Vous êtes sur la page 1sur 14

Apakah NARKOBA itu ?

Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) merupakan istilah yang sudah
tidak asing lagi di telinga kita. NAPZA kerap disebut juga dengan istilah NARKOBA yang
merupakan kependekan dari Narkotika, Psikotropika, dan Bahan berbahaya lain. Sebenarnya,
narkoba adalah senyawa-senyawa yang cukup banyak diperlukan di dalam dunia kesehatan,
industri, dan rumah tangga. Sebagian besar senyawa narkoba bersifat memengaruhi kerja sistem
otak. Oleh karena itu, penggunaannya harus memenuhi aturan-aturan tertentu sebagaimana telah
ditetapkan di dalam Undang-Undang Kesehatan.
Pemakaian narkoba dapat menimbulkan berbagai macam pengaruh, dari yang ringan
sampai berat. Pengaruh yang ringan, misalnya rasa mengantuk dan rasa santai. Pengaruh yang
berat, misalnya pingsan, mabuk, dan bahkan mati. Oleh karena itu, narkoba tidak bisa
dikonsumsi sembarangan tanpa sepengetahuan tenaga medis atau tenaga kesehatan.

NARKOTIKA
Kata Narkotika berasal dari bahasa Inggris yaitu narcotics, yang berarti obat bius.
Dalam bahasa Yunani disebut dengan narkose, yang berarti menidurkan atau membius.
Definisi Narkotika adalah zat atau obat, baik yang berasal dari tanaman, sintetis, atau semi
sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Secara
umum, narkotika mempunyai kemampuan menurunkan dan mengubah kesadaran (anestetik) dan
mengurangi, bahkan menghilangkan rasa nyeri (analgetik). Di dunia pengobatan, senyawa ini
biasa digunakan sebagai obat bius (anestetik) penekan batuk (antitusiva) dan obat penekan rasa
nyeri (analgetika).

PSIKOTROPIKA
Psikotropika merupakan senyawa obat yang bekerja sentral (pada pusat sistem saraf /
otak) dan mampu mempengaruhi fungsi psikis / kejiwaan. Di dunia pengobatan, psikotropika
biasa dipakai sebagai obat penenang bagi pasien stress kejiwaan, obat untuk menurunkan
ketegangan, dan sebagainya. Termasuk di dalam kelompok psikotropika adalah beberapa obat
anti depresan dan halusinogen (pengkhayal). Penggunaan obat ini secara berlebih dapat
mengakibatkan ketergantungan, penurunan aktivitas otak, dan dapat menimbulkan kelainan
tingkah laku yang disertai halusinasi, ilusi, dan gangguan cara berpikir.
Salah satu bentuk “Designer Drugs” adalah 3,4-methylendioxy methamphetamine
(MDMA) yang dikenal dengan nama ecstasy (ekstasi). memiliki daya rusak yang hebat,sebabkan
kematian

BAHAN BERBAHAYA LAINNYA


Bahan Berbahaya Lain adalah bahan kimia yang dapat menimbulkan kecelakaan, seperti
terbakar, karsinogenik (menimbulkan kanker), dapat meracuni, dan sebagainya. Bahan tersebut
seperti lem, bensin, pestisida, alkohol (mengandung etanol), dan lain-lain.
Zat adiktif. Walaupun sifatnya berbeda dengan narkoba, khususnya narkotika dan
psikotropika, zat adiktif mempunyai efek yang hampir sama yaitu dapat menimbulkan
ketergantungan. Seperti kopi, kecap.

PENGGOLONGAN NARKOBA

Penggolongan Narkoba
1. Penggolongan narkotika berdasarkan proses pembuatannya
a. Narkotika alam  narkotika yang dibuat dari bahan alam seperti tumbuhan dan sebagainya.
Jenis-jenis narkotika alam ini antara lain berikut ini:
1)Opium, dihasilkan dari getah tanaman Papaver somniverum. Tanaman ini berbentuk
semak (12 (spesies).
2) Kokain atau candu atau lomarch, dihasilkan dari daun tumbuhan Erythroxyloncoca.
Candu bisa menghasilkan morfin, heroin, dan kodein. Sejak masa penjajahan Belanda,
candu sudah dikenal di Indonesia dan digunakan oleh orang-orang dengan cara dihisap
(madat).
3) Cannabis (ganja), berasal dari tanaman Canabis sativa. Nama lain ganja adalah
marihuana atau mariyuana. Daun ganja mengandung zat kimia/racun yakni THC (Tetra
Hydra-cannabinol), suatu zat elemen aktif yg dianggap sebagai halusinogen
b.Narkotika semi sintetis  narkotika yang disintesis dari alkaloid opium yang memiliki inti
phenanthren. Alkaloid ini kemudian diproses jadi heroin, kodein, dan lain-lain.
c.Narkotika sintetis  narkotika yang dibuat secara laboratoris dengan bahan dasar senyawa
kimia. Cth Leritine dan Nisentil.
2. Penggolongan Narkotika menurut UU Rl No. 22 tahun 1997:
a. Golongan I
Papaverin, Opium, Tanaman Koka, daun koka, dan kokain merah, Heroin dan Mortin,
Ganja
b. Golongan II
Alfasetil metadol,Benzetidin, Beta metadol
c. Golongan III
Asetil dihidrocodeina, Dokstroproposifen, Dihidrocodeina

Penggolongan Psikotropika (Berdasarkan UU Rl No. 5 Th 1997)


1. Psikotropika Golongan I
Mempunyai potensi yang sangat kuat dalam menyebabkan ketergantungan dan dinyatakan
sebagai barang terlarang, misalnya ekstasi (ecstasy). Adapun jenis psikotropika golongan I
lainnya antara lain: MDMA, N-etil MDA , LCD, DOM
2. Psikotropika Golongan II
Golongan ini mempunyai potensi kuat dalam menyebabkan sindroma ketergantungan. Contoh
a. Ampetamin c.fenetilina
b. Metampetamin d. Fleksiklidine
3. Psikotropika Golongan III
Golongan ini berpotensi sedang dalam menyebabkan sindroma ketegantungan. Contohnya:
a. Amorbarbital c. Butalbital
b. Brupronorfina d.Flunitrazepam/ Rohipnol / Mogadon.
4. Psikotropika Golongan IV
Golongan IV mempunyai potensi ringan dalam menyebabkan sindroma ketergantungan.
Contoh
a. Diazepam (valium) e. Bromazepam (lexotan)
b. Nitrazepam f. Estazolam (esilgan)
c. Nordazepam g. Frisium.
d. Alprazolam (xanax)
Penggolongan Bahan Berbahaya Lain
1. Golongan 1
Bahan berbahaya golongan 1 sangat berbahaya, baik secara langsung maupun tidak langsung
dengan tingkat bahaya yang cukup luas serta sulit penanganannya, contohnya pestisida.
2. Golongan 2
Bahan berbahaya golongan 2 adalah bahan yang mudah meledak. Contoh bahan ini adalah
minuman keras serta bahan bakar, seperti bensin dan spiritus.
3. Golongan 3
Bahan berbahaya golongan 3 adalah bahan karsinogenik (dapat menimbulkan kanker) dan
mutagenik (dapat menimbulkan mutasi atau kecacatan). Contoh bahan ini adalah zat pewarna
tekstil, pewarna makanan, dan pemanis makanan.
4. Golongan 4
Bahan berbahaya golongan 4 adalah bahan korosif (dapat menimbulkan luka atau iritasi),
contohnya beberapa bahan kosmetika dan bahan untuk pengobatan atau kesehatan.

Penggolongan Zat Adiktif


Zat adiktif adalah zat-zat atau obat-obat yang dapat menimbulkan ketergantungan, selain
ketiga jenis di atas. Zat-zat yang termasuk dalam kategori ini adalah Inhalasia, Nikotin, dan
Kafein.
Bahan-bahan Inhalasia adalah larutan-larutan yang mudah menguap. Contoh bahan yang
termasuk inhalasia adalah: lem, aerosol, cat semprot, hairspray, pengharum ruangan, deodoran,
gas cair, penghilang cat kuku, pengencer cat, toluene murni, cairan pengisi korek api, bensin,
pembersih karburator, cairan dry cleaning, penghilang noda, penghilang minyak, gas nitrous
oksida (gas tertawa), butana, propana, helium, serta bahan anestesi / pembius, contohnya: nitrous
oksida, ether, dan chloroform.

Minuman keras (minuman beralkohol) juga termasuk zat adiktif. Jenis minuman keras
sendiri dibagi menjadi 3 golongan sebagai berikut.
1. Minuman keras golongan A yaitu minuman berkadar alkohol 1% - 5%, contohnya Bir.
2. Minuman keras golongan B yaitu minuman berkadar alkohol 5% - 20%, contohnya Anggur.
3. Minuman keras golongan C yaitu minuman berkadar alkohol 20% - 50%, contohnya Whisky
dan arak.

Dasar Hukum Penyalahgunaan Narkotika

Penggunaan narkotika diatur di dalam UU Rl No. 22 tahun 1997 tentang narkotika.


Berdasarkan undang-undang tersebut, penyalahgunaan narkotika diklasifikasikan ke dalam tiga
kategori sebagai berikut:
1. Pengguna
Pengguna narkotika dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan pasal 85 UU Rl No. 22
tahun 1997, dengan ancaman hukuman paling lama 4 tahun.
2. Pengedar
Pengedar yang memperjualbelikan narkotika dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan
pasal 81 dan 82 UU Rl No. 22 tahun 1997, dengan ancaman hukuman maksimal 20
tahun/seumur hidup/mati/denda,
3. Produsen
Produsen (pembuat) narkotika dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan pasal 80 UU
Rl No. 22 tahun 1997 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun / seumur hidup / mati /
denda.
Dasar Hukum Penyalahgunaan Psikotropika
Penggunaan zat psikotropika diatur di dalam UU RI No.5 tahun 1997 tentang
psikotropika. Penyalahgunaan psikotropika juga diklasifikasikan ke dalam 3 kategori sebagai
berikut :
1. Pengguna
Pengguna psikotropika dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan pasal 59 dan 62 UU
RI No. 5 tahun 1997, dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 15 tahun
ditambah denda.

2. Pengedar
Pengedar psikotropika dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan pasal 59 dan 60 UU RI
No. 5 tahun 1997, dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun ditambah denda.
3. Produsen
Produsen psikotropika dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan pasal 80 UU RI No.5
tahun1997, dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun ditambah denda.

Penyebab Penyalahgunaan Narkoba

1. Faktor Internal  berasal dari dalam diri seseorang


a. Keluarga
 Hubungan dengan keluarga kurang harmonis (broken home), maka seseorang akan lebih
mudah merasa, putus asa dan frustasi, akhirnya mencari kompensasi di luar rumah
dengan menjadi konsumen narkoba.
 Kurangnya perhatian dari anggota keluarga dan kurangnya komunikasi antar anggota
keluarga akan membuat seseorang merasa kesepian, dan tidak berguna sehingga
menjadi lebih suka berteman dengan kelompok (geng) yang terdiri dari teman-teman
sebaya. Dan mungkin teman tersebut ada yang menjadi pengguna narkoba
b. Ekonomi
 Kesulitan mencari pekerjaan sering menimbulkan keinginan untuk bekerja menjadi
pengedar narkoba.
 Di lain pihak, seseorang yang secara ekonomi cukup mampu, tetapi kurang
memperoleh perhatian yang cukup dari keluarga atau masuk ke dalam lingkungan
pergaulan yang salah, akan lebih mudah terjerumus menjadi pengguna narkoba.
c. Kepribadian
Kepribadian kurang baik, labil, dan mudah dipengaruhi orang lain, maka akan lebih mudah
terjerumus ke dalam jurang narkoba. Bagus tidaknya kepribadian juga sangat dipengaruhi
oleh dasar pemahaman agama dan keyakinan. Semakin taat kita beribadah, maka pribadi
kita juga semakin bagus dan tentu saja tidak mudah terseret arus untuk ikut
menyalahgunakan narkoba.
Berikut beberapa hal yang dapat menyeret orang yang kepribadiannya kurang kuat ke dalam
lembah narkoba.
1) Adanya kepercayaan bahwa narkoba dapat mengatasi semua persoalan.
2) Harapan dapat memperoleh “kenikmatan” dari efek narkoba untuk menghilangkan rasa
sakit/ketidaknyamanan yang dirasakan.
3) Merasa kurang/tidak percaya diri.
4) Bagi generasi muda, adanya tekanan kelompok sebaya untuk dapat diterima/diakui dalam
kelompoknya.
5) Pada usia remaja, kemampuan mereka untuk menolak ajakan negatif dari teman umumnya
masih rendah,, keinginan yang sangat kuat untuk mencoba hal baru.
6) Sebagai pernyataan sudah dewasa atau ikut zaman (mode).
7) Coba-coba ingin tahu.

2. Faktor Eksternal  dari luar diri, pengaruhnya cukup kuat


a. Pergaulan
Kalau seseorang bergaul sembarangan, masuk ke dalam pergaulan anak-anak nakal yang
menjadi pengguna narkoba, bisa berakibat fatal. Terlebih lagi bagi seseorang yang memiliki
mental dan kepribadian cukup lemah, pasti akan mudah terjerumus..
b. Sosial/Masyarakat
Anak-anak dan remaja yang tinggal di lingkungan yang masyarakatnya sebagian besar
bukan orang baik-baik, juga akan lebih suka berbuat menyalahi hukum, misalnya menjadi
pengedar narkoba dan minum minuman keras dapat menjerumuskan orang itu menjadi
pemakai narkoba.

Gejala dan Akibat Penggunaan Narkoba


Bentuk gejala dan perilaku akibat penyalahgunaan narkoba sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain: konsentrasi obat dan jenis pelarut, riwayat pemakaian obat sebelumnya, dan
ada tidaknya rasa sakit sebelumnya.
Gejala Umum Penanda bagi Pemakai Narkoba
Pada pemakaian awal narkoba, umumnya akan menimbulkan rasa tidak nyaman seperti mual,
muntah, pusing, pandangan kabur (kesadaran berkurang), dan rasa gelisah. Apabila kita
menggunakan obat yang bersifat analgetik (jenis narkotika), dapat menimbulkan rasa senang
yang berlebihan dan perasaan melayang (fly). Untuk jenis psikotropika, gejala awal yang timbul
antara lain khayalan yang indah-indah, rasa tenang, dan percaya diri.
Untuk zat adiktif dan bahan berbahaya lain, gejalanya beragam tergantung jenis bahan yang
dipakai. Pada umumnya, gejala awal pemakaian narkoba memang mengenakkan dan
menyenangkan.
Perubahan Psikis/Kejiwaan dan fisik karena Narkoba
Perubahan psikis dan perilaku seperti :
1. Menjadi introvert (tertutup).
2. Tidak dapat mengontrol emosi.
3. Suka mencuri.
4. Berbohong.
5. Kasar dan tidak sopan.
6. Acuh dan jorok.
7. Perubahan teman bermain
8. Pola makan/tidur berubah.
9. Penurunan prestasi belajar.
10. Bicara pelo (tidak jelas) serta jalannya sempoyongan.
11. Perubahan fisik, misalnya kurus dan berwajah kuyu.
Perubahan-perubahan fisik kebanyakan menggambarkan fisik atau tubuh yang tidak sehat,
seperti berikut:
1. Muka pucat dan pandangan kosong.
2. Tubuh kurus karena hilangnya nafsu makan (anoreksia).
3.Daya tahan tubuh menurun, sering batuk, pilek, dan kedinginan.
4. Mata terus-menerus berair, hidung dan mulut menjadi kering
5. Tidak suka mandi dan sering berpakaian tidak rapi.
6. Sering menggunakan baju panjang (karena terdapat banyak bekas tanda goresan di
lengannya).

Efek Narkoba pada Tubuh


Pada para pemakai narkoba/napza yang sudah menggunakannya dalam jangka panjang atau
pada para pemakai yang berada dalam kondisi over dosis efeknya lebih berat. Pada orang-orang
itu sering ditemukan kerusakan pada berbagai organ penting dalam tubuh. Efek narkoba dapat
merusak otak, paru, iantung, lever, lambung, alat reproduksi, ginjal, dan darah, serta sistem
hormonal dan pertahanan tubuh.
1. Pada otak  perdarahan pada pembuluh darah otak (stroke).
2. Pada paru  bronkhitis, asma, kegagalan pernafasan.
3. Pada jantung  gagal iantung dan infark miocard (MCI).
4. Pada hati  hepatitis dan kanker hati (cirrhosis).
5. Pada lambung  perdarahan lambung.
6. Pada alat reproduksi  impotensi, keguguran, mandul, sitilis, dan Gonorhea, perubahan gen
sel-sel rerpoduksi
7. Pada ginjal  gagal ginjal.
8. Pada darah  anemia (kurang darah),
9. Pada sistem hormonal gangguan menstruasi.
10.Pada sistem pertahanan tubuh  penyakit HlV/AIDS.

Gejala Putus Obat


Gejala putus obat (sakaw) sering ditemukan pada para pemakai narkoba yang menghentikan
pemakaian secara tiba-tiba. Gejala-gejala tersebut sangat bervariasi, tergantung dari jenis obat
yang dipakai. Sakaw ditandai dengan gejala-gejala berikut:
1. Nyeri pada otot tulang dan persendian yang luar biasa (terutama pada pemakai putauw).
2. Gelisah dan curiga yang berlebihan serta sangat reaktif (pada pemakai shabu-shabu).
3. Hidung dan mata selalu berair.
4. Nafas menjadi cepat dan pendek.
5. Bersin-bersin, sering menguap, dan banyak keringat.
6. Mual-mual, Muntah, Diare
9. Kadang-kadang melukai diri sendiri.
Over Dosis
Over dosis (OD) atau kelebihan dosis terjadi apabila tubuh mengabsorbsi (menyerap) obat
lebih dari kemampuan tubuh mengkonsumsi obat (lethal dosage). OD sering terjadi pada
pengguna narkoba golongan narkotika. Terutama yang menggunakan narkotika bersamaan
dengan alkohol dan obat tidur / anti depresan, misalnya golongan barbiturat luminal, valium,
xanax, dan mogadon / BK.
Gejala-gejala pemakaian narkoba yang berlebihan dapat diamati pada terjadinya perubahan
fisik, emosi, dan perilaku.
1. Fisik
a. Berat badan turun drastis
b. Mata cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitaman
c. Tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda
bekas luka sayatan, goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntik
d. Buang air besar dan kecil kurang lancar,
e. Sembelit atau sakit perut tanpa sebab yang jelas
2. Emosi
a. Sangat sensitif dan cepat bosan
b.Membangkang, bila ditegur atau dimarahi
c. Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap
anggota keluarga atau orang di sekitarnya
d. Nafsu makan tidak menentu, bisa hilang
3. Perilaku
a. Malas dan sering melupakan t j dan tugas-tugas rutinnya
b. Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
c. Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit, dan pulang
lewat tengah malam
d.Suka mencuri uang,serta menggadaikan barang-barang berharga di rumah.
e. Selalu kehabisan uang
f. Waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap,
kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya
g.Takut akan air, (terasa sakit kena air)  malas mandi
h. Batuk-batuk dan pilek berkepanjangan (gejala “putus obat”)
i. Sikapnya cenderung jadi manipulatif
j. Sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai alasan.
k. Mengalami jantung berdebar-debar
l. Sering menguap, mimpi buruk
m. Mengeluarkan air mata, keringat berlebihan
p. Mengalami nyeri kepala, pegal linu pada sendi-sendi.
Jalan Keluar dari Narkoba

Penaggulangan narkoba Secara Preventif (Pencegahan)


Penyalahgunaan narkoba dapat dicegah dengan cara-cara berikut.
1. Meningkatkan keharmonisan hubungan antaranggota keluarga. Hubungan komunikasi
antaranggota keluarga yang lebih baik dapat menurunkan risiko penyalahgunaan narkoba.
Apabila seluruh keluarga saling memberi perhatian penuh kepada kita, kita akan merasa
nyaman dan tenang, tidak ingin bersikap aneh-aneh apalagi mencoba-coba narkoba.
2. Memperbanyak kegiatan yang bermanfaat. Dengan berkegiatan positif, kita akan merasa
terhibur dan tidak merasa frustasi. Waktu kita juga sudah padat dengan kegiatan, jadi tidak
mungkin iseng memakai narkoba.
3. Memilih pergaulan dan tidak mudah terpengaruh oleh bujukan orang lain, termasuk bujukan
teman sebaya. Pada umumnya, para pengedar atau produsen narkoba, awalnya berusaha
membujuk dan merayu calon pemakai (korbannya) dengan cara memberi si calon korban
secara gratis. Namun, setelah si korban narkoba telah masuk ke dalam taraf ketagihan, apalagi
sampai mengalami sakaw, maka si produsen dan pengedar akan menarik biaya konsumsi
narkoba tersebut, yang akhirnya tidak hanya mencekik korban narkoba secara fisik, melainkan
juga secara ekonomi. Kemudian, agar kita tidak mudah terbawa arus lingkungan, sebaiknya
berusaha untuk tidak masuk ke dalam kelompok-kelompokyang sekiranya bisa menyeret kita
ke dalam lembah narkoba.
4. Menghindari rokok. Awal masuknya pengaruh narkoba biasanya adalah melalui rokok, karena
itu berhati-hatilah apabila ada salah seorang menawarkan rokok kepada kita. Alangkah
baiknya kalau kita menghindari rokok. Merokok tidak banyak manfaatnya, bahkan hanya
mempertipis uang saku kita.
5. Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan. Iman dan takwa sangat berperanan dalam
pencegahan tindak penyalahgunaan narkoba. Dengan semakin kuat iman dan takwa kita, kita
semakin takut akan dosa, takut melanggar perintah Tuhan, dan selalu ingin berbuat baik. Rasa
takut terhadap dosa tersebut mampu menghindarkan diri kita dari penyalahgunaan narkoba.
Penanggulangan Narkoba secara Kuratif (Penyembuhan)

Untuk keadaan darurat, pertolongan pertama terhadap penderitaan yang dialami pemakai
narkoba dapat dilakukan. Caranya, pemakai dimandikan dengan air hangat, diberi banyak
minum, diberi makanan bergizi dalam jumlah sedikit, tetapi sering, dan dialihkan perhatiannya
dari narkoba. Bila usaha ini tidak berhasil, perlu mendapat pertolongan dokter. Pengguna harus
diyakinkan bahwa gejala-gejala sakaw mencapai puncak dalam 3-5 hari dan setelah 10 hari
gejala itu akan hilang.
Upaya kuratif bagi pemakai narkoba secara lebih rinci dilaksanakan melalui beberapa
tahapan berikut.
1. Penatalaksanaan secara Supportif
Terapi dilakukan pada pengguna yang telah mengalami gejala over dosis maupun sakaw.
Jika terapi tidak segera dilakukan, pengguna yang telah over dosis dan pengguna dalam
kondisi sakaw tersebut dapat meninggal dunia. Terapi dapat dilakukan dengan resusitasi
jantung dan paru.
2. Detoksifikasi
Terapi dengan cara detoksifikasi (menghilangkan racun di dalam darah) dapat dilakukan
secara medis dan nonmedis. Secara medis, terapi detoksifikasi dilakukan dengan:
- Pengurangan dosis secara bertahap dan mengurangi tingkat ketergantungan.
- Menggunakan antagonis morfin  untuk mempercepat proses neuroregulasi (pengaturan
kerja saraf).
- Melakukan penghentian total. Namun, cara ini cukup berbahaya karena dapat menimbulkan
gejala putus obat (sakaw) sehingga pada cara ini perlu diberi terapi untuk menghilangkan
gejala-gejala yang timbul. Detoksifikasi nonmedis yang sering dilakukan adalah dengan
cara-cara yang kurang manusiawi, seperti disiram air dingin, dipasung; dan lain
sebagainya.
3. Rehabilitasi
Setelah menjalani detoksifikasi hingga tuntas (tes urin sudah negatif yaitu pada urin sudah
tidak ditemukan sisa narkoba), tubuh pemakai secara fisik memang tidak "ketagihan" lagi.
Namun secara psikis, pada bekas pemakai narkoba biasanya sering timbul keinginan terhadap zat
tersebut yang terus membuntuti alam pikiran dan perasaannya. Akibatnya, bekas pemakai/
pecandu narkoba sangat rentan dan sangat besar kemungkinan kembali mencandu dan terjerumus
lagi. Untuk itu, setelah detoksifikasi perlu juga dilakukan proteksi lingkungan dan pergaulan
yang bebas dari lingkungan pecandu, misalnya dengan cara memasukkan mantan pecandu ke
pusat rehabilitasi.
Rehabilitasi agar dilakukan pada pasien yang telah menempuh proses pengobatan, agar dapat
kembali ke dalam kondisi seperti semula. Rehabilitasi atau pemulihan ini mencakup rehabilitasi
secara fisik dan mental/psikis serta rehabilitasi secara sosial seperti memperbaiki hubungan
dengan keluarga, teman-teman, dan orang-orang lain di lingkungan sekitar.
Di beberapa tempat rehabilitasi, biasanya digunakan sistem pendekatan secara kekeluargaan,
misalnya dengan menelusuri latar belakang pasien narkoba, apa yang menyebabkan pasien
menjadi konsumen narkoba, dan sebagainya. Dengan demikian, jika proses rehabilitasi tersebut
berhasil, pasien dapat kembali sembuh secara fisik, kejiwaan (psikis), dan sosial.
Pengobatan di Rumah Rehabilitasi
1. Tahap I: Detoksifikasi
Detoksifikasi merupakan satu cara untuk menghilangkan racun-racun obat dari tubuh si
penderita kecanduan narkoba. Proses ini dapat dilakukan melalui cara-cara berikut:
a. Cold Turkey (abrupt withdrawal) yaitu proses penghentian pemakaian narkoba secara tiba-
tiba, tanpa disertai dengan substitusi antidotum.
b. Bertahap atau substitusi bertahap, misalnya dengan kodein, methadone, CPZ, atau clocaril
yang dilakukan secara tapp off (bertahap) selama 1 - 2 minggu.
c. Rapid Detoxification, cara yang dilakukan dengan anestesi umum (6 -12 jam).
d. Simtomatik, cara detoksifikasi yang dilakukan sesuai gejala yang dirasakan pemakai
narkoba.
2. Tahap II: Deteksi Sekunder Infeksi
Pada tahap ini, biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dan tes penunjang
yang lain. Tujuan tahap ini adalah untuk mendeteksi penyakit atau kelainan yang menyertai
para pecandu narkoba. Contohnya, hepatitis (B/C/ D), AIDS, TBC, jamur, serta sexual
transmitted disease (penyakit menular seksual), seperti sipilis, GO, dan lain-lain.
Jika dalam pemeriksaan ditemukan penyakit di atas, biasanya langsung dilakukan
pengobatan medis, sebelum pasien dikirim ke rumah rehabilitasi medis. Hal ini perlu untuk
mencegah terjadinya penularan penyakit pada para penderita yang lain atau tenaga kesehatan
yang ada di tempat rehabilitasi.

3. Tahap III: Rehabilitasi


Prinsip perawatan di setiap rumah rehabilitasi medis yang ada di Indonesia sangat
beragam. Ada yang menekankan pengobatan hanya pada prinsip medis, ada pula yang lebih
menekankan pada prinsip rohani. Ada juga tempat rehabilitasi pecandu narkoba yang
menggunakan prinsip pengobatan dengan cara memadukan kedua pendekatan tersebut dalam
komposisi yang seimbang.
Proses rehabilitasi ini biasanya dilakukan secara rawat inap, dalam jangka waktu 3 bulan
sampai dengan 1 atau 2 tahun. Perawatan ini cukup memakan biaya, yaitu biaya per orang
kurang lebih 3-8 juta rupiah per bulan.
4. Tahap IV: Purnarawat (Aftercare)
Sebelum kembali ke masyarakat, para penderita yang baru sembuh akan ditampung di
sebuah lingkungan khusus. Biasanya, lingkungan tersebut dibangun oleh swasta, jurnalis,
kelompok agama, atau LSM. Penderita yang baru sembuh tersebut tinggal di lingkungan ini
selama beberapa waktu tertentu, sampai pasien siap secara mental dan rohani kembali ke
lingkungannya semula. Hal ini dilakukan karena sebagian besar penderita umumnya putus
sekolah dan tidak mempunyai kemampuan intelejensia yang memadai. Akibatnya, banyak di
antara mereka menjadi rendah din setelah keluar dari rumah rehabilitasi.
Lamanya proses aftercare dapat bervariasi, biasanya dilakukan antara 3 bulan sampai 1
tahun. Dari keempat tahap pengobatan, aftercare merupakan tahap yang terpenting dan sangat
menentukan untuk mencegah si penderita kembali ke lingkungannya yang semula.
Pada kenyataannya berdasarkan data statistik, tingkat keberhasilan dalam penanganan kasus
ketergantungan narkoba secara medis tidak optimal (hanya 15-20%). Namun, upaya tersebut
perlu dilakukan dan selalu dikembangkan karena dapat mengurangi dampak buruk narkoba
secara keseluruhan.