Vous êtes sur la page 1sur 20

Definisi Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yng telah cukup bulan atau dapat hidup diluar
kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan diri).

Jenis-jenis Persalinan
Menurut tindakan yang dilakukan maka persalinan dibedakan atas:

 Persalinan Normal
Persalinan yang berlangsung sejak awal sampai akhir dengan tangan dan kekuatan ibu
sendiri melalu jalan lahir.
 Persalinan Buatan
Persalinan yang berakhir dengan bantuan atau diakhiri satu tundakan
 Persalinan Asuhan
Kekutan persalinan di timbulkan dengan rangsangan dari luar

Beberapa teori yang menyatakan penyebab proses persalinan


 Teori keregangan
a. Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu
b. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai
 Teori penurunan progesteron
a. Proses persalinan plasenta terjadi mulai dari umur kehamilan 28 minggu dimana terjadi
penimbunan,jaringan ikat darah mengalami penyempitan
b. Produksi progesteron mengalami penurunun sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap
oksitosin.
c. Akibat otot rahim berkontraksis setelah tingkat penurunan progesteron tertentu
 Teori prostaglandin
a. Kontraksi prostagladin meningkat sejak umur 15 minggu yang dikeluarkan desi dua.
b. Pemberian prostagladin alat rahim sehingga menimbulkan konsepsi dikeluarkan

Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan


Power

 His
 Kontraksi dinding abdomen
 Kontraksi diafragma peluik atau kekuatan mengedan
 Ketegangan kontraksi megamintum ratundum

Passengger

Janin dan plasenta

Passage

Jalan lahir
Mekanisme persalinan
Mekanisme persalinan normal adalah serentetan pergerakan aktif janin dan panggul saat melewati
jalan lahir gerakan pasif tersebut adalah

a. Kepala terfiksir pada PAP persalinan yang terjadi sinklitismus


b. Turun(desent) peristiwa yang terjadi adalah asinklitismus posterior
c. Flexi peristiwa yang terjadi adalah asinklitismus anterior
d. Flexi maksimal peristiwa yang terjadi adalah sinklitismus
e. Rotasi internal peristiwa yang terjadi adalah hypomoglion (uuk dibawah simpisis)
f. Eksentesis peristiwa yang terjadiadalah hypomoglion (uuk dibawah simpisis)
g. Ekspulsi kepala janin berturut-turut lahir, uub, dahi, muka dan dagu
h. Rotasi eksternal peristiwa yang terjadi adalah putaran faksis luar
i. Ekspulsi total (cara melahirkan bahu, bahu belakang, seluruh badan dan ekstermitas)

Tanda-tanda dalam suatu persalinan


1. Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak yang semakin pendek
2. Dapat terjadi pengeluaran yaitu pengeluaran lendir dan darah
3. Dapat disertai pecahnya ketuban
4. Pada pemeriksaan dalam dapat dijumpai perubahan serviks
 Permukaan serviiks
 Pembukaan serviks
 Perdarahan serviks

Pembagian tahap persalinan

1. Persalinan kala I
Merupakan kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan 0-10 (lengkap) pada
pembukaan his pembukaan berlangsung selama kala 3 pada primipara ± 12 jam sedangkan
multipara ± 8 jam kala pembukaan dapat dibagi 2 fase yaitu:
a. Fase laten
Pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm yang berlangsung
selama 7-8 jam
b. Fase aktif
Berlangsung selama 6 jam yang dibagi atas 3 fase:
 Priode ekselerasi : pembukaan menjadi 4 cm yang berlangsung selama 2
jam
 Priode dilatasi : pembukaan 9 cm dalam waktu 2 jam maksimal
 Priode deselarasi : pembukaan yang berlangsung lambat kembali dalam
waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm mencapai pembukaan lengkap 10 cm

2. Persalinan kala II
Kala 2 dimana dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir lengkap lamanya kala 2
untuk primigravidarum 50 menit utuk multipara 30 menit
Gejala utama kala 2 yaitu:
1) His semakin kuat dengan interval 2-3 menit dengan durasi detik
2) Menjelang aktif kala 1 ketuban pecah ditandai dengan pengetuaran cairan secara
mendadak
3) Ketuban pecah pada pembukaan lengkap diikuti keinginan unruk mengedan karena
letaknya fleksus tause
4) Kekuatan his dan mengedan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi :
Kepala membuka pintu
Sub oksiput sebagai hipomoglion berturut-turut lahir uub,hidung,muka,dagu, dan
kepala seluruhnya
5) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti, putaran faksi luar yaitu penyesuaian kepala,
dada dan punggung
6) Setelah putaran faksi luar berlangsung maka persalinan bayi
 Kedua tangan diletakkan secara biparietal pada kedua temporal ditarik
kebawah kemudian keluar untuk melahirkan bahu depan tarik keatas
kemudian keluar untuk melahirkan bahu belakang
 Kedua tangan dipindahkan untuk melakukan sangga untuk menelusuri
tangan dari bahu punggung kearah kaki dan memegang kedua mata kaki
bayi
3. Persalinankala III
Dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta kontraksi uterus terhenti sekitar 5-10
menit dengan lahirnya sesudah mulai pelepasan plasenta dan selaputnya. Lepasnya plasenta
dpat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut:
 Uterus bundar
 Uterus mendorong keatas karena terlepasnya plasenta
 Tali pusat bertambah panjang
 Terjadi pengeluaran darah secara tiba-tiba
Cara mengeluarkan plasenta
 Tangan kanan melakukan PTT, sementara tangan kiri melakukakan dorso karnial
 Apabila plasenta telah nampak didepan vulva pegang plasenta dengan kedua tangan
kemudian putar searah jarum jam sehingga selaput plasenta terpilin
 Lakukan masase uterus
4. Persalinan kala IV
Untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam
pertama, observasi yang dilakukan:
 Tanda-tanda vital
 Kontraksi uterus
 Nilai perdarahan
 Kandung kemih
 Tingkat kesadaran

60 angkah asuhan persalinan normal (APN)
I. MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA II

1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua :


 Ibu mempunyai keinginan untuk meneran (doran)
 Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya (tektum)
 Perineum menonjol (perjol)
 Vulva-vagina dan sfingter anal membuka (vulka)
II. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
2. Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap digunakan, yaitu :
◈ Partus set :

 2 klem kelly atau kocher


 Gunting tali pusat
 Benang tali pusat
 ½ kocher
 1 ½ pasang sarung tangan DTT
 Kateter nelaton
 Gunting episiotomy
 Kassa secukupnya
♠ Kapas DTT dalam tempatnya
♠ Spuit 2 ½ atau 3 ml
♠ 1 ampul oksitosin 10 U
♠ Kapas alkohol dalam tempatnya
♠ DeLee
♠ 2 kain bersih
♠ 2 handuk
♠ Celemek plastic
♠ Perlengkapan perlindungan pribadi : masker, kaca mata, alas kaki tertutup
♠ Perlak
♠ Lenec
♠ Tensimeter
♠ Larutan klorin 0,5 % dalam tempatnya
♠ Air DTT dalam tempatnya
♠ 3 buah tempat sampah : basah, kering, tempat benda tajam
♠ Kantung plastik atau pendil
♠ Kain ibu
♠ Pembalut
♠ Gurita
♠ Waslap
Mematahkan ampul oksitosin 10 U, dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam
partus set.
3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan
air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan haduk satu kali pakai / pribadi yang
bersih.
5. Memakai sarung tangan DTT. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk
semua pemeriksaan dalam.
6. Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan disinfeksi
tingkat tinggi atau steril) dan meletakkannya kembali di partus set/ wadah desinfeksi tingkat tinggi
atau steril tampa mengkontaminasi tabung suntik.
III. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP & KEDAAN JANIN BAIK
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan
menggunakan kapas atau kassa yang sudah dibasahi air desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina,
perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan
cara menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kassa yang terkontaminasi dalam
wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan
tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminai, langkah # 10)
8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa
pembukaan sudah lengkap
 Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung
tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik
serta merendamnya di larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti di atas).
10. Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi uterus berakhir untuk memastikan DJJ
dalam batas normal (100 – 180 x/mnt)
 Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
 Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta
asuhan lainnya pada partograf
IV. MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK MEMBANTU PROSES PIMPINAN MENERAN
11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.
Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai dengan keinginannya.
 Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Melanjutkan pemantauan kesehatan
dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan
mendokumentasikan temuan-temuan.
 Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan memberi
semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran. (Pada saat ada his, bantu
ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ibu merasa nyaman)
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran :
 Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk meneran
 Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran
 Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak meminta ibu berbaring
terlentang)
 Menganjurkan ibu untuk istirahat di antara kontraksi
 Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu
 Menganjurkan asupan cairan per oral
 Menilai denyut jantung janin setiap lima menit
 Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120 menit (2 jam)
meneran untuk ibu primipara atau 60 menit (1 jam) untuk ibu multipara, merujuk segera
Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran
 Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman. Jika ibu belum
ingin meneran dalam 60 menit, anjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak kontraksi-
kontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi
 Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setelah 60 menit meneran,
merujuk ibu dengan segera

V. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI


14. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan handuk bersih di atas
perut ibu untuk mengeringkan bayi.
 Sediakan tempat untuk mengantisipasi terjadinya komplikasi persalinan (asfiksia), sebelah bawah
kaki ibu tempat yang datar alas keras. Beralaskan 2 kain dan 1 handuk. Dengan lampu sorot 60
watt (jarak 60 cm dari tubuh bayi)
15. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu
16. Membuka partus set
17. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan

VII. MENOLONG KELAHIRAN BAYI


Lahirnya Kepala
18. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan
yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut
dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan
ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir
 Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung bayi setelah kepala lahir
menggunakan penghisap lendir DeLee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola karet
penghisap yang baru dan bersih
19. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kassa yang bersih
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian
meneruskan segera proses kelahiran bayi :
 Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.

 Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua tempat, dan memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan
Lahirnya Bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-masing sisi muka
bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke
arah bawah dan ke arah luar hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian
dengan lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior
Lahinya Badan dan Tungkai
23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berda di bagian bawah
ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut.
Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian
bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterio (bagian atas)
untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior) dari punggung ke
arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi
dan dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
VII. PENANGAN BAYI BARU LAHIR
25. Menilai bayi dengan cepat (jika dalam penilaian terdapat jawaban tidak dari 5 pertanyaan, maka
lakukan langkah awal), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala lebih
rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi di tempat yang memungkinkan)
26. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat
27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan pada tali
pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah ibu)
28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting, dan memotong tali pusat di
antara dua klem tersebut
29. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan
kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka.
Jika bayi mengalami kesulitan bernafas, mengambil tindakan yang sesuai.
30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai
pemberian ASI jika ibu menghendakinya.

VIII. PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA III


Oksitosin
31. Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan
kemungkinan adanya bayi kedua.
32. Memberi tahu ibu bahwa ia akan disuntik
33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan oksitosin 10 unit IM di 1/3 paha
kanan atas ibu bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dulu.
Penegangan Tali Pusat Terkendali
34. Memindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva
35. Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis, dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali
pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan perenganganke arah bawah pada tali pusat
dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara
menekan uterus ke arah atas dan belakang (dorso-kranial) dengan hati-hati untuk membantu
mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, menghentikan
peragangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut mulai.

 Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk melakukan
rangsangan puting susu
Mengeluarkan Plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah bawah dan
kemudian ke atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada
uterus.
 Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva
 Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan peregangan tali pusat selama 15 menit :
 Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
 Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung kemih dengan menggunakan teknik
aseptik jika perlu
 Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan
 Mengulangi peregangan tali pusat selama 15 menit berikutnya
 Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak kelahiran bayi
38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan menggunakan kedua
tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar plasenta hingga
selaput ketuban terpilin. Dengan lembut dan perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.
 Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril dan
memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau
forseps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepasakan selaput yang tertinggal
Rangsangan Taktil (Pemijatan) Uterus
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus, meletakkan telapak
tangan kanan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga
uterus berkontraksi (fundus menjadi keras ).

IX. MENILAI PERDARAHAN


40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk
memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantung plastik
atau tempat khusus.
 Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik mengambil tindakan
yang sesuai
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang
mengalami perdarahan aktif

X. MELAKUKAN PROSEDUR PASCA PERSALINAN


42. Menilai ulang uterus dan memastikan berkontraksi dengan baik
Mengevaluasi perdarahan pervaginam
43. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membilas
kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air didensinfeksi tingkat tinggi dan
mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering
44. Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau mengikatkan tali disinfeksi
tingkat tinggi dengan simpul mati di sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat
45. Mengikat satu lagi simpul mati di bagian tali pusat yang berseberangan dengan simpul mati yang
pertama
46. Melepaskan klem bedah dan meletakkannya di dalam larutan klorin 0,5%.
47. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan handuk atau kainnya bersih
dan kering
48. Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI
Evaluasi
49. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam :
 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan
 Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan
 Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan
 Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melaksanakan perawatan yang sesuai untuk
menatalaksana atonia uteri
Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan penjahitan dengan anestesia lokal
dan mengunakan teknik yang sesuai.
50. Mengajarkan ibu / keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus
51. Mengevaluasi kehilangan darah
52. Memeriksa tekanan darah, nadi dan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam pertama
pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pascapersalinan.
 Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam pertama pascapersalinan
 Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal
Kebersihan dan Keamanan
53. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk didekontaminasi (10 menit).
Mencuci dan membilas peralatan setelah didekontaminasi
54. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai
55. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah.
Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering
56. Memastikan ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga untuk
memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkannya
57. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5%, dan
membilasnya dengan air bersih
58. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikkan bagian dalam ke luar
dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit
59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
Dokumentasi
60. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang)
ASUHAN KEBIDANAN INTRANATAL CARE (INC)
PADA Ny.H DENGAN USIA KEHAMILAN 40 MINGGU
DI PUSKESMAS TAGOLU

No. Register : 0081215


Tanggal masuk : 16 Desember 2015
Jam masuk : 14.00 WITA
Tanggal pengkajian : 16 Desember 2015
Jam pengkajian : 14.25 WITA

A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Nama ibu : Ny. H
Umur : 24 tahun
Agama : kristen
Suku/bangsa : pamona/indonesia
Pendidikan : SMP
Alamat : labuadago
Pekerjaan : IRT

Nama suami : Tn.S


Umur : 31 tahun
Agama : kristen
Suku/bangsa : pamona/indonesia
Pendidikan : SMP
Alamat : labuadago
Pekerjaan : petani
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan sakit perut tembus belakang dan banyak mengeluarkan lendir dan
darah
3. Riwayat menstruasi
Menearche : 13 tahun
Lamanya : 7 hari
Siklus : 28 hari
Keluhan : tidak ada
Bau : khas darah
Banyaknya : 3-4 kali ganti pembalut/hari
HPHT : 05-03-2015
HP : 12-12-2015
4. Riwayat obtetri
GIIPIA0
5. Riwayat perkawinan
a. Status perkawinan : Sah
b. Lama perkawinan : 2 tahun
c. Menikah ke :1
d. Apakah kehamilan di rencanakan : Tidak
6. Riwayat kehamilan,persalinan dan masa nifas masa lalu

Thn lahir Jenis persalinan Jk/bb Tempat Penolong Keadaan


persalinan
2014 Spontan P/3.200 g BPM Bidan Sehat

HAMIL SEKARANG
7. Riwayat KB
Ibu mengatakan sebelum kehamilan ini ibu menggunakan KB suntik 3 bulan
8. Riwayat kehamilan saat ini
ANC : Teratur
ANC 1 : Pada usia kehamilan 12 minggu
ANC 2 : Pada usia kehamilan 18 minggu
ANC 3 : Pada usia kehamilan 32 minggu dan usia kehamilan 36 minggu
IMUNISASI : TT1 : Pada usia kehamilan 16 minggu
TT2 : pada usia kehamilan 28 minggu
Pergerakan janin pertama kali dirasakan pada usia kehamilan 20 minggu
Pergerakan janin dalam 24 jam bisa terjadi ± 8 kali
Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran
Ibu mengatakan ini adalah kehamilan kedua
9. Riwayat kesehatan
a. Penyakit yang pernah/sedang diderita (menular,menurun,menahun)
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC,Hepatitis
B, dan HIV/AIDS
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun seperti
diabetes,hipertensi, dan kanker
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menahun seperti jantung,
paru-paru , asma

b. Penayikt yang pernah / sedang diderita keluarga


Ibu mengatakan baik keluarga ibu maupun keluarga suami tidak pernah
menderita penyakit menular seperti TBC,Hepatitis B, HIV/AIDS
Ibu mengatakan baik keluarga ibu maupun keluarga suami tidak pernah
menderita penyakit menurun seperti diabetes,hipertensi, kanker
Ibu mengatakan baik keluarga ibu maupun keluarga suami tidak pernah
menderita penyakit menahun seperti jantung,paru-paru,asma

c. Riwayat operasi
Ibu mengatakat tidak pernah mempunyai riwayat operasi

d. Riwayat alergi obat


Ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi obat
10. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
 Nutrisi
Makan
Frekuensi : 3 kali sehari
Jenis : nasi,sayur,lauk pauk
Porsi : 1 piring
Pantangan : tidak ada
Keluhan : tidak ada

Minum
Frekuensi : ± 8 gelas
Jenis : air putih,teh,susu

Porsi : 1 gelas
Pantangan : tidak ada
Keluhan : tidak ada

 Eliminasi
BAB
Frekuensi : 1-2 kali sehari
Warna : kuning
Bau : khas tinja
Keluhan : tidak ada
BAK
Frekuensi : 6-8 kali sehari
Warna : kuning
Bau : khas urine
Keluhan : tidak ada

 Istirahat
Tidur siang
Lama : ± 1-2 jam
Keluahan : tidak ada
Tidur malam
Lama : ± 8-9 jam
Keluahan : tidak ada

 Pola personal hygiene


Mandi : 3 kali sehari
Keramas : 3 kali seminggu
Gosok gigi : 2 kali sehari
Ganti pakaian dan celana : 2-3 kali sehari
 Psikologi
Ibu merasa senang dan menerima kehamilannya meskipun tidak di rencanakan.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Suhu : 36,5°C
Pernapasan : 24 x/menit
Berat badan : 60 kg
Tinggi : 159 cm
Lila : 26 cm
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan/massa,kulit kepala bersih,tidak
berketombe ,tidak rontok, rambut hitam
Wajah : Tidak ada bekas luka,tidak ada oedema,tidak ada cloasma
gravidarum,kulit putih
Mata : Simetris,konjung tiva merah muda,tidak ada kelainan mata
Hidung : Tidak ada polip
Mulut : Simetris,bersih,tidak ada karies,bibir lembab,tidak ada sariawan
Telinga : Simetris,ada lubang telinga,pendengaran baik
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjaran tiroid,tidak ada pembesaran vena
jugularis
Dada : Simetris,pernapasan baik dan teratur
Payudara : Puting susu menonjol,areola kehitaman
Abdomen : Tidak ada bekas operasi,ada strie gravidarum
Palpasi abdomen leopold
 Leopold I : TFU 2 jari di bawah px (33 cm)
 Leopold II : Punggung kanan (PUKA)
 Leopold III : Presentase kepala
 Leopold IV : Kepala sudah masuk PAP (U)
 TBJ : 33-11 (1.55)=3410 gram

Auskultasi BJJ : 145 x/menit

Ekstermitas
Atas : Simetris,gerakan aktif,kuku tidak pucat,tidak ada oedema
Bawah : Simetris,tidak pucat,tidak ada varises, oedema dan gerakan aktif
Genetalia : ada pelepasan lendir dan darah
Anus : tidak ada hemoroid
Perkusi : refleks patela kaki (+)
VT
Portio : Tipis
Pembukaan : 8 cm
Ketuban : Utuh (+)
Presentase : Kepala
Moulase : Tidak ada
Penurunan kepala : H3
Penumbungan : Tidak ada
Kesan panggul : Cukup
Pelepasan : Darah dan lendir

C. ASSESMENT
Ny.H GIIPIA0, janin hidup,intra uteri,inpartu kala I fase aktif

D. PLANING
1. Mengatakan kepada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan
2. Mengobservasi kemajuan persalinan dengan menggunakan patograf
3. Menganjurkan ibu untuk miring kiri serta jelaskan mafaatnya
4. Memberikan makanan dan minuman agar ibu memperoleh tenaga saat mengedan
5. Anjurkan suami dan keluarga untuk memberi dukungan agar lebih semangat dan optimis
menjalani persalinan
6. Mempersiapkan alat,perlengkapan,obat-obatan yang diperlukan untuk proses
persalinan
◈ Partus set :

 2 klem kelly atau kocher


 Gunting tali pusat
 Benang tali pusat
 ½ kocher
 1 ½ pasang sarung tangan DTT
 Kateter nelaton
 Gunting episiotomy
 Kassa secukupnya
♠ Kapas DTT dalam tempatnya
♠ Spuit 2 ½ atau 3 ml
♠ 1 ampul oksitosin 10 U
♠ Kapas alkohol dalam tempatnya
♠ DeLee
♠ 2 kain bersih
♠ 2 handuk
♠ Celemek plastic
♠ Perlengkapan perlindungan pribadi : masker, kaca mata, alas kaki tertutup
♠ Perlak
♠ Lenec
♠ Tensimeter
♠ Larutan klorin 0,5 % dalam tempatnya
♠ Air DTT dalam tempatnya
♠ 3 buah tempat sampah : basah, kering, tempat benda tajam
♠ Kantung plastik atau pendil
♠ Kain ibu
♠ Pembalut
♠ Gurita
♠ Waslap
Mematahkan ampul oksitosin 10 U, dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam
partus set.
7. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
8. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku. Mencuci kedua tangan dengan
sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan haduk satu kali pakai /
pribadi yang bersih.
9. Memakai sarung tangan DTT. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk
semua pemeriksaan dalam.
10. Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan
disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkannya kembali di partus set/ wadah desinfeksi
tingkat tinggi atau steril tampa mengkontaminasi tabung suntik.
11. Mengajari ibu cara meneran yang benar
12. Menganjurkan ibu BAK jika mau,karena kandung kemih yang penuh akan menghambat
turunnya bagian terendah bayi
13. Melakukan prmeriksaan dalam setiap 2 jam
14. Observasi his dan DJJ setiap 15 menit
15. Ajarkan ibu cara melakukan relaksasi di tengah kontraksi
16. Mendokumentasi semua tindakan dan hasil temuan yang telah dilakukan
Tanggal : 16 desember 2015 jam 16.00 WITA

S : ibu mengatakan sakit perut semakin kuat dan sering


Ibu merasa ingin BAB
O : KU : sedang
Keadaan : composmentis
TTV : TD : 110/70 mmHg
N : 84 x/menit
R : 24 x/menit
S : 36,5°C
His : kuat 4x/10 menit, durasi 50
Anus dan vulva membuka,perenium menonjol
Lendir dan darah bertambah banyak
PD : Ø lengkap,kesan panggul cukup,ketuban (+) portio tidak teraba,presentas
kepala H4 penurunan kepala 0/5,penyusupan 0
A : berlangsungnya kala lI

P : MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA II

1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua :


 Ibu mempunyai keinginan untuk meneran (doran)
 Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau
vaginanya (tektum)
 Perineum menonjol (perjol)
 Vulva-vagina dan sfingter anal membuka (vulka)
2. Membersihkan vulva dan perineum ibu
3. Melakukan pemeriksaan dalam ( PD : Ø lengkap )
4. Celupkan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%
5. Memeriksa denyut jantung janin (DJJ : 154 x/ menit )
6. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap.
7. Meminta bantuan keluarga untuk membantu ibu dalam posisi yang ibu rasa
nyaman.
8. Memimpin ibu untuk mengedan saat his ( pembukaan sudah lengkap )
9. Saat ketuban sudak pecah dan kepala telah membuka vulva 5-6 cm,letakkan
handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
10. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu
11. Membuka partus set
12. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan
13. Saat kepala bayi membuka vulva 5-6 cm, melindungi perineum ibu dengan satu
tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi .
14. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kassa
yang steril
15. Memeriksa lilitan tali pusat
16. Menunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar.
17. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, menempatkan kedua tangan di
masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi
berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke arah luar hingga
bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut
menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior
18. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang
berda di bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan
posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan
bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga
tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterio (bagian atas) untuk
mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
19. Melahirkan selutuh badan bayi ( pukul : 16. 12 wita )
20. Menilai bayi dengan cepat: bayi lahir menangis spontan .
21. Segera mengeringkan bayi.
22. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.
Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang
klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah ibu)
23. Melindungi bayi dari gunting, dan memotong tali pusat di antara dua klem
tersebut
24. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi
25. Memberikan bayi kepada ibunya, IMD.
Tanggal : 16 desember 2015 jam : 16. 12 wita

S : Ibu mengtakan sangat bahagia dan bersyukur atas kelahiran bayinya


Ibu mengatakan nyeri perut telah berkurang
O : - KU : sedang
- Kesadaran : composmentis
- TTV : TD : 100 /70 mmhg
N : 84 x/ menit
R : 22 x/ menit
S : 37 °C
- Kontraksi uterus baik, uterus teraba bundar dan keras
- TFU setinggi pusat
- Tali pusat memanjang
- Adanya semburan darah tiba- tiba
- Adanya ruptur pada perenium

A : Berlangsunya kala lll

P:

- Meletakan kain bersih dan kering, dan melakukan palpasi abdomen untuk
memastikan tidak ada janin kedua
- Memberitahu ibu bahwa akan melakukan penyuntikan oksitosin dalam dua menit
suntik oksitosin 10 unit IM 1/3 paha kanan atas
- Melakukan PTT sambil menekan arah dorso karnial dan mengidentivikasi tanda-tanda
pelepasan plasenta
- Tunggu uterus berkontraksi,kemudian regangkan tali pusat
- Setelah plasenta terlepas,meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke
arah bawah dan kemudian keatas
- Plasenta sudah terlihat di introitus vagina melahirkan plasenta drngan kedua tangan.
Putar plasenta hingga selaput ketuban terpilih tarik pusat plasenta lahir lrngkap
(16:33)
- Segera setelah plasenta lahir,melakukan masase uterus
- Memeriksa kelengkapan plasenta
- Memeriksa adanya laserasi,laserasi terdapat pada perenium dengan ruptur derajat 2
Tanggal : 16 desember 20015 pukul : 16 . 48 wita

S:

- Ibu mengatakan senang atas kelahiran bayi, serta plasenta tanpa ada kendala
- Ibu mengatakan capek dan lelah
- Ibu mengatkan nyeri perut bagian bawah
- Ibu mengatakan ingin makan dan minum

O:

- KU : sedang
- Kesadaran : composmentis
- TTV : TD : 100 /70 mmhg
N : 84 x/ menit
R : 22 x/ menit
S : 37 °C
- TFU setinggi pusat
- Kontraksi uterus : Baik
- Perdarahan : ± 100 cc
- Laserasi pada perenium derajat 2

A : Berlangsungnya kala IV

P:

- Melakukan heating perenium (dalam 3, luar 3)


- Melakukan pemantauan uterus dan memastikan kandung kemih kosong
- Mengajarkan ibu /keluarga melakukan masase uterus
- Mengevaluasi kehilangan darah
- Membersihkan ibu dari sisa darah dan air ketuban dengan air DTT
- Memakai sarung tangan untuk pemeriksaan bayi baru lahir, menyuntikkan Vit K1 dipaha kiri
dibagian luar secara IM
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir
BB : 3410 g
PB : 52 cm
R : 45x/menit
N : 120x/menit
LK : 34 cm
LD : 32 cm
S : 36,5°C
JK : perempuan
A/S : 8/9
- Setelah satu jam pemberian Vit K1 berikan/menyuntikkan imunisasi Hb0
- Melepaskan dan mencelupkan sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit
- Menyarankan kepada keluarga untuk memberi makan dan minum pada ibu
- Pendokumentasian dan melengkapi patograf
Observasi HIS

JAM FREKUENSI INTERVAL DURASI BJF PEMERIKSAAN DALAM


14.00 2x /10 2-3 menit 30-40 “ 145 PD :Ø 8 cm, ketuban (+), portio
menit tipis, presentasi kepla H3.
Pelepasan lendir darah
14.15 2x / 10 2-3 menit 30-40” 148
menit
14.30 2x / 10 2- 3 menit 40- 45 “ 148
menit
14. 45 2x / 10 2 -3 menit 45- 50 “ 148
menit
15.00 3x / 10 2 menit 45 -50 “ 150 PD : Ø 9 cm, ketuban (+) portio
menit tipis lunak,kesan panggul
cukup,moulase 0
15.15 3x / 10 2 menit 45 – 50 “ 150
menit
15.30 3x / 10 2 menit 45- 50 “ 150
menit
15.45 4x/ 10 2 menit 50” 153
menit
16.00 4x/ 10 2 menit 50 “ 154 PD :Ø lengkap, ketuban pecah
menit spontan ,penurunan kepala
H4,moulase tidak ada,kesan
panggul cukup,pelepasan
lendir darah dan air ketuban