Vous êtes sur la page 1sur 17

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Abses adalah suatu massa yang lembut umumnya dikelilingi oleh area
berwarna dari pink atau merah tua. Abses seringkali mudah dirasakan dengan cara
menyentuhnya. Bagian tengah abses penuh nanah dan debris.

Abses sangat menyakitkan dan hangat ketika disentuh. Abses dapat


muncul setiap tempat di tubuh Anda. Tempat yang paling umum adalah abses di
ketiak (aksila), daerah sekitar anus dan vagina (abses bartholin), dasar tulang
belakang (abses pilonidal), sekitar gigi (gigi abses), dan di pangkal paha.
Peradangan di sekitar folikel rambut juga dapat menyebabkan pembentukan abses
yang disebut bisul (furunkel).

Tidak seperti infeksi lain, antibiotik saja biasanya tidak akan


menyembuhkan sakit abses. Secara umum, penyakit abses harus dibuka dan nanah
yang ada di dalamnya harus dikeluarkan untuk kesembuhan. Kadang-kadang
nanah akan keluar sendiri, tetapi pada umumnya harus dibuka oleh dokter dengan
prosedur yang disebut insisi dan drainase.

1.2 Tujuan Umum

mampu mengetahui secara umum tentang ilmu yang mempelajari


mengenai penyakit abses folikel.

1.3 Tujuan Khusus

1. Mampu menegtahui anatomi organ terlibat


2. Mampu mengetahui fisiologis organ terlibat
3. Mampu mengetahui patofisiologi abses folikel
4. Mampu mengetahui etiologi abses folikel
5. Mampu mengetahui cara diagnosis abses folikel
6. Mampu mengetahui penatalaksanaan abses folikel
7. Mampu mengetahui Prognosis abses folikel

1.3 Standar Kompetensi Dokter Indonesia

Abses folikel rambut atau kelenjar sebasea : 4A

Artinya : mampu mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara


mandiri dan tuntas atau kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter
PEMBAHASAN

EPIDEMIOLOGI

Abses folikel dapat mengenai semua umur, tetapi lebih sering di jumpai
pada anak – anak dan folikulitis juga tidak di pengaruhi oleh jenis kelamin. Jadi
pria dan wanita memiliki angka resiko yang sama untuk terkena folikulitis, dan
folkulitis lebih sering timbul pada daerah panas atau beriklim tropis.

ANATOMI

Abses Folikel

Anatomi Kulit

Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,


merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar
16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 –
1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm
tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak
mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit
tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong.
Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah
epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan
dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan
suatu lapisan jaringan ikat. (Ganong, 2008).
Jenis-jenis rambut. Ada tiga jenis rambut. Rambut tebal dan berpigmen
disebut rambut terminal. Rambut terminal menyala bagian atas kepala dan
jenggot, aksila, dan kemaluan daerah dipengaruhi oleh androgen. Androgen
penting dalam mengatur pertumbuhan rambut. Saat pubertas, androgen
meningkatkan ukuran folikel di janggut, dada, dan anggota tubuh dan mengurangi
ukuran folikel di wilayah bitemporal, yang membentuk kembali garis rambut pada
pria dan banyak wanita. Rambut lanugo adalah bulu yang ditemukan pada janin;
rambut bulu yang serupa (peach fuzz) ditemukan pada orang dewasa disebut
rambut vellus. Rambut Vellus pendek, pendek, dan relatif tidak berpigmen dan
menutupi sebagian besar tubuh. Rambut di sisa tubuh tidak bergantung pada
androgen.

Batang rambut adalah protein mati. Ini dibentuk oleh sel-sel kompak
yang ditutupi oleh bahan halus kutikula terdiri dari sisik seperti platel. Sel-sel
hidup di matriksnya berlipat ganda lebih cepat dari pada yang lain jaringan
manusia normal. Mereka mendorong naik ke saluran folikel, mengalami dehidrasi,
dan membentuk batang rambut, yang mana terdiri dari massa sel keratin yang
padat dan keras. Normal rambut memiliki ujung runcing. Rambut di saluran
folikel membentuk silinder dengan diameter seragam. Rambut pendek dengan tips
meruncing baik memiliki siklus pertumbuhan pendek atau telah mengalami onset
anagen baru-baru ini.

Batang yang tumbuh dikelilingi oleh beberapa konsentris lapisan (lihat


Gambar 24-2). Glikogen yang paling kaya Lapisan ini disebut selubung akar luar.
Ini statis dan kontinyu dengan epidermis. Selubung akar bagian dalam (lapisan
Henle, lapisan Huxley, dan kutikula) terlihat sebagai massa agar-agar ketika
rambut dicabut. Ini melindungi dan cetakan rambut yang tumbuh tetapi hancur
sebelum mencapai permukaan pada infundibulum.

Batang rambut yang muncul memiliki tiga lapisan — bagian luar


kutikula, korteks, dan terkadang medula dalam — semuanya yang terdiri dari
protein mati. Kutikula melindungi dan menyatukan sel-sel korteks. Hasil split jika
kutikula rusak oleh menyikat atau kosmetik kimia perawatan. Sel-sel korteks di
batang rambut yang tumbuh dengan cepat mensintesis dan mengakumulasi protein
ketika di bagian bawah folikel rambut. Penyakit sistemik dan obat dapat
mengganggu metabolisme sel-sel ini dan mengurangi diameter batang rambut.
Mengandung pigmen melanosom diperoleh jauh di dalam bulb matrix dan
diendapkan dalam sel kortikal dan meduler.
Folikel rambut. Manusia memiliki sekitar 5 juta folikel rambut saat lahir.
Tidak ada folikel yang terbentuk setelah kelahiran, tetapi mereka perubahan
ukuran di bawah pengaruh androgen. Rambut folikel terbentuk dalam embrio oleh
epidermal down-growth berbentuk klub — kuman epitel utama yang invaginasi
dari bawah oleh struktur kulit berbentuk kapiler yang mengandung papilla rambut
kantong. Sel-sel pusat dari pertumbuhan turun membentuk matriks rambut, sel-sel
yang membentuk batang rambut dan struktur sekitarnya. Matriks terletak jauh di
dalam lemak subkutan. Folikel dewasa mengandung rambut poros, dua selubung
di sekitarnya, dan umbi kecambah. Folikel dibagi menjadi tiga bagian.
Infundibulum memanjang dari permukaan ke saluran kelenjar
sebaceous. Tanah genting memanjang dari saluran ke penyisipan otot erector.
Lebih rendah segmen, yang hanya ada selama pertumbuhan (anagen) fase,
memanjang dari penyisipan otot ke dasar matriks. Matriks berisi sel-sel yang
berkembang biak untuk membentuk batang rambut. Tingkat mitosis matriks
rambut lebih besar dari pada organ lainnya.
Sel-sel mulai berdiferensiasi di bagian atas bohlam. Itu selubung akar
bagian dalam dan luar melindungi dan membentuk rambut yang tumbuh.
Selubung akar bagian dalam hancur pada saluran kelenjar sebaceous.
Pertumbuhan rambut sangat dipengaruhi oleh segala stres atau proses penyakit
yang dapat mengubah aktivitas mitosis.

FISIOLOGI

Folikel rambut tergantung pada interaksi epitel folikel dengan papilla


dermis. Dermal itu papilla menginduksi pembentukan folikel rambut dari atasnya
epitel pada awal setiap siklus folikel baru (Gambar 24-3). Tonjolan terdiri dari sel-
sel di akar luar selubung, yang terletak di dekat penyisipan arrector otot pili.
Papilla dermal berinteraksi dengan sel-sel benih di tonjolan folikel rambut untuk
meregenerasi folikel bawah.
Sel induk di bagian tonjolan akar luar bermigrasi keluar dari folikel dan
meregenerasi epidermis setelah cedera. Sel-sel matriks yang berkembang biak
dengan cepat pada bola rambut menghasilkan batang rambut. Sel-sel matriks
berdiferensiasi, bergerak ke atas, dan dikompresi dan disalurkan ke fnal mereka
dibentuk oleh selubung akar dalam yang kaku. Bentuk (kelengkungan) dari
selubung akar menentukan bentuk rambut. Sebagian besar batang rambut disebut
korteks. Pigmen di batang rambut diproduksi oleh melanosit yang diselingi di
antara sel-sel matriks. Volume papilla dermal menentukan diameter batang
rambut.
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh
diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan,
sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan
metabolisme. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari
elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi
mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi
kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada
daerah bibir, puting dan ujung jari. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan
keseimbangan cairan elektrolit. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus.

Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat,


insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal. Temperatur kulit dikontrol
dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperatur meningkat
terjadi vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperatur
dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat
meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluh
darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas. dapat
meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluh
darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas.
Sensasi kulit adalah sensasi yang reseptornya ada dikulit, sedangkan
sensasi visera adalah sensasi yang berkaitan dengan persepsi lingkungan dalam,
nyeri dari alat-alat visera biasanya digolongkan sebagai sensasi visera. Terdapat 4
sensasi kulit yaitu: raba-tekan (tekanan adalah rabaan yang ditahan agak lama),
dingin, hangat, dan nyeri. Kulit mengandung berbagai jenis ujung saraf sensorik
yang meliputi ujung saraf telanjang, saraf yang melebar, serta ujung saraf yang
terselubung

PATOFISIOLOGI

Secara umum, hampir 20% populasi manusia membawa bakteri Staphyloc


occus aureus dalam tubuh mereka. Lokasi yang paling sering adalah hidung, aksil
a dan perineum. Staphylococcus aureus memproduksi beberapa toksin yang dapat
meningkatkan kontribusi untuk invasi dan membantu mempertahankan kehidupan
stafilokokus dalam jaringan. Produk-produk yang dihasilkan di dinding sel bakteri
ini menimbulkan berbagai efek pada sistem kekebalan tubuh penderita.
Produk-produk yang dihasilkan pada dinding sel ini adalah asam teichoic,
peptidoglycan dan protein A. Protein A ini membantu pelekatan bakteri pada sel h
ost. Selanjutnya, bakteri akan terikat pada porsi Fc dari IgG sebagai tambahan pad
a fragmen Fab pada IgE.
Pada follikulitis superfisial, populasi sel neutrofil dapat memfiltrasi pada b
agian infundibulum pada folikel rambut dan mencetuskan suatu infeksi. Ini merup
akan satu contoh yang disebut sebagai suatu invasi secara langsung.

ETIOLOGI

 Infeksi Staphylococcus (mis., Sycosis barbae), Pseudomonas aeruginosa


(folliculitis “bak mandi air panas”)
 Folikulitis Gram-negatif (Klebsiella, Enterobacter, Proteus) terkait dengan
pengobatan antibiotik jerawat
 Iritasi kronis pada folikel rambut (penggunaan cocoa butter atau minyak
kelapa, iritasi kronis dari tempat kerja)
 Penggunaan awal terapi kortikosteroid sistemik (jerawat steroid),
folikulitis eosinofilik (pasien AIDS), Candida albicans (pasien
immunocompromised)
 Pityrosporum orbiculare
 penggunaan bak air panas atau pusaran air karena suhu mereka yang lebih
tinggi

Setiap rambut tumbuh dari folikel, yang merupakan suatu kantung kecil di
bawah kulit. Selain menutupi seluruh kulit kepala, folikel juga terdapat pada
seluruh tubuh kecuali pada telapak tangan, telapak kaki dan membrane mukosa
bibir. Folikulitis bisa di sebabkan oleh karena minyak ataupun pelumas dan
keringat berlebihan yang menutupi dan menyumbat saluran folikel rambut. Bisa
juga di sebabkan oleh gesekan saat bercukur atau gesekan pakaian pada folikel
rambut maupun trauma atau luka pada kulit. Hal ini merupakan port de entry dari
berbagai mikroorganisme terutama staphylococcus aureus sebagai penyebab
folikulitis. Kebersihan yang kurang dan higiene yang buruk menjadi faktor
pemicu dari timbulnya folikulitis, sedangkan keadaan lelah, kurang gizi dan
Diabetes melitus merupan faktor yang mempercepat atau memperberat folikulitis
ini.

DIAGNOSIS

Anamnesis

(Subyektif) Pasien datang kedokter dengan keluhan rasa gatal dan


terbakarpada daerah kulit yang berambut. Pertumbuhan rambut tidak terganggu.

Biasanya wawancara dengan pasien dimulai dengan menanyakan nama,


umur, pekerjaan, alamat. Kemudian ditanyakan keluhan utamanya, yaitu keluhan
yang mendorong pasien datang berobat ke dokter. Pada tiap keluhan atau
kelainan perlu ditelusuri:
1.Sejak kapan mulai
2.Sifat serta beratnya
3.Lokasi serta penjalarannya
4.Hubungannya dengan waktu (pagi, siang, malam, sedang tidur, waktu
haid, sehabis makan dan lain sebagainya)
5.Keluhan lain yang ada hubungannya dengan keluhan tersebut
6.Pengobatan sebelumnya dan bagaimana hasilnya
7.Faktor yang membuat keluhan lebih berat atau lebih ringan
8.Perjalanan keluhan, apakah menetap, bertambah berat, bertambah
ringan, datang dalam bentuk serangan, dan lain sebagainya
9. Faktor risiko :
-Banyak berkeringat karena tinggal di daerah tropis yang panas
-Hygiene jelek
-Penyakit DM, kelelahan dan kurang gizi dapat memperberat penyakit
-Kebersihan lingkungan jelek
Pemeriksaan Fisik:

 Lokalisasi : daerah kulit berambut, paling sering padakulit kepala dan


ekstremitas.
 Efloresensi : makula eritematosa, papula, pustula, danmiliar sampai
lentikular, regional sesuai denganpertumbuhan rambut. Terlihat pustula
folikuker kecildan berbentuk kubah, sering ditembus oleh rambuthalus.
Krusta tipis dapat menutupi muara folikel yangmenyembul. Biasanya lesi
banyak, meskipunlesitunggal dapat terjadi. Masing-masing lesi
salingterpisah, yang diantarai kulit normal, tanpa adakecenderungan untuk
bergabung.

PEMERIKSAAN LAB :

 Gambaran histopatologi : Khas, terdapat pustulasubkorneal di muara


folikel rambut. Folikel rambuttampak edematosa dengan sebukan sel-sel
radang akut.Infiltrate peradangan terdiri dari netrofil yangmengelilingi
bagian atas folikel. Pada bentuk kronik,terdapat abses folikuler yang
segera berubah menjadi nekrosis.
 Pemeriksaan bakteriologis dari sekret lesi denganpewarnaan Gram.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pewarnaan Gram, preparat KOH, dan
kultur. Pada pewarnaan Gram didapatkan coccus gram positif. Preparat KOH
digunakan untuk mengidentifikasi spesies jamur. Golongan dermatofit dapat
diidentifikasi dari gambaran hifa dan spora, M. furfur diidentifikasi dengan
adanya bentuk ragi multipel dan Candida dengan bentuk miselial. Kultur
digunakan untuk menentukan organisme penyakit, yaitu bakteri, jamur atau pun
virus. Untuk kasus folikulitis relaps yang kronis, perlu dilakukan kultur dari swab
hidung dan perianal untuk mengidentifikasi adanya S. aureus.

PENATALAKSANAAN :

1. Non-Farmakologi
 Mencegah iritasi kulit bahan kimia atau mekanis
 Kontrol glikemik pada penderita diabetes
 Bak air panas dan spa yang tepat
 Cukur dengan pisau cukur bersih
2. Farmakologi :
A. Akut
 Pembersihan area dengan chlorhexidine dan aplikasi
kompres saline ke area yang terlibat.
 Aplikasi salep mupirocin 2% atau salep retapamulin 1%
untuk bakteri folikulitis yang memengaruhi area terbatas
(mis., Sycosis barbae).
 Pengobatan kasus Pseudomonas folliculitis yang parah
dengan ciprofloxacin.
 Pengobatan S. aureus folliculitis dengan dicloxacillin 250
mg qd selama 10 hari.
 Isotretinoin adalah pengobatan pilihan dalam folikulitis
gram negatif. Amoksisilin atau TMS-SMX dapat digunakan
ketika isotretinoin dikontraindikasikan atau tidak dapat
ditoleransi.
B. Kronik
 Pembawa S. aureus nasal atau perineum kronis dengan
folikulitis yang sering dapat diobati dengan rifampisin 300
mg bid selama 5 hari.
 Mupirocin atau salep retapamulin yang diterapkan pada
nares bid juga efektif untuk pembawa hidung.
Folikulitis kadang dapat sembuh sendiri setelah dua atau tiga hari, tetapi pada
beberapa kasus yang persisten dan rekuren perlu penanganan.

1. Umum
Cukup dengan menjaga kebersihan diri terutama kulit, menghindari garukan
dan faktor pencetus seperti gesekan pakaian atau mencukur dan luka atau
trauma.

2. Khusus, terbagi 2 yaitu secara tropikal dan secara sistemik :


 Topikal, dapat di berikan antibiotik misalnya (2) :
1. Kemicetin salap 2 %
2. Kompres PK 1/ 5000 solusio sodium chloride 0,9 %( jika ada eksudasi)
3. Salep natrium fusidat.

 Sistemik, dapat diberikan : (1)


Antibiotik (umumnya di berikan 7 – 10 hari) misalnya :
1. Penisilin dan semisintetiknya.
a. Penisilin G prokain injeksi 0,6 – 1,2 juta IU, IM selama 7 – 14 hari, 1 – 2
kali/ hari.
b. Ampisilin 250 – 500 mg/ dosis, 4 kali/ hari
c. Amoksisilin, 250 – 500 mg/ dosis, 3 kali/ hari
d. Kloksasilin ( untuk staphylococcus yang kebal penisilin), dosis 250 –
500 mg, 4 kali / hari.
e. Dikloksasilin ( untuk staphylococcus yang kebal penisilin), dosis 125 –
250 mg, 3 -4 kali/ hari.
2. Eritromisin 250 – 500 mg 3 – 4 kali/ hari(dewasa) dan 12, 5 – 25
mg/kbBB/ dosis 3 – 4 kali/ hari(anak).
3. Klindamisin 150 – 300 mg 3 – 4 kali/ hari (dewasa) dan 8 – 20 mg/
kgBB/ dosis 3- 4 ksli/ hsri(anak).
Penggunaan antiseptik dapat di berikan sebagai terapi tambahan ( misalnya :
Chlorhexidine) tetapi jangan di gunakan tanpa pemberian antibiotik sistemik.
Dianjurkan pemberian antibiotik sistemik dengan harapan dapat mencegah
terjadinya infeksi kronik.

PROGNOSIS :

Sebagian besar kasus bakteri folikulitis sembuh sepenuhnya dengan


pengobatan yang tepat.

Kesimpulan

 Abses folikel dapat mengenai semua umur, tetapi lebih sering di jumpai
pada anak – anak dan folikulitis juga tidak di pengaruhi oleh jenis kelamin
 Biasanya disebabkan oleh Infeksi Staphylococcus, Folikulitis Gram-

negatif, dan Iritasi kronis pada folikel rambut.

 Faktor resiko terkena penyakit tersebut adalah Banyak berkeringat karena


tinggal di daerah tropis yang panas, Hygiene jelek, Penyakit DM,
kelelahan, kurang gizi dapat memperberat penyakit, Kebersihan
lingkungan jelek
 Prognosis Sebagian besar kasus bakteri folikulitis sembuh sepenuhnya
dengan pengobatan yang tepat.
Soal

1. Abses folikel disebabkan oleh bakteri ?


a. Staphylococcus aureus
b. Candida Albicans
c. Gardinella vaginalis
d. Trikomonas vaginalis
e. Pseudomonas aurieginosa

2. Pemeriksaan penunjang untuk penyakit abses folikel ?


a. USG
b. Darah rutin
c. MRI
d. Foto abdomen
e. Histopalogi dan pewarnaan gram

3. Seorang perempuan 16 tahun datang dengan keluhan dengan ada bisul


disertai nanah dibagian kepalanya. Keluhan dirasakan 3 hari yang lalu.
Pemeriksaan fisik terdapat papul eritema,nodul, dan pustule . berapakah
tebal kulit manusia ?
a. 0,5mm sampai 6mm
b. 3mm sampai 5mm
c. 0,4mm sampai 5mm
d. 0,6mm sampai 5mm
e. 0,7mm sampai 6mm
DAFTAR PUSTAKA

1. Thomas P. Habif MD Hair diseases Clinical Dermatology, CHAPTER 24,


923-959
2. Ferri's Clinical Advisor 2019 · Ferri, Fred F., M.D., F.A.C.P. Clinical
Professor, Department of Medicine, The Warren Alpert Medical School,
Brown University, Providence, Rhode Island.
3. Wayne Grayson and Eduardo Calonje Infectious diseases of the skin
Grayson McKee's Pathology of the Skin, Chapter 18, 826-975.e49
4. Rodrigo Restrepoand Eduardo Calonje Diseases of the hair Mc Kee's
Pathology of the Skin, Chapter 22, 1051-1128.e22
5. Jean bolognia, infections, hyperpigmentation and hypopigmentation,
regional dermatology, and distinctive lesions in black skin, chapter 441,
page 2695-2700
6. Natalja Denisjuk, Md,A Norbert Hilty, Necrotizing Infundibular
Crystalline Folliculitis: A Clinicopathological Study, Denisjuk Et Al J Am
Acad Dermatol May 2012
7. Chritian Hallerman, MD, Chritoph Niermann, MD, Rudolf-Josef
Fischer,MD. Follicular Abscess. 2018. J AM ACAD Dermatol. Elsevier:
Volume 56. No 4.
8. Pediatri, Beyond Folliculitis: Recognizing Herpes Gladiatorum in
Adolescent Athletes, the physical exam, 2017
9. The bacteria stroke: Leclercia adecarboxylata folliculitis in a healthy
swimmer—an emerging aquatic pathogen Journal of the American
Academy of Dermatology, 2018-09-01, Volume 79, Issue 3, Pages
AB282-AB282,
10. Ana Cristina Laureano, MD, Robert A. Schwartz, Facial bacterial
infections: Folliculitis, Clinics in Dermatology (2014)32, 711–714HE
11. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi
Kelima, cetakan pertama, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2007, Hal 59 – 60.
12. Soepardiman L. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 5th Ed.
Jakarta: Fkui. 2007: P. 296-298.
13. Siregar,R.S, Atlas Berwarna Sari Pati Kulit , De. 2, EGC, Jakarta. 2004
14. Buku Ajar Sistim Integumen Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Semarang. ISBN:978-602-61093-5-4,2015
15. Adhi Djuanda, dkk. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. OURNAL OF
PEDIATRICS