Vous êtes sur la page 1sur 39

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PENYAKIT GOUT

ATHRITIS

PADA TN. D.H RUANG EDELWEIS 4

Oleh:

RIFKA FADHILA ABAS

1704008

PENDIDIKAN PROFESI NERS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


MANADO

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat yang
dicurahkan-Nya, penulis dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan ini tepat waktu
yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Goth Athritis”. Terima
kasih kepada dosen pembimbing, perawat ruangan, teman-teman, dan juga orang
tua, atas dorongan yang telah diberikan kepada penulis sehingga makalah ini dapat
terbentuk.

Askep ini juga tidak luput dari kekurangan dan kekeliruan yang disebabkan oleh
keterbatasan kemampuan dan literatur yang sangat kurang yang ada pada penulis,
kepada dosen penulis mohon maaf. Penulis menyadari sepenuhnya Askep ini masih
jauh dari sempurna, segala sumbang saran, gagasan, pemikiran dan koreksi dari
semua pihak yang dapat memperkaya, menambah kelengkapan tulisan ini sangat
kami harapkan.

Semoga Askep ini dapat bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis
sendiri, dan dapat berguna dimasa yang akan datang. Aamiin,,,

Manado, 10 November 2017

Rifka Fadhila Abas


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Di masyarakat kini beredar mitos bahwa ngilu sendi berarti asam urat. Pengertian
ini perlu diluruskan karena tidak semua keluhan dari nyeri sendi disebabkan oleh
asam urat. Pengertian yang salah ini diperparah oleh iklan jamu/obat tradisional.
Penyakit rematik banyak jenisnya. Tidak semua keluhan nyeri sendi atau sendi yang
bengkak itu berarti asam urat. Untuk memastikannya perlu pemeriksaan
laboratorium.
Sebenarnya yang dimaksud dengan asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-
kristal yang merupakan hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan
nukleoprotein), yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat pada intisel
- sel tubuh. Secara alamiah, purin terdapat dalam tubuh kita dan dijumpai pada
semua makanan dari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur, buah, kacang-
kacangan) atau pun hewan (daging, jeroan, ikan sarden).
Jadi asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya tidak
boleh berlebih. Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh, karena pada setiap
metabolisme normal dihasilkan asam urat. Sedangkan pemicunya adalah makanan
dan senyawa lain yang banyak mengandung purin. Sebetulnya, tubuh menyediakan
85 persen senyawa purin untuk kebutuhan setiap hari. Ini berarti bahwa kebutuhan
purin dari makanan hanya sekitar 15 persen. Sayangnya, fakta ini masih belum
diketahui secara luas oleh masyarakat. Akibatnya banyak orang suka
menyamaratakan semua makanan. Orang menyantap apa saja yang dia inginkan,
tanpa mempertimbangkan kandungan didalamnya sangat tinggi. Produk makanan
mengandung purin tinggi kurang baik bagi orang-orang tertentu, yang punya bakat
mengalami gangguan asam urat. Jika mengonsumsi makanan ini tanpa perhitungan,
jumlah purin dalam tubuhnya dapat melewati ambang batas normal. Beberapa jenis
makanan dan minuman yang diketahui bisa meningkatkan kadar asam urat adalah
alkohol, ikan hearing, telur, dan jeroan. Ikan hearing atau sejenisnya (sarden), dan
jeroan merupakan sumber senyawa sangat potensial. Yang tergolong jeroan bukan
saja usus melainkan semua bagian lain yang terdapatdalam perut hewan ±seperti
hati, jantung, babat, dan limfa.
Konsumsi jeroan memperberat kerja enzim hipoksantin untuk mengolah purin.
Akibatnya banyak sisa asam urat di dalam darahnya, yang berbentuk butiran dan
mengumpul di sekitar sendi sehingga menimbulkan rasasangat sakit. Jeroan
memang merupakan salah satu hidangan menggiurkan, diantaranya soto babat,
sambal hati, sate jantung, dan kerupuk limfa. Tetapi salahsatu dampaknya, jika
tubuh kelebihan senyawa purin maka si empunya dirimengalami sakit
pada persendian.

2. Tujuan Penulisan

a. Tujuan Umum
Menetapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah kedalam proses
asuhan Keperawatan nyata serta mendapatkan pengalaman dalam
memecahkan masalah pada Tn..”D” dengan Gout Athritis
b. Tujuan khusus
1) Untuk mengetahui gambaran tentang kasus Gout Athritis yang dialami
oleh pasien Ny.”D”.
2) Untuk mengetahui alternatif pengobatan pada pasien dengan Gout
Athritis

c. Manfaat Penulisan
Setelah menyelesaikan asuhan keperawatan ini diharapkan kami sebagai calon
profesi ners dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab
serta upaya pencegahan penyakit Gout Athritis agar terciptanya kesehatan
masyarakat yang lebih baik. Bagi pembaca diharapkan agar pembaca dapat
mengetahui tentang Gout arthritis lebih dalam sehingga dapat mencegah serta
mengantisipasi diri dari penyakit Gout artritis. Bagi petugas kesehatan diharapkan
dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan Gout sehingga dapat
meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik. Bagi institusi kesehatan dapat
menambah informasi tentang Gout artritis sehingga tercipta proses belajar mengajar
yang efektif.
BAB II
TINJAUAN TEORI & ASKEP TEORITIS

A. TINJAUAN TEORI

1. Pengertian
Gout Artritis adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, yaitu
artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria
sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa
menopause. Gout arthritis, atau lebih dikenal dengan nama penyakit asam urat,
adalah salah satu penyakit inflamasi yang menyerang persendian.
Gout adalah penyakit metabolic yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang
nyeri pada tulang dan sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas,
pergelangan dan kaki bagian tengah ( Merkie, Carrie, 2005 ).
Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek
genetic pada metabolisme purin atau hiperuricemia ( Brunner & Suddarth, 2001 :
1810 ).
Arthritis pirai ( gout ) merupakan suatu sindrom klinik sebagai deposit Kristal asam
urat di daerah persendiaan yang menyebabkan terjadinya serangan inflamasi akut.

2. Etiologi
Gejala arthritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan
kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya, penyakit
ini termasuk dalam kelainan metabolik. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan
kinetik asam urat yaitu hiperuresemia. Hiperuresemia terjadi karena :
a. Pembentukan asam urat berlebihan
 Gout primer metabolik, disebabkan sintesis langsung yang bertambah

 Gout sekunder metabolik, disebabkan pembentukan asam urat berlebihan

karena penyakit lain seperti leukimia, terutama bila diobati dengan

sitostatistika, psoriasis, polisitemia vena dan mielofibrosis


b. Kurangnya pengeluaran asam urat melalui ginjal.

 Ginjal yang sehat. Penyebabnya tidak diketahui.

 Gout sekunder renal, disebabkan oleh kerusakan ginjal, misalnya pada

glomerulonefritis kronik atau gagal ginjal kronik

c. Perombakan dalam usus yang berkurang. Namun secara klinis hal ini tidak

penting. Tetapi beberapa kasus menunjukkan adanya hubungan dengan defek

genetik dalam metabolisme purin. Imkompletnya metabolisme purin

menyebabkan pembentukan kristal asam urat di dalam tubuh atau menimbulkan

over produksi asam urat. Over produksi asam urat ini dapat juga terjadi secara

sekunder akibat beberapa penyakit antara lain: sickle cell anemia, kanker

maligna, penyakit ginjal

Penurunan fungsi renal akibat penggunaan obat dalam waktu yang lama

(diuretik) dapat menyebabkan penurunan ekskresi asam urat dari ginjal.Penyebab

Gout dapat terjadi akibat hiperusemia yang di sebabkan oleh diet yang ketat atau

starpasi, asupan makanan kaya purin (terang-terangan/jeron) yang berlebihan

atau kelainan Herediter.

3. Patofisiologi

Asam urat adalah produk sisa metabolisme purin. Pada keadaan normal terjadi

keseimbangan antara produksi dan ekskresi. Sekitar dua pertiga (2/3) Jumlah yang,

diproduksi setiap hari diekskresikan melalui ginjal dan sisanya melalui feses.
Serum asam urat normal dipertahankan antara 3,4 – 7,0 mg/dl pada pria dan 2,4 –

6,0 pada wanita, pada level lebih dari 7,0 mg/dl akan terbentuk kristal monosodium

urat.

Faktor-faktor yang merupakan presipitasi pembentukan kristal dan deposit di

jaringan antara lain :

 Penurunan PH cairan ekstraseluler

 Penurunan protein plasma pengikat kristal-kristal urat

 Trauma jaringan

 Peningkatan kadar asam urat dari diet

Biasanya menyerang satu persendian, terjadi secara tak terduga, terjadi pada malam

hari yang dapat dipicu oleh trauma, konsumsi alkohol dan pembelahan. Pada level

ini asam urat di dalam persendian menimbulkan respon inflamasi, selanjutnya

leukosit Poli Morfo Nuklear (PMN) menginfiltrasi persendian dan memfagosit

kristal-kristal urat yang menyebabkan kematian leukosit PMN, pengeluaran enzim-

enzim lisosom serta mediator-mediator inflamasi lainnya kedalam jaringan. Hal ini

menyebabkan sendi yang terserang terlihat kemerahan, papas, bengkak dan terasa

nyeri.

Sekitar 50% serangan gout arthritis akut terjadi pada sendi metatarsophalangeal

tumit, sedangkan bagian tubuh lain yang juga mengalami serangan; ankle, tumit,

lutut, jari-jari tangan dan siku. Nyeri bertambah dalam beberapa jam yang disertai

keluhan demam serta peningkatan angka leukosit (white blood cell) dan sedimen

rate.Serangan akut gout ini dapat terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa

minggu. Hampir 60% penderita mengalami serangan ulang setelah satu tahun.
4. Manifestasi klinis

Secara klinis ditandai dengan adanya atritis, tofi, dan batu ginjal. Yang penting

diketahui bahwa asam urat sendiri tidak akan mengakibatkan apa-apa. Yang

menimbulkan rasa sakit adalah terbentuk dan mengendapnya kristal monosodium

urat. Pengendapannya dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Oleh sebab itu, sering

terbentuk tofi pada daerah-daerah telinga, siku, lutut, dorsum pedis, dekat tendo

Achilles pada metatarsofalangeal digiti I, dan sebagainya.

Pada telinga misalnya, karena permukaannyayang lebar dan tipis serta mudah

tertiup angin, kristal-kristal tersebut mudah mengendap dan menjadi tofi. Demikian

pula di dorsum pedis, kalkaneus, dan sebagainya karena sering tertekan oleh sepatu.

Tofi itu sendiri terdirri dari kristal-kristal urat yang diklilingi oleh benda-benda

asing yang meradang, termasuk sel-sel raksasa. Serangan seringkali terjadipada

malam hari. Biasanya sehari sebelum pasien tampak segar bugar tanpa keluhan.

Tiba-tiba tengah malam terbangun karena rasa sakit yang hebat sekali.

Daerah khas yang sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari kaki sebelah

dalam, disebut podagra. Bagian ini tampak membengkak, kemerahan, daan nyeri

sekali bila disentuh. Rasa nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu, lalu

menghilang. Sedangkan tofi itu sendiri tidak sakit, tapi dapat merusak tulang. Sendi

lutut juga merupakan tempat predileksi kedua untuk serangan ini.


Tofi merupakan penimbunan asam urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia,

tulang rawan, bursa dan jaringan lunak. Sering timbul tulang rawan telinga sebagai

benjolan keras. Tofi ini merupakan menifestasi lanjut dari gout yang timbul 5-10

tahun setelah serangan artritis akut pertama.

Pada ginjal akan timbul sebagai berikut:

a. Mikrotofi, dapat terjadi di tubuli ginjal dan menimbulkan nekrosis

b. Pielonefritis kronis

c. Tanda-tanda arterosklerosis dan hipertensi

d. Tidak jarang ditemukan pada pasien dengan kadar asam urat tinggi dalam

darah,

Nefrolitiasis karena endapan asam urat tanpa adanya riwayat gout, yang

disebut hiperurisemia asimtomatik. Pasien demikian sebaiknya dianjurkan

mengurangi kadar asam uaratnya karena menjadi faktor resiko dikemudian

hari ini dan kemudian terbentuknya batu asam urat di ginjal.

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Serum asam urat

Umumnya meningkat, diatas 7,5 mg/dl. Pemeriksaan ini mengindikasikan

hiperuricemia, akibat peningkatan produksi asam urat atau gangguan

ekskresi.

b. Angka leukosit
Menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 20.000/mm3 selama

serangan akut. Selama periode asimtomatik angka leukosit masih dalam

batas normal yaitu 5000 – 10.000/mm3.

c. Eusinofil Sedimen rate (ESR)

Meningkat selama serangan akut. Peningkatan kecepatan sedimen rate

mengindikasikan proses inflamasi akut, sebagai akibat deposit asam urat di

persendian.

d. Urin spesimen 24 jam

Urin dikumpulkan dan diperiksa untuk menentukan produksi dan ekskresi

dan asam urat. Jumlah normal seorang mengekskresikan 250 - 750 mg/24 jam

asam urat di dalam urin. Ketika produksi asam urat meningkat maka level

asam urat urin meningkat. Kadar kurang dari 800 mg/24 jam

mengindikasikan gangguan ekskresi pada pasien dengan peningkatan serum

asam urat.Instruksikan pasien untuk menampung semua urin dengan peses

atau tisu toilet selama waktu pengumpulan. Biasanya diet purin normal

direkomendasikan selama pengumpulan urin meskipun diet bebas purin pada

waktu itu diindikasikan.

e. Analisis cairan aspirasi dari sendi yang mengalami inflamasi akut atau

material aspirasi dari sebuah tofi menggunakan jarum kristal urat yang tajam,

memberikan diagnosis definitif gout.

f. Pemeriksaan radiografi

Dilakukan pada sendi yang terserang, hasil pemeriksaan akan menunjukkan

tidak terdapat perubahan pada awal penyakit, tetapi setelah penyakit


berkembang progresif maka akan terlihat jelas/area terpukul pada tulang yang

berada di bawah sinavial sendi.

6. Penatalaksanaan

Kolkisin adalah suatu agen anti radang yang biasanya dipakai untuk mengobati

serangan gout akut, dan unluk mencegah serangan gout Akut di kemudian hari.

Obat ini juga dapat digunakan sebagai sarana diagnosis. Pengobatan serangan akut

biasanya tablet 0,5 mg setiap jam, sampai gejala-gejala serangan Akut dapat

dikurangi atau kalau ternyata ada bukti timbulnya efek samping gastrointestinal.

Dosis maksimurn adalah 4-8 rng, tergantung dari berat pasien bersangkutan.

Beberapa pasien mengalami rasa mual yang hebat, muntah-muntah dan diarhea, dan

pada keadaan ini pemberian obat harus dihentikan.

Gejala-gejala pada sebagian besar pasien berkurang dalam waktu 10-24 jam

sesudah pemberian obat. Kolkisin dengan dosis 0,5-2 mg per hari ternyata cukup

efektif untuk mencegah serangan gout berikutnya secara sempurna atau mendekati

sempurna. Penggunaan kolkisin setiap hari cenderung memperingan episode gout

berikutnya, kalau memang serangan gout terjadi lagi. Penggunaan kolkisin jangka

panjang tak memperlihatkan efek samping yang berat.

Fenilbutazon, suatu agen anti radang, dapat juga digunakan unluk mengobati artritis

gout akut. Tetapi, karena fenilbutazon menimbulkan efek samping, maka kolkisin

digunakan sebagai terapi pencegahan. Indometasin juga cukup efektif.

Terdapat tiga obat lain yang berguna untuk terapi penunjang atau terapi

pencegahan. Alopurinol dapat mengurangi pembentukan asam urat. Dosis 100-400

mg per hari dapat menurunkan kadar asam urat serum. Probenesid dan Sulfinpirazin
merupakan agen urikosurik, artinya mereka dapat menghambat proses reabsorpsi

urat oleh tubulus ginjal dan dengan dernikian meningkatkan ekskresi asam urat.

Pemeriksaan kadar asam urat serum berguna untuk menentukan etektivitas suatu

terapi.

Mungkin dianjurkan untuk menghindari makanan yang mengandung kadar purin

yang tinggi. Di antara jenis makanan ini termasuk jerohan seperti hati, ginjal, roti

manis dan otak. Sardin dan anchovy (ikan kecfi semacarn haring) sebaiknya

dibatasi. Untuk membuang tofi yang besar, terutama kalau tofi mengganggu

gerakan sendi, maka dilakukan pembedahan.

7. Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi akibat gout arthritis antara lain :

a. Deformitas pada persendian yang terserang

b. Urolitiasis akibat deposit kristal urat pada saluran kemih

c. Nephrophaty akibat deposit kristal urat dalam interstisial ginja


B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses

keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian,

diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1. PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk

itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga

dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses

keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:

A. Pengumpulan Data

1) Identitas Klien : Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa,

status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, no. register, tanggal MRS, tanggal

pengkajian, diagnosa medis.

2) Keluhan Utama

Keluhan utama adalah keluhan atau gejala yang menyebabkan pasien berobat

atau keluhan atau gejala saat awal dilakukan pengkajian pertama kali

Pada umunya keluhan utama gout athritis adalah nyeri pada daerah sendi

yang mengalami masalah dan terdapat benjolan. Untuk memperoleh

pengkajian yang lengkap tentang nyeri klien, perawat dapat menggunakan

metode PQRST.

 Provoking incident : Hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah

peradangan.
 Quality Of Painn: Nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien bersifat

menusuk.

 Region,Radition,Relief : Nyeri dapat menjalar atau menyebar , dan nyeri

terjadi di sendi yang mengalami masalah.

 Severity(scale) Of Pain: Nyeri yang dirasakan ada diantara 1-3 pada

rentang skala pengukuran 0-4.

 Time : Berapa lama nyeri berlangsung,kapan,apakah bertambah buruk

pada malam hari atau siang hari.

3) Riwayat Sekarang
Riwayat Sekarang adalah factor yang melatar belakangi atau hal-hal yang
mempengaruhi atau mendahului keluhan, bagaimana sifat terjadinya gejala
(mendadak, perlahan-lahan, terus menerus atau berupa serangan, hilang
timbul atau berhubungan dengan waktu), lokalisasi gejalanya dimana dan
sifatnya bagimana (menjalar, menyebar, berpindah-pindah atau menetap).
Bagimana berat ringannya keluhan dan perkembangannya apakah menetap,
cenderung bertambah atau berkurang, lamanya keluhan berlangsung atau
mulai kapan serta upaya yang telah dilakukan apa saja lain-lain.
Biasanya pada pasien Gout Artritis Klien mengatakan nyeri pada persendian dan

keterbatasan gerak.

4) Riwayat kesehatan masa lalu.


Riwayat keperawatan masa lalu meliputi riwayat pemakaian jenis obat ,
Riwayat atau pengalaman masa lalu tentang kesehatan atau penyakit yang
pernah dialami, atau riwayat masuk rumah sakit atau riwayat kecelakaan
Biasanya pada pasien Gout Artritis Klien mengatakan tidak memiliki keluhan

penyakit yang sama sebelumnya.


5) Riwayat penyakit keluarga.
Riwayat penyakit keluarga yakni bagaiman riwayat kesehatan atau
keperawatan yang ada dimiliki salah satu anggota keluarga, apakah ada yang
menderita penyakit seperti yang dialami klien atau mempunyai penyakit
degeneratif lainnya.
Biasanya pada pasien Gout Artritis Klien mengatakan adanya keluarga

dengan gejala yang sama

6) Diagnosis Medis dan Terapi

B. Pola-Pola Fungsi Kesehatan

Pola pengkajian fungsional menurut Gordon adalah bahwa pola fungsional

Gordon

ini mempunyai aplikasi luas untuk para perawat dengan latar belakang praktek

yang beragam model pola fungsional kesehatan terbetuk dari hubungan antara

klien an lingkungan dan dapat diguakn untuk perseorangan, keluarga, dan

omunitas. Setiap pola merupakan suatu rangkaian perilaku yang mmbantu

perawat mengumpulkan, mengorganisasikan dan memilah-milah data. (Potter,

1996 : 15).

1. Pola Persepsi Kesehatan/ Penanganan Kesehatan, Menggambarkan persepsi


klien dan penanganan kesehatan dan kesejahteraan
Biasanya pada pasien Gout ArtritisKeluhan utama nyeri pada pada sendi,
yang perlu di kaji dalam pola ini adalah
 Pencegahan penyerangan dan bagaimana cara mengatasi atau

mengurangi serangan.

 Riwayat penyakit Gout pada keluarga

 Obat utntuk mengatasi adanya gejala


2. Pola Nutrisi atau Metabolik, menggambarkan masukan nutrisi; keseimbangan
cairan dna elektrolit, kondisi kulit, rambut dan kuku
Makan : Pada umumnya pasien gout artritis diberikan diit rendah putin
pantangan makanan kaya protan.
Minum : Kaji jenis dan frekuensi minum sesuai dengan indikasi
3. Pola Eliminasi, menggambarkan pola fungsi ekskresi usus, kandung kemih
dan kulit
BAK : Kaji frekwensi, jumlah, warna dan bau.
BAB : Kaji frekwensi, konsistensi dan warna
4. Pola Aktivitas atau Latihan, menggambarkan pola latihan dan aktivitas,
fungsi pernapasan dan sirkulasi
Biasanya pasien gout artritis pada saat melakukan aktivitas mengalami
keterbatasan tentang gerak, kontrktur / kelainan pada sendi.
5. Pola Tidur atau Istirahat, menggambarkan pola tidur, istirahat, dan persepsi
tentang tingkat energi
Kaji pola kebiasaan pasien pada saat istirahta tidur dirumah maupun di rumah sakit.
Biasanya pada pasien Gout Artritis

6. Pola Kognitif atau Perseptual, menggambarkan pola pendengaran,


penglihatan, pengecapan, perbaan, penghidu, persepsi nyeri, bahasa, memori
an penggambaran keputusan.
Biasanya pada pasien Gout Artritis

7. Pola Persepsi Diri/ Konsep Diri, menggambarkan sikap tentang diri sendiri
dan persepsi terhadap kemampuan.
Biasanya pada pasien Gout Artritis

8. Pola peran atau hubungan, menggambarkan keefektifan peran dan hubungan


dengna orang terdekat.
Biasanya pada pasien Gout Artritis

9. Pola Seksualitas atau Reproduksi


Biasanya pada pasien Gout Artritis mengalami gangguan pada saat melakukan

aktivitas sexual akibat kekauan sendi.

10. Pola Koping atau Toleransi Stres, menggambarkan kemampuan untuk


menangani stres dan penggunaan sistem pendukung
Biasanya pada pasien Gout Artritis

11. Pola Nilai atau kepercayaan: meggambarkan spiritualitas, nilai sistem


kepercayaan dan tujuan dalam hidup
Biasanya pada pasien Gout Artritis

C. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik berguna untuk mengetahui data subjektif dari klien. Pada
pemeriksaan fisik abdomen sistem yang sering digunakan adalah inspeksi,
auskultasi, palpasi dan perkusi (IAPP). Tempatkan klien pada posisi supine.
Kontur dan simetrisitas dari abdomen diinspeksi dengan mengidentifikasi
penonjolan lokal, distensi, atau gelombang peristaltik. Auskultasi dilakukan
sebelum perkusi dan palpasi (yang dapat meningkatkan motilitas usus dan
dengan demikian merubah bising usus). Karakter, lokasi dan frekuensi bising
usus dicatat. Palpasi digunakan untuk mengidentifikasi massa abdomen atau
area nyeri tekan.

Biasanya pada pasien Gout Artritis

7) Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
 Inspeksi : ditemukan keseimbangan rongga dada, tidak sesak napas
dan tidak menggunakan alat bantu napas.
 Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri.
 Perkusi : suatu resonan pada seluruh lapang paru
 Auskultasi : suara napas lemah atau menghilang pada sisi yang
sakit. Biasanya mendapatkan suara ronkhi/ mengi.
b. B2 (Blood)
b. CRT < 1 detik, keringat dingin, pusing karena nyeri, suara S1 dan S2
tunggal.
c. B3 (Brain)
Adanya sianosis, sklera tidak ikterik, konjungtifa anemis.
d. B4 (Bladder)
Produksi urin dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem
perkemihan kecuali penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke ginjal
berupa pielonefritis, batu asam urat, dan gagal ginjal kronik.
e. B5 (Bowel)
Kebutuhan eliminasi terganggu, sulit BAB. Klien biasanya mual, dan tidak
nafsu makan pada klien yang memakan obat analgesic dan
anthiperurisemia.
f. B6 (Bone)
Adanya nyeri tekan pada sendi kaki dan tangan yang membengkak,
hambatan gerak sendi biasanya tambah berat.

D. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik

a. Asam urat meningkat


b. Sel darah putih dan sedimentasi eritrosit meningkat (selama fase akut)
c. Pada aspirasi sendi ditemukan asam urat
d. Pemeriksaan urin
e. Rontgen

E. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


1. Medis
2. Keperawatan
2. DIAGNOSA

1) Nyeri akut b/d radang sendi dengan penumpukan kristal urat di jaringan
sinovial
2) Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri persendian
3) Gangguan integritas kulit b/d tophy
4) Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakit gout

3. INTERVENSI
Diagnosa i: Nyeri akut b/d radang sendi dengan penumpukan kristal urat
di jaringan sinovial
Noc
 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
menejemen nyeri
 Mampu mengenal nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri)
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
 Tanda vital dalam rentang normal
 Nyeri dapat benar-benar hilang
Nic
 Kaji secara komperhensif tentang nyeri : lokasi, karakteristik dan
onset, durasi, frekuensi, dan kualitas)
 Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan
 Gunakan komuniokasi teurapeutik agar klien dapat mengekspresikan
nyeri
 Beri dukungan terhadap klien dan keluarga
 Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pasien terhadap
nyeri
 Beri informasi tentang nyeri
 Anjurkan pasien untuk memonitor sendiri nyeri
 Berikan analgesik sesuai order
 Tutunkan dan hilangkan faktor yang dapat meningkatkan nyeri

2) Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri persendian

Noc
 Rentang pergerakan sendi dengan gerakan atas inisiatif sendir
 Klien meningkat dalam aktivitas fisik
 Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
Nic
 Beri alat bantu jika pasien memerlukan untuk mobilisasi
 Kaji klien dalam mobilisasi
 Penggunaan pergerakan tubuh aktif atau pasif untuk
mempertahankan atau memperbaiki fleksibilitas sendi
 Meningkatkan dan membantu berjalan untuk mempertahankan atau
memperbaiki fungsi tubuh volunter dan autonom selama perawatan
serta pemulihan dari sakit atau cidera.

3) Kerusakan itegritas kulit b/d tophy (penumpukan monosidium urat dalam


jaringan)

Nic
 Observasi ekstremitas (warna, bengkak, tekstur)
 Jelaskan keluarga tentang tanda kerusakan kulit
 Catat perubahan kulit/membran mukosa
 Meminimalkan penekanan pada bagian-bagian tubuh
Noc
 Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (baik sensasi,
elastisitas,temperatur, hidrasi, dan pigmentasi)
 Tidak ada luka/lesi pada kulit
 Perfusi jaringan baik
 Mampu melindungi kulit dan mempertahankan keadaan kulit
dengan baik

4) Kurang pengetahuan b/d kurang informasi terhadap penyakit gout

Noc, diharapkan pasien dapat :


 Familiar dengan proses penyakit gout
 Mendiskripsikan proses penyakit gout
 Mendeskripsikan faktor penyebab dan faktor resiko penyakit gout
 Mendeskripkikan efek penyakit, tanda dan gejala gout
 Mendeskripsikan komplikasi gout
 Mengetahui tindakan pencegahan penyakit gout
 Mengetahui pencegahan untuk mencegah terjadinya komplikasi
penyakit gout
Nic
 Mengobservasi kesiapan klien untuk mendengar (siap mental, emosi
dsb)
 Menentukan tingkat pengetahuan klien sebelumnya
 Menjelaskan proses penyakit gout (pengertian, etiologi, tanda &
gejal, serta transmisi)
 Diskusikan perubahan gaya hidup yang bisa mencegah komplikasi
gout
 Diskusikan tentang pilihan terapi atau perawatan gout
 Jelaskan secara rasional tentang pengelolaan terapi atau perawatan
yang dianjurkan
 Anjurkan pasien untuk mencegah dan meminimalkan efek samping
dari penyakitnya
 Ajarkan dan informasikan pengobatan gout (karakteristik obat,
dosis, rute, durasi obat)
 Informasikan cara minum obat, menyimpan obat dsb.

4. EVALUASI

1. Tidak terjadi komplikasi


2. Nyeri terkontrol
3. Tidak terjadi efek samping akibat obat-obatan yang digunakan
4. Memahami jadwal pengobatan dan perawatan di rumah
BAB III
PHATWAY

Diet tinggi purin Peningkatan pemecahan Asam urat dan serum


sel

Ketabolisme purin Asam urat dalam sel keluar Tidak di ekskresi melalui
urine

Asam urat dalam serum Kemampuan ekskresi asam Penyakit ginjal


meninggkat (hiperuresemia) urat terganggu/menurun (glomerulonefritis dan
gagal ginjal
Hipersaturasi asam urat Peningkatan asam laktat
dalam plasma dan garam sebagai produk sampingan Konsumsi alkohol
urat dicairan tubuh metabolisme

Terbentuk kristal Dibungkus oleh berbagai Merangsang neutrofil


monosodium urat (MSU) pritein (termasuk IgG) (leukosit PMN)

Di ginjal Dijaringan lunak dan Terjadi fagositosis kristal


persendian oleh leukosit

Penumpukan dan
pengendapan MSU Penumpukan dan Terbntuk fagolisosom
pengendapan MSU

Pembentukan batu ginnjal Merusak selaput protein


asam urat Pembentukan tophus kristal

Proteinuria, hipertensi Respon inflamasi Terjadi ikatan hydrogen


ringan, urin asam & pekat meningkat antara permukaan kristal
dengan membran lisosom
Resiko ketidak seimbangan
volume cairan Peningkatan kerusakan
jaringan

hipertermi Pembesaran dan


penonjola sendi

Nyeri Hebat Deformitas sendi


Gangguan Rasanyaman
Gangguan Pola Tidur
Kontraksi sendi Kekakuan sendi

Kerusakan itegritas BAB IV


Fibrosis dan/atau ankilosis Hambatan mobilitasfisik
jaringan tulang
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. D

No. RM : 03-22-08
Ruang : Edelweis 04
Tgl/ jam MRS : 06 Noember2017
Tgl pengkajian : 08 Noember2017
Dignosa medis : Gout Atritis Akut, CKD

1. PENGKAJIAN
I. IDENTITAS
a. Biodata Klien
Nama : TN. DH
Jenis kelamin : laki-laki
Tanggal lahir/Umur : 21 November 1957 (59 tahun)
Status Pernikahan : Sudah menikah
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Pensiunan Polisi
Alamat : Mitra
b. Penanggung Jawab
Nama : Ny.A
Jenis kelamin : Perempuan
Umur :50 tahun
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Wiraswasta
Hubungan dengan klien : Istri klien
II. RIWAYAT PENYAKIT
a. Keluhan Utama:
Klien mengatakan lemas dan nyeri pada sendi.
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
Klien menyatakan sudah nyeri dibagian tangan dan pinggang sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit. Klien menyatakan sebelumnya mengkonsumsi
daging sapi. Klien juga mengatakan badannya lemas dan tak bisa jalan, rasa
mualdan tidak ada muntah, serta ntake menurun
c. Riwayat Penyakit dahulu
Klien mengatakan sebelumnya 6 bulan yang lalu pernah masuk rumah sakt
dengan keluhan yang sama, pasien memiliki riwayat penyakit gnjal
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami DM,
Hipertensi, dan penyakit menurun lainnya.

III. DATA MEDIK


Dikirim oleh : IGD

Diagnosa Medik :
Saat masuk : Gout Athritis, hiperurecemia, CKD, genera weakness
Saat dikaji : Gout Athritis, hiperurecemia, CKD, genera weakness

IV. KEADAAN UMUM


1. KEADAAN SAKIT : Sedang
Alasan : Lemah
Alat medic : IVFD Ns 0,9 % 10 gtt/m

2. TANDA-TANDA VITAL :

Keadaan Umum : klien lemah, dan susah tidur

Kesadaran : composmentis
Skala Coma Glasgow :
 Respon motorik :6
 Respon bicara :5
 Respon membuka mata : 4
Jumlah : 15
Kesimpulan :.
Tekanan darah : 130/80 mmHg.
Suhu : 36,2 0C – axilla.
Nadi : 88 x/mnt
Pernafasan : 20 x/mnt

Jenis : dada

3. Pengukuran

i. Lingkar lengan atas : 26 cm

ii. Berat badan : 52 kg MRS.

4. Genogram

Keterangan
``` : Laki-laki
: Perempuan
:Pasien sendir

+ :Meninggal
V. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN
1. POLA PERSEPSI KESEHATAN DAN PEMELIHARAAN
KESEHATAN

Riwayat penyakit yang di alami :


Keluarga mengatakan kesehatan merupakan hal yang penting, jika ada
keluarga yang sakit maka akan segera dibawa ke pelayanan kesehatan
terdekat.
 Data subjektif.
a. Keadaan sebelum sakit
Klien sudah mengetahui tentang penyakit yang di deritanya dan
sudah pernah masuk rumah sakit sebelumnya
b. Keadaan sejak sakit.
Klien mengetahui bahwa gangguan pada dirinya bertambah lagi
selain gejala yang dahulu.
 Data objektif
observasi
o Kebersihan rambut : bersih
o Kulit kepala : kering
o Kebersihan kulit : Jelek
o Hygiene rongga mulut : bersih
o Kebersihan genetalia : bersih
o Kebersihan anus : normal

2. KAJIAN NUTRISI METABOLIK

 Data subjektif

a) keadaan sebelum sakit :


 Klien makan 3x/ hari dengan menu bervariasi seperti nasi, sayur
mayur (kadang) dan lauk pauk. Klien tidak ada alergi terhadap
makanan tertentu.
 Klien minum air putih 4-5 gelas/hari
b) sejak sakit :
Klien makan 3 kali sehari dengan menu makanan yang disediakan
oleh pihak rumah sakit selain ditambah makan roti., klien hanya
mampu menghabiskan setengah porsi makanan yang disajikan.klien
mengatakan semenjak masuk rumah sakit napsu makan pasien
berkurang

 Data objektif

1. Observasi
Pasien makan yang disediakan rumah sakit, Porsi makan tidak
dihabiskan
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan rambut : bersih beruban
b. Hidrasi kulit : Kering
c. Palpebrae : ikterus
d. Conjungtiva : anemis (-)
e. Sclera : icterus (-)
f. Hidung : bersih
g. Rongga mulut : bersih gusi : tidak berdarah
h. Gigi geligi : karies gigi palsu : ada
i. Kemampuan mengunyah keras : kurang
j. Lidah : cukup bersih tonsil : tidak ada
peradangan
k. Pharing : tidak ada peradangan
l. Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
m. Kelenjar parotis : normal kelenjar tiroid :
tidak ada pembesaran
n. Abdomen
- Inspeksi : bentuk, datar, lemas
Bayangan vena : tidak tampak

Benjolan vena : tidak tampak


- Palpasi : tanda nyeri umum : tidak ada, distensi (-)
Massa : tidak ada
Hidrasi kulit : cukup lembab
Hepar : tidak teraba
Lien : tidak teraba
- Perkusi :
Asites : negative
 Kulit :
o Edema : negative
o Icteric : negative
o Tanda-tanda radang : negative

 Lesi : negative
3. Pemeriksaan diagnostic
a. Laboratorium (20 – 10 -2017)
Hematologi rutin normal
i. WBC : 14.44 x10̂3/uL 4.00-10.00
ii. RBC : 4.10 x10̂3/uL 4.70-6.10
iii. HGB : 12.5 g/dL 12.0-16.0
iv. HCT : 35.9 % 42.0-52.0
v. PLT : 180 x10̂3/uL 150-450

o Terapi
IVFD Ns 0,9 % 10 gtt/m
Recolfar 2x1
Omeprazole 2x20 mg
Donperidone 3x10 mg
3. KAJIAN POLA ELIMINASI

i. Data subjektif

1. Keadaan sebelum sakit :


Klien BAB 1x,padat kuning kecoklatan, tidak ada masalah
dalam BAB seperti nyeri saat BAB, paien BAK 3- 4x/hari
dengan urine sedikit warna kuning keruh. Pengeluaran keingat
yang kurang
2. Keadaan sejak sakit : selama dirawat di rumah sakit pasien baru
1x BAB dengan konsistensi padat warna kecoklatan, dan BAK
2-3x/ hari
ii. Data Objektif

1. Observasi:
Pasien tampak BAB baru 1x, BAK 2-3x dalam sehari di kamar
mandi dengan bantuan keluarga
2. Pemeriksaan fisik :

a. Peristaltic usus : x/mnt

b. Nyeri ketuk ginjal : ada

c. Anus :

i. Peradangan : tidak ada


ii. Hemorrhoid : tidak ada
iii. Massa tumor : tidak ada
4. KAJIAN POLA AKTIVITAS DAN LATIHAN

 Data subjektif
Aktivitas Sebelum MRS Setelah MRS
Makan Mandiri Di bantu
Minum Mandiri Di bantu
Berdiri Mandiri Di bantu
Mandi Mandiri Di bantu
Berpakaian Mandiri Di bantu
Buang air besar Buang air kecil Mandiri Di bantu
Mobilisasi di tempat tidur Mandiri Di bantu
Ambulasi Mandiri Di bantu

5. KAJIAN POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT

 Data subjektif

1. Keadaan sebelum sakit :


Klien mengatakan pasien tidur cukup dengan waktu tidur ±6-7
jam/hari (tidur pukul 23.00 bangun 06.00)) dengan penerangan
yang cukup, selimut pada malam hari, dan tidak biasa tidur siang
2. Keadaan sejak sakit :

Pasien mengatakan jam tidur yang kurang karena gelisah dan


cemas sehinggaa tidak bisa tertidur dengan nyenyak.

6. KAJIAN POLA PERSEPSI KOGNITIF

 Data subjektif

1. Keadaan sebelum sakit : Sebelum sakit daan akhirnya pensiun


klien adalah seorang kapolsek didaerahnya bekerja dan beliau
selalu beraktifitas seperti biasanya, tidak ada masalah dalam
penglihatan, tidak menggunakan kacamata, pendengaran
penciuman, masih baik, dan masih mampu mengingat kejadian
dimasa lampau

2. Keadaan sejak sakit : Klien selalu menahan nyeri ketika di


injeksi, pasien berbicara masih jelas dan dapat dimengerti,

 Data objektif

Pasien hanya berbaring ditempat tidur, saat dipanggil dan diajak


berkomunikasi masih baik

7. KAJIAN POLA PERSEPSI DAN KONSEP DIRI

 Data subjektif
1. Keadaan sebelum sakit :
Sebelum sakit klien tampak seperti byasa, memenuhi
kebutuhannya dengan mandiri, sebelum pensiun klien masih aktif
bekerja berangkat kantor dipagi hari dan pulang rumah pada
malam hari. Klien mengatakan bangga dengan pekerjaannya

2. Keadaan sejak sakit.


Selama sakit klien mengalami kecemasan, penampilan
berkurang, sering mengalami nyeri, dan malas makan. Klien
pasrah dengan penyakit yang dideritanya dan menyerahkan
tanggung jawab kepada dokter, perawat dan petugas kesehatan
yang ada mengenai penanganan penyakit yang dideritanya

 Data Objektif
 Kontak mata : baik
 Rentang perhatian : baik
 Suara dan cara bicara : baik
8. KAJIAN POLA PERAN DAN HUBUNGAN DENGAN SESAMA

 Data Subjektif
1. Keadaan sebelum sakit :
Pasien mengatakan klien klien merupakaan orang yang suka
berbaur, masih aktif melakukan kegatan kegiatan kepolisisn
walau sudah pesiun.
2. Keadaan sejak sakit :
Klien masih berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat, dan
pernnya terganggu karena harus banyak istirahat akibat nyeri
sendi yang sering kambuh. Anak dan istri klien selalu
mendampingi klien dalam kondisi sakit saat ini
 Data Objektif
Klien selalu mendapat perhatian dari keluarga, terutama dari anak dan
istrinya

9. KAJIAN POLA REPRODUKSI-SEKSUALITAS

 Data subjektif
Tdak ada masalah dalam pola ini, pasien merupakan seorang laki
laki dan memiliki 3 orang anak

10. KAJIAN POLA MEKANISME KOPING DAN TOLERANSI


TERHADAP STRES

 Data subjektif

1. Keadaan sebelum sakit :


Pasien mengatakan beliau adalah pensiunan polisi, jika dirumah
klien hanya sering beristirahat dan berbaur dengan keluarga
dirumah
2. Keadaan sejak sakit :
Dalam merespon nyeri klien pasti dalam kondisi kurang nyaman
dan tidak bisa tidur dengan nyenyak

11. KAJIAN NILAI KEPERCAYAAN

 Data Subjektif
Klien mengatakan beragama kristen protestan, sebelum sakit klien
aktif beribadah digereja setelah sakit klien mengatakan sakit yang ia
derita diserahkan sepenuhnya kepada tuhan karena ia percaya Tuha
pasti tidak akan memberikan ujian atau cobaab diluar batas
kemampuan setiap orang, dia selalu berdoa berharap kesemuhan dari
Tuhan
 Data Objektif :
Pasien dan keluarga menghrapkan kesembuhan dan pasrah kepada
tuhan, dan tmpak sesekali berodoa

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Nyeri akut b/d radang sendi dengan penumpukan kristal urat di jaringan
synovial
2) Intoleransi Aktifitas b/d kelemahan fisik
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Namaa Pasien : TN. “D” Ruangan: Edlweis 04
Umur : 59 tahun
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
Keperawatan Hasil
1. Nyeri NOC : NIC:
Definisi :  Pain Level (1400) Manajemen
Pengalaman sensori  Pain Control Nyeri
yang tidak  Lakukan pengkajian
menyenangkan yang Kriteria Hasil: nyeri komprehensif
yang meliputi
muncul akibat  Mampu mengontrol
PQRST
kerusakan jaringan nyeri (tahu penyebab  Gunakan strategi
yang aktual atau nyeri, mampu komunikasi trapeutik
untuk mengetahui
potensial atau menggunakan teknik
pengaaman nyeri
digambarkan dalam non farmakologi untuk dan sampaikan
hal kerusakan mengurangi nyeri, penerimaan nyeri
sedemikian rupa mencari bantuan) pada pasien terhadap
nyeri
(International  Melaporkan bahwa
Association for the nyeri berkurang dengan
(6680) Monitor TTV
Study of Pain); awitan menggunakan
 Monitor tekanan
yang tiba-tiba atau menejemen nyeri
darah, nadi, suhu dan
lambat dari intensitas  Mampu mengenal nyeri
status pernafasan
ringan hinngga berat (skala, intensitas,
dengan cepat
dengan akhir yang frekuensi, dan tanda
dapat diantisipasi atau nyeri)
diprediksi dan  Menyatakan rasa
berlangsug >6 bulan nyaman setelah nyeri
berkurang
 Tanda vital dalam
rentang normal
 Nyeri dapat benar-
benar hilang

Domain: kondisi kesehatan


yang dirasakan (v)
Kelas- status Gejala (v)
Edisi pertama 1997,revisi
2004, 2008

Setelah diberikan tindakan


keperawatan klien dapat
melakukan aktivitas sendiri

2. Intoleransi Aktifitas NOC: NIC:


Definisi :  Energy consevation Manajement
ketidak cukupan  Activity tolerance lingkungan (6480)
energy psikologis atau  Self care : ADLs
fisiologis untuk  Ciptakan lingkungan

mempertahankan atau Kriteria hasil: yang nyaman bagi

menyelesaikan  Berpartisipasi dalam pasien

aktivitas kehidupan aktivitas fisik tanpa


Bantuan perawatan diri
sehari-hari yang harus disertai peningkatan
(1800)
atau yang ingin tekanan darah, nadi dan
dilakukan RR
 Monitor kemampuan
 Mampu melakukan
perawatan diri secara
aktivitas sehari-hari
mandiri
(ADLs) secara mandiri
 Dorong pasien untuk
 TTV normal
melakukan aktivitas
normal sehari-hari
Domain : fungsi kesehatan (I)
sampai batas
Kelas : pemeliharaan energy
kemampuan
(A)
Edisi kedua 2000, revisi 2004  Ajarkan keluarga untuk
mendukung
Setelah diberikan tindakan kemandirian dengan
keperawatan klien dapat membantu hanya ketika
melakukan aktivitas sendiri pasien tak mampu
melakukan (perawatan
diri)

Manajement energy

 Monitor
intake/asupan nutrisi
untuk mengetahui
sumber energy yang
adekuat
 Anjurkan aktivitas
fisik (misalnya
ambulasi,ADL) sesuai
dengan kempuan
(energy) pasien
 Lakukan ROM
aktiv/pasif untuk
menghilangkan
ketegangan otot
4. IMPLEMENTASI & EVALUASI KEPERAWATAN
Namaa Pasien : TN. “D” Ruangan: Edlweis 04
Umur : 59 tahun
Hari/tanggal Implementasi Evaluasi
dan jam
15. 00 : mengobservasi ttv S:
Rabu ,08-11- Td: 160/90 Pasien mengatakan
2017 N : 90x/ menit nyeri dada
R : 20x/ menit Nyeri ada pada skala 4
S: 36 O:
Melakukan pengkajian nyeri yang Kes: CM
meliputi Td :130/80
P : Nyeri saat beraktivitas N :98x/m
Q: nyeri tertusuk- tusuk S :36.2
R: Nyeri hanya satu tempat R :22x/m
S: Rentang skala 0-10
Nyeri yang di rasakan ps skala 4 A:
T: Nyeri pada saat beraktivitas nyeri Setelah dilakukan
hilang timbul thenik relaksai nyeri
16.00 : Mengecek keadaan umum pasien berkurang dengan skala
16.15 : Melayani pemberian obat injeksi 2
- omeprazole P:
- Recolfar lanjut intervensi
16 :30: Mengjarkan tehnik relaksasi
18.00 : Melayani pemberian Obat minum
19.30 : Menganjurkan Pasien untuk
beristirahat

Kamis,09- 08.00: Mengobservasi Kesadaran umum PS S:


11,2017 pasien mengatakan
08.15: Mengukur TTV pasien badan lemas
Td: 160/90
N : 90x/ menit O:
R : 20x/ menit Td:160/90
S: 36 N : 90
12.00 : Menganjurkan Pasien beritirahat yang S :36
cukup R :20
 Mengnjuarkan keluarga untuk mendukung
kemandirian dengan membantu hanya A:
ketika pasien tak mampu melakukan masalah belum teratasi
(perawatan diri) P:
 Menganjurkan melakukan aktivitas fisik lanjut intervensi
(misalnya ambulasi,ADL) sesuai dengan
kempuan (energy) pasien
Lakukan ROM aktiv/pasif untuk
menghilangkan ketegangan otot.

12.00 : Melayani pemberian obat minum


pasien

14.00 : Melakukan Pemeriksaan EKG

Jumat 07.30 Mengobservasi Kesadaran Umum S:


10.11.2017 10.00 : Mengukur ttv Pasien mengatakan
Td: 120/90 sudah tidak nyeri
N : 90x/ menit
R : 20x/ menit O:
S: 36 Kes: CM
13.00 :Melakukan pengukuran Nyeri yang Td :120/90
di rasakan ps skala 0 N :90x/m
13.30 : Av Infus pada pasien S :36
R :20x/m

A:
Maslah Teratasi
P:
Intervensi Di hentikan