Vous êtes sur la page 1sur 2

HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK DENGAN

STUNTING

LATAR BELAKANG usia dibawah lima tahun pertumbuhannya


Stunting adalah kondisi gagal tidak sesuai standar tinggi badan
tumbuh pada balita karena kekurangan gizi berbanding usia (MCA, 2015). Prevalensi
sehingga anak terlalu pendek pada usianya. stunting di Indonesia pada anak dibawah
Balita pendek (stunted) atau sangat pendek usia 5 tahun yang berjenis kelamin laki-
(severely stunted) adalah balita dengan laki sering terjadi pada usia 24-35 bulan
panjang badan (PB/U) atau tinggi badan sebesar 43% dan pada usia 12-23 bulan
(TB/U) menurut umurnya dibandingkan sebesar 41,2% (Riskesdas, 2013).
dengan standar baku WHO-MGRS Prevalensi balita stunting di
(Multicentre Growth Reference Study). Sumatera Barat tahun 2016 sebesar 25,6%.
Menurut Kemenkes stunting adalah balita (Kemenkes, 2017). Menurut Pemantauan
dengan nilai z-scorenya kurang dari - Status Gizi (PSG) balita, kejadian ini
2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang mengalami peningkatan pada tahun 2017
dari -3SD (severely stunted). (Kepmenkes, sebesar 30,6%, yang dikategorikan pendek
2010) 21,3% dan sangat pendek 9,3%
Pada tahun 2016, data WHO untuk (Kemenkes, 2018). Prevalensi balita
dunia sekitar 22,9% anak yang berumur stunting di kota Padang tahun 2018
dibawah lima tahun mengalami stunting. sebesar 22,6% (Kemenkes, 2018).
Untuk wilayah benua Asia, prevalensi Kejadian ini mengalami peningkatan dari
balita stunting pada tahun 2016 sebesar tahun 2015 sebesar 14,9%. (DKK, 2014).
56% yaitu 34,1% di Asia Selatan dan Berdasarkan data Dinas Kesehatan
25,8% di Asia Tenggara, sedangkan Kota Padang tahun 2015, prevalensi
prevalensi stunting untuk wilayah benua stunting tertinggi berada di wilayah kerja
Afrika sebesar 38% (WHO U. a, 2017). Puskesmas Air Dingin yaitu sebesar 34,6%
Prevalensi stunting Indonesia yang terdiri dari 22,5% pendek dan 12,1%
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun sangat pendek, sedangkan prevalensi
2013 sebesar 37,2%, kejadian ini stunting terendah berada di wilayah kerja
meningkat dari tahun 2010 sebesar 35,6% Puskesmas Lubuk Kilangan yaitu sebesar
(Balitbangkes, 2013). Indonesia termasuk 1% yang terdiri dari 0,7% pendek dan
peringkat lima dunia untuk kejadian 0,3% sangat pendek.
stunting, karena lebih dari sepertiga anak
Stunting disebabkan oleh faktor pengetahuan yang rendah (Ikeda, 2013).
multidimensi, tidak hanya disebabkan oleh Tingkat pengetahuan ibu menentukan
faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu mudah tidaknya ibu memahami kebutuhan
hamil dan anak balita. Faktor-faktor gizi pada anaknya (Suhardjo, 2003).
tersebut tersebut berupa praktek Dalam upaya peningkatan status
pengasuhan yang kurang baik, masih gizi dapat terwujud apabila orangtua
terbatasnya layanan kesehatan termasuk menerapkan pola asuh yang baik bagi
layanan ANC PNC dan pembelajaran dini anak. Ketidaktahuan informasi orang tua
yang berkualitas, masih kurangnya akses mengenai gizi menyebabkan kurangnya
rumah tangga/keluarga ke makanan kualitas gizi makanan pada keluarga
bergizi, dan kurangnya akses ke air bersih khususnya balita (Sjahmien, 2003). Salah
dan sanitasi. (Bank Dunia, 2017) satu penyebab gangguan gizi pada anak
Pola asuh memiliki peranan karena kurangnya pengetahuan dan
penting dalam pertumbuhan anak yang kemampuan pola asuh orang tua yang
optimal. Pola asuh merupakan salah satu tidak baik. Pola asuh dan tingkat
faktor tidak langsung yang berhubungan pengetahuan gizi ibu mempengaruhi sikap
dengan status gizi anak termasuk stunting. dan perilaku dalam memilih bahan
Untuk mendukung asupan gizi yang baik makanan, yang lebih lanjut akan
perlu kemampuan ibu dalam memberikan mempengaruhi keadaan gizi keluarga
pengasuhan yang baik bagi anak dalam (Suhardjo, 2003).
pemberian makan (Anugraheni HS, 2012). Berdasarkan latar belakang diatas,
Orang tua terutama ibu yang memiliki penulis tertarik untuk meneliti hubungan
pengetahuan yang lebih tinggi akan dapat pola asuh dengan status gizi pada anak
melakukan pengasuhan yang lebih baik dengan stunting.
pada anak daripada orangtua dengan