Vous êtes sur la page 1sur 18

LAPORAN ANALISIS ARTIKEL JURNAL

“Auscultatory versus oscillometric blood pressure measurement in patients with atrial


fibrillation and arterial hypertension”

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok


Stase Praktik Keperawatan Gawat Darurat

Disusun oleh :
Arif Annurrahman 18/436101/KU/20957
I Putu Athia Alit A. 18/436120/KU/20976
Rizki Muthia Putri 18/436149/KU/21005
Tri Yatmi 18/436154/KU/21010
Yanuarta Sulistiyawati18/436160/KU/21016
Zeti Sukrestin 18/436162/KU/21018

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN,
KESEHATAN MASYARAKAT DAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengukuran tekanan darah perlu dilakukan karena merupakan salah satu tanda vital yang
berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Alat ukur yang digunakan juga memengaruhi
deteksi dini terhadap suatu penyakit seperti penyakit pada jantung. Atrial fibrilasi (AF)
merupakan aritmia berkelanjutan yang paling umum ditemukan dengan prevalensi 1-2% pada
populasi umum (Vlachos et al., 2016). Hipertensi arteri merupakan salah satu faktor
penyebab yang paling sering ditemukan pada AF (Wachtell et al., 2005). Oleh karena itu,
diagnosis dini dan pengobatan hipertensi arteri yang efektif sangat penting untuk pasien
dengan atrial fibrilasi. Hipertensi yang disertai dengan atrial fibrilasi meningkatkan risiko
stroke dan membutuhkan pengukuran tekanan darah secara teratur. Pengukuran dan
pemantauan tekanan darah lebih baik dilakukan di rumah karena dapat memastikan
pengobatan hipertensi arteri yang lebih tepat dan juga dapat membantu untuk mendiagnosis
hipertensi arteri sejak dini (Hänninen et al., 2012)
Secara klinis, tekanan darah biasanya diukur menggunakan perangkat manual atau
otomatis. Metode osilometrik merupakan metode yang sederhana sehingga bisa digunakan
untuk mengukur tekanan darah di rumah. Meskipun penggunaan alat pengukur tekanan darah
oscillometrik semakin meluas, osilometrik dianggap tidak dapat diandalkan untuk pasien
dengan AF karena alat tersebut mengukur tekanan darah dari profil gelombang tekanan yang
halus dan berurutan serta variabilitas dari denyut jantung dan stroke volume yang tinggi
selama aritmia. Selain itu, sebagian besar alat pengukur tekanan darah otomatis divalidasi
dan dikalibrasi hanya untuk pasien dengan irama sinus (SR) dan bahkan produsen
merekomendasikan kehati-hatian ketika perangkat tersebut digunakan untuk pasien dengan
aritmia (Pagonas et al., 2013). Di sisi lain, saat ini semakin banyak perangkat osilometrik
khusus dengan detektor AF digunakan dalam praktik klinis ( Verberk et al., 2016).
Pada penelitian yang dilakukan oleh (Jani et al., 2006) menunjukkan bahwa alat
osilometrik dapat digunakan pada pasien dengan AF jika pengukuran dilakukan secara
berulang. Meskipun demikian, penelitian yang dilakukan oleh (Stergiou, 2012) menunjukkan
bahwa ada bukti yang terbatas untuk memvalidasi alat pengukur tekanan darah otomatis
dalam AF. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa perangkat osilometrik mungkin
cocok untuk mengukur sistolik, tetapi tidak untuk diastolik.
B. Pertanyaan Klinis
P: penyakit jantung
I : pengukuran tekanan darah
C: -
O: efektif
Pertanyaa klinis: Alat pengukur tekanan darah seperti apa yang efektif digunakan pada
pasien dengan penyakit jantung?
C. Tujuan
Untuk mengetahui alat pengukur tekanan darah yang tepat untuk pasien dengan penyakit
jantung
D. Manfaat
1. Bagi perawat
Perawat dapat mendeteksi dini penyakit jantung yang diderita seseorang secara
dini dengan alat pengukur yang tepat dan efektif
2. Bagi keluarga
Keluarga dapat secara rutin untuk mendeteksi dini jika terjadi penyakit jantung
dengan memeriksakan kesehatannya di tenaga kesehatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Tekanan Darah


Tekanan darah adalah tekanan dari darah yang dipompa oleh jantung terhadap dinding
arteri. Tekanan ini terus menerus akan berada dalam pembuluh darah dan memungkinkan
darah mengalir secara konstan. Gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap dinding
pembuluh bergantung pada volume darah yang terkandung dalam pembuluh dan
distensibilitas dinding pembuluh (seberapa mudah pembuluh darah tersebut diregangkan).
Jika volume darah yang masuk ke arteri sama dengan volume darah yang keluar dari arteri
selama periode yang sama maka tekanan darah arteri akan konstan.
Kenyataannya, sewaktu sistol ventrikel satu isi sekuncup darah masuk ke arteri dari
ventrikel, sementara hanya sekitar sepertiga dari jumlah tersebut yang meninggalkan arteri
untuk masuk ke arteriol. Selama diastole, tidak ada darah yang masuk ke dalam arteri,
sementara darah terus keluar dari arteri, didorong oleh recoil elastic. Tekanan darah penting
karena merupakan kekuatan pendorong bagi darah agar dapat beredar ke seluruh bagian
tubuh. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan
diastolik.
B. Metode Pengukuran Tekanan Darah
Terdapat dua metode yang sering digunakan dalam pengukuran tekanan darah. Metode
pertama adalah metode auskultasi atau metode manual, menggunakan sebuah tensimeter dan
stetoskop, dan memerlukan seorang operator yang telah terlatih untuk mendengar denyut
pada pembuluh darah yang merepresentasikan nilai sistol dan diastol.
Metode kedua adalah metode osilometrik, metode yang paling populer digunakan oleh
tensimeter otomatis (Ball-llovera, dkk, 2003). Pada metode osilometrik, osilasi tekanan pada
manset tensimeter yang disebabkan oleh denyut pada pembuluh darah digunakan untuk
menentukan nilai sistol dan diastol. Tiap produsen memiliki algoritmanya sendiri untuk
menentukan nilai sistol dan diastol dari data osilometrik (Ball-llovera, dkk., 2003).
BAB III
ANALISA ARTIKEL JURNAL

A. Metode Pencarian Jurnal


Proses pencarian literatur dilakukan oleh penulis dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Membuka alamat website https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/
2. Kemudian penulis menuliskan keyword dan memilih batasan-batasan dan pilihan yang
tersedia:
a. Keyword : “cardiac disorders” AND “blood pressure measurement”
b. Tahun terbit : From 2017/01/01 to 2019/12/31
c. Tipe artikel : free full text
d. Species : human
e. Sort by : best match
f. Hasil pencarian : Didapatkan 52 jurnal dan jurnal terpilih yaitu berjudul
“Auscultatory versus oscillometric blood pressure measurement in patients with
atrial fibrillation and arterial hypertension”
B. Analisis Artikel Jurnal
1. Identitas Artikel
a. Judul artikel : Auscultatory versus oscillometric blood
pressure measurement in patients with atrial fibrillation
and arterial hypertension

b. Penulis : Aistėja Šelmytė–Besusparė, Jūratė


Barysienė, Dovilė Petrikonytė, Audrius Aidietis,
Germanas Marinskis, and Aleksandras Laucevičius
c. Jurnal : BMC Cardiovascular Disorders
d. Tahun : 2017
e. Volume / Issue: Volume 17, Issue 87
2. Latar Belakang Penelitian
Atrial fibrilasi (AF) adalah aritmia berkelanjutan yang paling umum dengan prevalensi 1-
2% pada populasi umum dan dikaitkan dengan peningkatan morbiditas, mortalitas, dan
meningkatnya penggunaan sumber daya layanan kesehatan. Hipertensi arteri (AH) adalah
salah satu faktor etiologi yang paling umum untuk AF yang meningkatkan risiko AF untuk
pria dan wanita masing-masing 1,5 dan 1,4 kali. Oleh karena itu, diagnosis dini dan
pengobatan AH yang efektif sangat penting untuk pasien dengan AF.
Hipertensi dengan AF bersamaan meningkatkan risiko stroke dan membutuhkan kontrol
pengukuran dan tekanan darah secara teratur. Mengukur tekanan darah di rumah dapat
memastikan pengobatan AH yang lebih tepat dan juga dapat membantu mendiagnosis AH
lebih dini. Saat di layanan klinis, tekanan darah biasanya diukur menggunakan perangkat
manual atau otomatis. Metode osilometrik telah menyederhanakan pemantauan mandiri
tekanan darah dan mungkin merupakan pilihan yang lebih baik untuk mengukur tekanan
darah di rumah.
Meskipun alat pengukur tekanan darah osilometrik semakin meluas, alat tersebut
dianggap tidak dapat diandalkan untuk pasien dengan AF karena alat tersebut mengukur
tekanan darah dari profil yang halus dari gelombang tekanan yang berurutan dan karena
variabilitas tinggi dari detak jantung dan volume stroke selama aritmia. Selain itu, sebagian
besar alat pengukur tekanan darah otomatis divalidasi dan dikalibrasi hanya untuk pasien
dengan irama sinus (SR).
Di sisi lain, saat ini semakin banyak perangkat pengukur tekanan darah osilometrik
khusus dengan detektor AF digunakan dalam praktik klinis. Studi sebelumnya telah
menunjukkan bahwa perangkat osilometrik berperforma memuaskan pada pasien AF, jika
pengukuran berulang dilakukan. Studi terbaru oleh Pagonas et al. membandingkan tekanan
darah yang diukur dengan perangkat osilometrik dengan tekanan darah yang dinilai melalui
prosedur invasif dan menyimpulkan bahwa untuk kasus AF, penggunaan osilometri setelah 3
pengukuran berturut-turut tidak secara signifikan meningkatkan keakuratan pengukuran.
Namun, salah satu keterbatasan studi mereka adalah bahwa alat pengukur tekanan darah
osilometrik mereka tidak ditujukan untuk pasien dengan AF.
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah untuk menyelidiki keandalan pemantauan tekanan darah
osilometrik otomatis untuk pasien dengan atau tanpa AF pada pasien hipertensi di layanan
klinik. Penelitian menggunakan metode auskultasi sebagai teknik referensi.

4. Metode Penelitian
Populasi penelitian
Studi cross-sectional melibatkan 71 pasien yang dirawat di Departemen
Kardiologi di Rumah Sakit Universitas Vilnius Santariskiu Klinikos sejak Juni 2014
hingga Maret 2015. Kriteria inklusi adalah: diagnosis AF nonvalvular dan hipertensi
arteri yang dikonfirmasi. Kriteria eksklusi adalah: usia kurang dari 18 tahun, penyakit
katup jantung, penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskular, gagal jantung berat
(Menurut Klasifikasi New York Heart Association (NYHA) dengan kelas ≥ III),
ketidakstabilan hemodinamik, tanda tanda penyakit arteri perifer, penyakit tiroid yang
signifikan secara klinis.
Jenis AF diklasifikasikan menurut pedoman ESC. Semua pasien didiagnosis
dengan AF dan AH. Pasien dengan SR dan AF pertama kali didiagnosis adalah pasien
yang memiliki AF didiagnosis untuk pertama kalinya selama rawat inap ini dan dirawat
oleh kardioversi medis atau listrik pada hari yang sama atau beberapa hari sebelum
pengukuran TD. Tekanan darah diukur setelah prosedur, sehingga pasien berada di SR.
Semua pasien dialokasikan ke dalam 2 kelompok sesuai dengan irama jantung pada saat
pengukuran tekanan darah: satu kelompok terdiri dari pasien dengan AF dan kelompok
lain termasuk yang di SR. Irama ditentukan dengan memonitor EKG sebelum
pengukuran tekanan darah.
Pengukuran Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah auskultasi dan osilometrik dilakukan menggunakan
manset dewasa dengan ukuran yang memadai yang ditempatkan di sekitar lengan setinggi
jantung, dengan tepi bawahnya 2-3 cm di atas titik denyut arteri brakialis, dengan pasien
berbaring dalam posisi terlentang. Untuk menghindari kongesti vena dan untuk
meminimalkan variabilitas pada tekanan darah, waktu antara pengukuran ditentukan
dalam kisaran 1–5 menit.
Tekanan darah diukur sesuai dengan pedoman internasional, metode auskultasi
standar digunakan sebagai teknik referensi, sebagaimana dinyatakan dalam protokol
validasi yang ditetapkan. Setelah 5 menit istirahat, empat pengukuran tekanan darah
auskultasi dilakukan pada kelompok yang tidak dominan. Setelah menggunakan metode
auskultasi, diperoleh empat pengukuran tekanan darah osilometrik, menggunakan
perangkat Microlife (BP A6 PC dengan sistem deteksi AF) sesuai dengan instruksi
pabrikan, sekali lagi dengan pasien dalam posisi berbaring dan menggunakan lengan
yang sama.
Dengan demikian, jumlah keseluruhan delapan pengukuran diambil untuk setiap
pasien. Tekanan darah sistolik dan diastolik rata-rata dari dua pengukuran yang berbeda
ini dihitung untuk perbandingan. Nilai tekanan darah target / terkontrol adalah 140/90
mmHg atau kurang. Penelitian ini disetujui oleh Komite Etika Lokal Rumah Sakit
Universitas Vilnius Santariskiu Klinikos, Vilnius, Lithuania pada 10 April 2014, nomor
protokol EK – 19
Analisis statistik
Hasilnya disajikan sebagai mean ± standar deviasi (SD). Nilai BP adalah rata-rata
dari 4 pengukuran berturut-turut. Perbandingan nilai tekanan darah numerik pasien
dengan dan tanpa AF dilakukan dengan uji-2 berpasangan dengan tingkat signifikansi 2-
ekor yang ditetapkan pada p = 0,05. Metode pengukuran tekanan darah dibandingkan
menggunakan analisis regresi linier dengan menggunakan metode auskultasi sebagai nilai
referensi. Analisis korelasi Pearson dilakukan sebelum analisis regresi linier. Kesepakatan
antara dua metode dianalisis dengan metode Bland-Altman. Asumsi normalitas perbedaan
dan karakteristik lainnya diperiksa dengan pendekatan grafis. Grafik yang dihasilkan
adalah scatter plot di mana perbedaan dari dua pengukuran berpasangan diplot terhadap
rata-rata dari dua pengukuran. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS
versi 17.0.
5. Hasil Penelitian
Studi mencakup 71 pasien: 36 pria (usia rata-rata 67,4 tahun) dan 35 wanita (70,2
tahun), menderita AF dan AH. Usia rata-rata semua pasien adalah 68,8 (± 9,1) tahun,
berkisar antara 51 hingga 89 tahun. Pada saat prosedur pengukuran tekanan darah, 36
(50,7%) pasien berada di SR dan 35 (49,3%) pasien memiliki AF. Pasien dari kedua
kelompok tidak berbeda secara signifikan dalam hal usia, jenis kelamin, indeks massa
tubuh (BMI) dan tingkat perokok. Karakterisasi terperinci dari populasi penelitian
disediakan pada Tabel 1.
Perawatan antihipertensi untuk pasien dengan AF dan SR serupa. Satu-satunya
perbedaan adalah bahwa lebih banyak pasien dengan SR yang menggunakan Angiotensin
Converting Enzyme Inhibitors (ACFI), sementara lebih banyak pasien dengan AF
menggunakan calcium channel blocker (CCB), diuretik thiazide atau loop dan lebih
banyak pasien dengan AF menggunakan obat kombinasi (2 atau 3 obat dalam satu tablet).
Perbedaan itu tidak signifikan secara statistik.
Data diperoleh dengan dua
metode pengukuran tekanan darah
(yaitu metode auskultasi dan
osilometri otomatis) yang
dibandingkan. Ditemukan bahwa
pada kedua kelompok pengukuran
tekanan darah sistolik dan
diastolik lebih tinggi
menggunakan metode osilometrik
(p = 0,007 pada kelompok SR dan p
<0,001 pada kelompok AF untuk
TD sistolik, p = 0,151 pada
kelompok SR dan p = 0,032 pada
kelompok AF untuk TD diastolik)
(Tabel 2).
Pada kelompok pasien SR
rata-rata tekanan darah sistolik
adalah 132 ± 17,9 mmHg diukur dengan metode auskultasi dan 137,4 ± 19,4 mmHg
diukur dengan perangkat osilometrik. BP diastolik rata-rata adalah 77,1 ± 10,9 mmHg
(metode auskultasi) dan 78,5 ± 12,2 mmHg (metode osilometrik). Pada pasien dengan AF
rata-rata tekanan darah sistolik adalah 127,5 ± 15,1 mmHg (metode auskultasi) dan 133,6
± 17,4 mmHg (metode osilometrik), rerata tekanan darah diastolik adalah 81,4 ± 9,9
mmHg (metode auskultasi) dan 83,5 ± 11,8 mmHg (metode osilometrik).

Perbedaan antara tekanan darah diastolik rata-rata, diukur dengan metode auskultasi
dan osilometrik tidak berbeda secara signifikan (p = 0,72), dan perbedaan antara tekanan
darah sistolik lebih rendah pada pasien dengan AF (p = 0,19). Pasien dengan tekanan
darah terkontrol memiliki perbedaan lebih tinggi antara nilai tekanan darah sistolik yang
diukur dengan dua metode, dibandingkan dengan pasien dengan tekanan darah tidak
terkontrol, p <0,05. Korelasi yang kuat diamati pada semua pasangan yang diselidiki
(kisaran nilai r: 0,82 - 0,88) oleh analisis korelasi Pearson. Plot model regresi
mengungkapkan bahwa metode pengukuran tekanan darah osilometrik otomatis dan
metode auskultasi berada dalam hubungan linier (r2 = 0,71 (95% CI: 0,59-0,82) untuk BP
sistolik dan r2 = 0,76 (95% CI: 0,67-0,85) untuk BP diastolik) (Gbr. 1)
Pengukuran tekanan darah dengan auskultasi dan osilometri rata-rata diplot terhadap
perbedaan antara pembacaan ini dalam kelompok AF dan SR dengan menggunakan
format plot sebar Bland-Altman (Gambar 2). Rata-rata perbedaan untuk SBP dan DBP
dalam kelompok SR adalah (−5,3 mmHg (batas persetujuan 95% 27,2 - 16,6)) dan (−1,4
mmHg (batas persetujuan 95% 12,8 - 10,0)). Sementara untuk pasien dengan AF rata-rata
perbedaan untuk SBP dan DBP adalah (−6.1 mmHg (batas persetujuan 95% −23.9 -
11.7)) dan (−2.1 mmHg (batas persetujuan 95% −12.9 - 8.7)).

6. Pembahasan
Dalam penelitian ini menganalisis keandalan pengukuran tekanan darah osilometrik
otomatis pada pasien hipertensi dengan AF dan SR, menggunakan metode auskultasi sebagai
teknik referensi. Dalam sampel penelitian semua pasien menderita AH. Diketahui bahwa AH
memiliki prevalensi yang lebih tinggi pada lansia dan prevalensi kebetulan AF dan AH
meningkat seiring bertambahnya usia, namun, mungkin sulit bagi pasien lansia untuk
mengukur tekanan darah mereka dengan metode auskultasi karena gangguan pendengaran
atau kesulitan untuk menyesuaikan manset yang tepat.
Untuk pengukuran berkelanjutan dalam praktik klinis, posisi duduk direkomendasikan
dan digunakan. Peneliti berpikir, bagaimanapun, bahwa sementara posisi tubuh dapat
mempengaruhi angka absolut dan mengurangi perbedaan antara tekanan darah sistolik dan
diastolik, perbedaan antara hasil pengukuran dengan metode yang berbeda dan
reproduktifitasnya seperti yang dievaluasi dalam penelitian ini, tidak tergantung pada posisi
tubuh. Banyak penelitian pengukuran BP telah menggunakan posisi terlentang. Penelitian ini
memilih posisi terlentang karena kelompok dengan atrial fibrilasi terutama adalah subyek
rawat inap yang dipelajari sebelum jadwal kardioversi listrik, dan untuk pasien dengan
kondisi ini biasanya lebih nyaman untuk berbaring.
Hasil penelitian ini kontroversial dibandingkan dengan meta-analisis terbaru, yang
menganalisis 566 pasien dengan AF dan menunjukkan bahwa temuan tekanan darah otomatis
lebih tinggi daripada manual. Studi penelitian ini, merupakan penelitian meta-analisis,
menunjukkan bahwa tekanan darah yang diukur dengan perangkat osilometrik lebih tinggi
pada kelompok AF dan SR. Namun, meta analisis menyimpulkan bahwa monitor tekanan
darah otomatis untuk AF tampaknya akurat dalam mengukur tekanan darah sistolik, tetapi
tidak diastolik, yang merupakan kebalikan dari hasil penelitian ini.
Studi cross-sectional terbaru oleh Hurley et al. menunjukkan bahwa pada pasien usia
lanjut dengan AF, tekanan diastolik yang jauh lebih tinggi adalah biasa, dibandingkan dengan
populasi umum, terlepas dari metode pengukuran tekanan darah. Namun, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa tekanan darah diastolik, diukur dengan perangkat osilometrik, bahkan
lebih tinggi dari yang diukur menggunakan metode auskultasi pada pasien dengan AF.
Dalam penelitian ini beberapa uji statistik digunakan untuk membandingkan dua metode
pengukuran tekanan darah yang berbeda. Korelasi dan analisis regresi linier tunggal
mengungkapkan hubungan linear yang memuaskan antara osilometri dan auskultasi. Namun,
data ini tidak secara otomatis menyiratkan bahwa ada kesepakatan yang baik antara kedua
metode ini. Untuk menyelidiki tingkat persetujuan, penelitian ini menerapkan analisis Bland-
Altman yang dikenal, sebagai salah satu cara untuk menilai kepatuhan antara dua metode
pengukuran klinis yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode osilometrik
menunjukkan bias negatif yang lebih tinggi sambil mengukur tekanan darah sistolik pada
kedua kelompok (SR dan AF) dibandingkan dengan tekanan darah diastolik (−5,3 mmHg dan
−6.1 mmHg dibandingkan −1.4 mmHg dan −2.1 mmHg). Tidak ada perbedaan yang
signifikan dalam bias antara kelompok SR dan AF yang diamati. Rata-rata osilometri yang
diukur TD (SBP / DBP) adalah 5,3 / 1,4 mmHg lebih tinggi untuk pasien di SR dan 6,1 / 2,1
mmHg lebih tinggi untuk pasien dengan AF. Terlepas dari kenyataan bahwa nilai perbedaan
rata-rata rendah dalam data penelitian ini, "batas perjanjian" mengungkapkan tingkat
kesalahan acak yang dapat diperdebatkan dari metode oscilometrik untuk tekanan darah
sistolik (Gambar 2, panel kiri atas dan kiri bawah). Jadi, nilai BP sistolik yang diukur dengan
osilometri mungkin 27 mmHg lebih tinggi atau 17 mmHg lebih rendah pada kelompok SR
dan 24 mmHg lebih tinggi atau 12 mmHg lebih rendah pada kelompok AF di atas nilai
tekanan darah yang diukur dengan auskultasi. Kesalahan acak ini merupakan topik yang
dipertanyakan dalam praktik klinis, karena mungkin dapat memengaruhi keputusan dalam
manajemen pasien.
Pedoman saat ini tentang pengobatan AH merekomendasikan pengukuran tekanan darah
berulang pada pasien dengan aritmia. Studi yang dilakukan oleh Grundvold et al.
menemukan bahwa pasien dengan tekanan darah sistolik antara 130 dan 139 mmHg ("tinggi-
normal") memiliki risiko 1,5 kali lipat untuk AF dan pasien dengan tekanan darah sistolik di
atas 140 mmHg memiliki risiko 1,6 kali lipat, dibandingkan dengan pasien dengan tekanan
darah di bawah 128 mmHg . Dalam hal tekanan diastolik, pasien dengan tekanan darah
diastolik di atas 80 mmHg memiliki risiko relatif 1,79 untuk mengembangkan AF,
dibandingkan dengan pasien dengan tekanan darah diastolik <80 mmHg. Studi ini
menyimpulkan bahwa peningkatan tekanan darah dari waktu ke waktu dapat menyebabkan
remodeling atrium dan ventrikel struktural dan elektrofisiologis, peningkatan tekanan di
atrium kiri dapat menyebabkan dilatasi atrium, yang mungkin mendukung pengembangan
AF. Percobaan Atrial Fibrillation Follow-up Investigation of Rhythm Management
(AFFIRM) juga menunjukkan bahwa target tekanan darah optimal pada pasien dengan AF
permanen bisa lebih tinggi daripada populasi umum. Bahkan sedikit perbedaan dapat
menentukan apakah pasien memerlukan koreksi tekanan darah lebih kuat, yang dapat
menyebabkan tingkat kejadian kardiovaskular yang lebih rendah dan AF. Hasil berbeda yang
diperoleh dengan metode pengukuran tekanan darah dengan cara auskultasi dan osilometrik
dapat diperhitungkan saat merawat AH pada pasien dengan AF.
7. Kesimpulan
Data penelitian ini menunjukkan bahwa perjanjian antara osilometri dan auskultasi
independen dari AF. Perangkat osilometrik yang divalidasi untuk pasien dengan AF rata-rata
memberikan nilai tekanan darah sistolik 5,3 mmHg lebih tinggi untuk pasien dengan SR dan
6,3 mmHg nilai tekanan darah lebih tinggi untuk pasien dengan AF. Namun, batas
kesepakatan antara dua metode masih dapat diperdebatkan: nilai tekanan darah sistolik yang
diukur dengan osilometri mungkin 27 mmHg lebih tinggi atau 17 mmHg lebih rendah untuk
pasien dengan SR dan 24 mmHg lebih tinggi atau 12 mmHg lebih tinggi di atas nilai tekanan
darah yang diukur dengan auskultasi untuk pasien di AF. Berbagai tingkat kesalahan acak
adalah topik yang dipertanyakan dalam praktik klinis, karena mungkin dapat mempengaruhi
pengobatan hipertensi arteri pada pasien dengan AF.

C. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal


1. Kelebihan dari jurnal ini, antara lain :
a. Penelitian melibatkan banyak sampel penelitian sehingga persebaran angka kejadian
dari masing masing kasus mencukupi untuk dianalisis dan memiliki berbagai macam
kemungkinan kejadian.
b. Penelitian ini juga menyertakan batas perjanjian dari kedua pengukuran tekanan darah
sehingga dapat dijadikan referensi penentuan akurasi hasil pengukuran tekanan darah
baik dengan menggunakan oksilometrik maupun auskultasi pada pasien fibrilasi
atrial.
2. Kekurangan dari jurnal diatas, antara lain :
a. Penelitian tidak menjelaskan standar atau kualifikasi petugas medis yang melakukan
pengukuran tekanan darah dan alat yang digunakan untuk pengukuran dengan metode
auskultasi.
b. Pengukuran tidak berganti-ganti (auscultatory / oscillometric) atau acak, melainkan
dilakukan dalam urutan tetap - 4 auskultasi diikuti oleh 4 oscillometric, sehingga
memperkenalkan bias yang berkaitan dengan efek pengukuran pada nilai yang diukur.

D. Implikasi Keperawatan
1. Perawat sebagai edukator
a. Perawat memberikan edukasi untuk pasien dengan penyakit jantung fibrilasi atrium
dan penyakit jantung umumnya untuk mengukur tekanan darahnya secara teratur baik
di layanan kesehatan, praktik dokter, perawat, bidan, atau bahkan dilakukan sendiri di
rumah, untuk pencegahan Atrial Hipertension, stroke, atau serangan jantung
mendadak.
b. Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan mengenai tanda gejala hipertensi
atrial dan manajemen di rumah dan kapan harus memeriksakan diri ke layanan
kesehatan.
2. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
a. Perawat di klinis yang menggunakan alat pengukuran tekanan darah oksilometrik
dapat menggunakan hasil penelitian di atas untuk referensi akurasi hasil pengukuran
dan melakukan pengukuran tekanan darah berulang untuk mendapatkan hasil yang
lebih akurat. Memposisikan pasien pada posisi yang tepat dan nyaman saat
melakukan pengukuran tekanan darah.
b. Perawat perlu memastikan alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah dalam
keadaan sudah terkalibrasi rutin untuk menghindari ketidakakuratan hasil pengukuran
yang dapat mempengaruhi pengobatan pasien.
3. Perawat sebagai peneliti
Perawat dapat melalukan penelitian terkait keakuratan penggunaan alat pengukuran
tekanan darah oksilometrik pada kondisi medis yang lain terutama untuk pasien pasien
jantung lainnya.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Pengukuran tekanan darah perlu dilakukan karena merupakan salah satu tanda vital
yang berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Alat ukur yang digunakan
memengaruhi deteksi dini terhadap suatu penyakit seperti penyakit pada jantung
sehingga perlunya pengukuran tekanan darah secara teratur.
2. Dua metode pengukuran tekanan darah (yaitu metode auskultasi dan osilometri
otomatis) yang dibandingkan, ditemukan bahwa pada kedua kelompok pengukuran
tekanan darah sistolik dan diastolik lebih tinggi menggunakan metode osilometrik.
3. Nilai BP sistolik yang diukur dengan osilometri mungkin 27 mmHg lebih tinggi atau
17 mmHg lebih rendah pada kelompok SR dan 24 mmHg lebih tinggi atau 12 mmHg
lebih rendah pada kelompok AF di atas nilai tekanan darah yang diukur dengan
auskultasi.
4. Pedoman saat ini tentang pengobatan AH merekomendasikan pengukuran tekanan
darah berulang pada pasien dengan aritmia. Hal tersebut karena peningkatan tekanan
darah dari waktu ke waktu dapat menyebabkan remodeling atrium dan ventrikel
struktural dan elektrofisiologis, peningkatan tekanan di atrium kiri dapat
menyebabkan dilatasi atrium, yang mungkin mendukung pengembangan AF.
5. Hasil berbeda yang diperoleh dengan metode pengukuran tekanan darah dengan cara
auskultasi dan osilometrik dapat diperhitungkan saat merawat AH pada pasien dengan
AF.
B. Saran
1. Bagi perawat
Perawat dapat lebih rutin dan teratur dalam mengukur tekanan darah pada pasien
dengan penyakit jantung seperti AH pada pasien dengan AF.
2. Bagi keluarga
Keluarga dapat lebih ketat dalam merawat anggota keluarganya yang mengalami
penyakit jantung untuk selalu mengecek tekanan darahnya secara teratur.
DAFTAR PUSTAKA

Vlachos K, Letsas KP, Korantzopoulos P, Liu T, Georgopoulos S, Bakalakos A, et al. (2016).


Prediction of atrial fibrillation development and progression: current perspectives. World J
Cardiol 8(3):267.
Wachtell K, Hornestam B, Lehto M, Slotwiner DJ, Gerdts E, Olsen MH, et al (2005).
Cardiovascular morbidity and mortality in hypertensive patients with a history of atrial
fibrillation: the losartan intervention for end point reduction in hypertension (LIFE) study. J
Am Coll Cardiol 45(5):705–11
Hänninen M-RA, Niiranen TJ, Puukka PJ, Johansson J, Jula AM (2012). Prognostic significance
of masked and white-coat hypertension in the general population: the Finn-Home study. J
Hypertens30(4):705–12.
Pagonas N, Schmidt S, Eysel J, Compton F, Hoffmann C, Seibert F, et al (2013). Impact of atrial
fibrillation on the accuracy of oscillometric blood pressure monitoring. Hypertension
62(3):579–84.
Verberk WJ, Omboni S, Kollias A, Stergiou GS (2016). Screening for atrial fibrillation with
automated blood pressure measurement: research evidence and practice recommendations.
Int J Cardiol 203:465–73.
Jani B, Bulpitt CJ, Rajkumar C (2006). Blood pressure measurement in patients with rate
controlled atrial fibrillation using mercury sphygmomanometer and Omron HEM-750CP
deice in the clinic setting. J Hum Hypertens 20(7):543–5.
Selmyte-Besuspare, Aisteja; Barysiene, Jurate; Petrikonyte, Dovile; Aidietis, Audrius; Marinskis,
Germanas; Laucevicius, Aleksandras. Auscultatory versus oscillometric blood pressure
measurement in patient with atrial fibrillation and atrial hypertension. BMC
Cardiovascular Disorders. 2017. 17:87.
Stergiou GS, Kollias A, Destounis A, Tzamouranis D.(2012). Automated blood pressure
measurement in atrial fibrillation: a systematic review and metaanalysis. J Hypertens
30(11):2074–82.