Vous êtes sur la page 1sur 58

TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DI RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH MOROWALI

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Pendidikan Diploma III
Keperawatan Poltekkes KemenkesPalu Jurusan Keperawatan
Program Studi Keperawatan Poso

Oleh:

JEINST TAKAINGINAN
NIM: PO7120112055

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN POSO
PROGRAM D 111 KHUSUS MOROWALI
TAHUN 2014

i
27

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Karya Tulis Ilmiah Ini Telah Diperiksa dan Disetujui Untuk Diuji Oleh Tim
Penguji Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu Jurusan Keperawatan
Program Studi Keperawatan Poso

Nama : JEINST TAKAINGINAN

NIM : PO 7120112055

Poso,24 April 2014


Pembimbing Utama

Ns I MADE NURSANA,S.Kep,M,Kes
NIP. 197106231995031002

Poso,24 April 2014


Pembimbing Pendamping

HJ.IDAWATI Dg.MAMALA,S.Ag.M.Kes
NIP. 19550810019751062001

Mengetahui,
Ketua Jurusan Keperawatan,

ILYAS, SKM.MSi
NIP. 1966 0412 198512 1 001
27

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

Karya Tulis Ilmiahini telah dipertahankan di hadapan tim penguji Politeknik


Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu Jurusan Keperawatan Program Studi
Keperawatan Poso Pada Tanggal 26 April 2014

Nama : JEINST TAKAINGINAN

NIM : PO 7120112055

Tim Penguji

Ns I MADE NURSANA,S.Kep,M,Kes Ketua


NIP. 197106231995031002

HJ.IDAWATI Dg.MAMALA,S.Ag.M.Kes Anggota


NIP. 19550810019751062001

NIRVA RANTESIGI, S,Kep Anggota


NIP.197104271990022001

Mengetahui
Direktur Politeknik Kesehatan Mengetahui
Kemenkes Palu, Ketua Jurusan Keperawatan,

UDIN DJABU, SKM.M.Kes ILYAS, SKM.MSi


NIP. 1953 0312 197508 1 001 NIP. 1966 0412 198512 1 001
POLITEKNIK KESEHAIAN PALU
27

JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN POSO
KARYA TULIS ILMIAH

ABSTRAK

Takainginan Jeinst ”Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Bantuan Hidup Dasar


(BHD) Di RSUD Morowali” Karya Tulis Ilmiah Program Studi Keperawatan Poso
Jurusan Keperawat Poltekkes Kemenkes Palu Yang Di Bimbing Oleh 1) I Made
Nursana 2) Idawati Dg Mamala

( xi+ 41 halaman + 7 tabel + 9 lampiran )

Latar Belakang :Kedaruratan medik dapat terjadi pada seseorang maupun kelompok
orang pada setiap saat dan dimana saja. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera
untuk menyelamatkan jiwa.Bantuan Hidup Dasar (BHD) efektif jika segera dilaksanakan
saat penderita mengalami gangguan yang membutuhkan tindakan segera. Semakin cepat
BHD di lakukan maka semakin besar tingkat keberhasilan pertolongan, faktor
pengetahuan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat sangat penting dalam
keberhasilan tindakan Bantuan Hidup DasarTujuan : Untuk mengetahui gambaran
pengetahuan perawat tentang BHD berdasarkan pendidikan, lama bekerja dan riwayat
pelatihan. Jenis Penelitian : deskriptif. Populasi :Semua perawat di RSUD Bungku yang
berjumlah 30 orang Sampel : diambil dengan cara Total sampling. Hasil :Pengetahuan
baik yaitu sebanyak 18 responden (69,2%), pengetahuan cukup sebanyak 12 responden
(35,6%), Kesimpulan :Pengetahuan baik terbanyak adalah pendidikan S1 Keperawatan
yaitu sebanyak 4 responden (80%), masa kerja > 10 tahun yaitu sebanyak 4 responden
(5,4%) dan yang pernah mengikuti pelatihan yaitu sebanyak 22 responden (56,4,%).
Saran :tetap mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan
perawat tentang Bantuan Hidup Dasar melalui pendidikan dan pelatihan kegawat
daruratan.

Kata Kunci :Pengetahuan, Bantuan Hidup Dasar.

Daftar Pustaka :15 (2000-2012)


27

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa

karena berkat dan petunjuk-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya

Tulis ilmiah ini dengan judul ”Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang

Bantuan Hidup Dasar (BHD) Di Rumah Sakit Umum Daerah Morowali”

yang diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh ujian akhir

pendidikan program Diploma III Keperawatan pada Politeknik Kesehatan

Kementrian Kesehatan Palu Jurusan Keperawatan Program Studi Keperawatan

Poso.

Pada kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Udin Djabu, SKM.M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan

Kementrian Kesehatan Palu.

2. Bapak Ilyas,SKM.M.Si selaku Ketua Jurusan Keperawatan

3. Bapak M.Zamil Mardani,SKM.M.Kes selaku Ketua Program Studi

Keperawatan Poso.

4. Ibu dokter Sandra selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Morowali

5. Bapak Ns I Made Nursana S.Kep,M,Kes selaku pembimbing utama yang telah

banyak meluangkan waktunya dan dengan penuh kesabaran dalam

memberikan arahan, dorongan dan semangat sehingga karya tulis ilmiah ini

dapat terselesaikan.
27

6. Ibu Hj.Idawati Dg.Mamala,S.Ag.M.Kes selaku pembimbing pendamping

yang dengan penuh kesabaran membimbing dan mengarahkan penulis dalam

penyusunan karya tulis ilmiah ini.

7. Ibu Nirva Rantesigi S.Kep. selaku penguji yang banyak memberikan saran dan

masukan.

8. Staf dosen dan staf tata usaha Program Studi Keperawatan Poso yang selama

ini telah banyak memberikan bantuan kepada penullis.

9. Kepada Suami dan kedua orang tua yang telah memberikan bantuan dan

dorongan baik secara moril dan materiil sehingga penulis bisa menyelesaikan

pendidikan.

10. Teman-teman sesama mahasiswa yang telah bersama-sama berjuang untuk

meyelesaikan pendidikan pada waktunya.

Penulis menyadari dengan segala keterbatasan pengetahuan dan

kemampuan yang dimiliki penulis maka karya tulis ilmiah ini masih jauh dari

kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat

diharapkan penulis untuk perbaikan penyusunan di masa akan datang.

Akhirnya penulis berharap semoga karya tulis ilmiah dapat bermanfaat

bagi pembaca dan bagi ilmu pengetahuan, semoga segala bantuan yang telah

diberikan kepada penulis baik moril, materil, dorongan, dan perhatian akan

mendapat imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

Poso, April 2014

Penulis

Penulis
27

DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL …………………...............................………...........……..i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….…………………….….ii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI .…………….……......………..............iii

ABSTRAK ............................................................................................................iv

KATA PENGANTAR .........................................................................................v

DAFTAR ISI .......................................................................................................vi

DAFTAR TABEL ..............................................................................................vii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................... ....................ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ………..………………………………..………...……1

B. Rumusan Masalah ……………...………..………………………….…4

C. Tujuan Penelitian …………………...…………...……………………..4

D. Manfaat Penelitian…………………...…………...…………………….5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.

A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan .................….………..………..6

B. Tinjauan Umum Tentang Penanggulangan Gawat Darurat ………........8

C. Tinjauan Umum tentang Bantuan Hidup Dasar ...................................13


27

D. Tinjauan tentang Umur, Pendidikan dan

Pekerjaan...............................................................................................27

E. Kerangka Konsep……………...………..……………………..……...29

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ……………………...……………...25

B. Waktu dan Tempat Penelitian ……………………………..………...25

C. Populasi dan Sampel …………………………………..………...…..25

D. Variabel Penelitian dan Definisi operasional …………………......…26

E. Tekhnik Pengumpulan Data ……………………………...……...…..28

F. Analisa Data ……………………………...…...……………….…….29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian ..............................................................32

B. Hasil Penelitian ..................................................................................33

C. Pembahasan ........................................................................................35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ........................................................................................40

B. Saran ...................................................................................................41

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..42

LAMPIRAN
27
27

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 2.1 Memeriksa Kesadaran ......................................................................16

Gambar 2.2 Panggil Bantuan ..............................................................................16

Gambar 2.3 Letakkan satu tangan pada tulang sternum antara papila mamae

atau 2 jari diatas os xifoideus ...........................................................19

Gambar 2.4 Lakukan penekanan dada sebanyak 30:2..........................................20

Gambar 2.5 Head tilt and chin lift .......................................................................22

Gambar 2.6 Jaw thrust..........................................................................................23

Gambar 2.7 Menutup hidung korban sedang posisi kepala tetap ekstensi ...........25

Gambar 2.8 Pemberian napas dari mulut ke mulut ..............................................25

Gambar 2.9 Mouth to mouth ventilation ..............................................................26

Gambar 2.10 Two person technigue for bag valve mask ....................................26

Gambar 2.11 Defibrilation ............. .....................................................................27


27

DAFTAR TABEL

Tabel: Hal

4.1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik responden


di RSUD Bungku.. ....................37

4.2. Distribusi tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup


Dasar berdasarkan pendidikan, lama bekerja dan riwayat pelatihan
di Bungku ................................39
27

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran:

1. Biodata Penulis

2. Pernyataan Keaslian Tulisan

3. Surat Permohonan Izin Penilitian

4. Lembar Persetujuan Menjadi Responden

5. Kuesioner

6. Surat Keterangan Telah Selesai Melakukan Penelitian

7. Jadwal Kegiatan Penelitian

8. Anggaran Penelitian

9. Tabulasi Data
27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pelayanan keperawatan gawat darurat adalah pelayanan profesional

yang didasarkan pada ilmu dan metodologi keperawatan gawat darurat yang

berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif ditujukan

kepada klien/pasien yang mempunyai masalah aktual atau resiko yang disertai

kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan.Rangkaian kegiatan yang

dilaksanakan dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu mencegah

kematian atau kecacatan yang mungkin terjadi.Terhentinya pernapasan atau

sirkulasi merupakan keadaan sangat gawat yang penanganannya harus segera

didahulukan di atas segalanya (Purwadianto & Sampurna, 2000).

Kedaruratan medik dapat terjadi pada seseorang maupun kelompok

orang pada setiap saat dan dimana saja. Keadaan ini membutuhkan

pertolongan segera untuk menyelamatkan jiwa. Penderita gawat darurat ialah

penderita yang oleh karena suatu penyebab (penyakit, trauma, kecelakaan,

tindakan anestesi) yang bila tidak segera ditolong akan mengalami cacat,

kehilangan organ tubuh atau meninggal. Dalam menghadapi penderita gawat

darurat maka faktor waktu memegang peranan yang sangat penting (time

saving is life saving) atau tindakan pada menit – menit pertama dalam

menangani kegawatan medik tersebut dapat berarti besar dan sangat

menentukan hidup atau mati penderita (Sudjito, 2007).


27

Pasien kritis memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Survei

WHO pada tahun 2008, diperkirakan sebanyak 17,1 juta orang meninggal

(29,1% dari jumlah kematian total) akibat kondisi kritis penyakit jantung dan

pembuluh darah. Kejadian henti jantung mendadak merupakan penyebab

kematian tertinggi di Amerika dan Kanada diperkirakan sekitar 330.000 orang

meninggal diluar RS atau di di ruang Gawat Darurat. Di Indonesia sendiri,

berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 disebutkan prevalensi

nasional penyakit jantung yang mengalami tahap kritis sebesar 7,2%.

Pengenalan ciri-ciri dengan cepat dan penatalaksanaan yang dini serta sesuai

dapat membantu mencegah perburukan lebih lanjut dan memaksimalkan

peluang untuk sembuh. Pada pasien gawat darurat yang perlu diwaspadai

adalah terjadinya henti jantung dan henti napas. Sebagian besar pasien dapat

bertahan hidup setelah mendapatkan resusitasi jantung paru atau defibrilasi

dengan segera. Resusitasi pada pasien yang mengalami henti jantung dan henti

napas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang

kompeten (Subagjo, 2011)

Penelitian secara klinis dan epidemiologis membuktikan bahwa

keberhasilan pertolongan sangat tergantung pada proses pelayanan gawat

darurat/bantuan hidup dasar pada fase pra rumah sakit (sebelum rumah sakit)

dan fase rumah sakit. Rantai tersebut merupakan kesatuan yang erat dan utuh,

jika salah satu mata rantai hilang atau lemah maka kemungkinan keberhasilan

pertolongan menjadi berkurang. Jadi semua mata rantai harus kuat dan saling

terkait erat satu sama lain(Rahman, 2008).


27

Bantuan Hidup Dasar (BHD) efektif jika segera dilaksanakan saat

penderita mengalami gangguan yang membutuhkan tindakan segera.Semakin

cepat BHD di lakukan maka semakin besar tingkat keberhasilan pertolongan,

sebaliknya semakin lambat maka tingkat keberhasilan pertolongan semakin

kecil.Pada saat ini pengetahuan tentang BHD telah di ajarkan kepada semua

masyarakat seperti: nelayan, kepolisian, tentara, dan lain-lain. Faktor

pengetahuan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat sangat penting

dalam keberhasilan tindakan Bantuan Hidup Dasar (Rahman, 2010).

Menurut Hudak & Gallo (2000) resusitasi pada pasien yang

mengalami gawat nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh

perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat

pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan

keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu

menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis. Pendapat lain dari

Purwadianto & Sampurna (2000) menyatakan bahwa agar suatu pertolongan

dapat berhasil maksimal tentu saja memerlukan penolong yang cekatan dan

terampil, sehingga tindakan yang diberikan sesuai dan tepat. Selain

keterampilan juga diperlukan pengetahuan yang baik dari penolong dan sarana

yang memadai serta dibutuhkan pengorganisasian yang baik untuk

keberhasilan dalam penatalaksanaan kedaruratan medik.

Data RSUD Morowali menunjukkan bahwa jumlah pasien yang

mendapat penanganan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) pada tahun 2010

sebanyak 2272 orang sementara pasien yang meninggal di UGD sebanyak 36


27

orang (0,68%) dan pada tahun 2011 sebanyak 4854 pasien mendapat

penanganan di UGD, yang meninggal sebanyak 33 orang (0,67%) dan pada

ruang Intensive Care Unit (ICU) jumlah pasien yang dirawat pada tahun 2012

sebanyak 235 orang yang meninggal sebanyak 115 orang (48,9%) dan pada

tahun 2013 sebanyak 483 orang yang menjalani perawatan yang meninggal di

ruang ICU 95 orang (21,7%), ini membuktikan masih tingginya angka

kematian dan begitu pentingnya tindakan bantuan hidup dasar harus di miliki

oleh semua perawat.

Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah

sebagai berikut: bagaimana Tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan

Hidup Dasar (BHD) di ruang ICU RSUD Morowali

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang

Bantuan Hidup Dasar di ruangan UGD dan ICU RSUD Morowali

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup

Dasarberdasarkan tingkat pendidikan.

b. Diketahuinya tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup

Dasar berdasarkan lama bekerja.


27

c. Diketahuinya tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup

Dasar berdasarkan riwayat pelatihan kegawat daruratan yang pernah di

ikuti.

C. Manfaat Penelitian

1. Bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan kajian dan masukan untuk rumah sakit dalam upaya

peningkatanmutu pelayanan keperawatan dan pengembangan keterampilan

penatalaksanaan pasien gawat darurat.

2. Bagi Institusi

Dapat menjadi referensi dan bahan untuk penelitian selanjutnya

3. Bagi Peneliti

Merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam menerapkan konsep

penelitian, dan menambah wawasan peneliti mengenai Bantuan Hidup

Dasar.
27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan

1. Pengertian.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek

tertentu.Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera

penglihatan,pendengaran, penciuman,rasa dan raba.Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh dengan menggunakan mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang(overt behavior)(Notoatmojo, 2007).

2. Tingkatan pengetahuan

Soekidjo mengemukakan 6 tingkatan pengetahuan dalam domain

kognitif antara lain :

a. Tahu (know)

Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di

pelajari sebelumnya.Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan

yang telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.Oleh sebab

itu tahu itu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.Kata

kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari.
27

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui,dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.Orang yang telah

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulakan, meramalkan, dan sebagainya

terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menguasai materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real

(sebenarnya).Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau

penggunaan hukum-hukum,rumus,metode,prinsip dan sebagainya

dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen,tapi masih dalam

suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama

lain.Kemamapuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja,

seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,

mengelompokan,dan sebagainya.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk


27

keseluruhan yang baru.Dengan kata lain sintesis adalah suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi

yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian-

penilaian itu di dasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmojo, 2007).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek

penelitian atau responden.

B. Tinjauan Umum Tentang Penanggulangan Gawat Darurat

1. Pengertian

Gawat darurat (emergent triage) adalah klien berada dalam

keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau

anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan

secepatnya.

Gawat tidak darurat (urgent triage) adalah pasien berada dalam

keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya kanker

stadium lanjut

Darurat tidak gawat (nonurgent triage) adalah pasien akibat

musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mêngancam nyawa dan

anggota badannya, misanya luka sayat dangkal.


27

2. Tujuan penanggulangan gawat darurat

a. Mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat, hingga dapat

hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat. Untuk dapat mencegah

kematian petugas harus tahu penyebab kematian yaitu:

1) Mati dalam waktu singkat (4-6 menit)

a) Kegagalan sistem otak

b) Kegagalan sistem pernafasan

c) Kegagalan sistem kardiovaskuler

2) Mati dalam waktu lebih lama (perlahan-lahan)

a) Kegagalan sistem hati

b) Kegagalan sistem ginjal (perkemihan)

c) Kegagalan sistem pankreas (endokrin)

b. Merujuk pasien gawat darurat melalui sistem rujukan untuk

memperoleh penanganan yang lebih memadai

c. Penanggulangan korban bencana (Krisanty, 2009).

3. Prinsip-prinsip penanggulangan korban gawat darurat

Prinsip utama adalah memberikan pertolongan pertama pada korban.

Pertolongan pertama adalah pertolongan yang diberikan saat kejadian atau

bencana terjadi di tempat kejadian.

a. Tujuan pertolongan pertama

1) Menyelamatkan kehidupan

2) Mencegah kesakitan makin parah

3) Meningkatkan pemulihan
27

b. Tindakan prioritas penolong

1) Ambil alih situasi

2) Minta bantuan pada orang sekitar

3) Kaji bahaya lingkungan

4) Yakinkan area aman bagi penolong dan korban

5) Kaji korban secara cepat untuk masalah yang mengancam

kehidupan

6) Berikan pertolongan pertama

7) Kirim seseorang untuk memanggil polisi atau ambulans

c. Mengontrol area

1) Kecelakaan kendaraan bermotor, yang harus dilakukan adalah

pelarangan merokok, cegah kerumunan, minta pertolongan orang

lain

2) Kecelakaan listrik, yang harus dilakukan adalah putuskan

hubungan listrik dengan kayu atau lainnya, jaga jarak dengan

korban sampai korban berada diarea yang aman

3) Gas, asap dan gas beracun maka pindahkan pasien

4) Kebakaran, jauhkan pasien dari api.

d. Sikap penolong

1) Jangan panik

2) Bersikap tenang

3) Cekatan dalam melakukan tindakan


27

4) Jangan terburu-buru memindahkan korban dari tempatnya sebelum

dipastikan sarana angkutan yang memadai

5) Hal-hal penting yang harus diperhatikan terhadap korban atau

pasien:

a) Bila nafas berhenti maka segera kerjakan pernapasan buatan

b) Bila jantung berhenti berdenyut maka lakukan kompresi jantung

luar

c) Bila terjadi perdarahan maka lakukan usaha-usaha

menghentikan perdarahan terutama perdarahan dari pembuluh

darah besar

d) Bila terjadi syok maka perhatikan tanda-tandanya serta lakukan

penanggulangan

e) Cegah aspirasi terhadap muntahan dengan mengatur posisi

pasien miring pada salah satu sisi tubuh atau ditelungkupkan

f) Bila terjadi fraktur maka lakukan pembidaian(Krisanty, 2009).

4. Pengelompokan klien gawat darurat

a. Kategori I yaitu pasien dengan skala prioritas utama seperti pada kasus

tidak sadar, sumbatan jalan napas atau henti napas, henti jantung,

perdarahan hebat, syok, reaksi insulin, dan mata terkena bahan kimia.

b. Kategori II yaitu pasien dengan prioritas kedua seperti pada kasus luka

bakar, fraktur mayor, dan injuri tulang belakang


27

c. Kategori III yaitu pasien dengan prioritas ketiga seperti pada kasus

fraktur minor, perdarahan minor, keracunan obat-obatan, percobaan

bunuh diri dan gigitan binatang(Krisanty, 2009).

5. Triage

Triage artinya mengelompokkan atau memilih. Konsep triage unit

gawat darurat adalah berdasarkan pengelompokan atau pengklasifikasian

klien kedalam tingkatan prioritas tergantung pada keparahan penyakit atau

injuri(Krisanty, 2009).

Triage adalah suatu sistem seleksi korban yang menjamin supaya

tidak ada korban yang tidak mendapatkan perawatan medis. Untuk

bencana massal dikenal istilah triage officer (petugas triage) yaitu orang

yang melakukan seleksi triage, biasanya memiliki pengalaman keahlian

bedah sehingga mampu menentukan diagnosa dan penanggulangannya

dengan cepat. Adapaun tiage dalam bencana massal sebagai berikut:

a. Label hijau yaitu penanganan kepada penderita yang memiliki

kemungkinan hidup lebih besar. Penderita tidak mengalami cedera

yang serius sehingga dapat dibebaskan dari TKP agar tidak bertambah

korban yang lebih banyak. Penderita yang memiliki peluang hidup

lebih banyak harus diselamatkan terlebih dahulu.

b. Label kuning yaitu kondisi penderita tidak kritis dan memiliki prioritas

kedua yaitu kasus seperti luka bakar tanpa komplikasi, multiple

trauma, trauma spinal, abdominal injuri, dan trauma mata.


27

c. Label merah yaitu penderita mengalami kondisi kritis sehingga

memerlukan penanganan yang lebih kompleks dan membutuhkan

waktu yang cukup lama unuk usaha penyelamatan seperti masalah

pada airway, breathing dan circulation, syok, perdarahan, trauma

kepala, pneumonia.

d. Label hitam yaitu penderita yang sudah tidak dapat bertahan lagi

dengan keadaan yang fatal atau sudah meninggal(Krisanty, 2009).

C. Tinjauan Umum TentangBantuan Hidup Dasar

1. Pengertian

Bantuan hidup dasar (Basic life support) adalah usaha yang

dilakukan untuk mempertahankan kehidupan pada saat penderita

mengalami keadaan yang mengancam nyawa (Guyton,2008).

Prinsip BLS sendiri adalah DR-CAB, yaitudanger, respon,

circulation, airway,dan breathing.Danger dimaksudkan agar penolong

memastikan keamanan diri, lingkungan dan korban, sebelum melakukan

pertolongan. Kaji bahaya yang ada dan sumber daya yang anda miliki serta

jenis pertolongan yang anda perlukan. Respon diperlukan untuk

mengetahui tingkat kesadaran korban (Subagjo, 2011).

2. Indikasi Bantuan Hidup Dasar

a. Henti napas

1) Penyebab : Tenggelam, stroke, obstruksi jalan napas oleh benda

asing,menghirup asap,keracunan obat, tersengat listrik, tercekik,

trauma, MCI(miocard cardiac infark),dan lain-lain.


27

2) Tanda-tanda : Tidak ada aliran udara pernapasan dan pergerakan

dada pasien.

b. Henti jantung/cardiac arrest

Pada saat henti jantung, maka sirkulasi dengan cepat

menyebabkan otak dan organ vital lainnya kekurangan oksigen.

3. Tujuan bantuan hidup dasar

a. Menyelamatkan kehidupan.

b. Mencegah keadaan menjadi lebih buruk

c. Mempercepat kesembuhan(Subagjo, 2011)

4. Langkah-langkah bantuan hidup dasar

a. Danger(perhatikan bahaya dan proteksi diri)

Kaji bahaya yang ada dan sumber daya yang anda miliki serta

jenis pertolongan yang anda perlukan. Pendekatan terhadap bahaya

harus cepat, tetap tenang dan terkendali. Pastikan keadaan aman

kemudian lakukan pertolongan

Apabila anda menemukan penderita hal yang paling utama

sebelum melakukan bantuan adalah proteksi diri mengingat saat ini

bagitu banyak penyakit menular yang telah beredar di masyarakat.

Perlindungan/proteksi diri minimal menggunakan sarung tangan atau

sesuatu untuk menutupi tangan pada saat menyentuh korban dan akan

melaksanakan bantuan. Peralatan lengkap seperti sarung tangan,

kacamata, tutup kepala, celemek dan alas kaki dapat digunakan oleh

penolong.
27

Centerst for disease and prevention (CDC) mencatat 54 kasus

menular human insufisiensi virus(HIV) di tempat kerja pada petugas

kesehatan di Amerika Serikat sampai desember 1998.Seratus tiga

puluh empat kasustambahan suspek HIV sudah disampaikan (Oman,

2008).

b. Respon (periksa kesadaran korban)

Cara memeriksa kesadaran yakni dengan memanggil nama atau

dengan cara memberikan tepukan pada bahu korban. Pada bayi

lakukan jentikkan di telapak kaki dan jangan mengguncang-

guncangkannya (Wong, 2004).Sedangkan Haws (2007) juga

mengatakan pemeriksaan kesadaran pada bayi bisa dilakukan dengan

mengulus punggung.

Tingkat kesadaran biasanya dinilai dengan AVPU:

A :Alert (sadar penuh)

V :Verbal (menjawab rangsangan kata-kata)

P :Pain (bereaksi atas rangsangan nyeri)

U :Unresponsive (tidak berespon)


27

Gambar 2.1:Memeriksa kesadaran(Sumber: Subagjo, 2011)

c. Panggil bantuan/aktifkan 118

Bila anda berada di luar rumah sakit maka harus segera

mengaktifkan sistem gawat darurat/emergency medical system (EMS)

118

Gambar 2.2:Panggil bantuan (Sumber: Subagjo, 2011)


27

Cara mengaktifkan Emergency Medical System (EMS) :

1) Bila korban bereaksi atau dalam keadaan luka dan perlu

pertolongan medis,segera tinggalkan korban dan cari bantuan

medis lalu segera kembali untuk memastikan kondisi korban

2) Jika penolong seorang diri dan korban tidak sadarkan diri :

a) Aktifkan segera sistem gawat darurat

b) Ambil automated external defibrillator(AED) bila tersedia

c) Segera kembali ke korban untuk melakukan RJP dan

menggunakan AED bila di perlukan.

3) Jika jumlah penolong dua atau lebih,salah satu penolong

mengakltifkan EMS dan mengambil AED jika tersedia.sementara

itu, yang lainnya melakukan tindakan RJP.

4) Jika gawat darurat terjadi di dalam gedung/rumah sakit/tempat

pelayanan kesehatan yang sudah mempunyai sistem gawat darurat

sendiri,segera minta bantuan untuk melakukan pertolongan.

5) Jika korban asfiksia segera lakukan tindakan resusitasi jantung

paru (RJP) (Subagjo, 2011).

d. Memperbaiki posisi korban dan posisi penolong

1) Posisi korban

a) Supin, permukaan datar dan lurus

b) Memperbaiki posisi korban dengan cara log roll/in line bila

dicurigai cedera spinal


27

c) Jika pasien tidak bisa telentang, misalnya operasi tulang

belakang lakukan RJP dengan posisi tengkurap

2) Posisi penolong

Posisi penolong harus di atur senyaman mungkin dan memudahkan

untuk melakukan pertolongan yakni di samping atau di atas kepala

korban (Subagjo, 2011).

e. Circulation

1) Kaji Nadi

Bantuan sirkulasi segera dilakukan bila korban mengalami

henti jantung.Langkah ini dilakukan segera setelah bantuan

pernafasan awal diberikan.Untuk mengetahui ada tidaknya denyut

nadi, lakukan perabaan arteri carotis untuk orang dewasa dan anak

serta arteri brachialis atau femoralis untuk bayi, tindakan ini

dilakukan maksimal 10 detik.

2) Kompresi Dada

Indikasi pada korban yang mengalami henti

jantung.Lakukan dengan tehnik yang benar. Awali dengan mencari

titik kompres yakni pada tulang sternum di antara dua papila

mammae pada anak-anak dan laki-laki atau dua jari di atas os

xifoideus pada perempuan. Letakkan salah satu telapak tangan

yang lain diatas punggung tangan yang pertama, sehingga tangan

dalam keadaan pararel. Jari-jari tangan saling mengunci.Untuk

mendapatkan posisi yang efektif, beban tekanan dari bahu, posisi


27

lengan tegak lurus, posisi siku tidak boleh menekuk posisi lengan

tegak lurus dengan badan korban (Subagjo, 2011).

Tekan sternum 4-5 cm untuk korban dewasa, 2-3 cm pada bayi

(Drew, 2008), lepaskan tekanan hingga dada kembali ke posisi

normal.Perbandingan kompresi dan ventilasi mengacu pada AHA

Guidelines for CPR 2010, untuk korban dewasa 30 : 2 dengan 1 atau 2

orang penolong. Pada anak dan bayi 30 : 2 bila penolong 1 orang dan 15 :

2 untuk 2 orang penolong. Kecepatan kompresi yang dianjurkan adalah

100 kali per menit. Setelah RJP dilakukan selama 5 siklus atau 2 menit, 2

penolong harus berganti posisi, ventilator berpindah pada posisi

kompresor dan sebaliknya.

Haws (2007) mengatakan pada bayi dengan heart rate (HR)

kurang dari 60 kali permenit harus di lakukan kompresi dada.

Gambar 2.3 :Letakan satu tangan pada tulang sternum antara

papila mammae atau dua jari diatas os xifoideus(Sumber:

Subagjo, 2011)
27

Gambar 2.4: Lakukan penekanan dada sebanyak 30 : 2(Sumber:

Subagjo, 2011)

Indikasi dihentikannya RJP hingga kini masih menjadi

perdebatan, tidak ada batasan waktu yang tegas disebutkan oleh

para ahli namun beberapa hal yang menjadi pertimbangan antara

lain:

a) Korban telah menunjukan tanda-tanda kematian

b) Sudah ada respons dari korban (napas dan nadi mulai ada)

c) Ada penolong yang lebih berkompeten.

f. Airway control

Pada orang yang tidak sadar, tindakan pembukaan jalan napas

harus dilakukan.Satu hal yang penting untuk diingat adalah, bahwa dengan

melihat pergerakan pipi pasien tidaklah menjamin bahwa pasien tersebut

benar-benar bernafas (pertukaran udara), tetapi secara sederhana pasien itu

sedang berusaha untuk bernafas (Subagjo, 2011).


27

Pengkajian pada airway juga harus melihat tanda-tanda adanya

sumbatan benda asing dalam mulut yakni dengan menggunakan teknik

cross finger,jika terdapat benda asing dalam mulut maka harus di

keluarkan dengan usapan jari atau di kenal dengan teknik finger swab

(AHA,Basic live suport renewal course,2006)

Teknik yang digunakan dalam membuka jalan napas yakni

dengan chin lift-head tiltdan jika dicurigai terdapat trauma cervikal

dapat menggunakan teknik jaw thrust namun teknik tersebut hanya

bisa dilaksanakan oleh orang yang sudah profesional atau terlatih

(Tabes,2006).

Cara melakukan teknik chin lift-head tilt :

1) Teknik chin lift-head tilt

a) Pertama, posisikan pasien dalam keadaan terlentang, letakkan

satu tangan di dahi dan letakkan ujung jari tangan yang lain di

bawah daerah tulang pada bagian tengah rahang bawah pasien

(dagu).

b) Tengadahkan kepala dengan menekan perlahan dahi pasien.

c) Gunakan ujung jari anda untuk mengangkat dagu dan

menyokong rahang bagian bawah. Jangan menekanjaringan

lunak di bawah rahang karena dapat menimbulkan obstruksi

jalan napas.

d) Usahakan mulut untuk tidak menutup. Untuk mendapatkan

pembukaan mulut yang adekuat, anda dapat menggunakan ibu


27

jari untuk menahan dagu supaya bibir bawah pasien tertarik ke

belakang.

Gambar 2.5:Head tilt and chin lift(Sumber: Subagjo, 2011)

2) Teknik Jaw thrust

a) Pertahankan dengan hati-hati agar posisi kepala, leher dan

spinal pasien tetap satu garis.

b) Ambil posisi di atas kepala pasien, letakkan lengan sejajar

dengan permukaan pasien berbaring.

c) Perlahan letakkan tangan pada masing-masing sisi rahang

bawah pasien, pada sudut rahang di bawah telinga.

d) Stabilkan kepala pasien dengan lengan bawah Anda.

e) Dengan menggunakan jari telunjuk, dorong sudut rahang

bawah pasien ke arah atas dan depan.

f) Anda mungkin membutuhkan mendorong ke depan bibir

bagian bawah pasien dengan menggunakan ibu jari untuk

mempertahankan mulut tetap terbuka.


27

g) Jangan mendongakkan atau memutar kepala pasien.

Gambar 2.6: Jaw thrust(Sumber: Subagjo, 2011)

g. Breathing suport

Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernapas mutlak untuk

pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari

tubuh.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding

dada, dan diafragma.

Pemberian nafas buatan dilakukan setelah jalan nafas terlihat

aman. Tujuan primer pemberian bantuan nafas adalah untuk

mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan tujuan sekunder

untuk membuang CO2. Sesuai dengan revisi panduan yang

dikeluarkan oleh American Heart association mengenai bantuan hidup

dasar penolong tidak perlu melakukan observasi nafas spontan dengan

look, listen and feel karena langkah pelaksanaan yang tidak konsisten

dan menghabiskan terlalu banyak waktu. Hal yang perlu diperhatikan

dalam melakukan bantuan nafas antara lain :


27

1) Berikan nafas bantuan dalam waktu 1 detik

2) Berikan bantuan nafas sesuai volume tidal yang cukup untuk

mengangkat dinding dada

3) Berikan bnatuan nafas sesuai dengan kompresi dengan

perbandingan 2 kali bantuan nafas setelah 30 kali kompresi

4) Pasien dengan hambatan jalan nafas atau komplians paru yang

buruk memerlukan bantuan nafas dengan tekanan yang lebih tinggi

untuk sampai memperlihatkan dinding dada terangkat.

5) Pemberian bantuan nafas yang berlebihan tidak diperlukan dan

dapat menimbulkan distensi lambung beserta komplikasinya seperti

regurgitasi dan aspirasi.

6) Bantuan napas di lakukan dengan cara:

a) Mulut ke mulut

Penolong memberikan bantuan napas langsung ke mulut

korban dengan menutup hidung dan meniupkan udara langsung

ke mulut,namun hal ini sangat beresiko untuk di lakukan apalagi

pasien yang tidak di kenal mengingat bahaya penyakit menular.


27

Gambar 2.7:Menutup hidung korban sedang posisi kepala

tetapekstensi(Sumber: Subagjo, 2011)

Gambar2.8:Pemberian napas dari mulut ke mulut (Sumber:

Subagjo, 2011)

b) Mulut ke hidung

Paling baik di lakukan pada neonaty.


27

c) Ventilasi mulut ke mask

Gambar 2.9:Mouth-to-mask ventilation(Sumber: Subagjo,

2011)

d) Ventilasi Mulut ke bag-valve-mask

Gambar 2.10:The two-person technique for bag-mask

ventilation(Sumber: Subagjo, 2011)

h. Defibrillation

Pada defibrillationpengkajian dengan menggunakan alat

automated external defibrillator(AED) untuk mengetahui irama nadi

apakah ventrikel takikardi (FT) atau ventrikel fibrilasi (FV) serta


27

memberikan kejutan listrik sehingga gangguan irama tersebut dapat

kembali normal.Gangguan irama tersebut harus segera di berikan

tindakan karena dapat menimbulkan kematian.Satu energi dosis

dilakukan untuk defibrilasi adalah 200 joule pada bifasik dan 360 joule

pada monofasik.Idealnya dilakukan setiap 10 detik (Cayley,2006).

Pada saat di lakukannya defibrillating penolong tidak bisa

menyentuh tubuh korban. Pada anak usia kurang dari 1 tahun tidak

bias di lakukan defibrillation.

Gambar 2.11 :Defibrilation (Sumber: Subagjo, 2011)

D. Tinjauan Tentang Pendidikan, Lama Bekerja dan Pelatihan

1. Pendidikan

Pendidikan menurut ensklopedia (1982) secara umum dapat

diartikan sebagai perbuatan. Teori Gibson (1994) yang menyatakan

bahwa, tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada umumnya menyebabkan

seseorang lebih mampu menganalisa. Menurut Piaget ( Luhulima, 2001) bahwa

perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, artinya proses

yang didasarkan atas mekanisme biologi yaitu perkembangan sistem saraf.


27

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian

dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur

hidup (Notoatmodjo, 2007).

Pendidikan mempengaruhi proses belajar menurut I.B Mantra

(1994) makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut

untuk menerima informasi dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan

cenderung untuk mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun

media massa, makin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula

pengetahuan yang didapat.

2. Lama Bekerja

Semakin lama seorang berkarya dalam suatu organisasi maka

semakin tinggi pula produktivitasnya.Juga dijelaskan bahwa ada dua

perbedaan antara tenaga kerja yang masih baru dengan tenaga kerja yang

masa kerjanya lama atau berpengalaman dalam menghasilkan produk,

makin lama masa kerja seseorang maka makin berpengalaman dan makin

tinggi produktifitasnya.Perawat dengan masa kerja yang lama akan

memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan karena terpapar dengan

kasus-kasus gawat darurat dalam jangka waktu yang lama(Siagian ,1999).

3. Pelatihan

Pelatihan atau magang/training adalah proses melatih kegiatan atau

pekerjaan.Pelatihan merupakan suatu usaha yang terencana untuk

memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan

pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.


27

Pelatihan gawat darurat merupakan pelatihan yang menyangkut

pengetahuan dan keterampilan untuk penanganan pertama dalam

menghadapi kegawatdaruratan. Perawat yang mengikuti pelatihan

kegawatdaruratan dapat mengetahui dan melakukan tindakan

penanggulangan pasien gawat darurat seperti tindakanpijat jantung, napas

buatan dan transportasi pasien gawat darurat.

E. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara

konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan

dilakukan (Notoatmodjo, 2005)

Variabel Independen Variabel Dependen

Pendidikan
Pe

Gambaran pengetahuan
Lama Bekerja
Perawat tentang Bantuan
Hidup dasar

Pelatihan
27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Rancangan penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah

penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan

tujuan atau untuk menggambarkan/deskripsi tentang suatu keadaan secara

objektif (Notoatmodjo, 2005).

Penelitian ini untuk menggambarkan tingkat pengetahuan perawat

tentang Bantuan Hidup Dasar di Ruang UGD dan ICU Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) Morowali.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di RSUD Morowali Pada Bulan April 2014

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang

diteliti (Notoatmodjo,2005). Populasi dalam penelitian ini adalah semua

perawat yang bertugas di ruang UGD dan ICU RSUD Morowali yang

berjumlah 30 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dapat dipergunakan

sebagai subjek penelitian (Nursalam, 2008).


27

Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan cara

total sampling yaitu semua perawat yang bertugas di ruang UGD dan ICU

RSUD Morowali sebanyak 30 orang di jadikan sampel penelitian.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

a. Variabel independen adalah variabel bebas yang nilainya menentukan

variabel lain. Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati dan

diukur untuk diketahui hubungannya atau pengaruhnya terhadap

variabel lain. Variabel independen dalam penelitian ini adalah

pendidikan, dan lama bekerja dan riwayat pelatihan.

b. Variabel dependen atau variabel tergantung yang nilainya ditentukan

oleh variabel lain dengan kata lain variabel terikat adalah vaktor yang

diamati dan diukur untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan

atau pengaruh dari variabel bebas (Nursalam, 2008). Yang menjadi

variabel dependen adalah tingkat pengetahuan perawat tentang

Bantuan Hidup Dasar.

2. Definisi Operasional

a. Pengetahuan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh responden

tentang Bantuan Hidup Dasar.

Alat Ukur : Kuesioner

Cara Ukur : Pengisian kuesioner

Skala Ukur : Ordinal


27

Hasil Ukur : Baik bila responden menjawab benar 76-100%

Cukup bila responden menjawab benar 56-75%

Kurang bila responden menjawab benar ≤ 55%

( Arikunto, 2001)

b. Pendidikan

Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal/terakhir yang pernah

dilalui responden berdasarkan kepemilikan ijazah terakhir.

Alat Ukur : Kuesioner

Cara Ukur : Pengisian kuesioner

Skala Ukur : Ordinal

Hasil Ukur : SPK

DIII Keperawatan

S1 Keperawatan

c. Lama bekerja

Lama bekerja adalah lama responden menjadi perawat yang dihitung

sejak mulai melaksanakan tugas sebagai perawat

Alat Ukur : Kuesioner

Cara Ukur : Pengisian kuesioner

Skala Ukur : Ordinal

Hasil Ukur : < 5 Tahun

5 – 10 Tahun

>10 Tahun
27

d. Riwayat pelatihan

Pelatihan adalah riwayat pelatihan gawat darurat yang pernah diikuti

oleh responden satu atau beberapa pelatihan seperti Basic Life

Support, Basic Cardiac Life Support, Basic Trauma Life Support,

Penangulangan Penderita Gawat Darurat, Intesive Care Unit, dll.

Alat ukur : Kuesioner

Cara ukur : Pengisian kuesioner

Skala ukur : Nominal

Hasil Ukur : Sudah Pernah pelatihan

Belum pernah pelatihan

E. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer yaitu data yang

diperoleh langsung dari responden melaui pengisian kuesioner yang

dibagikan.Kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti terdiri atas 25

pernyataan.Pernyataan Positif berjumlah 18 item yaitu pernyataan nomor: 1,

2, 3, 7, 8, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 21, 22, 23, 24, 25 dan untuk

pernyataan negatif berjumlah 7 item yaitu pernyataan nomor: 9, 10, 19, 20

dan 25.

Untuk pernyataan positif apabila responden menjawab benar diberi

skor 1 dan apabila salah diberi skor 0 sedangkan untuk pernyataan negatif

apabila responden menjawab benar diberi skor 0 dan apabila salah diberi

skor 1.
27

Setelah mendapatkan izin dari Direktur RSUD Morowali untuk

melakukan penelitian, peneliti kemudian menjelaskan maksud penelitian

kepada penanggung jawab ruangan UGD dan ICU kemudian mendapatkan

jadwal dinas masing-masing perawat. Peneliti kemudian mendatangi perawat

diruangan sesuai jadwal masing-masing dan perawat yang belum sempat

ditemui dikunjungi kerumahnya untuk diberikan kuesioner. Sebelum

kuesioner dibagikan responden diberi penjelasan mengenai cara pengisian

kuesioner. Setelah selesai kuesioner kemudian dikumpulkan kembali dan

dilakukan dilakukan pengolahan data.

F. Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Prosedur pengolahan data yang dilakukan adalah:

a. Editing

Mengedit adalah memeriksa ulang daftar pertanyaan dalam lembar

kuesioner yang telah selesai diisi yaitu kelengkapan jawaban,

kesesuaian jawaban, relevansi jawaban dan keseragaman satuan

data.Tujuan dari editing ini adalah untuk mengurangi kesalahan atau

kekurangan yang ada dalam daftar pertanyaan.

b. Coding

Menglasifikasikan jawaban responden kedalam kategori-

kategori.Klasifikasi dilakukan dengan member tanda/kode berbentuk

angka pada masing-masing jawaban untuk meudahkan pengolahan

data.
27

c. Tabulating

Tabulasi adalah pekerjaan membuat tabel.Jawaban-jawaban yang

sudah diberi kategori jawaban kemudian dimasukkan kedalam tabel.

d. Cleaning

Membersihkan data dengan melihat variabel yang digunakan apakah

datanya sudah benar atau salah.

e. Describing

Yaitu menggambarkan atau menjelaskan data yang sudah

dikumpulkan (Nursalam, 2008) .

2. Analisa Data

Analisa univariat dilakukan terhadap setiap variabel yang diteliti.

Analisa ini untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari

variabel yang diteliti dengan rumus sebagai berikut:

F
P = X 100
N

Keterangan :

P = Persentase

F = Frekuensi/jumlah jawaban benar

N = Jumlah responden/Jumlah soal (Arikunto, 2001)

Untuk menginterpretasikan nilai persentase yang diperoleh

dimasukkan kedalam standar kriteria objektif menurut Arikunto (2001)

sebagai berikut:
27

Baik bila responden menjawab benar : 76-100%

Cukup bila responden menjawab benar : 56-75%

Kurang bila responden menjawab benar : ≤ 55 %


27

BAB 1V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASA

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit umum Daerah Morowali pada

tanggal 10 April s/d 17 April 2014 Ruang UGD merupakan ruang Gawat

Darurat dimana pasien gawat darurat pertama kali mendapatkan tindakan

sementara ruang ICU adalah ruang perawatan pasien yang dalam keadaan

terancam jiwanya sewaktu-waktu karena kegagalan atau disfungsi satu atau

multiple organ atau sistem dan masih ada kemungkinan dapat disembuhkan

kembali melalui perawatan, pemantauan dan pengobatan intensif.

Di Rumah Sakit Umum Bungku terdapat 7 ruang perawatan yaitu

perawatan VIP, perawatan isolasi, perawatan penyakit bedah, perawatan ICU,

perawatan Interna, perawatan bedah dan perawatan Anak. Instalasi penting

lainnya yaitu instalasi UGD dan OK.Selain ruang perawatan juga terdapat

pelayanan rawat jalan yaitu Poli Bedah, Poli Interna, Poli Gigi, KIA dan Poli

Umum.

B. Hasil Penelitian

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

1. Karakteristik responden .
27

Tabel 4.1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik responden di
RSUD Morowali
Tahun 2014

Karakteristik Frekuensi Persentase


Pendidikan
DIII Keperawatan 25 87,2
S1 Keperawatan 5 12,8
Jumlah 30 100
Lama Bekerja
< 5 Tahun 18 53,8
5-10 tahun 8 30,8
> 10 tahun 4 5,4
Jumlah 30 100
Riwayat Pelatihan
Pernah pelatihan 22 56,4
Tidak pernah pelatihan 8 43,6
Jumlah 30 100
Pengetahuan
Baik 18 69,2
Cukup 12 35,6

Jumlah 30 100
Sumber :Data Primer, 2014

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa distribusi responden

berdasarkan pendidikan yang terbanyak adalah DIII Keperawatan

sebanyak 25 responden (87,2%), sementara S1 Keperawatan sebanyak 5

responden (12,8%). Distribusi responden berdasarkan lama bekerja yang

terbanyak adalah < 5 tahun yaitu sebanyak 18 responden (53,8%), 5-10

tahun sebanyak 8 responden (30,8%), dan > 10 tahun sebanyak 4

responden (15,4%). Berdasarkan riwayat pelatihan kegawat daruratan yang

pernah diikuti baik satu ataupun beberapa pelatihan yaitu yang pernah

pelatihan sebanyak 22 responden (56,4%) dan yang tidak pernah pelatihan


27

sebanyak 8 responden (43,6%) Berdasarkan tingkat pengetahuan

responden yang terbanyak adalah pengetahuan baik yaitu sebanyak 18

responden (69,2%), pengetahuan cukup sebanyak 12 responden (35,6%),

Distribusi tingkat pengetahuan responden berdasarkan pendidikan, lama

bekerja dan riwayat pelatihan

Tabel 4.2
Distribusi tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup Dasar
berdasarkan pendidikan, lama bekerja dan riwayat pelatihan
di ruang UGD dan ICU RSUD Morowali
Tahun 2014

Pengetahuan
Karakteristik N %
Baik Cukup Kurang
F % F % F %
Pendidikan
DIII Kep. 14 67,6 11 26,5 - - 25 100
S1 Kep. 4 80 1 20 - - 5 100
N 18 67,4 10 32,6 - - 30 100
Lama Bekerja
< 5 Tahun 10 61,9 8 28,6 - - 18 100
5-10 Tahun 5 75 3 25 - - 8 100
>10 Tahun 3 83,3 1 16,7 - - 4 100
N 18 67,4 12 32,6 - - 30 100
Riwayat Pelatihan
Pernah 15 76,5 7 23,5 - - 22 100
Tidak pernah 3 63,6 5 26,4 - - 8 100
N 18 67,4 10 32,6 - - 30 100
Sumber: Data Primer, 2014

Berdasarkan tabel 4.2, menunjukkan bahwa responden dengan

tingkat pendidikan DIII keperawatan yang memiliki pengetahuan baik

sebanyak 14 responden (67,6%), pengetahuan cukup sebanyak 11

responden (26,5%) dan Pendidikan S1 Keperawatan yang memiliki


27

pengetahuan baik sebanyak 4 responden (80%) dan pengetahuan cukup

sebanyak 1 responden (20%).

Berdasarkan lama bekerja seperti pada tabel 4.2 yaitu lama bekerja

< 5 tahun yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 10 responden

(61,9%), pengetahuan cukup sebanyak 8 responden (28,6%)

pengetahuan,5%). Lama bekerja 5-10 tahun yang memiliki pengetahuan

baik sebanyak 5 responden (75%), pengetahuan cukup sebanyak 3

responden (25%) dan lama bekerja > 10 tahun yang memiliki pengetahuan

baik sebanyak 3 responden (83,3%) dan pengetahuan cukup sebanyak 1

responden (16,7%).

Berdasarkan riwayat pelatihan menunjukkan bahwa yang pernah

pelatihan memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 15 responden

(76,5%), cukup sebanyak 7 responden (23,5%) dan yang tidak pernah

pelatihan pengetahuan baik sebanyak 3 responden (63,6%), cukup

sebanyak 3 responden (27,3%) dan kurang sebanyak 2 responden (9,1%).

C. Pembahasan

1. Tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup Dasar berdasarkan

pendidikan.

Berdasarkan hasil penelitian seperti yang terlihat pada tabel 4.2

distribusi tingkat pengetahuan perawat berdasarkan pendidikan yang

memiliki pengetahuan baik terbanyak adalah S1 Keperawatan yaitu

sebanyak 4 responden (80%).


27

Peneliti berpendapat bahwa tingkat pendidikan memegang peranan

penting bagi seseorang dalam memahami informasi yang diterima begitu

juga dengan informasi tentang kesehatan. Seperti halnya pendidikan S1

Keperawatan dimana setingkat lebih tinggi dari pendidikan DIII akan

memiliki pengetahuan yang lebih baik. Tingkat pendidikan juga

mempengaruhi cara berpikir seseorang. Semakin tinggi pendidikan

seseorang, maka akan semakin baik pula dalam berpikir dan menganalisa

sesuatu.

Hal ini sesuai dengan pendapat Kuncoroningrat (1997) dalam

Nursalam (2001) yang menyatakan bahwa makin tinggi pendidikan

seseorang, maka makin mudah pula menerima informasi sehingga makin

banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pengetahuan yang

kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-

nilai baru yang diperkenalkan begitu juga dengan pendapat Notoatmodjo

(2005) yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang

maka semakin baik pula pengetahuannya.

Hal ini juga sejalan dengan pendapat Notoadmojo (2005) yang

mengatakan bahwa semakin banyak informasi yang diterima maka akan

semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.

2. Tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup Dasar berdasarkan

lama bekerja

Berdasarkan hasil penelitian seperti yang terlihat pada tabel 4.2

distribusi tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup Dasar


27

berdasarkan lama bekerja yang memiliki pengetahuan baik terbanyak

adalah masa kerja diatas 10 tahun yaitu sebanyak 3 responden (83,3%).

Hal ini menunjukkan bahwa lama bekerja berpengaruh terhadap tingkat

pengetahuan seseorang pada bidang yang ditekuni.

Menurut pendapat peneliti seorang perawat dengan masa kerja

yang lama pada ruangan emergency seperti ICU dan UGD akan meiliki

pengetahuan dan keterampilan yang baik karena setiap saat menghadapi

kasus-kasus gawat darurat yang kemungkinan memerlukan Bantuan

Hidup Dasar. Seseorang yang berkerja atau menekuni suatu bidang

tertentu dalam waktu lama maka seseorang akan lebih terampil dan lebih

memahami pekerjaan tersebut.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Arikusdi, (2004) yang

mengatakan orang dengan masa kerja yang lama tidak berarti yang

bersangkutan memiliki tingkat kemampuan yang rendah, semakin lama

seseorang bekerja akan semakin terampil dan berpengalaman dalam

menghadapi masalah pekerjaannya. Pengalaman bekerja pada pekerjaan

sejenis, perlu mendapatkan pertimbangan dalam penempatan tenaga

kerja.

Kenyataan menunjukkan makin lama tenaga kerja bekerja, makin

banyak pengalaman yang dimiliki tenaga kerja yang bersangkutan.

Sebaliknya makin singkat masa kerja, makin sedikit pengalaman yang

diperoleh. Pengalaman bekerja banyak memberikan keahlian dan

keterampilan bekerja, sebaliknya terbatasnya pengalaman bekerja


27

mengakibatkan tingkat keahlian dan keterampilan yang dimiliki makin

rendah, pengalaman bekerja yang dimiliki makin rendah. Pepatah klasik

mengatakan pengalaman adalah guru yang paling baik (experience is the

best of teacher). Pengalaman bekerja merupakan modal utama seseorang

untuk terjun dalam bidang tertentu (Siswanto, 2005).

3. Tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup Dasar berdasarkan

riwayat pelatihan

Berdasarkan hasil penelitian seperti yang terlihat pada tabel 4.2

menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik

terbanyak terdapat pada responden yang pernah mengikuti pelatihan

kegawat daruratan seperti PPGD, ICU dan lain - lain yaitu sebanyak 18

responden (76,5%). Hal ini menunjukkan bahwa perawat yang pernah

mengikuti pelatihan memiliki pengetahuan yang baik dibandingkan

dengan yang tidak pernah pelatihan.

Pelatihan merupakan suatu usaha yang terencana untuk

memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan

pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai

Peneliti berpendapat bahwa pelatihan sangat penting dalam rangka

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat tentang Bantuan

Hidup Dasar, oleh sebab itu perawat yang akan memberikan tindakan

kegawat daruratan haruslah benar-benar menguasai pengetahuan dan

keterampilan tersebut. Sebagai upaya untuk meningkatkan hal itu maka

perlu diadakannya suatu pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan.


27

Pengetahuan sangatlah penting untuk dikuasai karena tidak

mungkin seseorang dapat memberikan tindakan yang cepat, tepat dan

akurat kalau dia tidak menguasai ilmunya, hal itu seiring dengan

pendapat seorang ahli yang mengemukakan bahwa pengetahuan sangat

mempengaruhi perilaku seseorang (Notoatmojo,2007). Apalagi

pengetahuan tentang kegawat daruratan dimana keterlambatan dalam

semenit saja sangat mempengaruhi prognosis seseorang karena kegagalan

sistem otak dan jantung selama 4-6 menit dapat menyebabkan kematian

klinis sementara kematian biologis dapat terjadi setelahnya


27

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup

Dasar berdasarkan pendidikan, yang mempunyai pengetahuan baik

terbanyak adalah S1 Keperawatan yaitu sebanyak 4 responden (80%).

2. Semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup

Dasar berdasarkan lama bekerja, yang mempunyai pengetahuan baik

terbanyak adalah masa kerja > 10 tahun yaitu sebanyak 3 responden

(83,3%).

3. Semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat tentang Bantuan Hidup

Dasar berdasarkan riwayat pelatihan, yang mempunyai pengetahuan baik

terbanyak yang pernah mengikuti pelatihan yaitu sebanyak 15 responden

(76,5%).

B. Saran

1. Bagi Rumah Sakit

Bagi Rumah Sakit agar tetap mempertahankan dan meningkatkan

pengetahuan serta keterampilan perawat tentang Bantuan Hidup Dasar

melalui pendidikan dan pelatihan kegawat daruratan.


27

2. Bagi Institusi Pendidikan

Peneliti mengharapkan kiranya pihak institut dapat melengkapi atau

memperbanyak sumber pustaka lainnya yang membahas tentang Bantuan

Hidup Dasar

3. Bagi Peneliti lain

Untuk peneliti berikutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian

dengan mengembangkan variabel-variabel yang lebih luas atau metode-

metode yang lain.