Vous êtes sur la page 1sur 17

Makalah

TEHNIK KULTUR JARINGAN TUMBUHAN

Oleh:

Nama : Lila Muliani


Npm : 85FA17010

Dosen : Nur Indah Umadji S.Pd., M.Si

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
BINA MANDIRI GORONTALO
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas izin dan
kehendaknya jualah makalah sederhana ini penulis dapat menyelesaikan tepat
pada waktunya .

Penulis dalam pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas


mata kuliah Kultur Sel dan Jaringan Tumbuhan. Adapun pembahasan dalam
makalah sederhana ini mengenai TEHNIK KULTUR JARINGAN TUMBUHAN’

Dalam penulisan makalah ini penulis menemukan berbagai hambatan yang


di karenakan terbatasnya ilmu pengetahuan penulis mengenai hal yang berkenaan
dengan penulisan makalah ini . Harapan penulis makalah ini dapat berguna bagi
orang lain yang membacanya dan juga bagi penulis.

Gorontalo, 2019

Lila Muliani
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
BAB l PENDAHULUAN ...............................................................................
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................
1.3 Tujuan .......................................................................................................
BAB ll PEMBAHASAN .................................................................................
2.1 Sejarah Kultur Jaringan ..............................................................................
2.2 Pengertian Kultur Jaringan .........................................................................
2.3 Tehnik Kultur Jaringan ..............................................................................
2.4 Tahapan Pembuatan Kultur Jaringan .........................................................
2.5 Manfaat Kultur Jaringan ............................................................................
2.6 Masalah Dalam Kultur Jaringan.................................................................
BAB lll PENUTUP. ........................................................................................
3.1 Kesimpulan ................................................................................................
3.2 Saran ...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan bioteknologi salah satunya adalah kultur jaringan, yang
hingga sekarang berkembang begitu cepat dan signifikan. Salah satunya adalah
teknik pemakaian kultur jaringan yang dengan hanya menggunakan bagian sel
tumbuhan, maka akan didapatkan tanaman yang sempurna yang dapat melakukan
reproduksi. Kultur Jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian
dari tumbuhan seperti protoplasma sel, jaringan atau organ yang serba steril,
ditumbuhkan pada media buatan yang steril dalam botol kultur yang steril dan
dalam kondisi yang aseptic, sehingga bagian-bagian tersebut dapat
memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap. Beberapa
teknik dalam kultur jaringan menuntut syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi
dalam pelaksanaanya, dan syarat pokok kultur jaringan adalah laboratorium
dengan segala fasilitasnya berupa alat-alat kerja, sarana pendukung terciptanya
kondisi aseptic terkendali dan fasilitas dasar seperti air, listrik maupun bahan
bakar.
1.2 Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan teknologi kultur jaringan.
2. Bagaimana teknik kultur jaringan?
3. Apa saja manfaat dan kekurangan kultur jaringan ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan teknologi kultur jaringan.
2. Mengetahui cara pelaksanaan atau proses kultur jaringan.
3. Menyebutkan dan menjelaskan manfaat dan kekurangan kultur jaringan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan Kultur Jaringan
Sejarah perkembangan teknik kultur jaringan dimulai pada tahun 1838
ketika Schwann dan Schleiden mengemukakan teori totipotensi yang menyatakan
bahwa sel-sel bersifat otonom, dan pada prinsipnya mampu beregenerasi menjadi
tanaman lengkap. Teori yang dikemukakan ini merupakan dasar dari spekulasi
Haberlandt pada awal abad ke-20 yang menyatakan bahwa jaringan tanaman
dapat diisolasi dan dikultur dan berkembang menjadi tanaman normal dengan
melakukan manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan nutrisinya. Walaupun
usaha Haberlandt menerapakan teknik kultur jaringan tanaman pada tahun 1902
mengalami kegagalan, namun antara tahun 1907-1909 Harrison, Burrows, dan
Carrel berhasil mengkulturkan jaringan hewan dan manusia secara in vitro.
Keberhasilan aplikasi teknik kultur jaringan sebagai sarana perbanyakan
tanaman secara vegetatif pertama kali dilaporkan oleh White pada tahun 1934,
yakni melalui kultur akar tomat. Selanjutnya pada tahun 1939, Gautheret,
Nobecourt, dan white berhasil menumbuhkan kalus tembakau dan wortel secara in
vitro. Setelah Perang Dunia II, perkembangan teknik kultur jaringan sangat cepat,
dan menghasilkan berbagai penelitian yang memiliki arti penting bagi dunia
pertanian, kehutanan, dan hortikultura yang telah dipublikasikan.
Pada awalnya, perkembangan teknik kultur jaringan tanaman berada di
belakang teknik kultur jaringan manusia. Hal itu disebabkan lambatnya penemuan
hormon tanaman (zat pengatur tumbuh). Ditemukakannya auksin IAA pada tahun
1934 oleh Kögl dan Haagen-Smith telah membuka peluang yang besar bagi
kemajuan kultur jaringan tanaman. Kemajuan ini semakain pesat setelah
ditemukannya kinetin (suatu sitokinin) pada tahun 1955 oleh Miller dan
koleganya. Pada tahun1957, Skoog dan Miller mempublikasikan suatu tulisan
”kunci” yang menyatakan bahwa interaksi kuantitatif antara auksin dan sitokinin
berpengaruh menentukan tipe pertumbuhan dan peristiwa morfogenetik di dalam
tanaman. Penelitian kedua ilmuwan tersebut pada tanaman tembakau
mengungkapkan bahwa rasio yang tinggi antara auksin terhadap sitokinin akan
menginduksi morfogenesis akar, sedangkan rasio yang rendah akan menginduksi
morfogenesis pucuk. Namun pola yang demikian ternyata tidak berlaku secara
universal untuk semua spesis tanaman.
Ditemukannya prosedur perbanyakan secara in vitro pada tanaman
anggrek Cymbidium 1960 oleh Morel, serta diformulasikannya komposisi medium
dengan konsentrasi garam mineral yang tinggi oleh Murashige dan Skoog pada
tahun 1962, semakin merangsang perkembangan aplikasi teknik kultur jaringan
pada berbagai spesies tanaman. Perkembangan yang pesat pertama kali dimulai di
Perancis dan Amerika, kemudian teknik ini pun di kembangkan di banyak negara,
termasuk Indonesia, dengan prioritas aplikasi pada sejumlah tanaman yang
memiliki arti penting bagi masing-masing negara.
2.2 Pengertian Kultur Jaringan
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari
tanaman seperti protoplasma, sel, kelompok sel, jaringan dan organ, serta
menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat
memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali. Pada
mulanya, orientasi teknik kultur jaringan hanya pada pembuktian teori totipotensi
sel. Kemudian teknik kultur jaringan berkembang menjadi sarana penelitian
dibidang fisiologi tanaman dan aspek-aspek biokimia tanaman. Dewasa ini,
setelah mengalami banyak perkembangan dan penyempurnaan, teknik kultur
jaringan telah dipergunakan dalam industri tanaman.
Perbanyakan mikro merupakan contoh aspek yang menarik dari penerapan
kultur jaringan, terutama untuk beberapa jenis tanaman yang biasa diperbanyak
secara vegetatif. Perbanyakan mikro, secara umum dapat diartikan sebagai usaha
menumbuhkan bagian tanaman dalam media aseptik, dan memperbanyaknya
sehingga menghasilkan tanaman sempurna. Tanaman kecil ini kemudian
dipindahkan ke media non aseptik. Tujuan pokok penerapan perbanyakan mikro,
adalah produksi tanaman dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat, terutama
untuk varietas-varietas unggul yang baru dihasilkan.
Meristem dan ujung akar tanaman dapat dikultur secara aksenik pada
media kultur jaringan khusus untuk menghasilkan satu massa sel yang tidak
terdiferensiasi yang dikenal sebagai ‘kalus’ dan dari sepotong kecil bahan kalus
ini dapat dihasilkan banyak kalus. Sel-sel individual dari kalus yang dimaserasi
seringkali dapat diregenerasi menjadi kalus-kalus baru dengan cara
menumbuhkannya pada media khusus. Dari kultur kalus-kalus ini, dapat
ditumbuhkan tanaman baru dengan mula-mula mentransfer anakan tumbuhan
kedalam pot-pot kecil dan kemudian ke tanah setelah tumbuhan itu teradaptasi
denagn lingkunagannya. Teknik ini, yang sudah dikenal sejak tahun 1930 telah
mencapai tahap pemakaian komersial dengan menghasilkan klon-klon tanaman
yang seragam dalam ciri tertentu seperti bebas dari penyakit yang ditularkan oleh
biji, bebas virus, bebas kerusakan karena pembekuan, tahan garam dan memiliki
ciri-ciri lain lagi yang tak mungkin diperoleh melaluimetode penangkaran
tanaman. Terdapat macam-macam tipe kultur jaringan yang sering dipakai –
kultur kalus, kultur suspensi sel, kultur organ, kultur meristem ujung dan kultur
protoplas. Dalam hal kultur protoplas, dinding sel dihilangkan dengan lisozim
atau enzim pelarut dinding sel yang tepat, dan dikulturkan dalam medium yang
cocok, suatu teknik yang memudahkan manipulasi satuan-satuan sel tanpa
gangguan dinding sel.
Beberapa contoh penggunaan kultur jaringan dalam pertanian adalah
sebagai berikut: Ketela pohon (Manihot utilisima) umumnya dikembangbiakkan
dengan menanam sepotong batangnya yang tua (stek) ke dalam tanah. Stek ini
diikat menjadi satu dan diangkut dari tempat yang satu ke tempat lain atau dari
negara yang satu ke negara lain sehingga menimbulkan masalah karantina karena
kuman bibit penyakit mungkin ikut dipindahkan melalui stek ketela pohon. Pusat
PertanianTanaman Tropis Internasional (CIAT) dan Institut Pertanian Tropis
Internasional (IITA) menangkar varietas ketela pohon yang baru yang memiliki
resistansi terhadap penyakit dan hama dan mengembangkan suatu galur bebas
penyakit melalui kultur meristem untuk dikirimkan dalam kondisi aseptik ke
negara-negara Afrika. CIAT juga telah memiliki plasma nutfah ketela pohon in
vitro dengan tambahan 700 kultur meristem dalam bank. Demikian pula tanaman
haploid telah dikembangkan dari kepala sari (kultur kepala sari) dan tanaman
homozigot telah dihasilkan dalam satu generasi, suatu proses yang dengan metode
penangkaran tanaman secara konvensional membutuhkan lima atau enam
generasi.
2.3 Teknik Kultur Jaringan
Teknik kultur jaringan dapat diterapkan dalam pemuliaan tanaman untuk
mempercepat pencapaian dan membantu jika cara-cara konvensional menemui
rintangan alamiah. Melalui teknik kultur jaringan dapat dilakukan manipulasi
sebagai berikut :
1. Manipulasi jumlah kromosom melalui bahan kimia atau meregenerasi
jaringan tertentu dalam tanaman seperti : endosperma yang mempunyai
kromosom 3n.
2. Tanaman haploid dan double haploid yang homogeneous melalui kultur
anther atau mikrospora.
3. Polinasi in vitro dan pertumbuhan embrio yang secara normal abortif.
4. Hibridasi somatic melalui teknik fusi protoplasma baik intraspesifik maupun
interspesifik
5. Variasi somaklonal
6. Transfer DNA atau organel untuk memperoleh sifat tertentu
Sejak ada laporan bahwa larva atau ulat bahkan inseknya dapat hidup
kembali setelah pembekuan pada suhu yang rendah sekali, penelitian kearah
penyimpanan sel dan jaringan,semakin ditingkatkan. Sel, jaringan dan organ,
mempunyai kemampuan regenerasi menjadi tanaman yang lengkap. Dengan
demikian, setriap sel merupakan satu calon tanaman pada lingkungan yang sesuai.
Kelebihan ini belum ditunjukkan dalam kultur sel hewan. Kenyataan ini
menimbulkan ide untuk menyimpan sel-sel yang kompeten tersebut dalam usaha
koleksi dan konservasi plasma nutfa penting untuk penelitian genetik.
Penyimpanan untuk jangka panjang, dilakukan dalam nitroden cair dengan suhu -
195̊̊ C. Ada juga penyimpanan sementara, biasanya suhu berkisar antara 0̊̊C
sampai -9C.
Selain merupakan sumber sandang pangan, tanaman juga merupakan
sumber bahan kimia yang penting untuk manusia. Berbagai obat-obatan, untuk
menjaga kesehatan, tonik, bumbu, zat pewarna, wangi-wangian, dan pestisida,
diperoleh dari tanaman. Pada masa lalu, bahan-bahan kimia tersebut diperoleh
dari tanaman lengkap. Setelah penelitian kultur jaringan berkembang dengan
pesat, ditemukan bahwa sel-sel dalam kultur, juga menghasilkan persenyawaan-
persenyawaan yang dibutuhkan manusia dengan tingkat produksi per unit berat
kering yang setara atau lebih tinggi dari tanaman asalnya. Oleh karena itu,
bertambahlah aplikasi metode kultur jaringan kearah bidang agro-industri.
Beberapa persenyawaan seperti Shikonin dan Saponin gingseng, sudah mulai
diproduksi dalam skala industri di Jepang. Sedangkan beberapa persenyawaan lain
sebagai bahan pestisida seperti thiophene, sedang diteliti di Eropa. Hal ini
mengurangi ketergantungan industri pada tanaman dilapangan yang pertumbuhan
dan perkembangannya ditentukan oleh faktor lingkungan seperti tanah, nutrisi,
iklim serta pengendalian hama dan penyakit.
Teknik kultur jaringan menuntut syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi
dalam memenpelaksanaannya. Syarat pokok pelaksanaan kultur jaringan adalah
laboratorium dengan segala fasilitasnya. Laboratorium harus menyediakan alat-
alat kerja, sarana pendukung terciptanya kondisi aseptik terkendali, dan fasilitas
dasar seperti air dan bahan bakar.
Selain fasilitas fisik, pelaksanaan kultur jaringan juga memerlukan
perangkat lunak yang memenuhi syarat. Dalam melakukan pelaksanaan kultur
jaringan, pelaksanaan harus mempunyai latar belakang ilmu-ilmu dasar tersebut.
Pelaksana akan banyak berhubungan dengan berbagai macam bahan kimia, proses
fisiologi tanaman (biokimia dan fisika), dan berbagai macam pekerjaan analitik.
Kadang-kadang latar belakang pengetahuan tentang mikrobiologi, sitologi, dan
histologi amat diperlukan pelaksana sendiri juga dituntut dalam hal keterampilan
kerja, ketekunan, dan kesabaran tinggi, serta harus bekerja intensif. Pekerjaan
meliputi: persiapan media, isolasi bahan tanaman (eksplan), sterilisasi eksplan,
inokulasi eksplan, mengultur, aklimatisasi, dan usaha pemindahan tanaman hasil
kultur jaringan ke lapang. Pelaksana harus bekerja dengan teliti dan serius, sebab
setiap bahan pekerjaan tersebut memerlukan penanganan tersendiri dengan dasar
pengetahuan tersendiri.
Kultur jaringan sudah diakui sebagai metode baru dalam perbanyakan
tanaman. Tanaman yang pertama berhasil diperbanyak besar-besaran melalui
kultur jaringan adalah: anggrek, menyusul berbagai tanaman hias dan tanaman
hortikultura lainnya. Yang terakhir adalah perbanyakan tanaman kehutanan. Jenis
tanaman yang secara ekonomis menguntungkan untuk diperbanyak secara kultur
jaringan, sudah banyak. Namun harus diakui bahwa ada beberapa tanaman yang
tidak menguntungkan bila dikembangkan dengan kultur jaringan, misalnya:
kecepatan multiplikasinya rendah, terlalu banyak langkah untuk mencapai
tanaman semua atau terlalu tinggi tingkat penyimpangan genetik. Pada prinsipnya,
perbanyakan melalui kultur jaringan sangat perlu dalam tanaman-tanaman yang:
1. Persentase perkecambahan biji rendah.
2. Tanaman hibrida yang berasal dari tetua yang tidak menunjukkan male
sterilty.
3. Hibrida-hibrida yang unik.
4. Perbanyakan pohon-pohon elit dan / atau pohon untuk batang bawah.
5. Tanaman selalu diperbanyak secara vegetatif seperti: kentang, pisang,
stowberry dan sebagainya.
Kultur jaringan sangat membantu dalam usaha eliminasi patogen. Dengan metode
ini kita dapat memilih bagian-bagian atau sel-sel yang tidak mengandung patogen,
terutama virus, dan menumbuhkan sel-sel tersebut serta meregenerasikannya
kembali menjadi tanaman lengkap yang sehat. Secara konvensional tidak ada cara
yang efektif untuk menghilangkan virus dari bahan tanaman. Kultur meristem
yang disertai perlakuan suhu 38-400C selama beberapa waktu, dapat
menghilangkan virus dari bahan tanaman. Bahan yang bebas patogen ini juga
memudahkan pertukaran plasma nutfah internasional.
2.4 Tahapan Pembuatan Kultur Jaringan
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur
jaringan adalah : Pembuatan media, Intisiasi, Sterilisasi, Multipikasi,
Pengakaran,dan Aklimatisasi
1. Media
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang
akan diperbanyak. Media yang di gunakan biasanya terdiri dari garam mineral,
vitamin, dan hormon. Selain itu di perlukan juga bahan tambahan seperti agar,
gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga
bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur
jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi
atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara
memanaskannya dengan autoklaf. Ada dua penggolongan media tumbuh : media
padat dan media cair. Media padat umumnya berupa padatan gel, seperti agar,
dimana nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan
di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak,
tergantung kebutuhan.
2. Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan
dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur
jaringan adalah tunas.Ada beberapa tipe jaringan yang di gunakan sebagai eksplan
dalam pengerjaan kultur jaringan. Pertama adalah jaringan muda yang belum
mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga
memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini bisa
ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun
kambium batang. Tipe jaringan kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan
penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan
fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah
berfotosistesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat
cadangan makanan.
3. Sterilisasi
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus
dilakukan di tempat yang steril, yaitu dilaminar flow dan menggunakan alat-alat
yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan
etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi
yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
4. Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan
menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk
menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan
eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan
ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.
5. Pengakaran
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukan adanya
pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan
mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat
pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi
oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukan gejala
seperti berwarna putih atau biru (disebabkan oleh jamur) atau busuk (disebabkan
bakteri).
6.Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan
aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu
dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari
udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat
rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu
beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan
dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan
bibit generatif.
2.5 Manfaat Kultur Jaringan
Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman
baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai
sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan induknya. Dari teknik kultur
jaringan tanaman ini diharapkan juga memperoleh tanaman baru yang bersifat
unggul. Secara lebih rinci dan jelas berikut ini akan dibahas secara khusus
kegunaan dari kultur jaringan terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Manfaat atau
keuntungan yang dapat diperoleh jika melakukan teknik kultur jaringan adalah
sebagai berikut:
1. Bibit (hasil) yang didapat berjumlah banyak dan dalam waktu yang singkat
2. Sifat identik dengan induk
3. Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
4. Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu
tanaman dewasa.
5. Perbanyakan cepat dari klon. Kecepatan multiplikasi sebanyak 5 akan
memberikan 2 juta plantlet dalam 9 generasi yang memerlukan waktu 9 –
12 bulan.
6. Keseragaman genetik. Karena kultur jaringan merupakan perbanyakan
vegetatif, rekombinasi karakter genetik acak yang umum terjadi pada
perbanyakan seksual melalui biji, dapat dihindari. Karenanya, anakan yang
dihasilkan bersifat identik. Akan tetapi, mutasi dapat terjadi pada kultur
jaringan pada saat sel bermultiplikasi, terutama pada kondisi hormon dan
hara yang tinggi. Mutasi genetik pada masa multiplikasi vegetatif ini
disebut “variasi somaklonal”.
7. Kondisi aseptik. Proses kultur jaringan memerlukan kondisi aseptik,
sehingga pemeliharaan kultur tanaman dalam kondisi aseptik memberi
bahan tanaman yang bebas patogen.
8. Seleksi tanaman, adalah memungkinkan untuk memiliki tanaman dalam
jumlah besar pada wadah kultur yang relatif kecil. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, variasi genetik mungkin terjadi. Juga, adalah memungkinkan
untuk memberi perlakuan kultur untuk meningkatkan kecepatan mutasi.
Perlakuan dengan bahan kimia (bahan mutasi, hormon) atau fisik (radiasi)
dapat digunakan.
9. Stok mikro, memelihara stok tanaman dalam jumlah besar mudah
dilakukan pada kultur in vitro. Stok induk biasanya dipelihara in vitro, dan
stek mikro diambil untuk diakarkan di kultur pengakaran atau dengan
perbanyakan biasa.
10. Lingkungan terkontrol
11. Konservasi genetik. Kultur jaringan dapat digunakan untuk
menyelamatkan spesies tanaman yang terancam (rare and endangered
species). Metode dengan pemeliharaan minimal, penyimpanan jangka
panjang telah dikembangkan.
12. Teknik kultur jaringan dapat digunakan untuk menyelamatkan hibrida dari
spesies yang tidak kompatibel melalui kultur embrio atau kultur ovule.
13. Tanaman haploid dapat diperoleh melaui kultur anther.
14. Produksi tanaman sepanjang tahun.
15. Perbanyakan vegetatif untuk spesies yang sulit diperbanyak secara normal
dapat dilakukan melalui kultur jaringan
2.6 Masalah Dalam Kultur Jaringan
Adapun masalah-masalah yang terjadi dalam kultur jaringan yaitu
1.Kontaminasi, kontaminasi adalah gangguan yang sangat umum terjadi
dalam kegiatan kultur jaringan. Munculnya gangguan ini bila dipahami
secara mendasar adalah merupakan sesuatu yang sangat wajar sebagai
konsekuensi penggunaan yang diperkaya. Penomena kontaminasi sangat
beragam, keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminasinya
(bakteri, jamur,virus, dll).
2.Vitrifikasi, vitrifikasi adalah suatu istilah problem pada kultur yang ditandai
dengan:
a. Munculnya pertumbuhan yang tidak normal.
b. Tanaman yang dihasikan pendek- pendek atau kerdil
c. Pertumbuhan batang cenderung ke arah penambahan diameter.
d. Pada daunnya tidak memiliki jaringan pallisade.
3. Praperlakuan. Masalah pada kegiatan in vitro bukan hanya dari penanaman
eksplan saja atau pertumbuhan dan perkembangannya dalam botol saja,
tetapi juga sangat bisa dipengaruhi oleh persyaratan kegiatan prapelakuan.
Pada kasus ini masalah akan muncul bila kegiatan prapelakuan tidak
dilakukan. Prapelakuan dilakukan umumnya untuk tujuan-tujuan tertentu,
secara umum adalah rangka menghilangkan hambatan. Hambatan dapat
berupa hambatan kemikalis, fisik, biologis. Hambatan berupa bahan kimia
penanganannya harus dimulai dari pengenalan senyawa aktif, potensi
gangguan, proses reaksi dan alternatif pengelolaannya.
4. Lingkungan Mikro, masalah lingkungan incubator juga tidak bisa
diabaiakan karena ini juga sering menjadi masalah. Suhu ruangan
incubator sangat menentukan optimasi eksplan pertumbuhan suhu yang
terlalu rendah atau tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan pada eksplan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sejarah perkembangan teknik kultur jaringan dimulai pada tahun 1838 ketika
Schwann dan Schleiden mengemukakan teori totipotensi yang menyatakan bahwa
sel-sel bersifat otonom, dan pada prinsipnya mampu beregenerasi menjadi
tanaman lengkap. Teori yang dikemukakan ini merupakan dasar dari spekulasi
Haberlandt pada awal abad ke-20 yang menyatakan bahwa jaringan tanaman
dapat diisolasi dan dikultur dan berkembang menjadi tanaman normal dengan
melakukan manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan nutrisinya.
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian ari tanaman
seerti protoplasma, sel, kelompok sel, jaringan dan organ, serta menumbuhkannya
dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri
dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali.Terdapat macam-macam tipe
kultur jaringan yang sering dipakai – kultur kalus, kultur suspensi sel, kultur
organ, kultur meristem ujung dan kultur protoplas. Tahapan yang dilakukan dalam
perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah : Pembuatan media,
Intisiasi, Sterilisasi, Multipikasi, Pengakaran, dan Aklimatisasi
Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman
baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai
sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan induknya.
Masalah-masalah yang terjadi dalam kultur jaringan yaitu :
1. Kontaminasi, kontaminasi adalah gangguan yang sangat umum terjadi dalam
kegiatan kultur jaringan.
2. Vitrifikasi, vitrifikasi adalah suatu istilah problem pada kultur.
3. Praperlakuan Masalah pada kegiatan in vitro bukan hanya dari penanaman
eksplan saja atau pertumbuhan dan perkembangannya dalam botol saja, tetapi
juga sangat bisa dipengaruhi oleh persyaratan kegiatan prapelakuan.
4. Lingkungan Mikro
DAFTAR PUSTAKA
Edi, Syahmi. 2014. Pengantar Bioteknologi. Medan: FMIPA UNIMED
Harahap, Fauziah. 2014. Kultur Jaringan. Medan: FMIPA UNIMED
Rao, Subra. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Jakarta:
UI-Press

Welsh, James R.1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta :


Erlangga