Vous êtes sur la page 1sur 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Supervisi

2.1.1 Pengertian

Supervisi adalah suatu proses kemudahan dalam penyelesaian tugas – tugas keperawatan
(Swansburg & Swansburg, 1999). Sedangkan menurut thora korn supervisi merupakan
merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong,
memperbaiki, mmpercayai, mengevaluasi secara terus menerus pada setiap perawat yang sabar,
adil serta bijaksana.

Supervisi adalah suatu pengamatan atau pengawasan secara langsung terhadap


pelaksananaan pekerjaan yang bersifat rutin (Kuntoro, 2010).

Berdasarkan uraian diatas menyatakan bahwa definisi supervise adalah suatu proses
keperawatan yang dilakukan dengan cara merencanakan, mengarahkan, mengobservasi,
mendorong, mengevaluasi secara terus-menerus pada seorang perawat.

2.1.2 Fungsi supervisor

Menurut Suyanto, 2009. Selain tugas dan kompetensi yang dimiliki oleh seorang
supervisor keperawatan yang memadai, supervisor keperawatan juga harus menyadari fungsi
supervisor itu sendiri sebagai berikut yaitu :

a. Dalam keperawatan fungsi supervisi adalah untuk mengatur dan mengorganisir proses
pemberian pelayanan keperawatan menyangkut pelaksanaan standar asuhan yang telah
disepakati.
b. Fungsi utama supervisi modern adalah menilai dalam memperbaiki faktor-faktor yang
mempengaruhi proses pemberian pelayanan asuhan keperawatan.
c. Fungsi utama supervisi dalam keperawatan adalah mengkoordinasinasikan, menstimulasi
dan mendorong kearah peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
d. Fungsi supervisi adalah membantu (asistensing), member support (supporting) dan
mengajak unyuk diikutsertakan (sharing).

2.1.3 Sasaran Supervisi

Menurut Suyanto, 2009. Sasaran yang harus dicapai dalam supervisi antara lain sebagai
berikut :
a. Pelaksanaan tugas keperawatan
b. Penggunaan alat yang efektif dan ekonomis
c. Sistem dan prosedur yang tidak menyimpang
d. Pembagiaan tugas dan wewenang
e. Penyimpangan/penyelewengan kekuasaan, kedudukan dan keuangan

2.1.4 Tugas Supervisor

Adapun tugas dari supervisior menurut suyanto, 2009 adalah:

a. Mengorientasikan staf dan pelaksana keperawatan terutama pegawai baru.


b. Melatih staf dan pelaksana keperawatan.
c. Memberikan pengarahan dalam pelaksanaan tugas agar menyadari, mengerti terhadap
peran, fungsi sebagai staf dan pelaksana asuhan keperawatan.
d. Memberikan pelayanan bimbingan kepada pelaksana keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan.

2.1.5 Supervisior Keperawatan

Supervisi keperawatan dilaksanakan oleh personil atau bagian yang bertanggung jawab
antara lain:

a. Kepala Ruangan
Bertanggung jawab untuk melakukan supervise pelayanan keperawatan yang diberikan
pada pasien diruang perawatan yang dipimpinnya. Kepala ruangan mengawasi perawat
pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan baik secara langsung maupun tidak
langsung disesuaikan dengan metode penugasan yang diterapkan diruang perawatan
tersebut.
b. Pengawasan Perawatan (Supervisor)
Ruang perawatan dan unit pelayanan yang berada di bawah unit pelaksanaan fungsional
(UNF) mempunyai pengawas yang bertanggung jawab mengawasi jalannya pelayanan
keperawatan.
c. Kepala Bidang Keperawatan
Sebagai top manajer dalam keperawatan, kepala bidang keperawatan bertanggung jawab
untuk melakukan supervise baik secara langsung atau tidak langsung melalui para
pengawas perawatan(suyanto,2009).

2.1.6 Kompetensi Supervisi

Menurut Suyanto, 2009 seorang supervisor keperawatan dalam menjalankan tugasnya


sehari – hari harus memiliki kemampuan dalam:
a. Memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas, sehingga dapat dimengerti oleh staf
dan pelaksana keperawatan.
b. Memberikan saran, nasehat dan bantuan kepada staf dan pelaksana keperawatan.
c. Memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja kepada staf dan pelaksanaan
keperawatan.

2.1.7 Model – Model Supervisi

a. Model Konvesional
Supervisi dilakukan melalui inspeksi langsung untuk menemukan masalah dan kesalahan
dalam pemberian asuhan keperawatan. Supervisi dilakukan untuk mengoreksi kesalahan
dengan memata – matai staf dalam menjalankan tugas.Model ini sering tidak adil karena
hanya melihat sisi negative dari pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan perawat
pelaksana.
b. Model Ilmiah
Supervisi dilakukan dengan pendekatan yang sudah direncanakan sehingga tidak hanya
mencari kesalahan atau masalah saja. Oleh karena itu, supervise yang dilakukan dengan
model ini memiliki karakteristik sebagai berikit:
1) Dilakukan secara berkesinambungan.
2) Dilakukan dengan prosedur, instrument dan standar supervise yang baku.
3) Menggunakan data yang obyektif sehingga dapat diberikan umpan balik dan
bimbingan.
c. Model Klinis
Supervisi model klinis bertujuan untuk membantu perawat pelaksana dalam
mengembangkan profesionalisme sehingga penampilan dan kinerjanya dalam pemberian
asuhan keperawatan meningkat. Supervisi dilakukan secara sistematis melalui
pengamatan pelayanan keperawatan yang diberikan oleh seorang perawat selanjutnya
dibandingkan dengan standar keperawatan.
d. Model Artistik
Supervisi model artistic dilakukan dengan pendekatan personal untuk menciptakan rasa
aman sehingga supervisor dapat diterima oleh perawat pelaksana yang akan disupervisi.
Dengan demikian akan tercipta hubungan saling percaya sehingga hubungan antara
perawat dan supervisor akan terbuka yang mempermudah proses supervise
(Suyanto,2009).

2.1.8 Prinsip Supervisi Keperawatan

Agar seorang manajer keperawatan mampu melakukan kegiatan supervisi secara benar , harus
mengetahui dasar dan prinsip – prinsip supervisi dalam keperawatan menurut kuntoro,2010
yaitu:

a. Didasarkan atas hubungan professional dan bukan hubungan pribadi.


b. Kegiatan yang harus direncanakan secara matang.
c. Bersifat edukatif
d. Memberikan perasaan aman pada perawat pelaksana
e. Mampu membentuk suasana kerja yang demokratis.
f. Harus dilakukan secara objektif
g. Mampu memacu terjadinya penilaian diri (self evaluation).
h. Bersifat progresif, inovatif, fleksibel dan mengembangkan potensi atau kelebihan masing
– masing orang yang terlibat.
i. Bersifat konstruktif dan kreatif dalam mengembangkan diri disesuaikan dengan
kebutuhan.
j. Dapat meningkatkan kinerja bawahan dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan
keperawatan.

2.1.8 Cara Supervisi

Secara teknis supervise dapat dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Dalam
penerapannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta tujuan supervise. Berikut ini
penjelasan cara supervise yaitu:

a. Supervisi Langsung
Supervisi ini dilakukan langsung pada kegiatan yang sedang berlangsung. Pada supervisi
modern, diharapkan supervisior terlibat dalam kegiatan agar pengarahan dan pemberian
petunjuk tidak dirasakan sebagai perintah. Adapun cara memberikan pengarahan yang
efektif adalah:
1) Pengarahan harus lengkap.
2) Mudah dipahami.
3) Menggunakan kata – kata yang tepat.
4) Berbicara dengan jelas dan lambat.
5) Berikan arahan yang logis.
6) Hindari memberikan banyak arahan pada satu waktu.
7) Pastikan bahwa arahan dipahami.
8) Yakinkan bahwa arahan supervisor dilaksanakan sehingga perlu kegiatan tidak
lanjut.
b. Supervisi Tidak Langsung
Supervisi dilakukan melalui laporan tertulis seperti laporan pasien dan catatan asuhan
keperawatan pada setiap shif pagi, sore, dan malam. Dapat juga dilakukan dengan
menggunakan laporan lisan seperti saat timbang terima shif , ronde keperawawatan
maupun rapat dan bilamana memungkinkan memanggil secara khusus para ketua tim dan
kepala ruangan. Supervisor tidak melihat langsung kejadian dilapangan , sehingga
mungkin terjadi kesenjangan fakta. Oleh karena itu klarifikasi dan umpan balik diberikan
agar tidak terjadi salah persepsi dan masalah segera dapat diselesaikan (suyanto,2009).
2.1.9 Kompetensi Yang Dimiliki Supervisor

Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh supervisor menurut kuntoro,2010 adalah:

a. Kompetensi pertama yang harus dikuasai supervisor keperawatan adalah kemampuan


memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas sehingga dapat dimengerti oleh staf dan
perawat pelaksana.
b. Kompetensi kedua adalah bahwa supervisor harus mampu memberikan saran, nasihat,
dan bantuan yang benar – benar dibutuhkan oleh staf dan pelaksana keperawatan.
c. Kompetensi ketiga adalah kemampuan dalam memberikan motivasi untuk meningkatkan
semangat kerja staf dan pelaksana keperawatan.
d. Kompetensi keempat adalah kemampuan memberikan latihan dan bimbingan yang
diperlukan oleh staf dan pelaksana keperawatan.
e. Kompetensi kelima bersinggungan dengan kemamouan dalam melakukan penilaian
secara objektif dan benar terhadap kinerja keperawatan.