Vous êtes sur la page 1sur 1

DE BRONSVONDST VAN NGANJUK

ARCA-ARCA PERUNGGU KUNO DARI NGANJUK

Pada tahun 1913, seorang petani di Nganjuk menemukan seperangkat arca kuno berbahan
perunggu dalam berbagai rupa perwujudan Buddha. Lokasi penemuan arca-arca tersebut tidak
jauh dari kompleks Candi Lor, yaitu di Desa Candirejo-Loceret. Di sekitar tempat penemuan itu,
sebelumnya berdiri sebuah tugu batu bertulis yang kemudian dikenal dengan sebutan Prasasti
Anjuk Ladang. Awalnya ketika ditemukan, arca-arca perunggu Nganjuk sekitar 100 buah, namun
sebagian besar sempat dijual oleh penemunya kepada para kolektor dan tinggal 40 buah saja
yang tersisa. Sisa temuan tersebut kemudian diamankan oleh Pemerintah Hindia-Belanda di
Museum Batavia (Museum Nasional sekarang) dan dikenal dengan istilah Belanda De
Bronsvondst Van Nganjuk yang artinya “perunggu dari Nganjuk”.

Seperangkat arca perunggu Nganjuk ini juga sempat dipamerkan oleh Pemerintah Hindia-
Belanda pada Pameran Kolonial di Museum Paris pada tahun 1931 dan menarik perhatian para
arkeolog dunia dan rohaniwan Buddha, karena dianggap arca perwujudan Buddha yang
terlengkap di dunia yang pernah ditemukan serta memiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu
berkisar antara 11 - 21 cm, tetapi pahatan arca sangat halus, detail, coraknya unik dan bercita
rasa seni tinggi. Sampai saat ini, arca-arca perunggu Nganjuk masih menjadi acuan utama studi
perbandingan bagi semua temuan arca perunggu kuno di seluruh dunia.

Berdasarkan analisa pola dan gayanya, diperkirakan arca-arca perunggu Nganjuk dibuat pada
sekitar pertengahan abad 10 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Pu Sindok, tidak lama
setelah Candi Lor selesai dibangun. Arca-arca perunggu Nganjuk Nganjuk memiliki corak khas
Nusantara yang tidak ditemui di negara-negara lainnya, antara lain: memiliki ciri bentuk badan
yang ramping, ornamen-ornamen runcing dan tegas, perhiasan kalung yang berat, rantai
menyelempang di dada, dan mengenakan korset (udarabandha) baik untuk figur laki-laki maupun
perempuan. Pola arca-arca perunggu Nganjuk menggambarkan suatu mandala yang terdiri
beberapa tingkatan, mulai dari kelompok arca berukuran kecil hingga besar dan pada tingkatan
tertinggi adalah arca Buddha Mahawairocana berbentuk Dewi Pradnja Paramitha. Arca Pradnja
Paramitha dari Nganjuk diperkirakan merupakan model yang pertama kali dibuat di Jawa Timur
yang dikembangkan pada periode selanjutnya, termasuk menjadi arca Pradnja Paramitha yang
terkenal pada era Kerajaan Singosari.