Vous êtes sur la page 1sur 22

STRUKTUR BAJA 1

MODUL 5
Sesi 2
Balok Terlentur (Flexural Members)
Dosen Pengasuh :
Ir. Thamrin Nasution
Materi Pembelajaran :
9. Keruntuhan Tekuk Torsi Lateral.
 Balok bentang pendek, keruntuhan plastis.
 Balok bentang menengah, keruntuhan inelastis.
 Balok bentang panjang, keruntuhan elastis.
10. Contoh Soal GELAGAR.
11. Lendutan Gelagar.
12. Lentur Dua Arah/Serong.
13. Contoh soal Struktur Gording.

Tujuan Pembelajaran :
 Mahasiswa mengetahui dan memahami tentang keruntuhan tekuk torsi lateral,yaitu
keruntuhan plastis, keruntuhan inelastis dan keruntuhan elastis.
 Mahasiswa mengetahui dan memahami cara perencanaan/evaluasi balok yang
mengalami keruntuhan tekuk torsi lateral.
 Mahasiswa mengetahui dan memahami mengenai lendutan pada gelagar, lentur dua
rah/serong.
 Mahasiswa mengetahui dan memahami cara perencanaan dan evaluasi struktur
gording.

DAFTAR PUSTAKA
a) Agus Setiawan,”Perencanaan Struktur Baja Dengan Metode LRFD (Berdasarkan SNI 03-1729-
2002)”, Penerbit AIRLANGGA, Jakarta, 2008.
b) AISC Construction Manual, 2005
c) Canadian Institute of Steel Construction, 2002.
d) Charles G. Salmon, Jhon E. Johnson,”STRUKTUR BAJA, Design dan Perilaku”, Jilid 1, Penerbit
AIRLANGGA, Jakarta, 1990.
e) “PERATURAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA (PPBBI)”, Yayasan Lembaga Penyelidikan
Masalah Bangunan, 1984.
f) SNI 03 - 1729 – 2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.
g) William T. Segui,”Steel Design”, THOMSON, 2007.
UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada


pemilik hak cipta photo-photo, buku-buku rujukan dan artikel, yang terlampir
dalam modul pembelajaran ini.

Semoga modul pembelajaran ini bermanfaat.

Wassalam
Penulis
Thamrin Nasution
thamrinnst.wordpress.com
thamrin_nst@hotmail.co.id

thamrinnst.wordpress.com
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

BALOK TERLENTUR
(FLEXURAL MEMBERS)

9. Keruntuhan Tekuk Torsi Lateral


Sebuah balok yang memiliki kelangsingan arah lateral (samping) yang kecil akan
dapat mengalami tekuk torsi lateral dan lentur secara bersamaan ketika balok tersebut
memikul beban. Akibat beban, balok akan bertranslasi kebawah dan akibat tekuk lateral
batang akan menekuk kesamping diikuti dengan memuntirnya penampang. Ilustrasi dari
kejadian ini dapat dilihat pada gambar (11).

Akibat tekuk torsi lateral, penampang pada tengah bentang selain mengalami
penurunan (dy) juga berdeformasi lateral (dx) serta berotasi ().

Untuk batang lentur seperti ini kuat lentur nominalnya ditentukan oleh kelangsingan
propilnya pada arah lateral dimana jari-jari inertianya (iy) terkecil. Jika penampangnya
konstan maka momen nominal tersebut dipengaruhi oleh panjang tekuk atau jarak antara dua
pengekang lateral (Lb atau L), dimana L panjang batang/bentang .

Panjang Lb ditentukan sebagai berikut,


- Perletakan sendi-rol, tanpa pengaku, Lb = L.
- Perletakan sendi-jepit, tanpa pengaku, Lb = 0,8 L.
- Perletakan sendi-rol, dengan pengaku lateral ditengah bentang, Lb = 0,5 L.

dx

dy

Gambar (11) : Tekuk torsi lateral pada balok.

1
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Gelagar melintang berfungsi sebagai


pengekang lateral
Pengekang lateral
(Lateral Bracing)

Gambar (12) : Lateral bracing dan gelagar melintang berfungsi sebagai pengekang lateral.

Kuat komponen struktur dalam memikul momen lentur ditentukan oleh panjang
bentang Lb (jarak antara pengaku lateral), yaitu :

a) Balok bentang pendek.


Untuk Lb ≤ Lp, keruntuhan plastis,
momen nominal,

Mn = Mpx = Zx . fy ......(12)

b) Balok bentang menengah.


Untuk Lr ≤ Lb ≤ Lp, keruntuhan inelastis,
momen nominal,

Mn  Cb  Mr  Mp  Mr 
Lr  Lb    Mp ......(13)
 Lr  Lp 

Mr = Sx (fy – fr) Mpa, dimana fr  70 Mpa.

Cb adalah faktor pengali momen untuk tekuk lateral yang besarnya dipengaruhi oleh bidang
momen lentur balok diantara pengaku lateral, dihitung dengan persamaan berikut,

12.5M max
Cb   2.3 ......(14)
2.5M max  3M A  4 M B  3M C

dimana
Mmax = momen maximum sepanjang L
MA = momen pada titik ¼ L.
MB = momen pada titik ½ L.
MC = momen pada titik ¾ L.

Untuk kasus balok diatas dua tumpuan sederhana dengan beban merata atau terpusat,
Cb = 1,14 (untuk beban terbagi rata, pengaku dipinggir).
Cb = 1,316 (untuk beban terpusat, pengaku dipinggir).

2
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Batasan nilai Lp dan Lr berdasarkan Tabel 8.3.2. SNI 03-1729-2002 dapat dilihat
pada tabel (4) berikut,

Tabel 4 : Bentang untuk pengekangan lateral


Propil Lp Lr
E X 
1,76 ry dengan; ry  1  1  1  X f 2
fy 2 L
 fL 
Iy dengan,
ry  adalah
A
f L  fy - fr
jari-jari terhadap
`Propil I dan sumbu lemah  EG J A
kanal ganda X1 
Sx 2
2
 Sx  C w
X 2  4 
 G J  Iy
Cw = konstanta puntir lengkung
(warping).
J = konstanta puntir torsi
Propil kotak, JA JA
pejal atau 0,13 E ry 2 E ry
berongga Mp Mr

Dimana,
A = luas penampang, (mm2).
Sx = modulus penampang elastis terhadap sumbu X-X (mm3).
E = modulus elastis, (MPa).
G = modulus geser, (MPa).
J = konstanta puntir torsi = 1/3 {(h – tf) . (tw)3 + 2 b . tf3} (mm4)
Cw = konstanta puntir lengkung (warping) = 1/24 tf . b3 . (h – tf)2 (mm6).
X1 = MPa.
X2 = mm4/N2
ry = jari-jari inertia terhadap sumbu Y-Y, (mm).

c) Balok bentang panjang.


Untuk Lb > Lr , keruntuhan elastis,
momen nominal,
Mn = Mcr  Mp ......(15)

Besar Mcr dihitung berdasarkan Tabel 8.3.1. SNI 03-1729-2002 seperti rumus pada tabel (5)
berikut,
Tabel 5 : Momen kritis untuk tekuk lateral.
Propil Mcr
2
Profil I dan Kanal ganda   E 
Cb E I yG J    I yCw
L  L 
Profil kotak pejal atau JA
2Cb E
berongga L / ry

3
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Lb

Gambar 13 : Balok Diaphragma sebagai pengaku lateral.

Lb

Lb

Gambar 14 : Pengaku lateral berbentuk Cross atau X-Bracing


Sumber : Bridge Inspector's Reference Manual, U.S. Department of Transportation, Federal Highway Administration,
Publication No. FHWA NHI 03-001, October, 2002, Revised December, 2006

4
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Lb

Gambar 15 : Hubungan balok ke balok yang dapat berfungsi sebagai pengaku lateral.
Sumber : AISC Presentation.

10. Contoh Soal GELAGAR.


Dari contoh sebelumnya, yaitu sebuah gelagar dari profil WF 600.300.12.20 dengan
panjang bentang 15 meter, memikul beban mati D = 500 kg/m’ dan beban hidup L = 1500
kg/m’. Mutu baja BJ 37. Direncanakan menggunakan pengaku lateral (lateral brasing)
sebanyak 4 (empat) buah. Berapakah kekuatan lentur nominal balok tersebut.

1,2 D + 1,6 L

Pengaku lateral

5000 mm 5000 mm 5000 mm r


L = 15 m

Gambar 16 : Gelagar memakai profil WF.

Tabel 6 : Data-data Pakai profil WF 600.300.12.20


Weight h b tw tf r A Ix iy =ry Sx Zx
2 4 3 3
Kg/m’ mm mm mm mm mm cm cm cm cm cm
151 588 300 12 20 28 192,5 118000 6,85 4020 4309
Sumber : Tabel Profil KONSTRUKSI BAJA, Ir. Rudy Gunawan.

5
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

EVALUASI
a). DATA-DATA
Mutu baja gelagar BJ-37, fy = 240 MPa.
Modulus geser,
E 200000 MPa
G   76923,1 MPa
2(1  v) 2 . (1  0,3)
Konstanta torsi,
3 3
2 b . t f  (h  t f ) . t w 2 . (300) . 20 3  (588  20) .12 3
J  = 1927168.0 mm4.
3 3
Konstanta warping,
(h  t f ) 2 . b 3 . t f (588  20) 2 . (300) 3 . (20)
Cw   = 7259040x106 mm6.
24 24

b). Beban terfaktor.


qu = 1,2 D + 1,6 L = 1,2 . (400 kg/m’) + 1,6 . (1500 kg/m’) = 3000 kg/m’.
= 3,0 ton/m’.

c). Momen nominal.


Mu = 1/8 qu . L2 = 1/8 . (3,0 ton/m’) . (15 m)2 = 84,375 ton.m’.
Mn = Mu / 0,90 = 84,375/0,9 = 93,750 ton.m’ = 937,50 kN.m’.

d). Panjang bentang antara dua pengaku lateral.


Lb = 5000 mm.

Syarat,
E 200000 MPa
Lp  1,76 ry  1,76 . (68,5 mm) . = 3480,3 mm
fy 240

X 
Lr  ry  1  1  1  X 2 f L2
 fL 
Dimana,
f L  fy - fr = 240 MPa – 70 MPa = 170 MPa.

 EG J A 3,14 (200000) . (76923,1) . (1927168.0 ) . (19250)


X1   .
Sx 2 4020000 2
X1 = 13194,93 MPa.

2 2
 Sx  C w  4020000  7259040x10 6
X 2  4   4 .   .
 G J  Iy  (76923,1) . (1927168,0)  9020 x10 4
X2 = 0,000237 mm4/N2.
Maka,
13194,93 
Lr  (68,5) .   1  1  (0,000237) . (170) 2 = 10365 mm
 170 

Lp = 3480,3 mm < Lb = 5000 mm < Lr = 10365 mm.

6
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Balok bentang menengah (Lr ≤ Lb ≤ Lp) dengan keruntuhan inelastis.

e). Momen nominal,



Mn  Cb  Mr  Mp  Mr 
Lr  Lb    Mp
 Lr  Lp 
Dimana,
Mp = Zx . fy = (4309000) . (240) = 1034160000 N.mm = 1034,16 kN.m’.
Mr = Sx (fy – fr) = (4020000).(240 – 70) = 683400000 N.mm = 683,40 kN.m’.
Lb = 5000,00 mm = 5,0 meter.
Lp = 3480,30 mm = 3,48003 meter.
Lr = 11029,52 mm = 11,02952 meter.

qu = 3 t/m’

(A) (B)

5000 mm 5000 mm 5000 mm

MA MB MC

Mmaks

¼ Lb ½ Lb ¾ Lb Lb

Gambar 17 : Bidang momen pada segmen tengah untuk perhitungan nilai Cb.

Nilai Cb dihitung sebagai berikut,


Lb = 1/3 L = 1/3 . 15 m = 5 meter = 5000 mm, qu = 3 t/m’.
Ra = ½ qu . L = ½ . (3 t/m’) . (15 m’) = 22,5 ton.
MA = (22,5) . (6,25) – ½ . (3) . (6,25)2 = 82,03125 ton.m’.
MB = (22,5) . (7,50) – ½ . (3) . (7,50)2 = 84,37500 ton.m’.
MC = (22,5) . (8,75) – ½ . (3) . (8,75)2 = 82,03125 ton.m’.
MMaks = (22,5) . (7,50) – ½ . (3) . (7,50)2 = 84,37500 ton.m’.

Nilai Cb,
12,5M max
Cb   2.3
2,5M max  3M A  4M B  3M C
12,5 . (84,37500)
Cb   2 .3
2,5 . (84,37500)  3 . (82,03125)  4 . (84,37500)  3 . (82,03125)
Cb = 1,014 < 2,3

Momen nominal,

Mn  Cb  Mr  Mp  Mr 
Lr  Lb    Mp
 Lr  Lp 

Mn  1,014 . 683,40  1034,16  683,40
10,365  5,0   Mp
 10,365  3,4803

7
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Mn = 970,11 kN.m’ < Mp = 1034,16 kN.m’.


Mn = 970,11 kN.m’ > Mn = 937,50 kN.m’ (beban kerja).
(memenuhi).

f). Kesimpulan :
Kekuatan lentur nominal gelagar dengan 4 (empat) buah pengaku lateral sebesar Mn
= 977,03 kN.m’ sanggup memikul momen lentur nominal dari beban kerja sebesar
Mn = 937,50 kN.m’.

11. Lendutan Gelagar/Balok Lentur.


a). Syarat Lendutan.
Lendutan pada gelagar/balok lentur, SNI 03-1729-2002 menetapkan batas-batas
lendutan untuk keadaan kemampuan-layan batas harus sesuai dengan struktur, fungsi
penggunaan, sifat pembebanan, serta elemen-elemen yang didukung oleh struktur tersebut.
Batas lendutan maksimum diberikan dalam Tabel 6.4-1, seperti terlihat pada tabel berikut,

Tabel 7 : Batas lendutan maksimum1.


Komponen struktur dengan beban tidak terfaktor Beban Tetap Beban sementara
Balok pemikul dinding atau finishing yang getas L / 360 -
Balok biasa L / 240 -
Kolom dengan analisis orde pertama saja h / 500 h / 200
Kolom dengan analisis orde kedua h / 300 h / 200
L adalah panjang bentang, h adalah tinggi tingkat, beban tetap adalah beban mati dan beban hidup, beban
sementara meliputi beban gempa atau beban angin1.

b). Besar Lendutan Untuk Berbagai Struktur.


b1). Balok Terjepit Sebelah, beban terpusat pada ujung.
x L-x
P
X
(A) (B)
y

Gambar 18 : Struktur balok terjepit sebelah.


P L3
Lendutan pada titik (B), y  ......(15)
3E I

b2). Balok Terjepit Sebelah, beban terbagi rata.


x L-x
q t/m’

(A) (B)
X y

L
Gambar 19 : Struktur balok terjepit sebelah.

8
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

q L4
+ Lendutan pada titik (B), y  ......(16)
8E I

b3). Balok diatas dua perletakan, beban terpusat.


P
a b
(C)
(A) (B)

y
L

Gambar 20 : Struktur balok diatas dua perletakan.


P a2 b2
Lendutan pada titik (C), y ......(17)
3E I L

b4). Balok diatas dua perletakan, beban terbagi rata.


q t/m’

(A) (B)
y

Gambar 21 : Struktur balok diatas dua perletakan.


5 q L4
Lendutan pada tengah bentang, y ......(18)
3 84 E I

12. Lentur Dua Arah / Serong.

Y
X

Q Sin 
P Sin 

Q Cos 
Q P Cos 
P

Gambar 22 : Struktur gording profil I atau kanal.


Sumber : STEELROOFTRUSS, Ir. Thamrin nasution, 2011

9
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Gambar 23 : Struktur gording memikul muatan terbagi rata Q kN/m’.

Gambar 24 : Struktur gording memikul muatan terpusat P kN.

Momen,
Akibat P kN Akibat Q kN/m’
Mx = ¼ P Cos  . B Mx = 1/8 Q Cos  . B2
My = ¼ P Sin  . B My = 1/8 Q Cos  . B2

Jika penampang profil I dibebani oleh gaya yang menyebabkan terjadinya lentur dua
arah, yaitu Mx kearah sumbu X-X, My kearah simbu Y-Y, maka kondisi batas kekuatan
komponen struktur tersebut ditentukan oleh leleh akibat tegangan kombinasi yang bekerja ,
atau tekuk torsi lateral. Keadaan struktur yang demikian dijumpai pada struktur gording,
seperti gambar 20 diatas.

Perencanaan struktur metode LRFD untuk balok yang mengalami lentur dua arah
dilakukan dengan peninjauan terhadap :

a). Kondisi leleh akibat beban kerja,

Mux Muy
fun     . fy ......(19)
Sx Sy b

b). Kondisi batas akibat tekuk torsi lateral,

 b . Mnx  Mux ......(20)


Dimana,
fun = tegangan (tarik atau tekan) akibat beban terfaktor.
fy = tegangan leleh sesuai mutu baja.
Mux = momen akibat beban kerja terfaktor pada arah sumbu X-X.
Muy = momen akibat beban kerja terfaktor pada arah sumbu Y-Y.
Mnx = kekuatan nominal penampang pada arah sumbu sumbu X-X, yang dihitung
Berdasarkan tekuk torsi lateral.

c). Kondisi tekuk lokal.


d). Pemeriksaan lendutan, kondisi batas layan.

10
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

13. Contoh Soal Struktur Gording.


Rencanakanlah dimensi gording dari struktur rangka atap, mutu baja BJ-34, jarak
antara kuda-kuda atap, B = 5 meter, jarak antara gording l = 1,472 meter, gording memakai
profil INP atau kanal (C), atap seng gelombang, tekanan angin, W = 40 kg/m2, muatan hidup
orang, P = 100 kg. Kemiringan atap  = 28o. Perencanaan dilakukan dengan variasi bebas
(tanpa batang tarik).

PERENCANAAN

o
 = 28

 = 1472 mm

Gambar 25 : Struktur gording pada rangka atap.


Sumber : STEELROOFTRUSS, Thamrin Nasution, 2011.

P ton
q t/m’ dan w t/m’

(A) (B)

B = 5000 mm
Gambar 26 : Panjang bentang gording beban yang bekerja.

a). DATA-DATA.
a1). Spesifikasi struktur.
Jarak kuda-kuda B=5m = 5000 mm.
Jarak antara gording  = 1,472 m = 1472 mm.
Sudut kemiringan atap  = 28o
Atap seng gelombang, berat 10 kg/m2.
Tanpa batang batang tarik.

11
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Gording dari profil INP dan Kanal (C).

a2). Beban Mati.


Berat sendiri gording (taksir untuk INP atau C) = 18 kg/m’
Berat atap seng gelombang (10 kg/m2 x 1,472 m) = 14,72 kg/m’ +
Jumlah (D Q) Q = 32,72 kg/m’.

a3). Beban Hidup.


Beban terpusat ditengah bentang (La P), P = 100 kg.

a4). Beban Angin (W = 40 kg/m2).


Angin datang (angin tekan),
Wd = (0,02  - 0,4) x W x 
= (0,02 x 28 – 0,4) x 40 kg/m2 x (1,472 m) = 9,42 kg/m’.

Angin pergi (angin hisap),


Wp = (- 0,4) x W x  = (- 0,4) x (40 kg/m2) x (1,472 m) = - 23,55 kg/m’.

b). Kombinasi Beban (SNI 03-1729-2002, fs 6.2.2),


b1). 1,4 D
b2). 1,2 D + 1,6 La + 0,8 W (menentukan, untuk beban angin datang).
b3). 0,9 D ± 1,3 W.

c). P E R E N C A N A A N
c1). Analisa Struktur.
D Mx = 1/8 Q Cos  . B2 = 1/8 x (32,72) x Cos (28o) x (5)2 = 90,281 kg.m’
= 9028,1 kg.cm’.
D My = 1/8 Q Sin  . B2 = 1/8 x (32,72) x Sin (28o) x (5)2 = 48,003 kg.m’
= 4800,3 kg.cm’.

La Mx = 1/4 P Cos  . B = 1/4 x (100) x Cos (28o) x (5) = 110,368 kg.m’


= 11036,8 kg.cm’.
La My = 1/4 P Sin  . B = 1/4 x (100) x Sin (28o) x (5) = 58,684 kg.m’
= 5868,4 kg.cm’.

Wd Mx = 1/8 Wd . B2 = 1/8 x (9,42) x (5)2 = 29,440 kg.m’


= 2944,0 kg.cm’.
Wd My = 0
Wp Mx = 1/8 Wp . B2 = 1/8 x (-23,55) x (5)2 = -73,601 kg.m’
= - 7360,1 kg.cm’.
Wp My = 0

c2). Kombinasi (beban terfaktor).


Mux = 1,2 . (9028,1) + 1,6 . (11036,8) + 0,8 . (2944,0) = 30847,9 kg.cm’.
Muy = 1,2 . (4800,3) + 1,6 . (5868,4) + 0,8 . (0) = 15149,8 kg.cm’.

c3). Rencana Dimensi.


- Tinjauan terhadap modulus penampang elastis,
Mux Muy
   . fy
Sx Sy b

12
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Dimana,
Sx = 8 Sy ;  b  0,90 ; fy = 210 MPa.
Mux = 30847,9 kg.cm’ = 3084790 N.mm
Muy = 15149,8 kg.cm’ = 1514980 N.mm.

(3084790) 8 . (1514980)
  (0,90) . (210)
Sx Sx

Modulus penampang elastis yang diperlukan,


Sx  80448,0 mm3 = 80,45 cm3.

- Tinjauan terhadap lendutan maksimum,


5 Q Cos  . B 4 1 P Cos  . B 3
x  
384 E Ix 48 E Ix

Dimana,
Q = 32,72 kg/m’ = 32,72 x 10-2 N/mm.
P = 100 kg = 1000 N.
B = 5,0 meter = 5000 mm.
E = 200000 MPa.

5 (32,72 x10 -2 ) Cos (28 o ) . (5000) 4 1 (1000) Cos (28 o ) . (5000) 3


x  
384 (200000) . Ix 48 (200000) . Ix
23252102,9
x 
Ix

5 Q Sin  . B 4 1 P Sin  . B 3
y  
384 E Iy 48 E Iy
5 (32,72 x10 -2 ) Sin (28 o ) . (5000) 4 1 (1000) Sin (28 o ) . (5000) 3
y  
384 (200000) . Iy 48 (200000) . Iy
12363362,4
y 
Iy
Berdasarkan tabel “daftar-daftar untuk konstruksi baja, IR. ZACHARIJAS
LAMBRI :
- Untuk profil INP, Ix = 17 Iy, maka Iy = Ix/17.
- Untuk profil kanal (C), Ix = 10 Iy, maka Iy = Ix/10.

Profil INP,
B
x 2  y 2 
240
2 2
 23252102,9   12363362,4  5000
    
 Ix   Ix / 17  240
211459450,5
 20,833
Ix

13
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Momen inertia yang diperlukan menjadi,


Ix = 10150053,6 mm4 = 1015,0 cm4.

Profil kanal (C),


B
x 2  y 2 
240
2 2
 23252102,9   12363362,4  5000
    
 Ix   Ix / 10  240

125801165,6
 20,833
Ix
Momen inertia yang diperlukan menjadi,
Ix = 6038455,95 mm4 = 603,8 cm4

Pakai profil seperti tabel berikut,

Tabel 8 : Profil INP dan C


h b tw tf F W Ix Sx ix Iy Sy iy
4 3 4 3
mm mm mm mm cm2 kg/m cm cm cm cm cm cm
INP18 180 82 6.9 10.4 27.9 21.90 1450 161 7.20 81.3 19.8 1.71
C 16 160 65 7.5 10.5 24.0 18.80 925 116 6.21 85.3 18.3 1.89
Sumber : daftar-daftar untuk konstruksi baja, IR. ZACHARIJAS LAMBRI.

d). E V A L U A S I.
d1). Pemeriksaan terhadap tegangan akibat beban kerja.
Profil INP Profil Kanal (C)
Beban mati :
Q = 21,9 + 14,72 = 36,62 kg/m’. Q = 18,8 + 14,72 = 33,52 kg/m’.
Momen lentur akibat beban mati :
D Mx = 1/8 Q Cos  . B2 D Mx = 1/8 Q Cos  . B2
o 2
= 1/8 x (36,62) x Cos (28 ) x (5) = 1/8 x (33,52) x Cos (28o) x (5)2
= 101,042 kg.m’= 10104,2 kg.cm’. = 92,4887 kg.m’= 9248,9 kg.cm’.
D My = 1/8 Q Sin  . B2 D My = 1/8 Q Sin  . B2
= 1/8 x (36,62) x Sin (28o) x (5)2 = 1/8 x (33,52) x Sin (28o) x (5)2
= 53,725 kg.m’ = 5372,5 kg.cm’. = 49,177 kg.m’ = 4917,7 kg.cm’.
Kombinasi beban :
Mux = 1,2x(10104,2) + 1,6x(11036,8) + Mux = 1,2x(9248,9) + 1,6x(11036,8) +
0,8x(2944,0) = 32139,1 kg.cm’. 0,8x(2944,0) = 31112,8 kg.cm’.
Mux = 3213910 N.mm’ Mux = 3111280 N.mm’.
Muy = 1,2x(5372,5) + 1,6x(5868,4) + Muy = 1,2x(4917,7) + 1,6x(5868,4) +
0,8 . (0) = 15836,4 kg.cm’. 0,8 . (0) = 15290,7 kg.cm’.
Muy = 1583640 N.mm’. Muy = 1529070 N.mm’.

14
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Tegangan yang terjadi :


Mux Muy Mux Muy
fun     . fy fun     . fy
Sx Sy b Sx Sy b

3213910 1583640 3111280 1529070


fun     . fy fun     . fy
161000 19800 b 116000 18300 b

f un  99,944 MPa  0,90 . (210 MPa) fun  110,377 MPa  0,90 . (210 MPa)
fun  100 MPa  189 MPa fun  110,4 MPa  189 MPa
(Memenuhi) (Memenuhi)

d2). Pemeriksaan terhadap tekuk lokal.


Profil INP Profil Kanal (C)
Sayap, Sayap,
170 170 170 170
 = 11,7  = 11,7
fy 210 fy 210
b/2tf = 82/(2x10,4) = 3,9 < 11,7 b / tf = 65/10,5 = 6,2 < 11,7
(Penampang Kompak) (Penampang Kompak)

Badan, Badan,
1680 1680 1680 1680
 = 115,9  = 115,9
fy 210 fy 210
{h – (2tf+2r)}/tw = {h – (2tf+2r)}/tw =
{180 – (2x10,4+2x69)}/6,9 = 21,1<115,9 {(160-(2x10,5+2x10,5)}/7,5 = 15,7<115,9
(Penampang Kompak) (Penampang Kompak)

d3). Pemeriksaan terhadap tekuk torsi lateral.


Profil INP Profil Kanal (C)

E E
Lp  1,76 ry Lp  1,76 ry
fy fy

200000 MPa 200000 MPa


Lp  1,76 . (17,1 mm) . Lp  1,76 . (18,9 mm) .
210 210
Lp = 928,8 mm = 0,93 m < Lb = 5 m Lp = 1026,5 mm = 1,03 m < Lb = 5 m
Modulus geser :
E 200000 MPa
G   76923,1 MPa
2(1  v) 2 . (1  0,3)
Konstanta torsi :
3 3
2 b . t f  (h  t f ) . t w
J
3
h = 180 mm ; b = 82 mm ; h = 160 mm ; b = 65 mm ;
tw = 6,9 mm ; tf = 10,4 mm tw = 7,5 mm ; tf = 10,5 mm

15
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

2 . (82) . (10,4) 3  (180  10,4) . (6,9) 3 2 . (65) . (10,5) 3  (160  10,5) . (7,5) 3
J J
3 3
4 4
= 80064,27 mm . = 71187,2 mm .
Konstanta warping :
(h  t f ) 2 . b 3 . t f
Cw 
24
(180  10,4) 2 . (82) 3 . (10,4) (160  10,5) 2 . (65) 3 . (10,5)
Cw  Cw 
24 24
= 6872509527,4 mm6. = 2685347615,2 mm6.
f L  fy - fr = 210 MPa – 70 MPa = 140 MPa.

 EG J A
X1 
Sx 2

3,14 (200000) . (76923,1) . (80064,27 ) . (2790)


X1  .
161000 2
X 1 = 25565,46 MPa.

3,14 (200000) . (76923,1) . (71187,19 ) . (2400)


X1  .
116000 2
X 1 = 31031,77 MPa.
2
 Sx  C w
X 2  4 
 G J  Iy
2
 161000  6872509527,4
X 2  4 .   .
 (76923,1) . (80064,27)  813000

X 2 = 0,0000231 mm4/N2  0
2
 116000  2685347615,2
X 2  4 .   .
 (76923,1) . (71187,19)  853000

X 2 = 0,0000057 mm4/N2  0

X 
Lr  ry  1  1  1  X 2 f L2 ; X2  0
 fL 

 25565,46   31031,77 
Lr  (17,1) .   11 Lr  (18,9) .   11
 140   140 
Lr = 4416,1,8 mm = 4,4 m < Lb = 5 m. Lr = 3963,0 mm = 4,0 m < Lb = 5 m.

Tekuk torsi lateral dalam kondisi elastis.

16
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Momen kritis :
2
  E 
Mcr  Cb E I yG J    I yCw
L  L 
Cb = 1,14 ; L = 5000 mm
E I yG J = E I yG J =

(200000).(813000).(76923,1) .(80064,27) (200000).(853000).(76923,1) .(71187,2 )


= 100141955442578x107 = 934195381796992x106
2 2
 E   E 
  I yCw =   I yCw =
 L   L 
2 2
 3,14x 200000   3,14x 200000 
  x 813000 x 6872509527,4   x 853000 x 2685347615,2
 5000   5000 
= 88142461573208x106 = 36135063527748x106
Mcr = 23631455,55 N.mm’= 23,63 kN.m’ Mcr = 22300999,3 N.m’ = 22,30 kN.m’
Mux = 0,9 . Mcr = (0,9) . (23,63 kN.m’) Mux = 0,9 . Mcr = (0,9) . (22,30 kN.m’)
Mux = 21,27 kN.m’ > Mux = 3,21 kN.m’. Mux = 20,07 kN.m’>Mux = 3,11 kN.m’
(Memenuhi) (Memenuhi)

d4). Pemeriksaan terhadap lendutan.


Profil INP Profil Kanal (C)

5 Q Cos  . B 4 1 P Cos  . B 3
x  
384 E Ix 48 E Ix
5 Q Sin  . B 4 1 P Sin  . B 3
y  
384 E Iy 48 E Iy
Dimana,
P = 100 kg = 1000 N.
B = 5,0 meter = 5000 mm.
E = 200000 MPa.
Q = 21,9 + 14,72 = 36,62 kg/m’. Q = 18,8 + 14,72 = 33,52 kg/m’.
4 4
Ix = 1450 cm = 14500000 mm . Ix = 925 cm4 = 9250000 mm4.
Iy = 81,3 cm4 = 813000 mm4. Iy = 85,3 cm4 = 853000 mm4.

5 (36,62 x10 -2 ) Cos (28 o ) . (5000) 4 5 (33,52 x10 -2 ) Cos (28 o ) . (5000) 4
x  x 
384 (200000) . (14500000) 384 (200000) . (9250000)
1 (1000) Cos (28 o ) . (5000) 3 1 (1000) Cos (28 o ) . (5000) 3
 
48 (200000) . (14500000) 48 (200000) . (9250000)
x = 1,70 mm. x = 2,54 mm.

17
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

5 (36,62 x10 -2 ) Sin (28 o ) . (5000) 4 5 (33,52 x10 -2 ) Sin (28 o ) . (5000) 4
y  y 
384 (200000) . (813000) 384 (200000) . (853000)
1 (1000) Sin (28 o ) . (5000) 3 1 (1000) Sin (28 o ) . (5000) 3
 
48 (200000) . (813000) 48 (200000) . (853000)
y = 16,12 mm y = 14,67 mm

B
x 2  y 2 
240

5000 5000
(1,70) 2  (16,12) 2  (2,54) 2  (14,67) 2 
240 240
16,21 mm < 20,83 mm. 14,89 mm < 20,83 mm.
(Memenuhi) (Memenuhi)

e). KESIMPULAN & SARAN


KESIMPULAN
Profil INP 18 dan profil kanal C 16 dengan bentang L = 5 meter, sanggup memikul
beban terfaktor yang bekerja sehingga memenuhi syarat sebagai gording bagi atap seng
gelombang.

SARAN
Apabila dikehendaki menggunakan profil INP dan kanal (C) dengan ukuran yang
lebih kecil disarankan memakai batang tarik sebanyak satu atau dua buah. Selanjutnya
perhitungan dapat dilakukan seperti cara diatas dan batang tarik tersebut dapat dianggap
sebagai pengaku lateral.

18
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Lampiran A
Tabel 9 : Nilai Cb Balok Diatas Perletakan Sederhana.

Table 3-1
Values for Cb for Simply Supported Beams
Lateral Bracing
Load Cb
Along Span
P
None X X
Load at midpoint 1,32

At load point X
1,67
X
1,67
X

P P
None X X
Loads at third points 1,14

At load points X X
Loads symmetrically X X
placed 1,67 1,00 1,67

P P P None X X
Loads at quater points 1,14

At load points X X X X X
Loads at quater points 1,67 1,11 1,11 1,67
W

None X X
1,14

At midpoint X X X
W 1,30 1,30

At third points X X X X
1,45 1,01 1,45

At quater
X X X X X
points 1,52 1,06 1,06 1,52

At fifth points X X X X X X
1,56 1,12 1,00 1,12 1,56

Sumber : AISC – 2005, 13 th Editon, Steel Construction Manual.

19
Modul kuliah “STRUKTUR BAJA 1” , Modul 5 Sesi 2, 2011 Ir. Thamrin Nasution
Departemen Teknik Sipil, FTSP. ITM.

Lampiran B
Tabel 10 : Syarat Besar Lendutan.

Sumber : STEEL DESIGN, William T. Segui, The University of Memphis, 4 th Editon, 2007

20