Vous êtes sur la page 1sur 9

LAPORAN TUTOR 2 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

SUPLEMEN 6

Fasilitator : Linda, Ns.,M.Kep

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

2018
PENYUSUN

AJI MARDHATILLAH 1714201110002

DELLYA NOVITA 1714201110008

HJ. FAHRIDHA 171420111001(SEKRETARIS)

M. ZAIDAN FIRDAUS 1714201110021

MAHYUDI SADIKIN 1714201110022

MIFTHANIA NUR ANNISA 1714201110024

MUHAMMAD DONY AKBAR 1714201110028

MUHAMMAD HIDAYAT 1714201110030

MUHAMMMAD LUTFI 1714201110031

NENCY KUSUMA WARDANI 1714201110034

NORLAILA 1714201110038

NOVITA HARRUNA PRATIWI 1714201110040(KETUA)

NURLIANI 1714201110042

PRITA ANGGRIANA 1714201110044

RAUDATUL HIKMAH 1714201110047

REGINA WAFA AZKIYA 1714201110048


BAB I

PENDAHULUAN

A. Skenario Kasus

“RISK”
Seorang wanita berusia 12 tahun diantar ke IGD karena mengeluh nyeri kepala. Klien
sering mengalami pendarahan digusi. Klien juga anoreksia dan badan tampak kurus,
wajah tampak pucat, bibir kering dan sianosis . Berdasarkan pemeriksaan fisik
didapatkan data RR 22x/menit, suhu 38,8 C, Nadi 86x/ menit, TD 120/90 mmHg,
akral dingin dan sianosis, CRT 3detik. Pemeriksaan penunjang laboratorium
didapatkan data leukosit 35.000 sel/ tetes darah.

B. Analisa Kasus
1) Langkah 1 (daftar istilah atau kata sulit)
1. Apa arti dari kata Sianosis?
2. Apa arti dari kata Anoreksia ?
3. Apa arti dari kata Akral dingin?
4. Apa arti dari kata Risk?
5. Apa pengertian dari CRT?

Jawaban dari kata-kata sulit:

1. Sianosis adalah kondisi warna kebiru- biruan pada kulit dan selaput lendir
karena kekurangan oksigen dalam darah.
2. Kehilangan nafsu makan .
3. - Jaringan- jaringan perifer
- Ekstrimitas ujung jari
4. Risk adalah Resiko
5. CRT adalah (Capillary refill time) tes yang dilakukan cepat pada daerah
dasar kuku untuk memonitor dehidrasi dan jumlah aliran darah ke
jaringan.
2) Langkah 2 ( daftar pertanyaan)
1. Apakah jumlah leukosit 35.000 sel/ tetes darah itu normal pada usia 12
tahun?
2. Apa penyebab leukosit itu meningkat?
3. Apakah pendarahan digusi berhubungan dengan peningkatan leukosit?
4. Apakah pendarahan digusi berhubungan dengan anoreksia?
5. Apa diagnosis medis pada kasus “Risk” dan apa definisi diagnosa medis
tersebut?

3) Langkah 3 ( jawaban singkat pertanyaan )


1. Tidak normal
2. Terjadi infeksi jamur atau bakteri dan stress.
3. Ada, berhubungan.
4. Iya , berhubungan.
5. Leukimia atau kanker darah.

4) Langkah 4 ( skema, pohon masalah )

Lp Leukimia

POHON MASALAH Diagnosa keperawatan


Leukimia

INTERVENSI
5). Langkah 5 ( learning outcome)
1. LP leukimia
2. Diagnosa kepewrawatan leukimia
3. Intervensi keperawatan leukimia

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Leukimia
Leukimia adalah suatu penyakit yang di sebabkan oleh pertumbuhan sel darah putih
yang tidak terkendali. Pertumbuhan jumlah leukosit ini sebagai akibat dari infeksi
virus/kuman pada jaringan retikuloendotelium dari sumsum tulang belakang sebagai
actor pembentuk leukosit
2. Etiologi Leukimia
1. Terinfeksi virus
2. Faktor Genetik. Pengaruh genetik maupun faktor-faktor lingkungan kelihatannya
memainkan peranan , namun jarang terdapat leukemia familial, tetapi insidensi
leukemia lebih tinggi dari saudara kandung anak-anak yang terserang , dengan
insidensi yang meningkat sampai 20% pada kembar monozigot (identik).
3. Kelainan Herediter. Individu dengan kelainan kromosom, seperti Sindrom Down,
kelihatannya mempunyai insidensi leukemia akut 20 puluh kali lipat.
4. Faktor lingkungan.
a. Radiasi. Kontak dengan radiasi ionisasi disertai manifestasi leukemia yang timbul
bertahun-tahun kemudi
b. Zat Kimia. Zat kimia misalnya : benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan
agen antineopla
3. klasifikasi atau Jenis Leukimia
a. Leukemia Mielogenus Akut
AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel
Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia
dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia
nonlimfositik yang paling sering terjadi.

b. Leukemia Mielogenus Kronis

CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih
banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML
jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran
AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama
bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa
membesar.

c. Luekemia Limfositik Akut

ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-
anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun,
setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam
sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel
normal..

d. Leukemia Limfositik Kronis

CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun.


Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat
pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

4. Manisfestasi Klinis
a. Panas
b. Splenomegali
c. Hepatomegali
d. Limfadenopati
e. Perdarahan dapat berupa ekimosis, petekia, epitaksis, dan perdarahan gusi
f. Gejala yang tidak khas
g. Sakit/ nyeri sendi atau sakit tulang disalahtafsirkan sebagai reumatik
h. Lesi puru-pura pada kulit
i. Efusi pleura
j. Kejang
5. Patofisiologi
Jika penyebab leukemia virus, virus tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia jika
struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia. Bila struktur antigen individu
tidak sama dengan struktur antigen virus, maka virus tersebut ditolaknya seperti pada
benda asing lain. Struktur antigen manusia terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai
alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh (kulit
disebut juga antigen jaringan ). Oleh WHO terhadap antigen jaringan telah ditetapkan
istilah HL-A (Human Leucocyte Lucos A). Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut
hukum genetika sehingga adanya peranan faktor ras dan keluarga dalam etiologi leukemia
tidak dapat diabaikan.
Leukemia merupakan proliferasi dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan
biasanya berakhir fatal. Leukemia dikatakan penyakit darah yang disebabkan karena
terjadinya kerusakan pada pabrik pembuat sel darah yaitu sumsum tulang. Penyakit ini
sering disebut kanker darah. Keadaan yang sebenarnya sumsum tulang bekerja aktif
membuat sel-sel darah tetapi yang dihasilkan adalah sel darah yang tidak normal dan sel
ini mendesak pertumbuhan sel darah normal.
Proses patofisiologi leukemia dimulai dari transformasi ganas sel induk hematologis
dan turunannya. Proliferasi ganas sel induk ini menghasilkan sel leukemia dan
mengakibatkan penekanan hematopoesis normal, sehingga terjadi bone marrow failure,
infiltrasi sel leukemia ke dalam organ, sehingga menimbulkan organomegali,
katabolisme sel meningkat, sehingga terjadi keadaan hiperkatabolik.
6. Penatalaksaan
a. Transfusi darah, biasanya diberikan jika kadar Hb kurang dari 6g%. Pada
trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi
trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan.

7. Pemeriksaan penunjang

a. Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositik

b. Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml


c. Retikulosit : jumlah biasaya rendah

d. Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)

e. SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur

f. PTT : memanjang

g. LDH : mungkin meningkat

h. Asam urat serum : mungkin meningkat

i. Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik

j. Copper serum : meningkat

k. Zink serum : menurun

l. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

DIAGNOSA KEPERAWATAN :

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia.


2. Resiko infeksi b.d penurunan respon imun ditandai dengan peningakatan Leukosit.
3. Intoleransi aktivitas.
4. Resiko Infeksi.

INTERVENSI :

1. - Kaji Adanya alergi makanan


- Anjurkan meningkatkan protein
- Berikan makanan terpilih
- Edukasi makanan harian
2. Mengkaji daerah nyeri
- Distraksi
- Kolaborasi dengan dokter
3. -Menggunakan kursi roda

4. - Memonitor suhu tubuh


- Memonitor Laboratorium
- Pemberian Antibiotik.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan:

Saran :

Referensi: