankton maka ketersediaan
sumber daya makanan bagi larva ikan terjamin sehingga dapat mendukung
kelangsungan hidup larva ikan.
2. Dinamika hubungan trofik antara fitoplankton dan zooplankton ditentukan
oleh konsentrasi nutrien dan fluktuasi suhu perairan.
3. Puncak biomassa komponen zooplankton akan terjadi beberapa saat
setelah biomassa fitoplankton mencapai puncak biomassa. Puncak
biomassa larva akan terjadi pada kondisi jumlah makanan maksimal.
4. Pada saat biomassa makanan alami tinggi, maka larva ikan akan
mengalami pertumbuhan dan perkembangan fase morfologi.
9

Cahaya
Suhu
Hara
Prod. Biomassa
primer Fito

Fitoplankton

sesuai? grazing

Suplai Zooplankton
makanan Biomassa
zoo
sesuai? grazing

Nanozoo/ Sumber
protozoa sesuai daya
? makanan

Larva ikan
Efektif
Kelangsungan
Struktur grazing grazing
Adaptasi, hidup larva
komunitas ?
distribusi
larva

Manajemen larva

Ked.goba
Hidro mixing
Suhu
dinamika
cahaya

Gambar 2. Diagram alir pendekatan masalah


10
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi lingkungan Perairan Laguna Pulau Pari

Laguna Pulau Pari terletak di bagian selatan dari wilayah Kepulauan


Seribu. Unit gugusan Kepulauan Pari terdiri atas 6 pulau kecil yaitu Pulau Pari,
Burung, Kongsi Timur, Kongsi Tengah, Kongsi Barat, dan Tikus. Gugusan pulau-
pulau ini menjadi satu kesatuan oleh adanya pertumbuhan terumbu karang. Dalam
kesatuan kepulauan ini, terumbu karang membentuk laguna di tengahnya sehingga
kepulauan ini dapat dikatakan sebagai Pulau Atol dalam bentuk mini.

Pulau Pari merupakan daratan rendah dengan luasan 0,495 km2, Pulau
lainnya merupakan karang timbul, dimana Pulau Kongsi tengah mempunyai
luasan 0,085 km2, Pulau Kongsi Barat mempunyai luasan 0,028 km2, Pulau
Burung mempunyai luasan 0,022 km2, Pulau Kongsi Timur mempunyai luasan
0,013 km2 dan Pulau Tikus mempunyai luasan 0,012 km2.

Menurut Wikanti (2005) di gugusan Pulau Pari terdapat empat kelompok


bentuk lahan di mana dataran aluvial pantai merupakan bentuk lahan terluas.
Bentuk lahan terumbu cincin terbentuk oleh pertumbuhan terumbu karang atau air
laut naik pada terumbu samudra. Bentuknya seperti cincin dan disebut juga atol.
Bentuk lahan ini biasa berasosiasi dengan terbentuknya lagun. Sedangkan bentuk
lahan laguna merupakan genangan air laut yang berada di tengah terumbu karang
yang terbentuk oleh pertumbuhan terumbu karang atau air laut naik. Bentuk lahan
terumbu penghalang berupa terumbu karang yang muncul ke permukaan laut oleh
pertumbuhannya atau penurunan air laut. Bentuk lahan ini muncul ke permukaan
sebagai pulau-pulau karang timbul. Sedangkan, bentuk lahan permukaan planasi
terbentuk oleh proses denudasi hingga membentuk suatu relief hampir datar.
Bentuk lahan ini terdapat di Pulau Pari yang material penyusunnya merupakan
sedimentasi pasir.
12

Gambar 3. Peta bentuk lahan wilayah laguna Pulau Pari (sumber: Wikanti, 2005).

Sirkulasi massa air di laguna Pulau Pari dipengaruhi oleh arus pasang dan
arus musim secara bersama-sama. Pola arus musiman terjadi mengikuti pola arus
umum seperti yang disampaikan dalam Wyrtki (1961). Pada musim barat
perairan Kepulauan Seribu didominansi oleh pola aliran air laut dari barat-barat
laut ke arah tenggara (Anonim, 2009). Menurut Hartati et al. (2009) pola arus
permukaan pada Maret (peralihan barat ke timur) menunjukkan bahwa arah arus
13

masih dominan dari arah barat, walaupun pada beberapa area terdapat arah arus
yang tidak menentu tergantung kondisi angin. Sementara kondisi pada bulan
Nopember terlihat jelas arah dari barat, dengan kekuatan arus yang lebih besar
dibanding pada Maret (Gambar 4).

-5.81 -5.81

13 5
-5.84 12 -5.84
13
6 5
11 11 7
3 3
4
10 9 7
-5.87 -5.87
1 1
2 2
8

-5.9 -5.9

-5.93 -5.93

106.54 106.57 106.6 106.63 106.66 106.54 106.57 106.6 106.63 106.66

Gambar 4. Pola arus musiman di sekitar Pulau Pari pada musim peralihan barat
timur (kiri) dan pada musim peralihan timur barat (kanan) (sumber:
Hartati et al., 2009).

Menurut Kaswadji (1997) dalam skala waktu harian arus pasang surut
lebih berperan dalam proses pertukaran massa air di perairan tersebut, dan
sirkulasi yang terjadi sangat ditentukan oleh kondisi pasangnya. Pasang di
Kepulauan Seribu bersifat tunggal, yaitu pasang surut dengan periode waktu 24
jam. Arus akan mengalir ke satu arah tertentu selama 12 jam, dan pada 12 jam
berikutnya arus akan mengalir ke arah yang berlawanan. Pada pasang naik air di
perairan Pulau Pari akan mengalir dari arah utara ke selatan, sebaliknya pada
pasang surut arus akan mengalir balik dari selatan ke utara. Proses sirkulasi
massa air di perairan laguna Pulau Pari mengikuti pola pasang surut tersebut.
Pada pasang naik, air laut akan memasuki perairan laguna terutama lewat enam
buah kaloran yang telah disebutkan sebelumnya. Air laut yang masuk mula-mula
akan mengisi goba yang ada sampai muka lautnya sama tinggi dengan muka laut
di perairan bebas. Jika pasang masih terus naik, maka arah aliran arus di perairan
laguna Pulau Pari akan mengikuti pola arus umum yaitu dari utara ke selatan.
Kecepatan arus di dalam perairan laguna Pulau Pari sudah tentu akan lebih rendah
14

daripada di bagian luarnya. Ketika air surut, air laut akan mengalir dari selatan ke
utara. Arus di dalam perairan laguna juga akan mengikuti pola tersebut hingga
muka laut sama tinggi dengan tubir. Jika massa air masih terus surut, maka massa
air di goba-goba akan mengalir keluar melalui kaloran yang ada. Pola arus di
dalam laguna pada saat pasang dan surut disajikan dalam Gambar 5. dan
Gambar 6.

Goba Soa besar akan dipasok oleh massa air yang masuk melalui kaloran
Legun Dalam di selatan dan kaloran Tanah Miring di utara. Setelah laguna ini
terisi penuh air akan mengalir ke daerah di sekelilignya yang lebih dangkal. Goba
Kuanji, Labangan Pasir, Besar I dan Besar II saling berhubungan, pada pasang
naik air laut akan mengisi Goba Kuanji dan labangan Pasir terlebih dahulu dari
kaloran Besar dan Ciadung. Air dari kedua goba tersebut akan mengalir menuju
Goba Besar I dan kemudian ke Goba Besar II. Air laut dari laguna ini kemudian
akan mengalir ke daerah dangkal di sekitarnya. Air laut yang mengalir melalui
kaloran Tenggang akan mengisi Goba Buntu dan Ciaris terlebih dahulu, kemudian
ke daerah sekelilingnya. Air laut yang masuk melalui kaloran Kelapa Tinggi
diperkirakan akan terpecah menjadi dua karena terhalang oleh Pulau Pari,
sebagian besar dari massa air yang masuk akan mengalir ke arah tenggara menuju
ke Goba Labangan Pasir, sebagian lagi akan mengalir kearah timur laut untuk
mengisi kawasan di sekitarnya.

Pola aliran air laut pada pasang surut akan berlawanan dengan pada saat
pasang naik. Air dari kawasan yang dangkal mengalir menuju goba yang terdekat
sebelum keluar dari kawasan Pulau Pari menuju kaloran yang ada. Air laut yang
ada di utara Pulau Pari akan mengalir ke Goba Besar I dan Goba Besar II,
kemudian selanjutnya akan berpindah ke Goba Labangan Pasir lalu keluar melalui
kaloran Ciadung. Kecepatan arus pada pasang naik lebih kuat dari kecepatan arus
pada pasang surut.
15

Gambar 5. Sirkulasi massa air di laguna Pulau Pari pada pasang naik (Sumber:
Kaswadji, 1997).

Gambar 6. Sirkulasi massa air di laguna Pulau Pari pada pasang surut (Sumber:
Kaswadji, 1997).

2.2 Trofodinamik organisme planktonik

Menurut Ivlev (1961) trofodinamik adalah ilmu yang mempelajari


pembentukan biomassa dan terkait erat dengan ilmu ekologi trofik atau ilmu yang
mempelajari proses makan. Dalam trofodinamik dipelajari juga hubungan makan
memakan antar tingkat trofik yang berbeda yaitu antara mangsa dengan predator
16

dan pembentukan jaring-jaring makanan dalam suatu ekosistem. Pada kajian


trofodinamik ada dua hal penting yang menjadi kunci utama kajian yaitu
intensitas makan dan pemilihan makanan. Intensitas makan menentukan besarnya
tingkat pemanfaatan sumber daya makanan oleh organisme pemangsa selama
interval waktu tertentu. Nilai intensitas makan ditentukan oleh berbagai faktor
seperti konsentrasi sumber daya makanan, distribusi makanan serta struktur
populasi dan struktur komunitas dari organisme predator. Besarnya nilai
pemanfaatan sumber daya makanan dapat dilihat dari pengurangan jumlah stok
sumber daya makanan yang tersedia dan dari besarnya jumlah biomassa predator
yang terbentuk akibat proses makan. Pemilihan makanan oleh suatu organisme
terkait dengan dua hal, yaitu penampakan dari organisme mangsa dan sifat
organisme pemangsa. Penampakan organisme mangsa berhubungan dengan
ukuran dari organisme tersebut dan menjadi dasar dalam proses pemilihan
makanan. Pemangsa akan memilih makanan dengan ukuran yang sesuai dengan
bukaan mulutnya.

Dalam sistem rantai makanan ekosistem akuatik, organisme planktonik


merupakan dasar dari rantai makanan tersebut. Teori dasar dalam rantai makanan
di ekosistem perairan adalah rantai makanan yang diawali oleh fitoplankton
sebagai organisme autotrof. Pada tahap selanjutnya fitoplankton dimangsa oleh
zooplankton, kemudian zooplankton dimangsa oleh larva ikan dan seterusnya
sampai pada predator puncak yaitu ikan-ikan karnivor besar. Kestabilan pada
dasar rantai makanan merupakan kondisi yang diharapkan untuk mencapai
keseimbangan sampai pada predator puncak. Namun demikian di alam hal ini
tidak selalu terjadi, karena pada suatu saat keseimbangan dapat terganggu.
Terganggunya keseimbangan dalam sistem rantai makanan dapat terjadi akibat
dari tekanan pemangsaan zooplankton yang tinggi tidak diimbangi oleh tingginya
laju pertumbuhan fitoplankton (Strom, 2002). Keseimbangan juga dapat
terganggu pada saat suplai biomassa fitoplankton yang ada tidak dapat
dimanfaatkan oleh zooplankton, maka keberadaan biomassa fitoplankton tidak
dapat mendukung terbentuknya biomassa zooplankton. Salah satu sebab dapat
terjadinya hal ini adalah proses pemilihan makanan oleh zooplankton, dimana
zooplankton hanya memakan mangsa tertentu yang disukai (Wiadnyana &
17

Rassoulzadegan, 1989). Faktor lain yang dapat menyebabkan tidak


termanfaatkannya sumber daya fitoplankton yang ada adalah adanya kompetisi
pada tingkat pemangsa, kandungan bahan berbahaya pada fitoplankton yang
menimbulkan aroma yang tidak disukai oleh zooplankton atau kehadiran mangsa
lain yang lebih disukai oleh zooplankton, sehingga pemangsaan fitoplankton oleh
zooplankton tidak terjadi, yang dapat menyebabkan adanya biomassa fitoplankton
yang tidak termanfaatkan (Kerner et al., 2004).

Tekanan pemangsaan terhadap suatu jenis organisme tertentu dapat


menyebabkan habisnya sumber daya tersebut, sehingga dominansinya dalam
ekosistem digantikan oleh jenis lain (Gasiūnaité & Olenina, 1998). Pada saat
jenis lain mendominansi maka akan terbentuk rantai makanan baru yang berbeda
dari rantai makanan sebelumnya. Rantai makanan yang terbentuk bisa terdiri dari
satu tingkat trofik atau lebih bergantung pada komponen penyusun rantai
makanan yang ada saat itu. Perubahan dalam susunan rantai makanan dapat
terjadi secara musiman akibat pengaruh lingkungan (Kerner et al., 2004).

Trofodinamik pada organisme planktonik merupakan suatu rangkaian


proses yang komplek yang utamanya ditentukan oleh komposisi jenis dan ukuran
pada mangsa dan predator. Nontji (2008) mengelompokkan plankton menjadi
tujuh kelompok berdasarkan ukurannya, yaitu:

a. Megaplankton, adalah plankton yang berukuran antara 20 – 200 cm,


seperti ubur-ubur Schyphomedusa.
b. Makroplankton adalah plankton yang berkuran antara 2 – 20 cm,
contohnya Eufausid, Sergestid, Pteropod dan banyak jenis larva ikan.
c. Mesoplankton, berukuran antara 0,2 – 20 mm, sebagian besar
zooplankton berada dalam kelompok ini seperti Copepod, Amfipoda,
Ostracoda dan Chaetoghnata. Ada juga fitoplankton yang berukuran besar
masuk ke dalam kelompok ini seperti Noctiluca.
d. Mikroplankton (20 – 200 µm), anggotanya adalah sebagian besar
fitoplankton seperti diatom dan dinoflagellata.
e. Nanoplankton, merupakan plankton dengan ukuran antara 2 – 20 µm, yang
termasuk ke dalam golongan ini adalah Cocolithofor dan mikroflagelata.
18

f. Picoplankton adalah plankton yag berukuran 0,2 – 2 µm anggotanya


umumnya adalah bakteri, termasuk sianobakter yang tidak membentuk
filamen seperti Synechococcus.
g. Femtoplankton adalah plankton yang berukuran lebih kecil dari 0,2 µm,
termasuk ke dalam golongan ini adalah virus laut yag biasa disebut
sebagai virioplankton.

Saat ini kajian trofodinamik pada organisme plankton baru sebatas pada tingkat
nanoplankton, mikroplankton, mesoplankton dan makroplankton (Turner, 1987;
Brussaard et al., 1995; Dobberfuhl et al., 1997; Ruiz et al., 1998; Lessard &
Murrell, 1998; Liu & Dagg, 2003; Nuruhwati, 2003; Kerner et al., 2004; Fonda
Umani et al., 2005; Schnetzer & Caron, 2005). Berdasarkan pada jenisnya objek
plankton yang diamati biasanya dikelompokkan menjadi dua macam yaitu
plankton autotrofik dan heterotrofik. Plankton autotrofik yang paling umum
diamati adalah fitoplankton dan bakteri autotrof.

2.3 Pembentukan Biomassa Fitoplankton

Biomassa fitoplankton adalah satuan kuantitas fitoplankton yang


merupakan banyaknya zat hidup per satuan luas atau per satuan volume pada
suatu tempat pada suatu waktu tertentu (Cushing et al., 1958 dalam Nontji, 1984).
Istilah standing stock dan standing crop juga sering digunakan untuk menyatakan
kuantitas yang dalam banyak hal mempunyai pengertian yang sama dengan
biomassa (Nontji, 2008).

Fitoplankton merupakan produsen primer terpenting pada ekosistem laut.


Dalam fungsinya sebagai produsen primer, fitoplankton memiliki kemampuan
untuk mensintesis bahan organik berenergi tinggi yang berasal dari bahan
anorganik berenergi rendah seperti air dan karbon dioksida. Sumber energi untuk
aktivitas sintesis bahan organik tersebut berasal dari cahaya matahari, atau energi
kimia yang dihasikan dari proses oksidasi senyawa anorganik (Parson et al.,
1984). Material organik yang diproduksi oleh produsen primer disebut sebagai
19

produksi primer (Parson et al., 1984). Hasil akhir dari produksi primer ini adalah
penambahan biomassa fitoplankton.

Proses pembentukan bahan organik oleh fitoplankton dengan bantuan sinar


matahari terjadi melalui proses fotosintesis. Proses fotosintesis secara
keseluruhan merupakan kumpulan reaksi fotokimia yang sangat komplek, dengan
komponen utama yang berperan adalah pigmen fotosintetik seperti klorofil.
Dalam proses fotosintesis cahaya matahari disadap oleh pigmen klorofil. Cahaya
matahari tersebut menjadi sumber energi bagi reaksi kimia dari karbon dioksida,
air dan zat hara untuk menghasilkan senyawa organik (misalnya karbohidrat).
Senyawa organik ini mempunyai potensi energi kimia yang tinggi yang disimpan
dalam sel fitoplankton untuk dipergunakan dalam proses pertumbuhan
fitoplankton. Dari proses reproduksi ini terbentuk biomassa fitoplankton yang
baru selama selang waktu tertentu.

Pigmen fotosintetik merupakan komponen utama untuk melangsungkan


proses fotosintesis tumbuhan. Dalam sel fitoplankton terdapat beberapa jenis
pigmen fotosintetik bergantung pada jenisnya. Pigmen klorofil merupakan
pigmen fotosintesis utama yang menyerap energi pada panjang gelombang yang
lebih besar dari 600 nm sedangkan energi panjang gelombang kurang dari 600 nm
diserap oleh pigmen asesoris seperti carotenoid. Pada tumbuhan terdapat
beberapa jenis klorofil yaitu klorofil-a, -b, -c,-d dan -e (Devlin, 1975 dalam
Nontji, 1984), namun untuk alga laut yang dapat diisolasi dengan pasti barulah
klorofil -a, -b dan -c (Jeffrey, 1980 dalam Nontji, 1984). Selain klorofil pada
algae laut juga dijumpai beberapa pigmen asesoris seperti peridinin, fucoxanthin,
α carotene, β carotene, diadinoxanthin, alloxanthin, zeaxanthin, lutein,
neoxanthin, dan violaxanthin (Ston, 2002). Menurut Parson et al. (1984) klorofil-
a merupakan pigmen utama yang ditemukan pada semua kelompok fitoplankton,
sementara klorofil-b hanya ditemukan pada kelas chlorophyceae dan
prasinophyceae, sedangkan klorofil-c ditemukan pada fitoplankton dari kelas
bacillariophyceae, dinophyceae, chrysophyceae, xanthophyceae, cryptophyceae
dan haptophyceae. Karena klorofil dianggap sebagai pigmen fotosintesis utama,
maka selanjutnya dikembangkan metode pendugaan biomassa fitoplankton
20

melalui kandungan pigmen klorofil dalam sel fitoplankton. Selain klorofil,


pigmen karotenoid juga dapat digunakan untuk menduga biomassa fitoplankton.
Salah satu pigmen karotenoid yang digunakan untuk mengukur biomassa
fitoplankton adalah fucoxanthin yang digunakan oleh Lehman (1981) dalam
Nontji (1984).

Proses fotosintesis membutuhkan energi sebanyak 112 kcal untuk


pembentukan setiap mol karbohidrat, dan energi ini berasal dari sinar matahari
yang diserap oleh pigmen fotosintesis. Energi cahaya matahari yang digunakan
untuk aktivitas fotosintesis adalah cahaya dengan panjang gelombang antara 400 –
700 nm atau dikenal dengan istilah photosinthetic active radiation (PAR).
Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa ultra violet radiation (UVR)
terutama UVA (panjang gelombang 370 – 400 nm) juga dapat meningkatkan
fiksasi CO2 pada fitoplankton (Nilawati et al., 1997 dalam Gao et al., 2007).
Sementara menurut Wu et al. (2005) dalam Gao et al., 2007 menyatakan bahwa
UVA dapat meningkatkan produksi biomasa Arthrospira (Spirulina) platensis.
Dalam penelitiannya Gao et al. (2007) menemukan bahwa UVR berfungsi sebagai
energi tambahan dalam proses fotosintesis fitoplankton sehingga dapat
meningkatkan produktivitas primer fitoplankton. Selain panjang gelombang nilai
intensitas cahaya juga sangat menentukan berlangsungnya proses fotosintesis.
Dari grafik hubungan antara laju fotosintesis dengan intesitas cahaya dapat
diketahui bahwa laju fotosintesis naik seiring dengan naiknya intensitas cahaya
sampai pada nilai asimptotik (laju fotosintetik maksimum) dimana sistem menjadi
jenuh oleh cahaya (Parson et al., 1984). Nilai PAR dalam suatu kolom air
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di perairan dangkal nilai PAR sangat
dipengaruhi oleh kecepatan angin (Montes-Hugo et al., 2004), yang selanjutnya
mempengaruhi proses pengadukan masa air dan turbiditas serta penetrasi cahaya
ke kolom air. Selain itu ukuran partikel terlarut juga dapat mempengaruhi
dampak atenuasi PAR, ukuran partikel yang kecil dapat meningkatkan dampak
atenuasi PAR dalam kolom air bila dibandingkan dengan ukuran partikel yang
besar, karena partikel-partikel kecil mempunyai masa tinggal yang lebih lama bila
dibandingkan dengan partikel yang berukuran besar (Montes-Hugo et al., 2004).
21

Selain cahaya, nutrien dan suhu juga memegang peranan penting dalam
proses fotosintesis (Tilman et al., 1982; Needoba et al., 2003; Nieuwerburgh,
2004). Nutrien yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan fitoplankton
adalah nitrogen dan fosfor (Valiella, 1984; Tilman et al., 1982). Hal ini
dibuktikan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Jäger et al. (2008)
menunjukkan bahwa kenaikan biomassa fitoplankton dapat terjadi pada saat
fitoplankton terpapar oleh konsentrasi fosfat yang tinggi dan pencahayaan yang
baik, seperti di perairan dangkal (sehingga akhirnya fosfat menjadi unsur
pembatas). Namun menurut Downing et al. (1999) nutrien yang paling
berpengaruh bagi pertumbuhan fitoplankton laut adalah nitrogen, besi (Fe) dan
silikat (Si), hal ini ditunjukkan oleh hasil eksperimen yang dilakukannya
mengenai pengaruh jenis nutrien terhadap waktu penggandaan fitoplankton.
Pernyataan ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuruhwati
(2003) yang menunjukkan bahwa nutrien jenis NH4 memberikan kontribusi paling
besar terhadap peningkatan konsentrasi klorofil-a (biomassa fitoplankton).
Ammonium lebih disukai oleh fitoplankton sebagai sumber hara untuk
pertumbuhannya, bila dibandingkan dengan nitrat (NO3), hal ini terjadi karena
penggunaan nitrat membutuhkan lebih banyak energi dan harus menggunakan
enzim nitrat reduktase untuk mengasimilasi nitrat (Wetzel, 1983 dalam
Nuruhwati, 2003). Silikat merupakan nutrien pembatas bagi kelompok diatom,
karena diatom membutuhkan silikat untuk pembentukan cangkangnya.
Pentingnya peranan silikat bagi diatom ditunjukkan oleh Nieuwerburgh et al.
(2004) dan Escaravage & Prins (2002) dalam penelitian uji coba penambahan
nutrien terhadap populasi fitoplankton terkontrol. Dari hasil uji cobanya
Nieuwerburgh et al. (2004) menemukan bahwa saat dalam populasi fitoplankton
ditambahkan Si, maka diatom langsung mendominasi komunitas fitoplankton
yang diamati, sementara pada kontrol, komunitas fitoplankton berada dalam
kondisi stabil dan seimbang. Silikat juga berperanan dalam memperbesar ukuran
sel, memperberat cangkang dan menghasilkan metabolit sekunder, sehingga
menurunkan kemungkinan diatom tersebut untuk dimangsa oleh Copepod. Hal
ini berakibat pada tingkat pemanfaatan diatom yang rendah oleh Copepod dan
22

menyebabkan terakumulasinya biomassa diatom dalam perairan sehingga tidak


terjadi proses transfer biomassa ke tingkat trofik yang lebih tinggi.

Biomassa fitoplankton yang terbentuk melalui proses fotosintesis


merupakan makanan bagi organisme herbivor. Kehadiran organisme herbivor ini
memegang peranan penting dalam mengontrol populasi fitoplankton. Banyak
penelitian menunjukkan bahwa grazing oleh organisme herbivor menjadi
penyebab utama kematian fitoplankton yang dapat mengurangi biomassa
fitoplankton di perairan (Strom & Strom, 1996; Doberfuhl et al., 1997; Ruiz et al.,
1998; Reeden et al., 2002; Stoecker & Gustafson, 2002; Sommer et al., 2002;
Nuruhwati, 2003; Sarnelle, 2005; Kartamiharja, 2007). Organisme herbivor yang
berperan dalam proses grazing sebagian besar adalah zooplankton dari berbagai
ukuran seperti mikrozooplankton, mesozooplankton, ciliata, dan larva ikan.
Namun peranan organisme herbivor tingkat tinggi juga cukup besar dalam
mengurangi biomassa fitoplankton di perairan. Ikan-ikan dewasa seperti lemuru
(Sardinella fimbriata) dan bandeng (Chanos chanos) merupakan ikan yang
bersifat planktivor yang menjadikan plankton sebagai makanan utama.

Kondisi biomassa fitoplankton selain dipengaruhi oleh proses fotosintesis


dan pemangsaan oleh herbivor, juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
Kestabilan kolom air tempat hidup fitoplankton memegang peranan penting dalam
mempengaruhi konsentrasi biomassa fitoplankton. Faktor-faktor fisika yang
mempengaruhi kestabilan kolom air seperti kedalaman, pencampuran massa air
(Jäger et al., 2008) dan kekuatan angin (Moline & Prezelin, 1996) pada akhirnya
juga dapat mempengaruhi kondisi biomassa fitoplankton.

Hasil penelitian Jäger et al. (2008) menunjukkan bahwa pencampuran


masa air dapat mempengaruhi waktu yang dibutuhkan oleh fitoplankton untuk
mencapai puncak biomassa. Pada kolom air tercampur, waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai puncak biomassa fitoplankton bertambah seiring dengan
bertambahnya kedalaman. Sementara pada kolom air yang tidak tercampur,
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak biomassa, tidak sepenuhnya
bergantung pada kedalaman. Sementara Moline & Prazelin (1996) menunjukkan
bahwa pola musiman dan tahunan dari biomassa fitoplankton dan produktivitas
23

primer sangat dipengaruhi oleh tekanan angin lokal. Angin yang bertiup harian
dengan kecepatan rendah (kurang dari 10 meter/detik) berasosiasi dengan
kestabilan kolom air. Tekanan angin rendah yang terjadi dalam periode yang
lama (lebih dari 1 minggu) dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan
fitoplankton dan akumulasi biomassanya. Terdapat keterkaitan yang erat antara
tekanan angin, stabilitas kolom air dan akumulasi biomassa fitoplankton, hal ini
ditunjukkan oleh Moline & Prazelin (1996) di perairan pantai Antartika pada
tahun 1991 – 1992. Besarnya pengaruh angin terhadap proses fotosintesis juga
ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Charpy (1996) mengenai
produksi fotosintesis di sebuah Atol. Menurut Charpy (1996) produksi
maksimum fotosintesis di Atol Takapoto terjadi pada kedalaman antara 15 - 25
meter, akan tetapi pada kondisi angin bertiup kencang, produksi maksimum
fotosintesis terjadi di kedalaman kurang dari 10 meter.

Komponen penyusun biomassa fitoplankton sebagian besar merupakan


fitoplankon yang berukuran sangat kecil yaitu dari golongan picoplankton (0,2 – 2
µm) dan nanoplankton (2 – 20 µm). Fitoplankton berukuran kecil ini memberikan
sumbangan yang besar terhadap total biomassa fitoplankton dan produksi primer.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sumbangan fraksi picoplankton terhadap
total biomassa dan produksi primer dapat berkisar antara 65 – 81 % dan 66 –
82 %. Sedangkan sumbangan fraksi nanoplankton terhadap total biomassa dan
produksi primer fitoplankton berkisar antara 59 – 88 % dan 20 – 85 %. Sementara
mikroplankton hanya memberikan sumbangan antara 4 – 15 % terhadap total
biomasaa dan 5 – 15 % terhadap total produksi primer (Charpy, 1996; Wang et
al., 1997; Mallone et al., 1993 dalam Lessard & Murrel, 1998; Wen & Lin, 2003).
Dari beberapa penelitian yang dilakukan, Wen & Lin (2003) memberikan hasil
yang cukup berbeda dalam nilai kontribusi picoplankton terhadap total biomassa
dan produksi primer. Dari hasil penelitiannya diperoleh kontribusi picoplankton
terhadap total biomassa fitoplankton berkisar antara 8 – 9 %, sementara kontribusi
picoplankton terhadap total produksi primer adalah 3 – 10 %. Nilai ini jauh lebih
kecil bila dibandingkan beberapa penelitian lainnya, hal ini diduga karena Wen &
Lin melakukan pengamatan di kolam air asin yang bersifat alkalin.
24

Menurut Parson et al. (1984) perubahan nilai biomassa fitoplankton pada


selang waktu tertentu dapat menunjukkan nilai pertumbuhan spesifik dari
fitoplankton tersebut, dan dapat digambarkan melalui persamaan berikut:

µ= ln (Br/B0)/δt = ln [(B0 + Y)/B0)/ δt

dimana:

µ = perubahan biomassa fitoplankton


Br = biomassa fitoplankton akhir
B0 = biomassa fitoplankton awal
δt = interval waktu antara pengukuran B0 dan Bf
Y = Br – B0

2.4 Pembentukan biomassa zooplankton

Pembentukan biomassa zooplankton ditentukan oleh jumlah substansi atau


energi yang dapat dimanfaatkan oleh zooplankton sebagai makanannya. Makanan
zooplankton sangat beragam bergantung pada jenis dan ukuran zooplankton,
beberapa penelitian menunjukkan bahwa substansi yang sering dimanfaatkan oleh
zooplankton adalah biomassa fitoplankton (Turner, 1987; Lessard & Murrel,
1998; Liu & Dagg, 2003; Nuruhwati, 2003; Sarnele 2005), bakteri (Agasild &
Nōges, 2005), protozoa (Scnetzer & Charon, 2005), detritus organik (Turner,
1987), atau bahkan zooplankton lain yang berukuran lebih kecil (Turner, 1987).

Banyaknya jumlah biomassa makanan yang dimanfaatkan tersebut akan


menentukan pertumbuhan dari zooplankton. Pemanfaatan biomassa makanan
oleh zooplankton dilakukan melalui aktivitas grazing. Aktivitas grazing dari
zooplankton dilakukan melalui mekanisme filtrasi dan pemilihan makanan. Laju
filtrasi yang dilakukan oleh zooplankton terkait dengan ukuran tubuh, namun hal
ini dapat bervariasi antar individu bergantung pada kondisi suhu dan konsentrasi
makanan (Parson et al., 1984). Secara umum laju filtrasi Copepod terhadap
mangsanya akan meningkat seiring dengan bertambahnya ukuran tubuh.
Sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah volume air yang
25

disaring akan menjadi lebih kecil pada saat konsentrasi makanan naik. Laju
filtrasi zooplankton pada periode waktu tertentu dapat diukur sebagai penurunan
konsentrasi sel fitoplankton pada periode waktu yang sama, sehingga pada saat
laju grazing zooplankton melampaui laju pertumbuhan fitoplankton, maka dapat
menyebabkan penurunan biomassa fitoplankton (Liu & Dagg, 2003; Lessard &
Murrel, 1998).

Zooplankton memanfaatkan fitoplankton sebagai makanan dalam jumlah


yang cukup besar. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Liu & Dagg (2003)
menunjukkan bahwa laju pemangsaan mesozooplankton terhadap fitoplankton
berukuran > 20 µm adalah 86 % dari laju pertumbuhan fitoplankton tersebut.
Sementara hasil penelitian Nuruhwati (2003) menunjukkan bahwa grazing
zooplankton di perairan Teluk Jakarta dapat menurunkan standing stock
fitoplankton antara 11,45 – 18,84 % setiap harinya. Hasil penelitian lainnya yang
dilakukan oleh Kaswadji et al. (1993) dalam Nuruhwati (2003) di perairan pantai
Bekasi menunjukkan bahwa dampak pemangsaan zooplankton terhadap biomassa
fitoplankton adalah hilangnya 38 % biomassa fitoplankton setiap harinya.

Seperti halnya larva ikan, zooplankton juga melakukan proses seleksi


terhadap mangsanya, seleksi dilakukan menurut jenis dan ukuran mangsa. Proses
seleksi inilah yang menentukan jenis mangsa yang dimakan dan pola perilaku
makan dari zooplankton. Sebagian besar zooplankton adalah pemakan
fitoplankton, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa sesungguhnya
zooplankton bersifat omnivor yang memakan baik fitoplankton maupun
zooplankton lain yang berukuran lebih kecil. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Turner (1987) terhadap komposisi feces Copepod jenis Centropages velificatus
(mesozooplankton) menunjukkan bahwa dalam feces Copepod tersebut ditemukan
fitoplankton, potongan tubuh Crustacean dan partikel-partikel detritus. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa Copepod jenis C. velificatus bersifat omnivor.
Proses seleksi selanjutnya ditunjukkan oleh kecenderungan Copepod ini untuk
memilih dinoflagelata jenis Prorocentrum compressum bila dibandingkan dengan
diatom yang berukuran sama yaitu jenis Coscinodiscus radiatus. Dari hasil
26

pengamatan diketahui bahwa P. compressum ditemukan dominan dalam feces,


padahal di perairan kelimpahan fitoplankton didominansi oleh C. radiatus (41 %).

Dari penelitian yang dilakukan selanjutnya oleh Schnetzer & Caron


(2005), diketahui ternyata Copepod memang kurang menyukai diatom sebagai
mangsanya. Diatom memegang peranan yang tidak terlalu penting dalam siklus
hidup Copepod, hanya beberapa taksa diatom dapat mempengaruhi penetasan
telur Copepod karena dapat menghasilkan gugus aldehid reaktif (Miralto et al.
1993; Ianora et al., 2004 dalam Scnetzer & Caron, 2005).

Selain dinoflagelata, ternyata Copepod juga memilih protozoa jenis ciliata


dan mikrozooplankton seperti Clausocalanus spp. Hasil penelitian Wiadnyana &
Rassoulzadegan (1989) menunjukkan bahwa Copepod lebih menyukai ciliata bila
dibandingkan dengan dinoflagellata. Ciliata menyumbang 67 % dari total
makanan yang dicerna oleh Copepod jenis Acartia clausi dan 87 % dari total
makanan yang dicerna oleh Copepod jenis Centropages typicus. Hasil penelitian
Scnetzer & Caron (2005) menunjukkan bahwa kontribusi ciliata mencapai 81 %
dari total karbon yang dicerna oleh Copepod. Sementara biomassa
mikrozooplankton yang hilang akibat pemangsaan oleh Copepod adalah 4,6 % per
hari.

Terkait dengan pemilihan makanan sesuai dengan ukuran tubuh


zooplankton, Liu & Dagg (2003) menunjukkan bahwa mikrozooplankton
mempunyai kecenderungan untuk memangsa fitoplankton berukuran 5 – 20 µm
bila dibandingkan dengan fitoplankton berukuran kurang dari 5 µm atau lebih dari
20 µm, walaupun secara uji statistik laju konsumsi mikrozooplankton terhadap
ketiga fraksi ukuran tidak berbeda nyata. Hal ini ditunjukkan oleh laju grazing
yang lebih tinggi terhadap fitoplankton berukuran 5 – 20 µm, bila dibandingkan
dengan fitoplankton lain yang berukuran lebih kecil atau lebih besar. Sementara
mesozooplankton lebih cenderung memakan fitoplankton berukuran lebih besar
dari 20 µm, dimana lebih dari 80% dari pertumbuhan harian fitoplankton ini
dikonsumsi oleh mesozooplankton. Hasil penelitian Liu & Dagg mendukung
hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Turner (1987) mengenai komposisi
makanan Copepod yang dilihat dari isi fecesnya. Dari hasil penelitiannya
27

terhadap feces Centropages velificatus (mesozooplankton), Turner tidak


menemukan fitoplankton berukuran kecil dalam jumlah yang banyak. Hal ini
menunjukkan bahwa C. velificatus melakukan seleksi terhadap mangsa berukuran
yang lebih besar saja sebagai makanannya. Penelitian lainnya yang dilakukan
oleh Agasild & Nōges (2005) menunjukkan bahwa laju grazing metazooplankton
terhadap fitoplankton lebih tinggi bila dibandingkan laju grazing metazooplankton
terhadap bakteri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metazooplankton lebih
memilih mangsa yang berukuran lebih besar bila dibandingkan dengan mangsa
yang berukuran kecil.

2.5 Makanan alami larva ikan

Siklus hidup ikan diawali saat mulai terjadi proses pembuahan,


perkembangan embryo, penetasan telur menjadi larva dan kemudian tumbuh
menjadi juvenile. Fase awal larva ikan adalah saat larva masih belum
berkembang morfologi dan fisiologinya, larva ikan akan memanfaatkan kuning
telur yang dibawa saat menetas sebagai sumber energinya, fase ini disebut dengan
fase endogenous feeding. Tahapan selanjutnya kuning telur akan menghilang dan
larva berkembang memiliki kemampuan untuk mencari makan sendiri yang
bersifat planktonik, tahap ini disebut sebagai tahap eksogenous feeding (Kendall
et al., 1984 dalam Alemany, 2003). Menurut Hjort (1914) dalam Govoni (2005)
kelangsungan hidup larva sangat menentukan tingkat kesuksesan proses
rekruitmen populasi ikan di wilayah tertentu. Ada dua postulat yang
dikemukakan oleh Hjort berkaitan dengan keberhasilan proses rekruitment yaitu
kelangsungan hidup larva dipengaruhi oleh (1) variasi spasio temporal dalam
ukuran dan komposisi pakan alami dan (2) penyebaran dan masa tinggal larva dan
kondisi lingkungan yang optimal.

Makanan alami bagi larva ikan yang baru memasuki eksogenous feeding
adalah organisme planktonik yang ukurannya sangat kecil dan sesuai dengan
bukaan mulut larva seperti fitoplankton dan zooplankton. Kemampuan makan
larva pertama kali sangat bergantung pada ukuran bukaan mulut larva (Imanto &
Melianawati, 2003; Insan et al., 2002; Laurence, 1984, Lough, 1984). Bukaan
mulut larva ikan saat pertama kali mencari makan berbeda-beda menurut spesies,
28

misalnya larva kakap merah (Lates spp) dan kerapu bebek (Epinephelus spp)
mempunyai ukuran bukaan mulut pertama adalah 120 μm, sementara larva L.
argentimaculatus mempunyai bukaan mulut 145 μm (Imanto & Melianawati,
2003), pada larva ikan betutu bukaan mulut pertama berukuran 1,0 – 2,8 µm
(Insan et al., 2002).

Ukuran bukaan mulut menentukan jenis makanan apa yang dapat


dimangsa oleh larva, dan hal ini yang menjadi salah satu penyebab adanya
selektifitas dalam proses makan larva ikan. Beberapa penelitian mengenai
makanan larva ikan menunjukkan bahwa makanan utama larva ikan didominansi
oleh organisme planktonik, seperti yang dilakukan oleh Voss (2002), Lough
dalam Werner (2000), Hirakawa et al. (1997) dalam Hao Shieh & Sheng Ciu
(2002), Rossi et al. (2006), Pepin & Dower (2007). Pada awal proses makan,
nauplii Copepoda lebih banyak dimanfaatkan atau terserap oleh sebagian besar
larva ikan (Voss, 2002; Conway et al., 1998; Tudela et al., 2002 dalam Rossi et
al., 2006), atau bahkan pada beberapa jenis ikan fitoplankton lebih banyak
dijadikan mangsa utama,misalnya larva ikan betutu berumur 3 hari memanfaatkan
fitoplankton jenis Coelostrum sp (Insan et al.,2002).

Hasil penelitian Voss (2002) menunjukkan bahwa komposisi isi perut


larva ikan sprat adalah sebagai berikut: nauplii (49,8 %), fase Copepod Acartia
yang terdiri dari A. bifilosa, A. longiremis, A. tonsa (35,1 %), cladocera jenis
Bosmina coregoni maritime (3,7 %), Temora longicornis sebanyak (1,5 %),
Pseudocalanus elongatus linutus sebanyak (0,9 %), Centropages hamatus (0,3
%), Evadne normannii (0,1 %), dan Podon spp (0,4 %). Selain jenis-jenis diatas
juga ditemukan polychaeta sebanyak 0,1 %, bivalvia 0,4 %, gastropoda 0,1 %
dan diatomacea 0,9 %.

Hasil penelitian Voss (2002) lainnya terhadap komposisi isi perut larva
ikan cod (Gadus morhua) menunjukkan bahwa isi perut larva ikan cod
didominansi oleh nauplii (86,4 %), fase Copepod calanoid (9,1 %), dan Bosmina
dan Evadne masing-masing hanya ditemukan sebanyak 0,1 %. Dari keseluruhan
isi perut larva ikan cod jenis plankton diatom dan dinoflagellata hanya ditemukan
sebanyak 0,1 %. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya terhadap
29

komposisi isi perut larva ikan cod di George Bank yang dilakukan oleh Lough
(tidak dipublikasikan) dalam Werner et al. (2000) yang menunjukkan bahwa
mangsa utama larva ikan cod di George bank adalah organisme planktonik
golongan calanoid seperti Calanus finmarchicus, Pseudocalanus spp dan Oithona
spp.

Penelitian lainnya terhadap makanan alami larva telah dilakukan terhadap


larva ikan anchovy (Engraulis sp). Di Jepang, Hirakawa et al. (1997) dalam Hao
Shieh & Sheng Ciu (2002), menemukan bahwa makanan larva ikan anchovy
Jepang (Engraulis japonicus) adalah Copepodit dari Paracalanus dan Oithona.
Jenis ikan anchovy lainnya di perairan Mediterania (E. encrasicoulus) juga
ditemukan mengkonsumsi fase nauplii dan Copepodit dari Copepod (Conway et
al., 1998; Tudela et al., 2002 dalam Rossi et al., 2006).

Larva ikan biasanya melakukan seleksi terhadap mangsanya. Variasi yang


terjadi pada komposisi makanan larva ikan menunjukkan adanya ketergantungan
ukuran komposisi makanan berdasarkan variasi musim dan ukuran larva. Hal ini
menjadi indikasi bahwa larva melakukan seleksi terhadap mangsanya, yang
menunjukkan adanya perubahan kecenderungan makan yang berasosiasi dengan
pertumbuhan dari larva tersebut (Pepin & Dower, 2007). Seleksi terhadap
mangsa biasanya dilakukan berdasarkan ukuran dan jenis. Ukuran mangsa
disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut larva, sehingga semakin besar larva
maka mangsa yang dimakan pun mempunyai ukuran lebih besar. Pada larva ikan
sprat konsumsi nauplii berkurang saat panjang tubuh larva bertambah. Saat larva
semakin besar (8 – 10 mm) dalam isi perut larva mulai ditemukan Cladocera yang
jumlahnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya ukuran larva
(menjadi 10 % saat panjang larva 16 mm). Sementara seleksi terhadap jenis
makanan ditunjukkan pada saat larva ikan sprat berukuran 8 – 10 mm yang lebih
memilih Acartia spp walaupun di lokasi yang sama masih banyak ditemukan
Copepod jenis lainnya (Voss, 2002). Seleksi terhadap jenis makanan juga
ditunjukkan oleh larva ikan cod yang menghindari semua Copepodit Acartia spp,
satu-satunya Copepodit yang dimakan oleh larva ikan cod adalah P. elongates.
30

Selain komposisi jenis dan ukuran, konsentrasi atau kelimpahan mangsa


juga mempengaruhi pertumbuhan larva. Salah satu yang menentukan
keberhasilan proses makan oleh larva ikan adalah pertemuan antara larva dengan
mangsanya. Sehingga keberadaan larva dan mangsanya akan saling
mempengaruhi kondisi kelimpahan dan distribusinya. Hal ini dibuktikan oleh
penelitian yang dilakukan oleh Runge et al. (2000) yang menunjukkan bahwa
pertumbuhan populasi larva ikan dipengaruhi oleh variasi spasial dan temporal
dari produksi Calanus finmarchicus yang merupakan makanan utama larva ikan.
Kondisi sebaliknya dapat juga terjadi dimana kelimpahan larva ikan dapat
mengontrol populasi Copepod, seperti hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Houde & Schekter (1978) dalam Laurence (1984) yang menunjukkan bahwa
larva Sea bream dapat menstimulasi penyebaran dari Copepod pada waktu yang
bersamaan.

2.6 Perkembangan larva ikan

Secara ontogenetik, larva ikan mengalami perubahan morfologi


berdasarkan pada fase perkembangannya. Bebeberapa penelitian telah dilakukan
untuk mengetahui tahapan perubahan dari beberapa jenis larva ikan (Faria et al.,
2006; Re & Meneses, 2008). Fase perkembangan awal dari ikan ada tiga tahap
yaitu fase kuning telur, fase larva dan juvenile sebelum akhirnya menjadi ikan
dewasa.

Fase kuning telur adalah fase pertama setelah ikan menetas dari telur.
Fase ini diawali dengan menetasnya telur menjadi larva dan diakhiri dengan
habisnya kuning telur yang menempel pada tubuh larva (Re & Meneses, 2008).
Pada fase ini larva ikan belum mengambil makanan dari luar tubuhnya. Kuning
telur yang menggantung di perutnya menjadi sumber makanan bagi larva tersebut.
Fase ini dikenal juga dengan sebutan fase “endogenous feeding”.

Fase larva adalah fase dimana ikan telah menghabiskan kuning telurnya
(Re & Meneses, 2008) dan mulai mencari makan dari luar tubuhnya. Fase awal
mencari makan dari luar tubuhnya dikenal dengan fase “eksogenous feeding”.
Tahap larva dibagi menjadi tiga berdasarkan perkembangan notochord selama
31

pembentukan sirip caudal, yaitu fase preflexion, flexion dan postflexion. Fase
preflexion diawali dengan habisnya kuning telur dan diakhiri dengan terjadinya
lengkungan (flexion) pada ujung notochord. Fase flexion diawali dengan mulai
melengkungnya ujung notochord dan diakhiri dengan tulang hypural (sirip caudal)
yang sudah berada pada posisi vertikal. Fase post flexion diawali dengan
pembentukan sirip caudal dan diakhiri dengan bentuk sirip ekor yang sempurna.
Fase juvenile adalah fase dimana sirip ekor jumlahnya sudah lengkap dan
morfologi ikan sudah menyerupai ikan dewasa.

Gambar 7. Tahap perkembangan larva ikan (Sumber: Re & Meneses, 2008).

2.7 Hipotesis match and mismatch antara larva ikan dengan


fitoplankton dan zooplankton di laguna Pulau Pari

Salah satu penentu keberhasilan hidup larva adalah adanya makanan


yang cukup yang memenuhi kebutuhan larva. Tetapi tidak hanya kuantitas dan
kualitas makanan saja yang menentukan keberhasilan proses makan dari larva
32

ikan, namun ketepatan waktu antara produksi larva dan produksi makanan
alaminya juga memegang peranan yang sangat penting. Hal ini dirumuskan oleh
Cushing (1975) dalam hipotesis yang diajukannya match and mismatch
hypothesis. Hipotesis ini diajukan untuk menjelaskan adanya variasi dalam proses
rekrutmen di alam. Dalam hipotesis ini dijelaskan mengenai hubungan antara
waktu produksi larva dengan waktu produksi nauplii zooplankton sebagai
makanan larva. Ada tiga kondisi yang dijelaskan oleh Cushing (1975) mengenai
kondisi antara produksi larva dengan produksi nauplii zooplankton, yaitu (1)
makanan hadir pada fase awal produksi larva, (2) makanan hadir pada saat-saat
fase terakhir dari produksi larva dan (3) makanan hadir pada saat pertengahan
masa produksi larva (Gambar 8).

Pada kondisi pertama dimana produksi makanan terjadi pada fase awal
produksi larva, maka makanan akan tersedia lebih awal dan ketersediaanya akan
naik secara perlahan-lahan namun jumlahnya sedikit, karena sudah ada tekanan
pemangsaan oleh larva yang mulai ada dalam jumlah yang tidak banyak. Pada
kondisi ini kelangsungan hidup larva akan rendah, karena walaupun larva
mendapatkan makanan, namun ketersediaan makanan sedikit sehingga
pertumbuhan larva akan lambat dan larva akan mudah dimangsa oleh organism
lain yang lebih besar. Pada kondisi kedua dimana makanan hadir pada saat-sat
terakhir produksi larva, komponen makanan akan tumbuh dengan sangat cepat,
karena hampir tidak ada lagi tekanan pemangsaan oleh larva ikan yang jumlahnya
mulai habis. Pada kondisi ini kelangsungan hidup larva akan sangat rendah
namun larva yang bertahan hidup akan mempunyai peluang tumbuh dengan baik,
karena makanan tersedia dalam jumlah yang cukup banyak sementara persaingan
dari sesama larva dalam memanfaatkan makanan rendah, namun dapat juga
menjadi kondisi yang berbahaya bagi larva karena ada kemungkinan larva tidak
akan menemukan makanan pada saat kuning telur yang menempel di tubuhnya
habis. Kondisi ketiga dimana makanan hadir pada pertengahan produksi larva
merupakan kondisi dimana larva akan mendapatkan suplai makanan selama fase
perkembangannya, walaupun dalam jumlah yang tidak maksimal, kondisi ini
merupakan kondisi yang paling ideal bagi keberhasilan hidup larva dan dapat
menunjang keberhasilan proses rekrutmen.
33

Egg larval and nauplii


per unit volume
Naupli/larva

time

Gambar 8. Hipotesis Cushing (1975) mengenai kondisi match dan mismatch


antara larva dengan makanannya, jumlah nauplii per larva
menunjukkan tingkat keberhasilan makan, tiga kurva yang
terbentuk menunjukkan tiga kondisi produksi dan tiga kondisi
keberhasilan makan.
III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di perairan laguna Pulau Pari, Kepulauan Seribu.


Laguna Pulau Pari terletak sekitar 40 km dari kota Jakarta dan merupakan
gugusan pulau-pulau dan goba-goba yang dikelilingi oleh terumbu karang.
Terdapat lima pulau yaitu Pulau Tikus, Pulau Burung, Pulau Kongsi, Pulau
Tengah dan Pulau Pari. Goba yang terdapat di gugusan Pulau Pari ada delapan
yaitu Goba Soa Besar, Goba Kuanji, Goba Lapangan Pasir, Goba Ciaris, Goba
Besar 1, Goba Besar 2, Goba Kurungan dan Goba Buntu. Selain itu terdapat
kaloran (pintu masuk air) di beberapa lokasi yang menghubungkan perairan luar
dan perairan dalam laguna. Kaloran tersebut adalah Kaloran besar, Kaloran
Lagun dalam, Kaloran Tanah Miring, Kaloran Kelapa tinggi dan Kaloran Ciadung
(Kaswadji, 1997; Sedyowati, 2005). Pengamatan dilaksanakan di lima lokasi
sampling yaitu P. tikus (st. 1), P. Burung (st. 2), P. Kongsi Barat (st. 3), Tubir
luar (st. 4) dan dermaga LIPI (st. 5). Lokasi pengambilan sampel ditentukan
menurut kedalaman goba dan kemudahan mengakses lokasi sampling, sementara
stasiun luar tubir dipilih sebagai pembanding dengan stasiun lainnya yang ada di
dalam laguna.

Gambar 9. Stasiun pengambilan sampel


36

Penelitian dilaksanakan selama enam bulan mulai Juni –Nopember 2010.


Selama Juni – Agustus lokasi penelitian mendapat pengaruh dari musim timur,
sementara selama September – Nopember mendapat pengaruh dari musim
peralihan kedua yaitu peralihan dari musim timur ke musim barat.

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui trofodinamik fitoplankton –


zooplankton di perairan Laguna Pulau Pari sehingga dapat dilihat kestabilan
ketersediaan makanan alami bagi larva ikan yang memanfaatkan perairan laguna
sebagai daerah asuhan. Untuk dapat menjawab tujuan utama penelitian ini akan
dilaksanakan lima sub penelitian, yaitu (1) penelitian kualitas lingkungan perairan
untuk mengetahui kondisi kimia fisik perairan yang mempengaruhi keberadaan
fitoplankton, zooplankton dan larva di laguna Pulau Pari, (2) penelitian biomassa
dan struktur komunitas fitoplankton, zooplankton dan larva ikan untuk
mengetahui besarnya pembentukan biomassa dan komponen penyusun organisme
planktonik, (3) penelitian pertumbuhan dan pemangsaan fitoplankton dan
zooplankton (4) penelitian pertumbuhan dan perkembangan larva ikan. (5)
penelitian isi perut larva

3.3 Metode dan Desain Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua metoda, yaitu


metoda deskriptif analitik dan eksperimen. Metode deskriptif analitik dilakukan
pada penelitian (1) kualitas lingkungan perairan, (2) biomassa dan struktur
komunitas fitoplankton, zooplankton dan larva ikan, (3) pertumbuhan dan
perkembangan larva ikan. Metode deskriptif analitik dilakukan untuk
menggambarkan pola sebaran kondisi kualitas air, biomassa dan struktur
komunitas fitoplankton, zooplankton dan larva ikan serta pertumbuhan harian dari
larva ikan dominan yang ada di laguna Pulau Pari.

Eksperimen dilakukan untuk mengetahui tingkat pemangsaan organisme


pada tingkat trofik yang tinggi terhadap organisme pada tingkat trofik yang lebih
37

rendah. Metode eksperimen dilakukan pada penelitian (1) pertumbuhan dan


pemangsaan fitoplankton dan zooplankton serta (2) jenis makanan alami larva
ikan. Eksperimen ini dirancang sedemikian rupa sehingga hasil yang diperoleh
dapat menunjukkan besarnya pemangsaan zooplankton terhadap fitoplankton
berdasarkan pada fraksi ukuran (nano, mikro dan meso) serta besarnya
pemangsaan larva ikan terhadap fitoplankton dan zooplankton (nano, mikro dan
meso). Eksperimen ini dirancang dengan rancangan acak kelompok dengan 28
perlakuan dan tiga kelompok. Perlakuan yang dicobakan adalah komposisi
plankton dalam wadah dan kelompok adalah ulangan yang dilaksanakan pada
waktu yang berbeda. Tabel 1 menunjukkan desain eksperimen yang dilaksanakan.

Pada penelitian ini sampel nanofitoplankton dikumpulkan dengan


menyaring air laut menggunakan plankton net 20 µm dan 5 µm. Plankton yang
lolos dari plankton net 20 µm dan tertampung di plankton net 5 µm, dikumpulkan
dan ditampung dalam wadah 1,5 L dan digunakan sebagai stok nanofitoplankton.
Sampel mikrofitoplankton, mikrozooplankton dan mesozooplankton dikumpulkan
dengan cara menarik plankton net 20 µm, 40 µm dan 100 µm dengan diameter
mulut net 30 cm, selama 3 x 2 menit, dengan kecepatan 1 – 2 knot. Sampel yang
diperoleh kemudian ditampung dalam wadah 1,5 L dan dihitung kepadatannya,
untuk selanjutnya masing-masing digunakan sebagai stok mikrofitoplankton,
mikrozooplankton dan mesozooplankton. Sampel larva diperoleh dari hatchery
ikan. Jenis larva ikan yang digunakan adalah larva ikan kakap putih (Lates
calcarifer).

Penempatan sampel dalam botol satuan percobaan dilakukan dengan


metode pengenceran, sehingga diketahui berapa konsentrasi awal sampel plankton
dalam botol satuan percobaan. Jumlah larva ikan yang dimasukkan ke dalam
satuan percobaan adalah 5 ekor setiap botol perlakuan yang mengikutsertakan
larva ikan dalam perlakuannya.
38

Tabel 1. Desain rancangan percobaan uji coba pemangsaan

Perlakuan U1 U2 U3
1 F
2 N
3 F+N
4 Mi + F
5 Mi + N
6 Mi + F + N
7 Me + F
8 Me + N
9 Me + Mi
10 Me + F + N
11 ME + F + Mi
12 Me + N + Mi
13 Me + F + N + Mi
14 L+F
15 L+N
16 L + Mi
17 L + Me
18 L+F+N
19 L + F + Mi
20 L + F + Me
21 L + N + Mi
22 L + N + Me
23 L + Mi + Me
24 L + N + F + Me
25 L + N + F + Mi
26 L + N + Me + Mi
27 L + F + Me + Mi
28 L + N + F + Mi + Me
Keterangan:
F : Mikrofitoplankton
N : Nanofitoplankton
Mi : Mikrozooplankton
Me : Mesozooplankton
L : Larva

Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, maka penelitian ini dilakukan


dengan cara menempatkan plankton yang telah disaring ke dalam wadah sesuai
dengan rancangan yang telah di buat (Tabel 1.). Air laut yang telah disaring
39

sesuai ukuran kemudian ditempatkan dalam wadah transparan bervolume 1,5 liter
yang ditutup menggunakan plankton net berukuran 5 µm, sehingga tetap terjadi
pertukaran air dalam wadah namun tidak mempengaruhi komposisi organisme
yang diamati. Pengamatan dilakukan setiap 6 jam selama 24 jam, dan dimulai
pada jam ke-2 setelah inkubasi. Dua jam pertama digunakan untuk proses
aklimatisasi plankton setelah mengalami stress akibat penyaringan. Masing-
masing perlakuan disiapkan 4 wadah, untuk diambil setiap 6 jam.

Pada setiap kali pengamatan, air dari wadah yang diambil, kembali
disaring dengan plankton net sesuai dengan organisme yang akan diamati.
Misalkan pada perlakuan 6 (Mikrozooplankton + Nanofitoplankton +
Mikrofitoplankton), air dari wadah disaring terlebih dahulu menggunakan
plankton net berukuran mata jaring 45 µm. Air yang tersaring digunakan untuk
mengamati pertumbuhan mikrozooplankton, air yang lolos disaring ulang
menggunakan jaring plankton ukuran 20 µm, air yang tersaring digunakan untuk
mengamati pertumbuhan mikrofitoplankton sedangkan air yang lolos digunakan
untuk mengamati pertumbuhan nanofitoplankton. Wadah dengan perlakuan
lainnya akan mengalami prosedur yang sama secara bertingkat sesuai komposisi
awal ukuran plankton. Air sampel kemudian dibagi dua, yang pertama digunakan
untuk pengukuran biomassa dan yang kedua digunakan untuk penghitungan
kelimpahan. Sementara air yang akan digunakan untuk analisis biomassa dan
kelimpahan zooplankton ditambahkan formaldehyda sampai konsentrasi akhir 2
%. Desain experimen pemangsaan ditampilkan pada Gambar 10.
40

Air laut
Stok N Stok F Stok Mi Stok Me Stok L

Plankton net 5 µm

Stok air laut steril


t0 t1 t2 t3 t4

Botol perlakuan

P1 P2 P3 P4 P5 P6 …………………........................................... P27 P28

Diambil pada t4
Diambil pada t3
Diambil pada t2
Diambil pada t1
Diambil pada t0

100 µm 40 µm 20 µm
Sampel
mikrofitoplankton

Sampel Sampel Sampel nanofitoplankton


mesozooplankton mikrozooplankton

Gambar 10. Desain penelitian experimen pemangsaan.


41

3.4 Pengambilan Sampel

3.4.1 Pengamatan kualitas air

Pengambilan sampel untuk mengetahui kondisi kualitas air perairan laguna


Pulau Pari dilakukan sebanyak sepuluh kali dan dilakukan setiap dua minggu
selama enam bulan berturut-turut, kecuali pada September hanya dilakukan 1 kali
dalam satu bulan. Pengambilan sampel air dilakukan pada air permukaan
(kedalaman antara 0 – 1,5 meter). Sampel air diambil dengan menggunakan botol
Van Dorn yang bervolume 6 liter. Sampel air kemudian disimpan dalam wadah
sampel dan didinginkan tanpa diberi pengawet.

3.4.2 Penelitian biomassa dan struktur komunitas plankton

Pengambilan sampel untuk mengetahui kondisi biomassa dan struktur


komunitas fitoplankton dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel untuk
pengamatan kualitas air. Pengambilan sampel air dilakukan pada air permukaan
pada kedalaman antara 0 – 1,5 meter. Sampel air diambil dengan menggunakan
botol Van Dorn yang bervolume 6 liter. Sampel air kemudian dibagi dua, 500 ml
digunakan untuk analisis struktur komunitas dan 5.500 ml digunakan untuk
analisis klorofil. Sampel air untuk analisis struktur komunitas diawetkan dengan
larutan lugol sebanyak 1 – 5 % bergantung pada kepadatan sampel, selanjutnya
disimpan untuk dianalisis di laboratorium.

Sampel air untuk analisis klorofil kemudian disaring menggunakan


plankton net 20 µm, untuk memisahkan nanofitoplankton dengan
mikrofitoplankton. Air yang tersaring oleh plankton net 20 µm digunakan untuk
analisis klorofil mikrofitoplankton. Air yang lolos kemudian diambil 600 ml
untuk analisis klorofil nanofitoplankton. Sampel air untuk analisis klorofil
langsung disaring menggunakan fiber filter 0,45 µm dengan bantuan vacum pump.
Klorofil yang tersaring pada fiber filter kemudian dibungkus rapat menggunakan
aluminium foil dan diberi kode sampel.

Sampel air yang digunakan untuk analisis zooplankton diambil dengan


cara menarik plankton net ukuran 40 µm selama 2 x 3 menit dengan
42

menggunakan perahu dengan kecepatan 1 – 2 knot, pada malam hari antara pukul
19.00 – 23.00. Sampel plankton yang tersaring kemudian dilarutkan kedalam 20
liter air laut. Selanjutnya 20 liter air laut yang telah berisi plankton tersebut
disaring kembali menggunakan plankton net ukuran 100 µm untuk mendapatkan
sampel mesozooplankton dan 40 µm untuk mendapatkan sampel
mikrozooplankton. Sampel kemudian diawetkan dengan formaldehyda 4 %
untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium.

Pengambilan sampel larva dilakukan pada malam hari yaitu antara pukul
19.00 – 23.00. Dilakukan dengan menggunakan larva net yaitu jaring khusus
untuk menangkap larva dengan ukuran mata jaring 500 µm, panjang 1,5 meter,
diameter mulut jaring 60 centimeter. Larva net ditarik dengan kecepatan 1 – 2
knot selama 10 menit. Sampel larva yang tertangkap kemudian ditempatkan
dalam wadah dan diawetkan menggunakan formaldehyda 4 %, untuk selanjutnya
dianalisis di laboratorium.

3.4.3 Penelitian pertumbuhan dan pemangsaan plankton

Sampel yang diamati dalam penelitian ini adalah sampel plankton dengan
berbagai fraksi yang dicobakan pada eksperimen pemangsaan yaitu
nanofitoplankton (N), mikrofitoplankton (F), mikrozooplankton (Mi),
mesozooplankton (Me) dan larva ikan. Pengambilan sampel dilakukan dari botol
satuan percobaan setiap 6 jam selama 24 jam, pada setiap perlakuan yang
dicobakan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menyaring setiap satuan
percobaan menggunakan plankton net yang sesuai dengan perlakuan. Sampel
nanofitoplankton dan mikrofitoplankton langsung disaring menggunakan fiber
filter 0,45 µm dan dibungkus alumunium foil, sementara sampel zooplankton
diawetkan menggunakan formaldehyda 4 %, untuk selanjutnya dianalisis di
laboratorium.
43

3.4.4 Penelitian pertumbuhan larva ikan

Pengambilan sampel larva ikan untuk pengamatan pertumbuhan dan


perkembangan larva ikan dilakukan setiap hari selama 8 hari berturut-turut.
Pengambilan sampel dilakukan di sekitar Goba Kuanji dengan menggunakan
bongo net. Larva net ditarik selama 10 menit dengan kecepatan 1 – 2 knot.
Sampel larva yang tertangkap kemudian diawetkan menggunakan formaldehyda
4 %. Sampel selanjutnya disortir dan dianalisis di laboratorium.

3.4.5 Penelitian jenis makanan larva ikan

Pengamatan isi perut larva ikan dilakukan pada larva yang digunakan
dalam eksperimen pemangsaan. Jenis larva yang digunakan adalah larva ikan
kakap putih (Lates calcalifer). Setiap larva yang tertangkap kembali dibedah isi
perutnya kemudian diamati jenis makanan yang ada dalam isi perutnya.

3.5 Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang diperlukan untuk penelitian ini ditampilkan dalam
Tabel 2.

Tabel 2. Alat dan bahan penelitian

Penelitian Bahan Alat


Kualitas Air Sampel air botol sampel air
botol van dorn
current meter
keping sechi
Thermometer
Refraktometer
pH meter
spektrofotometer
glass ware untuk skala
laboratorium
44

Tabel 2. lanjutan

Jenis makanan Sampel larva Jaring larva


larva Formaldehyda 4 % Botol sampel
Mikroskop binokuler
Gelas objek
Dissecting set

Biomassa sampel air tidak disaring vacuum pump


fitoplankton glass microfiber (GF/F) Mortar
aceton 90 % Sentrifius
Spektrofotmeter
Struktur sampel air tidak disaring tabung pengendap
komunitas larutan lugol Sifon
fitoplankton Sedwigck Raffter

Biomassa Sampel air yang telah disaring timbangan digital


zooplankton kertas saring Whatman Micrometer

Struktur sampel air yang telah disaring Jaring plankton,


komunitas ukuran pori 45 µm
zooplankton formaldehyda 4 % Sedwigck Raffter
Mikroskop cahaya

Laju grazing sampel air yang disaring dan tidak disaring jaring plankton,
ukuran pori 45 µm
formaldehyda 4 % inkubator contoh
Sedwigck Raffter

3.6 Pengukuran Peubah

3.6.1 Kondisi kualitas air

Peubah yang diukur adalah suhu, salinitas, pH, kecerahan, dan nutrien
(NO3-N, NH4-N, PO4-P dan Si). Pengukuran peubah fisika dilakukan
secara in situ, suhu diukur dengan menggunakan thermometer dan
kecerahan diukur dengan menggunakan keeping secchi. Salinitas dan pH
juga diukur secara in situ menggunakan refraktometer dan pH meter,
sementara konsentrasi NO3-N, NH4-N dan PO4-P diukur di laboratorium
45

dengan metode spektrofotmetri mengacu pada APHA (2005), pengukuran


konsentrasi Si mengacu pada Grasshoff et al. (1983).

3.6.2 Biomassa plankton dan larva ikan

a. Pengukuran biomassa fitoplankton dilakukan dengan metode klorofil.


Pengukuran klorofil-a dilakukan dengan metode spektrofotometri
yang mengacu pada APHA (2005). Sampel air sebanyak 5.500 ml
disaring terlebih dahulu menggunakan plankton net 20 µm. Sampel
plankton yang tersaring oleh 20 µm, merupakan sampel untuk
pengukuran klorofil mikrofitoplankton, sementara plankton yang lolos
dari saringan 20 µm merupakan sampel plankton untuk pengukuran
klorofil nanofitoplankton. Selanjutnya masing-masing sampel
plankton tersebut disaring kembali menggunakan saringan glass
microfiber filter (GF/C, diameter 47 mm, porositas 0,45 µm) dengan
menggunakan bantuan vacum pump (tekanan 200 mm Hg), kemudian
disimpan pada suhu -20oC sampai siap untuk dianalisis di laboratorium
menggunakan metode spektrofotometri. Di laboratorium sampel hasil
saringan diekstraksi menggunakan aceton 90 % sebanyak 10 ml
kemudian digerus sampai halus kemudian disentrifius dengan putaran
3.600 rpm selama 5 menit. Ekstrak sampel kemudian dimasukan ke
dalam cuvette dan diukur penyerapannya (OD) pada panjang
gelombang 750, 664, 647 dan 630 nm. Penggunaan panjang
gelombang 664, 647 dan 630 adalah untuk mendeterminasi klorofil-a,
-b dan -c, sementara panjang gelombang 750 digunakan untuk
mengoreksi kekeruhan. Penghitungan konsentrasi klorofil-a dilkukan
dengan mengikuti persamaan berikut:

Ca = 11,85 (OD664) – 1,54(OD647) – 0,08(OD630)

Dimana:

Ca = konsentrasi klorofil a (mg/L)


46

OD 664,647 dan 630 = optical densities yang telah dikoreksi pada


panjang gelombang 664, 647 dan 630 nm.

Jumlah pigmen klorofil-a kemudian dihitung per unit volume dengan


mengikuti persamaan sebagai berikut:

( )
− ( / 3) =
( 3)

b. Pengukuran biomassa zooplankton dilakukan dengan metode berat kering


(Downing & Rigler, 1984). Air sampel yang mengandung zooplankton
dengan volume yang sama disaring menggunakan kertas saring whatman
no 10. Kertas saring yang akan digunakan sebelumnya dioven terlebih
dahulu selama 24 jam pada suhu 60oC, kemudian didinginkan dalam
desikator selama 2 jam dan ditimbang beratnya. Hasil timbangan
menunjukkan berat kertas saring kosong (awal). Sampel zooplankton
yang disaring dibiarkan beberapa saat sampai air yang terdapat pada kertas
saring tidak ada yang menetes lagi. Kemudian sampel zooplankton
dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 60oC. Selanjutnya
kertas saring dan sampel zooplankton didinginkan dalam desikator selama
2 jam dan kemudian ditimbang menggunakan timbangan digital. Selisih
nilai kertas saring kosong dengan kertas saring yang sudah ditambah
zooplankton adalah berat kering zooplankton. Perlakuan ini berlaku untuk
sampel mikrozooplankton dan mesozooplankton.

c. Pengukuran biomassa larva ikan dilakukan dengan metode berat basah


(Downing & Rigler, 1984), larva ikan yang telah disortir dan diidentifikasi
ditimbang berat basahnya. Sebelum ditimbang larva ikan diletakkan
terlebih dahulu diatas kertas tissue selama beberapa menit sampai sampel
larva benar-benar kering. Timbangan yang digunakan adalah timbangan
digital.
47

3.6.3 Struktur komunitas plankton

a. Struktur komunitas fitoplankton diamati dan dihitung dengan metode


pengendapan seperti yang dikembangkan oleh Utermöhl (1998) dalam
Damar (2003). 100 ml sampel air difiksasi dengan larutan lugol kemudian
dikonsentrasikan menjadi 10 ml dengan cara diendapkan. Supernatan
dibuang dengan cara disifon secara hati-hati. Pengamatan fitoplankton
hanya dilakukan pada komponen mikrofitoplankton. Pengamatan
mikrofitoplankton dilakukan dengan cara mengamati langsung endapan
yang diperoleh dibawah mikroskop dengan pembesaran 4 – 10 kali
objektif. Identifikasi taksa dilakukan dengan mengacu pada buku Yamaji
(1984). Kelimpahan sel dihitung dengan metode Lackey Drop
Microtransect Counting (APHA, 2005) dengan rumus sebagai berikut:
Nf = x x x

Dimana

Nf = jumlah total fitoplankton/zooplankton (sel/L)


n = jumlah rataan individu per lapang pandang
a = luas gelas penutup (mm2)
v = volume air terkonsentrasi (ml)
A = luas satu lapang pandang (mm2)
Vc = volume air dibawah gelas penutup (ml)
V = volume air yang disaring (L)

b. Pengamatan struktur komunitas zooplankton dilakukan dengan cara


memisahkan terlebih dahulu komponen zooplankton yang terdapat dalam
sampel air, dengan cara penyaringan menggunakan saringan berukuran
mata jaring 100 µm dan air hasil saringan menggunakan mata jaring 45
µm. Struktur komunitas zooplankton diamati dengan cara mengambil
subsampel air dari sampel air yang telah disaring. Subsampel diletakkan
pada cawan bogorov kemudian diamati menggunakan mikroskop
stereoskopik dengan pembesaran 10 – 30 kali. Langkah ini berlaku untuk
pengamatan mikrozooplankton dan mesozooplankton. Kelimpahan
48

zooplankton dihitung menggunakan rumus seperti yang digambarkan


Wiadnyana & Wagey (2004) sebagai berikut:

K (individu/m3) = 1/f x ∑ Xn/V

Dimana:
f = fraksionasi
Xn = jumlah total seluruh individu zooplankton yang dicacah pada cawan
penghitung; V = volume air yang disaring

c. Kelimpahan dan identifikasi larva dilakukan dengan cara melakukan sortir


terlebih dahulu terhadap sampel larva yang diperoleh dari lapangan.
Sampel yang sudah disortir dan dibersihkan kemudian diidentifikasi di
bawah mikroskop stereo dengan pembesaran 10 – 30 kali. Identifikasi
dilakukan dengan mengacu pada buku Leis & Carson-Ewart (2000).
Kelimpahan larva dihitung dengan rumus:

N = n / Vtsr

Dimana N adalah kelimpahan larva ikan (ind/m3), n = jumlah larva ikan


yang tercacah (ind), Vtsr = volume air tersaring (Vtsr = l x t x v), dimana l
adalah luas bukaan mulut saringan, t adalah lama penarikan dan v adalah
kecepatan tarikan (m/menit).

3.6.4 Pertumbuhan plankton dan larva

a. Pertumbuhan mikrofitoplankton dan nanofitoplankton dihitung dengan


persamaan yang mengacu pada Parson et al. (1984):

1 ( + ∆ )
= ln
49

Keterangan:
No = Biomassa awal
ΔN = Pertambahan biomassa, dimana
ΔN = Nt – No
T = lama waktu pengamatan (24 jam)

b. Laju pertumbuhan zooplankton dihitung dengan rumus sebagai berikut


(Benke, 1996):

( ∆ / )
g=

dimana Wt adalah rata-rata berat individu pada waktu t; Wt + ∆t adalah


rata-rata berat individu pada waktu t + ∆t, dan ∆t adalah lamanya interval
waktu pengamatan. Laju pertumbuhan diamati dari populasi terkontrol.

c. Pengukuran pertumbuhan larva dilakukan hanya sekali yaitu pada Agustus


2010. Sampling larva ikan untuk mengukur pertumbuhan dilakukan setiap
hari selama delapan hari berturut-turut. Larva yang tertangkap kemudian
diidentifikasi dan diukur panjangnya, serta ditentukan fase
perkembangannya (preflexion, flexion, post flexion, juvenile).
Penghitungan nilai laju pertumbuhan larva dilakukan pada jenis larva ikan
yang dominan tertangkap, yaitu larva Blenniidae. Pertumbuhan larva
ditentukan dengan melihat pola pertumbuhan larva. Pola pertumbuhan
larva dilihat dengan cara mengukur panjang larva dan membuat tabulasi
frekwensi dari ukuran panjang larva. Data ukuran panjang larva
kemudian ditabulasikan dalam bentuk tabel frekwensi panjang dan
dianalisa dengan bantuan program FISAT II. Model ELEFAN I
digunakan untuk mendapatkan nilai L∞ (panjang asimptotik). Analisis
pertumbuhan nilai tengah dilakukan dengan metode Bhatacharya, analisis
pertumbuhan larva dilakukan dengan menggunakan modifikasi model
pertumbuhan Gompertz dengan model pertumbuhan sebagai berikut
(Alemany, 2003):
=
50

Keterangan:
TL = Panjang standar ikan pada umur ke-t (milimeter)
a = Panjang asimtotik (milimeter)
b = konstanta
c = laju pertumbuhan pada fase larva (per hari)

Nilai a didapatkan dari hasil penghitungan dengan metode


ELEFAN 1 yang terdapat dalam program FiSAT II. Nilai b yang
digunakan merupakan rata-rata nilai b yang diperoleh dari penurunan
formula Gompertz dengan memasukan nilai t dari hasil perhitungan
dengan model Von Bertalanfy. Nilai c diperoleh dengan menghitung rata-
rata pertambahan nilai tengah panjang dibagi lama waktu pengamatan.

3.6.5. Pemangsaan zooplankton dan larva

a. Pemangsaan zooplankton terhadap fitoplankton dihitung dengan cara


mengurangi laju pertumbuhan fitoplankton pada perlakuan kontrol (dalam
botol sampel hanya ada nanofitoplankton/mikrofitoplankton saja) dengan
laju pertumbuhan fitoplankton yang dikombinasikan dengan zooplankton
baik mikrozooplankton ataupun mesozooplankton. Selisih nilai yang
diperoleh adalah nilai pemangsaan zooplankton.
b. Penghitungan nilai pemangsaan larva terhadap fitoplankton dan
zooplankton dilakukan dengan cara yang sama dengan poin a, namun
perlakuan kontrolnya saja yang berbeda, disesuaikan dengan nilai
pemangsaan dari plankton yang ingin diketahui.

3.6.6. Penentuan jenis makanan larva

Penentuan jenis makanan larva ikan dilakukan dengan cara pembedahan


isi perut larva. Sampel larva yang akan dibedah adalah sampel larva dari
eksperimen pemangsaan. Sampel larva yang telah diambil dibedah satu
per satu di bawah mikroskop cahaya dengan bantuan syringe. Untuk
51

mendapatkan data yang baik sampel larva yang dibedah berjumlah 30 – 40


ekor. Isi perut larva kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya
dengan pembesaran 4 – 10 kali objektif. Sampel isi perut kemudian
diidentifikasi jenisnya.

3.7 Analisis Data

Data karakteristik kualitas perairan disajikan dalam bentuk tabel dan


grafik serta sebaran horizontal berdasarkan musim, untuk kemudian dianalisis
secara deskriptif. Analisis ragam (ANOVA) digunakan untuk melihat keragaman
antar stasiun dan waktu pengamatan.

Nilai biomassa dan struktur komunitas juga disajikan dalam bentuk tabel
dan grafik, kemudian dianalisis secara deskriptif. Untuk mengetahui keterkaitan
antara nilai biomassa plankton dan larva dengan kondisi kualitas perairan
dilakukan analisis komponen utama (PCA) pada setiap komponen fraksi plankton
terhadap parameter kualitas air. Analisis ragam dilakukan untuk melihat
perbedaan antar waktu dan stasiun pengamatan.
IV. HASIL dan PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Kualitas air

4.1.1 Suhu

Hasil pengukuran suhu perairan di semua stasiun penelitian berkisar


antara 29,03 – 32,75 oC dengan rata-rata 30,25 + 1,03 oC (Lampiran 1.). Suhu di
perairan laguna Pulau Pari tidak menunjukkan fluktuasi yang tajam selama masa
pengamatan. Pola perubahan suhu menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan suhu air mulai pertengahan Juli – Agustus, sedangkan dari September
hingga Nopember suhu air cenderung menurun (Gambar 11). Hasil analisis
ragam pada taraf nyata 5% menunjukkan tidak ada perbedaan nyata antar waktu
pengamatan, namun suhu berbeda nyata antar stasiun pengamatan (Lampiran 9).

3 2 ,0

3 1 ,5

3 1 ,0
suhu ( o C )

3 0 ,5

3 0 ,0

2 9 ,5

2 9 ,0 Ju n Ju l A g u st Sep O kt N op D es
w a k tu s a m p lin g (2 0 1 0 )

Gambar 11. Perubahan rata-rata suhu perairan (oC) menurut waktu pengamatan;
n = 50 (I =0,5 sd).

Suhu perairan sangat dipengaruhi oleh penyinaran dan curah hujan yang
intensitasnya bergantung pada musim. Musim timur terjadi pada Juni – Agustus
sedangkan September – Nopember masuk ke musim peralihan dua dimana curah
hujan mulai meningkat (Illahude & Nontji, 2009). Meningkatnya curah hujan
54

pada musim peralihan dua diduga sebagai salah satu penyebab menurunnya suhu
pada musim ini bila dibandingkan dengan musim timur. Pada musim barat
kondisi suhu perairan cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan musim
lainnya, sedangkan pada musim peralihan barat timur nilai rata-rata suhu perairan
sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan musim peralihan timur barat
(Kaswadji, 1997; Anonim, 2009).

Pola distribusi mendatar dari sebaran suhu di perairan laguna Pulau Pari
menunjukkan bahwa pada musim timur, suhu air di sekitar Pulau Burung dan
Tubir luar menunjukkan kecenderungan lebih tinggi bila dibandingkan dengan
stasiun lainnya (Gambar 12). Stasiun Pulau burung berhadapan dengan stasiun
Tubir luar, keduanya berada di sekitar kaloran besar yaitu tempat keluar
masuknya massa air dari dan ke dalam laguna yang terbesar yang menghadap ke
arah selatan (Teluk Jakarta) (Kaswadji, 1997). Sedangkan pada musim peralihan
dua massa air yang lebih hangat berada di sekitar tubir luar dan Pulau Tikus. Hal
ini menunjukkan bahwa ada massa air yang lebih hangat yang keluar masuk
kaloran yang berasal dari perairan Teluk Jakarta. Pada musim timur massa air
yang lebih hangat ini berada di sekitar kaloran dan mengarah ke timur laut menuju
Pulau Burung, sedangkan pada musim peralihan dua massa air yang lebih hangat
ini berada di sekitar kaloran dan mengarah ke Barat Laut menuju Pulau Tikus.

Pola sebaran suhu dipengaruhi oleh sirkulasi massa air di dalam laguna.
Sirkulasi massa air di perairan laguna P. Pari sangat dipengaruhi oleh pasang surut
(Kaswadji, 1997). Pada saat air pasang arus mengalir dari arah utara ke selatan
memasuki laguna melalui kaloran-kaloran yang ada, dan melewati karang
penghalang dengan kecepatan yang berkisar antara 1,0 – 26,0 cm/det. Ketika air
surut massa air meninggalkan daerah laguna ke arah utara melewati karang
penghalang dan kaloran. Jika muka laut lebih rendah dari permukaan karang,
maka massa air dari laguna akan mengalir keluar melalui kaloran (Pariwono et al.,
2006).

Gambaran umum sebaran suhu di perairan Teluk Jakarta yang telah


diamati sejak tahun 1996 – 2011 (Suprapto et al., 2011), menunjukkan bahwa
pada musim timur suhu perairan lebih tinggi terkonsentrasi di sebelah barat
55

perairan, sehingga di perairan Pulau Pari yang sirkulasi massa airnya dipengaruhi
pasang surut, suhu tinggi akan bergerak dari arah barat ke timur laut. Pada musim
peralihan timur barat distribusi suhu perairan menunjukkan pola sebaliknya, suhu
perairan yang lebih tinggi terkonsentrasi di sebelah timur sementara di suhu
perairan yang lebih rendah terkonsentrasi di sebelah barat, sehingga ketika massa
air bergerak keluar dan masuk laguna, maka massa air yang lebih hangat akan
bergerak dari arah Barat ke Timur laut (Gambar 12).

a.

b.

Gambar 12. Sebaran spasial suhu perairan laguna Pulau Pari pada (a) musim
Timur dan( b) musim peralihan dua 2010 ( : kaloran terbesar ),
dihitung berdasarkan pada nilai rata-rata suhu (n = 50).
56

Menurut Suprapto et al. (2011), kondisi perairan Teluk Jakarta


didominansi oleh pengaruh massa air sungai suhu tinggi dari sebelah barat dan
sebelah timur, sementara pada musim peralihan dua massa air Laut Jawa dari
sebelah barat memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap distribusi suhu
perairan Teluk Jakarta.

4.1.2 Salinitas

Hasil pengukuran salinitas selama periode pengamatan menunjukkan


salinitas perairan laguna Pulau Pari berkisar antara 30,00 – 33,00 ppt. Terjadi
fluktuasi salinitas selama masa pengamatan. Rata-rata salinitas yang diamati pada
musim timur adalah 30,8 ppt. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian
Suprapto et al. (2011) yang menunjukkan bahwa pada musim timur nilai salinitas
perairan Teluk Jakarta berkisar antara 30,9 – 32,8 ppt. Pada musim peralihan
rata-rata salinitas yang teramati adalah 31,0 ppt, sedikit lebih tinggi dari
pengamatan pada musim timur (Gambar 13), nilai ini lebih tinggi dari hasil
pengukuran Suprapto et al. (2011) di Teluk Jakarta yang menunjukkan bahwa
pada musim peralihan dua salinitas Teluk Jakarta berkisar antara 25,0 – 30,7 ppt.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa nilai salinitas berbeda nyata antar
stasiun pengamatan, namun tidak berbeda nyata antar waktu pengamatan
(α: 0,05) (Lampiran 10).

Nilai salinitas yang rendah pada musim timur merupakan pengaruh dari
terjadinya hujan besar pada pengamatan yang terjadi pada awal Juni, akhir Juli
dan awal Agustus. Hasil penelitian Anonim (2009) menunjukkan tidak adanya
perbedaan nyata nilai salinitas pada musim barat dan musim timur, serta tidak ada
perbedaan yang nyata antara musim barat dan musim timur di perairan Kepulauan
Seribu bagian selatan. Penelitian Kaswadji (1997) menunjukkan bahwa salinitas
di perairan laguna Pulau Pari berfluktuasi dengan selang yang tidak jauh, pada
musim barat rata-rata salinitasnya 31,6 ppt pada musim peralihan barat timur
merupakan salinitas terendah yaitu 30,03 ppt salinitas pada musim timur
merupakan salinitas tertinggi yang terukur sepanjang tahun dengan rata-rata 32
57

ppt, sedangkan rata-rata salinitas pada musim peralihan timur barat adalah 31,08
ppt.

3 2 ,0

3 1 ,5
salinitas (ppt)

3 1 ,0

3 0 ,5

3 0 ,0

2 9 ,5
Ju n Ju l A g u st Sep O kt N op D es
w a k tu p e n g a m a ta n (2 0 1 0 )

Gambar 13. Perubahan rata-rata salinitas perairan menurut waktu pengamatan,


n= 50 (I= 0,5 sd).

Penyebaran salinitas di suatu perairan dipengaruhi oleh banyak faktor,


seperti penguapan, aliran permukaan, jumlah air tawar yang masuk ke perairan,
kedalaman laut, pasut, musim dan curah hujan (Nurhayati, 2010). Namun hasil
pengukuran salinitas tidak menunjukkan adanya pola tertentu yang dipengaruhi
oleh variasi musim, rata-rata nilai salinitas selama musim timur (30,8 ppt) tidak
berbeda jauh dengan rata-rata nilai salinitas pada musim peralihan dua (31,0 ppt).
Sebaran spasial menunjukkan adanya kecenderungan massa air dengan salinitas
yang lebih rendah berada di bagian barat – barat daya dan salinitas semakin tinggi
ke arah timur laut laguna.

Massa air yang berada di sebelah selatan - barat lebih rendah


salinitasnya bila dibandingkan dengan massa air di bagian utara – timur (Gambar
14). Massa air di bagian selatan – barat adalah massa air yang mendapat
pengaruh dari Teluk Jakarta yang mempunyai salinitas lebih rendah, sedangkan
massa air yang berada di bagian utara – timur adalah massa air yang mendapat
pengaruh dari Laut Jawa yang mempunyai salinitas yang lebih tinggi. Pola yang
58

sama ditemui di perairan Teluk Jakarta pada 2009 (Nurhayati, 2010), dimana
massa air dengan salinitas lebih rendah ditemukan dibagian barat – utara perairan
Teluk Jakarta.

a.

b.

Gambar 14. Sebaran spasial salinitas perairan laguna Pulau Pari (a) musim timur
(b) musim peralihan dua 2010 ( : kaloran), dihitung berdasarkan
pada nilai rata-rata salinitas (n = 50).
59

4.1.3 pH

Nilai pH perairan Laguna Pulau Pari selama periode pengamatan


menunjukkan kecenderungan bersifat asam sampai normal, hal ini sangat tidak
lazim bagi perairan laut. Nilai pH yang teramati selama masa pengamatan
berkisar antara 6,49 – 7,56 dengan nilai rata-rata sepanjang masa pengamatan
adalah 7,01 + 0,36. Nilai ini sedikit lebih rendah dari hasil pengukuran Abrar
(2011) yang dilakukan di sekitar Pulau Tikus dan Pulau Pari pada selang waktu
antara Maret – Oktober 2010. Hasil penelitian Abrar (2011) menunjukkan nilai
rata-rata pH yang terukur di stasiun Pulau Tikus adalah 7,40, sedangkan nilai rata-
rata pH yang terukur di sekitar pulau Pari adalah 7,60. Hartati et al. (2009)
menemukan nilai yang tidak jauh berbeda dengan Abrar (2011) bahwa pada
musim peralihan barat-timur rata-rata nilai pH di perairan laguna Pulau Pari
adalah 7,65. Seperti peubah lingkungan lainnya yang diamati, peubah pH juga
mengalami fluktuasi selama masa pengamatan namun tidak membentuk suatu
pola tertentu mengikuti terjadinya pola musim (Gambar 15). Hasil analisis ragam
menunjukkan bahwa pH perairan berbeda nyata antar waktu pengamatan pada
taraf nyata 5% (Lampiran 11).

7 ,6

7 ,4

7 ,2

7 ,0
pH

6 ,8

6 ,6

6 ,4
Ju n Ju l A g u st Sep O kt N op D es
w a k tu p e n g a m a ta n ( 2 0 1 0 )

Gambar 15. Perubahan rata-rata pH perairan menurut waktu pengamatan, n = 50


(I = 0,5 sd).
60

Hasil pengukuran pH pada musim timur menunjukkan nilai yang lebih


rendah bila dibandingkan dengan musim peralihan dua, hal ini terjadi karena pada
waktu pengamatan bertepatan dengan terjadinya hujan lebat di wilayah kota
Jakarta dan perairan Kepulauan Seribu. Hujan lebat memberikan pengaruh
terhadap penurunan nilai pH melalui masukan air tawar dengan debit yang lebih
tinggi besar ke perairan Teluk Jakarta dan sekitarnya termasuk perairan laguna
Pulau Pari. Masukan air tawar dari sungai membawa berbagai macam sampah
baik organik maupun anorganik ke perairan Teluk Jakarta dan sekitarnya.
Sampah-sampah ini terbawa arus dan angin sampai ke laguna Pulau Pari, dan
karena struktur karang yang berbentuk atol (Asriningrum, 2005), menyebabkan
sampah-sampah yang masuk terperangkap di dalam laguna untuk beberapa waktu
lamanya. Sampah organik yang masuk dan terperangkap di dalam laguna akan
mengalami dekomposisi. Proses dekomposisi bahan organik dapat menurunkan
nilai pH karena adanya pelepasan ion H+ dari bahan-bahan organik yang
terdekomposisi. Selain pengaruh dari sampah organik yang terperangkap, di
dalam laguna juga banyak terdapat budidaya rumput laut yang seringkali terkena
penyakit dan mengalami pembusukan, yang juga berperan dalam menurunkan
nilai pH di perairan.

Pada musim peralihan dua, dimana curah hujan biasanya lebih tinggi bila
dibandingkan dengan musim timur, nilai pH yang terukur cenderung lebih tinggi
bila dibandingkan dengan musim timur, hal ini terjadi karena waktu pengamatan
tidak bertepatan dengan terjadinya hujan besar di wilayah kota Jakarta dan
sekitarnya atau kondisi perairan sedang dalam kondisi normal.
61

a.

b.

Gambar 16. Sebaran spasial pH perairan laguna Pulau Pari (a) musim timur (b)
musim peralihan dua 2010 ( : kaloran), dihitung berdasarkan
pada nilai rata-rata pH (n = 50).

Gambar 16 menunjukkan distribusi spasial pH pada musim timur dan


musim peralihan dua. Pengamatan terhadap distribusi spasial nilai pH
menunjukkan bahwa pada musim timur nilai pH cenderung lebih rendah di stasiun
4 (Tubir luar) dan stasiun 2 (P. Burung) yang berada di luar laguna dan sekitar
kaloran, sementara di stasiun yang lebih jauh dari kaloran memiliki nilai pH yag
lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya massa air yang lebih asam masuk dari
62

luar laguna ke dalam laguna. Massa air yang lebih asam ini adalah massa air yang
berasal dari Teluk Jakarta yang sudah mendapat pengaruh masukan air tawar dan
membawa sampah organik. Pada musim peralihan dua dimana pada saat
pengambilan contoh air, perairan Pulau Pari sedang dalam kondisi normal (tidak
terjadi hujan besar) terlihat bahwa nilai pH massa air yang ada di luar laguna
sedikit lebih tinggi dari massa air yang ada di dalam laguna.

4.1.4 Konsentrasi Nutrien

a. Nitrat (NO3-N)

Selama periode pengamatan konsentrasi NO3-N yang terukur berkisar


antara 0,056 – 1,62 mg/l, dengan rata-rata konsentrasi 0,24 mg/l. Menurut
Simanjuntak (2010), kadar NO3-N yang melebihi 0,2 mg/l dapat mengakibatkan
terjadinya eutrofikasi perairan yang selanjutnya dapat menstimulasi pertumbuhan
algae dengan pesat. Pola konsentrasi NO3-N di perairan Pulau Pari menunjukkan
kecenderungan naik dari pertengahan Juli sampai September dan mulai menurun
pada Oktober sampai Nopember (Gambar 17). Walaupun antar waktu
pengamatan terlihat seperti adanya variasi yang cukup tinggi, namun berdasarkan
pada hasil analisis ragam (α = 0,05) keseluruhan hasil pengukuran konsentrasi
NO3-N tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar waktu dan stasiun
pengamatan (Lampiran 12), artinya konsentrasi NO3-N cenderung homogen
selama masa pengamatan. Konsentrasi NO3-N yang tinggi pada awal Juli
disebabkan oleh terjadinya hujan yang sangat lebat pada 1 Juni, dimana curah
hujan di daerah Jakarta bagian utara mencapai 106,2 mm per hari (BMKG, 2010).
Tingginya konsentrasi NO3-N pada saat ini tidak termanfaatkan karena biomassa
fitoplankton yang rendah dimana pada saat yang bersamaan terjadi ledakan
populasi ubur-ubur, sehingga pertumbuhan fitoplankton terhambat.
63

1 ,8
1 ,6 S t1
St 2
konsentrasi (m g/l) 1 ,4 St 3
1 ,2 St 4
St 5
1 ,0
0 ,8
0 ,6
0 ,4
0 ,2
0 ,0

Ju n Ju l A g u st Sep O kt N op D es
w a k tu p e n g a m a ta n (2 0 1 0 )

Gambar 17. Perubahan konsentrasi nitrat (NO3-N) perairan menurut waktu


pengamatan.

Konsentrasi NO3-N di laguna Pulau Pari yang terukur pada periode Juni –
Nopember 2010 jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan konsentrasi NO3-N
yang terukur pada periode 2000 - 2001 (Damar, 2003), periode 2004 - 2005
(Paonganan et al., 2010; Fachrul et al., 2006) dan periode 2009 (Simanjuntak,
2009) di perairan Teluk Jakarta. Damar (2003) menunjukkan bahwa konsentrasi
NO3-N di daerah off shore Teluk Jakarta pada 2001 berkisar antara 0,00124 – 0,2
mg/l, sementara pada 2005 (Paonganan et al., 2010) menunjukkan bahwa
konsentrasi NO3-N di sekitar Pulau Pari berkisar antara 0,001 – 0,0015 mg/l.
Simanjuntak (2010) menunjukkan bahwa kadar NO3-N di perairan Kepulauan
Seribu bagian Selatan berkisar antara 0,001 – 0,07 mg/l. Namun demikian
Damar (2003), Fachrul et al. (2006), Paonganan et al. (2010) dan Simanjuntak
(2010) melakukan pengukuran NO3-N di luar laguna. Hal ini menunjukkan
bahwa di dalam laguna konsentrasi NO3-N lebih tinggi bila dibandingkan dengan
di luar laguna. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sedyowati (2005)
yang menemukan bahwa konsentrasi nutrien di dalam laguna lebih tinggi bila
dibandingkan dengan di luar laguna. Di dalam laguna proses pencampuran
massa air tidak terjadi dengan baik, yang berakibat pada terperangkapnya material
organik yang berasal dari sampah di dalam laguna.
64

Distribusi spasial NO3-N menunjukkan adanya pola yang berbeda pada


musim timur dan musim peralihan kedua. Pola sebaran spasial, menunjukkan
bahwa selama pengamatan musim timur konsentrasi NO3-N nampak lebih tinggi
di sebelah utara laguna, namun pada musim peralihan kedua konsentrasi NO3-N
lebih tinggi di bagian selatan laguna (Gambar 18).

a.
.

b.

Gambar 18. Sebaran spasial NO3-N perairan laguna Pulau Pari (a) musim timur
(b) musim peralihan dua 2010 ( : kaloran) dihitung berdasarkan
pada nilai rata-rata NO3-N (n = 50).
65

b. Amonium (NH4-N)

Konsentrasi NH4-N di perairan laguna Pulau Pari berkisar antara


0,002 – 1,07 mg/l dengan rata-rata 0,490 mg/l. Gambar 19 menunjukkan sebaran
konsentrasi NH4-N menurut waktu pengamatan. Hasil analisis ragam pada taraf
nyata 5 % menunjukkan bahwa konsentrasi NH4-N tidak berbeda nyata baik antar
waktu maupun antar stasiun pengamatan (Lampiran 13).

1 ,2

1 ,0 St 1
St 2
St 3
0 ,8 St 4
konsentrasi (m g/l)

St 5

0 ,6

0 ,4

0 ,2

0 ,0

Ju n Ju l A g u st S ep O kt N op D es

w ak tu p en g am atan (2 0 1 0 )

Gambar 19. Perubahan konsentrasi ammonium (NH4-N) perairan menurut waktu


pengamatan.

Konsentrasi NH4-N mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan


tahun 2001 dan 2005, namun peningkatan yang terjadi tidak setinggi peningkatan
konsentrasi NO3-N pada tahun-tahun yang sama. Distribusi spasial NH4-N di
laguna Pulau Pari menunjukkan pola yang berlawanan dengan sebaran spasial
NO3-N (Gambar 20), dimana pada musim timur NH4-N nampak lebih tinggi di
sebelah selatan laguna, sedangkan pada musim peralihan dua konsentrasi NH4-N
cenderung lebih tinggi di bagian utara laguna.
66

a.

b.

Gambar 20. Sebaran spasial NH4-N perairan laguna Pulau Pari (a) musim timur
(b) musim peralihan dua 2010 ( : kaloran) dihitung berdasarkan
pada nilai rata-rata NH4-N (n = 50).

c. Fosfat (PO4-P)

Fosfat (PO4-P) merupakan salah satu nutrien penting yang menjadi faktor
pembatas bagi pertumbuhan fitoplankton selain NO3-N dan NH4-N. Konsentrasi
PO4-P yang terukur selama masa pengamatan berkisar antara 0,001– 0,27 mg/l,
67

dengan rata-rata konsentrasi sebesar 0,05 mg/l. Konsentrasi terendah terjadi pada
awal Oktober dan konsentrasi tertinggi terjadi pada akhir Juli. Berbeda dengan
NO3-N dan NH4-N, konsentrasi PO4-P tidak membentuk pola yang teratur, namun
tetap mempunyai kecenderungan menurun sejak awal Oktober sampai Nopember
(Gambar 21).

0,30
St 1
St 2
0,25 St 3
St 4
St 5
0,20
konsentrasi (mg/l)

0,15

0,10

0,05

0,00

Jun Jul Agust Sep Okt Nop


waktu pengamatan (2010)

Gambar 21. Perubahan konsentrasi fosfat (PO4-P) perairan menurut waktu


pengamatan.

Sebaran spasial PO4-P menunjukkan pada musim timur terdapat


konsentrasi PO4-P yang tinggi di sekitar stasiun 4 (Tubir Luar) yang merupakan
stasiun yang berada paling selatan dan menghadap Teluk Jakarta. Sedangkan
pada musim peralihan dua konsentrasi PO4-P lebih tinggi di sekitar stasiun 1
(Pulau Tikus) dan Stasiun 2 (Pulau Burung). Namun demikian hasil analisis
ragam terhadap konsentrasi PO4-P menunjukkan bahwa konsentrasi PO4-P tidak
berbeda nyata antar stasiun pengamatan namun ada perbedaan nyata pada waktu
pengamatan (α = 0,05) (Lampiran 14).
68

a
.

b.

Gambar 22. Sebaran spasial PO4-P perairan laguna Pulau Pari (a) musim timur
(b) musim peralihan dua 2010 ( : kaloran) dihitung berdasarkan
pada nilai rata-rata PO4-P (n = 50).

Konsentrasi PO4-P sangat dipengaruhi oleh masukan air tawar, tingginya


konsentrasi PO4-P di Teluk Jakarta pada musim penghujan merupakan akibat dari
adanya aktivitas run-off (Damar 2003). Bila dibandingkan dengan hasil
penelitian Damar yang dilakukan pada 2001 di perairan Teluk Jakarta, maka
konsentrasi PO4-P di Pulau Pari yang terukur pada periode Juni - Nopember 2011
adalah 10,5 – 13,7 kali lebih tinggi, sementara bila dibandingkan dengan hasil
69

penelitian Paonganan et al (2010) yang dilakukan pada 2005, konsentrasi PO4-P


terukur pada 2011 di Pulau Pari 128 kali lebih tinggi. Namun apabila
dibandingkan dengan hasil penelitian Anonim (2009) konsentrasi PO4-P yang
terukur di Pulau Pari pada Juni 2010 lebih rendah 1,57 kali bila dibandingkan
konsentrasi PO4-P di perairan laut Teluk Jakarta pada bulan yang sama tahun
2009.

d. Silikat (Si)

Konsentrasi Si yang terukur di perairan laguna Pulau Pari selama massa


pengamatan berkisar antara 0,013 – 1,79 mg/l, dengan rata-rata 0,88 mg/l
(Gambar 23). Hasil analisis ragam pada taraf nyata 5% menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan antar waktu pengamatan namun tidak berbeda nyata
antar stasiun pengamatan (Lampiran 15).

2,5
St 1
St 2
St 3
2,0 St 4
St 5

1,5
konsentrasi (m g/l)

1,0

0,5

0,0

Jun Jul A gust S ep O kt N op D es


w aktu sam pling

Gambar 23. Perubahan konsentrasi Silikat (Si) perairan menurut waktu


pengamatan.

Silikat (Si) merupakan nutrien penting bagi fitoplankton kelas


Bacillariophycea/diatom yang berperan dalam pembentukan frastula. Penurunan
70

konsentrasi Si pada Juli menunjukkan adanya pemanfaatan Si dalam jumlah yang


signifikan. Ledakan populasi diatom dapat menyebabkan berkurangnya
konsentrasi Si di perairan (Escaravage & Prins, 2002). Sebaran spasial Si
menunjukkan pola yang hampir sama antara musim timur dan musim peralihan
dua (Gambar 24).

a.

b.

Gambar 24. Sebaran spasial Si perairan laguna Pulau Pari (a) musim timur (b)
musim peralihan dua 2010 ( : kaloran) dihitung berdasarkan nilai
pada rata-rata Si (n = 50).
71

Konsentrasi Si mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan hasil


penelitian sebelumnya di perairan sekitar Teluk Jakarta. Hasil pengukuran
menunjukkan bahwa konsentrasi nutrien jauh lebih tinggi bila dibandingkan
dengan 5 dan 10 tahun sebelumnya. Peningkatan konsentrasi nutrien ini sangat
berpengaruh nyata terhadap kenaikan biomassa fitoplankton di perairan Teluk
Jakarta dan sekitarnya.

Tingginya kenaikan konsentrasi nutrien di perairan Pulau Pari


menunjukkan bahwa perairan Pulau Pari terkena dampak pencemaran yang terjadi
di perairan Teluk Jakarta. Pola fluktuasi yang tidak beraturan terkait dengan
kondisi cuaca yang tidak beraturan sepanjang tahun. Selama masa pengamatan
beberapa kali terjadi hujan besar di wilayah daratan Jakarta yang menyebabkan
terjadinya run off yang cukup besar ke perairan Teluk Jakarta dan sekitarnya
termasuk perairan laguna Pulau Pari, hal ini dibuktikan dengan banyaknya
sampah organik dan anorganik yang masuk ke perairan laguna. Data curah hujan
harian di wilayah Jakarta Utara menunjukkan bahwa selama bulan Juni sampai
Nopember 2010 beberapa kali terjadi hujan dengan intensitas tinggi (Gambar 25).

120
Curah hujan (mm/hari)

100
80
60
40
20
0
1 7 13 19 25 31 6 12 18 24 30 5 11 17 23 29 4 10 16 22 28 3 9 15 21 27 2 8 14 20 26

Juni Agustus Oktober


waktu pengamatan

Gambar 25. Curah hujan harian di wilayah Jakarta bagian utara-stasiun observasi
Cengkareng (sumber: BMKG, 2010).

Masuknya sampah organik menjadi salah satu sebab mengapa konsentrasi


nutrien di perairan laguna menjadi lebih tinggi bila dibandingkan dengan perairan
sekitarnya. Sampah organik yang ditemukan diantara adalah limbah rumah
72

tangga berupa sisa-sisa sayuran dan buah-buahan, selain itu juga ditemukan
hewan-hewan yang mati, serasah, kasur kapuk dan sebagainya. Perairan laguna
merupakan perairan semi tertutup, dimana masa air yang ada di dalamnya tidak
bercampur langsung dengan masa air yang ada di sekitarnya. Apabila banyak
sampah organik masuk dan terperangkap di dalam laguna, selanjutnya akan
mengalami dekomposisi dan akhirnya dapat meningkatkan konsentrasi nutrien di
dalam perairan laguna. Konsentrasi nutrien (NO3-N) yang tinggi melebihi 0,2
mg/l dapat menjadi pemicu terjadinya ledakan populasi dari fitoplankton
(Simanjuntak, 2010), namun demikian ledakan populasi fitoplankton ini dikontrol
oleh peubah lingkungan lainnya yang berada pada kondisi tidak stabil seperti pH
yang rendah, sehingga biomassa fitoplankton tetap terkontrol.

Pada tahun 2010 terjadi fenomena La nina yang menyebabkan


meningkatnya curah hujan di Indonesia, menurut BMKG (www.bmkg.go.id
tanggal akses 8 Mei 2012) fenomena La nina sudah teramati sejak awal 2010
namun meningkat pada Agustus sampai September, menjadi La nina moderat.
Pada Juli sampai Agustus 2010 curah hujan yang terjadi di atas 50 mm per hari.
Peningkatan curah hujan akibat La nina ini memberikan pengaruh yang nyata
terhadap beberapa peubah kimia perairan yang diamati seperti salinitas, pH dan
konsentrasi nutrien, terutama pada pengamatan yang dilakukan pada Juli sampai
Agustus. Pada akhir Juli sampai awal Agustus nilai salinitas dan pH mengalami
penurunan yang signifikan, sementara konsentrasi nutrien khususnya NO3-N
mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kualitas air dalam
laguna dipengaruhi oleh kondisi iklim dan lingkungan sekitarnya. Adanya
masukan limbah organik padat ke dalam laguna pada saat hujan besar terjadi di
wilayah Jakarta, menyebabkan konsentrasi nutrien di dalam laguna lebih tinggi
bila dibandingkan dengan perairan di sekitarnya.
73

4.2 Variasi biomassa dan komposisi struktur plankton

4.2.1 Fraksionasi biomassa fitoplankton

Konsentrasi klorofil-a di perairan laguna Pulau Pari yang terukur sejak


Juni sampai Nopember 2010 berkisar antara 0,62 – 1,77 mg/m3 dengan rata-rata
0,695 mg/m3. Dari pengamatan yang dilakukan pada lima titik sampling
diperoleh nilai konsentrasi klorofil-a yang sangat bervariasi pada setiap waktu dan
lokasi sampling (Gambar 26). Fluktuasi konsentrasi klorofil-a membentuk pola
naik turun pada setiap waktu pengambilan sampel, dan cenderung mengalami
kenaikan dari Juni sampai Agustus dan selanjutnya cenderung mengalami
penurunan.

3 ,5
St 1
St 2
3 ,0 St 3
K onsentrasi klorofil a (m g/m 3 )

St 4
St 5

2 ,5

2 ,0

1 ,5

1 ,0

0 ,5

0 ,0
Ju n Ju l A g u st Sep O kt N op D es
W a k tu sa m p lin g

Gambar 26. Konsentrasi klorofil-a di laguna Pulau Pari pada Juni – Nopember
2010.

Nilai konsentrasi klorofil-a yang terukur lebih rendah dari nilai konsentrasi
klorofil-a di perairan Teluk Jakarta bagian Utara (disekitar Pulau Rambut dan
Pulau Damar) pada musim barat dan timur pada 2009. Hasil penelitian Afdal
(2010) menunjukkan bahwa di perairan Teluk Jakarta bagian utara pada musim
barat 2009 konsentrasi klorofil-a berkisar antara 1,70 – 5,66 mg/m3 dengan rata-
74

rata 3,82 + 1,41 mg/m3, sementara pada musim timur konsentrasi klorofil-a
berkisar antara 1,70 – 3,39 mg/m3 dengan rata-rata 2,62 + 0,52 mg/m3. Apabila
melihat pola umum yang terjadi di sekitar Teluk Jakarta bagian utara, maka
terlihat bahwa pada musim barat konsentrasi klorofil-a di perairan lebih tinggi bila
dibandingkan dengan musim timur, hal ini terkait dengan tingginya konsentrasi
nutrien karena tingginya curah hujan. Pada tahun 2010 terjadi fenomena La nina
dimana peningkatan curah hujan justru terjadi pada Juli – Agusus, maka pada
tahun ini kondisi luar biasa mungkin terjadi, dimana konsentrasi nutrien dan
klorofil akan meningkat jumlahnya pada musim timur, dan semakin meningkat
sampai musim barat berikutnya (2011).

Fluktuasi konsentrasi klorofil-a dapat terjadi karena berbagai hal,


diantaranya ketersediaan unsur-unsur pembatas seperti nitrogen dan fosfor,
pemangsaan oleh zooplankton (Liu & Dagg, 2003; Teissier et al., 2011) dan
pemangsa lainnya seperti ikan planktivora (Asriyana et al., 2011), sirkulasi massa
air, yang dapat memindahkan biomassa klorofil-a ke tempat lain (Mann & Lazier,
1991). Ketersediaan nutrien terlarut N dan P serta sirkulasi massa air,
dipengaruhi oleh musim, dimana pada Juni sampai Agustus mendapat pengaruh
angin musim timur sedangkan pada September sampai Nopember merupakan
musim peralihan dua (Ilahude & Nontji, 1999).

Hasil fraksionasi ukuran terhadap biomassa fitoplankton menunjukkan


bahwa fraksi ukuran < 20 µm mendominansi biomassa fitoplankton (82,10 –
93,40 %), sedangkan fraksi ukuran > 20 µm hanya 6,60 – 17,90 % dari total
keseluruhan biomassa fitoplankton di perairan laguna Pulau Pari (Gambar 27).
Selama masa pengamatan rata-rata kontribusi fraksi ukuran < 20 µm adalah
1,12 mg/m3, sementara rata-rata kontribusi fraksi ≥ 20 µm adalah 0,17 mg/m3.

Fluktuasi yang terjadi pada biomassa fraksi < 20 µm menunjukkan pola


yang berbeda dengan pola fluktuasi yang terbentuk pada biomassa fraksi ≥ 20 µm.
Fraksi < 20 µm menunjukan kecenderungan naik pada Juni – Agustus sementara
pada Agustus – Nopember menunjukkan kecenderungan menurun. Pola fluktuasi
pada fraksi < 20 µm sangat mempengaruhi pola fluktuasi klorofil-a total di
75

perairan karena proporsi biomassanya yang besar. Sementara fraksi ≥ 20 µm


menunjukkan kecenderungan naik selama masa pengamatan walaupun terjadi
fluktuasi naik turun pada setiap waktu pengamatan.

3,00 0,30

Konsentrasi klorofil m ikrofitoplankton (m g/m 3 )


Konsentrasi klorofil nanofitoplankton (m g/m 3 )

R a ta 2 n a n o
R a ta 2 fito
2,50 0,25

2,00 0,20

1,50 0,15

1,00 0,10

0,50 0,05

0,00 0,00
Jun Jul A gust S ep O kt N op D es
w aktu pengam atan (2010)

Gambar 27. Konsentrasi rata-rata klorofil-a dari fitoplankton fraksi ukuran < 20
μm dan ≥ 20 μm.

Besarnya biomassa fitoplankton yang berukuran < 20 µm menunjukkan


bahwa biomassa fraksi ukuran < 20 µm memberikan kontribusi yang sangat
penting terhadap produksi bahan organik di perairan laguna Pulau Pari. Hasil
penelitian ini menunjukkan pola yang sama dengan beberapa penelitian serupa
yang dilakukan di daerah lain baik daerah tropis maupun sub tropis. Di pantai
bagian tenggara India komunitas nanoplankton menyusun 73,2 – 85 % dari total
biomassa klorofil-a di perairan (Madhu et al., 2010). Di daerah sub tropis
kecenderungan serupa juga ditemukan, Tada et al. (2003) menemukan bahwa
persentase biomassa fitoplankton ukuran < 20 µm di perairan sekitar terumbu
karang Pulau Sesoko Jepang adalah sebesar 86 % dari total seluruh biomassa
fitoplankton. Jochem (2003) menemukan kontribusi biomassa fitoplankton
76

ukuran < 20 µm di perairan muara Sungai Mississipi adalah 30 – 80 % dari


seluruh biomassa fitoplankton yang terukur. Sementara di Selat Taiwan (Huang
et al., 1999) menunjukkan bahwa nanofitoplankton menyumbang 57 -60 % dari
total biomassa klorofil-a di perairan. Namun demikian apabila dibandingkan
dengan penelitian lain yang sudah dilakukan, proporsi fitoplankton < 20 µm di
perairan Pulau Pari lebih tinggi bila dibandingkan dengan perairan lainnya.

Besarnya kontribusi fitoplankton ukuran < 20 µm terhadap total biomassa


fitoplankton dapat terjadi karena ukuran yang kecil memberikan keuntungan
untuk dapat memanfaatkan nutrien secara lebih efektif, hal ini terkait dengan
kecepatan penyerapan nutrien dari lingkungan oleh sel dan ditentukan oleh
besarnya konstanta Michelis – Menten (K). Menurut Huang et al. (1999) semakin
kecil sel maka nilai K dari sel tersebut semakin rendah. Apabila konsentrasi
nutrien lebih rendah dari nilai K, maka pertumbuhan sel akan mengalami kendala.
Terkait dengan konsentrasi biomassa fitoplankton < 20 µm, dapat diduga bahwa
konsentrasi nutrien di perairan Pulau Pari jauh lebih tinggi dari nilai K yang
dimiliki oleh fraksi fitoplankton ukuran < 20 µm, sehingga nutrien dapat
dimanfaatkan secara maksimal oleh sel fitoplankton < 20 µm untuk
pertumbuhannya. Fitoplankton ukuran < 20 µm juga sangat efisien dalam
memanfaatkan cahaya dengan intensitas rendah (Shiomoto, 1997). Pemanfaatan
nutrien yang efektif dan ditunjang dengan intensitas cahaya yang cukup, fraksi
ukuran < 20 µm akan mempunyai nilai efisiensi fotosintesis yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan fraksi ukuran sel > 20 µm (Madhu et al., 2010).

Di perairan yang kaya akan nutrien fitoplankton yang berukuran besar


akan mendominansi biomassa ditandai dengan terjadinya ledakan populasi
fitoplankton berukuran besar pada saat konsentrasi nutrien tinggi (Polat & Aka,
2007). Kondisi fitoplankton ≥ 20 µm yang rendah pada konsentrasi nutrien yang
tinggi di perairan Pulau Pari dapat terjadi karena rendahnya intensitas cahaya
yang terjadi akibat tutupan awan karena sering terjadinya hujan selama masa
pengamatan (Madhu et al., 2010). Di dalam laguna, nutrien juga dimanfaatkan
oleh rumput laut, alga bentik, mangrove dan lamun untuk pertumbuhan, sehingga
biomassa mikrofitoplankton tetap terkontrol.
77

4.2.2 Biomassa dan komposisi struktur mikrofitoplankton

Biomassa mikrofitoplankton hanya 6,6 – 17,9 % dari total keseluruhan


biomassa klorofil-a di perairan laguna Pulau Pari. Ini menunjukkan bahwa
komponen mikrofitoplankton hanya sedikit saja berperan dalam produksi bahan
organik di perairan.

Biomassa mikrofitoplankton yang ditemukan di perairan laguna Pulau Pari


berkisar antara 0,03 – 0,29 mg/m3. Nilai terendah ditemukan pada awal Juli
sedangkan nilai tertinggi ditemukan pada awal Oktober, namun secara rata-rata
biomassa terendah terjadi pada pengamatan kedua yaitu pertengahan Juni
sedangkan rata-rata biomassa tertinggi tetap terjadi pada awal Oktober . Pola
fluktuasi mikrofitoplankton tidak sama dengan pola fluktuasi total klorofil-a yang
terukur. Mikrofitoplankton menunjukkan kecenderungan meningkat sepanjang
masa pengamatan, walaupun terjadi fluktuasi naik turun pada setiap waktu
pengamatan (Gambar 28).

0,35

0,30
biomassa klorofil-a (mg/m3)

0,25

0,20

0,15
St 1
0,10 St 2
St 3
St 4
0,05 St 5
rata-rata biomasa

0,00
Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des
waktu pengamatan (2010)

Gambar 28. Biomassa klorofil-a mikrofitoplankton di laguna Pulau Pari pada


bulan Juni – Nopember 2010.
78

Struktur komunitas mikrofitoplankton cukup komplek, karena banyak


jenis mikrofitoplankton yang ditemukan menyusun biomassa mikrofitoplankton
tersebut. Organisme penyusun biomassa ini sangat menentukan pembentukan
biomassa pada tingkatan trofik yang lebih tinggi. Pembentukan biomassa pada
suatu tingkatan trofik tidak hanya ditentukan oleh kuantitas dari sumber daya
makanannya saja akan tetapi juga ditentukan oleh kualitas dari organisme
penyusunnya. Kualitas organisme salah satunya ditentukan oleh keragaman jenis
dari organisme penyusun biomassa tersebut (Wiadnyana & Rassoulzadegan,
1989; Storm & Welschmeyer, 1991). Setiap jenis organisme fitoplankton
mempunyai ukuran dan bentuk yang berbeda-beda sehingga sangat menentukan
apakah fitoplankton tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya makanan
bagi organisme pada tingkatan trofik yang lebih tinggi (Wiadnyana &
Rassoulzadegan, 1989).

Selama masa pengamatan ditemukan tiga kelompok mikrofitoplankton


yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae/diatom (33 genera), kelas Cyanophyceae
(3 genera) dan kelas Dinophyceae (7 genera). Kelas Bacillariophyceae
merupakan organisme yang mendominansi populasi mikrofitoplankton selama
masa pengamatan dengan rata-rata kelimpahan relatif sebesar 96,20 %, diikuti
oleh Dinophyceae 3,20 % dan Cyanophyceae 0,60 % dari total populasi
mikrofitoplankton (Gambar 29).

Bacillariophyceae Cyanophyceae Dinophyceae lainnya

Gambar 29. Struktur populasi mikrofitoplankton di perairan laguna Pulau Pari


pada bulan Juni – Nopember 2010.
79

2.E+08 Skeletonema
2-Jun

Kelimpahan (sel/m3)
2.E+08 Chaetoceros
1.E+08
5.E+07 Nitzchia 15-Jun
0.E+00 Navicula
05-Jul

Amphora sp
Bacillaria sp
Chaetoceros sp
Coscinodiscus sp
Diploneis sp
Fragillaria sp
22-Jul

Nitzchia sp
Licmophora sp

Rhizosolenia sp
Striatela sp
Thalasionema sp

Anabaena

Ceratium
05-Agust

Gymnodinium sp

Pyrocystis
26-Agust
19-Sep
05-Okt
Jenis

Gambar 30. Sebaran kelimpahan jenis mikrofitoplankton berdasarkan waktu


pengamatan.

Dari 33 genera kelas Bacillariophyceae yang teramati ada lima genera


yang mendominansi perairan selama masa pengamatan, yaitu Chaetoceros,
Skeletonema, Nitzchia, Navicula dan Thallasiosira (Gambar 30). Skeletonema
dan Chaetoceros merupakan genera dengan kelimpahan tertinggi, rata-rata
kelimpahan Skeletonema dari Juni sampai Nopember 2010 adalah 1,29 x 108
sel/m3 sedangkan Chaetoceros adalah 4,69 x 107 sel/m3 (Lampiran 2). Hasil
penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan
bahwa di perairan Teluk Jakarta Skeletonema merupakan genera yang
mendominansi perairan (Damar, 2003; Soedibjo, 2006; Thoha, 2010).

Pada awal Juni, rata-rata biomassa mikrofitoplankton adalah 0,18


mg/m3, terdiri dari 22 genus, 19 genus merupakan kelompok diatom, 2 genus
termasuk kelompok Cyanophyceae dan 1 genus Dinophyceae. Struktur populasi
didominansi oleh diatom dimana Chaetoceros dan Thallasiotrix merupakan jenis
yang dominan. Kelimpahan Chaetoceros adalah 3,5 x 106 sel/m3 sementara
kelimpahan Thallasiotrix 1,6 x 106 sel/m3. Kelompok Cyanophyceae dan
Dinophyceae hanya ditemukan dalam jumlah kecil (103 – 104 sel/m3). Pada
kelompok Cyanophyceae ditemukan Oscillatoria dan Anabaena, sedangkan dari
kelompok Dinophyceae ditemukan genus Peridinium. Dengan konsentrasi
nutrien yang tinggi, biomassa mikrofitoplankton yang teramati saat ini termasuk
80

rendah, hal ini dapat terjadi karena pada waktu yang bersamaan terjadi ledakan
populasi ubur-ubur.

Pada pengukuran yang dilakukan dua minggu kemudian, nilai biomassa


mikrofitoplankton mengalami penurunan hampir 50 % menjadi 0,09 mg/m3.
Penurunan nilai biomassa diikuti oleh penurunan kelimpahan jenis dari struktur
populasi mikrofitoplankton yang menyusunnya yaitu dari 6,6 x 106 menjadi
2,5 x 106 sel/m3. Struktur komposisi genus tidak mengalami perubahan besar,
hanya genus Bacillaria yang hilang dan tergantikan oleh genus lainnya yaitu
Bacteriastrum. Pada kelompok Cyanophyceae, genus Spirullina yang hilang
hanya Oscillatoria saja yang ditemukan, sementara pada kelompok Dinophyceae
terjadi penambahan satu genus baru yaitu Pyrocystis dengan kelimpahan yang
rendah.

Penurunan biomassa dan kelimpahan dari mikrofitoplankton yang terjadi


pada saat ini bertepatan dengan terjadinya penurunan konsentrasi nutrien terutama
NO3-N dan Si serta penurunan suhu dan pH perairan (Lampiran 1). Hasil analisis
ragam menunjukkan bahwa perubahan suhu tidak berbeda nyata selama masa
pengamatan, sehingga pengaruh penurunan suhu terhadap penurunan biomassa
dan kelimpahan fitoplankton dapat diabaikan. Penurunan pH perairan tidak
terlalu memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan fitoplankton di
ekosistem laut, hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Berge et al. (2010) yang
melakukan pengamatan terhadap laju pertumbuhan delapan spesies fitoplankton
pada media air laut dengan derajat keasaman yang berbeda. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa enam dari delapan spesies fitoplankton yang
diujicobakan tidak mengalami perubahan laju pertumbuhan ketika pH media
tumbuh diturunkan. Penurunan pH sampai skala < 7 pada umumnya tidak
membatasi pertumbuhan fitoplankton namun berpengaruh terhadap laju
pertumbuhan eksponensialnya. Perubahan nilai biomassa dan kelimpahan
nampaknya lebih terpengaruh oleh perubahan konsentrasi nutrien di perairan.
Pada saat ini konsentrasi NO3-N turun dari 0,41 mg/m3 menjadi 0,11 mg/m3
sedangkan PO4-P turun dari 0,03 mg/m3 menjadi 0,02 mg/m3, sementara
konsentrasi NH4-N tetap. Penurunan ini mempengaruhi nilai N:P rasio perairan.
81

Perubahan N:P rasio yang terjadi saat ini tidak menyebabkan perubahan pada
komposisi jenis, tetapi hanya menyebabkan penurunan laju pertumbuhan.

Pada awal Juli, rata-rata biomassa mikrofitoplankton mengalami


kenaikan menjadi 0,11 mg/m3. Struktur komposisi mikrofitoplankton terdiri dari
30 genus, dimana diatom merupakan jenis yang dominan. Pada awal Juli tersebut,
populasi Skeletonema mulai naik secara signifikan, kelimpahannya meningkat 627
kali dibandingkan dengan pengamatan sebelumnya. Selain itu juga terjadi
peningkatan kelimpahan populasi Oscillatoria hingga mencapai puncak populasi
dengan kelimpahan 4 x 105 sel/m3. Dari kelompok Dinophyceae terjadi kenaikan
kelimpahan namun tidak signifikan.

Pada akhir Juli nilai biomassa mikrofitoplankton melonjak dua kali lipat
menjadi 0,21 mg/m3. Peningkatan biomassa terjadi seiring dengan terjadinya
ledakan populasi Skeletonema, yang mencapai kelimpahan 1,8 x 108 sel/m3. Pada
saat ini Cyanophyceae juga mencapai kelimpahan tertinggi selama masa
pengamatan seiring dengan ditemukannya Anabaena dengan kelimpahan yang
tinggi yaitu 9,8 x 105 sel/m3. Keragaman jenis menurun dari 30 jenis menjadi
hanya 16 jenis karena adanya dominansi dari Skeletonema. Skeletonema
merupakan jenis yang sering kali ditemukan dalam kondisi melimpah di perairan
Teluk Jakarta (Damar, 2003; Soedibjo 2006; Thoha, 2009). Skeletonema
berbentuk rantai memanjang dengan ukuran sel yang sedang bila dibandingkan
dengan jenis diatom lainnya, menurut Ou et al. (2008) ukuran sel Skeletonema
costatum adalah 113,3 + 52,4 µm.

Kenaikan kelimpahan Skeletonema pada bulan Juli terkait dengan


turunnya salinitas perairan akibat beberapa kali terjadi hujan lebat yang
menyebabkan terjadinya banjir di wilayah kota Jakarta dan sekitarnya. Beberapa
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan adanya keterkaitan
yang kuat antara ledakan populasi Skeletonema dengan turunnya salinitas
permukaan (Adnan, 2003; Huo & Jun Shu, 2005; Patil & Anil, 2011). Pada
penelitian ini penurunan salinitas yang terjadi di perairan Pulau Pari nampak tidak
terlalu signifikan, nilai salinitas turun dari 31,20 menjadi 30,4 ppt, hal ini terjadi
karena hampir setiap waktu pengambilan sampel bertepatan dengan terjadinya
82

hujan, sehingga nilai salinitas sesaat sebelum tejadinya hujan tidak teramati.
Hasil penelitian Huo & Jun Shu (2005) menunjukkan bahwa terjadinya hujan
lebat meningkatkan konsentrasi total inorganik nitrogen (TIN) di perairan.
Kenaikan yang cepat pada konsentrasi TIN memicu terjadinya pertumbuhan yang
cepat dari Skeletonema, namun ketika puncak ledakan terjadi, maka konsentrasi
TIN, PO4-P dan Si mengalami penurunan yang drastis. Dalam penelitian ini pada
saat puncak kelimpahan Skeletonema, nilai TIN dan PO4-P mengalami kenaikan
dari pengamatan sebelumnya, namun nilai konsentrasi Si turun menjadi 3,9 % dari
pengamatan sebelumnya. Nilai TIN dan PO4-P yang tinggi pada saat pengukuran
menunjukkan kemungkinan bahwa ledakan Skeletonema belum mencapai puncak
populasinya, atau puncak populasi Skeletonema dapat terjadi beberapa saat lagi
setelah pengamatan, karena nilai TIN dan PO4-P yang masih tinggi, sehingga
masih dapat dimanfaatkan oleh populasi Skeletonema untuk tumbuh.

Pengamatan terhadap rasio N:P perairan menunjukkan bahwa sebelum


terjadi ledakan populasi, yaitu pada Juni, nilai rasio N:P yang teramati adalah 32,7
pada tanggal 2 Juni dan 27,4 pada tanggal 16 Juni. Pada awal kenaikan
kelimpahan Skeletonema yang terjadi pada awal Juli, rasio N:P perairan turun
menjadi 15,6, hal ini terjadi karena konsentrasi PO4-P naik dua kali lipat dari 0,02
menjadi 0,04 mg/m3. Pada pengamatan dua minggu berikutnya nilai rasio N:P
kembali turun menjadi 10,8, yang disebabkan oleh kenaikan konsentrasi PO4-P
menjadi dua kali lipat dari 0,04 menjadi 0,08 mg/m3. Pada saat ini kelimpahan
populasi Skeletonema mencapai puncak tertinggi selama masa pengamatan yaitu
1,8 x 108 sel/m3. Naiknya kelimpahan Skeletonema yang beriringan dengan
naiknya konsentrasi PO4-P, menunjukkan bahwa Skeletonema dapat terpacu
pertumbuhannya oleh kenaikan konsentrasi PO4-P, atau dengan kata lain
Skeletonema merupakan spesies yang bersifat “P-limited” (Parson et al., 1984).
Menurut Ou et al. (2008) Skeletonema membutuhkan unsur P dengan konsentrasi
yang tinggi untuk pertumbuhannya dan mempunyai kemampuan untuk
menyimpan P dalam jumlah besar dalam selnya. Populasi Skeletonema dapat
mengalami penurunan tiba-tiba apabila konsentrasi P dalam air mengalami
penurunan.
83

Awal Agustus, nilai biomassa klorofil-a masih mengalami kenaikan


menjadi 0,22 mg/m3. Pada saat ini sebenarnya kelimpahan jenis
mikrofitoplankton jauh berkurang dari pengukuran sebelumnya, karena populasi
Skeletonema berkurang hampir 80 % dari pengukuran sebelumnya dan populasi
Anabaena pun menghilang. Dari kelompok Cyanophyceae hanya ditemukan
Oscillatoria dengan kelimpahan yang rendah (3,2 x 104 sel/m3). Pada saat ini
mulai ditemukan Ceratium dari kelompok Dinophyceae dengan kelimpahan
rendah (6,2 x 103 sel/m3). Penurunan kelimpahan yang signifikan ternyata tidak
memberikan pengaruh terhadap penurunan biomassa klorofil-a, diduga hal ini
terjadi karena hadirnya beberapa jenis diatom yang mempunyai dimensi ukuran
cukup besar seperti Melosira dan Hemialus serta kenaikan kelimpahan
Coscinodiscus, Bacteriastrum, Pleurosigma dan Rhizosolenia. Menurut Olenina
et al., (2006) biovolume Melosira adalah 63 – 37.368 µm3, Coscinodiscus adalah
8.586 – 13.203.700 µm3 dan Rhizosolenia mempunyai biovolume 3.140 –
1.373.750 µm3.

Pada akhir Agustus biomassa mikrofitoplankton berkurang 46 % dari


biomassa yang terukur pada awal Agustus. Penurunan biomassa diiringi dengan
penurunan kelimpahan jenis sebesar 50 % dari kelimpahan sebelumnya. Pada saat
ini keragaman jenis bertambah dari 19 genus menjadi 25 genus. Kelimpahan
genus Chaetoceros meningkat 3,7 kali lebih banyak dari pengamatan sebelumnya,
dan mulai mendominansi struktur populasi di perairan. Cyanophyceae tidak
ditemukan sama sekali di dalam sampel, namun kelompok Dinophyceae
mengalami peningkatan kelimpahan jenis yang signifikan yaitu 37 kali dari
kelimpahan sebelumnya. Jumlah genus yang ditemukan dari kelas Dinophyceae
pun bertambah menjadi empat genus yaitu Ceratium, Dictyocha, Peridinium dan
Prorocentrum.

Penurunan biomassa yang terjadi pada akhir Agustus terjadi beriringan


dengan turunnya kelimpahan jenis dari mikrofitoplankton. Kondisi suhu, salinitas
dan pH perairan pada Agustus cenderung stabil dan tidak mengalami perubahan,
hanya saja nilai pH yang teramati < 7, hal ini menunjukkan perairan sedang
bersifat asam pada saat pengambilan contoh dilakukan. Pengaruh peubah suhu,
84

salinitas dan pH tidak terlalu signifikan mempengaruhi perubahan biomassa dan


kelimpahan fitoplankton, sama seperti yang terjadi pada Juni, penurunan biomassa
mikrofitoplankton nampaknya lebih dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi pada
konsentrasi nutrien. Terjadi peningkatan signifikan pada konsentrasi NH4-N dan
PO4-P, sementara Si, mengalami penurunan. Konsentrasi Si yang terukur hanya
0,43 mg/m3, merupakan konsentrasi terendah setelah akhir Juli pada saat
terjadinya ledakan populasi Skeletonema. Pada akhir Juli penurunan Si terjadi
karena dimanfaatkan oleh populasi Skeletonema yang meningkat, namun pada
akhir Agustus, biomassa dan kelimpahan mikrofitoplankton tidak sedang dalam
kondisi tinggi, sehingga pada saat ini Si menjadi pembatas pertumbuhan
mikrofitoplankton.

Pada September, biomassa mikrofitoplankton kembali mengalami


penurunan menjadi 1,30 x 10-1 mg/m3. Namun demikian kelimpahan jenis naik
secara signifikan dari 2,10 x 107 sel/m3 pada akhir Agustus, menjadi 1,00 x 108
sel/m3 pada pertengahan September. Kenaikan kelimpahan jenis disebabkan
karena terjadinya ledakan populasi genus Chaetoceros yang mencapai kelimpahan
tertinggi sepanjang masa pengamatan dengan kelimpahan sebesar 6,10 x 107
sel/m3. Pada saat ini Oscillatoria dari kelompok Cyanophyceae juga mencapai
kelimpahan tertinggi sepanjang masa pengamatan yaitu 5,40 x 105 sel/m3.
Kenaikan kelimpahan jenis ternyata tidak menyebabkan terjadinya kenaikan nilai
biomassa, diduga hal ini terjadi karena jenis Chaetoceros yang mendominansi
perairan adalah jenis yang berukuran kecil sehingga kenaikan jumlahnya tidak
terlalu berpengaruh terhadap kenaikan biomassa, selain itu Chaetoceros yang
tercacah sebagian besar sudah mengalami kerusakan sel (sel mulai kosong)
sehingga mempengaruhi konsentrasi klorofil-a yang terukur pada saat analisis
biomassa klorofil-a.

Sepanjang masa pengamatan, Chaetoceros menunjukkan kelimpahan


tertinggi pada saat ini. Puncak kelimpahan Chaetoceros menunjukkan bahwa
kondisi perairan pada September 2010 merupakan kondisi yang cocok untuk
pertumbuhan sel Chaetoceros. Pada saat ini konsentrasi NO3-N mencapai nilai
tertinggi sepanjang masa pengamatan yaitu 0,53 mg/m3. Rasio N:P di perairan
85

mencapai kondisi normal untuk perairan laut, mendekati rasio yang pernah
diajukan oleh Redfield yaitu 16,6 (Parson et al., 1984). Pada kondisi ini
fitoplankton yang melimpah adalah fitoplankton yang sensitif dengan konsentrasi
TIN tinggi, terutama NO3-N. Puncak kelimpahan Chaetoceros yang terjadi saat
ini menunjukkan bahwa Chaetoceros merupakan genus yang memerlukan
konsentrasi unsur N tinggi untuk pertumbuhannya, atau dengan kata lain
Chaetoceros merupakan “N-limited spesies” sesuai dengan hasil penelitian Lagus
et al. (2004) dan Leonardos & Geider (2004).

Pada awal Oktober, biomassa mikrofitoplankton naik mencapai nilai


tertinggi sepanjang masa pengamatan yaitu sebesar 0,23 mg/m3. Pada waktu yang
bersamaan terjadi kenaikan kelimpahan genus Ceratium dari kelompok
Dinophyceae. Ceratium merupakan plankton dengan ukuran yang cukup besar
sehingga kenaikan kelimpahannya di perairan akan sangat berpengaruh terhadap
kenaikan biomassa. Kelimpahan kelompok diatom pada saat ini justru menurun
dengan tajam hanya mencapai 5,0 x 106 sel/m3 dengan jenis yang paling banyak
ditemukan adalah Navicula. Hasil penelitian Baek et al. (2007) menunjukkan
bahwa Ceratium fusus tumbuh dengan sangat cepat di perairan pantai Teluk
Sagami Jepang pada kondisi salinitas 27 ppt, suhu perairan 24oC, dan radiasi
foton 650 µmol/m2/detik. Ceratium dapat tumbuh di tempat dengan konsentrasi
nutrien rendah, genus ini mempunyai kemampuan fisiologis untuk tetap tumbuh
dalam kondisi selang salinitas, temperatur, dan radiasi matahari yang luas.

Pada pertengahan Oktober biomassa mikrofitoplankton kembali turun,


berkurang 30 % dari nilai tertinggi yang terjadi pada awal Oktober, menjadi
menjadi 0,170 mg/m3. Pada saat ini kelimpahan jenis naik namun tidak
signifikan. Keragaman jenis yang ditemukan ada 19 jenis dengan komposisi yang
tidak berbeda nyata dengan pengamatan sebelumnya. Kelimpahan Ceratium
mulai menurun hingga sepertiga dari kelimpahan sebelumnya. Jenis diatom yang
ditemukan paling melimpah adalah Navicula.

Rasio N:P pada Oktober menunjukkan kondisi yang hampir sama


dengan rasio N:P pada pengamatan Juni, yaitu 32,9 pada awal Oktober dan 25,7
pada pertengahan Oktober, namun demikian komposisi spesies yang menyusun
86

komunitas fitoplankton sangat berbeda. Pada pengamatan Oktober ditemukan


peningkatan kelompok Dinophyceae. Ceratium dan beberapa genus dari
Dinophyceae memerlukan N dalam konsentrasi tinggi untuk pertumbuhannya
(Baek et al., 2007; Baek et al., 2008).

Biomassa mikrofitoplankton kembali naik pada akhir masa pengamatan


yang dilakukan pada pertengahan Nopember. Biomassa yang terukur sebesar 0,21
mg/m3. Kenaikan biomassa saat ini terjadi seiring dengan kenaikan kelimpahan
jenis. Kelimpahan jenis naik menjadi 5,30 x 107 sel/m3. Pada saat ini
kelimpahan Skeletonema kembali meningkat menjadi 3,40 x 10 sel/m3. Besarnya
7

persentase kelimpahan Skeletonema menunjukkan bahwa genus ini memberikan


pengaruh yang cukup nyata terhadap kenaikan biomassa mikrofitoplankton. Pada
saat ini Dinophyceae dan Cyanophyceae hanya ditemukan sedikit dan masing-
masing hanya satu jenis saja, yaitu Ceratium dari kelompok Dinophyceae dan
Oscillatoria dari kelompok Cyanophyceae.

Variasi yang terjadi pada struktur populasi fitoplankton sangat dipengaruhi


oleh konsentrasi nutrien dan laju pertumbuhan maksimal dari setiap spesies,
sehingga bisa terjadi perubahan komposisi jenis dari mikrofitoplankton.

4.2.3 Biomassa dan komposisi struktur zooplankton

Rata-rata biomassa total zooplankton di perairan laguna Pulau Pari selama


periode Juni – Nopember adalah 4,22 x 10-3 mg/m3. Nilai ini sangat rendah bila
dibandingkan dengan nilai yang ditemukan di Teluk Jakarta pada tahun 1985
sebesar 3,73 mg/m3 (Wiadnyana, 1985), di estuary Pinna Brazil sebesar 136
mg/m3 ( Eskinazi-sant’anna, 2000), di pantai Timur laut Brazil, 199 – 212 mg/m3
(de Melo Junior et al., 2007). Dari keseluruhan biomassa zooplankton di laguna
Pulau Pari 63,9 % merupakan komponen mikrozooplankton atau zooplankton
yang lolos pada jaring plankton ukuran 200 µm dan 36,1 % adalah komponen
mesozooplankton atau plankton yang tertahan pada jaring plankton 200 µm.
87

a. Biomassa mikrozooplankton

Biomassa mikrozooplankton yang diperoleh selama periode pengukuran


berkisar antara 2,14 x 10-5 - 1,15 x 10-2 mg/m3, dengan rata-rata 3,06 x 10-3
mg/m3. Pengukuran terendah terjadi pada awal Juni di stasiun 5 dan awal
Oktober (sampling kedelapan) di stasiun 4, sementara pengukuran tertinggi terjadi
pada awal Agustus di stasiun 1 (Gambar 31).

0,014
Biomassa mikrozooplankton (mg/m3)

St 1
0,012 St 2
St 3
ST 4
0,010 St 5

0,008

0,006

0,004

0,002

0,000
Jun Jul Agust Sep Okt Nop
waktu pengamatan (2010)

Gambar 31. Distribusi temporal biomassa mikrozooplankton.

Fluktuasi yang terjadi pada biomassa mikrozooplankton sepanjang


massa pengamatan menunjukkan pola naik turun dengan kecenderungan naik
pada Juni – Juli dan turun pada Agustus – Oktober dan mulai naik kembali pada
akhir Oktober - Nopember. Biomassa mikrozooplankton yang teramati pada awal
Juni relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan waktu lainnya. Seperti telah
dibahas sebelumnya, bahwa pada awal Juni terjadi ledakan populasi ubur-ubur di
perairan laguna Pulau Pari. Kehadiran ubur-ubur dapat mengurangi biomassa
plankton melalui berbagai cara, diantaranya melalui pemangsaan, karena
zooplankton termasuk salah satu jenis makanan yang ditemukan di dalam saluran
pencernaan ubur-ubur (Uye, 2008). Dua minggu setelah ledakan populasi ubur-
88

ubur, biomassa mikrozooplankton mulai mengalami peningkatan. Hal ini menjadi


dasar penduga bahwa ada korelasi antara ledakan populasi ubur-ubur dengan
penurunan biomassa mikrozooplankton.

Selama Juli rata-rata biomassa mikrozooplankton terus mengalami


kenaikan sampai mencapai puncak tertinggi pada akhir Juli dengan nilai rata-rata
8,65 x 10-4 mg/m3. Pada awal Agustus biomassa mikrozooplankton mulai
mengalami penurunan, walaupun hanya berkurang sedikit dari pengukuran akhir
Juli, rata-rata dari lima stasiun pengamatan, biomassa mikrozooplankton pada
awal Agustus adalah 7,35 x 10-3 mg/m3.

Pada September rata-rata biomassa mikrozooplankton mengalami sedikit


kenaikan menjadi 3,59 x 10-4 mg/m3, setelah sebelumnya pada akhir Agustus
berada pada nilai 2,63 x 10-4 mg/m3. Pada awal Oktober rata-rata biomassa
mikrozooplankton terus mengalami penurunan sampai mencapai nilai terendah
yaitu 1,03 x 10-5 mg/m3, hampir mendekati nilai rata-rata biomassa pada awal
Juni. Selanjutnya rata-rata biomassa mikrozooplankton kembali mengalami
kenaikan pada akhir Oktober.

Biomassa mikrozooplankton di perairan laguna Pulau Pari sangat


bervariasi antar waktu dan stasiun pengamatan, ditandai dengan tingginya nilai
koefisien variasi yang diperoleh dari seluruh satuan pengamatan yaitu sebesar
103,62 %. Nilai koefisien variasi yang lebih dari 100 % menunjukkan bahwa
pada setiap pengambilan sampel diperoleh nilai yang berbeda, yang berarti bahwa
lokasi sampling merupakan lokasi yang sangat dinamis, dimana kondisi
mikrozooplankton selalu berubah-ubah setiap waktu di setiap lokasi. Hasil
analisis ragam pada taraf nyata 5 % menunjukkan bahwa biomassa
mikrozooplankton berbeda nyata pada setiap waktu dan lokasi pengamatan.

Variasi nilai biomassa mikrozooplankton di perairan laguna Pulau Pari


dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan. Analisis korelasi Pearson terhadap
biomassa mikrozooplankton dengan peubah-peubah lingkungan yang
89

diamati dan biomassa organisme plantonik lainnya, menunjukkan bahwa


biomassa mikrozooplankton mempunyai keterkaitan yang paling kuat (-0,55)
terhadap nilai pH perairan. Hal ini menunjukkan bahwa respon biomassa
mikrozooplankton paling sensitif terhadap perubahan pH perairan bila
dibandingkan yang lainnya. Di Teluk Cheasepeak, kelimpahan dan biomassa
zooplankton dipengaruhi oleh suhu dan salintas, dimana kedua faktor tersebut
mempengaruhi distribusi dari zooplankton (Paulone, 2007). Hasil penelitian
Baduini (1997) menunjukkan bahwa di Teluk Monterey, kejadian ELNINO
berkaitan dengan rendahnya biomassa zooplankton di perairan tersebut. Di
laguna Pulau Pari, peubah suhu dan salinitas tidak menunjukkan variasi yang
tinggi dan tidak berbeda nyata selama masa pengamatan, sehingga tidak terlalu
mempengaruhi biomassa zooplankton. Biomassa mikrozooplankton di laguna
Pulau Pari nampaknya lebih dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya makanan
dan kehadiran organisme pemangsa. Makanan utama mikrozooplankton adalah
fitoplankton berukuran 5 – 20 µm (Liu & Dagg, 2003), sedangkan Storm et al.
(2007) menunjukkan bahwa laju grazing mikrozooplankton terhadap fitoplankton
berukuran < 5 µm lebih besar bila dibandingkan dengan grazing terhadap
fitoplankton berukuran > 20 µm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada
waktu-waktu tertentu terdapat hubungan negatif antara mikrozooplankton dengan
nanofitoplankton, yang menjadi indikasi adanya interaksi diantara kedua
komponen tersebut, yaitu pemangsaan mikrozooplankton terhadap
nanofitoplankton. Pada saat biomassa larva ikan tinggi, biomassa
mikrozooplankton juga mengalami penurunan, yang menunjukkan adanya
pemangsaan mikrozooplankton oleh larva ikan.

b. Komposisi struktur mikrozooplankton

Populasi mikrozooplankton yang menyusun biomassa mikrozooplankton


di perairan Pulau Pari sangat bervariasi. Organisme penyusun mikrozooplankton
di perairan Laguna Pulau Pari berasal dari beberapa kelompok taxa, ditemukan 9
kelas dari 6 filum yang berbeda, berdasarkan pada klasifikasi dan identifikasi
menurut Yamaji (1979). Dari filum Arthropoda kelas Crustacea ditemukan tiga
90

subkelas yaitu Copepoda, Brachiopoda dan Malacostraca. Dari filum Protozoa


ditemukan tiga kelas yaitu Ciliata, Silikoflagelata dan Sarcodina. Larva dari
kelompok hewan-hewan lunak juga ditemukan sebagai penyusun zooplankton di
perairan Laguna Pulau Pari, yang berasal dari kelas Gastropoda (siput-siputan)
dan kelas Bivalvia/Lamellibrachiata (kerang-kerangan). Selain itu juga
ditemukan zooplankton dari filum Aschelmintes dari kelas Rotatoria atau lebih
dikenal dengan rotifer. Ada juga larva cacing yang dijumpai berasal dari dua
filum yaitu Chaetognatha dan Polychaeta.

Kelompok mikrozooplankton merupakan zooplankton yang berukuran


kurang dari 200 µm dan seringkali tersusun oleh larva-larva dari organisme yang
berukuran besar yang pada masa awal hidupnya dilalui dalam fase planktonik,
seperti larva moluska, Crustacea dan kelompok cacing-cacingan. Tipe
zooplankton seperti ini dikenal dengan istilah meroplankton (Nontji, 2008), dalam
perkembangannya meroplankton akan berubah ukuran bertambah besar dan
kadangkala ada yang berubah sifat dari planktonik menjadi bentik seperti yang
dialami oleh larva Moluska dari kelompok Gastropoda atau larva Crustacea dari
subkelas Malacostraca (udang-udangan).

Kelas Crustacea merupakan penyusun utama dari mikrozooplankton di


perairan Laguna Pulau Pari. Kelas Crustacea menyusun 86,82 % dari total
kelimpahan mikrozooplankton (Gambar 32). Anggota kelas Crustacea yang
teridentifikasi berasal dari tiga subkelas yaitu Copepoda, Brachiopoda dan
Malacostraca. Kelas Crustacea terdiri dari 12 genera dan 11 genera diantaranya
termasuk ke dalam subkelas Copepoda, dan 1 genera masuk ke dalam subkelas
Brachiopoda. Anggota subkelas Malacostraca sangat sulit untuk diidentifikasi,
hanya dikenali melalui fase perkembangannya saja, yaitu nauplius, zoea, mysis
dan post larva. Nauplius yang tidak teridentifikasi menyusun 62,75 % dari
seluruh kelimpahan mikrozooplankton, selanjutnya Copepoda menyusun 24,06 %,
dengan genera dominan adalah Tortanus dan Oithona. Copepoda merupakan
kelompok zooplankton yang seringkali mendominansi perairan. Di perairan
Teluk Kao Maluku Utara, kelimpahan Copepoda mecapai 30,50 – 86,80 % dari
total kelimpahan zooplankton (Wiadnyana, 1997), di perairan Maluku Tenggara
91

Copepoda menyusun 72,00 % dari total kelimpahan zooplankton (Wiadnyana,


1997), sementara di laut Banda Copepoda menyusun 54,00 – 89,20 % dari total
kelimpahan zooplankton (Wiadnyana, 1999)..

Filum Protozoa menyusun 5,40 % dari total keseluruhan komponen


mikrozooplankton, genera dominan adalah Tintinopsis dari kelas Ciliata. Urutan
ketiga dengan kelimpahan tertinggi adalah filum Moluska yang menyusun 5,13 %
dari total keseluruhan mikrozooplankton, dengan genera dominan adalah
Lymacina. Sementara Rotatoria, Chaetognatha dan Polychaeta menyusun kurang
dari 3,00 % dari seluruh populasi mikrozooplankton. Gambar 32 menunjukkan
persentase organisme penyusun mikrozooplankton selama masa pengamatan dan
Gambar 33. menunjukkan sebaran kelimpahan jenis mikrozooplankton
berdasarkan waktu pengamatan.

100%
Polycaheta
80%
Persentase kelimpahan

Chaetogatha
Moluska
60%
Rotatoria
40% Protozoa
Crustacea
20%

0%
19-Nov
02-Jun

15-Jun

05-Oct

18-Oct
06-Aug

26-Aug
05-Jul

22-Jul

19-Sep

Waktu pengamatan (2010)

Gambar 32. Persentase organisme penyusun mikrozooplankton.

Tingginya persentase kelimpahan dari suatu taxa, tidak dapat


menunjukkan besarnya kontribusi taxa tersebut terhadap total biomassa
zooplankton, karena setiap taxa yang berbeda mempunyai ukuran dan berat yang
92

berbeda pula. Sebagai contoh satu individu Acartia kecil akan mempunyai berat
yang berbeda dengan satu individu Favella dari filum Protozoa. Sehingga dapat
terjadi kondisi dimana biomassa rendah namun kelimpahan tinggi atau sebaliknya,
bergantung pada jenis dan ukuran dari organisme penyusun biomassa.
Kelimpahan (ind/m3)

2.E+04
02-Jun
15-Jun
1.E+04 Nauplius
Tortanus
Acartia Oithona 05-Jul
Tintinopsis Lymacina
0.E+00 22-Jul
Acartia sp
Eucalanus

06-Agust
Naupli balanus
Paracalanus sp
Labidocera sp

Favella sp
Tintinopsis sp

Globigerinoides 26-Agust

Dinophysis

Brachionus sp

Veliger larvae

Sagita sp

Lopadorrhynchus sp
19-Sep
05-Okt
18-Okt
Jenis 19-Nop

Gambar 33. Sebaran kelimpahan jenis mikrozooplankton berdasarkan waktu


pengamatan.

Pada awal Juni, dimana biomassa organisme planktonik sangat rendah,


fase nauplius Crustacea menyusun 43,10 % dari total populasi mikrozooplankton.
Nauplius ini memang selalu ditemukan dalam jumlah yang paling melimpah
sepanjang masa pengamatan dan menjadi penyusun utama dari populasi
mikrozooplankton di perairan laguna Pulau Pari. Penyusun biomassa
mikrozooplankton yang dominan lainnya adalah Lymacina yang menyusun
17,36 %, selanjutnya Acartia yang terdiri dari fase dewasa dan nauplius dengan
prosentase 13,90 %.

Ketika biomassa mikrozooplankton meningkat pada minggu kedua Juni,


organisme penyusun menjadi semakin beragam, dari semula 13 taxa menjadi 17
taxa. Nauplius tetap mendominansi struktur populasi mikrozooplankton,
selanjutnya diikuti oleh Oithona, Brachionus, Acartia serta Lymacina. Populasi
Brachionus mengalami peningkatan yang signifikan dari semula hanya 3,30
93

inidividu/m3 menjadi 454 individu/m3, dan saat ini merupakan puncak kelimpahan
dari Brachionus karena pada pengamatan selanjutnya tidak pernah lagi dijumpai
Brachionus dengan kelimpahan yang lebih tinggi. Hasil penelitian Rimper et al.
(2008) menunjukkan bahwa di perairan pantai dan estuary Sulawesi Utara
kelimpahan Brachionus paling tinggi dijumpai pada musim timur bila
dibandingkan dengan musim barat.

Pada awal Juli, biomassa mikrozooplankton terus mengalami


peningkatan, akan tetapi terjadi penurunan kelimpahan organisme penyusunnya.
Komposisi organisme penyusun berubah walaupun tetap didominansi oleh
kelompok Crustacea, namun kelimpahannya hanya separuh dari kelimpahan
Crustacea pada pengamatan sebelumnya. Pada saat ini mulai hadir Tortanus,
yang merupakan salah satu Copepoda berukuran cukup besar (Lampiran 3).
Terjadi peningkatan yang signifikan dari kelompok Protozoa yaitu genus
Tintinopsis, kelompok Moluska dimana populasi Lymacina meningkat hampir dua
kali lipat, dan mulai hadir kelompok cacing-cacingan dari genus Sagitta.
Kehadiran Sagitta dan peningkatan populasi Tintinopsis dan Lymacina inilah
yang diduga memberikan kontribusi dalam peningkatan biomassa
mikrozooplankton. Berdasarkan pada hasil pengukuran biovolume, Sagitta
mempunyai ukuran biovolume 1,49 x 106 µm3, sementara Tintinopsis mempunyai
volume 1,19 x 105 µm3. Biovolume Sagitta dan Tintinopsis memang lebih besar
dari 200 µm, sehingga seharusnya tidak termasuk kedalam kelompok
mikrozooplankton, namun karena bentuknya yang tipis dan panjang maka kedua
jenis ini dapat lolos melalui jaring plankton 200 µm.

Pada minggu ke tiga Juli, biomassa mikrozooplankton mencapai puncak


tertinggi selama masa pengamatan. Pada saat ini jumlah taxa yang ditemukan ada
18 taxa, ada penambahan 1 jenis cacing dari kelompok Polychaeta yang juga
berukuran cukup besar, yaitu Tomopteris. Kelimpahan total mikrozooplankton
saat ini adalah 11.176,07 individu/m3, bukan merupakan kelimpahan tertinggi dari
komunitas mikrozooplankton selama massa pengamatan. Terjadi peningkatan
kelimpahan populasi mikrozooplankton kelompok tertentu, seperti Lymacina dan
Tintinopsis mencapai puncak kelimpahannya pada saat ini (Lampiran 3). Selain
94

itu jenis-jenis berukuran besar juga mengalami peningkatan jumlah seperti


Oithona dan Sagitta. Kontribusi dari jenis-jenis berukuran besar inilah yang
meningkatkan biomassa mikrozooplankton sehingga dicapai konsentrasi tertinggi.
Menurut De Gao et al. (2005) kelimpahan tintinnid berhubungan dengan suhu
perairan, radiasi sinar matahari dan kedalaman secchi.

Pada awal Agustus, rata-rata biomassa zooplankton mulai mengalami


penurunan hingga setengah kali pengukuran sebelumnya menjadi 7,4 x 10-3
mg/m3. Namun kelimpahan jenis menjadi lebih tinggi dari sebelumnya 1,1 x 104
individu/m3 menjadi 1,6 x 104 individu/m3. Struktur populasi penyusun
mikrozooplankton berubah, dominansi organisme berukuran besar digantikan oleh
organisme berukuran kecil, walaupun pada kelompok Copepoda masih terlihat
beberapa genus berukuran besar jumlahnya bertambah seperti Tortanus dan
Oithona . Keragaman jenis berkurang menjadi 13 taxa, jenis cacing-cacingan
yang mempunyai biovolume besar menghilang, Acartia yang biasanya hadir
dalam jumlah cukup banyak juga menghilang. Populasi Tintinopsis dan Lymacina
menurun drastis, Tintinopsis turun hingga 1% sementara Lymacina turun hingga
10% dari populasi sebelumnya. Nauplius Crustacea kembali meningkat
jumlahnya hingga mencapai hampir 2 kali lipat.

Pada akhir Agustus rata-rata biomassa mikrozooplankton di perairan


laguna Pulau Pari semakin turun menjadi 2,7 x 10-3 mg/m3 diiringi dengan
turunnya kelimpahan jenis. Jumlah taxa yang ditemukan naik menjadi 17 taxa,
namun kelimpahan jenis menurun. Penurunan kelimpahan kelompok Crustacea
dan rotatoria hingga mencapai 50 % dari populasi sebelumnya sangat
mempengaruhi total kelimpahan dan biomassa dari mikrozooplankton pada saat
ini.

Pengamatan selanjutnya yang dilakukan pada pertengahan September


menunjukkan adanya sedikit peningkatan biomassa, yang diiringi oleh kenaikan
kelimpahan jenis. Biomassa naik dari 2,7 x 10-3 mg/m3 menjadi 3,6 x 10-3 mg/m3,
sementara kelimpahan jenis naik dari 7,8 x 103 mg/m3 menjadi 1,1 x 104
individu/m3. Pada saat ini semua kelompok taxa mengalami penurunan
kelimpahan kecuali Crustacea yang mengalami peningkatan kelimpahan, jadi
95

kenaikan biomassa dan kelimpahan jenis pada saat ini adalah jelas sangat
dipengaruhi oleh kelompok Crustacea.

Pada awal Oktober biomassa mikrozooplankton mencapai nilai sangat


rendah nilai biomassa hanya 1 x 10-3 mg/m3 mendekati nilai biomassa pada awal
Juni. Kelimpahan jenis juga turun menjadi 8 x 103 individu/m3, dengan jumlah
taxa hanya 12 jenis. Penurunan biomassa pada saat ini juga sangat dipengaruhi
oleh kelompok Crustacea yang mengalami penurunan kelimpahan dari 1,1 x 104
individu/m3 menjadi 7,4 x 103 individu/m3, karena pada saat ini kelompok lainnya
mengalami peningkatan jumlah walaupun peningkatannya tidak signifikan.

Mikrozooplankton mengalami sedikit kenaikan biomassa pada


pengamatan pertengahan Oktober menjadi 7,97 x 10-4 mg/m3. Kenaikan
biomassa kali ini juga diiringi oleh kenaikan kelimpahan jenis menjadi 1,50 x 104
mg/m3. Kenaikan kelimpahan jenis nampak signifikan namun pengaruhnya
terhadap kenaikan biomassa tidak terlihat signifikan. Ada 17 taxa ditemukan
dengan kelompok yang tetap mendominansi adalah Crustacea, dan pada saat ini
Sagitta dari filum Chaetognatha ditemukan melimpah, namun dengan ukuran
yang kecil-kecil.

Pada waktu akhir pengamatan, biomassa mikrozooplankton kembali turun


menjadi 4,89 x 10-4 mg/m3, namun tidak diiringi oleh kenaikan kelimpahan jenis.
Kelimpahan jenis turun dari 1,40 x 104 individu/m3 menjadi 1,20 x 104
individu/m3. Pada waktu ini kelimpahan semua kelompok penyusun
mikrozooplankton mengalami penurunan jumlah, hanya Brachionus saja yang
mengalami kenaikan jumlah yang signifikan, dari 33,02 individu/m3 menjadi
1,80 x 102 individu/m3. Kenaikan populasi Brachionus di perairan yang
menyebabkan kenaikan biomassa mikrozooplankton.

Variasi yang terjadi pada komposisi struktur dari mikrozooplankton


dipengaruhi oleh adanya variasi pada kondisi lingkungan perairan. Faktor-faktor
biotik seperti ketersediaan pakan, banyaknya predator dan adanya persaingan
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi komposisi jenis zooplankton. Hasil
penelitian Soedibjo (2007) menunjukkan bahwa kombinasi variabel lingkungan
96

yang paling sesuai dengan distribusi spasial komunitas zooplankton adalah


oksigen, nitrat dan silikat.

c. Biomassa Mesozooplankton

Selama masa pengamatan nilai biomassa mesozooplankton yang terukur


berkisar antara 2,62 x 10-6 – 7,8 x 10-3 mg/m3 (Gambar 34). Nilai rata-rata
biomassa terendah terukur pada awal Juni sementara yang tertinggi ditemukan
pada akhir Juli.

0,010

St 1
Biomassa mesozooplankton (mg/m )

St 2
3

0,008 St 3
St 4
St 5

0,006

0,004

0,002

0,000
Jun Jul Agust Sep Okt Nop

waktu sampling

Gambar 34. Distribusi temporal biomassa mesozooplankton.

Seperti yang terjadi dengan semua biomassa organisme planktonik, pada


saat terjadi ledakan populasi ubur-ubur di awal Juni menyebabkan nilai biomassa
mesozooplankton sangat rendah. Namun biomassa mesozooplankton mengalami
peningkatan dan mencapai puncaknya pada akhir Juli, dengan rata-rata
97

3,57 x 10-4 mg/m3. Pola fluktuasi biomassa mesozooplankton hampir sama


dengan pola fluktuasi pada biomassa mikrozooplankton. Pola yang terbentuk
adalah biomassa mengalami pola naik selama Juni – Juli dan mulai mengalami
pola menurun dari Agustus – Nopember. Perbedaan terlihat hanya pada hasil
pengukuran akhir Agustus, dimana biomassa mesozooplankton mengalami
kenaikan dari biomassa sebelumnya, sementara biomassa mikrozooplankton
masih mengalami penurunan (Gambar 35).

0,020
Rata-rata biomassa berat kering (mg/m 3)

mesozooplankton
mikrozooplankton

0,015

0,010

0,005

0,000

Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des


waktu pengmatan (2010)
.

Gambar 35. Pola rata-rata biomassa mikrozooplankton dan messozooplankton


di perairan laguna Pulau Pari periode Juni – Nopember 2010.

Seperti halnya mikrozooplankton, biomassa mesozooplankton juga


mempunyai variasi yang tinggi. Nilai koefisien variasi untuk seluruh biomassa
mesozooplankton yang terukur juga lebih dari 100 % yaitu sebesar 109,80 %,
yang menunjukkan terjadinya perubahan yang sangat dinamik pada nilai biomassa
mesozooplankton pada setiap waktu dan lokasi pengamatan. Hasil analisis ragam
pada taraf nyata 5 % menunjukkan bahwa biomassa mesozooplankton berbeda
nyata antar setiap waktu pengamatan namun tidak menunjukkan adanya
98

perbedaan yang nyata pada setiap lokasi sampling, yang artinya kondisi lokasi
sampling cenderung homogen pada setiap waktu pengambilan sampel.

Faktor-faktor yang mempengaruhi biomassa mesozooplankton hampir


seluruhnya sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi mikrozooplankton.
Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa mesozooplankton mempunyai
korelasi terkuat dengan peubah pH (-0,43), sama seperti mikrozooplankton yang
juga berkorelasi terkuat dengan pH, namun dengan nilai lebih besar (-0,55). Hal
ini menunjukkan bahwa biomassa mesozooplankton lebih stabil terhadap
perubahan pH perairan bila dibandingkan dengan biomassa mikrozooplankton.
Hasil penelitian Blachowiak-Samolyk et al. (2008) menunjukkan bahwa
perubahan kedalaman perairan, suhu dan salinitas perairan mempengaruhi lebih
dari 40 % keragaman sebaran horizontal dari biomassa mesozooplankton.
Biomassa fitoplankton dan kondisi kelimpahan alga lebih mempengaruhi
distribusi vertikal dari biomassa mesozooplankton. Hasil penelitian ini
menunjukkan korelasi antara biomassa mesozooplankton dengan biomassa
fitoplankton baik yang berukuran < 20 µm ataupun yang berukuran > 20 µm
sangat rendah (0,13 dan 0,08). Korelasi terbesar mesozooplankton terjadi dengan
biomassa mikrozooplankton dengan nilai korelasi sebesar 0,45 (Lampiran 8), hal
ini terjadi karena mesozooplankton memiliki pola distribusi biomassa yang
hampir sama dengan mikrozooplankton. Korelasi antara mesozooplankton
dengan komponen fitoplankton tidak nampak dalam hasil analisis korelasi
Pearson, namun bukan berarti tidak ada hubungan diantara mesozooplankton
dengan fitoplankton. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan utama
mesozooplankton adalah fitoplankton (Nuruhwati, 2003)

d. Komposisi struktur mesozooplankton

Mesozooplankton di perairan laguna Pulau Pari tersusun atas 9 filum dan


10 kelas hewan-hewan yang bersifat planktonik yaitu filum Arthropoda kelas
Crustacea, filum Protozoa yang terdiri dari kelas Ciliata dan Sarcodina, filum
Aschelmintes kelas Rotatoria atau Rotifera, filum Coelenterata kelas Hydrozoa,
99

filum Moluska kelas Gastropoda, filum Chaetognatha kelas Sagitoidea, filum


Protochordata kelas Tunicata, filum Annelida kelas Platyhelminthes dan filum
Pisces yang tergolong kedalam kelompok ikan berupa larva dan telur ikan.
Komposisi dan persentase organisme penyusun mesozooplankton ditampilkan
dalam Gambar 36. Dinamika komposisi struktur mesozooplankton ditampilkan
dalam Gambar 37.

100% Ikan
Chaetognatha
Persentase kelimpahan

80%
Protochordata
60%
Moluska

40% Coelenterata
Annelida
20%
Aschelminthes

0% Protozoa
Crustacea

19-Nov
06-Aug

26-Aug
05-Jul

22-Jul

19-Sep
02-Jun

15-Jun

05-Oct

18-Oct
waktu pengamatan (2010)

Gambar 36. Komposisi dan persentase organisme penyusun mesozooplankton.

Seperti halnya mikrozooplankton, Crustacea merupakan kelompok utama


penyusun komponen mesozooplankton. Crustacea menyusun 87,84 % dari
keseluruhan populasi mesozooplankton di perairan laguna Pulau Pari. Berbeda
dengan mikrozooplankton, subkelas utama penyusun Crustacea bukanlah
Copepoda, melainkan subkelas Malacostraca yang merupakan fase larva dan post
larva dari kelompok udang-udangan. Secara umum fase larva kelompok udang-
udangan ada tiga yaitu nauplius, zoea dan mysis, ketiga fase tersebut merupakan
fase planktonik dari seluruh siklus hidup udang-udangan. Malacostraca
menyusun 45,6 % dari total keseluruhan populasi mesozooplankton, sementara
Copepoda menyusun 41,53 % dari total keseluruhan populasi mesozooplankton.
Tidak seperti pada kelompok mikrozooplankton, pada kelompok
100

mesozooplankton dari kelas malacostraca, fase zoea merupakan fase yang


ditemukan dalam jumlah terbesar.
Kelimpahan (ind/m3)

3.E+03 02-Jun
zoea 15-Jun
2.E+03
Calanus 05-Jul
1.E+03 Acartia naupius besar
Oithona 22-Jul
0.E+00 Lymacina 06-Agust
Acartia sp
Calanus sp
Clausocalanus
Mysis

26-Agust
Oncaea sp
Pseudocalanus
Tortanus

Globigerinoide…
Cypridina sp

Lopadorrhynch…
Vibilia sp
Nauplius besar

Echinoploteus sp

Tomopteris sp
19-Sep

Lymacina sp
Sagita sp
Larva ikan
05-Okt
18-Okt
19-Nop
Jenis

Gambar 37. Sebaran kelimpahan jenis mesozooplankton menurut waktu


pengamatan.

Kelompok udang-udangan sebenarnya tidak ditemukan pada setiap


waktu pengamatan. Kelimpahannya yang tinggi hanya ditemukan pada Juli –
Agustus, kecuali fase nauplius ditemukan pada pertengahan Juni. Kelompok
mesozooplankton dengan persentase kehadiran dan kelimpahan yang tinggi
sebenarnya adalah kelompok Copepoda. Genera dominan di perairan adalah
Calanus dengan persentase kehadiran 100 %. Acartia menempati urutan kedua
dengan persentase kehadiran 90 %, selanjutnya adalah Oithona dengan persentase
kehadiran 80 %. Sedangkan malacostraca persentase kehadirannya hanya 30 –
70 % saja, namun dengan kelimpahan yang tinggi pada waktu tertentu.

Pada awal Juni biomassa mesozooplankton sangat rendah yaitu hanya


1,7 x 10-5 mg/m3, ternyata dalam 1 m3 air laut hanya ditemukan 13,3 individu
mesozooplankton (Lampiran 4), yang terdiri dari 3 taxa zooplankton dan 1 jenis
telur. Keempat taxa yang ditemukan adalah Calanus, Mikrosetella, larva Obelia
(ubur-ubur). Pengaruh ledakan populasi ubur-ubur secara nyata dapat mengurangi
biomassa dan kelimpahan zooplankton.
101

Pada minggu kedua Juni, biomassa mesozooplankton naik namun tidak


dalam jumlah yang signifikan, menjadi 3,4 x 10-5 mg/m3. Komposisi struktur
organisme mesozooplankton saat ini cukup komplek, tersusun atas 15 genus,
dengan kelompok dominan tetap Crustacea. Pada saat ini mulai muncul nauplius
berukuran besar yang dikelompokkan sebagai nauplius dari kelas Malacostraca.
Genus lainnya yang ditemukan adalah Lymacina dari filum Moluska, Brachionus
dari filum Rotatoria, dari kelompok cacing-cacingan ditemukan Sagitta dan
Lopadorrhynchus, serta satu genus protozoa yaitu Gladioferans. Kelimpahan
jenis yang ditemukan pada saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang massa
pengamatan sebesar 3,57 x 103 individu/m3 (Lampiran 5), namun ternyata tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap kenaikan biomassa mesozooplankton.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hal ini, salah satunya adalah
kondisi sampel yang menggumpal pada saat pengamatan kelimpahan, walaupun
sudah dikocok dengan merata, namun faktor kesalahan seperti ini terkadang tidak
dapat dihindari.

Pengamatan awal Juli menunjukkan kenaikan biomassa yang cukup


besar menjadi 1,2 x 10-3 mg/m3. Kelimpahan jenis pada saat ini tergolong rendah
bila dibandingkan dengan pengamatan sebelumnya (Lampiran 5.), namun
organisme penyusun mesozooplankton saat ini banyak yang berukuran besar,
seperti dari kelas Malacostraca selain fase nauplii dan zoea yang berukuran besar
juga ditemukan fase post larva yang morfologinya sudah menyerupai udang
dewasa dan berukuran besar. Selain itu ditemukan juga larva dan telur ikan yang
berukuran cukup besar dan tentunya memberikan kontribusi yang cukup besar
terhadap kenaikan biomassa mesozooplankton saat ini. Evadne dan Sagitta juga
ditemukan dalam komposisi jenis saat ini, walaupun dalam jumlah yang tidak
banyak namun karena ukurannya yang besar maka memberikan kontribusi yang
nyata terhadap kenaikan biomassa.

Biomassa mesozooplankton mencapai konsentrasi tertinggi pada minggu


ketiga Juli. Pada saat ini biomassa mesozooplankton mencapai 3,6 x 10-3 mg/m3.
Tingginya biomassa juga ditunjang dengan kelimpahan jenis yang tinggi yaitu
sebesar 2,7 x 103 individu/m3. Pada saat ini populasi kelas Malacostraca
102

mencapai kelimpahan tertinggi, terutama fase zoea yang ditemukan dalam


kelimpahan 2 x 103 individu/m3 dan fase post larva ditemukan dalam jumlah 2,3 x
102 individu/m3. Kelompok zooplankton berukuran besar lainnya masih tetap
ditemukan seperti telur dan larva ikan, Sagitta serta Acartia hadir dalam
kelimpahan yang cukup tinggi.

Tingginya kelimpahan nauplii dan zoea Malacostraca diduga terkait


dengan terjadinya musim pemijahan dari kelompok tersebut, selain itu ditunjang
pula dengan ketersediaan fitoplankton sebagai makanannya yang sedang dalam
puncak biomassa. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ada keterkaitan yang
kuat antara pola kelimpahan dari fitoplankton dengan pola kelimpahan
zooplankton.

Awal Agustus rata-rata biomassa mesozooplankton menurun menjadi


1,2 x 10-3 mg/m3 atau berkurang 66% dari biomassa yang terukur pada minggu
ketiga bulan Juli. Pada saat ini kelimpahan kelompok Malacostraca mulai
menurun. Fase post larva dijumpai dengan kelimpahan 1,3 x 102 individu/m3 atau
separuh dari pengukuran sebelumya, sementara fase zoea berkurang hampir 90%
dari pengukuran sebelumnya. Selain itu larva dan telur ikan juga tidak ditemukan
lagi pada saat ini. Menurunnya populasi Malacostraca memberikan kontribusi
yang nyata terhadap penurunan biomassa mesozooplankton saat ini.

Pada periode sampling berikutnya, nilai biomassa mesozooplankton


mengalami sedikit peningkatan menjadi 1,4 x 10-3 mg/m3. Peningkatan ini terjadi
karena pada sampel ditemukan kembali larva dan telur ikan, serta terjadi
peningkatan populasi Sagitta yang cukup tinggi dari 3,31 individu/m3 menjadi
56, 13 inidividu/m3.

Periode sampling September menunjukkan peningkatan biomassa


menjadi 1,8 x 10-3 mg/m3. Peningkatan biomassa ini diduga karena adanya
kontribusi dari naiknya kelimpahan Copepoda menjadi dua kali lipat dari
kelimpahan sebelumnya, terutama genus Acartia. Kelompok taxa lainnya
mengalami penurunan kelimpahan kecuali Lymcina yang mengalami peningkatan
kelimpahan.
103

Pada awal Oktober, biomassa mesozooplankton kembali mengalami


penurunan yang cukup signifikan menjadi 1,8 x 10-4 mg/m3. Penurunan biomassa
ini diduga ada kaitannya dengan berkurangnya kontribusi sub kelas Malacostraca,
dimana pada saat ini fase zoea hampir menghilang dari perairan, hanya ditemukan
dengan kelimpahan yang sangat rendah yaitu 6,6 individu/m3. Sagitta yang
mempunyai biovolume besar juga mengalami penurunan hampir 80 % dari
kelimpahan yang terukur sebelumnya selain itu Lymacina juga mengalami
penurunan yang nyata hingga tinggal 10 % saja dari kelimpahan yang terukur
pada September.

Periode sampling akhir Oktober, biomassa mesozooplankton mengalami


kenaikan menjadi 9,8 x 10-4 mg/m3. Pada saat ini sebenarnya dominansi dari
kelompok Crustacea tidak terlihat, karena Crustacea baik Copepoda maupun
Malacostraca mengalami penurunan yang signifikan bahkan mencapai
kelimpahan terendah kedua setelah periode awal Juni (82,54 individu/m3).
Namun demikian pada saat ini beberapa kelompok mengalami peningkatan
kelimpahan seperti Rotatoria, Protozoa, Moluska dan Tunicata.

Pada akhir pengamatan biomassa mesozooplankton kembali mengalami


sedikit peningkatan menjadi 1,4 x 10-3 mg/m3. Pada saat ini populasi Crustacea
meningkat dengan tajam hingga 7,4 kali lebih banyak dari periode sampling
sebelumnya. Kelas Malacostraca mulai hadir kembali walaupun dengan
kelimpahan yang tidak terlalu tinggi, yaitu untuk fase zoea ditemukan dalam
kelimpahan 2,5 x 102 individu/m3, sementara fase post larva ditemukan dalam
kelimpahan 1,1 x 102 individu/m3. Kenaikan biomassa mesozooplankton saat ini
sangat dipengaruhi oleh kenaikan kelompok Crustacea, karena kelompok taxa
lainnya semua mengalami penurunan kelimpahan.

Pengamatan terhadap kelimpahan zooplankton di perairan laguna Pulau


Pari menunjukkan bahwa kelimpahan jenis mikrozooplankton berkisar antara
0,48 x 103 – 24,00 x 103 individu/m3 (Lampiran 4) dan kelimpahan jenis
mesozooplankton berkisar antara 0,01 x 103 – 3,6 x 103 individu/m3 (Lampiran 5).
Nilai kelimpahan ini tergolong rendah bila dibandingkan dengan kelimpahan
zooplankton di perairan Maluku dan Laut Banda (Wiadnyana,1997; 1999).
104

4.2.4 Biomassa dan komposisi struktur larva ikan

Hasil pengukuran terhadap biomassa larva ikan menunjukkan adanya


variasi yang cukup tinggi antara waktu dan stasiun pengamatan. Nilai biomassa
larva ikan berkisar antara 3,69 x 10-1 – 1,74 x 102 mg/m3 . Pola sebaran menurut
waktu pengamatan menunjukkan adanya fluktuasi naik turun pada setiap waktu
pengamatan (Gambar 38). Selama massa pengamatan ditemukan dua kali puncak
biomassa, puncak biomassa tertinggi terjadi pada Juli dengan rata-rata biomassa
82,6 mg/m3. Puncak biomassa kedua terjadi pada awal Oktober dengan rata-rata
biomassa 57,8 mg/m3.

St. 1
St. 2
St. 3
St. 4
Biomassa larva ikan (mg/m 3 )

St. 5

300

100

0
Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des
waktu pengamatan (2010)

Gambar 38. Sebaran temporal biomassa larva ikan.

Pola kelimpahan larva yang ada di laguna Pulau Pari beriringan dengan
pola kelimpahan telur yang tertangkap bersamaan dengan larva ikan. Gambar 39
menunjukkan pola kelimpahan larva dan telur selama masa pengamatan yang
menunjukkan adanya keterkaitan antara kelimpahan larva ikan dengan
kelimpahan telur. Kelimpahan larva mulai naik pada akhir Agustus ketika
kelimpahan telur menurun, hal ini menunjukkan bahwa produksi larva terjadi satu
105

sampai dua bulan setelah puncak produksi telur atau musim pemijahan. Data ini
juga menunjukkan bahwa sangat besar kemungkinan larva ikan yang tertangkap
berasal dari telur yang tertangkap di lokasi yang sama, bukan berasal dari luar
laguna. Hal ini menunjukkan bahwa laguna Pulau pari merupakan daerah
pemijahan.

30
ra ta -ra ta te lu r
ra ta -ra ta la rv a
25
K elim pahan (ind/m 3 )

20

15

10

M ar M ei Jul Sep N op

w a k tu p e n g a m a ta n (2 0 1 0 )

Gambar 39. Pola kelimpahan telur dan larva ikan yang tertangkap di laguna
Pulau Pari.

Ada beberapa faktor yang dapat menentukan besarnya biomassa larva


ikan, diantaranya adalah komposisi jenis, ukuran dan distribusi larva. Struktur
komposisi larva di laguna Pulau Pari sangat bervariasi berdasarkan waktu dan
lokasi. Selama massa pengamatan ditemukan 79 famili larva ikan dengan
kelimpahan yang berbeda-beda menurut waktu dan lokasi pengamatan
(Lampiran 6).

Pada awal Juni, rata-rata biomassa larva ikan yang terukur sebesar 30,9
mg/m3, dengan nilai biomassa tertinggi dijumpai di stasiun 1 dan terendah di
stasiun 5. Struktur komposisi larva ikan yang menyusun biomassa larva berbeda-
beda pada setiap stasiun. Stasiun 1 didominansi oleh Pistigasteridae dengan
106

kelimpahan 153 individu/m3, stasiun 2 didominansi oleh Lethrinidae dan


Engraulidae dengan kelimpahan berurut-turut 306 dan 280 individu/m3, stasiun 3
sama seperti stasiun 1 didominansi oleh Pistigasteridae dengan kelimpahan 255
individu/m3, stasiun 4 dan 5 didominansi oleh Aulostomidae dengan kelimpahan
yang sama 357 individu/m3.

Rata- rata biomassa larva ikan mengalami penurunan pada minggu ketiga
bulan Juni menjadi 24,4 mg/m3. Pada saat ini stasiun 1 didominansi oleh famili
Blenniidae, stasiun 2 didominansi oleh famili Aulostomidae, stasiun 3
didominansi oleh Leptobramidae, stasiun 5 didominansi oleh Gerreidae,
sementara di stasiun 4 tidak ditemukan larva ikan.

Pada awal Juli biomassa larva ikan mencapai nilai tertinggi. Rata-rata
biomassa terukur adalah 82,6 mg/m3. Pada saat ini terlihat jelas adanya
dominansi dari Pomacentridae hampir di seluruh stasiun pengamatan kecuali
distasiun 3 sama sekai tidak ditemukan Pomacentridae. Kontribusi famili
Pomacentridae terhadap total kelimpahan hasil tangkapan larva ikan pada 5 Juli
adalah 17,7 %, dengan sebaran persentase setiap stasiun berbeda-beda. Di stasiun
1, kelimpahan Pomacentridae adalah 39,5 % dari kelimpahan total larva ikan yang
tertangkap. Di stasiun 2 kelimpahan Pomacentridae adalah 41,2 % dari total
kelimpahan larva ikan. Di stasiun 4 kelimpahan Pomacentridae tidak terlalu
tinggi, namun di stasiun ini ditemukan 26 famili dengan kelimpahan yang hampir
merata dan didominansi oleh Pomacentridae dan Polynemidae. Di stasiun 5,
Pomacentridae menyusun 35 % dari total kelimpahan larva ikan. Selain
Pomacentridae, famili lainnya yang berperan penting dalam menyususn biomassa
larva ikan adalah famili Aulostomidae, Ophistognathidae, Blenniidae dan
Polynemidae serta Gobiidae.

Minggu ketiga Juli, nilai rata-rata biomassa larva ikan menurun dari
sebelumnya menjadi 78,6 mg/m3. Komposisi struktur larva ikan berubah,
dominansi dari Pomacentridae tidak ada lagi dan mulai digantikan oleh kenaikan
kelimpahan famili Blenniidae, Ambassidae dan Gobiidae. Pada Agustus rata-
rata biomassa larva ikan terus menurun mencapai nilai 10,5 mg/m 3 pada akhir
Agustus, pada saat ini famili Blenniidae ditemukan melimpah hanya di sekitar
107

stasiun 1 dan 5 saja. Di stasiun 2, 3 dan 4 famili Aulostomidae lebih


mendominansi struktur populasi larva. Di stasiun 4 ditemukan juga
Pinguipedidae dan Mullidae yang cukup melimpah pada awal dan akhir Agustus.

Rata-rata biomassa larva ikan naik kembali pada pertengahan September


menjadi 24,2 mg/m3, pada saat ini kelimpahan Pomacentridae kembali meningkat
di stasiun 3 dan 4. Famili Blenniidae ditemukan melimpah di stasiun 2
sedangkan di stasiun 5 famili Carangidae mendominansi hasil tangkapan larva.

Awal Oktober rata-rata biomassa larva ikan mencapai puncak populasi


kedua setelah yang terjadi pada awal Juli, namun nilainya tidak setinggi yang
terukur pada awal Juli, rata-rata biomassa larva ikan pada saat ini adalah 57,8
mg/m3. Famili Pomacentridae ditemukan melimpah di stasiun 1, 2 dan 4. Selain
Pomacentridae, famili lainnya yang ditemukan dengan kelimpahan tinggi adalah
Pinguipedidae, Aulostomidae, Kuhlidae, Blenniidae dan Leptobramidae.

Pada pengamatan selanjutnya rata-rata biomassa larva ikan semakin


menurun, pada akhir Oktober rata-rata biomassa larva ikan adalah 29,8 mg/m3
sedangkan pada pertengahan Nopember biomassa larva ikan mencapai nilai
terendah sepanjang massa pengamatan yaitu 9,7 mg/m3. Pada periode ini di
stasiun 1 didominansi oleh larva ikan Engraulidae, di stasiun 2 masih didominansi
oleh famili Pomacentridae, di stasiun 3 didominansi oleh Aulostomidae dan
Scombridae, di stasiun 4 didominansi oleh Pomacentridae sedangkan di stasiun 5
juga didominansi oleh Pomacentridae dan Clupeidae.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa famili Pomacentridae merupakan


kelompok yang mendominansi kelimpahan larva ikan di laguna Pulau Pari dengan
kelimpahan relatif sebesar 20,90 % dari total kelimpahan larva ikan yang diamati
(Gambar 40). Famili yang paling melimpah selanjutnya adalah Aulostomidae
(9,60 %), Blenniidae (7,60 %), Engraulidae (6,40 %) dan Pinguipedidae
(5,70 %). Kelima famili dominan tersebut selalu mendominansi sampel larva
ikan pada setiap waktu pengamatan.
108

Pomacentridae
Aulostomidae
Bleniidae
Engraulidae
Pinguipedidae
larva lain

Gambar 40. Kelimpahan relatif larva ikan dominan di laguna Pulau Pari.
Kelimpahan (Individu/m3)

5000
4000 Aulostomidae Pomacentridae
3000
2000 Blenniidae Engraulidae Pinguipedidae
1000 Gobiidae
0
Acropomatidae
Antennariidae
Balistidae
Bythitidae
Cepolidae
Chirocentridae
Cynoglossidae
Ephippidae
Gobiidae
Kyphosidae
Leptobramidae
Microcanthidae
Mullidae
Pempheridae
Plesiopidae
Priacanthidae
Samaridae
Scombridae

Solenostomidae

Tetraodontidae

Famili Xenisthmidae

2-Jun 14-Jun 5-Jul 22-Jul 5-Aug 28-Aug 17-Sep 5-Oct 18-Oct 20-Nov

Gambar 41. Sebaran kelimpahan famili larva ikan di laguna Pulau Pari

Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartati & Syam
(2011) yang menyatakan bahwa pada kelompok ikan dewasa famili
Pomacentridae merupakan salah satu kelompok ikan dengan populasi terbesar
yang ditemukan di laguna Pulau Pari. Sriati (2012) menemukan bahwa famili
Pomacentridae juga ditemukan sebagai salah satu kelompok ikan dominan di
perairan Gosong Semak Daun, yang berjarak tidak jauh dari laguna Pulau Pari dan
masih berada di gugusan Kepulauan Seribu.
109

Menurut Allen & Adrim (2003) famili Pomacentridae merupakan salah


satu penyusun utama ikan karang di perairan Indonesia dan menempati urutan
ketiga setelah Gobiidae dan Labridae. Di laguna Pulau Pari Gobiidae hanya
menyusun 2,8 % dari total kelimpahan larva ikan sementara Labridae menyusun
1,4 % dari total kelimpahan larva ikan.

Pomacentridae merupakan kelompok ikan berukuran kecil dan biasanya


mempunyai warna yang sangat menarik, sehingga berpotensi sebagai ikan hias,
contohnya adalah dari genus Amphiprion, yang lebih dikenal dengan sebutan
anemone fish atau clown fish. Aulostomidae merupakan kelompok ikan
pemangsa yang biasa ditemukan di terumbu karang yang dangkal, hanya ada satu
spesies yang ditemukan di wilayah Indo Pasifik yaitu Aulostomus chinensis.
Engraulidae merupakan kelompok ikan teri yang mempunyai potensi ekonomi
yang tinggi dan merupakan “key species” untuk perikanan pantai. Blenniidae
merupakan kelompok ikan-ikan kecil yang melimpah dan mempunyai keterkaitan
yang sangat kuat dengan ekosistem terumbu karang dan daerah pasang surut.
Pinguipedidae merupakan kelompok ikan demersal yang hidup di dasar berpasir
dan sering ditemukan di sekitar terumbu karang, nama lain dari kelompok
Pinguipedidae adalah Mugiloididae atau Parapercidae (Leis & Carson-Ewart,
2000).

Ukuran larva dapat mempengaruhi besarnya biomassa larva ikan. Larva


yang lebih besar akan memberikan kontribusi yang besar terhadap nilai biomassa.
Ukuran larva dapat diketahui dengan membagi nilai biomassa dengan jumlah
sampel. Sebagian besar larva yang tertangkap di laguna Pulau Pari berukuran
sangat kecil, dan pengamatan terhadap fase perkembangan larva menunjukkan
bahwa 62,98 % larva yang ditemukan berada pada fase preflexion, 16,55 % fase
flexion, 17,56 berada pada fase post flexion dan 2,91 % fase juvenil (Gambar 42).
Banyaknya fase preflexion dapat menunjukkan bahwa laguna Pulau Pari
merupakan daerah pemijahan bagi ikan-ikan karang.
110

Prosentase tahap perkembangan larva (%)


100
preflexion
flexion
80 post flexion
juvenil

60

40

20

0
Jun Jul Agust Sep Okt Nop
waktu pengamatan (2010)

Gambar 42. Sebaran fase perkembangan larva ikan di laguna Pulau Pari.

Proporsi yang hampir seimbang antara fase flexion dan post flexion dapat
menjadi indikasi bahwa banyak dari larva ikan yang ada di laguna Pulau Pari
tidak melakukan ruaya ke luar laguna, atau menghabiskan fase pelagiknya di
dalam laguna. Pola ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Leis (1991)
bahwa larva Pomacentridae baik fase larva muda maupun fase larva tua
ditemukan dalam kelimpahan yang tinggi di dalam laguna dan semakin jauh dari
laguna maka kelimpahannya semakin rendah.

Di perairan laguna Pulau Pari ditemukan ikan kelompok Pomacentridae


dengan berbagai fase, mulai dari larva, juvenile (Edrus & Hartati, 2011) dan
dewasa (Hartati & Syam, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa ikan famili
Pomacentridae tidak melakukan ruaya keluar dari laguna, melainkan hanya
berpindah-pindah dari terumbu karang ke ekosistem lamun pada waktu juvenil
(Edrus & Hartati, 2011).

Faktor lain yang sangat menentukan besarnya biomassa larva ikan


adalah distribusi larva. Larva ikan mempunyai pola distribusi yang
mengelompok. Proses distribusi larva sangat dipengaruhi oleh kondisi hidro
oseanografi perairan seperti arus, upwelling, eddies, stratifikasi suhu, salinitas,
dan kondisi kualitas air lainnya serta prilaku larva ikan itu sendiri (Sale, 1991).
111

Menurut Leis (1991) ada enam faktor yang mempengaruhi distribusi larva ikan
karang yaitu (1) waktu dan lokasi pemijahan ikan dewasa, (2) kondisi hidrografi,
(3) topografi, (4) distribusi vertikal larva ikan, (5) daya renang horizontal larva
ikan dan (6) prilaku larva ikan. Keenam faktor ini bersifat spesifik bergantung
pada jenis dan ukuran dari larva ikan, namun secara umum dapat dikatakan bahwa
larva ikan tidak sepenuhnya bersifat pasif mengikuti sirkulasi massa air, namun
ada beberapa mekanisme yang dapat mempertahankan biomassa larva ikan
sehingga terkumpul di suatu lokasi tertentu. Sirkulasi massa air yang ada di
sekitar terumbu karang sangat komplek, terumbu karang memberikan efek
berlawanan terhadap arah sirkulasi massa air, menurut Leis (1991) hal ini
memungkinkan larva-larva ikan tertahan di sekitar terumbu karang, ini merupakan
salah satu mekanisme retensi yang membuat larva ikan tidak berada jauh dari
terumbu karang.

4.2.5 Hipotesis match and mismatch antara larva ikan dengan fitoplankton
dan zooplankton di laguna Pulau Pari

Pengamatan terhadap distribusi temporal rata-rata biomassa organisme


planktonik di laguna Pulau Pari, menunjukkan adanya variasi kondisi biomassa
pada setiap waktu pengamatan. Dari variasi kombinasi biomassa antara
nanofitoplankton, mikrofitoplankton, mikrozooplankton, mesozooplankton dan
larva ikan dapat dilihat kapan terjadinya kondisi match dan miss match antara
larva ikan dengan mangsanya (Gambar 43).
112

2,4e-1 1,6e+0 1e+2 2e-2

Biomassa mikrozoo dan mesozoo (mg/m3)


2e-2
2,2e-1
biomassa nanofitoplankton (mg/m )
3

1,4e+0
Biomassa mikrofitoplankton (mg/m )

2e-2
3

8e+1
2,0e-1
1e-2

Biomassa larva (mg/m3)


1,2e+0
1,8e-1 1e-2
6e+1
1e-2
1,6e-1 1,0e+0
8e-3
4e+1
1,4e-1 6e-3
8,0e-1
1,2e-1 4e-3
2e+1
6,0e-1 2e-3
1,0e-1
0
8,0e-2 4,0e-1 0
Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des

waktu pengamatan nanofitoplankton


mikrofitoplankton
larva
mesozooplankton
match mismatch mikrozooplankton

Gambar 43. Distribusi biomassa organisme planktonik di laguna Pulau Pari.

Dari hasil pengamatan antara larva dan mangsanya (nanofitoplankton,


mikrofitoplankton, mikrozooplankton dan mesozooplankton) sejak Juli hingga
Nopember 2010, terlihat bahwa selama bulan Juli kelimpahan larva tinggi, yang
menandakan bahwa Juli adalah musim produksi larva. Pada awal Juli terlihat pula
bahwa biomassa mikrozooplankton sedang berada dalam fase eksponensial
pertumbuhan, dimana pada fase ini mikrozooplankton tumbuh dengan laju
tertinggi. Sementara biomassa mesozooplankton baru memulai fase
eksponensialnya. Pada awal Juli, biomassa mikrofitoplankton juga berada pada
fase awal eksponensial sedangkan biomassa nanofitoplankton berada pada kondisi
biomassa yang tinggi yang menunjukkan bahwa nanofitoplankton berada pada
fase akhir pertumbuhan. Kondisi ini menunjukkan bahwa produksi larva terjadi
pada saat biomassa organisme planktonik yang berpotensi sebagai mangsa larva
berada dalam fase pertumbuhan yang tinggi, terutama mikrofitoplankton,
mikrozooplankton dan mesozooplankton. Hal ini merupakan salah satu strategi
pemijahan ikan dimana ikan biasanya akan melakukan pemijahan pada saat
ketersediaan makanan mencukupi untuk larva-larvanya (Sherman et al., 1984).
113

Kondisi saat ini sesuai dengan skenario ketiga dalam hipotesis yang diajukan oleh
Cushing (1975), dimana produksi makanan terjadi pada saat kelimpahan larva
tinggi, pada kondisi ini larva akan mendapatkan makanan selama masa
pertumbuhannya namun dalam jumlah yang tidak maksimal. Pada saat ini terjadi
ketepatan waktu antara kelimpahan larva yang tinggi dengan biomassa potensial
mangsanya yang juga tinggi dan sedang dalam fase eksponensial sehingga
menghasilkan kondisi match yang dapat menunjang kelangsungan hidup larva
ikan di laguna Pulau Pari, karena ketersediaan makanan yang mencukupi bagi
larva-larva ikan. Kondisi ini juga diharapkan dapat mendukung terjadinya proses
rekrutmen di perairan laguna Pulau Pari. Kondisi ini menunjukkan bahwa
biomassa nanofitopankton tidak menunjukkan hubungan sebagai mangsa dari
larva ikan, sehingga dapat dikatakan bahwa nanofitoplankton bukanlah organisme
yang berpotensi sebagai mangsa dari larva ikan.

Pada Gambar 38, juga terlihat bahwa kenaikan biomassa larva ikan terjadi
lagi pada awal Oktober, kenaikan biomassa larva ikan pada saat ini bertepatan
dengan biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton mengalami penurunan
biomassa secara tiba-tiba, sementara biomassa nanofitoplankton dan
mikrofitoplankton berada dalam jumlah tertinggi sepanjang massa pengamatan.
Berbeda dengan kondisi yang terjadi pada Juli, bila dilihat dari pola yang
terbentuk biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton membentuk
hubungan negatif dengan biomassa larva, sedangkan biomassa nanofitoplankton
dan mikrofitoplankton membentuk hubungan positif dengan larva ikan.
Biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton mengalami penurunan tiba-
tiba ketika biomassa larva meningkat diduga terjadi karena kedua kelompok
zooplankton tersebut dimangsa oleh larva ikan. Hal ini didukung oleh
pengamatan selanjutnya dimana ketika larva ikan mulai mengalami penurunan,
biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton kembali meningkat. Kondisi
menurunnya biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton secara tiba-tiba
dapat terjadi karena biomassa keduanya tidak sedang dalam waktu pertumbuhan
eksponensial, sehingga kondisinya tidak stabil. Saat pertumbuhan eksponensial,
laju pertumbuhan biomassa terjadi paling cepat, apabila terjadi gangguan pada
biomassanya, populasi zooplankton tersebut dapat segera pulih, sehingga tidak
114

akan mengalami penurunan biomassa secara drastis. Namun apabila populasi


tidak sedang dalam fase pertumbuhan eksponensial, maka nilai laju
pertumbuhannya rendah (Emmel,1976), sehingga apabila terjadi gangguan pada
biomassanya, populasi zooplankton tersebut akan mengalami penurunan secara
tiba-tiba. Kondisi yang terjadi pada Oktober ini tidak termasuk dalam skenario
Chusing (1975), pada saat ini fase produksi mikrozooplankton dan
mesozooplankton terjadi bersamaan dengan fase produksi larva, sehingga
komponen mikrozooplankton dan mesozooplankton langsung mengalami
penurunan biomassa, yang berakibat pada penurunan biomassa larva seketika,
karena tidak adanya ketersediaan makanan bagi larva ikan.

Kondisi pada Oktober ini terjadi karena waktu produksi larva tidak
bertepatan dengan waktu terjadinya pertumbuhan eksponensial dari biomassa
mikrozooplankton dan mesozooplankton, sehingga biomassa mikrozooplankton
dan mesozooplankton berada dalam kondisi yang tidak stabil. Dengan demikian
biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton tidak dapat mendukung
kelangsungan hidup larva ikan, yang berdampak pada kegagalan proses rekrutmen
pada Oktober. Dari uraian di atas nampak bahwa kondisi match and mismatch
pada Oktober ini lebih dipengaruhi oleh biomassa zooplankton bila dibandingkan
dengan biomassa fitoplankton. Kondisi ini sama seperti yang terjadi dengan larva
ikan di sebelah Selatan Hudson Bay dan Cabrera National Park (timur laut
Mediterania) (Fortier et al., 1995; Basterretxea, et al., 2010), dimana kondisi
match and mismatch nya lebih dipengaruhi oleh dinamika zooplankton bila
dibandingkan dengan dinamika yang terjadi pada populasi fitoplankton. Hal ini
menjadi salah satu bukti pendukung bahwa larva ikan lebih memilih zooplankton
sebagai makanan bila dibandingkan dengan fitoplankton. Kecenderungan
memilih zooplankton sebagai makanan menunjukkan bahwa larva ikan cenderung
bersifat karnivora.

Dari seluruh uraian mengenai variasi biomassa dan komposisi struktur


organisme planktonik yang meliputi nanofitoplankton, mikrofitoplankton,
mikrozooplankton, mesozooplankton dan larva ikan dapat dikatakan bahwa di
laguna Pulau Pari perubahan biomassa organisme planktonik terjadi sangat
115

dinamik. Perubahan pada satu komponen biomassa dapat mempengaruhi


komponen biomassa lainnya pada waktu tertentu, namun dapat pula terjadi
kondisi dimana perubahan biomassa dari satu komponen organisme planktonik
tidak mempengaruhi perubahan biomassa komponen organisme planktonik
lainnya. Kondisi demikian menyebabkan terjadinya berbagai bentuk hubungan
linear antar komponen, bisa positif bisa negatif atau tidak ada hubungan sama
sekali. Hal ini yang menyebabkan terjadinya kondisi match dan mismatch antara
larva ikan dengan mangsanya.

4.3 Hubungan antara biomassa organisme planktonik dengan kondisi


lingkungan perairan

4.3.1 Hubungan antara biomassa fitoplankton dengan kondisi lingkungan


perairan

Nilai biomassa fitoplankton banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor


lingkungan perairan terutama konsentrasi nutrien. Hasil analisis komponen utama
terhadap peubah-peubah kondisi lingkungan (suhu, salinitas, pH, kecerahan serta
konsentrasi nutrien yaitu NO3-N, NH4-N, PO4-P dan Si) dan nilai biomassa
fitoplankton, menunjukkan adanya keterkaitan antara nilai biomassa
nanofitoplankton dan mikrofitoplankton dengan konsentrasi NO3-N, NH4-N dan
Si di perairan. Bentuk hubungan keterkaitan antar parameter lingkungan dengan
biomassa plankton ini akan berbeda ketika di perairan terjadi ledakan populasi
dari fitoplankton jenis tertentu, dan ketika kondisi biomassa fitoplankton dalam
kondisi normal. Pada saat perairan laguna Pulau Pari dalam kondisi normal
dimana tidak terjadi ledakan populasi dari Skeletonema (Juli 2010), maka bentuk
hubungan antara parameter lingkungan dengan biomassa fitoplankton ditampilkan
pada Gambar 44.
116

Projection of the variables on the factor-plane ( 1 x 2)

01
NH4-N

01 salinitas
pH
Factor 2 : 19,82%

00
Si
PO4-Psuhu
Nanofito mikrofito

-01
NO3-N

-01

-01 -01 00 01 01
Active
Factor 1 : 23,54%

Gambar 44. Grafik hasil analisis komponen utama peubah lingkungan dan
biomassa fitoplankton pada saat tidak terjadi ledakan populasi
Skeletonema di perairan laguna Pulau Pari (Juni – Nopember
kecuali Juli 2010).

Gambar 44. menunjukkan hasil analisis komponen utama pada peubah-


peubah lingkungan dan nilai biomassa mikrofitoplankton, namun dari grafik yang
terbentuk terlihat bahwa dari dua faktor yang dipetakan hanya menggambarkan
43,36 % dari keadaan yang sesungguhnya, hal ini dapat terjadi karena tingginya
nilai variasi dari peubah-peubah yang diamati baik itu dari peubah lingkungan
maupun biomassa.

Pada kondisi normal (Juni – Nopember kecuali Juli) terlihat bahwa


mikrofitoplankton dipengaruhi oleh peubah Si dan NO3-N. Dari besarnya sudut
yang terbentuk nampak bahwa Si mempunyai hubungan positif yang erat dengan
mikrofitoplankton. Hubungan positif ditandai dengan arah yang sama antar
peubah dalam grafik hasil analisis, sedangkan keeratan hubungan ditunjukkan
oleh besarnya sudut yang terbentuk antar peubah. Hal ini menunjukkan bahwa
pada saat peubah Si berada dalam jumlah yang tinggi, maka biomassa
mikrofitoplankton juga akan tinggi. Keeratan hubungan ini terjadi karena
117

sebagian besar komponen mikrofitoplankton berasal dari kelas diatom, yang


sangat membutuhkan Si untuk pembentukan cangkangnya, sehingga tingginya
konsentrasi Si di kolom air dapat memacu pertumbuhan mikrofitoplankton dari
kelas diatom. Menurut Lippemeier et al. (1999) Si berperanan dalam
meningkatkan efisiensi fotosintesis fitoplankton dari kelas diatom. Selain itu ion
Silikat dibutuhkan kelompok diatom untuk pembentukan cangkang sel (Ault et
al., 2000; Escaravage & Prins, 2002).

Hubungan positif juga terbentuk antara mikrofitoplankton dengan NO3-N.


Hal ini menunjukkan bahwa pada saat nilai biomassa mikrofitoplankton berada
dalam jumah yang tinggi, maka NO3-N juga berada pada jumlah yang tinggi.
Berlawanan dengan NO3-N, NH4-N berada pada sumbu yang berlawanan
mikrofitoplankton, walaupun arah yang terbentuk tidak 180o, namun tetap nampak
bahwa mikrofitoplankton mempunyai hubungan negatif dengan NH4-N. Hal ini
berarti bahwa pada saat biomassa mikrofitoplankton tinggi maka konsentrasi
NH4-N di perairan akan rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa
mikrofitoplankton memanfaatkan NH4-N untuk pertumbuhannya. Sesuai dengan
hasil penelitian Nuruhwati (2003) yang menemukan bahwa di perairan Teluk
Jakarta NH4-N lebih banyak dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk
pertumbuhannya bila dibandingkan dengan NO3-N atau bentuk ion nitrogen
lainnya. Menurut Wetzel (1983) dalam Nuruhwati (2003) jika NH4-N berada
dalam jumlah yang cukup, maka akan lebih dimanfaatkan sebagai sumber hara
bagi pertumbuhan fitoplankton, karena pemanfaatan nitrat membutuhkan lebih
banyak energi dan membutuhkan enzim nitrat reduktase untuk mengasimilasi
nitrat. Peningkatan konsentrasi nutrien NO3-N dan NH4-N sampai batas tertentu
dapat meningkatkan laju pertumbuhan fitoplankton. Pada jenis diatom berantai
seperti Skeletonema costatum, peningkatan NO3-N dan NH4-N dapat
menyebabkan populasi S. costatum didominansi oleh sel yang berukuran besar
dan berantai panjang (Takabayashi et al., 2006).

Sedikit berbeda dengan mikrofitoplankton, peubah lingkungan yang lebih


mempengaruhi biomassa nanofitoplankton adalah NO3-N, suhu dan PO4-P.
Peubah PO4-P mempunyai pengaruh positif terhadap kelompok nanofitoplankton.
118

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Fang et al. (2006) yang menyatakan bahwa
nanofitoplankton mempunyai kemampuan untuk meningkatkan penyerapan fosfat
pada konsentrasi fosfat yang tinggi di perairan.

Peubah yang mempunyai hubungan negatif yang lebih kuat dengan


nanofitoplankton adalah NH4-N, yang menunjukkan bahwa keberadaan
nanofitoplankton yang tinggi beriringan dengan rendahnya nilai konsentrasi
NH4-N. Hubungan negatif yang terbentuk antara nanofitoplankton dengan NH4-N
lebih kuat bila dibandingkan dengan mikrofitoplankton dan NH4-N, hal ini
ditunjukkan oleh besarnya sudut yang terbentuk diantara kedua peubah. Semakin
membentuk garis lurus maka hubungan negatifnya semakin kuat. Biomassa
nanofitoplankton hampir membentuk garis lurus (180o) dengan NH4-N, sementara
mikrofitoplankton hanya membentuk sudut sekitar 120o dengan NH4-N. Wafar et
al. (2004) menemukan bahwa fraksi nanofitoplankton ternyata mempunyai
preferensi yang lebih kuat untuk mengambil NH4-N daripada NO3-N, bila
dibandingkan dengan fraksi mikrofitoplankton. Hal ini menjelaskan mengapa
hubungan negatif nanofitoplankton dengan NH4-N lebih kuat bila dibandingkan
dengan hubungan negatif mikrofitoplankton dengan NH4-N.

Kondisi yang berbeda terjadi ketika di perairan terjadi ledakan populasi


mikrofitoplankton jenis Skeletonema di perairan laguna Pulau Pari. Ledakan
populasi Skeletonema terjadi pada Juli 2010. Pada saat ini biomassa
mikrofitoplankton meningkat dengan tajam. Analisis komponen utama terhadap
peubah-peubah lingkungan perairan dan nilai biomassa mikrofitoplankton dan
nanofitoplankton menunjukkan pola yang berbeda ketika populasi
mikrofitoplankton di perairan berada dalam kondisi normal (tidak terjadi ledakan
populasi Skeletonema) (Gambar 45).

Gambar 45. menunjukkan kondisi yang benar-benar berbeda dengan


Gambar 44. Pada Gambar 45. nampak bahwa peubah mikrofitoplankton
berlawanan arah dengan Si dan nanofitoplankton namun tetap searah dengan
NO3-N. Arah yang berlawanan dari Si dan nanofitoplankton menunjukkan bahwa
ketika mikrofitoplankton dalam kondisi melimpah maka konsentrasi Si berada
dalam kondisi rendah, demikian pula dengan nanofitoplankton. Rendahnya
119

konsentrasi Si di perairan dapat terjadi karena diatom jenis Skeletonema yang


melimpah menyerap Si dalam jumlah yang banyak. Hasil penelitian Tzong Wu
& Lin Chou (2003) menunjukkan bahwa pengkayaan Si ke dalam media tumbuh
dapat memacu peningkatan biomassa fitoplankton lebih tinggi bila dibandingkan
dengan pengkayaan dengan nitrogen atau fosfor. Melimpahnya mikrofitoplankton
juga berakibat pada menurunnya biomassa nanofitoplankton di perairan, hal ini
ditunjukkan dengan arah yang berlawanan dari peubah mikrofitoplankton dan
nanofitoplankton. Penurunan biomassa nanofitoplankton dapat terjadi karena
adanya kompetisi yang tinggi antara mikrofitoplankton dan nanofitoplankton.

Projection of the variables on the factor-plane ( 1 x 2)

01

salinitas

01
NO3-N
Factor 2 : 20,81%

NETFITO

00
pH
Si NANOFITO NH4-N
PO 4-P
-01
suhu

-01

-01 -01 00 01 01
Active
Factor 1 : 41,40%

Gambar 45. Grafik hasil analisis komponen utama peubah lingkungan dan
biomassa fitoplankton pada saat terjadi ledakan populasi
skeletonema di perairan laguna Pulau Pari (Juli 2010).

Fosfor merupakan unsur pembatas di perairan laut. Salah satu jenis


fitoplankton yang mempunyai kebutuhan yang besar terhadap P adalah
Skeletonema costatum. Menurut Ou et al. (2008), Skeletonema costatum mampu
menyerap fosfat dalam jumlah yang lebih besar bila dibandingkan dengan jenis
lainnya yang diuji yaitu Prorocentrum donghaiense dan Alexandrium catenella.
120

Selain itu S. costatum juga mempunyai kemampuan untuk menyimpan lebih


banyak P dalam sel nya, dan semua P yang diserap dan disimpan digunakan untuk
pertumbuhan yang cepat dalam siklus hidupnya. Ketika konsentrasi P di perairan
menurun maka pertumbuhan Skeletonema akan mengalami penurunan secara
drastis.

Hasil analisis komponen utama merupakan gambaran umum dari seluruh


peubah yang dianalisis, dan hanya dapat menggambarkan sebagian dari seluruh
keragaman data yang ada, jadi hanya mewakili sebagian kondisi yang
sesungguhnya. Untuk mengetahui keeratan hubungan diantara peubah maka
dilakukan analisis korelasi Pearson, hasil analisis korelasi Pearson ternyata tidak
menunjukkan adanya korelasi yang signifikan diantara seluruh peubah yang
dianalisis (Lampiran 8).

4.3.2 Hubungan antara struktur komposisi fitoplankton dengan kondisi


lingkungan perairan

Setiap jenis fitoplankton memiliki kemampuan yang berbeda untuk


menyerap, mengasimilasi dan menyimpan nutrien di dalam selnya. Hal ini
mempengaruhi kebutuhan nutrien dan komposisi N dan P di dalam selnya. Rasio
nutrien optimum di dalam sel bersifat spesifik dan hal ini bervariasi bergantung
pada beberapa faktor yang berbeda seperti laju pertumbuhan . Terjadinya
kompetisi terhadap jenis nutrien pembatas menjadi salah satu faktor yang
menentukan komposisi struktur fitoplankton. Teori yang diajukan Tilman (1977,
1982; Tilman et al.; 1982 dalam Lagus et al., 2004) menyatakan bahwa pada
kondisi seimbang dimana terdapat keterbatasan nutrien, jenis yang mempunyai
kebutuhan yang rendah terhadap nutrien yang jumlahnya terbatas atau jenis yang
mempunyai kemampuan tertinggi untuk memanfaatkan nutrien pembatas tersebut,
maka jenis itulah yang akan memenangkan kompetisi terhadap sumber daya
nutrien yang ada, sehingga jenis tersebutlah yang akan melimpah di perairan.

Kondisi inilah yang mendasari terjadinya suksesi jenis penyusun biomassa


mikrofitoplankton di perairan laguna Pulau Pari. Pada setiap waktu pengamatan
121

komposisi jenis yang teramati selalu berbeda, namun ada juga jenis yang selalu
hadir pada setiap pengamatan atau mempunyai persentase kehadiran 100 %, yaitu
jenis-jenis yang berasal dari kelompok diatom. Jenis yang mempunyai persentase
kehadiran 100 % adalah Chaetoceros, Coscinodiscus, Fragillaria, Gyrosigma,
Navicula, Nitzchia, Rhizosolenia dan Thallasiothrix. Sementara dari kelompok
Cyanophyceae, Oscillatoria merupakan jenis yang paling sering ditemukan
dengan persentase kehadiran 90 %. Dari kelompok Dinophyceae, Ceratium
merupakan jenis yang paling sering ditemukan dengan persentase kehadiran 70 %.

Perubahan pola dominansi jenis fitoplankton di perairan sangat


dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama konsentrasi nutrien. Perubahan
dalam rasio N:P di perairan dapat mempengaruhi komposisi jenis fitoplankton,
yang menjadi salah satu sebab terjadinya suksesi jenis fitoplankton di perairan
(Lagus, 2004). Hasil penelitian Huo & Jun Shu (2005) menunjukkan bahwa
ledakan populasi Skeletonema di perairan Teluk Jiaozhou China dipicu oleh
tingginya rasio N:P di perairan yang kemudian turun secara tiba-tiba.

Bentuk nitrogen yang paling banyak ditemukan di perairan laut adalah


amoniak (83,3 – 83,9 %) (Simanjuntak, 2010), bentuk lainnya adalah ion nitrat
(NO3-)(11,6 – 13,54 %) dan nitrit (NO2-)(3,13 – 4,46 %). Pada penelitian ini
konsentrasi ion nitrit tidak diukur, sehingga perhitungan total konsentrasi nilai N
berasal dari konsentrasi ion ammonium (NH4+) dan NO3-, dengan asumsi karena
konsentrasinya yang kurang dari 5 % maka nilai N yang berasal dari ion NO 2-
dapat diabaikan. Hasil pengamatan terhadap rasio N:P di perairan Pulau Pari
menunjukkan bahwa sebelum terjadinya ledakan populasi Skeletonema pada Juni
rata-rata rasio N:P di perairan adalah 39,5. Pada saat ledakan populasi yang
terjadi pada awal Juli rasio N:P menurun drastis mencapai nilai 15 dan pada
puncak blooming rasio N:P adalah 10,8 (Gambar 46).

Di perairan sub tropis pengaruh kenaikan suhu juga menjadi salah satu
pemicu terjadinya ledakan populasi Skeletonema, namun dari hasil pengamatan
variabel suhu di perairan Pulau Pari tidak menunjukkan adanya perbedaan yang
nyata (α = 0,5) selama masa pengamatan, baik itu saat terjadinya ledakan populasi
maupun pada saat populasi Skeletonema dalam kondisi normal.
122

Navicula
Nitzchia
2.E+08
Ceratium
Kelimpahan (ind/m3 )

Oscillatoria
2.E+08
Chaetoceros

1.E+08 Skeletonema

5.E+07
Skeletonema
Chaetoceros
0.E+00 Oscillatoria
Ceratium
32.7

Nitzchia
27.4

15.0

10.8

Navicula
14.2

9.1

16.6

32.9

25.7

32.9
N:P rasio

Gambar 46. Perubahan dominansi genera mikrofitoplankton dan keterkaitannya


dengan N:P rasio perairan

Menurut Parson et al. (1984), Perubahan dominansi spesies dalam suatu


kolom air sangat dipegaruhi oleh konsentrasi nutrien dalam kolom air.
Keterkaitan antara pertumbuhan fitoplankton dan konsentrasi nutrien ditentukan
oleh nilai pertumbuhan maksimal (µmax) dan nilai konstanta setengah jenuh
untuk pertumbuhan yang dibatasi oleh konsentrasi nutrien tertentu (Ks).
Kelimpahan fitoplankton dibatasi oleh beberapa jenis nutrien, dimana fitoplankton
yang berbeda akan dibatasi oleh jenis nutrien yang berbeda pula. Perbedaan
kebutuhan nutrien dalam laju pertumbuhan dapat menyebabkan terjadinya
dominansi suatu spesies terhadap spesies lainnya. Keberadaan spesies yang saling
berkompetisi bersama-sama dalam suatu tempat dan secara terus menerus dapat
menimbulkan terjadinya suksesi temporal, hal ini dapat terjadi karena konsentrasi
nutrien di kolom air berubah dengan cepat, sehingga sulit dihasilkan suatu kondisi
yang stabil dimana hanya satu spesies saja yang mendominansi. Dominansi suatu
spesies di perairan ditentukan oleh nilai laju pertumbuhan maksimal dan konstanta
setengah jenuh untuk pertumbuhan yang dibatasi oleh nutrien jenis tertentu (Ks).
Pada saat konsentrasi nutrien rendah maka spesies yang akan mendominansi
perairan adalah spesies yang mempunyai nilai Ks yang rendah, namun pada saat
123

konsentrasi nutrien di perairan tinggi maka spesies yang akan mendominansi


adalah spesies yang mempunyai nilai laju pertumbuhan yang tinggi.

Menurut Margalef (1978) bentuk morfologi dari fitoplankton juga


mempengaruhi dominansi suatu spesies pada kondisi lingkungan tertentu. Bentuk
morfologi terkait dengan strategi reproduksi dimana ada dua kelompok organisme
yaitu kelompok organisme “r” dan “k”. Spesies dengan strategi “r” biasanya
mempunyai pertumbuhan yang cepat dan berukuran kecil, misalnya kelompok
diatom, sementara spesies dengan strategi “k” mempunyai laju pertumbuhan yang
lambat dan berukuran besar, misalnya kelompok dinoflagellata. Pada kondisi
dimana turbulensi dan nutrien rendah maka yang akan mendominansi adalah
spesies tipe “k” namun ketika turbulensi meningkat akan meningkatkan
konsentrasi nutrien maka spesies tipe “r” akan mendominansi.

4.3.3 Hubungan antara biomassa zooplankton dengan kondisi lingkungan


perairan

Hasil analisis komponen utama terhadap peubah-peubah lingkungan dan


nilai biomassa mikrozooplankton dan mesozooplankton menunjukkan bahwa
mikrozooplankton mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan peubah suhu,
PO4-P, mesozooplankton dan pH. Suhu, PO4-P dan mesozooplankton membentuk
hubungan positif terhadap komponen biomassa mikrozooplankton, sementara pH
membentuk hubungan negatif dengan biomassa mikrozooplankton. Biomassa
mesozooplankton mendapat pengaruh dari biomassa mikrozooplankton, NO3-N
dan salinitas. Mikrozooplankton dan NO3-N membentuk hubungan positif
dengan mesozooplankton sementara salinitas membentuk hubungan negatif
dengan mesozooplankton.

Hasil pengamatan terhadap peubah suhu di laguna Pulau Pari


menunjukkan adanya kecenderungan suhu perairan lebih tinggi saat musim timur
(rata-rata 30,4oC) bila dibandingkan dengan musim peralihan dua (rata-rata
29,9oC). Pola yang sama terjadi pada biomassa mikrozooplankton dan
mesozooplankton, pada musim timur biomassa mikrozooplankton dan
124

mesozooplankton lebih tinggi bila dibandingkan dengan saat musim perairalihan


dua (Gambar 31 dan Gambar 34).

Secara teori suhu memberikan pengaruh terhadap proses fisiologi dan


produktivitas primer di perairan yang berdampak terhadap laju pemangsaan
zooplankton (Paulone, 2007). Peningkatan suhu sampai batas tertentu dapat
meningkatkan laju metabolisme zooplankton. Yang pada akhirnya dapat
meningkatkan laju pertumbuhan zooplankton. Suhu juga dapat mempengaruhi
komposisi struktur dari populasi zooplankton di perairan. Menurut hasil
penelitian Coyle et al. (2008) pada kondisi suhu yang lebih hangat komposisi
struktur zooplankton di Laut Bearing berubah dari zooplankton berukuran besar
menjadi zooplankton berukuran kecil. Peningkatan suhu mempengaruhi
komposisi struktur zooplankton melalui adanya seleksi terhadap jenis-jenis yang
lebih toleran terhadap peningkatan suhu.

Selain suhu, peubah nutrien PO4-P mempengaruhi mikrozooplankton dan


NO3-N mempengaruhi mesozooplankton. Hasil penelitian Soedibjo (2007)
menunjukkan bahwa NO3-N merupakan salah satu peubah yang mempengaruhi
distribusi zooplankton di perairan Selat Klabat Bangka Belitung. Hubungan
antara zooplankton dengan nutrien kemungkinan tidak terjadi secara langsung
namun melalui produsen primer yang memanfaatkan nutrien di perairan yang juga
merupakan makanan zooplankton. Hal ini bisa dilihat dari Gambar 44, dimana
peubah PO4-P merupakan peubah yang berpengaruh positif terhadap biomassa
nanofitoplankton, sedangkan NO3-N merupakan peubah yang berpengaruh
terhadap nanofitoplankton dan mikrofitoplankton.

Peubah yang berhubungan negatif dengan mikrozooplankton adalah pH,


dimana selama masa pengamatan pH di laguna Pulau Pari pernah mengalami nilai
yang rendah yaitu pada akhir Juni dan Juli sampai September. Pengaruh pH
terhadap biomassa mikrozooplankton terjadi melalui seleksi jenis yang toleran
terhadap pH rendah. Peubah salinitas menunjukkan hubungan negatif dengan
mesozooplankton. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa salinitas dapat
mempengaruhi distribusi zooplankton, terutama di tempat yang mengalami
gradasi salinitas seperti di estuaria (Paulone, 2007; Kelble, 2010). Namun data
125

hasil pengamatan di laguna Pulau Pari selama Juni – Nopember 2010 tidak
menunjukkan adanya gradasi salinitas. Salinitas di laguna Pulau Pari cenderung
homogen dan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar waktu dan lokasi
pengamatan.

Hasil analisis komponen utama pada peubah-peubah lingkungan dan nilai


biomassa zooplankton baik mikrozooplankton maupun mesozooplankton,
menunjukkan bahwa dari dua faktor yang dipetakan hanya menggambarkan
47,95 % dari keadaan yang sesungguhnya, hal ini dapat terjadi karena tingginya
nilai variasi dari peubah-peubah yang diamati baik itu dari peubah lingkungan
maupun biomassa. Kedekatan hubungan antara satu peubah dengan peubah
lainnya kemudian dibuktikan dengan analisis korelasi Pearson. Berdasarkan pada
hasil analisis korelasi Pearson ternyata tidak ada korelasinya yang nyata antar
peubah-peubah lingkungan yang diamati dengan biomassa mikrozooplankton dan
mesozooplankton.

4.3.4 Hubungan antara biomassa larva ikan dengan kondisi lingkungan


perairan

Hasil analisis komponen utama terhadap peubah lingkungan dan biomassa


larva selama masa pengamatan menunjukkan bahwa peubah yang lebih dekat
dengan komponen biomassa larva adalah konsentrasi Si dan pH perairan. Hasil
ini sesuai dengan hasil penelitian Bahara (2009) yang menemukan bahwa pH
merupakan peubah yang berpengaruh terhadap kelimpahan larva ikan. Selain pH
Bahara (2009) menemukan bahwa fitoplankton merupakan peubah lain yang
mempengaruhi fitoplankton. Apabila dikaitkan antara tingginya Si dan
fitoplankton di perairan seperti dalam Gambar 44, maka dapat dikatakan bahwa
biomassa larva juga dipengaruhi oleh peubah fitoplankton. Analisis korelasi
Pearson menunjukkan bahwa kedekatan Si dan pH dengan biomassa larva
ternyata tidak menunjukkan korelasi yang nyata.

Untuk melihat peubah yang mempunyai hubungan terhadap kenaikan


biomassa larva ikan yang terjadi pada Juli, maka dilakukan analisis terhadap plot
126

distribusi temporal antara biomassa larva ikan, suhu, salinitas, pH. Dari plot
distribusi temporal (Gambar 11, Gambar 13 dan Gambar 15) dapat dilihat bahwa
pada saat biomassa larva mencapai puncak tertinggi (5 Juli 2010) peubah suhu
sedang mengalami kenaikan sejak akhir Juni sampai akhir Juli, namun suhu pada
5 Juli bukanlah suhu tertinggi yang diamati. Sementara pada peubah salinitas dan
pH pada tanggal 5 Juli menunjukkan nilai tertinggi sepanjang masa pengamatan.
Hal ini menunjukkan bahwa pada saat biomassa larva ikan tinggi, maka peubah
lainnya yang juga tinggi adalah salinitas dan pH, sementara suhu tidak
menunjukkan nilai tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa produksi larva lebih
dipengaruhi oleh peubah salinitas dan pH bila dibandingkan suhu.

Dari uraian mengenai hubungan antara parameter lingkungan dengan


biomassa organisme planktonik di laguna Pulau Pari maka dapat disimpulkan
bahwa biomassa fitoplankton baik nanofitoplankton maupun mikrofitoplankton
dipengaruhi oleh nutrien. Sedangkan dinamika biomassa zooplankton
dipengaruhi oleh nutrien, suhu, pH dan salinitas. Mikrozooplankton lebih
terpengaruh oleh perubahan pH, sementara mesozooplankton lebih terpengaruh
oleh perubahan salinitas. Sementara biomassa larva lebih dipengaruhi oleh
dinamika pada komposisi kimia air (salinitas dan pH) bila dibandingkan
perubahan pada kondisi fisik perairan (suhu).

4.3.5 Hubungan keterkaitan antar organisme planktonik

Analisis komponen utama terhadap seluruh nilai biomassa organisme


planktonik dilakukan untuk melihat kedekatan hubungan diantara semua fraksi
organisme planktonik. Hasil analisis menunjukkan bahwa komponen fitoplankton
baik nanofitoplankton maupun mikrofitoplankton mengelompok sendiri, begitu
pula dengan kelompok zooplankton dimana mikrozooplankton dan
mesozooplankton berada pada sumbu yang hampir berhimpitan. Gambar 47.
menunjukkan grafik yang terbentuk dari hasil analisis komponen utama dengan
ragam yang dijelaskan sebesar 57,89 % dari seluruh variasi data yang ada.
127

01

Mikrofito
Nanofito
01
Factor 2 : 24.19%

Mesozoo
00 Mikrozoo

-01 Larva

-01

-01 -01 00 01 01
Active
Factor 1 : 33.70%

Gambar 47. Grafik hasil analisis komponen utama pada seluruh nilai biomassa
organisme planktonik di perairan laguna Pulau Pari.

Gambar 47 menunjukkan bahwa komponen zooplankton berada diantara


komponen fitoplankton dan larva ikan dengan sudut yang terbentuk lebih kecil
terhadap larva bila dibandingkan terhadap fitoplankton. Hal ini menunjukkan
bahwa zooplankton, baik mikrozooplankton ataupun mesozooplankton
mempunyai keterkaitan dengan fitoplankton dan larva ikan. Hal ini dapat
dijelaskan karena zooplankton merupakan komponen yang berada pada tingkatan
trofik diantara keduanya. Hasil eksperimen pada penelitian ini menunjukkan
bahwa zooplankton merupakan pemangsa bagi fitoplankton, dan zooplankton juga
merupakan komponen mangsa bagi larva ikan. Hasil analisis korelasi Pearson
terhadap seluruh nilai biomassa organisme planktonik menunjukkan bahwa
korelasi nyata hanya terjadi antara komponen mikrozooplankton dengan
mesozooplankton (0,45) dan mikrozooplankton dengan larva ikan (0,30).
128

4.4 Trofodinamik organisme planktonik

4.4.1 Pertumbuhan

Pertumbuhan fitoplankton di laguna Pulau Pari diukur dengan melakukan


eksperimen menggunakan metode inkubasi. Pada eksperimen ini komponen
fitoplankton baik nanofitoplankton maupun mikrofitoplankton dipisahkan dari
zooplankton kemudian dibuat berbagai kombinasi berpasangan antara
fitoplankton dan zooplankton (sub bab Metode). Penghitungan nilai laju
pertumbuhan dilakukan dengan mengurangi biomassa akhir dengan biomassa
awal, dibagi lamanya waktu pengamatan, sehingga nilai yang diperoleh adalah
nilai laju pertumbuhan spesifik selama 24 jam.

a. Pertumbuhan nanofitoplankton

Hasil eksperimen menunjukkan laju pertumbuhan fitoplankton bervariasi


bergantung pada komponen zooplankton yang dipasangkan. Tabel 3
menunjukkan laju pertumbuhan spesifik nanofitoplankton pada berbagai variasi
komponen zooplankton. Kontrol nanofitoplankton, merupakan satuan percobaan
yang hanya berisi nanofitoplankton saja. Pada satuan percobaan ini pertumbuhan
nanofitoplankton mencapai pertumbuhan maksimum, karena tidak ada gangguan
dari faktor lain. Nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 8,5 x 10-2 mg/m3/jam.
Ketika nanofitoplankton dikombinasikan dengan mikrofitoplankton, maka laju
pertumbuhan nanofitoplankton berkurang sebesar 41,5 % dari kontrol, diduga hal
ini terjadi karena adanya persaingan nutrien antara nanofitoplankton dan
mikrofitoplankton.
129

Table 3. Laju pertumbuhan spesifik nanofitoplankton pada berbagai variasi


komponen zooplankton

laju pertumbuhan
No Perlakuan spesifik x 10-2
(mg/m3/jam)
1 N* 8,5
2 N+F** 5,0
3 N+MI*** 5,0
4 N+ME**** 8,0
5 N+L****** 7,5
6 N+ME+MI 3,1
7 N+MI+L 7,6
8 N+ME+L 3,5
9 L+ME+MI+N -1,7
10 N+MI+F 1,0
11 N+ME+F 5,0
12 N+L+F -1,1
13 N+ME+MI+F 2,0
14 N+MI+L+F 1,1
15 N+ME+L+F 1,7
16 N+ME+MI+L+F 4,0
*) N: nanoplankton **)F : mikrofitoplankton
***) MI : mikrozooplankton ****) ME : mesozooplankton
*****) L : larva ikan

Kehadiran pemangsa menyebabkan terjadinya penurunan laju


pertumbuhan nanofitoplankton. Pada perlakuan ketiga, nanofitoplankton
dikombinasikan dengan mikrozooplankton (N+MI), kehadiran mikrozooplankton
ternyata dapat mengurangi laju pertumbuhan nanofitoplankton sebesar 41,5 %.
Namun ketika nanofitoplankton dikombinasikan dengan mesozooplankton
(N+ME) maka nilai laju pertumbuhan hanya berkurang sebesar 6,3 % dari
pertumbuhan kontrol, sementara ketika nanofitoplankton dikombinasikan dengan
larva ikan (N+L), maka laju pertumbuhannya berkurang sebesar 11,8 % dari
kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa ada pemangsaan terhadap
nanofitoplankton oleh ketiga jenis pemangsa yaitu mikrozooplankton,
mesozooplankton (Gasparini & Castel, 1997) dan larva ikan, namun hasil
penelitian ini juga menunjukkan bahwa nanofitoplankton adalah makanan utama
bagi mikrozooplankton di perairan, karena kehadirannya dapat menekan laju
130

pertumbuhan nanofitoplankton hampir setengah dari laju pertumbuhan kontrol.


Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Liu & Dagg (2003) dan Juhl & Murrell
(2005) yang menyatakan bahwa mikrozooplankton lebih memilih fitoplankton
berukuran kecil sebagai makanannya.

Pada perlakuan dimana nanofitoplankton dikombinasikan dengan dua


jenis pemangsa, laju pertumbuhan nanofitoplankton menunjukkan kecenderungan
lebih rendah daripada ketika satu pemangsa hadir dalam satuan percobaan. Pada
perlakuan dimana nanofitoplankton dikombinasikan dengan mikrozooplankton
dan mesozooplankton sekaligus (N+Mi+Me), maka laju pertumbuhan
nanofitoplankton hanya 3,1 x 10-2 mg/m3/jam, atau berkurang sebesar 63,0 % dari
kontrol nanofitoplankton. Kondisi ini dapat terjadi karena tekanan pemangsaan
meningkat, yaitu dari mikrozooplankton dan mesozooplankton, sehingga laju
pertumbuhan menjadi semakin rendah. Ketika kombinasi predator diubah
menjadi larva ikan dan mesozooplankton (N + L + Me), nilai laju pertumbuhan
nanofitoplankton tidak berbeda jauh dengan perlakuan N +Me + Mi, dimana pada
kondisi ini laju pertumbuhan nanofitoplankton berkurang sebesar 59,21 %.
Kondisi yang berbeda terjadi ketika kombinasi predator adalah larva dan
mikrozooplankton (N + L + Mi), maka laju pertumbuhan nanofitoplankton
menjadi 7,6 x 10-2 mg/m3/jam atau berkurang sebesar 10,6 % dari kontrol, hal ini
dapat terjadi karena mikrozooplankton dimangsa oleh larva sehingga efek
pemangsaan oleh mikrozooplankton terhadap nanofitoplankton menjadi
berkurang. Hasil penelitian Thompson & Harrop (1991) menunjukkan bahwa
larva ikan cenderung untuk memangsa mikrozooplankton.

Perlakuan dengan tiga jenis pemangsa sekaligus (N+ME+MI+L),


menyebabkan laju pertumbuhan nanofitoplankton menjadi negatif (-1,7 x 10-2
mg/m3/jam). Hal ini menunjukkan bahwa akibat adanya pemangsaan oleh tiga
predator sekaligus menyebabkan nanofitoplankton tidak dapat tumbuh lagi,
bahkan secara perlahan-lahan mengurangi biomassa yang ada. Apabila kondisi
ini dibiarkan terus berlanjut, maka biomassa nanofitoplankton lama-lama akan
habis dan hilang dari sistem satuan percobaan.
131

Ketika mikrofitoplankton dihadirkan dalam sistem satuan percobaan,


maka nilai laju pertumbuhan nanofitoplankton menjadi lebih rendah daripada
ketika nanofitoplankton hadir sendiri sebagai produsen primer. Misalnya pada
perlakuan nanofitoplankton yang dikombinasikan dengan mikrozooplankton
(N+MI) nilai laju pertumbuhan nanofitoplankton adalah 5,0 x 10-2 mg/m3/jam,
namun ketika dalam satuan percobaan tersebut ditambahkan mikrofitoplankton
(N+MI+F) maka nilai laju pertumbuhan nanofitoplankton hanya 1,0 x10-2
mg/m3/jam. Begitu pula pada perlakuan N+ME+F, ketika mikrofitoplankton
tidak ada dalam sistem tersebut, maka laju pertumbuhan nanofitoplankton sebesar
8,0 x 10-2 mg/m3/jam, namun ketika mikrofitoplankton hadir dalam sistem
tersebut, maka laju pertumbuhan nanofitoplankton menjadi 5,0 x 10-2 mg/m3/jam.
Contoh lainnya adalah pada perlakuan N+ME+L nanofitoplankton mempunyai
nilai laju pertumbuhan 3,5 x 10-2 mg/m3/jam. Ketika ke dalam sistem tersebut
ditambahkan mikrofitoplankton (N+ME+L+F) maka nilai laju pertumbuhan
nanofitoplankton menjadi 1,7 x 10-2 mg/m3/jam. Penambahan mikrofitoplankton
ke dalam sistem satuan percobaan dapat mempengaruhi laju pertumbuhan
nanofitoplankton, karena mikrofitoplankton menjadi pesaing bagi
nanofitoplankton dalam memanfaatkan nutrien yang ada dalam sistem tersebut.
Laju pertumbuhan nanofitoplankton menjadi lebih rendah, karena selain adanya
tekanan pemangsaan dari predator, juga terjadi persaingan dalam pemanfaatan
nutrien.

Pada perlakuan dimana semua komponen hadir (N+F+L+ME+MI), nilai


laju pertumbuhan nanofitoplankton yang didapatkan adalah 4,0 x 10-2 mg/m3/jam,
nilai ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan ketika nanofitoplankton berada
dengan ketiga predator secara bersamaan tanpa kehadiran mikrofitoplankton.
Ketika semua komponen plankton hadir dalam sistem satuan percobaan, ini
menyerupai kondisi sebenarnya di alam, pada kondisi ini terjadi keseimbangan
antara laju pertumbuhan dan laju pemangsaan antara predator dan mangsanya.
Hasil eksperimen dari perlakuan lengkap ini disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan nanofitoplankton adalah


-2
4,0 x 10 mg/m3/jam atau 50 % lebih rendah dari laju pertumbuhan kontrol
132

(Tabel 3). Penurunan laju pertumbuhan nanofitoplankton terjadi karena adanya


tekanan pemangsaan dari ketiga predator yang hadir dalam sistem.

Tabel 4. Laju pertumbuhan spesifik komponen organisme planktonik dalam


sistem satuan percobaan pada perlakuan N+F+MI+ME+L

Komponen laju pertumbuhan spesifik x 10-2


(mg/m3/jam)
Nanofitoplankton 4
Mikrofitoplankton 6
Mikrozooplankton -2
Mesozooplankton -11

b. Pertumbuhan mikrofitoplankton

Hasil pengamatan terhadap eksperimen kontrol mikrofitoplankton


menunjukkan bahwa laju pertumbuhan kontrol mikrofitoplankton lebih tinggi dari
kontrol nanofitoplankton. Laju pertumbuhan kontrol mikrofitoplankton yang
terukur adalah 1,02 x 10-1 mg/m3/jam. Tabel 5 menunjukkan hasil pengamatan
terhadap laju pertumbuhan mikrofitoplankton pada berbagai kombinasi komposisi
pemangsa.

Ketika mikrofitoplankton dipasangkan dengan nanofitoplankton, maka


yang terjadi adalah mikrofitoplankton mengalami penurunan laju pertumbuhan.
Sama seperti yang terjadi dengan populasi nanofitoplankton ketika dipasangkan
berdua dengan mikrofitoplankton yang juga mengalami penurunan laju
pertumbuhan. Hal ini terjadi karena adanya persaingan dalam pemanfaatan
nutrien (Parson et al., 1984), walaupun sistem satuan percobaan tidak dibuat
tertutup, namun karena sirkulasi air ke dalam sistem satuan percobaan terbatas,
maka nutrien tetap menjadi faktor pembatas dalam sistem satuan percobaan .
133

Table 5. Laju pertumbuhan spesifik mikrofitoplankton pada berbagai variasi


komponen zooplankton

laju pertumbuhan
No Perlakuan spesifik x 10-2
(mg/m3/jam)

1 F** 10,2
2 F + N* 8,5
3 F + MI*** 9,0
4 F + ME**** 5,8
5 F+L***** 5,0
6 F + MI + ME 2,4
7 F+MI+L 7,9
8 F+ME+L 2,6
9 F + MI + ME+L -0,4
10 F+ MI +N 7,5
11 F + ME + N 2,5
12 F+L+N -2,7
13 F + MI + ME + N 7,4
14 F + MI + L + N 5,9
15 F + ME + L + N 3,4
16 F + MI + ME + L + N 5,9
*) N: nanoplankton **)F : mikrofitoplankton
***) MI : mikrozooplankton ****) ME : mesozooplankton
*****) L : larva ikan

Ketika mikrofitoplankton dikombinasikan dengan pemangsa baik itu


mikrozooplankton, mesozooplankton ataupun larva, maka laju pertumbuhan
menunjukkan kecenderungan lebih rendah bila dibandingkan dengan tanpa
pemangsa. Berdasarkan nilai laju pertumbuhan dalam Tabel 5, dapat dilihat
bahwa mesozooplankton dan larva memberikan pengaruh yang hampir sama
terhadap penurunan biomassa mikrofitoplankton, bahkan larva menghambat laju
pertumbuhan mikrofitoplankton lebih tinggi bila dibandingkan mesozooplankton.
Namun ketika kedalam satuan percobaan dihadirkan mikrozooplankton, ternyata
larva ikan lebih memilih mikrozooplankton sebagai makanannya bila
dibandingkan mikrofitoplankton. Nilai konsumsi terhadap mikrofitoplankton
memang lebih tinggi oleh larva ikan, namun mikrofitoplankton bukanlah makanan
utama dari larva ikan, melainkan makanan utama dari mesozooplankton (Turner,
134

1987; Lessard & Murrel, 1998; Liu & Dagg, 2003; Nuruhwati, 2003; Sarnele
2005).

Kehadiran dua pemangsa sekaligus berakibat pada penurunan laju


pertumbuhan yang lebih besar bila dibandingkan dengan kehadiran satu pemangsa
dalam sistem satuan percobaan. Kombinasi pemangsa yang menurunkan laju
pertumbuhan terbesar adalah ketika mesozooplankton hadir bersama
mikrozooplankton, maka keduanya mampu mengurangi laju pertumbuhan
mikrofitoplankton sampai 76,47 % dari laju pertumbuhan kontrol, nilai ini hanya
berbeda sedikit ketika kombinasi pemangsa adalah mesozooplankton dan larva
ikan, yang mampu menurunkan pertumbuhan mikrofitoplankton sebesar 74,50 %.
Ketika kombinasi pemangsa tidak ada komponen mesozooplankton maka
penurunan laju biomassa mikrofitoplankton menjadi lebih rendah, yaitu ketika
komponen pemangsa adalah MI + L maka laju pertumbuhan mikrofitoplankton
hanya berkurang sebesar 22,55 % dari laju pertumbuhan kontrol. Hal ini diduga
terjadi karena komponen mikrozooplankton dimangsa oleh larva sehingga dampak
pemangsaan oleh mikrozooplankton berkurang. Nilai laju pertumbuhan dari
kombinasi pemangsa di atas juga menunjukkan bahwa kehadiran
mesozooplankton memberikan pengaruh terhadap menurunnya laju pertumbuhan
lebih cepat bila dibandingkan tanpa kehadiran mesozooplankton. Kondisi ini
memperkuat asumsi bahwa mesozooplankton adalah pemangsa utama
mikrofitoplankton.

Ketika ketiga pemangsa dihadirkan bersama-sama dalam sistem satuan


percobaan, maka laju pertumbuhan mikrofitoplankton menjadi negatif. Nilai
negatif menunjukkan bahwa laju pemangsaan dari ketiga pemangsa lebih besar
dari laju pertumbuhan mikrofitoplankton, bahkan akhirnya mengurangi biomassa
yang ada.

Seperti halnya nanofitoplankton, penambahan komponen produsen


primer lainnya ke dalam sistem satuan percobaan, menyebabkan menurunnya laju
pertumbuhan mikrofitoplankton. Ketika mikrofitoplankton sendiri berada dalam
satuan percobaan, nilai laju pertumbuhan adalah 10,2 x 10-2 g/m3/jam, namun
ketika ditambahkan nanofitoplankton ke dalam satuan percobaan maka nilai laju
135

pertumbuhan berkurang menjadi 8,5 x 10-2 mg/m3/jam atau berkurang sebesar


16,67 % dari kontrol. Ketika nanofitoplankton dan mikrofitoplankton disatukan
dalam sistem satuan percobaan bersama-sama, laju pertumbuhan
mikrofitoplankton hanya berkurang 16,67 % sementara nanofitoplankton laju
pertumbuhannya berkurang sampai 40,76 %. Ini dapat terjadi karena laju
pertumbuhan mikrofitoplankton lebih besar (10,2 x 10-2 mg/m3/jam) daripada laju
pertumbuhan nanofitoplankton (8,5 x 10-2 mg/m3/jam). Kondisi ini dapat
menjadi indikasi bahwa seharusnya mikrofitoplankton dapat lebih dominan dari
nanofitoplankton akan tetapi karena kontrol terhadap biomassa mikrofitoplankton
oleh mesozooplankton sangat besar yang ditandai dengan pengurangan laju
pertumbuhan yang besar/laju pemangsaan yang tinggi (Tabel 9), maka biomassa
mirofitoplankton di alam tetap lebih rendah daripada biomassa nanofitoplankton.
Kondisi ini serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Juhl & Murrell
(2005) yang melakukan eksperimen mengenai laju pertumbuhan dan laju
pemangsaan pada berbagai fraksi ukuran fitoplankton. Hasil penelitian Juhl &
Murrell (2005) menyatakan bahwa laju pertumbuhan fitoplankton fraksi ukuran
> 5 µm lebih besar daripada laju pertumbuhan fraksi ukuran < 5 µm.

Ketika semua komponen organisme planktonik dihadirkan dalam satu


sistem satuan percobaan, maka yang terjadi adalah nilai laju pertumbuhan
mikrofitoplankton mencapai 6,0 x 10-2 mg/m3/jam atau hanya berkurang 42,02 %
dari laju pertumbuhan kontrol. Ketika semua komponen organisme planktonik
hadir dalam sistem satuan percobaan, maka kondisi ini menyerupai kondisi
sebenarnya di alam. Pada kondisi di alam terjadi keseimbangan antara laju
pertumbuhan dan laju pemangsaan antar komponen mangsa dan pemangsa.
Tingginya tekanan pengurangan biomassa mikrofitoplankton oleh
mesozooplankton dikontrol oleh tingginya pengurangan laju biomassa
mesozooplankton.
136

c. Pertumbuhan mikrozooplankton

Dari eksperimen yang dilakukan sebanyak 3 kali ulangan selama 24 jam


ternyata biomassa mikrozooplankton sebagian besar menunjukkan pertumbuhan
negatif, atau mengalami penurunan biomassa. Tabel 6 menunjukkan nilai laju
pertumbuhan dari mikrozooplankton dengan berbagai kombinasi mangsa dan
pemangsa.

Table 6. Laju pertumbuhan spesifik mikrozooplankton pada berbagai variasi


komponen zooplankton

Laju pertumbuhan
No Perlakuan spesifik x 10-2
(mg/m3/jam)
1 MI*** + N* -3,5
2 MI + F** -5,2
3 MI + ME**** -3,2
4 MI + L***** -3,3
5 MI + N + F -6,2
6 MI + N + ME -5,1
7 MI + N + L -3,9
8 MI + F + ME -5,1
9 MI + F + L 4,2
10 MI + ME + L 3,9
11 MI + N + F + ME -4,2
12 MI + N + F + L -5,1
13 MI + N + ME + L -2,6
14 MI + F + ME + L -1,9
15 MI + N + F + ME + L -1,9
*) N: nanoplankton **)F : mikrofitoplankton
***) MI : mikrozooplankton ****) ME : mesozooplankton
*****) L : larva ikan

Pada uji coba pertumbuhan ini yang dianggap sebagai kontrol adalah
ketika mikrozooplankton dipasangkan dengan nanoplankton, karena berdasarkan
beberapa penelitian sebelumnya nanofitoplankton adalah makanan utama bagi
mikrozooplankton, maka diharapkan terjadi pertumbuhan maksimal ketika
mikrozooplankton dipasangkan hanya dengan makanan utamanya tanpa kehadiran
pemangsa.
137

Dalam Tabel 6 terlihat bahwa mikrozooplankton tetap mengalami


penurunan biomassa walaupun tanpa kehadiran pemangsa, hal ini menunjukkan
bahwa pengurangan biomassa terjadi akibat faktor lainnya. Banyak hal yang
dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan negatif dari mikrozooplankton,
diantaranya adalah kurangnya ketersediaan makanan sehingga mikrozooplankton
mengalami fase kelaparan dan mati, atau juga faktor stress akibat perlakuan,
karena ukurannya yang kecil, maka mikrozooplankton akan lebih rentan terhadap
gangguan berupa guncangan dan penyaringan.

d. Pertumbuhan mesozooplankton

Hasil eksperimen menunjukkan pada sebagian besar perlakuan


mesozooplankton juga menunjukkan laju pertumbuhan negatif. Laju
pertumbuhan positif ditunjukkan hanya pada enam perlakuan. Tabel 7
menunjukkan hasil perhitungan terhadap nilai laju pertumbuhan mesozooplankton
pada eksperimen pertumbuhan.

Table 7. Laju pertumbuhan spesifik mesozooplankton pada berbagai variasi


komponen zooplankton

Laju pertumbuhan
No Perlakuan spesifik x 10-2
(mg/m3/jam)
1 ME + N 2,6
2 ME + F 8,7
3 ME + MI 0,01
4 ME + L 1,1
5 ME + N + F -3,9
6 ME + N + MI -1,0
7 ME + N + L 2,2
8 ME + F + MI 5,3
9 ME + F + L -1,2
10 ME + MI + L -4,5
11 ME + N + F + MI -0,5
12 ME + N + F + L -1,6
13 ME + N + MI + L 1,1
14 ME + F + MI + L -1,9
15 ME + N + F + MI + L -11,1
138

Keterngan:
*) N: nanoplankton **)F : mikrofitoplankton
***) MI : mikrozooplankton ****) ME : mesozooplankton
*****) L : larva ikan

Pada pengamatan pertumbuhan mesozooplankton, yang dianggap sebagai


kontrol adalah ketika mesozooplankton dipasangkan dengan mikrofitoplankton,
karena diduga bahwa mikrofitoplankton adalah makanan utamanya, sehingga
ketika tersedia makanan utama dan tanpa kehadiran pemangsa akan diperoleh
nilai laju pertumbuhan maksimal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa laju
pertumbuhan maksimal mesozooplankton adalah 8,7 x 10-2 mg/m3/jam. Ketika
jenis makanan diganti dengan nanofitoplankton atau mikrozooplankton, ternyata
laju pertumbuhan mesozooplankton menjadi 2,1 x 10-2 mg/m3/jam ketika diberi
nanofitoplankton sebagai makanan, dan 1,0 x 10-4 g/m3/jam ketika diberi
mikrozooplankton sebagai makanan.

Ketika pemangsa ditambahkan dalam sistem satuan percobaan, ternyata


nilai laju pertumbuhan tidak membentuk suatu pola tertentu, seperti halnya pada
fitoplankton. Ketika mesozooplankton dikombinasikan hanya dengan larva yang
diduga sebagai salah satu pemangsa ternyata laju pertumbuhan mesozooplankton
adalah 1,1 x 10-2 mg/m3/jam. Besarnya penurunan laju pertumbuhan ini tidak bisa
disimpulkan bahwa hal tersebut terjadi akibat pemangsaan larva sepenuhnya,
faktor kematian alami akibat strees selama perlakuan juga bisa mempengaruhi laju
pertumbuhan.

Ketika ke dalam sistem satuan percobaan mesozooplankton


dikombinasikan dengan larva sebagai pemangsa dan organisme planktonik lain
sebagai mangsa (nanoplankton, mikrofitoplankton dan mikrozooplankton) maka
nilai laju pertumbuhan yang terukur menjadi negatif kecuali pada perlakuan
Me + N + L, nilai laju pertumbuhan tetap positif. Kehadiran unsur makanan
ternyata tidak dapat meningkatkan laju pertumbuhan mesozooplankton, hal ini
diduga terjadi karena laju pemangsaan oleh larva lebih tinggi bila dibandingkan
dengan laju pertumbuhan mesozooplankton.
139

Dalam kondisi semua komponen organisme planktonik hadir dalam sistem


satuan percobaan, ternyata laju pertumbuhan mesozooplankton tetap negatif
dengan nilai laju pertumbuhan sebesar -1,1 x 10-1 mg/m3/jam. Ketersediaan
makanan yang melimpah baik bagi mesozooplankton maupun bagi larva sebagai
pemangsa ternyata tidak dapat menekan laju kematian mesozooplankton, sehingga
pertumbuhan tetap negatif. Hal ini terjadi karena nilai biomassa mesozooplankton
yang sangat rendah di perairan laguna Pulau Pari. Rendahnya biomassa
mesozooplankton dapat menyebabkan populasi mesozooplankton menjadi sangat
rentan terhadap gangguan, baik itu akibat kehadiran pemangsa maupun akibat
gangguan faktor lingkungan.

e. Pertumbuhan larva

Pengambilan sampel selama 8 hari berturut-turut menunjukkan bahwa


larva ikan yang tertangkap didominansi oleh famili Blenniidae. Famili
Blenniidae yang ditemukan di laguna Pulau Pari mempunyai kisaran panjang
antara 1,00 – 3,00 mm. Untuk memudahkan analisis, maka dibuat tabulasi
frekwensi dari ukuran larva ikan yang tertangkap setiap harinya. Selang ukuran
panjang yang dibuat adalah 0,25 mm. Peningkatan nilai tengah panjang pada
setiap hari pengamatan dapat menunjukkan adanya pertumbuhan. Hasil analisis
peningkatan nilai tengah dengan menggunakan metode Bhatacharya menunjukkan
bahwa dari pengamatan selama 7 hari terjadi kenaikan nilai tengah dari sampel
yang diamati. Pada hari keempat ditemukan kembali kelompok larva dengan
ukuran kecil dalam sampel larva yang tertangkap. Setelah diamati selama 8 hari
kelompok larva berukuran kecil ini juga mengalami pertambahan panjang tubuh,
sehingga tampak seperti terdapat dua kelompok ukuran larva dengan selang
pengamatan 4 hari. Pada metode Bhatacharya yang digunakan, data hari
kedelapan tidak dapat dianalisis karena jumlah sampel sangat sedikit (2 ekor),
sehingga hasil analisis yang muncul hanya hasil dari tujuh hari pengamatan saja.
Tabel 8 menunjukkan besaran nilai tengah sampel ikan yang diambil selama
tujuh hari berturut-turut.
140

Tabel 8. Kenaikan nilai tengah panjang larva ikan Blenniidae

Kelompok I Kelompok II
Hari ke-
Nilai tengah SD Nilai tengah SD
1 1,55 0,20
2 1,76 0,43
3 1,80 0,26
4 2,09 0,14 1,49 0,19
5 1,76 0,20 1,61 0,23
6 2,50 0,13 1,51 0,2
7 2,82 0,04 1,67 0,17

Dari hasil analisis nilai tengah ditemukan dua kelompok larva dengan
panjang awal berkisar pada 1,55 mm. Kelompok pertama teramati sejak hari
pertama sampling dengan nilai tengah panjang 1,55 mm dan standar deviasi
sebesar 0,20 sedangkan pada hari ketujuh nilai tengah panjangnya mencapai 2,82
mm, dengan standar deviasi 0,04. Sementara kelompok kedua teramati mulai hari
keempat dengan panjang awal 1,49 mm, standar deviasi 0,19 dan pada hari
ketujuh nilai tengah panjangnya adalah 1,67 mm dengan standar deviasi sebesar
0,17.

Dari Tabel 8 dapat dihitung laju pertumbuhan larva ikan Blenniidae di


perairan laguna Pulau Pari. Nilai laju pertumbuhan merupakan nilai
ln pertambahan panjang larva dibagi dengan lamanya waktu pengamatan, dan
diperoleh nilai 0,15 mm/hari (Gambar 48). Nilai pertumbuhan ini termasuk
rendah apabila dibandingkan dengan nilai pertumbuhan larva ikan Sardina
pilchardus yang dipelihara dalam eksperimen laboratorium yang dilakukan oleh
Alemany (2003), dimana nilai pertumbuhannya 0,28 mm/hari. Pertumbuhan ikan
Blenniidae di laguna Pulau Pari juga termasuk rendah apabila dibandingkan
dengan ikan Betta splendens yang hidup di habitat buatan yang hanya memiliki
laju pertumbuhan sebesar 0,32 mm/hari (Yustina et al., 2003).
141

3.5

panjang larva (mm)


2.5

1.5 a = 2,76 b = 0,64 c = 0,15


1

0.5

0
0 2 4 6 8
umur (hari)

Gambar 48. Simulasi pertumbuhan panjang larva ikan Blenniidae di laguna Pulau
Pari Kepulauan Seribu dengan menggunakan metode Gompertz (a =
panjang asimtotik, b = konstanta, c = laju pertumbuhan).

Tabel 8 dan Gambar 49. menunjukkan adanya pertumbuhan panjang dan


adanya kelompok baru yang masuk ke dalam kelompok larva ikan Blenniidae
yang ada di laguna Pulau Pari. Pergeseran nilai tengah ini ditunjukkan oleh grafik
yang dihasilkan dari pengolahan data panjang total dengan menggunakan metode
Bhatacharya.

Dari hasil analisis perkembangan modus dengan metode ELEFAN I


dengan menggunakan program FISAT II, nilai L∞ sebesar 2,76 mm. Tidak
seperti hasil analisis pertumbuhan pada ikan dewasa, nilai L∞ tidak menunjukkan
panjang maksimum ikan, namun hanya menunjukkan panjang maksimum dari
fase larva ikan Blenniidae. Apabila panjang ikan ditemukan melebihi dari nilai
L∞, maka diduga ikan tersebut sudah tidak berada pada fase larva lagi, melainkan
sudah pada fase juvenile.
142

20
Frekwensi Hari - 1

0
1.00 - 1.25 1.26 - 1.51 1.52 - 1.77 1.78 - 2.03 2.04 - 2.29 2.3 - 2.55 2.56 - 2.81
Panjang kelas (mm)
20
Hari - 2
Frekwensi

0
1.00 - 1.25 1.26 - 1.51 1.52 - 1.77 1.78 - 2.03 2.04 - 2.29 2.3 - 2.55 2.56 - 2.81
Panjang kelas (mm)
50
Hari -3
Frekwensi

0
1.00 - 1.25 1.26 - 1.51 1.52 - 1.77 1.78 - 2.03 2.04 - 2.29 2.3 - 2.55 2.56 - 2.81
Panjang kelas (mm)
50
Hari - 4
Frekwensi

0
1.00 - 1.25 1.26 - 1.51 1.52 - 1.77 1.78 - 2.03 2.04 - 2.29 2.3 - 2.55 2.56 - 2.81
Panjang kelas (mm)
20
Hari - 5
Frekwensi

10

0
1.00 - 1.25 1.26 - 1.51 1.52 - 1.77 1.78 - 2.03 2.04 - 2.29 2.3 - 2.55 2.56 - 2.81
Panjang kelas (mm)
10
Hari - 6
Frekwensi

0
1.00 - 1.25 1.26 - 1.51 1.52 - 1.77 1.78 - 2.03 2.04 - 2.29 2.3 - 2.55 2.56 - 2.81
Panjang kelas (mm)
20
Hari - 7
Frekwensi

0
1.00 - 1.25 1.26 - 1.51 1.52 - 1.77 1.78 - 2.03 2.04 - 2.29 2.3 - 2.55 2.56 - 2.81
Panjang kelas (mm)

Gambar 49. Pergeseran nilai tengah panjang larva ikan Blenniidae.


143

Selain mengalami pertumbuhan panjang larva ikan Blenniidae yang


diamati juga mengalami perkembangan fase. Dari hasil pengamatan terhadap
perkembangan larva, ditemukan dua fase larva ikan selama masa pengamatan 8
hari, yaitu fase preflexion (panjang 1,00 – 2,63 mm) dan fase flexion (panjang
1,68 – 2,89). Fase flexion ditandai dengan ujung notochord yang sudah
membengkok (Re & Meneses, 2008). Tingginya persentase fase preflexion yang
ditemukan dapat menjadi indikasi bahwa lokasi pengamatan merupakan habitat
pemijahan bagi ikan-ikan famili Blenniidae. Menurut Allen (1991) famili
Blenniidae biasanya meletakan telur-telurnya di lubang-lubang atau di bawah
cangkang-cangkang bivalva yang kosong, kemudian induknya akan menjaga
telur-telur tersebut, hal ini menunjukkan bahwa famili Blenniidae memijah di
habitat terumbu karang. Tahapan perkembangan populasi larva ikan Blenniidae
ditampilkan pada grafik perkembangan larva, selama 8 hari pengamatan
(Gambar 50).

100%
Presentase fase perkembangan

90%
80%
70%
60%
50%
larva

flexion
40%
30% preflexion
20%
10%
0%
1 2 3 4 5 6 7
Hari ke-

Gambar 50. Persentase fase perkembangan populasi larva ikan Blenniidae .

Grafik pertumbuhan (Gambar 48) dan perkembangan (Gambar 50) dari


larva Blenniidae yang ditemukan di laguna Pulau Pari menunjukkan bahwa larva
Blenniidae yang hidup di laguna Pulau Pari mengalami pertumbuhan dan
perkembangan, hal ini berarti bahwa kondisi lingkungan laguna Pulau Pari dapat
144

mendukung larva Blenniidae untuk tumbuh dan berkembang. Faktor-faktor yang


dapat mendukung kelangsungan hidup larva antara lain adalah kondisi kimia fisik
perairan dan ketersediaan makanan bagi larva.

4.4.2 Pemangsaan

Nilai pemangsaan diperoleh dengan cara mengurangi laju pertumbuhan


maksimal dengan laju pertumbuhan pada satuan percobaan dimana terdapat
organisme pemangsa. Tabel 9 menunjukkan besarnya nilai estimasi laju
pemangsaan berdasarkan laju pertumbuhan.

Tabel 9. Estimasi laju pemangsaan berdasarkan laju pertumbuhan organisme


planktonik.

Laju pertumbuhan Estimasi laju


Perlakuan spesifik x 10-2 pemangsaan x 10-2
(mg/m3/jam) (mg/m3/jam)
Pemangsaan terhadap
nanofitoplankton
N tunggal 8,5
Mi – N 5,0 3,5
Me – N 8,0 0,5
L–N 7,5 1,0

Pemangsaan terhadap
mikrofitoplankton
F tunggal 10,2
MI – F 9,0 1,2
Me – F 5,8 4,4
L–F 5,0 5,2

Pemangsaan terhadap
mikrozooplankton
Mi – N -3,5
Me - Mi – N -5,1 1,6
L - Mi – N -3,9 0,4

Pemangsaan terhadap
mesozooplankton
Me – F 8,7
L - Me – F -1,2 9,9
145

Pada penghitungan nilai laju pemangsaan terhadap biomassa


nanofitoplankton, laju pertumbuhan maksimal adalah laju pertumbuhan pada
perlakuan N tunggal, dengan komponen pemangsa adalah mikrozooplankton,
mesozooplankton dan larva. Pada penghitungan nilai laju pemangsaan terhadap
mikrofitoplankton, maka laju pertumbuhan maksimal adalah pada perlakuan F
tunggal dengan komponen pemangsa yang sama. Sedangkan pada penghitungan
nilai laju pemangsaan terhadap mikrozooplankton, laju pertumbuhan maksimal
diperoleh pada perlakuan Mi – N, dengan komponen pemangsa adalah
mesozooplankton dan larva. Untuk menghitung laju pemangsaan pada
mesozooplankton nilai laju pemangsaan maksimal diperoleh dari perlakuan Me –
F dengan komponen pemangsa larva ikan.

Dari Tabel 5. terlihat bahwa laju pemangsaan tertinggi terhadap biomassa


nanofitoplankton terjadi ketika mikrozooplankton hadir sebagai pemangsa (3,5 x
10-2 mg/m3/jam), hal ini dapat menunjukkan bahwa mikrozooplankton merupakan
pemangsa utama bagi nanofitoplankton. Pemangsa utama mikrofitoplankton
adalah larva ikan, hal ini dapat dilihat dari nilai laju pemangsaan larva ikan
terhadap mikrofitoplankton adalah yang tertinggi dibanding komponen pemangsa
lainnya (mikrozooplankton dan mesozooplankton) yaitu sebesar 5,2 x 10-2
mg/m3/jam. Pada penghitungan laju pemangsaan terhadap mikrozooplankton,
dengan pemangsa mesozooplankton dan larva ikan, ternyata mesozooplankton
mempunyai laju pemangsaan yang lebih tinggi terhadap mikrozooplankton
(1,6 x 10-2 mg/m3/jam) bila dibandingkan dengan larva ikan terhadap
mikrozooplankton (0,4 x 10-2 mg/m3/jam). Namun hal ini tidak dapat
menunjukkan secara langsung bahwa mesozooplankton merupakan pemangsa
utama bagi mikrozooplankton, karena terjadinya kematian pada semua perlakuan
mikrozooplankton, sehingga diduga ada faktor lain yang menyebabkan terjadinya
penurunan biomassa mikrozooplankton selain pemangsaan. Pada eksperimen ini
pemangsa bagi mesozooplankton adalah larva ikan, nilai laju pemangsaannya
sebesar 9,9 x 10-2 mg/m3/jam.

Besarnya penghambatan terhadap laju pertumbuhan komponen


nanofitoplankton, mikrofitoplankton dan mesozooplankton tidak dapat
146

menunjukkan secara langsung jenis makanan utama dari pemangsa. Untuk


mengetahui makanan utama dari setiap pemangsa harus dibandingkan dengan
nilai pemangsaan setiap jenis pemangsa terhadap jenis mangsa lainnya.

Dari hasil perhitungan terhadap nilai pemangsaan pada setiap komponen


zooplankton dan larva ikan terhadap kontrol mangsanya, maka dapat dibuat suatu
diagram yang dapat menggambarkan makanan utama dari kelompok
mikrozooplankton, mesozooplankton dan larva ikan, serta dapat digunakan untuk
menduga posisi trofik dari setiap komponen organism planktonik (Gambar 51).

Konsumsi mikrozooplankton: 0,047 mg/m3/jam


Konsumsi mesozooplankton: 0,065 mg/m3/jam
Konsumsi larva ikan: 0,165 mg /m3/jam
: besarnya pemangsaan
: pemangsaan utama
: nilai pemangsaan yang underestimate

Gambar 51. Sketsa diagram pemangsaan hasil eksperimen di laguna Pulau Pari.
147

Gambar 51. menunjukkan bahwa total konsumsi mikrozooplankton adalah


4,7 x 10-2 mg/m3/jam, dengan jenis mangsa adalah nanofitoplankton dan
mikrofitoplankton. Nanofitoplankton merupakan makanan utama dari
mikrozooplankton dan mikrozooplankton merupakan pemangsa utama dari
nanofitoplankton, karena bila dibandingkan dengan jenis pemangsa lainnya, laju
pemangsaan mikrozooplankton terhadap nanofitoplankton adalah yang tertinggi.

Total konsumsi mesozooplankton terhadap seluruh jenis mangsanya


adalah 6,5 x 10-2 mg/m3/jam, dengan jenis mangsa adalah nanofitoplankton,
mikrofitoplankton dan mikrozooplankton. Makanan utama mesozooplankton
adalah mikrofitoplankton, hal ini terlihat dari laju pemangsaan mesozooplankton
yang paling tinggi adalah terhadap mikrofitoplankton. Namun demikian
mesozooplankton bukanlah pemangsa utama dari mikrofitoplankton, karena laju
pemangsaan larva ternyata lebih tinggi terhadap mikrofitoplankton bila
dibandingkan laju pemangsaan mesozooplankton.

Total konsumsi larva terhadap seluruh jenis mangsanya adalah 1,65 x 10-1
mg/m3/jam, Apabila dilihat dari diagram diatas, jenis mangsa utama dari larva
ikan adalah mesozooplankton, namun hal ini tidak dapat dibandingkan dengan
pemangsaan terhadap mikrozooplankton, karena terjadinya kematian
mikrozooplankton pada satuan percobaan. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh
terjadinya kematian pada satuan percobaan mikrozooplankton yang tidak hanya
disebabkan oleh faktor pemangsaan namun juga ada pengaruh lainnya, sehingga
hasil eksperimen pemangsaan terhadap mikrozooplankton oleh larva tidak
menunjukkan nilai yang sebenarnya. Hasil ini menunjang hasil analisis terhadap
plot distribusi temporal dari seluruh komponen biomassa organisme planktonik
yang diamati (Gambar 43). yang menunjukkan bahwa komponen yang
mempengaruhi larva ikan adalah mikrozooplankton dan mesozooplankton.

Laju pemangsaan larva paling tinggi adalah terhadap mesozooplankton


(9,9 x 10-2 mg/m3/jam) bila dibandingkan terhadap mikrozooplankton. Namun
hasil pembedahan terhadap isi perut larva menunjukkan bahwa komponen yang
paling banyak ditemukan dalam perut larva ikan adalah mikrozooplankton
(Gambar 52). Perbedaan antara hasil eksperimen pemangsaan dengan hasil
148

pembedahan isi perut menunjukkan adanya variasi pemangsaan larva terhadap


makanannya antara pendekatan hasil eksperimen dan pembedahan isi perut.
Mengingat adanya hasil eksperimen yang kurang akurat, maka hasil yang
cenderung dipilih adalah hasil pembedahan isi perut yang menunjukkan larva ikan
lebih memangsa mikrozooplankton.

4.4.3 Selektivitas pemilihan makanan oleh larva

Untuk mengetahui jenis mangsa yang paling disukai larva dilakukan


pembedahan terhadap isi perut larva ikan kakap putih yang dilakukan pada selama
eksperimen pemangsaan. Hasil pembedahan isi perut ditampilkan dalam Gambar
52. Ada tiga komponen utama isi perut larva ikan kakap putih, yaitu Brachionus,
copepod jenis Mikrosetela, Oithona dan jenis lain yang tidak teridentifikasi, serta
larva ikan.

60
50
50

40
Persentase (%)

30
23.5
20
11.8
10 5.9 5.9
2.9
0
Brachionus Nauplii Oithona Mikrosetella Copepod lain Larva ikan

mikrozooplankton Mesozooplankton Larva

Gambar 52. Jenis dan persentase isi perut larva ikan kakap putih.

Dari 675 ekor ikan yang dimasukan ke dalam satuan percobaan, hanya
170 ekor yang bisa diamati isi perutnya, sebagian besar larva ikan mati atau tidak
ditemukan kembali dalam sampel yang disebabkan oleh larva menempel di botol
atau di jaring plankton. Dari 170 ekor ikan yang dibedah isi perutnya hanya 33
149

ekor yang dapat teramati dengan jelas isi perutnya, sisanya ada yang tidak
teridentifikasi karena hancur atau isi perut nampak kosong. Dari Gambar 52.
terlihat bahwa 73% dari isi perut larva adalah mikrozooplankton yang sebagian
besarnya adalah Brachionus dan telur Brachionus dan hanya 27% saja isi perut
berupa komponen mesozooplankton.

Hasil analisis struktur komunitas mikrozooplankton (Lampiran 4)


menunjukkan bahwa pada Nopember yaitu pada saat ekperimen dilakukan,
kelimpahan Brachionus memang sedang berada dalam kelimpahan yang cukup
tinggi (181,91 individu/m3). Bila dibandingkan dengan bulan September dan
Oktober dimana Brachionus tidak ditemukan sama sekali dalam sampel.

Trofodinamik fitoplankton-zooplankton di perairan laguna Pulau Pari


dapat dilihat atau digambarkan melalui adanya dinamika pertumbuhan dan
pemangsaan pada setiap komponen organisme planktonik oleh komponen lainnya.
Dari eksperimen pemangsaan dapat disimpulkan bahwa larva ikan memakan
semua jenis plankton dengan proporsi yang berbeda untuk setiap jenisnya,
mikrozooplankton tampak merupakan komponen penting yang menunjang
kehidupan larva ikan. Besarnya nilai pemangsaan dari setiap komponen
organisme planktonik tidak melebihi nilai laju pertumbuhan dari organisme
mangsa, sehingga organisme yang berperan sebagai mangsa dapat menunjang
kelangsungan hidup pemangsanya. Namun demikian ketika kondisinya tidak
tepat (mismatch) maka organisme mangsa tidak dapat menunjang kelangsungan
hidup pemangsanya.

4.5 Upaya Pengelolaan

Perairan laguna Pulau Pari merupakan bagian dari ekosistem perairan


Kepulauan Seribu yang terhubung langsung dengan perairan Teluk Jakarta.
Berbagai permasalahan yang ada di Teluk Jakarta memberikan pengaruh nyata
terhadap ekosistem laguna Pulau Pari. Salah satu masalah utama yang dihadapi
adalah pencemaran dan degradasi habitat alami yang berdampak pada
menurunnya sumber daya ikan di perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu.
150

Penurunan ini dapat terlihat dari terjadinya penurunan nilai hasil tangkapan per
unit upaya ikan ekor kuning (Caesio cuning) dari 0,64 ton/unit muroami pada
tahun 2001 menjadi 0,03 ton/unit muroami pada tahun 2007 (Hartati et al., 2011).
Ikan ekor kuning merupakan hasil tangkapan dominan dari jaring muroami yang
banyak beroperasi di perairan Kepulauan Seribu. Penurunan produksi ikan salah
satunya terkait dengan degradasi habitat alami dari ikan tersebut. Penurunan
kondisi terumbu karang dan padang lamun sebagai habitat berlindung dan mencari
makan juga memberikan dampak yang nyata terhadap proses rekrutmen populasi
ikan di suatu wilayah.

Perairan laguna Pulau Pari telah mengalami degradasi habitat terumbu


karang sejak tahun 1969 – 1995, dimana persen tutupan karang berkurang dari
80 % menjadi 15 % (Unesco, 2000), namun sejak tahun 2000 terumbu karang di
laguna Pulau Pari mengalami pemulihan dan saat ini tutupan karang di laguna
Pulau Pari mencapai 25 - 51 % dan termasuk ke dalam kategori sedang sampai
baik (Edrus & Hartati, 2011). Perbaikan kondisi terumbu karang di laguna Pulau
Pari yang ditunjang dengan kondisi fisik laguna yang merupakan atol,
menyediakan habitat yang baik bagi banyak jenis ikan untuk berlindung dan
mencari makan.

Di laguna Pulau Pari ditemukan banyak jenis larva ikan dengan


biomassa dan kelimpahan yang tinggi yang berada pada fase awal perkembangan
larva (preflexion). Fluktuasi biomassa larva mempunyai pola yang mirip dengan
fluktuasi kelimpahan telur, yang diambil pada waktu bersamaan (Gambar 39)
sehingga diduga ada keterkaitan yang erat antara telur dengan larva ikan yang ada
di laguna Pulau Pari. Larva ikan yang tertangkap merupakan larva yang menetas
dari telur-telur yang ada di laguna, hal ini menunjukkan bahwa laguna Pulau Pari
merupakan habitat pemijahan bagi ikan karang.

Kapasitas laguna Pulau Pari untuk menunjang kelangsungan hidup larva


ikan yang ada di dalamnya tampak dari adanya pertumbuhan dan perkembangan
larva ikan dan ketersediaan makanan utamanya. Dari hasil penelitian diketahui
bahwa makanan utama larva ikan adalah mikrozooplankton, dan makanan utama
mikrozooplankton adalah nanofitoplankton. Selama masa penelitian juga
151

diketahui bahwa persentase keduanya selalu berada dalam jumlah dominan di


perairan. Fluktuasi yang terjadi pada larva selalu beriringan dengan fluktuasi
yang terjadi pada biomassa mikrozooplankton dan nanofitoplankton. Dengan
demikian jaminan terhadap ketersediaan makanan bagi larva ikan selalu
mencukupi bahkan ketika larva ikan mencapai puncak kelimpahan yaitu saat
terjadinya musim pemijahan ikan karang.

Larva ikan yang tertangkap di laguna Pulau Pari sebagian besar


termasuk kelompok ikan karang. Ikan karang mempunyai potensi sebagai ikan
hias, namun tidak semua jenis ikan karang mempunyai nilai ekonomi yang
penting, contohnya dari famili Pomacentridae yang dominan tertangkap, hanya
genus Amphiprion saja yang bernilai ekonomis penting, sementara genus lainnya
seperti Abudefduf tidak bernilai ekonomi penting. Namun fungsi ekologi dari
laguna Pulau Pari tidak sebatas daerah pemijahan bagi ikan-ikan karang saja.
Laguna Pulau Pari juga mempunyai fungsi sebagai daerah asuhan dan daerah
mencari makan bagi ikan-ikan ekonomis penting. Hal ini dibuktikan dengan
tertangkapnya beberapa ikan ekonomis penting di laguna Pulau Pari seperti ikan
ekor kuning (Caesio cuing), pisang-pisang (Pterocaesio digramma), selar kuning
(Selaroides leptolepis), kerapu (Ephinephelus melanostigma), kerapu lodi
(Plectropomus maculates), beronang (Siganus guttatus) dan kea kea (Siganus
canaliculatus) (Hartati et al., 2008).

Kondisi perairan laguna Pulau Pari yang sudah terpengaruh oleh perairan
Teluk Jakarta yang buruk, nampaknya tidak terlalu mempengaruhi fungsi ekologis
dari perairan ini sebagai habitat pemijahan bagi banyak jenis ikan, terutama ikan-
ikan karang yang tidak melakukan ruaya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Suwarso dan Ernawati (tidak dipublikasikan) menunjukkan bahwa ikan kembung
(Rastrelliger brachysoma) yang beruaya di perairan pantai utara Jawa melakukan
pemijahan di bagian barat Laut Jawa atau di sekitar perairan Teluk Jakarta yang
berdekatan dengan wilayah Kepulauan Seribu. Hal ini menunjukkan bahwa
wilayah perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu masih menunjang untuk
kelangsungan hidup biota laut khususnya ikan. Hal ini juga dibuktikan masih
banyaknya aktivitas penangkapan yang dilakukan di wilayah Teluk Jakarta dan
152

Kepulauan Seribu (Hartati et al., 2011). Upaya penangkapan yang tidak ramah
lingkungan dan pencemaran menyebabkan terjadinya penurunan fungsi ekologis
kawasan tersebut. Upaya pengelolaan diperlukan untuk meningkatkan fungsi
ekologis wilayah perairan Kepulauan Seribu menjadi maksimal. Perbaikan
habitat alami merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi
ekologis menjadi maksimal.

Perbaikan kondisi ekosistem laguna Pulau Pari sangat diperlukan untuk


menjadi sistem penyangga yang kuat bagi kondisi sumber daya perikanan di
sekitar perairan laguna Pulau Pari, termasuk wilayah Teluk Jakarta dan Kepulauan
Seribu. Menurut Atmaja (2011) bentuk upaya pengelolaan yang cocok diterapkan
untuk pengelolaan sumber daya perikanan di wilayah perairan Teluk Jakarta
adalah melalui intervensi lingkungan, diantaranya melalui pembangunan terumbu
karang buatan dan rehabilitasi lamun.

Wilayah perairan Kepulauan Seribu merupakan wilayah perikanan yang


sudah lama dikelola dengan sistem pengelolaan yang cukup baik. Model
pengelolaan yang diterapkan adalah pembentukan kawasan konservasi dengan
sistem zonasi. Di perairan Pulau Pari terdapat daerah perlindungan laut yang
terletak di selatan Pulau Pari, selain itu juga sudah ada upaya transplantasi karang.
Daerah perlindungan laut (DPL) Pulau Pari ditetapkan pada tahun 2005 dengan
luasan 12 ha (Hartati & Syam, 2011). Pembentukan DPL Pulau Pari diinisisai
oleh pemerintah namun dengan melibatkan masyarakat untuk mempertahankan
dan memperbaiki kualitas ekosistem terumbu karang secara bersama-sama.

Pembentukan DPL terbukti dapat memperbaiki kondisi tutupan terumbu


karang. Kondisi tutupan karang yang baik atau > 50 % berada di sekitar DPL
Pulau Pari, sementara di lokasi lainnya penutupan terumbu karang masih dalam
kategori sedang (Edrus & Hartati, 2011). Upaya perbaikan ekosistem terumbu
karang dapat dilakukan melalui peningkatan upaya konservasi berupa peningkatan
status konservasi wilayah laguna Pulau Pari.

Data-data yang menunjang adanya pemanfaatan laguna Pulau Pari


sebagai habitat pemijahan dan pengasuhan bagi ikan-ikan karang, dan habitat
153

mencari makan bagi ikan-ikan besar termasuk ikan ekonomis penting,


menunjukkan bahwa kawasan laguna Pulau Pari harus dilindungi dan dijadikan
daerah perlindungan laut. Daerah perlindungan laut yang sudah ada diperluas
menjadi keseluruhan kawasan laguna.

Pembentukan DPL bertujuan untuk perbaikan dan perlindungan kondisi


ekosistem terumbu karang. Menurut Amri & Agus (2011) manfaat pembentukan
DPL adalah (1) memelihara fungsi ekologis dengan melindungi habitat tempat
hidup, bertelur, dan memijah biota-biota laut, dan (2) memelihara fungsi
ekonomis kawasan pesisir bagi masyarakat sekitarnya sehingga terjadi
keberlanjutan dan meningkatkan produksi perikanan yang pada akhirnya akan
meningkatkan pendapatan baik dari hasil produksi perikanan maupun dari sektor
pariwisata bahari. Pembentukan DPL akan memberikan pembatasan pemanfaatan
terhadap sumber daya yang ada.

Faktor lain yang masih menjadi permasalahan adalah datangnya limbah


organik dari Teluk Jakarta, yang menyebabkan konsentrasi nutrien sangat tinggi
dan menjadi pemicu terjadinya ledakan populasi bagi mikrofitoplankton jenis
tertentu. Budidaya rumput laut sebenarnya merupakan salah satu upaya yang
dapat menyerap nutrien terlarut yang tinggi di perairan, namun karena buruknya
kualitas air sehingga rumput laut yang dibudidayakan sering mengalami kematian,
dan akhirnya justru menambah beban bahan organik terlarut di perairan. Salah
satu upaya yang bisa dilakukan adalah penghijauan kembali area padang lamun
yang saat ini sudah mengalami kerusakan. Menurut Stapel et al. (1996) dan Gras
et al. (2003) setiap bagian tumbuhan lamun mampu menyerap nutrien terlarut.

Padang lamun mempunyai fungsi ekologis yang penting bagi ekosistem


perairan, beberapa fungsi padang lamun adalah (1) melakukan fiksasi karbon
oganik yang sebagian besar masuk ke dalam sistem rantai makanan melalui proses
konsumsi langsung oleh organisme herbivor atau melalui proses dekomposisi
serasah, (2) memberi perlindungan dan tempat penempelan berbagai jenis hewan
(Ruwahyuni, 2008), (3) daerah asuhan bagi larva dan juvenil ikan (Edrus &
Hartati, 2011, Suharti (1999), (4) menangkap sedimen dan menjadi stabilator
154

dasar perairan serta melindungi pantai dari erosi, (4) berperan penting pada
berbagai daur hara di lingkungan laut (Stapel et al., 1996; Gras, et al., 2003).

Laguna Pulau Pari merupakan daerah dengan tipe ekosistem yang cocok
untuk pertumbuhan lamun, selain dipengaruhi pasang surut harian, juga cukup
terlindung dari hempasan ombak besar. Pada tahun 1992, Kiswara (1992)
menemukan empat jenis lamun di perairan Pulau Pari yaitu Cymodocea rotundata
(14 – 124 tunas/m2), Enhalus acoroides (2 – 12 tunas/m2), Thalassia hemprichii
(26 – 243 tunas/m2) dan Halophyla ovalis (14 -1 24 tunas/m2). Di sekitar padang
lamun Pulau Pari banyak tertangkap ikan herbivor yang memanfaatkan padang
lamun sebagai habitat utama untuk mencari makan dan pengasuhan yaitu ikan dari
famili Siganidae (beronang), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa larva ikan
siganidae ditemukan dengan kelimpahan 85 – 255 individu/m3. Suharti (1999)
menemukan 29 famili dan 53 jenis larva dan juvenil ikan di sekitar padang lamun
Teluk Kuta Lombok, sementara Edrus & Hartati (2011) menemukan 56 jenis
juvenil ikan yang berasal dari 24 famili di padang lamun sekitar Pulau Pari.

Saat ini kondisi padang lamun di laguna Pulau Pari sudah banyak
mengalami penurunan, terutama dari faktor sebaran dan kerapatan. Sebagian
besar lamun yang ada di laguna Pulau Pari dalam kondisi rusak karena tingginya
sedimen yang menempel di bagian daun, yang dapat mengganggu proses
fotosintesis sehingga akhirnya menimbulkan kematian. Penanaman kembali
lamun diharapkan mampu mengurangi beban bahan organik terlarut sekaligus
dapat menjadi tempat berlindung bagi larva dan juvenil ikan yang ada di laguna
Pulau Pari.
V. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan, analisis data dan pembahasan hasil penelitian dapat
ditarik lima kesimpulan besar sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu:

1. Dinamika temporal biomassa organisme planktonik (nanofitoplankton,


mikrofitoplankton, mikrozooplankton dan mesozooplankton) yang ada di
laguna Pulau Pari sangat fluktuatif, sehingga menimbulkan variasi kondisi
yang tinggi. Dinamika yang terjadi pada biomassa organisme planktonik
ini menentukan keberhasilan larva ikan dalam mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Hal ini ditunjukkan pada musim produksi larva
yang terjadi pada bulan Juli dimana ketika biomassa larva meningkat,
biomassa mikrofitoplankton, mikrozooplankton dan mesozooplankton
sedang berada dalam tahap pertumbuhan eksponensial sehingga bisa
mendukung kelangsungan hidup larva. Ketepatan waktu antara musim
produksi larva dan ketersediaan makanan alami larva menjadi salah satu
faktor yang dapat menentukan keberhasilan proses rekrutmen pada Juli.
Produksi larva yang terjadi pada Oktober tidak didukung oleh ketersediaan
komponen zooplankton baik mikrozooplankton maupun mesozooplankton
yang mencukupi dalam biomassa, sehingga diduga tidak dapat mendukung
keberhasilan proses rekrutmen pada Oktober. Dari dinamika biomassa
antara larva ikan dengan organisme planktonik terlihat bahwa larva ikan
lebih dipengaruhi oleh biomassa zooplankton dibandingkan dengan
biomassa fitoplankton.

2. Bentuk hubungan trofik antara fitoplankton, zooplankton dan larva ikan


terjadi melalui aktivitas pemangsaan. Larva ikan memangsa hampir
semua jenis komponen organisme planktonik, namun makanan utamanya
adalah mikrozooplankton. Mikrozooplankton mengkonsumsi lebih
banyak nanofitoplankton dibandingkan mikrofitoplankton.
Mesozooplankton mengkonsumsi lebih banyak mikrofitoplankton
dibandingkan dengan nanofitoplankton dan mikrozooplankton.
156

3. Variabilitas biomassa dan kelimpahan fitoplankton cenderung


berhubungan dengan variabilitas nutrien. Nanofitoplankton mempunyai
hubungan lebih dekat dengan NO3-N dan suhu, sementara
mikrofitoplankton mempunyai hubungan lebih dekat dengan NO3-N dan
Si. Zooplankton dan larva ikan tidak terpengaruh secara langsung oleh
komponen kualitas air yang diukur, namun demikian seluruh peubah
kualitas air yang diukur tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
semua komponen organisme planktonik.

4. Laguna Pulau Pari merupakan ekosistem terumbu karang bersifat semi


tertutup mempunyai fungsi ekologis sebagai habitat pemijahan dan
pengasuhan khususnya bagi ikan karang. Hal ini dibuktikan dengan
ditemukannya larva ikan karang yang berasal dari 79 famili yang
didominansi oleh famili Pomacentridae, Aulostomidae, Blenniidae,
Engraulidae dan Pinguipedidae. Musim pemijahan diduga terjadi pada
Juli dan Oktober dengan nilai biomassa 82,60 mg/m3 dan 57,80 mg/m3.
Larva-larva ikan yang ada di laguna Pulau Pari mengalami pertumbuhan
dan perkembangan morfologi, terutama larva ikan famili Blenniidae,
dengan laju pertumbuhan 0,15 mm per hari.

5. Untuk menjaga kelangsungan fungsi ekologis laguna Pulau Pari sebagai


habitat pemijahan dan pengasuhan maka diperlukan upaya perbaikan
habitat alami dari ekosistem terumbu karang dan padang lamun melalui
upaya perluasan area daerah perlindungan laut dan penanaman kembali
padang lamun.
VI. SARAN

1. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, masih diperlukan informasi


mengenai dinamika organisme planktonik (nanofitoplankton,
mikrofitoplankton, mikrozooplankton, mesozooplankton dan larva ikan) di
laguna Pulau Pari pada musim barat (Desember – Februari) dan musim
peralihan satu (Maret – Mei). Penambahan informasi ini akan dapat
memberikan gambaran yang lengkap mengenai dinamika organisme
planktonik di laguna Pulau Pari selama setahun penuh, sehingga bisa
memperkuat landasan bagi penentuan opsi-opsi pengelolaan yang akan
diterapkan.

2. Perlu dilakukan eksperimen yang lebih fokus pada interaksi komponen


mikrozooplankton dengan organisme planktonik lainnya khususnya larva ikan,
untuk memperkuat dugaan mengenai peran penting mikrozooplankton sebagai
makanan utama larva ikan

3. Berdasarkan distribusi spasial biomassa larva ikan yang tertangkap selama


masa pengamatan, maka kawasan laguna Pulau Pari disarankan untuk
dijadikan daerah perlindungan laut untuk melindungi larva-larva ikan yang
memanfaatkan lokasi tersebut sebagai daerah asuhan dan induk-induk ikan
yang memanfaatkan lokasi-lokasi tersebut untuk memijah khususnya pada
musim timur dan musim peralihan timur barat.
DAFTAR PUSTAKA

Abrar M. 2011. Kelulusan hidup rekrutmen karang (Scleractinia) di perairan gugus


Pulau Pari Kepulauan Seribu Jakarta. [Thesis]. Bogor. Institut Pertanian
Bogor.

Afdhal. 2010. Variasi spasial dan temporal klorofil-a dan produktivitas primer
fitoplankton di perairan Teluk Jakarta. Dinamika Ekosisitem Perairan
Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta. Pusat Penelitian Oseanografi. Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Agasild H, Nōges T. 2005. Cladoceran and rotifer grazing on bacteria and


phytoplankton in two shallow eutrophic lakes: in situ measurement with
fluorescent microspheres. Journal of Plankton Research 27(11): 1155 – 1174.

Alemany IAC. 2003. Condition indices and their relationship with environmental
factors in fish larvae [Disertation]. Barcelona: Department D’Ecologia.
Universitat de Barcelona.

Allen GR, Adrim M. 2003. Coral reef fishes of Indonesia. Zoological Studies.
42 (1): 1 – 72.

Allen GR. 1991. Pomacentridae-Damshelfishes, family details. In


http://www.fishbase.org/Summary/FamilySummary.php?ID=350. [5 Apr
2012].

American Public Health Association (APHA). 2005. Standard Methods for The
Examination of Water and Wastewater. 21st Edition. Washington DC.
America.

Amri K, Agus SB. 2011. Kondisi terumbu karang dan lingkungan perairan sekitar
daerah perlindungan laut (DPL) kepulauan Seribu serta upaya pelestariannya.
Di dalam: Suman A, Wudianto dan Sumiono B. Sumber daya Ikan di
Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya. Jakarta. Balai
Penelitian Perikanan Laut. Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan
Konservasi Sumber daya Ikan. Balitbang Kelautan dan Perikanan. Kementrian
Kelautan dan Perikanan.

Anonim. 2009. Dinamika ekosistem perairan Kepulauan Seribu bagian selatan.


Laporan Akhir. Pusat Penelitian Oseanografi. LIPI. Jakarta.
160

Asriningrum W. 2005. Studi identifikasi karakteristik pulau kecil menggunakan data


landsat dengan pendekatan geomorfologi dan penutupan lahan (Studi kasus
kepulauan Pulau Pari dan Kepulauan Belakang Sedih). Pertemuan Ilmiah
Tahunan MAPIN XIV ”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk
Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”. Surabaya.

Asriyana, Rahadjo MF, Kartamihardja ES, Lumban Batu DF. 2010. Makanan ikan
Japuh Dussumieria acuta valenciennes 1847 (Famili: Clupeidae) di perairan
Teluk Kendari. Jurnal Ikhtiology Indonesia. 10(1). 93 – 99.

Asriyana. 2011. Interaksi Trofik Komunitas Ikan Sebagai Dasar Pengelolaan


Sumberdaya Ikan di Perairan Teluk Kendari Sulawesi Tenggara. [Disertasi].
Bogor. Institut Pertanian Bogor.

Atmaja SB. 2011. Upaya menuju pengelolaan perikanan berkelanjutan: Fragmentasi


Habitat Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. Di dalam: Suman A, Wudianto
dan Sumiono B. Sumber daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif
Pengelolaannya. Jakarta. Balai Penelitian Perikanan Laut. Pusat Penelitian
Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber daya Ikan. Balitbang Kelautan
dan Perikanan. Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Ault T, Velzeboer R, Zammit R. 2000. Influence of nutrient availability on


phytoplankton growth and community structure in the Port Adelaide River,
Australia: bioassay assessment of potential nutrient limitation.
Hydrobiologia. 429: 89–103.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geomorfologi (BMKG). 2011. Curah hujan


harian di wilayah Jakarta Utara, stasiun pengamatan Bandara Udara
Cengkareng. Jakarta.

Baduini CL. 1997. Spatial and temporal panerns of zooplankton biomass in monterey
bay, california, during the 1991-1 993 el nino,and an assessment of the
sampling design. CalCOFI Rep. 38: 193 - 198.

Baek SH, Shimode S, Soo Han M, Kikuchi T. 2008. Growth of dinoflagellates,


Ceratium furca and Ceratium fusus in Sagami Bay, Japan: The role of
nutrients. Harmful Algae. 7(6): 729 – 739.

Baek SH, Shimode S, Kikuchi T. 2007. Reproductive ecology of the dominant


dynoflagellate, Ceratium fusus in coastal area of Sagami Bay, Japan. Journal
of Oceanography. 63:35 to 45.
161

Bahara MA. 2009. Distribusi spasial dan temporal larva ikan di perairan Pulau
Abang Gaang Baru Batam Provinsi Kepulauan Riau [Tesis]. Bogor. Institut
Pertanian Bogor.

Basterretxea G, Jordi A, Sabates A, Alvarez I, Catalan I, Palmer M, Morales-nin B.


2010. Influence of food availability and coastal circulation in the spawning
strategies of fish species of Cabrera National Park (NW Mediterranean).
Rapp. Communication. International. Mer Méditerrania. 39: 440.

Batty SR, Blaxter SHJ. 1992. The effect of temperature of burst swimming
performance of fish larvae. Journal of Experiment Biology 170: 187 – 201.

Bengen DG. 2000. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik
Sumberdaya Pesisir. Sinopsis. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan.
Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Benke AC. 1996. Secondary Production of Macroinvertebrates in Methods in


Stream Ecology. Ed. By. Hauer FR and Lamberti GA. San Diego: Academic
Press.

Berge T, Daugbjerg N, Andersen BB, Hansen PJ. 2010. Effect of lowered pH on


marine phytoplankton growth rates. Marine Ecology Proress Series. 416: 79
– 91.

Bergenius MAJ, Meekan MG, Robertson DR, McCormick MI. 2002. Larval growth
predicts the recruitment success of coral reef fish. Oecologia 131: 521 – 525.

Blachowiak-Samolyk K, Søreide JE, Kwasniewski S, Sundfjord A, Hop H,


Falk-Petersen S, Hegseth EN. 2008. Hydrodynamic control of
mesozooplankton abundance and biomass in northern Svalbard waters (79–
811N). Deep Sea Research II. www.elsevier.com/locate/dsr2.

Brussaard CPD. 1995. Effect of grazing, sedimentation and phytoplankton cell lysis
on the structure of a coastal pelagic food web. Marine Ecology Progress
Series 123:259 – 271.

Charpy L. 1996. Phytoplankton biomass and production in two Tuamotu atoll


lagoons (French Polynesia). Marine Ecology Progress Series 145: 133 – 142.

Chen CY, Durbin EG. 1994. Effect of pH on the growth and carbon uptake of
marine phytoplankton. Marine Ecology Progress Series. 109: 83 – 94.
162

Choat JH, Bellwood DR. 1991. Reef fishes: Their history and Evolution. In The
Ecology of Fishes on Coral Reef. Ed by. Peter F. Sale. California. Academic
Press.

Chusing DH. 1975. Marine Ecology and Fisheries. Cambride University press.
Oxford. pp. 277.

Cowan Jr. JH, Houde ED. 1999. Growth and survival of bay anchovy Anchoa
mitchilli larvae in mesocosm enclosures. Marine Ecology Progress Series
68: 47—57.

Coyle KO, Pinchuk AI, Eisner LB, Napp JM. 2008. Zooplankton species
composition, abundance and biomass on the eastern Bering Sea shelf during
summer: The potential role of water-column stability and nutrient in
structuring the zooplankton community. Deep Sea Research II. 55: 1775 –
1791.

Damar A. 2003. Effect of enrichment on nutrient dynamics, phytoplankton


dynamics and productivity in Indonesian tropical waters: a comparison
between Jakarta Bay, Lampung Bay and Semangka Bay [Disertation]. Kiel:
der Mathematisch-Naturwissenechaftlichen Fakultät. Christian-Albrechts-
Universität.

De Gao MSB, Beigt D, Piccolo C. 2005. Temporal variability of diversity and


biomass of tintinnids (Ciliophora) in a southwestern Atlantic temperate
estuary. Journal of Plankton Research. 27(11): 1103 – 1111.

De Melo Junior M, Paranaguai MN, Schwamborn, Leitão SN, Ekau W. 2007.


Fluxes of zooplankton biomass between a tidal estuary and the sea in
northeastern Brazil. Brazilian Journal of Oceanographic. 55(4):239-249.

Dennett MR, Mathotb S, Caronc DA, Smith Jr. WO, lonsdaled DJ. 2001.
Abundance and distribution of phototrophic and heterotrophic nano- and
microplankton in the southern Ross Sea. Deep Sea Research II(48): 4019 –
4037.

Dobberfuhl DR, Miller R, Elser JJ. 1997. Effects of a cyclopoid copepod


(Diacyclops thomasi) on phytoplankton and the microbial food web. Aquatic
Microbial Ecology 12: 29 – 37.
163

Downing JA, Osenbergh CW, Sarnelle O. 1999. Meta-analysis of marine nutrient


enrichment experiments: Variation in the magnitude of nutrient limitation.
Ecology. 80(4): 1157 – 1167.

Downing JA, Rigler FH. 1984. A manual on Methods For the Assessment of
Secondary Productivity in Fresh Water. 2nd Edition. Oxford: Blackwell
Scientific Publication. 501 pp.

Dufour V, Galzin R. 1993. Colonization pattern of reef fish larvae to the lagoon at
Moorea Island, French Polynesia. Marine Ecology Progress Series. 102: 143
– 152.

Edrus IN, Hartati ST. 2011. Kondisi kesehatan terumbu karang di perairan Gugus
Pulau Pari, Teluk Jakarta. Di dalam: Suman A, Wudianto dan Sumiono B.
Sumber daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya.
Jakarta. Balai Penelitian Perikanan Laut. Pusat Penelitian Pengelolaan
Perikanan dan Konservasi Sumber daya Ikan. Balitbang Kelautan dan
Perikanan. Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Effendi MI. 1979. Metode BIologi Perikanan. Cetakan Pertama. Bogor. Yayasan
Dewi Sri.

Effendi MI. 1997. Biologi Perikanan. Bogor. Yayasan Pustaka Nusatama.

Emmel TC. 1976. Population Biology. New York. Harper & Row Publisher.

Escaravage V, Prins TC. 2002. Silicate availability, vertical mixing and grazing
control of phytoplankton blooms in mesocosm. Hydrobiologia 484: 33 – 48.

Eskinazi-sant’anna EM. 2000. Zooplankton abundance and biomass in a tropical


estuary (Pina estuary northeastern Brazil). Plâncton, Zooplancton. Trab.
Oceanog. Univ. Fed. PE, Recife. 28(1): 21- 34.

Eslinger DL, Cooney RT, McRoy CP, Ward A, Kline Jr. TC, Simpson EP, Wang J,
Allen JR. 2001. Plankton dynamic: observed and modelled responses to
physical conditions in Prince Willian Sound, Alaska. Fisheries
Oceanography: 10 (1): 81 – 96.

Fachrul MF, Haeruman H, Anggraeni A. Distribusi spasial nitrat, fosfat dan rasio
N/P di perairan Teluk Jakarta. Makalah pada Seminar Nasional Penelitian
Lingkungan di Perguruan Tinggi, IATPI –Teknik Lingkungan ITB,
Bandung,17-18 Juli 2006.
164

Fang T, Li D, Yu L, Gao L, Zhang L. 2006. Effect of irradiance and phosphate on


growth of nanophytoplankton and picophytoplankton. Acta Ecologica Sinica.
26(9): 2783 – 2789.

Faria C, Borges R, Gil F, Almada VC, Goncalves EJ. 2006. Embryonic and larval
development of Lipophrys pholis (Pisces: Blenniidae). Scientia Marina.
66(1): 21 – 26.

Fonda Umani S, Tirelli V, Beran A, Guardiani B. 2005. Relationships between


microzooplankton and mesozooplankton: competition versus predation on
natural assemblages of the Gulf of Trieste (northern Adriatic Sea). Journal of
Plankton Research 27 (10): 973 – 986.

Forteier L, Ponton D, Gilbert M. 1995. The match/mismatch hypothesis and the


feeding success of fish larvae in ice covered southeastern Hudson Bay.
Marine Ecology Progress Series. 120: 11 – 27.

Gameiro C, Cartaxana P, Cabrita MT, Brotas V. 2004. Variability in chlorophyll


and phytoplankton composition in an estuarine. Hydrobiologia 525: 113–124.

Gao K, Wu Y, Li G, Wu H, Villafen VE, Helbing EW. 2007. Solar UV Radiation


Drives CO2 Fixation in Marine Phytoplankton: A Double-Edged Sword.
Plant Physiology 144: 54 – 59.

Garcia A, Cortes D, Ramirez T. 1998. Daily larval growth and RNA and DNA
content of the NW Mediterranean anchovy Engraulis encrasicolus and their
relations to the environment. Marine Ecology Progress Series 166: 237 –
245.

Gasiūnaité ZR, Olenina I. 1998. Zooplankton-phytoplankton interactions: a possible


explanation of the seasonal successions in the Kuršiu Marios Lagoon.
Hydrobiologia. 363: 333 – 339.

Gasparini S, Castel J. 1997. Autotrophic and heterotrophic nanoplankton in the diet


of the estuarine copepods Eurytemora affinis and Acartia bifilosa. Journal of
Plankton Research. 19(7): 877 – 890.

Govoni JJ. 2005. Fisheries oceanography and the ecology of early life histories of
fishes: a perspective over fifty years. Scientia Marina 69: 125 – 137.

Gras AF, Koch MF, Madden CJ. 2003. Phosphorus uptake kinetic of dominant
tropical seagrass Thalassia testudenum. 76: 299 – 315.
165

Grasshoff K, Erhardt M, Kremling K. 1983. Methods of Seawater Analysis.


Weinheim hemie. 419 pp.

Hao Hsieh C, Sheng Ciu T. 2002. Summer spatial distribution of copepods and fish
larvae in relation to hydrography in the northern Taiwan Strait. Zoological
Studies. 41 (1): 85 – 98.

Hartati ST, Syam AR. 2011. Keragaan rehabilitasi terumbu karang, kondisi
oseanografi dan sumber daya ikan karang di Kepulauan Seribu – Teluk
Jakarta. Di dalam: Suman A, Wudianto dan Sumiono B. Sumber daya Ikan di
Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya. Jakarta. Balai
Penelitian Perikanan Laut. Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan
Konservasi Sumber daya Ikan. Balitbang Kelautan dan Perikanan. Kementrian
Kelautan dan Perikanan.

Hartati ST, Wahyuni IS, Edrus IN, Sisco A, Priatna A, Edrissea F, Prihatiningsih,
Indarsyah IJ, Nurwiyanto, Hendriyatna N, Wahyudin A. 2008. Pengkajian
habitat dan pengukuran parameter akustik ikan karang ekonomis penting di
perairan pulau kongsi dan sekitarnya. Laporan Akhir. Balai Riset Perikanan
Laut. Pusat Riset Perikanan Tangkap. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.

Hartati ST. Wagiyo K, Prihatiningsih. 2011. Hasil tangkapan dan upaya


penangkapan muroami, bubu dan pancing ulur di perairan Kepulauan Seribu.
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 17(2): 83 – 94.

Heath, MR. 2007. The consumption of zooplankton by early life stages of fish in the
North Sea. – ICES. Journal of Marine Science. 64: 1650–1663.

Hodgkiss IJ, Lu S. 2004. The effects of nutrients and their ratios on phytoplankton
abundance in Junk Bay, Hong Kong. Hydrobiologia 512: 215–229.

Huang B, Hong H, Wang H. 1999. Size-fractionated primary productivity and the


phytoplankton-bacteria relationship in the Taiwan Strait. Marine Ecology
Progress Series. 183: 29 – 38.

Huisman J. 1999. Population dynamics of light limited phytoplankton: microcosm


experiment. Ecology. 80(1): 202 – 210.

Huo WY, Shu JJ. 2005. Outbreak of Skeletonema costatum bloom and its relations
to environmental factors in Jiaozhou Bay, China. WSEAS, International
confession on Environment, Ecosystem and Development. Italy.
166

Ilahude AG, Nontji A. 1999. Oseanografi Indonesia dan perubahan iklim global
(El nino dan La nina). Makalah yang disajikan dalam lokakarya “Kita dan
Perubahan Iklim Global: Kasus El nino – La nina”, Akademi Ilmu
Pengetahuan Indonesia. Jakarta, 18 – 19 Mei 1999.

Imanto TP, Melianawati R. 2003. Perkembangan Awal Larva Kakap Merah,


Lutjanus Sebae. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 9 (1): 11 – 18.

Insan I, Chumaidi, Utami R, Subamia IW, Kusdiarti, Asnawi. 2002. Hubungan Umur
dan Bukaan Mulut Larva Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata) Dengan Jenis
dan Ukuran Pakan Alami yang Dikonsumsi. Jurnal Penelitian Perikanan
Indonesia 11(1): 22 – 28.

Isnansetyo, Kurniastuty, 1995. Teknik Kultur Fitoplankton dan Zooplankton. Pakan


Alami untuk Pembenihan Organisme Laut. Yogyakarta. Kanisius.

Ivlev VS. 1961. Experimental Ecology of the Feeding of Fishes. New Haven. Yale
University Press.

Jäger CG, Diehl S, Schmidt GM. 2008. Influence of water column depth and mixing
on phytoplankton biomass, community composition and nutrients. Limnology
and Oceanography 53 (6): 2361 – 2373.

Jochem FJ. 2003. Photo- and heterotrophic pico- and nanoplankton in the
Mississippi River plume: distribution and grazing activity. Journal of
Plankton Research. 25(10): 1201 – 1214.

Juhl AR, Murrell MC. 2005. Interactions between nutrients, phytoplankton growth
and microzooplankton grazing in Gulf of Mexico Estuary. Aquatic Microbial
Ecology. 38: 147 – 156.

Kartamiharja ES. 2007. Spektra ukuran biomassa plankton dan potensi


pemanfaatannya bagi komunitas ikan di zona limnetik waduk Ir. H. Djuanda,
Jawa Barat [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor.

Kaswadji RF. 1997. Perairan Laguna: Potensi, Prediksi dan Pemanfaatannya untuk
Perikanan. Laporan Penelitian Hibah Bersaing II/4 Perguruan Tinggi TA.
1996/1997. Tahun Ke empat. Bogor: Fakultas Perikanan Institut Pertanian
Bogor.
167

Kelble CR. 2010. The Effect of Salinity Variability on the Mesozooplankton


Community of Florida Bay. Open Access [Disertations]. Paper 392.
http://scholarlyrepository.miami.edu/oa_dissertations/392

Kennington K, Allen JR, Wither A, Shammom TM, Hartnoll RG. 1999.


Phytoplankton and nutrient dynamics in the north-east Irish Sea.
Hydrobiologia 393: 57–67.

Kerner M, Ertl S, Spitzy A. 2004. Trophic diversity within the planktonic food web
of the Elbe Estuary determined on isolated individual species by 13C analysis.
Journal of Plankton Research 26(9): 1039 – 1048.

Kiswara W. 1992. Vegetasi lamun (Seagrass) di rataan terumbu Pulau Pari, Pulau-
Pulau Seribu, Jakarta. Oseanologi di Indonesia. 25: 31 – 49.

Kneib RT. 1993. Growth and mortality in successive cohorts of fish larvae within an
estuarine nursery. Marine Ecology Progress Series 01: 115 – 127.

Kovtsova MV, Boitsov VD. 1995. Recruitment of barrent sea plaice (Pleuronectes
platessa L.). Netherlands Journal of Sea Research 34 (1 – 3): 229 – 235.

Lagus A, Suomela J, Weithoff G, Heikkila K, Helminen H, Sipura J. 2004. Species-


specific differences in phytoplankton responses to N and P enrichments and
the N:P ratio in the Archipelago Sea, northern Baltic Sea. Journal of
Plankton Research 26(7): 779 – 798.

Lampman GG, Makarewicz JC. 1999. The phytoplankton zooplankton link in the
Lake Ontario food web. Journal of the Great Lake Resource: 25 (2): 239 –
249.

Lasker R. 1984. Marine Fish Larvae. Morphplogy, Ecology and Relation to


Fisheries. Washington Sea Grant Program. University of Washington.

Laurence GC. 1985. Nutrition and trophodynamics of larval fish-review concepts,


strategic recommendations and opinions in growth and survival of larval
fishes in relation to the trophodynamics of George Bank cod and haddock.
NOAA Technical Memorandum. Massachusetts. U.S. Department of
Commerce.

Leech DM, Boeing WJ, Cooke SL, Williamson CE, Torres L. 2009. UV-enhanced
fish predation and differential migration of zooplankton in response to UV
radiation and fish. Limonology Oceanography. 54(4): 1152 – 1161.
168

Leis JM, Carson-Ewart. 2000. The Larvae of Indo-Pacific Coastal Fishes. An


Identification Guide to Marine Fish Larvae. Fauna Malesiana Vol 2. Leiden:
Brill.

Leis JM. 1991. The Pelagic Stage of Reef Fishes: The larval Biology of Coral Reef
Fishes. In The Ecology of Fishes on Coral reefs. Editor. Peter F. Sale.
Academic Press. Inc. California. pp. 754.

Leonardos N Geider RJ. 2004. Effects of nitrate : phosphate supply ratio and
irradiance on the C:N:P stoichiometry of Chaetoceros muelleri. European
Journal of Phycology. 39: 173 - 180.

Leonardos N, Geider RJ. 2004. Responses of elemental and biochemical


composition of Chaetoceros muelleri to growth under varying light and
nitrate : phosphate supply ratios and their influence on critical N: P.
Limnology Oceanography. 49(6): 2105–2114.

Lessard EJ, Murrel CM. 1998. Microzooplankton herbivory and phytoplankton


growth in Northwestern Sargasso Sea. Aquatic Microbial Ecology. 16: 173 –
188.

Lippemeier S, Hartig P, Colijn F. 1999. Direct impact of Silicate on the


photosynthetic performance of the diatom Thallasiosira weisflogii by on and
off line PAM fluorescent measurement. Journal of Plankton Research. 21(2):
269 – 283.

Liu H, Dagg M. 2003. Interaction between nutrients, phytoplankton growth and


micro-mesozooplankton grazing in the plume of the Mississippi River.
Marine Ecology Progress Series 258: 31 – 42.

Lough, RG. 1985. Larval fish trophodynamic studies on Georges Bank: Sampling
strategy and initial results. In: Growth and survival of larval fishes in relation
to the trophodynamics of George Bank cod and haddock. NOAA Technical
Memorandum. Massachusetts. U.S. Department of Commerce.

Madhu NV, Jyothibabu R, Balachandran KK. 2010. Monsoon induced changes in


the size fractionated phytoplankton biomass and production rate in the
estuarine and coastal waters of southwest coast of India. Environment
Monioring. Assessment.. 166(1-4): 521-528.

Mann KH, Lazier JRN. 1991. Dynamic of Marine Ecosystems. Blackwell Scientific
Publications, inc. Cambridge. Pp 466.
169

Margalef R. 1978. Life-form of phytoplankton as survival alternative in unstable


environment. Acta Ocaenologica. 1(4): 493 – 509.

McQueen DJ, Mills EL, Post JR. 1989. Cascading trophic interactions: Uncoupling
at the zooplankton-phytoplankton link. Hydrobiologia. 159: 277 – 296.

McQueen DJ, Post JR, Mills EL. 1986. Trophic relationship in freshwater pelagic
ecosystems. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Science. 43: 157 –
158.

Moline MA, Prezelin BB. 1996. Long-term monitoring and analyses of physical
factors regulating variability in coastal Antarctic phytoplankton biomass, in
situ productivity and taxonomic composition over subseasonal, seasonal and
interannual time scales. Marine Ecology Progress Series 145: 143 – 160.

Montes-Hugo MA, Borrego SA, Gaxiola-Castro G. 2004. Annual phytoplankton


production in a coastal lagoon of the southern California current system.
Marine Ecology Progress Series. 277: 51 – 60.

Moreno-Ostos E, Fernandez A, Huete-Ortega M, Maurinho-Carballido B, Calvo-Diaz


B, Moran XAG, Maranon E. 2011. Size-fractionated phytoplankton biomass
and production in the tropical Atlantic. Scientia Marina. 75(2): 379 -389.

Najamuddin A. 2004. Variasi ukuran dan kebiasaan makan larva dan juvenile ikan
di pantai Tanjung Mangkok Kalimantan Selatan [Tesis]. Bogor. Institut
Peranian Bogor.

Needoba JA, Waser NA, Harrison PJ, Calvert SE. 2003. Nitrogen isotope
fractionation in 12 species of marine phytoplankton during growth on nitrate.
Marine Ecology Progress Series. 255: 81- 91.

Nieuwerburgh LV, Wänstrand I, Snoeijs P. 2004. Growth and C:N:P ratios in


copepods grazing on N – or Si-limited phytoplankton blooms. Hydrobiologia
541: 57 – 72.

Nontji A. 1984. Biomassa dan produktivitas fitoplankton di perairan Teluk Jakarta


serta kaitannya dengan faktor-faktor lingkungan [Disertasi]. Bogor: Fakultas
Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Nontji, A. 2008. Plankton Laut. Jakarta. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.


170

Nugraha AH, Mustika AA, Wijaya GJS, Adrian D. Kondisi ekosistem terumbu
karang di perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu. http://repository.ipb.ac.id.
(tanggal akses internet 20 Septemeber 2011)

Nurhayati. 2010. Fluktuasi suhu dan salinitas di perairan pantai Teluk Jakarta pada
bulan Februari dan Juni 2009. Dinamika Ekosistem Perairan Kepulauan
Seribu, Teluk Jakarta. Pusat Penelitian Oseanografi. Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Nuruhwati I. 2003. Pengaruh penambahan nutrient dan pemangsaan terhadap laju


pertumbuhan fitoplankton dari perairan Teluk Jakarta [Tesis]. Bogor:
Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Olenina I, Hajdu S, Edler L, Andersson A, Wasmund N, Busch S, Göbel J,


Gromisz S, Huseby S, Huttunen M, Jaanus A, Kokkonen P, Ledaine I,
Niemkiewicz E. 2006. Biovolumes and size-classes of phytoplankton in the
Baltic Sea. HELCOM Baltic Sea Environment Proceedings. No. 106, 144pp.

Opstad I. 2003. Growth and survival of haddock (Melanogrammus aeglefinus) larvae


at different salinities. The Big Fish Bang. Proceedings of the 26th Annual
Larval Fish Conference. Edited by Howard I. Browman and Anne Berit
Skiftesvik. Published by the Institute of Marine Research, Postboks 1870
Nordnes, N-5817, Bergen, Norway.

Ou L, Wang D, Huang B, Hong H, Qi Y, Lu S. 2008. Comparative study of


phosphorus strategies of three typical harmful algae in Chinese coastal waters.
Journal of Plankton Research. 30 (9): 1007 – 1017.

Paonganan Y, Soedharma D, Nurjana IW, Prartono T. 2010. Sebaran spasiotemporal


parameter fisika dan kimia perairan Pulau Bokor, Pulau Payung dan Pulau
Pari di sekitar Teluk Jakarta. http://indomaritimeinstitute.org.

Pariwono JI, Soedharma D, Wiyono B. 1996. Sirkulasi Massa-Air di Laguna Pulau


Pari dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Komunitas Terumbu Karang.
Laporan Hasil Penelitian. LPPM. Institut Pertanian Bogor.

Parson TR, Takahashi M, Hargrave B. 1984. Biological Oceanographic Processes.


Oxford: Pergamon Press.

Patil JS, Anil AC. 2011. Variations in phytoplankton community in a monsoon


influenced tropical estuary. Environment Monioring Assessment. 182 :291–
300.
171

Patoine A, Pinel-Alloul B, Methot G, Leblanc MJ. 2006. Correspondence among


methods of zooplankton biomass measurement in lakes: effect of community
composition on optical plankton counter and size fractionated seston data.
Journal of Plankton Research 28 (7): 695 – 705.

Paulone PM. 2007. Factors Influencing Zooplankton Distribution in the Chesapeake


and Delaware Bays. [Capstone Honors Thesis]. Gallaudet University.

Pepin P, Dower JE. 2007. Variability in the trophic position of larval fish in a
coastal pelagic ecosystem based on stable isotope analysis. Journal of
Plankton Research. 29(8): 727 – 737.

Pitois SG, Fox CJ. 2008. Empirically modeling the potential effects of changes in
temperature and prey availability on the growth of cod larvae in UK shelf
seas. – ICES. Journal of Marine Science. 65: 1559–1572.

Polat S, Aka A. 2007. Total and size fractionated phytoplankton biomass of Karataş,
north-eastern Mediterranean coast of Turkey. Journal of Black
Sea/Mediterranean Environment. 13: 191 – 202.

Pommier JMG, Michel C. 2008. Size-fractionated phytoplankton production and


biomass during the decline of the northwest Atlantic spring bloom. Journal of
Plankton Research. 31(4): 429 – 446.

Proulx M, Pick FR, Mazumder A, Hammilton PB, Lean DRS. 1996. Effect of
nutrient and planktivorous fish on the phytoplankton of shallow and deep
aquatic systems. Ecology. 77(5): 1556 – 1572.

Re P, Meneses I. 2008. Early stages of marine fishes occurring in the Iberian


Peninsula. IPIMAR/IMAR: 282pp.

Reeden AM, Sanderson BG, Rissik D. 2002. Extending the analysis of the dilution
method to obtain the phytoplankton concentration at wich microzooplankton
grazing becomes saturated. Marine Ecology Progress Series. 226: 27 – 33.

Renjaan EA. 2003. The Role of Hydrodynamic Regimes and Water Properties on
Transports, Retentions and Settlements of Mollusc Larvae at a Lagoon and its
Adjacent Open Shore in Kai Islands, Indonesia [Dissertation]. Kiel: der
Mathematisch-Naturwissenschafttlichen Fakultat der Christian-Albrechts-
Universitat zu Kiel.
172

Rimper JRTL, Kaswadji R, Widigdo B, Sugiri N. 2008. Bioekologi Rotifera dari


Perairan Pantai dan Estuari Sulawesi Utara. Forum Pascasarjana. 31(1): 59 –
68.

Rossi A, Sabates A, Latasa M, Reyes E. 2006. Lipid biomarkers and trophiclinkages


between phytoplankton, zooplankton and anchovy (Engraulis encrasicolus)
larvae in the NW Mediterranean. Journal of Plankton Research. 28(6): 551 –
562.

Rousseau V, Becquevort S, Parent JY, Gasparini S, Daro MH, Tackx M, Lancelot C.


2000. Trophic efficiency of the planktonic food web in a coastal ecosystem
dominated by Phaeocystis colonies. Journal of Sea Research. 43: 357 – 372.

Ruiz A, Franco J, Villate F. 1998. Microzooplankton grazing in the Estuary of


Mundaka, Spain, and its impact on phytoplankton distribution along the
salinity gradient. Aquatic Microbial Ecology 14: 281 – 288.

Runge J, Quinlan J, Durbin E, Werner F, Lough G, Buckley L, Caldarone E, Incze L,


Manning J, Mountain D, Niehoff B, Plourde S. 2000. The effect of spatial
and temporal variation in zooplankton concentrations on larval cod growth
and survival on Georges Bank: a sensitivity analysis based on modeling and
observations. Brugge Belgium; Scientific paper on ICES Annual Science
Conference. 88th Statutory Meeting, 27 – 30 Sep 2000.

Ruswahyuni. 2008. Hubungan antara kelimpahan meiofauna dengan tingkat


kerapatan lamun yang berbeda di pantai Pulau Panjang Jepara. Jurnal Saintek
Perikanan 4(1): 35 – 41.

Sale PF. 1991. The Ecology of Fishes on Coral Reefs. Academic Press. Inc.
California. pp.754.

Sarnelle O. 2005. Daphnia as keystone predators: effect on phytoplankton diversity


and grazing resistance. Journal of Plankton Research. 27(12): 1229 – 1238.

Sassa C, Kawaguchi K. 2004. Larval feeding habit of Diaphus garmani and


Myctophum asperum, Pisces (Myctophidae) in the transition region of the
Western North Pacific. Marine Ecology Progress Series. 278: 279 – 290.

Schnetzer A, Caron DA. 2005. Copepod grazing impact on the trophic structure of
the microbial assemblage of the San Pedro Channel, California. Journal of
Plankton Research 27:10: 959 - 971.
173

Sedyowati, R. 2005. Kondisi fisika-kimia air gugus Pulau Pari, Kelurahan Pulau
Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administratif
Kepulauan Seribu [Skripsi]. Bogor: Departemen Manajemen Sumberdaya
Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Sherman K, Smith W, Morse W, Berman M, Green J, Ejsymont L. 1984. Spawning


strategies of fishes in relation to circulation, phytoplankton production and
pulses in zooplankton off the northeastern United States. Marine Ecology
Progress Series. 18: 1 – 19.

Shiomoto A. (1997). Size fractionated chlorophyll a concentration and primary


production in the Okhotsk Sea in October and November 1993, with special
reference to the influence of Dichothermal water. Journal of Oceanography,
53, 601 -610.

Shoji J, Tanaka M. 2003. Larval abundance, growth, and recruitment of Japanese


Spanish mackerel Scomberomorus niphonius in the Seto Inland Sea, Japan.
The Big Fish Bang. Proceedings of the 26th Annual Larval Fish Conference.
Edited by Howard I. Browman and Anne Berit Skiftesvik. Published by the
Institute of Marine Research, Postboks 1870 Nordnes, N-5817, Bergen,
Norway.

Simanjuntak M. 2010. Pengaruh musim terhadap kandungan nitrogen dan pH di


perairan Kepulauan Seribu bagian Selatan, teluk Jakarta. Dinamika Ekosistem
Perairan Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta. Pusat Penelitian Oseanografi.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Soedibjo BS. 2006. Struktur komunitas fitoplankton dan hubungannya dengan


beberapa parameter lingkungan di perairan Teluk Jakarta. Oseanologi dan
Limnologi di Indonesia 40: 65 – 78.

Soedibjo BS. 2007. Pengaruh faktor lingkungan terhadap distribusi spasial


komunitas zooplankton di Teluk Klabat, Perairan Bangka Belitung.
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. 33: 47 – 63.

Sommer U, Berninger UG, Böttger-Schnack R, Cornils A, Hagen W, Hansen T, Al-


Najjar T, Post AF, Schnack-Schiel SB, Stibor H, Stübing D and Wickham S.
2002. Grazing during early spring in the Gulf of Aqaba and northern Red
Sea. Marine Ecology Progress Series. 239: 251 – 261.
174

Sponaugle S, Fortuna J, Grorud K, Lee T. 2003. Dynamic of larval fish


assemblages over a shallow coral reef in the Florida Keys. Marine Biology
143: 175 – 189.

Sriati. 2012. Struktur Trofik Komunitas Ikan di Perairan Pulau Semak DAun
Kepuluan Seribu. [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor.

Stapel J, Aart TL, van Duynhoven BHM, de Groot JD, van den Hoogen PHW,
Hemminga MA. 1996. Nutrient uptake by leaves and root of the seagrass
Thalassia hemprichii in the Spermonde archipelago, Indonesia. Marine
Ecology Progress Serries. 134: 195 – 206.

Stige LC, Lajus DL, Chan KS, Dalpadado P, Basedow SL, Berchenko I, Stenseth NC.
2009. Climatic forcing of zooplankton dynamics is stronger during low
densities of planktivorous fish. Limonology Oceanography. 54(4): 1025 –
1036.

Stoecker DK, Gustafson DE. 2002. Predicting grazing mortality of an estuarine


dinoflagellate, Pfiesteria piscicida. Marine Ecology Progress Series. 233: 31
– 38.

Ston J, Kosakowska A, Lotocka M. 2002. Pigment composition in relation to


phytoplankton community structure an nutrient content in the Baltic Sea.
Oceanologia. 44(4): 419 – 437.

Strom S. 2002. Novel interaction between phytoplankton and microzooplankton:


their influence on the coupling between growth and grazing rates in the sea.
Hydrobiologia. 480: 41 – 54.

Strom SL, Strom MW. 1996. Microplankton growth, grazing, and community
structure in the northern Gulf of Mexico. Marine Ecology Progress Series
130: 229 – 240.

Suharti S. 1999. Kelimpahan dan distribusi larva ikan di padang lamun Teluk Kuta,
Lombok. Dinamika Komunitas Biologis Pada Ekosistem lamun di Pulau
Lombok, Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI.
Jakarta.

Suprapto, Kembaren D, Lestari P. 2011. Kondisi lingkungan Perairan Teluk Jakarta.


Di dalam: Suman A, Wudianto dan Sumiono B. Sumber daya Ikan di
Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya. Jakarta. Balai
175

Penelitian Perikanan Laut. Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan


Konservasi Sumber daya Ikan. Balitbang Kelautan dan Perikanan. Kementrian
Kelautan dan Perikanan.

Tada K, Sakai K, Nakano Y, Takemura A, Montani S. 2003. Size-fractionated


phytoplankton biomass in coral reef waters of Sesoko Island Okinawa, Japan.
Journal of Plankton Research. 25(8): 991 – 997.

Takabayashi M, Lew K, Johnson A, Al Marchi, Dugdale R, Wilkerson FP. 2006.


The effect of nutrient availability and temperature on chain length of diatom,
Skeletonema costatum. Journal of Plankton Reseach. 28(9): 831 – 840.

Teissier S, Peretyatko A, De Backer S, Triest L. 2011. Strenght of phytoplankton-


nutrient relationship: evidence from 13 biomanipulated ponds.
Hydrobiologia. DOI 10.1007/s10750-011-0726-0.

Tesser MG, Sampaio LA. 2001. Growth of pejerrey larvae (Odonteshes


argentinensis). Atlântica, Rio Grande, 23: 97-100.

Thoha H. 2010. Studi variasi musiman terhadap kelimpahan fitoplankton di


perairan Teluk Jakarta, 2009. Dinamika Ekosistem Perairan Kepulauan
Seribu, Teluk Jakarta. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta.

Thyssen L. 2010. Homing behavior of Parablennius parvicornis (Pisces:


Blenniidae). Anales Universitarios de Etología, 4:25-30.

Tilman D, Kilham SS, Kilham P. 1982. Phytoplankton community ecology: the role
of limiting nutrients. Annual Review of Ecology and Systematics. 13: 349 –
372.

Tilstone GH, Figueiras FG, Fermin EG, Arbones B. 1999. Significance of


nanophytoplankton photosynthesis and primary production in a coastal
upwelling system (Ria de Vigo, NW Spain). Marine Ecology Progress
Series. 183: 13 – 27.

Townsend DW, Pettigrew NR. 1996. The role of frontal current in larval fish
transport on Gorges Bank. Deep Sea Research II. 43(7): 1773 – 1792.

Turner JT. 1987. Zooplankton feeding ecology: content of the fecal pellets of the
copepod Centropages velificatus from waters near the mouth of the
Mississippi River. Biology Bulletin 173: 377 – 386.
176

Tzong Wu J, Lin Chouw T. 2003. Silicate as the limiting nutrient for phytoplankton
in a subtropical eutrophic estuary of Taiwan. Estuarine, Coastal and Shelf
Science. 58(1): 155 – 162.

Umar NA. 2009. Dinamika Populasi Plankton Dalam Area Pusat Penangkapan
Benur dan Nener di Perairan Pantai Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang,
Sulawesi Selatan [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor.

Unesco. 2000. Reducing megacity impact on the coastal environment- alternative


livelihoods and waste management in Jakarta and The Seribu Islands. Coastal
Region and Small Island Papers 6. Paris. Unesco.

Uye S. 2008. Blooms of the giant jellyfish Nemopilema nomurai: a threat to the
fisheries sustainability of the East Asian Marginal Seas. Plankton and
Benthos Research (suppl.): 125 – 131

Valiela I. 1995. Marine Ecological Processes. 2nd Edition. New York. Springer.

Vanni MJ. 1996. Food quality effects on life history traits and fitness in the
generalist herbivore Daphnia. Oecologia. 92: 48-57.

Varella M, Fernandez E, Serret P, 2002. Size-fractionated phytoplankton biomass


and primary production in the Gerlache and south Bransfield Straits (Antarctic
Peninsula) in Austral summer 1995–1996. Deep-Sea Research. II (49): 749–
768.

Vinoth R, Ajithkumar TT, Gopi M. 2010. Photoperiod induced larval growth of


anemonefish Amphiprion percula. World Applied Sciences Journal 10 (3):
283 –282.

Voss R. 2002. Recruitment processes in the larval phase: the influence of varying
transport on cod and sprat larval survival [Disertation]. Kiel: Mathematisch-
Naturwissenschaftlichen Fakultät der Christian-Albrechts-Universität zu Kiel.

Wafar M, Helguen AP, Raikar V, Oismaguer JF, Corre P. 2004. Nitrogen uptake by
size-fractionated plankton in permanently well-mixed temperate coastal
waters Journal of Plankton Reseach. 26(10): 1207 – 1218.

Wang H, Huang B, Hong H. 1997. Size fraction productivity and nutrient dynamics
of phytoplankton in subtropical coastal environments. HydrobiologIia. 352:
97 – 106.
177

Wen Z, Lin DS. 2003. The contribution of size fractionated plankton to biomass
and primary production in saline alkaline ponds. Hydrobiologia. 492: 181 –
190.

Werner FE, Lough RG, Quinlan JA, Buckley LJ, Durbin E, Incze LS, Runge JA.
2000. Modeling growth of larval cod and haddock on Georges Bank: a
synthesis of observations and model results for Spring 1995. Brugge
Belgium: Scientific paper on ICES Annual Science Conference. 88th
Statutory Meeting, 27 – 30 Sep 2000.

Wiadnyana NN, Rassoulzadegan F. 1989. Seletive feeding of Acartia clause and


Centropges typicus on microzooplankton. Marine Ecology Progress Series.
53: 37 – 45.

Wiadnyana NN, Wagey TG. 2004. Plankton, Produktivitas dan Ekosistem Perairan.
Jakarta. Departemen Kelautan dan Perikanan, Badan Riset Kelautan dan
Perikanan, Pusat Riset Perikanan Tangkap dan Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, Pusat Penelitian Oseanografi.

Wiadnyana NN. 1985. Biomassa zooplankton di perairan Teluk Jakarta. Oseanologi


di Indonesia. 19:33 – 40.

Wiadnyana NN. 1997. Variasi kelimpahan zooplankton di Teluk Kao Halmahera


Maluku Utara. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. 30: 53 – 62.

Wiadnyana NN. 1999. Variasi kelimpahan zooplankton dalam kaitannya dengan


produktivitas perairan Laut Banda. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia.
31: 57 – 68.

Williams DM. 1983. Daily, monthly and yearly variability in recruitment of guild of
coral reef fishes. Marine Ecology Progress Series. 10: 231 – 237.

Wilson DT. 2003. The arrival of late-stage coral reef fish larvae in near-shore waters
in relation to tides and time of night. Proceedings of the 26th Annual Larval
Fish Conference. Edited by Howard I. Browman and Anne Berit Skiftesvik.
Bergen. Institut of Marine Research Norway.

Winanto T. 2009. Kajian Perkembangan Larva dan Pertumbuhan Spat Tiram


Mutiara (Pinctada maxima JAMESON) Pada Kondisi Lingkungan
Pemeliharaan Berbeda [Disertasi]. Bogor. Sekolah Pascasarjana. Institut
Pertanian Bogor.
178

Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asian Waters. La Jolla.


California. Neyenesch Printes. San Diego. 195 pp.

Yamaji I. 1984. Illustration of the Marine Plankton of Japan. Japan: Hoikusha.

Yustina, Arnentis, Darmawati. 2003. Daya tetas dan laju pertumbuhan larva ikan
hias Betta splendens di habitat buatan. Jurnal Natur Indonesia 5(2): 129 –
132.
LAMPIRAN
181

Lampiran 1. Kualitas air perairan Laguna Pulau Pari

Kualitas Air Nutrien (mg/m3)


TANGGAL STASIUN Suhu Salinitas
pH NO3-N PO4-P NH4-N Si
(oC) (ppt)
02-Jun 1 30,05 7,35 30,00 0,72 0,02 0,60 1,79
2 30,03 7,30 30,00 0,62 0,03 0,37 1,99
3 30,68 7,30 31,00 0,22 0,03 0,64 0,95
4 30,40 7,43 30,00 0,24 0,02 0,23 1,32
5 30,28 7,35 30,00 0,24 0,05 0,91 1,71
15-Jun 1 26,16 6,76 30,00 0,06 0,01 0,16 0,99
2 31,00 6,77 30,00 0,08 0,01 0,43 1,14
3 29,45 6,81 32,00 0,13 0,02 0,74 0,75
4 30,75 6,59 33,00 0,20 0,06 0,48 0,74
5 29,10 6,81 31,00 0,10 0,02 0,93 0,84
05-Jul 1 31,00 7,42 30,00 0,12 0,03 0,25 1,79
2 30,90 7,53 30,00 0,10 0,05 0,83 1,99
3 29,75 7,53 32,00 0,12 0,04 0,33 0,95
4 29,75 7,53 33,00 0,11 0,03 0,26 1,32
5 30,50 7,53 31,00 0,12 0,05 0,64 1,71
21-Jul 1 29,75 6,57 30,00 0,15 0,02 0,64 0,16
2 32,75 6,51 30,00 0,16 0,07 0,81 0,01
3 29,20 6,49 32,00 0,26 0,03 0,44 0,03
4 32,75 6,60 30,00 0,22 0,27 0,80 0,03
5 28,80 6,65 30,00 0,15 0,02 0,83 0,05
05-Agust 1 29,75 6,57 30,00 0,34 0,02 0,01 1,36
2 32,75 6,51 30,00 0,30 0,01 0,05 1,04
3 29,20 6,49 32,00 0,28 0,03 0,00 1,32
4 32,75 6,60 30,00 0,26 0,02 0,03 0,61
5 28,80 6,65 30,00 0,26 0,04 0,10 0,50
26-Agust 1 31,00 6,72 31,00 0,07 0,07 0,81 0,55
2 31,25 6,72 30,00 0,11 0,12 0,78 0,50
3 29,50 6,78 32,00 0,16 0,06 0,39 0,36
4 30,50 6,76 31,00 0,22 0,12 0,54 0,45
5 30,25 6,72 32,00 0,18 0,05 0,52 0,30
182

Lampiran 1. Lanjutan

19-Sep 1 31,00 6,72 31,00 0,18 0,06 0,46 0,55


2 31,25 6,72 30,00 0,14 0,07 0,40 0,03
3 29,50 6,78 32,00 0,15 0,04 0,37 0,09
4 30,50 6,76 31,00 0,46 0,04 0,07 1,01
5 30,25 6,72 32,00 1,69 0,03 0,07 1,10
05-Okt 1 29,25 7,56 31,00 0,15 0,04 0,40 1,01
2 29,03 7,51 30,00 0,10 0,05 0,05 1,12
3 29,50 7,42 32,00 0,08 0,00 1,07 0,88
4 29,70 7,41 31,00 0,06 0,00 0,87 0,92
5 29,15 7,46 32,00 0,11 0,02 0,84 1,11
18-Okt 1 29,95 7,25 30,00 0,39 0,07 0,06 1,56
2 30,00 7,20 32,00 0,10 0,05 0,05 0,88
3 30,60 7,28 31,00 0,08 0,00 1,07 0,79
4 30,00 7,25 32,00 0,06 0,00 0,87 0,88
5 29,90 7,30 30,50 0,11 0,02 0,84 0,88
19-Nop 1 29,95 6,98 30,00 0,15 0,04 0,40 1,01
2 30,00 7,20 30,00 0,10 0,05 0,05 1,12
3 30,60 6,98 32,00 0,08 0,00 1,07 0,88
4 30,00 7,30 30,00 0,06 0,00 0,87 0,92
5 29,90 7,20 30,00 0,11 0,02 0,84 1,11
183

Lampiran 2. Biomassa organisme planktonik

BIOMASSA (mg/m3)
TANGGAL STASIUN
NANOFITO NETFITO MIKROZOO MESOZOO LARVA
02-Jun 1 1,03 0,14 8,3E-05 2,6E-06 51,70
2 1,95 0,19 2,0E-04 5,4E-06 32,10
3 0,99 0,10 1,1E-04 5,7E-06 30,50
4 1,95 0,23 7,3E-05 5,8E-05 26,90
5 0,65 0,23 4,2E-05 1,3E-05 13,50
15-Jun 1 0,64 0,09 1,6E-04 2,9E-05 14,50
2 0,61 0,12 1,5E-04 3,5E-05 60,70
3 1,02 0,13 3,4E-04 3,8E-05 28,60
4 0,44 0,07 2,9E-04 3,1E-05 8,20
5 1,67 0,06 2,8E-04 3,4E-05 10,40
05-Jul 1 1,64 0,19 5,6E-03 1,6E-03 23,60
2 1,54 0,10 3,1E-03 1,2E-03 85,20
3 3,01 0,14 4,7E-03 1,2E-03 109,80
4 0,22 0,03 3,6E-03 1,1E-03 173,60
5 1,02 0,06 4,4E-03 7,5E-04 40,70
21-Jul 1 0,76 0,14 1,0E-02 1,6E-03 361,00
2 0,93 0,25 7,1E-03 1,2E-03 20,89
3 0,59 0,27 7,4E-03 1,2E-03 2,83
4 1,27 0,16 9,0E-03 1,1E-03 7,74
5 1,13 0,20 9,8E-03 7,5E-04 0,37
05-Agust 1 1,87 0,27 1,1E-02 2,0E-03 45,11
2 1,53 0,22 8,0E-03 3,0E-03 111,73
3 1,57 0,16 5,2E-03 7,8E-03 76,86
4 1,36 0,18 7,8E-03 2,7E-03 30,00
5 1,36 0,26 4,3E-03 2,3E-03 46,11
26-Agust 1 0,54 0,15 2,7E-03 1,5E-03 3,90
2 1,25 0,14 2,8E-03 1,3E-03 8,99
3 1,66 0,10 2,3E-03 1,8E-03 9,54
4 1,70 0,22 2,6E-03 1,1E-03 11,74
5 2,22 0,08 2,8E-03 1,2E-03 17,98
184

Lampiran 2. Lanjutan

19-Sep 1 1,13 0,15 7,5E-03 1,8E-03 2,94


2 1,47 0,17 5,5E-03 3,1E-03 58,90
3 1,97 0,02 2,6E-03 8,5E-04 0,55
4 1,11 0,14 6,4E-04 1,8E-03 33,80
5 0,74 0,14 1,7E-03 1,3E-03 24,48
05-Okt 1 1,17 0,18 1,1E-04 1,6E-04 66,80
2 1,87 0,22 7,3E-05 1,7E-04 52,20
3 1,70 0,29 1,0E-04 1,7E-04 67,40
4 1,33 0,20 2,1E-05 2,1E-04 82,00
5 1,65 0,22 2,1E-04 2,1E-04 5,30
18-Okt 1 0,54 0,24 1,2E-03 8,7E-04 21,70
2 1,13 0,16 7,5E-04 1,1E-03 38,30
3 0,25 0,09 8,0E-04 4,9E-04 6,10
4 0,37 0,16 2,7E-04 1,2E-03 27,70
5 0,00 0,16 1,0E-03 1,2E-03 54,90
19-Nop 1 1,24 0,14 5,0E-04 1,6E-03 12,00
2 1,33 0,25 2,7E-04 1,8E-03 6,70
3 1,30 0,27 1,3E-03 3,4E-04 2,90
4 0,86 0,16 1,6E-04 1,5E-03 22,80
5 1,90 0,20 2,1E-04 1,5E-03 4,10
185

Lampiran 3. Komposisi struktur mikrofitoplankton

Kelimpahan (individu/m3)
JENIS
2-Jun 15-Jun 5-Jul 22-Jul 5-Agust 26-Agust 19-Sep 5-Okt 18-Okt 19-Nop
Diatom
Amphora sp - - 238.000 - 383.950 82.000 386.250 376.000 208.006 383.950
Ampiphora sp - - 30.000 - - 33.000 - 152.000 96.000 -
Asterionella sp 55.000 - - - - 43.800 - - 177.333 -
Bacillaria sp - 6.000 15.000 - - - - - - -
Bacteriastrum sp 10.000 31.500 30.800 82.200 454.900 127.000 134.400 22.000 - 454.900
Bidulpia sp 35.000 19.000 15.800 91.200 - - - 66.000 - -
Chaetoceros sp 3.485.000 1.081.500 4.392.000 6.111.750 4.140.500 15.227.500 60.803.550 88.000 62.667 4.140.500
Climacosspahenia sp - - 26.000 - - 84.000 - - - -
Coconeis sp - - 65.000 73.950 90.800 - - - - 90.800
Coscinodiscus sp 125.000 71.500 43.800 45.600 135.600 81.250 134.400 236.000 305.333 135.600
Cyclotella sp 5.000 - 30.000 - - - - - - -
Diatoma sp - 4.500 - - - - - - - -
Diploneis sp - 4.500 45.000 - - 43.750 - - - -
Dytilum sp 55.000 13.500 15.800 - - - - - - -
Eucampia sp - - - - - 10.000 - - - -
Fragillaria sp 45.000 42.500 416.000 236.250 550.900 241.250 264.750 532.667 1.309.333 550.900
Gyrosigma sp 105.000 4.000 257.600 42.750 166.400 39.250 60.000 864.000 545.333 166.400
Hemialus sp - 18.000 - - 1.112.000 - - 53.333 - 1.112.000
186

Lampiran 3. Lanjutan..

Licomophora sp - - 39.000 - - - - - - -
Melosira sp - - 730.000 - 2.757.900 93.400 873.600 - - 2.757.900
Navicula sp 305.000 58.500 1.342.000 855.600 1.868.000 756.850 1.220.200 1.524.667 2.337.333 1.868.000
Nitzchia sp 115.000 170.500 2.459.800 8.507.700 3.883.300 1.469.600 15.988.650 936.667 1.389.333 3.883.300
Pleurosigma sp 45.000 30.500 242.000 87.600 211.800 54.500 307.200 74.000 - 211.800
Rhabdonema sp - - 30.000 - - - - - - -
Rhizosolenia sp 85.000 98.500 401.800 93.600 930.600 142.750 2.994.200 43.333 57.333 930.600
Skeletonema sp 105.000 38.000 23.841.800 182.092.650 33.752.600 2.114.800 16.131.900 - - 33.752.600
Streptoteca sp 240.000 35.500 109.000 183.000 950.200 38.000 508.800 44.000 94.667 950.200
Striatela sp - - 43.000 - - - - - - -
Surirella sp 5.000 - 28.000 - - - - - 58.667 -
Tabelaria sp 10.000 - - - - - - - 18.667 -
Thallasionema sp 115.000 140.500 - 1.024.650 1.003.250 404.400 51.200 - 77.333 1.003.250
Thallasiosira sp - - 598.000 - - 20.000 - - - -
Thallasiotrix sp 1.630.000 656.500 26.000 - 190.200 40.000 508.800 53.333 513.333 190.200
JUMLAH 6.575.000 2.525.000 35.511.200 199.528.500 52.582.900 21.147.100 100.367.900 5.066.000 7.250.673 52.582.900
JUMLAH JENIS 19 19 27 14 17 21 15 15 15 17
187

Lampiran 3. Lanjutan..

Cyanophyta - - - - - - - - - -
Anabaena sp - - - 976.800 - - - - - -
Oscillatoria sp 30.000 17.500 402.400 93.600 31.450 - 540.700 106.667 18.667 31.450
Spirullina sp 20.000 - - - - - - - - -
JUMLAH 50.000 17.500 402.400 1.070.400 31.450 - 540.700 106.667 18.667 31.450
JUMLAH JENIS 2 1 1 2 1 - 1 1 1 1
Dynophyta - - - - - - - - - -
Ceratium sp - 5.000 - - 6.250 175.000 92.000 878.000 280.000 6.250
Dictyocha sp - - 15.000 - - 11.000 - - 18.667 -
Dinophysis sp - - - - - - - 48.667 - -
Gymnodinium sp - - - - - - - 21.333 - -
Peridinium sp 5.000 - 15.000 - - 10.000 - - 137.333 -
Prorocentrum sp - - - - - 36.250 159.950 204.000 - -
Pyrocystis sp - 1.000 - - - - - - - -
Mesodinium sp 1.651 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 23.112 0.000
JUMLAH 5.000 6.000 30.000 - 6.250 232.250 251.950 1.152.000 436.000 6.250
JUMLAH JENIS 2 2 2 - 1 4 2 4 4 1
TOTAL JUMLAH 6.630.000 2.548.500 35.943.600 200.598.900 52.620.600 21.379.350 101.160.550 6.324.667 7.705.339 52.620.600
TOTAL JUMLAH
24 22 30 16 19 25 18 20 21 19
JENIS
188

Lampiran 4. Komposisi struktur mikrozooplankton

Kelimpahan (individu/m3)
JENIS
2-Jun 15-Jun 5-Jul 22-Jul 6-Agust 26-Agust 19-Sep 5-Okt 18-Okt 19-Nop
CRUSTACEA
COPEPODA
Acartia sp 31.37 363.18 82.54 181.59 297.15 280.64 363.18
Calanus sp 33.02 272.39 115.56 280.64 214.61 330.16 33.02 49.52 82.54 33.02
Centropages sp 33.02 82.54 49.52 16.51 33.02 16.51
Eucalanus sp 16.51
Microsetella sp 6.60 115.56 379.69 49.52 231.12 561.28 264.13 115.56 231.12 264.13
Naupli Acartia 34.67
Naupli Balanus 36.32 66.03 247.62
Oithona sp 3.30 1477.49 825.41 1155.58 1436.22 495.25 165.08 313.66 280.64 165.08
Oncaea sp 4.95 16.51 33.02 16.51 16.51 16.51 16.51
Paracalanus sp 13.21 99.05
Tortanus sp 396.20 264.13 3912.45 198.10 2030.51 313.66 557.98 2030.51
Temora sp 19.81 173.34 1056.53 148.57 148.57 610.80 49.52 165.08 115.56 49.52
Labidocera sp 16.51
BRACHIOPODA
Conehoceio sp 1.65
189

Lampiran 4. Lanjutan..

MALACOSTRACA
Nauplius 203.05 8609.04 3103.55 4902.95 8963.97 5266.13 8287.13 6075.03 10367.17 8287.13
Zoea 255.88 16.51 82.54
JUMLAH 387.94 11448.46 6042.01 7065.52 15270.12 7808.39 10862.42 7362.67 12014.69 10862.42
JUMLAH JENIS 11 12 9 8 9 8 8 9 8 8
CILIATA
Codonelopsis sp 132.07 16.51 66.03 132.07
Parundella sp 1073.04
Favella sp 8.25 115.56 16.51 49.52 1.65 82.54 115.56
Leptotintinus sp 33.02
Tintinid sp 132.07
Tintinopsis sp 1.65 0.00 280.64 1733.36 16.51 115.56 8.25 165.08 346.67 280.64
SARCODINA
Globigerina sp 90.80
Globigerinoides sp 66.03
Sticolonche sp 115.56
FLAGELATA
Dinophysis sp 297.15
Ornithocercus sp 49.52 49.52
JUMLAH 1.65 99.05 709.85 2839.42 33.02 231.12 141.97 165.08 792.40 577.79
JUMLAH JENIS 1 3 5 3 2 4 3 1 4 4
190

Lampiran 4. Lanjutan..

ROTATORIA
Brachionus sp 3.30 453.98 198.10 115.56 396.20 181.59 0.00 0.00 33.02 181.59
JUMLAH 3.30 453.98 198.10 115.56 396.20 181.59 0.00 0.00 33.02 181.59
JUMLAH JENIS 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
MOLUSKA
Lymacena sp 82.54 305.40 528.26 990.49 99.05 577.79 231.12 198.10 313.66 305.40
Veliger larvae 874.94 280.64 396.20
Lamelaria sp 82.54
JUMLAH 82.54 305.40 610.80 990.49 99.05 1452.72 231.12 478.74 709.85 305.40
JUMLAH JENIS 1 1 2 1 1 2 1 2 2 1
CHAETOGNATHA
Sagita sp 33.02 66.03 115.56 198.10 495.25 66.03
JUMLAH 0.00 0.00 66.03 115.56 0.00 198.10 0.00 0.00 495.25 66.03
JUMLAH JENIS 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1
POLYCHAETA
Tomopteris sp 49.52 66.03
Lopadorrhynchus sp 8.25 16.51
JUMLAH 0.00 8.25 0.00 49.52 0.00 66.03 0.00 0.00 16.51 0.00
JUMLAH JENIS 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0
TOTAL JUMAH 475.44 12348.16 7626.80 11176.07 15798.38 9937.96 11235.50 8006.49 14061.71 24001.46
TOTAL JUMLAH
15 18 18 15 13 17 13 13 17 15
JENIS
191

Lampiran 5. Komposisi struktur mesozooplankton

Kelimpahan (individu/m3)
JENIS
2-Jun 15-Jun 5-Jul 22-Jul 6-Agust 26-Agust 19-Sep 5-Okt 18-Okt 19-Nop
CRUSTACEA
COPEPODA
Acartia sp 290.54 24.76 122.16 92.45 74.29 242.67 99.05 3.30 74.29
Balanus sp 24.76 30.54 41.27 42.92 44.57 26.41 3.30 44.57
Calanus sp 3.30 1112.65 37.97 9.90 123.81 39.62 31.37 70.99 37.97 39.62
Centropages sp 4.95 11.56 1.65 14.86 33.02 85.84 125.46 33.02
Clausocalanus sp 1.65
Mikrosetella sp 3.30 118.86 4.95 33.02 6.60 21.46 31.37 11.56 21.46
Mysis 4.95 8.25
Oithona sp 414.36 4.95 24.76 42.92 6.60 69.33 11.56
Oncaea sp 3.30 31.37 4.95 28.06 11.56 14.86 8.25 11.56
Paracalanus sp 3.30
Pseudocalanus sp 1.65
Temora sp 102.35 4.95 8.25 11.56 26.41 8.25
Tortanus sp 6.60
BRACHIOPODA
Evadne sp 9.90 19.81 21.46 3.30 19.81
Cypridina sp 16.51
192

Lampiran 5. Lanjutan..

MALACOSTRACA
Udang 78.41 232.77 127.11 105.65 13.21 66.03 105.65
Nauplius besar 1058.18 3.30 70.99
Zoea 64.38 2009.05 219.56 252.58 51.18 6.60 252.58
Vibilia sp 4.95 21.46
JUMLAH 6.60 3133.26 302.10 2586.84 703.25 610.80 536.52 490.29 82.54 610.80
JUMLAH JENIS 2 9 9 13 9 9 10 10 4 9
ROTATORIA
Brachionus sp 16.51 75.94 16.51
JUMLAH 0.00 16.51 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 75.94 16.51
JUMLAH JENIS 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1
SARCODINA
Globigerinoides sp 1.65 26.41
Sticolonche sp 1.65 21.46 3.30
Echinoploteus sp 3.30 16.51 8.25 8.25 14.86 13.21
Gladioferans sp 1.65
JUMLAH 0.00 1.65 4.95 37.97 8.25 8.25 16.51 0.00 42.92 0.00
JUMLAH JENIS 0 1 2 2 1 1 2 0 3 0
FLAGELATA
Mesodinium sp 1.65 23.11
JUMLAH 1.65 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 23.11 0.00
JUMLAH JENIS 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
193

Lampiran 5. Lanjutan..

POLYCHAETA
Lopadorrhynchus sp 33.02 1.65 6.60 1.65
Pontodora sp 8.25
Tomopteris sp 8.25 1.65
JUMLAH 0.00 33.02 0.00 0.00 8.25 8.25 1.65 1.65 6.60 1.65
JUMLAH JENIS 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1
HIDROZOA
Obelia larvae 3.30 16.51
JUMLAH 3.30 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 16.51 0.00
JUMLAH JENIS 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
MOLUSKA
Lymacina sp 379.69 16.51 1.65 37.97 3.30 99.05 37.97
JUMLAH 0.00 379.69 0.00 16.51 0.00 1.65 37.97 3.30 99.05 37.97
JUMLAH JENIS 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1
TUNICATA
Pyrosoma sp 1.65 70.99
JUMLAH 0.00 0.00 1.65 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 70.99 0.00
JUMLAH JENIS 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0
194

Lampiran 5. Lanjutan

CHAETOGNATHA
Sagita sp 6.60 6.60 52.83 3.30 56.13 26.41 4.95 4.95
JUMLAH 0.00 6.60 6.60 52.83 3.30 56.13 26.41 4.95 0.00 4.95
JUMLAH JENIS 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1
IKAN
Telur 1.65 8.25 9.90 6.60 3.30 3.30
Larva ikan 8.25 21.46 6.60 1.65 1.65
JUMLAH 1.65 0.00 16.51 31.37 0.00 13.21 1.65 1.65 3.30 3.30
JUMLAH JENIS
TOTAL JUMLAH 13.21 3570.73 331.82 2725.51 723.06 698.30 620.71 501.85 420.96 675.19
TOTAL JUMLAH
4 14 13 17 12 13 15 13 13 13
JENIS
195

Lampiran 6. Komposisi struktur larva ikan

Kelimpahan (Individu/m3)
FAMILI
02-Jun 14-Jun 05-Jul 22-Jul 05-Agust 28-Agust 17-Sep 05-Okt 18-Okt 20-Nop
Acropomatidae 255 170
Ambassidae 290 23
Amblyopinae Gobiidae 289 51 357 637 25
Ammodytidae 69 31 15 8
Antennariidae 25 85
Anthiinae Serranidae 51
Atherinidae 85 51 8 8 8
Aulostomidae 714 255 713 46 558 199 8 2.196 526
Balistidae 85
Blenniidae 425 178 968 374 69 260 1.164 533 204
Bothidae 25 25 637 340 51
Bregmacerotidae 306 510
Bythitidae 31
Callionimydae 51 66 8 255
Carangidae 51 51 84 84 38 407 15 153
Carapidae 8 1.359
Cepolidae 25
Chaetodontidae 85
Chanidae 51 23 25
196

Lampiran 6. Lanjutan

Cheilodactylidae 15
Chirocentridae 8
Citharidae 25 15
Clupeidae 51 8 127 152 1.359
Creedidae 8
Cynoglossidae 102
Drepaneidae 85
Eleotrididae 153
Engraulidae 280 25 255 23 219 82 382 382 1.308 450
Ephippidae 25 23
Epinephelinae Serranidae 51 76
Fistulariidae 102
Gerreidae 127 51 150 8 8 255 195
Gobiidae 102 76 53 76 69 170 8 612 51
Haemulidae 76
Isonidae 102 50 15 8 637 476
Kuhliidae 51 8 214
Kyphosidae 280 8 69 85
Labridae 204 8 61 53 306 85
Latidae 31
Leiognathidae 76 127 8 85 25
Leptobramidae 229 306 127 1020 340
197

Lampiran 6. Lanjutan

Lethrinidae 306 382


Lutjanidae 15 8 25
Menidae 51
Microcanthidae 51
Microdesmidae 15
Monacanthidae 38 23 127 25
Mugilidae 51 51 51
Mullidae 51 25 550 107 39 85 255
Nemipteridae 127 204
Ophididae 51
Opistognathidae 51 51 293
Pempheridae 25
Percophidae 25
Pinguipedidae 59 51 229 510 2.293
Platycephalidae 51 8
Plesiopidae 127 85
Polynemidae 204 25 994 8 170
Pomacanthidae 102 76
Pomacentridae 102 102 1.661 39 647 76 1.146 4.017 3.312 340
Priacanthidae 51 8
Pristigasteridae 153
Pseudochromidae 25 25 153
198

Lampiran 6. Lanjutan

Ptereleotrinae 8
Samaridae 153
Scaridae 51 25 127 25
Scatophagidae 51
Schindleriidae 8 8 38
Scombridae 8 85 229
Serranidae 23 8
Siganidae 102 85 255
Sillaginidae 51 51 8 85
Solenostomidae 51 372 51
Sparidae 331 340 195
Synodontidae 25
Terapontidae 25 25 76 510 510 595 51
Tetraodontidae 51
Trichiuridae 102
Triglidae 25 25
Tripterygiidae 85 51
Xenisthmidae 51
TOTAL 3.718 1.856 9.857 1.040 3.318 1.002 5.362 14.694 12.232 1.713
199

Lampiran 7. Biovolume zooplankton

No Jenis Pendekatan bentuk sel Rumus bangun Biovolume (µm3)


1 Nauplius Elips - bundar (1/6)*∏(LWH) 368,167.41
2 Lymacina Kerucut 1/12∏W 2L 181,068.91
3 Brachionus Elips - bundar (1/6)*∏(LWH) 1,006,038.24
4 Acartia besar Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 4,196,047.47
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
5 Acartia kecil Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 487,460.31
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
6 Oithona besar Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 2,678,067.23
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
7 Oithona kecil Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 840,951.63
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
8 Mikrosetela besar Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 2,499,239.99
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
9 Mikrosetela kecil Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 695,625.01
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
10 Oncaea Elips (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 3,467,765.07
Kerucut (ekor) 1/12∏W 2L
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
11 Temora besar Setengah Elips -bundar (1/2)*(1/6)*∏(LWH) 2,372,274.23
(badan) (badan bagian
Kerucut 1/12∏W L2

bawah)
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
12 Temora kecil Setengah Elips -bundar (1/2)*(1/6)*∏(LWH) 1,790,435.85
(badan) (badan bagian
Kerucut 1/12∏W 2L
bawah)
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
13 Centropages Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 99,723,414.06
besar Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
14 Centropages Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 12,555,356.68
kecil Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
15 Temopteris Elips -panjang (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 776,778.27
16 Balanus Sphere (kepala) (1/6)*∏(LWH) 666,030.59
Kerucut (ekor) 1/12∏W 2L
Segitiga/kerucut (kaki) (1/12)∏W2L* 2
17 Tortanus Sphere (kepala) (1/6)*∏(LWH) 1,160,697.73
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
Kerucut (kaki) 1/12∏W 2L*10
Sphere (kepala) (1/6)*∏(LWH) 659,374.23
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
Kerucut (kaki) 1/12∏W 2L*10
200

Lampiran 7. Lanjutan..

18 Veliger larvae Setengah sphere (1/2)*(1/6)*∏(LWH) 277,525.09


19 Telur Sphere (1/6)*∏(LWH) 3,541,722.56
20 Sagita besar Sphere (1/6)*∏(LWH) 1,493,438.95
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
Sphere (1/6)*∏(LWH) 6,344,517.84
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
21 Malacostraca Elips -panjang (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 607,642,333.33
22 Evadne Sphere (1/6)*∏(LWH) 4,335,507.12
23 Calanus besar Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 41,667,911.64
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
Kerucut (kaki) 1/12∏W 2L*10
24 Calanus kecil Elips -panjang (badan) (4/3)*∏*(r1)*(r2)*(r3) 4,421,160.23
Silinder (ekor) (1/4)∏r2h
Kerucut (kaki) 1/12∏W 2L*10
25 Xystonella Silinder (1/4)∏r2h 285,058.32
Kerucut 1/12∏W 2L*10
26 Favella Silinder (1/4)∏r2h 1,032,523.37
Setengah sphere (1/2)*(1/6)*∏(LWH)
27 Tintinopsis sphere (1/6)*∏(LWH) 119,989.93
silinder (1/4)∏r2h
28 Tintinnus Silinder (1/4)∏r2h 1.923.121.456
Setengah sphere (1/2)*(1/6)*∏(LWH)
201

Lampiran 8. Hasil pengamatan pertumbuhan larva ikan

Hari Panjang
n ke - Fase
ke- (mm)
1 1 1,375 preflexion
1 2 1,45 preflexion
1 3 1,5 preflexion
1 4 1,5 preflexion
1 5 1,5 preflexion
1 6 1,5 preflexion
1 7 1,5 preflexion
1 8 1,5 preflexion
1 9 1,55 preflexion
1 10 1,55 preflexion
1 11 1,55 preflexion
1 12 1,55 preflexion
1 13 1,55 preflexion
1 14 1,625 preflexion
1 15 1,625 preflexion
1 16 1,675 preflexion
1 17 1,75 preflexion
1 18 1,75 preflexion
1 19 1,75 preflexion
1 20 1,875 preflexion
1 21 2 preflexion
1 22 2 preflexion
1 23 2,125 preflexion
2 1 1 preflexion
2 2 1,2 preflexion
2 3 1,25 preflexion
2 4 1,25 preflexion
2 5 1,25 preflexion
2 6 1,25 preflexion
2 7 1,375 preflexion
2 8 1,45 preflexion
2 9 1,5 preflexion
2 10 1,5 preflexion
2 11 1,5 preflexion
2 12 1,5 preflexion
2 13 1,5 preflexion
2 14 1,5 preflexion
2 15 1,5 preflexion
2 16 1,5 preflexion
2 17 1,5 preflexion
202

Lampiran 8. Lanjutan

2 18 1,5 preflexion
2 19 1,55 preflexion
2 20 1,55 preflexion
2 21 1,625 preflexion
2 22 1,625 preflexion
2 23 1,625 preflexion
2 24 1,625 preflexion
2 25 1,625 preflexion
2 26 1,75 preflexion
2 27 1,75 preflexion
2 28 1,75 preflexion
2 29 1,75 preflexion
2 30 1,75 preflexion
2 31 1,75 preflexion
2 32 1,75 preflexion
2 33 1,75 preflexion
2 34 1,75 preflexion
2 35 1,75 preflexion
2 36 1,8 preflexion
2 37 1,85 preflexion
2 38 1,875 preflexion
2 39 1,875 preflexion
2 40 1,875 preflexion
2 41 1,875 preflexion
2 42 1,875 preflexion
2 43 2 preflexion
2 44 2 preflexion
2 45 2 preflexion
2 46 2 preflexion
2 47 2 preflexion
2 48 2 preflexion
2 49 2,25 preflexion
3 1 1,125 preflexion
3 2 1,3 preflexion
3 3 1,375 preflexion
3 4 1,375 preflexion
3 5 1,45 preflexion
3 6 1,5 preflexion
3 7 1,5 preflexion
3 8 1,5 preflexion
3 9 1,55 preflexion
3 10 1,55 preflexion
203

Lampiran 8. Lanjutan

3 11 1,55 preflexion
3 12 1,55 preflexion
3 13 1,575 preflexion
3 14 1,575 preflexion
3 15 1,575 preflexion
3 16 1,6 preflexion
3 17 1,625 preflexion
3 18 1,625 preflexion
3 19 1,625 preflexion
3 20 1,625 preflexion
3 21 1,625 preflexion
3 22 1,625 preflexion
3 23 1,7 preflexion
3 24 1,7 preflexion
3 25 1,75 preflexion
3 26 1,75 preflexion
3 27 1,75 preflexion
3 28 1,75 preflexion
3 29 1,8 preflexion
3 30 1,875 preflexion
3 31 1,95 preflexion
4 1 1,125 preflexion
4 2 1,25 preflexion
4 3 1,25 preflexion
4 4 1,25 preflexion
4 5 1,325 preflexion
4 6 1,375 preflexion
4 7 1,375 preflexion
4 8 1,375 preflexion
4 9 1,375 preflexion
4 10 1,375 preflexion
4 11 1,375 preflexion
4 12 1,375 preflexion
4 13 1,375 preflexion
4 14 1,5 preflexion
4 15 1,5 preflexion
4 16 1,5 preflexion
4 17 1,5 preflexion
4 18 1,5 preflexion
4 19 1,5 preflexion
4 20 1,5 preflexion
4 21 1,5 preflexion
204

Lampiran 8. Lanjutan

4 22 1,5 preflexion
4 23 1,5 preflexion
4 24 1,5 flexion
4 25 1,5 preflexion
4 26 1,55 preflexion
4 27 1,625 preflexion
4 28 1,625 preflexion
4 29 1,625 preflexion
4 30 1,625 preflexion
4 31 1,625 preflexion
4 32 1,625 preflexion
4 33 1,625 preflexion
4 34 1,625 preflexion
4 35 1,7 preflexion
4 36 1,7 preflexion
4 37 1,7 preflexion
4 38 1,7 preflexion
4 39 1,75 preflexion
4 40 1,75 preflexion
4 41 1,75 preflexion
4 42 1,75 preflexion
4 43 1,75 flexion
4 44 1,75 preflexion
4 45 1,8 preflexion
4 46 1,8 preflexion
4 47 1,875 flexion
4 48 1,875 preflexion
4 49 1,875 preflexion
4 50 2 preflexion
4 51 2 preflexion
4 52 2,05 flexion
4 53 2,125 preflexion
4 54 2,125 preflexion
4 55 2,125 preflexion
4 56 2,125 preflexion
4 57 2,25 preflexion
4 58 2,25 preflexion
4 59 2,25 preflexion
4 60 2,25 flexion
4 61 2,25 preflexion
4 62 2,5 flexion
205

Lampiran 8. Lanjutan

5 1 1 preflexion
5 2 1,375 preflexion
5 3 1,375 preflexion
5 4 1,375 preflexion
5 5 1,375 preflexion
5 6 1,45 preflexion
5 7 1,5 preflexion
5 8 1,5 preflexion
5 9 1,5 preflexion
5 10 1,5 flexion
5 11 1,5 flexion
5 12 1,575 preflexion
5 13 1,625 flexion
5 14 1,625 preflexion
5 15 1,625 preflexion
5 16 1,625 preflexion
5 17 1,625 preflexion
5 18 1,625 preflexion
5 19 1,625 preflexion
5 20 1,625 flexion
5 21 1,625 flexion
5 22 1,7 preflexion
5 23 1,7 flexion
5 24 1,75 flexion
5 25 1,75 flexion
5 26 1,75 preflexion
5 27 1,75 preflexion
5 28 1,8 preflexion
5 29 1,875 preflexion
5 30 1,875 preflexion
5 31 1,95 preflexion
5 32 1,95 preflexion
5 33 2 flexion
5 34 2 flexion
5 35 2 preflexion
5 36 2,125 flexion
5 37 2,375 flexion
5 38 2,5 flexion
6 1 1,375 preflexion
6 2 1,375 preflexion
6 3 1,5 preflexion
6 4 1,5 flexion
206

Lampiran 8. Lanjutan

6 5 1,5 flexion
6 6 1,625 preflexion
6 7 1,625 preflexion
6 8 1,625 preflexion
6 9 1,75 preflexion
6 10 1,75 preflexion
6 11 2 preflexion
6 12 2,125 preflexion
6 13 2,375 preflexion
6 14 2,5 preflexion
6 15 2,625 preflexion
7 1 1,5 flexion
7 2 1,5 preflexion
7 3 1,5 preflexion
7 4 1,5 preflexion
7 5 1,625 preflexion
7 6 1,625 preflexion
7 7 1,625 preflexion
7 8 1,725 preflexion
7 9 1,75 preflexion
7 10 1,75 preflexion
7 11 1,75 preflexion
7 12 1,75 preflexion
7 13 1,75 preflexion
7 14 1,75 preflexion
7 15 1,75 preflexion
7 16 1,75 preflexion
7 17 1,75 preflexion
7 18 1,75 preflexion
7 19 1,75 flexion
7 20 1,75 flexion
7 21 1,75 preflexion
7 22 1,8 preflexion
7 23 1,8 preflexion
7 24 1,875 preflexion
7 25 1,875 flexion
7 26 2 preflexion
7 27 2 preflexion
7 28 2 flexion
7 29 2 preflexion
7 30 2,75 flexion
7 31 2,75 flexion
207

Lampiran 8. Lanjutan

7 32 2,875 flexion
7 33 2,875 flexion
8 1 1,25 preflexion
8 2 2,125 preflexion
208

Lampiran 9. Hasil rata-rata eksperimen pemangsaan

Perlakuan 1 (Kontrol Fito) Perlakuan 2 (Kontrol Nano)


F N
t0 2,174 t0 1,372
t1 1,595 t1 1,523
t2 1,509 t2 1,864
t3 1,935 t3 7,386
t4 4,473 t4 10,57

Perlakuan 3: F + N Perlakuan 4: F + Mi
fito Nano F Mi
t0 2,238 2,5213 t0 1,057 0,0106
t1 2,514 2,603 t1 0,875 0,0063
t2 3,193 2,495 t2 1,157 0,005
t3 3,304 4,075 t3 1,257 0,0039
t4 8,655 8,454 t4 3,543 0,003

Perlakuan 5 (N + Mi) Perlakuan 6 (F + N + Mi)


N Mi F N Mi
t0 2,159 0,0045 t0 0,654 2,998 0,008
t1 1,864 0,0028 t1 0,906 2,6517 0,005
t2 1,131 0,0038 t2 1,159 1,813 0,005
t3 4,132 0,0025 t3 2,35 4,9217 0,005
t4 7,127 0,002 t4 2,441 3,7853 0,002

Perlakuan 7 (F + Me) Perlakuan 8 (N + Me)


F Me N Me
t0 1,548 0,0067 t0 0,959 0,0037
t1 1,637 0,0086 t1 1,185 0,0067
t2 1,169 0,0066 t2 2,265 0,0071
t3 1,082 0,0112 t3 7,877 0,07
t4 1,169 0,0543 t4 6,499 0,0068
209

Lampiran 9. Lanjutan

Perlakuan 9 (Me + Mi) Perlakuan 10 (Me + F + N)


Mi Me Me F N
t0 0,005 0,0059 t0 0,02 1,1569 2,316
t1 0,003 0,0119 t1 0,016 1,1683 1,867
t2 0,002 0,0098 t2 0,005 0,8418 3,049
t3 0,002 0,0038 t3 0,011 1,2567 3,734
t4 0,002 0,0059 t4 0,008 2,099 2,654

Perlakuan 11 (Me + Mi + F) Perlakuan 12 ( Me + Mi + N)


Me Mi F Me Mi N
t0 0,006 0,0127 0,944 t0 0,012 0,0067 2,5
t1 0,022 0,0079 0,971 t1 0,011 0,0027 2,5
t2 0,018 0,0042 1,169 t2 0,015 0,0018 1,867
t3 0,008 0,0038 1,585 t3 0,02 0,002 8,05
t4 0,022 0,0037 1,66 t4 0,01 0,0019 5,317

Perlakuan 13 (Me + F + N + Mi) Perlakuan 14 (L + F)


Me Mi N F F
t0 0,008 0,0121 2,754 1,057 t0 1,433
t1 0,014 0,0046 2,211 0,918 t1 2,047
t2 0,012 0,0043 2,498 1,158 t2 1,684
t3 0,005 0,0041 2,211 1,32 t3 3,97
t4 0,007 0,0044 4,47 2,45 t4 4,731

Perlakuan 15 (L + N) Perlakuan 16 (L + N)
N Mi
t0 2,262 t0 0,025
t1 1,816 t1 0,018
t2 4,919 t2 0,014
t3 10,29 t3 0,027
t4 13,68 t4 0,012
210

Lampiran 9. Lanjutan
Perlakuan 17 (L + Me) Perlakuan 18 (L + F + N)
Me F N
t0 4,998 t0 4,363 3,967
t1 3,08 t1 2,549 2,9467
t2 2,765 t2 2,726 2,262
t3 3,348 t3 3,103 3,3957
t4 6,487 t4 2,275 3,052

Perlakuan 19 (L + F + Mi) Perlakuan 20 (L + F + Me)


F Mi F Me
t0 2,677 0,0117 t0 3,406 0,0142
t1 1,923 0,0303 t1 1,093 0,0109
t2 2,439 0,0127 t2 1,157 0,0096
t3 1,393 0,0337 t3 1,608 0,005
t4 0,902 0,0319 t4 1,333 0,0106

Perlakuan 21 (L + N + Mi) Perlakuan 22 (L + N + Me)


N Mi N Me
t0 2,995 0,0125 t0 2,998 0,0088
t1 3,277 0,034 t1 2,549 0,0021
t2 4,527 0,0235 t2 4,132 0,0012
t3 2,316 0,0231 t3 5,317 0,003
t4 3,845 0,0252 t4 6,894 0,0151

Perlakuan 23 (L + Me + Mi) Perlakuan 24 ( L + Me + F + N)


Mi Me N Me F
t0 0,014 0,0511 t0 3,339 0,0065 2,354
t1 0,012 0,0058 t1 1,816 0,0063 1,257
t2 0,018 0,0063 t2 2,657 0,0096 1,245
t3 0,013 0,0018 t3 3,396 0,005 1,257
t4 0,035 0,0176 t4 2,208 0,0044 1,029
211

Lampiran 9. Lanjutan

Perlakuan 25 (L + Me + Mi+ F) Perlakuan 26 (L + Me + Mi + N)


Me Mi F Me Mi N
t0 0,015 0,0162 0,918 t0 0,01 0,0251 4,021
t1 0,015 0,02 1,233 t1 0,072 0,0168 3,737
t2 0,015 0,0188 1,094 t2 0,01 0,0113 2,657
t3 0,006 0,0134 1,006 t3 0,009 0,0174 3,336
t4 0,009 0,0102 0,415 t4 0,013 0,0136 2,657

Perlakuan 27 (L + Mi + F + N) Perlakuan 28 (L + Me + Mi + F + N)
Mi F N Me Mi F N
t0 0,021 2,6403 2,603 t0 0,034 0,0171 0,854 7,698
t1 0,019 1,2687 3,805 t1 0,013 0,0224 3,243 15,06
t2 0,034 1,0931 2,657 t2 0,01 0,021 4,775 22,45
t3 0,018 0,9939 1,864 t3 0,018 0,0134 5,577 22,38
t4 0,006 0,9301 3,396 t4 0,002 0,011 3,531 19,65
212

Lampiran 10. Matrik korelasi Pearson


salini Nano Mikro Mikro Meso
suhu pH NO3 PO4 NH4 Si larva
tas fito fito zoo zoo
suhu 1 are
Marked correlations -0,2 -0,2 at 0,07
significant 0,41
p < .05000 0,08 -0,11 -0,03 -0,02 0,08 0,33 0,16
pH -0,2 1 0,02 - -0,25 0,2 0,64 0,05 0,07 -0,01 -0,55 -0,43
salinitas -0,2deletion
N=50 (Casewise 0,02of missing 0,16 -0,14
1 data)
0,03 0,07 -0,16 -0,02 -0,05 -0,32 -0,19 -0,01
NO3 0,07 -0,16 0,03 1 0 - 0,21 -0,04 -0,05 0,03 0,01 0,05
PO4 0,41 -0,25 -0,14 0 1 0,34
0,01 -0,32 -0,17 0,07 -0,03 0,27 0,07
NH4 0,08 0,2 0,07 - 0,01 1 -0,17 -0,1 -0,2 -0,05 -0,19 -0,41
Si(OH) -0,11 0,64 -0,16 0,21 0,34 -0,32 - 1 0,03 0,04 0,01 -0,39 -0,11
larva -0,03 0,05 -0,02 - -0,17 0,17
-0,1 0,03 1 -0,05 -0,11 0,3 0,16
nanofito -0,02 0,07 -0,05 0,04- 0,07 -0,2 0,04 -0,05 1 0,15 0,12 0,13
mikrofito 0,08 -0,01 -0,32 0,03 0,05 -0,03 - 0,01 -0,11 0,15 1 0,16 0,08
mikrozoo 0,33 -0,55 -0,19 0,01 0,27 0,05- -0,39 0,3 0,12 0,16 1 0,45
mesozoo 0,16 -0,43 -0,01 0,05 0,07 0,19- -0,11 0,16 0,13 0,08 0,45 1
0,41
213

Lampiran 11. Hasil analisis ragam terhadap peubah suhu

Anova: Two-Factor Without Replication suhu

SUMMARY Count Sum Average Variance


Row 1 5 151,425 30,285 0,072062
Row 2 5 146,46 29,292 3,72857
Row 3 5 151,9 30,38 0,36575
Row 4 5 153,25 30,65 3,78875
Row 5 5 153,25 30,65 3,78875
Row 6 5 152,5 30,5 0,46875
Row 7 5 152,5 30,5 0,46875
Row 8 5 146,625 29,325 0,074375
Row 9 5 150,45 30,09 0,083

Column 1 9 267,91 29,76778 2,244094


Column 2 9 278,95 30,99444 1,513872
Column 3 9 267,375 29,70833 0,305625
Column 4 9 277,1 30,78889 1,362361
Column 5 9 267,025 29,66944 0,486215

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 11,12497 8 1,390621 1,230217 0,313764 2,244396
Columns 15,18266 4 3,795665 3,357847 0,021032 2,668437
Error 36,17237 32 1,130387

Total 62,48 44
214

Lampiran 12. Hasil analisis ragam terhadap peubah salinitas

Anova: Two-Factor Without Replication : salinitas

SUMMARY Count Sum Average Variance


Row 1 10 303 30,3 0,233333
Row 2 10 302 30,2 0,4
Row 3 10 318 31,8 0,177778
Row 4 10 311 31,1 1,433333
Row 5 10 308,5 30,85 0,780556

Column 1 5 151 30,2 0,2


Column 2 5 156 31,2 1,7
Column 3 5 156 31,2 1,7
Column 4 5 152 30,4 0,8
Column 5 5 152 30,4 0,8
Column 6 5 156 31,2 0,7
Column 7 5 156 31,2 0,7
Column 8 5 156 31,2 0,7
Column 9 5 155,5 31,1 0,8
Column 10 5 152 30,4 0,8

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 16,9 4 4,225 8,13369 8,85E-05 2,633532
Columns 8,525 9 0,947222 1,823529 0,097596 2,152607
Error 18,7 36 0,519444

Total 44,125 49
215

Lampiran 13. Hasil analisis ragam terhadap peubah pH

Anova: Two-Factor Without Replication: pH

SUMMARY Count Sum Average Variance


Row 1 5 36,73 7,346 0,00283
Row 2 5 33,74 6,748 0,00832
Row 3 5 37,54 7,508 0,00242
Row 4 5 32,82 6,564 0,00428
Row 5 5 32,82 6,564 0,00428
Row 6 5 33,7 6,74 0,0008
Row 7 5 33,7 6,74 0,0008
Row 8 5 37,36 7,472 0,00397
Row 9 5 36,28 7,256 0,00143
Row 10 5 35,66 7,132 0,02092

Column 1 10 69,9 6,99 0,139844


Column 2 10 69,97 6,997 0,155646
Column 3 10 69,86 6,986 0,141916
Column 4 10 70,23 7,023 0,153823
Column 5 10 70,39 7,039 0,129743

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 6,30965 9 0,701072 140,919 2,52E-25 2,152607
Columns 0,0211 4 0,005275 1,060302 0,390239 2,633532
Error 0,1791 36 0,004975

Total 6,50985 49
216

Lampiran 14. Hasil analisis ragam terhadap peubah NO3-N

Anova: Two-Factor Without Replication : NO3-N

SUMMARY Count Sum Average Variance


Row 1 5 2,026 0,4052 0,058082
Row 2 5 0,57 0,114 0,003244
Row 3 5 0,559 0,1118 0,000103
Row 4 5 0,934 0,1868 0,002519
Row 5 5 1,432 0,2864 0,001035
Row 6 5 0,74 0,148 0,003334
Row 7 5 2,61 0,522 0,443064
Row 8 5 0,487 0,0974 0,001143
Row 9 5 0,728 0,1456 0,018856
Row 10 5 0,487 0,0974 0,001143

Column 1 10 2,322 0,2322 0,040279


Column 2 10 1,774 0,1774 0,02782
Column 3 10 1,542 0,1542 0,005171
Column 4 10 1,874 0,1874 0,015658
Column 5 10 3,061 0,3061 0,239527

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 0,970045 9 0,107783 1,953718 0,074985 2,152607
Columns 0,144046 4 0,036011 0,652758 0,628711 2,633532
Error 1,98605 36 0,055168

Total 3,10014 49
217

Lampiran 15. Hasil analisis ragam terhadap peubah NH4-N

Anova: Two-Factor Without Replication:NH4-N

SUMMARY Count Sum Average Variance


Row 1 5 2,744 0,5488 0,069731
Row 2 5 2,836 0,5672 0,07177
Row 3 5 2,701 0,5402 0,056554
Row 4 5 2,889 0,5778 0,125393
Row 5 5 0,998 0,1996 0,118159
Row 6 5 2,687 0,5374 0,022296
Row 7 5 1,306 0,2612 0,03022
Row 8 5 2,8965 0,5793 0,236336
Row 9 5 3,229 0,6458 0,17253
Row 10 5 3,714 0,7428 0,158756

Column 1 10 4,05 0,405 0,114725


Column 2 10 5,863 0,5863 0,143441
Column 3 10 5,439 0,5439 0,108054
Column 4 10 5,829 0,5829 0,111517
Column 5 10 4,8195 0,48195 0,104445

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 1,228622 9 0,136514 1,225249 0,310634 2,152607
Columns 0,235961 4 0,05899 0,529455 0,714804 2,633532
Error 4,011015 36 0,111417

Total 5,475598 49
218

Lampiran 16. Hasil analisis ragam terhadap peubah PO4-P

Anova: Two-Factor Without Replication: PO4-P

SUMMARY Count Sum Average Variance


Row 1 5 0,146 0,0292 0,000103
Row 2 5 0,121 0,0242 0,000383
Row 3 5 0,192 0,0384 9,73E-05
Row 4 5 0,413 0,0826 0,011773
Row 5 5 0,115 0,023 0,000124
Row 6 5 0,416 0,0832 0,001268
Row 7 5 0,24 0,048 0,000298
Row 8 5 0,113 0,0226 0,000444
Row 9 5 0,141 0,0282 0,000816
Row 10 5 0,113 0,0226 0,000444

Column 1 10 0,38 0,038 0,000433


Column 2 10 0,504 0,0504 0,000999
Column 3 10 0,241 0,0241 0,000371
Column 4 10 0,565 0,0565 0,007111
Column 5 10 0,32 0,032 0,000167

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 0,025736 9 0,00286 1,838686 0,094657 2,152607
Columns 0,00701 4 0,001753 1,126885 0,359213 2,633532
Error 0,055988 36 0,001555

Total 0,088734 49
219

Lampiran 17. Hasil analisis ragam terhadap peubah Si

Anova: Two-Factor Without Replication: Si

SUMMARY Count Sum Average Variance


Row 1 5 7,75 1,55 0,170222
Row 2 5 4,457 0,8914 0,029174
Row 3 5 7,75 1,55 0,170222
Row 4 5 0,283 0,0566 0,003219
Row 5 5 4,812 0,9624 0,157284
Row 6 5 2,164 0,4328 0,010557
Row 7 5 2,784 0,5568 0,247154
Row 8 5 5,04 1,008 0,0115
Row 9 5 4,977 0,9954 0,099502
Row 10 5 5,04 1,008 0,0115

Column 1 10 10,752 1,0752 0,304357


Column 2 10 9,815 0,9815 0,462264
Column 3 10 7,011 0,7011 0,169118
Column 4 10 8,192 0,8192 0,150639
Column 5 10 9,287 0,9287 0,29615

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 9,643848 9 1,071539 13,78236 3,01E-09 2,152607
Columns 0,842443 4 0,210611 2,708923 0,045298 2,633532
Error 2,798895 36 0,077747

Total 13,28519 49