Vous êtes sur la page 1sur 21

BAB III

PEMBAHASAN

A. Tahapan Engangement, Intact dan kontrak


Tahap Pelaksanaan di lapangan ini praktikan melaksanakan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:

a. Penerimaan awal di lokasi praktik

1) Senin, 23 Januari 2012 jam 13.00 WIB para praktikan berangkat menuju lokasi
praktikum yaitu di Kota Tangerang, Banten, Jawa Barat dengan menggunakan
Mobil rental tanpa di antar oleh pihak lembaga dan langsung menuju kerumah
Bapak Made, tempat para praktikan menginap selama kegiatan praktikum.
2) Selasa, 24 Januari 2012 jam 10.30 WIB diruang Kepala Lembaga Pemasyarakatan
Kelas IIA Anak Pria Tangerang oleh Bapak Drs. Budi Raharjo, Bc.IP.MH
bersama Kepala Sub. Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Ibu Sondang Pakpahan.
Dalam pertemuan ini, dosen pembimbing Dra. Denti Kardeti, M.Si menjelaskan
maksud dan tujuan kegiatan praktikum yang akan diselenggarakan selama tiga
puluh hari serta menyerahkan langsung para praktikan kepada pihak Lapas untuk
melakukan praktikum III Rehabilitasi Sosial Berbasis Institusi. Kepala Lapas
kemudian menyampaikan harapan-harapan kepada para praktikan selama
kegiatan praktikan untuk dapat menyesuaikan diri dengan peraturan tata tertib
yang berlaku di Lapas dan dapt memberikan masukan kepada Lapas tentang
model-model pemecahan masalah anak didik pemasyarakatan. Selanjutnya dosen
pembimbing, ibu Sondang Pakpahan bersama para praktikan menuju ruang
Binapi dan memberikan pengarahan kepada para praktikan. Beliau kembali
mengingatkan agar para praktikan mampu menyesuaikan dengan aturan-aturan
yang berlaku di Lapas dan untuk waktu kegiatan para praktikan tidak harus
mengikuti jam kerja pegawai/petugas Lapas. Kemudian ibu Sondang Pakpahan
meminta salah satu staff Bimaswat yang juga merupakan Psikolog Lapas untuk
mendampingi para praktikan melakukan observasi dan memperkenalkan para
praktikan kepada setiap petugas Lapas di masing-masing ruang kerjanya serta
menjelaskan kegunaan setiap ruangan yang ada. Pertemuan dengan unsur
pimpinan dan petugas ini dilakukan sampai dengan Rabu, 25 Januari 2012.

6
b. Kontak dan kontrak

Kontak dan kontrak dengan calon klien dilakukan pada Senin, 30 Januari 2012
jam 12.30 WIB diruang perpustakaan. Praktikan dan klien menyepakati aktivitas
pertolongan yang akan dilaksanakan selama kegiatan praktikum pada Rabu, 01
Februari 2012 jam 11.30 WIB di Rumah pintar.

B. Asessmen
1. Identifikasi Klien
 Identitas Klien
Nama : “MG”

Tanggal lahir/umur : 09 Februari 1998/ 14 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pendidikan : SD kelas V

Alamat Wali : PSMP Handayani, Cipayung Jakarta Timur

Alamat orang tua : Nias, Sumatera

No. registrasi LAPAS : AN.09/2011

Kasus pidana : Pasal 351 KUHP (Penganiayaan)

 Identitas Orang Tua


a. Ayah
Nama : “G”
Status : Almarhum
b. Ibu
Nama : “NN”
Usia : 40 tahun
Agama : Kristen Katholik
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Nias, Sumatera
c. Kakak perempuan (tidak diketahui namanya)
d. T (kakak laki-laki
e. L (kakak perempuan)

7
2. Gambaran genogram keluarga klien
Gambaran keluarga dapat dilihat dalam bentuk genogram keluarga sesuai dengan
gambar di bawah ini:
Bagan Genogram keluarga klien “MG”

G NN G

?? T L MG

Keterangan:

Laki-laki Perempuan

Meninggal dunia

Berdasarkan gambar diagram genogram di atas, maka dapat


diketahui bahwa “MG” merupakan anak keempat dari empat bersaudara.
Ayah “MG” yang bernama “G” telah meninggal dunia saat “MG” masih
kecil dan tidak sempat mengingat wajah ayahnya tersebut.

Keluarga “MG” semuanya beragama Kristen Katholik. Sebab “MG”


saat ini beragama Islam adalah karena sejak berusia 8 atau 9 tahun, “MG”
telah berada jauh dari orang tua dan keluarga, mulai dari Medan, Jakarta,
hingga saat ini berada di LAPAS Anak Pria Tangerang. Seiring

dengan berjalannya waktu, “MG” berada di lingkungan sekitar orang-orang


muslim, bahkan sudah mendapatkan pendidikan ngaji Iqro’ juz amma
sampai Iqro’ lima.

8
Informasi yang didapatkan tentang keluarga klien sangatlah terbatas.
Kakak pertama “MG” yang perempuan tidak diketahui identitasnya sama
sekali. Kakak kedua dan ketiga diketahui namanya “T” dan “L” tapi tidak
diketahui sama sekali identitas seperti usia, pendidikan, dan pekerjaan
mereka. Setelah ditelusuri sampai ke PSMP Handayani, diinformasikan
bahwa saat “MG” sudah masuk ke LAPAS Anak Pria Tangerang, ibunya
menikah lagi dengan “H” yang dahulunya merupakan Pak RT yang telah
mengantarkan ibu “MG” ke Jakarta ketika menghadiri persidangan kasus
penganiayaan oleh “MG”

4. Kondisi keluarga

Keluarga “MG” merupakan keluarga dengan tingkat ekonomi


rendah. Ayah “MG” sebagai kepala keluarga telah meninggal dunia pada
saat “MG” masih kecil. Ketiga kakak “MG” telah berkelana jauh dari rumah
untuk bekerja meskipun usia mereka belum begitu dewasa. “MG” pun
sampai usia 8 atau 9 tahun belum mampu untuk bersekolah SD hingga pada
akhirnya ada seseorang yang menawarkan akan menyekolahkan “MG” ke
Medan. Dari kondisi demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga
“MG” merupakan keluarga yang sangat miskin

3. Pernyataan Rujukan

Klien “MG” merupakan anak yang dirujuk dari PSMP Handayani Jakarta Timur.
Semenjak menjalani masa proses peradilan, “MG” dititipkan di PSMP
Handayani sejak November 2009. Putusan dari pihak pengadilan secara resmi
dijatuhkan pada tanggal 24 Agustus 2010. Namun karena sebab yang pihak
PSMP juga tidak mengetahui tentangnya, “MG” baru dipindahkan untuk dididik
menjadi Anak Negara (AN) di LAPAS Anak Pria Tangerang pada bulan Agustus
2011.

Setelah melakukan kontak dengan “MG” maka, praktikan menekan


kontrak relasi pertolongan dengan dia. Pemilihan klien “MG” ini tidak berasal
dari rekomendasi siapapun, melainkan karena interaksi secara langsung antara
praktikan dengan “MG”.

4. Latar Belakang Masalah Klien

a). Latar Belakang Kasus Pidana

9
Disebabkan kondisi keluarga yang serba sulit, maka ketika ada
seseorang yang menawarkan Ibu “NN” agar “MG” dibawa ke Medan untuk
disekolahkan, maka Ibu “NN” menurut saja. Setelah berada di Medan,
ternyata “MG” tidak disekolahkan dan dipekerjakan sebagai pembantu
rumah tangga. Setelah beberapa bulan di Medan, “MG” dibawa ke Jakarta
dan dipekerjakan lagi di salah satu keluarga. Ibu “NN” saat itu tidak
mengetahui bahwa “MG” telah dibawa ke Jakarta.

Di keluarga ini, “MG” mendapatkan banyak tekanan dan kekerasan,


baik kekerasan fisik maupun verbal psikologis. “MG” juga disuruh
mengerjakan pekerjaan berat di usia anak sepertinya. Mulai dari mencuci
baju, mengepel lantai rumah, mencuci mobil dan masih banyak lagi. Selain
itu orang tua angkatnya juga kasar dan sering memukul. Tak heran jika
kondisi “MG” menjadi terpuruk dan tidak dapat berkembang sebagaimana
mestinya. Ketika “MG” merasa sudah tidak kuat dengan segala penyiksaan
dan penindasan di tempat ini, pada akhirnya ia pun melarikan diri dan
kebetulan ditemukan oleh tetangganya yang baik hati. “MG” pun diungsikan
sementara ke Bandung, di sana terdapat anaknya yang masih kuliah. Setelah
kondisi dirasa aman, “MG” dibawa kembali ke Jakarta.

Di tempat orang tua angkat ketiga ini “MG” baru mulai disekolahkan
kelas I di SD 13 Cibubur, Jakarta Timur. Di sini “MG” juga mulai mengaji
Al-Qur’an di guru ngaji dekat rumah. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa
pola pendidikan di orang tua angkat ketiga ini memang bisa dibilang agak
keras, meskipun tidak ada sama sekali kekerasan fisik. Meski demikian,
diam-diam “MG” ternyata menyimpan amarah yang dipendam kepada ibu
angkat ini.

Suatu kali “MG” meminta uang kepada ibu angkat tersebut, tapi beliau
tidak memberikan, bahkan ibu tersebut marah-marah hingga membawa-
bawa keluarga asal “MG”. Diperlakukan demikian, perasaan “MG” tidak
terima dan menyimpan amarah yang besar. Lalu suatu waktu saat ibu
tersebut sedang menonton TV, “MG” pun memukul kepala dan lehernya
dengan menggunakan balok besar hingga tersungkur ke lantai. Setelah ibu
tersebut tidak berdaya, “MG” menyeretnya hingga ke parit belakang dekat
kamar mandi. Setelah itu “MG” melarikan diri dari rumah dan dipastikan ibu
tersebut telah meninggal dunia. Setelah ditangani oleh polisi, maka “MG”

10
pun segera ditangkap oleh polisi sebagai tersangka kasus penganiayaan
hingga terjadi hilangnya nyawa.

Selama menjalani proses peradilan, “MG” dititipkan kepada PSMP


(Panti Sosial Mardi Putra) Handayani dibantu RPSA (Rumah Perlindungan
Sementara Anak) Bambu Apus, Jakarta Timur milik Kementerian Sosial RI.
“MG” berada di sana sejak November 2009 hingga Agustus 2011.

b) Permasalahan di LAPAS

“MG” merupakan anak yang memiliki sosok pendiam dan tidak banyak
bicara. Dari sikap keseharian yang dinampakkannnya tersebut maka “MG”
dianggap oleh banyak teman-temannya di LAPAS sebagai anak yang susah
bergaul. Seringkali dengan sikapnya tersebut, “MG” lebih sering terlihat
dalam kondisi lemah dan lesu.

“MG” juga anaknya tidak begitu ekspresif, juga tidak dapat


mengemukakan pendapat secara terbuka, ditambah lagi perasaan malu yang
berlebihan ketika berada di depan umum. “MG” juga kesulitan untuk
menyatakan “ya atau tidak”, ”suka atau tidak suka”, atau memiliki pendapat
yang berbeda dari teman lainnya. Hal ini sebenarnya merupakan imbas dari
masa lalu yang kurang mendapat perhatian dari orang tua (terpisah dengan
orang tua kandung) serta pengalaman keseharian yang hanya melaksanakan
apa yang diperintahkan tanpa bisa membantah. Jika sudah tidak ada kegiatan
apa-apa, “MG” juga sering merenung sedih karena ingin berkumpul kembali
bersama orang tua dan keluarganya.

5. Dinamika Keberfungsian Klien

a. Keberfungsian Fisik

Tinggi badan : 154 cm

Bentuk wajah : kotak

Rambut : ikal

Bentuk badan : kurus

11
“MG” memiliki tubuh yang normal tanpa kurang suatu apapun. Hanya
saja di kepalanya terdapat bekas-bekas luka yang sepertinya akibat tindak
kekerasan dari orang tua angkat sebelumnya.

“MG” dapat mengikuti kegiatan 4 kali apel dalam sehari. Kemudian ia


juga aktif dan berdiri di depan ketika olahraga pagi setiap hari Jum’at.
Bahkan sebelumnya ia juga mengikuti kegiatan main bola di dalam LAPAS.

b. Keberfungsian Sosial

“MG” dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, penurut, dan tidak
suka membuat ulah. Namun karena sikap pendiamnya itulah sehingga
banyak teman-teman lain yang kurang begitu respect untuk bergaul dan
berteman dengan “MG”.

Selama berada di LAPAS Anak Pria Tangerang, “MG” hanya bisa


cocok berteman dengan beberapa orang saja. Selebihnya, bahkan nama
anak-anak di luar kamar blok pun tidak diketahuinya. Terlepas dari itu
semua, “MG” tetap menjalankan aktivitas bersama teman-temannya seperti
pada saat sekolah, apel harian, senam pagi dan membaca di perpustakaan.

c. Keberfungsian Psikologis

Sepanjang berada di LAPAS Anak Pria Tangerang, “MG”


menunjukkan kondisi emosional yang cukup stabil. “MG” tidak pernah
sekalipun marah-marah secara berlebihan ataupun terkesan memendam
kesedihan yang mendalam.

Dalam kesehariannya, “MG” memang dikenal oleh anak-anak sebagai


anak yang pendiam dan tidak banyak bicara, namun bukan sebagai anak
yang pemurung. Biasanya jika sudah tidak ada kegiatan atau aktivitas apa-
apa barulah “MG” biasa merenung memikirkan keluarganya di rumah. Hal
itu disebabkan karena “MG” sangat ingin kembali berkumpul bersama
dengan ibu dan kakaknya di Nias.

d. Keberfungsian intelektual

“MG” memiliki kemampuan intelektual yang baik dan hal ini


dibuktikan dengan nilai pelajaran sekolah yang cukup baik. “MG” juga
merupakan anak yang cukup aktif ketika menjawab pertanyaan di kelas.

12
Selain itu “MG” juga memiliki kemampuan nalar yang baik dan tidak
bermasalah ketika diajak berdiskusi menggunakan logika berpikir. “MG”
benar-benar menyadari kesalahan yang telah ia lakukan dan sadar betul
mengenai kondisinya ketika berada di LAPAS Anak Pria Tangerang seperti
sekarang ini.

e. Keberfungsian Religi

“MG” adalah anak yang taat beribadah. Sholat Dhuhur dan Ashar selalu
ia usahakan bisa berjama’ah di masjid dalam LAPAS. Selain itu, ketika ia
diminta memilih agama mana yang cocok untuknya (antara Kristen Katholik
dan Islam), maka ia pun bersikukuh tetap memilih agama Islam meski orang
tua dan kakak-kakaknya beragama Kristen Katholik.

6. Gejala Masalah Klien

a. Pendiam
b. Tidak bisa bergaul dengan banyak orang
c. Pemalu
d. Kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapat
e. Menarik diri
f. Sedikit mengenal anak-anak di luar kamar blok
Gejala masalah awal yang terlihat pada diri klien “MG” adalah pendiam
dan pemalu yang ditampilkan olehnya sehingga kesan yang tertangkap oleh
orang lain itu seolah-olah “MG” ini anak yang cuek dan kurang perhatian pada
lingkungan sekitar, dan juga asik dengan dunianya sendiri.

Hal tersebut menjadikan “MG” tidak terlalu banyak disukai oleh teman-
teman di lain kamar blok, namun juga tidak dibenci oleh mereka. Yang ada
adalah bahwa terdapat beberapa anak-anak didik yang lebih tua darinya sering
memanfaatkan “MG” untuk disuruh-suruh mengerjakan banyak hal yang sama
sekali tidak ada kepentingan terhadap dirinya. Misalnya “MG” disuruh membeli
sesuatu tapi tanpa diberikan upah apapun, dan itu lebih dari tiga kali mereka
lakukan terhadap diri “MG”.

“MG” juga tidak terlalu aktif di kegiatan olahraga di dalam LAPAS.


Menurut pengakuan dirinya yang dibenarkan oleh pihak RPSA, “MG” ini suka
sekali main bola, bahkan ia bercita-cita menjadi seorang pemain bola, namun ia
sendiri tidak mau ikut main bola dengan alasan teman-teman main bolanya itu

13
“tidak enak”. Maka, ia pun lebih memiih menarik diri dan tidak lagi bermain
bola bersama teman-teman di dalam LAPAS.

Pun ketika “MG” berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang baru,


suaranya amat sangat kecil dan seringkali tidak terdengar oleh lawan bicaranya.
Ia juga hanya akan menjawab ketika ditanya, sulit membuat topik-topik
pembicaraan, serta sangat tidak percaya diri ketika dimintai pendapat pribadi.
Bahkan, ia pernah mengaku kalau dirinya ini anak yang membosankan, ia tak
bisa seperti anak-anak lainnya meski dalam hati ia pun ingin dimengerti dan
punya banyak teman di sekitarnya.

7. Fokus Masalah Klien

Berdasarkan gejala masalah yang telah dikemukakan, maka fokus masalah


yang dialami oleh “MG” adalah “Rendahnya Kemampuan Relasi Sosial”.

Relasi Sosial yang dimaksud adalah sebuah hubungan kedekatan antara


klien dengan orang-orang di sekitarnya seperti teman-teman sebaya, teman-
teman yang lebih tua, teman-teman di luar kamar blok, guru sekolah, petugas
LAPAS, dan juga para tamu dari luar LAPAS.

8. Teknik yang digunakan dalam Asesmen

Adapun proses asesmen yang dilakukan oleh praktikan untuk menggali


data dan fakta tentang klien “MG” adalah melalui cara sebagai berikut ini:

1. Observasi. Yakni dengan cara pengamatan segala aktivitas klien “MG” baik
pada saat di sekolah, perpustakaan, maupun kegiatan lain yang melibatkan
diri “MG” untuk berpartisipasi dan berinteraksi dengan sesama teman dan
atau pegawai LAPAS.
2. Wawancara. Wawancara langsung dengan klien di tempat terbuka.
3. Wawancara mendalam. Wawancara langsung dengan klien tanpa ada
gangguan dari siapapun.
4. Studi dokumen dari LAPAS. Mendapatkan data-data terpercaya yang
diperoleh dari bagian registrasi LAPAS Anak Pria Tangerang.
5. Menggunakan angket. Menggunakan daftar pertanyaan tertutup dimana klien
“MG” hanya dapat memilih satu dari dua jawaban.
6. Diskusi kelompok. Pertanyaan yang sama diajukan kepada seluruh anggota
kelompok diskusi dan setiap orang wajib menjawab pertanyaan tersebut.
C. Rencana Intervensi
14
Adapun rencana intervensi yang dibuat praktikan untuk menangani masalah klien
“MG” adalah sebagai berikut:
 Social Case Work Method
Metode Bimbingan Sosial Individu menekankan pada pertolongan secara khusus
terhadap individu yang mengalami masalah tersebut.
 Social Group Work Method
Metode Bimbingan Sosial Kelompok menekankan bahwa pertolongan dapat
dilakukan dengan melakukan modifikasi peran kelompok untuk dapat saling
membantu menghadapi masalahnya.
 Motivation Training
Training motivasi akan dibawakan oleh trainer profesional dengan materi
seputar merancang masa depan.

Pengembalian klien kepada PSMP/RPSA Kementerian Sosial RI Berdasarkan asesmen


yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa meskipun klien “MG” saat ini berstatus Anak
Negara (AN) yang notabene akan dididik di LAPAS sampai usia 18 tahun. Namun ada
celah kebijakan yang dapat dilakukan yakni pasca 2 kali 6 bulan menjalani masa tahanan,
klien “MG” dapat diajukan untuk pembebasan bersyarat.

D. Tujuan Intervensi
Adapun tujuan dari intervensi yang dilakukan adalah sebagai berikut
1. Menjadikan klien “MG” lebih mau mengenal dan akrab dengan teman-teman di
LAPAS
2. Menjadikan klien “MG” lebih terbuka dengan teman-teman di LAPAS
3. Menjadikan “MG” sebagai sosok yang tidak lagi pendiam dan pemalu
4. Menjadikan “MG” agar lebih aktif dan percaya diri dalam mengemukakan pendapat
5. Menjadikan “MG” aktif dan bersemangat dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan di
dalam LAPAS

15
E. Sasaran Intervensi
Sasaran intervensi yang ditetapkan oleh praktikan adalah:
 Klien “MG”
 Teman-teman dekat “MG”
 Petugas LAPAS dan Guru

F. Program Intervensi
Peningkatan kemampuan relasi sosial klien “MG” di LAPAS Anak
Pria Tangerang dengan intervensi menggunakan gabungan Social Casework
dan Social Groupwork.

G. Metode dan Teknik


Beberapa metode dan teknik yang digunakan praktikan selama
melaksanakan proses intervensi terhadap klien “MG” antara lain:
1. Metode bimbingan sosial perorangan (social casework
method)
a) Teknik small talk
b) Teknik support
c) Teknik reassurance
d) Teknik advice giving and counseling
e) Metode bimbingan sosial kelompok (social groupwork
method)
f) Logical discussion
g) Group dynamic
h) Self help group
2. Metode bimbingan sosial kelompok (social groupwork
method)
a. Logical discussion
b. Group dynamic
c. Self help group

16
H. Sistem Dasar Praktik
Pencapaian tujuan dalam tahapan perumusan rencana intervensi harus
ada sistem sasaran perubahan yang mendukung, diantaranya adalah sebagai
berikut:

1. Sistem klien
Sistem klien di sini adalah “MG” dengan fokus masalah rendahnya
kemampuan relasi sosial yang dimiliki untuk berinteraksi dengan
lingkungan sekitar.
2. Sistem sasaran
Sistem sasaran pelaksanaan intervensi terhadap “MG” adalah
teman-teman dekat di dalam kamar blok, petugas perpustakaan, dan juga
guru.

3. Sistem kegiatan
Sistem kegiatan dilakukan untuk menyelesaikan tugas-tugas dan
pencapaian tujuan usaha perubahan klien “MG”. Kegiatan ini meliputi
berdiskusi atau sekedar ngobrol dengan klien, mengajak bersama dalam
kegiatan yang dicanangkan oleh pihak LAPAS, dan juga diskusi kelompok
dengan beberapa orang teman sebaya.
4. Sistem pelaksana perubahan
Pelaksana perubahan bagi “MG” adalah “MG”, teman sebaya
“MG”, guru sekolah, petugas perpustakaan dan lingkungan sekitar untuk
mendukung perubahan “MG” dalam meningkatkan kemampuan relasi
sosialnya. Dalam proses intervensi di sini yang menjadi sistem pelaksana
perubahan dasar adalah Praktikan dan teman sebaya klien “MG”.

I. Pelaksanaan Penanganan
Proses dalam pelaksanaan intervensi yang dilakukan dalam
memberikan bantuan terhadap klien berdasarkan pada rencana intervensi,
diantaranya yaitu:
1. Tahap pembentukan relasi pertolongan

17
Pembentukan relasi pertolongan ini berlangsung sejak pada hari
Rabu tanggal 01 Februari 2012 yang bertujuan untuk membentuk relasi
antara klien, teman sebaya dan juga petugas LAPAS, sehingga tercipta
suasana keakraban untuk mendukung dan mempermudah proses
pemecahan masalah yang akan dilakukan terhadap klien. Pembentukan
relasi pertolongan ini, seperti:
 Kepada klien, praktikan mulai sering mengajak ngobrol klien dengan
topik bahasan ringan tentang apapun seperti menanyakan kabar,
kegiatan, sekolah, bacaan di perpustakaan, dan lain-lain agar lebih
mendekatkan diri antara praktikan dengan klien.
 Kepada teman sebaya klien, praktikan mendekati beberapa teman yang
sekamar dengan klien “MG” untuk berkenalan dan juga menggali info
lebih jauh tentang diri klien di mata teman-teman sebayanya.
 Kepada petugas LAPAS, peraktikan juga banyak berinteraksi dengan
petugas perpustakaan sebagai tempat favorit klien, guru sekolah, dan
juga petugas jaga yang selalu ada untuk berjaga di depan kamar blok.
2. Tahap pemberian motivasi
Pemberian motivasi disamping diberikan kepada klien juga
terdapat beberapa hal lainnya. Upaya-upaya yang dilakukan pada tahap ini
adalah meningkatkan kemampuan relasi sosial yang dimiliki oleh klien
agar ia mampu mengungkapkan permasalahannya kepada teman maupun
petugas LAPAS yang dekat dengan dirinya.
Pemberian motivasi berkenaan dengan sikap pendiam dan pemalu
yang dimiliki oleh klien “MG” dijelaskan sebagai suatu hal yang wajar.
Namun untuk dapat bertingkah laku secara wajar, maka dibutuhkan pula
sikap aktif dan berani mengemukakan pendapat. Keduanya harus berjalan
secara beriringan dan saling melengkapi. Istilah kerennya, “boleh jadi
seorang pemalu, tapi jangan malu-maluin”.

3. Pelaksanaan intervensi bimbingan sosial perorangan (social casework)

18
Pendekatan langsung kepada klien dan teman dekatnya, yang
bertujuan untuk membantu menyelesaikan masalah klien melalui
bimbingan sosial perorangan, yang bertujuan agar klien mampu
mengembangkan kemampuan pribadinya dan kemampuan dalam
mengunakan sumber-sumber yang tersedia.
a. Small talk
Digunakan oleh praktikan saat berinteraksi dengan klien yaitu untuk
membuka pembicaraan dengan klien dan teman-teman sebayanya.
Sehingga pembicaraan yang akan dilakukan dengan klien berjalan santai
dan tidak kaku. Small talk yang dilakukan oleh praktikan adalah dengan
membuka pembicaraan dengan hal-hal yang ringan seperti
mengucapkan salam serta menanyakan kabar hari ini.

b. Support
Teknik ini digunakan memberikan dukungan, dorongan dan
semangat kepada klien agar tetap sabar, tabah, kuat dan selalu berusaha
serta berdoa, dalam menghadapi setiap persoalan yang sedang
dihadapinya. Motivasi yang praktikan berikan adalah dengan
pendekatan fatwa agama dimulai dari penjelasan bahwa setiap orang
diberikan cobaan sesuai dengan kesanggupannya. Kemudian juga tidak
ada dosa yang tidak diampuni, karena itu yang paling penting adalah
dengan bertaubat secara taubat nasukha.
Hal ini dilakukan oleh praktikan karena berdasarkan asesmen yang
telah dilakukan, klien “MG” adalah orang yang pendiam dan terlihat
lesu di setiap aktivitasnya. Dengan diberikannya suntikan motivasi,
maka “MG” dapat lebih menyadari kekurangannya tersebut dan segera
beranjak untuk bersemangat dalam menjalani hidup selanjutnya.

c. Reassurance
Teknik ini bertujuan untuk memberikan jaminan dan kepercayaan
bahwa permasalahan yang dialami klien bukan hanya dialami oleh

19
klien sendiri tetapi masih banyak juga orang yang mengalami
permasalahan yang sama. Praktikan berulang kali menekankan kepada
klien bahwa tidak ada yang dapat memecahkan masalahnya tersebut
selain dirinya sendiri.

d. Konseling individu
Dikarenakan diri “MG” yang sangat tertutup serta pemalu,
ditambah lagi “MG” merupakan anak yang sulit untuk mengungkapkan
sesuatu. Maka praktikan memberikan konseling individu setelah
membangun sebuah helping relationship antara praktikan dengan
klien. Di sini klien dapat mengungkapkan hal-hal yang selama ini ia
pendam dan sulit untuk kemukakan.

4. Pelaksanaan intervensi bimbingan sosial kelompok (social groupwork)


a. Logical discussion (diskusi logis)
Diskusi logis ini dilaksanakan karena klien “MG” sudah
dapat dikategorikan anak yang akil baligh dan dapat menggunakan
logika serta nalarnya dalam mengerjakan setiap kegiatan apapun. Oleh
karenanya praktikan mengajak klien untuk berdiskusi logis dalam
sebuah kelompok mengenai hal-hal yang selama ini ia kerjakan baik
pengalaman di masa lampau maupun di masa sekarang saat berada di
dalam LAPAS.
b. Group dynamic (dinamika kelompok)
Dinamika kelompok yang dilakukan lebih banyak terkait
dengan games-games yang membutuhkan peran serta klien “MG”.
Dinamika kelompok ini membangun kepercayaan diri klien bahwa
ternyata dirinya adalah bagian dari sebuah kelompok yang memiliki
peran penting. Di sini klien “MG” belajar banyak mengenai bentuk
teamwork dan bekerja dengan banyak orang dalam menentukan tujuan
bersama
c. Pembentukan self help group (kelompok bantu diri).

20
Kelompok bantu diri ini terdiri atas 5 anak yang memiliki
masalah yang hampir sama. Masing-masing anak memiliki masalah
dan masing-masing diri mereka pula yang bekerja untuk membantu
masalah yang dihadapi temannya. Di sini klien “MG” sadar bahwa
semua orang pasti punya masalah, dan semua orang juga punya potensi
untuk membantu teman yang sedang dalam masalah.

J. Evaluasi
Setelah melaksanakan kegiatan intervensi, maka langkah selanjutnya
adalah mengadakan evaluasi guna mengetahui hasil-hasil yang dicapai dan
hambatan-hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan tersebut.
Dalam penanganan kasus terhadap klien perlu dilakukan evaluasi yang
dilakukan dengan tujuan untuk:
1. Mengetahui sejauh mana keberhasilan praktikan membantu klien dalam
menangani masalah
2. Mendapatkan perbandingan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi
3. Mengetahui hambatan dan kelemahan dalam intervensi yang telah
dilakukan
4. Mengetahui apakah kegiatan intervensi yang telah dilaksanakan sesuai
dengan masalah atau kondisi klien
Beberapa pihak yang terlibat dalam evaluasi penangan masalah
diantaranya adalah:
1. Bagian pembinaan dan pendidikan LAPAS Anak Pria Tangerang
2. Guru sekolah klien
3. Psikolog
4. Praktikan
Berdasarkan dari apa yang telah direncanakan dalam rencana
intervensi dibandingkan dengan pelaksanaan intervensi, maka didapatkan hal-
hal mengenai:
1. Evaluasi proses

21
a. Saat melakukan asesmen, praktikan mengalami beberapa kendala ketika
akan menggali informasi lebih dalam. Hal ini dikarenakan banyaknya
anak-anak didik LAPAS lainnya yang ikut serta berkumpul, padahal
klien “MG” merupakan tipe anak yang susah untuk terbuka ketika ada
banyak orang.
b. Dalam penyusunan rencana intervensi tidak terdapat kendala yang
berarti karena sering berdiskusi dengan petugas LAPAS, guru maupun
praktikan lainnya sehingga masukan-masukan membangun didapatkan
untuk membuat rencana intervensi yang tepat.
c. Pelaksanaan program intervensi tidak langsung berjalan mulus sesuai
rencana karena menyesuaikan waktu dan juga kegiatan di LAPAS.
Training motivasi tidak jadi diberikan karena trainer hanya bisa datang
pada hari Minggu, sedangkan ketika izin ke pihak LAPAS, hari Minggu
di LAPAS tidak boleh ada kegiatan apapun. Training motivasi
sebelumnya sudah mendapatkan persetujuan oleh Kepala Binapi
LAPAS Anak Pria Tangerang, namun karena masalah teknis, sang
trainer tidak dapat mengisi training di hari kerja, namun beliau bisa
mengisi pada hari Minggu. Hal tersebut merupakan di luar perencanaan
semula yang pada awalnya training akan dilaksanakan pada hari Senin.
Setelah itu saya sudah mencoba bernegosisasi dengan pihak LAPAS,
namun tetap saja karena pertimbangan keamanan, maka kami tidak
dapat melaksanakan training motivasi di hari Minggu. Oleh karena
itulah training motivasi seperti yang telah direncanakan tidak dapat
dilaksanakan.
d. Terminasi dilaksanakan karena keterbatasan waktu yang ada dan juga
karena telah selesainya praktikan memberikan program intervensi
kepada klien.
e. Case conference (CC) hanya dilaksanakan satu kali karena demikianlah
instruksi dari pihak LAPAS Anak Pria Tangerang. STKS Bandung
mengamanahkan praktikan untuk melaksanakan CC selama dua kali
selama berada di LAPAS Anak Pria Tangerang ini. CC pertama adalah

22
memaparkan mengenai hasil asesmen dan merencanakan intervensi,
kemudian CC kedua memaparkan menganai hasil intervensi serta
rujukan. Namun, pihak LAPAS menyarankan hanya melaksanakan CC
satu kali saja mengingat kesibukan para petugas LAPAS, terutama
Kepala LAPAS Anak Pria Tangerang. Sebagai gantinya, CC pertama
dialihkan dengan diskusi dan konsultasi bersama supervisor mengenai
pemaparan hasil asesmen dan perencanaan intervensi yang telah dibuat.

2. Evaluasi hasil
a. Pencapaian tujuan intervensi dari praktikan terlihat dengan mulai
aktifnya klien dalam mengikuti kegiatan, bahkan kegiatan yang
digagas oleh praktikan (dance poco-poco) yang melibatkan banyak
anak, klien berani mengikuti walaupun dengan gerakan yang masih
membingungkan. Klien juga menjadi lebih murah senyum daripada
sebelumnya. (tidak terlalu pemalu, partisipatif)
b. Di sekolah, klien terlihat lebih aktif dan senang menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari guru meskipun tidak semua jawabannya
benar (percaya diri)
c. Fungsi dan peran praktikan dalam melakukan kegiatan intervensi
terhadap klien tersebut adalah sebagai broker dan fasilitator. Dalam
melaksanakan program intervensi, praktikan dapat menerapkan
metode-metode, teknik dan juga keterampilan yang sesuai dengan
permasalahan yang dihadapi oleh klien.
K. Terminasi dan Rujukan
1. Terminasi
Mengingat penanganan kasus klien “MG” telah berakhir sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan pada saat kontrak dan bertepatan
dengan berakhirnya praktikum III, maka dilaksanakanlah terminasi
terhadap klien “MG”. Kegiatan pertama yang dilakukan praktikan adalah
memberikan informasi pada klien bahwa praktikum III akan segera
berakhir.

23
Terminasi yang dilakukan praktikan adalah pemutusan hubungan
secara profesional terhadap klien “MG” dalam pelayanan sosial yang
dilakukan bersama klien, dengan berakhirnya praktikum III ini berarti
berakhir pula pelayanan sosial yang diberikan praktikan kepada klien.
Kegiatan terminasi ini dilakukan atas prinsip pekerjaan sosial yaitu
menolong orang lain, dengan maksud agar orang yang ditolong dapat
menolong dirinya sendiri, sehingga pertolongan yang diberikan tidak
menimbulkan ketergantungan kepada orang lain. Namun, praktikan juga
menjelaskan lebih lanjut bahwa hubungan kontak secara persaudaraan akan
tetap terjalin hingga kapan pun selama nafas masih dikandung badan.
Gambaran situasi dan kondisi pada saat praktikan melakukan terminasi
kepada klien “MG” adalah bahwa klien sudah meningkatnya relasi sosial yang
ada pada dirinya. Hal tersebut ditunjukkan dengan mulai aktifnya klien “MG”
pada beberapa kegiatan yang dicanangkan oleh pihak LAPAS, bahkan kegiatan
yang digagas oleh praktikan pun, klien “MG” berkenan mengikutinya
meskipun di sana terdapat banyak anak.
2. Rujukan
Sehubungan dengan pemecahan masalah klien “MG” yang harus
ditindaklanjuti, maka praktikan melakukan rujukan yang dilaksanakan pada
hari Senin tanggal 20 Februari 2012 di gedung ruang data LAPAS Anak
Pria Tangerang. Rujukan diberikan oleh Praktikan kepada psikolog dan
bagian pembinaan LAPAS. Pada saat dirujuk, “MG” sudah bersemangat
dan tinggal diberikan tambahan motivasi setiap saat serta memberikan
peluang kepada “MG” secara lebih luas.
Selanjutnya praktik-praktik intervensi yang telah dilakukan oleh
praktikan tersebut diharapkan dapat diteruskan oleh para petugas LAPAS
khususnya bagian pembinaan dan juga psikolog. Hal mendasar yang patut
dilaksanakan oleh petugas LAPAS adalah dengan menjadi sahabat bagi
anak sehingga anak tidak terlalu canggung jika hendak mengungkapkan
berbagai macam masalah yang tengah dialaminya. Di samping itu, petugas
juga akan lebih mudah melakukan asesmen dan juga intervensi.

24
BAB IV
PENUTUP
Masalah sosial merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh
pemerintah Indonesia untuk melakukan penanganan akibat masalah tersebut.
Dalam penanganan ini, pemerintah melibatkan berbagai profesi salah satunya ialah
Pekerjaan Sosial. Pekerjaan Sosial merupakan suatu Profesi Profesional yang
bertugas agar individu, kelompok maupun masyarakat yang mengalami masalah
sosial dapat kembali berfungsi sosial melalui Proses Pertolongan dalam Praktek
Pekerjaan Sosial.
Adapun tahapan dari Proses Pertolongan Pekerjaan Sosial ialah
Engangement, intact dan contract, Asesmen, Perencanaan, Intervensi, Evaluasi dan
Terminasi.

25
DAFTAR PUSTAKA

Tim STKS Bandung. 2016. Metode Praktek Pekerjaan Sosial. Bandung : Sekolah
Tinggi Kesejahteraan Sosial bandung

https://bocahbancar.files.wordpress.com/2011/01/Pembahasan-kasus-joe-lapt.pdf.
Diakses tanggal 8 Desember 2018, pukul 10.36 wib.

26