Vous êtes sur la page 1sur 12

Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No.

1, 2016

UJI BANDING KUALITAS TABLET KETOPROFEN GENERIK DENGAN MEREK


DAGANG
Maria Dona Octavia2), Auzal Halim1), Marlani2)
1)
Universitas Andalas (UNAND) Padang
2)
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFARM) Padang

ABSTRACT

Ketoprofen is a non steroid Anti Inflamation Drug (NSAID) and most of ketoprofen tablets have been sold
in the market are the ones which generic names and branded names. The aim of this research is to compare the
quality of ketoprofen tablets 100 mg which are taken from the generic ones and the branded ones, the date were four
types of ketoprofen tablets which consist of two types generic tablets and two types of branded tablets. The
measurement of ketoprofen tablets quality is based on the quality standard of ketoprofen tablets which refers to The
pharmacope Indonesian the fourth editions. The quality parameter of ketoprofen tablets involved similarity test of
weight and size, solodity, friability analysis, disintegration time, composition standard test and disolution profile
test. Disolution profil test of ketoprofen tablets was ronducted by using paddle method, measured by
spectrofotometer UV, and tested by using phosphate buffer power Hidrogen 7.4 as its medium. Then the result was
gotten in 60th minutes for each sample. Sample g1 = 94.89%, sample g2 = 97.52%, sample m1= 100.10% and
sample m2= 101.08%. Composition standard test of ketoprofen tablets, was conducted by using spectrofotometer
UV and tested by using methanol P 75% as its medium. The result of this shows that the quality of sample g1 =
98.92%, sample g2 = 97.02%, sample m1 = 97.97%, m2 = 100,71%. The result of quality parameter test shows that
both of generic and branded ketoprofen tablet fullfiks the quality standard of pharmacope Indonesian the fourth
editions.
Keywords : Ketoprofen, generic and branded names tablets

ABSTRAK

Ketoprofen merupakan obat anti inflamasi nonsteroid (AINS). Tablet ketoprofen yang beredar di pasaran
terdapat dalam bentuk generik dan merek dagang. Penelitian ini bertujuan unutuk membandingkan kualitas tablet
ketoprofen 100 mg generik dan merek dagang menggunakan 4 macam tablet uji, yang terdiri dari 2 macam tablet
generik dan 2 macam tablet merek dagang. Penentuan kualitas tablet ketoprofen ditunjukan dari mutu standar tablet
ketoprofen berdasarkan Farmakope Indonesia, edisi IV. Parameter kualitas tablet ketoprofen meliputi uji
keseragaman bobot, keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji kerapuhan, uji waktu hancur, uji penetapan kadar, dan
uji profil disolusi. Uji profil disolusi tablet ketoprofen menggunakan metode dayung, dan diukur dengan
spektrofotometer UV, serta menggunakan medium dapar fosfat pH 7,4 didapat hasil pada menit ke 60 untuk masing-
masing sampel, sampel g1= 94,89%, sampel g2= 97,52%, sampel m1= 100,10% dan sampel m2= 101,08%.
Penetapan kadar tablet ketoprofen menggunakan metoda spektrofotometer UV dengan medium metanol P 75%
didapat hasil sampel g1= 98,92%, sampel g2= 97,02%, sampel m1= 97,97% dan sampel m2= 100,71%. Hasil uji
parameter kualitas tablet ketoprofen yang didapat menunjukan kualitas tablet ketoprofen generik dan merek dagang
memenuhi standar mutu Farmakope Indonesia edisi IV.
Kata Kunci: Ketoprofen, tablet generik dan merek dagang

PENDAHULUAN tablet, yang diberikan melalui oral


(Lachman, et al., 1994). Yang dimaksud
Obat merupakan zat yang dapat dengan tablet adalah sediaan padat kempa,
digunakan untuk mengobati penyakit, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk
membebaskan atau memodifikasi proses tabung pipih atau sirkuler, kedua
kimia dalam tubuh. Banyak sediaan farmasi permukaannya rata atau cembung,
yang beredar di pasaran yang digunakan mengandung satu jenis obat atau lebih
oleh masyarakat dalam mengobati penyakit, dengan atau tanpa zat tambahan
salah satunya adalah dalam bentuk sediaan

8
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, METODE PENELITIAN


IV). 1. Alat dan bahan
Melihat masalah mahalnya harga obat, Alat:
pemerintah membuat kebijakan mengenai Peralatan gelas standar laboratorium,
Obat Esensial Nasional, yaitu memberikan timbangan digital analitik (Ohaus Carat
pemilihan obat yang bermutu, aman dan series), alat uji disolusi ( Copley Scientific
relatif murah. Obat-obat terpilih tersebut NE4-COPD ), spektrofotometer UV-VIS
kemudian disusun dalam Daftar Obat (Shimadzu ® UV Mini 1240), pH meter
Esensial Nasional (DOEN). Setiap unit (Hanna Instrumen Hi-2211) dan alat-alat
kesehatan pemerintah diperintahkan untuk lain yang digunakan dalam penelitian.
menggunakan Obat Esensial Nasional,
dengan mengedepankan penggunaan obat Bahan:
generik. Obat dengan harga tinggi tidak Sampel G1 ( tablet ketoprofen PT.
selalu menunjukkan kualitas yang lebih Hexapharm ), sampel G2 ( tablet ketoprofen
baik. Kenyataannya obat-obat dengan isi PT. Novel), sampel M1 ( tablet Pronalges-
sama, antar merek obat biasa berbeda harga
PT. Dexa Medika ), sampel M2 ( tablet
hingga 3 kali lipat bahkan lebih. Produsen
obat berlomba membuat iklan yang memikat Protofen- PT. Kimia Farma), etanol 96%
dan biaya iklan yang tinggi ini akan (PT. Brataco), metanol (PT. Brataco),
dibebankan kepada harga produk obat kalium hidrogen fosfat (PT. Brataco),
tersebut (Widodo, 2004). natrium hidroksida (PT. Brataco),aquadest.
Ketoprofen adalah obat anti inflamasi
non steroid yang juga bersifat analgetik 2. Pemilihan Sampel
antipiretik, sifat anti inflamasi ketoprofen
muncul karena obat ini mampu menghambat Dipilih 4 sampel tablet ketoprofen yaitu 2
sintesa prostaglandi dan leukotrien. Selain sampel tablet ketoprofen generik, (PT.
itu juga memiliki aktivitas antibradikidinin Hexapharm), dan (PT. Novel), dan 2 sampel
dan menstabilkan membran lisosom. tablet ketoprofen merek dagang (Pronalges-
Indikasa ketoprofen digunakan untuk PT. Dexa Medika ), dan (Protofen- PT.
mengobati tanda- tanda dan gejala penyakit
Kimia Farma).
arthiritis dan oestoarthiritis, baik akut
maupun kronis.
3. Prosedur penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan a. Organoleptis
membuktikan bahwa mutu dari tablet Dilihat secara visual tablet ketoprofen dan
ketoprofen generik tidak memiliki diamati bentuk, warna, rasa, dan bau dari
perbedaan yang bermakna dengan merek sampel. (Departemen Kesehatan Republik
dagang yang beredar di pasaran. Indonesia, edisi IV).
Berhubungan dengan masalah mutu antara
tablet generik dengan tablet bermerek
b. Uji Keseragaman Bobot
dagang, maka dilakukan uji mutu yang
meliputi uji fisik yang terdiri dari Apabila campuran serbuk atau granul
keseragaman bobot, keseragaman ukuran, merupakan campuran yang homogen
uji kekerasan, uji kerapuhan, uji waktu sempurna, kontrol berat tablet merupakan
hancur, penetapan kadar, uji disolusi, uji kontrol kandungan obat secara sederhana
mukoadesif dan uji wash off. dan cepat, baik selama proses maupun
kontrol kualitas. Keseragaman bobot tablet
dapat ditetapkan pada produk kapsul lunak

9
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

berisi cairan atau pada produk yang f. Uji waktu hancur tablet ( Desintegrasi )
mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang Alat yang digunakan adalah disintegrator
merupakan 50% atau lebih dari bobot satuan tester dengan cara masukkan tablet sebanyak
sediaan. Timbang seksama 20 tablet, enam buah kedalam keranjang, dengan suhu
timbang satu persatu dan dihitung bobot 37°C kemudian jalankan alat dengan
rata- rata. (Ansel, 1989; Departemen menggunakan Hidrogen clorida ( Hcl ) pada
Kesehatan Republik Indonesia, edisi IV). pH 1,2 sebagai media. Persyaratan waktu
yang diperlukan untuk menghancurkan
c. Uji Keseragaman Ukuran keenam tablet tidak boleh lebih dari 15
Alat yang digunakan adalah jangka sorong menit untuk tablet yang tidak bersalut. Jika
dengan cara ambil 10 tablet, ukur diameter 1 atau 2 tablet tidak hancur sempurna
dan tebal tablet satu persatu cari rata- pengujian diulangi dengan menggunakan
ratanya. Diameter tablet tidak lebih dari 3 tablet yang lainnya. Sedangkan tablet yang
kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. bersalut tidak boleh lebih dari 60 menit.
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
edisi IV). edisi IV).

d. Uji Kekerasan Tablet g. Penetapan kadar ketoprofen murni


Alat yang digunakan adalah mosanto stokes Larutan induk ( 25 mg ketoprofen baku
prinsipnya memberikan tekanan pada tablet larutkan dalam 100 mL metanol P 75%)
sampai tablet tersebut pecah dan retak, diambil 8 ml dan larutkan dengan metanol P
setelah itu dilihat angka pada alat dan 75% hingga 100 mL kemudian disaring,
dicatat. Kekerasan tablet menggambarkan serapan diukur pada panjang gelombang
kekuatan tablet pada saat produksi, 200- 400 nm dengan spektrofotometer UV,
pengemasan dan pendistrtibusian. Jumlah didapatkan panjang gelombang serapan
tablet yang digunakan masing- masing 6 maksimum. (Departemen Kesehatan
tablet. (Departemen Kesehatan Republik Republik Indonesia, edisi IV).
Indonesia, edisi IV).
h. Penetapan kadar tablet ketoprofen
e. Uji Kerapuhan Tablet  Penentuan Panjang Gelombang.
Percobaan kerenyahan dilakukan terhadap Larutan induk ketoprofen dibuat
20 tablet, dimana tablet dibersihkan dari dengan konsentrasi 250 µg/mL
debu, kemudian ditimbang ( w1 ), lakukan dengan melarutkan 25 mg ketoprofen
pemutaran alat friabilator selama 4 menit. dalam labu ukur 100 mL metanol P
Setelah itu tablet dibersihkan dan ditimbang 75%. Dari larutan induk, dipipet 5
( w2 ) friabilatas ( kerapuhan = F ) tablet mL ke dalam labu ukur 50 mL
dihitung dengan persamaan sebagai berikut : cukupkan sampai tanda batas,
kemudian dari larutan ini dipipet 4
F = ( W1 – W2 ) X 100% mL ke dalam labu 10 mL cukupkan
W1 hingga didapatkan larutan dengan
konsentrasi 10 µg/mL. Serapan
Persyaratan untuk tablet yang baik di diukur pada rentang panjang
industri , bobot yang hilang tidak boleh dari gelombang 200 - 400 nm dengan
0,8% (Ansel,1989; Lachman, et, al, 1989; spektro UV-Vis.
Ben,2008).

10
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

 Pembuatan kurva kalibrasi i. Laju Pelepasan Obat In Vitro


ketoprofen dalam metanol. atau Profil Disolusi
Dari larutan induk ketoprofen (Departemen Kesehatan Republik
dipipet 5 mL kedalam labu 50 mL Indonesia, edisi IV).
sehingga diperoleh konsentrasi 50  Pembuatan dapar fosfat pH 7,4
µg/mL, dari larutan ini dipipet Ditimbang 6,81 gram Kalium
sebanyak 0,8 mL, 1,2 mL, 1,6 mL, 2 Dihidrogen fosfat dilarutkan dalam
mL, 2,4 mL dan masing-masingnya aqua dest, kemudian ditambahkan
dimasukkan kedalam labu ukur 10 NaOH 0,2 N sebanyak 195,5 mL lalu
mL, cukupkan volume dengan pH diatur 7,4 dengan menggunakan
metanol sampai tanda batas, lalu pH meter. Sehingga diperoleh
homogenkan hingga diperoleh volume 1000 mL.
konsentrasi 4 µg/mL, 6 µg/mL, 8
µg/mL, 10 µg/mL, 12 µg/mL. Ukur  Penentuan panjang gelombang
serapan masing-masingnya pada serapan maksimum ketoprofen
panjang gelombang maksimal dalam dapar fosfat pH 7,4
ketoprofen. Larutan induk ketoprofen dibuat
 Penentuan kadar tablet ketoprofen dengan cara melarutkan 25 mg
dalam medium metanol P 75% ketoprofen dalam 100 mL dapar
Pada masing-masing sampel ( G1, fosfat 7,4 ( konsentrasi 250 µg/mL).
G2, M1 dan M2) 20 tablet ditimbang Dipipet 5 mL larutan induk ke dalam
labu ukur 50 mL kemudian
dan diserbukan hingga halus tambahkan dapar fosfat 7,4 sampai
kemudian ditimbang ( 7,5088 mg ), tanda batas ( konsentrasi 25 µg/mL),
selanjutnya ditimbang serbuk setara kemudian dari larutan konsentrasi 25
dengan 50 mg ketoprofen yang µg/mL dipipet 4 mL kedalam labu
terkandung dalam serbuk ( 187,72 10 mL kemudian tambahkan dapar
mg ). Serbuk dimasukkan ke dalam fosfat 7,4 sampai tanda batas (
konsentrasi 10 µg/mL). Lakukan
labu ukur 100 mL larutkan dengan
pengukuran pada panjang gelombang
metanol P 75% beberapa mL, lalu serapan 200 nm – 400 nm dengan
cukupkan volume sampai tanda batas menggunakan spektrofotometer UV-
dan diamkan (konsentrasi 500 Vis. Tentukan panjang gelombang
µg/mL). serapan maksimal, lalu dibuat kurva
serapan terhadap panjang gelombang
Ambil 5 mL dari larutan tersebut, dan diperoleh panjang gelombang
masukkan ke labu 50 mL dan 257,5 nm.
cukupkan volume sampai tanda  Pembuatan kurva kalibrasi
batas (konsentrasi 50 µg/mL), ketoprofen dalam medium disolusi
kemudian ambil 1 mL dari larutan dapar posfat pH 7,4
konsentrasi 50 µg/mL dan cukupkan Dipipet 5 mL larutan induk ke
sampai tanda batas 10 mL diperoleh dalam labu ukur 50 mL, kemudian
(konsentrasi 5µg/mL). Konsentrasi tambahkan dapar posfat sampai
ketoprofen ditentukan menggunakan tanda batas. Lakukan pengenceran
kurva kalibrasi lalu dihitung masing dengan konsentrasi 4, 6, 8, 10, dan
– masing formula dan tentukan 12 µg/mL (masing-masing
persen. dimasukan dalam labu ukur) 10 mL.
11
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

Serapan ditentukan pada panjang  Pembuatan cairan lambung


gelombang serapan maksimum. buatan
 Penetapan profil disolusi dari Dilakukan dengan cara melarutkan
tablet ketoprofen 2,0 gram NaCl dalam 7,0 mL HCl 0,1 N.
Uji disolusi tablet ketoprofen baik Kemudian campuran ini dicukupkan
generik maupun merek dagang dengan air suling hingga 1 L dan diukur
dilakukan dengan metode dayung. pH 1,2 + 0,1.
Wadah labu silinder diisi dengan  Penyiapan membran mukosa usus
medium disolusi dapar posfat pH 7,4 dan lambung kelinci
sebanyak 1000 mL kemudian Dilakukan dengan cara;
dipanaskan dengan suhu 37 ± 0,50C a. Kelinci putih yang sehat sehari
dengan bantuan penangas air. sebelum pengujian dipuasakan
Masing- masing tablet ketoprofen terlebih dahulu.
yang setara dengan 100 mg b. Pada saat dilakukan pengujian
ketoprofen dimasukkan ke dalam kelinci diamati, dan dibunuh dengan
dalam wadah silinder, dan diputar cara memukul tengkuk kelinci
dengan kecepatan 50 rpm. Kemudian dengan tangan atau menggunakan
larutan disolusi dipipet 5 mL pada alat.
menit ke 5, 10, 15, 30, 45, dan 60. c. Pembedahan dilakukan pada bagian
Setiap pemipetan diganti dengan abdomen, kemudiaan organ usus
medium disolusi yang suhunya sama yang akan digunakan di ambil,
sehingga volume medium disolusi jaringan usus kelinci dicuci dengan
selalu tetap. Serapan larutan yang larutan NaCl fisiologis kemudian
telah dipipet dari medium disolusi direndam dalam cairan usus buatan
diukur pada panjang gelombang yang telah dibuat tadi.
serapan maksimum 257,5 nm dengan d. Jaringan usus dan lambung dibuka
spektrofotometer UV-VIS. Kadar serta dipotong kira- kira 10 x 2 cm
ketoprofen yang terdisolusi pada untuk usus dan lambung 2 x 2 cm,
setiap pemipetan dapat dihitung dilengketkan pada penyokong
dengan menggunakan kurva aluminium kemudian ditempatkan
kalibrasi. pada sel silindris dengan kemiringan
450. Sebanyak dua gram sampel
j. Uji Mukoadhesif ( Suryani, etal, 2009 ) (tablet ketoprofen yang telah digerus
 Pembuatan cairan usus buatan halus dan diayak dengan ayakan
Dilakukan dengan cara melarutkan nomor 40, agar ukuran partikelnya
6,8 gram Kalium hidrogen fosfat dalam sama besar) diletakan diatas jaringan
250 mL air suling dengan 190 mL tersebut, biarkan berkontak selama
larutan NaOH 0,2 N yang telah 20 menit kemudian dicatat waktu
diencerkan hingga 400 mL. Selanjutnya yang dibutuhkan oleh sampel untuk
pH campuran diatur hingga 7,4 dengan menyerap.
penambahan NaOH 0,2 N dan e. Sampel yang telah melengket pada
dicukupkan dengan air suling hingga 1 jaringan usus dan lambung dielusi
L. dengan caiaran usus dan lambung
buatan selama 10 menit dengan
kecepatan 2 ml/menit. Sampel yang
melekat dihitung tiap 5 menit.

12
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

Sampel yang melepas dari usus persyaratan dalam Farmakope Indonesia


ditampung, dikeringkan dan edisi IV, dapat dilihat pada lampiran 1 tabel
ditimbang. Berat sampel awal V.
dikurangi dengan berat sampel Penelitian ini bertujuan untuk
setelah diuji dihitung sebagai membandingkan mutu dari tablet ketoprofen
kekuatan mukoadhesif. generik dengan yang merek dagang yang
beredar di pasaran. Dimana sampel yang
k. Uji Wash Off ( Pembersihan dipilih secara acak dengan memperhatikan
Uji ini menggunakan alat uji nomor batch, expire date dan dosis yang
disintegrasi. Jaringan usus dan lambung sama (100 mg) yaitu 2 generik ( tablet
ditempelkan pada kaca objek dengan lem ketoprofen 100 mg PT. Hexapharm Jaya
sianokrilat dan ujung jaringan dikunci dengan nomor batch BN 624064 dan expire
dengan paraffin film. Dua gram sampel date April 2017 dan tablet ketoprofen 100
ditempatkan merata pada mukosa usus. mg PT. Novel dengan nomor batch IL 9658
Kaca digantung pada alat dan diatur B dan expire date November 2016 ) dan 2
gerakannya naik turun 30 kali per menit. merek dagang ( tablet Pronalges 100 mg PT.
Jumlah granul yang melekat dihitung setiap Dexa Medika dengan nomor batch 16 JO 74
30 menit selama 2 jam (Suryani, et al, MFD dan expire date October 2017 dan
2009).. tablet Protofen 100 mg PT. Kimia Farma
dengan nomor batch 400506 dan expire date
HASIL DAN PEMBAHASAN Juni 2017). Evaluasi yang dilakukan adalah
uji fisik tablet yaitu Uji keseragaman bobot,
Penelitian ini diawali dengan uji keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji
pemeriksaan bahan baku terhadap kerapuhan tablet, uji waktu hancur tablet,
ketoprofen yaitu pemerian, pengamatan penetapan kadar dan uji disolusi tablet serta
yang diperoleh bentuk serbuk hablur, tidak uji mukoadesif.
berbau, tidak berasa, warna putih. Hasil Dari pemeriksaan bobot tablet
pemeriksaan ini dibandingkan dengan ketoprofen generik (Hexapharm jaya dan
persyaratan yang tertera dalam Farmakope Novel) dan merek dagang ( Pronalges dan
Indonesia edisi IV. Pada pengujian kelarutan Protofen ) mempunyai bobot rata- rata lebih
didapatkan hasil dimana kelarutan besar dari 300 mg sehingga penyimpangan
ketoprofen dalam air 1:17000, sedangkan bobot rata- tara diperoleh hasil yaitu untuk
dalam etanol 96% 1 bagian ketoprofen sampel G1 = 0,3612+0, 0034 gram untuk G2
terlarut dalam 4 bagian etanol 96%. Ini = 0,4436+ 0,0030 gram dan sampel merek
dapat disimpulkan bahwa ketoprofen praktis dagang M1 = 0,5400+0,0037 gram serta
tidak larut (>10.000 bagian) dalam air dan sampel M2 = 0,4091+ 0,0030 gram, jadi
mudah larut dalam etanol 96%. Penetapan sampel generik dan bermerk memenuhi
kadar ketoprofen yang diperoleh yaitu persyaratan, dapat diartikan bahwa dalam
99,1667%+ 0,5455. Hasil pemeriksaan ini proses pencetakan tablet sehingga dihasilkan
dibandingkan dengan persyaratan yang tablet yang memiliki keseragaman bobot
tertera dalam Farmakope Indonesia edisi IV, yang baik.
yaitu 98,5% - 100,5%. Identifikasi Untuk sampel G2 tebal maksimal
ketoprofen dengan spektrofotometri adalah 15,54 mm dan tebal minimal
ultraviolet dengan konsentrasi 20 µg/mL di 6,90mm maka diameter hasil uji sampel G2
peroleh panjang gelombang maksimum 256 10,68mm adalah memenuhi syarat. Sampel
nm dengan absorban 1,362, telah memenuhi M1 tebal minimal adalah 4,88mm dan

13
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

maksimal adalah 14,64mm maka diameter Tablet ketoprofen sampel generik


sampel M1= 10,62mm juga memenuhi dan merek dagang yang digunakan dalam
syarat. Sampel M2 tebal minimal M2 = penelitian adalah tablet bersalut selaput.
4,83mm dan tebal maksimal M2= 14,49 mm Menurut Farmakope Indonesia edisi IV
dengan diameter M2= 10,91 mm juga untuk tablet bersalut selaput waktu
memenuhi syarat. hancurnya adalah tidak lebih dari 60 menit.
Dari hasil pemeriksaan kekerasan Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa
tablet ketoprofen, ditemukan semua sampel sediaan atau bahan aktif terlarut sempurna.
uji baik generik maupun merek dagang Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila
sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat
memenuhi syarat yang telah ditetapkan yaitu
uji merupakan masa lunak yang tidak
antara 4-8 kg. Maka diperoleh hasil sampel mempunyai inti yang jelas, kecuali bagiaan
G1= 4,160 kg, sampel G2= 5,000 kg, M1= pelarut yang tidak larut. Setelah dilakukan
4,833 kg dan sampel M2= 5,500kg. percobaan untuk semua sampel uji
Hasil uji kerapuhan tablet ketoprofen ketoprofen baik sampel generik maupun
sampel G1= 0,09%, G2= 0,24% dan sampel bermerek yang digunakan memenuhi syarat
M1= 0,14%, M2= 0,04%. Artinya semua dimana sampel tersebut mempunyai waktu
sampel baik generik mau bermerk hancur rata- rata sampel G1= 46 menit,
memenuhi persyaratan uji friabilitas tablet sampel G2= 47,8 menit, dan sampel M1= 37
yang baik, boleh lebih dari 0,8%- 1%. Ini menit serta sampel M2 = 42 menit. Sampel
menunjukkan permukaan tablet mempunyai diatas memenuhi syarat karena waktu hancur
ketahanan terhadap gesekan dan bantingan tidak lebik dari 60 menit untuk tablet
sewaktu pengemasan dan pengiriman. bersalut. (Departemen Kesehatan Republik
Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 Indonesia,IV).
tablet) ) dimasukan dalam tiap tube, ditutup Pada penentuan panjang gelombang
dengan penutup dan dinaik turunkan maksimum (λ)max dalam pelarut metanol P
keranjang tersebut dalam medium air dengan 75 % diperoleh 257 nm dengan absorban
suhu 370C. Dalam monografi yang lain 0,575. Sedangkan panjang gelombang yang
disebutkan mediumnya merupakan simulasi tertera pada Farmakope Indonesia edisi IV
larutan gastrik (gastric fluid) yaitu larutan yaitu 258 nm. Berarti hasil yang didapat dari
Hcl pada pH 1,2 (Tablet Ketoprofen adalah penelitian mendekati literatur dan memenuhi
tablet bersalut selaput jadi diharapkan dapat syarat. Kurva kalibrasi yang dibuat dengan
pecah di lambung digunakan larutan Hcl pH konsentrasi 4 µg/mL, 6 µg/mL, 8 µg/mL, 10
1,2 sebagai larutan lambung buatan). Waktu µg/mL dan 12µg/mL didapat hasil
hancur dihitung berdasarkan tablet yang persamaan regresi y = 0,056x + 0,015 dan r
paling terakhir hancur (Ben,2008). = 0,999, dengan data ini dapat ditentukan
penetapan kadar.

14
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

Gambar 1. Penentuan panjang gelombang maksimum dalam pelarut metanol P 75 %

0.8
0.7
0.6
0.5
Absorban

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 2 4 6 8 10 12 14
Konsentasi (µg/ml)

Gambar 2. Kurva kalibrasi pelarut metanol P 75 %

G1= 98,928%, G2 = 97,023% sedangkan


Menurut Farmakope Edisi IV M1 = 97,976% dan M2 = 100,714%.
persyaratan kadar zat aktif dari tablet Artinya kadar zat aktif dalam tablet
ketoprofen yaitu harus mengandung ketoprofen generik dan bermerek telah
ketoprofen yang tidak boleh kurang dari memenuhi persyaratan dalam Farmakope
90% dan tidak boleh lebih dari 110% dari Indonesia edisi IV.
jumlah yang tertera pada etiket. Kadar zat Pada penentuan profil disolusi dari tablet
aktif ketoprofen yang digunakan adalah 100 ketoprofen dilakukan dengan menggunakan
mg. Pada penetapan kadar sampel tablet medium dapar fosfat pH 7,4. Penentuan
ketoprofen diperoleh hasil untuk sampel panjang gelombang serapan maksimum

15
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

ketoprofen di dalam medium ini literatur Farmakope Indonesia edisi IV yaitu


menggunakan larutan dengan konsentrasi 10 258 nm. Kurva kalibrasi diperoleh dari
μg/mL dan panjang gelombang serapan konsentrasi 4 μg/mL, 6 μg/mL, 8 μg/mL, 10
maksimum yang didapat adalah 257,5 nm μg/mL, dan 12 μg/mL, didapat hasil
dengan absorban 0,667. Panjang gelombang persamaan regresi yaitu y = 0,109 + 0,056x
maksimum yang didapat mendekati panjang dengan nilai r = 0,999.
gelombang maksimum yang tertera pada

Gambar 3. Panjang gelombang maksimum ketoprofen dalam medium dapar fosfat pH 7,4

0.9
0.8
0.7
0.6
Absorban

0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 2 4 6 8 10 12 14
Konsentrasi (µg/mL)

Gambar 4. Kurva kalibrasi dalam medium dapar fosfat pH 7,4

16
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

Gambar 5. Hasil disolusi tablet ketoprofen

kinetika pelepasan obat tablet ketoprofen


Toleransi disolusi untuk tablet mengikuti model kinetika korsemeyer-
ketoprofen menurut USP XXX tahun 2007 peppas yang mengindikasikan mekanisme
adalah dalam waktu 60 menit tidak kurang pelepasannya mengikuti hukum difusi Fick.
dari 80% ketoprofen yang terdisolusi. Hasil Menurut Fick kecepatan disolusi dikontrol
uji disolusi tablet ketoprofen didapat % zat oleh kecepatan difusi dari membran yang
terdisolusi pada menit ke 60, % untuk sangat tipis dari larutan jenuh yang
sampel G1 = 94,89+ 3,5644 ; G2 = 97,52+ terbentuk seketika di sekitar partikel padat.
1,4458 ; M1 = 100,10+0,2600 dan M2 = Obat yang terlarut dalam larutan jenuh
96,47+4,4819.Profil disolusi keempat berdifusi kedalam pelarut dari daerah
sampel dianalisis dengan mencocokannya dengan konsentrasi obat tinggi ke daerah
terhadap beberapa persamaan pelepasan obat dengan konsentrasi obat yang rendah
yaitu kinetika Orde nol, Orde satu, Higuchi, (Abdou, 1989).
dan Korsmeyer-Pappas. Analisis statistik dari efisiensi disolusi
Dari hasil analisa kinetika pelepasan tablet ketoprofen dilakukan dengan uji
obat diketahui bahwa pelepasan tablet ANOVA satu arah menggunakan SPSS 17.
ketoprofen pada formula G1, G2, M1 dan Dari hasil analisa diketahui bahwa terdapat
M2 tidak mengikuti model kinetika orde 0, perbedaan efisiensi disolusi. Hasil uji
orde satu dan higuchi tetapi mengikuti homogenitas variansi dengan Levene
model kinetika korsesmeyer-peppas karena Statistics = 0,554 dengan Sig. = 0,040 (<
nilai koefisien korelasi dari persamaan 0,05), yang berarti bahwa Ho ditolak atau
model kinetika korsemeyer-peppas lah yang variansi dari efisiensi disolusi tablet
paling mendekati satu. Dapat dilihat dari ketoprofen dan keempat formulaitu tidak
nilai koefisien korelasi (r) dari persamaan sama sehingga uji ANOVA dengan
korsemeyer-peppas yaitu sampel G1,G2, menggunakan uji F tidak bisa dilakukan.
M1 dan M2 secara berturut-turut adalah Hasil perhitungan ANOVA menunjukkan
0,926; 0,889; 0,993 dan 0,918. Berdasarkan bahwa nilai F hitung = 13,242 dengan Sig.
tinjauan dari aspek kinetika tersebut maka = 0,002 (< 0,05), yang berarti Ho ditolak

17
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

atau rata-rata efisiensi disolusi untuk tablet dari gugus karboksilat (Indrawati, et al,
ketoprofen adalah berbeda nyata. Uji lanjut 2005).
Duncan menunjukkan bahwa rata- rata Hasil uji wash off diusus dan lambung
efisiensi disolusi terbagi 2 kelompok, kelinci dari ke empat formula terdapat
dimana efisiensi disolusi tablet ketoprofen perbedaan, hal ini disebabkan karena pada
PT. Hexafarm Jaya berbeda nyata dengan suasana netral atau sedikit basa bahan
efisiensi disolusi tablet ketoprofen PT. bioadhesif akan terionisasi dan terjadi
Novel, ketoprofen PT. Novel tidak berbeda relaksasi belitan-belitan gugus karboksilat
nyata dengan tablet ketoprofen PT. Dexa yang menyebabkan perbedaan kemampuan
Medika dan PT. Kimia Farma. penetrasi dan inter penetrasi belitan-belitan
Untuk evaluasi tablet ketoprofen pada masing-masing polimer pada permukaan
usus dan lambung kelinci adalah sampel G1 mukus, sehingga obat akan lebih mudah
= serbuk yang melekat 90,14%, sampel G2 diabsorpsi pada usus.
= serbuk yang meleket 90,09%, sampel M1 Hasil pengujian statistik untuk uji
= serbuk yang meleket 90,14% dan sampel bioadhesif antar formula dengan nilai 0,053
M2 = serbuk yang meleket 90,04%. Dan signifikasi besar dari 0,05 maka dapat
pada lambung kelinci adalah sampel G1 = disimpulkan bahwa hasil tidak berbeda nyata
serbuk yang melekat 88,49%, sampel G2 = dan tidak dilanjutkan uji duncan.
serbuk yang meleket 89,08%, sampel M1 =
serbuk yang meleket 87,68% dan sampel M2 KESIMPULAN
= serbuk yang meleket 86,90%.
Bersadarkan penelitian yang
Hal ini menunjukan bahwa tablet
dilakukan dapat diambil kesimpulan
ketoprofen baik paten maupun generik dapat
bahwa tablet ketoprofen baik generik
menempel pada mukosa usus dan lambung.
maupun merek dagang tidak berbeda
Hanya saja dari pengamatan kemampuan
secara signifikan dapat dilihat :
adesif usus lebih baik dari pada lambung.
1. Ditunjukan oleh persentase kadar
Dengan demikian granul dapat bertahan
tablet ketoprofen yang terdisolusi
dalam saluran cerna dalam waktu yang lama.
pada menit ke-60 untuk G1, G2, M1
Secara teoritis mukoadhesif ini berlangsung
dan M2 berturut- turut adalah
melalui dua tahap yaitu tahap pembasahan
94,89%, 97,52%, 101,10% dan
permukaan atau pengembangan bahan
96,47%. Formula terbaik ditunjukan
bioadhesif. Tahap kedua berpenetrasinya
oleh tablet ketoprofen M1 dengan
bahan bioadhesif ke dalam celah permukaan
persentase disolusi tertinggi
jaringan. Ikatan ini diperkuat dengan adanya
101,10%.
ikatan kimia yang lama seperti ikatan
2. Analisis statistik dari efisiensi
hidrogen. Bahan bioadhesif yang
disolusi tablet ketoprofen dilakukan
mengandung gugus karboksilat dalam
dengan uji ANOVA satu arah.
suasana asam akan menjadi bentuk asamnya
Menunjukan rata-rata efisiensi
yang akan membentuk ikatan hidrogen
disolusi dari tablet ketoprofen adalah
dengan asam sialat, rantai ologosakarida
berbeda nyata. Hasil uji lanjut
pada protein mucin. Pada suasana netral atau
dengan uji Duncan menyatakan
sedikit basa bahan bioadhesif akan
bahwa formula G1 berbeda secara
terionisasi dan terjadi relaksasi belitan-
signifikan dengan formula G2, M1,
belitan gugus karboksilat dalam jumlah
dan M2. Namun untuk Formula G2,
besar yang disebabkan karena adanya gaya
M1, dan M2 tidak terdapat
tolak menolak di antara muatan ion sejenis
perbadaan yang signifikan.

18
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 8, No. 1, 2016

DAFTAR PUSTAKA

Abdou, H.M. (1989). Dissolutions Suryani, N., Sulistiawati, F., & Fajriani, A.,
Bioavailability and (2009). Kekuatan Gelatin Dalam
Bioequivalence. Pennsylvania: Formulasi Granul Terhadap
Mack Publishing Co. Kemampuan
Mukoadhesif,Makara, Kesehatan,
Ansel, H. C. (1989). Pengantar Bentuk 13, 1, 1-4.
Sediaan Farmasi (Edisi IV).
Penerjemah: Farida Ibrahim. Widodo, R. (2004). Panduan Keluarga
Jakarta: Universitas Indonesia. Memilih Dan Menggunakan Obat.
Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Ben, E.S., (2008), Teknologi Tablet, Padang:
Universitas Andalas Press.

Departemen Kesehatan Republik


Indonesia.(1979). Farmakope
Indonesia Edisi ke – III,
KORPRI Sub Unit Direktorat
Jendral, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik


Indonesia.(1995). Farmakope
Indonesia. (Edisi IV). KORPRI
Sub Unit Direktorat Jendral,
Jakarta.

Indrawati, T., Agoes, G., Yulinah, E., &


Cahyati, Y., (2004). Uji Daya
Lengket Mukoadhesif secara In
vitro Beberapa Ekspisien Polimer
Tunggal dan Kombinasi Pada
Lambung Dan Usus Kelinci.
Jurnal Matematika dan Sains, 10,
2,45-51.

Lachman, L., H. A. Lieberman & Kanig, J.


L. (1994). Teori dan praktek
farmasi industri I (Edisi II).
Penerjemah: S. Suryatmi. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.

19