Vous êtes sur la page 1sur 6

35

Gambaran Asupan Protein dengan Kadar Hb pada Penderita Gagal Ginjal


Kronik yang Mendapat Perawatan Hemodialisa di Unit Hemodialisa
Risya ocfianella1, Sufiati Bintanah2, Erma Handarsari3
1,2,3
Program Studi S1 Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Semarang
ermahandarsari@gmail.com

ABSTRACT
Chronic renal failure is a decline in kidney function is quite heavy going slowly (chronic)
caused by kidney disease. Is progresive and generally can not be recovered. Therapy in chronic
renal failure including dialysis and kidney transplantation. Dialysis therapy is often done
perotonial hemodialysis and dialysis. Hemodialysis is a form of dialysis is performed in end –
stage renal disease.
Patients chronic renal failure with hemodialysis are given high-protein diet provided 50
% of them have a high biological value that sufficient levels of essential amino acids. Disorders
of protein metabolism in chronic renal failure usually leads to decreased levels of Hb, so that the
high protein diit was made compulsory to the patients with chronic renal failure with
hemodialysis treatment.
The general objective is reviewing image with high levels of Hb protein intake in patients
chronicrenal failure with hemodialysis in the inpatient hospital PKU Muhammadiyah
yogyakarta. While the goal is to describe the particular characteristics and describing the protein
intake, describing the Hb levels, and decribing the protein intake with Hb levels of patients with
chronic renal hemodialysis.
Types of data used are primary and secondary data. Primary data through interviews
with patients and their families include medical history, eating habits at homeand food intake
during hospitalization. To find their food intake using the recall, while the secondary data
through patient medical records.
The results shows the characteristic of patients cronic renal failure with hemodialysis is
largely male-sex. The lowest age of them is 46 years and the highest is 70 years. The average of
protein intake is adequate (34 – 44 gr/days), while the big part of them have Hb levels from 7 to
9.9 mg/dl.

Keywords : protein, Hb, renal chronic failure, haemodialysis

PENDAHULUAN Gagal Ginjal adalah suatu penyakit


dimana fungsi organ ginjal mengalami
Ginjal bertugas menyaring zat-zat
penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu
buangan yang dibawa darah agar darah tetap
bekerja sama sekali dalam hal penyaringan
bersih, dan membuang sampah metabolisme
pembuangan elektrolit tubuh, menjaga
tersebut agar sel-sel tubuh tidak menjadi
keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh
lemah akibat keracunan. Zat-zat tersebut
seperti sodium dan kalium didalam darah atau
berasal dari proses normal pengolahan
produksi urine.
makanan yang dikonsumsi dan dari
pemecahan jaringan otot setelah melakukan Prevalensi gagal ginjal kronik telah
suatu kegiatan fisik. Tubuh akan memakai mengalami peningkatan pada awal tahun
makanan sebagai protein dan perbaikan 1990-an dan hanya menyerang lansia, juga
jaringan sel tubuh. Setelah tubuh mengambil merupakan “penyakit orang kaya”, di
secukupnya dari makanan tersebut sesuai Asia.Prevalensi gagal ginjal kronik
dengan keperluan untuk mendukung kegiatan, berkembang secara merata. Gagal ginjal
sisanya akan dikirim ke dalam saraf untuk kronik tidak pandang bulu menyerang
kemudian disaring di ginjal (Syamsir, 2007). golongan muda,yaitu pada usia 15 tahun.
Organisasi kesehatan dunia (WHO)
36

memperkirakan, bahwa 155 juta penduduk kronik dengan hemodialisa di unit hemodialisa
dunia tahun 2002 mengidap gagal ginjal RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
kronik. Jumlah ini akan meningkat hingga
METODE
melebihi 200 juta pada tahun 2025.
(Febrian,2009) Penelitian ini merupakan penelitian
diskriptif di bidanggizi klinik yang
Hemodialisis adalah bentuk dari
menggunakan pendekatan crossectional (belah
analisa yang dilakukan pada penyakit gagal
lintang). Penelitian dilakukan di Instalasi
ginjal akhirstadium.MenurutAdityarini (1996)
Rawat Jalan Unit Hemodialisa RS PKU
Keuntungan hemodialisa adalah lebih efisien,
Muhammadiyah Yogyakarta karena jumlah
lebih enak bagi penderita dan dapat dikerjakan
penderita gagal ginjal kronik dengan
berkali - kali selama waktu yang tidak
Hemodialisa yang dirawat di Rumah Sakit
terbatas, sedangkan kerugian dari hemodialisa
PKU Muhammadiyah Yogyakartacukup
adalah memerlukan fasilitas khusus dan
banyak, yaitu 81 orang pada kurun waktu 1
pengawasan terus – menerus.
tahun di tahun 2010.
Pada penderita gagal ginjal kronik
Populasi dalam penelitian ini adalah
dengan hemodialisa diberikan makan yang
semua penderita gagal ginjal kronik dengan
tinggi protein dengan ketentuan 50%nya harus
hemodialisa di unit hemodialisa di Rumah
yang bernilai biologis tinggi agar cukup akan
Sakit PKU Muhammadiyah
zat besi. Protein diberikan tinggi dengan
Yogyakarta,padabulanmei – juni 2011
alasan bahwa pada penderita gagal ginjal
kronik dengan hemodialisa kehilangan banyak Sampel dalam penelitian ini adalah
protein akibat proses dialisis dan Hemoglobin penderita gagal ginjal kronik dengan
itu sendiri merupakan salah satu protein yang hemodialisa di unit hemodialisa di Rumah
kaya akan zat besi kompleks dan terdapat di Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakartayang
dalam eritrosit. Sebuah molekul hemoglobin memenuhi criteriasebagai berikut :
memiliki empat gugus haeme yang
a. Penderita gagal ginjal kronik dengan
mengandung besi fero dan empat rantai globin
hemodialisa yang menjalani rawat inap.
(Brooker, 2001).
b. Sampel bersedia diwawancarai untuk
Penderita gagal ginjal kronik dengan memberikan data yang diperlukan.
hemodalisa di ruang rawat jalan RSPKU c. Sampel berada dalam bulan penelitian
Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan yaitu bulan Mei-Juni 2011.
Januari 2010 – Desember 2010 berjumlah 81
orang dan menempati peringkat ke 22 dari Alat Penelitian adalah Catatan Medik
penyakit yang ada dengan jumlah laki-laki Pasien, Timbanagan injak dengan ketelitian
69,13% (56 orang), sedangkan wanita 30,86% 0,01 kg, Kuesioner, Formulir recall konsumsi
(25 orang). makanan 3 X 24 jam. Macamdancara
pengumpulandata dalam penelitian ini adalah
Berdasarkan uraian diatas, peneliti
Data primer dan Data Sekunder.Data primer
ingin mengetahui gambaran asupan protein
diperoleh dari hasil wawancara kepada
dan kadar Hb pada penderita gagal ginjal
responden dan penderita gagal ginjal kronik.
37

a. Identitas penderita, meliputi : nama, Dari hasil penelitian dapat diketahui


umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, bahwa 9 orang (60%) berjenis kelamin laki-
pendidikan dan berat badan ,yang laki, hal tersebut sesuai dengan penelitian yang
diperoleh melalui pengisian kuesioner dilakukan di ruang rawat inap RS PKU
dengan cara wawancara. Muhammadiyah Yogyakarta. Menurut
b. Recall 3 x 24 jam tentang makanan Dharmeizar (2011) menyatakan factor resiko
yang telah dikonsumsi,setelah dan laki-laki terkena gagal ginjal kronik berawal
sebelum hemodialisa. dari adanya penyakit hipertensi dan diabetes
Data sekunder adalah data yang didapat secara mellitus. Karena penyakit ini terkait dengan
tidak langsung untuk melengkapi data pola hidup, pola makan, stress dan kebiasaan
yang diperlukan data sekunder ini didapat dari minum-minuman antara lain jamu-jamuan,
cacatan medic (CM) misalnya pemeriksaan alkhohol yang dapat meningkatkan resiko
hasil laboratorium (kadar Hb), obat – obatan penyakit ini.
yang diberikan.
Umur
Pengolahan data ini dilakukan 4 tahap
yaitu editing, koding, tabulating dan cleaning Dari hasil penelitian diketahui bahwa
kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif, penderita gagal ginjal kronis dengan
sedangkan recall dan penimbangan makan hemodialisa terjadi pada usia terendah 46
selama 3 hari berturut – turut di konversi ke tahun dan usia tertinggi 70 tahun prosentase
dalam berat bahan mentah. Editing dilakukan tertinggi terjadi pada usia 56-60 tahun yaitu
dengan cara mengkolerasi data yang telah sebanyak 33,3 %. .Menurut Imam Parsoedi
diperoleh meliputi; kebenaran pengisian dan dalam Boedhi Darmojo (1999) setelah umur
kelengkapan jawaban yang diberikan. Koding 30 tahun mulai terjadi penurunan kemampuan
merupakan pengklasifikasian data menurut ginjal. pada usia 60 tahun kemampuan ginjal
jenis dan golongannya dan pemberian kode menurun menjadi 50 % dari kapasitas
pada data, kode biasanya berupa angka. fungsinya pada umur 30 tahun. Hal ini
Tabulating dilakukan dengan memasukkan disebabkan karena proses fisiologi berupa
data yang telah diedit kemudian dibuat dalam kurangnya populasi nefron dan tidak adanya
table distribusi frekuensi. Data yang di kemampuan regenerasi.
kabulasikan antara lain; identitas penderita
Pekerjaan
(meliputi; nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan). Cleaning dilakukan Pekerjaan adalah suatu kegiatan
untuk membersihkan data apabila ada angka seseorang untuk mencari nafkah, baik untuk
aneh, angka ekstrem dan data yang hilang. sendiri maupun keluarga. Pekerjaan sebagai
sumber penghasilan bagi kelangsungan hidup

HASIL DAN PEMBAHASAN keluarga, dalam hal ini diartikan sebagai

Jumlah sampel yang diperoleh dalam pekerjaan tetap yang dilakukan setiap hari,

penelitian ini adalah 15 orang penderita gagal sebab seseorang sering kali mempunyai

ginjal kronik dengan Hemodialisadi RS PKU pekerjaan sambilan, disamping pekerjaan

Muhammadiyah Yogyakarta. tetapnya. Pekerjaan yang semakin berat dapat


menyebabkan kekambuhan kembali yang
Jenis Kelamin
38

mungkin disebabkan beberapa faktor misalnya sukar untuk di patuhi oleh pasien sehingga
stres atau kelelahan dan lain sebagainya. memberikan dampak terhadap status gizi dan
kualitas hidup penderita.
Menurut Candra Wibowo (2011)
menyatakan bahwa pekerjaan dengan Asupan Protein
penghasilan rendah rentan mengalami infeksi.
Pada penelitian ini, semua sampel
Hal ini terjadi karena adanyakecenderungan
dilakukan recall dan penimbangan makanan
mengkonsumsi makanan yang kualitasnya
selama tiga hari. Penimbangan dilakukan
kurang baik.
dengan cara menimbang jumlah makanan
Pendidikan sebelum makan dengan menggunakan contoh
maknan yang sudah diketahui beratnya
Pendidikan merupakan salah satu
sehingga diharapkan dapat menafsirkan secara
faktor penting yang menentukan tingkat
kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat
pengetahuan seseorang (Depkes RI, 2000).
diketahui bahwa asupan protein sampel antara
MenurutCandra Wibowo (2011) mengatakan
34 - 44 gr/hari yaitu 9 orang. Hal ini
bahwapendidikan rendah mempunyai
dikarenakan pasien tersebut sudah mengetahui
kecenderungan atau risiko lebih tinggi untuk
pentingnya makanan bersumber protein tinggi,
mengalami gangguan ginjal karena menerima
terutama dengan nilai biologis tinggi (protein
sedikit sekali informasi tentang
hewani) sehingga asupan pasien tersebut
kesehatan. Dari hasil tersebut bisa disimpulkan
cukup tinggi.
sampel yang berpengetahuan kurang akan
berpengaruh dengan tingginya resiko Kadar Hb
penyebab penyakit gagal ginjal kronis.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui
Status Gizi sebagian besar (66,7%) memiliki nilai Hbnya
7-9.9. menurut WHO 2001 dengan nilai
Dengan diberikan terapi diet pada
rentang 7-9,9 tergolong pada anemia sedang.
penderita gagal ginjal dapat digunakan sebagai
Menurut PERNEFRI 2001 kehilangan Hb
terapi pendamping (komplementer ) utama
pada penderta gagal ginjal kronik dengan
dengan tujuan mengatasi racun tubuh,
hemodialisa diakibatkan oleh berkurangnya
mencegah terjadinya infeksi dan peradangan,
produksi eritropoitein, penyebab lain adalah
dan memperbaiki jaringan ginjal yang rusak.
defisiensi besi oleh karena beberapa hal seperti
Caranya adalah diet ketat rendah protein
kehilangan darah selama prosedur
dengan kalori yang cukup untuk mencegah
hemodialisa(HD), malnutrisi dan perdarahan
infeksi atau berkelanjutannya kerusakan ginjal.
gastrointesstinal.
Kalori yang cukup agar tercapai asupan energi
yang cukup untuk mendukung kegiatan sehari- Pada penderita gagal ginjal kronik
hari, berat badan normal tetap terjaga dan dengan hemodialisa pasti akan terjadi
mempertahankan status gizi (Anonim, 2010). penurunan kadar Hb dikarenakan
proses/prosedur dari dialisat itu sendiri.
Sedangkan menurut Rindiastuti (2006)
Sedangkan makanan bersumber protein tinggi
pengaturan diet pada penyakit gagal ginjal
terutama dengan nilai biologis tinggi dapat
yang menjalani hemodialisis sedemikian
membantu meringankan fungsi ginjal serta
kompleks, pengaturan diet tersebut sangat
39

membantu mempertahankan ataupun (60 %)penderita gagal ginjal kronik berkisar


menaikkan kadar Hb. Sehingga jika asupan antara 34 – 44 gr/hr sehingga dalam kategori
protein pasien tersebut rendah maka kadar Hb cukup.Kadar Hb sebagian besar (66,7 %)
pasien tersebut ikut turun walaupun ada cara penderita gagal ginjal kronik dengan
lain yaitu dengan tranfusi darah. hemodialisa berkisar antara 7-9,9 mg/dL,
sehingga dapat dikategorikan anemia.
Gambaran Asupan Protein dengan Kadar
Hb SARAN

Berdasarkan hasil penelitian diketahui Perlu dilakukan penyuluhan dan


sample dengan asupan protein 35-39,9 gr/hari konsultasi gizi serta pemantauan secara ketat
sebanyak 7 orang, 5 orang dengan kadar Hb < asupan makan bagi penderita gagal ginjal
7. Menurut WHO 2001 kadar Hb yang kurang kronik khususnya dengan hemodialisa agar
dari 7 mg/dL tergolong pada kategori anemia asupan proteinnya sesuai dengan kebutuhan
berat. Pada penderita gagal ginjal kronik dan mengurangi resiko terjadinya penurunan
dengan hemodialisa sering terjadi penurunan kadar Hb pada penderita gagal ginjal kronik
nilai kadar Hbnya diakibatkan eritropoesis untuk mencapai derajad kesehatan yang
terhadap rangsangan hipoksia. Sedangkan optimal.
menurut Raharjo (1992) proses hemodialisa
DAFTAR PUSTAKA
akan menyebabkan pemecahan protein tubuh
yang diduga akibat intervensi membran Adityarini, Dini. 1996. Segala Sesuatu yang
Perlu Anda Ketahui. PT
muatan dializer.
Gramedia,Jakarta
Pada penderita gagal ginjal kronik Alam, Syamsir dan Iwan Hadibroto. 2007.
Gagal Ginjal. Jakarta: PT Gramedia
dengan hemodialisa pasti akan terjadi
Pustaka Utama.
penurunan kadar Hb dikarenakan
Anonim, 2010. Terapi diit penderita gagal
proses/prosedur dari dialisat itu sendiri. ginjal kronik. http.skp.unair.ac.id
Sedangkan makanan bersumber protein tinggi
Barbara, 1994. Principles of Nutrition And
terutama dengan nilai biologis tinggi dapat Dier Therapy. Little Brow And
membantu meringankan fungsi ginjal serta Company. Boston, Toronto
membantu mempertahankan ataupun Besarab, A, Samarapungavan, D. 1999.
menaikkan kadar Hb. Sehingga jika asupan Treatment Of Anemia Dialisys Patient,
protein pasien tersebut rendah maka kadar Hb Inpinclple and Practice Of Dialisys. 2ND ed.
pasien tersebut ikut turun walaupun ada cara By Henrich, WI, Williams and

lain yaitu dengan tranfusi darah. Wilkins, A. Waferly Company. London : 398
– 436
KESIMPULAN Beck, 1993. Ilmu Gizi And Diet. Yayasan
Essentia Medica, Yogyakarta
Sebagian besar (60%) penderita gagal
C. Long Barbara. 1996. Perawatan Medical
ginjal kronik adalah laki-laki. Usia termuda Bedah. Yayasan IAPK, Padjajaran
46 tahun dan tertua 70 tahun. Sebesar 46,7% Bandung
sampel adalahburuh tani dan 60% sampel Candra wibowo. dr. 2011. Jangan Tunda
tidak sekolah atau tamat SD.Status gizi semua Periksa Ginjal.
www.4lifesistemimun.com/tag/gagal-
sampel normal.Asupan protein sebagian besar ginjal-kronis
40

Dharmeizer, dr. 2011. Faktor Resiko Gagal Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta. Balai Penerbit
Ginjal FKUI .
Darmojo, boedhi. 1999. Pengaturan Penyakit. Suharyati D, Kartono Bsc, Ferina Darmarini,
PT Gramedia, Jakarta DPL.CN, Rosa R, SKM
Febrian, 2009. Penyakit Gagal Ginjal Kronik. Penyusunan Diet Pada Gagal Ginjal Kronik
Diakses tanggal 1 Desember 2009. dengan Dialisis. Pernefri dan
http://www.mldi.or.id/2009
Persagi, Auditorium Perpustakaan Nasional
Hofbrand, A. V., Lewis, S. M. Heinemen RI.
Propsesional Publishing Oxford : 26-
53 Sitepoe, Mangku. 1996. Segala Sesuatu yang
Perlu anda Ketahui Disase
J. Puji Rahardjo “Strategi Terapi Gagal Ginjal
Kronik”, Ilmu Penyakit Dalam. Penyakit. Gramedia. Jakarta

Jakarta.: Kumpulan Makalah Siang Klinik Sja’bani. 1996. Pelatihan Gizi Klinik Bagi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Tenaga Rumah Sakit. FK UGM/RSUP
Dr. Sardjito, Yogjakarta
FKUI, RSUP Nasional Cipto Mangunkusumo.
1994-1995. Soenarso. 2004. Aspek Klinis Gagal Ginjal
Kronik.FK.UNJANI. Cimahi
Kelanter, K-Zadeh, Hoffken. B, Wunseh, H,
Fink, Klieneer, M, Luft, F.C. 1995. Sianipar, Diana. 2001. Tata Laksana Diit
Penyakit Ginjal Untuk Mencapai
Diagnosis Of Iron Deficiency Anemia In Status
Renal Failure Patient During The
Gizi Optimal dan Mempertahankan Fungsi
Post-Erythropoietin Era. American Journal Of Ginjal. Temu Ilmiah Dietetik IX.
Kialney Diseasis 26 (2) : 292-99 Jakarta
Lewis, S.M. 1989. Erythropoeitin, In Post Triyani. 1992. Penyusunan Diit pada Penderita
Graduate Heamathology. 3thed. By Gagal Ginjal Kronik dengan
Hofbrand, A.V. Lewis, S. M. 1-25
Terapi Konservatif. Instalasi Gizi RSCM.
Nissenson AR, 1998. Introduction To Anemia. Jakarta
4thed. 131-132
Berkesinambungan Ilmu Penyakit Dalam
Rindiastuti, Y. 2006. Pengaturan Diit Pada FKUI”. Jakarta
Penyakit Gagal Ginjal Kronik
Tambayong, 2000. Patofisiologi Untuk
Susetyowati. 1996. Instalasi Gizi RSUP Dr. Keperawatan. ECG. Jakarta.
Sardjito. Yogyakarta
Whitney. 2008.
Sidabutar, R.P. 1992. “Gagal Ginjal Kronik”, www.cafepojok.com/news/ginjal.html
RSCM FKUI, Jakarta
Sidabutar, R.P. & Endang Susilat,. 1990.
Dialisis Dan Transplantasi Ginjal. Ilmu