Vous êtes sur la page 1sur 14

APENDISITIS

Laporan Pendahuluan

Untuk memenuhi tugas perbaikan matakuliah Keperawatan Medikal Bedah


yang dibina oleh Ibu Maria Dyah C T, S. Kep. Ns. M. Kep. Sp.KMB

Oleh

Maria Anindyta Widiasti


1401460010

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN MALANG
PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN MALANG
FEBRUARI 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkat, rahmat, taufik, dan karuniaNya, sehingga laporan pendahuluan
yang penulis buat ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Adapun tujuan
penulisan laporan pendahuluan ini adalah untuk memenuhi tugas perbaikan mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah. Adapun judul dari laporan pendahuluan ini
adalah “APENDISITIS”.
Berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya laporan
pendahuluan ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Karena itu, sudah
sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Rudi Hamarno S,kep Ns M, Kep selaku kepala Program Studi DIV
Keperawatan Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
2. Ibu Maria Dyah C T, S. Kep. Ns. M. Kep. Sp.KMB selaku dosen pembimbing
pada mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah.
Kami memohon maaf apabila ada kekurangan-kekurangan dalam pembuatan
laporan pendahuluan ini. Karena kami hanya manusia biasa yang tidak luput dari
kesalahan. Jadi kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan
pendahuluan ini.

Penulis
A. Anatomi Fisiologi
Fungsi apendiks tidak diketahui. Apendiks menghasilkan lender 1-2 ml/hari.
Lender secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke
secum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada
patogenisasi apendiksitis. Diperkirakan apendiks mempunyai peranan dalam
mekanisme imunologik. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT
(Gut Associated Lympoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna
termasuk apendiks ialah Ig A. immunoglobulin itu sangat efektif sebagai
pelindung terhadap infeksi. Namun pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi
system imun tubuh sebab jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika
dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh. (Wijaya & Putri,
2013: 88)
B. Definisi
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
(apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum (cecum). Infeksi ini bisa
mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera
untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.
Klasifikasi apendisitis terbagi atas 3, yakni:
- Apendisitis akut adalah radang mendadak umbai cacing yang memberikan
tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsangan peritoneum local.
- Apendisitis rekurens
- Apendisitis kronis (NANDA, 2015: 47)
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis. (Grace, 2006: 107)
C. Etiologi
Menurut klasifikasi:
1. Apendisitis akut merupakan infeksi yang disebabkan oleh bacteria. Dan faktor
pencetusnya disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks. Selain itu hyperplasia
jaringan limfa, fikalit (tinja/batu), tumor apendiks, dan cacing askaris yang
dapat menyebabkan sumbatan dan juga erosi mukosa apendiks karena parasit
(E. hystolytica).
2. Apendisitis rekurens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan bawah
yang mendorong dilakukannya apendiktomi. Kelainan ini terjadi bila serangan
apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun apendisitis tidak pernah
kembali kebentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut.
3. apendisitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan bawah > 2
minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik (fibrosis
menyeluruh di dinding apendiks, sumbatan parsial atau lumen apendiks, adanya
jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan infiltasi sel inflamasi kronik), dan
keluhan menghilang setelah apendiktomi. (NANDA, 2015: 47)
Selain itu, etiologi menurut buku Keperawatan Medikal Bedah, adalah:
1. Ulserasi pada mukosa
2. Obstruksi pada colon oleh fecalit (faeses yang keras)
3. Pemberian barium
4. Berbagai macam penyakit cacing
5. Tumor
6. Striktur karena fibrosis pada dinding usus (Wijaya & Putri, 2013: 89)
D. Epidemiologi
Merupakan kedaruratan bedah paling sering di negara-negara Barat. Jarang terjadi
pada usia < 2 tahun, tetapi banyak terjadi pada decade kedua dan ketiga, tetapi
dapat terjadi pada semua usia. (Pierce & Borley, 2006: 107)
E. Manifestasi Klinik
Gejala awal yang khas yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri
samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilicus atau
periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang
muntah, dan pada umunya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam,
nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri
terasa lebih tajam dan jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic setempat.
Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.
Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi.
(NANDA, 2015: 47)
Menurut buku Keperawatan Medikal Bedah, tanda awal dari apendisitis adalah
nyeri mulai di epigastrium/region umbilicus disertai mual dan anoreksia.
- Nyeri pindah ke kanan bawah (yang akan menetap dan diperberat bila berjalan
atau batuk) dan menunjukkan tanda rangsangan peritoneum local di titik Mc.
Burney: nyeri tekan, nyeri lepas, defans msukuler.
- Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung
- Nyeri pada kuadran kanan bawah saat kuadran kiri bawah ditekan (Rovsing
sign).
- Nyeri kanan bawah bila tekanan disebelah kiri dilepas (Blumberg).
- Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti napas dalam, berjalan,
batuk, mengedan.
- Nafsu makan turun
- Demam yang tidak terlalu tinggi
- Biasanya terdapat konstipasi, tapi kadang-kadang terjadi diare.
Gejala-gejala permulaan pada apendiksitis yaitu nyeri atau perasaan tidak enak
sekitar umbilicus diikuti anoreksia, nausea dan muntah, gejala ini umumnya
berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri bergeser ke
kuadran kanan bawah dan mungkin terdapat nyeri tekan sekitar titik Mc. Burney,
kemudian dapat timbul spasme otot dan nyeri lepas. Biasanya ditemukan demam
ringan dan leukosit meningkat bila rupture apendiks terjadi nyeri sering sekali
hilang secara dramatis untuk sementara. (Wijaya & Putri, 2013: 90)
F. Pathway (NANDA, 2015: 51)

Invasi dan multiplikasi Hipertermi Febris

APPENDICITIS Kerusakan control suhu


Peradangan pada jaringan
terhadap inflamasi
Operasi Secresi mucus berlebih
pada lumen apendik

Luka incisi Ansietas


Apendic teregang

Kerusakan jaringan Pintu masuk kuman

Ujung saraf terputus Resiko Infeksi

Pelepasan prostaglandin Kerusakan Integritas


Jaringan

Stimulasi dihantarkan
Spasme dinding apendik Tekanan
Spinal cord intraluminal lebih
dari tekanan vena
Nyeri
Cortex cerebri
Nyeri di persepsikan Hipoksia jaringan apendik

Anestesi
Ulcerasi

Resiko Ketidakefektifan Perforasi


perfusi gastrointestinal

Turunnya peristaltic Depresi system Reflek batuk menurun


usus respirasi

Ketidakefektifan jalan Akumulasi sekret


Distensi abdomen napas
Anoreksia

Gangguan rasa nyaman Mual dan muntah


Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
Resiko Kekurangan Volume Cairan
kebutuhan tubuh
G. Pemeriksaan Diagnostik
- Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi: akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut
dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
2. Palpasi: didaerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa nyeri dan bila
tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana
merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.
3. Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat/tungkai diangkat
tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah (psoas sign).
4. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila
pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga.
5. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
6. Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji psoas akan positif dan tanda
perangsangan peritoneum tidak begitu jelas, sedangkan bila apendiks terletak
di rongga pelvis maka obturator sign akan positif dan tanda perangsangan
peritoneum akan lebih menonjol. (NANDA, 2015: 49)
- Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000-18.000/mm3.
Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks
sudah mengalami perforasi (pecah).
- Pemeriksaan Radiologi
1. Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit.
2. Ultrasonografi (USG), CT Scan
3. Kasus kronik dapat dilakukan rontgen foto abdomen, USG abdomen, dan
apendiko-
gram (NANDA, 2015: 49)
- Pemeriksaan colok dubur: menyebabkan nyeri apabila di daerah infeksi bisa
dicapai dengan jari telunjuk (Wijaya & Putri, 2013: 91)
- Laparoskopi biasanya digunakan untuk menyingkirkan kelainan ovarium
sebelum dilakukan apendisektomi pada wanita muda. (Pierce & Borley, 2006:
107)
H. Penatalaksanaan
Tata laksana apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendiktomi.
Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi. Teknik
laparoskopik, apendektomi laparoskopik sudah terbukti menghasilkan nyeri pasca
bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan angka kejadian infeksi
luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat peningkatan kejadian abses intra
abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi itu dikerjakan untuk
diagnose dan terapi pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita.
(NANDA, 2015: 50)
I. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada apendiksitis adalah
1. Infeksi luka
2. Abses intra abdomen
3. Perlekatan
4. Aktinomikosis abdomen
5. Piemia porta (Pierce & Borley, 2006: 107)
6. Perforasi
7. Peritonitis (Wijaya & Putri, 2013: 92)
J. Asuhan Keperawatan (Wijaya & Putri, 2013: 92)
1. Pengkajian
Riwayat: umur, jenis kelamin, riwayat pembedahan, riwayat medic lainnya,
pemberian barium baik lewat mulut/rectal, riwayat diit terutama makanan yang
berserat.
Riwayat kesehatan:
- Keluhan utama: pasien biasanya mengeluh nyeri di sekitar epigastrium
menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan nyeri perut kanan bawah
mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium
dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-
menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama.
- Riwayat kesehatan sekarang: selain mengeluh nyeri pada daerah
epigastrium, keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual,
muntah dan panas.
- Riwayat kesehatan masa lalu: biasanya berhubungan dengan masalah
kesehatan klien sekarang, bisa juga penyakit ini sudah pernah dialami oleh
pasien sebelumnya.
- Riwayat kesehatan keluarga: biasanya penyakit apendisitis ini bukan
merupakan penyakit keturunan, bisa dalam anggota keluarga ada yang
pernah mengalami sakit yang sama dengan pasien bisa juga tidak ada yang
menderita penyakit yang sama seperti yang dialami pasien sebelumnya.

Data Subyektif
Sebelum Operasi
- Nyeri daerah pusar menjalar ke daerah perut kanan bawah
- Mual, muntah, kembung
- Tiak nafsu makan, demam
- Tungkai kanan tidak dapat diluruskan
- Diare atau konstipasi
Sesudah Operasi
- Nyeri daerah operasi
- Lemas
- Haus
- Mual, kembung
- Pusing

Data Obyektif
Sebelum Operasi
- Nyeri tekan di titik Mc. Burney
- Spasme otot
- Takikardi, takipnea
- Pucat, gelisah
- Bising usus berkurang atau tidak ada
- Demam 38-38,5oC
Sesudah Operasi
- Terdapat luka operasi di kuadran kanan bawah abdomen
- Terpasang infuse
- Terdapat drain/pipa lambung
- Bising usus berkurang
- Selaput mukosa mulut kering

Pemeriksaan Laboratorium
- Leukosit: 10.000-18.000/mm3
- Netrofil meningkat 75%
- WBC yang meningkat sampai 20.000 mungkin indikasi terjadinya perforasi

Data Pemeriksaan Diagnostik


- Radiologi: foto colon yang memungkinkan adanya fecalit pada katup
- Barium enema: apendiks terisi barium hanya sebagian
2. Diagnose Keperawatan
a. Nyeri abdomen berhubungan dengan obstruksi dan peradangan apendiks
b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia
c. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan luka pembedahan
d. Hipertermia berhubungan dengan respon sistemik dari inflamasi
gastrointestinal
e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis, ketidakmampuan mencerna makanan
f. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
g. Gangguan rasa nyaman
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan/Kriteria Rencana Tindakan
Keperawatan
1 Nyeri abdomen Setelah diberikan a. Kaji TTV
berhubungan intervensi b. Kaji keluhan nyeri,
dengan obstruksi keperawatan selama tentukan lokasi, jenis
dan peradangan 3x 24 jam diharapkan dan intensitas nyeri.
apendiks nyeri berkurang. c. Jelaskan penyebab rasa
Kriteria: sakit, cara mengurangi
- Klien d. Beri posisi ½ duduk
mengungkap-kan untuk mengurangi
rasa sakit penyebaran infeksi
berkurang pada abdomen
- Wajah dan posisi e. Ajarkan teknik
tubuh tampak relaksasi
rileks f. Kompres es pada
- Skala nyeri daerah sakit untuk
berkurang 1-3 mengurangi nyeri
- TTV dalam batas g. Anjurkan klien untuk
normal tidur pada posisi yang
nyaman (miring dengan
menekuk lutut kanan)
h. Puasa makan minum
apabila akan dilakukan
tindakan
i. Ciptakan lingkungan
yang tenang
j. Laksanakan program
medic
k. Pantau reflek terapeutik
dan non terapeutik dari
pemberian analgesik
2. Resiko kekurangan Setelah diberikan a. Observasi TTV tiap 4
volume cairan intervensi jam
berhubungan keperawatan 3x24 b. Observasi cairan yang
dengan mual, jam diharapkan cairan keluar dan yang masuk
muntah, anoreksia dan elektrolit dalam c. Jauhkan
keadaan seimbang. makanan/bau-bauan
Kriteria: yang merangsang mual
- Turgor kulit baik atau muntah.
- Cairan yang keluar d. Kolaborasi pemberian
dan masuk cairan
seimbang
- BB stabil

3. Kerusakan integritas Setelah diberikan a. Pantau luka


jaringan intervensi pembedahan dari
berhubungan keperawatan selama tanda-tanda
dengan luka 3x24 jam diharapkan peradangan: demam,
pembedahan integritas kulit baik. kemerahan, bengkak
Kriteria Hasil: dan cairan yang keluar,
- Luka insisi sembuh warna, jumlah dan
tanpa ada tanda karakteristik.
infeksi b. Rawat luka secara steril
- Leukosit normal c. Beri makanan
berkualitas atai dukung
klien untuk makan.
Makanan yang
mencukupi berguna
untuk mempercepat
proses penyembuhan
d. Beri antibiotika sesuai
program medik
DAFTAR PUSTAKA

Grace, Pierce A. & Neil R. Borley. 2006. Surgery at a Glance. Jakarta: Erlangga.
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
Wijaya, Andra Saferi & Yessie Mariza Putri. 2013. Keperawatan Medikal Bedah 1
(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta: Nuha Medika.