Vous êtes sur la page 1sur 9

PENGERTIAN

Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental dan
sosial dan bukan semata mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang
berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Sedangkan kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadan fisik, mental dan sosial
yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang
berhubungan dengan sistem reproduksi fungsi serta prosesnya.

Pengertian kesehatan reproduksi ini mencakup tentang hal – hal sebagian berikutnya : 1. Hak
seseorang untuk dapat memperoleh kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta
mempunyai kapasita untuk bereproduksi.

2. kebebasan untuk memutuskan bilamana atau seberapa banyak melakukannya.

3. hak dari laki – laki dan perempuan untuk memeperoleh informasi serta memperoleh
aksebilitasi yang aman, efektif, terjangkau baik secara ekonomi maupun kultural.

4. hak untuk mendapatkan tingkat pelayanan kesehatan yang memadai sehingga perempuan
mempunyai kesempatan untuk menjalani proses kehamilan secara aman.

kesehatan reproduksi yaitu mencakup kondisi dimana wanita dan pria dapat melakukan
hubungan seks secara aman, dengan atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan, dan bila kehamilan
diinginkan, wanita dimungkinkan menjalankan kehamilan dengan aman, melahirkan anak yang
sehat serta didalam kondisi siap merawat anak yang dilahirkan. Kesehatan reproduksi remaja
adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki
oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari
kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultur (BKKBN, 2001 )

B. KLASIFIKASI

Hal yang berhubungan dengan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yaitu pubertas yang
mempunyai arti awal masa remaja. Pada masa pubertas terjadi perubahan badaniah yang
menandai adanya kemampuan untuk melanjutkan keturunan (reproduksi). Ada uang menyebut
pubertas sebagai saat pematangan seksual. Perubahan ini disertai perubahanmental dan akan
mempengaruhi perilakumu. Perubahan yang terjadi pada setiap orang itu berbeda-beda, karena
setiap orang memiliki perbedaan saat kematangan sekseual. Biasanya perempan mengalami
pubertas lebih awal pada usia 11-12 tahun, sedangkan laki-laki pada usia 13-15 tahun. Di
Indonesia, batasan remaja mendekati batasan PBB tentang pemuda kurun usia 14-24 tahun
yang dikemukakan dalam Sensus Penduduk 2010. Menurut sensus ini, jumlah remaja Indonesia
adalah 147.338.075 jiwa atau 18,5% dari seluruh penduduk Indonesia. Pedoman umum
masyarakat Indonesia untuk menentukan batasan usia remaja yaitu 11 – 24 tahun dan belum
menikah.

Adapun J.J. Rosseau membagi perkembangan jiwa manusia menurut perkembangan


perasaannya, yang membaginya menjadi 4 tahap yaitu:

1. Umur 0-4 atau 5 tahun: masa kanak- kanan (infancy).

2. Umur 5 –12 tahun: masa bandel (savage stage).

3. Umur 12 –15 tahun: bangkitnya akal (rasio), nalar (reason) dan kesadaran diri (self
consciousness).

4. Umur 15-20 tahun: masa kesempurnaan remaja (adolescence proper) dan merupakan puncak
perkembangan emosi.

C. Perkembangan Fisik pada Remaja

Pada masa remaja seseorang mengalami pertumbuhan fisik yang lebih cepat dibandingkan
dengan masa sebelumnya. Ini nampak pada organ seksualnya, dimana biologik sampai pada
kesiapan untuk melanjutkan keturunan. Ciri sekunder individu dewasa adalah pada pria tampak
tumbuh kumis, jenggot dan rembut sekitar alat kelamin dan ketiak. Rambut yang tumbuh relatif
lebih kasar. Suara menjadi lebih besar, dada melebar dan berbentuk segitiga, serta kulit relatif
lebih kasar. Dan pada wanita tampak rambut mulai tumbuh di sekitar alat kelamin dan ketiak,
payudara dan panggul mulai membesar, dan kulit relatif lebih halus.

Sedangkan organ kelamin juga mengalami perubahan ke arah pematangan yaitu:

1. Pada pria, sejak usia ini testis akan menghasilkan sperma yang tersimpan dalam skrotum.
Kelenjar prostat menghasilkan cairan semen, dan penis dapat digunakan untuk bersenggama
dalam perkawinan. Seorang pria dapat menghasilkan puluhan sampai jutaan sperma sekali
ejakulasi dan mengalami mimpi basah, dimana sperma keluar dengan sendirinya secara alamiah.

2. Pada wanita, kedua indung telur (ovarium) akan menghasilkan sel telur (ovum). Hormon
kelamin wanita mempersiapkan uterus (rahim) untuk menerima hasil konsepsi bila ovum dibuahi
oleh sperma, juga mempersiapkan vagina sebagai penerima penis saat senggama. Sejak saat ini
wanita akan mengalami ovulasidan menstruasi. Pada masa menjelang menstruasi pertama
(menarch) remaja putri sangatlah sensitif. Mereka juga seringkali mengalami masa prementruasi
syndrome (PMS) yang sangat berat.
Ovulasi adalah proses keluarnya ovum dari ovarium dan jika tidak dibuahi, maka ovum akan
mati dan terjadilah menstruasi. Menstruasi adalah peristiwa alamiah keluarnya darah dari vagina
yang berasal dari uterus akibat lepasnyaendometrium sebagai akibat dari ovum yang tidak
dibuahi.

D. Perkembangan Psikosial pada Remaja

Kesadaran akan bentuk fisik yang bukan lagi anak-akan menjadikan remaja sadar meninggalkan
tingkah laku anak anaknya dan mengikuti norma serta aturan yang berlaku. Menurut Havigrust
aspek psikologis yang menyertainya yaitu:

1. Menerima kenyataan (realitas) jasmani

2. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman sebaya.

3. Menjalankan peran-peran sosial menurut jenis kelamin sesuaikan dengan norma.

4. Mencapai kebebasan emosional (tidak tergantung) pada orang tua atau orang dewasa lain.

5. Mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep untuk bermasyarakat.

6. Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan atau jabatan.

7. Mencapai kebebasan ekonomi, merasa mampu hidup dengan nafkah sendiri

E. Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja

1. Hamil yang Tidak Dikehendaki (Unwanted Pregnancy)

Kehamilan yang tidak dikehendaki (Unwanted pregnancy) merupakan salah satu akibat dari
kurangnya pengetahuan remajamengenai perilaku seksual remaja. Faktor lain penyebab semakin
banyaknya terjadi kasus kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy) yaitu
anggapan-anggapan remaja yang keliru seperti kehamilan tidak akan terjadi apabila melakukan
hubungan seks baru pertama kali, atau pada hubungan seks yang jarang dilakukan, atau
hubungan seks dilakukan oleh perempuan masih muda usianya, atau bila hubungan seks
dilakukan sebelum atau sesudah menstruasi, atau hubungan seks dilakukan dengan menggunakan
teknik coitus interuptus (senggama terputus) (Notoadmodjo, 2007). Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Khisbiyah (1995) terdapat responden yang mengatakan untuk menghindari
kehamilan maka hubungan seks dilakukan di antara dua waktu menstruasi. Informasi itu
melakukan hubungan seks diantara dua menstruasi ini tentu saja bertentangan dengan kenyataan
bahwa sebenarnya masa anatara dua siklus menstruasi merupakan masa subur bagi seorang
wanita (Notoatmodjo, 2007). Kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy)
membawa remaja pada dua pilihan yaitu melanjutkan kehamilan kemudian melahirkan dalam
usia remaja (early childbearing) atau menggugurkan kandungan merupakan pilihan yang harus
remaja itu jalani. Banyak remaja putri yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan
(unwanted pregnancy) terus melanjutkan kehamilannya. Menurut Affandi (1995) cit
Notoatmodjo (2007) konsekuensi dari keputusan untuk melanjutkan kehamilan adalah
melahirkan anak yang dikandungnya dalam usia yang relatif muda. Hamil dan melahirkan dalam
usia remaja merupakan salah satu faktor resiko kehamilan yang tidak jarang membawa kematian
ibu. Kematian ibu yang hamil dan melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun lebih besar 3-4 kali
dari kematian ibu yang hamil dan melahirkan pada usia 20-35 tahun. Dari sudut kesehatan
obstetri, hamil pada usia remaja dapat mengakibatkan resiko komplikasi pada ibu dan bayi antara
lain yaitu terjadi perdarahan pada trimester pertama dan ketiga, anemia, preeklamsia, eklamsia,
abortus, partus prematurus, kematian perinatal, berat bayi lahir rendah (BBLR) dan tindakan
operatif obstetri (Sugiharta, 2004) cit (Soetjiningsih, 2004).

2. Aborsi

Aborsi (pengguguran) berbeda dengan keguguran. Aborsi atau pengguguran kandungan adalah
terminasi (penghentian) kehamilan yang disengaja (abortus provokatus). Abortus provocatus
yaitu kehamilan yang diprovokasi dengan berbagai macam cara sehingga terjadi pengguguran.
Sedangkan keguguran adalah kehamilan berhenti karena faktor-faktor alamiah (abortus
spontaneus) (Hawari, 2006). Data yang tersedia dari 1.000.000 aborsi sekitar 60,0% dilakukan
oleh wanita yang tidak menikah, termasuk para remaja. Sekitar 70,0- 80,0% merupakan aborsi
yang tidak aman (unsafe abortion). Aborsi tidak aman (unsafe abortion) merupakan salah satu
faktor menyebabkan kematian ibu.

Menurut Hawari (2006), aborsi yang disengaja (abortus provocatus) ada dua macam yaitu
pertama, abortus provocatus medicalis yakni penghentian kehamilan (terminasi) yang disengaja
karena alasan medik. Praktek ini dapat dipertimbangkan, dapat dipertanggungjawabkan dan
dibenarkan oleh hukum. Kedua, abortus provocatus criminalis, yaitu penghentian kehamilan
(terminasi) atau pengguguran yang melanggar kode etik kedokteran, melanggar hukum agama,
haram menurut syariat Islam dan melanggar Undang-Undang (kriminal).

3. Penyakit Menular Seksual (PMS)

Menurut Notoatmodjo (2007), penyakit menular seksual merupakan suatu penyakit yang
mengganggu kesehatan reproduksi yang muncul akibat dari prilaku seksual yang tidak aman.
Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan penyakit anak muda atau remaja, karena remaja
atau anak muda adalah kelompok terbanyak yang menderita penyakit menular seksual (PMS)
dibandingkan kelompok umur yang lain. PMS adalah golongan penyakit yang terbesar
jumlahnya (Duarsa, 2004) cit (Soetjiningsih, 2004) Remaja sering kali melakukan hubungan seks
yang tidak aman, adanya kebiasaan bergani-ganti pasangan dan melakukan anal seks
menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular Penyakit Menular Seksual (PMS), seperti
Sifilis, Gonore, Herpes, Klamidia. Cara melakukan hubungan kelamin pada remaja tidak hanya
A. KESIMPULAN

Kesehatan reproduksi remaja adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam
segala hal yang berkaitan dengan fungsi peran dan sistem reproduksi haruslah tetap di jaga
dengan merawat organ atau alat reproduksi. Alat reproduksi akan mengalami pematangan pada
masa pubertas yang di tandai dengan gejala gejala klinis baik pada laki –laki maupun
perempuan. Kurangnya pemahaman tentang seks akan menimbulkan kegiatan seks pranikah atau
seks bebas. Konsekuensi dari pranikah atau seks bebas adalah adanya rasa bersalah, punya
perasaan cemas, terinfeksi penyakit menular seksual, tidak siap berumah tangga , tanggung
jawab besar untuk berkeluarga , terburu buru, kehamilan yang tidak di inginkan dan aborsi.

buku : Kesehatan Reproduksi Remaja

A. Kesehatan Reproduksi
akan terjadi pada intercourse (sanggama) yang pertama kali atau dirinya tidak akan pernah
terinfeksi HIV/AIDS karena pertahanan tubuhnya cukup kuat.
Mengenai kesehatan reproduksi, ada beberapa konsep tentang kesehatan reproduksi, namun
dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan dua batasan saja. (ICPD) dan sai dan Nassim). Batasan
kesehatan reproduksi menurut International Conference on Population and Development(ICPD)
hampir berdekatan dengan batasan ‘sehat’ dari WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang
hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 23 Tahun 1992).
Definisi ini sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik,
tetapi juga kesehatan mental dan sosial, ditambahkan lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO dan
UNICEF) dengan syarat baru, yaitu: sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif, baik
secara ekonomis maupun sosial.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan
bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan
sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya.
Kesehatan reproduksi berarti bahwa orang dapat mempunyai kehidupan seks yang
memuaskan dan aman, dan mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk
menentukan keinginannya, kapan dan frekuensinya.

B. Hak yang Terkait Dengan Kesehatan Reproduksi


Membicarakah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dengan soal hak reproduksi,
kesehatan seksual dan hak seksual. Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak
setiap pasangan dan individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah,
jarak, dan waktu kelahiran anak, serta untuk memiliki informasi dan cara untuk melakukannya.
1. Kesehatan Seksual
Kesehatan seksual yaitu suatu keadaan agar tercapai kesehatan reproduksi yang
mensyaratkan bahwa kehidupan seks seseorang itu harus dapat dilakaukan secara
memuaskan dan sehat dalam arti terbebas dari penyakit dan gangguan lainnya. Terkait
dengan ini adalah hak seksual, yakni bagian dari hak asasi manusia untuk memutuskan
secara bebas dan bertanggungjawab terhadap semua hal yang berhubungan dengan
seksualitas, termasuk kesehatan seksual dan reproduksi, bebas dari paksaan, diskriminasi
dan kekerasan.

C. Perilaku seksual remaja dan kesehatan reproduksi


Perilaku seksual remaja terdiri dari tiga buah kata yang memiliki pengertian yang sangat
berbeda satu sama lainya. Perilaku dapat di artikan sebagai respons organisme atau respons
seseorang terhadap stimulus (rangsangan) yang ada (Notoatmojdo,1993). Sedangakan seksual
adalah rangsangan-rangsangan atau dorongan yang timbul berhubungan dengan seks. Jadi perilaku
seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan berhubungan dengan dorongan seksual yang
datang baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya.
Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih
dini. Dan adanya presepsi bahwa dirinya memiliki resiko yang lebih rendah atau tidak beresiko
sama sekali yang berhubungan dengan perilaku seksual, semakin mendorong remaja memenuhi
memenuhi dorongan seksualnya pada saat sebelum menikah. Persepsi seperti ini di sebut youth
uulnerability oleh Quadrel et. aL. (1993) juga menyatakan bahwa remaja cenderung melakuakan
underestimate terhadap uulnerability dirinya. Banyak remaja mengira bahwa kehamilan
tidakkeadaan sehat jasmani, rohani,dan buakan hanya terlepas dari ketidak hadiran penyakit atau
kecacatan semata, yang berhubungan sistem fungsi, dan proses reproduksi(ICPD,1994).
Beberapa tahun sebelumnya Rai dan Nassim mengemukakan definisi kesehatan reproduksi
mencakup kondisi di mana wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks secara aman, dengan
atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan, dan bila kehamilan diinginkan, wanita di mungkinkan
menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan anak yang sehat serta di dalam kondisi siap
merawat anak yang dilahirkan (Iskandar, 1995)
Dari kedua definisi kesehatan reproduksi tersebut ada beberapa faktor yang berhubungan
dengan status kesehatan reproduksi seseorang, yaitu faktor sosial ,ekonomi,budaya, perilaku
lingkungan yang tidak sehat, dan ada tidaknya fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu
mengatasi gangguan jasmani dan rohani. Dan tidak adanya akses informasi merupakan faktor
tersendiri yang juga mempengaruhi kesehatan reproduksi.
Perilaku seksual merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang sangat berhubungan
dengan kesehatan reproduksi seseorang. Pada pasal 7 rencana kerja ICPD Kairo dicantumkam
definisi kesehatan reproduksi menyebabkan lahirnya hak-hak reproduksi. Berdasarkan pasal
tersebut hak-hak reproduksi di dasarkan pada pengakuan akan hak-hak asasi semua pasangan dan
pribadi untuk menentukan secara bebas dan bertangung jawab mengenai jumlah anak ,
penjarangan anak (birth spacing ), dan menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka dan
mempunyai informasi dan cara untuk memperolehnya, serta hak untuk menentukan standar
tertinggi kesehatan seksual dan reproduksi. Dalam pengertian ini ada jaminan individu untuk
memperoleh seks yang sehat di samping reproduksinya yang sehat (ICPD, 1994). Sudah barang
tentu saja kedua faktor itu akan sangat mempengaruhi tercapai atau tidak kesehatan reproduksi
seseorang ,termasuk kesehatan reproduksi remaja.

D. Abrotus
abortus buatan, abortus dengan jenis ini merupakan suatu upaya yang disengaja untuk
menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 28 minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang
dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar.
Secara garis besar ada 2 hal penyebab Abortus, yaitu :
1. Penyebab secara umum
a. Infeksi akut
- virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis
- Infeksi bakteri, misalnya streptokokus
- Parasit, misalnya malaria
b. Infeksi kronis
- Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.
- Tuberkulosis paru aktif.
- Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll
Penyebab paling sering terjadinya abortus dini adalah kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
(pembuahan), baik dalam bentuk Zygote, embrio, janin maupun placenta.
2. Alasan Abortus Provokatus
Abortus Provokatus ialah tindakan memperbolehkan pengaborsian dengan syarat-syarat
sebagai berrikut:
a. Abortus yang mengancam (threatened abortion) disertai dengan perdarahan yang terus menerus,
atau jika janin telah meninggal (missed abortion).
b. Mola Hidatidosa atau hidramnion akut.
c. Infeksi uterus akibat tindakan abortus kriminalis.
d. Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker serviks atau jika dengan adanya
kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit keganasan lainnya pada tubuh seperti
kanker payudara.
e. Prolaps uterus gravid yang tidak bisa diatasi.
f. Telah berulang kali mengalami operasi caesar.
g. Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya penyakit jantung organik dengan
kegagalan jantung, hipertensi, nephritis, tuberkulosis paru aktif, toksemia gravidarum yang berat.
h. Penyakit-penyakit metabolik, misalnya diabetes yang tidak terkontrol yang disertai komplikasi
vaskuler, hipertiroid, dll.
i. Epilepsi, sklerosis yang luas dan berat.
j. Hiperemesis gravidarum yang berat, dan chorea gravidarum.
k. Gangguan jiwa, disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus seperti ini sebelum
melakukan tindakan abortus harus berkonsultasi dengan psikiater.

E. Infertilitas
Sistem kesehatan reproduksi hingga mengalami kemandulan selama ini di artikan sebagai
kondisi yang hanya di alami oleh para wanita saja, padahal tidak menutup kemungkinan kalau
kaum pria sebanyak 40 % juga mengalami kemandulan ini. Banyak pengertian dari Infertilitas tapi
pada intinya makna dari Infertilitas adalah sistem kesehatan reproduksi yang terganggu dan
menyebabkan ketidak mampuan mempunyai seorang anak. Banyak yang sudah menikah selama
bertahun tahun dan belum juga di karunia momongan. Oleh karena itu sudah saatnya bagi pasangan
yang menikah lama dan belum memiliki anak untuk melakukan cek kesehatan reproduksi, karena
mungkin salah satu dari pasangan suami istri yang hingga saat ini belum mendapatkan anak
mengalami Infertilitas atau yang lebih di kenal dengan kemandulan.
Pengertian Dari Infertilitas
Infertilitas terbagi menjadi dua yaitu :
1. Infertilitas primer yaitu pasangan suami istri yang belum mampu memiliki anak setelah satu
tahun menikah
2. Infertilitas sekunder yaitu pasangan suami istri yang pernah memiliki anak sebelumnya tapi
hingga saat ini belum mampu untuk mendapatkan anak lagi.
Pasangan suami istri di anggap Infertilitas karena sistem kesehatan reproduksi salah satu
pasangan ada yang terganggu. Hal ini dapat di maklumi karena proses pembuahan yang berujung
pada kehamilan dan lahirnya janin ke dunia merupakan kerjasama antara suami dan istri.
Makna dari kerjasama itu adalah suami yang mempunyai sistem dan fungsi kesehatan
reproduksi yang sehat dan mampu menghasilkan atau menyalurkan spermatozoa ke organ
reproduksi wanita, Istri yang memiliki sitem dan fungsi reproduksi sehat dan mampu
menghasilkan sel telur atau ovum yang dapat di buahi oleh spermatozoa dan mempunyai rahim
sebagai tempat perkembangan janin, embrio sampai bayi berusia cukup bulan dan di lahirkan.
Apabila salah satu faktor tersebut tidak di miliki oleh salah satu pasangan, pasangan tersebut tidak
akan mampu mempunyai anak.
Pasangan suami istri dapat di katakan Infertilitas jika selama kurun waktu satu tahun
menikah belum mendapatkan seorang nak. Demikian pengertian dari infertilitsa. Yang harus di
sadari adalah langkah apa yang kan di lakukan apabila salah satu pasangan mengalami
Infertilitas atau tidak subur. Banyak pasangan yang mengalami Infertilitas dan berhasil memiliki
anak, jadi ketenangan dan berpikir rasional adalah langkah awal yang tepat yang dapat di lakukan
untuk mengatasi Infertilitas sehingga kesehatan reproduksi dapat kita jaga.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk diketahui oleh para perempuan bakal calon
ibu ataupun laki-laki calon bapak. Oleh karena itu berdasarkan uraian di atas dapat penulis
simpulkan bahwa.
Definisi kesehatan sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan
fisik, tetapi juga kesehatan mental dana sosial, ditambahkan lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO
dan UNICEF) dengan syart baru, yaitu: sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif, baik
secara ekonomis maupun sosial.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan
bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan
sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya.
Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan
individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah, jarak, dan waktu
kelahiran anak, serta untuk memiliki informasi dan cara untuk melakukannya.

DAFTAR PUSTAKA

Mona Isabella Saragih, Amkeb, SKM. Materi Kesehatan Reproduksi.


Akademi Kebidanan YPIB Majalengka.

http://infokesehatandangizi.blogspot.com/2013/07/pengertian-
dari-infertilitas.html