Vous êtes sur la page 1sur 20

2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.

SpF

ASFIKSIA SECARA UMUM

BAB I

PENDAHULUAN

Asfiksia adalah kumpulan dari pelbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam
pertukaran udara pernafasan yang normal. Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya
obstruksi pada saluran pernafasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi.
Gangguan ini akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang
disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida. Keadaan ini jika terus dibiarkan dapat
menyebabkan terjadinya kematian.

Asfiksia merupakan penyebab kematian terbanyak yang ditemukan dalam kasus


kedokteran forensik. Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran
pernafasan disebut asfiksia mekanik. Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam
kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Mengetahui gambaran asfiksia,
khususnya pada postmortem serta keadaan apa saja yang dapat menyebabkan asfiksia, khususnya
asfiksia mekanik mempunyai arti penting terutama dikaitkan dengan proses penyidikan.

Dalam penyidikan untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban yang diduga
karena peristiwa tindak pidana, seorang penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Seorang dokter
sebagaimana pasal 179 KUHAP wajib memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang
sebenarnya menurut pengetahuan di bidang keahliannya demi keadilan. Untuk itu, sudah
selayaknya seorang dokter perlu mengetahui dengan seksama perihal ilmu forensik, salah
satunya asfiksia.

1
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

BAB II

PEMBAHASAN

I. Terminologi

Asfiksia berasal dari bahasaYunani, yaitu terdiri dari “a” yang berarti “tidak”, dan
“sphinx” yang artinya “nadi”. Jadi secara harfiah, asfiksia diartikan sebagai “tidak ada nadi” atau
“tidak berdenyut”. Pengertian ini sering salah dalam penggunaannya. Akibatnya sering
menimbulkan kebingungan untuk membedakan dengan status anoksia lainnya1.

A. Definisi Asfiksia

Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2)
dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh
akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan karbon
dioksida dalam darah kapiler paru-paru. Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan kelebihan
karbon dioksida disebut hiperkapnia1,2,3.

Dalam kenyataan sehari-hari, hipoksia ternyata merupakan gabungan dari empat


kelompok, dimana masing-masing kelompok tersebut memang mempunyai ciri tersendiri.
Walaupun ciri atau mekanisme yang terjadi pada masing-masing kelompok akan menghasilkan
akibat yang sama bagi tubuh.

2
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

B. Gejala Asfiksia

Ada 4 stadium gejala / tanda dari asfiksia, yaitu 1,5:

1. Fase dispneu / sianosis


2. Fase konvulsi
3. Fase apneu
4. Fase akhir / terminal / final

Pada fase dispneu / sianosis asfiksia berlangsung kira-kira 4 menit. Fase ini terjadi akibat
rendahnya kadar oksigen dan tingginya kadar karbon dioksida. Tingginya kadar karbon dioksida
akan merangsang medulla oblongata sehingga terjadi perubahan pada pernapasan, nadi dan
tekanan darah. Pernapasan terlihat cepat, berat, dan sukar. Nadi teraba cepat. Tekanan darah
terukur meningkat.

Fase konvulsi asfiksia terjadi kira-kira 2 menit. Awalnya berupa kejang klonik lalu kejang
tonik kemudian opistotonik. Kesadaran mulai hilang, pupil dilatasi, denyut jantung lambat, dan
tekanan darah turun.

Fase apneu asfiksia berlangsung kira-kira 1 menit. Fase ini dapat kita amati berupa adanya
depresi pusat pernapasan (napas lemah), kesadaran menurun sampai hilang dan relaksasi
spingter. Fase akhir asfiksia ditandai oleh adanya paralisis pusat pernapasan lengkap. Denyut
jantung beberapa saat masih ada lalu napas terhenti kemudian mati.

3
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

II. Gambaran Postmortem pada Asfiksia

Karena asfiksia merupakan mekanisme kematian, maka secara menyeluruh untuk semua
kasus akan ditemukan tanda-tanda umum yang hampir sama, yaitu:

A. Pada pemeriksaan luar 1,4,5:


o Muka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang disebabkan
tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2.
o Tardieu’s spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieu’s spot merupakan bintik-
bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat.
o Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap karena terhambatnya pembekuan darah
dan meningkatnya fragilitas/permeabilitas kapiler. Hal ini akibat meningkatnya kadar
CO2 sehingga darah dalam keadaan lebih cair. Lebam mayat lebih gelap karena
meningkatnya kadar HbCO2..
o Busa halus keluar dari hidung dan mulut. Busa halus ini disebabkan adanya fenomena
kocokan pada pernapasan kuat.

B. Pada pemeriksaan dalam 1,4,5:


o Organ dalam tubuh lebih gelap & lebih berat dan ejakulasi pada mayat laki-laki akibat
kongesti / bendungan alat tubuh & sianotik.
o Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih cair.
o Tardieu’s spot pada pielum ginjal, pleura, perikard, galea apponeurotika, laring, kelenjar
timus dan kelenjar tiroid.
o Busa halus di saluran pernapasan.
o Edema paru.
o Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur laring, fraktur tulang
lidah dan resapan darah pada luka.

III. ANGKA KEJADIAN

Korban kematian akibat asfiksia termasuk yang sering diperiksa oleh dokter. Umumnya urutan
ke-3 sesudah kecelakaan lalu - lintas dan trauma mekanik.5
A. ETIOLOGI

1. Alamiah

4
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

Misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laringitis difteri, atau
menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru.2

2. Mekanik

Yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara
vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral, sumbatan pada saluran nafas dan
sebagainya.kejadian ini sering dijumpai pada keadaan hanging, drowning, strangulation dan
sufocation.2
3. Keracunan

Bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan misalnya barbiturat, narkotika.2

IV. PATOFISIOLOGI

Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam dua golongan :
1. Primer ( akibat langsung dari asfiksia )
Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada tipe dari asfiksia. Sel
- sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan O2. Bagian - bagian otak tertentu membutuhkan
lebih banyak O2, dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen.
Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel - sel serebrum, serebelum dan ganglia basalis.5 Di
sini sel - sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial, sehingga pada organ tubuh yang
lain yakni jantung, paru - paru, hati, ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan O2
langsung atau primer tidak jelas.5

5
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

2. Sekunder ( berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh )


Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah dengan
mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. Karena oksigen dalam
darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung maka terjadi gagal jantung dan
kematian berlangsung dengan cepat. Keadaan ini didapati pada :
a. Penutupan mulut dan hidung ( pembekapan )
b. Obstruksi jalan nafas
seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan dan korpus alienum dalam saluran
nafas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk ke paru - paru
c. Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan(traumatic
asphyxia)
d. Penghentian primer dari pernafasan
akibat kegagalan pada pusat pernafasan, misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk
keracunan.5

V. JENIS - JENIS ASFIKSIA


A. Secara fisiologis dapat dibedakan empat bentuk asfiksia ( sering disebut anoksia ) :
1. Anoksia anoksik ( anoxic anoxia )

Keadaan ini diibaratkan dengan tidak atau kurang pemasokan oksigen untuk keperluan
pabrik. Pada tipe ini O2 tidak dapat masuk ke dalam paru - paru karena :
a. Tidak ada atau tidak cukup O2
bernafas dalam ruangan tertutup, kepala ditutupi kantong plastik, udara yan kotor atau
busuk, udara lembab, bernafas dalam selokan tertutup atau di pegunungan yang tinggi.
Ini disebut asfiksia murni ( suffocation )

6
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

b. Hambatan mekanik
dari luar maupun dari dalam jalan nafas seperti pembekapan, gantung diri, penjeratan,
pencekikan, pemitingan atau korpus alienum dalam tenggorokan. Ini disebut sebagai
asfiksia mekanik ( mechanical asphyxia )
2. Anoksia anemia ( anaemic anoxia )

Dimana tidak cukup hemoglobin untuk membawa oksigen. Ini didapatkan pada anemi
berat dengan pendarahan yang tiba - tiba. Kedaaan ini diibaratkan dengan sedikitnya kendaraan
yang membawa bahan bakar ke pabrik
3. Anoksia hambatan ( stagnant anoxia )

Tidak lancarnya sirkulasi darah yang membawa oksigen. Ini bisa karena gagal jantung,
syok, dan sebagainya. Dalam keadaan ini tekanan oksigen cukup tinggi, tetapi sirkulasi darah
tidak lancar. Keadaan ini diibaratkan lalu lintas macet, tersendat jalannya.

4. Anoksia jaringan ( histotoxic anoxia )

Gangguan terjadi di dalam jaringan sendiri, sehingga jaringan atau tubuh tidak dapat
menggunakan oksigen secara efektif.5
B. STADIUM ASFIKSIA
1. Fase dispnoe
Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan CO2 dalam plasma akan
merangsang pusat pernafasan di medulla oblongata, sehingga amplitude dan frekuensi
pernafasan akan meningkat. Nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai tampak tanda
- tanda sianosis terutama pada muka dan tangan.2,3
2. Fase konvulsi
Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan saraf pusat
sehingga terjadi konvulsi ( kejang ), yang mula - mula berupa kejang klonik tetap
kemudian menjadi kejang tonik, dan akhirnya timbul episode opistotonik.2,3 Pupil

7
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga menurun. Efek ini
berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akibat kekurangan O2.2,3
3. Fase apnoe
Depresi pusat pernafasan menjadi lebih hebat, pernafasan melemah dan dapat berhenti.
Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran cairan sperma,
urin dan tinja.2
4. Fase akhir
Terjadi paralisis pusat pernafasan yang lengkap. Pernafasan berhenti setelah kontraksi
otomatis otot pernafasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa saat setelah
pernafasan berhenti.2
VI. TANDA - TANDA

Masa dari saat asfiksia sampai timbul kematian sangat bervariasi. Umumnya berkisar
antara 4- 5 menit, tergantung dari tingkat penghalangan oksigen, bila tidak 100% maka waktu
kematianakan lebih lama dan tanda - tanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap.2
Pemeriksaan jenazah ( autopsi ) pada kasus - kasus asfiksia akan mamberikan gambaran :
1. Pemeriksaan luar
a. Dapat ditemukan sianosis pada bibir, ujung - ujung jari dan kuku. Pembendungan
sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kananmerupakan tanda klasik pada
kematian akibat asfiksia.2
b. Warna lebam mayat ( livor mortis ) merah - kebiruan gelap akan terbentuk lebih cepat.
Distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin dalam
darah, sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir. Tingginya fibrinolisin ini
sangat berhubungan dengan cepatnya proses kematian.2
c. terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas
pernafasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lender saluran nafas bagian atas.
Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran sempit akan menimbulkan busa yang
kadang - kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler.2
d. Gambaran perbendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi
dan palpebra yang terjadi pada fase 2, akibat tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah
meningkat terutama dalam vena, venula dan kapiler. Selain itu hipoksia dapat merusak

8
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

endotel kapiler sehingga dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan
timbul bintik - bintik perdarahan yang dinamakan sebagai tardeou’s spot.2

3. Pemeriksaan dalam
1. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibrinolisin darah yang meningkat
paska kematian.

2. Busa halus di dalam saluran pernafasan

3. Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat,
berwarna lebih gelap, dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah

4. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada belakang jantung
daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars
diafragmatika dan fissura interlobaris, kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot
temporal, mukosa epiglottis dan daerah subglotis

5. Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia

6. Kelainan - kelainan yang berhubungan dengan kekerasan, seperti fraktur laring langsung
atau tidak langsung, perdarahan faring terutama bagian belakang rawan krikoid ( pleksus
vena submukosa dengan dinding tipis )2

VII. ASFIKSIA MEKANIK

Dalam bidang forensik ada beberapa keadaan atau jenis asfiksia yang sering dijumpai.
Biasanya berkaitan dengan hambatan saluran nafas secara mekanik. Kasus - kasus yang sering
dijumpai, antara lain :5

1. HANGING ( mati gantung )


Mati gantung sangat akrab dalam kehidupan sehari - hari. Tindakan bunuh diri dengan
cara ini sering dilakukan karena dapat dilakukan dimana dan kapan saja dengan seutas tali, kain,
dasi, atau bahan apa saja yang dapat melilit leher. Demikian pula pada pembunuhan atau
9
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

hukuman mati dengan cara penggantungan yang sudah digunakan sejak zaman dahulu. 5 Kasus
gantung hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terletak pada asal tenaga yang
dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat. Pada penjeratan tenaga tersebut datang dari luar,
sedangkan pada kasus gantung tenaga tersebut berasal dari berat badan korban sendiri, meskipun
tidak seluruh berat badan digunakan.2
A. Berdasarkan posisi korban, hanging dikelompokkan atas 2, yaitu :
1. Complete hanging
Tubuh tergantung di atas lantai, kedua kaki tidak menyentuh lantai.2,5
2. Partial hanging
Bagian dari tubuh masih menyentuh lantai. Sisa berat badan 10 - 15 kg pada orang
dewasa sudah dapat menyebabkan tersumbat saluran nafas dan hanya diperlukan sisa
berat badan 5 kg untuk menyumbat arteri karotis. Partial hanging ini hampir selamanya
karena bunuh diri.5
B. Berdasarkan letak jeratan, dikelompokkan atas :
o Typical hanging
Bila titik penggantungan ditemukan di daerah oksipital dan tekanan pada arteri karotis
paling besar.2
o Atypical hanging
Jika titik penggantungan terletak di samping, sehingga leher sangat miring (fleksi lateral),
yang mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis. Saat arteri
terhambat, korban segera tidak sadar.2

C. Penyebab kematian
Pada kasus - kasus hanging, kematian disebabkan oleh asfiksia akibat tersumbatnya saluran
nafas, kongesti vena sampai menyebabkan perdarahan di otak, iskemis serebral karena sumbatan
pada arteri karotis dan vertebralis, syok vagal karena tekanan pada sinus karotis yang
mengakibatkan jantung berhenti berdenyut, dan fraktur atau dislokasi tulang vertebra cervicalis 2
dan 3 yang menekan medulla oblongata dan mengakibatkan terhentinya pernafasan.5,6

D. Gambaran post mortem


1. Pada pemeriksaan luar

10
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

o Didapatkan tanda penjeratan pada leher, penjeratan ini dipengaruhi oleh Alat penjerat Jika
alat penjerat berbentuk keras dan berluas penampang kecil, maka bekas jeratan akan
dalam dan menonjol. Sebaliknya jika alat penjerat lembut dan berluas penampang besar,
maka bekas jeratan kurang menonjol dan tidak dalam.
o Lama penggantungan Jika penggantungan terjadi makin lama, maka bekas jeratan akan
tampak makin menonjol, makin dalam dan makin kering dan kasar pada perabaan
(parchmentised).
o Tinggi penggantungan Bekas jeratan tampak lebih dalam dan menonjol pada total
hanging. Pada kasus partial hanging, bekas jeratan tampak kurang menonjol atau hanya
menonjol pada satu sisi saja.
o Ketatnya jeratan Dengan bertambah ketatnya jeratan, maka bekas jeratan akan tampak
lebih menonjol.
o Tergesernya material jeratan Jika jeratan yang semula berada di tempat yang lebih
rendah, tetapi akibat penggantungan badan bergeser ke bawah yang berakibat jeratan
akan bergeser ke posisi yang lebih tinggi. Hal ini akan menyebabkan terhalang atau tidak
terbentuknya bekas jeratan yang menonjol pada posisi jeratan semula, juga berakibat
terbentuknya luka lecet akibat perpindahan jeratan tersebut. Bekas jeratan yang dalam
akan tampak pada posisi jeratan yang terakhir.
o Jika jeratan dilakukan dengan beberapa putaran maka akan tampak bekas jeratan yang
multiple, dan paralel terhadap satu sama lain.
o Ukuran leher yang memanjang, hal ini dikarenakan lamanya korban tergantung. Jika
korban segera diturunkan, maka tanda ini tidak akan begitu jelas dijumpai.
o Arah jatuhnya Leher, biasanya akan difleksikan ke arah berlawanan dengan posisi
terdapatnya simpul. Posisi atau arah jatuhnya leher ini akan dipertahankan sampai
dimulainya fase pembusukan.
o Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan tempat simpul, lidah
terjulur dan kandang tergigit.
o Ditemukannya penetesan air liur merupakan temuan yang konstan dan penting pada
kasus kematian akibat hanging. Penetesan air liur dapat ditemukan di sudut mulut yang
berada pada posisi lebih rendah yaitu di sudut yang berlawanan dengan sisi terdapatnya
simpul. Pada kasus typical hanging, hal ini ditemukan pada bagian tengah dari bibir
11
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

bawah. Jika simpul berada di bawah dagu, penetesan air liur dapat ditemukan pada salah
satu atau kedua sudut mulut. Air liur dapat ditemukan pada baju korban atau tubuh
korban yang tidak berpakaian, sehingga ketika kering air liur ini akan sulit dihapus.
Tetapi dengan menempatkan tubuh korban pada kamar pendingin jejak tersebut mungkin
dapat dihapus.
o Temuan air liur ini dianggap sangat penting untuk mendukung telah terjadinya
kematian hanging antemortem karena salivasi yang berlebih terjadi akibat reaksi
antemortem akibat iritasi terhadap kelenjar submandibular yang terjadi pada
penekanan dan pergesekan dengan alat penjerat.
o konjungtival bleeding
o Lebam mayat pada tungkai, posisi tangan dalam keadaan tergenggam, lebam ini
juga tidak akan jelas jika korban segera diturunkan.
o Keluarnya urine dan feses
o Tanda - tanda asfiksia dapat dijumpai Kuku, bibir dapat menunjukkan tanda-tanda
sianosis.2,5,6

2. Pada pemeriksaan dalam


Pada leher dapat ditemukan :
o Jaringan subkutan dibawah bekas jeratan tampak putih, kering, keras, dan mengkilap.
Pada platysma dan otot sternomastoid dapat dijumpai tanda-tanda hemorrhagic bahkan
kadang-kadang bisa terjadi ruptur.
o Fraktur tulang hyoid terjadi pada sekitar 5-10% kasus penggantungan, dan banyak terjadi
pada korban berumur 40 tahun ke atas. Hal ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang
mengatakan fraktur tulang hyoid pada kasus hanging dapat mencapai 25%.
o Robekan transversal pada tunika intima arteri karotis yang sering juga disebut red line 2,3.
o Laring dan otot-otot setentang bekas jeratan leher sering tampak kongesti dan ditemukan
bintik-bintik pendarahan. Pada kasus JUDICIAL HANGING atau jatuh dari tinggi sekitar
2-2,5 meter 6, ligasi pada sekitar leher menyebabkan penarikan yang sangat kuat dan
berakibat fatal pada leher pada saat akhir jatuh. Pada kasus demikian dapat dijumpai
fraktur dislokasi vertebra C2-3 atau C3- 4. Pada kasus fraktur vertebrae C2-3, pecahan

12
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

fraktur prosesus odontoid vertebrae C2 menyebabkan kerusakan pada medulla. Pada


kasus lainnya menyebabkan kerusakan pada meningens dan medulla spinalis.
o Pada beberapa kasus, dinding posterior esophagus bisa tampak kongesti karena kompresi
dari vertebra servikalis.
o Laring dan trakea tampak kongesti. Bisa ditemukan tardieu’s spots pada membran
mukosa laring dan trakea & Patah tulang lidah
o Otak tampak kongesti dan oedem dengan ditemukannya hemorrhagic spots yang bisa
juga ditemukan pada meningens.
o Paru-paru tampak kongesti. Tampak tardieu’s spots pada permukaan dalam pleura yang
terutama banyak pada pleura yang berlekatan dengan lobus paru. Hal ini dikatakan
oleh beberapa ahli merupakan diagnostik bagi kasus hanging selain penetesan air liur 6

3. STRANGULASI ( pencekikan )
a. Definisi
Pencekikan adalah penekanan leher dengan tangan, yang menyebabkan dinding saluran nafas
bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran nafas sehingga udara pernafasan tidak dapat
lewat.2,5,6
b. Jenis - jenis Strangulasi dikelompkkan menjadi : ·
- Strangulasi sejati ( menggunakan tali )
- Strangulasi manual (menggunakan tangan )
- Mugging ( menggunakan kaki, lutut, siku, atau benda keras lainnya
- Bansdola ( menggunakan 2 buah bambu, satu bambu diletakkan di bagian anterior dan
yang launn di bagian posterior leher. 2,5,6

c. Penyebab kematian
Mekanisme kematian pada kasus - kasus strangulasi adalah asfiksia dan vagal refleks.2

13
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

d. Gambaran post mortem


o Pada pemeriksaan luar jenazah ditemukan ü jejas penjeratan yang melingkar di bagian
bawah leher, dibawah kartilago tiroid, dasar jejas pucat, lunak dan agak kemerahan.
gambaran asfiksia pada pemeriksaan dalam ditemukan
o Mukosa laring dan trake menebal dan berwarna merah
o laserasi otot ü fraktur tulang tiroid
o kongesti yangluas pada daerah laring, trakea dan bronkus
o Cincin trake kadang mengalami fraktur.
o Pada paru dapat dijumpai kongesti, bercak perdarahan, ruptur septum interalveolar dan
pada penyayatan akan keluar darah.2

4. SUFOKASI
Sufokasi merupakan bentuk asfiksia akibat obstruksi pada saluran udara menuju paru - paru
yang bukan karena penekanan pada leher atau tenggelam. 2,5,6

Jenis- jenis sufokasi berdasarkan penyebabnya dibedakan atas:


a. Pembekapan ( smoothering )
Keadaan ini biasanya adalah kecelakaan berupa asfiksia pada anak atau bayi karena ibu yang
kurang berpengalaman. Bayi didekap terlalu erat pada dada ibu sewaktu menyusui. Jarang sekali
hal ini terjadi sebagai upaya pembunuhan. Orang dewasa juga sangat jarang mengalami kematian
akibat pembekapan. 2,5,6 ·

b. Tersedak benda asing ( gagging and choking )


Yaitu jika terdapat benda asing di dalam saluran pernafasan. Misalnya biji kopi. Hal ini lebih
sering akibat kecelakaan, yaitu karena adanya makanan, tulang, biji - bijian atau cairan yang
diaspirasi dari saluran pernafasan sehingga menyebabkan asfiksia parsial.2 ·

c. Penekanan pada dada

14
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

Keadaan ini sering terjadi akibat kecelakaan dan jarang sekali merupakan upaya
pembunuhan. Pada kasus pembunuhan maka akan tampak tanda - tanda perlawanan. Penekanan
pada dada akan disertai dengan cedera dada dan fraktur tulang iga.6
d. Inhalasi gas - gas berbahaya
Gas yang sering terhirup adalah karbon dioksida, karbon monoksida dan sulfur dioksida. Hal
ini bisa disebabkan karena kecelakaan ataupun bunuh diri. Jika seluruh ruangan penuh berisi gas
yang berbahaya, akan mengakibatkan sufokasi yang fatal.5,6
e. Penyebab kematian
Penyebab kematian pada sufokasi adalah asfiksia dan syok ( jarang ). Biasanya dalam waktu
4 - 5 menit setelah mengalami sufokasi komplit. Pada beberapa kasus terjadi kematian
mendadak. 2,5,6
f. Gambaran post mortem
Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan jejas bekas jari / kuku di sekitar wajah, dagu, pinggir
rahang, hidung, lidah dan gusi. Ujung lidah juga dapat mengalami memar atau cedera. Kadang -
kadang hal ini merupakan satu - satunya pertanda pada pemeriksaan post mortem. 2,5,6

5. DROWNING
Suatu keadaan dimana terjadi asfiksia yang menyebabkan kematian akibat udara atmosfer
tidak dapat masuk ke dalam saluran pernafasan, karena sebagian atau seluruh tubuh berada di
dalam air sehingga udara tidak mungkin bisa memasuki saluran pernafasan. 2,5,6
a. Jenis - jenis
1. Parsial ( hanya bagian wajah yang tenggelam )
2. Komplit ( seluruh tubuh tenggelam )
3. Dry drowning ( kematian terjadi sebelum menghirup air )
4. Wet drowning ( kematian terjadi setelah menghirup air ) 2,5,6
b. Penyebab kematian

Penyebab kematian pada kasus - kasus drowning adalah asfiksia, syok, pingsan (sinkop ),
gegar otak, apopleksi, cedera, kehabisan tenaga. 2,5,6

15
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

c. Gambaran post mortem

1. Pada pemeriksaan luar

o Pakaian masih basah jika pemeriksaan dilakukan tidak lama setelah mayat dikeluarkan
dari dalam air ·
o Tanda-tanda asfiksia jelas, kecuali jika kematiannya karena sinkop atau syok. ·
o Mata setengah terbuka ·
o Muka sianosis, konjungtiva kongesti dan pupil dilatasi
o Lidah bengkak dan terjulur keluar, sering tergigit ·
o Bibir, hidung dan ujung-ujung kuku sianosis ·
o Dari hidung dan mulut keluar buih halus. Pada kasus tenggelam, bila buih tidak tampak
dapat dicoba dengan menekan perut dan dada. Warna buih putih, kecil halus dan tahan
lama sedangkan pada pembusukan buih lebih besar dan mudah pecah. ·
o Pada ujung kuku bisa dijumpai lumpur dan pasir. Tangan sering menggenggam erat daun-
daun, ranting, rumput dan lainnya, hal ini menunjukkan cadaveric spasme, yang
merupakan tanda penting bahwa korban sebelum tenggelam masih hidup ·
o Cutis anserina terjadi karena kontraksi m.Erektor pili. Biasanya dijumpai pada anggota
gerak korban yang mati tenggelam di air dingin. Pada daerah tropis jarang didapati. Pada
korban yang baru tenggelam biasanya tidak dijumpai. Cutis anserina juga dapat dijumpai
selain pada kasus kematian akibat tenggelam, yaitu pada fase rigor mortis · Kulit ari akan
mengelupas dan rambut akan mudah dicabut atau gugur· Kulit telapak tangan dan kaki
menjadi kriput dan putih seperti tangan orang yang lama mencuci (Washer women hand).
Hal ini dijumpai jika tubuh telah 12 jam berada dalam air· Lebam mayat jelas terlihat
pada kepala, leher,dan dada karena pada kasus tenggelam kepala lebih rendah sehingga
darah banyak berkumpul di kepala. Lebam mayat berwarna lebih merah·
o Skrotum dan penis terlihat retraksi, karena kontraksi tunika dartos disebabkan dingin
2. Pada pemeriksaan dalam

o Pada laring, trakea, dan cabang bronkus dapat dijumpai buih dan darah. Mukosanya
berwarna merah oleh karena kongesti.

16
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

o Dalam saluran pernafasan sering dijumpai cairan yang sama dengan cairan tempat dia
tenggelam, cairan dapat berisi lumut, lumpur ataupun pasir, bila tenggelam pada air laut
dapat dijumpai kristal garam. Sering juga didapati sisa makanan pada saluran pernafasan,
hal ini disebabkan oleh pembusukan yaang mengakibatkan tekanan intraabdomen
meningkat dan mendorong makanan keatas dan masuk dalam saluran pernafasan. ·
o Paru-paru akan membesar (ballon like appearance) sehingga terlihat jelas bekas-bekas iga
pada paru-paru, jika ditekan akan membekas dan bila dipotong akan keluar darah dan
buih. Kadang-kadang paru tidak membesar karena adhesi dari pleura.4,8 Pada wet
drowning tidak dijumpai tardieu’s spot. ·
o Jantung kanan penuh terisi darah dan jantung kiri kosong.
o Vena-vena membesar dan kongesti. ·
o Pada lambung dan usus dijumpai air sesuai dengan tempat tenggelamnya. ·
o Hepar, limpa dan ginjal kongesti dan berwarna gelap. ·
o Otak mengalami kongesti dan hiperemis. ·
o Di telinga tengah dapat dijumpai air.

17
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

BAB III
PENUTUP

Dalam dunia medis definisi asfiksia masih merupakan perbincangan, namun beberapa
ahli menyimpulkan bahwa asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya
gangguan pertukaran udara pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang ( hipoksia )
disertai dengan peningkatan karbondioksida ( hiperkapnea ). Dengan demikian organ tubuh
mengalami kekurangan oksigen ( hipoksia hipoksik ) dan terjadi kematian.

Pada banyak kasus asfiksia yang disebabkan oleh kekerasan terdapat tanda-tanda khusus
yang dapat mengarahkan pada solusi yang tepat. Beberapa permasalahan ada / terjadi walau
bagaimanapun akan tetap ada. Sebagai contoh tingkatan dari tekanan pada leher tidak dapat
dibuktikan secara jelas. Situasi semacam ini dapat timbul karena melakukan aktititas seksual
yang terlalu bersemangat dimana kematian mungkin terjadi karena tekanan pada leher yang
relatif ringan. Kesulitan lain timbul karena dari pembekapan dengan benda lembut. Sedikit bukti
untuk membuktikan asfiksia atau cedera mungkin timbul bila pembekapan dilakukan dengan
bantal. Satu-satunya indikasi utama yang menuntun pada kecurigaan kekerasan dapat di lihat

18
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

pada tanda tekanan oleh gigi pada bagian dalam bibir dan sedikit paetikie haemoragi pada
konjungtiva.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara. 1997.p: 170

2. Leonardo. Asfiksia Forensik. Bagian Ilmu Forensik RSU Dr. Pirngadi Medan. [cited July
2008][online April 2008]. Available at: www.kabarindonesia.com

3. Knight B. Asphyxia and pressure on the neck and chest. In: Simpson’s forensic
medicine, eleventh ed. London, Oxford University Press,Inc. 2001. p:87-90

4. Apuranto H, Asphyxia. In: Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.
Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.2007.p:71-99

5. Chadha PV. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi. Jakarta: Widya Medika.
1995.p: 47-8

19
2010 Dr.SURJIT SINGH.DFM.MBBS.SpF

6. Porth CM. Alterations in Respiratory Function: Disorders of Gas Exchange. In: :


Essential of Pathophysiology, Concepts of Altered Health States. Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins. 2004.p:397

7. Grey TC, McCance KL. Altered Cellular and Tissue Biology. In: Pathophysiology: The
Biologic Basis for Disease in Adults and Children. Fifth Edition. Philadelphia: Mosby,
Inc.2006.p:67

20